Anda di halaman 1dari 4

Tri Wahyu Darmawan TK/30883

Minyak Sereh
Oleh Diana S, dkk

Pendahuluan
Sereh merupakan salah satu jenis rumput-rumputan yang sudah sejak lama dibudidayakan di Indonesia. Sereh banyak gunanya, selain sebagai bumbu dapur juga dapat dibuat minyak (minyak sereh), dan juga sebagai obat gosok atau pewangi pada sabun mandi. Untuk menghasilkan minyak sereh murni digunakan cara ekstrasi untuk mendapatkan campuran alkohol dengan minyak sereh dan destilasi untuk memisahkan campuran minyak serah dengan alkohol.

Minyak atsiri
Minyak yang ada di alam dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : minyak mineral (mineral oil), minyak nabati dan hewani yang dapat dimakan, serta minyak atsiri (essential oil). Minyak atsiri dikenal juga dengan nama eteris atau minyak terbang (volatile oil) yang dihasilkan oleh tanaman. Minyak atsiri mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umunya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Dalam bidang industri, minyak atsiri digunakan untuk pembuatan kosmetik, parfum, antiseptik, obat-obatan, flavoung agent dalam makanan atau minuman serta sebagai pencampur rokok kretek. Beberapa jenis minyak atsiri digunakan sebagai bahan astiseptik internal dan eksternal, untuk bahan analgesic, haemolitic atau sebagai antizymatic serta sebagai sedavita dan stimulans untuk obat sakit perut. Minyak atsiri yang baru diekstraksi biasanya tidak berwarna atau ber-warna kekuning-kuningan. Jika minyak atsiri lama di udara terbuka dan terkena cahaya serta pada suhu kamar, maka minyak atsiri tersebut dapat meng-absorbsi oksigen di udara sehingga menghasilkan warna minyak yang lebih gelap, bau minyak berubah dari bau wangi alamiahnya dan minyak lebih kental dan akhirnya membentuk sejenis resin. Minyak atsiri dapat menguap pada suhu kamar dan penguapannya semakin besar seiring dengan kenaikan suhu. Umumnya minyak atsiri larut dalam alkohol encer yang konsentrasinya kurang dari 70%. Daya larut tersebut akan lebih kecil jika minyak atsiri mengandung fraksi terpene dalam jumlah besar. Sifat minyak atsiri ditentukan oleh persenyawaan kimia yang terdapat di dalamnya, terutama persenyawaan tak jenuh (terpene), ester, asam dan aldehida serta beberapa jenis persenyawaan lainnya. Beberapa proses yang dapat mengakibatkan perubahan sifat kimia minyak adalah oksidasi, hidrolisa polimerisasi (resinifikasi) dan penyabunan.

Tri Wahyu Darmawan TK/30883

Komposisi kimia secara umum


Minyak atsiri secara umum terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O), kadang-kadang juga terdiri atas nitrogen (N) dan be-lerang (S). Minyak atsiri me-ngandung resin dan lilin dalam jumlah kecil yang merupakan komponen yang tidak dapat me-nguap. Berdasarkan komposisi kimia dan unsur-unsurnya minyak atsiri dibagi dua, yaitu: hydrocarbon dan oxygeneted hydrocarbon. Hydrocarbon/hidrokarbon memiliki unsur-unsur hidrogen (H) dan karbon (C). Hidrokarbon terdiri atas senyawa terpene. Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar ter-diri atas : monoterpen (2 unit isoprene), sesouiterpen (3 unit isoprene), diterpen (4 unit isoprene), politerpen, parafin, olefin dan hidrokarbon aromatik. Kom-ponen hidrokarbon yang dominan menentukan bau dan sifat khas dari setiap jenis minyak, sebagai contoh minyak jeruk mengandung 90% limonen. Oxygeneted Hydrocarbon mengandung unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Yang termasuk oxygeneted hydrocarbon adalah persenyawaan alkohol, aldehida, keton, oksida, ester dan eter. Ikatan karbon dalam oxygeneted hydro-carbon ada yang jenuh dan ada yang tidak jenuh.

Jenis-jenis minyak atsiri


Minyak atsiri dapat dibuat dari setiap bagian tanaman (daun, bunga, buah, biji, batang/ kulit dan akar. Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri di-perkirakan berjumlah 150 _ 200 spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Com-positae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae.

Apa itu sereh?


Sereh merupakan salah satu jenis rumput-rumputan yang merupakan jenis tanaman tahunan yang membentuk rumpun tebal dengan tinggi sampai 2 meter. Nama ilmiahnya Cymbopogon citratus. Ba-tangnya kaku, keluar dari akar tinggal yang ber-impang pendek. Daunnya berbentuk pita yang makin ke ujung makin meruncing, berwarna hijau kebiru-biruan, lokos dan halus pada kedua permukaannya, tetapi pinggirnya kasar. Jenis ini jarang berbunga. Perbungaannya berupa tandan yang sangat pendek, panjangnya kurang dari 2 cm. Tanaman ini hidup baik di daerah yang udaranya panas maupun basah, sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Cara berkembangbiaknya dengan anak atau akarnya yang bertunas. Supaya daunnya tumbuh subur dan lebat, sebaiknya penanaman dilakukan dengan jarak sekitar 65 cm per baris. Ada kemungkinan Malaysia dan Sri Langka merupakan tempat asal jenis tanaman ini. Karena kerabat yang tumbuh liar belum pernah dijumpai, maka tempat asalnya belum dapat ditentukan secara tepat. Sekarang jenis ini telah tersebar di daerah-daerah tropik lainnya dan ditanam untuk minyaknya, terutama di negara-negara Guatemala, Brazil, Hindia Barat, Indo Cina, Kongo, Republik Malagasy dan Tanzania. Dalam setahun 1 hektar tanah dapat meng-hasilkan rata-rata 30 ton, daun sereh yang dapat di-suling untuk diambil minyak serehnya sebanyak 45 _ 80 kg. Tanaman sereh dapat ditanam di pekarangan rumah atau di tegalan. Perawatan hampir tidak diperlukan. Tanaman ini dapat dipanen setelah berumur 4 _ 8 bulan. Panen dapat dilakukan dengan cara memotong rumpun dekat tanah, setiap 3 _ 4 bulan sampai tanaman berumur 4 tahun.

Tri Wahyu Darmawan TK/30883


Ada dua tipe sereh, yaitu yang disebut mahapengiri atau tipe Jawa dan lenabatu. Kedua tipe ini berbeda dalam pengawakan dan kadar minyaknya. Di Jawa jenis ini dianjurkan untuk ditanam dengan jarak tanam 100 x 1000 cm pada tanah yang subur, sedang pada tanah yang kurus/kurang subur ditanam lebih rapat yaitu 75 x 75 cm. Setelah lebih kurang 6 bulan tanaman sudah dapat dipanen. Dalam musim hujan penenan dilakukan selang 75 hari, sedang dalam musim kemarau selang 90 hari. Hasil daun basah kira-kira 10 _ 15 ton/ha/tahun dengan kadar minyak 0,5% dan 1,2%.

Kegunaan Sereh
Sereh yang biasa kita kenal banyak diguna-kan oleh ibu-ibu rumah tangga sebagai bumbu dapur, penyedap masakan dan kue, serta sebagai pemberi bau harum pada beberapa minuman panas seperti serbat, bajigur dan bandrek. Selain daunnya, sereh juga dapat diambil minyaknya yang dapat digunakan sebagai pewangi sabun mandi atau parfum yang lebih kita kenal sebagai minyak wangi. Jika dicampur dengan bahan-bahan lain seperti minyak kela dan minyak tanah, minyak sereh dapat dijadikan obat gosok untuk melawan nyamuk atau gigitan lintah. Oleh sebab itu tumbuhan inipun disebut sereh obat karena dapat digunakan untuk obat-obatan tradisi-onal.

Bahan dan alat


Minyak sereh dibuat dengan cara ekstrasi dan destilasi dengan menggunakan bahan-bahan dan alat sebagai berikut : kg sereh, alkohol 70%, labu didih (boiling flask), pemanas listrik, kasa kawat dengan lapisan asbes, cooler/liebieg (pendingin) berbentuk bola, 2 buah selang, kertas saring, statif (standart), klem, ekstraktor, labu destilasi, gelas kimia 100 ml dan termometer serta gabus penutup.

Cara kerja
1. Pertama-tama sereh dipotong menjadi 2 bagian, yang diambil bagian bawahnya. Setelah dipotong kecil-kecil dan halus, lalu sebagian dari sereh yang sudah dipotong direndam dalam alkohol selama 1 malam, yang sebagian lagi disimpan di dalam plastik dan ditaruh di lemari es. 2. Sereh yang direndam dalam alkohol dipisahkan dengan cara disaring, lalu yang terpakai adalah cairannya dan sereh yang masih kering. 3. Cairan alkohol_sereh ditaruh di dalam labu didih, lalu sereh yang kering dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam ekstraktor. Setelah itu pasang pemanas listrik dan statif yang berguna untuk menahan labu didih yang ditaruh di atas pemanas listrik dan diberi alas kasa kawat dengan lapisan abses. 4. Di atas labu didih dipasang ekstraktor yang tadi sudah diisi dengan sereh yang dibungkus dengan kertas saring, sedangkan di atas ekstraktor di-pasang cooler, di mana nanti akan diisi dengan air yang masuk dan keluar melalui selang yang dipasang di bagian samping cooler. Untuk air yang masuk selang dihubungkan dengan kran dan sisi cooler bagian samping bawah, sedangkan untuk air yang keluar selang dipasang di bagian samping atas cooler dan airnya dibuang. Setelah semua alat terpasang maka pemanas listrik dan kran dinyalakan, maka mulailah dilakukan ekstraksi. Ekstrasi dilakukan sebanyak 3 kali dan memakan waktu kurang dari 4 jam. 5. Hasil ekstrasi tersebut merupakan campuran minyak sereh dan alkohol. Untuk menghasilkan minyak sereh harus dilakuan destilasi. Cairan hasil ekstraksi ditaruh dalam

Tri Wahyu Darmawan TK/30883


labu didih, lalu labu didihnya ditaruh di atas pemanas listrik dan ditahan dengan statif. Pada bagian atas labu didih dipasang termometer dan gabus penutup yang dihubungkan dengan labu destilasi serta gelas kimia. Setelah dipasang selang pada bagian samping bawah dan atas labu destilasi di mana air masuk melalui bagian samping bawah labu destilasi sedangkan air keluar melalui bagian samping atas. 6. Setelah semua alat terpasang, pemanas listrik dan kran air dinyalakan untuk melakukan destilasi sampai alkohol dan minyak serehnya terpisah. Proses ini memakan waktu kurang lebih satu jam. 7. Hasil dari destilasi tersebut adalah minyak sereh yang tertampung dalam labu didih dan alkohol-nya di dalam gelas kimia.

Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sereh bukan hanya dikenal sebagai bumbu dapur saja tetapi juga dapat meng-hasilkan minyak sereh yang dapat digunakan sebagai pewangi sabun atau parfum yang lebih kita kenal sebagai minyak wangi. Jika dicampur dengan bahan-bahan lain seperti minyak kepala dan minyak tanah maka minyak sereh dapat dijadikan sebagai obat untuk melawan nyamuk atau gigitan lintah. Berguna juga sebagai penyedap masakan dan kue.

Daftar Pustaka
1. 2. 3. 4. Haris, Ruslan,. Tanaman Minyak Atsiri, Penebar Swadaya, Jakarta, 1994. Kartasapoetra, G,. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat, Rineka Cipta, Jakarta, 1996. Kataren, S,. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, Balai Pustaka, Jakarta, 1985. Sastiyopradja, Setijati,. Tanaman Industri Lembaga Biologi Nasiolan LIPI, PT Bina Kancana, Bogor, 1978. 5. Surakitti, Buku Kerja Siswa Kimia 1A, PT Sarana Panca Karya, Bandung, 1995. 6. _______, Buku Ilmu Kimia I, PT Intan Pariwara, Jakarta, 1994.