Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Industri farmasi sebagai unit usaha yang menunjang kesehatan

masyarakat mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab sosial untuk menyediakan obat yang bermutu tinggi, berkhasiat dan terjamin keamanannya. Untuk menjaga mutu obat, pemerintah pada tahun 1994 telah mengambil kebijakan yang mengharuskan setiap industri farmasi untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). CPOB adalah peraturan, pedoman atau anjuran yang dibuat oleh pemerintah yang merupakan persyaratan pemastian mutu untuk sediaan obat dan alat kesehatan. Pemerintah telah mengatur hal tersebut melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 43/MenKes/II/1988 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang mengalami revisi pada tahun 2001 dan revisi terbaru pada tahun 2006 yang lebih menekankan pada sistem manajemen (management system) terhadap setiap kegiatan di industri serta konsistensi industri farmasi yang bersangkutan dalam melaksanakan berbagai peraturan dan persyaratan tersebut. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 245/Menkes/SK/V/1990 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang menghasilkan suatu produk mulai dari pengadaan bahan obat, proses pengolahan, pengemasan sampai

obat jadi untuk didistribusikan. Sedangkan industri bahan baku obat memproduksi bahan baku obat yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah maupun tidak berubah sebagai penunjang obat jadi yang digunakan dalam proses pengolahan obat. Dalam penerapan CPOB di industri Farmasi, diperlukan peran aktif apoteker. Oleh karena itu, apoteker harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang memadai yang dapat diperoleh baik melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, maupun pengalaman sehingga dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Dalam rangka menghasilkan apoteker yang berkualitas, maka Program Profesi Apoteker Universitas Hasanuddin mengadakan kerjasama dengan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Bandung dan PT. Tanabe menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi untuk melihat gambaran umum tentang industri farmasi khususnya bidang manufacturing. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. plant Bandung merupakan salah satu BUMN dalam bidang kesehatan yang memproduksi obat dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal. PT. Tanabe merupakan salah satu perusahaan lisensi milik Jepang yang bergerak di bidang farmasi dan memperluas jaringannya di Indonesia. Industri berhubungan pembuatan dan pengembangan manusia produk farmasi

dengan

keselamatan

sehingga

dibutuhkan

ketelitian dan keakuratan dalam prosesnya. Oleh karena itu, perusahaan

farmasi membutuhkan sistem manajeman mutu yang terdiri dari Pengawasan Mutu (Quality control) dan Pemastian Mutu (Quality Assurance) yang dapat mengawasi dan menguji kelayakan kualitas dari produk farmasi. Pelaksanaannya dalam hal ini harus berdasar pada peraturan yang dikeluarkan oleh Badan POM (BPOM), yaitu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada laporan ini akan dibahas mengenai salah satu bagian dari sistem manajemen mutu, yaitu bagian pengawasan mutu atau Quality Control (QC) yang terdapat pada PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Dan PT. Tanabe Indonesia. I.2 Tujuan Praktek Kerja Lapangan Praktek Kerja Lapangan di industri farmasi bertujuan agar mahasiswa calon apoteker dapat : 1. Mengamati penerapan CPOB/ GMP atau CPOB terkini/ current GMP pada industri farmasi khususnya PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. dan PT. Tanabe Indonesia. 2. Memahami peran dan tanggung jawab farmasis di industri farmasi. 3. Memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai segala aspek dalam industri farmasi sesuai dengan konsep CPOB pada industri farmasi.
4. Melihat dan mengamati secara langsung segala aspek kegiatan dan

sistem yang dilakukan dalam pembuatan obat, sehingga dapat

menambah pengetahuan dan pengalaman untuk menghadapi dunia kerja.

BAB II TINJAUAN UMUM

II.1 PT. Tanabe Indonesia II.1.1 Sejarah PT. Tanabe Indonesia merupakan perusahaan lisensi yang bergerak di bidang farmasi. Perusahaan ini berasal dari negara Jepang yang memperluas jaringannya di Indonesia pada tanggal 25 Juli 1970 dengan nama PT. Tanabe Abadi. Seluruh sahamnya dimiliki oleh PT. Tanabe Seiyaku yang berkedudukan di Jepang. Perusahaan ini menjalin kerja sama dengan Tanabe Seiyaku Co., Ltd. di Osaka, Jepang dengan NV. Pharmacie Nasional di Bandung, Indonesia pada tahun 1986 dengan komposisi saham 50% dari Tanabe Seiyaku Co. Ltd dan 50% dari PT. Pharmacie Nasional. Terhitung tanggal 1 Juni 2003 saham perusahaan sebesar 99,6% dimiliki Tanabe Seiyaku Co., Ltd. dan 0,4% dimiliki PT. Intercipta Mitra. Adanya perubahan kepemilikan saham tersebut, maka terjadi perubahan nama perusahaan dari PT. Tanabe Abadi menjadi PT. Tanabe Indonesia dan menjadi anak perusahaan PT. Tanabe Seiyaku Co., Ltd. (PMA). II.1.2 Visi dan Misi PT. Tanabe Indonesia PT. Tanabe Indonesia mempunyai visi untuk turut serta dalam pelayanan pada kesehatan masyarakat di seluruh dunia di bidang obat obatan yang terjamin mutunya disertai dengan pelayanan yang terbaik. Sedangkan misi perusahaan adalah memproduksi obat yang bermutu

tinggi, menyajikan informasi produk kepada pasien dan rekan profesi kesehatan dengan benar dan tepat waktu, mendapatkan produk produk baru dan meningkatkan penelitian penelitian, selalu melakukan penyempurnaan agar produknya bisa bersaing di pasar global dan agar lebih memberikan kepuasan kepada pasien, serta peduli terhadap masalah-masalah lingkungan hidup. II.1.3 Sertifikat Penghargaan Beberapa sertifikat-sertifikat yang diterima oleh PT Tanabe Indonesia yaitu : 1. Sertifikat AMDAL (Environmental Impact Analysis Certificate). Diberikan oleh Komisi AMDAL Pusat Depkes RI pada 26 Mei 1992. 2. Sertifikat GMP (CPOB). Diterima pada 11 Juni 1993. Direvisi pada 28 Juli 2003 karena perubahan nama dan logo perusahaan. GMP Mapping diterima pada 5 Oktober 2005 dengan status Strata A. 3. Sertifikat Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) (Occupational Safety and Health Certificate) : Bendera Emas (Gold Flag) I, diterima pada 18 Januari 2002. Bendera Emas (Gold Flag) II, diterima pada 24 Februari 2005. Bendera Emas (Gold Flag) III, diterima pada 12 Maret 2008.

4. Sertifikat ISO 14001 (Environmental Management Sistem) yang diaudit oleh PT. TUV CERT Internasional Indonesia pada : I : ISO 14001 : 1996 pada 4 Maret 2004. II : ISO 14001 : 2004 pada 8 Maret 2006.

III : ISO 14001 : 2004 pada 16 April 2007.

5. Evaluation Program of Company Performance Level on Environmental Management by Ministry of Environment Januari 2004 Mei 2005 : (Blue 2 Agustus 2005). Evaluasi dilaksanakan pada 21 Maret 2006 : untuk periode 2005 2006. 6. Sertifikat audit dari Jepang dan PT. Takeda Indonesia. II.1.4 Produk Obat Tabel II.1.4.1 Produk jadi yang dihasilkan PT Tanabe Indonesia Bentuk Sediaan Tablet (Plain Tablet) Merek Dagang Herbesser Herbesser 60 Tanapress 5, 10 Adona (AC 17) Adona Forte Inolin Neo Novapon Plus Bestocol Pyronal Asvex Maintate Khasiat Obat kardiovaskular Obat kardiovaskular Obat kardiovaskular Vasotropic Agent Vasotropic Agent Bronkhodilator Obat flu Obat flu Analgetik Obat batuk Obat kardiovaskular

Lanjutan Tabel II.1.4.1 Produk jadi yang dihasilkan PT. Tanabe Indonesia Bentuk Sediaan Tablet salut gula (Sugar Coated Tablet) Tablet salut film (Film Coated Tablet) Kapsul lepas lambat (Sustained release capsule) Merek Dagang Neuro Beston Aspar Aspar K Maintate 2,5 Herbesser 90 SR Herbesser 180 SR Herbesser CD 100 Herbesser CD 200 Kapsul Sirup (Syrup) Sesden Neo-Novapon Inolin Pediatric drops Chlorpemin Injeksi (Injection) Herbesser 10 mg, 50 mg Adona (AC 17) 2 ml, 5 ml, 10 ml Inolin 1 ml Sesden 1 ml Alinamin F Injection Bronkodilator Antispasmodik Obat kardiovaskuler Khasiat Vitamin Vitamin Obat kardiovaskuler Obat kardiovaskuler Obat kardiovaskuler Obat kardiovaskuler Obat kardiovaskuler Obat kardiovaskuler Antispasmodik Obat flu Bronkodilator Obat batuk Obat kardiovaskuler Vasotropic agent

Produk yang dihasilkan ada 2 macam yaitu produk obat jadi dan produk bahan baku. Produk bahan baku yang semula dihasilkan adalah 8

Diltiazem HCl, tetapi karena alasan tertentu dari perusahaan maka produk bahan bakunya diganti menjadi Kalsium Aspartat. II.1.5 Lokasi, Bangunan dan Sarana PT. Tanabe Indonesia terletak di Jl. Setiabudi No. 287 Bandung Utara sampai 1986. Untuk mengantisipasi perkembangan tempat industri farmasi, maka tanggal 29 Maret 1986 kantor pusat PT. Tanabe Abadi pindah ke Bandung Timur. Dari tahun 1986 sampai sekarang PT. Tanabe Abadi terletak di Jl. Rumah Sakit No. 104 Ujungberung, suatu daerah industri di Bandung Timur dengan luas area 20.000 m2 dimana sekitar 36% berupa bangunan dan sisanya lahan terbuka. Ruang produksi terbagi atas 2 ruang yakni ruang steril terdiri atas ruang sediaan liquid (pembuatan dan pengisian sirup, pencucian ampul, sterilisasi ampul kosong, sterilisasi ampul isi, seleksi ampul, pengeringan ampul, penimbangan bahan-bahan steril, pengisian ampul, pencucian botol sirup), ruang pembuatan sediaan sustained release, ruang pengemasan primer dan sekunder, kantor, toilet dan dapur serta memiliki 3 laboratorium, yaitu laboratorium kimia, laboratorium instrumentasi dan laboratorium mikrobiologi. Dan ruang non steril terdiri atas ruang antara (pass room), ruang ganti pakaian, ruang penimbangan, ruang pembuatan sediaan solid. (ruang atomizer), pencampuran, granulasi, pengayakan, pengeringan, pencetakan tablet, pengisian kapsul, coating tablet, seleksi tablet (intermediate solid).

Sarana penunjang yang dimiliki oleh PT. Tanabe Indonesia terdiri atas sumber PLN dan generator, sistem penanganan air menggunakan sumber air dari sumur artesis, sistem pembangkit uap digunakan steam boiler, sedangkan untuk pengaturan udara menggunakan Package Air Conditioner (PAC) sentral. II.2 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. II.2.1 Sejarah Berdasarkan Akta Notaris B. V. Houthuisen No. 102 tanggal 29 Juni 1896 di Bandung, didirikan sebuah pabrik kina oleh pemerintah Hindia Belanda dengan nama Bandoengsche Kinine Fabriek N. V. yang mula-mula hanya menghasilkan garam kina dari kulit kina. Pabrik ini hanya sekedar menerima ongkos pengolahannya saja sedangkan hasilnya dijual oleh para penghasil kulit kina menurut perhitungan mereka sendiri. Pabrik kina Bandung dikuasai oleh angkatan darat Jepang dengan nama Rikugun Kinine Seizoshyo pada Perang Dunia II (1942). Pabrik ini memproduksi pil/ tablet kina dan hasilnya diangkut ke Jepang dan sebagian lagi dikirim ke tempat tempat lain untuk kepentingan Jepang. Untuk dalam negeri atau orang orang Indonesia, Jepang menyediakan hasil pabrik Toya kina yaitu kina yang belum dipisahkan dari alkaloida alkaloida lainnya. Jepang dikalahkan sekutu pada tahun 1945 sehingga pabrik kina diambilalih lagi oleh pemiliknya, yaitu perusahaan swasta Belanda dengan

10

nama Baildoengsche Kinine Fabriek N. V. Pabrik kina diserahkan ke Indonesia pada tahun 1955 dengan nama Indische Combinatie Voor Chemische Industrie dengan Akta Notaris Mr. Soewardi No. 47/1954 tanggal 3 November 1954. Sehubungan dengan adanya sengketa Irian Barat antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1958, maka semua perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dikuasai oleh pemerintah RI dengan membentuk badan pimpinan umum (BPU) dengan PP No. 23 Tahun 1958. Berdasarkan UU No. 86 Tahun 1958, perusahaan di bawah BPU ini menjadi milik RI yang pelaksanaannya diserahkan kepada Badan Nasionalisasi Perusahaan Perusahaan Belanda (BANAS). Pabrik kina diberi nama Perusahaan Negara (PN) Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma pada tahun 1960 berdasarkan SP Menkes No.57/959/BPK/Kob tanggal 18 Juli 1960. Berdasarkan PP No.85 tanggal 17 April 1961, namanya diubah menjadi Perusahaan Negara Farmasi (PNF) dan Alat-alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma yang meliputi pabrik Yodium di Watudakon Mojokerto, Jawa Timur. Tahun 1969, berdasarkan PP No. 3 tanggal 25 Januari 1969, empat PNF Yaitu: 1. PN Raja Farma 2. PN Nakula Farma 3. PN Bhinneka Kina Farma 4. PN Sari Husada

11

Dilebur menjadi satu dengan nama Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma. Keempat perusahaan tersebut masingmasing menjadi unit dengan susunan yaitu : 1. PNF Raja Farma menjadi PNF Bhinneka Kina Farma Unit I Bidang Perdagangan. 2. PNF Nakula Farma menjadi PNF Bhinneka Kina Farma Unit II Bidang Produksi Jakarta . 3. PNF Bhinneka Kina Farma menjadi PNF Bhinneka Kina Farma Unit III Bidang Produksi Bandung. 4. PNF Sari Husada menjadi PNF Bhinneka Kina Farma Unit IV Bidang Produksi Yogyakarta. Pada tahun 1971, berdasarkan PP No. 16 Tahun 1971 dalam Lembaran Negara No. 18 Tahun 1971, PNF dan Alat Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma Unit I sampai Unit IV diubah menjadi PT. Kimia Farma (Persero) terhitung mulai bulan Agustus 1971 dan membawa perubahan nama semua unit menjadi : 1. Unit I menjadi Unit Perdagangan 2. Unit II menjadi Unit Produksi di Jakarta 3. Unit III menjadi Unit Produksi di Bandung 4. Unit IV menjadi Unit Produksi di Yogyakarta Pada pertengahan 1974, PNF Sari Husada (PT. Kimia Farma Unit Produksi Yogyakarta) memisahkan diri dari PT. Kimia Farma (Persero).

12

Pada tahun 1990, Unit Produksi Bandung menjadi : 1. Unit Produksi Formulasi Bandung 2. Unit Produksi Manufaktur Bandung 3. Unit Produksi Manufaktur Watudakon Pemisahan unit ini diikuti dengan penggabungan pabrik pil KB ke dalam Unit Produksi Formulasi Bandung. Dalam usahanya mengembangkan penguasaan dan kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, PT. Kimia Farma membangun fasilitas Divisi Riset dan Teknologi (RISTEK) yang diresmikan oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 19 Juli 1991 di Bandung. Divisi Ristek ini bertugas untuk mengembangkan produk produk baru serta melaksanakan kegiatan penelitian. Berdasarkan SK Direksi No. Kep. 20/HUK/IX/2002 mengenai struktur organisasi Divisi Produksi Jakarta dan Divisi Produksi Bandung telah ditetapkan stuktur organisasi yang baru, sehingga dari Unit Formulasi dan Manufaktur Bandung berubah menjadi Divisi Produksi Bandung dengan berbagai pertimbangan antara lain untuk efisiensi baik SDM, birokrasi dan dana. II.2.2 Visi dan Misi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Visi : Menjadi perusahaan farmasi utama di Indonesia dan berdaya saing di pasar global.

13

Misi : 1. Menyediakan, mengadakan dan menyalurkan sediaan farmasi, alat kesehatan dan jasa kesehatan lainnya, yang berkualitas dan bernilai tambah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 2. Mengembangkan bisnis farmasi dan jasa kesehatan lainnya untuk meningkatkan nilai perusahaan bagi pemegang saham, karyawan dan pihak lain yang berkepentingan, tanpa meninggalkan prinsip prinsip Good Corporate Governance. 3. Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan untuk meningkatkan kompetensi dan komitmen guna pengembangan

perusahaan serta dapat berperan aktif dalam pengembangan industri farmasi nasional. II.2.3 Sertifikat Penghargaan Sertifikat sertifikat yang diperoleh oleh PT. Kimia Farma adalah 1. Sertifikat dalam Ketaatan dan Kinerja Pengolahan Lingkungan, yang diberikan oleh Kepala Badan Pengolahan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 29 Juni 2008. 2. Sertifikasi Hasil Evaluasi Penilaian Peringkat Kinerja Pengolahan Lingkungan (PROPER) pada tahun 2009. 3. Sertifikat Penghargaan Kecelakaan NIHIL, diberikan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia pada tahun 2006. 4. Sertifikat IMAC DAN ICSA pada tahun 2005.

14

5. Sertifikat GMP (CPOB). GMP Mapping oleh BPOM pada tahun 2005 dengan Strata A. 6. Sertifikat produk Kina Sulfat dan Kina HCl dari Eropa. 7. Sertifikat KOSHER dari London. 8. Sertifikat Halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia). II.3 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Bandung II.3.1 Profil Divisi Produksi Bandung berlokasi di Jalan Cicendo No. 43 Bandung. Unit Produksi Formulasi Bandung telah mendapatkan sertifikat CPOB pada tahun 1997 dan pada tanggal 2 Desember 1999 mendapatkan sertifikat ISO 9002 untuk sistem manajemen mutunya sehingga mempermudah pabrik bila mengadakan kerja sama dengan negara lain. Pada bulan Mei 2001, pemerintah telah menjual sebagian saham PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. kepada masyarakat guna memperoleh pemasukan dana untuk APBN dan investasi. Plant Bandung merupakan penggabungan dari Unit Produksi Formulasi Bandung dan Unit Produksi Manufaktur Bandung, sehingga seluruh bagian tersebut tercakup dalam satu Plant Bandung. Awalnya Unit Produksi Formulasi Bandung melakukan pengelolaan tablet non hormon, serbuk, liquid (sirup, suspensi) serta tablet hormon (pil KB) dan Unit Produksi Manufaktur Bandung melakukan pengelolaan produk kina, produk AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), serta produk fitofarmaka. Namun setelah penggabungan,

15

Plant Bandung melakukan pengelolaan produksi dalam tiga bagian, yaitu bagian pertama (tablet), bagian kedua (serbuk, cairan dan fitofarmaka) dan bagian ketiga (kina, hormon (pil KB), AKDR). II.3.2 Produk Obat Produk produk Divisi Bandung dikelompokkan berdasarkan jenisnya, dalam empat golongan, yaitu 1. Produk program pemerintah (PKD, P2M, BKKBN ) Contoh: Oralit, Pil KB, Sulfadimidin, Ferrous syrup, AKDR. 2. Produk Generik Contoh : Parasetamol, Antasid DOEN, Kalsium Laktat, Nifedipin, dll. 3. Produk Brand Name meliputi : a. Produk OTC, contoh :Supraflu, Erceevit Progence, dll. b. Produk Ethical, contoh : Cordalat, Neurodial, Retaphyl SR, dll. 4. Produk Lisensi, yaitu pil KB lisensi Schering. 5. Produk Fitofarmaka, yaitu : Batugin elixir dan Enkasari. Sedangkan pembagian produk berdasarkan bentuk sediaan dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu 1. Produksi bahan baku obat yang menghasilkan a. Kina Sulfat b. Kina HCl c. Chinchonidine d. Chinchonine

16

2. Produksi formulasi obat yang menghasilkan a. Tablet non hormon. b. ARV (Anti Retro Viral). c. Tablet hormon (Mikrodiol). d. AKDR meliputi Copper T Limas (Lingkaran Emas), Copper T Libi (Lingkaran Biru), Copper T BKKBN, Copper T ekspor. e. Serbuk yaitu Garam Oralit. f. Sirup meliputi Parasetamol, Dekstrometorfan, Ferrous Sulfat. g. Suspensi meliputi Kloramfenikol, Kotrimoksazol, Pyrantel. h. Fitofarmaka meliputi Enkasari, Batugin.

17

BAB III TINJAUAN KHUSUS SISTEM PENGAWASAN MUTU (QUALITY CONTROL) PADA PT.KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk. PLANT BANDUNG DAN PT.TANABE INDONESIA

Industri farmasi merupakan suatu industri yang kompleks dalam hal prosedur dan metode pembuatan yang digunakan untuk memastikan mutu produk yang diproduksinya. Hal ini pada dasarnya dicapai dengan 3 (tiga) fungsi utama, yaitu pemastian mutu (QA/ Quality Assurance), CPOB yang Terkini (cGMP/ currentGood Manufacturing Practices) dan pengawasan mutu (QC/ Quality Control). Pemastian mutu adalah total keseluruhan pengaturan yang terorganisir yang dibentuk dengan tujuan memastikan bahwa produk akan memiliki kualitas yang disyaratkan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB terkini adalah bagian dari pemastian mutu (QA) yang ditujukan untuk memastikan bahwa produk produk dibuat secara konsisten untuk memiliki mutu yang dipersyaratkan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pengawasan mutu (QC) merupakan bagian yang esensial dari cara pembuatan obat yang baik untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan

pemakaiannya. Manajer Pengawasan Mutu harus seorang Apoteker dengan pengalaman praktis paling sedikit 2 tahun bekerja di bagian pengawasan

18

mutu pabrik farmasi, memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang analisis kimia dan mikrobiologi, pemeriksaan bahan pengemas, CPOB dan keterampilan dalam kepemimpinan. Tugas dan tanggung jawab Pengawasan Mutu (QC) adalah 1. Pemeriksaan bahan awal (IMI/ Incoming Material Inspection) Memastikan bahwa bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, meliputi identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas dan keamanannya. 2. Pengawasan selama proses produksi (IPC/ In Process Control) Memastikan bahwa tahapan tahapan proses produksi obat telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. 3. Pemeriksaan Mikrobiologi dan Lingkungan (NPC/ Non Pharmaceutical Control) Memastikan bahwa pengawasan dan pengujian mikrobiologi terhadap bahan baku dan produk jadi serta lingkungan telah memenuhi prosedur. 4. Evaluasi prosedur produksi dan pengkajian catatan produksi Memastikan bahwa seluruh pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusikan.

19

5. Program stabilitas Memastikan bahwa suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang telah ditetapkan. Perancangan program uji stabilitas dilakukan untuk menilai karakteristik stabilitas obat dan untuk menentukan kondisi penyimpanan yang sesuai dan tanggal daluwarsa. Ada tiga jenis uji stabilitas, yaitu : a. Accelerated condition merupakan kondisi percobaan yang

dipercepat dengan mengkondisikan suhu sebesar 40C 2C dan kelembaban sebesar 75% 5. Lama periode pengujian 3 6 bulan. Pengujian terbagi dalam sedikitnya 4 interval waktu dengan kondisi yang diperberat seperti temperatur, kelembaban dan paparan cahaya. Hasil pengujian kemudian diekstrapolasikan ke dalam kondisi penyimpanan normal dan didapat data stabilitas produk. b. Stressing condition merupakan kondisi percobaan dengan

mengatur suhu dengan sangat ekstrim berubah ubah, kadang panas, kadang dingin dengan suhu 5C dan 40C selama sepuluh siklus. c. Kondisi biasa merupakan kondisi percobaan jangka panjang pada suhu 30 2C dan kelembaban sebesar 75% 5. Pengujian dilakukan dengan beberapa interval : Minimum setiap tiga (3) bulan pada tahun pertama (bulan ke 0, 3, 6, 9, 12-24). Setiap enam (6) bulan untuk tahun kedua.

20

Selanjutnya sekali setiap tahun.

Lama periode pengujian ditentukan oleh masa edar yang diperkirakan bagi produk obat tersebut. 6. Memberi keputusan akhir, yaitu meluluskan atau menolak mutu bahan awal, bahan kemas, produk antara dan produk ruahan ataupun hal lain yang mempengaruhi mutu obat. 7. Melakukan pemeriksaan stabilitas terhadap produk pertinggal (retained sample). III.1 Pengujian Bahan Awal III.1.1 Pengujian Bahan Baku Pengujian ini mencakup identifikasi, deskripsi, kemurnian dan penetapan kadar. Selama proses pengujian barang dikarantina dan diberi label KARANTINA yang berwarna kuning. Pengambilan sampel

dilakukan secara acak untuk setiap bets dengan rumus : (N adalah jumlah barang) a. Pola n (1 + N) Pola ini digunakan jika bahan diperkirakan homogen dan diperoleh dari pemasok yang disetujui. b. Pola p (0,4 N) Pola ini digunakan untuk tujuan identitas (bahan homogen). c. Pola r (1,5 N) Pola ini digunakan untuk bahan yang diperkirakan tidak homogen dan/ atau berasal dari pemasok yang belum terkualifikasi.

21

Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat stick sampler. Khusus untuk metode sampling, baik bahan baku maupun bahan kemas tidak memiliki ketentuan yang pasti, hanya dipersyaratkan sampling dilakukan atas dasar statistika secara random dengan metode yang sesuai. Setiap pengujian bahan baku dilengkapi dengan pengujiann (testing order) atau catatan hasil pengujian yang ditandatangani oleh QC manager. Bahan baku yang telah lulus seleksi diberi label DILULUSKAN yang berwarna hijau dan jika tidak sesuai dengan spesifikasi diberi label DITOLAK yang berwarna merah. III.1.2 Pengujian Bahan Kemas Pengujian bahan kemas dilakukan secara sampling dengan rumus N + 1, dilakukan untuk label, brosur, wadah, karton, alumunium foil dan tutup botol. Pengawasan dilakukan terhadap penampilan fisik wadah, kesesuaian bahan dan hasil cetakan dengan spesifikasi yang telah ditentukan (warna, penandaan, desain dan bentuk). Sistem pemberian label bahan kemas seperti bahan baku. Jika pemeriksaan bahan baku dan bahan kemas selesai, maka QC membuat disposisi yang berisi hasil pemeriksaan untuk disampaikan ke bagian keuangan untuk pembayaran dan ke bagian PPIC untuk perencanaan produksi. Apabila bahan baku atau bahan kemas tidak memenuhi spesifikasi dipersyaratkan, maka dikembalikan ke supplier dengan dokumen retur barang.

22

III.2 Pengujian selama Proses Produksi (In Process Control) Pengawasan mutu yang dilakukan di bagian produksi adalah IPC (In Process Control). IPC dilakukan terhadap produk antara, produk ruahan dan produk jadi. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam proses produksi obat. III.2.1 Pengujian selama Proses Produksi Tablet Pengujian terhadap granul meliputi ukuran dan bentuk partikel, luas permukaan, kerapatan (density), sifat alir, sudut diam. Pengujian produk ruahan meliputi penampilan umum atau organoleptis (ukuran, bentuk, warna, bau, bentuk permukaan), keseragaman kadar zat aktif, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, kecepatan pelarutan (disolusi). Selanjutnya dilakukan pengujian pasca kemas primer meliputi jumlah tablet dalam kemasan, tes kebocoran dan keutuhan kemasan. III.2.2 Pengujian selama Proses Produksi Sirup Pengujian yang dilakukan selama proses produksi sirup adalah organoleptis (warna, bau, rasa dan penampilan), keseragaman kadar zat aktif, keseragaman volume, pH, berat jenis, viskositas. Pengujian pada pasca kemasan primer meliputi, tes kebocoran dan keutuhan wadah. III.2.3 Pengujian selama Proses Produksi Krim Pengujian yang dilakukan meliputi pemeriksaan organoleptis (homogenitas, warna, bau), kadar zat aktif, pH, ukuran partikel, viskositas dan uji stabilitas.

23

III.2.4 Pengujian selama Proses Produksi Injeksi Pemeriksaan untuk sediaan injeksi adalah pemeriksaan kadar, uji visual melihat ukuran partikel, pH, kekentalan, uji bebas pirogen, keseragaman volume, uji sterilitas. Pengawasan di unit pengemasan meliputi pemeriksaan cacat tampak, pemeriksaan dimensi, uji kebocoran, uji kejernihan dan uji kejutan suhu yang dilakukan untuk melihat ketahanan nisbih wadah yang mengalami perubahan suhu yang mendadak. III.3 Pemeriksaan Mikrobiologi dan Lingkungan (Non Pharmaceutical Control) Pemeriksaan ini dilakukan terhadap bahan baku dan produk jadi, yang meliputi Total Aerobic Microbial Account (TAMC); identifikasi keberadaan mikroba tertentu seperti, Eschericia coli, Salmonella sp., Stapylococcus aureus, P. aeruginosa; pemeriksaan air meliputi pH, konduktivitas, kandungan mikroba, kandungan logam; serta pemeriksaan terhadap ruang produksi meliputi jumlah mikroba di udara, jumlah mikroba pada permukaan, jumlah partikel di udara, kelembaban, suhu, tekanan udara. III.4 Pemeriksaan Produk Pertinggal Pemeriksaan sampel pertinggal dapat memberikan gambaran stabilitas produk di pasar. Pemeriksaan ini dilakukan pada bulan ke-3, 6, 9, 12 dan 24 atau pada waktu tertentu. Jumlah sampel yang diperiksa 4 botol per bets untuk cairan, 4 tube per bets untuk salep, 48 strip per bets

24

untuk tablet dengan suhu lingkungan 30 0C. Jenis pemeriksaan yang dilakukan meliputi kadar zat aktif, organoleptis (warna, bau, rasa), konsistensi, homogenitas, kekerasan dan mikrobiologi.

25

BAB IV PEMBAHASAN

Penerapan

current-Good

Manufacturing

Practices

(cGMP)

dilatarbelakangi oleh perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi farmasi yang mengakibatkan perubahan yang sangat pesat pula dalam konsep maupun persyaratan CPOB. Konsep CPOB bersifat dinamis, artinya mengikuti perkembangan dalam bidang farmasi yang bertujuan untuk menjamin bahwa obat dibuat secara konsisten; memenuhi syarat yang ada dan sesuai dengan penggunaan. cGMP memiliki tujuan diantaranya adanya jaminan terhadap khasiat (efficacy), keamanan (safety) & mutu (quality) obat produksi industri farmasi Indonesia; upaya pemerintah (BPOM) untuk meningkatkan kemampuan industri farmasi Indonesia sesuai dengan standar

Internasional agar lebih kompetitif baik untuk pasar domestik maupun untuk pasar ekspor; serta mendorong industri farmasi Indonesia agar lebih efisien dan fokus dalam pelaksanaan produksi obat, termasuk pemilihan fasilitas produksi yang paling feasible untuk dikembangkan. Salah satu persyaratan dalam cGMP adalah aspek Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System), yang di dalamnya memuat spesifikasi dan metode analisis, validasi atau verifikasi metode analisis, metode pengambilan contoh, pengujian, program uji stabilitas, kualifikasi dan pelatihan personalia (khusus personalia di QC).

26

Sistem pengawasan mutu adalah semua upaya pengawasan terencana dan terpadu yang dilakukan mulai dari awal sampai obat jadi dan dirancang untuk menjamin keseragaman produk obat yang memenuhi spesifikasi identitas, kekuatan, kemurnian, dan karakteristik lain yang telah ditetapkan atau disyaratkan. A. PT. Tanabe Indonesia Quality Affair PT. Tanabe Indonesia bertanggung jawab terhadap pengawasan mutu obat. Pengawasan tersebut dilakukan mulai dari bahan awal (bahan baku dan bahan pengemas) dan produk akhir (obat jadi). Quality Affair Department di PT. Tanabe Indonesia terbagi atas 3 (tiga) bagian, yaitu Quality Assurance (QA) section, Quality Control (QC) 1 dan Quality Control (QC) 2. a. Quality Control (QC) 1 Quality Control (QC) 1 bertanggung jawab dalam melakukan uji analisa (analyzed testing) terhadap produk jadi. Hal ini terutama untuk memastikan bahwa suatu batch obat memenuhi persyaratan mutu selama waktu peredaran yang telah ditetapkan melalui program stabilitas. Uji stabilitas yang dilakukan terhadap produk jadi hanya meliputi longterm condition dan accelerated condition, dibandingkan dengan yang tertera dalam pustaka yang memuat 3 (tiga) kondisi termasuk di dalamnya adalah stressing condition. Hal ini dilakukan karena kedua kondisi ini telah teruji dalam mengidentifikasi degradasi produk, membuktikan stabilitas

27

intrinsik dari suatu molekul dan dalam pengembangannya untuk memvalidasi prosedur analisis yang sesuai. Pengawasan yang dilakukan selama proses produksi untuk sediaan sediaan obat yang diproduksi di PT. Tanabe Indonesia adalah 1. Sediaan tablet, meliputi penampilan umum atau organoleptis (ukuran, bentuk, warna, bau), keseragaman kadar zat aktif, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, kecepatan pelarutan (disolusi). 2. Sediaan kapsul, meliputi organoleptis, uji kadar zat aktif dan homogenitas, keseragaman bobot dan kecepatan disolusi. 3. Sediaan sirup, meliputi organoleptis, viskositas, kejernihan, kadar zat aktif, pH, bobot jenis, keseragaman volume. Pengujian pasca kemasan yaitu uji kebocoran, keutuhan dan kerapatan tutup botol. 4. Sediaan injeksi, meliputi pemeriksaan uji visual kejernihan, kadar zat aktif, pH, uji pirogenitas, uji sterilitas serta dilakukan uji kebocoran terhadap ampul menggunakan metilen biru. b. Quality Control (QC) 2 Quality Control (QC) 2 bertanggung jawab melakukan pemeriksaan awal dan analisa terhadap bahan pengemas (packaging material), bahan hasil sintesa, dan bahan baku (raw material). Pengambilan sampel untuk bahan baku dan bahan kemas dilakukan berdasarkan rumus N + 1 dimana N adalah jumlah barang.

28

Bahan pengemas (packaging material) melalui pemeriksaan analisis dengan alat ukur meliputi panjang, lebar, bonding strength; on the spot meliputi jumlah, dimensi warna, penandaan (labeling), bentuk kemasan sesuai apa tidak dengan spesifikasi dan estetika. Pemeriksaan terhadap bahan baku dan bahan hasil sintesa adalah secara visual meliputi kesesuaian label, nama supplier, kondisi wadah dan organoleptis yang di dalamnya termasuk bau, rasa dan warna. Untuk melaksanakan tugasnya, departemen Quality Control memiliki fasilitas berupa laboratorium untuk analisa fisika/kimia, laboratorium instrument, dan laboratorium mikrobiologi. Hasil dari pemeriksaan Quality Control (QC)-1 section dan QC-2 section dilaporkan ke Quality Assurance (QA) section. Quality Assurance (QA) merupakan bagian yang melakukan pemastian terhadap sistem yang dijalankan dan mengaudit mutu agar memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusikan. B. PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. Bagian Pengawasan Mutu (Quality Control) di PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. berada di bawah pimpinan Quality Representative, bersama-sama dengan Sistem Mutu (Quality System), Pengembangan Produk (Product Development) dan Pengendalian Mutu (Quality

Assurance). Quality Control di PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. memiliki tanggung jawab yang sama halnya terdapat di PT. Tanabe Indonesia,

29

yaitu melakukan pengawasan terhadap mutu obat. Pengawasan di PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. dilakukan melalui pemeriksaan analisa mulai dari bahan awal (bahan baku dan bahan kemas), selama proses (in process control), produk akhir (obat jadi), dan produk pertinggal (retained sample). a. Pengawasan sebelum proses produksi 1. Pengawasan mutu ruangan dan peralatan Proses produksi dapat dimulai apabila bagian QC telah memberi rekomendasi atas kebersihan ruangan dan peralatan tersebut dengan pemberian label bersih. 2. Pengawasan mutu bahan awal Pengambilan bahan baku dan bahan kemas dilakukan secara acak untuk setiap bets dengan rumus 1 + N, tetapi apabila jumlah wadah 5 maka sampel diambil dari setiap wadah. b. Pengawasan selama produksi Pengawasan selama produksi (in process control), yaitu 1. Sediaan tablet meliputi penampilan umum atau organoleptis (ukuran, bentuk, warna, bau), keseragaman kadar zat aktif, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur,

kecepatan pelarutan (disolusi). 2. Sediaan jadi dalam bentuk serbuk meliputi organoleptis,

homogenitas, ukuran partikel, kadar zat aktif dan kecepatan pelarutan (disolusi).

30

3. Sediaan

sirup,

setelah

pencampuran

dilakukan

pengujian

organoleptis, viskositas, pH dan bobot jenis. Uji kebocoran dan keutuhan segel penutup dilakukan pada pasca pengemasan primer. 4. Sediaan suspensi, meliputi pengujian organoleptis, ukuran partikel, pH, laju sedimentasi. 5. Bahan baku kina, meliputi kadar kemurnian zat aktif, kadar air, kadar cemaran logam dan mikroba. c. Pengawasan setelah Proses produksi Obat jadi yang dihasilkan dari proses produksi dilakukan pengambilan contoh untuk pengujian akhir. Selama dilakukan pengujian, obat jadi dikarantina terlebih dahulu. Setelah dinyatakan lulus uji, maka barang baru dapat dibawa ke bagian penyimpanan obat jadi dan siap untuk didistribusikan. d. Pengujian produk pertinggal Contoh produk pertinggal diambil dari tiap bets kemudian disimpan dalam lemari sesuai dengan kondisi penyimpanan yang dianjurkan pada labelnya.

31

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Tanabe Indonesia dan PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. dapat disimpulkan bahwa : a. Posisi Quality Control di PT. Tanabe Indonesia sudah sesuai dengan yang ditetapkan pada c GMP, yaitu berada di bawah Quality Affair, dimana terpisah dengan Quality Assurance (QA). b. Posisi Quality Control di PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. Plant Bandung, yaitu sejajar dengan Quality Assurance (QA) yang berada di bawah Quality Representative, dimana posisi QC pada PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. Plant Bandung belum menerapkan pedoman c GMP di struktur organisasinya. V.2 Saran Berdasarkan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker yang telah dilakukan, disarankan kepada industri famasi agar meluangkan lebih banyak waktu dan lebih terbuka untuk memberikan ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan apoteker di industri farmasi.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta. 2006. 2. Depkes RI. Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No.05410/A/SK/XII/1989 tentang Petunjuk Operasional Penerapan CPOB. Jakarta. 3. Fatmawaty, Aisyah. Makassar. 2009. Farmasi Industri. Universitas Hasanuddin.

4. Priyambodo, Bambang. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama. Yogyakarta. 2007. 5. Shanif, A., Pemastian Mutu Obat Vol.2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 6. Priyambodo, Bambang. Quality Control. [online]. http://priyambodo71.wordpress.com/cpob/pengawasan-mutu/qualitycontrol//. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010. 7. Tanabe, PT. 2010. [online]. http://www.Tanabe.co.id. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010. 8. Kimia, Farma PT. 2010. [online]. http://www.Kimiafarma.co.id. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010.

33