Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

HUKUM ASURANSI


Oleh
Chyntia Wibowo (115020300111030)
Eka Syifa Isani (115020300111034)
Devi Probosari (105020300111063)




JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVRSITAS BRAWIJAYA
2012

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Selama
penyusunan makalah ini banyak kendala yang penulis hadapi, namun berkat bimbingan
serta bantuan dari berbagai pihak semua kendala tersebut dapat teratasi. Pada kesempatan
ini dengan ketulusan hati penulis, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang tidak penulis sebutkan satu persatu yang
telah ikut membantu hingga selesainya makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi
yang membutuhkan, amin.

Malang, Februari 2012



Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ....ii
DAFTAR ISI ..iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penulisan Makalah.2
D. Manfaat Penulisan Makalah...2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Asuransi3
B. Unsur-unsur Asuransi.4
C. Tujuan Asuransi...5
D. Batalnya Asuransi5
BAB III PENUTUP
Simpulan8
DAFTAR PUSTAKA.9













BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep asuransi sebenarnya sudah dikenal sejak jaman sebelum masehi
dimana manusia pada masa itu telah menyelamatkan jiwanya dari berbagai
ancaman, antara lain kekurangan bahan makanan. Salah satu cerita mengenai
kekurangan bahan makanan terjadi pada jaman Mesir Kuno semasa Raja Firaun
berkuasa. Suatu hari sang raja bermimpi yang diartikan oleh Nabi Yusuf bahwa
selama 7 tahun negeri Mesir akan mengalami panen yang berlimpah dan kemudian
diikuti oleh masa paceklik selama 7 tahun berikutnya. Untuk berjaga-jaga terhadap
bencana kelaparan tersebut Raja Firaun mengikuti saran Nabi Yusuf dengan
menyisihkan sebagian dari hasil panen pada 7 tahun pertama sebagai cadangan
bahan makanan pada masa paceklik. Dengan demikian pada masa 7 tahun paceklik
rakyat Mesir terhindar dari risiko bencana kelaparan hebat yang melanda seluruh
negeri.
Pada tahun 2000 sebelum masehi para saudagar dan aktor di Italia
membentuk Collegia Tennirium, yaitu semacam lembaga asuransi yang bertujuan
membantu para janda dan anak-anak yatim dari para anggota yang meninggal.
Perkumpulan serupa yaitu Collegia Nititum, kemudian berdiri dengan beranggotakan
para budak belian yang diperbanatukan pada ketentaraan kerajaan Roma (Rahman,
Afzalur).
Konsep auransi sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat primitif
yang berkelompok. Dalam masyarakat primitif, orang hidup bersama dalam keluarga
besar atau suku dimana kebutuhan-kebutuhannya dipenuhi dan dilindungi melalui
kerjasama dan saling membantu. Oleh karena itu mereka merasa tidak memerlukan
suatu asuransi karena semua resiko sepenuhnya dilindungi oleh masyarakat. Pada
waktu keluarga atau suku berubah menjadi kehidupan yang berpindah-pindah secara
teori keluarga tersebut mulai menghadapi berbagai macam bahaya tanpa adanya
perlindungan dari keluarga maupun sukunya. Saat itulah mulai dirasakan perlunya
perlindungan terhadap ancaman tersebut sebagai unsur awal munculnya asuransi.





B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari asuransi?
2. Apakah unsur-unsur asuransi?
3. Apakah tujuan dari asuransi?
4. Apakah yang dapat menyebabkan batalnya asuransi?

C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui definisi dari asuransi.
2. Untuk mengetahui unsur-unsur asuransi.
3. Untuk mengetahui tujuan dari asuransi.
4. Untuk mengetahui penyebab batalnya asuransi.

D. Manfaat Penulisan Makalah
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang asuransi bagi penulis dan
masyarakat.
2. Dapat digunakan sebagai dasar pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan
penelitian berikutnya bagi masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan pada
khususnya.













BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asuransi
1. Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1992
Definisi Asuransi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992
tentang usaha perasuransian Bab 1, Pasal 1 :
"Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan
mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima
premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena
kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung
jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang
timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu
pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang
dipertanggungkan .

2. Asuransi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)
Definisi Asuransi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), tentang
asuransi atau pertanggungan seumurnya, Bab 9, Pasal 246:
"Asuransi atau Pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang
penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu
premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan
atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya
karena suatu peristiwa yang tak tertentu.
Berbagai macam asuransi
Dalam pasal 247 KUH Perniagaan terdapat 5 (lima) macam asuransi yaitu :
a) Asuransi kebakaran;
b) Asuransi terhadap bahaya hasil-hasil pertanian;
c) Asuransi terhadap kematian orang (asuransi jiwa);
d) Asuransi terhadap bahaya di laut dan perbudakan;
e) Asuransi terhadap bahaya alam dalam pengakutan di daratan dan di sungai-
sungai.


B. Unsur-unsur Asuransi
Berdasarkan definisi di atas maka asuransi merupakan suatu bentuk perjanjian
dimana harus dipenuhi syarat sebagaimana dalam Pasal 1320 KUH Perdata, namun
dengan karakteristik bahwa asuransi adalah persetujuan yang bersifat untung-untungan
sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1774 KUH Perdata.
Menurut Pasal 1774 KUH Perdata, Suatu persetujuan untunguntungan (kans-
overeenkomst) adalah suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung ruginya, baik
bagi semua pihak maupun bagi sementara pihak, bergantung kepada suatu kejadian
yang belum tentu.
Beberapa hal penting mengenai asuransi:
1. Merupakan suatu perjanjian yang harus memenuhi Pasal 1320 KUH Perdata;
2. Perjanjian tersebut bersifat adhesif artinya isi perjanjian tersebut sudah
ditentukan oleh Perusahaan Asuransi (kontrak standar). Namun demikian, hal ini
tidak sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang No.8 tahun 1999
tertanggal 20 April 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
3. Terdapat 2 (dua) pihak di dalamnya yaitu Penanggung dan Tertanggung, namun
dapat juga diperjanjikan bahwa Tertanggung berbeda pihak dengan yang akan
menerima tanggungan;
4. Adanya premi sebagai yang merupakan bukti bahwa Tertanggung setuju untuk
diadakan perjanjian asuransi;
5. Adanya perjanjian asuransi mengakibatkan kedua belah pihak terikat untuk
melaksanakan kewajibannya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang harus ada pada Asuransi
adalah:
1. Subjek hukum (penanggung dan tertanggung);
2. Persetujuan bebas antara penanggung dan tertanggung;
3. Benda asuransi dan kepentingan tertanggung;
4. Tujuan yang ingin dicapai;
5. Risiko dan premi;
6. Evenemen (peristiwa yang tidak pasti) dan ganti kerugian;
7. Syarat-syarat yang berlaku;
8. Polis asuransi.

C. Tujuan Asuransi
1. Pengalihan Risiko
Tertanggung mengadakan asuransi dengan tujuan mengalihkan risiko yang
mengancam harta kekayaan atau jiwanya. Dengan membayar sejumlah premi
kepada perusahaan asuransi (penanggung), sejak itu pula risiko beralih kepada
penanggung.
2. Pembayaran Ganti Kerugian
Jika suatu ketika sungguhsungguh terjadi peristiwa yang menimbulkan
kerugian (risiko berubah menjadi kerugian), maka kepada tertanggung akan
dibayarkan ganti kerugian yang besarnya seimbang dengan jumlah asuransinya.
Dalam prakteknya kerugian yang timbul itu dapat bersifat sebagian (partial loss),
tidak semuanya berupa kerugian total (total loss). Dengan demikian, tertanggung
mengadakan asuransi bertujuan untuk memperoleh pembayaran ganti kerugian yang
sungguhsungguh diderita.
Dalam pembayaran ganti kerugian oleh perusahaan asuransi berlaku prinsip
subrogasi (diatur dalam pasal 1400 KUH Per) dimana penggantian hak si berpiutang
(tertanggung) oleh seorang pihak ketiga (penanggung/pihak asuransi) yang
membayar kepada si berpiutang (nilai klaim asuransi) terjadi baik karena
persetujuan maupun karena undang-undang.

E. Batalnya Asuransi
Suatu pertanggungan atau asuransi karena pada hakekatnya adalah merupakan
suatu perjanjian maka ia dapat pula diancam dengan risiko batal atau dapat dibatalkan
apabila tidak memenuhi syarat syahnya perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal
1320 KUH Perdata.
Selain itu KUHD mengatur tentang ancaman batal apabila dalam perjanjian asuransi:
1. Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila tertanggung tidak
memberitahukan hal-hal yang diketahuinya sehingga apabila hal itu disampaikan
kepada penanggung akan berakibat tidak ditutupnya perjanjian asuransi tersebut
(Pasal 251 KUHD);
2. Memuat suatu kerugian yang sudah ada sebelum perjanjian asuransi ditandatangani
(Pasal 269 KUHD);

3. memuat ketentuan bahwa tertanggung dengan pemberitahuan melalui pengadilan
membebaskan si penanggung dari segala kewajibannya yang akan datang (Pasal
272 KUHD);
4. Terdapat suatu akalan cerdik, penipuan, atau kecurangan si tertanggung (Pasal 282
KUHD);
5. Apabila objek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak boleh
diperdagangkan dan atas sebuah kapal baik kapal Indonesia atau kapal asing yang
digunakan untuk mengangkut objek pertanggungan menurut peraturan perundang-
undangan tidak boleh diperdagangkan (Pasal 599 KUHD).
Terhadap pelanggaran ketentuan yang dilakukan Penanggung dan Tetanggung dapat
dikenakan sanksi berupa:
1. Sanksi Administratif, (berlaku hanya untuk perusahaan perasuransian, bukan pada
tertanggung)
Setiap Perusahaan Perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah No.73 tahun 1992 tertanggal 30 Oktober 1992 tentang Penyelenggaraan
Usaha Perasuransian (PP No.73/1992) serta peraturan pelaksanaannya yang
berkenaan dengan:
a. Perizinan usaha;
b. Kesehatan keuangan;
c. Penyelenggaraan usaha;
d. Penyampaian laporan;
e. Pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi atau tentang pemeriksaan
langsung;
dikenakan sanksi peringatan, sanksi pembatasan kegiatan usaha dan sanksi
pencabutan izin usaha (Pasal 37 PP No.73/1992).
Tanpa mengurangi ketentuan Pasal 37, maka terhadap:
a. Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang tidak menyampaikan
laporan keuangan tahunan dan laporan operasional tahunan dan atau tidak
mengumumkan neraca dan perhitungan laba rugi, sesuai dengan jangka waktu
yang ditetapkan, dikenakan denda administratif Rp. 1.000.000.000 (satu juta
Rupiah) untuk setiap hari keterlambatan;

b. Perusahaan Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang Reasuransi yang tidak
menyampaikan laporan operasional tahunan sesuai dengan jangka waktu yang
ditetapkan dikenakan denda administratif Rp. 500.000 (lima ratus ribu Rupiah)
untuk setiap hari keterlambatan (Pasal 38 PP No.73/1992).
2. Sanksi Pidana.
Sanksi pidana dikenakan pada kejahatan perasuransian yang diatur dalam
Pasal 21 UU Asuransi, berikut ini:
a. Terhadap pelaku utama
Orang yang menjalankan atu menyuruh menjalankan usaha perasuransian tanpa
izin usaha, menggelapkan premi asuransi, menggelapkan dengan cara
mengalihkan, menjaminkan, dan atau mengagunkan tanpa hak kekayaan
Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau perusahaan
Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan denda paling banyak Rp. 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta Rupiah).
b. Terhadap pelaku pembantu
Orang yang menerima, menadah, membeli, atau mengagunkan atau menjal
kembali kekayaan perusahaan hasil penggelapan dengan cara tersebut yang
diketahuinya atau patut diketahuinya bahwa barangbarang tersebut adalah
kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau
Perusahaan Reasuransi, dianjam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta Rupiah).
c. Terhadap pemalsu dokumen
Orang yang secara sendirisendiri atau bersamasama melakukan pemalsuan
atas dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa
atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5
tahun dan denda paling banyak Rp. 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta
Rupiah).




BAB III
PENUTUP

Simpulan
1. Asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang
mengalami musibah, yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta
asuransi.
2. Unsur-unsur yang harus ada pada asuransi; subjek hukum, persetujuan bebas
antara penanggung dan tertanggung, benda asuransi dan kepentingan tertanggung,
tujuan yang ingin dicapai, Risiko dan premi, Evenemen (peristiwa yang tidak pasti)
dan ganti kerugian, syarat-syarat yang berlaku, dan polis asuransi.
3. Asuransi bertujuan sebagai pengalihan risiko dan pembayaran ganti kerugian.
4. Suatu pertanggungan atau asuransi karena pada hakekatnya adalah merupakan
suatu perjanjian maka ia dapat pula diancam dengan risiko batal atau dapat
dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat syahnya perjanjian.














DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian.
2. Undang Undang Usaha Perasuransian Jaminan Sosial Tenaga Kerja Perbankan.
1992. Jakarta: Penerbit CV. Eko Jaya.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Cetakan IV. Citra Umbara, Bandung. 2010.
4. Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, S.H.. 1986. Hukum Asuransi di Indonesia, Penerbit
PT Intermasa.
5. H. Mashudi, SH. MH dan Moch. Chidir Ali, SH. (Alm.). 1995. Hukum Asuransi,
Penerbit CV. Mandar Maju.
6. Prof. Abdulkadir Muhammad, SH.. 1999. Hukum Asuransi Indonesia. Bandung:
Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.
7. Hasanuddin Rahman, S.H.. 1995. AspekAspek Hukum Pemberian Kredit
Perbankan di Indonesia. Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.