Anda di halaman 1dari 20

Darpublic www.darpublic.

com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 1/20

Analisis Aliran Daya
Sudaryatno Sudirham
Dalam analisis rangkaian listrik, dilakukan idealisasi. Sumber dinyatakan sebagai sumber
tegangan ideal atau sumber arus ideal, dan beban dinyatakan sebagai impedansi dengan karakteristik
linier. Sumber tegangan ideal memberikan daya ke rangkaian pada tegangan tertentu, berapapun besar
arus yang dibutuhkan oleh rangkaian; sumber arus ideal memberikan daya ke rangkaian pada arus
tertentu, berapapun tegangan yang diperlukan oleh rangkaian. Oleh karena itu apabila rangkaian
merupakan rangkaian linier, terdapat hubungan linier antara tegangan, arus dan impedansi, sehingga
dalam melakukan analisis kita menghadapi persamaan-persamaan linier. Peubah-peubah rangkaian
yang dilibatkan langsung dalam perhitungan adalah tegangan dan arus, sedangkan daya dihitung
sebegai perkalian tegangan dan arus. Tegangan dan arus memberikan relasi-relasi linier sedangkan
relasi daya tidaklah linier.
Analisis aliran daya pada sistem tenaga, bertujuan untuk melihat bagaimana aliran daya dalam
sistem. Peubah yang terlibat dalan perhitungan adalah daya. Dengan menggunakan daya sebagai
peubah sebagai peubah dalam perhitungan, maka persamaan yang kita hadapi menjadi bukan
persamaan linier. Sumber, merupakan sumber daya yang hanya boleh beroperasi pada batas daya dan
tegangan tertentu. Sementara itu beban adalah bagian rangkaian yang menyerap daya, sehingga ia
dapat dinyatakan sebagai besar daya yang diminta/diperlukan, pada tegangan tertentu. Suatu
permintaan daya hanya dapat dilayani selama pembebanan tidak melampaui batas daya yang mampu
disediakan oleh sumber. Jadi walaupun rangkaian tetap rangkaian linier, namun relasi daya antara
sumber dan beban tidaklah linier. Oleh karena itu jika persamaan rangkaian dengan daya sebagai
peubah merupakan persamaan nonlinier. Dalam memecahkan persamaan nonlinier ini kita
memerlukan cara khusus.
Ketentuan dalam Analisis Aliran Daya
Dalam analisis aliran daya, kita mengambil ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a). Sistem dalam keadaan seimbang; dengan keadaan seimbang ini kita dapat melakukan
perhitungan dengan menggunakan model satu-fasa.
b). Semua besaran dinyatakan dalam per-unit; dengan menggunakan sistem satuan ini kita
terbebas dari persoalan perbedaan tegangan di berbagai bagian sistem yang diakibatkan
oleh pemanfaatan transformator dalam upaya penyaluran daya.
Bus-bus dalam rangkaian sistem tenaga merupakan simpul-simpul rangkaian yang biasa kita
kenal dalam analisis rangkaian listrik. Bus-bus ini dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis:
i) Bus-generator (generator bus), yaitu bus dimana generator dihubungkan melalui transformator.
Daya yang masuk dari generator ke bus-generator ke-i (bus nomer i) dinyatakan sebagai
Gi Gi Gi
jQ P S + = (1)
Dari bus ke-i ini, daya mengalir ke dua jurusan; jurusan yang pertama adalah langsung ke beban
(jika ada) yang terhubung ke bus ini dan yang kedua adalah menuju saluran transmisi di mana
daya akan mengalir ke tempat lain yang jauh. Daya yang langsung menuju beban dinyatakan
dengan
Bi Bi Bi
jQ P S + = (2)
sehingga daya yang menuju saluran transmisi di bus-i ini menjadi
Bi Gi i i i
S S jQ P S = + = (3)
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 2/20

ii) Bus-beban (load bus), yaitu bus yang tidak terhubung ke generator tetapi terhubung hanya ke
beban. Dari bus-beban ke-j (nomor bus j) mengalir daya menuju ke beban sebesar S
Bj
. Daya yang
masuk ke bus beban ini berasal dari saluran transmisi, yang dapat kita katakan bahwa daya
mengalir dari bus-beban menuju saluran transmisi tetapi dengan tanda negatif; jadi daya yang
keluar dari bus-beban ke-j adalah sebesar
Bj j
S S = (4)
iii) Slack Bus. Jika kita hanya memperhatikan daya sumber dan daya beban, teorema Tellegen tidak
akan terpenuhi karena masih ada daya keluar dari rangkaian yang tidak diketahui yaitu daya yang
diserap oleh saluran dan transformator. Oleh karena itu, untuk keperluan analisis, jika tegangan
semua bus-beban diketahui, baik melalui dugaan perhitungan maupun ditetapkan, tegangan bus-
generator juga harus dapat ditetapkan, maka ada satu bus yang dibiarkan mengambang; bus
mengambang ini disebut slack bus. Slack bus seolah berfungsi sebagai simpul sumber bebas
(dalam analisis rangkaian listrik yang biasa kita kenal) yaitu sumber atau bus generator yang
memberikan tegangan sesuai dengan permintaan sistem. Dengan cara ini maka teorema Tellegen
akan bisa dipenuhi.
Persamaan Arus-Tegangan
Persamaan aliran daya yang tidak linier sebagaimana dijelaskan di atas, harus diturunkan
melalui persamaan arus dan tegangan karena persamaan arus dan tegangan ini merupakan persamaan
linier yang sudah biasa kita hadapi. Pada bus generator terhubung generator ke bus melalui
transformator. Karena dalam penurunan persamaan ini kita menggunakan sistem per-unit, maka
impedansi transformator dapat disatukan dengan impedansi generator sehingga transformator tak
perlu digambarkan lagi dalam diagram satu garis untuk analisis ini.
Sistem Dengan Dua Bus. Gb.1. berikut ini memperlihatkan diagram satu garis dan model
satu-fasa suatu sistem yang terdiri dari hanya dua bus; keduanya adalah bus generator, yaitu
bus-1 dan bus-2. Kedua bus dihubungkan melalui saluran transmisi dan di masing-masing bus
terhubung beban yang menarik arus
1 B
I dan
2 B
I .


Gb.1. Model satu-fasa. Diagram dan rangkaian ekivalen.

ekivalen rangkaian pada ansmisi saluran tr paralel admitansi :


ekivalen rangkaian dalam bus antar seri impedansi :
2. - bus dan 1 - bus dari (langsung) beban arus : ,
2 - bus dan 1 - bus dari ansmisi saluran tr ke arus : ,
netral - fasa tegangan : ,
generator fasa per daya : ,
12
2 1
2 1
1 1
2 1
p
B B
G G
y
z
S S
I I
I I
V V


Diagram rangkaian
Rangkaian ekivalen
1 G
S 2 G
S
2 B
S
1
I
2
I
p
y
p
y
s
z
1 - bus
2 - bus
1 B
S
1 G
S
2 G
S
1
V
2
V
1
I
2
I
1 B
I
2 B
I
1 - bus 2 - bus
saluran transmisi
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 3/20

Kita tinjau bus-1. Arus yang keluar dari bus-1 ke saluran transmisi adalah
2 12 1 12 2 1 12 1 1
) ( ) ( V V V V V I y y y y y
p p
+ = + = (5.a)
dengan
12 12
/ 1 z y = adalah admitansi transfer antara bus-1 dan bus-2.
Admitansi total yang dilihat oleh bus-1 didefinisikan sebagai
12 11
y y Y
p
+ = (5.b)
Dengan pengertian ini maka relasi (5.a) dapat ditulis
2 12 1 11 1
V V I y Y = (6.a)
Dengan pengertian yang sama, kita peroleh relasi untuk bus-2 sebagai
1 12 2 22 2
V V I y Y = (6.b)
Dengan demikian kita memperoleh persamaan untuk sistem dengan dua bus (dengan mengubah
urutan penulisan pada (6.b)
1 22 1 12 2
2 12 1 11 1
V V I
V V I
y Y
y Y
+ =
=
(7)
Sistem Dengan Tiga Bus. Untuk sistem dengan tiga bus, relasi (7) dikembangkan
menjadi
3 33 23 2 12 3
3 23 1 22 1 12 2
3 13 2 12 1 11 1
V V V I
V V V I
V V V I
Y y y
y Y y
y y Y
+ =
+ =
=
(8.a)
Secara formal, penulisan persamaan (8.a) adalah
3 33 23 2 12 3
3 23 1 22 1 12 2
3 13 2 12 1 11 1
V V V I
V V V I
V V V I
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
+ + =
+ + =
+ + =
(8.b)
dengan
ij ij
y Y = . Persamaan (8.b) dapat kita tuliskan dalam bentuk matriks sebagai
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

3
2
1
33 23 13
23 22 12
13 12 11
3
2
1

V
V
V
I
I
I
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
(9)
Sistem Dengan n Bus. Persamaan untuk sistem dengan tiga bus (9) dikembangkan untuk
sistem dengan n bus menjadi
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(

=
(
(
(
(
(
(

n nn n n n
n
n
n
n
Y Y Y Y
Y Y Y Y
Y Y Y Y
Y Y Y Y
V
V
V
V
I
I
I
I
.

.
. . . . .
.
.
.
.
3
2
1
3 2 1
3 33 23 13
2 23 22 12
1 13 12 11
3
2
1
(10.a)

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 4/20

Persamaan (10.a) ini dapat kita tulis dengan ringkasn menjadi:
bus bus bus
Y V I
~
] [
~
= (10.b)

Persamaan Aliran Daya
Persamaan aliran daya dapat kita turunkan dengan memperhatikan arus yang mengalir ke
saluran transmisi di setiap bus (tidak termasuk arus ke beban langsung). Untuk bus ke-i dalam sistim
dengan n bus, kita dapatkan

=
=
n
j
j ij i
Y
1
V I (11)
j V
j i Y Y
n i j
j j j j
ij ij ij ij
bus di tegangan fasa sudut ;
dan - bus antara admitansi fasa sudut ;
; ... , ... 2, , 1
= =
= =
=


V

Dengan persamaan (11) ini kita dapat menghitung daya dari bus-i yang menuju saluran transmisi,
yaitu
( )
i i
n
j
j j ij ij i i
n
j
j ij i i i i
jQ P V Y V
Y S
+ = =
= =

=
=


) (
1
1

V V I V
(12)
dengan
|
|

\
|
=
|
|

\
|
=

= =
n
j
j ij i j ij i i
n
j
j ij i j ij i i
V Y V Q V Y V P
1 1
) sin( dan ) cos( (13)
Perhatikan bahwa S
i
adalah daya yang mengalir ke saluran transmisi. Hubungan dengan daya
generator bisa diperoleh melalui relasi (3) yaitu
Bi Gi i i i
S S jQ P S = + =
sehingga
|
|

\
|
=
|
|

\
|
=

=
=
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
Y V V Q Q
Y V V P P
1
1
) sin(
dan ) cos(


(14)
Persamaan (14) adalah dua persamaan yang kita peroleh untuk setiap bus-i. Dalam persamaan
ini terdapat enam besaran peubah yang terkait dengan bus yang bersangkutan, yaitu
i i Bi Bi Gi Gi
V Q P Q P dan , , , , , (15)
Besaran yang lain adalah peubah di luar bus-i.

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 5/20

Jika bus-i adalah bus-generator, maka sebagian besaran yang terdapat pada persamaan (14)
merupakan besaran yang diketahui atau ditentukan:
- P
Bi
dan Q
Bi
adalah daya beban yang diketahui.
- P
Gi
merupakan besaran yang diketahui karena daya nyata ini bisa ditentukan dengan mengatur
masukan uap di turbin misalnya.
- V
i
juga tertentu besarnya karena bisa di atur melalui arus eksitasi.
- Q
Gi
walaupun tidak diketahui namun, akan tertentu besarnya jika tegangan dan sudut fasa di bus
yang lain diketahui.
- dengan demikian hanya tinggal satu peubah yang harus dihitung yaitu
i
(sudut fasa tegangan di
bus-i).
Jika bus-i adalah bus-beban, tak ada generator terhubung ke sini; P
Gi
dan Q
Gi
bernilai nol, dan
Bi i Bi i
Q Q P P = = dan keduanya diketahui (tanda minus pda P
Bi
dan Q
Bi
diberikan karena daya
dianggap mengalir ke saluran). Dengan demikian untuk bus-beban hanya ada dua besaran peubah
yang harus dihitung yaitu tegangan dan sudut fasanya, V
i
dan
i
.
Jadi di setiap bus pada dasarnya hanya ada dua atau satu peubah yang harus dicari, yaitu V
i
dan

i
di bus-beban dan
i
di bus-generator. Dalam satu jaringan transmisi yang terdiri dari total n bus,
dengan n
G
bus-generator dan satu slack-bus, terdapat besaran yang harus dihitung sebanyak
G
n n = ) 1 ( 2 dihitung harus besaran (16)
Kebanyakan bus dalam sistem tenaga adalah bus-beban; hanya sebagian kecil dari total jumlah bus
merupakan bus-generator.
Proses Pencarian Solusi
Solusi suatu persamaan aliran daya adalah mencari profil tegangan di semua bus dalam suatu
sistem tenaga. Karena persamaan daya merupakan persamaan non-linier, maka solusi dilakukan
dengan cara iterasi. Proses pencarian solusi adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan data teknis dari jaringan, tentukan elemen-elemen dari matriks [Y
bus
].
2. Pada bus-beban tentukan P
B
dan Q
B
.
3. Pada bus-generator tentukan nilai tegangan bus V dan P
G
.
4. Buat slack-bus (bus nomer-1) bertegangan
o
1
0 1 = V .
5. Asumsikan profil tegangan dan sudut fasanya, Vdan , bus yang lain.
6. Masukkan data [Y
bus
] danprofil tegangan yang diasumsikan ke persamaan (14) untuk mencari P
i

dan Q
i
. Setiap kali iterasi dilakukan, bandingkan hasil perhitungannya dengan besaran yang
ditetapkan sesuai langkah-2 dan langkah-3 atau hasil perhitungan sebelumnya.
7. Selisih yang diperoleh pada langkah-6, digunakan sebagai dasar untuk melakukan koreksi pada
langkah iterasi berikutnya sedemikian rupa sehingga selisih tersebut menjadi semakin kecil.
8. Ulangi langkah-langkah iterasi sampai selisih yang didapat mencapai nilai kecil yang dapat
diterima. Profil tegangan pada situasi terakhir ini menjadi solusi yang dicari.

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 6/20

Metoda Newton-Raphson
Formula Iterasi Persamaan Rekursi. Dalam buku buku referensi, formula iterasi biasanya
diturunkan melalui penguraian fungsi nonlinier menjadi deret Taylor dan mengabaikan suku-
suku dengan orde tinggi. Di sini kita akan menurunkannya melalui pengamatan grafis.
Persamaan dengan Peubah Tunggal. Kita misalkan sebuah persamaan nonlinier dengan
peubah tunggal
0 ) ( = x p (17)
dan kita akan mencari solusinya dengan cara iterasi. Ruas kiri persamaan ini dapat kita pandang
sebagai sebuah fungsi, dan kita misalkan fungsi ini adalah kontinyu dalam domain yang ditinjau.
Kita dapat menggambarkan kurva fungsi ini di bidang px; nilai x sebagai solusi adalah titik
potong kurva dengan sumbu-x, yaitu
sol
x , seperti terlihat pada Gb.2 di bawah ini. Indeks atas
digunakan untuk menunjukkan langkah iterasi; misalnya x
0
adalah iterasai ke-0 yaitu dugaan
awal, x
1
adalah iterasi ke-1, dan seterusnya.

Gb.2. Proses iterasi untuk persamaan 0 ) ( = x p .
Langkah pertama adalah menentukan dugaan awal solusi persamaan, yaitu x
0
. Jika kita
masukkan solusi dugaan ini ke dalam persamaannya, kita memperoleh ) (
0
x p . Antara ) (
0
x p ini
dengan nilai yang ditentukan pada persamaan (17) yaitu 0, terdapat selisih sebesar
) ( 0 ) (
0 0
x p x p = ; perhatikan bahwa selisih ini bernilai negatif. Karena terjadi selisih
tersebut, kita melakukan dugaan solusi baru yaitu x
1
yang mendekati x
sol
; dugaan baru ini kita
masukkan ke persamaan, dan akan memberikan ) (
1
x p . Jika ) (
1
x p belum juga bernilai nol
sebagaimana diharapkan, kita coba lagi nilai x
2
, dan demikian seterusnya sampai kita memperoleh
suatu nilai x yang memberikan 0 ) ( = x p atau sangat dekat dengan 0.
Menetukan x
1
secara efektif dilakukan sebagai berikut. Setelah dugaan solusi x
0
memberikan
p(x
0
), kita buat garis singgung pada kurva di titik p(x
0
) yaitu
0
/ dx dp ; garis singgung ini akan
memotong sumbu-x di x
1
yang berposisi tergeser sebesar
0
x dari posisi x
0
. Karena
0 0
0
/ ) ( / x x p dx dp = maka
0
0
0
) / (
) (
dx dp
x p
x

= . Karena ) (
0
x p bernilai negatif maka x
1
kita tentukan
dengan formula:
0
0
0 0 0 1
) / (
) (
dx dy
x p
x x x x

+ = + =
x
1
akan memberikan ) (
1
x p yang memungkinkan kita menghitung
1
1 1
) / ( / ) ( dx dp x p x =
yang akan memberikan x
2
; dan demikian seterusnya sampai kita mendapatkan
n
x yang akan
memberikan 0 ) (
n
x p .
p
x
sol
x
0
dx
dp
0
x
1
x
) (x p
) (
0
x p
0
x
1
x
2
x
) (
1
x p
) (
2
x p
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 7/20

Secara umum formulasi dari proses iterasi ini dapat kita turunkan sebagai berikut:
Jika x
k
adalah nilai x untuk iterasi ke-k maka
1
1
1
) / (
) (


+ =
k
k
k k
dx dp
x p
x x (18)
Persamaan (18) inilah persamaan rekursi atau formula iterasi.
Uraian di atas adalah untuk persamaan (17) dimana ruas kanan bernilai nol. Kita tinjau
sekarang persamaan dengan ruas kanan tidak bernilai nol, yang kita tuliskan sebagai
P x p = ) ( (19)
denganP adalah tetapan. Ruas kiri (19) kita pandang sebagai fungsi x dengan kurva seperti pada
Gb.2; akan tetapi solusi x
sol
yang dicari adalah nilai x pada titik potong antara p(x) dengan garis P
sejajar sumbu-x . Situasi ini digambarkan pada Gb.3.

Gb.3. Proses iterasi untuk persamaan P x p = ) ( .
Untuk persamaan (19) ini
0
x adalah

) / (
0
0
0
dx dp
p P
x
x
+
= (20)
Kita coba untuk memahami persamaan terakhir ini. ) (
0 0
x p P p
x
= adalah perbedaan antara
nilai fungsi yang seharusnya, yaitu P, dengan nilai fungsi jika dugaan awal peubah x
0
kita
terapkan; perbedaan ini bernilai negatif. Perbedaan ini harus dikoreksi dengan mengoreksi dugaan
awal sebesar x
0
sehingga nilai peubah berubah dari x
0
menjadi
0 0 1
x x x + = ; koreksi inilah
koreksi terhadap dugaan awal. Setelah koreksi awal ini, perbedaan nilai fungsi terhadap nilai
seharusnya adalah ) (
1 1
x p P p = yang lebih kecil dari
0
p yang berarti nilai fungsi mendekati P.
Koreksi peubah kita lakukan lagi untuk lebih mendekat lagi ke P; langkah koreksi ini merupakan
iterasi pertama. Pada iterasi pertama ini kita akan memperoleh perbedaan ) (
2 2
x p P p
x
=
yang mungkin masih harus di koreksi lagi pada itersi ke-dua. Demikian seterusnya sampai kita
peroleh 0 )) ( (
n
x p P . Dalam perjalanan menuju P tersebut alur yang kita lewati adalah kurva
p(x). Secara umum, pada iterasi ke-k kita akan mempunyai persamaan yang memberikan
perbedaan nilai fungsi dengan nilai seharusnya, yaitu
k
k
k
x dx dp p = ) / ( (21)
Dengan pemahaman ini kita lanjutkan pengamatan pada suatu persamaan dengan dua peubah.

p
x
0
x
) (
0
x p
sol
x
0
/ dx dp
1
x
0
x
2
x
1
x
P
) (x p
) ( ) (
1 0
x p x p
) (
1
x p
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 8/20

Persamaan Dengan Dua Peubah. Sepasang persamaan dengan dua peubah kita tuliskan
sebagai
Q y x q
P y x p
=
=
) , (
) , (
(22)
denganP dan Q adalah tetapan. Kita harus melakukan iterasi untuk dua peubah x dan y. Dugaan
solusi awal memberikan persamaan yang merupakan pengembangan dari (21) yaitu
0
0
0
0
0 0 0
0
0
0
0
0 0 0
) / ( ) / ( ) , (
) / ( ) / ( ) , (
y y q x x q y x q P q
y y p x x p y x p P p
+ = =
+ = =
(23)
yang dapat kita tuliskan dalam bentuk matriks
0
0
0 0 0
/ /
/ /
(

=
(



=
(

y
x
J
y
x
y p x p
y p x p
q
p
(24)
Matriks 22 turunan parsial terhadap x dan y disebut jacobian dan dinyatakan dengan simbol J.
Apabila p
0
dan q
0
tidak bernilai nol maka
( )
0
0
1
0
(

=
(


q
p
J
y
x
(25)
Inilah persamaan untuk menentukan besar koreksi yang harus dilakukan setelah kita membuat
dugaan awal. Dengan (25) ini dapat dihitung x
0
dan y
0
sehingga dapat diperoleh x
1
dan y
1
guna
iterasi selanjutnya.
0 1
(

+
+
=
(

y y
x x
y
x
(26)
Persamaan (26) ini adalah langkah iterasi ke-1. Secara umum, pada langkah ke-k kita mempunyai
identitas dan persamaan-persamaan sebagai berikut:
( )
k
k
k
k
k
k
k
k
k k
q
p
J
y
x
y p
x p
J
y
x
J
q
p
y p P
x p P
q
p
(

=
(



=
(

=
(

1
4).
;
/
/
). 3
; 2).
;
) (
) (
). 1
(27)
Kita perhatikan persamaan ini. Persamaan pertama dari (27), yang berupa identitas, akan
menentukan perlu tidaknya dilakukan koreksi (iterasi) lagi terhadap hasil perhitungan sebelumnya;
oleh karena itu persamaan pertama tersebut disebut corrective force. Identitas ini menjadi ruas kiri
persamaan ke-dua, yang terkait dengan koreksi peubah yang harus dilakukan melalui jacobian J
k

yang nilainya diberikan oleh persamaan ke-tiga. Besar koreksi yang harus dilakukan diberikan oleh
persamaan ke-empat. Setelah koreksi dilakukan, kita kembali pada persamaan pertama untuk
melihat perlu tidaknya iterasi dilanjutkan lagi.

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 9/20

Aplikasi Metoda Newton-Raphsin Pada Analisis Aliran Daya
Berapa banyak peubah yang harus ditentukan dalam satu jaringan transmisi diberikaan oleh
persamaan (16). Namun dalam menuliskan persamaan aliran daya, kita memperlakukan semua
bus sebagai bus-beban, agar penulisan lebih terstruktur; ini berarti bahwa semua bus megandung
dua peubah yaitu tegangan dan sudut fasanya, walaupun ada peubah yang sudah ditetapkan di
beberapa bus-generator.
Karena slack-bus ditetapkan sebagai bus nomer-1, dengan tegangan pu 0 1
o
, maka kita
bekerja mulai dari bus-2, dan nilai peubah yang harus dicari agar persamaan aliran daya terpenuhi
adalah tegangan serta sudut fasa di setiap bus yaitu (V
2
, V
3
, V
i
,..., V
n
) dan (
2
,
3
, .,
i
,
n
).
Pengembangan dari persamaan (28) untuk jaringan transmisi dengan n bus adalah sebagai
berikut:
k
nk k n n
nk k
nk k n n
nk k
nk k
n
n
k
V q Q
V q Q
V p P
V p P
V p P
q
q
p
p
p
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
) ,......., (
) ,......., (
) ,......., (
) ,......., (
) ,......., (
~
. ) 1
2
2 2 2
2
2 3 3
2 2 2
2
3
2
M
M
M
M
u
(28.a)
k k k
x J u =
~
). 2 (28.b)
k
n
n
n
n n n
n n
n
n n
n
n n n
n n
n n
k
q q
V
q
V
q
V
q
q q
V
q
V
q
V
q
p p
V
p
V
p
V
p
p p
V
p
V
p
V
p
p p
V
p
V
p
V
p
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
2
2 3 2
2
2
2 2
3
2
2
2
2 3 2
3
2
3 3
3
3
2
3
2
2
2 2
3
2
2
2
). 3
L L
M
L L
L L
M
L L
L L
J
(28.c)
( )
k
k
k
n
n
k
V
V
V
u J x
~ ~
). 4
1
2
3
2
=
(
(
(
(
(
(
(
(
(



M
M
(28.d)
Kiranya perlu kita fahami arti dari persamaan-persamaan (28) ini, sebelum kita melangkah
lebih lanjut.

k
u
~
adalah vektor yang berisi perbedaan nilai daya di setiap bus terhadap nilai daya
yang ditetapkan/diperoleh di bus yang bersangkutan pada iterasi ke-k, baik daya nyata
maupun daya reaktif.
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 10/20


k
x
~
adalah vektor yang berisi koreksi peubah di setiap bus, yaitu tegangan dan sudut
fasanya, yang diperoleh pada iterasi ke-k untuk melakukan iterasi selanjutnya. Pada
waktu menetapkan dugaan awal misalnya, diperoleh
0 ~
x untuk melakukan koreksi
pada iterasi ke-1; pada itersai ke-1 diperoleh
1 ~
x untuk melakukan koreksi pada
iterasi ke-2; dan seterusnya.
Matriks jacobian adalah matriks yang berisi laju perubahan daya, baik daya nyata
maupun reaktif, terhadap perubahan tegangan maupun sudut fasa di setiap bus.
Perhatikan bahwa daya merupakan fungsi semua peubah di setiap bus.Oleh karena itu
perbedaan nilai daya di setiap bus dengan daya yang diperoleh dalam perhitungan
pada iterasi ke-k, merupakan hasil kali matriks jacobian pada iterasi ke-k dengan
vektor koreksi tegangan maupun sudut fasa pada iterasi ke-k. Jika matriks jacobian
tidak bernilai nol, yang berarti bahwa dalam peninjauan secara grafis (pada
persamaan dengan peubah tunggal misalnya), garis singgung pada kurva tidak sejajar
dengan sumbu-x, besaran koreksi dapat dihitung dengan relasi (28.d),
( )
k
k
k
u J x
~ ~

1
=

. Inversi matriks jacobian dalam relasi ini, akan kita fahami
dengan meninjau sistem dengan dua bus seperti dalam contoh berikut.
CONTOH Sistem Dua Bus
Untuk melihat aplikasi dalam perhitungan, kita akan melihat sistem dua bus seperti pada
gambar berikut. Contoh ini diambil dari buku referensi, sedangkan perhitungan-perhitungan
akan dilakukan secara manual dengan menggunakan excel. Dengan cara ini kita akan
memahami langkah demi langkah proses perhitungan; angka hasil perhitungan yang kita
lakukan dengan cara ini sedikit berbeda dengan angka yang tercantum dalam buku referensi
karena pembulatan angka desimal. Diagram rangkaian untuk contoh ini terlihat pada halaman
berikut, dimana saluran transmisi digambarkan sebagai rangkaian ekivale .

Bus-1 adalah bus-generator tanpa beban langsung.Bus-2 adalah bus-beban.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data jaringan; kemudian data
jaringan ini kita nyatakan dalam per unit dengan memilih suatu nilai basis tertentu. Data
jaringan adalah:
S 75,65 0,011865 011495 , 0 002942 , 0
S 10 27 , 0
S 011765 , 0 002941 , 0 96 , 75 012127 , 0 96 , 75 4621 , 82 / 1
96 , 75 4621 , 82 80 20
o
12 22 11
3
o o
12
o
12
= = + = =
=
= = =
= + =

j y y y y
j y
j y
j z
p
p

Kemudian kita tetapkan nilai basis dan menyatakan besaran-besaran dalam per-unit, termasuk
besaran yang ditetapkan.
Nilai Basis:

S 001890 , 0 529 / 1 ; 529 230 / 100
kV 230 ; MVA 100
2
= = = =
= =
basis basis
basis basis
Y Z
V S

pu 0 1
o
1
= V
1 - bus
2 - bus 1 1
,Q P
80 20
12
j z + =
S 10 27 , 0
3
=
p
y p
y
pu 1 1

2
j
S
B
+
=
pu
2 2 2
= V V
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 11/20

Besaran dalam per-unit:

o
22 11 22 11
o
21 12
21 12
12 21 12
65 , 75 ; 2766 , 6
04 , 104 180 96 , 75
4151 , 6 00189 , 0 / 012127 , 0
= = = =
= + = =
= = =
= =
Y Y
Y Y
y Y Y

Nilai-nilai peubah dan daya yang ditetapkan di bus adalah:
dihitung) (harus dan
; 1 ; 1 : beban) - (bus 2 -
0 ; 1 : ) (sebagai 1 -
2 2
2 2
o
1 1

= =
= =
V
Q P Bus
V bus slack Bus


Matriks Y-bus. Dari data jaringan kita peroleh matriks [Y
bus
] sebagai berikut
[ ]
(
(



=
(

=
o o
o o
22 21
12 11
64 , 75 2766 , 6 04 , 104 4151 , 6
04 , 104 4151 , 6 64 , 75 2766 , 6
Y Y
Y Y
bus
Y (29)
Persamaan Aliran Daya dan Jacobian. Secara umum, persamaan aliran daya di bus-i adalah
) sin(
) cos(
1
2
1
2
j ij j
n
j
ij i i
j ij j
n
j
ij i i
V Y V q
V Y V p
=
=

=
=

Karena bus-1 menjadi slack bus sedangkan system ini terdiri dari hanya dua bus, maka
perhitungan hanya dilakukan untuk bus-2. Persamaan daya untuk bus-2 dalam contoh ini
menjadi
)] sin( ) sin( [
)] sin( ) sin( [
] cos( ) cos( [
)] cos( ) cos( [
22 2 22 1 21 2 1 21 2
2 22 2 2 22 1 21 2 1 21 2 2
22 2 22 1 21 2 1 21 2
2 22 2 2 22 1 21 2 1 21 2 2
+ =
+ =
+ =
+ =
V Y V Y V
V Y V Y V q
V Y V Y V
V Y V Y V p
(30)
Daya nyata maupun reaktif untuk bus-2, dituliskan dengan huruf kecil karena ia masih akan
berubah menuju nilai yang ditetapkan yaitu P
2
= 1 dan Q
2
= 1.
Sebenarnya, nilai yang sudah diketahui (ditetapkan) yaitu 0 , 1
1 1
= = V di slack bus, dan
elemen-elemen matriks [Y
bus
], dapat kita masukkan ke dalam persamaan daya ini dan kita akan
mendapatkan persamaan yang lebih sederhana. Namun karena kita akan menggunakan excel,
kita biarkan persamaan aliran daya ini seperti apa adanya agar mudah ditelusuri dalam
spreadsheet.
Karena kita hanya menghadapi dua persamaan daya, yaitu persamaan p
2
dan q
2
dengan dua
peubah yaitu V
2
dan
2
, maka matriks jacobian akan berukuran 22.
(



=
2 2 2 2
2 2 2 2
/ /
/ /
V q q
V p p
J (31.a)
dengan elemen-elemen:

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 12/20

)] sin( 2 ) sin(
) cos(
] cos( 2 ) cos(
) sin(
22 2 22 1 21 2 1 21
2
2
1 21 2 1 21 2
2
2
22 2 22 1 21 2 1 21
2
2
1 21 2 1 21 2
2
2
+ =

+ =

V Y V Y
V
q
V Y V
q
V Y V Y
V
p
V Y V
p
(31.b)
Dugaan Awal dan Iterasi. Kita buat dugaan awal yaitu nilai awal daya di bus-2. Seberapa
dekat nilai dugaan yang kita buat ini ke nilai yang ditetapkan, akan menentukan seberapa cepat
kita sampai ke iterasi terakhir. Kita coba dugaan awal
(

=
(
(

1
0
~
0
2
0
2 0
V
x
(32)
Kita masukkan dugaan awal ini ke persamaan aliran daya (30) untuk mendapatkan nilai
0
2
0
2
dan q p . Dari sini kita peroleh corrective force:
(
(



==
(

=
0
2
0
2
0
2
2 0
1
1
~
q
p
q
p
u (33)
Corrective force menentukan besar koreksi yang harus dilakukan, yaitu koreksi atas dugaan
awal yang kita buat. Koreksi itu adalah:
( ) ( )
(
(



= =
(
(




0
2
0
2
0
1 0
0
1
0
2
0
2 0
1
1
~ ~
q
p
V
J u J x (34)
Setelah dugaan awal dikoreksi, hasil koreksi menjadi besaran-besaran pada iterasi berikutnya
yaitu iterasi ke-1. Formulasi (29) sampai dengan (34) kita gunakan dalam perhitungan
menggunakan excel. Semua besaran akan berubah setiap kali iterasi, kecuali besaran yang sudah
ditetapkan, P
2
, Q
2
, dan elemen matriks [Y
bus
].
Hasil Perhitungan. Dalam perhitungan ini, sudut fasa tegangan dinyatakan dalam radian.
Perhitungan jacobian inversi dilakukan dengan eliminasi Gauss-Jordan. Berikut ini ditulis lagi
data [Y
bus
] , persamaan aliran daya, kemudian diberikan hasil perhitungan dalam tabel. Elemen
matriks jacobian dan inversinya langsung dicantumkan dalam tabel.
[ ]
(
(



=
(

=
o o
o o
22 21
12 11
64 , 75 2766 , 6 04 , 104 4151 , 6
04 , 104 4151 , 6 64 , 75 2766 , 6
Y Y
Y Y
bus
Y
(
(

+
+
=
(

) sin( ) ( ) sin(
) cos( ) ( ) cos(
22
2
2 22 1 21 2 1 21 2
22
2
2 22 1 21 2 1 21 2
2
2
V Y V Y V
V Y V Y V
q
p

(

+
+
=
)] sin( 2 ) sin( ) cos(
] cos( 2 ) cos( ) sin(
22 2 22 1 21 2 1 21 1 21 2 1 21 2
22 2 22 1 21 2 1 21 1 21 2 1 21 2
V Y V Y V Y V
V Y V Y V Y V
J

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 13/20



Besaran Awal Iterasi ke-1

P
2
-1
(tetapan)
Q
2
-1

2
0
(dugaan awal)
-0.1169 (koreksi atas
dugaan awal) V
2
1 0.8250
substitusi ke
persamaan

p
2
5.29E-06 -0.8149

q
2
-0.14283 -0.8109
Corrective
force

p
2
-1.0000

-0.1851

q
2
-0.8572 -0.1891
Elemen jacobian
6.2235 1.5559 4.9496 0.2959
-1.5559 5.9379 -1.8739 4.0337
Elemen jacobian inversi
0.1508 -0.0395 0.1966 -0.0144
0.0395 0.1581 0.0913 0.2412
Koreksi

2
-0.1169

-0.0337

v
2
-0.1750 -0.0625


Besaran Iterasi ke-2 Iterasi ke-3

P
2


Q
2

2
-0.1506
(koreksi atas
iterasi ke-1)
-0.1552
(koreksi atas
iterasi ke-2) V
2
0.7625
0.7535
substitusi ke
persamaan

p
2
-0.9803 -0.9996

q
2
-0.9784 -0.9996
Corrective
force

p
2
-0.0197

-0.0004

q
2

-0.0216 -0.0004
Elemen jacobian
4.5137 -0.0993 4.4518 -0.1543
-1.8849 3.3532 -1.8830 3.2551
Elemen jacobian inversi
0.2243 0.0066 0.2292 0.0109
0.1261 0.3020 0.1326 0.3135
Koreksi

2
-0.0046

-0.0001

v
2
-0.0090 -0.0002


Besaran Iterasi ke-4 Iterasi ke-5

P
2


Iterasi ke-5 tidak
dilakukan.

Pada iterasi ke-4
p
2
dan q
2
sudah
dianggap sama
dengan P
2
dan Q
2

yang ditetapkan.
Daya di slack
bus:
P
1
= 1.1229
Q
1
= 1.2677
Q
2

2
-0.1553
(koreksi atas
iterasi ke-3)

V
2

0.7533

substitusi ke
persamaan

p
2
-0.99999983
1
q
2
-0.99999981 1
Corrective
force

p
2
-2.0000


q
2

-2.0000

Elemen jacobian
4.4505 -0.1554
-1.8829 3.2531
Elemen jacobian
inversi

0.2293 0.0110
0.1327 0.3137

Koreksi

2
-0.4806


v
2
-0.8930
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 14/20


Sampai iterasi ke-3, 1 9996 . 0
2
= p dan 1 9996 . 0
2
= q . Pada iterasi ke-4 nilai
tersebut sudah dapat dikatakan sama dengan nilai P
2
dan Q
2
yang ditetapkan. Oleh karena itu
iterasi ke-5 tidak perlu dilakukan lagi.
Profil Tegangan Sistem dan Daya Pada Bus-Generator. Pada Iterasi terakhir (iterasi ke-4) kita
peroleh profil tegangan sistem dua bus ini sebagai berikut
o
2 2
o
1 1
-8.90 rad 1553 , 0 ; pu 7533 , 0 dan 0 pu; 1 = = = = = V V
dengan diagram fasor:

Pada kondisi ini, daya yang dialirkan ke saluran transmisi dari bus-2 adalah (seperti tercantum
dalam tabel, iterasi terakhir):
beban) - (bus pu 1 ; pu 1
2 2
= = Q P
Sedang dari slack bus (dihitung dari persamaan aliran daya) adalah:
generator) - (bus pu 1,27 ; pu 12 , 1
1 1
= = Q P
Dalam contoh ini tegangan jatuh di saluran cukup besar, dan susut daya di saluran, yang
diperlihatkan oleh selisih P
1
dan P
2
cukup besar pula yaitu pu 12 , 0 1 12 , 1 = =
sal
P 12%.
CONTOH Sistem Tiga Bus
Contoh ini juga diambil dari buku referensi. Seperti pada contoh sebelumnya, perhitungan-
perhitungan di sini dilakukan secara manual dengan menggunakan excel.
Diagram rangkaian beserta data jaringan yang diketahui diberikan berikut ini.

S 00189 , 0 529 / 1 , 529 100 / 230
V 230 MVA, 100
2
= = = =
= =
basis basis
basis basis
Y Z
V S

kV 15 MVA, 300
1
= G
kV 15 MVA, 250
3
= G
Saluran transmisi dianggap sebagai lossless line dan admitansi parallel tidak
diperhitungkan. Admitansi seri saluran per fasa sudah dihitung dalam per unit:
o
32 32
o
31 31
o
32 31 33
o
23 23
o
21 21
o
23 12 22
o
13 13
o
12 12
o
13 12 11
90 12 ; 90 15 ; 90 27
90 12 ; 90 10 ; 90 22
90 15 ; 90 10 ; 90 25
= = = = = + =
= = = = = + =
= = = = = + =
y Y y Y y y Y
y Y y Y y y Y
y Y y Y y y Y

pu 0 1
o
1
= V
1 - bus
2 - bus
pu 10
12
j y =
pu 15
13
j y =
0 . 2
1 . 1
3
3
=
=
P
V
1 B
S
pu 2
1
=
B
S
pu 12
23
j y =
3 - bus
1 G
S
3 G
S
3
G
1
G
pu 2 j
pu 5 , 2
pu 2 , 1 j
0,8 2,5 2 2 , 1 5 . 2
2
j j j S
B
= + =
2
V
1
V
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 15/20

Matriks Y
bus
. Dari perhitungan di atas kita dapatkan matriks sebagai berikut:
[ ]
(
(
(




=
(
(
(

=
o o o
o o o
o o o
33 32 31
23 22 21
13 12 11
90 27 90 12 90 15
90 12 90 22 90 10
90 15 90 10 90 25
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
bus
Y
(35)
Peubah-Peubah Dan Pembebanan Pada Bus. Bus-1: slack bus,
o
1 1
0 1 = = V . Daya di bus
1 1
dan Q P ini tergantung dari profil tegangan di semua bus; jadi
1 1
dan Q P merupakan peubah
tak bebas, dihitung setelah iterasi selesai.
Bus-2: bus-beban. Beban di bus ini dinyatakan dengan resistor yang menyerap daya nyata
pu 5 , 2 =
R
P , terhubung seri dengan induktor yang menyerap daya reaktif pu 2 , 1 j Q
L
= .
Sebuah kapasitor dihubungkan ke bus-2 dan menyerap daya reaktif sebesar 2 j Q
C
= . Total
beban yang tersambung ke bus-2 menjadi 8 , 0 5 , 2
2
j S
B
= . Beban di bus-2 yang mengalir ke
saluran transmisi menjadi 8 , 0 dan 5 , 2
2 2
j Q P = = . Peubah di bus ini adalah tegangan dan
sudut fasanya,
2 2
dan V .
Bus-3: bus-generator. Daya nyata dari generator di diberikan melalui pengaturan masukan
uap (di turbin) sebesar pu 0 , 2
3
= P sedangkan tegangan diatur melalui arus eksitasi sebesar
pu 1 , 1
3
= V ; oleh karena itu peubah di bus ini tinggallah sudut fasa tegangan
3
.
Jadi peubah yang harus dihitung pada sistem ini adalah
3 2 2
dan , , V .
Persamaan Aliran Daya.Bentuk umum persamaan aliran daya adalah
|
|

\
|
=
|
|

\
|
=

=
=
n
j
j ij i j ij i i
n
j
j ij i j ij i i
V Y V q
V Y V p
1
1
) sin(
) cos(

Karena bus-1 adalah slack bus maka kita akan bekerja pada bus-2 dan bus-3. Di bus-2, daya
yang harus dicapai pada akhir iterasi adalah 8 , 0 dan 5 , 2
2 2
= = Q P . Sedangkan di bus-3 daya
nyata yang harus dicapai adalah 0 , 2
2
= P . Jadi dalam sistem ini diberikan tiga tetapan daya,
dengan tiga peubah. Oleh karena itu persamaan aliran daya terdiri dari tiga persamaan yaitu
untuk p
2
, p
3
, dan q
2
.
)] sin( ) ( ) sin( ) sin(
)] cos( ) ( ) cos( ) cos(
)] cos( ) ( ) cos( ) cos(
22
2
2 22 3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2 2
33
2
3 33 2 32 3 2 32 3 1 31 3 1 31 3 3
22
2
2 22 3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2 2
+ + =
+ + =
+ + =
V Y V Y V V Y V q
V Y V Y V V Y V p
V Y V Y V V Y V p
(36)
Jacobian.Persamaan aliran daya terdiri dari tiga persamaan seperti ditunjukkan oleh (36)
dengan tiga peubah yaitu
3 2 2
dan , , V . Matriks jacobian akan berukuran 33, yaitu
(
(
(




=
2 2 3 2 2 2
2 3 3 3 2 3
2 2 3 2 2 2
/ / /
/ / /
/ / /
V q q q
V p p p
V p p p
J (37.a)
Elemen-elemen matriks ini adalah:

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 16/20

) sin( 2 ) cos(
) cos( ) cos(
) cos(
) sin( ) sin(
) sin(
)] cos( 2 ) cos( ) cos(
) sin(
) sin( ) sin(
22 2 22 3 23 2 3 23 2
3
2
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2
2
2
2 32 3 32 3
2
3
2 32 3 2 32 3 1 31 3 1 31 3
3
3
2 32 3 2 32 3
2
3
22 2 22 3 23 2 3 23 1 21 2 1 21
2
2
3 23 2 3 23 2
3
2
3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2
2
2
+ =

+ =

+ =

+ =

+ + =

+ =

V Y V Y V
q
V Y V V Y V
q
Y V
V
p
V Y V V Y V
p
V Y V
p
V Y V Y V Y
V
p
V Y V
p
V Y V V Y V
p
(37.b)
Dugaan Awal dan Iterasi. Kita coba dugaan awal
(
(
(

=
(
(
(


0
0
1
~
0
3
0
2
0
2
0
V
x (38)
Kita masukkan dugaan awal ini ke persamaan aliran daya untuk mendapatkan corrective force:
(
(
(


=
(
(
(

=
(
(
(


0
2
0
3
0
2
0
2 2
0
3 3
0
2 2
2
3
2
0
8 , 0
2
5 , 2
~
q
p
p
q Q
p P
p P
q
p
p
u (39)
Besar koreksi
( ) ( )
(
(
(


= =

0
2
0
3
0
2
0
1 0
0
1 0
8 , 0
2
5 , 2
~ ~
q
p
p
J u J x
(40)
Hasil Perhitungan. Dalam perhitungan ini, sudut fasa tegangan dinyatakan dalam radian.
Perhitungan jacobian inversi pada dilakukan dengan eliminasi Gauss-Jordan. Berikut ini ditulis
lagi data Y
bus
, persamaan aliran daya, formulsi jacobian, kemudian diberikan hasil perhitungan
dalam tabel. Elemen matriks jacobian dan inversinya langsung dicantumkan dalam tabel.
(
(
(




=
(
(
(

=
o o o
o o o
o o o
33 32 31
23 22 21
13 12 11
90 27 90 12 90 15
90 12 90 22 90 10
90 15 90 10 90 25
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
bus
Y

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 17/20

(
(
(

+ +
+ +
+ +
=
(
(
(

)] sin( ) ( ) sin( ) sin(


)] cos( ) ( ) cos( ) cos(
)] cos( ) ( ) cos( ) cos(
22
2
2 22 3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2
33
2
3 33 2 32 3 2 32 3 1 31 3 1 31 3
22
2
2 22 3 23 2 3 23 2 1 21 2 1 21 2
2
3
2
V Y V Y V V Y V
V Y V Y V V Y V
V Y V Y V V Y V
q
p
p

(
(
(




=
2 2 3 2 2 2
2 3 3 3 2 3
2 2 3 2 2 2
/ / /
/ / /
/ / /
V q q q
V p p p
V p p p
J

Sistem 3 bus Besaran Awal Iterasi ke-1

P
2
-2.5
(tetapan)

P
3
2
Q
2
0.8

1
0
V
1
1

2
0
(dugaan awal)
-0.0929
Koreksi atas
dugaan awal
V
2
1 1.0962

3
0 0.0260
V
3
1.1 (tetapan)
substitusi ke
persamaan
aliran daya
p,q
p
2
0.0000

-2.7349

p
3
3E-15 2.2399
q
2
-1.2000
1.1530

corrective
force
p
2
-2.5

0.2!"

p
3
2 -0.2""
q
2
2.0000 -0.#0
Elemen matriks
jacobian
23.2000 -13.2000 0.0000 25.2812 -14.3669 -2.4950
-13.2000 29.7000 0.0000 -14.3669 30.8614 1.5668
0.0000 0.0000 20.8000 -2.7349 1.7175 25.1673
Elemen matriks
jacobian inversi
0.0577 0.0256 0.0000 0.0542 0.0250 0.0038
0.0256 0.0451 0.0000 0.0250 0.0441 -0.0003
0.0000 0.0000 0.0481 0.0042 -0.0003 0.0402

Koreksi

2
-0.0929

0.0054

3
0.0260 -0.0046
V
2
0.0962 -0.0131

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 18/20

Sistem 3 bus Besaran Iterasi ke-2 Iterasi ke-3
P
2
-2.5
(tetapan)
P
3
2
Q
2
0.8

1
0
V
1
1

2
-0.0876
(Koreksi atas
iterasi ke-1)
-0.0874
(Koreksi atas
iterasi ke-2)
V
2
1.0830 1.0828

3
0.0214 0.0217
V
3

substitusi ke
persamaan
aliran daya
p
2
-2.5023 -2.5000
p
3
1.9963 1.9998
q
2
0.8049 0.8000
corrective
force
p
2
0.0023

0.0000

p
3
0.0037 0.0002
q
2
-0.0049 0.0000
Elemen matriks
jacobian
24.9999 -14.2111 -2.3105
Proses iterasi dihentikan;
nilai p
2
, p
3
, dan q
2
sudah
dapat dianggap sama
dengan nilai tetapan yang
diberikan yaitu
P
2
= 2,5 P
3
= 2 Q
2
= 0,8

-14.2111 30.7073 1.4359
-2.5023 1.5551 24.5698
Elemen matriks
jacobian inversi
0.0546 0.0251 0.0037
0.0251 0.0442 -0.0002
0.0040 -0.0002 0.0411
Koreksi

2
0.0002

3
0.0002
V
2
-0.0002
P
1
0.5876






Dihitung setelah iterasi terakhir sesuai dengan
persamaan aliran daya.
Q
1
-2.2832
Q
3
1.9653
P
12
-0.9448
Q
12
0.7870
P
13
0.3573
Q
13
1.4961
P
31
-0.3573
Q
31
-1.6539
P
32
-1.5552
Q
32
-0.3115
P
21
-0.9448
Q
21
0.9382
P
23
-1.5552
Q
23
-0.1382
Profil Tegangan Sistem. Pada iterasi terakhir kita perloeh profil tegangan sistem tiga bus
ini yaitu
o
3 3
o
2 2
o
1 1
24 , 1 rad 0214 , 0 pu 1 , 1
0 , 5 rad 0876 , 0 pu 08 , 1
0 pu; 1
= = =
= = =
= =
V
V
V

Diagram fasor tegangan di tiga bus tersebut kurang lebih adalah:

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 19/20


Aliran Daya Antar Bus. Kita akan melihat bagaimana aliran daya antar bus di saluran
transmisi. Aliran daya ini kita hitung menggunakan relasi
( )
) sin( ) sin(
) cos( ) cos(
) (
1
2
1
2
j ij j ij i ij i ij ij
j ij j ij i ij i ij ij
j ij i i ij i j i ij i ij i ij
V Y V V Y Q
V Y V V Y P
Y Y Y S
=
=
= = =

V V V V V V V I V

yang tidak lain adalah bentuk awal dari persamaan aliran daya sebelum cara penulisannya
diubah untuk memperoleh bentuk pernyataan yang lebih terstruktur. Hasil perhitungan
tercantum dalam bagian tabel yang diberi batas garis tebal. Dari bagian tabel tersebut kita
peroleh daya kompleks antar bus dan daya kompleks di setiap bus.
Bus-1:
pu 2,283 0,588
pu 1,496 0,357
pu 0,787 0,945
1
13
12
j S
j S
j S
+ =
+ =
+ =

Bus-3:
pu 1,965 1,912
pu 0.311 555 , 1
pu 1,654 0,357
3
32
31
j j S
j S
j S
=
=
=

Bus-2:
pu 0,800 2,500
pu 138 , 0 555 , 1
pu 0.938 945 , 0
2
23
21
j S
j S
j S
+ =
=
+ =

Antara bus-1 dan bus-3 aliran daya hanya terjadi dari bus-3 ke bus-1; daya di bus-3
1,654 0,357
31
j S = sedangkan daya di bus-1 1,496 0,357
13
j S + = . Daya nyata yang dikirim
oleh bus-3 tepat sama dengan daya nyata yang diterima bus-1; hal ini terjadi karena saluran
transmisi merupakan lossless line. Perbedaan antara daya reaktif yang dikirim bus-3 dan yang
diterima bus-1 adalah daya reaktif yang terserap di saluran yaitu sebesar pu 158 , 0 j .
Aliran daya di bus-2 dari arah bus-1 adalah 0.938 945 , 0
21
j S + = sedang dari arah bus-3
138 , 0 555 , 1
23
j S = dengan jumlah yang sesuai yang ditetapkan yaitu 0.800 2.500
2
j S + = .
Penyerapan daya reaktif di saluran antara bus-1 dan bus-2 adalah pu 151 , 0 j sedangkan antara
bus-3 dan bus-2 pu 499 , 0 j .
Bus-Generator.Kita perhatikan sekarang dua bus-generator pada sistem ini yaitu bus-1 dan
bus-3. Seperti kita pelajari di bab sebelumnya, mesin sinkron memiliki batas-batas maksimum
dan minimum dalam mencatu daya reaktif agar tidak over-excited ataupun under-excited. Oleh
karena itu pada setiap langkah iterasi perlu dicermati apakah batas-batas tersebut tidak
dilampaui.Jika pada suatu tahap iterasi batas tersebut dicapai, maka batas tersebut dijadikan
besaran tetapan untuk dipakai dalam melakukan iterasi selanjutnya.

3
V
1
V
2
V
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, Analisis Aliran Daya 20/20

Persamaan aliran daya di bus generator adalah
|
|

\
|
=
|
|

\
|
=

=
=
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
n
j
ij j i ij j i Bi Gi
Y V V Q Q
Y V V P P
1
1
) sin(
dan ) cos(

atau
i Bi Gi i Bi Gi
Q Q Q P P P = = dan
Dengan demikian maka
pu 3 , 58 684 , 2 283 , 2 412 , 1
pu 283 , 2 0 283 , 2
pu 412 , 1 2 588 , 0
o
1
1 1 1
1 1 1
= + =
= + = + =
= + = + =
j S
Q Q Q
P P P
G
B G
B G

dan
pu 8 , 45 742 , 2
pu 965 , 1 0 965 , 1
pu 912 , 1 0 912 , 1
o
3
3 3 3
3 3 3
=
= + = + =
= + = + =
G
B G
B G
S
Q Q Q
P P P

Karena daya basis adalah 100 MVA, maka
MVA 2742 dan MVA 2684
3 1
= =
G G
S S
Ternyata S
G1
masih dalam batas kapasitas G
1
yaitu 300 MVA; akan tetapi S
G3
melebihi
kapasitas generator G
3
yang 250 MVA. Kita dapat menurunkan pasokan daya nyata oleh G
3
;
pasokan daya ini ditetapkan pu 2
3
=
G
P pada awal iterasi. Jika tetapan ini kita kurangi dengan
diimbangi tambahan daya nyata dari G
1
agar kebutuhan daya di seluruh sistem terpenuhi, maka
hasil iterasi ulang dari awal (tidak disajikan dalam tabel) memberikan:
profil tegangan
o
3 3
o
2 2
o
1 1
21 , 0 rad 0035 , 0 pu 1 , 1
60 , 5 rad 0977 , 0 pu 083 , 1
0 pu; 1
= = =
= = =
= =
V
V
V

daya di setiap bus
pu 1.9491 1.5022
pu 0.8000 2.5000
pu 2.2772 0.9978
3
2
1
j S
j S
j S
=
+ =
+ =

daya generator:
pu 52,38 2,461 1,9491 1,5022
pu 25 , 66 2,488 2,2772 1,0022
3
o
1
= =
= =
j S
j S
G
G