Anda di halaman 1dari 58

Judul : PERHITUNGAN PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DI UJUNG LEMAHABANG PADA BOR D-28 (300 METER) MENGGUNAKAN PROGRAM SHAKE

Jenis Publikasi : jurnal Abstrak : Abstrak PERHITUNGAN PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DI UJUNG LEMAHABANG PADA BOR D-28 (300 METER) MENGGUNAKAN PROGRAM SHAKE. Lokasi yang diusulkan oleh Konsultan untuk pondasi reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terletak tepat di atas lubang bor D28 yang mempunyai kedalaman 300 meter. Bor dalam tersebut diperlukan untuk mengetahui perilaku tanah/batuan secara detil, baik secara statik maupun dinamik. Tujuan perhitungan percepatan tanah maksimum ini secara umum adalah untuk mengetahui sifat dinamik permukaan yang akan berpengaruh terhadap pondasi. Cara yang dilakukan dalam perhitungan ini, menggunakan program Shake dengan memasukan parameterparameter tanah/batuan, antara lain kedalaman pelapisan, densiti, kecepatan geser tanah, damping dan input gempa lokal maka akan diperoleh nilai percepatan tanah maksimum (maximum acceleration). Untuk parameter input gempa menggunakan gempa daerah lain yang mempunyai kesamaan skala seperti gempa Kobe (M=7.2 skala Richter) karena gempa tersebut sulit diperoleh di daerah penelitian. Hasil running dari penelitian ini sangat dipengaruhi oleh input damping, kedalaman pelapisan, dan input gempa itu sendiri. Sehingga perilaku pondasi untuk struktur bangunan besar yang diperhitungkan adanya gempa, tergantung dari desain awal nilai dinamik tanah seperti halnya percepatan tanah maksimum permukaan. Abstract THE CALCULATION OF MAXIMUM ACCELERATION AT THE UJUNG LEMAHABANG SITE FOR D-28 (300 METER) USED SHAKE PROGRAM. Proposed site from Consultant to use for a

foundation of Nuclear Power Plants lies at the bore hole D28, it has 300 meters depths. The bore hole have done to the soil/stone characteristic including of static and dynamic analysis. Generally the purpose of maximum acceleration for identification a dynamic surfacethat will affect of a founddation. Methodology is used the shake programe with including of the soil/stone parameters, namely depth, density, shear wave velocity, damping, earthquake so it will gate of the maximum acceleration. Input motion earthquake used a other site that it has same scale likes the Kobe Earthquake (M = 7.2 Richter) as earthqquake very difficult in the ULA site. The results of the running from Shake program very affect of a damping, depths of the layers, and input motion earthquake self. So that a foundation characteristic for big stucture will calculate of the earthquake, depending from fisrt desain of a dynamic value like this maximum acceleration. Penulis : Hadi Suntoko ISBN/ISSN : 1410-9816 Penerbit : Pusat Pengembangan Energi Nuklir - BATAN Sumber Publikasi : Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Waktu Pelaksanaan : Desember 2003 Lembaga Riset : Pusat Pengembangan Energi Nuklir BATAN

Title Edition Call Number ISBN/ISSN Author(s) Subject(s)

Mikrometer dan Percepatan Tanah Maksimum Kota Makassar Vol. 19 No. 1 (05)553 PUS s 1829-5819 Soehaimi, A. - Personal Name Sumber gempa bumi Mikrozonasi Mikrotremor Respons tanah setempat

Percepatan tanah Classification Series Title GMD Language Publisher Publishing Year Publishing Place Collation Abstract/Notes (05)553 Jurnal Sumber Daya Geologi Jurnal Indonesia Pusat Survei Geologi 2009 Bandung Hlm. 37-45 Kota Makassar mempunyai jarak cukup jauh lebih dari 50 km lajur sumber gempa bumi, namun susunan tanahnya lunak sehingga dapat mengamplifikasikan getaran tanah akibat gempa bumi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mikrozonasi kegempaan sebagai data dasar analisis risiko respons tanah setempat. Dalam penelitian ini peta mikrozonasi kegempaan dibuat berdasarkan karakteristik dinamika tanah hasil penelitian mikrotremor. Tanah yang mempunyai periode dominan panjang akan lebih berisiko dibandingkan dengan tanah periode dominan pendek. Periode dominan tanah dihitung berdasarkan spektrum rasio horizontal terhadap vertikal (H/V) mikrotremor, sementara peta mikrozonasi Kota Makassar dibuat berdasarkan variasi periode dominannya. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa bagian barat daya Kecamatan Tamalanrea mempunyai nilai periode dominan yang paling besar. Angka ini menurun secara bertahap ke bagian timur Kota Makassar. Kajian percepatan tanah maksimum (peak ground acceleration) memperlihatkan nilai percepatan tanah maksimum tidak berbeda jauh antara satu kecamatan dengan kecamatan yang lain. Percepatan yang nilainya tinggi berada di bagian timur Kota Makasar, yaitu Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, dan Manggala dengan nilai percepatan sebesar 58,80, 56,84 dan 55,86 gal untuk selang waktu 500 tahun. Nilai percepatan tersebut semakin mengecil ke sebelah barat, yang disebabkan oleh zona sumber gempa bumi terdekat dari Kota Makassar, yaitu sesar Walanae yang berada di sebelah timur Kota Makassar.

Specific Detail Info

Image

File Attachment Availability

No Attachment There is no item/copy for this title yet Back To Previous

http://opac.geotek.lipi.go.id/index.php?p=show_detail&id=3353

TAGANA
TARUNA SIAGA BENCANAINDONESIA. KB,WONOSOBO PROPINSI JAWA TENGAH -SATU ATURAN-SATU KOMANDO-SATU CORPS/UNITYSIGAP TANGGAP. GUGUS TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG BANTUAN SOSIAL.SATGAS POSKO,SATGAS LOGISTIK

.HUMENTARIAN.RISCUE. KOMUNIKASI .TRC (TIM REAKSI CEPAT) Tentang TAGANA TAGANA TAGANA, adalah suatu organisasi sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang berbasiskan masyarakat. Pembentukan TAGANA merupakan suatu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan generasi muda dalam berbagai aspek penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis masyarakat. Keberadaan TAGANA selama seitar 4 tahun ini telah banyak melakukan kegiatan kemanusiaan dalam bencana dan kegiatan kesejahteraan sosial yang akhirnya menjadi salah satu organisasi yang diterima oleh masyarakat. Selain itu hampir semua anggota TAGANA telah mengikuti pelatihan dibidang penanggulangan bencana dan bidang kesejahteraan sosial, menyebabkannya mampu melaksanakan aneka peranan di bidang penanggulangan bencana. Sebagai suatu organisasi, TAGANA mampu mengembangkan program dan kegiatannya secara berkelanjutan. VISI TAGANA : Menjadikan TAGANA sebagai relawan Penanggulangan Bencana berbasis masyarakat yang bermartabat dan handal di bidang bantuan sosial. MISI TAGANA : Membekali keahlian yang cukup melalui pendidikan dan pelatihan secara periodik sesuai jenis-jenis bencana. Meningkatkan inovasi dalam penanggulangan bencana dengan memanfaatkan potensi dilingkungannya. Memberikan pemahaman tugas pokok dan fungsi TAGANA dalam penanggulangan bencana. Prinsip Penanggulangan Bencana 1. Prinsip : One Comand (Satu Komando) One Rule (Satu Aturan) One Corps/Unity (Satu Korsa/Unit) 2. Moto TAGANA : We are the first to help and care 3. Slogan

TAGANA : Sigap Tanggap TAGANA melakukan kegiatan pada semua fase siklus bencana tetapi yang utama adalah pada saat sebelum bencana terjadi, yaitu Tahap Kesiapsiagaan (sesuai dengan nomen kaltur Taruna Siaga Bencana). Peran TAGANA Dalam Penanggulangan Bencana Bidang Bantuan Sosial Peran TAGANA adalah pelaku pertama sebagai komunikator, motivator, dinamisator dan fasilator. Selanjutnya pelaku kedua adalah masyarakat itu sendiri. Apa Yang Dilakukan TAGANA 1. Pra Bencana Melakukan pendataan wilayah rawan bencana dimana yang bersangkutan berada Melakukan kajian dan analisa resiko bencana Melakukan penyuluhan Melakukan pelatihan Menghimpun potensi dan sumber-sumber serta peralatan Melakukan penguatan jaringan informasi dan komunikasi Menyusun rencana aksi melakukan pengawasan, pemantauan dan evaluasi 2. Saat Bencana Mengaktifkan semua sistem Menghimpun data dan informasi Mengerahkan semua potensi Menyalurkan bantuan Melakukan antisipasi dampak bencana lanjutan Menyiapkan bantuan lanjutan 3. Pasca Bencana Membuat catatan dan seleksi dampak bencana Menyusun rencana rehabilitasi Melakukan kajian dampak bencana Melakukan rujukan Melakukan evaluasi Menyusun Laporan

Menu
Langsung ke isi

Beranda Alamat Departemen Sosial, Indonesia Hujan Deras Enggak Mempan Hadang Massa Pendemo di DPR LOGO KECAKAPAN PENANGGULANGAN BENCANA TAGANA Mensos Dialog dengan Anak Jalanan

PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN MANAJEMEN BENCANA Puting Beliung Porakporandakan Puluhan Rumah SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KORPS/UNITY

TARAUNA SIAGA BENCANA KABUPATEN WONOSOBO


The Big DayMaret 25th, 2012 TARAUNA SIAGA BENCANA KABUPATEN WONOSOBO

mitigasi/penenggulangan

puseran Gempa 6.0 SR Banten Terasa di Jakarta, Depok, dan Bogor GEMPA KEMBALI MELANDA ACEH, KEMENSOS KERAHKAN BANTUAN 4888 Dua Orang Meninggal Tertimpa Tebing, Saat Kerja Bhakti Di Desa Slukatan

taganawonosobo

Hello world! http://t.co/vnlY0iRa lewat @wordpressdotcom@taganawonosobo2 weeks ago [Angka Kemiskinan] Angka Kemiskinan di Jember Bertambah http://t.co/Fw3JJX47 lewat @kompascom@taganawonosobo2 weeks ago General Settings: http://t.co/TyvuhkWL lewat @wordpressdotcom@taganawonosobo2 weeks ago Anak Indonesia Mendesak Pemenuhan Hak http://t.co/Ks4vaoIS lewat @kompascom@taganawonosobo3 weeks ago Twitter / Tombol Twitter https://t.co/icCf7Muz lewat @TaganaWonosobo@taganawonosobo3 weeks ago http://t.co/CRYzyrtk :: Berita - Kemsos Miliki Data Penerima BLSM http://t.co/Xr3Zugct lewat @liputan6dotcom@taganawonosobo3 weeks ago Beda Persepsi, Surat Keterangan Bebas Utang Foke Sulit Keluar http://t.co/H20LfHmX via @kompascom@taganawonosobo3 weeks ago Polda Metro Siapkan Skenario Pengalihan Arus http://t.co/rcxiiknS via @kompascom@taganawonosobo3 weeks ago Check out TweetDeck (Twitter, Facebook) on Google Play! https://t.co/ZV62ws4c@taganawonosobo3 weeks ago RT @TAGANA_PUSAT: Dirgahayu TAGANA Indonesia ! We are the first to Help and Care .. Setia selalu untuk kemanusiaan dan Republik Indonesi ...@taganawonosobo3 weeks ago

RT @salimsegaf: @TAGANA_PUSAT. Mengenang 5 #Tagana gugur dlm tgs evakuasi Merapi, Nov 2010: Samiyo, Slamet Ngatiran, Ariyatno, Jupriyant ...@taganawonosobo3 weeks ago RT @salimsegaf: @TAGANA_PUSAT. Slamat HUT ke-8 #Tagana di seluruh pelosok #Indonesia, 24 Maret 2012. Masy menyaksikan: dedikasi, ketulus ...@taganawonosobo3 weeks ago RT @persib: Persiba vs Persib 2-1@taganawonosobo3 weeks ago RT @Metro_TV: The New Ipad atau Ipad 3 Banyak Dikeluhkan http://t.co/n8QVXs0X@taganawonosobo3 weeks ago RT @Metro_TV: Tiga Kali Foke-Nara Tak Hadiri Debat Balon Gubernur DKI http://t.co/MZyE1NGL@taganawonosobo3 weeks ago

lembagakonsultasikesejahteraankeluarga

Anggaran Pemerintah Terkuras Lagi untuk Ganti Rugi Korban Lapindo http://t.co/iSnPHaqT@lembagak32 weeks ago kesehatan keluarga adalah di kita sendiri@lembagak32 weeks ago Bangkit dari Kubur Abu Galunggung http://t.co/4trE0Zpf via @kompascom@lembagak32 weeks ago RT @kompascom: Polwan Akan Dikerahkan Amankan Demo BBM http://t.co/mw7s3LS8@lembagak33 weeks ago RT @detikcom: Demo Tolak Kenaikan BBM Merahkan Bundaran HI, Lalin Macet http://t.co/eCS4xqS1@lembagak33 weeks ago RT @tvOneNews: PLN target ekspor listrik ke Malaysia 100 MW pada 2014. #KilasKabar@lembagak33 weeks ago Links: http://t.co/knHbeUN9 lewat @wordpressdotcom@lembagak33 weeks ago lembagakonsultasikesejahteraankeluarga http://t.co/ioZmgJ8Q lewat @wordpressdotcom@lembagak31 month ago http://t.co/QJ2eYzRW lewat @wordpressdotcom@lembagak31 month ago lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga: linformasi,LEMBAGA KONSULTASI KESEJAHTERAAN KELUAR... http://t.co/rZMTFjdJ@lembagak31 month ago Budaya Menanam Masuk Kurikulum Sekolah http://t.co/c6wU8bkp lewat @wordpressdotcom@lembagak32 months ago lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga@lembagak32 months ago PENYUSUNAN BUKU PANDUAN PENGELOLAAN LK3 KABUPATEN/KOTA http://t.co/IbJ0WIXn lewat @wordpressdotcom@lembagak32 months ago http://t.co/uYlvDgUQ@lembagak32 months ago http://t.co/BfBXfML0@lembagak32 months ago http://t.co/jLca4qs1@lembagak32 months ago http://t.co/MhIvskYg@lembagak32 months ago

R TUGIYO BISRI
Agustus 2010

S M S S R K J Jul Sep 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Dinas Sosial Kb Wonosobo TWITTER


lanngsung meluncur ke jati sari bas wy busssssssssssssssssssssss@walisana_candi4 months ago Twitter Help Center | How To Change Your Profile Picture or Information http://t.co/PgM1T4hI via @support@walisana_candi5 months ago MENCOBA MEMPERBAIKI DALAM HAL YANG BARU@walisana_candi5 months ago jangan berharap lebih banyak dari perjuangan@walisana_candi@walisana_candi5 months ago

BENCANA DI INDONESIA

INDONESIA

TWITTER HOT LINE TIM REAKSI CEPAT OUTREACHER


MEMBANGUN networking (jaringan) melalui social media memiliki banyak manfaat. Tengoklah, bagaimana kabar bisa... http://t.co/TlXxe7Df@trc_kemensos19 hours ago Jakarta Seorang bocah berusia 5 tahun, Yoga meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 30 Apartemen Rasuna,... http://t.co/dkpMpIgP@trc_kemensos1 day ago Mantan Pangkopkamtib Sudomo Tutup Usia Indra Subagja - detikNews Rabu, 18/04/2012 10:53 WIB Jakarta Mantan... http://t.co/5hVpOFuP@trc_kemensos1 day ago http://t.co/VvgWaXRR http://t.co/wTwurSvL@trc_kemensos1 day ago Deretan gunung api Jawa Tengah memberi keunikan dinamika hidup bagi masyarakat sekitar berabad-abad lamanya.... http://t.co/A4LXYwuj@trc_kemensos2 days ago Bumi Priangan merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat saat ini. Topografi yang bergunung-gunung disertai... http://t.co/pxwyOBcd@trc_kemensos2 days ago http://t.co/UVU15wCs http://t.co/1x5L9w9i@trc_kemensos2 days ago Cita-cita Alfaris Jamil, siswa SMKN 3 Halmahera Tengah, Maluku Utara berakhir tragis. Alfaris meninggal dunia... http://t.co/N38gPKQ9@trc_kemensos2 days ago http://t.co/ZmbI5mGE@trc_kemensos2 days ago http://t.co/ZmbI5mGE http://t.co/QWjao9ij@trc_kemensos2 days ago Sleman diterjang angin kencang - http://t.co/ZM7IB6Gb http://t.co/oeuP8bpJ@trc_kemensos3 days ago - Bencana terjangan angin kencang kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa... http://t.co/35Y1OPxC@trc_kemensos3 days ago Jakarta, Telah terjadi gempa bumi pada pukul 23.05 WIB di Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa berkekuatan... http://t.co/E0FpOxhV@trc_kemensos3 days ago http://t.co/S2VCUg5P... http://t.co/R6S1JY7K@trc_kemensos3 days ago http://t.co/Dp4Ojzlj http://t.co/ed4xBNsq@trc_kemensos3 days ago http://t.co/1fYjCaZv http://t.co/g5rMQ4UA@trc_kemensos3 days ago http://t.co/SdOTrZuc http://t.co/7xFhll9x@trc_kemensos3 days ago http://t.co/2igZx9Dc http://t.co/GHQks33c@trc_kemensos3 days ago http://t.co/9xRGl8e7 http://t.co/HbccikQt@trc_kemensos3 days ago http://t.co/QY905JUT http://t.co/seVz8LSB@trc_kemensos3 days ago

KABUPATEN WONOSOBO Provisi Jawa Tengah

31,485 hits

BENCANA ALAM

PENANGGULANGAN BENCANA Puting Beliung Porakporandakan Puluhan Rumah Alamat Departemen Sosial, Indonesia Mensos Dialog dengan Anak Jalanan Hujan Deras Enggak Mempan Hadang Massa Pendemo di DPR PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN MANAJEMEN BENCANA SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KORPS/UNITY LOGO KECAKAPAN PENANGGULANGAN BENCANA TAGANA TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized TAGANA,Kb wonosobo KEMENSOS BNPB BMKG TAGANA ACEH TAGANA PAPUA TARUNA SIAGA BENCANA INDONESIA Kb.WONOSOBO TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized BMKG markas komando taruna siaga bencana indonesia KOMPAS.COM KEMENSOS BNPB TAGANA ACEH TAGANA PAPUA http://taganakediri.blogspot.com/ Es Kutub Utara Meleleh Lebih Cepat Indonesia Juarai Bencana Tsunami Jepang Merambat Sampai Antartika Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih taruna siaga bencana indonesia taruna siaga bencana indonesia

http://www.wonosobokab.go.id/new/index.ph p?limitstart=340

Alamat Departemen Sosial, Indonesia Hujan Deras Enggak Mempan Hadang Massa Pendemo di DPR LOGO KECAKAPAN PENANGGULANGAN BENCANA TAGANA Mensos Dialog dengan Anak Jalanan PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN MANAJEMEN BENCANA Puting Beliung Porakporandakan Puluhan Rumah SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KORPS/UNITY

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PETA BENCANA ALAM DI INDONESIA


7 Agustus 2010 by KABUPATEN WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH

4 Votes
1. Ringkasan

Aplikasi ini bertujuan untuk membantu perusahaan asuransi dalam mengestimasi premi asuransi khusus untuk gempa bumi dan tsunami. Aplikasi SIG ini adalah kerangka SIG untuk bencana alam karena dirancang untuk bisa tumbuh sebagai aplikasi pemetaan bencana alam lainnya seperti gunung meletus, banjir dsb. Pada tahap ini aplikasi SIG yang berhasil dikembangkan adalah aplikasi untuk peta bahaya gempa bumi yang dilihat dari dampaknya terhadap bangunan. Untuk memudahkan pemakai, beberapa peta hasil aplikasi ini disusun juga dalam format HTML. 1. Pendahuluan

Letak geografi Indonesia yang membujur dari 94 o-141o BT dan 6o LU-11o LS merupakan negara kepulauan dengan tingkat kegempaan tinggi karena terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yang bergerak satu sama lainnya. Lokasi aktif gempa secara sepintas sudah dapat dipastikan berada di perbatasan lempeng tektonik. Namun efeknya bisa dirasakan pada jarak tertentu bergantung pada atenuasi (peluruhan energi) dan geologi setempat. Kondisi lingkungan alam ini membuat Indonesia sering dilanda bencana gempa bumi dan Tsunami yang makin hari makin meningkat kuantitasnya karena perkembangan penduduk, perkotaan dan umur bangunan.

Beberapa kali Indonesia dan Jakarta khususnya dilanda gempa bumi yang menyebabkan klaim kerusakan akibat gempa bumi kepada perusahaan asuransi meningkat. Sedangkan premi khusus untuk gempa bumi tidak ditentukan secara spesifik dan bahkan diberikan secara cuma-cuma. Hal ini melahirkan ketidak seimbangan bisnis asuransi, sehingga perlu meninjau kembali kebijakan premi asuransi gempa bumi. Idealnya, dengan menggunakan peta percepatan tanah maksimum, para insinyur sipil harus membangun bangunan tahan gempa sesuai dengan seismic code, sehingga resiko gempa pada semua tempat bisa sama. Hal ini berarti premi juga akan sama, bahkan jika bangunan tahan gempa maka premi gratis bisa diterapkan. Namun kenyataannya tidak semua insinyur sipil menggunakan kaidah seismic code tersebut, sehingga peta percepatan tanah sangat diperlukan oleh perusahaan asuransi untuk disesuaikannya dengan seismic code bangunan yang sudah diterapkan. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang bisa menjadi referensi premi asuransi gempa bumi tersebut. Ada dua hal yang membuat premi berbeda; yaitu tingkat aktifitas gempa bumi (percepatan tanah) dan kualitas objek, selain itu pengaruh pasar. Premi dari satu tempat ke tempat lain berbeda jika resiko gempa juga beda. Selain dari itu tentu kualitas dari objek yang diasuransikan, seperti gedung, jembatan dsb. Jika gedungnya sudah pernah rusak, maka sudah pasti preminya tinggi, sehingga kedua parameter tersebut menjadi bobot index asuransi untuk menentukan premi tahunan suatu objek asuransi. Hasil monitoring gempa bumi di Indonesia yang dilakukan oleh BMG maupun oleh pemerintahan Belanda (sebelum 1942) menunjukkan bahwa aktifitas gempa bumi tergolong sangat aktif. Peralatan monitoring gempa bumi yang dioperasikan BMG semakin baik, ditambah pula dengan perhatian peneliti dari luar negri sangat besar terhadap keunikan dinamika tektonik di Indonesia, sehingga informasi ilmiah tentang tektonik Indonesia menjadi bahan yang sangat menguntungkan bagi perencanaan bangunan dan industri asuransi. Namun informasi tersebut masih terpecah-pecah menurut keperluan disiplin tertentu, sedangkan untuk keperluan industri asuransi belum sepenuhnya diintegrasikan sebagai referensi premi. Referensi untuk perhitungan premi asuransi relatif mudah jika menggunakan index premi untuk suatu nilai objek, namun untuk menemukan index tersebut diperlukan banyak sekali parameter bencana yang akan memberi bobot nilai index tersebut. Paramater tersebut pada prinsipnya adalah resiko yang dihitung berdasarkan probabilitas gempa bumi dan probabilitas kerusakan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengumpulkan beberapa parameter gempa bumi untuk dipetakan sebagai gambaran kualitatif untuk perkiraan resiko gempa bumi. Parameter tersebut meliputi percepatan tanah, tsunami, seismisitas, distribusi gempa bumi dan sejarah gempa bumi di Indonesia. Beberapa paremeter tersebut memberikan gambaran langsung maupun tidak langsung terhadap dampak dari setiap peristiwa gempabumi di suatu lokasi. 1. 3.1. Maksud dan tujuan Tujuan Umum

Secara umum kita harus berasumsi bahwa premi objek asuransi bergantung pada fenomena alam dimana objek tersebut berlokasi dan objek asuransi tidak tahan terhadap peristiwa alam, sehingga premi tidak perlu nol. Karena itu pemetaan bencana alam menjadi sasaran utama penelitian ini agar dapat menjadi referensi index premi asuransi. Proses pemetaan bencana alam ini dilakukan secara bertahap, karena bencana alam disebabkan oleh peristiwa; gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor dsb. Tiap peristiwa alam tersebut dapat dipetakan sendiri-sendiri, namun bisa juga dijadikan satu peta bencana alam melalui aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografi). 3.2. Tujuan Khusus.

Tahap awal dari penelitian ini adalah membuat aplikasi SIG untuk peristiwa gempa bumi dan Tsunami. Peristiwa gempa bumi dipetakan dalam bentuk peta perpercepatan tanah maksimum, distribusi gempa

bumi, distribusi energi, tsunami dan peta intensitas. Beberapa peta tersebut digabung menjadi satu peta untuk melihat total resiko di suatu lokasi. 1. Metodologi

Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu perangkat yang berbasis komputer untuk pemetaan dan analisa fenomena alam. Analisa ini memadukan antara fenomena alam di lokasi geografis yang sangat tergantung pada pemilihan jenis peta dan jenis fenomena alam, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir, letusan gunung berapi dsb. Dengan teknologi SIG, kita padukan beberapa jenis peta dasar (misalnya peta garis pantai, peta topografi, peta tata guna lahan) dengan beberapa peristiwa alam yang terkait dengan bencana alam menjadi satu peta yang disebut sebagai peta bencana alam. Pada penelitian ini kita pakai peta garis pantai dengan batas propinsi di Indonesia untuk dipadukan dengan dampak gempa bumi berupa peta percepatan tanah maksimum, peta tsunami, dan peta seismisitas. Tiga jenis peta dampak gempa ini dipadukan untuk menjadi dua jenis peta resiko gempa bumi; 1). Perpaduan antara peta percepatan tanah dan tsunami dengan peta garis pantai, 2). Perpaduan peta seismisitas dan tsunami dengan peta garis pantai. Tinjauan resiko gempa bumi disetiap propinsi dilengkapi dengan sejarah kerusakan dari tahun 0 sampai tahun 2000 kemudian dilengkapi juga dengan perhitungan probabilitas priode ulang kerusakan disetiap propinsi. 1. 5.1. Jenis peta Peta seismisitas

Peta seismisitas adalah peta yang menunjukkan aktifitas gempa bumi. Aktifitas gempa bumi bisa ditinjau dari bermacam cara, diantaranya adalah dengan peta distribusi gempa bumi. Setiap gempa bumi melepaskan energi gelombang seismik, sehingga kumpulan gempa bumi pada perioda tertentu pada suatu area juga suatu cara untuk menggambarkan konsentrasi aktifitas gempa bumi. Metode pemetaan Pemetaan ini dilakukan dengan data gempa bumi yang berasal dari beberapa katalog seperti katalog BMG, USGS (United State Geological Survey) dan ISC (International Seismological Center) gempa di Indonesia pada periode 1897-2000. Data gempa bumi dipilih dengan magnitudo >= 5 skala Richter dan diplot setiap periode 10 tahun. Daerah aktif gempabumi di Indonesia di sepanjang pertemuan lempeng tektonik Eurasia dengan IndiaAustralian yang membentuk busur dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai Maluku, tumbukan lempeng oseanik Pasifik dengan Lempeng kontinen Australia di bagian utara Irian dan beberapa sesar lokal seperti sesar Sumatera, sesar Palu-Koro di Sulawesi dan beberapa sesar lokal lainya. Distribusi gempa bumi ini menggambarkan perbandingan tingkat aktifitas gempa dari satu lokasi terhadap lainnya tiap kurun waktu 10 tahun. Tinjauan lain adalah melihat konsentrasi energi gempa secara kumulatif ditiap grid 0,5o x 0,5 o dalam periode 1897-2000. Dengan melalui penyederhanaan yang cukup radikal kita peroleh hubungan momen energi (Mo) dengan magnitude (mB). Besaran energi dinyatakan dalam logaritma momen energi yang berkisar antara 10 20 erg sampai 1030 erg. Persamaan diatas menunjukkan bahwa perubahan satu skala magnitudo sebanding dengan perubahan momen energi sebesar 102,383 atau sekitar 242 kali magnitudo dibawahnya. Untuk log Mo=26.8 atau Mo= 1026.8 sebanding dengan mB=7 setara dengan 242 gempa bumi dengan mB = 6 atau setara dengan sekitar 58884 gempa dengan mB = 5 skala Richter. Hasil peta

1. 2. 5.2.

Peta Distribusi gempa bumi tiap periode 10 tahun, dari tahun 1900-2000 Peta Distribusi Energi gempa bumi Sejarah Gempa merusak, (Peta Intensitas dan probabilitas komulatif Gempa Bumi)

Gempa merusak dan menelan korban merupakan suatu kejadian yang sering dilaporkan sejak zaman sebelum ditemukan alat pencatat gempa bumi (Seismograp). Laporan gempa merusak ini bisa dipakai sebagai data/sample perhitungan statistik untuk mendapatkan gambaran umum tentang kerusakan dan korban dimasa mendatang. Cara ini sebetulnya belum bisa menyimpulkan resiko gempa bumi secara ilmiah, namun cukup mendapatkan gambaran umum dari sejarah kerusakan yang pernah dialami suatu daerah. Cara yang lebih baik adalah dengan pengkajian karakteristik tiap sumber gempa dan menghitung probabilitasnya untuk pertimbangan resiko. Pengkajian sumber gempa merupakan pengkajian sesar-sesar aktif dan Untuk mendapatkan nilai-nilai Probabilita Kumulatif di beberapa daerah di Indonesia, dengan mempergunakan Metoda Analisa DistribusiWeibull, dengan memakai data sebanyak 280 gempa merusak dari tahun 1821 2000, yang merupakan gempa bumi utama (mainshock) pada magnitudo M > 5.0 skala richter. Bahwa Distribusi Weibull untuk pertama kali dipakai menganalisa periode ulang dan probabilita gempa bumi oleh Hagiwara (1974). Distribusi Weibull yang dipergunakan, ditulis dengan persamaan sebagai berikut : (1) dimana : K dan m adalah konstanta (tetapan), K > 0 dan m > -1. Dt adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi gempa bumi sebelum waktu (t)dengan interval waktunya adalah dari (t) hingga ( t + Dt) ). Pobabilita Kumulatif kejadian gempa bumi selama selang waktu nol dan t dituliskan sebagai berikut : F(t) = 1 R(t) (2)

dengan R(t) merupakan Reliabilita yang dirumuskan sebagai berikut : (3) Perhitungan frekuensi dari gempa bumi (ni) untuk setiap selang waktu Dt dipilih secara tepat. Kemungkinan terjadinya periode ulang gempa bumi yang terletak dalam selang waktu antara i. Dt dan (i+1). Dt; (untuk i = 0,1,2,3,,n)diperoleh bentuk(ni/N), dimana N adalah jumlah total gempa bumi. Probabilita Kumulatif dapat diproleh dengan rumusan : (4) Sedangkan nilai reliabilita R(t) dapat diperoleh dengan memasukkan persamaan (4) ke persamaan (2). Jadi dengan demikian dapat diperoleh nilai Probabilita Kumulatif

dibeberapa daerah di Indonesia, adalah sebagai berikut : Daerah Waktu ( Tahun ) Probabilita (%) 80 90 80 90 80 96 92 96 95 90 90 90 90 90 90 90 90 97 90

Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Bengkulu Jawa Barat Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Timor Timur Kaloimantan Timur Sulawesi Utara Sukawesi Tengah Sulawesi Selatan Maluku Irian Jaya Hasil peta 1. 2. 5.3.

26 28 82 42 60 19 28 23 24 34 20 15 6 16 42 9 15 24 16

Sejarah gempa merusak tiap propinsi dengan memakai skala Intensitas MMI Probabilitas gempa merusak tiap propinsi Peta Percepatan tanah maksimum

Perpindahan materi biasa disebut displacement. Jika kita lihat waktu yang diperlukan untuk perpindahan tersebut, maka kita bisa tahu kecepatan materi tersebut. Sedangkan percepatan adalah parameter yang menyatakan perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Pada bangunan yang berdiri di atas tanah memerlukan kestabilan tanah tersebut agar bangunan tetap stabil. Percepatan gelombang gempa yang sampai di permukaan bumi disebut juga percepatan tanah, merupakan gangguan yang perlu dikaji untuk setiap gempa bumi, kemudian dipilih percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) untuk dipetakan agar bisa memberikan pengertian tentang efek paling parah yang pernah dialami suatu lokasi. Efek primer gempabumi adalah kerusakan struktur bangunan baik yang berupa gedung perumahan rakyat, gedung bertingkat, fasilitas umum, monumen, jembatan dan infrastruktur struktur lainnya, yang diakibatkan oleh getaran yang ditimbulkannya. Secara garis besar, tingkat kerusakan yang mungkin terjadi tergantung dari kekuatan dan kualitas bangunan, kondisi geologi dan geotektonik lokasi bangunan, dan percepatan tanah di lokasi bangunan akibat dari getaran suatu gempa bumi. Faktor yang merupakan sumber kerusakan dinyatakan dalam parameter percepatan tanah. Sehingga data PGA akibat getaran gempabumi pada suatu lokasi menjadi penting untuk menggambarkan tingkat resiko gempabumi di suatu lokasi tertentu. Semakin besar nilai PGA yang pernah terjadi disuatu tempat, semakin besar resiko gempabumi yang mungkin terjadi.

Pengukuran percepatan tanah dilakukan dengan Accelerograph yang dipasang dilokasi penelitian. Jaringan accelerograph milik BMG tidak lagi beroperasi karena mengalami kerusakan sejak tahun 1980an, sehingga pengukuran percepatan tanah dilakukan dengan cara empiris, yaitu dengan pendekatan dari beberapa rumus yang diturunkan dari magnitude gempa atau/dan data intensitas. Perumusan ini tidak selalu benar, bahkan dari satu metoda ke metoda lainnya tidak selalu sama. Namun cukup memberikan gambaran umum tentang PGA. Gempa besar bisa terjadi berulang-ulang di suatu tempat. Kita kenal sebagai perioda ulang gempa bumi. Hal ini didukung oleh teori elastic rebound yang mempunyai fasa pengumpulan energi dalam jangka waktu tertentu dan kemudian masa pelepasan energi pada saat gempa besar. Perioda ulang gempa besar bisa 10 tahun, 50 tahun, 100 tahun atau 500 tahun. Sehingga tingkat resiko bangunan terhadap gempabumi bisa terkait dengan periode ulang gempabumi. Kita ambil contoh jika bangunan dirancang untuk berumur pakai 50 tahun dan perioda ulang gempa ditempat tersebut 100 tahun, maka percepatan maksimum di tempat tersebut tentu akan kecil. 5.3.1. Metode Pemetaan

Langkah-langkah membuat peta percepatan tanah maksimum (PGA) adalah sebagai berikut : v v Menyusun kembali data-data gempabumi yang terjadi dalam wilayah Indonesia dan sekitarnya. Membagi Indonesia menjadi grid dengan ukuran 0,5 derajad x 0,5 derajad.

v Menghitung percepatan tanah untuk tiap-tiap grid untuk semua data gempabumi dengan beberapa formula dan memilih satu percepatan yang paling besar pada tiap-tiap grid. v Menghitung percepatan tanah maksimum untuk tiap-tiap grid untuk berbagai periode ulang dengan menggunakan metode McGuire. v v 5.3.2. Menentukan tingkat resiko berdasarkan nilai percepatan maksimum. Membuat kontur peta resiko untuk wilayah Indonesia. Perhitungan Percepatan Tanah Maksimum (PGA)

Beberapa formula empiris PGA antara lain metode Donavan, Esteva, Murphy OBrein, Gutenberg Richter, Kanai, Kawasumi dan lain-lain. Formula-formula empiris tersebut ditentukan berdasarkan suatu kasus gempabumi pada suatu tempat tertentu, dengan memperhitungkan karakteristik sumber gempabuminya, kondisi geologi dan geotekniknya. Dari beberapa formula tersebut kita pilih formula Murphy OBrein, Gutenberg-Richter dan Kanai untuk diterapkan pada penelitian ini. Formula MurphyOBrein memberikan hasil yang mirip dengan formula Gutenberg-Richter yang dikombinasikan dengan fungsi attenuasi gempabumi yang ditentukan berdasarkan gempa Flores, 12 Desember 1991. Formula Kanai perhitungan percepatan tanahnya memperhitungkan site effect yang direpresentasikan oleh periode dominan tanah di site tersebut. Perhitungan dengan formula-formula ini mengunakan data gempabumi selama periode 100 tahun. Formula Murphy OBrein : PGA=10(0,14 I + 0,24 M) 0,68(log d + 0,7 ) dimana : PGA = Peak Ground Acceleration

I = Intensitas standard MMI M = Magnitude gempabumi d = jarak antara lokasi dengan sumber gempabumi Formula Gutenberg-Richter : log a = I/3 0.5 dan Io = 1,5 ( M-0,5) dimana : a = percepatan (gal), I = Intensitas (MMI) dan Io = Intensitas pada hyposenter. Fungsi attenuasi intensitas gempa Flores 12 Des 1992. I = Io exp. (-0,0021 X), dimana : I = intensitas pada jarak X km dari Io Formula Kanai : dimana : M = Magnitudo gelombang permukaan D = Jarak episenter 5.3.3. Periode Ulang

Fenomena gempabumi dapat digambarkan sebagai pelepasan energi oleh batuan bumi yang mengalami stress (baik regangan maupun tekakan) setelah mengalami akumulasi dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan sifat fisik batuan buminya. Semakin tinggi kekuatan batuan dalam menahan stress semakin besar pula energi yang dilepaskan. Dengan perkataan lain, semakin besar periode ulang suatu gempabumi semakin besar pula magnitude gempabumi yang akan terjadi. Dan semakin besar magnitude gempabumi makin besar pula percepatan tanah yang terjadi di suatu tempat. Untuk menghitung besarnya percepatan maksimum pada tiap-tipa grid digunakan metode McGuire, dimana probabilitas kejadian gempa dihitung berdasarkan distribusi ektrim Gumbel untuk periode ulang gempabumi 5, 10,20, 50, dan 100 tahun. Metode McGuire : dimana :

b1 = 472.3 b2 = 0.278 b3 = 1.301 m = magnitudo gelombang permukaan, dan R = Jarak hiposenter Ada 3 (tiga) tipe distribusi ekstrim gumbel yaitu : 1. 1. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe I : (1)

= exp [- exp{-a(x v)}] 1. 2. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe II : (2)

= exp {- } 1.

3. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe III : (3)

= exp {-} dimana : a = parameter fungsi intensitas v = karakteristik harga maksimum x = suatu variable e = batas bawah harga maksimum w = batas atas harga maksimum k = parameter kelengkungan Hasil peta 1. 2. 3. 4. 5.4.

Peta PGA metoda McGuire Peta PGA metoda Kanai Peta PGA metoda Murphy-OBrein Peta PGA metoda Gutenberg-Richter Peta sejarah Tsunami

Istilah tsunami berasal dari kosa kata Jepang tsu yang berarti gelombang dan nami yang berarti pelabuhan, sehingga secara bebas, tsunami diartikan sebagai gelombang laut yang melanda pelabuhan. Bencana tsunami terbukti menelan banyak korban manusia maupun harta benda, sebagai contoh untuk Tsunami di Flores (1992) mengakibatkan meninggalnya lebih dari 2000 manusia, kemudian

untuk tsunami di Banyuwangi (1994) telah menelan korban 800 orang lebih, belum termasuk hitungan harta benda yang telah hancur. Tsunami ditimbulkan oleh adanya deformasi (perubahan bentuk) pada dasar lautan, terutama perubahan permukaan dasar lautan dalam arah vertikal. Perubahan pada dasar lautan tersebut akan diikuti dengan perubahan permukaan lautan, yang mengakibatkan timbulnya penjalaran gelombang air laut secara serentak tersebar keseluruh penjuru mata-angin. Kecepatan rambat penjalaran tsunami di sumbernya bisa mencapai ratusan hingga ribuan km/jam, dan berkurang pada saat menuju pantai, dimana kedalaman laut semakin dangkal. Walaupun tinggi gelombang tsunami disumbernya kurang dari satu meter, tetapi pada saat menghepas pantai, tinggi gelombang tsunami bisa mencapai lebih dari 5 meter. Hal ini disebabkan berkurangnya kecepatan merambat gelombang tsunami karena semakin dangkalnya kedalaman laut menuju pantai, tetapi tinggi gelombangnya menjadi lebih besar, karena harus sesuai dengan hukum kekekalan energi. Penelitian menunjukkan bahwa tsunami dapat timbul bila kondisi tersebut dibawah ini terpenuhi : v v v v v v Gempabumi dengan pusat di tengah lautan. Gempabumi dengan magnitude lebih besar dari 6.0 skala Ricter Gempabumi dengan pusat gempa dangkal, kurang dari 33 Km Gempa bumi dengan pola mekanisme dominan adalah sesar naik atau sesar turun Lokasi sesar (rupture area) di lautan yang dalam (kolom air dalam). Morfologi (bentuk) pantai biasanya pantai terbuka dan landai atau berbentuk teluk.

Metode pemetaan Peta bahaya tsunami di wilayah Indonesia berasal dari dua peta; peta rawan tsunami dan peta potensi tsunami. Sumber data peta ini berasal dari catatan sejarah peristiwa alam tsunami di Indonesia dari tahun 0 sampai dengan tahun 2000. Sumber data peristiwa alam termasuk gempa bumi dan gunung meletus beserta akibatnya pada tahun 0 sampai dengan 1900 diambil dari catalog The Earthquake of The Indonesian Archipelago oleh Arthur Wichmann versi bahasa Inggris. Catalog ini berisi catatan peristiwa alam yang dirangkum dari berbagai sumber termasuk catatan harian pelaut, pedagang dsb. Peristiwa Tsunami diterjemahkan kedalam tingginya tsunami pada suatu lokasi untuk dipetakan. Peta Potensi Tsunami adalah peta bahaya tsunami pada daerah tersebut berdasarkan peristiwa tsunami yang pernah terjadi. Data dasar yang dipakai dalam pembuatan peta ini adalah ketinggian run up (limpasan gelombang tsunami di pantai) yang terukur di lapangan. Ketinggian diukur dengan titik dasar pada garis pantai. Run up dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu : tidak bahaya, dengan tinggi run up 0 2 m; bahaya, dengan tinggi run up 2 5 m; dan sangat bahaya, dengan tinggi run up lebih dari 5m. Peta rawan tsunami Peta rawan tsunami menggambarkan pantai-pantai di Indonesia yang rawan terhadap bahaya tsunami. Kerawanan terhadap tsunami disusun berdasarkan peta tektonik Indonesia, dimana zona-zona subduksi dan zona busur dalam (back arc thrust) merupakan sumber gempabumi dangkal di laut. Dengan demikian pantai yang menghadap kedua kondisi tektonik tersebut merupakan pantai yang rawan tsunami. Hasil pemetaan

Peta potensi dan rawan tsunami. 5.5. Peta Resiko Gempa Bumi

Semua pemetaan di atas disimpulkan dalam Peta resiko gempa bumi yang dihasilkan dari intergrasi dua peta yaitu peta yang menampilkan dampak gempa bumi di lokasi tertentu. Penampilan peta ini bisa dari integrasi percepatan maksimum tanah dengan Tsunami dan distribusi energi gempa dengan tsunami. Untuk integrasi ini perlu didefinisikan tingkat resiko gempa bumi. Definisi yang kita pakai sangat subjektif, karena banyak parameter yang tidak tersedia. Definisi ini sangat mudah diubah-ubah dalam aplikasi SIG, sesuai dengan tingkat resiko dan parameter yang tersedia. Parameter yang dimaksud sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal seperti ketebalan lapisan sedimen dan perioda dominan lapisan tanah. Penjumlahan tingkat resiko didefinisikan sebagai penjumlahan linier; T = R1 + R2 Dimana T=total resiko, R1, adalah resiko parameter I dan R2 adalah resiko parameter II. 5.5.1. Peta Percepatan tanah maksimum dan tsunami

Peta percepatan tanah maksimum merupakan dampak gelombang gempa dilokasi pengamat, sehingga bisa menjadi ukuran resiko gempa bumi dan dijumlahkan dengan tingkat resiko tsunami. Peta percepatan tanah maksimum diklasifikasikan menjadi 10 (sepuluh) macam tingkat resiko berdasarkan besaran percepatan maksimum (satuan gal = cm/s2) dan Intensitas (satuan MMI). NO. TINGKAT RESIKO NILAI PERCEPATAN (gal) < 25 25 50 50 75 75 100 100 125 125 150 150 200 200 300 300 600 > 600 INTENSITAS (MMI) < VI VI-VII VII-VIII VII-VIII VII- VIII VIII IX VIII IX VIII IX IX X >X KODE

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Resiko sangat kecil Resiko kecil Resiko sedang satu Resiko sedang dua Resiko sedang tiga Resiko Besar satu Resiko Besar dua Resiko Besar tiga Resiko sangat besar satu Resiko sangat besar dua

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Peta tsunami diklasifikasikan menjadi 10 macam tingkat resiko berdasarkan tinggi runup. NO. TINGKAT RESIKO NILAI RUNUP (m) < .1 0.1 0.5 0.5-1 1-2 2-4 4-7 7-10 KODE

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Resiko sangat kecil Resiko kecil Resiko sedang satu Resiko sedang dua Resiko sedang tiga Resiko Besar satu Resiko Besar dua

0 1 2 3 4 5 6

8. 9. 10. 5.5.2.

Resiko Besar tiga Resiko sangat besar satu Resiko sangat besar dua

10-20 20-30 > 30

7 8 9

Peta akumulasi energi gempa dan tsunami

Akumulasi energi gempa adalah jumlah seluruh gempa yang pernah terjadi dalam periode 100 tahun. Akumulasi ini menjadi ukuran tingkat seismisitas pada pemetaan ini dan dijumlahkan dengan tingkat resiko tsunami. Klasifikasi resiko akumulasi energi gempa didefinisikan sbb: NO. TINGKAT RESIKO Magnitude (mB) < 4.5 4.5 5 5-5.5 5.5-6 6-6.5 6.5-7 7-7.5 7.5-8 8.0-8.5 > 8.5 Log Mo (pangkat 10) 19-20.9 20.9-22.1 22.1-23.3 23.3-24.5 24.5-25.7 25.7-26.9 26.9-28.1 28.1-29.3 29.3-30.5 30.5-33 KODE

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Resiko sangat kecil Resiko kecil Resiko sedang satu Resiko sedang dua Resiko sedang tiga Resiko Besar satu Resiko Besar dua Resiko Besar tiga Resiko sangat besar satu Resiko sangat besar dua

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Hasil pemetaan 1. Peta resiko gempa 1, penjumlahan percepatan tanah maksimum dan tsunami.

Penjumlahan ini dilakukan dengan memakai beberapa peta percepatan tanah maksimum yaitu; 1.a. Percepatan tanah maksimum versi McGuire untuk perioda ulang 5,25,50 dan 100 tahun 1.b. Percepatan tanah maksimum versi Murphy-OBrien 1.c. Percepatan tanah maksimum versi Gutenberg Richter 1. 1. Peta resiko gempa 2, penjumlahan akumulasi energi dan tsunami Team peneliti

Untuk memudahkan mekanisme kerja, kami bagi kelompok kerja berdasarkan pada unsur peta; a) b) c) Percepatan tanah; menghitung percepatan tanah Tsunami; mengumpulkan dan memetakan data tsunami Data makro;mengumpulkan dan memetakan data intensitas

d)

Hyposenter; memetakan berbagai macam seismisitas

e) Sistem Informasi Geografi (SIG); merangkum semua unsur peta, merancang aplikasi dan membuat manual. Anggota team terdiri dari;

1.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Fauzi MSc PhD Masturyono MSc PhD Drs. Rasyidi Sulaiman Ir. Sindhu Nugroho Msi Drs. Subardjo Dip.Seis. Drs. Wandono MSi Ir. Rameo Adi MSc Ir. Roberto Pasaribu DEA Ir. Rinto Mardiyono SSi Ir. Rizkita Paritusta MT Guswanto SSi RR Yuliana P Muzli Iqbal Karyono Ariska R Drs. Abdul Gafur

DAFTAR ACUAN : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Benjamin F Howell,JR; Introduction to Geophysics, Mc Graw Book Company, 1956 P.J. Prih Harjadi & Subardjo, Fungsi Attenuasi Intensitas Gempa Flores 12 Desember 1992, Proceding PIT-HAGI ke 18 tahun 1993 Ir. Gunawan, dkk, Diktat Perencanaan Struktur Tahan Gempa, Jilid 1, Delta Tehnik Group. Peta Resiko Gempabumi di Indonesia, Proyek Meteorologi dan Geofisika Pusat BMG dengan Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMIPA ITB- Bandung 1995. Hagiwara,Yukio, Probability of earthquake occurrence as obtained from a Weibull distribution analysis of crustal strain Tectonophysics,23 (1974),313-318. Rikitake,Tsuneji,Earthquake forecasting and warning,Center for Academic Publication,1981. Larson,Harold,J,Introduction to probability theory and statistical inference,second edition,John Wiley & son,Inc,1974. Sulaeman Ismail,Metode peramalan gempa bumi dan penerapannya,BMG,Departemen Perhubungan,1983. A Physical-Based Earthquake Recurrence Model for Estimation of Long-Term Earthquake Probabilities. Ellsworth, W.L., Matthews. M.V, Nadeau, RM., Nishenko, S.P., Raesenberg, PA., Simpson, R.W., Workshop on Earthquake recurrence state of the art and direction for the future, Istituto Nazionale de Geofisica, Rome, Italy, Feb.,1999.

Like this:
Suka One blogger likes this post.

Entri ini ditulis dalam BMKG, BNPB, DETIK.COM, ELSINTA, http://tagana.depsos.go.id/?news/read/79/KemensosGulirkan5Milyar, http://taganakediri.blogspot.com/, KARANG TARUNA, KEMENSOS, KOMPAS.COM, LIPUTAN6.COM, markas komando taruna siaga bencana indonesia, METROTV, RCTI, SCTV, TAGANA ACEH, TAGANA JAWA TIMUR, TAGANA PAPUA, TAGANA PUSAT, TAGANA,Kb wonosobo, taganawonosoboasri, TRC, TRC.DEPSOS.GO.ID, TV ONE, Uncategorized. Buat penanda ke permalink.

Navigasi tulisan
Peta Bahaya (Hazard) Gempa Indonesia 2010 dan Langkah Mitigasi yang Diperlukan PETA GUNUNG BERAPI DI INDONESIA

TWITTER HOT LINE R TUGIYO BISRI NIAT:1206-0390


Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/Yn4veeF6@TugiyoBisri 10 hours ago Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/AFhSLhWK@TugiyoBisri 11 hours ago Anak-anak Indonesia berbusana berbagai daerah ikut memeriahkan acara Sechselaueten atau Spring Festival, yang... http://t.co/Bp9ncjzn@TugiyoBisri 11 hours ago Apa salahku memiliki rupa yang cantik? Ah, ternyata cantik begitu menyiksa aku. Sejak kecil aku merasa jadi... http://t.co/PWWhbXov@TugiyoBisri 11 hours ago Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/ZLvXhYdi@TugiyoBisri 11 hours ago merupakan keputusan maha sulit dan tentu menyakitkan banyak pihak. Anak, pasangan juga keluarga besar yang tentu... http://t.co/nsZ91KTt@TugiyoBisri 20 hours ago http://t.co/PbPg8vtI http://t.co/QHtO3QMW@TugiyoBisri 20 hours ago Gmail for mobile http://t.co/tR59FeOc@TugiyoBisri 1 day ago I can get email wherever I am with Gmail for mobile from http://t.co/2DczaKQ7 #googlemobile@TugiyoBisri 1 day ago Jakarta Seorang bocah berusia 5 tahun, Yoga meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 30 Apartemen Rasuna,... http://t.co/z8yfPErm@TugiyoBisri 1 day ago Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/YKceaheS@TugiyoBisri 1 day ago Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/f3grGYJx@TugiyoBisri 1 day ago Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/SEdW1r0Q@TugiyoBisri 1 day ago Hello world! http://t.co/4seFaCGS lewat @wordpressdotcom@TugiyoBisri 1 day ago 100 Hari Jelang Olimpiade | KOMPAS images http://t.co/UuWfQ4S2 lewat @kompasimages@TugiyoBisri 1 day ago

Di selatan Jawa banyak sekali deposit. Itu menunjukkan di sana pernah terjadi pergerakan besar. Pernah terjadi... http://t.co/WPGSETRM@TugiyoBisri 1 day ago http://t.co/aVPIgDVe http://t.co/eZVFOuwq@TugiyoBisri 1 day ago Selatan Jawa Wajib Waspadai Gempa dan Tsunami http://t.co/Vz55cG0O@TugiyoBisri 1 day ago Satu Rumah Roboh Diterjang Angin Kencang http://t.co/IuVZXOJS@TugiyoBisri 1 day ago Saya telah memasang foto baru ke Facebook http://t.co/YY29iakQ@TugiyoBisri 2 days ago

BENCANA ALAM

puseran Gempa 6.0 SR Banten Terasa di Jakarta, Depok, dan Bogor GEMPA KEMBALI MELANDA ACEH, KEMENSOS KERAHKAN BANTUAN 4888 Dua Orang Meninggal Tertimpa Tebing, Saat Kerja Bhakti Di Desa Slukatan

TANAH LONGSOR
Cari

BENCANA ALAM
Posts | Pages | Comments
All | Today | This Week | This Month

R TUGIYO BISRI 5/5 (2 votes)

Ikuti Blog melalui surat elektromik


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik. Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.

MITIGASI TANGGAP DARURAT REKAPRI


PENANGGULANGAN BENCANA Puting Beliung Porakporandakan Puluhan Rumah Alamat Departemen Sosial, Indonesia Mensos Dialog dengan Anak Jalanan Hujan Deras Enggak Mempan Hadang Massa Pendemo di DPR PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN MANAJEMEN BENCANA SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KORPS/UNITY LOGO KECAKAPAN PENANGGULANGAN BENCANA TAGANA TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized TAGANA,Kb wonosobo KEMENSOS BNPB BMKG TAGANA ACEH TAGANA PAPUA TARUNA SIAGA BENCANA INDONESIA Kb.WONOSOBO TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized BMKG markas komando taruna siaga bencana indonesia KOMPAS.COM KEMENSOS BNPB TAGANA ACEH TAGANA PAPUA http://taganakediri.blogspot.com/ Es Kutub Utara Meleleh Lebih Cepat Indonesia Juarai Bencana Tsunami Jepang Merambat Sampai Antartika Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan

Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih taruna siaga bencana indonesia taruna siaga bencana indonesia

TARUNA SIAGA BENCANA K,b WONOSOBO


PENANGGULANGAN BENCANA Puting Beliung Porakporandakan Puluhan Rumah Alamat Departemen Sosial, Indonesia Mensos Dialog dengan Anak Jalanan Hujan Deras Enggak Mempan Hadang Massa Pendemo di DPR PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN MANAJEMEN BENCANA SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KORPS/UNITY LOGO KECAKAPAN PENANGGULANGAN BENCANA TAGANA TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized TAGANA,Kb wonosobo KEMENSOS BNPB BMKG TAGANA ACEH TAGANA PAPUA TARUNA SIAGA BENCANA INDONESIA Kb.WONOSOBO TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized BMKG markas komando taruna siaga bencana indonesia KOMPAS.COM KEMENSOS BNPB TAGANA ACEH TAGANA PAPUA http://taganakediri.blogspot.com/ Es Kutub Utara Meleleh Lebih Cepat Indonesia Juarai Bencana Tsunami Jepang Merambat Sampai Antartika Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih

Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih taruna siaga bencana indonesia taruna siaga bencana indonesia

PENANGGULANGAN BENCANA INDONESIA


Jefry on Es Kutub Utara Meleleh Lebih Jefry on Papua Nugini Diguncang Gempa 6 KABUPATEN WONOSOBO P on Anonymous on KABUPATEN WONOSOBO P on PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN M

BANJIR BANDANG Blogroll


WordPress.com 0 WordPress.org 0 www.blogjelex.tk 0 TAGANA WONOSOBO tagana indonesia 0 TARUNA SIAGA BENCANA SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KOPS/UNITY 0 http://http//taganawonosobo.wordpress.com TAGANA WONOSOBO 5

Ikuti Blog melalui surat elektromik

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik. Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.

TAGANA INDONESIA
The Big DayJanuari 19th, 2012 The big day is here.

MITIGASI/PENCEGAHAN TAGANA WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH


PENANGGULANGAN BENCANA Puting Beliung Porakporandakan Puluhan Rumah Alamat Departemen Sosial, Indonesia Mensos Dialog dengan Anak Jalanan Hujan Deras Enggak Mempan Hadang Massa Pendemo di DPR PENDAHULUAN ATAS BENCANA DAN MANAJEMEN BENCANA SATU ATURAN SATU KOMANDO SATU KORPS/UNITY LOGO KECAKAPAN PENANGGULANGAN BENCANA TAGANA TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized TAGANA,Kb wonosobo KEMENSOS BNPB BMKG TAGANA ACEH TAGANA PAPUA TARUNA SIAGA BENCANA INDONESIA Kb.WONOSOBO TAGANA,Kb wonosobo Uncategorized BMKG

markas komando taruna siaga bencana indonesia KOMPAS.COM KEMENSOS BNPB TAGANA ACEH TAGANA PAPUA http://taganakediri.blogspot.com/ Es Kutub Utara Meleleh Lebih Cepat Indonesia Juarai Bencana Tsunami Jepang Merambat Sampai Antartika Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih Banjir Bandang di Wonosobo, 627 Jiwa Mengungsi Pencarian Korban Banjir Wonosobo Dilanjutkan Jalur Utama ke Dieng Ditutup Total Tubuh Korban Banjir Wonosobo Ditemukan Anak Krakatau Masih Mengeluarkan Asap Putih taruna siaga bencana indonesia taruna siaga bencana indonesia

TARUNA SIAGA BENCANA PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL

Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

TARUNA SIAGA BENCANA INDONESIA(TAGANA) TARUNA SIAGA BENCANA INDONESIA


PENANGGULANGAN BENCANA INDONESIA(TAGANA)

puseran

Gempa 6.0 SR Banten Terasa di Jakarta, Depok, dan Bogor GEMPA KEMBALI MELANDA ACEH, KEMENSOS KERAHKAN BANTUAN 4888 Dua Orang Meninggal Tertimpa Tebing, Saat Kerja Bhakti Di Desa Slukatan Tiga Kali Badai Tropis Senggol Indonesia Papua Nugini Diguncang Gempa 6,2 SR Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun dampak kerusakan. Banjir di Alam Sutera, Macet Luar Biasa BOLA TARUNA SIAGA BENCANA IANDONESIA Puluhan Rumah Rusak Diterjang Ombak

FACEBOOK .TAGANA WONOSOBO TARAUNA SIAGA BENCANA KABUPATEN WONOSOBO


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik. Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Sunspot by Automattic.

http://taganawonosobo.wordpress.com/2010/08/07/aplikasi-sisteminformasi-geografi-untuk-peta-bencana-alam-di-indonesia/

MODEL PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DAERAH SULAWESI UTARA DAN SEKITARNYA


Posted by mamuritgl under jurnal | Tag: percepatan tanah | [4] Comments

ABSTRAK Telah dilakukan pengukuran nilai percepatan tanah maksimum di Stasiun Geofisika Manado untuk daerah Sulawesi Utara dan Sekitarnya. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan nilai percepatan tanah maksimum guna referensi dalam pembangunan rumah tahan gempa bumi.

Metode pengukuran menggunakan alat yang disebut strong motion seismograph atau accelerograph ( SMA) yang terpasang di Stasiun Geofisika Manado. Pengukuran dilakukan setiap terjadi gempa bumi yang cukup kuat sejak tahun 2006. dari hasil pengukuran Alat tersebut dikorelasikan dengan formula formula yang telah ada yaitu : Donovan, Esteva, Murphy & OBrein, Richter Gutenberg, Kanai, Kawasumi. Dari hasil pengukuran dan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil yaitu formula Murphy & OBrein yang cocok untuk daerah Sulawesi Utara dan sekitarnya. Berdasarkan data tahun 2006 didapat formula untuk daerah Sulawesi Utara dan sekitarnya yaitu : log a =2.639 +0.348 M 1.177 log D 0.127 I dimana : ; percepatan tanah maksimum, M : magnitude gempa bumi, : jarak pusat gempa bumi dengan stasiun, I : intensitas gempa bumi.
1. 1. PENDAHULUAN

Setiap gempa bumi yang terjadi akan tercatat oleh alat pencatat gempa bumi yaitu alat Seismograph yang merupakan karakteristik dari getaran gelombang gempa. Dari kejadian gempa bumi parameter-parameter gempa dapat berupa simpangan kecepatan (velocity), displacement (simpangan) dan percepatan (acceleration). Perpindahan materi dalam perjalaran gelombang seismik biasa disebut displacement. Jika kita lihat waktu yang diperlukan untuk perpindahan tersebut, maka kita bisa tahu kecepatan materi tersebut. Sedangkan percepatan adalah parameter yang menyatakan perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Untuk harga percepatan terbagi menjadi dua bagian yaitu percepatan tanah maksimum dan percepatan tanah sesaat. Percepatan tanah maksimum adalah suatu harga yang dihitung di titik amat / titik penelitian pada permukaan bumi dari riwayat gempa dengan harga perhitungan dipilih yang terbesar. Sedangkan untuk harga percepatan tanah sesaat adalah merupakan harga percepatan tanah pada saat gempa terjadi. Nilai percepatan tanah yang akan diperhitungkan sebagai salah satu bagian dalam perencanaan bangunan tahan gempa adalah nilai percepatan tanah maksimum. Titik titik penelitian/titik amat pada permukaan bumi adalah tempat atau daerah yang akan diteliti berapa besar nilai percepatan tanah maksimum dari seluruh riwayat gempa, selanjutnya dari titik amat untuk kepentingan perencanaan bangunan dibuat kontur percepatan tanah maksimum, hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan kekuatan bangunan yang akan dibangun di daerah tersebut. Nilai percepatan tanah dapat dihitung langsung dengan alat seismograph khusus yang disebut strong motion seismograph atau accelerograph. Tetapi karena keterbatasan peralatan jaringan accelerograph yang tidak lengkap dari segi periode waktu maupun tempatnya maka perhitungan empiris dengan cara pendekatan dari data histories gempa bumi sangat perlu dibuat. Dan jika sudah ada alat accelerographnya perlu dilakukan kajian rumus pendekatan mana yang paling sesuai untuk daerah tersebut.

2. TINJAUAN FISIS PERCEPATAN TANAH MAXIMUM GEMPA BUMI

Percepatan adalah parameter yang menyatakan perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Untuk harga percepatan terbagi menjadi 2 bagian yaitu percepatan tanah maksimum dan percepatan tanah sesaat. Percepatan tanah maksimum adalah suatu harga yang dihitung di titik amat / titik penelitian pada permukaan bumi dari riwayat gempa dengan harga perhitungan dipilih yang terbesar. Sedangkan untuk harga percepatan tanah minimum adalah merupakan pada saat terjadi gempa pada suatu titik tertentu. Nilai percepatan tanah yang akan diperhitungkan sebagai salah satu bagian dalam perencanaan bangunan tahan gempa adalah nilai percepatan tanah maksimum. Untuk selanjutnya mengenai beberapa formula atau metode dari percepatan tanah maksimum akan dijelaskan dibawah ini. 1. Gelombang Sederhana Getaran pada tanah akibat gempa dapat dianggap sebagai simple harmonik motion, sehingga percepatan tanah maksimum gempa bumi dapat diturunkan dari simple harmonic motion ( Wiratman Wangsadinata, 1995 ). (2.1) Jika persamaan (2.1) dideferensialkan dua kali terhadap waktu (t) maka diperoleh hubungan: (2.2) Untuk harga maksimum maka sin t = 1, maka maksimum, sehingga : - A2 (2.3) Jika diambil Maka dapat diperoleh percepatan tanah (percepatan permukaan) berbanding lurus dengan amplitudo dan berbanding terbalik dengan kuadrat dari periode getaran tanah : (2.4) Dimana : a = Percepatan tanah maksimum A = Amplitudo (displacement max) T = periode dari getaran tanah ( predominant period )

Tetapi pada kenyataannya getaran tanah (permukaan) akibat gempa tidak begitu sesuai dengan simple harmonic motion, karena semua (hampir semua) gempa menunjukan sifat getaran yang random dan karekteristik-karekteristik yang agak berbeda pada setiap gempa. Untuk itu beberapa rumus pendekatan telah dikemukakan 3. Formula pendekatan 3.1 Hubungan Rumus Richter Gutenberg Log a = (2.5) Io = 1.5(M 0.5) (2.6) Dimana : M = Magnitude Surface waves (SR) Io = Intensitas pada sumber (skala MMI) a = Percepatan tanah (cm/s2 atau gal). Untuk menghitung percepatan tanah (a) formula diatas perlu mengetahui besarnya harga intensitas pada tempat yang akan dicari yaitu dengan menggunakan rumus atenuasi hubungan Intensitas terhadap jarak rumus Subardjo dan Prih Haryadi. I = I0 exp 0.0021 D (2.7) Dimana : I = Intensitas pada jarak Episenter (skala MMI) D = Jarak episenter (km). Dengan mengkombinasikan rumus Richter persamaan (2.5) dan (2.6), maka percepatan tanah dalam satuan cm/s2 atau gal. 3.2 Hubungan Rumus Murphy Dan OBrein log a = 0.14 I + 0.24 M 0.68 log D + 0.7 (2.8) 3.3 Hubungan Rumus Donovan

a = (2.9) Dimana : r = jarak Hyposenter dalam satuan km. 3.4 Hubungan Rumus Esteva a = (2.10) Dengan keterangan parameter sama seperti rumus Donovan 3.5 Hubungan Percepatan Tanah Pada Permukaan Secara Empiris Oleh Mc. Guirre (1963) a = 472.3 x 10 0.278 M x ( r + 25 ) 1.301 (2.11) Dimana : r = jarak Hyposenter dalam satuan km. r = (D2 + h2 ) D = Jarak episenter dalam km. h = kedalaman sumber gempa dalam km. 3.6 Model percepatan tanah rumus Kawashumi (1950) log a = M 5.45 0.00084(r 100) + log x (2.12) Dimana : r = jarak Hyposenter dalam satuan km (R 100 km) (2.13) Dimana : r = jarak Hyposenter dalam satuan km (r 100 km)

4. Data dan Pengolahan 4.1. Data Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data gempa bumi yang tercatat di Stasiu n Geofisika Manado dengan amplitudo yang relatif besar dan yang dirasakan di Manado pada tahun 2006 hal ini disebabkan karena alat accelerograf baru terpasang di Stasiun Geofisika Manado pada bulan Desembe r 2005. Dengan parameter gempa dari hasil analisa gempa bumi dirasakan yang dikeluarkan oleh Pusat Gempa Nasional BMG maupun oleh USGS, dihitung percepatan tanah dengan menggunakan hubungan rum us Richter, Murphy & OBrein, Donovan, Esteva, Mc. Guirre dan Kawasumi. Dan sebagai data pembanding yaitu dengan mengambil data percepatan tanah 3 ( tiga) komponen yang tercatat pada alat accelerograf yang berada di Stasiun Geofisika Manado. 4.2. Pengolahan Data Untuk menghitung percepatan tanah dengan hubungan rumus secara empiris maka parame ter yang perlu dicatat adalah sebagai berikut jarak epicenter, Magnitude dan pusat gempa. Untuk mengetahui besarnya I pada tempat yang akan dihitung digunakan rumus pendekatan hubungan atenuasi Intensitas terhadap jarak sebagai berikut : I = Io exp-0.0021 ( Prih Haryadi dan Subardjo, 1993) Untuk menghitung jarak antara stasiun dengan pusat gempa digunakan dengan menggunakan rumus segitiga bola. Hasil penghitungan percepatan tanah dengan menggunakan rumusan rumusan pendekatan yang digunakan dibuat perbandingan dengan data percepatan tanah y ang telah dihitung resultan dari komponen Z, N dan E yang tercatat di alat Accelerograf pada Stasiun Geofisika Manado. Setelah dianalisa ternyata formula Murphy & OBrein yang cocok untuk daerah Sulawesi Utara dan sekitarnya. Dengan mengkonversikan data parameter gempa dan nilai percepatan tanah maksimum dari hasil pengamatan secara langsung didapat model formula : Log = a + bM + c log +d I dimana : ; percepatan tanah maksimum, M : magnitude gempa bumi, : jarak pusat gempa bumi dengan stasiun, I : intensitas gempa bumi. Dari data tahun 2006 didapat formula sebagai berikut : log a =2.639 +0.348 M 1.177 log D 0.127 I
1. 5. Kesimpulan

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan terhadap semua model pendekatan yang telah dikemukakan, maka :
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di daerah Sulawesi Utara dan sekitarnya pada tahun 2006, maka terdeteksi memlalui seismogram dalam sebulan tercatat rata rata 62 gempa bumi yang terjadi dan 1 sampai 3 gempa bumi dirasakan oleh manusia, karena itu daerah Sulawesi Utara dan sekitarnya umumnya rentan terhadap bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi. 2. dari hasil analisis dan perhitungan dalam penelitian ini, model rumus empiris untuk wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya yang paling mendekati adalah model rumus Murphy Obrain yaitu :

Log = a + bM + c log +d I
1. Dengan menggunakan metode regresi linier multi variable percepatan, tanah maksimum daerah Sulawesi Utara dan sekitarnya adalah :

log a =2.639 +0.348 M 1.177 log D 0.127 I

http://mamuritgl.wordpress.com/2009/12/03/model-percepatantanah-maksimum-daerah-sulawesi-utara-dan-sekitarnya/

Alat Pengukur Gempa


Alat Pengukur Gempa

Secara umum alat pencatat Gempa disebut Seismograf, alat pengukurnya disebut seismometer atau lebih akrab disebut sensor, sedangkan hasil catatannya disebut seismogram. Ketiga hal tersebut merupakan suatu sistem yang bekerjasama untuk mengetahui suatu gempa. berikut ini adalah beberapa alat pengukur, pencatat dan serangkaian sistemnya...
1. Seismograph Wiechert Seismometer Wiechert merupakan cikal bakal awal berdirinya Stasiun pencatat gempa di Indonesia yakni berada di stasiun Geofisika Jakarta. Seismograph Wiechert merupakan seismograph pertama di Indonesia yang dipasang pada tahun 1908 yang dulu berlokasi di jalan Arief Rachman Hakim Jak-Pus, kemudian dipindahkan ke Kemayoran pada tahun 1999 sampai sekarang.

Alat ini merupakan buatan Jerman pada tahun 1908 dan 1928. Seismometer ini ada dua, yaitu komponen vertical (Z) dan horizontal (N-S dan E-W) dengan prinsip pendulum. Beratnya mencapai 1500 kg dengan pemberat berupa gips yang diletakkan di dalam badan seismometer. Media perekamannya adalah kertas jelaga yang dipasang pada drum recorder. Ketika ada getaran, maka pena akan bergerak dan menggoreskan ujungnya pada kertas jelaga tersebut. Sayangnya seismometer Wiechert ini sudah tidak dioperasionalkan lagi dikarenakan sambungan penanya yang rusak.

2 Seimometer SS 1 Ranger Merupakan portable seismometer dan dapat dipilih model horizontal atau vertical, jadi SS 1 Ranger merupakan seismometer 1 komponen. SS1 Ranger menggunakan prinsip spring mass dan elektromagnetik transducer. Seismometer ini merupakan jenis analog, sehingga penempatannya cukup di tempat yang bedrocknya baik, tidak perlu di tempatkan di bunker, seperti halnya seismometer digital. Cara kerjanya adalah ketika seismometer SS 1 Ranger menerima signal gelombang, maka akan terjadi tegangan yang dialirkan ke kumparan kalibrasi yang membuat bahan bergerak dan menimbulkan gaya magnet, sehingga pegas bergerak dan arusnya diterima oleh kumparan sensor. Kumparan tersebut akan menghasilkan output berupa gambar gambar signal yang dikirim ke seismograph. Di stasiun Geofisika Jakarta, seismometer SS 1 Ranger ini dihubungkan ke SPS (Short Period Seismograph). Sampai saat ini SS 1 Ranger masih digunakan, di samping menggunakan seismometer broadband. Datanya sebagai sampingan data yang dihasilkan oleh seismometer broadband.

3. Broadband Seismograph Seismometer broadband memiliki jangkauan / range frekuensi yang lebih luas dari seismometer biasa, yaitu kira kira 0,01 50 Hz. Seismometer jenis ini sangat sensitive terhadap variasi lingkungan, khususnya variasi temperature dan tekanan atmosfer. Oleh sebab itu seismometer ini membutuhkan tempat khusus, tidak seperti seismometer analog. Merupakan

seismometer 3 komponen (vertical, horizontal NS EW).Di stasiun geofisika Jakarta, broadband seismometer ini diletakkan di bunker yang berukuran kira kira 1m x 1m 1m. Jika biasanya dinding bunker seismometer dilapisi gabus, maka di stasiun geofisika Jakarta, gabus tersebut berbentu kepingan kepingan yang dihamburkan menutupi seismometer itu sendiri. Data seismometer broadband inilah yang digunakan sebagai data utama di samping data seismometer SS1 Ranger. Seismometer ini merupakan seismometer digital, jadi sensor yang ia dapatkan akan diteruskan ke amplifier / pengkondisi signal (memisahkan antara noise dan signal), dilanjutkan ke ADC (Analog to Digital Converter) lalu masuk rekorder yang berupa computer, bukan SPS seperti rekorder yang digunakan SS1 Ranger. Dalam computer ini telah disediakan software khusus yang digunakan dalam pengolahan data. Software yang biasanya digunakan adalah MnoST dan NetRec, juga software lainnya. 4. Accelerograph (Strong Motion Seismograph) Accelerograph adalah alat yang digunakan untuk merekam getaran tanah yang sangat kuat dan untuk mengukur percepatan permukaan tanah. Accelerograph memiliki memori card yang tersimpan di dalamnya, sehingga ia mampu menyimpan data data pengukuran. Di dalam accelerograph juga terdapat baterai kering yang dapat digunakan sewaktu tidak tersedianya listrik. Baterai kering ini dapat beroperasi sekitar 7 jam. Alat ini kebanyakan digunakan oleh pemborong proyek besar untuk melakukan survey. Jadi, alat ini merupakan alat yang bersifat portable. Data yang didapat akan disambungkan ke laptop atau computer yang memiliki software khusus untuk megolah data data tersebut. Data data percepatan tanah ini lebih banyak manfaatnya dalam bidang teknik pembangunan. Karena dengan malihat data percepatan tanah di suatu tempat, maka kita bisa menghitung dan merencanakan gedung gedung bertingkat yang tahan gempa. Selain itu, data accelerograph juga bermanfaat bagi pertambangan. 5. Short Period Seismograph

Adalah alat perekam / pencatat gelombang gempa bumi dengan media kertas pias dan merupakan serangkaian alat dari system analog. Di Stasiun Geofisika Jakarta, alat ini disambungkan dengan seismometer SS1 Ranger. Seperti halnya seismometer Wiechert, seismograph ini juga memiliki pena yang sama. Hanya saja pena di seismograph ini dialiri tinta yang siap mencatat di kertas pias yang menempel pada drum recorder yang berputar. Kecepatan putaran drum recorder bisa diapat diatur sesuai keinginan. Di stasiun Geofisika Jakarta, kertas pias harus diganti 24 jam sekali. Selain itu, time marknya juga dapat diatur sesuai dengan waktu daerah masing masing atau sesuai kebutuhan.

http://srikandismile.blogspot.com/2011/07/v-behaviorurldefaultvmlo.html

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK PETA BENCANA ALAM DI INDONESIA

1.

Ringkasan

Aplikasi ini bertujuan untuk membantu perusahaan asuransi dalam mengestimasi premi asuransi khusus untuk gempa bumi dan tsunami. Aplikasi SIG ini adalah kerangka SIG untuk bencana alam karena dirancang untuk bisa tumbuh sebagai aplikasi pemetaan bencana alam lainnya seperti gunung meletus, banjir dsb. Pada tahap ini aplikasi SIG yang berhasil dikembangkan adalah aplikasi untuk peta bahaya gempa bumi yang dilihat dari dampaknya terhadap bangunan. Untuk memudahkan pemakai, beberapa peta hasil aplikasi ini disusun juga dalam format HTML.

2.

Pendahuluan

Letak geografi Indonesia yang membujur dari 94o-141o BT dan 6o LU-11o LS merupakan negara kepulauan dengan tingkat kegempaan tinggi karena terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yang bergerak satu sama lainnya. Lokasi aktif gempa secara sepintas sudah dapat dipastikan berada di perbatasan lempeng tektonik. Namun efeknya bisa dirasakan pada jarak tertentu bergantung pada atenuasi (peluruhan energi) dan geologi setempat. Kondisi lingkungan alam ini membuat Indonesia sering dilanda bencana gempa bumi dan Tsunami yang makin hari makin meningkat kuantitasnya karena perkembangan penduduk, perkotaan dan umur bangunan.

Beberapa kali Indonesia dan Jakarta khususnya dilanda gempa bumi yang menyebabkan klaim kerusakan akibat gempa bumi kepada perusahaan asuransi meningkat. Sedangkan premi khusus untuk gempa bumi tidak ditentukan secara spesifik dan bahkan diberikan secara cuma-cuma. Hal ini melahirkan ketidak seimbangan bisnis asuransi, sehingga perlu meninjau kembali kebijakan premi asuransi gempa bumi. Idealnya, dengan menggunakan peta percepatan tanah maksimum, para insinyur sipil harus membangun bangunan tahan gempa sesuai dengan seismic code, sehingga resiko gempa pada semua tempat bisa sama. Hal ini berarti premi juga akan sama, bahkan jika bangunan tahan gempa maka premi gratis bisa diterapkan. Namun kenyataannya tidak semua insinyur sipil menggunakan kaidah seismic code tersebut, sehingga peta percepatan tanah sangat diperlukan oleh perusahaan asuransi untuk disesuaikannya dengan seismic code bangunan yang sudah diterapkan.

Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang bisa menjadi referensi premi asuransi gempa bumi tersebut. Ada dua hal yang membuat premi berbeda; yaitu tingkat aktifitas gempa bumi (percepatan tanah) dan kualitas objek, selain itu pengaruh pasar. Premi dari satu tempat ke tempat lain berbeda jika resiko gempa juga beda. Selain dari itu tentu kualitas dari objek yang diasuransikan, seperti gedung, jembatan dsb. Jika gedungnya sudah pernah rusak, maka sudah pasti preminya tinggi, sehingga kedua parameter tersebut menjadi bobot index asuransi untuk menentukan premi tahunan suatu objek asuransi.

Hasil monitoring gempa bumi di Indonesia yang dilakukan oleh BMG maupun oleh pemerintahan Belanda (sebelum 1942) menunjukkan bahwa aktifitas gempa bumi tergolong sangat aktif. Peralatan monitoring gempa bumi yang dioperasikan BMG semakin baik, ditambah pula dengan perhatian peneliti dari luar negri sangat besar terhadap keunikan dinamika tektonik di Indonesia, sehingga informasi ilmiah tentang tektonik Indonesia menjadi bahan yang sangat menguntungkan bagi perencanaan bangunan dan industri asuransi. Namun informasi tersebut masih terpecahpecah menurut keperluan disiplin tertentu, sedangkan untuk keperluan industri asuransi belum sepenuhnya diintegrasikan sebagai referensi premi.

Referensi untuk perhitungan premi asuransi relatif mudah jika menggunakan index premi untuk suatu nilai objek, namun untuk menemukan index tersebut diperlukan banyak sekali parameter bencana yang akan memberi bobot nilai index tersebut. Paramater tersebut pada prinsipnya adalah resiko yang dihitung berdasarkan probabilitas gempa bumi dan probabilitas kerusakan.

Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengumpulkan beberapa parameter gempa bumi untuk dipetakan sebagai gambaran kualitatif untuk perkiraan resiko gempa bumi. Parameter tersebut meliputi percepatan tanah, tsunami, seismisitas, distribusi gempa bumi dan sejarah gempa bumi di Indonesia. Beberapa paremeter tersebut memberikan gambaran langsung maupun tidak langsung terhadap dampak dari setiap peristiwa gempabumi di suatu lokasi.

3.

Maksud dan tujuan

3.1.

Tujuan Umum

Secara umum kita harus berasumsi bahwa premi objek asuransi bergantung pada fenomena alam dimana objek tersebut berlokasi dan objek asuransi tidak tahan terhadap peristiwa alam, sehingga premi tidak perlu nol. Karena itu pemetaan bencana alam menjadi sasaran utama penelitian ini agar dapat menjadi referensi index premi asuransi. Proses pemetaan bencana alam ini dilakukan secara bertahap, karena bencana alam disebabkan oleh peristiwa; gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor dsb. Tiap peristiwa alam tersebut dapat dipetakan sendiri-sendiri, namun bisa juga dijadikan satu peta bencana alam melalui aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografi).

3.2.

Tujuan Khusus.

Tahap awal dari penelitian ini adalah membuat aplikasi SIG untuk peristiwa gempa bumi dan Tsunami. Peristiwa gempa bumi dipetakan dalam bentuk peta perpercepatan tanah maksimum, distribusi gempa bumi, distribusi energi, tsunami dan peta intensitas. Beberapa peta tersebut digabung menjadi satu peta untuk melihat total resiko di suatu lokasi.

4.

Metodologi

Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu perangkat yang berbasis komputer untuk pemetaan dan analisa fenomena alam. Analisa ini memadukan antara fenomena alam di lokasi geografis yang sangat tergantung pada pemilihan jenis peta dan jenis fenomena alam, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir, letusan gunung berapi dsb. Dengan teknologi SIG, kita padukan beberapa jenis peta dasar (misalnya peta garis pantai, peta topografi, peta tata guna lahan) dengan beberapa peristiwa alam yang terkait dengan bencana alam menjadi satu peta yang disebut sebagai peta bencana alam.

Pada penelitian ini kita pakai peta garis pantai dengan batas propinsi di Indonesia untuk dipadukan dengan dampak gempa bumi berupa peta percepatan tanah maksimum, peta tsunami, dan peta seismisitas. Tiga jenis peta dampak gempa ini dipadukan untuk menjadi dua jenis peta resiko gempa bumi; 1). Perpaduan antara peta percepatan tanah dan tsunami dengan peta garis pantai, 2). Perpaduan peta seismisitas dan tsunami dengan peta garis pantai. Tinjauan resiko gempa bumi disetiap propinsi dilengkapi dengan sejarah kerusakan dari tahun 0 sampai tahun 2000 kemudian dilengkapi juga dengan perhitungan probabilitas priode ulang kerusakan disetiap propinsi.

5.

Jenis peta

5.1.

Peta seismisitas

Peta seismisitas adalah peta yang menunjukkan aktifitas gempa bumi. Aktifitas gempa bumi bisa ditinjau dari bermacam cara, diantaranya adalah dengan peta distribusi gempa bumi. Setiap gempa bumi melepaskan energi gelombang seismik, sehingga kumpulan gempa bumi pada perioda tertentu pada suatu area juga suatu cara untuk menggambarkan konsentrasi aktifitas gempa bumi.

Metode pemetaan

Pemetaan ini dilakukan dengan data gempa bumi yang berasal dari beberapa katalog seperti katalog BMG, USGS (United State Geological Survey) dan ISC (International Seismological Center) gempa di Indonesia pada periode 1897-2000. Data gempa bumi dipilih dengan magnitudo >= 5 skala Richter dan diplot setiap periode 10 tahun.

Daerah aktif gempabumi di Indonesia di sepanjang pertemuan lempeng tektonik Eurasia dengan India-Australian yang membentuk busur dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai Maluku, tumbukan lempeng oseanik Pasifik dengan Lempeng kontinen Australia di bagian utara Irian dan beberapa sesar lokal seperti sesar Sumatera, sesar Palu-Koro di Sulawesi dan beberapa sesar lokal lainya.

Distribusi gempa bumi ini menggambarkan perbandingan tingkat aktifitas gempa dari satu lokasi terhadap lainnya tiap kurun waktu 10 tahun. Tinjauan lain adalah melihat konsentrasi energi gempa secara kumulatif ditiap grid 0,5 o x 0,5 o dalam periode 1897-2000. Dengan melalui penyederhanaan yang cukup radikal kita peroleh hubungan momen energi (Mo) dengan magnitude (mB).

Besaran energi dinyatakan dalam logaritma momen energi yang berkisar antara 10 20 erg sampai 1030 erg. Persamaan diatas menunjukkan bahwa perubahan satu skala magnitudo sebanding dengan perubahan momen energi sebesar 102,383 atau sekitar 242 kali magnitudo dibawahnya. Untuk log Mo=26.8 atau Mo= 1026.8 sebanding dengan mB=7 setara dengan 242 gempa bumi dengan mB = 6 atau setara dengan sekitar 58884 gempa dengan mB = 5 skala Richter.

Hasil peta

1. Peta Distribusi gempa bumi tiap periode 10 tahun, dari tahun 1900-2000 2. Peta Distribusi Energi gempa bumi

5.2.

Sejarah Gempa merusak, (Peta Intensitas dan probabilitas komulatif Gempa Bumi)

Gempa merusak dan menelan korban merupakan suatu kejadian yang sering dilaporkan sejak zaman sebelum ditemukan alat pencatat gempa bumi (Seismograp). Laporan gempa merusak ini bisa dipakai sebagai data/sample perhitungan statistik untuk mendapatkan gambaran umum tentang kerusakan dan korban dimasa mendatang. Cara ini sebetulnya belum bisa menyimpulkan resiko gempa bumi secara ilmiah, namun cukup mendapatkan gambaran umum dari sejarah kerusakan yang pernah dialami suatu daerah. Cara yang lebih baik adalah dengan pengkajian karakteristik tiap sumber gempa dan menghitung probabilitasnya untuk pertimbangan resiko. Pengkajian sumber gempa merupakan pengkajian sesar-sesar aktif dan

Untuk mendapatkan nilai-nilai Probabilita Kumulatif di beberapa daerah di Indonesia, dengan mempergunakan Metoda Analisa DistribusiWeibull, dengan memakai data sebanyak 280 gempa merusak dari tahun 1821 - 2000, yang merupakan gempa bumi utama (mainshock) pada magnitudo M > 5.0 skala richter.

Bahwa Distribusi Weibull untuk pertama kali dipakai menganalisa periode ulang dan probabilita gempa bumi oleh Hagiwara (1974). Distribusi Weibull yang dipergunakan, ditulis dengan persamaan sebagai berikut :

(1)

dimana : K dan m adalah konstanta (tetapan),

K > 0 dan m > -1.

t adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi gempa bumi sebelum waktu (t)dengan interval waktunya adalah dari (t) hingga ( t + t) ).

Pobabilita Kumulatif kejadian gempa bumi selama selang waktu nol dan t dituliskan sebagai berikut :

F(t) = 1 - R(t)

(2)

dengan R(t) merupakan Reliabilita yang dirumuskan sebagai berikut :

(3)

Perhitungan frekuensi dari gempa bumi (ni) untuk setiap selang waktu t dipilih secara tepat. Kemungkinan terjadinya periode ulang gempa bumi yang terletak dalam selang waktu antara i.t dan (i+1).t; (untuk i = 0,1,2,3,...,n)diperoleh bentuk(ni/N), dimana N adalah jumlah total gempa bumi. Probabilita Kumulatif dapat diproleh dengan rumusan :

(4)

Sedangkan nilai reliabilita R(t) dapat diperoleh dengan memasukkan persamaan (4) ke persamaan (2). Jadi dengan demikian dapat diperoleh nilai Probabilita Kumulatif dibeberapa daerah di Indonesia, adalah sebagai berikut :

Daerah

Waktu ( Tahun )

Probabilita (%) 80 90 80 90 80 96 92 96 95 90 90 90 90 90 90 90 90 97 90

Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Bengkulu Jawa Barat Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Timor Timur Kaloimantan Timur Sulawesi Utara Sukawesi Tengah Sulawesi Selatan Maluku Irian Jaya

26 28 82 42 60 19 28 23 24 34 20 15 6 16 42 9 15 24 16

Hasil peta

1. Sejarah gempa merusak tiap propinsi dengan memakai skala Intensitas MMI 2. Probabilitas gempa merusak tiap propinsi

5.3.

Peta Percepatan tanah maksimum

Perpindahan materi biasa disebut displacement. Jika kita lihat waktu yang diperlukan untuk perpindahan tersebut, maka kita bisa tahu kecepatan materi tersebut. Sedangkan percepatan adalah parameter yang menyatakan perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Pada bangunan yang berdiri di atas tanah memerlukan kestabilan tanah tersebut agar bangunan tetap stabil. Percepatan gelombang gempa yang sampai di permukaan bumi disebut juga percepatan tanah, merupakan gangguan yang perlu dikaji untuk setiap gempa bumi, kemudian dipilih percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) untuk dipetakan agar bisa memberikan pengertian tentang efek paling parah yang pernah dialami suatu lokasi.

Efek primer gempabumi adalah kerusakan struktur bangunan baik yang berupa gedung perumahan rakyat, gedung bertingkat, fasilitas umum, monumen, jembatan dan infrastruktur struktur lainnya, yang diakibatkan oleh getaran yang ditimbulkannya. Secara garis besar, tingkat kerusakan yang mungkin terjadi tergantung dari kekuatan dan kualitas bangunan, kondisi geologi dan geotektonik lokasi bangunan, dan percepatan tanah di lokasi bangunan akibat dari getaran suatu gempa bumi. Faktor yang merupakan sumber kerusakan dinyatakan dalam parameter percepatan tanah. Sehingga data PGA akibat getaran gempabumi pada suatu lokasi menjadi penting untuk menggambarkan tingkat resiko gempabumi di suatu lokasi tertentu. Semakin besar nilai PGA yang pernah terjadi disuatu tempat, semakin besar resiko gempabumi yang mungkin terjadi.

Pengukuran percepatan tanah dilakukan dengan Accelerograph yang dipasang dilokasi penelitian. Jaringan accelerograph milik BMG tidak lagi beroperasi karena mengalami kerusakan sejak tahun 1980an, sehingga pengukuran percepatan tanah dilakukan dengan cara empiris, yaitu dengan pendekatan dari beberapa rumus yang diturunkan dari magnitude gempa atau/dan data intensitas. Perumusan ini tidak selalu benar, bahkan dari satu metoda ke metoda lainnya tidak selalu sama. Namun cukup memberikan gambaran umum tentang PGA.

Gempa besar bisa terjadi berulang-ulang di suatu tempat. Kita kenal sebagai perioda ulang gempa bumi. Hal ini didukung oleh teori elastic rebound yang mempunyai fasa pengumpulan energi dalam jangka waktu tertentu dan kemudian masa pelepasan energi pada saat gempa besar. Perioda ulang gempa besar bisa 10 tahun, 50 tahun, 100 tahun atau 500 tahun. Sehingga tingkat resiko bangunan terhadap gempabumi bisa terkait dengan periode ulang gempabumi. Kita ambil contoh jika bangunan dirancang untuk berumur pakai 50 tahun dan perioda ulang gempa ditempat tersebut 100 tahun, maka percepatan maksimum di tempat tersebut tentu akan kecil.

5.3.1.

Metode Pemetaan

Langkah-langkah membuat peta percepatan tanah maksimum (PGA) adalah sebagai berikut :

Menyusun kembali data-data gempabumi yang terjadi dalam wilayah Indonesia dan sekitarnya. Membagi Indonesia menjadi grid dengan ukuran 0,5 derajad x 0,5 derajad. Menghitung percepatan tanah untuk tiap-tiap grid untuk semua data gempabumi dengan beberapa formula dan memilih satu percepatan yang paling besar pada tiap-tiap grid. Menghitung percepatan tanah maksimum untuk tiap-tiap grid untuk berbagai periode ulang dengan menggunakan metode McGuire. Menentukan tingkat resiko berdasarkan nilai percepatan maksimum. Membuat kontur peta resiko untuk wilayah Indonesia.

5.3.2.

Perhitungan Percepatan Tanah Maksimum (PGA)

Beberapa formula empiris PGA antara lain metode Donavan, Esteva, Murphy - OBrein, Gutenberg Richter, Kanai, Kawasumi dan lain-lain. Formula-formula empiris tersebut ditentukan berdasarkan suatu kasus gempabumi pada suatu tempat tertentu, dengan memperhitungkan karakteristik sumber gempabuminya, kondisi geologi dan geotekniknya. Dari beberapa formula tersebut kita pilih formula Murphy OBrein, Gutenberg-Richter dan Kanai untuk diterapkan pada penelitian ini. Formula MurphyOBrein memberikan hasil yang mirip dengan formula Gutenberg-Richter yang dikombinasikan dengan fungsi attenuasi gempabumi yang ditentukan berdasarkan gempa Flores, 12 Desember 1991. Formula Kanai perhitungan percepatan tanahnya memperhitungkan site effect yang direpresentasikan oleh periode dominan tanah di site tersebut. Perhitungan dengan formula-formula ini mengunakan data gempabumi selama periode 100 tahun.

Formula Murphy OBrein :

PGA=10(0,14 I + 0,24 M) 0,68(log d + 0,7 )

dimana : PGA = Peak Ground Acceleration I = Intensitas standard MMI M = Magnitude gempabumi d = jarak antara lokasi dengan sumber gempabumi

Formula Gutenberg-Richter :

log a = I/3 0.5 dan Io = 1,5 ( M-0,5)

dimana : a = percepatan (gal), I = Intensitas (MMI) dan Io = Intensitas pada hyposenter.

Fungsi attenuasi intensitas gempa Flores 12 Des 1992.

I = Io exp. (-0,0021 X),

dimana : I = intensitas pada jarak X km dari Io

Formula Kanai :

dimana : M = Magnitudo gelombang permukaan = Jarak episenter

5.3.3.

Periode Ulang

Fenomena gempabumi dapat digambarkan sebagai pelepasan energi oleh batuan bumi yang mengalami stress (baik regangan maupun tekakan) setelah mengalami akumulasi dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan sifat fisik batuan buminya. Semakin tinggi kekuatan batuan dalam menahan stress semakin besar pula energi yang dilepaskan. Dengan perkataan lain, semakin besar periode ulang suatu gempabumi semakin besar pula magnitude gempabumi yang akan terjadi. Dan semakin besar magnitude gempabumi makin besar pula percepatan tanah yang terjadi di suatu tempat. Untuk menghitung besarnya percepatan maksimum pada tiap-tipa grid digunakan metode McGuire, dimana probabilitas kejadian gempa dihitung berdasarkan distribusi ektrim Gumbel untuk periode ulang gempabumi 5, 10,20, 50, dan 100 tahun.

Metode McGuire :

dimana : b1 = 472.3 b2 = 0.278 b3 = 1.301 m = magnitudo gelombang permukaan, dan R = Jarak hiposenter

Ada 3 (tiga) tipe distribusi ekstrim gumbel yaitu :


1. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe I :

= exp [- exp{-(x v)}]

(1)

2. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe II :

= exp {-

(2)

3. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe III :

= exp {-

(3)

dimana :
= parameter fungsi intensitas v = karakteristik harga maksimum x = suatu variable = batas bawah harga maksimum w = batas atas harga maksimum k = parameter kelengkungan

Hasil peta

1. Peta PGA metoda McGuire

2. Peta PGA metoda Kanai 3. Peta PGA metoda Murphy-OBrein 4. Peta PGA metoda Gutenberg-Richter

5.4.

Peta sejarah Tsunami

Istilah tsunami berasal dari kosa kata Jepang tsu yang berarti gelombang dan nami yang berarti pelabuhan, sehingga secara bebas, tsunami diartikan sebagai gelombang laut yang melanda pelabuhan. Bencana tsunami terbukti menelan banyak korban manusia maupun harta benda, sebagai contoh untuk Tsunami di Flores (1992) mengakibatkan meninggalnya lebih dari 2000 manusia, kemudian untuk tsunami di Banyuwangi (1994) telah menelan korban 800 orang lebih, belum termasuk hitungan harta benda yang telah hancur.

Tsunami ditimbulkan oleh adanya deformasi (perubahan bentuk) pada dasar lautan, terutama perubahan permukaan dasar lautan dalam arah vertikal. Perubahan pada dasar lautan tersebut akan diikuti dengan perubahan permukaan lautan, yang mengakibatkan timbulnya penjalaran gelombang air laut secara serentak tersebar keseluruh penjuru mata-angin. Kecepatan rambat penjalaran tsunami di sumbernya bisa mencapai ratusan hingga ribuan km/jam, dan berkurang pada saat menuju pantai, dimana kedalaman laut semakin dangkal. Walaupun tinggi gelombang tsunami disumbernya kurang dari satu meter, tetapi pada saat menghepas pantai, tinggi gelombang tsunami bisa mencapai lebih dari 5 meter. Hal ini disebabkan berkurangnya kecepatan merambat gelombang tsunami karena semakin dangkalnya kedalaman laut menuju pantai, tetapi tinggi gelombangnya menjadi lebih besar, karena harus sesuai dengan hukum kekekalan energi.

Penelitian menunjukkan bahwa tsunami dapat timbul bila kondisi tersebut dibawah ini terpenuhi : Gempabumi dengan pusat di tengah lautan. Gempabumi dengan magnitude lebih besar dari 6.0 skala Ricter Gempabumi dengan pusat gempa dangkal, kurang dari 33 Km Gempa bumi dengan pola mekanisme dominan adalah sesar naik atau sesar turun Lokasi sesar (rupture area) di lautan yang dalam (kolom air dalam). Morfologi (bentuk) pantai biasanya pantai terbuka dan landai atau berbentuk teluk.

Metode pemetaan

Peta bahaya tsunami di wilayah Indonesia berasal dari dua peta; peta rawan tsunami dan peta potensi tsunami. Sumber data peta ini berasal dari catatan sejarah peristiwa alam tsunami di Indonesia dari tahun 0 sampai dengan tahun 2000. Sumber data peristiwa alam termasuk gempa bumi dan gunung meletus beserta akibatnya pada tahun 0 sampai dengan 1900 diambil dari catalog The Earthquake of The Indonesian Archipelago oleh Arthur Wichmann versi bahasa Inggris. Catalog ini berisi catatan peristiwa alam yang dirangkum dari berbagai sumber termasuk catatan harian pelaut, pedagang dsb. Peristiwa Tsunami diterjemahkan kedalam tingginya tsunami pada suatu lokasi untuk dipetakan.

Peta Potensi Tsunami adalah peta bahaya tsunami pada daerah tersebut berdasarkan peristiwa tsunami yang pernah terjadi. Data dasar yang dipakai dalam pembuatan peta ini adalah ketinggian run up (limpasan gelombang tsunami di pantai) yang terukur di lapangan. Ketinggian diukur dengan titik dasar pada garis pantai. Run up dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu : tidak bahaya, dengan tinggi run up 0 2 m; bahaya, dengan tinggi run up 2 - 5 m; dan sangat bahaya, dengan tinggi run up lebih dari 5m.

Peta rawan tsunami Peta rawan tsunami menggambarkan pantai-pantai di Indonesia yang rawan terhadap bahaya tsunami. Kerawanan terhadap tsunami disusun berdasarkan peta tektonik Indonesia, dimana zona-zona subduksi dan zona busur dalam (back arc thrust) merupakan sumber gempabumi dangkal di laut. Dengan demikian pantai yang menghadap kedua kondisi tektonik tersebut merupakan pantai yang rawan tsunami.

Hasil pemetaan

Peta potensi dan rawan tsunami.

5.5.

Peta Resiko Gempa Bumi

Semua pemetaan di atas disimpulkan dalam Peta resiko gempa bumi yang dihasilkan dari intergrasi dua peta yaitu peta yang menampilkan dampak gempa bumi di lokasi tertentu. Penampilan peta ini bisa dari integrasi percepatan maksimum tanah dengan Tsunami dan distribusi energi gempa dengan tsunami. Untuk integrasi ini perlu didefinisikan tingkat resiko gempa bumi. Definisi yang kita pakai sangat subjektif, karena banyak parameter yang tidak tersedia. Definisi ini sangat mudah diubah-ubah dalam aplikasi SIG, sesuai dengan tingkat resiko

dan parameter yang tersedia. Parameter yang dimaksud sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal seperti ketebalan lapisan sedimen dan perioda dominan lapisan tanah.

Penjumlahan tingkat resiko didefinisikan sebagai penjumlahan linier;

T = R1 + R2

Dimana T=total resiko, R1, adalah resiko parameter I dan R2 adalah resiko parameter II.

5.5.1.

Peta Percepatan tanah maksimum dan tsunami

Peta percepatan tanah maksimum merupakan dampak gelombang gempa dilokasi pengamat, sehingga bisa menjadi ukuran resiko gempa bumi dan dijumlahkan dengan tingkat resiko tsunami. Peta percepatan tanah maksimum diklasifikasikan menjadi 10 (sepuluh) macam tingkat resiko berdasarkan besaran percepatan maksimum (satuan gal = cm/s2) dan Intensitas (satuan MMI).

NILAI PERCEPATAN NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. TINGKAT RESIKO Resiko sangat kecil Resiko kecil Resiko sedang satu Resiko sedang dua Resiko sedang tiga Resiko Besar satu Resiko Besar dua Resiko Besar tiga Resiko sangat besar satu Resiko sangat besar dua (gal) < 25 25 50 50 75 75 100 100 125 125 150 150 200 200 300 300 600 > 600

INTENSITAS (MMI) < VI VI-VII VII-VIII VII-VIII VII- VIII VIII IX VIII IX VIII IX IX X >X KODE 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Peta tsunami diklasifikasikan menjadi 10 macam tingkat resiko berdasarkan tinggi runup.

NILAI RUNUP NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. TINGKAT RESIKO Resiko sangat kecil Resiko kecil Resiko sedang satu Resiko sedang dua Resiko sedang tiga Resiko Besar satu Resiko Besar dua Resiko Besar tiga Resiko sangat besar satu Resiko sangat besar dua (m) < .1 0.1 0.5 0.5-1 1-2 2-4 4-7 7-10 10-20 20-30 > 30 KODE 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

5.5.2.

Peta akumulasi energi gempa dan tsunami

Akumulasi energi gempa adalah jumlah seluruh gempa yang pernah terjadi dalam periode 100 tahun. Akumulasi ini menjadi ukuran tingkat seismisitas pada pemetaan ini dan dijumlahkan dengan tingkat resiko tsunami.

Klasifikasi resiko akumulasi energi gempa didefinisikan sbb:

Magnitude NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. TINGKAT RESIKO Resiko sangat kecil Resiko kecil Resiko sedang satu Resiko sedang dua Resiko sedang tiga Resiko Besar satu Resiko Besar dua Resiko Besar tiga Resiko sangat besar satu Resiko sangat besar dua (mB) < 4.5 4.5 5 5-5.5 5.5-6 6-6.5 6.5-7 7-7.5 7.5-8 8.0-8.5 > 8.5

Log Mo (pangkat 10) 19-20.9 20.9-22.1 22.1-23.3 23.3-24.5 24.5-25.7 25.7-26.9 26.9-28.1 28.1-29.3 29.3-30.5 30.5-33 KODE 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Hasil pemetaan

1. Peta resiko gempa 1, penjumlahan percepatan tanah maksimum dan tsunami. Penjumlahan ini dilakukan dengan memakai beberapa peta percepatan tanah maksimum yaitu; 1.a. Percepatan tanah maksimum versi McGuire untuk perioda ulang 5,25,50 dan 100 tahun 1.b. Percepatan tanah maksimum versi Murphy-OBrien 1.c. Percepatan tanah maksimum versi Gutenberg Richter 2. Peta resiko gempa 2, penjumlahan akumulasi energi dan tsunami

6.

Team peneliti

Untuk memudahkan mekanisme kerja, kami bagi kelompok kerja berdasarkan pada unsur peta; a) Percepatan tanah; menghitung percepatan tanah b) Tsunami; mengumpulkan dan memetakan data tsunami c) Data makro;mengumpulkan dan memetakan data intensitas d) Hyposenter; memetakan berbagai macam seismisitas e) Sistem Informasi Geografi (SIG); merangkum semua unsur peta, merancang aplikasi dan membuat manual.

Anggota team terdiri dari; a. b. c. d. e. Fauzi MSc PhD Masturyono MSc PhD Drs. Rasyidi Sulaiman Ir. Sindhu Nugroho Msi Drs. Subardjo Dip.Seis.

f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q.

Drs. Wandono MSi Ir. Rameo Adi MSc Ir. Roberto Pasaribu DEA Ir. Rinto Mardiyono SSi Ir. Rizkita Paritusta MT Guswanto SSi RR Yuliana P Muzli Iqbal Karyono Ariska R Drs. Abdul Gafur

DAFTAR ACUAN :

1. 2.

Benjamin F Howell,JR; Introduction to Geophysics, Mc Graw Book Company, 1956 P.J. Prih Harjadi & Subardjo, Fungsi Attenuasi Intensitas Gempa Flores 12 Desember 1992, Proceding PIT-HAGI ke 18 tahun 1993 Ir. Gunawan, dkk, Diktat Perencanaan Struktur Tahan Gempa, Jilid 1, Delta Tehnik Group. Peta Resiko Gempabumi di Indonesia, Proyek Meteorologi dan Geofisika Pusat BMG dengan Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMIPA ITB- Bandung 1995.

3. 4.

5.

Hagiwara,Yukio, Probability of earthquake occurrence as obtained from a Weibull distribution analysis of crustal strain Tectonophysics,23 (1974),313-318. Rikitake,Tsuneji,Earthquake forecasting and warning,Center for Academic Publication,1981. Larson,Harold,J,Introduction to probability theory and statistical inference,second edition,John Wiley & son,Inc,1974. Sulaeman Ismail,Metode peramalan gempa bumi dan penerapannya,BMG,Departemen Perhubungan,1983. A Physical-Based Earthquake Recurrence Model for Estimation of Long-Term Earthquake Probabilities. Ellsworth, W.L., Matthews. M.V, Nadeau, RM., Nishenko, S.P., Raesenberg, PA., Simpson, R.W., Workshop on Earthquake recurrence state of the art and direction for the future, Istituto Nazionale de Geofisica, Rome, Italy, Feb.,1999.

6.

7.

8.

9.

Sumber : http://www.reindo.co.id/gempa/Reference/peta_gempa.htm