Anda di halaman 1dari 10

STANDAR PROSEDURE OPERASIONAL (SPO) RONDE KEPERAWATAN

No SPO: No Revisi: Halaman:

SPO S1 4A STIKES HANG TUAH SURABAYA A00

01

1 dari 4

Standar Prosedur Operasional


Pengertian

Tanggal Terbit

Dibuat Oleh

20 juni 2013

Kepala Ruang PAV .VI A

Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat dengan melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan (Nursalam, 2002).

Tujuan

a. Tujuan Umum Menyelesaikan masalah pasien melalui pendekatan berfikir kritis b. Tujuan Khusus Setelah dilaksanakan ronde keperawatan,

mahasiswa/perawat mampu:

1) Menumbuhkan cara berfikir kritis dan sistematis dalam pemecahan masalah keperawatan klieb. 2) Memberikan tinfakan yang berorientasi pada masalah keperawatan klien 3) Meningkatkan kemampuan validitas data klien 4) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan 5) Meningkatkan kemampuan justifikasi 6) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja

Manfaat

a. Masalah pasien dapat teratasi b. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi c. Terciptanya komunitas perawatan yang profesional d. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan e. Perawat dapat melaksanakan model keperawatan dengan tepat dan benar

Kriteria Pasien

Pasien yang dipilih untuk dilakukan ronde keperawatan adalah pasien yang memiliki kriteria sebagai berikut: a. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan b. Pasien dengan kasus baru atau langka

Peran Masing-masing Anggota Tim

a. Peran perawat primer dan perawat assosiate 1) Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien 2) Menjelaskan diagnosis keparawatan 3) Menjelaskan intervensi yang dilakukan 4) Menjelaskan hasil yang didapat 5) Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil 6) Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji

b. Peran perawat konselor 1) Memberikan justifikasi 2) Memberikan reinforcement 3) Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan serta rasional tindakan 4) Mengarahkan dan koreksi 5) Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah

dipelajari

c. Peran Karu 1) Membuka dan memimpin ronde 2) Memimpin Validasi data ke pasien 3) Membuka dan memimpin diskusi 4) Menyimpulkan hasil diskusi dan merekomendasika solusi yang dilakukan dalam mengatasi masalah 5) Memberikan reward dan salam penutup Alur Pelaksanaan Ronde Keperawatan
TAHAP PRA RONDE PP

Penetapan

Persiapan pasien: Inform concernt Hasil pengkajian

TAHAP PELAKSANAAN DI NURSE STATION

Penyajian Masalah

Apa diagnosis keperawatan? Apa data yang mendukung? Bagaimana intervensi yang sudah dilakukan? Apa hambatan yang ditemukan?

TAHAP RONDE PADA BED KLIEN

Validasi Data

Diskusi PP-PP, Konselor, KARU

Lanjutan diskusi di Nurse Station

TAHAP PASCA RONDE

Kasimpulan dan rekomendasi solusi masalah

Kriteria Evaluasi

a. Struktur 1. Persyaratan administratif (informed concernt, alat, dll)

2. Tim

ronde

keperawatan

hadir

di

tempat

pelaksanaan ronde keperawatan 3. Persiapan dilakukan sebelumnya b. Proses 1. Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir 2. Seluruh peserta berperan aktif dalam ronde sesuai peran yang telah ditentukan c. Hasil 1. Pasien merasa puas dengan hasil pelayanan 2. Masalah pasien dapat teratasi 3. Perawat dapat: a. Menumbuhkan cara berfikir yang kritis b. Meningkatkan cara berfikir yang sistematis c. Meningkatkan kemampuan validitas data pasien d. Meningkatakan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan e. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berorientasi pada masalah klien. Referensi Nursalam. 2008. Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

STANDAR PROSEDURE OPERASIONAL (SPO) MANAJEMEN KONFLIK


No SPO: No Revisi: Halaman:

SPO S1 4A A 00 STIKES HANG TUAH SURABAYA


Tanggal Terbit

01

1 dari 4

Dibuat Oleh

Standar Prosedur Operasional


Pengertian 20 Juni 2013 Kepala Ruang PAV .VI A

Konflik adalah perbedaan pandangan atau ide antara satu orang dengan orang yang lain. Dalam organisasi yang dibentuk dari sekumpulan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda konflik mudah terjadi. Demikian juga di Ruang MPKP konflik pun bisa terjadi. Untuk mengantisipasi terjadinya konflik maka perlu dibudayakan upaya-upaya mangantisipasi konflik sedini mungkin di ruang MPKP.

Cara Penanganan Konflik

Cara-cara penanganan konflik ada beberapa macam, meliputi: a. Bersaing Bersaing adalah penanganan konflik di mana seseorang memuaskan atau satu kelompok sendiri berupaya tanpa

kepentingannya

mempedulikan dampaknya pada orang lain atau kelompok lain. Cara ini kurang sehat apabila diterapkan karena bisa menimbulkan potensi

konflik yang lebih besar terutama pada pihak yang merasa dikalahkan. Untuk itu organisasi sebaiknya menghindari metode penyelesaian konflik jenis ini.

b. Berkolaborasi Berkolaborasi adalah upaya yang ditempuh untuk memuaskan kedua belah pihak yang sedang berkonflik. Cara ini adalah salah satu bentuk kerja sama. Berbagai pihak yang terlibat konflik sisorong menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan jalan mencari dan menemukan persamaan

kepentingan dan bukan perbedaan. Situasi yang diinginkan adalah tidak ada satu pihakpun yang dirugikan. Istilah lain cara penyelesaian konflik konflik ini disebut win-win solution. c. Menghindar Menghindar adalah cara menyelesaikan konflik dimana pihak yang sedang berkonfllik mengakui adanya konflik dalam interaksinya dengan orang lain tetapi menarik diri atau menekan konflik tersebut (seakan-akan tidak ada konflik atau masalah). Cara ini tidak dianjurkan dalam upaya penelesaian konflik karena masalah mendasar tidak diselesaikan, penyelesaian yang terjadi adalah penyelesaian sedm. Untuk itu tidak dianjurkan organisasi untuk menggunakan metode ini. d. Mengakomodasi Akomodasi adalah upaya menyelesaikan konflik dengan cara salah satu pihak yang berkonflik menempatkan kepentingan pihak lain yang

berkonflik dengan dirinya lebih tinggi. Salah satu pihak yang berkonflik mengalah kepada pihak yang lain. Ini suatu upaya lose-win solution. Upaya penyelesaian konflik dengan akomodasi sebaiknya juga tidak digunakan terlalau sering karena kepuasan tidak terjadi secara penuh dan bisa

menimbulkan konflik di masa mendatang. e. Berkompromi Kompromi dimana adalah semua cara pihak penyelesaian yang konflik

berkonflik

mengorbankan kepentingannya demi terjalinnya keharmonisan hubungan kedua belah pihak

tersebut. Dalam upaya ini tidak ada salah satu pihak yang menang atau kalah. Ini adalah lose-lose solution di mana masing-masing pihak akan mengorbankan kepentingannya agar hubungan yang dijalin teteap harmonis. Penerapan Manajemen Konflik di MPKP Upaya mengatasi konflik yang diterapkan di MPKP adalah upaya win-win solution yaitu suatu upaya berkolaborasi, untuk itu pembudayaan kolaborasi antar staf menjadi prioritas utama dalam menyelenggarakan pengelolaan ruangan MPKP. Pendekatan penyelesaian konflik yang ditempuh adalah dengan pendekatan penyelesaian masalah (problem solving) yang meliputi:

KARU mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi dengan melakukan klarifikasi pada pihak yang berkonflik

KARU mengidentifikasi penyebab timbulnya konflik

Mengidentifikasi alternatif-alternatif penyelesaian yang mungkin diterapkan

Memilih alternatif penyelesaian terbai untuk diterapkan

Menerapkan solusi pilihan

Mengevaluasi perbedan konflik

Bila pendekatan internal yang telah dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi belum berhasil maka Kepala Ruangan dapat berkonsultasi dengan Kepala Seksi Perawatan atau Konsultan. Evaluasi Penerapan Aktivitas Penyelesaian Konflik Referensi Aktivitas penyelesaian konflik dievaluasi oleh seluruh staf keperawatan MPKP. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan instrumen evaluasi penyelesaian konflik Keliat, Budi., A., et all. 2009. Model Praktek Keperawatan Profesiona Jiwa (MPKP Jiwa). Jakarta: EGC

STANDAR KINERJA
No SPO: No Revisi: Halaman:

SPO S1 4A A00 STIKES HANG TUAH SURABAYA


Tanggal Terbit

01

1 dari 2

Dibuat Oleh

Standar Prosedur Operasional


Atribut 20 Juni 2013 Kepala Ruang PAV .VI A 1. Perawat memakai atribut (seragam) yang sudah disepakati. Adapun seragam yang digunakan terdiri dari 2 macam seragam yaitu seragam praktik biru dan seragam praktik putih. 2. Selama jam dinas di ruangan Pav VI A RSAL. Dr. Ramelan Surabaya, diharapkan perawat memakai

properti yang sudah ditetapkan yaitu: name tag, pin smile ners, kartu nama dari RSAL, kartu identitas perawat, jam tangan yang tidak mencolok. 3. Penampilan wajib bersih, rapi dan wangi. Jadwal Dinas 1. Jadwal dinas pagi pukul 07.00-14.00 WIB, dinas sore 14.00-21.00 WIB dan dina malam 21.00-07.00 WIB. 2. Datang wajib tepat waktu, maksimal 10 menit sebelum shift jaga dimulai. 3. Jika ada perawat yang meninggalkan ruangan, harap izin terlebih dahulu kepada rekan perawat lain yang jaga pada saat itu. 4. Jika ada rekan perawat yang izin, terlambat, bertukar jadwal dinas, harap izin kepada katim. Kinerja 1. Perawat diwajibkan melakukan tindakan

keperawatan sesuai dengan SPO (Standar Prosedur Operasional). 2. Perawat diwajibkan melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan SAK (Standar Asuhan Keperawatan). 3. Perawatn wajib memakai APD selama tindakan keperawatan. 4. Budayakan sikap Peduli dan Gotong royong dalam tugas. 5. Diharapka kepada rekan perawat untuk saling menjaga barang milik rekan perawat lain. Reward Tiap minggu akan terpilih perawat teladan yang disiplin berdasarkan kedisiplinan dalam mematuhi tata tertib ruangan, kekatifan dalam melaksanakan asuhan

keperawatan sesuaiSAK da SPO. Perawat teladan akan mendapat pin bintang yang akan digunakan dan fotonya akan dipajang selama 1 minggu. Punishment 1. Pelanggaran dalam penggunaan atribut akan

dikenakan denda Rp.3000,-per item. 2. Jika perawat datang TERLAMBAT akan dikenakan sanksi berupa menggan 3x jumlah jam terlambat.