Anda di halaman 1dari 54

SKRIPSI PERANAN POLRI DALAM MEMBERIKAN HAK TERSANGKA PADA BIDANG PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN DI DIREKTORAT TAHTI POLDA

LAMPUNG

Diajukan Guna Memenuhi Sebahagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Disusun Oleh ARYO FADLIAN 11212006

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TULANG BAWANG LAMPUNG 2012

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Republik Indonesia adalah negara berdasarkan hukum yang demokratis, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, bukan berdasar atas kekuasaan semata-mata. Mohammad Kusnardi dan Bintan Saragih berpendapat bahwa: Negara hukum menentukan alat-alat perlengkapannya bertindak menurut dan terikat kepada peraturan-peraturan yang ditentukan terlebih dahulu oleh alat-alat perlengkapan yang dikuasakan untuk mengadakan peraturan-peraturan itu. Adapun ciri-ciri khas bagi suatu negara hukum adalah; 1. Pengakuan dan perlindungan atas hak-hak asasi manusia. 2. Peradilan yang bebas dari pengaruh sesuatu kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak. 3. Legalitas dalam arti hukum dalam segala bentuknya. Negara Indonesia yang berdasarkan atas hukum, sehingga segala sesuatu permasalahan yang melanggar kepentingan warga negara atau rakyat harus diselesaikan berdasarkan atas hukum yang berlaku. Pernyataan tersebut tersirat dalam : 1. Pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 alenia empat (4) yang menyatakan bahwa; Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

2. Penjelasan Undang-undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 mengenai sistem pemerintahan. Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaat) dan bukan atas kekuasaan belaka (machstaat). 3. Pasal-pasal amandemen UUD 1945 tentang hak asasi manusia (HAM) yang berhubungan dengan perlindungan hukum terhadap hak-hak tersangka. Mengingat secara pidana dalam suatu proses perkara pidana seorang tersangka atau terdakwa akan berhadapan dengan negara melalui aparatur-aparaturnya, yang oleh Van Bammelen digambarkan seakan-akan merupakan suatu pertarungan, sehingga beliau mengatakan ; garansi hak-hak asasi manusia harus diperkuat, karena kalau tidak maka akan terjadi ketimpangan sesuai dengan peranan hakim yang aktif maka yang pertamatama harus ditonjolkan adalah hak-hak asasi manusia. Menurut pernyataan Erni Wijayanti ; Adanya jaminan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia dalam peraturan hukum acara pidana mempunyai arti yang sangat penting sekali, karena sebagian besar dalam rangkaiaan proses dari hukum acara pidana ini menjurus kepada pembatasan-penbatasan hak-hak manusia seperti penangkapan, penahanan, penyitaan, penggeledahan dan penghukuman yang pada hakekatnya adalah pembatasan-pembatasan hak-hak manusia. Walaupun sudah ada jaminan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia yang dalam bentuk perlindungan hukum terhadap hak-hak tersangka, namun belum sepenuhnya dilaksanakan, tidak terkecuali dalam bidang penegakan hukum itu sendiri. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak hanya memuat ketentuan tentang tata cara dari suatu proses pidana. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) ditegaskan bahwa seseorang yang diduga atau disangka terlibat dalam suatu tindak pidana, tetap mempunyai hak-hak yang wajib di junjung tinggi dan

dilindungi. KUHAP telah memberikan perlindungan hak-hak tersangka dengan menempatkan seseorang yang telah disangka melakukan tindak pidana, kedudukanya dianggap sama dengan orang lain menurut hukum. Dengan adanya perlindungan dan pengakuan hak-hak yang melekat pada diri tersangka, maka dapat memberikan jaminan yang menghindarkan tersangka dari tindakan sewenang-wenang penyidik dalam proses penyidikan. Selama proses pemeriksaan berlangsung dari proses penyelidikan di kepolisian sampai proses pemeriksaan dalam sidang di pengadilan, seseorang yang disangka atau didakwa melakukan sesuatu tindak pidana dilindungi oleh hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 50 sampai Pasal 68 KUHAP. Dalam UndangUndang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang merupakan salah satu sumber hukum acara pidana, terdapat suatu asas fundamental yang sangat berkaitan dengan hak-hak tersangka yaitu asas praduga tak bersalah yang berbunyi ; Setiap orang yang disangka, ditangkap, dituntut, dan atau dihadapkan di muka pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum diadakan putusan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Berdasarkan asas tersebut di atas telah jelas bahwa seseorang yang di sangka atau didakwa melakukan suatu tindak pidana wajib ditempatkan sebagaimana mestinya sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Di dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 27 ayat (1) menyatakan ; Bahwasanya segala warga negara mempunyai hak yang sama dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Hak Asasi Manusia adalah hak asasi / hak kodrat / hak mutlak milik umat manusia, yang dimiliki uamat manusia sejak lahir sampai meninggal dunia. Sedangkan di dalam pelaksanaannya didampingi kewajiban dan bertanggung

jawab. Dalam beberapa ketentuan hukum yang berlaku, seseorang sebelum lahirpun dapat diberi / mempunyai hak tertentu, demikian juga setelah mati. Setiap warga Negara Indonesia yang berurusan dengan aparat penegak hukum, baik yang menegakkan hukum maupun yang melanggar hukum harus melaksanakan dan merealisasikan asas tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pentingnya penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) itulah, maka PBB menetapkannya, antara lain; Hak atas kedudukan yang sama di dalam hukum atau hak asasi manusia untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum, seperti halnya yang terdapat dalam ; Universal Declaration of Human Right, Pasal 7 yang menyatakan; sekalian orang adalah sama terhadap undang-undang dan berhak atas perlindungan hukum yang sama dengan tak ada perbedaan, Convenan on civil and political right, pasal 26 yang menyatakan, semua orang adalah sama terhadap hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa deskriminasi. Orang yang bertindak sebagai penegak hukum wajib menghormati hak orang yang melakukan tindak pidana dan tidak menghambat tersangka atau terdakwa dalam memperoleh hak-haknya tersebut. Polisi sebagai aparat penegak hukum yang diberi wewenang oleh peraturan perundang-undangan seharusnya tidak melakukan perbuatan / tindakan kesewenang-wenangan. Dalam hal ini aparat penegak hukum adalah Polisi Republik Indonesia (POLRI) sebagai penyidik, yaitu perilaku dan tindakan aparat penegak hukum (POLRI) yang dalam melakukan proses pemeriksaan pendahuluan terhadap tersangka sering kali menggunakan cara kekerasan dan penyiksaan. Padahal polisi sebagai aparat penegak hukum wajib menghormati dan melindungi hak orang yang melakukan tindak pidana.

DAFTAR PUSTAKA Andi Hamzah, 1984, Pengantar Hukum Acara Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta.

C.S.T. Kansil, 1986, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Evi Hartanti, 2005, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta. Erni Widhayanti, 1998, Hak-Hak Tersangka / Terdakawa di Dalam KUHAP, Liberty, Yogyakarta. H. A. Masyur Effendy, 1994, Dimensi / Dinamika HAM Dalam Hukum Nasional Dan Internasional, Ghalia indonesia, Jakarta. Kusnardi, Bintan Saragih, 1978, Susunan Pembagian Kekuasaan Menurut Sistem UUD 1945, Jakarta; Gramedia. Koentjoro Purbopranoto, 1960, Hak Azasi Manusia dan Pancasila, Pratnya Paramita, Jakarta. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

B. Perumusan Masalah Dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan Berdasarkan paparan yang telah di temukan di atas,maka yg di ajukan menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah : Bagaimanakah proses pelaksanaan pemeliharaan dan perawatan tahanan pada saat menjalani proses penyidikan. 2. Ruang lingkup Ruang lingkup terbagi atas ruang lingkup materi dan ruang lingkup penelitian a. Ruang lingkup materi a.) Kegiatan pemeliharaan dan perawatan tahanan saat menjalani masa tahanan dalam proses penyidikan . b.) Sejauh mana peran Polri dalam memberikan hak tersangka pada bidang pemeliharaan dan perawatan.

b. Ruang lingkup penelitian Merupakan tempat melakukan penelitian pada direktorat tahanan dan barang bukti Polda Lampung

C. Tujuan Dan Kegunaan Penulisan 1. Tujuan penelitian Berdasarkan permasalahan yang akan di bahas dalam penulisan skripsi ini maka tujuan penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui sampai sejauh mana pelaksanaan pemeliharaan dan

perawatan tahanan selama ditahan dalam proses penyidikan Polri. b. Untuk Mengetahui proses pelaksanaan pemeliharaan dan perawatan tahanan,terhadap tersangka selama di tahan dalam proses penyidikan.

2 . Kegunan penelitian Kegunaan penelitian ini mencakup kegunaan teoritis dan kegunaan praktis yaitu : a. Kegunaan teoritis yaitu, a). Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu kepidanaan, khususnya dalam hal pemeliharaan dan perawatan tahanan. b). Sebagai sarana pengembangan pengetahuan masalah pemeliharaan dan pemeliharaan tahanan. b. Kegunaan praktis yaitu, Untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S1) Pada Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang.

D. Kerangka konsepsional Didalam menjalankan peranan nya, Kepolisian berpedoman pada Undang-Undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 1 butir 1 antara lain : a. Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Undang Undang memiliki wewenang umum Kepolisian (UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia) b. Peranan Mengandung arti sesuatu yang diperbuat yang besar pengaruhnya pada suatu peristiwa.(google.com) c. Wewenang mengandung arti,lebih berhak,lebih kuasa,lebih dominan untuk melakukan suatu pekerjaan,dengan kata lain sesuai fungsi/jabatan yang melekat padanya.(google.com) d. Tersangka adalah seseorang yang karena perbuatan nya atau keadaannya,berdasarkan bukti permulaan patut di duga sebagai pelaku tidak pidana.(KUHAP) e. Tahanan sesuai Peraturan Kapolri nomor 4 tahun 2005 adalah seorang/para tersangka yang di tempatkan pada tempat tertentu oleh penyidik karena di duga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup.(KUHAP) f. Pemeliharaan adalah perbuatan yg melakukan pelihara terhadap sesama mahluk hidup(kamus besar bahasa Indonesia). g. Perawatan dalam arti perbuatan rawat mahluk lain.(google.com) h. Perawatan sesuai Peraturan Kapolri nomor 4 tahun 2005 tentang kepengurusan tahanan adalah upaya memberikan pelayanan kepada

tahanan dalam bentuk standardisasi ruangtahanan,pelayanan,makanan,dukungan kesehatan,pakaian,angkutan/kendaraan,kesempatan melaksanakan ibadah, kesempatanberkomunikasi dengan pengacara/penasehat hukumnya,kesempatan bertemu dengan keluarganya, rasa aman dan hakhak lainya. i. Hak adalah kekuasaan untuk melakukan atau berbuat sesuatu wewenang menurut hokum. (google.com) j. Direktorat adalah kesatuan yang bersifat operasional,berhubungan langsung dengan masyarakat yang dalam pelaksanaan dalam bertugas bertanggung jawab dengan Kapolda.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Peranan Polri Dalam keadaan darurat militer dan dalam keadaan perang, Kepolisian Negara Republik Indonesia memberi bantuan kepada TNI sesuai dengan peraturan Perundang Undangan yang berlaku. Dan Kepolisian Negara Republik Indonesia berperan membantu secara aktif tugas Pemeliharaan Perdamaian Dunia dibawah badan PBB. B. Tugas dan Wewenang Polri sesuai dengan Undang Undang No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Tugas Polri adalah : 1. Pasal 13 Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indoonesia adalah : a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat b. Menegakkan hukum c. Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat 2. Pasal 14 ayat (1) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas : a. Melaksanakan pengaturan penjagaan, pengawalan dan patrol terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan

b. Menyelenggarakan

segala

kegiatan

dalam

menjamin

keamanan,ketertiban dan kelancaran lalu lintas di jalan. c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hokum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hokum dan peraturan perundang undangan. d. Turut serta dalam pembinaan hokum nasional e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum f. Melakukan kordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap Kepolisian khusus, Penyidik Pegawai Negeri Sipil dan bentuk bentuk pengawasan swakarsa. g. Melakukan penyelidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang undangan lainnya. h. Menyelenggarakan identifikasi Kepolisian. Kedokteran

Kepolisian,laboratorium forensic dan psikologi Kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian. i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan termasuk memberikan bantuan dan menjungjung tinggi hak asasi manusia. j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi atau pihak yang berwewenang. k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan atau bencana dengan pertolongan

kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian. l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundangundangan.

3. Pasal 14 ayat (2) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f diatur lebih lanjut dg peraturan pemerintah 4. Pasal 15 ayat (1) Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dan 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwewenang a. Menerima laporan dan atau pengaduan. b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum. c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. e. Mengeluarkan peraturan Kepolisian dalam lingkup kewenangan adminitratif kepolisian. f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai dari tindakan

kepolisian dalam rangka pencegahan. g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian. h. Mengambil sidik jari dan identitas lainyaserta memotret seseorang. i. Mencari keterangan dan barang bukti. j. Menyelenggarakan pusat informasi criminal nasional k. Mengeluarkan izin atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat

l. Memberi bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan,kegiatan instansi lain, serta kegiatn masyarakat m. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu

Penyidik menurut Undang Undang nomor 2 tahun 2002 : 1. Jabatan penyidik dan penyidik pembantu adalah jabatan fungsional yang pejabatnya di angkat dengan keputusan kapolri. 2. Jabatan fungsional lainya di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia ditentukan dengan keputusan Kapolri.

Pengertian,tugas dan wewenang penyidik menurut KUHAP :

Pasal 6 : (1) Penyidik adalah : a. Pejabat polisi Negara Republik Indonesia ; b. Pejabat pegawai negri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang Undang. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. Pasal 7 : (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibanya mempunyai wewenang : a. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Mengambil sidik jari dan memotret sesorang; g. Memanggil orang untuk di dengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubunganya dengan pemeriksaan perkara; i. Mengadakan penghentian penyidikan j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab (2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang undang yang menjadi dasar hukumnya masing masing dan dalam pelaksanaan tugas nya berada di bawah kordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. (3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

Pasal 8

(1) Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan lain dalam undang undang ini. (2) Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum. (3) Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan: a. Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara; b. Dalam hal penyidikan sudah di anggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum. Pasal 9 Penyelidik dan penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a mempunyai wewenang melakukan tugas masing masing pada umumnya di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah hukum masing masing di mana ia angkat sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.

Pasal 10 (1). Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian Negara Republik Indonesia yang diangkat oleh Kepala Kepolisian Negara republic Indonesia berdasarkan syarat kepangkatan dalam ayat (2) pasal ini. (2). Syarat kepangkatan sebagaimana tersebut pada ayat (1) di atur dengan peraturan pemerintah. Pasal 11

Penyidik pembantu mempunyai wewenang seperti tersebut dalam pasal 7 ayat (1), kecuali mengenai penahanan yang wajib diberikan dengan pelimpahan wewenang dari penyidik. Pasal 12 Penyidik pembantu membuat berita acara dan menyerahkan berkas perkara kepada penyidik,kecuali perkara dengan acara pemeriksaan singkat yang dapat langsung diserahkan kepada penuntut umum.

C. Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. Pol : 4 Tahun 2005 Tentang Kepengurusan Tahanan Pada Rumah Tahanan Kepolisian Negara Republik Indonesia Ketentuan Umum Dalam Peraturan ini dimaksud dengan: 1. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Polri adalah alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,menegakan hukum,serta memberikanperlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. 2. Pengendalian adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pejabat Polri yang dibentuk dan diberi wewenang oleh kepala kepolisian Negara republic Indonesia dalam mengelola, mengatur dan melakukan pembinaan dan perawatan tahanan Polri, untuk lebih memudahkan proses penyidikan perkara terhadap tersangka oleh penyidik.

3. Pembinaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh pejabat Polri dalam bentuk pelayanan kepada tahanan yang mencakup di dalamnya suatu kegiatan biimbingan dan penyuluhan 4. Perwatan adalah upaya memberikan pelayanan kepada tahanan dalam bentuk standarisasi ruang tahanan,pelayanan kesempatan dengan makan,dukungan melaksanakan pengacara/penasehat kesehatan,pakaian,angkutan ibadah,kesempatan hak lainya. 5. Tahanan adalahseorang/para tersangka yang ditempatkan pada tempat tertentu oleh penyidik karena diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup. 6. Rumah tahanan Polri yang selanjutnya disebut Rutan Polri adalah suatu tempat khusus untuk menahan seseorang sesuai dengan tindak pidana yang dipersangkakan kepadanya dalam proses penyidikan. 7. Petugas jaga adalah anggota Polri yang bertugas untuk melaksanakan penjagaan tahanan pada Rutan Polri. 8. Petugas kawal adalah anggota Polri yang diberi tugas untuk melaksanakan pengawalan tahanan Polri selama tahanan berada di luar rutan Polri. 9. Peminjaman atau bon tahanan adalah surat permintaan yang diajukan oleh pejabat yang berwewenang kepada penyidik untuk melaksanakan proses penyidikan. 10. Pengeluaran tahanan adalah keluarnya tahanan dari ruang tahanan karena berubah status atau pindah ketempat penahanan lain. kendaraan,

berkomunikasi

hukumnya, kesempatan bertemu dengan keluarganya,rasa aman dan hak-

Penempatan Tahanan

(1).

Setiap tahanan yang dalam proses penyidikan dapat di tempatkan di Rutan Polri dengan disertai surat perintah penahanan yang dikeluarkan oleh penyidik.

(2).

Penempatan tahanan pada ruang tahanan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dan umur.

(3).

Tahanan khusus merupakan pelaku pidana yg menurut pertimbangan penyidik perlu mendapat perlakuan khusus yaitu tersangka dalam kasus narkoba, teroris/sparatis dan anak serta tersangka lainnya berdasarkan penilaian penyidik.

(4).

Tahanan

yang

menderita

sakit

menular

dan

/atau

gawat

darurat,ditempatkan di rumah sakit dan dibuat catatan dalam buku khusus tentang penyakitnya. (5). Tahanan anggota polri ditempatkan di ruangan terpisah dengan ruangan tahanan lainnya. (6). Penerimaan tahanan dicatat dalam buku register daftar tahanan oleh petugas jaga yang meliputi : a. b. c. d. (7). Dalam penelitian surat perintah penahanan sementara; pencocokan identitas tahanan; pemeriksaan badan; kondisi fisik dan kesehatan tahanan; melakukan pemeriksaan badan wajib mengindahkan dan

menjunjung tinggi norma kesopanan dan hak asasi manusia. (8). Pemeriksaan badan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c terhadap tahanan wanita dilakukan oleh Polisi Wanita.

(9).

Dalam hal di kantor polisi tersebut tidak ada polisi wanita, pemeriksaan badan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dapat dilakukan oleh PNS wanita atau Bhayangkari.

(10).

Semua barang-barang yang di dapat dari pemeriksaan badan dicatat secara terperinci dalam buku register dan ditandatangani oleh petugas jaga dan tahanan yang bersangkutan serta diketahui oleh penyidik serta disimpan di tempat yang telah ditentukan, kemudian catatan jumlah dan jenis barang yang disimpan diberikan kepada tahanan/keluarga yang bersangkutan.

(11).

Barang-barang yang berbahaya atau terlarang yang diperoleh dari hasil pemeriksaan, diserahkan kepada penyidik untuk disita.

(12).

Setiap tahanan tidak diperkenankan memakai ikat pinggang,tali,barangbarang tajam dan barang-barang berbahaya lainya yang dapat digunakan untuk bunuh diri, melarikan diri atau mencederai rekan dalam tahanan.

(13).

Tahanan dilarang ditempatkan di luar Rutan Polri.

Pembinaan Dan Perawatan Tahanan

(1).

Setiap tahanan diberi kesempatan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing di dalam Rutan.

(2).

Setiap tahanan berhak mendapatkan pembinaan rohani dan jasmani yang meliputi : a. b. c. ceramah/penyuluhan agama; kegiatan beribadah;dsan olahraga;

d. (3).

membaca buku agama.

Selain pembinaan rohani dan jasmani sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tahanan diberikan pembinaan disiplin berupa : a. b. c. apel untuk pengecekan setiap pagi/malam; kebersihan; waktu berobat;

(4).

Setiap kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat(2) dan ayat (3) di awasi oleh petugas jaga polri.

Setiap tahanan berhak mendapatkan perawatan berupa: a. Dukungan kesehatan; b. Makanan; c. Pakaian; dan d. Kunjungan (5). Dukungan dari Rutan Polri dilakukan oleh dokter Polri yang bertugas memelihara dan merawat kesehatan tahanan. (6). Apabila dokter Polri tidak tersedia sebagaimana dimaksud pada ayat(5), maka Penyidik dapat meminta Dokter umum/tenaga medis setempat. (7). Petugas jaga tahanan harus meneliti kesehatan tahanan pada

waktu,sebelum, selama dan pada saat akan dikeluarkan dari Rutan dengan bantuan dokter atau petugas kesehatan. (8). Dalam keadaan darurat/tahanan sakit keras,seorang dokter atau petugas kesehatan dapat di datangkan ke Rutan yang berada dan/atau ke rumah sakit dengan di kawal oleh petugas kawal sesuai dengan prosedur.

(9).

Kepala jaga bertanggung jawab terhadap tahanan yang dianiaya oleh sesama tahanan.

(10).

Apabila ada tahanan yang meninggal dunia karena sakit segera dimintakan surat keterangan dokter dan dibuat berita acara oleh dokter Polri serta diberitahukan kepada keluarganya.

(11).

Apabila ada tahanan yang meninggal dunia karena sakit, petugas jaga segera melaporkan kepada penyidik untuk dimintakan visum et repertum dan dibuat berita acara kejadian.

(12).

Sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan, petugas mengambil teraan jari (tiga jari kiri) jenazah,untuk pembuktian dan kepastian bahwa jenazah adalah tahanan yang dimaksud dalam surat- surat dan dokumen yang sah.

(13).

Barang-barang milik tahanan yang meninggal dunia, petugas jaga segera menyerahkan kepada keluarganya dan dibuat berita acara penyerahanya yang ditandatangani keluarga atau ahli waris yang meninggal dunia,apabila setelah waktu 3 (tiga) bulan tidak ada keluarganya yang mengambil, maka barang barang tersebut diserahkan kepada Negara.

(14).

Makanan standar yang memenuhi gizi dan kalori diberikan kepada tahanan dengan menu dan porsi serta jadwal yang telah ditentukan dalam daftar makanan.

(15).

Pemberian makanan kepada tahanandilakukan di ruang makan yang telah ditentukan.

(16).

Tahanan dapat diberikan kesempatan menikmati makanan yang dikirim oleh keluarga,serta diperiksa terlebih dahulu oleh petugas jaga tahanan.

(17).

Tahanan yang sakit,hamil,menyusui dan anak anak dapat diberikan makanan tambahan sesuai dengan petunjuk dokter.

(18).

Pemasukan bahan makanan dan penyimpanan makananoleh petugas jaga harus memperhatikan syarat kebersihan dan kesehatan(hygiene makanan).

(19).

Tahanan wajib memakai pakaian tahanan dengan uniform dan model yang telah ditetapkan.

(20).

Tahanan yang akan melaksanakan kegiatan tertentu (ibadah, olahraga, peringatan hari besar nasional,dll) dapat menggunakan pakaian sendiri dengan memperhatikan kesopanan danketertiban.

(21).

Tahanan diberikan hak untuk menerima kunjungan keluarga/teman sesuai jadwal kunjungan dan tempat yang telah ditentukan serta diawasi oleh petugas jaga.

(22).

Tahanan diberi hak untuk menerima kunjungan pengacara dalam kaitan kepentingan proses pembelaan,setelah mendapat izin dari penyidik.

(23).

Petugas jaga wajib meneliti dan mencatat identitas pengunjung yang telah mendapatkan izin kunjungan serta menggeledah/memeriksa barang yang di bawa nya.

(24).

Surat menyurat antara tahanan dengan pengacara atau keluarganya tidak perlu diperiksa, kecuali jika terdapat cukup alas an diduga bahwa surat tersebut disalahgunakan.

Sarana Dan Prasarana Rumah Tahanan (1). Sarana dan prasarana yang terdapat pada Rutan Polri adalah : a. b. c. d. Ruang tahanan/kamar tahanan/ sel tahanan MCK (Mandi,Cuci,Kakus); Ruang pertemuan; Ruang pembinaan

e. f. g. h. i. j. k. l. (2).

Ruang kunjungan Ruang makan Ruang jaga Ruang perkantoran Ruang ibadah Poliklinik Kelengkapan Rutan; dan Sarana angkutan tahanan (kendaraan tahanan)

Kelengkapan Rutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k

meliputi : a. b. c. d. e. f. g. h. (3). Tongkat polisi; Borgol Flashlight (lampu senter) Kunci gembok dan tempat penyimpananya; Kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK); Kotak surat perintah penahanan; Hydran/pemadam kebakaran; Buku buku.

Sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf I digunakan untuk kepentingan penyidikan, serah terima ke Kejaksaan dan kepentingan khusus tahanan serta dalam rangka pelayanan perawatan rujukan ke Rumah Sakit.

(4).

Untuk kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), diperlukan beberapa kendaraan yang disesuaikan jenis maupun jumlahnya antara lain:

a. b.

Truk angkutan missal;atau Bus, untuk Tahanan yang akan melakukan kegiatan rekonstruksi dengan pengawalan ketat

c. d. e.

Minibus Ambulance Kendaraan lapis baja

Tempat / ruang jaga tahanan berjarak dekat dengan ruang tahanan. (5). Organisasi/satupun pengendali dalam pelaksanaan pembinaan dan perawatan Tahanan berkedudukan di bawah Deputi Kapolri Bidang Operasi. (6). Penjabaran tugas pembinaan dan perawatan tahanan disesuaikan dengan penggolongan, tipe khusus sampai tipe umum pada tingkat Mabes Polri,Polda,Polwil, Polres sampai dengan Polsek. (7). Pada tingkat Mabes Polri,pelaksanaanya tugasnya dipertanggung

jawabkan oleh Pusdalops,dalam hal ini Bagian Pembinaan Perawatan Tahanan (Bag Binwahttah), dengan melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian secara berjenjang terhadap pelaksanaan Pembinaan dan Perawatan Tahanan, baik pada tingkat Mabes Polri maupun Satuan Kewilayahan antara lain : a. Memberikan bimbingan teknis maupun arahan dalam pelaksanaan Pembinaan dan Perawatan Tahanan. b. Melakukan supervise langsung di lapangan baik tingkat Mabes Polri maupun Satuan Kewilayahan.

c.

Memonitor dan mgevaluasi anggaran perawatan tahanan Polri ke Mabes Polri dan Kewilyahan.

(8).

Pada tingkat Polda, pelaksanaan tugas pembinaan dan perawatan tahanan diemban oleh Kapusdlops Ro Ops Pollda dibantu Kepala Sub bagian Perawatan Tahanan(Kasubbag Wattah) yang melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian secara berjenjang, baik pada tingkat Polda maupun Satuan Kewilayahan di bawahnya.

(9).

Pada tingkat Polwil dan Polres,pelaksanaan tugas pembinaan dan perawatan tahanan diemban oleh Kabag Ops yang dibantu oleh Kasubbag Wattah dengan melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian secara berjenjang,baik pada tingkat Polwil dan Polres maupun Satuan Kewilayahan di bawahnya.

(10).

Pada tingkat Polsek, pelaksanaan tugas pembinaan dan perawatan tahanan diemban oleh Kapolsek dibantu oleh Kataud.

(11).

Untuk kepentingan tugas rutin dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan perawatan tahanan pada masing-masing tingkat, para pejabat sesuai fungsi harus mengadakan hubungan secara: a. vertical b. horizontal

(12).

Hubungan vertical sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu : a. wajib melaporkan situasi tahanan maupun keadaan sarana/prasarana secara rutin / periodikkepada Kesatuan atasnya; b. menerima petunjuk,perintah serta arahan dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan perawatan tahanan.

(13). dari:

Hubungan horizontal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri

a. intern,yaitu antar bidang/bagian/satuan/unit dan antar sesame rumah tahanan yang sama maupun antar rumah tahanan kejenjang yang lebih tinggi; b. ekstern,yaitu dengan Tokoh Masyarakat,Tokoh Agama,Kejaksaan,Pengadilan,Lembaga Permasyarakatan,dan lain-lain.

Penjadwalan kegitan pembinaan dan perawatan tahanan diatur dalam suatu format yang menggambar hari,tanggal,waktu,sasaran dan cara bertindak, yang meliputi tiga tahap yaitu : a.Tahap persiapan yang meliputi 1. Pedoman petunjuk dan arahan pimpinan; 2. Kordinasikan dengan Satuan/unit atau instansi terkait tentang rencana kegiatan dimana mereka akan dilibatkan. b. Tahap penyusunan yang meliputi: 1. Menyusun acara kegiatan mingguan; 2. Kegiatan disusun dalam satuan jam/menit 3. Kegiatan yang dilakukan dan penanggung jawab. c. Tahap pelaksanaan yang meliputi: 1. Setiap hendak melaksanakan kegiatan yang sudah dijadwalka, hendaknya disiapkan materi/ alat yang akan digunakan; 2. Seluruh kegiatan dilakukan di dalam koridor/ruang tahanan; 3. Dalam melaksanakan kegiatnya, para petugas harus tetap bersifat mengawasi dan selalu bersikap teliti,waspada,dan berwibawa. - Tanggung jawab keamanan dan ketertiban Rutan berada di tangan kepala jaga tahanan yang memimpin regu jaga tahanan.

- Apabila kepala jaga tahanan tidak di tempat, wewenangnya berbeda pada wakil kepala jaga tahanan atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mewakilinya. - Setiap petugas jaga wajib ikut serta memelihara keamanan dan ketertiban rumah tahanan.

Tugas pokok petugas jaga tahanan adalah: a. Mencegah perkelahian, agar tidak terjadi kesusilaan penindasan,pemerasan, dan lain-lain yang

gangguan

menimbulkan situasi menjadi resah dan ketakutan; b. Menjaga agar tahanan tidak melarikan diri atau bunuh diri; c. Memelihara,mengawasi dan menjaga agar suasana kehidupan tahanan selalu tertib dan harmonis; d. Memelihara,mengawasi inventaris rumah tahanan; e. Melaksanakan administrasi keamanan dan ketertiban. Petugas Jaga tahanan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Hadir selambat-lambatnya 15 menit sebelum jam dinas dan apabila berhalangan hadir agar segera member tahu kepada atasan; b. Mempersiapkan buku jaga untuk mencatat kegiatan atau peristiwa pergantian tugas jaga dengan mencatat jumlah tahanan, jumlah dan keadaan senjata api serta situasi khusus yang perlu diketahui oleh petugas jaga berikutnya; dan menjaga keutuhan barang

c. Mengecek dan memastikan blok/kamar hunian telah terkunci dan menyimpan kunci-kunci blok/kamar hunian,kantor,gudang, lemari senjata api, harus disimpan ditempat penyimpanan; d. Merawat perlengkapan keamanan dan ketertiban sebaikbaiknya; e. Tidak diperkenankan menjadi penghubung dari dan untuk tahanan atau orng lain maupun penegak hukum; f. Tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap tahanan dan menyalahgunakan kewenanganya; g. Memahami dan mengerti cara menggunakan perlengkapan keamanan dan ketertiban; h. Harus selalu waspada dalam melaksanakan tugas penjagaan terutama pada waktu malam hari atau pada waktu hujan; i. Apabila tahanan melarikan diri,maka petugas ja melakukan antara lain hal sebagai berikut 1. Segera mengumpulkan tahanan yang masih ada dan diperintahkan untuk masuk kamar tahanan masingmasing dan di kunci; 2. Melaporkan kepada atasan untuk mengambil tindakan lebih lanjut; 3. Melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan prosedur dinas dan peraturan perundang-undangan. j. Melakukan pengawasan terhadap ruang-ruang tahanan secara berkala, sekurang-kurangnya setiap 2 (dua) jam sekali. k. Apabila tahanan bunuh diri di Rutan Polri, petugas jaga segera menghubungi penyidik untuk mengambil sidik jari dan

membuat berita acara dan mengirim ke rumah sakit untuk keperluan visum et repertum serta melaporkan kepada atasan untuk mengambil tindakan selanjutnya. Petugas jaga tahanan melaporkan kondisi rumah tahanan dan kelengkapanya 1 (satu) minggu sekali secara berjenjang kepada pimpinanya.

Pengeluaran Dan Perpinjaman Tahanan Bagian kesatu Pengeluaran (1). a. b. c. d. (2). Pengeluaran tahanan dilakukan dengan alasan : Penangguhan penahanan Dialihkan jenis penahanan Dipindahkan ke rumah tahanan Negara Dikirim ke kesatuan/instansi lain. Prosedur pengeluaran tahanan adalah: Penyidik yang akan mengeluarkan tahanan membawa surat pengeluaran tahanan yang dilampiri surat perintah pengeluaran tahanan yang merupakan kelengkapan sahnya seorang tahanan dikeluarkan dari ruang tahanan Polri, ditunjukan kepada Kepala Jaga Tahanan dengan tembusan Kabag/Kasubbag Wattah/Kataud. (3). Setiap pengeluaran tahanan dilakukan pada hari dan jam kerja.

Bagian kedua Peminjaman Tahanan (1). Peminjaman tahanan atau bon tahanan dilakukan oleh penyidik dalama rangka pemeriksaan dan pengembangan penyidikan. (2). Peminjaman tahanan atau bon tahanan harus menggunakan bon pinjaman yang dibuat secara tertulis oleh penyidik yang menangani perkaranya dengan diketahui oleh Kanit/Kasat yang dibuat rangkap dua, satu untuk arsip peminjaman dan satu diserahkan kepada Kepala Jaga Tahanan dengan tembusan kepada Kabag/Kasubbag Wattah/Kataud. (3). Surat bon pinjaman diserahkan kepada petugas jaga tahanan untuk diketahui dan dicatat dalam buku mutasi tahanan. (4). Surat bon pinjaman ditunjukkan kepada tahanan yang selanjutnya tahanan yang dimaksud dikeluarkan dari ruang tahanan. (5). Petugas jaga tahanan memeriksa keadaan fisik tahanan, dan dicatat dalam buku mutasi tahanan, serta diketahui yang oleh Penyidiik/Penyidik membawa/meminjam pembantu,selanjutnya tanggung jawab keamanan beralih kepada petugas Penyidik/Penyidik Pembantu tahanan,selamamasa peminjaman. (6). Surat bon pinjaman disimpan ditempat yang telah ditentukan oleh petugas jaga tahanan sebagai bukti bahwa seorang tahanan sedang berada diluar ruang tahanan.

(7).

Pengembalian

tahanan

yang

dipinjam/bon

dilaksanakan

dengan

ketentuan :

a.

tahanan yang dipinjam/di bon,wajib diserahkan kembali oleh penyidik/penyidik pembantu kepada petugas jaga tahanan yang dicatat dalam buku mutasi tahanan;

b.

sebelum dimasukan kedalam ruang tahanan,petugas jaga tahanan harus lebih dahulu memeriksa kondisi fisik/kesehatan tahanan ;

c.

apabila saat menerima pengembalian tahanan terdapat perubahan kondisi fisik tahanan petugas jaga harus membuat Laporan polisi untuk proses lebih lanjut;

d.

petugas jaga tahanan mengembalikan surat bon tahanan kepada penyidik/penyidik pembantu.

Bagian ketiga Pemindahan Tahanan (1). Pemindahan Tahanan dapat dilakukan dengan alas an: a. Tidak tersedianya sarana yang memadai untuk menampung Tahanan(kelebihan daya tampung Tahanan); b. c. (2). Untuk perawatan kesehatanya sampai dinyatakan sembuh; Terjadi bencana alam,kebakaran,dan huru-hara.

Pemindahan tahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan c dilaksanakan oleh Kepala Jaga Tahanan, setelah lebih dahulu penyidik yang bersangkutan mendapat surat izin dari Deops Kapolri/Kapolda/Kapolwil/Kapolres.

(3).

Pemindahan tahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan oleh Kepala Jaga Tahanan,setelah lebih dahulu mendapat

surat keterangan kesehatan dari dokter Polri/yang ditunjuk dan persetujuan dari Deops Kapolri/Kapolda/Kapolwil/Kapolres. (4). Pemindahan tahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaporkan kepada Kabag/Kasubbag Wattah/Kataud.

Pembiayaan Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pembinaan dan perawatan tahanan disebabkan kepada anggaran Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Ketentuan lain-lain (1). Apabila terjadi perubahan struktur organisasi baik ditingkat pusat dan/atau di tingkat kewilayahan,maka struktur organisasi dan jabatan menyesuaikan ketentuuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dan 14. (2). Penitipan tahanan dari Polsek ke Polres, Polres ke Polwil, Polwil ke Polda, Polda ke Mabes Polri dan sebaliknya, serta tahanan dari instansi lain berlaku ketentuan sesuai peraturan ini.

D. Pengertian Penahanan menurut Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 24 Kitab Undang-undang Hukum Aacara Pidana Pasal 20 KUHAP (1). Untuk kepentingan penyidikan, penyidik atau penyidik pembantu atas perintah penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 berwewenang melakukan penahanan.

(2).

Untuk kepentingan penuntutan, penuntut umum berwewenang melakukan penahanan atau penahanan lanjutan.

(3).

Untuk kepentingan pemeriksaan hakim di sidang pengadilan dengan penetapanya berwewenang melakukan penahanan.

Pasal 21 KUHAP (1). Perintah penahanan atau penahanan lanjut dilakukan terhadap seseorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cuku, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana. (2). Penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan oleh penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka atau terdakwa dengan memberikan surat perintah penahanan atau penetapan hakim yang mencantumkan identitas tersangka atau terdakwa dan menyebutkan alas an penahanan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan atau didakwakan serta sempat ia ditahan. (3). Tembusan surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus diberikan kepada keluarganya. (4). Penahanan tersebut hanya dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal : a. b. Tindak pidana diancam dengan penjara lima tahun atau lebih; Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 282 ayat (3), Pasal 296, Pasal 335 ayat (1),pasal 351 ayat (1), pasal pasal 353 ayat (1), pasal

372, pasal 378, pasal 379 a, pasal 453, pasal 454, pasal 455, pasal 459, pasal 480, dan pasal 506 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal 25 dan pasal 26 Rechtenordonnantie (pelanggaran terhadap ordonasi Bea dan Cukai, terakhir diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 471), pasal 1,pasal 2,dan pasal 4 Undang-undang tindak pidana imigrasi (Undangundang nomor 8 Drt. Tahun 1955, Lembaran Negara tahun 1955 nomor 8). Pasal 36 ayat (7), pasal 41, pasal 42, pasal 47, dan pasal 48 Undangundang. Nomor 9 tahun 1976 tentang narkotika (lembaran Negara tahun 1976 nomor 37, tambahan lembaran Negara nomor 3086).

Pasal 22 KUHAP (1). Jenis penahanan dapat berupa: a. Penahanan rumah tahanan Negara; b. penahanan rumah; c. penahanan kota. (2). Penahanan rumah dilaksanakan dirumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan. (3). Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau terdakwa, dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan. (4). Masa penangkapan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

(5).

Untuk penahanan kota pengurangan tersebut seperlima dari jumlah lamanya waktu penahanan sedangkan untuk penahanan rumah sepertiga dari jumlah lama nya waktu penahanan.

Pasal 24 KUHAP (1). Perintah penahanan yang diberikan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 20, hanya berlaku paling lama 20 hari. (2). Jangka waktu bagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlakukan guna kepentingan pemeriksaaan yang belum selesai dapat diperpanjang oleh penuntut umum yang berwewenang untuk paling lama empat puluh hari. (3). Ketentuan sebaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup kemungkinan dikeluarkanya tersangka dari tahanan sebelum berakhir waktu penahanan tersebut;jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi. (4). Setelah waktu enam puluh hari tersebut, penyidik harus sudah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum. III. METODE PENELITIAN 1. Pendekatan Masalah Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan pendekatan secara yuridis normative dan secara yuridis empiris dimana: a. Pendekatan yuridis normatif melakukan penelitian dengan cara menelaah dan mempelajari beberapa hal yang bersifat teorisyang menyangkut azaz-azaz hukum,konsepsi, pandangan maupun doktrindoktrin hukum, peraturan hukum yang berlaku yang ada kaitanya dengan permasalahan yang akan dibahas. b. Pendekatan secara yuridis empiris melakukan penelitian dengan cara mengamati,maupun mengadakan penelitian langsung di lapangan

dengan melihat kepada fakta-fakta yang ada dalam pelaksanaan penerapan peraturan hukum yang berlaku dalam sistem peradilan pidana.

2. Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini a sebagai berikut: a. Data Sekunder Data yang diperoleh dengan cara melakukan penelitian di perpustakaan yang terdiri dari: 1). Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat antara lain: a). Undang-Undang nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. b). Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 Hukum acara pidana c). Peraturan Kapolri nomor 4 Tahun 2005 tentang kepengurusan Tahanan di rumah Tahanan Polri

2). Bahan hukum sekunder yang akan memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer agar dapat di analisa yang meliputi antara lain. a).Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang

Pelaksanaan KUHAP b). Buku-buku hukum para sarjana hukum b. Data Primer

Data yang diperoleh langsung dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan melalui pengamatan maupun dengan mempelajari kasus-kasus yang ada hubungannya dengan faktor penegak hukum, faktor kaedah hukum yang berlaku dan sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas menyangkut Harwattah Direktorat Tahanan dan barang bukti Polda Lampung.

3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data a. Studi Kepustakaan Yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahanbahan pustaka atau data sekunder melalui serangkaian kegiatan membaca,mencatat,mengutip buku-buku hukum serta menganalisis peraturan-peraturan hukum yang berlaku yang ada kaitanya dengan permasalahan yang akan dibahas. b. Studi Lapangan Yaitu penelitian hukum yang dilakukan untuk memperoleh data primer dengan menggunakan metode observasi terhadap kasus yang menjadi objek dan juga metode wawancara yang akan dilakukan terlebih dahulu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan agar di dalam proses pelaksanaanya tidak terjadi kekakuan dan data yang diperoleh benarbenar data yang dapat menunjang penyelesaian skripsi ini nantinya. Wawancara dilakukan terhadap Kompol Drs.Julianto PA SH Msi yang menjabat sebagai Kasubdit Harwattah Direktora Tahti Polda Lampung dan Iptu Slamet Raharjo SH selaku Kanit Perawatan Tahanan Direktorat Tahti Polda Lampung serta PNS Kanit pemeliharaan Direktorat Tahti Polda Lampung. c. Pengumpulan dan Pengolahan data

Setelah data diperoleh dan terkumpul dari hasil penelitian yang didapat diperpustakaan dan penelitian di lapangan,maka data tersebut di klarifikasi ke masing-masing sesuai kebutuhan dan setelah itu data diteliti kembali agar benar-benar memperoleh data yang diinginkan untuk dapat memenuhi persyaratan skripsi ini. 4. Analisis Data Pada kegiatan ini, analisis data terhadap data primer dilakukan dengan cara menganalisis data dan akta yang akan didapatkan dari hasil penelitian dengan mempelajari kasus dan hasil pengamatan dan wawancara yang ada kaitanya dengan permasalahan dan data sekunder dilakukan dengan cara menginventarisir peraturan perundang-undangan yang ada kaitanya dengan masalah Harwattah yang diteliti dengan menggunakan analisis secara kualitatif dengan merumuskan kepada uraian-uraian kalimat berupa kesimpulan dari permasalahan yang dibahas.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Pelaksanaan Pemeliharaan Dan Perawatan Tahanan Pada Direktorat Tahti Polda Lampung

1. Ketentuan umum penahanan Polri adalah suatu kelompok penegak hokum,sebagaimana diatur oleh undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian penyidikan rangka penyidikan Negara republik Indonesia,dalam rangka penegakan hokum dimaksud polri melakukan tahap proses dapat melakukan kegiatan diantaranya dalam tugas dalam bidang dan proses Polri berwewenang melakukan penyitaan menyelenggarakan

penahanan,penangkapan,penggeledahan kepolisian Negara Republik Indonesia).

(pasal 16 ayat 1 Undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang

Dalam rangka melakukan proses penyidikan berwewenang melakukan

penyidik atau penahanan

penyidik pembantu sebagaimana di atur dalam pasal 21 KUHP penahanan,perintah dilakukan terhadap seseorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana. Penahanan tersebut dapat dikenakan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberi bantuan dalam tindak pidana tersebut, dalam hal tindak pidana itu di ancamdengan pidana penjara 5 tahun atau lebih,atau tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat 3,pasal 296,pasal 335 ayat 1, pasal 379 a, pasal 453, pasal 454, pasal pasal 372, pasal 378, pasal 379a, pasal 453, pasal 454, pasal 455, pasal 459 dan pasal 506 KUHP, pasal 25 dan pasal 26 Rechtcnordonnatik(pelanggaran

terhadap ordonati

bea dan cukai,terakhir di ubah dengan

stooatsblod tahun 1931 nomor 471, pasal 1 pasal 2 dan pasal 4 undang-undang tindak pidana imigrasi (undang-undang nomor 8 drt tahun 1955, lembaran Negara nomor 8 tahun 1955 pasal 36 ayat 7,pasal 41,pasal,pasal 42,pasal 43, pasal 47, dan pasal 48 undang-undang nomor 9 tahun 1976 tentang narkotika (lembaran Negara tahun 1976 nomor 37, tambahan lembaran Negara nomor 3 1986. Adapun jenis penahanan terdiri dari a. Penahanan rumah tahanan Negara b. Penahanan rumah c. Penahanan kota Penahanan rumah dilaksanakan di rumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan,penuntutan pengadilan. Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau di kediaman tersangka atau terdakwa ditentukan. Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang atau pemeriksaan di siding

seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Untuk penahanan kota pengurangan tersebut seperlima dari jumlahnya waktu penahanan sedangkan untuk penahanan rumah sepertiga dari jumlah lamanya waktu penahanan.

Penyidik

atau

penuntut

umum yang

berwewenang satu kepada

untuk jenis

mengalihkan

jenis

penahanan

penahanan yang lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 22. Pengalihan jenis penahanan penetapan hakim yang dinyatakan secara tersendiri diberikan kepada kepada dengan surat dari penyidik atau penuntut umum atau tembusannya tersangka atau terdakwa serta keluarganya dan instansi yang berkepentingan. Perintah penahanan yang diberikan oleh penyidik

sebagaimana dimaksud dalam pasal 20,hanya berlaku paling lama dua puluh hari. Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat 1 apabila diperlukan guna kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh penuntut umum paling lama empat puluh hari. Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat 1 dan 2 tidak

menutup kemungkinan dikeluarkanya tersangka dari tahanan setelah berakhir waktu penahanan tersebut,jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi. Setelah waktu enam puluh hari tersebut, penyidik harus mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum. Perintah penahanan yang diberikan oleh penuntut umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 hanya berlaku paling lama dua puluh hari. Jangka waktu sebagaimana tersebut pada diperlukan guna kepentingan lama ayat 1 apabila yang belum

pemeriksaan puluh

selesai. Dapat diperpanjang oleh ketua pengadilan negeri berwewenang paling tiga hari. Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat 1 dan ayat 2 tidak menutup kemungkinan dikeluarkanya tersangka dari tahanan sebelum

berakhir

waktu

penahanan umum

tersebut, harus

jika

kepentingan mengeluarkan

pemeriksaan sudah terpenuhi. Setelah waktu lima puluh hari tersebut,penuntut sudah tersangka dari tahanan demi hukum. 2. Administrasi penahanan Pada saat tahanan telah ditetapkan sebagai tersangka Atas perintah penyidik, maka penyidik pembantu menyerahkan tersangka kepada piket jaga administrasi sebagai berikut. a. Surat perintah penahanan oleh penyidik yang berisi 1. Kop surat 2. Nomor surat 3. Dasar 4. Pertimbangan 5. Identitas tersangka 6. Jangka waktu penahanan 7. Lokasi penahanan 8. Uraian perkara/pasal yang dilanggar 9. Tempat/tanggal dikeluarkan 10. Identitas penyidik pembantu yang tahanan dengan dilengkapi

doperintahkan/nama,pangkat,jabatan 11. 12. Identitas penyidik/ nama,pangkat,jabatan Cap/tanda tangan surat.

b.

Surat

pemeriksaan

tentang

kesehatan

tersangka

tentang kesehatan tersangka yang berisi 1). Kop institusi penerbit surat keterangan kesehatan seorang tersangka 2). No, tanggal surat 3). Uraian singkat jelas,terperinci yang menguraikan tentang kondisi kesehatantersangka

4). Identitas tersangka 5). Identitas/ nama,pangkat dan jabatan pejabat penerbit surat keterangan kesehatan 6). Cap dan tanda tangan pejabat penerbit c. Surat pengantar dari penyidik kepada direktorat

tahti,berisi sebagai berikut 1). Kop surat 2). Nomor,tanggal surat 3). Lampiran 4). Perihal dasar tentang peninjauan tersangka untuk di tahan 5). Rutan Mapolda Lampung 6). Identitas tersangka/tahanan 7). Lama penahanan 8). Cap dan tanda tangan penyidik 9). Nama,pangkat,jabatan penyidik

3. Penerimaan dan penempatan tahanan Penerimaan dicatat dalam buku register daftar tahanan oleh petugas jaga yang meliputi. a. Penelitian surat perintah penahanan sementara b. Pencocokan identitas tahanan c. Pemeriksaan badan d. Kondisi fisik dan kesehatan tahanan Dalam melakukan pemeriksaan badan wajib wajib mengindahkan dan menjunjung tinggi norma kesopanan dan hak asasi manusia. Pemerisaan terhadap badan sebagaimana wanita dimaksud oleh pada polisi ayat (1) tahanan dilakukan wanita.

Pemeriksaan badan dimaksud pada ayat 3 dapat dilakukan oleh Pegawai Negri Sipil wanita atau bhayangkari. Semua barangbarang yang didapat dari pemeriksaan badan dicatat secara terperinci di dalam buku register dan di tanda tangani oleh petugas jaga tahanan yang bersangkutan serta diketahui oleh penyidik disimpan serta diberikan disimpan kepada di tempat yang telah yang ditentukan.kemudian catatan jumlah dan jenis barangyang tahanan /keluarga bersangkutan. Barang-barang yang berbahaya atau terlarang yang diperoleh dari hasil pemeriksaan diserahkan kepada penyidik untuk disita. Setiap tahanan tidak diperkenankan memakai ikat pinggangtali,barang-barang tajam dan barang berbahaya lainya yang dapat digunakan untuk bunuh diri,melarikan diri atau menciderai rekan dalam tahanan.

Tahanan

dilarang

ditempatkan

diluar

rutan

polri,kecuali

sebagaimana ditentukan dalam pasal 2 ayat 3 dan ayat 4. Setiap tahanan yang dalam proses penyidikan dapat

ditempatkan di rutan polri dengan disertai surat perintah penahanan yang dikeliarkan oleh penyidik.Penempatan tahanan pada ruang tahanan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dan umur. Tahanan khusus merupakan pelaku pidana yang menurut pertimbangan penyidik perlu menempatkan pada ruangan khusus dengan menempatkan pada ruangan khusus yaitu tersangka dalam kasus narkoba,teroris/separatis dan anak serta tersangka lainya berdasarkan penilaian penyidik. Tahanan yang menderita penyakit menular atau gawat darurat, ditempatkan di rumah sakit dan dibuat catatan dalam buku khusus tentang penyakitnya. Tahanan anggota polri ditempatkan di tempat terpisah dengan ruang tahanan lainya.

B. Pemeliharaan Tahanan

1. Struktur Subdit Pemeliharaan dit Tahti

keterangan 1). Dir tahti bertugas

a.

melaksanakan

pembinaan tat

dan

pemberi tertib dan

petunjuk

penahanan,pengawasan,penjagaan pengawasan tahanan di lingkup tahti b. melaksanakan dan mengawasi

serta

mengevaluasi program kerja serta anggaran di direktorat tahti c. Kordinasi vertical dan horizontal dalam

rangka pelatihan di Dit Tahti Polda Lampung d. Bertanggung jawab dan menandatangani surat menyurat yang menyangkut administrasi

2). Subdit Harwattah mempunyai fungsi a. tahanan b. pelayanan terhadap tahanan yang sakit c. terhadap tahanan 3). Si pemeliharaan mempunyai fungsi a. Penyiapan makanan tahanan b. Kebersihan ruangan tahanan c. Penyiapan fasilitas dan keperluan tahanan pemeriksaan kesehatan secara rutin Pengawasan dan perawatan kesehatan

4). Unit mempunyai fungsi

a).melaksanakan tugas2 umum b). pembuat administrasi laporan 2. Tabel penghuni tahanan pada direktorat tahti Polda

Lampung pada tahun 2012

NO . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Bulan

Jumlah Tahanan

Keterangan

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

24 23 23 24 20 19 27 25 24 23 26 26

3. Tabel pemberian makanan tahun 2012 pada direktorat tahti Polda Lampung

Dari data tersebut terlihat bahwa : 1. Pemberian makanan dilakukan setiap hari hanya dua kali makan yaitu siang dan malam 2. Masing-masing tahanan memperoleh jatah makan tiaop hari 2 bungkus atau dua kali makan 3. Tiap bungkus berisi nasi+sayur+lauk 4. Jadi jumlah makanan tiap bulan yaitu jumlah hari di kali jumlah tahanan di kali 2

4. Tabel kwalitas dan kwantitas makanan tahanan Dit Tahti Polda Lampung tahun 2012 No. Bulan Jumla h nasi bungk us Bera t tiap gra m 1 Januari 1.488 150 g 2 Februari 1.334 150 g Rp. 7.500 Rp. 7.500 Rp.11.160.0 00 Rp.10.005.0 00 Harga tiap nasi bungkus Jumlah Harga Ket

Maret

1.426

150 g

Rp. 7.500

Rp.10.695.0 00

April

1.440

150 g

Rp. 7.500

Rp.10.800.0 00

Mei

1.240

150 g

Rp. 7.500

Rp.9.300.00 0

Juni

1.140

150 g

Rp. 7.500

Rp.8.550.00 0

Juli

1.674

150 g

Rp. 7.500

Rp.12.555.0 00

Agustus

1.550

150 g

Rp. 7.500

Rp.11.625.0 00

Septemb er

1.440

150 g

Rp. 7.500

Rp.10.800.0 00

10

Oktober

1.426

150 g

Rp. 7.500

Rp.10.695.0 00

11

Novembe r

1.560

150 g

Rp. 7.500

Rp.11.700.0 00

12

Desembe r

1.612

150 g

Rp. 7.500

Rp.12.090.0 00

Dari data tersebut dapat di lihat bahwa: 1. Tiap tahanan mendapatkan makanan tiap hari dua bungkus,tiap bungkus 1 piring=150 gram 2. Tiap tahanan setiap harinya mendapatkan 2 kali 150 gram = 300 gram makanan

3. Tiap bungkus berisi nasi+sayur+lauk 4. Setiap bungkus senilai Rp. 7500 5. Jadi tiap tahanan memperoleh jatah makan senilai Rp. 7500 dikali 2 = 15.000 setiap hari nya. 5. Tabel kebutuhan gizi manusia secara umum setiap hari

menurut ahli gizi

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa 1. Tiap manusia pria dan wanita membutuhkan gizi yang cukup Yaitu nasi untuk pria 1000 gram /5 piring setiap hari dan untuk wanita 600 gram perhari(3 piring perhari) 2. Kebutuhan kalori pria sebanyak 1500 perhari(5 piring) dan untuk wanita 900 kalori (3 piring)perhari. 3. Hal tersebut bila dipenuhi baru manusia dapat hidup sehat 4. Jika dihitung dengan uang setiap orang kurang lebih sebanyak Rp. 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah) dengan harga minimal.

C. Perawatan Tahanan Struktur organisasi subdit perawatan Direktorat Tahti

V. PENUTUP A. Kesimpulan Sesuai dengan pokok masalah diatas serta berdasarkan fakta relistis dengan mengacu pada ketentuan yang ada maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut 1. Peranan polri dalam memberikan hak tersangka pada bidang terlihat didukung pemeliharan dari dan perawatan kegiatan tetapi tahanan di direktorat tahti Polda Lampung sangat baik hal tersebut dilaksanakannya anggaran penyuluhan tersebut hukum dan pembinaan rohani dan mental walau tidak dengan giat terlaksanakan sesuai dengan jadwal. 2. Pemeliharaan tahanan dalam bentuk pemberian makan tahanan 2 kali sehari dengan indeks tidak memenuhi rasa kemanusiaan dan melanggar HAM (pancasila sila ke 3) 3. Pemberian makan dengan indeks 15.000 /orang / hari sesuai dengan diva polri tidak sesuai dengan standar kecukupan gizi(menurut para ahli gizi) B. Saran

1. Kurangnya mengusulkan

pihak ke

yang

berkompeten makan

dalam tahanan

APBN

anggaran

dinaikan di atas 15.000 (lima belas ribu)per orang perhari atau bahkan lebih dari mengingat indeks 15.000 tersebut pengelolaannya pengadaan masih barang di dan potong jasa. biaya Selaku operasional

pelaksana pekerjaan (pemborong) dan diperkirakan yang dapat tersalurkan dan dapat dinikmati oleh tersangka hanya kurang lebih Rp.8000 (delapan ribu rupiah per hari. 2. Pada Dit tahti perlu adanya dukungan anggaran biaya pembinaan Rohani Mental Hukum Kesehatan jasmani

Agar supaya tercipta keamanan dan ketertiban di dalam rumah tahanan Polri 3. Perlu adanya bantuan dari instansi lain agar tahanan dalam rumah tahanan Polri terawat dan terpelihara dengan baik sesuai dengan manusia yang lain. 4. Pemerintah jg harus ambil andil dalam kesejahteraan tahanan dan tidak semata2 diserahkan sepenuhnya kepada institusi Polri