Anda di halaman 1dari 16

Asuhan Keperawatan Anak Dengan Leukemia Limfositik Akut (LLA) yang saya tulis berikut akan sangat bermanfaat

bagi teman-teman akademi keperawatan yang sedang mencari askep leukemia limfositik akut. Di askep ini saya juga telah menyertakan daftar pustakanya jadi akan lebih memudahkan dalam pembuatan askep, namun untuk patofisologinya tidak saya sertakan, silahkan dikembangkan sendiri agar lebih mudah memahami apa yang telah didapat di artikel ini. A. Pengertian Leukemia Limfositik Akut atau LLA Leukemia Limfositik Akut atau LLA merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anakanak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih. Leukemia limfositik akut dapat berakibat fatal karena sel-sel yang dalam keadaan normal akan berkembang menjadi limfosit, pada LLA berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. Intinya, leukemia limfositik akut merupakan proliferasi maligna/ganas limphoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik. B. Faktor Penyebab Leukemia Limfositik Akut atau LLA 1. Faktor eksogen o Sinar x, sinar radioaktif.
o o

Hormon. Bahan kimia seperti: bensol, arsen, preparat sulfat, chloramphinecol, anti neoplastic agent.

2. Faktor endogen
o o o

Ras, orang kulit hitam lebih mudah terkena dibanding orang kulit hitam. Kongenital (kelainan kromosom, terutama pada anak dengan Sindrom Down). Herediter (kakak beradik atau kembar satu telur.

C. Patofisiologi Leukemia Limfositik Akut atau LLA Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.) Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan.

D. Tanda dan Gejala Leukemia Limfositik Akut atau LLA Gejala dan tanda atau manifestasi klinik dari leukemia limfositik akut antara lain: 1. Pilek tak sembuh-sembuh 2. Pucat, lesu, mudah terstimulasi 3. Demam, anoreksia, mual, muntah 4. Berat badan menurun 5. Ptechiae, epistaksis, perdarahan gusi, memar tanpa sebab 6. Nyeri tulang dan persendian 7. Nyeri abdomen 8. Hepatosplenomegali, limfadenopati 9. Abnormalitas WBC 10. Nyeri kepala E. Pemeriksaan Diagnostik Pada Leukemia Limfositik Akut Pemeriksaan diagnostik yang lazim dilakukan pada anak dengan leukemia limfosik akut adalah: 1. Pemeriksaan sumsum tulang (BMP / Bone Marrow Punction): o Ditemukan sel blast yang berlebihan
o o

Peningkatan protein Pemeriksaan darah tepi


Pansitopenia (anemia, lekopenia, trombositopneia) Peningkatan asam urat serum Peningkatan tembaga (Cu) serum Penurunan kadar Zink (Zn) Peningkatan leukosit dapat terjadi (20.000 200.000 / l) tetapi dalam bentuk sel blast / sel primitif

2. Biopsi hati, limpa, ginjal, tulang untuk mengkaji keterlibatan / infiltrasi sel kanker ke organ tersebut 3. Fotothorax untuk mengkaji keterlibatan mediastinum 4. Sitogenik: 50-60% dari pasien ALL dan AML mempunyai kelainan berupa:
o

Kelainan jumlah kromosom, seperti diploid (2n), haploid (2n-a), hiperploid (2n+a)

o o

Bertambah atau hilangnya bagian kromosom (partial delection) Terdapat marker kromosom, yaitu elemen yang secara morfologis bukan komponen kromosom normal dari bentuk yang sangat besar sampai yang sangat kecil

F. Pengobatan Pada Leukemia Limfositik Akut 1. Transfusi darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin. 2. Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan. 3. Sitostatika Selain sitostatika yang lama (6-merkaptopurin atau 6-mp, metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin (oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L-asparaginase, siklofosfamid atau CPA, adriamisin dan sebagainya. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama-sama dengan prednison. Pada pemberian obat-obatan ini sering terdapat akibat samping berupa alopesia, stomatitis, leukopenia, infeksi sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhati-hati bila jumiah leukosit kurang dari 2.000/mm3. 4. Infeksi sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam kamar yang suci hama). 5. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah tercapai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105 - 106), imunoterapi mulai diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik dikerjakan dengan penyuntikan sel leukemia yang telah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia, sehingga semua sel patologis akan dihancurkan sehingga diharapkan penderita leukemia dapat sembuh sempurna. 6. Cara pengobatan Setiap klinik mempunyai cara tersendiri bergantung pada pengalamannya. Umumnya pengobatan ditujukan terhadap pencegahan kambuh dan mendapatkan masa remisi yang lebih lama. Untuk mencapai keadaan tersebut, pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan sebagai berikut:
o

Induksi Dimaksudkan untuk mencapai remisi, yaitu dengan pemberian berba- gai obat tersebut di atas, baik secara sistemik maupun intratekal sampai sel blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%. Konsolidasi Yaitu agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi.

Rumat (maintenance) Untuk mempertahankan masa remisi, sedapat-dapatnya suatu masa remisi yang lama. Biasanya dilakukan dengan pemberian sitostatika separuh dosis biasa. Reinduksi Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pada induksi se- lama 10-14 hari. Mencegah terjadinya leukemia susunan saraf pusat. Untuk hal ini diberikan MTX intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan radiasi kranial sebanyak 2.400-2.500 rad. untuk mencegah leukemia meningeal dan leukemia serebral. Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi. Pengobatan imunologik Diharapkan semua sel leukemia dalam tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat sembuh sempurna.

G. Pathways Tidak bisa ditampilkan, silahkan membuat sendiri.. H. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Muncul Pada Anak Dengan Leukemia Limfositik Akut atau LLA 1. Intoleransi aktivitas 2. Resiko tinggi infeksi 3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan 4. Resiko cedera (perdarahan) 5. Resiko kerusakan integritas kulit 6. Nyeri 7. Resiko kekurangan volume cairan 8. Berduka 9. Kurang pengetahuan 10. Perubahan proses keluarga 11. Gangguan citra diri / gambaran diri I. Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Leukemia Limfositik Akut 1. Mengatasi keletihan / intoleransi aktivitas: o Kaji adanya tanda-tanda anemia: pucat, peka rangsang, cepat lelah, kadar Hb rendah.
o

Pantau hitung darah lengkap dan hitung jenis

o o o o o o

Berikan cukup istirahat dan tidur tanpa gangguan Minimalkan kegelisahan dan anjurkan bermain yang tenang Bantu pasien dalam aktivitas sehari-hari Pantau frekuensi nadi, prnafasan, sebelum dan selama aktivitas Ketika kondisi membaik, dorong aktivitas sesuai toleransi Jika diprogramkan, berikan packed RBC

2. Mencegah terjadinya infeksi


o

Observasi adanya tanda-tanda infeksi, pantau suhu badan laporkan jika suhu > 38oC yang berlangsung > 24 jam, menggigil dan nadi > 100 x / menit. Sadari bahwa ketika hitung neutrofil menurun (neutropenia), resiko infeksi meningkat, maka:

Tampatkan pasien dalam ruangan khusus Sebelum merawat pasien: cuci tangan dan memakai pakaian pelindung, masker dan sarung tangan Cegah komtak dengan individu yang terinfeksi Jaga lingkungan tetap bersih, batasi tindakan invasif Bantu ambulasi jika mungkin (membalik, batuk, nafas dalam) Lakukan higiene oral dan perawatan perineal secara sering Pantau masukan dan haluaran serta pertahankan hidarasi yang adekuat dengan minum 3 liter / hari Berikan terapi antibiotik dan tranfusi granulosit jika diprogramkan Yakinkan pemberian makanan yang bergizi

3. Mencegah cidera (perdarahan)


o

Observasi adanya tanda-tanda perdarahan dengan inspeksi kulit, mulut, hidung, urine, feses, muntahan, dan lokasi infus Pantau tanda vital dan nilai trombosit Hindari injesi intravena dan intramuskuler seminimal mungkin dan tekan 5-10 menit setiap kali menyuntik Gunakan sikat gigi yang lebut dan lunak

o o

o o

Hindari pengambilan temperatur rektal, pengobatan rekatl dan enema Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan cidera fisik atau mainan yang dapat melukai kulit

4. Memberikan nutrisi yang adekuat


o o o

Kaji jumlah makanan dan cairan yang ditoleransi pasien Berikan kebersihan oral sebelum dan sesudah makan Hindari bau, parfum, tindakan yang tidak menyenangkan, gangguan pandangan dan bunyi Ubah pola makan, berikan makanan ringan dan sering, libatkan pasien dalam memilih makanan yang bergizi tinggi, timbang BB tiap hari Sajikan makanan dalam suhu dingin / hangat Pantau masukan makanan, bila jumlah kurang berikan ciran parenteral dan NPT yang diprogramkan

o o

5. Mencegah kekurangan cairan


o o o

Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi Berikan antiemetik awal sebelum pemberian kemoterapi Hindari pemberian makanan dan minuman yang baunya merangngsang mual / muntah Anjurkan minum dalam porsi kecil dan sering Kolaborasi pemberian cairan parenteral untuk mempertahankan hidrasi sesuai indikasi

o o

6. Antisipasi berduka
o o o o o

Kaji tahapan berduka oada anak dan keluarga Berikan dukungan pada respon adaptif dan rubah respon maladaptif Luangkan waktu bersama anak untuk memberi kesempatan express feeling Fasilitasi express feeling melalui permainan Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang:

Proses penyakit leukemia: gejala, pentingnya pengobatan / perawatan Komplikasi penyakit leukemia: perdarahan, infeksi dll.

Aktivitas dan latihan sesuai toleransi Mengatasi kecemasan Pemberian nutrisi Pengobatan dan efek samping pengobatan

7. Meningkatkan peran keluarga


o o o o

Jelaskan alasan dilakukannya setiap prosedur pengobatan / dianostik Jadwalkan waktu bagi keluarga bersama anak tanpa diganggu oleh staf SR Dorong keluarga untuk express feelings Libatkan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan perawatan si anak

8. Mencegah gangguan citra diri / gambaran diri


o o

Dorong pasien untuk express feelings tentang dirinya Berikan informasi yang mendukung pasie (misal; rambut akan tumbuh kembali, berat badan akan kembali naik jika terapi selesai dll.) Dukung interaksi sosial / peer group Sarankan pemakaian wig, topi / penutup kepala

o o

AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA (ALL)


A. Anatomi Fisiologi Darah 1. Pengertian Darah adalah cairan di dalam pembuluh darah yang mempunyai fungsi mentransportasikan oksigen, karbohidrat dan metabolit; mengatur keseimbangan asam dan basa; mengatur suhu tubuh dengan cara konduksi (hantaran), membawa panas tubuh dari pusat produksi panas (hepar dan otot) untuk mendistribusikan ke seluruh tubuh; dan pengaturan hormone dengan membawa dan menghantarkan kelnjr ke sasaran. (syaifuddin, 2003: 34)

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. (Evelyn, 2002) 2. Fungsi Darah Menurut Evelyn 2002 fungsi darah adalah:sebagai alat pengangkut, sebagai pertahanan tubuh dan menyebarkan panas ke seluruh tubuh. a. Bekerja dari system transport dari tubuh, mengantarkan semua bahan kimia, oksigen dan zat kimia yang diperlukan untuk tubuh supaya fungsi normalnya dapat dijalankan dan menyingkirkan karbon dioksida dan hasil buangan lainnya. b. Sel darah merah mengantarkan oksigen ke jaringan dan menyingkirkan sebagian dari karbon dioksida. c. Sel darah putih menyediakan banyak baha pelindung dank arena grrakan fagositosis dari beberapa sel maka melindungi tubuh dari serangan bakteri. d. Plasma membagi protein yang diperlukan untuk pembentukan jaringan; menyegarkan cairan jaringan karena melalui cairan ini semua sel tubuh menerima makanannya. Dan merupakan kendaraan untuk mengangkut bahan buangan ke berbagai organ exkretorik untuk dibuang. e. Harmoni dan enzim diantarkan dari organ ke organ dengan perantaraan darah. 3. Bagian-bagian Darah a. Sel darah merah Jika dilihat di bawah mikroskop, bentuk darah merah seperti saluran bikokaf tersebut mempunyai inti, warnanya kuning kemerah-merahan, sifatnya kenyal sehingga bias berubah bentuk sesuai dengan pembuluh darah yang sudah (Syaifuddin, 2003 :35)

Sel darah merah atau eritrosit berupa saluran kecil , cebung pada kedua sisinya sehingga dilihat dari samping tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang (Evelyn, 2002 : 153) b. Sel darah putih Rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar 2X sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil (Evelyn, 2002 : 135). Bentuknya bening dan tidak berwarna ukurannya lebih besar dari pritosit, dapat berubah-rubah dan bergerak dengan perantaraan kaki palsu (stubepodia) mempunyai bermacam-macam inti sel dan banyak (Syaifuddin, 2003 : 42) Sel polimorfonulitear dan monosit normal dibentuk hanya dalam sumsum tulang, sebaliknya limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen termasuk kelenjar limpa, limpa kelenjar timus forsit dan sisa limfoid yang terletak dalam usus dan ditempat lain. (syaifuddin, 2003 : 42) c. Trombosit Trombosit adalah sel kecil kira-kira sepertiga ukuran sel darah merah. Peranannya penting dalam penggumpalan darah. (Evelyn, 2002 : 157). Trombosit merupakan benda-benda kecil yang mati. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat dan ada yang lonjong, warnanya putih Trombosit bukanlah sel melainkan berbentuk keeping-keping yang merupakan bagian-bagian terkecil dari sel besar. Trombosit dibuat di susunan tulang, paru-paru dan limpa dengan ukuran kira-kira 2 4 miliron umur peredarannya sekitra 10 hari. Darah adalah suatu jaringan tubuh yang di dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya oksigen dan karbondioksida di dalamnya. Darah yang mengandung karbondioksida warnanya merah tua. Fungsi darah adalah sebagai alat pengangkut, sebagai pertahanan tubuh dan menyebarkan panas ke seluruh tubuh.

Darah terdiri dari dua bagian, yaitu sel darah yang terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (pembeku darah) dan plasma darah. Eritrosit berfungsi untuk mengikat oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan mengikat karbondioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru. Leukosit berfungsi untuk membunuh bibit penyakit yang masuk ke tubuh dan sebagai zat pengangkut zat lemak dari dinding unsur melalui limpa terus ke pembuluh darah. Trombosit berfungsi dalam pembekuan darah. Plasma darah sebagian besar terdiri dari air dan zat-zat di dalamnya misalnya zat makanan, hormon anti body dan lain-lain (Syaiffudin, 1997). B. Gambaran Umum Akut Limfolastik Leukimia 1. Pengertian ALL (Akut Limfoblastik Leukimia) adala poliferasi sel darah putih yang masih diatur dalam jaringan pembentuk darah (Suriadi , 2001). ALL adalah patologis dari sel pembuluh darah yang bersifat sistematik dan biasanya berakhir fatal (Ngastiyah, 2005). ALL adalah kanker jaringan yang menghasilkan leukosit (Cecily, 2002). Lokimia limfasitik akut (ALL) dianggap sebagai suatu proliferasi ganas limfoblas. Paling sering terjadi pada anak-anak, dengan puncak insideasi pada usia 4 tahun. Setelah usia 15, ALL jarang terjadi (Brunner, 2002) Penelitian yang dilakukan pada ALL menunjukkan bahwa ALL mempunyai homogenitas pada fenotip permukaan sel blas dari setiap pasien. Hal ini memberi dugaan bahwa populasi sel leukimia itu berasal sari sel tunggal. Oleh karena homogenitas itu menurut Pornomo, 2005 dibuat klasifikasi LLA secara morfologik sebagai berikut:

a. L 1 terdiri dari sel limfoblas kecil serupa, dengan kromatin homogen, anak inti umumnya tidak nampak dan sitoplasma sempit. b. L 2 pada jenis ini limfoblas adalah besar tetapi ukurannya bervariasi, kromatin lebih kasar dengan satu atau lebih anak inti. c. L 3 terdiri dari sel limfoblas besar, homogen dengan kromatin berbercak, banyak ditemukan anak inti serta sitoplasma yang basofilik dan berfakualisasi.

2. Etiologi Menurut Ngastiyah, 2005 penyebab ALL sampai sekarang belum diketahui dengan jelas, diduga kemungkinan besar karena virus (virus onkologik), faktor lain yang turut berperan adalah: a. Faktor eksterogen seperti sinar X, sinar radioaktif, hormon, bahan kimia (bentol, arsen, preparat sulfat), infeksi (virus, bakteri). b. Faktor endogen seperti Ras (orang Yahudi mudah menderita). Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (Sindrom Down, angka kejadian tinggi, hereditas/kembar). 3. Patofisiologis Virus penyebab ALL akan mudah masuk ke tubuh manusia jika struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia. Struktur antigen manusia terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh. Oleh WHO terhadap antigen jaringan telah ditetapkan istilah HL-A (Human Leucocyte Locus A). Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut hukum genetika sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukimia tidak dapat diabaikan (Ngastiyah, 2005).

4. Manifesti Klinis menurut Cecily 2002: a. Bukti anemia, pendarahan dan infeksi. 1) demam 2) keletihan 3) pucat 4) anoreksia 5) petekia dan pendarahan 6) nyeri sendi dan tulang 7) nyeri abdomen yang tidak jelas 8) berat badan menurun 9) pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotieal hati limfa dan limfonudus. b. Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges: 1) nyeri dan kaku duduk 2) sakit kepala 3) iritabilitas 4) letargi 5) muntah 6) edema papil

7) koma c. Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem yang terkena: 1) Kelemahan elistrimulas bawah 2) Kesulitan berkemih 3) Kesulitan belajar, khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi) kelemahan ekstrimitas bawah Menurut Brunner, 2003 Limfosit immature berproliferasi dalam susunan tulang dan jaringan perkier dan mengganggu perkembangan sel normal. Akibatnya hematoporsis normal terhambat mengakibatkan penurunan jumlah letrosit, sel darah merah dan trombosit. 5. Diagnosis ALL dapat didiagnosa pada pemeriksaan: a. Anamnesis Anemia, kelemahan tubuh, berat badan menurun, anoreksia mudah sakit, sering demam, perdarahan, nyeri tulang, nyeri sendi (Ngastiyah, 2005) Kemudian menurut Celily, 2002 dilakukan kepemeriksaan b. Hitung darah lengkap (CBC) anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm 3 saat didiagnosa memiliki prognosis paling baik ; jumlah lethosit lebih dari 50.000/mm 3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur. c. Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan SSP d. Foto toraks mendeteksi keterlibatan mediastinum

e. Aspirasi sumsum tulang ditemukannya 25% sel blas memperkuat diagnosis f. Pemindahan tulang atau survei kerangka mengkaji keterlibatan tulang g. Pemindahan ginjal, hati dan limpa mengkaji infiltrasi leukemik h. Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan 6. Penatalaksanaan Menurut Ngastiyah, 2005 penatalaksanaan pada pasien ALL adalah: a. Transfusi darah, jika kadar Hb kurang dari 69%. Pada trombositopenia yang berat dan pendarahan pasif dapat diberikan transfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin. b. Kortosteroid (prednison, kortison, deksametason, dan sebagainya). Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan. c. Sitostatika, selain sitistatika yang lama (6-merkaptispurin atau 6 mp, metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih paten seperti obat lainnya. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama-sama dengan prednison. Pada pemberian obat-obatan ini sering terdapat akibat samping berupa alopsia (botak), stomatitis, leucopenia, infeksi sekunder atau kadidiasis. Bila jumlah leukosit kurang dari 2000 / mm3 pemberiannya harus hati-hati. d. Infeksi sekunder dihindarkan (lebih baik pasien dirawat di kamar yang suci hama). e. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah dicapai remisi dan jumlah sel leukimia cukup rendah (105-106), imunoterapi mulai diberikan (mengani cara pengobatan yang terbaru masih dalam perkembangan). Menurut Ngastiyah, 2005 cara pengobatan berbeda-beda pada setiap klinik bergantung dari pengalaman, tetapi prinsipnya sama, yaitu dengan pola dasar:

a. Induksi, dimaksudkan untuk mencapai remisi dengan berbagai obat tersebut sampai sel blas dalam sumsum kurang dari 5% b. Konsilidasi, bertujuan agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi. c. Rumat, untuk mempertahankan masa remisi agar lebih lama, biasanya dengan memberikan sitostatika setengah dosis biasa. d. Reinduksi, dimaksudkan untuk mencegah relaps, biasanya dilakukan setiap 3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pad induksi selama 10-14 hari. e. Mencegah terjadinya leukimia pada susunan saraf pusat diberikan MTX secara intratekal dan radiasi kranial. f. Pengobatan imunologik. Menurut Kelompok Kerja RSUP Dr. Sardjito, 2000 pada penyakit ALL juga terdapat penatalaksanaan secara suportif yaitu: a. Infeksi Penatalaksanaan yang bertujuan untuk menghindari infeksi diantaranya adalah : 1) Menjaga keutuhan membran mukosa dan kulit. 2) Hindari pengukuran suhu dari rectal. 3) Oral hygiene adekuat dengan sikat gigi yang lembut dan cairan chlor hexidine 1% 4) Pemberian antibiotik profilaksis pada prosedur tindakan invasif. 5) Vaksinasi tidak dilakukan selama pemberian pengobatan sitostatika dan selama 6 bulan setelah pengobatan b. Pemberian imunisasi pada setengah tahun sampai satu tahun perhentian terapi.

1). Klien dirawat di ruang suci hama. 2). Tranfusi darah, bila Hb <> 3). Metabolisme : istirahat cukupdan membatasi aktivitas keras. 4). Selama fase induksi gagal ginjal dapat dicegah dengan pemberian allopurinol dan memelihara PH untuk antara 6,5 dan 7 5). Nutrisi : pemberian diet tinggi protein dan tinggi kalori 6). Terap suportif lainnya misal personal hygiene, aktif dan dukungan emosional kepada anak dan serta orang tua.

counter

buku tamu
<a href="http://www5.shoutmix.com/?bowiey_ok">View shoutbox</a> ShoutMix chat widget