Anda di halaman 1dari 3

Komplikasi meningoensefalitis terdiri dari komplikasi akut, intermediet dan kronis.

Komplikasi akut meliputi edema otak, hipertensi intrakranial, SIADH (syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Release), Kejang, ventrikulitis. meningkatnya tekanan intrakrania (TIK). 4 Komplikasi intermediet terdiri atas efusi subdural, demam, abses otak, hidrosefalus. Sedangkan komplikasi kronik adalah memburuknya fungsi kognitif, ketulian, kecacatan motorik. Komplikasi yang bisa muncul: Cairan subdural Hidrosefalus Edema otak Abses otak Renjatan septik Pnemonia (karena aspirasi) Koagulasi intravaskular menyeluruh (DIC)
a.

Pengobatan simptomatis Menghentikan kejang : o Diazepam 0,2-0,5 mg/KgBB/dosis IV atau 0,4-0,6 mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA, kemudian dilanjutkan dengan : o Phenytoin 5 mg/KgBB/hari IV/PO dibagi dalam 3 dosis atau o Phenobarbital 5-7 mg/Kg/hari IM/PO dibagi dalam 3 dosis Menurunkan panas : o Antipiretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO atauIbuprofen 5-10 mg/KgBB/dosis PO diberikan 3-4 kali sehari o Kompres air hangat/biasa c. Pengobatan suportif
o o

Cairan intravena Oksigen. Usahakan agar konsentrasi O2 berkisar antara 30-50%.

2. Perawatan :

Pada waktu kejang : o Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka o Hisap lendir o Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi o Hindarkan penderita dari rudapaksa (misalnya jatuh) Bila penderita tidak sadar lama: o Beri makanan melalui sonde

o Cegah dekubitus dan pnemonia ortostatik dengan merubah posisi penderita sesering mungkin, minimal ke kiri dan ke kanan setiap 6 jam o Cegah kekeringan kornea dengan boorwater/salep antibiotika Bila mengalami inkontinensia urin lakukan pemasangan kateter Bila mengalami inkontinensia alvi lakukan lavement Pemantauan ketat : o Tekanan darah o Pernafasan o Nadi o Produksi air kemih o Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini ada DIC Fisioterapi dan rehabilitasi. Penderita meningitis dapat sembuh, sembuh dengan cacat motorik/mental atau meninggal, hal tergantung dari :

Umur penderita Jenis kuman penyebab Berat ringan infeksi Lama sakit sebelum mendapat pengobatan Kepekaan kuman terhadap antibiotika yang diberikan Adanya dan penanganan penyulit Ensefalitis bisa disebabkan berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, cacing, protozoa, dan sebagainya. Yang terpenting dan tersering adalah virus: virus herpes simpleks, arbovirus, dan enterovirus. Beberapa virus yang berbeda bisa menginfeksi otak dan medula spinalis, termasuk virus penyebab herpes dan gondongan (mumps). Tanda dan Gejala 1. Infeksi ringan: - demam - nyeri kepala - nafsu makan yang memburuk - lemah 2. Infeksi berat: - demam tinggi - nyeri kepala yang berat - mual dan muntah - kekakuan leher - disorientasi dan halusinasi - gangguan kepribadian - kejang - gangguan berbicara dan mendengar - lupa ingatan - penurunan kesadaran sampai koma 3. Tanda-tanda yang bisa dilihat adalah:

- muntah - ubun-ubun mencembung - menangis yang tidak berhenti Secara umum, gejala ensefalitis dibagi menjadi tiga (trias): - tanda infeksi, baik akut maupun subakut: panas - kejang-kejang - kesadaran menurun Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa ensefalitis: 1. Pungsi Lumbal dan pemeriksaan cairan serebrospinal Hasil pemeriksaan cairan serebrospinal pada ensefalitis virus menunjukkan cairan yang jernih, tekanannya tinggi, banyak mengandung sel darah putih dan protein, kadar gulanya normal. 2. Elektroensefalografi (EEG) Mengukur aktivitas gelombang elektrik yang diproduksi oleh otak. Hasil EEG yang abnormal, kemungkinan adalah suatu ensefalitis, tetapi hasil EEG yang normal tidak bisa menyingkirkan diagnosa ensefalitis. 3. CT Scan dan MRI CT Scan dan MRI dikerjakan untuk memastikan bahwa penyebab dari timbulnya gejala bukan karena abscess otak, stroke, atau kelainan struktural (tumor, hematoma, aneurisma). CT Scan dan MRI dapat menunjukkan adanya pembengkakan pada otak atau gambaran lain. Jika diduga suatu ensefalitis, CT Scan / MRI ini dikerjakan sebelum pungsi lumbal untuk mengetahui adanya peningkatan intrakranial. 4. Biopsi otak Jarang dilakukan 5. Pemeriksaan darah Pemeriksaan serologis dilakukan untuk mengukur kadar antibodi terhadap virus. Terapi pada ensefalitis bersifat simtomatis (mengobati gejala). Pada kasus-kasus yang ringan, disarankan istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, banyak minum, supaya sistem imun tubuh kita kuat untuk menghadapi infeksi virus. Gunakan acetaminophenuntuk menghilangkan sakit kepala dan demam. Obat anti inflamasi (kortikosteroid) dapat dipergunakan untuk mengurangi pembengkakan dan peradangan. Bila kejang diberikan obat anti kejang. Pada beberapa kasus, diperlukan terapi fisik dan bicara