Anda di halaman 1dari 21

Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32.

Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

Laporan Pendahuluan
Central Operating Theater (Operating Theater Suite)
Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin


TUMOR OTAK




Oleh:
WAODE RISMAYANA TAATLAN
C12109254


CI. INSTITUSI CI. LAHAN


(........................................) (........................................)

PROGRAM PROFESI NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

BAB I
KONSEP MEDIS


Otak adalah suatu organ tubuh yang penting karena merupakan pusat computer
dari semua alat tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak
(kranium) yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat.
Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang dari sebuah tabung
yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak awal, yakni :
- Otak depan menjadi hemisfer serebri, korpus striatum, thalamus serta hipotalamus;
- Otak tengah, tegmentum, krus serebrium, korpus kuadrigeminus;
- Otak belakang, menjadi pons varoli, medulla oblongata dan serebellum.












Bagian-bagian Otak
a. Serebrum (otak besar)
Merupakan bagian terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi penuh
bagian depan atas rongga tengkorak. Masing-masing disebut fosa kranialis atas dan
fosa kranialis media.
Otak mempunyai dua permukaan yakni permukaan atas dan permukaan bawah,
kedua permukaan ini dilapisi oleh lapisan kelabu (zat kelabu) yaitu pada bagian
dalam yang mengandung serabut saraf.

Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

Pada otak besar ada beberapa lobus yaitu :
- Lobus frontalis, bagian dari serebrum yang terletak didepan sulkus sentralis;
- Lobus parientalis, terdapat didepan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh
karao oksipitalis;
- Lobus temporalis, terdapat dibawah lateral dari fisura serebralis dan didepan
lobus oksipitalis;
- Oksipitalis, yang mengisi bagian belakang dari serebrum.
Disamping pembagian lobus, kortek serebri secara umum dapat dibagi menjadi
empat bagian :
- Korteks sensori, pusat sensasi umum primer suatu hemisfer serebri yang
mengurus bagian badan. Dan lebih dominan menangani bagian tubuh
bilateral oleh fisura lateralis;
- Korteks asosiasi, berhubungan dengan alat indera, kemampuan otak manusia
dalam bidang intelektual, ingatan, berpikir dan rangsanga yang diterima
diolah dan disimpan;
- Korteks motorik, menerima impuls dari korteks sensori dan fungsi utamanya
adalah kontribusi pada traktus piramidalis yang mengatur bagian tubuh
kontra lateral;
- Korteks Pre-frontal, terletak pada lobus frontalis dan berhubungan dengan
sikap mental dan kepribadian.
Adapun fungsi serebrum adalah :
- Mengingat pengalaman-pengalaman yang lalu;
- Pusat persarafan yang menangani: aktivitas mental, akal, intelegensi, keinginan
dan memori;
- Pusat menganis, buang air besar dan buang air kecil

b. Batang Otak (trunkus serebri)
Serebrum melekat pada batang otak dibagian medulla oblongata, pons
varoli dan mesensepalon. Hubungan serebellum dengan oblongata disebut korpus
retiformi, serebellum dengan pons varoli disebut brakium pontis dan serebellum
dengan mesensepalon disebut brakium konjotiva.
Batang otak terdiri atas : Diensefalon (bagian batang otak paling atas),
Mensesepalon, Pons varoli, dan Medulla oblongata.
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com


c. Serebellum (otak kecil)
Terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak, organ ini banyak
menerima serabut aferen sensoris yang merupakan pusat koordinasi dan integrasi.
Bentuknya oval, bagian yang terkecil pada sentral disebut vermis dan bagian yeng
terlebar pada lateral disebut hemisfer.
Korteks serebellum dibentuk oleh substansi grisea terdiri dari:
- Lapisan granular luar;
- Lapisan purkinya;
- Lapisan granular dalam.
Fungsi daripada serebellum adalah: arkhioserebellum, paleserebellum dan
neoserebellum.


A. Defenisi Tumor Otak


Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-
mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel tubuh memiliki
mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang
menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah
terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan
pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat
memicu terjadinya tumor atau kanker.
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal
secara sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel ini akan terus
berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan
terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan
intrakranial). Tumor Otak adalah sebah lesi yang terletak pada intrakranial yang
menempati ruang didalam tengkorak. Tumor-tumor ini tidak hanya akan selalu
berkembang sebagi sebuah massa yang berbentuk bola (jinak) tetapi juga dapat
tumbuh menyebar (ganas). Tumor intracranial meliputi lesi benigna dan maligna.
Tumor intracranial dapat terjadi pada beberapa struktur area otak dan pada semua
kelompok umur.
Penderita Tumor Otak mengalami trias gejala Tumor Otak yaitu nyeri
kepala, muntah dan ditemukannya edema papil pada pemeriksaan fundus. Tetapi
sebenarnya gejala klinis Tumor Otak sering tidak sejelas itu, apalagi pada fase dini.
Tumor Otak bisa memberikan gejala klinis beragam tergantung kepada lokasi dan
ukurannya.

B. Etiologi Tumor Otak
Penyebab dari tumor belum diketahui. Hasil pengamatan menunjukkan ada
beberapa peran agent yang bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor
tertentu. Agent tersebut meliptu faktor herediter, kongenital, virus, paparan bahan
kimia yang bersifat carsiogenik, dan defisiensi immunologi. Selain itu tumor Otak
dapat juga terjadi sebagai akibat sekunder dari trauma cerebral dan penyakit
peradangan. Metastase ke otak dari tumor bagian tubuh lain juga dapat terjadi.
Karsinoma metastase lebih sering menuju ke otak dari pada sarkoma. Lokasi utama
dari Tumor Otak metastase berasal dari paru-paru dan payudara.

C. Patofisiologi Tumor Otak
Adanya tumor pada jaringan otak akan berdampak pada jaringan otak
sendiri. Secara lokal efeknya berupa infiltrasi, invasi dan pengrusakan jaringan otak
dan secara langsung akan menekan struktur saraf sehingga terjadi degenerasi dan
gangguan sirkulasi darah. Edema juga akan meningkat, selain itu ICP (atau TIK)
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

juga meningkat apabila terjadi hambatan sirkulasi cairan cerebrospinalis. Efek
tumor tergantung lokasi, jenis dan pertumbuhan tumor, kebanyakan Tumor Otak ini
berkembang lambat ( progresif lambat ) dengan onset yang perlahan-lahan, namun
kadang-kadang ada juga Tumor Otak dengan gejala yang akut.
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejala-gejala terjadi
berurutan. Hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien.
Gejala-gejalanya sebaiknya dibicarakan dalam suatu perspektif waktu. Gejala
neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh 2 faktor gangguan
fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi
apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi langsung pada parenkim
otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja disfungsi yang paling besar
terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang
tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada
umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat
dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai
manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompresi invasi dan
perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang
juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan
neurologis fokal.
Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor :
bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan
perubahan sirkulasi cerebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya
massa, karena tumor akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang
kaku. Tumor ganas menimbulkan oedema dalam jaruingan otak. Mekanisme belum
seluruhnyanya dipahami, namun diduga disebabkan selisih osmotik yang
menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan kerusakan
sawar darah otak, semuanya menimbulkan kenaikan volume intrakranial. Observasi
sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel laseral ke ruang sub arakhnoid
menimbulkan hidrocepalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila terjadi
secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.
Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

menjadi efektif dan oelh karena ity tidak berguna apabila tekanan intrakranial
timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume
darah intra kranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan
mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan
herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus medialis lobus temporals
bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak.
Herniasi menekan men ensefalon menyebabkab hilangnya kesadaran dan menenkan
saraf ketiga. Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui
foramen magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan
henti nafas terjadi dengan cepat. Intrakranial yang cepat adalah bradicardi progresif,
hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi dan gangguan pernafasan).
Gejala tumor intracranial dapat memberikan efek local ataupun efek general.
Pada lobus frontal terjadi gangguan kepribadian, gangguan afek, disfungsi system
motor, kejang, aphasia. Pada presentral gyrus dapat ditemukan kejang Jacksonian.
Pada lobus oskipital terjadi gangguan penglihatan, dan sakit kepala (headache).
Lobus temporal bisa terjadi halusinasi pendengaran, penglihatan atau gustatory dan
kejang psikomotor, aphasia. Pada lobus parietal dapat ditemukan ketidakmampuan
membedakan kiri kanan, deficit sensori (kontralateral). Ada juga yang menekan
secara langsung pada struktur saraf menyebabkan degenerasi dan interferensi
dengan sirkulasi local. Bisa timbul edem local dan jika lama maka mempengaruhi
fungsi jaringan saraf.
Suatu Tumor Otak sesuai type dimana-mana pada rongga cranial bisa
menyebabkan peningkatan tekanan intracranial (TIK). Bila tumor berada di
ventrikel maka dapat menyebabkan obstruksi. Bila edema meningkat maka suplai
darah ke otak menurun dan karbondioksida tertahan. Pembuluh darah dilatasi untuk
meningkatkan suplay oksigen darah. Hal ini malah akan memperberat edema.
Papilledem merupakan efek general dari peningkatan tekanan intracranial dan
sering sebagai tanda terakhir yang timbul. Kematian akibat kompresi batang otak.
Prognosis untuk pasien dengan tumor otak tergantung pada diagnosa awal
dan penanganannya, sebab pertumbuhan tumor akan menekan pada pusat vital dan
menyebabkan kerusakan serta kematian otak. Meskipun setengah dari seluruh
tumor adalah jinak, dapat juga menyebabkan kematian bila menekan pusat vital.

Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com


D. Klasifikasi Tumor Otak
Tumor Otak diklasifikasikan menjadi :
1. Berdasarkan Jenis Tumor
a. Jinak
1) Acoustic neuroma
2) Meningioma
3) Pituitary adenoma
4) Astrocytoma (grade 1)

b. Malignant
1) Astrocytoma (grade 2, 3, 4)
2) Oligodendroglioma
3) Apendymoma
2. Berdasarkan lokasi
a. Tumor intradural
1) Ekstramedular
a) Cleurofibroma
b) Meningioma
2) Intramedular
a) Apendymoma
b) Astrocytoma
c) Oligodendroglioma
d) Hemangioblastoma
b. Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara, prostal,
tiroid, paru paru, ginjal dan lambung.

Secara umum tumor diklasifikasikan dalam Tumor Node Metastases (TNM)
yang dimodifikasi ke dalam suatu sistim staging Grade Tumor Node Metastases
(GTNM) untuk tumor jaringan lunak. Sistim ini, yang secara klinis sangat berguna,
menstratifikasi pasien ke dalam kelompok dengan pola prognosis yang nyata. Sistim
staging GTNM didefinisikan sebagai berikut:

Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

G - Tumor grade
o G1- Well differentiated.
o G2-Moderately Differentiated.
o G3-Poorly differentiated.
T - Tumor primer
o T1-Diameter terbesar tumor kurang dari 5 cm.
o T2-Diameter terbesar tumor lebih dari 5 cm.
N - Metastasis ke Kelenjar Getah Bening (KGB) regional.
o N0-Tidak ada metastasis ke KGB.
o N1-Ada metastasis ke KGB.
M - Metastasis jauh
o M0-Tidak ada metastasis jauh.
o M1- Ada metastasis jauh.
Stage
Grouping
Tumor
Grade
Primary
Tumor
Regional Lymph
Node Involvement
Distant
Metastasis
Stage I A G1 T1 N0 M0
Stage I B G1 T2 N0 M0
Stage II A G2 T1 N0 M0
Stage II B G2 T2 N0 M0
Stage III A G3 T1 N0 M0
Stage III B G3 T2 N0 M0
Stage IV A Any G Any T N1 M0
Stage IV B Any G Any T Any N M1

Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com


E. Manifestasi Klinis Tumor Otak
Tumor Otak dapat mengenai segala usia, tapi umumnya pada usia dewasa muda
atau pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di alas 70 tahun. Sebagian ahli
menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding wanita, tapi sebagian lagi
menyatakan tak ada perbedaan insidens antara pria dan wanita.
Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat
edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. Gejala spesifik terjadi akibat
destruksi dan kompresi jaringan saraf, bisa berupa nyeri kepala, muntah,
kejang, penurunan kesadaran, gangguan mental, gangguan visual dan sebagainya. Edema
papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut.
Pada pasien yang menderita tumor otak maka akan menunjukkan manifestasi
klinis utama yaitu peningkatan tekanan intrakranial, baik karena efek massa tumor,
edema cerebri atau karena hydrosefalus obstruktif. Peningkatan tekanan intrakranial juga
akan disertai bangkitan epilepsi seperti terjadi pada tumor supra tentorial.
Manifestasi klinik umum atau disebut juga Trias klasik tumor otak adalah nyeri
kepala, muntah dan papilidema.
Nyeri Kepala
Nyeri dapat digambarkan bersifat dalam, terus-menerus, tumpul dan kadang-kadang
hebat sekali. Nyeri ini paling hebat waktu pagi hari dan menjadi lebih hebat oleh
aktivitas yang biasanya meningkatkan tekanan intracranial seperti membungkuk, batuk
atau mengejan pada waktu buang air besar.
Nyeri kepala yang dihubungkan dengan tumor otak disebabkan oleh traksi dan
Pergeseran struktur peka nyeri dalam rongga intra cranial. Struktur peka nyeri ini
termasuk arteri, vena, sinus-sinus vena, dan saraf otak.
Lokasi nyeri kepala sepertiga terjadi pada tempat tumor sedangkan sepertiga lainnya
terjadi didekat atau diatas tumor. Nyeri kepala oksipital merupakan gejala utama pada
tumor fosa posterior. Kira-kira sepertiga lesi supratentorial menyebabkan nyeri kepala
frontal.
Nausea dan Muntah
Nausea dan muntah terjadi akibat rangsangan/iritasi pada pusat vagat di medulla
oblongata, kadang-kadang juga dipengaruhi oleh asupan makanan. Muntah paling sering
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

terjadi pada anak-anak dan berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial
disertai pergeseran batang otak.
Muntah dapat terjadi tanpa didahului nausea dan dapat proyektil.
Papiledema
Papiledema disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan pada
saraf optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi, tanda ini mengisyaratkan
peningkatan TIK, namun sulit menggunakan tanda ini untuk mendiagnosis tanda ini.
Menyertai papiledema dapat terjadi gangguan penglihatan, termasuk pembesaran bintik
buta dan amaurosis fugaks.

Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari
otak) yaitu :
1. Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus, diplopia, kebutaan,
tanda-tanda papil edema akibat lokasi tumor berada pada lobus oksipital yang juga
dapat mengakibatkan kejang-kejang.
2. Perubahan bicara, misalnya: aphasia
3. Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi sensorik.
4. Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis.
5. Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin, dan
konstipasi.
6. Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness.
7. Perubahan dalam seksual
8. Perubahan pada kepribadian dan intelektual akibat tumor dijumpai pada lobus
frontal. Gangguan kepribadian yang terjadi yaitu mulai gangguan yang ringan
sampai psikosa, sedangkan gangguan intelektual berupa hilangnya daya ingat, affect
long tidak tepat


F. Komplikasi Tumor Otak
a. Gangguan fungsi neurologis
b. Gangguan kognitif
c. Gangguan tidur dan mood
d. Disfungsi seksual
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com



G. Pemeriksaan Penunjang Tumor Otak
a. Pencitraan CT (CT Scan) untuk memberikan informasi spesifik yang menyangkut
jumlah, ukuran dan kepadatan jejas tumor dan meluasnya edema serebral sekunder,
juga memberi informasi tentang system ventrikuler.
b. MRI untuk menghasilkan deteksi jejas yang kecil. Umumnya untuk mendeteksi
tumor didalam batang otak didaerah hipofisis.
c. Biopsi stereotaktik bantuan computer (tiga dimensi) untuk mendiagnosis kedudukan
tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan imformasi
prognosis.
d. Angiografi serebral memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor
serebral.
e. Elektroensefalogram(EEG)untuk mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah
yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal
pada waktu kejang
f. Penelitian sitologis pada cairan serebrospinal (CSF) dapat dilakukan untuk
mendeteksi sel-sel ganas, karena tumor-tumor pada SSP mampu menggusur sel-sel
kedalam cairan serebrospinal.


H. Penatalaksanaan Tumor Otak
1. Pendekatan pembedahan konvensional
memerlukan insisi tulang. Pendekatan
Pembedahan intracranial dilakukan
dengan sebelumnya melakukan VP
Shunt. VP Shun (ventriculoperitoneal
shunt) bertujuan untuk membantu
drainase CSF (cerebrospinal fluid) ke
bagian lain dari tubuh untuk diserap.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi
TIK atau tekanan di rongga kepala.
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

Pembedahan ini dilakukan melalui pembukaan tengkorak, yang disebut dengan
Craniotomy.
2. Pendektan Stereotaktik. Laser atau radiasi dapat dilepaskan dengan pendekaan
stereotaktik. Radioisotop dapat juga ditempatkan langsung kedalam tumor unuk
menghasilkan dosis tinggi pada radiasi tumor (brakhiterapi) sambil meminimalkan
pengaruh pada jaringan otak disekitarnya.
3. Radioterapi
4. Kemoterapi
5. Penggunaan pisau gamma pada bedah radio sampai dalam, untuk tumor yang tidak
dapat dimasukkan obat.
6. Transplantasi sumsum tulang autolog intravena digunakan pada beberapa pasien yang
akan menerima kemoterapi karena keadaan ini penting sekali untuk menolong pasien
terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang sebagai akibat dosis tinggi
kemoterapi dan radiasi. Sumsum tulang pasien diaspirasi sedikit dan disimpan.
Sumsum kemudian diinfus kembali setelah pengobatan lengkap.




Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Asuhan Keperawatan Ruang Perawatan
1. Pengkajian
a. Data klien : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, golongan darah, penghasilan, alamat, penanggung jawab,
dll
b. Riwayat kesehatan :
- keluhan utama
- Riwayat kesehatan sekarang
- Riwayat Kesehatan lalu
- Riwayat Kesehatan Keluarga
c. Pemeriksaan fisik :
Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia, penurunan/kehilangan
memori, afek tidak sesuai, berdesis
Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan kabur
Pendengaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi
Jantung : bradikardi, hipertensi
Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan
nafas, disfungsi neuromuskuler
Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes melitus
Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas b.d disfungsi neuromuskuler (hilangnya kontrol
terhadap otot pernafasan ), ditandai dengan : perubahan kedalamam nafasn,
dispnea, obstruksi jalan nafas, aspirasi.
Tujuan : Gangguan pertukaran gas dapat teratasi
Tindakan :
- Bebaskan jalan nafas
R : Untuk mencegah adanya sumbatan jalan napas yang dapat mengurangi
suplai oksigen ke paru-paru
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

- Pantau vital sign
R : Pemeriksaan Tanda-tanda vital dapat menjadi acuan pengamatan dalam
menilai keadaan umum pasien
- Monitor pola nafas, bunyi nafas
R : Adanya gangguan atau sumbatan pada jalan napas akan ditandai dengan
perubahan pola napas dan munculnya bunyi napas tambahan.
- Pantau AGD
R : Untuk melihat keadaan gas darah sehingga dapat diberikan terapi yang
tepat dalam pembiarian bantuan pernapasan dengan face mask
- Kolaborasi O2
R : Pada pasien yang mengalami sesak napas dan peningkatan pola napas
membutuhkan O2 tambahan dalam mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh
b. Gangguan rasa nyaman, nyeri kepla b.d peningkatan TIK, ditndai dengan : nyeri
kepala terutama pagi hari, klien merintih kesakitan, nyeri bertambah bila klien
batuk, mengejan, membungkuk
Tujuan : rasa nyeri berkurang
Tindakan :
- Pantau skala nyeri
R : Untuk melihat perubahan persepsi pasien terhadap nyerinya apakah
semakin menurun skala nyerinya atau semakin meningkat
- Berikan kompres dimana pada area yang sakit
R : Kompres akan memberikan efek relaksasi pada syaraf dan juga membantu
aliran darah
- Monitor tanda vital
R : Pemeriksaan Tanda-tanda vital dapat menjadi acuan pengamatan dalam
menilai keadaan umum pasien
- Beri posisi yang nyaman
R : Posisi yang nyaman akan membantu mengurangi nyeri yang dirasakan
- Observasi tanda nyeri non verbal
R : Tiap pasien memiliki reaksi yang berbeda terhadap nyeri. Pada beberapa
pasien tertentu menyembunyikan nyeri yang dirasakan tapi perawat perlu
mengkaji dengan memperhatikan ekspresi non verbal pasien apakah raut
mukanya menunjukkan perasaan menahan nyeri atau tidak
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com


- Catat adanya pengaruh nyeri
R : Nyeri akan menyebabkan perubahan pada sikap dan prilaku pasien
sehingga perlu memperhatikan prilaku dan sikap yang berubah akibat nyeri
yang diarasakan dan belum dapat teratasi
- Kolaborasi pemberian obat : analgetik, relaksan, prednison, antiemetik
R : Untuk membantu mengurangi nyeri dengan mencegah reseptor nyeri
c. Resiko tinggi cidera b.d disfungsi otot sekunder terhadap depresi SSP, ditandai
dengan : kejang, disorientasi, gangguan penglihatan, pendengaran
Tujuan : tidak terjadi cidera
Tindakan :
- Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien
R : Untuk mencegah terjadinya kejadian tak diduga seperti jatuh pada pasien
yang mulai mengalami disfungsi otot sekunder terhadap depresi SSP
- Pantau tingkat kesadaran
R : Tingkat kesadaran yang semakin rendah memerlukan pemantau yang lebih
dalam mencegah terjadinya cedera
- Orientasikan klien pada tempat, orang, waktu, kejadian
R : membantu pasien untuk mengenal tempat ia berada, lokasi-lokasi benda
yang dapat ia jangkau dan cara menjangkaunya dan orang yang akan
membantunya
- Observasi saat kejang, lama kejang, antikonvulsi
R : untuk mencegah klien melukai diri sendiri saat kejang atau berada pada
tempat yang tidak aman pada saat kejang terjadi
- Anjurkan klien untuk membatasi aktifitasnya
R : Untuk mencegah tubuh terlalu aktif bekerja dan dapat meningkatkan rasa
nyeri pasien
d. Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologi, ditandai dengan disorientasi,
penurunan kesadaran, sulit konsentrasi
Tujuan : mempertahankan orientasi mental dan realitas budaya
Tindakan :
- Kaji rentang perhatian
R : untuk melihat bagaimana tingkat perubahan proses berpikir pasien.
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

- Pastikan keluarga untuk membandingkan kepribadian sebelum mengalami
trauma dengan respon klien sekarang
R : Untuk mengkaji seberapa besar perubahan yang telah dialami oleh pasien
- Pertahankan bantuan yang konsisten oleh staf, keberadaan staf sebanyak
mungkin
R : Pasien akan selalu memerlukan bantuan sehingga bantuan yang konsisten
harus diberikan oleh staf yang ada
- Jelaskan pentingnya pemeriksaan neurologis
R : Pasien memahami pemeriksaan yang akan dilakukan dan bersedia bekerja
sama dalam melaksanakan pemeriksaan
- Kurangi stimulus yang merangsang, kritik yang negatif
R : Pasien memerlukan bantuan dalam meningkatkan motivasinya untuk
membantu dalam proses perbaikan berpikir
- Dengarkan klien dengan penuh perhatian semua hal yang diungkapkan
klien/keluarga
R : Pasien menjadi percaya karena ada yang mendengarkan dan siap
membantu keluhan yang dirasakannya
- Instruksikan untuk melakukan rileksasi
R : Pasien akan merasa tenang dan beban pikirannya akan berkurang
- Hindari meninggalkan klien sendiri
R : Pasien berada dalam masa-masa rentan yang mudah mengaami resiko
jatuh dan mempunyai gangguan dalam proses pikir yang nantinya dapat
membuat pasien melukai diri sendiri
e. Gangguan perfusi serebral b.d hipoksia jaringan, ditandai dengan peningkatan
TIK, nekrosis jaringan, pembengkakakan jaringan otak, depresi SSP dan oedema
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang
Tindakan :
- Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat
menyebabkan penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK
R : Obeservasi terhadap penyebab penurunan perfusi jaringan membnatu
dalam mencegah dan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan
peningkatan TIK diwaktu berikutnya
- Catat status neurologi secara teratur, badingkan dengan nilai standart
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

R : Untuk melihat perubahan status neurologis secara berkala dan dapat
memastikan atau memperkirakan waktu keadaan neurologi mulai sesuai
dengan standar
- Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
R : Untuk menngecek gangguan-gangguan lain yang dapat timbul akibat
gangguan perfusi jaringan serebral yang dapat mempengaruhi keadaan
motorik
- Pantau tekanan darah
R : Peningkatan tekanan darah akan menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial
- Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan
penglihatan kabur
R : Perubahan pada pupil menunjukkan telah terjadi gangguan perfusi cerebral
pada bagian lobus oksipital
- Beritahu klien untuk menghindari/ membatasi batuk
R : Batuk akan menyebakan peningkatan tekanan intrakranial
- Tinggikan kepala 15-45 derajat
R : Posisi dengan meninggikan kepala 15 45 derajat akan membantu dalam
memperlancar asupan oksigen ke tubuh
f. Cemas b.d kurang informasi tentang prosedur
Tujuan : rasa cemas berkurang
Tindakan :
- kaji status mental dan tingkat cemas
R : untuk menilai kecemasan pasien dan membantu menetapkan intervensi
yang tepat dalam mengurangi kecemasan
- Beri penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala
R : Pasien akan lebih memahami dengan proses penyakit yang dideritanya dan
lebih dapat menerima keadaan gejala yang dirasakannya
- Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian
R : Pasien dapat lebih memahami kondisi dirinya dan dapat mengurangi
kecemasannya karena lebih mengetahui secara pasti mengenai keadaan dirinya
- Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan takut
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

R : Perawat dapat mengkaji tingkat kecemasan pasien dan penyebab perasaan
cemas dan takut yang dialami oleh pasien
- Libatkan keluarga dalam perawatan
R : Keluarga merupakan orang terdakat dari pasien. Penguatan yang berarti
dari keluarga akan membantu menurunkan kecemasan pasien.

B. Asuhan Keperawatan Ruang Operasi
1. Perawatan Pre Operatif
Secara umum tindakan yang dilakukan pada saat Perawatan pre operasi pada pasien
yang dilakukan pembedahan intracranial adalah :
a) Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien
b) Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi perasaan-perasaan
takut yang dialami.
c) Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk meyakinkan pasien
dan mengurangi perasaan takut.
d) Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan shampo
antiseptik dan mencukur daerah kepala.
e) Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan pembedahan,
meliputi :
Baluatan kepala
Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka
Menurunnya status mental sementara

2. Perawatan Intraoperatif
Perawat menjaga agar peralatan yang digunakan dalam pembedahan tetap keadaan
steril selama proses operasi
Perawat membersihkan dan memperban dengan rapi luka jahitan bekas operasi

3. Perawatan Post Operatif
Perawatan post operasi, meliputi :
a) Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit untuk 4 - 6 jam
pertama setelah pembedahan dan kemudian setiap jam.
Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

b) Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar 1.500 cc /
hari.
c) Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas
d) Posisi kepala dapat ditinggikan 30 -35 derajat untuk meningkatkan aliran balik
dari kepala. Hindari fleksi posisi panggul dan leher.

Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.32. Januari-Juni 2008

Koresponden : Azamris, Email; drazamrisspbonk@yahoo.com

DAFTAR PUSTAKA


Baughman, D.C. & Hackley, J.C. (2000). Keperawatan medikal bedah: buku saku untuk
Brunner & Suddarth. EGC: Jakarta.

Doenges M.E., Moorhouse M.F. & Geissler A.C., (2000). Rencana asuhan keperawatan
pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC: Jakarta.

Guyton & Hall, (2005). Buku ajar fisiologi kedokteran, ed.11. EGC: Jakarta.

Muttaqin, A., (2009). Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem
kardiovaskuler dan hematologi. Penerbit Salemba Medika: Jakarta.

News Medical. http://www.news-medical.net/health/What-is-a-Brain-Tumor-
%28Indonesian%29.aspx diakses pada tanggal 20 April 2013