Anda di halaman 1dari 46

KATA PENGANTAR

Membuat sabun tidak hanya dapat dilakukan di pabrik besar,


dengan peralatan yang sangat sederhana dapat dibuat sabun di
rumah anda sendiri. Sabun dengan kualitas tinggi dapat dibuat
hanya dengat menggunakan peralatan yang ada di dapur rumah
saja. Bahkan anda dapat membuat sabun transparan yang harganya
sangat mahal, peralatan yang dibutuhkan kompor ( pemanas ),
panci tim ( double boiler ), pengaduk, termometer, dan sedikit
bahan kimia.
Saat ini telah banyak produk sabun kecantikan yang berbasis
sabun transparan, sabun transparan sedikit berbeda dari sabun
biasa dari cara membuatnya dan kandungan bahannya. Tetapi
dengan alat yang cukup sederhana dapat dibuat sabun transparan
yang kwalitasnya tidak kalah dengan produk pabrik besar. Tahap
demi tahap digambarkan cara membuat sabun transparan, baik dari
sabun yang bukan transparan atau membuat langsung sabun
transparan.
Buku ini adalah salah satu seri membuat sabun mandi di
rumah, seri tersebut antara lain ;
1. Membuat Sabun Transparan di Rumah.
2. Membuat Sabun Transparan Dekorasi di Rumah.
3. Membuat Sabun Madu, Susu, Zaitun dan Noni di Rumah.
4. Membuat Sabun Cair di Rumah.
5. Membuat Sabun Bayi di Rumah.

Semoga “ Membuat Sabun Transparan di Rumah “ ini dapat


bermanfaat bagi anda semua.
Daftar Isi

Kata Pengantar.
Daftar Isi.
Bab. I . Tentang Sabun.
a. Sabun secara umum.
b. Sabun Transparan.
c. Klasifikasi Sabun Transparan.
Bab.II. Pengetahuan Kandungan Sabun.
a. Kandungan Utama.
b. Kandungan Tambahan.
c. Kandungan Tambahan dengan Kegunaan Khusus.
Bab. III. Perangkat Kerja.
a. Alat Ukur.
b. Alat Memasak.
c. Cetakan Sementara.
d. Freezer ( Lemari Pendingin ).
Bab. IV. Juklak Sabun Transparan.
a. Membuat Langsung.
b. Membuat Sabun Base.
c. Membuat Sabun Transparan dari Sabun Base.
Bab. V. Resep Sabun Transparan.
a. Sabun Transparan Base.
b. Sabun Transparan Beauty ( Kecantikan ).
Bab. VI. Pewangi dan Pewarna.
a. Pewangi.
b. Colorant ( Pewarna ).
Bab VII. Keselamatan Kerja.
a. Penyimpanan.
b. Peralatan Keamanan.
c. Pengukuran dan Pencampuran.
d. Penantian.
e. Kesimpulan.
f. Cheklist.
Bab. VIII. Trouble Shooting.
Appendik.
1. Sifat Asam Lemak dan Sifat Minyak.
2. Tabel Harga Saponifikasi.
3. Kumpulan Formula Sabun Transparan.
Daftar Pustaka.
Glossary.
Index

BAB I
TENTANG SABUN

A. Sabun Secara Umum.


Pembuatan sabun sudah dikenal sejak 2000 tahun yang, sampai
saat ini prinsip pembuatannya belum berubah. Sabun secara umum sudah
dikenal sebagai bahan pembersih, ditinjau dari istilah kimia hanya
terbatas pada persenyawaan garam dan asam lemak atau senyawa asam
lemak yang terbentuk dari unsur organik tertentu. Sabun didefinisikan
sebagai produk dari proses saponifikasi atau netralisasi lemak, minyak,
lilin, rosin dengan basa organik tertentu atau yang anorganik.Tidak semua
sabun merupakan bahan pembersih, hanya sabun yang larut dalam air
saja yang dapat dikatakan sebagai pembersih. Sabun yang tidak larut
dalam air dinamakan sabun logam (metallic soap), walaupun tidak larut
dalam air tetapi larut dalam pelarut yang lain.
Bagian terbesar untuk pembersihan adalah sabun sodium yang
mana berperan dalam kontribusi sabun mandi (toilet) dan sabun cuci
(laundry), merupakan kombinasi antara garam sodium dan asam laurat,
myristat, palmitat, stearat, oleat atau dengan asam lemak yang lain. Di
pasaran dijual dalam bentuk batangan, lempengan, bubuk, butiran,
keripik, serpih atau lembaran panjang, tetapi sabun potasium biasanya
berbentuk cair atau lembek.
Reaksi dasar pembuatan sabun adalah saponifikasi yaitu
3Na OH + ( C17H35COO)3C3H5 ) 3C17H35COONa + C3H5 (OH)3
SODA GLYCERYL STEARAT SOD. STEARAT GLYCERIN.

Atau reaksi,
C17H35COOH + NaOH  C17H35COONa + H2O
STEARIC ACID SODA SOD. STEARAT AIR

Yaitu dengan tersabunnya asam lemak dan alkali baik asam yang
terdapat dalam keadaan bebas atau asam lemak yang terikat sebagai
minyak atau lemak ( glyserida ).
Lemak dan minyak tidak terkomposisi dari gliserida yang hanya
berisi satu asam lemak saja, tetapi merupakan campuran atau kombinasi.
Tersedia asam lemak dengan dengan kemurnian 90% atau lebih yang
merupakan hasil dari produksi khusus saja.
Karena kelarutan dan kekerasan sabun sodium dari berbagai macam
asam lemak berbeda seperti pada tabel I.1, para pembuat sabun dapat
memilih bahan mentah yang sesuai dengan sifat sifat yang diinginkan,
tentu saja dengan pertimbangan harga jual.

Tabel.I.1 Kelarutan dari berbagai macam sabun (Dalam


gram per 100 gr air pada 25 derajat )

N Bahan Stear Oleat Palmit Laurat


o at at
1 Sodium 0.1 * 18.1 0.8 2.75
2 Potasium - 25.2 - 70.0*
3 Kalsium 0.004 0.04 0.003 0.004*
** *
4 Magnesium 0.004 0.024 0.008 0.007
5 Alumunium i i d

1. * mendekati.
2. ** Kelarutan pada 25 derajat celsius.
3. i tidak larut.
4. d mengurai.
Sabun dibagi menjadi dua kelompok yaitu sabun mandi dan sabun
cuci / industri. Sabun dengan macam yang berbeda dapat dibuat dari
prosedur yang sama. Sabun batangan dipasaran meliputi ;
• Sabun mandi superfat
• Sabun Deodorant
• Sabun Anti septik
• Sabun Floating
• Sabun Transparan
• Sabun transluscen
• Sabun Marbel
Sabun mandi sering dibuat dari campuran tallow (lemak binatang)
dan minyak kelapa dengan perbandingan 80 / 20 atau 90 / 10 dan sabun
superfat dengan rasio 50 / 50 atau 60 / 40 penambahan asam lemak
bebasnya 7 – 10 % saja. Sabun superfat biasanya digunakan untuk kulit
yang sangat sensitif seperti kulit bayi atau kulit yang sangat kering. Sabun
deodorant mengandung agent pengikat untuk pewanginya yaitu 3,4.5’
tribromosalisilanilide ( TBS ) untuk menjaga penguraian dan penguapan
senyawa pewanginya (fragran atau essensial oil ).
Penggabaran diatas menunjukkan bahwa sabun transparan tidak
berbeda dengan sabun yang lain, perbedaannya bahwa sabun transparan
hanya membutuhkan bahan untuk membeningkannya saja yaitu alkohol,
glyserin dan gula.

B. Sabun Transparan.
Pembuatannya dengan melarutkan sabun kering dalam alkohol
dengan berat yang sama. Kemudian sebagian alkohol diuapkan. Apabila
sabun sudah cukup kental dan tetesan cairan didapat dengan cepat
menjadi masa yang keras, maka sudah didapat sabun transparan
( Saponifikasi ).
Pengrajin berusaha untuk mendapatkan sabun yang translusen, jernih, bening dari
pada sabun yang buram atau opaque. Diketahui bahwa sabun opaque bila dicampur dengan
alkohol dalam kondisi tertentu akan menjadi transparan. Juga diketahui bahwa sabun
transparan dapat dibuat menjadi opaque dengan memanaskannya dan kemudian didinginkan
perlahan – lahan. Masih dalam kondisi tertentu sabun transparan dapat dilelehkan dan
didinginkan cepat untuk menahan transparansinya. Dua kasus yang terakhir menunjukkkan
bahwa laju pendinginan mempengaruhi transparansi sabun.
Pada kondisi ultra mikroskopi terlihat bahwa sabun sodium umumnya opaque
mengandung fiber putih yang mempunyai panjang bervariasi. Kondisi ideal untuk membuat
fiber tersebut perlu pendinginan lambat dari sabun yang meleleh. Apabila pendinginan cepat
maka tidak dimungkinkan pembentukan fiber. Sabun yang didinginkan secara cepat kurang
opaque dari pada yang didinginkan secara lambat. Untuk mendapatkan bentuk yang
transparan sabun harus didinginkan dengan cepat.
Faktor lain yang mempengaruhi transparansi sabun adalah kandungan
alkohol, gula, dan glyserin dalam sabun. Ketika sabun akan dibuat jernih
dan bening maka hal yang paling essensial adalah kualitas gula, alkohol
dan glyserin. Oleh karena itu pemilihan material memperpertimbangkan
dengan warna dan kemurniannya. Parfum berperan penting dalam warna
sabun seperti adanya tincture, balsam dan infusi yang digunakan agar
sabun menjadi wangi, adanya bahan tersebut dapat menjadikan spotting (
bintik hitam ). Apabila sabun sengaja diwarna dipilih pewarna yang tahan
alkali. Air distilasi adalah air terbaik untuk sabun transparan glyserin
dipilih yang murni, alkohol juga yang terbaik prosentasi tertinggi. Untuk
minyak dan lemak digunakan yang asam lemak bebas rendah dan warna
yang baik.
Penambahan glyserin atau gula yang banyak menyebabkan sabun menjadi lengket dan manis,
oleh karena itu mengotori pembungkus. Untuk memperoleh transparansi sabun berikut ini
adalah metode yang umum digunakan ;
1. Transparan karena gula.
2. Transparan karena glyserin dan alkohol.
3. Dimana 1 dan 2 digabung dengan menggunakan minyak castor.
4. Transparansi karena asam lemak dalam sabun dan seberapa kali sabun
dimill.
Dengan metode pertama, kandungan minyak kelapa sedikitnya adalah 25
persen, lemak yang lain adalah tallow atau lemak apa saja yang dapat
menjadikan sabun keras. Sabun dididihkan dan dimasak seperti biasanya
lalu dimasukkan dalam pengaduk untuk dicampur dalam larutan yang
mengandung 10 – 20 % gula sesuai berat sabun. Gula dilarutkan dalam air
dan larutan dipanasi sampai 60 derajat selsius kemudian perlahan – lahan
ditambahkan dalam sabun. Manakala air menguap, sabun jenis tersebut
menunjukkan bintik – bintik dan menjadi lengket karena gula menembus
permukaan larutan.
Sabun transparan dari kategori yang kedua dapat disaponifikasikan
sebagaimana biasanya dan dibuat dari sabun mandi dasar. Sabun
dimasukkan dalam mixer dan dicampur alkohol 96 % dengan
perbandingan satu bagian alkohol dalam dua bagian total asam lemak
dalam sabun, bersama glyserin dengan proporsi yang sama.
Metode yang ketiga minyak castor sendiri digunakan untuk membuat
sabun atau lebih dari sepertiga lemak dapat ditambah utnuk setiap sabun
dasar diatas. Jika minyak castor yang digunakan hanya perlu 2 atau 3 %
gula.

Metode yang terkhir kombinasi dari tallow (lemak/kendal) 75 % , minyak


kelapa 20% , rosin jernih 5 %. Selanjutnya dengan proses saponifikasi dan
perampungan dengan cara pemanasan. Sabun selanjutnya dimasukkan
dalam ketel berjaket dan diolah sesuai dengan pemanasan sempurna.
Kebanyakan sabun transparan dibuat dengan cara semi panas,
metodenya lebih sederhana dan mudah. Langkah awalnya adalah
memasukkan lemak dan minyak dalam ketel, dipanasi sampai 60
der.celsisus. Sabun scrap yang sudah dibuat dapat dicairkan dalam lemak
yang panas jika diinginkan. Ditambahkan larutan soda yang sudah dibuat.
Masa diaduk sampai terjadi proses saponifikasi. Setelah itu sabun ditutup
dan dibiarkan selama 2 jam atau sampai pada tengahnya ada tonjolan.
Kemudian larutan gula dimasukkan dan akhirnya alkohol dan glyserin.
Temperatur dari massa dinaikkan sampai 60 derajat Celsisus.

Tabel. I.2. Formula Sabun Transparan

Bahan I II II
M. Kelapa 70 66 70
Tallow 40 31 50
M. Castor 30 35 23
Lye 38 Be 79 66 71
Gula 54 35 40
Air 60 40 30
Alkohol 40 35 40
Parfum - - -
Pewarna - - -

Untuk diingat, bahwa jangan sampai ada sabun tertinggal dalam


dinding mixer untuk menghindari agar sabun tidak kotor.
Pelaksanaan pengadukan dilanjutkan ¼ sampai ½ jam lagi dan
keringkan sabun ½ jam. Jika masa sudah dalam kondisi yang
memadai tambahkan pewarna, parfum dan lain – lainya. Resep yang
biasa menggunakan teknologi tersebut adalah tabel I. 2. diatas.

C. Klasifikasi Sabun Transparan


Keuntungan menggunakan sabun transparan karena
merupakan sabun premium yang mana mempunyai sifat sifat
tambahan yang menguntungkan antara lain ;
• Penampilan transparan yang menawan.
• Mempunyai fungsi pelembab.
• Daya bersih yang efektif tanpa meninggalkan busa sabun.
• Lebih terasa lunak karena tidak ada alkali ( sodium ) yang
tertinggal.
• Merupakan komposisi yang homogen dengan kandungan seperti
emollien, moisturizer dan antiseptik.
Pembagian sabun transparan berdasar kategorinya dalam arti
bahan kimia yang dikandungnya adalah sebagai berikut ;
Kategori A Mempunyai emollient ekstra, kondisioner
kulit, moisturizer, vit. E, ekstrak
tumbuhan dan fragrant kualitas tinggi
tau minyak essensial. Sangat sesuai
untuk sabun kosmetk premium.
Kategori B Mempunyai emollien dasar, kondisioner
kulit, vit. E, ekstrak tumbuhan dan
fragrant yang lebih murah. Sesuai untuk
sabun kosmetik luxury.
Kategori C Mempunyai emollien dasar dan fragrant
murah. Sesuai untuk bahan sabun muka
atau wajah.
High Mempunyai kandungan glyserin tinggi,
grade dengan kelunakan yang sangat baik dan
kelembaban yang baik juga. Sesuai untuk
pembuatan sabun dekoratif, mainan,
promosi dan advertising.

Sabun tranparan dasar sudah mengandung pelembab, glyserin


antiseptik alkohol dan bahan humectan gula, disamping juga mendukung
untuk pembentukan transparansinya. Dibandingkan dengan sabun biasa
dari komposisinya sabun transparan sudah menunjukkan sabun yang lebih
baik dari sabun biasa.

BAB II
PENGETAHUAN KANDUNGAN

A. Kandungan Utama.
A.1. Minyak pendukung.
Berbagai macam minyak yang secara relatif sering digunakan untuk
membuat sabun, minyak zaitun, kelapa, kastor dan sawit. Lemak ( yang
sudah diproses ) sering sendiri atau bersama digunakan dengan minyak
itu. Ada beberapa pemakai yang alergi dengan sabun yang terbuat dari
lemak hewan atau sabun yang bahannya dari minyak bumi.
Minyak zaitun, sangat lunak, sangat cocok untuk pemakai dengan
kulit yang sensitif. Sabun yang dibuat dari minyak zaitun, air dan sodium
dinamakan sabun “ castile”. Busa banyak dan sangat halus.
Minyak sawit, sering dipakai untuk membuat sabun juga,
beberapa pemakai ada yang alergi dengan minyak sawit. Bagi pemakai
yang kulit sensitif hindarkan penggunaan sabun dari minyak sawit.
Membuat sabun menjadi keras dibanding minyak kelapa dan zaitun.
Minyak Kelapa, bagi pemakai yang sensitif dapat menyebabkan
kulit ruam dan gatal dan suatu saat muncul reaksi yang sangat hebat.
Tetapi sebenarnya yang menyebabkan pemakai alergi adalah reaksi
minyak wangi dan minyak kelapanya atau lebih cenderung pemakai tidak
tahan fragrantnya( minyak wangi sintetis ). Sabun dengan minyak kelapa
busanya sangat banyak dan besar - besar.
Minyak Castor, Mengandung bahan yang kaya vitamin, pelembab
dan merupakan bahan minyak yang mendukung untuk transparansi
sabun. Sabun dengan minyak kastor menambah sifat plastis.
Minyak yang berlebihan dalam sabun transparan akan
menyebabkan sabun seperti berkabut. Untuk mendapatkan sabun yang
transparan, dibuat sabun glyserin dahulu, yaitu sabun yang perhitungan
saponifikasinya tepat, sehingga tidak ada minyak atau kaustik yang
berlebihan. Tetapi pengurangan kaustik sampai 5% dari berat kaustik
yang dibutuhkan sudah cukup untuk menjaga agar tidak berlebihan
kaustik dalam sabun.
A.2. Sodium Hidroksida.
Sabun terbuat dari sodium hidroksida dimana sangat kaustik,
sampai selesainya reaksi dengan minyak kemudian menjadi sabun dikenal
dengan nama reaksi saponifikasi. Sodium harus terurai sempurna dalam
proses saponifikasi minyak, oleh karena itu tidak akan ada bahan kaustik
yang tertinggal dalam sabun. Agar produk sabun sempurna maka sabun
harus dicuring dan rebatching sebelum penambahan emollien, moisturizer
dan minyak essensial. “ Fully Curing” berarti sodium hidroksida benar
benar terurai sempurna selama proses saponifikasi dan tidak bereaksi
dengan emollien, moisturizer dan minyak essensial. “ Rebatching” berarti
sabun base diparut, dilelehkan kemudian ditambah bahan lainnya,
selanjutnya dimasukkan dalam cetakkan. Dengan cara begitu akan
menghasilkan produk sabun yang lebih baik dari pada proses yang tidak
menggunakan rebatching.

A.3. Alkohol
Adalah bahan yang digunakan untuk melarutkan sabun, agar sabun
menjadi bening atau transparan. Kemurnian alkohol 95% yang
mempunyai titik nyala yang rendah maka tidak sulit untuk
menyalakannya. Penggunaan kompor gas dan kompor listrik harus dengan
hati hati, karena dapat membakar alkohol langsung. Untuk terjadi
transparansi sabun harus benar larut. Alkohol dengan level yang tinggi
dan kandungan air yang rendah menghasilkan produk sabun yang lebih
jernih.
A.4. Glyserin.
Sudah lama digunakan sebagai humectan (penjaga kelembaban kulit) dan sampai saat
ini digunakan secara meluas oleh pembuat sabun. Merupakan by produk dari pembuatan
sabun. Apabila didehidrasi dan dideodorisasi, glyserin menjadi cairan tak berwarna dan tak
berbau. Glyserin kurang menentukan kejernihan sabun, rasanya manis membakar.

A.5. Gula.
Bersifat humectan, dikenal membantu pembusaan sabun. Semakin
putih warna gula akan semakin jernih sabun transparan yang dihasilkan.
Terlalu banyak gula, produk sabun menjadi lengket , pada permukaan
sabun keluar gelembung kecil – kecil. Gula yang paling baik untuk sabun
transparan adalah gula yang apabila dicairkan berwarna jernih seperti
glyserin, karena warna gula sangat mempengaruhi warna sabun
transparan akhir. Gula lokal yang berwarna agak kecoklatan, hasil sabun
akhir juga tidak bening, jernih tanpa warna tetapi juga agak kecoklatan.
Penggunaan gula sebagai penjernih sabun harus memperhatikan
reaksi yang terjadi. Beberapa reaksi yang dapat menyebabkan gula
menjadi tidak jernih adalah;
1. Karamelisasi, pemanasan gula sampai suhu tinggi.
2. Reaksi Maillard, reaksi antara gula, asam amino dan panas.
3. Reaksi dengan vitamin C.
Ketiga reaksi diatas akan merubah sabun menjadi agak coklat hal
tersebut dapat diatasi dengan penambahan bahan squesteran.

A.6. Stearic Acid.


Membantu untuk mengeraskan sabun, khususnya minyak dari tumbuhan yang
digunakan. Penggunaannya dengan mencairkan dahulu dalam minyak kemudian dicampur
sodium hidroksida untuk saponifikasi. Penggunaan terlalu banyak menyebabkan sabun
kurang berbusa, jika terlalu sedikit sabun tidak keras
A.7. Pewarna.
Menjadi perdebatan dalam arena diskusi mengenai keselamatan penggunaan
( pewarna = dyes ) dan pigmen untuk mewarnai makanan, kosmetik dan produk perawatan
pribadi termasuk sabun. Karena kulit merupakan organ tubuh dan menyerap apapun yang
diletakkan dipermukaannya, yang akan masuk ke dalam kulit. Maka perlu dipertimbangkan
oleh pembuat sabun komersial menggunakan pigmen mineral (ocher atau oksida ), pewarna
kain atau pewarna sintetik untuk mewarnai sabunnya dan membuatnya tampak lebih
menawan. Hal itu dapat tidak sejalan dengan proses perawatan kulit.
• Pigmen dan ocher keduanya adalah oksida logam dan mineral yang
ditambahkan ke sabun, lotion, cream agar warnanya seragam. Hal itu
akan sangat beracun jika masuk kedalam kulit.
• Dyes lilin dan pewarna malam digunakan juga utnuk mewarnai sabun
khususnya sabun glyserin. Manufaktur lilin tidak memerlukan
kandungan khusus sebab malam warna ( minyak bumi atau malam
tawon ) dan lilin warna dikembangkan untuk tidak digunakan pada
permukaan atau didalam kulit, penggunaan bahan warna itu dapat
merugikan kulit.
• Pewarna kain, Tidak diuji untuk kulit, sebagian dari bahan pewarna kain
terbukti sebagai karcinogen.
Bahan warna yang aman digunakan untuk sabun adalah pewarna
makanan, minuman dan kosmetik yang pada umumnya tidak tahan pada
kondisi alkali. Untuk lebih amannya bahan pewarna yang digunakan
adalah bahan pewarna untuk makanan.

A.8. Pewangi.
Kebanyakan orang mengira fragran itu berarti pewangi. Pada aroma
terapi, kosmetik dan industri pembuatan sabun, fragran berarti pewangi
sintetik didesain secara kimia. Dengan kata lain, baunya dirancang di
laboratorium bukan dari alam asli. Fragran lebih murah dan menyengat,
bau lebih lama dari minyak essensial. Yang mana kebanyakan orang
sangat alergi terhadap fragran sintetik, hal tersebut merupakan alasan
mengapa masyarakat pemakai lebih suka meminta sabun tanpa pewangi
tubuh. Sabun tanpa pewangi dan pewarna digunakan untuk merawat
wajah.

B. Kandungan Tambahan.
B.1. Humectan.
Digunakan untuk merawat kulit agar tetap terlihat muda yang mana
sangat erat hubungannya dengan kelembutan kulit. Bahan yang biasa
digunakan adalah;
• Glyserin
• Propilen glykol
• Sorbitol.

B.2. Ultra Violet Absorbent.


Digunakan untuk menyerap cahaya Ultra Violet seluruh panjang
gelombang dari 290 – 400 nm untuk mencegah dari kerusakan kulit
termasuk erythem kulit, sunburn, suntan dan penuaan dini. Bahan yang
biasa digunakan adalah ;
 Derivatif benzofenon
 Derivatif para amino asam benzoat
 Derivatif asam salisilat.

B.3. Anti Oksidan.


Sebab sabun tersusun dari asam lemak, minyak, lilin senyawa itu
mengandung ikatan tidak jenuh, dengan menganggap bahwa bahan yang
tidak jenuh akan mudah teroksidasi. Reaksi tersebut ditandai dengan
keluarnya bau tengik pada sabun atau sabun menjadi irritan ke kulit.
Untuk menjaga kualitas dari reaksi oksidasi diperlukan bahan anti oksidan.
Bahan yang biasa digunakan adalah ;
 Tokoferol.
 BHT ( dibutil hydroxytoluen ).
 BHA ( butil hydroxyanisol ).
 Ester asam gallat.
 NDGA ( Nordihydroxyquaiaretic acid ).
Dapat digunakan bersama atau tunggal, baik juga bila ditambahkan
bahan promotor antioksidan, seperti apa yang akan dibahas berikut ini.

B.4. Agen Sequestering.


Apabila logam tercampur dalam bahan sabun atau kosmetik
langsung atau tidak langsung akan merendahkan kualitasnya. Ion logam
dapat merubah bau, warna dan meningkatkan oksidasi bahan mentah
yang berasal dari minyak. Selanjutnya dapat menghambat aksi farmasi
( pengobatan ) dan menyebabkan hilangnya penampilan, fungsi dan
essensinya. Pada sabun transparan akan menyebabkan hilangnya
transparansinya. Senyawa yang dapat membuat pasif ion logam tersebut
adalah agen sequesteran. Bahan yang biasa digunakan adalah;
 EDTA ( paling sering dipakai ).
 Asam Phosporat.
 Asam Sitrat.
 Asam Askorbat.
 Asam Suksinat.
 Asam Glukonat.

C. Bahan Tambahan dengan kegunaan Khusus


C.1. Whitening Agen ( agen Pemutih ).
Agen farmasi yang digunakan untuk mengontrol produksi melanin,
yang akan mencegah hyperpigmentasi kulit menjadi lebih gelap. Bahan
yang biasa digunakan adalah ;
 Arbutin.
 Kojic Acid.
 Vitamin C dan derivatifnya.
C.2. Skin Care Agen ( Agen Perawatan kulit )
Menjaga kulit agar tetap tidak kasar, tetap sehat, selalu mulus,
Bahan yang biasa digunakan adalah ;
 Anti inflamantori agent
 Astringent.
 Refrigerant.
 Vitamin A, B, D, E.
 Hormon.
 Anti Histamin.

C.3. Anti Acne ( Anti Jerawat ).


Untuk menghambat pengeluaran dari sebum (sekresi sebum),
Bahan yang biasa digunakan adalah ;
 AHA ( Alfa hydroxy Acid )
 Estradiol, Estron, Ethinil estradiol, penghambat sekresi sebum.
 Anti bakteri, benzolkonium klorit, benzethorium klorida,
halocarban.

C.4. Anti Perspiran dan Anti Deodoran.


Komponen utama bau tubuh adalah terurainya produk dari
campuran manis dan lemak yang terurai oleh bakteri pada kulit. Hal
tersebut akan menyebabkan bau tubuh. Anti perspiran dan anti deodoran
sebaiknya juga merupakan anti bakteri. Bahan yang biasa digunakan
adalah
 Anti perspiran (Aluminium hydroklorit, Aluminium klorit, Seng
Oksida)
 Anti bakteri (Benzolkonium klorit, Benzethorium klorida).
 Deodoran ( Seng Oksida ).
Bahan tambahan dengan kegunaan khusus pemakaiannya harus
sesuai aturan yang berlaku ( Depkes ), dosis yang tidak tepat akan
memberikan reaksi yang lain. Undang-Undang Kesehatan serta Peraturan
Pelaksanaannya (Permenkes Nomor 72 Tahun 1998). Kosmetik adalah
sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan,
gigi, dan rongga mulut, untuk membersihkan, menambah daya tarik,
mengubah penampilan, melindungi supaya dalam keadaan baik,
memperbaiki bau badan, tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau
menyembuhkan penyakit.
Sabun dengan tambahan bahan khusus bisa digolongkan sebagai
kosmetik dan obat, tergantung jenis dan kadar zat berkhasiatnya.
Kosmetik pemutih ( sabun withening) boleh dijual bebas sedangkan obat
pemutih harus dengan resep dan di bawah pengawasan dokter.
Perbedaannya berdasarkan tingkat keamanan penggunaan zat
berkhasiatnya. Seperti kadar zat pemutih hidroquinon untuk kosmetik
hanya diperbolehkan dua persen, lebih dari itu harus diperlakukan sebagai
obat, dan asam retinoat yang bersifat mengelupaskan kulit hanya boleh
dibawah pengawasan dokter.
BAB III
Perangkat Kerja

A. Alat Ukur.
A.1. Suhu.
Pembuatan sabun mandi harus memperhatikan kebutuhan panas
apalagi dalam pembuatan sabun transparan dimana perubahan panas
diperlukan untuk proses reaksinya. Misalnya apabila panas tidak cukup
maka stearic acid tidak akan mencair dalam minyak. Sedangkan apabila
panas berlebihan air dan alkohol akan banyak menguap. Temperatur yang
dibutuhkan untuk bekerja dalam pembuatan sabun transparan
adalah 60 sampai 80 derajat celsius. Untuk mengukur suhu
larutan digunakan termometer dengan skala 0 – 1000 C berbeda dengan
termometer badan atau termometer ruangan.

A.2. Timbangan.
Untuk mengukur berat dari bahan yang padat atau cair seperti
minyak, alkohol, glyserin dan air. Perhatikan ketelitian timbangan,
timbangan untuk mengukur adonan yang jumlah total adonannya kurang
lebih hanya satu kilogram, diperlukan timbangan dengan ketelitian
seperseribunya. Bila menggunakan timbangan dengan ketelitian 10 gr
akan sangat besar pengaruhnya pada produk sabun yang total adonannya
1000 gr saja. Sabun dapat terlalu kaustik jika hanya kelebihan kaustik 10
gr saja, atau sabun malah terlalu berminyak jika sebaliknya.

A.3. pH meter.
PH merupakan kekuatan ion hidrogen dalam larutan, menunjukkan
derajat keasaman atau kebasaan suatu zat dalam air. Penunjukkan yang
digunakan adalah skala log 1 – 14, dimana 7 adalah netral, artinya setiap
unit dibedakan dengan 10 pangkat angkanya. Misalnya pH 9 lebih basa 10
kali dibanding pH 8. Seterusnya pH 10 lebih basa 1000 kali dibanding pH
7.
Untuk mengukur alkalinitas larutan dapat menggunakan pH paper
atau pH meter, pH paper ada beberapa macam tergantung dari skala
yang diinginkan 1 sampai 14 atau 7 sampai 14. Sabun tidak boleh terlalu
kaustik, pH yang baikuntuk sabun mandi dibawah 11. Sabun dengan pH
tinggi menyebabkan iritasi kulit.
Penggunaan pH paper atau strip angka yang dihasilakan tidak sama
dengan pHmeter. Perbedaan angka yang ditunjukkan biasa 2 sampai 3
unit, berarti apabila mengukur dengan pH strip 8, pH meter bisa
menunjukkan 11. Hal tersebut terjadi karena faktor produksi dan
manufaktur pH strip yang tidak stabil.

A.4. Beaume meter.


Digunakan untuk mengukur berat jenis cairan, mengukur kualitas
alkohol, kandungan sodium dalam air. Angka beaume diketahui maka
kandungan bahan dalam cairan itu akan diketahui juga. Pembuatan sabun
biasa dengan angka beame 38 derajat Be, berarti kandungan alkali dalam
air kurang lebih 32 %. Beaume meter juga digunakan untuk menjaga
larutan kaustik ( lye ) yang disimpan, karena penyimpanan lye terlalu
lama mengakibatkan nilai beaume berubah.

B. Alat Memasak.
B.1. Kompor.
Dapat menggunakan kompor listrik, kompor gas atau kompor
minyak tanah semuanya adalah pemanasan langsung. Pemanasan tidak
langsung dapat menggunakan uap atau cairan yang biasanya lebih aman.
Alkohol yang mempunyai titik nyala rendah sangat berbahaya jika
menggunakan pemanasan langsung.
B.2. Panci.
Pembuatan sabun transparan yang membutuhkan panas tidak lebih
dari 100 derajat celsius akan membutuhkan dua panci, satu panci
stainless steel sebagai tempat reaksi dan panci aluminium sebagai tempat
pemanas panci reaksi. Dengan cara seperti itu akan didapatkan panas
tidak langsung, panci kedua cukup diisi air saja. Pemanasan didapat dari
air panci pertama sistem demikian dinamakan double boiler.

Gambar III.1. Panci Double Boiler sederhanaB.3. Pengaduk.


Pencampuran bahan agar baik dan homogen disamping menggunakan
panas juga menggunakan pengaduk. Bahan pengaduk adalah yang tahan
panas dan kaustik antara lain stailess steel, plastik PVC dan plastik fiber.

C. Cetakan ( mold ) Sementara.


C.1. Pipa PVC.
Potongan pipa yang pendek kurang dari 50 cm, dapat digunakan untuk
cetakan sementara. Ujung pipa yang satu ditutup dengan plastik atau
dengan plastik kantong yang ditali.

C.2. Plastik bekas.


Plastik bekas tempat makanan anak – anak seperti tempat agar – agar, nata de coco,
minuman air mineral dan yang lainnya.
C.3. Panci Loaf stainless steel.
Panci dengan bagian bawah lebih kecil dari bagian atas,
memudahkan untuk mengeluarkan sabun jika digunakan untuk cetakan
sementara.

Gambar. 2. Panci Loaf Stainless Steel

C.4. Kotak Kayu.


Apabila cetakan sementara menggunakan kayu, bagian dalam atau
bagian yang bersentuhan dengan sabun sebaiknya dilapis dengan plastik.
Hal itu untuk mencegah sabun lengket ke kayu.
Gambar 3. Cetakan dari kayu didalamnya dilapis plastik.

D. Freezer ( Lemari pendingin ).


Alat tersebut diperlukan untuk mendinginkan sabun agar serat -
serat sabun tidak jadi terbentuk. Untuk cetakan yang kecil dapat langsung
masuk lemari es yang ada freezernya. Produksi dalam skala besar
memerlukan alat pendingin yang besar pula.
E. Pemotong
Untuk memotong sabun menjadi bagian yang lebih kecil sehingga
siap untuk digunakan

Gambar 4. Alat pemotong yang dibuat dari kayu.


Pemotong dapat menggunakan bahan dari kayu, stainlees dan
bahan yang tidak bereaksi dengan kaustik soda.

BAB IV
JUKLAK SABUN TRANSPARAN

Pembuatan sabun transparan dapat melalui berbagai macam


metode yaitu langsung dan tidak langsung. Kedua metode itu
menggunakan proses semi panas, baik dengan pemanasan uap atau
pemanasan air, minyak dan yang lainnya. Pemanasan secara langsung
akan membakar sabun itu sendiri. Panas yang digunakan biasanya tidak
lebih dari 80 derajat, kecuali hanya jika digunakan untuk melumerkan
sabun base saja panas bisa mencapai 90 derajat celsius.

A. Metode Langsung.
Urutan pekerjaan atau skema kerja di seperti gambar IV.A.1, yang
mana digambarkan langkah – langkah manufaktur sabun transparan
dengan metode langsung yang agak berbeda dari formula sabun
transparan tidak langsung. Langkah pekerjaan seperti berikut ini ;

Bahan mentah

Minyak Reaksi Pelarutan coloring


dan lemak Saponifika dan
Lye Pencampu
ran Parfumin
g
Polyol
cooling

Stamping
Air
distilasi Cutting

Gula
Drying

Alkohol

Agen
aktif Packaging
Parfum
Pewarna

Gambar IV.A.1. Skema Proses Pembuatan Sabun Transparan metode Langsung

Dari skema diatas tampak bahwa minyak dan lemak ( asam lemak )
dipanasi terlebih dahulu sampai lemak mencair semua, kemudian
dimasukkan lye ( larutan soda ).
Setelah terjadi proses saponifikasi dimasukkan gula, air dan polyols
masa diaduk dan dimasak sampai semua gula dan polyols menjadi larut
yang terakhir dimasukkan adalah alkohol. Apabila masa sudah menjadi
homogen dan rata baru dimasukkan agen aktif, parfum dan pewarna.
Masa diaduk lagi dengan masa sebelumnya sampai homogen. Kemudian
dilanjutnya dengan proses cooling ( pendinginan ) sampai proses
packaging ( pengepakan ).

B. Membuat Sabun Base atau Sabun Glyserin.


Pembuatan sabun base dapat ditempuh dengan dua metode, yaitu
metode dingin dan metode semi panas. Untuk metode dingin bahan yang
dipakai adalah minyak dan larutan kaustik saja, apabila menggunakan
lemak ( steric acid ) harus mencairkannya dulu.
Pembuatan dengan metode panas dapat menggunakan lemak,
minyak atau asam lemak. Panas yang ada digunakan untuk mencairkan
lemak dahulu. Setelah lemak cair baru dimasukkan larutan kaustik.
Pencampuran yang terbaik adalah dengan menyamakan kedua
temperaturnya, tetapi untuk pencampuran yang praktis perbedaan suhu
boleh sampai 100. Untuk pencampuran yang banyak perbedaan suhu
diusahakan tidak lebih dari 50 saja jika ingin mendapatkan hasil
sebaiknya.
Skema pembuatan sabun dengan metode dingin seperti pada bagan
gambar IV.B.1.berikut.

Bahan mentah

Minyak, Base
Saponifikasi
lemak Soap

Lye

Gambar IV.B.1. Proses Pembuatan Base Soap dengan


Metode Dingin.
Sedangkan pembuatan sabun base dengan proses panas bagan
yang digunakan untuk proses produksinya adalah sebagai berikut;

Minyak, Lye
Lemak

Saponifikasi

Pelarutan &
Molding
Pencampuran

Coloring, Perfuming,
Base Soap
Cooling, Cutting, Drying,
Stampimg, Packaging.

Gambar IV.B.2. Pembuatan Sabun base dengan metode panas


Sedangkan tata urutan pembuatan base soap dengan menggunakan
metode semi panas adalah sebagai berikut,
1. Ambil panci stailess steel dan masukkan lemak, minyak pasang
temometer jangan sampai menyentuh dasar panci yang akan
menyebabkan pembacaan suhu salah.
2. Sementara itu siapakan larutan kaustik soda dalam wadah tahan
panas. Masukkan kaustik dalam air sambil terus diaduk agar cepat
larut. Air akan memanas dan berkabut. Aduklah terus sampai semua
kaustik larut. Uji dengan termometer jika panas yang ada belum sesuai
dengan resep panaskan lagi.
3. Jika suhu minyak dan kaustik sudah sesuai dengan resep, masukkan
larutan kaustik kedalam minyak, aduk terus. Untuk jumlah
pencampuran yang sedikit suhu kaustik 50 derajat dan minyak 60
derajat adalah hal baik. Apabila jumlah pencampuran banyak maka
ring suhu harus lebih rapat kaustik 55 derajat dan minyak 60 derajat.
4. Aduklah campuran sampai terjadi saponifikasi, pertama terjadi
pencampuran air, kaustik dan minyak campuran masih seperti air.
Perlahan – lahan ketika kaustik dan minyak bereaksi campuran
menebal dan mulai opaque. “ Tracing” adalah istilah untuk
menunjukkan konsistensi sabun ketika sudah siap untuk dimasukkan
dalam cetakan. Tes untuk tracing adalah sebagai berikut ;

 Ambil sedikit campuran dan letakkan diatas mangkok/ kaca.


Sabun akan meninggalkan bekas trace ( jejak ) atau gundukan
kecil.
 Tarik garis diatas sabun dengan sendok atau pengaduk. Jiak
terjadi bekas dari penarikan garis untuk beberapa detik, maka
sabun sudah trace ( tersaponifikasi ).
5. Setelah sabun trace, masukkan bahan tambahan. Apabila akan
dijadikan sabun base bahan tambahan tidak diperlukan, karena sabun
akan diproses lagi.
6. Masukkan sabun ke dalam wadah pendingin dan tunggu sampai keras
atau proses curing.
7. Keluarkan dari cetakan dan apabila akan digunakan untuk membuat
sabun transparan, sabun harus diparut, dilelehkan dan dimasak agar
menjadi bening.

C. Membuat Sabun Transparan dari Sabun Base.


Metode ini adalah metode tidak langsung biasanya digunakan untuk
membuat dari bahan yang tidak jadi, agar dapat dirubah menjadi barang
jadi yang lebih baik. Urutan dari metode ini adalah sebagai berikut;
1. Potonglah sabun menjadi bagian kecil – kecil atau parut sabun tersebut
sampai halus agar dalam mencairkannya menjadi mudah.

2. Panaskan sampai sabun yang ada dalam double ketel mencair


semuanya.
3. Biarkan sabun mendingin sampai suhu 60 derajat celsius.
4. Masukkanlah glyserin, air gula, dan aduklah sampai semuanya larut.
Jika gula tidak larut naikkan panasnya. (untuk lebih mudah gula
sebaiknya dilarutkan lebih dulu)
5. Pada suhu 60 derajat masukkan alkohol.
6. Tambah pewarna dan pewangi secukupnya.
7. Masukkan dalam cetakan.
8. Sabun memerlukan waktu curing selama dua minggu agar menjadi
baik.

BAB V
RESEP SABUN TRANSPARAN.
A. Sabun Transparan Base.
Resep berikut digunakan untuk membuat sabun transparan secara
langsung, perhatikan bahwa kandungan tambahan hanya BHT dan EDTA
berfungsi untuk anti oksidan dan sequesteran. Berikut ini adalah tabel V.1.
yang menjelaskan formula sabun transparan secara umum.
Tabel V.1. Contoh Resep Sabun Transparan yang menggunakan
minyak Kastor
Kategori Kandungan Nama Berat
gram
Kandungan Minyak dan 1. Sawit 400
utama lemak
2. Kelapa. 160
3. Castor 250
4. Stearic 40
acid

Larutan 1. Kaustik 124


kaustik Soda
2. Aquades 150

Pelarut 1. Alkohol. 290


2. Glyserin 80
3.

gula 1. Gula. 200


2. Aquades 150

K. Tambahan Colorant 1. Ultra Qs


marine
2.

K. Tambahan Pewangi. 1. Rose Qs


2. Lavender Qs
K. Tamb. Anti oksidan BHT 1-2%
Khusus
Sequesteran EDTA 1–2%
Ingatlah bahwa membuat sabun transparan berarti bermain
temperatur, apabila salah dalam menghandle temperatur maka
kemungkinan yang terjadi adalah sabun menjadi tidak transparan. Penting
memahami kandungan yang menyebabkan sabun menjadi transparan
seperti alkohol, gula dan glyserin, tetapi dari ketiga komponen itu yang
paling dominan adalah kandungan dan kemurniaan alkohol.

B. Sabun Beauty Transparan.


Sabun kecantikan adalah sabun biasa ditambah dengan bahan aktif
untuk perawatan kulit atau untuk pengobatan kulit, penambahan bahan
aktif mengikuti peraturan kesehatan, di Indonesia diatur oleh Depkes RI.
Ukuran penambahan bahan tidak lebih dari 2 % total berat sabun.
Sabun kecantikan biasanya untuk perawatan kulit, anti penuaan, pemutih
dan anti jerawat. Bahan tambahan tidak boleh kontra produktif terhadap
perawatan kulit. Beikut ini adalah tabel V.2. yang menjelaskan bahab aktif
untuk kecantikan.

Tabel V.2. Bahan tambahan aktif untuk kecantikan.


Kategori Kandungan Nama Berat
gram
1.Perawatan Additif Ginseng 1–2%
kulit
Additif Honey 1–2%

2. Peremajaan Ultra V. Absorbent Derivatif asam 1–2%


Kulit salisilat

3. Pemutih Whitening agen Arbutin 1–2%


Whitening agen Kojic Acid 1–2%

4. Anti Jerawat. Peeling kulit AHA 1–2%


Inhibitor Sekresi Estradiol 1–2%
Sebum
Anti septik Benzolkonium 1–2%
kloride

5. Moisturizer Humectan Glyserin 1–2%


Humectan Propilen glycol. 1–2%
B.1. Sabun Transparan Whitening.
Formula untuk transparan base soap seperti sebelumnya kemudian
ditambah dengan bahan yang mendukung whitening, maka formula
tambahan nya seperti tabel V.3. berikut ini ;
Tabel V.3. Formula Tambahan untuk Sabun Pemutih
Kategori Bahan Kandung Nama Berat
an gram
Tambahan Skin care Honey 1 –2 %
Khusus ekstrak
Tambahan Skin care ginseng 1 –2 %
Khusus
Tambahan Whitenin Arbutin 1–2%
Khusus g
Tambahan Humecta Glyserin 5%
nt
Tambahan Humecta Propilen 2%
nt glycol

Pada umumnya sabun yang berfungsi untuk whitening (pemutih kulit ) tidak berujud
transparan tetapi berwarna putih. Titanium dioksida dapat dipakai agar sabun
berwarna putih dan juga membantu whitening skin.

B.2. Transparent Anti Acne Soap.


Sabun anti jerawat menggunakan tiga macam bahan tambahan
khusus yaitu untuk anti septik, menghambat pengeluaran sebum dan
untuk mengelupas kulit. Tabel V.4 berikut ini menjelaskan kategori
tersebut.
Tabel V.4. Formula Tambahan untuk Sabun Anti Jerawat.
Kategori Bahan Kandungan Nama Berat
gram
Tambahan Skin care Honey ekstrak 1 – 2
Khusus %
Tambahan Skin care ginseng 1 – 2
Khusus %
Tambahan Peeling skin AHA 1 – 2
Khusus %
Tambahan Anti Septik Benzolkonium 1 – 2
Khusus klorid %
Tambahan Anti Sekresi Estradiol. 1 – 2
Khusus Sebum %
Tambahan Humectant Glyserin 5%
Tambahan Humectant Propilen glycol 2%
B.3. Transparan deodorant soap.

Menggunakan bahan anti perspirant dan anti deodoran untuk

menghilangkan bau tubuh dan agen yang dapat mengikat bahan

pewangi. Pewangi yang ada dalam sabun dapat diperawet dengan

menambah bahan yang dapat mengikat zat pewangi yaitu 3,4,5’

tribromosalisilinalide ).

Tabel V.5. Formula Tambahan untuk Sabun Deodorant.

Kategori Kandungan Nama Berat


Bahan gram
Tambahan Skin care Honey ekstrak 1–2%
Khusus
Tambahan Skin care ginseng 1–2%
Khusus
Tambahan Anti Seng oksid 1–2%
Khusus deodorant
Tambahan Anti Aluminium 1–2%
Khusus Perspiran hydroklorida.
Tambahan Anti Bakteri Benzolkonium 1–2%
Khusus klorida
Tambahan Humectant Glyserin 5%
Tambahan Humectant Propilen glycol 2%

Juga bisa digunakan minyak wangi yang dapat membantu fungsi


pewanginya, minyak yang mempunyai kesan kuat dan awet yaitu ;
cendana, cengkeh, peppermint, vertivert,

Gambar V.1. Sabun Transparan deodoran

BAB VI
PEWANGI DAN PEWARNA
A. Pewangi.
A.1. Essential oils versus Fragrance oils.
Sabun mengandung kurang lebih 0.8 – 2 % minyak wangi, sekarang
ada kecenderungan untuk menaikkan kekuatan aroma pada sabun,
dengan cara menambah porsi pewangi dalam sabun. Hanya saja hal yang
membatasi pemakaian pewangi kimia karena efek samping terhadap
dermatologi dan toxicologi yang mana 35% pewangi kimia yang tersedia
tidak dapat digunakan.
Batasan berikutnya adalah beaya dan penampilan, pewangi kimia
dengan harga tinggi hanya cocok jika seseorang ingin mendapatkan
manfaat yang berarti dan manfaat langsung untuk tubuhnya, misalnya
untuk pengobatan aroma terapi.
Esensial oil ( EO’S ), absolut oil dan resin oil merupakan cairan yang
sangat kental, lebih mahal dan lebih kuat dari fragrance oil ( FO’S).
EO’s diekstraksi dari tanaman tetapi FO’s sintetik maka wajar kalau
harganya berbeda. Banyak FO’s yang cocok untuk pewangi sabun hanya
dalam pemakaiannya mengakibatkan ‘seize’ ( permukaan sabun seperti
membentuk lapisan sebelum masuk cetakan ) serta sabun menjadi
sekeras batu. EO’s lebih stabil karena dibuat dari minyak yang tunggal.
Berikut ini adalah tabel V.1. perbandingan antara EO’s dan FO’s.
Tabel VI. 1. Perbandingan EO’s dan FO’s
EO’s Ekstrak tanaman FO’s Pewangi sintetik
Keuntung 1. Aroma lebih kuat, 1. Aroma lebih bervariasi.
an tahan dalam sabun. 2. Tersedia lebih banyak.
2. Mengandung zat 3. Lebih ekonomis.
tanaman yang 4. Adonan aroma tersedia
menguntungkan. lebih banyak
3. Reaksi lebih stabil
selama saponifikasi.
4. Aroma per gram
lebih kuat dibanding
FO’s
Kelemah 1. Lebih mahal. 1. Mengandung ekstender
an 2. Menguap pada dan alkohol.
udara bebas 2. Menyebabkan seize
3. Aroma yang ada pada sabun.
terbatas. 3. Tidak ada kandungan
4. Aroma dipilih tanaman yang
menurut selera. bermanfaat.
4. Aroma tidak awet.

Pada kasus EO’s pemakai akan mendapat apa yang dibayar. Jenis
yang lebih murah dibuat dengan ekstender yang cenderung menghasilkan
produk lebih jelek dari yang diharapkan. Pemilihan yang mengandung
alkohol harus dihindari akan menyebabkan akibat yang serius pada sabun.

A.2. Keamanan dalam Penggunaan EO’s dan FO’s.


Berikut ini adalah hal yang perlu diikuti agar tidak terjadi problem
yang serius dalam penggunaan bahan pewangi

1. Jauhkan dari jangkauan anak – anak.


2. Selalu ikuti peringatan yang ada pada label. Peringatan akan berbeda
untuk setiap jenis minyak pewangi.
3. Jaga minyak dalam tempat tertutup, simpan dalam tempat yang gelap
dan dingin.
4. Janganlah memakan minyak ini seperti mengkonsumsi makanan.
5. Jangan menggunakan minyak yang tidak dilarutkan terlebih dahulu
pada kulit, minyak pewangi FO’s dan EO’s dapat dilarutkan dalam
minyak tumbuhan ( Carriers ) dan jangan melarutkannya dalam air.
6. Jangan gunakan selama kehamilan kecuali dengan petunjuk dokter.
7. Minyak yang dikenal mengiritasi kulit adalah Allspice, Basil, Bitter
almond, Cinnamon, Clove, Fir needle, Lemon, Lemon grass,
Melissa, Peppermint, Sweet fennel, Tea free, Wintergreen.
8. Penderita epilepsi harus mengindari produk tersebut.
9. Penderita darah tinggi harus menghindari Hyssop, Rosemary, Sage,
Thyme.
10.Ujilah minyak pada kulit sebelum digunakan dengan melarutkannya
sedikit pada minyak tumbuhan lalu gunakan pada kulit tangan atas
bagian dalam. Setelah delapan jam anda akan mendapat informasi jika
ada tanda alergi terhadap minyak tertentu akan muncul tanda merah
dan iritan ke kulit.
11.Ketika sedang menggunakan minyak pada kulit hindari kontak
langsung dengan sinar matahari.
12.Hindarkan minyak dari mata dan membran mucous, gunakan di luar
saja. Apabila terjadi kontak dengan mata bilas dengan air yang banyak.

A.3. Minyak yang Tahan Banting.


A.3.1. Minyak Wangi Tahan Saponifikasi.
Berikut ini adalah daftar pewangi yang tahan terhadap proses
saponifikasi.
Almond, Cinnamon, Citronella, Cloves, Eucalyptus, French Lavender,
Jasmine, Lemon, Musk, Orange, Patchoulli, Peach, Pennyroyal,
Peppermint, Rose, Sage, Vanilla.
Dan selanjutnya adalah fragran yang biasa digunakan untuk
membuat sabun tradisionil ; Apple, Lilac, Pine, Rose Geranium, Sandal
Wood Strawberry dan Ylang ylang.

A.3.2. Fiksatif, manakala dipakai.


Apabila membuat sabun tetapi tidak menggunakan Eo’s dan FO’s
maka dapat dipakai bahan yang fiksatif yang dapat menyetabilkan
pewangi dalam sabun. Bahan tersebut diantaranya ; Balsam of Peru,
Benzoin, Cedarwood, Cloves, Lemon Peel, Myrrh, Orange Peel,
Orris Root, Patchouli, Sandal wood, Storax Oil, Tangerme Peel dan
Vertivert.
Bahan diatas lebih sulit diperoleh tetapi dapat dicari di suplier kimia.
Di ibukota propinsi bahan tersebut biasanya tersedia.
B. Colorant (Pewarna ).
Bahan pewarna yang dicampurkan dalam pembuatan sabun dapat
dikategorikan dalam pewarna sintetik organik, pewarna alami dan
pewarna pigmen anorganik. Berikut adalah tabel VI.2. yang merupakan
bagan pembagian colorant atau pewarna yang digunakan secara umum.
Sangat luas sekali pemilihan bahan pewarna yang terbaik adalah
pewarna yang tidak menimbulakan efek samping terhadap pengguna atau
gunakan pewarna alami seperti beta karoten, karthamin, kochineal, asam
karminat dan lainnya.
Sabun yang menggunakan pewarna agar memperhatikan formula
sabunnya, agar dalam penentuan warna sabun agen pewarnanya tidak
berinteraksi dengan bahan minyaknya. Jika menggunakan malam tawon,
wheat germ oil, susu atau minyak zaitun prosentasi tinggi ( dan jangan
lupa bahwa EO’s dan FO’s juga mempengaruhi warna ) sabun basenya
akan terkesan berwarna kuning.

Tabel VI.2. Pembagian colorant ( pewarna ).


Pewarna Sintetik Dyes
Lake
Pigmen
Organik

Pewarna Alami
Agen
Pewarna
Pigmen Anorganik Pigmen
Ekstender
Pigmen
Pewarna
Pigmen Putih
Pigmen Pearlescent
Bubuk Polymer
Pigmen Fungsional
Baru

Penting untuk diingat bahwa warna minyak akan berinteraksi dengan agen pewarna
( colorant ). Misalnya jika memakai ultra marine violet dalam minyak base kuning akan
dihasilkan sabun dengan warna hijau. Maka uji coba pewarna dengan kombinasi minyak
adalah pengalaman yang paling penting dalam pengetahuan warna produk sabun. Berikut ini
adalah catatan yang perlu untuk mewarna ;
1. Pewarna bekerja dengan dua cara, melarut dan menyebar (dissolution dan dispersion).
Pewarna yang bekerjanya menyebar sebaiknya dicairkan dalam air hangat lebih dahulu,
air sebagai cariers ( pembawa ) untuk menyebarkan pewarna.
2. Apabila bekerja dengan ultra marine atau oksida tambah ¼ sampai ½ sendok pigmen
dalam air hangat, jika dengan FD&C dan D&C Tambah 15 cc pada air hangat. FD&C
adalah pewarna makanan dan obat, sedang D&C adalah pewarna obat.
3. Aduklah sampai pewarna larut dalam air, pewarna dapat dipakai kapan saja.
4. Apabila sudah terbiasa bekerja dengan pewarna, masukkan pewarna dengan pipet.
Kemudian aduklah sampai homogen. Teknik itu akan dapat digunakan untuk mengontrol
intensitas warna.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Sodium atau kaustik soda adalah bahan yang selalu digunakan


dalam pembuatan sabun malangnya bahan tersebut berbahaya, perlu
ekstra hati – hati dalam penggunaan, penanganan dan penyimpanan.
Kaustik soda dapat menyebabkan kecelakaan serius, tetapi jika hati – hati
bahan tersebut dapat ditangani dengan aman.
A. Penyimpanan.
Sodium hidroksida adalah hidrofilit berarti bahan bereaksi dengan
kelembaban. Penyimpanan yang baik akan mencegah masalah tersebut.
Pertama, yang harus diingat , Kaustik soda harus disimpan dalam tempat
yang aman. Kedua, tertutup rapat untuk mencegah kelembaban. Jangan
tempatkan pada tempat yang dapat dijangkau anak – anak. Ketiga selalu
hindarkan penggunaan aluminium untuk wadahnya.

B. Peralatan Keamanan.
1. Sarung mata, selalu dipakai ketika bekerja dengan kaustik soda.
2. Sarung tangan, dari bahan karet atau vinil. Selalu pakai untuk
melindungi kulit.
3. Asam Cuka, Simpan asam cuka yang banyak di tempat kerja. Asam
cuka adalah bahan yang dapat menetralisier kaustik soda. Jika ada
kaustik pada kulit usaplah kulit itu dengan asam cuka kemudian bilas
dengan air segar.
4. Ventilasi, Sering gas hasil pencampuran sodium dapat sangat
mengganggu, maka untuk pertugaran dengan udara segar perlu
ventilasi.
5. Exhaust Van, Untuk pembuatan sabun transparan dalam skala besar
akan memerlukan alat penyedot gas. Ketika menuangakan alkohol
kedalam sabun agar sabun larut akan keluar bau yang menyedak.
6. Isolasi, tempat kerja yang tertututp dari jangkauan anak – anak.

C. Pengukuran dan Pencampuran.


Sodium hidroksida dilarutkan dalam air dan kemudian dicampur
dengan minyak atau lemak pada saat yang tepat. Larutan kaustik soda
harus ditangani dengan ekstra hati – hati. Ketika menambah soda ke air
muncul panas yang cukup tinggi, maka wadah harus yang tahan panas.
Jangan memasukkan air ke kaustik soda. Jaga selalu memasukkan kaustik
ke air. Jika terbalik akan muncul reaksi ledakan yang cukup berbahaya.
Kaustik dimasukkan perlahan lahan dan aduklah perlahan lahan.
Penambahan kaustik yang terlalu cepat akan menyebabkan overheating
yang menyebabkan larutan terlalu panas akan menyebabkan kondisi yang
kurang aman, khususnya apabila tempat pencampuran dari gelas.
Pengaduk digunakan yang tahan kaustik. Jaga pencampuran jangan
sampai tumpah.

D. Menuggu.
Pada pembuatan sabun suhu adalah faktor yang sangat penting.
Selalu sabar menunggu suhu pada titik yang ditentukan, baik untuk suhu
naik atau suhu turun. Walaupun ada nasihat untuk menempatkan tempat
soda dalam air agar suhu segera menurun, tetapi hal tersebut harus
mengingat reaksi kejut termal fisis dalam bahan gelas jika hal tersebut
terjadi akan menyebabkan gelas menjadi pecah. Apabila terpaksa
menggunakan bak air untuk pendinginan cepat, gunakanlah deret bak
pendingin agar tidak terjadi kejut termal. Selalu gunakan termometer
cairan untuk uji suhu.

D. Kesimpulan.
Walaupun pembuatan sabun menggunakan bahan kaustik, tetapi
dapat dikerjakan dengan aman jika mentaati prosedur yang benar. Untuk
diingat bahwa sabun masih bersifat kaustik sampai proses curing
( penganginan ) yang akan memakan waktu 2 – 3 minggu. Pada saat itu
pH sabun dapan diuji terlebih dahulu, untuk mengetahui kadar kaustik
yang masih tertinggal dalam sabun.

E. Checklist.
 Selalu pakai sarung tangan dan sarung mata jika bekerja dengan
kaustik.
 Sediakan asam cuka untuk menjaga kecelakaan akibat kaustik.
 Jangan menggunakan bahan dari aluminium, seng dan timah dalam
menangani kaustik soda.
 Jangan masukkan air ke kausti soda.
 Masukkan soda ke air.
 Ingat ! Sabun masih kaustik sampai proses curing selesai.

BAB VIII
TROUBLE SHOOTING

No Problem Sebab Solusi


1. Sabun tidak Kaustik tidak cukup, air Jika pengadukan dan
tersaponifikasi terlalu banyak, suhu suhu benar, lanjutkan
salah, pengadukan pengadukan sampai
terlalu lamban empat jam. Setelah 4
jam, jika muncul tanda
mengental tuang dalam
cetakan anggaplah jadi.
Tunggu yang terbaik.
2. Kaustik dan Pengukuran tidak Panasi lagi. Aduk
minyak , lemak tepat. sehingga benar – benar
terpisah dalam meleleh dan mulai
cetakan. mengental. Tuangkan
dalam cetakan bungkus
untuk isolasi. Jika
terpisah lagi buang
saja.
3. Sabun Suhu pemasakan Tuangkan secepatnya
mengeras terlalu tinggi atau ke dalam cetakan.
sebelum masuk terlalu rendah, sabun Haluskan sebisa
cetakan. bereaksi dengan FO’s mungkin dengan
atau EO’s, Lemak jenuh sendok atau yang lain.
terlalu banyak FO’s yang lebih banyak
dugunakan. daripada EO’s
menyebabkan Seize.
Minyak yang harus
dihindari kassia,
cengkeh, ketimun,
anngur dan rose.
Hindarkan setiap
minyak yang
mengandung alkohol.
4 Ketika sabun Terlalu banyak minyak Benahi mulai larutan
mendingin dalam resep, yang pertama, uji sabun
dalam cetakan pengukuran tidak setelah 2 – 3 minggu,
muncul lapisan benar atau jika busa kurang dan
minyak penggantian isian terlalu kaustik sabun
diatasnya keliru. gagal.
5 Ketika membuat Pendinginan sabun Jika pengukuran kurang
sabun base atau dasar terlalu cepat tepat coba benahi dari
remelting sabun Pengukuran kandungan larutan yang pertama,
mengeras tidak tepat, jika sodium yang terlalu
terlalu cepat. penambahn dye atau banyak cobalah dengan
additif dengan banyak melarutkannya setelah
sodium, pengadukan remelting, timbanglah
tidak teratur atau air dan sabun dari resep
pengadukan yang lain tambahkan
terlalucepat. dalam hand milled
soap. Panasi lagi dan
kombinasikan . Jika
membeku sabun gagal.
6 Ketika sabun Kaustik soda terlalu Ada kaustik, pakailah
dipotong ada banyak sarung tangan dulu. Jika
cairan jernih kaustik ada banyak
buang keluar, kaustik
sedikit cucilah sabun
dengan air segar, bilas
lagi jika ada kaustik
yang tersisa, keringkan.
Proses lagi dengan
sabun mild tangan.
7 Sabun berbau Minyak atau lemak Tidak bisa diperbaiki
tengik. terlalu banyak. sabun gagal. Buang
Kaustik soda terlalu sabun itu.
sedikit. Agar sabun tidak tengik
gunakan bahan anti
oksidan dan anti
sequesteran.
8 Dalam cetakan Pengadukan terlalu Tidak mempengaruhi
sabun lama atau terlalu fungsi sabun hanya
berbutiran cepat. penampilan jelek.
9 Sabun lengket Kaustik soda tidak Idem no 8
dicetakan. cukup, terlalu banyak
air.
1 Dalam sabun Pengadukan terlu lama, Idem no 8
0 yang dicuring atau terlalu cepat.
ada gelembung
udara.
1 Sabun terlalu Kaustik soda kurang, Cobalah curing untuk
1 empuk. terlalu banyak air. beberapa minggu agar
sabun keras. Jika tetap
empuk sabun gagal.
Atau tambah air lagi
agar menjadi sabun
cair.
1 Sabun terlalu Terlalu banyak kaustik Tidak ada pembenahan
2 keras atau soda. sabun gagal
getas.
1 Sabun burik Terlalu banyak kaustik, Bintik putih adalah
3 dengan bintik pengadukan kurang poket kaustik sabun
yang tidak cepat. gagal.
lengket.
1 Banyak bubuk Ada air sadah sehingga Sabun akan terlalu
4 putih pada kaustik tidak kausti. Sabun gagal.
permukaan sempurana melarut.
sabun curing.
1 Ada bubuk putih Garam sodium Sabun harus diskrap
5 sedikit pada berlebihan bereaksi sebelum dipakai. Uji
sabun curing. dengan udara dan reasi kaustik jika ada
membentuk soda ash. sabun gagal.
Muncul bubuk putih
dipermukaan.
1 Ada celah – Terlalu banyak kaustik. Jika sabun tidak terlalu
6 celah dalam Pengadukan terlalu kaustik baik saja sabun
sabun cepat. Sabun mengeras dipakai. Tidak
terlalu ceoat. mempengaruhi
kegunaan hanya
penampilan sabun jelek.
1 Sabun curing Akibat dari proses Permukaan sabun yang
7 tidak stabil. pengeringan atau tidak rata dapat
Sabun seperti penggunaan cetakan diskrap. Jika ketidak
terbungkus yang rusak. teraturan sedikit sabun
lapisan tipis, dibasahi air saja untuk
bergelombang. meratakannya.

APPENDIK 1.

SIFAT SIFAT ASAM LEMAK


.
ASAM LEMAK SIFAT YANG TERJADI:
Lauric Acid Hard bar, cleansing, fluffy lather
Linoleic Acid Conditioning
Myristic Acid Hard bar, cleansing, fluffy lather
Oleic Acid Conditioning
Palmitic Acid Hard bar, stable lather
Ricinoleic Acid Conditioning, fluffy stable lather
Stearic Acid Hard bar, stable lather

SIFAT – SIFAT MINYAK:


S - Useful as a superfatting oil
M - Moisturizing
R - Rich in protein and/or vitamins
H - Humectant (attracts moisture to your skin...honey also does this)
Almond Oil (Sweet) Flax/Linseed* Palm Oil
Oleic 64-82 % Oleic 14-39% Palmitic 43-45%
Linoleic 8-28% Linoleic 7-19% Oleic 38-40%
Palmitic 6-8% Palmitic 4-9% Linoleic 9-11%
Iodine 93-106 Stearic 2-4% Stearic 4-5%
S, M, R Linolenic 35-66% Iodine 45-57
Iodine: 105-115

Apricot Kernel Oil* Grapeseed Oil Palm Kernel Oil


Oleic 58-74% Linoleic 58-78% Lauric 47%
Linoleic 20-34% Oleic 12-28% Oleic 18%
Palmitic 4-7% Palmitic 5-11% Myristic 14%
Iodine 92-108 Stearic 3-6% Palmitic 9%
S, M, R Iodine 125-142 Iodine 37

Avocado Oil Hazelnut* Peach Kernel*


Oleic 36-80% Oleic 65-85% Oleic 55 - 75%
Palmitic 7-32 % Linoleic 7-11% Linoleic 15-35%
Linoleic 6-18% Palmitic 4 - 6% Palmitic 5-8%
Stearic 1.5% Stearic 1-4% Iodine: 108-118
Iodine 82-90 Iodine: 90-103
S, M, R

Babassu Oil* Hemp Oil Rice Bran*


Lauric 50% Oleic 12% Oleic 32 - 38%
Myristic 20% Linoleic 57% Linoleic 32 - 47%
Palmitic 11% Palmitic 6% Palmitic 13-23%
Oleic 10% Stearic 2% Stearic 2-3%
Stearic 3.5% Linolenic 21% Linolenic 1-3%
Iodine 10-20 Iodine: 166.5 Iodine: 105-115
S, M

Canola/Rapeseed Oil Jojoba Oil (liquid wax) Safflower Oil


Oleic 32% Oleic 10-13% Linoleic 70-80%
Linoleic 15% Iodine 80-85 Oleic 10-20%
Palmitic 1% S, M, H Palmitic 6-7%
Iodine 105-120 Iodine 86-119

Castor Oil Kukui Nut Oil Sesame Oil


Ricinoleic 90% Linoleic 42% Linoleic 39-47%
Linoleic 3-4% Oleic 20% Oleic 37-42%
Oleic 3-4% Palmitic 6% Palmitic 8-11%
Iodine 82-90 Iodine 155-175 Stearic 4-6%
S, M, H S, M Iodine 105-115

Cocoa Butter Lard Shea (Karite) Butter


Oleic 34-36% Oleic 46% Oleic 40-55%
Stearic 31-35% Palmitic 28% Stearic 35-45%
Palmitic 25-30% Stearic 13% Linoleic 3-8%
Linoleic 3% Linoleic 6% Palmitic 3-7%
Iodine 33-42 Myristic 1% Iodine 55-71
S, M Iodine 43-45 S, M, R

Coconut Oil Macadamia Nut Oil Soybean Oil


Lauric 39-54% Oleic 54-63% Linoleic 46-53%
Myristic 15-23% Palmitic 7-10% Oleic 22-27%
Palmitic 6-11% Stearic 2-6% Palmitic 9-12%
Oleic 4-11% Linoleic 1-3% Stearic 4-6%
Stearic 1-4% Iodine 73-79 Iodine 124-132
Linoleic 1-2%
Iodine -<10

Corn Oil Mango Oil Sunflower Oil


Linoleic 45-56% Oleic 34-56% Linoleic 70%
Oleic 28-37% Stearic 26-57% Oleic 16%
Palmitic 12-14% Palmitic 3-18% Palmitic 7%
Stearic 2-3% Linoleic 1-13% Stearic 4%
Iodine 103-130 Iodine 55-65 Iodine 119-138

Cottonseed Oil Neem Tree Oil* Tallow


Linoleic 52% Oleic 50% Oleic 37-43%
Oleic 18% Palmitic 18% Palmitic 24-32%
Palmitic 13% Stearic 15% Stearic 20-25%
Stearic 13% Linoleic 13% Myristic 3-6%
Iodine 80 Iodine 84-94 Linoleic 2-3%
Iodine 43-45

Emu Oil Olive Oil Wheat Germ Oil


Linoleic 14% Oleic 63-81% Linoleic 55-60%
Myristic 0.4% Palmitic 7-14% Oleic 13-21%
Oleic 50% Linoleic 5-15% Palmitic 13-20%
Palmitic 21% Stearic 3-5% Stearic 2%
Stearic 9% Iodine 79-95 Iodine 125-135
Iodine 75 H

APPENDIK 2
TABEL HARGA SAPONIFIKASI UNTUK SETIAP 100 gr MINYAK.
Minyak Kaustik Minyak Kaustik

* 0-0.5% 4-4.5% 7.5-8% * 0-0.5% 4-4.5% 7.5-8%


Sweet Almond 13.7g 13.2g 12.7g Peanut Oil 13.5g 13.0g 12.5g
Apricot Kernel 13.5g 13.0g 12.5g Peacan 13.5g 13.0g 12.5g
Avocado Oil 13.3g 12.8g 12.3g Pumpkin Seed 13.5g 13.0g 12.5g
Borage 13.5g 13.0g 12.5g Rice Bran 13.4g 13.8g 12.4g
Camellia 13.6g 13.1g 12.6g Sanfflower 13.6g 13.1g 12.6g
Canola 13.6g 13.1g 12.6g Sesame Oil 13.5g 13.0g 12.5g
Castor Oil 12.8g 12.3g 11.8g Soybean 13.5g 13.0g 12.5g
Coconut Oil 18.3g 17.6g 16.9g Sunflower 13.6g 13.1g 12.6g
Corn Oil 13.5g 13.0g 12.5g Walnut Oil 13.5g 13.0g 12.5g
Cotton Seed 13.8g 13.3g 12.8g Wheat Germ 13.3g 12.8g 12.3g
Evening Primrose 13.5g 13.0g 12.5g Emu Oil 13.7g 13.2g 12.7g
Hazelnut Oil 13.7g 13.2g 12.7g Lanolin 7.45g 7.15g 6.90g
Hempseed 13.7g 13.0g 12.6g Beeswax 6.7g 6.4g 6.2g
Jojoa Oil 6.5g 6.3g 6.1g Candelilla Wax 6.7g 6.4g 6.2g
Kukui Nut OIl 13.7g 13.1g 12.5g Bay Berry Wax 6.7g 6.4g 6.2g
Macadamia Nut 13.9g 13.3g 12.7g Stearic Acid 14.6g 14.1g 13.6g
Olive 13.5g 13.0g 12.5g Cocoa Butter 13.6g 13.0g 12.5g
Palm Oil 14.1g 13.6g 13.1g Mango Butter 13.3g 12.8g 12.3g
Palm Kernel Oil 15.6g 15.0g 14.4g Shea Butter 12.8g 12.3g 11.8g