Anda di halaman 1dari 13

Tugas Refleksi Kasus

KEJAHATAN SEKSUAL (PENCABULAN)

Oleh : META GAPILA (0818011031)

KEPANITERAAN KLINIK UNIVERSITAS LAMPUNG ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RSUD DR.H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG SEPTEMBER 2013

REFLEKSI KASUS

A. Identitas Pasien Nama/Inisial Umur Jenis Kelamin Alamat : Nn. W : 17 tahun : Perempuan : Raja Basa, Bandar Lampung

Diagnosis kasus : Diduga mengalami pencabulan oleh orang yang tidak dikenal.

B. Jenis Refleksi 1. Ke-Islaman 2. Etika/moral 3. Medikolegal 4. Sosial Ekonomi 5. Aspek lain C. Form uraian 1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/kasus yang diambil) Atas permintaan tertulis dari Ir. Revolkhair, SH, pangkat Kompol, NRP. 80031060, jabatan Kepala Kepolisian Sektor Tanjung Bintang, dengan suratnya nomor: B/05/IX/2013/Reskrim tertanggal lima September dua ribu tiga belas. Bertempat di Ruang Delima RSUD dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, telah melakukan pemeriksaan korban dengan nomor registrasi 914366, dengan identitas , nama Nn. W Umur 17 Tahun. Pekerjaan Pelajar, dan beralamat di Raja Basa Bandar Lampung.

Kronologis: Korban mengaku telah mengalami pencabulan oleh orang yang tidak dikenal pada tanggal tiga puluh satu Agustus dua ribu tiga belas

sekitar pukul 10.30 WIB, di sekitar rumah korban, Raja Basa Bandar Lampung.

Dari pemeriksaan terhadap korban, dapat disimpulkan : Perempuan yang berumur kurang lebih 17 tahun datang kerumah sakit dalam keadaan sadar. Ditemukannya tanda seks sekunder yang sedang berkembang serta tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan pada pasien. Pada selaput dara ditemukan robek lama arah jam 4, jam 6 dan jam 9 sampai dasar. Liang kemaluan dapat dilalui 2 jari tanpa sakit. Pada pasien di atas juga tidak ditemukan adanya bercak air mani pada celana dalam korban dikarenakan korban datang 5 hari setelah kejadian. Pada pemeriksaan laboratorium uji kehamilan hasil negatif. Pada pemeriksaan Ultra Sono Grafi tidak ditemukan janin.

2. Latar belakang/alasan ketertarikan pemilihan kasus Dokter dalam pelaksanaan praktiknya wajib memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. Dalam UU No. 29 tahun 2004, pasal 45 ayat 1, disebutkan bahwa: Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Dalam penanganan penderita gawat darurat yang terpenting bagi tenaga kesehatan adalah mempertahankan jiwa penderita, mengurangi penyulit yang mungkin timbul, meringankan penderitaan korban, dan melindungi diri dari kemungkinan penularan penyakit menular dari penderita.

Pada kasus ini dilakukan visum korban kejahatan susila, dimana dalam melakukan visum korban kejahatan susila terdapat beberapa ketentuan terkait aspek medikolegal. Dalam refleksi kasus ini akan membahas mengenai perspektif islam dan medikolegal mengenai hukum perbuatan asusial tersebut.

Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis kedalam vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi. Adanya robekan pada hymen merupakan pertanda adanya suatu benda (penis atau benda lain) yang masuk kedalam vagina. Anak-anak dan perempuan merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban tindak kejahatan ini. Menurut Ceci dan Friedman dalam penelitiannya pada tahun 2000 yang dikutip oleh London et al, walaupun kekerasan seksual pada anak (Child Sexual Abuse/ CSA) merupakan masalah sosial yang besar di Amerika, namun jumlah korban kekerasan seksual pada anak-anak tidak diketahui dengan pasti karena keterbatasan data.

Sebagian besar kasus kejahatan seksual merupakan akibat dari perbuatan impulsif yang tidak terkontrol, 71% dari semua kasus kejahatan seksual dilaporkan merupakan kasus yang telah direncanakan sebelumnya. Satu dari lima wanita di dunia telah menjadi korban perkosaan atau kekerasan seksual. Sekitar 700.000 wanita usia produktif telah menjadi korban kekerasan seksual di Amerika Serikat dan 25.000 wanita menjadi korban perkosaan per tahun di negara Prancis. Sayangnya hanya 16% kasus pemerkosaan yang dilaporkan ke polisi, dimana 50% dari korban pemerkosaan bersedia untuk menyampaikan laporannya setelah mendapat jaminan kerahasiaan mengenai identitas mereka. Ternyata, dari penelitian di lapangan didapatkan angka kejadian kasus kejahatan seksual baik terhadap anak-anak maupun orang dewasa yang lebih banyak

dibandingkan dengan data pada literatur.

Di Indonesia sendiri kasus-kasus kejahatan seksual yang diantaranya ialah perkosaan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini meningkat. Di Jakarta angka perkosaan pada tahun 2002 sebesar 20,22%, Surabaya 165 kasus. Kejahatan seksual, sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, mempunyai kaitan yang erat dengan Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Kedokteran Forensik,

yaitu di dalam upaya pembuktian bahwasannya kejahatan tersebut memang telah terjadi. Adanya kaitan antara Ilmu Kedokteran Forensik dengan kejahatan seksual dapat dipandang sebagai konsekuensi dari pasalpasal di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang memuat ancaman hukuman serta tata cara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk di dalam pengertian kasus kejahatan seksual.

3. Refleksi dari aspek etika moral/medikolegal/sosial ekonomi beserta penjelasan evidence/referensi yang sesuai* *pilihan minimal satu

Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika), juga prima facie dalam penerapan praktiknya secara skematis dalam gambar berikut :

a. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan

pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi. Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat). Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi. Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting. Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi

(termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laikbayang (foreseen effects), letting die.

b. Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. Tindakan berbuat baik (beneficence) General beneficence : melindungi & mempertahankan hak yang lain mencegah terjadi kerugian pada yang lain, menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,

Specific beneficence : menolong orang cacat,

menyelamatkan orang dari bahaya.

c. Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti : Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien Minimalisasi akibat buruk

d. Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Treat similar cases in a similar way = justice within morality. Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan

sebagaifairness) yakni : Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai

kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) Menuntut kemampuan pengorbanan mereka relatif sama, beban diukur sesuai dengan dengan

(kesamaan

kemampuan pasien).

e. Prima Facie : dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-absah sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ilat yang sesuai). Inilah yang disebut pemilihan berdasarkan asas prima facie.

Norma dalam etika kedokteran (EK) : Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan) Fakta fundamental hidup bersusila : Etika mewajibkan dokter secara mutlak, namun sekaligus tidak memaksa. Jadi dokter tetap bebas,. Bisa menaati atau masa bodoh. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah, menyesal, tidak tenang.

Sifat Etika Kedokteran : Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum) Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien). Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed, zelfoplegging) Etika normatif (mengacu ke deontologis, kewajiban ke arah normanorma yang seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri, umum, teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya) Etika profesi (biasa): bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai, normanorma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral Sebagian isinya dilindungi hukum, misal hak kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht) Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi kedokteran. Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori); karena telah berabad-abad, yang-baik & yang-buruk tadi

dituangkan dalam kode etik (sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi)

Isi : 2 norma pokok : sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain; bersikap adil dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).

Etika profesi luhur/mulia : Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan : Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter) Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan cita-cita luhur/etos profesi = lesprit de corpse pour officium nobile

Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan komersialisasi dunia kedokteran.

Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang dapat dilihat pada pasal-pasal yang tertera pada bab XIV KUHP, yaitu bab tentang kejahatan terhadap kesusilaan, yang meliputi baik yang persetubuhan didalam perkawinan maupun persetubuhan diluar perkawinan.

Persetubuhan didalam perkawinan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksud oleh pasal 288 KUHP, ialah bila seorang suami melakukan persetubuhan dengan istrinya yang belum mampu kawin dengan mengakibatkan luka-luka, luka berat atau mengakibatkan kematian.

Pada tindak pidana diatas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terjadi tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia tidak dapat menetukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana ini.

KUHP 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

KUHP 286 Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana pernjara paling lama sembilan tahun.

KUHP 294 Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau anak piaraannya, anak yang dibawah pengawasannya, orang dibawah umur yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangannya atau orang yang dibawah umur, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun.

Pasal 81 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, bahwa: (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan

dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan

persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Selain itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku korban dapat ditentukan sebagai individu yang belum pantas dikawin, yaitu sesuai dengan Undang-undang Perkawinan, Bab II (Syarat-syarat perkawinan) pada pasal 7 ayat (1) berbunyi: perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun, serta Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

4. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence/referensi yang sesuai Imam Malik mengatakan, Menurut pendapat kami, tentang orang yang memperkosa wanita, baik masih gadis maupun sudah menikah, jika wanita tersebut adalah wanita merdeka (bukan budak) maka pemerkosa wajib memberikan mahar kepada sang wanita. Sementara, jika wanita tersebut adalah budak maka dia wajib memberikan harta senilai kurang sedikit dari harga budak wanita tersebut. Adapun hukuman dalam masalah ini hanya diberikan kepada pemerkosa, sedangkan wanita yang diperkosa tidak mendapatkan hukuman sama sekali. (Al-Muwaththa, 2:734) Imam Sulaiman Al-Baji Al-Maliki mengatakan, Wanita yang diperkosa, jika dia wanita merdeka (bukan budak), berhak mendapatkan mahar yang sewajarnya dari laki-laki yang memperkosanya. Sementara, pemerkosa dijatuhi hukuman had (rajam atau cambuk). Ini adalah pendapat Imam Syafii, Imam Al-Laits, dan pendapat yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Sementara, Abu Hanifah dan Ats-Tsauri mengatakan, Dia berhak mendapatkan hukuman had, namun tidak wajib membayar mahar. Kemudian, Imam Al-Baji melanjutkan, Dalil pendapat yang kami sampaikan, bahwa hukuman had dan mahar merupakan dua kewajiban untuk pemerkosa, adalah bahwa untuk hukuman had ini terkait dengan hak Allah, sementara kewajiban membayar mahar terkait dengan hak makhluk. (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa, 5:268).

10

Dari

kitab Ahkamul

Janin

Fil

Fiqhil

Islamiy milik Umar

Ibnu

Muhammad Ibnu Ibrahim Ghanim: Bahwa wanita yang diperkosa yang telah berusaha keras melakukan perlawanan terhadap orang-orang kafir itu dan yang semisal mereka adalah tidak berdosa karena itu dipaksa, sedangkan orang yang dipaksa itu dosanya diangkat di dalam kekafiran yang mana ia itu lebih besar dari zina.

Jika seorang perempuan mengklaim di hadapan hakim (qadhi) bahwa dirinya telah diperkosa oleh seorang laki-laki, sebenarnya dia telah melakukan qadzaf (tuduhan zina) kepada laki-laki itu. Kemungkinan hukum syara yang diberlakukan oleh hakim dapat berbeda-beda sesuai fakta (manath) yang ada, antara lain adalah sbb: Jika perempuan itu mempunyai bukti (al bayyinah) perkosaan, yaitu kesaksian empat laki-laki Muslim, atau jika laki-laki pemerkosa mengakuinya, maka laki-laki itu dijatuhi hukuman zina, yaitu dicambuk 100 kali jika dia bukan muhshan, dan dirajam hingga mati jika dia muhshan. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 358).

Dalil untuk itu adalah Alquran dan sunnah. Dalil Alquran antara lain firman Allah SWT (artinya), Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Anaam [6] : 145).

11

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, A,dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. 1997. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p1-5

Kusuma, S.E dan Yudianto, A. Kejahatan Seksual. Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. 2007. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Universitas Airlangga Surabaya

Idries, AM. Sistematika Pemeriksaan Ilmu Kedokteran Forensik Khusus Pada Korban Kejahatan Seksual. Dalam: Idries AM dan Tjiptomartono, AL. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. 2008. Jakarta: Sagung Seto

London et al. 2005. Disclosure of Child Sexual Abuse. Psychology, Public Policy, and Law 2005, Vol. 11, No. 1, 194226

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Prawirohardjo, S. (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. PERUNDANG-UNDANGAN Soesilo, R, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

12