ANALISIS KINERJA RUMAH SAKIT DAERAH BERDASARKAN BUDAYA ORGANISASI, KOMITMEN ORGANISASI DAN AKUNTABILITAS PUBLIK

(Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur)

ABSTRACT The purpose of this research are to study and analyze the influence of organizational culture, organizational commitment, public accountability toward organizational performance simultaneously and partially. The method of this research is description and explanatory survey. The units analysis are regional hospital in east java. The data collecting was carried out by spreading questionnaires to regional hospital managers. The technical method of simple random sampling. The tool of analyze is path analysis The result on this research and hypothesis testing show that: (1) there is correlation among organizational commitment and internal audit in moderate category; (2) simultaneously, organizational culture, organizational commitment and public accountability had significant influence to regional hospital performance; (3) partially, organizational culture and organizational commitment had positive influence and significant to regional hospital performance, public accountability had positive influence but not significant to regional hospital performance Key Words: Organizational Culture Organizational Commitment, Accountability and Organizational Performance Public

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan biaya terjangkau dilakukan pemerintah daerah dengan perbaikan secara terus-menerus (continous improvement) baik dalam bidang administrasi, pelayanan, teknologi kesehatan dan sebagainya. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik

35

Indanesia Nomor 228/Menkes/SKIll/2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimum Rumah sakit yang wajib dilaksanakan oleh pemerintahan daerah (http://www dinkesjatim.go.id/data-informasi.html) dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan merupakan salah satu bidang yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah (propinsi) dan bertanggungjawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat derajat kesehatan masyarakat. Disamping itu, dikeluarkan pula Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 004/Menkes/Sk/I/2003 Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan. Keberhasilan

desentarlisasi ini diperlukan komitmen pemerintah daerah, legislatif, masyarakat dan stakeholder lain secara berkesinambungan pembangunan kesehatan Kondisi ini mendorong RSD yang dulu merupakan cost centre, dimana semua biaya operasional RSD dibiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui APBD dan APBN, kini harus memadukan orientasi service public oriented dan profit oriented. Hal ini bertujuan agar beban anggaran daerah dan pusat dapat dikurangi atau bahkan apabila memungkinkan RSD menjadi salah satu lembaga penghasil sumber pendapatan asli daerah (PAD). Oleh karena itu diperlukan pengelolaan RSD yang profesional menuju terciptanya suatu lembaga publik yang berorientasi pada value for money (economy efficiency, and efectifity). Salah satu faktor untuk menciptakan value for money adalah komitmen yang diciptakan oleh semua komponen-komponen individual dalam menjalankan operasional organisasi. Komitmen tersebut sering disebut dengan komitmen organisasi. Komitmen tersebut dapat tercipta apabila individu dalam organisasi sadar akan hak dan kewajibannya dalam organisasi tanpa melihat jabatan dan

35

kedudukan

masing-masing

individu,

karena

pencapaian

tujuan

organisasi

merupakan hasil kerja semua anggota organisasi yang bersifat kolektif. Penelitian yang dilakukan oleh Kouzes, menunjukkan bahwa kredibilitas yang tinggi mampu menghasilkan suatu komitmen, dan hanya dengan komitmen yang tinggi, suatu perusahaan mampu rnenghasilkan bisnis yang baik (Kouzes, 1993: 32, Setyo Riyanto, 2002: 47). Mowday et.al (1979), komitmen organisasi merupakan keyakinan dan dukungan terhadap nilai dan sasaran (goal) yang ingin dicapai organisasi. Individu yang berkomitmen tinggi akan berpandangan positif dan berusaha berbuat terbaik bagi perusahaan (Porter, et.al, 1979). Terkait dengan rerangka manajemen berbasis kinerja, setiap individu bertanggungjawab atas kinerja. Grote (1997) terdapat lima tanggung jawab utama yang harus dipenuhi oleh setiap individu dalam organisasi untuk menciptakan kinerja yang diinginkan yaitu: (1) memberikan komitmen terhadap pencapaian tujuan, (2) meminta umpan balik atas kinerja yang telah ia lakukan, (3) melakukan komunikasi secara terbuka dan teratur dengan manajernya, (4) mendapatkan data kinerja dan membagi data itu kepada pihak lain, dan (5) menyiapkan diri untuk dievaluasi atas kinerja yang telah ia capai. Selain komitmen organisasi faktor yang tidak kalah pentingnya berpengaruh pada kinerja organisasi adalah budaya organisasi. Budaya organisasi yang baik tentunya akan mempengaruhi kualitas pelayanan rumah sakit yang baik pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Tjiptono (2000: 75), yang mengemukakan bahwa kualitas pelayanan sendiri sebenarnya dipengaruhi oleh banyak aspek salah satunya adalah budaya organisasi dan cara pengorganisasiannya. Budaya organisasi sangat berpengaruh terhadap perilaku para anggota organisasi, sehingga jika budaya organisasi suatu rumah saklt baik, maka tidak mengherankan jika anggota organisasi adalah orang-orang yang baik dan berkualitas pula. Sehingga tidak salah

35

akuntabilitas pemerintah seharusnya tidak hanya memusatkan pada pemanfaatan sumberdaya (input) semata tetapi juga pada kinerjanya (Herbert Leo. (3) perspektif proses bisnis internal 35 . dan (8) strategy vision (Mardiasmo. terdapat tujuh karakteristik primer untuk memahami hakikat dari budaya organisasi yaitu: (1) inovasi dan pengambilan keputusan (innovation and risk taking). (2) perspektif pelanggan. (6) equitty. akuntabilitas publik adalah pemberian informasi kepada publik dan konstituen lainnnya yang menjadi pemangku kepentingan (stakeholder) (Mahmudi. (4) orientasi pada orang (people orentation). UNDP dalam LAN. 2002. (7) effectiveness and efficiency. Akuntabilitas publik juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengenai apa yang telah. Budaya organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap komitmen organisasi dan kinerja. (4) Responsiveness. sedang dan direncanakan akan dilaksanakan organisasi publik. (5) consensus orientation. Balanced scorecard terdiri empat perspektif yaitu (1) perspektif keuangan. (5) orientasi pada tim (team orentation). 1997). (6) Agresivitas (agresiveness) dan (7) kemantapan (stability). (2) rule of law. Oleh karena itu. (2) perhatian pada rincian (attention to detail). 2005: 9). (3) transparancy. Robbins (1998: 595). Akuntanbilitas publik sesuai dengan karakteristik good governace berkenaan dengan (1) paricipation. 2000) Pengukuran kinerja dalam penelitian ini menggunakan pendekatan balanced scorecard yang memadukan pengukuran finansial dan pengukuran non finansial yang sangat cocok digunakan untuk mengukur kinerja lembaga atau organisasi sektor publik termasuk RSD. Dalam konteks organisasi pemerintahan. (3) orientasi pada hasil (outcome orentation).jika Schein (1984). mengungkapkan bahwa banyak karya akhir-akhir ini berpendapat tentang peran kunci budaya organisasi untuk mencapai keunggulan organisasi.

1990) Budaya organisasi dapat terbentuk dalam waktu yang relatif lama karena ia bersumber dan dapat dipengaruhi oleh budaya internal. 1996: 44). open communication. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. 3-4). budaya eksternal dan budaya besar (Rahmady.1. Budaya organisasi adalah nilainilai dan keyakinan (belief) yang dimiliki oleh anggota organisasi.dan (4) perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (Kaplan & Norton. Budaya Organisasi Budaya organisasi menjadi semakin meningkat ketika baik perspektif kebijakan publik maupun perspektif manajemen publik dalam administrasi negara masih menyisakan sejumlah masalah dalam masa transisi di negara sedang berkembang (Minogue. kepercayaan. 2.2. Menurut Mondy dan Noe (1990: 87). Polidano. komitmen organisasi dan akuntabilitas publik secara simultan terhadap kinerja organisasi RSD. 2. information sharing 35 . 2005: 310). Hongren. culture can be characterized by trust in subordinate. considerate and supportive leadership. 2000:461). Foster. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas. LANDASAN TEORITIS 2. Seberapa besar pengaruh budaya organisasi. dan Datar. Kunci dari sejumlah masalah yang tersisa tersebut menunjuk pada nilai. komitmen organisasi dan akuntabilitas publik secara parsial terhadap kinerja organisasi RSD. yang dimanifestasikan dalam bentuk norma-norma perilaku para individu atau kelompok organisasi yang bersangkutan (pendekatan dimensi praktik) (Hofstede et. 1.al. group problem solving. dan norma institusional dan dibarengi pula dengan sikap-sikap individual. Hulme : 1998. worker autonomy. Seberapa besar pengaruh budaya organisasi.

1998: 25) yaitu inovasi dan pengambil risiko. 1992: 87) Cushway (1995: 25). 2. Terdapat tujuh karakteristik primer yang digunakan secara bersama dalam memahami hakekat dari budaya organisasl (Robbins. komitmen dapat didefinisikan sebagai : 1. et. Kemauan untuk berusaha atau bekerja untuk kepentingan organisasi. Hasrat untuk menjaga keanggotaan organisasi. perasaan dan nilai-nilai yang dihasilkan dan pembagian-pembagian pengalaman dan secara bersamaan yang dihasilkan budaya dari kelompok itu sendiri (Schein. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa komponen affective dan continuance pada komitmen organisasi secara empiris merupakan konstruk yang dapat dipisahkan dengan tidak ada korelasi. Porter. komitmen organisasi dapat didefinisikan sebagai “relative strength of an individual’s identification with and involvement in a particular organization”.and high output goal. perhatian pada rincian. 3. agresivitas dan kemantapan 2. pola pembagian pemikiran kepercayaan. Komitmen Organisasi Pada dasarnya komitmen karyawan (individu) akan mendorong terciptanya komitmen organisasi. Keyakinan dan penerimaan tujuan dan nilai organisasi. orientasi pada hasil.al (1998:109). Penelitian terkait dengan komitmen organisasi dilakukan oleh Natalie J Allen dan John P Meyer (1990). Komponen affective dan normatif dapat 35 . orientasi pada orang.1. tentang pengukuran anteseden dari komitmen organisasi. Aranya et. Proses pembentukan budaya berhubungan erat dalam suatu ciri identik dengan proses dan pembentukan kelompok yang sangat penting dalam kelompoknya atau ciri kelompok. orientasi pada tim. menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan sistem nilai organisasi dan akan mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dan cara para pegawai berperilaku.al dalam Poznanski dan Blinc (1997:254).

1990:1).al. Akuntabilitas dapat dilihat sebagai salah satu elemen dalam responsibiltas. 1998:111). melaporkan. Sedangkan responsibilitas merupakan akuntabilitas yang berkaitan dengan kewajiban menjelaskan kepada orang/pihak lain yang memiliki kewenangan untuk 35 . Hackket et. Akuntabilitas Publik Akuntabilitas publik adalah kewajiban penerima tanggungjawab untuk rnengelola sumber daya. Komitmen organisasi dibangun melalui identifikasi individual dengan tujuan organisasi (affective commitment) dan biaya terkait dengan tetap tinggalnya seseorang pada suatu organisasi (the “side-bet” theory atau continuance commitment) serta apa yang sebaiknya dilakukan (normatif commitment) (Meyer. Akuntabilitas berbeda dengan konsep resposibilitas (Mahmudi.2.dibedakan. 2005: 9). 1990:5). hasrat ini berdasarkan identifikasinya pada organisasi dan keinginannya untuk membantu organisasi mencapai tujuan (Strawser dan Ketchand.. namun terkait keduanya. Individu dengan normatif commitment merasa bahwa mereka merasa memang seharusnya komit terhadap organisasi (Allen & Meyer. Individu yang memiliki bentuk komitmen organisasi berupa continuance commitment berdasarkan Becker’s (1960) mengenai side-bets theory individu tetap bekerja untuk organisasi mereka mengakumulasi benefit yang lebih tinggi daripada mereka mencari pekerjaan lain. Akuntabilitas juga berarti kewajiban untuk rnernpertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang. dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya publik kepada pihak pemberi mandate (principal). (1994) mengatakan bahwa Individu yang memiliki komitmen organisasi yang merupakan affective commitment melaksanakan perannya karena hasrat yang ingin dilakukan. 2.

tuntutan akuntabilitas harus diikuti dengan pemberian kapasitas untuk melakukan keleluasaan dan kewenangan. (3) memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan. dkk (1995:51). Akuntabilitas vertikal merupakan akuntabilitas kepada otoritas yang lebih tinggi.meminta pertanggungjawaban dan memberi penilaian. Hopwood dan Tomkins (1984) dan Edwood (1993). Penilaian kinerja perusahaan menurut Hansen dan Mowen (1997:396) sebagai berikut : “Activity performance measures exist both financial and non 35 . Namun demikian. dimensi-dimensi akuntabilitas pada organisasi sektor publik (Mahmudi. Akuntabilitas hukum dan kejujuran (Accountability for probity and legality) b. sedangkan akuntabilitas horizontal adalah akuntabilitas kepada publik secara luas atau terhadap sesama lembaga lannya yang tidak memiliki hubungan atasan bawahan. Akuntabilitas manajerial (Manajerial accountability) c. (2) menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan.4. dan (4) menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenai permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability) e. sistem efektif penilaian kinerja sebaiknya mengandung indikator kinerja. Kinerja Organisasi Menurut Atkinson. Akuntabilitas finansial (financia accountability) 2. yaitu (1) memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan. Akuntabilita Program (program accountability) d. Akuntanbilitas publik terdiri dari akuntabilita vertikal dan akuntabilitas horisontal. 2005: 10) adalah : a.

1997: 741) yaitu : (1) Financial Perspective. Brandon dan Drtina. Cost. They are also designed to reveal if constant improvement is being realized .financial forms. Dalam hal ini Kaplan mendifinisikan tiga tahapan siklus kehidupan 35 .1. Measures of activity performance centre on three major dimension : (1) efficiency. Debt. 2. Perbaikan-perbaikan ini tercermin sasaran yang secara khusus berhubungan dengan keuntungan yang terukur. konsep scorecard (ukuran kerja) model lama mulai ditinggalkan. implementasi dan pelaksanaan dari strategi yang dapat memberikan perbaikan mendasar. Assets. Perspektif-perspektif Dalam Balanced Scorecard 2. Pengukuran keberhasilan kinerja perusahaan berdasarkan pendekatan balanced scorecard dibagi menjadi empat perspektif (Kaplan dan Norton. (3) Internal Perspective. (2) quality.4.4. Sasaran keuangan bisa sangat berbeda pada tiap-tiap tahapan serta kehidupan bisnis. Perspektif Keuangan (Financial Perspective) Pengukuran kinerja keuangan menunjukkan perencanaan. (2) Customer Perspective. and (3) time. baik berbentuk Gross Operating Income. Return On Investment (ROI) atau Economic Value Added (EVA). These measures are designed to assess how well an activity was performed and the result achieved.4. Balanced Scorecard Sejalan dengan perkembangan penilaian kinerja perusahaan. 2. Liabilities dan sebagainya (Martini Kuseini. Capital Expenditure. Pimpinan perusahaan yang hanya menuntut karyawannya untuk mengoptimalkan laba yang optimal biasanya menerapkan scorecard yang hanya berdimensi profitabilitas.2. dan (4) Learning & Growth Perspective. Elemen-elemen yang diukur biasanya sales. cashflow.2. karena dianggap hanya mengejar tujuan kemampulabaan (profitability) jangka pendek semata. 1996: 4 . 1997:19).1.

Sasaran dalam sustain stage lebih menekankan pada pengukuran seperti ROI atau EVA. 2. kemampuan mempertahankan para pelanggan lama.4. tingkat perolehan pelanggan. bertahan (sustain) dan panen (harvest). Perspektif Proses Perspective) Bisnis Intern (Internal Business Process Pada tahap inovasi perusahaan perlu mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan pelanggan (baik pelanggan yang sekarang dimiliki maupun para pelanggan potensial) di masa kini dan mendatang serta merumuskan cara untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut. Proses operasi perusahaan mencerminkan aktivitas yang dilakukan perusahaan. 2. kelompok inti yang mempunyai tolok ukur hasil akhir yang saling terkait terdiri dari. sampai dengan saat produk atau jasa 35 . Perspektif Pelanggan (Customer Perspective) Tolok ukur kinerja pelanggan dibagi menjadi dua yaitu pertama. dari saat penerimaan order dari pelanggan. Pada perspektif proses bisnis internal yang kedua adalah proses operasi.2. Kelompok kedua adalah customer value proposition yang menggambarkan performance driven (pemicu kerja).4. pangsa pasar.2. Sasaran keuangan untuk growth stage. Tahapan inovasi dapat disebut pula sebagai tahapan penelitian dan pengembangan (litbang) produk.2. Tentunya kebijakan keuangan pada tahap tersebut akan berbeda-beda.bisnis yaitu: pertumbuhan (growth). akan menekankan pada pertumbuhan penjualan didalam pasar baru dari konsumen baru dan atau produk dan jasa baru. loyalitas. retensi dan akuisisi konsumen yang tinggi. karena mayoritas inovasi berada pada fungsi litbang perusahaan. hal ini berhubungan dengan penyajian perusahaan dalam mencapai tingkat kepuasan.3. tingkat kepuasan pelanggan dan tingkat profitabilitas pelanggan.

(2) Tingkat perputaran kerja. dapat mengungkapkan kesenjangan (gap) antara kemampuan orang (people).4. Motivasi. 3. system dan procedure dengan kebutuhan dalam mencapai kinerja yang handal. (4) Nilai tambah dari tiap karyawan. (3) besarnya pendapatan perusahaan per karyawan. pelanggan. (3) akses untuk memperoleh informasi. Kemampuan pekerja. (3) jumlah saran yang berhasil guna. Kemampuan sistem informasi. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan Perspective) (Learning & Growth Pada proses pembelajaran dan pertumbuhan organisasi bersumber dari tiga prinsip. dan (3) jangkauan waktu untuk memperoleh informasi. dan (4) Banyaknya pegawai yang mengetahui visi. Perspektif keuangan. kondisi ini dapat ditinjau dari : (1) Tingkat kepuasan pekerja. 2. Beberapa elemen employee satisfaction adalah (1) Keterlibatan dalam pengambilan keputusan. 2. karyawan yang berada dalam lingkungan kompetitif dewasa ini memerlukan informasi yang handal tentang berbagai hal. (2) Tingkat ketepatan informasi. “pembelajaran dan 35 . dan organizational procedure. yaitu people. yaitu : 1.tersebut dikirim pada pelanggan. system. misalnya: pelanggan. misi dan tujuan perusahaan. Kaplan dan Norton (1996:129) merincikan perspektif pertumbuhan” perusahaan. (4) dorongan aktif untuk melakukan kreativitas dan inisiatif.4.2. keberhasilan aspek ini antara lain : (1) jumlah saran pegawai. (2) pengakuan. (2) jumlah saran yang diimplementasikan. proses internal dan konsekuensi finansial dari keputusan yang diambil. dan (5) dukungan atasan. Kondisi ini antara lain dapat ditinjau dari : (1) Tingkat ketersediaan informasi. dan sasaran dari proses bisnis internal.

2. Selain metode kuesioner juga dilakukan metode wawancara. Data Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.3. Operasionalisasi Variabel Variabel penelitian ini terdiri budaya organisasi. yang berjumlah 38 unit. yang bertujuan untuk melengkapi pertanyaanpertanyaan yang telah diajukan melalui kuesioner. Desain Penelitian Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh bukti empiris. menguji dan mengkaji pengaruh budaya organisasi. 3. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi. Responden dalam penelitian ini adalah Direktur RSD. Pengumpulan data diperoleh dengan cara memberikan kuesioner (mail quesioner). Data primer diperoleh langsung dari responden yang menjadi anggota sampel. METODE PENELITIAN 3. komitmen organisasi dan akuntabilitas publik terhadap kinerja organisasi RSD. Jumlah sampel minimum dilakukan dengan rumus Yamane dengan presisi 10 %. 35 . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh RSD di Jawa Timur.3. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatif yaitu menjelaskan hubungan sebab akibat dari sejumlah variabel yang diteliti. komitmen organisasi dan akuntabilitas publik terhadap kinerja organisasi RSD. Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini dapat dilihat lampiran 1 3.1. Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian ini seperti data Biro Pusat Statistik (BPS). yang berisi daftar pertanyaan terstruktur yang ditujukan kepada responden (direktur RSD atau pihak yang ditugasi). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain survai (survey design).

Hasil Penelitian 4. Metode Analisis data Sebelum data dianalisis maka ketepatan dan kehandalan data dua macam pengujian yaitu test of validity (uji kesakhihan) dan test of reliability (uji kehandalan). gambaran struktural yang tercermin dalam sub struktur pertama adalah sebagai berikut : 35 .1. Sebelum data dianalisis maka data yang berupa tabulasi dari skala ordinal dinaikkan ke skala interval dengan program method sussesive interval (MSI). Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 2. 1.3. 2. Nilai koefisien-koefisien korelasi yang dihasilkan.4. mendasarkan pada struktur pertama. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Hasil pengujian korelasi antara variabel budaya organisasi dan komitmen organisasi menunjukkan bahwa variebel tersebut berkorelasi secara signifikan. guna menguji kesungguhan jawaban responden. Hubungan Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Pengujian sub hipotesis pertama tentang hubungan budaya organisasi dan komitmen organisasi. Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan struktur jalur sebagai berikut : Gambar 1: Struktur Diagram Jalur Keterangan : X1 = X2 = Y = Z = Budaya Organisasi Komitmen Organisasi Akuntabilitas Publik Kinerja 4 .

Gambar 2 : Hubungan Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Pengujian korelasi antara variabel X1 dan X2 menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara budaya organisasi dan komitmen organisasi dengan skor yang sangat kuat. Pengaruh Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Organisasi secara Simultan dan Parsial Pengujian Hipotesis tentang budaya organisasi (X1) dan komitmen organisasi (X2) terhadap akuntabilitas publik (Y) dapat dilihat persamaan : Y = PYX1X1 + PYX2X2 + PYå1 Output hasil pengujian dapat dilihat pada lampiran 3.1. Gambaran hubungan struktural tercermin dalam struktur pengaruh budaya organisasi dan komitmen organisasi terhadap akuntabilitas publik sebagai berikut : Gambar 2: Pengaruh Budaya Akuntabilitas Publik Organisasi dan Komitmen Organisasi 35 . 4. Nilai-nilai standardized coefisien beta dalam tabel output di atas merupakan nilai koefisien regresi untuk data yang sudah dibakukan yang tidak lain adalah nilai koefisien jalur.2. Hubungan budaya organisasi dan komitmen organisasi sebesar 0.706 mendasarkan pada hipotesis pertama yang menyatakan bahwa terhadap hubungan budaya organisasi dan komitmen organisasi dapat diterima.

Budaya organisasi memiliki 35 . Pengaruh Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Organisasi secara Parsial Berdasarkan hasil pengujian statistik dapat diketahui bahwa pengaruh langsung variabel Budaya organisasi (X1) terhadap akuntabilitas publik (Y) memiliki koefisien jalur sebesar 0.526) x 100% = 27.441) x 100% = 16. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi (X2) berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap akuntabilitas publik (Y) Hasil pengujian ini mengindikasikan temuan sebagai berikut : a.67%.9% dijelaskan variabel lain yang tidak diteliti. Pengaruh Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Organisasi secara Simultan Uji hipotesis tentang pengaruh X1 dan X2 secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel Y dilakukan dengan membandingkan nilai sig F sebesar 36. Ini berarti bahwa budaya organisasi dan komitmen berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap akuntabilitas publik dengan pengaruh yang cukup (sedang).441 dan besarnya pengaruh langsung tersebut sebesar (0.89%.a.05). dan signifikan.1%.526 dan besarnya pengaruh langsung secara signifikan sebesar (0. sedangkan 24. b.000 (lebih kecil dari nilai á = 0.441x 0.526 x 0.751 ditunjukkan bahwa variabel budaya organisasi dan komitmen organisasi menjelaskan akuntabilitas publik sebesar 75. Nilai R square sebesar 0. Pengaruh langsung variabel komitmen organisasi (X2) terhadap akuntabilitas publik (Y) memiliki koefisien jalur sebesar 0.109 dengan nilai sig F sebesar 0.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa akuntabilitas publik tidak seluruhnya ditentukan oleh budaya organisasi saja. dapat dilihat bahwa besarnya koefisien determinan pengaruh variabel independen (budaya organisasi dan komitmen organisasi) adalah sebesar 0. b. Komitmen pengaruh organisasi positif memiliki terhadap akuntabilitas publik pada tingkat yang cukup (sedang). Hal ini menunjukkan bahwa akuntabilitas publik RSD di Jawa Timur dijelaskan oleh budaya 35 . Berdasarkan pada besarnya nilai R square yang dihasilkan. keberhasilan c. Kondisi ini memperlihatkan baik komitmen bahwa semakin akan organisasi mendorong akuntabilitas publik. tetapi ada faktor yang lebih mempengaruhi sistem dan langsung prosedur seperti yang diterapkan.751.pengaruh publik terhadap akuntabilitas pada tingkat yang cukup.

komitmen organisasi dan akuntabilitas publik terhadap kinerja RSD baik secara simultan maupun parsial tercermin dalam gambar dibawah ini : Gambar 3: Pengaruh Budaya organisasi (X1). sedangkan 24. Komitmen Organisasi dan Akuntabilitas Publik terhadap Kinerja RSD Baik Secara Simultan dan Parsial Pengujian hipotesis kedua tentang pengaruh budaya organisasi (X1).9 % dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Pengaruh Budaya Organisasi.0 pada persamaan di atas dapat dilihat pada lampiran 4 Gambaran hubungan struktural pengaruh budaya organisasi. 4.organisasi dan komitmen organisasi sebesar 75. Komitmen Organisasi (X2) dan Akuntabilitas Publik (Y) Terhadap Kinerja (Z) 35 . komitmen organisasi (X2) dan akuntabilitas Publik (Y) terhadap kinerja (Z) mendasarkan pada substruktur kedua.1 %. Pengujian hipotesis penelitian kedua tersebut dengan melakukan regresi dengan persamaan sebagai berikut : Z = PZX1X1 + PZX2X2 + PZYY+ PZå1 Hasil pengujian menggunakan software SPSS versi 12.2.

0 diperoleh bahwa nilai sig F lebih kecil dari á = 0. Pengaruh Budaya organisasi (X1). X2.05 yang berarti secara simultan variabel X1. Pengaruh Budaya organisasi (X1). dan Y nilai sig t nya lebih besar dari nilai α = 0. Hasil pengujian ini berpengaruh secara signifikan mengindikasikan adanya temuan statistik sebagai berikut : 1. X2.a. X2.05. b. Komitmen Organisasi (X2) dan Akuntabilitas Publik (Y) Terhadap Kinerja (Z) Secara Parsial Uji pengaruh variabel X1.05. X2. dan Variabel Y terhadap Z secara parsial dilakukan dengan membandingkan nilai sig t dari tabel output dengan nilai α = 0. Hasil perhitungan dengan bantuan SPSS versi 12. Komitmen Organisasi (X2) dan Akuntabilitas Publik (Y) Terhadap Kinerja (Z) Secara Simultan Uji hipotesis tentang pengaruh dari masing-masing variabel X1. dan variabel Y berpengaruh terhadap Z tidak signifikan. dan variabel Y terhadap variabel Z secara simultan dilakukan dengan membandingkan nilai sig F dari tabel output anova dengan nilai α = 0. X2.05 yang berarti bahwa variabel X1. Hasil output yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk variabel X1. Budaya organisasi berpengaruh secara signifikan penerapan dimana budaya RSD terhadap kinerja adanya organisasi tingkat pada 35 . dan Y terhadap Z.

Hal ini berarti kinerja yang belum optimal pada RSD di Jawa timur tidak langsung disebabkan oleh komitmen organisasi yang rendah. Komitmen organisasi memiliki secara terhadap dimana pengaruh signifikan kinerja adanya komitmen organisasi RSD pada tingkat yang rendah. Akuntabilitas tidak publik memiliki pengaruh yang kuat 35 .yang cukup. 3. 2. Hal ini berarti kinerja yang belum optimal pada RSD di Jawa timur tidak langsung budaya disebabkan oleh organisasi yang rendah.

dilihat besarnya pada R yang dapat bahwa nilai koefisien determinan pengaruh variabel independen (budaya organisasi. komitmen organisasi dan akuntabilitas publik sebesar 81. Hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja RSD di Jawa Timur dijelaskan oleh budaya organisasi. komitmen organisasi dan publik akuntabilitas adalah sebesar 0. 6 35 . namun kinerja adanya publik tidak signifikan. Berdasarkan besarnya square dihasilkan.816. 4.terhadap dimana akuntabilitas RSD.

sedangkan 18. Meskipun pengaruhnya secara simultan signifikan.448 adalah x 0.89 %. Pengaruh langsung terhadap Y Z adalah (0.07 % b. 089) x 100% = 7. Pengaruh langsung x2 Z adalah (0.%. 446) x 100% = 19. c. Pengaruh langsung x1 Z (0.089 x 0. 4 % variabel dipengaruhi lain yang tidak diteliti. bila kita cermati besarnya pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dilihat sebagai berikut : a.90 % 35 . 448) x 100% = 20. 446 x 0.

526 0.Z adalah (0. Pengaruh tidak langsung x1dan x2 – Y Z adalah x 0.d. 80 % 35 . 089) x 100% = 3.Z adalah (0.089) 100% 681 % = x x 4. (0. 658 % e.706 446 x 0.089 x 100% = 2.411 x 0. Pengaruh tidak langsung x1 – Y . Pengaruh tidak langsung x1 – Y . f.

komitmen organisasi dan akuntabilitas publik secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja RSD dalam kategori kuat.2. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kinerja RSD dapat lebih optimal jika didikung adanya budaya organisasi dan komitmen organisasi serta adanya akuntabilitas publik yang baik pula. Budaya organisasi dan komitmen organisasi yang baik dan tinggi mendorong RSD lebih efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. ini menunjukkan bahwa budaya organisasi memberikan kontribusi yang rendah terhadap pencapaian kinerja RSD di Jawa Timur.4. Pengaruh positif dalam kategori rendah dan signifikan variabel budaya organisi dan komitmen organisasi terhadap kinerja baik secara langsung maupun tidak langsung mengindikasikan bahwa: 1. Hal ini karena budaya organisasi dan komitmen organisasi merupakan kekuatan individu dalam organisasi untuk mendukung pencapaian kinerja. Pembahasan Penelitian Budaya organisasi. Secara parsial budaya organisasi dan komitmen organisasi berpengaruh positif dalam kategori rendah dan signifikan terhadap kinerja RSD. Hal ini karena budaya merupakan kekuatan individu dalam organisasi untuk mendukung pencapaian kinerja. Budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja dengan pengaruh yang rendah. namun akuntabilitas publik berpengaruh positif dalam kategori rendah dan tidak signifikan terhadap kinerja RSD. Pendapat di atas sejalan dengan pendapat 35 . Disinilah diperlukan peran manajemen untuk melakukan perbaikan dan penanganan secara berkesinambungan terhadap budaya RSD yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pencapaian kinerja organisasi.

Penelitian ini mendukung penelitian prasetyono (2007). 2. pelatihan. Komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja dalam kategori yang lemah dan signifikan terhadap kinerja RSD. sehingga akan terbentuk komitmen yang tinggi. Akuntabilitas publik berpengaruh terhadap kinerja RSD dengan pengaruh yang lemah dan tidak sigifikan. 35 . berpengaruh pada individu dan kinerjanya bahkan lingkungannya. Hal ini karena pegawai dalam memberikan pelayanan kepada pasien cenderung seenaknya dengan meninggalkan aspek profesionalisme. 3. Namun demikian. Ini menunjukkan bahwa akuntabilitas bukan menjadi faktor yang utama dalam penciptaan kinerja RSD. Untuk itu perlu adanya peningkatan peran abdi masyarakat pegawai RSD secara optimal.Molenaar (2002). Oleh karena itu agar tercipta kinerja yang optimal dalam organisasi dibutuhkan perangkat dan sistem yang baik agar terbentuk budaya RSD yang baik pula. 1992). pemberian reward dan punishment. Hal ini karena akuntabilitas lebih cenderung terkait pada laporan keuangan dan keuangan dan menilai hasinya (Raum. ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi RSD di Jawa Timur memberikan kontribusi terhadap pencapaian kinerja RSD yang belum optimal. Suryo Pratolo (2006). dan Wiwin Yadiati (2005) yang menemukan bahwa komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Komite SAP mengisyaratkan bahwa tujuan laporan keuangan pemerintah adalah menyajikan informasi yang berguna untuk pembuatan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas dalam mengurus sumber daya yang diamanatkan. Kotter dan Heskett (1999) yang menyatakan bahwa budaya mempunyai kekuatan yang penuh. Namun dengan manajemen pemerintahan good governance. maka profesionalisme pegawai RSD perlu ditingkatkan dengan pendidikan.

akuntabilitas publik dan pengukuran efisiensi dan efektivitas (UNDP Report. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan atas hasil penelitian di atas.Untuk dapat mencapai akuntabilitas publik yang baik maka penyelenggara organisasi sektor publik harus menyediakan informasi yang berguna untuk melakukan evaluasi manajerial dan kinerja organisasi. Untuk itu diperlukan sistem akuntansi yang dapat menjamin dilakukannya prinsip stewardship dan accountabilitty dengan baik (Rowan. 2003. Hubungan variabel budaya dan organisasi 0. Wilkinson. 2000).706. 2000. 2003) 5. Oleh karena itu untuk mencapai kinerja yang optimal pada sektor publik diperlukan dukungan pada penciptaan transparansi. organisasi komitmen sebesar Hubungan 2. maka dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1. tersebut dikategorikan hubungan yang kuat. Terdapat yang antara organisasi korelasi signifikan budaya dan komitmen organisasi terhadap 35 . Wold Bank.

4 % dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. 3. 249 oleh yang tidak diteliti. pengaruh simultan kategori kuat 81. komitmen organisasi dan publik simultan akuntabilitas secara variabel berpengaruh secara siginifikan kinerja Besarnya secara dalam sangat sebesar terhadap RSD.akuntabilitas publik dengan skore yang kuat 0. 4. Budaya organisasi. sedangkan 18. yang ditentukan variabel lain yaitu sebesar sedangkan 0. Secara parsial 35 .751.6 yaitu %.

pengaruh dihasilkannya organisasi komitmen secara dalam kuat. Disamping itu perlu adanya reward dan peningkatan kualitas 35 . sangat rendah Adapun saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian adalah: 1.budaya organisasi. berpengaruh signifikan kinerja. agar kinerja organisasi RSD benar-benar optimal seperti yang diharapkan maka perlu diterapkan pengendalian manajemen. terhadap sedangkan komitmen organisasi dan publik akuntabilitas tidak berpengaruh secara signifikan kinerja Besarnya yang budaya dan organisasi parsial kategori sedangkan akuntabilitas dalam publik kategori terhadap RSD. Hal ini disebabkankan pentingnya peran manajemen RSD terhadap berhasil tidaknya RSD. Kepada Manajemen RSD.

IAI . Second Edition. Semarang. Faktor yang tak kalah pentingnya adalah penerapan punishment yang berfungsi sebagai penyeimbang. 2. Chicago. dkk. Pra-Konvensi Nasional Akuntansi Ke-3. obyek penelitian yang hanya terbatas pada RSD di Jawa Timur saja. DAFTAR PUSTAKA Ancella Anitawati Hermawan. pengendalian manajemen dan lain sebagainya. Arthur G & Zammuto. Organizations : Theory and Design.SDM yang mengarah pada peningkatan kesesjahteraan dan jabatan pihakpihak yang terlibat di RSD. Bedeian. Peningkatkan pengetahuan dan keahlian. Inc. John P. Balanced Scorecard Sebagai Sarana Akuntansi Manajemen Strategik. Richard D Irwin. struktur organisasi. Pillipines. lingkungan internal dan ekternal organisasi. 35 .1991. 1995. Disamping itu. Anthony A. Raymond F. Allen J. Vol 63 Atkinson. Pendidikan Profesi Berkelanjutab (PPL). Natalie & Meyer. Kepada peneliti lain. The Dryden Press. sehingga belum dapat dijadikan simpulan terhadap kinerja rumah sakit. Prentice Hill. Journal of Occupational Psychology. The Measurement and Antecedents of Affective. 1996. perlu dikaji lebih mendalam variabel-variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian yang terkait dengan peningkatan kinerja RSD seperti. 1990. Continuance and Normative Comitment to The Organization. Management Accounting. penin gkatan dan ketersediaan sarana dan prasarana serta pengendalian manajemen secara terpadu akan dapat meningkatkan kinerja organisasi RSD. September. baik rumah sakit swasta maupun rumah sakit pemerintah.

USA Hofstede G. and Sanders G. 2002. 2000.Makalah Praktikum Statistik. Boston Jones. Iman Sjahputra Tunggal dan Amin Akuntabilitas Publik.Universitas Padjadjaran. Internal control system. Ohavy. Public Sector Accounting. Inc. Translating Strategy Into Action The Balance Scorecard. Prentice-Hall International. Inc. Measuring Ogranization Culture: A Qualitative and Quantitative Study across Twenty Cases. Management Accounting. Administrative Science Quarterly. Havarindo. FCGI (Forum For Corporate Governance In Indonesia). Peran Auditor Internal Dalam Menunjang Akuntabilitas Publik Pada BUMN di Indonesia. Cetakan Pertama. Jakarta. 1987. Jakarta. New York. 1997. 286 – 316 Hongren. 1990.. Path Analisis dalam Aplikasi Penelitian sebagai Alat Analisis Kausal. pp. Neuijen. 2001. Management Accounting : Strategy And Control.1996. Harvard Business School. Alice A. Mowen R Don dan Maryanne M . Romney et al. Rowen and maurince Pendlebury. Boston. Ohio. 1997. Barry E and Marshall B. 5th Edition. Canada. 1998. 2000.. Yayasan Pendidikan pasar Modal Indonesia & Synergy Communication. Tidak dipublikasikan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik Per 1 Januari 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. McGraw-Hill. 1993. Cost Accounting : A Managerial Emphasis. Inc. Kaplan. 26 April 2004. Hansen.J. Accounting and control for governmental and other nonbusiness organizations. International Thomson Publishing Co. 2002. New Jersey Brandon. Ralph E. 1997. Pedoman Teknis Strategi Pemasaran Pelayanan Dokter Praktek Swasta. B. Tata McGraw-Hill Limited 1979. Kechand. Fakultas Ekoonomi. David P. Wesley Longmon Inc. Cushing. Guilford .1997 . Alexander dan Bryan Weiner. Artikel dipaparkan pada Jurusan Akuntansi Politeknikn Pos Bandung. Akuntabilitas Publik. Foster & Datar. 1998. London. DD. 1996. Accounting Information System. Vol 35. Prentice Hill. Mc. Jakarta. Publishing Company Harun Alrasyid.Boynton and Kell. Bandung.P. Pitman Publishing. Membangun Jeffrey A. The Existence of Multiple Measures 35 . Cetakan Kedua. Robert & Norton. Prentice-Hall International. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) The Essence of Akuntabilitas Publik : Konsep dan Implementasi Perusahaan Publik dan Korporasi Indonesia. 2002. Widjaja Tunggal.and Jerry R Strawser. 7th Edition. Charles H & Drtina. Tenth Edition. Graw-Hill Companies. Ferdinand. Herbert Leo. New Jersey. Ketut Mardjana. Salemba Empat. Psychometric Methods.

Sloan. Why People Deman it. IAI. E. Komputindo. & Heskett.L. Balanced Scorecard : Penyeimbangan Pengukuran Kinerja Organisasi. Inc. Gema Stikubank. Vol 35. 1996. Comitment and Organozatio : The Organization Man Resited. Setyo Riyanto. Academy Of Management Review. Edisi II. Kinell Patrik. Donna M. 1989. Http://hem. & Hulme. 2001. XXVI Juni.. LP3S. Masri Singarimbun & Sofyan Effendi. Pengaruh Komitmen dan Kompetensi Pegawai Terhadap Kepuasan Pelanggan dan Nilai Pelayaanan Serta Dampaknya Terhadap Loyalitas Pelanggan Suatu survei Pada Industri Jasa Kurir di Pulau Jawa. Minogue. Financial Accounting.Posner. M. Academy of Management Journal. How Leaders Gains and Lose it. 1998. Jakarta . Business Sector Advisory Group on Corporate Governance. UK OECD. Barr Z.W.W. No. No 3. Kouzes. 1993. (1998) Beyond the New Public anagement : Changing Ideas and Practices in Governance.se/kinell/pappers/theory. Semarang. 35 . 1995. 1997. Peter J & Blinc. Alex Media. 2000. Polidano. Listyorini. Edisi 33. Roger C & F David. Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance (GCG). 06 Th. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. J. 2007.htm. Kotter. Joakim Planmol. Schein. Desertasi Doktor Universitas Padjadjaran Bandung. Behaviour Research in Accounting. Edward Elgar. Edition. Peter Schultz. 1997. Metode Penelitian Survei. Vol 12. Dennis M. winter. No. Penerbit Andi. 2004. Singgih Santoso. 1992. Cheltenham. Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Dengan Pendekatan Balanced Scorecard Berdasarkan Komitmen Organisasi. Meigs and Meigs. (1992) Corporate Culture and Performance. 2. C. Edisi Revisi.M. Simposium Nasional Akuntansi. April. Jossey-Bases. Vol 9. 1987. 2002. No 3. 8th Toronto. Akuntansi Sektor Publik. J. Using Structural Equation Modeling to Investigate The Causal Ordering of Job Satisfation and Organizational Comitment Among Staf Accounting. Randal. Inc. Martini Kuseini. D. Poznanski. Behavioral Research in Accounting. New York. Usahawan.Passagen.. Mc Graw-Hill. The Free Press. Management Review.H. Mayer. Mardiasmo. Yogyakarta. Predcting Participation and Production Outcomes Through a Two-Dimensional Model of Organizational Commitment.P. Schooman. (1984) Coming to a new awareness of organizational culture. Akuntabilitas Publik : Manfaat dan Permasalahannya. Credibility. James. The Performance Pyramid BuildUp. Prasetyono. Jakarta.of Organizational Commitment and Experience-Related Differences in a Public Accounting Setting. Jakarta. Makassar.

Internal Control : Corporate Governace.go. 2003. Internal Audit and Strategic Renewal. Ketidakpastian Lingkungan dan Informasi A-simetri terhadap Kelonggaran Anggaran dan Implikasinya Kepada Kinerja Manajer. : Lampiran 1 Operasionalisasi Variabel Penelitian Indikator DIMENSI Perhatian pada rincian (X1.dinkesjatim. Pengaruh Audit Manajemen. Pengaruh gaya Kepemimpinan Partisipatif. Suryo Pratolo. Desertasi Doktor. Bandung. Desertasi Doktor.2) Orientasi pada orang • Job deskription yang jelas • Prosedur yang digunakan • Tujuan yang dltetapkan • Hasil yang dicapai • Pelayanan kepada orang Variabel Budaya Organisasi (X1) SKA LA Rasio Rasio Rasio 35 . 2006. 2005. Bandung. Pengendalian Intern terhadap Penerapan Prinsip-Prinsip good Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan. Universitas Padjadjaran.1) Orientasi pada hasil (X1.Steinthorsedotir. Lilja. Universitas Padjadjaran. Wiwin Yadiati. Komitmen Organisasi. Komitmen Manajer pada Organisasional.id/data-informasi. http://www.html. Monetary Bulletin.

3) Akuntabilitas Publik (Y) Akuntabilitas Hukum dan kejujuran (Y1) Rasio Rasio Rasio Akuntabilitas Managerial (Y2) Akuntabilftas program (Y3) Rasio Rasio Akuntabilitas Kebijakan (Y4) Rasio Akuntabilitas Financial (Y.5) Rasio 35 .1) Rasio Continuance Commitment (X2.Variabel (X1.4) komitmen organisasi (X2) Affective Commitment (X2.3) Indikator DIMENSI • Perhatian kepada orang • Pelayanan kepada tim • Perhatian kepada tim • Sense of belonging • Emotional attached • personal meaning • Pilihan lain • Benefit • Biaya • Keyakinan untuk loyal • Keyakinan akan etika • Ketaatan pada peraturan yang ada • Kejujuran • Penghindaran/p enyalahgunaan jabatan • Kinerja yang dicapai • Proses dalam organisasi • Pencapaian program • Alternative program • Kualitas program • Kebijakan yang diambil • Kebijakan yang akan dicapai • Tujuan kebijakan • Sasaran kebijakan • Stakeholder yang berpengaruh • Penggunaan keuangan • Penggunaan anggaran • Laporan keuangan SKA LA Rasio Orientasi pada tim (X1.2) Normatif Commitment (X2.

Kelompok inti: -Pangsa pasar -Perolehan pelanggan baru -Kemampuan mempertahankan pelanggan .Fenomena kepuasan pelanggan b.Hubungan dengan pelanggan .Citra dan reputasi perusanaan • Inovasi • Proses operasi • Proses pelayanan purna jual • Kemampuan pekerja • Kemampuan sistem informasi • Motivasi pemberdayaankeserasian SKA LA Rasio Perspektif Pelanggan (Z2) Rasio Perspektif proses Bisnis Internal (Z3) Rasio Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan (Z4) Rasio Lampiran 2 Korelasi variabel Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi 35 .Atribut-atribut produk . Kelompok Penundang: .Variabel Kinerja (Z) Indikator Perspektif Keuangan (Z1) DIMENSI • Posisi pendapatan operasi • Posisi laba kotor • Posisi tingkat pengembalian modal (ROE) • Posisi tingkat pengembalian investasi • Kondisi nilai tambah ekonomis a.

000 2 7 1 .C rre tio o la ns X1 X1 P earson C orrelation S (2 ig.01 level (2 -tailed). C orrelation is significant at the 0.706 ** .000 2 7 X2 . 2 7 . -tailed) N P earson C orrelation S (2 ig.706 ** . 2 7 X2 **. -tailed) N 1 . Lampiran 3 Output Regresi Pengaruh Budaya Organisasi (X1) dan Komitmen Organisasi (X2) terhadap Akuntabilitas Publik (Y) 35 .

286 856.009 . X 1 b.760 .751 Adjusted R Square .866 a .001 a.463 .857 3.583 9. All requested variables entered. Dependent Variable: Y Lampiran 4 Output Regresi Pengaruh Budaya Organisasi (X1).162 . . Dependent Variable: Y Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. X 1 Variables Removed .783 .730 Std.208 Standardized Coefficients Beta . X 2.109 Sig. Predictors: (Constant). X 2.502 3433.788 df 2 24 26 Mean Square 1288.b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered a X 2. Error of the Estimate 5.162 2.873 .411 . Dependent Variable: Y Model Summary Model 1 R R Square .653 Sig.688 F 36. . Komitmen Organisasi (X2) 35 . X 1 b ANO VA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 2577.643 35. Predictors: (Constant). Method Enter a.526 Model 1 (Constant) X1 X2 t -. b.97391 a.000 a a. Error -1.

242 Standardized Coefficients Beta . X a 2 Variables Removed . Y.625 6266.062 2.006 . Error -2.223 .496 Sig. Y.682 .609 .448 . Dependent Variable: Z Model Summary Model 1 R R Square .903a . Dependent Variable: Z Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Dependent Variable: Z 35 .454 11.000 a a.089 Model 1 (Constant) X1 X2 Y t -. X 1. . Predictors: (Constant).870 .308 . Predictors: (Constant).624 a. Error of the Estimate 7. Method Enter a. X 2 b ANO VA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 5112.050 50.120 .211 3. X 1. X 2 b.792 Std. .010 .944 Sig. b.201 F 33.827 .775 df 3 23 26 Mean Square 1704. All requested variables entered.08527 a.149 1154.446 .834 .816 Adjusted R Square .dan Akuntabilitas Publik (Y) terhadap Kinerja (Z) b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Y. X 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful