Anda di halaman 1dari 5

Sedikit menilik adat uang japuik dan uang hilang di Pariaman

Kenapa mesti ada proses beli laki-laki di minang..? Lho kemana harga dirinya, kok bisa di nilai dengan uang..? Bukannya bertentangan dengan ajaran islam, dimana mahar diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan..?

Dan pasti banyak lagi pertanyaan dan pernyataan dari berbagai pihak di luar minang. Tapi tunggu dulu, saya secara pribadi tidak menyetujui, bahwa semua lelaki minang disamaratakan bisa dibeli. Hanya daerah Pariaman saja yang menggunakan adat babali (di beli). Dan secara garis besar, bisa dibilang, saya juga di posisi yang mempertanyakan hal-hal tersebut, walaupun saya sendiri orang minang. Untuk menjawab kebingungan itu, maka saya searching jurnal, artikel, bahkan sampai penelitian yang membahas mengenai adat uang japuik dan uang hilang di Pariaman ini. Tradisi Bajapuik di Pariaman Bajapuik (japuik, jemput) adalah tradisi mas kawin yang masih bertahan sampai saat ini di Pariaman (tidak di seluruh tanah Minangkabau), Sumatera Barat. Sebagaimana diketahui, masyarakat Minangkabau memiliki system kekerabatan matrilineal, dan adat setelah menikah adalah matrilokal (berdiam di sekitar kerabat ibunya). Seorang suami akan menjadi urang sumando (tamu) di rumah istrinya. Itu sebabnya, menurut beberapa pandangan di kalangan masyarakat, sudah layak apabila seorang calon suami, mendapatkan mas kawin (uang jemputan) dari istrinya, sebelum mereka menikah. Nampaknya seorang laki-laki tidak punya kuasa di rumah istrinya. Pada awalnya uang jemputan ini berlaku bagi calon menantu yang hanya bergelar Sutan, Bagindo dan Sidi dimana ketiga gelar ini diwariskan menurut nasab atau garis keturunan ayah atau patriakat. Dengan demikian di Pariaman berlaku 2 macam gelar, yaitu :

yang satu gelar dari ayah yang satu lagi gelar dari mamak,

Hanya saja gelar dari Mamak, terpakai adalah gelar Datuak dan gelar Malin saja, misalnya dapat kita contohkan pada seorang tokoh minang yang berasal dari Pariaman, yaitu Bapak Harun Zein (Mantan Mentri Agraria dan Gubernur Sumbar). Beliau mendapat gelar Sidi dari ayahnya dan

mendapat gelar Datuak Sinaro dari Ninik Mamaknya. Sehingga lengkaplah nama beliau berikut gelarnya Prof. Drs. Sidi Harun Alrasyid Zein Datuak Sinaro (dari persukuan Piliang) . Gelar Sutan dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada petinggi atau bangsawan Istano Pagaruyuang yang ditugaskan sebagai wakil raja di Rantau Pasisia Piaman Laweh. Ingat konsep luhak ba-panghulu - Rantau ba Rajo, seperti : - Rajo Nan Tongga di Kampuang Gadang Pariaman, - Rajo Rangkayo Basa 211 6 Lingkuang di Pakandangan, - Rajo Sutan Sailan VII Koto Sungai Sariak di Ampalu, - Rajo Rangkayo Ganto Suaro Kampuang Dalam, - Rajo Tiku di Tiku dll Gelar Bagindo dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada para Petinggi Aceh yang bertugas didaerah Pariaman. Ingatlah bahwa wilayah Pariaman & Tiku pernah dikuasai oleh kerajaan Aceh dizaman kejayaan Sultan Iskandar Muda. Gelar Sidi diberikan kepada mereka2 yang bernasab kepada kaum ulama (syayyid), yaitu penyebar agama Islam didaerah Pariaman Pemakaian gelar tunggal ini langsung diikuti dengan nama-nama, misalnya Sutan Arman Bahar atau Bagindo Arman Bahar atau Sidi Arman Bahar. Sedangkan gelar dari Mamak yang bukan gelar Datuak akan ditaruh dibelakang nama, seperti : Sutan Sinaro, Sutan Batuah, Sutan Sati tidak lazim dipakai di Pariaman kecuali gelar Malin. Seperti Arman Bahar Malin Bandaro ada juga terpakai.

Banyak adat Minangkabau yang dipegang teguh di Pariaman, dan salah satunya yang paling menonjol adalah Gadih Gadang Indak Balaki (gadis yang sudah cukup umur tetapi belum menikah). Sehingga para Ninik Mamak orang Pariaman sangat peduli untuk menyelesaikan masalah yang satu ini. Saking pedulinya para Ninik Mamak ini, maka sesuai teori ekonomi demand curve menaik se-iring meningkatnya tingkat permintaan hingga pada suatu saat terjadi penurunan tingkat suplai anak bujang mapan. Akibatnya merusak titik ekuilibrium dan memunculkan kolusi (dalam artian persaingan yang positif). Artinya pihak keluarga anak gadis siap sedia memberikan kompensasi berapapun nilainya , asal anak gadisnya menikah dan mendapatkan suami. Ketika datang desakan dari pihak gadis dan tiap sebentar datang mendesak sesuai tradisi yang berlaku di daerah itu, maka posisi anak bujang itu menjadi begitu berarti. Bahkan agak terkesan memaksakan kehendak jika tidak dikatakan merongrong dari berbagai pihak keluarga gadis yang ingin bemenantukan anaknya. Hal yang lumrah pula bila suatu keluarga menginginkan anak gadis mereka cepat menikah sebelum datang tudingan perawan tua bagi seorang anak gadis. Sebaliknya seorang Ibu yang mempunyai anak bujang yang sudah mapan kehidupannya tentu ia akan meneriman tawaran menggiurkan berupa uang jemput atau uang hilang atau apapun istilahnya dari pihak keluarga gadis.

Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, ketika orang yang datang mendesak, maka ketika itu sesuai teori ekonomi demand curve menaik se-iring meningkatnya tingkat permintaan - terjadilah tawar menawar. Bargaining power akan lebih kuat bila sang ibu pihak lelaki mempunyai anak yang mapan seperti dokter, saudagar sukses, insinyur chevron bahkan bergelar Sidi pula. Miris. Keluarga mana yang tidak ingin anak gadisnya akan hidup tenang dengan calon suami yang keren & mapan begitu. Jadilah pepatah yang berbunyi indak ameh bungkah di-asah, indak kayu janjang dikapiang asal anak gadisnya mendapatkan anak bujang yang sudah mapan hidupnya. Para Gadis tentunya akan senang bersuamikan dokter atau insinyur chevron yang gajinya besar itu. Disini kita lihat betapa pedulinya Para Mamak orang Pariaman untuk masalah yang satu ini, dalam rangka menghindari Gadih Gadang Indak Balaki alias perawan tua. Welhendri Azwar (2001), dalam penelitiannya mengatakan, bahwa pada masa lalu mas kawin japuik, berupa emas, seekor kuda dan barang-barang yang bernilai pada waktu itu. Pada prinsipnya, esensinya terletak pada nilai-nilai sosial dan prestis. Tradisi mas kawin ini selalu dikaitkan dengan status kebangsawanan seorang laki-laki. Menurut Azwar, masuknya Islam ke Pariaman, yang mendapat dukungan dari Sultan Aceh, semakin memperkokoh eksistensi uang japuik. Ketika gelar kebangsawanan mengalami proses Islamisasi, maka tradisi inipun mendapatkan legitimasi agama. Uang japuik akan dikembalikan lagi kepada pihak perempuan dengan jumlah yang sama, bahkan dilebihkan. Biasanya pemberian ini dilakukan oleh keluarga pengantin pria (marapulai) ketika pengantin wanita (Anak Daro) berkunjung atau Batandang ka rumah Mintuo. Bahkan pemberian itu melebih nilai yang diterima oleh pihak Marapulai sebelumnya karena ini menyangkut menyangkut gensi keluarga marapulai itu sendiri. Dan apabila dalam perundingan ternyata perkawinan tidak dapat dilanjutkan, maka pihak yang membatalkan ikatan pertunangan harus membayar dana sebesar uang japuik, yang disebut lipek tando. Dalam perkembangannya kemudian tradisi ini bergeser maknanya menjadi persoalan untung rugi dan hitung-hitungan secara ekonomis, ketika tradisi bajapuik, disertai dengan uang hilang (uang dapur). Uang ini dimaksudkan sebagai pemberian bantuan dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki untuk penyelenggaraan pesta, oleh karenanya tidak dikembalikan lagi dan menjadi milik laki-laki. Namun dalam perkembangannya kemudian uang dapur ini berubah bentuk menjadi mobil, sepeda motor, rumah, atau uang jutaan rupiah, yang jumlahnya lebih besar daripada uang japuik itu sendiri, dan tidak ada aturan yang mengatakan bahwa uang itu akan dikembalikan bila perkawinan tidak jadi dilangsungkan.

Meskipun bukan merupakan adat asli, melainkan merupakan bentuk adat yang baru, tradisi uang hilang ini sudah berlangsung turun temurun dan sulit dihilangkan. Uang hilang menjadi daya tarik tersendiri bagi laki-laki Pariaman, dibandingkan dengan uang japuik, yang tidak mengutungkan secara ekonomis. Seiring dengan masuknya nilai-nilai ekonomis dalam perkawinan, maka status sosial gelar kebangsawanan mengalami erosi. Jabatan, pangkat, gelar sarjana, dan status ekonomi lebih diperhitungkan. Orang lebih berpikir rasional, untuk apa meminang menantu dengan harga tinggi, meskipun ia bergelar bangsawan, bila ia pengangguran, atau hanya pedagang kaki lima. Lebih baik menjemput menantu dari kalangan rakyat biasa tetapi sarjana dan bekerja di kantor, sekalipun harus membayarnya dengan mobil. Pemilik modal merupakan orang yang mendapat peringkat tinggi dalam hal mahalnya uang bajapuik saat ini, menurut Azwar. Selanjutnya Azwar mencatat, bahwa karena tidak adanya hukum yang secara jelas mengatur, maka pelaksanaan uang hilang ini, dalam prakteknya banyak menimbulkan perselisihan, terutama karena salah satu pihak berkhianat, pada umumnya keluarga laki-laki. Dalam suatu kasus, pernah ada seorang laki-laki yang sebenarnya tidak tertarik dengan seorang perempuan, tetapi ketika keluarga perempuan meminang dengan uang hilang yang cukup besar, akhirnya si laki-laki menerimanya. Uang hilang pada umumnya diserahkan sebelum akad nikah dilaksanakan. Namun yang terjadi adalah, si laki-laki membatalkan pertunangannya, sebab tujuannya semata adalah mendapatkan uang hilang, dan akhirnya berdampak pada terjadinya perselisihan di antara kedua keluarga. Kasus-kasus semacam ini sering terjadi, oleh karenanya Prof. Masri Singarimbun pernah menyebut tradisi bajapuik sebagai kejahatan sosial di salah satu surat kabar lokal (Azwar, 2001). Bupati Anas Malik, pada masa jabatannya tahun 1980, pernah menghimbau agar masyarakat Pariaman menghapus tradisi uang japuik dan uang hilang. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1990 dikeluarkan keputusan bersama antara bupati, lembaga adat dan lembaga agama setempat untuk menghapuskan uang hilang . Gagasan ini sangat mengejutkan dan menimbulkan pro dan kontra. Namun yang jelas, sampai saat ini tradisi tersebut tetap hidup. Hasil penelitian menunjukkan, bagi perempuan, keberadaan uang jemput atau uang hilang bisa dikatakan sebuah dilema. Pada satu sisi uang japuik atau uang hilang merupakan bagian dari adat istiadat yang berkaitan dengan banyak aspek kehidupan seperti harga diri, gengsi, kebiasaan, dan hubungan kekerabatan. Pada sisi lain keberadaan uang japuik atau uang hilang merupakan masalah karena memberatkan bagi perempuan. Keberadaan uang japuik atau uang hilang pada prinsipnya merupakan tradisi yang diyakini oleh masyarakatnya dan juga kaum perempuan mempunyai fungsi tersendiri. Oleh karena itu dalam banyak perkawinan tradisi ini relatif tetap dijalankan. Uang japuik atau uang hilang dipandang masyarakat mengandung nilai budaya kolektifitas demi keutuhan kelompok keluarga, kaum dan bahkan sukunya sendiri. Pandangan orang luar kebudayaan Pariaman sering sangat negatif terhadap masalah uang japuik atau uang hilang. Di lain pihak masyarakat juga harus menahan diri

dengan tidak perlu mengedepankan nilai uang japuik atau uang hilang yang terlalu tinggi yang sering menimbulkan masalah dalam keluarga. FENOMENA demikian mencerminkan telah terjadi pergeseran nilai. Dulu, budi dan nilai moral yang dikedepankan. Karena munculnya fenomena uang hilang, nilai bergeser kepada yang bersifat kebendaan, materialistis; uang seakan-akan menentukan segala-agalanya, termasuk bagi orangtua dalam mencarikan jodoh. Jika tidak punya uang untuk membayar uang hilang, besar kemungkinan dia tidak bakal dapat menantu yang diinginkan. Akibat kompetisi dalam mencari menantu, yaitu dengan cara berlomba-lomba memperbesar uang hilang untuk suatu pernikahan, demi harga diri dan untuk sebuah rasa malu, para orangtua tidak segan-segan menggadaikan sawah-ladang untuk menyediakan uang hilang. Untuk orangtua yang mempunyai lebih dari satu anak perempuan, persoalan uang hilang semakin menjadi persoalan berat untuk dipikirkan. Kenyataan ini memberikan gambaran kepada kita bahwa posisi perempuan di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman sebagai kelompok yang tersubordinasi laki-laki dan tidak setara dengan laki-laki dalam arena publik. Bagaimanapun tingginya pendidikan perempuan, nilai uang jemput dan uang hilang tetap menjadi tuntutan adat, bahkan harus lebih tinggi lagi. Jika uang jemput dan uang hilang kepada suami rendah nilainya, keluarga perempuan akan dicemooh masyarakat. Dengan adanya tradisi uang jemputan dan uang hilang, anak perempuan dipandang sebagai beban keluarga, bahkan juga menjadi momok masyarakat karena dipandang memelaratkan pihak keluarga anak perempuan. Tradisi uang jemputan dan uang hilang menggambarkan berlangsungnya proses hegemoni ideologi patriarki dalam hubungan-hubungan sosial, yang di dalamnya tersembunyi kepentingan komunitas laki-laki sebagai kelas yang superior, terjadi penindasan hak-hak sosial perempuan sebagai anggota masyarakat. Ini potret terjadinya proses diskriminasi jender. Dalam kasus tradisi uang jemputan dan uang hilang, prestasi setinggi apa pun yang diraih perempuan dan setinggi apa pun kualitas intelektual perempuan tetap saja tidak dapat mengangkat status sosial mereka setara dengan lakilaki.