Anda di halaman 1dari 14

Pengertian Geguritan Geguritan merupakan sastra kuno yang memiliki ciri sastra lama atau klasik yang berifat

anonim yaitu tanpa nama pengarang dan penulis. Hal ini disebabkan pada zamanya seorang penulis tidak mau menonjolkan diri dan karyanya dianggap milik bersama. Kata geguritan dalam kamus Bali Indonesia berasal dari kata gurit artinya gubah, karang, sadur,. (Depdiknas Prop. Bali, 1991 :254). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dijelaskan geguritan itu berasal dari kata gurit artinya sajak atau syair (Poerwadarminta, 1986 :161), sedangkan dalam Kamus Kawi Indonesia diungkapkan gurit artinya goresan, dituliskan. (Tim Penyusun, 1996:118). Berdasarkan pandangan di atas maka pengertian geguritan adalah ciptaan sastra berbentuk syair yang biasanya dilagukan dengan tembang (pupuh) yang sangat merdu. 2. Cara menulis Geguritan. a. Mengidentifikasi beberapa pengalaman menarik yang telah dialami. b. Memilih salah satu pengalaman yang mengesankan sebagai bahan untuk menulis sebuah geguritan. c. Menentukan dan menulis pilihan kata yang tepat, indah, dan bermakna untuk dijadikan bahan dalam menulis geguritan. d. Menulis larik-larik geguritan berdasarkan pilihan kata yang tepat. e. Menyunting geguritan yang telah ditulisnya sendiri maupun yang ditulis temannya. 3. Geguritan yang baik itu seperti apa? Ciri yang kental di dalam sebuah geguritan adalah adanya pupuh-pupuh yang membentuk geguritan tersebut seperti pupuh yang terdapat dalam tembang Macapat. Oleh karenanya di dalam menikmati geguritan dalam membacanya tidak bisa disamakan dengan membaca karya sastra yang tergolong prosa. Geguritan hendaknya dinikmati dengan membaca sambil melagukan sehingga nikmat yang didapatkan semakin terasa. Penilaian geguritan yang baik yaitu ada aspek kesesuaian isi dengan judul, ada aspek keselarasan rima, ada aspek pemilihan diksi.

Menulis geguritan sebenarnya sama dengan menulis puisi modern, karena geguritan merupakan bentuk puisi modern dalam bahasa Jawa. Yang membedakannya hanyalah media ekspresi bahasanya saja. Karena pada hakikatnya sama, maka persoalan yang dihadapi para calon penggurit sama dengan yang dihadapi para calon penyair, yaitu mereka selalu mengalami kesulitan bagaimana dan darimana memulainya. Persoalan ini makin pelik bagi para guru bahasa Jawa karena mereka tidak hanya dituntut untuk bisa menulis geguritan, namun juga harus mampu mengajak dan mengajarkan siswanya agar dapat menulis geguritan. Idealnya para pengajar sastra harus memiliki pengalaman dalam bersastra. Sehingga guru bahasa Jawa, idealnya harus memiliki pengalaman bersastra, yaitu pengalaman mencipta teks sastra Jawa, pengalaman membaca teks sastra Jawa, dan pengalaman menganalisis teks sastra Jawa. Dengan memiliki pengalaman bersastra itu maka diharapkan guru mampu menjadi model yang ideal. Kesulitan tadi seringkali saya temui dalam berbagai pertemuan sastra, workshop kepenulisan dan yang sejenis itu. Tentu saja jawaban dari pertanyaan ini bisa amat beragam dan amat subjektif. Tiap-tiap penggurit (penyair) atau tiap-tiap orang yang

mempunyai pengalaman menulis geguritan akan memiliki jawaban yang berbeda dan beraneka ragam. Demikian juga tulisan sederhana ini akan memaparkan jawaban dari pertanyaan di atas berangkat dari pengalaman pribadi saya yang kebetulan nglakoni menulis puisi dan geguritan hampir lebih dari 20 tahun. Tentu saja, karena berangkat dari pengalaman maka paparan ini jelas sangat subjektif. Siapa saja bisa menulis geguritan! Siapa pun boleh menulis geguritan, tak pandang bulu apakah dia memiliki profesi sebagai dokter, ustadz, guru, buruh, atau profesi lainnya boleh-boleh saja dan sah-sah saja untuk menulis geguritan. Juga, geguritan boleh ditulis siapapun dan tingkat pendidikan apapun. Seseorang yang menulis geguritan tak harus menunggu dia lulus sarjana Bahasa Jawa. Geguritan boleh ditulis oleh orang berpendidikan SD hingga profesor sekalipun. Bahkan, seseorang yang tak pernah mengenyam pendidikan formal pun boleh-boleh saja menulis geguritan asalkan dia mengerti bahasa Jawa dan memiliki kemampuan berbahasa tulis. Mengapa seseorang menulis geguritan? Dorongan atau rangsangan seseorang untuk menulis geguritan banyak sekali. Pada dasarnya, seseorang menulis geguritan karena adanya keinginan untuk berbagi pengalaman dan perasaan. Dia ingin membagi pengalaman atau membagi perasaannya kepada para pembaca. Misalnya, dia ingin berbagi pengalaman dan perasaannya saat kasmaran, patah hati, sumpeg pada dirinya sendiri, marah melihat situasi sosial, marah atau rindu pada Tuhan, optimisme hidup, menangisi diri sendiri, simpati dan empati pada orang lain, menertawakan dan mengajak orang lain tertawa, berbagi filsafah hidup, dan sejuta pengalaman dan perasaan lain. Pada pokoknya geguritan adalah penyampaian ide, pengalaman, dan perasaan. Berangkat dari Alam Menulis geguritan bisa dimulai dari banyak pintu. Salah satu rangsangan yang paling mudah mudah untuk menulis geguritan adalah berangkat dari pelukisan alam, penggambaran alam atau melukiskan suasana alam tertentu. Setiap orang pasti memiliki pengalaman melihat alam di sekelilingnya. Dari melihat alam itu bisa menjadi langkah awal untuk menulis sebuah geguritan. Mari kita lihat contoh di bawah ini: TEMBANG TENGAH WENGI (Andi Kosim) Angin sumilir mbeset kulit Ing tengah wengi kang saya wingit Bun padha kumlawe ngawe-awe Jangkrik wis leren ngerik Mung manuk dares sing isih methangkring ing kabel telpon Ngarep kontrakanku Kanca-kancaku wis padha turu Kari aku ing ngarep komputer Ngrungokake sekar macapat Ing tengah weng iki Pamujiku muga ora lali Marang omah iki

Sing nguntabake sakabehe pangimpen Dadi kasunyatan jati. (PS-23/2007) Kalau kita perhatikan benar, geguritan di atas sebenarnya sangat sederhana. Lariklariknya lebih banyak menggambarkan suasana malam yang dingin (angin sumilir mbeset kulit), embun yang melambai-lambai, suara jangkrik yang berderik, hanya ada seekor burung dares yang diam di kabel telpon depan rumah kontrakan. Baru pada bait terakhir diberi sentuhan pengguritnya dengan ungkapan syukur /pamujiku muga ora lali/marang omah iki/sing nguntabake sakabehi pangimpen/dadi kasunyatan sejati. Penggurit di atas memulainya dari citraan alam yang kemudian ditarik ke dalam dirinya atau ke dalam persoalan dirinya. Contoh berikut menyajikan teknik yang sama namun dengan endapan kontemplatif yang lebih dalam: SINAU MARANG ALANG-ALANG (Alie Emje) pingin dakcecepi embun kang mrentul ing saben pucuk alang-alang supaya ati tansah teles memes sakdurunge srengenge jumedhul nyebar cahya marang sesuketan sakdurunge sumelet nrobros dhadha gampang rengka sakdurunge dhadha rumpeg gampang cubriya sadurunge ati runtik lan melik embun-embun nelesi gegodhongan saka lebu aku lingsem kaya watu-watu ndlesep nylamur pandulu ing sangisore ngrembuyung alang-alang dudu alang-alang kang ngumpetake watu-watu memalangi ombere alang-alang lemah-lemah kang kena pepalang kanggo pandhelikan satu gegremetan pengin dakcecepi embun kang mrentul ing saben pucuk alang-alang supaya ora gampang sesatru marang watu-watu. (Jaya Baya 07/Okt, 2008) Dari citraan alam yaitu alang-alang tersebut, Alie emje tak hanya berhenti pada pelukisan alam namun ditarik kedalam sebuah renungan ajaran hidup atau filosofi hidup dalam

menghadapi realita. Ada juga penggurit lain yang menggunakan teknik pencitraan alam ini dengan menariknya atau menghubungkannya dengan perasaan hatinya saat itu. Saya pernah menulis geguritan dengan teknik semacam ini: APA KOWE WUS KELANGAN LACAK DALANE PURBA ing saurute dalan-dalan kang sepi katon wewayanganmu lagi namatake garis candhik ala kang nggarit pucuke surup bang wetan sumitra, apa kowe isih kemutan marang tembang-tembang kinanthi, kang ngabarake kapange gegodhongan marang tumetese bun wanci esuk apa kowe wus lali marang lelagon dolanan kang ngawe-ngawe dina kang wus kawuri o, sumitra, rungokna iku, swara tembange bapa biyung kang wuyung marang baline putra kinasih sumitra, delengen telaga-telaga kangen padha mil ing saurute dalan-dalan wutah getihmu. delengen telaga kuwi bakal dadi ombak samodra kang tansah kapang marang gigire bantala dhuh, sumitra, apa kowe wus kelangan lacak dalanne purba! (Jawa Anyar no 14/III/1995) Bermula dari Cinta Di awal tulisan ini sudah saya utarakan bahwa pada hakikatnya menulis geguritan adalah menulis dan membagi pengalaman. Pengalaman yang dimaksud bisa mengacu pada dua jenis pengalaman, yaitu pengalaman realitas dan pengalaman batiniah. Dua jenis pengalaman ini sudah kita miliki. Pengalaman realaitas adalah pengalaman nyata yang pernah kita peroleh dan kita merasakan langsung pengalaman tersebut. Misalnya kita pernah mengalami kemiskinan, lapar, jatuh cinta, patah hati dan sebagainya. Pengalaman jenis kedua, yaitu pengalaman batiniah (sering diistilahkan dengan pengalaman imajiner) diperoleh dari hasil mengamati, menghayati, dan membaca. Contoh, kita akan menulis geguritan tentang mati, tentu saja kita tak harus mati terlebih dahulu, namun kita bisa menghayatinya saat takziah, menjenguk orang sakit, membaca buku tentang alam kubur, membaca buku tentang psikologi kematian, dan sebagainya. Geguritan pastilah merupakan ekspresi pengalaman personal penulisnya sehingga walau yang ditulis mungkin pernah dialami orang lain namun dalam ekspresi bahasanya jelas berbeda satu dengan yang lainnya. Cinta, misalnya, merupakan pengalaman yang setiap orang pasti pernah mengalami. Pasti kita pernah jatuh cinta, kasmaran, atau wuyung pada kekasih hati. Saat kita jatuh cinta, suasana hati pasti sedang peka. Saat inilah bisa menjadi pijakan untuk mulai menulis geguritan.

TATAPAN TRESNA (Alie Emje) Surup ngipas-ngipaske godhong pelem Angin tetembangan Terus nglangut Tatapan mripat amem Ati terus Wicara Apa iki pinangka tandha ketaman asmara. (Panjebar Semangat, 29/2007) Bisa pula ditulis dengan agak nakal, seperti yang ditulis oleh Sugeng Wiyadi: YEN SABEN KANGEN Yen saben kangen tambane rangkul-rangkulan sliramu lungset ing rangkulanku yen saben kapang obate ambung-ambungan lambeku memet jroning lambemu yen rangkul-rangkulan lan ambung-ambungan wis dadi pakulinan apa wis tuntas kangen lan kapang? kulitku lan kulitmu sakala mlepuh jalaran kulit kesinungan rasa mula rilakna kangenku angkrem ing angen-angen lan kapangku ngrembyang ing awang-awang amrih kulitku lan kulitmu tetep jinaga ora kobong dening ubaling geni asmara 1994 (antologi Pisungsung, 1995) Cinta, tentu saja tak hanya dimaknai sebagai perasaan sayang seseorang kepada lawan jenisnya, namun bisa menyentuh dimensi yang lebih luas, misalnya cinta seserorang kepada ibunya seperti pada geguritan yang dianggit alm. Yudhet di bawah ini: Ibu dakpocok saujung godhonge gedhang raja lan dak gelar samburine lawang tumuju marganing gegayuhan kathi ening lan eneng dakselehake jasadku gumlethak ing gapuraning tresnamu ibu, koksawurake rahmat ing sakojur wakku kokelus sukmaku nganggo alusing tangan sihmu kabuntel karep kagenggem tekad karumat kinurmat dadi jimat minangka cagakke gegadhangan ibu, tirta seta saka pangepuhing pinjung sutra kang tumetes saka telenging sukmaku

tangeh lamun bakal tinebusan sanajan aku kuwawa mbendung samodra lan caos pisungsung sawakul cepaka ibu, sineksenan ibu bumi bapa angkasa bapa rina ibu bengi amung siji prasetyaku dakgulawentah putu-putumu kaya pangrengkuhe ibu marang aku kareben tansah siyaga ing jurit unggul ing pabaratan minangka bektiku marang ibu (Surabaya Post, 26 Februari 1995). Cinta pada Tuhan bisa diekspresikan pula dalam bentuk geguritan, menjadi tema religius seperti di bawah ini: TAHAJUD (mm.Bhoernomo) Sajadah warisane ibu tansah gumantung ing canthelan kumlebat kena panyuntake kipas angin setya nggugah ngorok sesengguran kalela-lela impen katalompen hawa ancles wiwit rumesep aku dhendhepe karep dosa-dosa iki kudu walaka marang sapa marang saben ngaling-alingi dosa-dosa kang tansah dukjumputi dakcelengi ing sepine wengi ora ana sapa-sapa ing telenge ati aku bisa walaka sajadah warisane ibu kang tansah gumantung ing canthelan kumlebat nuduhake cathetan-cathetan saka sajadah tansah daksimak panyendhu saha panyurunge ibu kang tansah nyuntak-nyuntak. (PS/02/2008) ALIF (Inggih Sunarto) alif laam mim wola wali aku sinau ngaji

gumeter ngapalake alif Paduka gumrobyos kringet ndulu alif Paduka alif laam mim dakambal-ambali anggonku ngaji liwat alif aku tepung liwat alif aku Tresna marang alif aku aora duwe daya dhuh Paduka ALLAHUAKBAR Refleksi Diri dan Filosofi Hidup Geguritan bisa ditulis untuk hal yang remeh temeh atau sebaliknya untuk mengekspresikan hal yang serius seperti untuk merefleksikan diri atau untuk menawarkan sebuah filosofi hidup. Refleksi diri, penggurit mengandaikan dirinya sebagai sesuatu yang memiliki nilai filsafah hidup. Penggurit boleh membayangkan dirinya sebagai samodra, raja, presiden, daun, pohon, matahari, embun bahkan setaraf empu sekalipun. Seperti yang ditulis penggurit David Harijono yang mengidentifikasikan dirinya sebagai pangpang (ranting): GURIT PANGPANG URIP IKU pangpang aweh pepadhang awit gegodhongan alum garing padha runtuh katendhang warayang pangpang ateges ngrembaka awit uwit gedhe cilik urip anglur selur nunggak semi pangpang iku watwating budaya mracihnani isih makantare budi kwagang mikul sasanggeman nadyan jaman nyakramanggilingan singset muter pangpang tetep dadi gondhelan samangsa kemladheyan ngajak sempal pangpang uwot panggayung nahan pingget perih tekan getih ngampet pasiksan curesing pamrih pangpang dadi bunci dadi celengan pating krantil sing pengin golek pencokan pangpang mesem perih aku iki sangpepadhang

awit urip iku ana ing aku pangpang (Jaya Baya 29/Maret 2008) Tak hanya sekadar merefleksikan diri, sang penggurit bisa menulis geguritan untuk menawarkan filsafah hidup yang dia miliki. Dengan kata lain melalui geguritan dia mengajarkan sebuah pandangan hidup kepada para pembacanya, seperti yang dilakukan Rini T Puspo MANGSA NGERTIA Ditangisana mangsa`weruha dioyak mangsa ngertia ora bakal mandheg tumoleh saderma miling tembung warisan ora kleru, ngetut lakune jaman mbujung impen lan kekarepan awit jantraning ngaurip manut obah osiking kahanan pitakonku: nganti kapan anggonmu lumayu? nganti ancik-ancik menara gadhing? ngemut legine gula eman nglepeh yen manis dirasa aja dadi pepalang tembung kang karungu terus, terusa jumangkah mapag esem guyu wanti-wanti elingku: keduwung tibane mburi. (PS-24/2007) Saat merefleksikan diri, penggurit tidak selalu merefleksikan diri sebagai seseorang yang hero, namun bisa pula mereflesikan diri sebagai manusia biasa yang kadang-kadang bahkan satire atau sinis terhadap diri sendiri. Hal ini seperti ditulis oleh Mbah Brintik: AKU IKI PENGGURIT Aku iki penggurit kecepit nanging sugih anggit Aku iki penggurit ora duwe ajang, nanging isih bisa dhigar Aku iki penggurit Jawa, uripku kaningaya, naging isa bisa nebah dhadha adoh kang tak jangka Dhuh Gustiiii

apa aku bisa nggayuh rembulan tanpa elar kang megar? apa aku bisa nguwot ogal-agil tanpa sikil? Aku pancen penggurit (PS-02/2008). Hasil Pengamatan Segala sesuatu yang bisa kita lihat bisa menjadi bahan yang menarik untuk dijadikan geguritan. Di sekeliling kita banyak fenomena sosial yang bisa menjadi rangsangan untuk dijadikan geguritan. Suatu contoh misalnya, setiap lebaran kta melihat fenomena mudik yang bisa ditulis menjadi geguritan seperti di bawah ini. LEBARAN (Sus S Hardjono) BALI MULIH Bali mulih ing susuhe dhewe-dhewe kaya Manuk-manuk sing wis mabur lunga Ing benua liya Mulih bali ana ing asale Nyuwun berkah pangestu karo simboke Kebak dosa lan salahe Sakwise siyam ing wulan Ramadhan Mulih bali ing fitrah Suci maneh tanpa dosa Mbukak lembaran anyar Kaya kain mori putih Wonten ing taubatan nasuha Gusti nyuwun pangapura Sedaya dosa igkang disengaja lan mboten sengaja Tasbih dan dzikir kagunganMu Sedaya jagat khidmat memuji asmaMu Takbir lan tahmid ing ArsyMu Sujud lan syukur kagem Paduka Lapangan, mesjid, sujud Ing dina Fitri Resik kaya kapas Jembare ati segara (PS-44/2007) Seringkali kita juga tak puas bahkan protes terhadap fenomena sosial yang tergelar dihadapan kita. Ketidakpuasan tersebut bisa kita ekspresikan menjadi geguritan yang mengandung kritik sosial, seperti di bawah ini: AKU, ANAKKU, LAN TV (Tjahjono Widarmanto)

Aku lan anakku kelangan lacak ana ing tabung kaca kuwi saben detik salin rupa, mancala putra mancala putri : aku dadi batman anakku dadi robin anakku malih mac giver aku macak dadi jet lee aku kebak gaya, nganggo jas kaya mentri penerangan lan anakku malih dadi suryadi, nyandhing kursi dumadakan, salin rupa dadi penyanyi njerit heavy metal lan nangis nguguk ing telenovela saiki, aku, anakku gemeter nglari ana ing ngendhi rupa sing aseli. Sawangen, tanganku, tangan anakku Kebak getih, tali, lan tangis! (Mekar Sari, Juli 1997) Kadang-kadang kita pernah berkunjung atau tinggal di sebuah kota dan tersentuh oleh keberadaan dan kenangan pada kota tersebut. Mungkin karena makanan khasnya, gadisgadis cantiknya, keidahan kotanya, dan sebagainya. Itu menjadi bahan untuk ditulis menjadi geguritan BADUNGAN (M.Moersito) Biyen Kalimu mili getih Getihe para pejuang kamardikan Biyen bathang gemlethak sak dawane lurung jasade para pahlawan pindha sawung Saiki Setan genthayangan ngumbar swara Jejogedan turut dalan Sinambi ngelus ngelus dhadha Wanita pelanyahan

Bandunganoh Bandungan Jenengmu moncer kumandhang Dosamu sundhul wuwungan (PS-51/2006) Menggali Legenda Mursal Esten pernah berteori bahwa sastra memiliki peluang menampakkan arkaisme atau kepurbaan. Sastra bisa menjadi wahana untuk menceritakan kembali sebuah legenda. Cerita pewayangan, misalnya, bisa menjadi bahan yang menarik untuk diciptakan kembali dalam bentuk geguritan. Tak hanya menceritakan kembali dalam bahasa geguritan namun penggurit bisa memaknai kembali atau memberi penafsiran yang mungkin amat berbeda dengan tafsie sebelumnya. Mari kita lihat geguritan di bawah ini: BETHARA KALA (Sunardi KS) kama kang nglambrang nalika isih jejaka saiki ndedel gedhe dadi bethara kala uluk-uluk jroning dhadha winga-winga tanpa suwara kang katon wicaksana kae jalaran kokruket pinangka kanca kang pinilih pinercaya ngembani panguwasa wisa rasa gula kama kang nglambrang saparan-paran dadi memala nuwuhake pageblug ndedel mendhuwur comondhok dhadha keklambrangan sirah mlebu metu mripat, irung saha kuping ngawe-awe nglancipake kuku kama kang nglambrang saparan-paran ndedel dadi bethara kala ang dadi memangsane ora ateges diklethak saraga balunge (JB. No 39/Mei 2008) Legenda, mitos, dongeng atau folklor yang bisa digali sebagai bahan geguritan tak hanya diperoleh dari khazanah tanah air saja, namun bisa menggali dari sumber tradisi lisan manca negara. Seperti yang dilakukan oleh I Kunpriyatno yang menggali dongeng Yunani Kuno Oeidipus Rex: CANGKRIMANE SPHINX Sphinx teka ing negara sing tansah dikebaki kasedhihan lan kasangsaran kuwi banjur kandha

bedheken cangkrimanku. Yeng ana sing bisa mbedhek negara iki bakal pulih kaya wingi uni lan kowe kabeh bakal slamet uripmu. cangkrimanku mangkene: apa sing nalika esuk sikile papat, nalika awan sikile loro lan nalika wayah sore sikele telu? satemene wangsulane cangkriman mau ora liya perlambange manungsa. Nanging wong-wong ing negara kuwi ora ana sing bisa mbedhek jalaran pancen wis padha lali marang hakekate dhewe kadidene manungsa sphinx banjur lunga nggawa ati sing perih lan cuwa. Ninggalake negara sing nganti seprene panggah dikebaki bencana lan mala sing tansaya ndadi (apa jenenge negara kuwi ya lan ing ngendi Panggonane? Ah, aja-aja..) (JB. No 50 Agustus 2007) Akrostik (Sandi Asma) Akrostik adalah geguritan yang huruf-huruf pangkalnya bila dibaca dari atas ke bawah menjadi nama orang, yang biasanya adalah nama pengguritnya. Sebenarnya tak hanya nama pengguritnya, namun bisa nama orang lain, pacar, misalnya, atau nama kota, nama peristiwa dan sebagainya. Kita lihat geguritan Dukut di bawah ini: PANYEBAR SEMANGAT Pambudidaya mrih luhuring bangsa Arih angudi lestarining basa jawi Nrajang sela-selaning kabudayan manca kang wus sumebar Yektine pra mudha mudhi wus koncatan aruming basa jawi Eman-eman yenta sirna kalindhih Babar pisan tanpa tilas Ayo kanca rowang gumolong gilig ing tekad Rawe-rawe rantas malang-malang putung Sedyane ngleluri aruming basa Esthine iku kwajibanira Mendhep mantep tanpa kuciwa Andhap asor syarat lakunira Netepi darmaning agesang Guyup rukun bebarengan Angudi kamulyaning bangsa Tetep teguh ngregem basa jawi. Humor Andaikan keenam pintu masuk menulis geguritan tersebut di atas, dianggap sulit dan

membuat jidat berkerut, kita bisa masuk melalui pintu ke tujuh yaitu humor. Kita bisa menulis geguritan dengan cara yang cair, jenaka, main-main, dan sedikit nakal, seperti Slamet Mul di bawah ini: Kabuka Angin sumilir Semriwing Nyingkap rok Keton pupune kuning Aku mrindhing Deweke njerit Njenggirat Membaca geguritan nakal di atas mau tak mau kita akan tersenyum. Bisa pula kita kembangkan dengan cara meledek teman kita dengan cara lucu, main-main tapi tak boleh kasar. Syaratnya tentu saja yang diledek tidak boleh marah. Jika sungkan meledek teman, maka kita bisa meledek diri sendiri, menertawakan diri sendiri sambil menyindir orang lain. Seperti yang dilakukan Turiyo Ragilputra: WETENG Aku duwe weteng Saben dina daktutupi Dakklambeni dakkaosi Karepku ben ora ngisin-isini Wetengku iki Saben dina mundhak gedhi Bunder metheng-metheng Kaya wetenge wanita isi bayi Embuh weteng apa Kok mekungkung kaya gunung Yen dakklambeni Mblendhis kaya kuwali Wetengku iki isine warna-warna Sega sate jangan Oseng-oseng opor kuluban Pancen weteng Sing apa bae bisa mlebu bleng Banyu lan panganan Panggangan apadene goreng Uga aspal krokos lan semen Bandar usuk lan kusen Wetengku iki Saya suwe saya mledhing gedhi Nanging isine dudu jabang bayi.

(PS-26/2008) Kita sudah melihat ada tujuh pintu yang bisa kita lalui untuk memasuki penciptaan geguritan. Pintu mana yang dipilih tentu saja amat bergantung pada pribadi masingmasing. Kalau ternyata ketujuh pintu tersebut masih merupakan lorong yang gelap kita bisa mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Bahkan, bisa membuat pintu sendiri. Yang penting agar trampil menulis geguritan kita harus banyak membaca. Membaca. Membaca berbagai geguritan dan tak putus menulis. menulis. dan Menulis. Untuk mengakhiri catatan ini perlu saya sampaikan bahwa seorang yang menulis geguritan tidak harus untuk jadi penggurit (penyair). Namun, kita sebagai seorang guru harus menulis geguritan untuk mencicipi pengalaman bersastra sehingga kita bisa menularkannya pada anak didik kita. Paling tidak kita bisa bercerita atau menampilkan geguritan kita sebagai sebuah model. Dan, saya yakin anak akan mempunyai kebanggaan bila guru juga mampu menulis geguritan. Dan, yang lebih penting lagi, dengan menulis geguritan kita bisa mengaktualisasikan diri sendiri, memahami diri sendiri, memahami orang lain, memahami manusia, kemanusiaan, hidup dan kehidupan.