0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
402 tayangan23 halaman

Pengertian CSR

CSR adalah tanggung jawab sosial perusahaan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar melalui berbagai program seperti pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. CSR bertujuan untuk menciptakan hubungan harmonis antara perusahaan dengan pemangku kepentingan dan bermanfaat bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang. Peran pemerintah dalam mendukung CSR juga dijelaskan.

Diunggah oleh

Andreas Pangaribuan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
402 tayangan23 halaman

Pengertian CSR

CSR adalah tanggung jawab sosial perusahaan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar melalui berbagai program seperti pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. CSR bertujuan untuk menciptakan hubungan harmonis antara perusahaan dengan pemangku kepentingan dan bermanfaat bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang. Peran pemerintah dalam mendukung CSR juga dijelaskan.

Diunggah oleh

Andreas Pangaribuan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

APA ITU CSR?

PENGERTIAN CSR Corporate Social Responsibilty

Definisi CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan


atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan
perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka
terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.
COntoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari
melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk
anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas
umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat
sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya
masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi
perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan
stakeholder-nya. CSRtimbul sejak era dimana kesadaran akan
sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting
daripada sekedar profitability.

Seberapa jauhkah CSR berdampak positif bagi masyarakat ?

CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat; ini akan sangat
tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi
lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002)
menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSRmeliputi
pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan
sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan
insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia,

bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan


pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban
sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus
melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di
tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami
Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator
penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty).
Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang
menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu,
pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan
pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini.
Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku
bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi
yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau
pengancaman satu pihak terhadap yang lain.

apakah peran CSR dalam perusahaan?

Coorperate sosial respobility (CSR) atau tanggung sosial, menjadi


sebuah kredo baru bagi pelaku bisnis. CSR merupakan media
perusahaan untuk menjawab berbagai kritik. Sekarang, banyak
perusahaan atau pelaku industri menjadikan CSR menjadi yang
terintegrasi dari perusahaan, isu lingkungan, pembangunan
berkelanjutan, perubahan iklim, juga mendapat perhatian yang
serius dari pelaku bisnis. Kalau kita lihat di seluruh dunia, ada 175
perusahaan yang tergabung dalam World Busnis Council
Sustainable Development (WBCSD) yang mengangkat isu :
Community Development, Lingkungan, Livelihood dan Perubahaan
Iklim. Kalau di Indonesia, Perusahaan Swasta maupun BUMN

tergabung dalam Corporate Forum for Community Development


(CFCD) yang mempunyai misi : Meningkatkan kesadaran umum
akan pentingnya program Community Development bagi
perusahaan sebagai bagian integral dari pembangunan masyarakatbangsa sekaligus meningkatkan apresiasi dan pemahaman
masyarakat atas peran dan fungsi Corporate CD dan CD Officer.
Karenanya, CSR dalam image perusahaan dan peningkatan bisnis
tidak bisa di pandang remeh. sebuah contoh perusahaan yang
menggunakan CSR(Corporate Social Responsibilty) adalah : Lantos
menggunakan klasifikasi Carrol sebagai dasar untuk melihat
pelaksanaan CSR pada perusahaan yaitu:

Tanggung Jawab Ekonomi : Tanggung jawab ekonomi artinya


bahwa tetap menguntungkan bagi pemegang saham, menyediakan
pekerjaan yang bagus bagi para pekerjanya, dan menghasilkan
produk yang berkualitas bagi pelanggannya.
Tanggung Jawab Hukum : Setiap tindakan perusahaan harus
mengikuti hukum dan berlaku sesuai aturan permainan
Tanggung Jawab Etik : Menjalankan bisnis dengan moral,
mengerjakan apa yang benar, apa yang dilakukan harus fair dan
tidak menimbulkan kerusakan
Tanggung Jawab Filantropis : Memberikan kontribusi secara
sukarela kepada masyarakat, memberikan waktu, dan uang untuk
pekerjaan yang baik.

Dari klasifikasi Caroll tersebut di atas, Lantos membuat klasifikasi


yang berkaitan dengannya yaitu:

Ethical CSR : Secara moral perusahaan memilih untuk memenuhi


tanggung jawab perusahaan dari segi ekonomi, hukum, dan etika.

Altruistic CSR : Memenuhi tanggung jawab filantropik


perusahaan, melakukan pencegahan timbulnya kerusakan, untuk
membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa
memperhitungkan apakah hal itu menguntugkan perusahaan atau
tidak.

Strategic CSR : Memenuhi tanggung jawab filantropik yang


menguntungkan perusahaan melalui publikasi positif dan goodwill.
(Ati Harmoni: 2008)

Corporate Social Responbility adalah elemen penting dalam kerangka


keberlanjutan usaha suatu industri yang mencakup aspek ekonomi,
lingkungan, dan sosial budaya. Definisi secara luas yang ditulis
sebuah organisasi dunia World Bisnis Council for sustainable
Development(WBCD) menyatakan bahwa CSR merupakan suatu
komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan
memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari
komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan
peningkatan taraf hidup pekerjanya serta seluruh keluarga.
Sedangkan menurut Nuryana CSR adalah sebuah pendekatan dimana
perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis
mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku
kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan
kemitraan.

CSR dapat dikatakan sebagai tabungan masa depan bagi perusahaan


untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh bukan
hanya sekedar keuntungan secara financial namun lebih pada
kepercayaan dari masyarakat sekitar dan para
stakeholdersberdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.
Penelitian yang dilakukan Sandra Waddock dan Samuel Graves
membuktikan bahwa perusahaan yang memperlakukan stakeholders
mereka dengan baikakan meningkatkan kelompok mereka sebagai
suatu bentuk manajemen yang berkualitas.

Stakeholders bukan hanya masyarakat dalam arti sempit yaitu


masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi perusahaan melainkan
masyarakat dalam arti luas, misalnya pemerintah, investor, elit
politik, dan lain sebagainya. Bentuk kerjasama yang dibentuk antara
perusahaan dan stakeholders hendaknya juga merupakan kerjasama
yang dapat saling memberikan kesempatan untuk sama-sama maju
dan berkembang. Program-program CSR yang dibuat untuk
kesejahteraan masyarakat dan pada akhirnya akan berbalik arah
yaitu memberikan keuntungan kembali bagi perusahaan tersebut.
Diharapkan perusahaan dengan seluruh stakeholders dapat
bersama-sama bekerjasama mengembangkan CSR sehingga
keberlanjutan perusahaan baik itu keuntungan ekonomi (keuntungan
financial) keuntungan sosial maupun keuntungan lingkungan dapat
terwujud.

CSR diterapkan kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi


dalam konteks ekonomi global, nasional maupun lokal. Komitmen

dan aktivitas CSR pada intinya merujuk pada aspek-aspek perilaku


perusahaan (firms behaviour), termasuk kebijakan dan program
perusahaan yang menyangkut dua elemen kunci:

Good corporate governance: etika bisnis, manajemen sumberdaya


manusia, jaminan sosial bagi pegawai, serta kesehatan dan
keselamatan kerja;
Good corporate responsibility: pelestarian lingkungan,
pengembangan masyarakat (community development),
perlindungan hak azasi manusia,perlindungan konsumen, relasi
dengan pemasok, dan penghormatan terhadap hak-hak pemangku
kepentingan lainnya.

Dengan demikian, perilaku atau cara perusahaan memerhatikan dan


melibatkan shareholder, pekerja, pelanggan, pemasok, pemerintah,
LSM, lembaga internasional dan stakeholder lainnya merupakan
konsep utama CSR. Kepatuhan perusahaan terhadap hukum dan
peraturan-peraturan yang menyangkut aspek ekonomi, lingkungan
dan sosial bisa dijadikan indikator atau perangkat formal dalam
mengukur kinerja CSR suatu perusahaan. Namun, CSR seringkali
dimaknai sebagai komitmen dan kegiatan-kegiatan sektor swasta
yang lebih dari sekadar kepatuhan terhadap hukum.

CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk


meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, melainkan
pula untuk pembangunan sosial- ekonomi kawasan secara holistik,
melembaga dan berkelanjutan. Pengertian CSR yang relatif lebih
mudah dipahami dan dioperasionalkan adalah dengan

mengembangkan konsep Tripple Bottom Lines (profit, planet dan


people) yang digagas Elkington (1998). Saya menambahkannya
dengan satu line tambahan, yaitu procedure. Dengan demikian, CSR
adalah Kepedulian perusahaan yang menyisihkan sebagian
keuntungannya (profit) bagi kepentingan pembangunan manusia
(people) dan lingkungan (planet) secara berkelanjutan berdasarkan
prosedur (procedure) yangtepat dan profesional (Suharto, 2008b).

Sejarah Corporate Social Responsibilities

CSR sebenarnya sudah muncul dari jauh sebelum disahkannya UU


No 40 tahun 2007 di Indonesia. Pandangan bahwa dunia bisnis
memiliki tanggungjawab yang lebih dari sekadar meningkatkan
kemakmuran ekonomi semata bukanlah sesuatu yang baru.
Sepanjangcatatan sejarah, peranan organisasi-organisasi yang
memproduksi barang dan jasa bagi pasar selalu dikaitkan dengan
aspek sosial, politik dan bahkan militer. Sebagai contoh, pada masa
perkembangan awal industrialisasi di Inggris, perusahaan seperti
Hudson Bay dan the East India Company menerima mandat yang
luas. Kebijakan publik saat itu sudah menekankan bahwa
perusahaan harus membantu mewujudkan tujuan-tujuan
kemasyarakatan, seperti perluasan wilayah koloni, pembangunan
permukiman, penyediaan jasa transportasi, pengembangan bank
dan jasa finansial. Pada awal abad ke-19, perusahaan sebagai
sebuah bentuk organisasi bisnis berkembang pesat di Amerika.
Pada awalnya, dewan direksi dan manajemen perusahaan dianggap
hanya bertanggungjawab terhadap shareholder saja. Kemudian,
kebijakan publik secara tegas mengatur domain sosial yang mesti
direspon perusahaan secara lebih spesifik, seperti kesehatan dan

keselamatan kerja, perlindungan konsumen, jaminan sosial


pekerja, pelestarian lingkungan dan seterusnya. Selain harus
merespon tuntutan-tuntutan pasar secara sukarela, karena
merefleksikan tuntutan moral dan sosial konsumen, perusahaan
juga memiliki tanggungjawab sosial, karena harus patuh terhadap
hukum dan kebijakan publik. Di pertengahan abad ke-20, CSR
sudah dibahas di Amerika oleh para pakar bisnis semisal Peter
Drucker dan mulai dimasukan dalam literatur. Pada tahun 1970,
ekonom Milton Friedman menjelaskan pandangannya bahwa
tanggungjawab sosial perusahaan adalah menghasilkan
keuntungan (profit) dalam batasan moral masyarakat dan hukum.
Ia mengingatkan bahwa inisiatif perusahaan untuk menjalankan
CSR dapat membuat arah manajemen menjadi tidak fokus,
pemborosan sumberdaya, memperlemah daya saing, serta
mempersempit pilihan-lihan dan kesempatan. Namun demikian,
CSR semakin berkembang dan terus menjadi isu kunci dalam
konteks manajemen, pemasaran dan akuntansi di Inggris, Amerika,
Eropa, Canada dan negara-negara lain. Pada tahun 1933, A Berle
dan G Means meluncurkan buku berjudul The Modern Corporation
and Private Property yang mengemukakan bahwa korporasi
modern seharusnya mentransformasikan diri menjadi institusi
sosial, ketimbang institusi ekonomi yang semata memaksimalkan
laba. Hingga tahun 1980-1990an wacana CSR terus berkembang.
Munculnya KTT Bumi di Rio de Jenairo, Brazil pada tahun 1992
menegaskan konsep pembangunan berkelanjutan sebagai hal yang
harus diperhatikan. Tidak hanya oleh negara tapi oleh kalangan
korporasi yang makin kuat kekuatan kapitalnya. Hal ini pun
diperkuat dengan buku yag dibuat oleh James Collins dan Jerry
Porras meluncurkan Built to Last; Seccesfull Habits of Visionary
Companiespada tahun 1994, lewat riset yang dilakukan, maka
menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terus hidup

bukanlah perusahaan yang hanya mencetak uang semata.


Dipandang dari perspektif pembangunan yang lebih luas, CSR
menunjuk pada kontribusi perusahaan terhadap konsep
pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yakni
pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini
tanpa mengabaikan kebutuhan generasi masa depan. Dengan
pemahaman bahwa dunia bisnis memainkan peran kunci dalam
penciptaan kerja dan kesejahteraan masyarakat, CSR secara umum
dimaknai sebagai sebuah cara dengan mana perusahaan berupaya
mencapai sebuah keseimbangan antara tujuan-tujuan ekonomi,
lingkungan dan sosial masyarakat, seraya tetap merespon harapanharapan para pemegang saham (shareholders) dan pemangku
kepentingan (stakeholders). Dalam bukunya Cannibals with Forks,
the Tripple Bottom Line of Twentieth Century Bussiness John
Elkington pada tahun 1997 mengembangkan konsep triple bottom
line dalam istilah economic prosperity, environmental quality, dan
social justice. Melalui konsep ini Elkington mengemukakan bahwa
perusahaan yang ingin terus menjalankan usahanya harus
memperhatikan 3P yaitu profit, people and planet. Perusahaan
yang menjalankan usahanya tidak dibenarkan hanya mengejar
keuntungan semata (profit), tetapi mereka juga harus terlibat pada
pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people), dan berpartisipasi
aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). Ketiga prinsip
tersebut saling mendukung dalam pelaksanaan program CSR.
Setelah World Summit di Johanesburg pada tahun 2002 yang
menekankan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan,
cetusan Elkington ini semakin bergulir kencang. Di wilayah Asia,
konsep CSR berkembang sejak tahun 1998, tetapi pada waktu itu
belum terdapat suatu pengertian maupun pemahaman yang baik
tentang koknsep CSR. Sedangkan CSR sendiri dikenal di Indonesia
pada tahun 2001

Penerapan Corporate Social Responsibilities di Indonesia

Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa konsep mengenai CSR


mulai hangat dibicarakan di Indonesia sejak tahun 2001
dimanabanyak perusahaan maupun instansi-instansi sudah mulai
melirik CSRsebagai suatu konsep pemberdayaan masyarakat. Sampai
saat ini, perkembangan tentang konsep dan implementasi CSR pun
semakinmeningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini
terbukti dari banyaknya perusahaan yang berlomba-lomba untuk
melakukanCSR. Pelaksanaannya pun semakin beranekaragam mulai
dari bentuk program yang dilaksanakan, maupun dari sisi dana yang
digulirkanuntuk program tersebut.

Contoh kegiatan untuk program CSR yang dilakukan oleh


perusahaanantara lain pemberian beasiswa, bantuan langsung bagi
korbanbencana, pemberian modal usaha, sampai pada
pembangunaninfrastruktur seperti pembangunan sarana olah raga,
sarana ibadahmaupun sarana umum lainnya yang dapat dimafaatkan
oleh masyarakat.

Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun


1990-an. Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan
CSA (Corporate Social Activity) atau aktivitas sosial perusahaan.
Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual aksinya
mendekati konsep CSR yang merepresentasikan bentuk peran serta
dan kepedulian perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan.
Melalui konsep investasi sosial perusahaan seat belt, sejak tahun

2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang


aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi
kepada berbagai perusahaan nasional.

Pada awal perkembangannya, bentuk CSR yang paling umum adalah


pemberian bantuan terhadap organisasi-organisasi lokal dan
masyarakat miskin di seputar perusahaan. Pendekatan CSR yang
berdasarkan motivasi karitatif dan kemanusiaan ini pada umumnya
dilakukan secara ad-hoc, partial, dan tidaklembaga.CSRtataran ini
hanya sekadar do good dan to look good, berbuat baik agar terlihat
baik. Perusahaan yang melakukannya termasuk dalam kategori
perusahaan impresif, yang lebih mementingkan tebar pesona
(promosi) ketimbang tebar karya (pemberdayaan) (Suharto,
2008a). Perusahaan-perusahaan seperti PT Unilever, Freeport, Rio
Tinto, Inco, Riau Pulp, Kaltim Prima Coal, Pertamina serta
perusahaan BUMN lainnya telah cukup lama terlibat dalam
menjalankan CSR.

Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang kurang menyukai


pendekatan karitatif semacam itu, karena tidak mampu
meningkatkan keberdayaan atau kapasitas masyarakat lokal.
Pendekatan community development kemudian semakin banyak
diterapkan karena lebih mendekati konsep empowerment dan
sustainable development. Prinsip-prinsip good corporate
governance, seperti fairness, transparency, acaountability, dan
responbility kemudian menjadi pijakan untuk mengukur
keberhasilan program CSR. Kegiatan CSR yang dilakukan saat ini
juga sudah mulai beragam, disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat setempat berdasarkan need assesment. Mulai dari

pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, pemberian


pinjaman modal bagi UKM, social forestry, penakaran kupu-kupu,
pemberian beasiswa, penyuluhan HIV/AIDS, penguatan kearifan
lokal, pengembangan skema perlindungan sosial berbasis
masyarakat dan seterusnya. CSR pada tataran ini tidak sekadar do
good dan to look good, melainkan pula to make good, menciptakan
kebaikan atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Model pelaksaan CSR juga bemacam-macam. Setidaknya


terdapatempat model pelaksanaan CSR yang umum digunakan di
Indonesia. Keempat model tersebut antara lain:

Terlibat langsung. Dalam melaksanakan program CSR,perusahaan


melakukannya sendiri tanpa melalu perantara atau pihak lain. Pada
model ini perusahaan memiliki satu bagian tersediri atau bisa juga
digabung dengan yang lainyang bertanggung jawab dalam
pelaksanaan kegiatan sosial perusahaan termasuk CSR.
Melalui Yayasan atau organisasi sosial perusahaan. Perusahaan
mendirikan yayasan sendiri dibawah perusahaanatau groupnya. Pada
model ini biasanya perusahaan sudah menyediakan dana khusus
untuk digunakan secara teraturdalam kegiatan yayasan. Contoh
yayasan yang didirikan oleh perusahaan sebagai perantara dalam
melakukan CSR antaralain; Danamon peduli, Samporna Foundation,
kemudian PT.Astra International yang mendirikan Politeknik
Manufaktur Astra dan Unilever peduli Foundation (UPF).
Bermitra dengan pihak lain. Dalam menjalankan CSRperusahaan
menjalin kerjasama dengan pihak lain sepertilembaga sosial non
pemerintah, lembaga pemerintah, media massa dan organisasi

lainnya. Seperti misalnya Bank RakyatIndonesia yang memiliki


program CSR yang terintegrasidengan strategi perusahaan dan
bekerjasama dengan pemerintah mengeluarkan produk pemberian
kredit untukrakyat atau yang di kenal dengan Kredit Usaha Rakyat
(KUR).Contoh lain adalah kerjasama perusahan dengan lembagalembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, Palang MerahIndonesia dan
lain sebagainya.
Mendukung atau bergabung dengan suatu konsorsium.Perusahaan
turut mendirikan, menjadi anggota ataumendukung lembaga sosial
yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.

Dalam melakukan CSR, tentunya perusahaan memiliki alasan


diantaranya adalah:

Alasan Sosial.

Perusahaan melakukan program CSR untuk memenuhitanggung


jawab sosial kepada masyarakat. Sebagai pihak luaryang beroperasi
pada wilayah orang lain perusahaan harusmemperhatikan
masyarakat sekitarnya. Perusahaan harus ikutserta menjaga
kesejahteraan ekonomi masyarakat dan jugamenjaga lingkungan dari
kerusakan yang ditimbulkan.

Alasan Ekonomi.

Motif perusahaan dalam melakukan CSR tetap berujung


padakeuntungan. Perusahaan melakukan program CSR untukmenarik
simpati masyarakat dengan membangun image positif bagi
perusahaan yang tujaan akhirnya tetap pada peningkatan profit.

Asumsi ini nampaknya di dukung oleh hasil survey yangdilakukan


oleh Environic International (Toronto), Conference Board (New York)
dan Princes of Wales Busines Leader Forum (London) dimana dari
25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam
membentuk opini perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis,
praktek terhadapkaryawan, dampak terhadap lingkungan, tanggung
jawabperusahaan akan paling berperan, sedangkan 40 %menyatakan
citra perusahaan dan brand image yang paling mempengaruhi kesan
mereka. Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang
dinilai tidak melakukan CSR adalah mereka ingin menghukum dan
50 % tidak akan membeliproduk dari perusahaan yang tidak
melakukan program CSRdan/atau bicara pada orang lain tentang
kekurangan perusahaan tersebut.

Sedangkan di Indonesia, data riset dari majalah SWAterhadap 45


perusahaan menunjukkan bahwa CSR bermanfaatdalam memelihara
dan meningkatkan citra perusahaan (37,38persen), hubungan baik
dengan masyarakat (16,82 persen),dan mendukung operasional
perusahaan (10,28 persen). Halini nampaknya mempengaruhi
perusahaan untuk melakukanprogram CSR dan tidak heran jika saat
ini kita melihat di media-media baik media cetak maupun elektronik
banyaksekali berseliweran tayangan iklan-iklan program CSR

daribeberapa perusahaan yang tujuannya adalah membangun image


positif perusahaan.

Alasan Hukum.

Alasan hukum membuat perusahaan melakukan program CSRhanya


karena adanya peraturan pemerintah. CSR dilakukanperusahaan
karena ada tuntutan yang jika tidak dilakukan akan dikenai sanksi
atau denda dan bukan karena kesadaraan perusahan untuk ikut serta
menjaga lingkungan. Akibatnyabanyak perusahaan yang melakukan
CSR sekedar ikut-ikutanatau untuk menghindari sanksi dari
pemerintah. Hal inidiperkuat dengan dikeluarkannya Undang-undang
PT No. 40pasal 74 yang isinya mewajibkan pelaksanaan CSR
bagiperusahaan-perusahaan yang terkait terhadap SDA dan yang
menghasilkan limbah. Adapun isi dari pasal tersebut adalah :

Ayat 1, dijelaskan bahwa perseroan yang menjalankankegiatan


usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengansumber daya alam
wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Ayat 2 dijelaskan bahwa tanggung jawab sosial danlingkungan itu


merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan
diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang dianggarkan dan

diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya


dilakukan dengan memerhatikan kepatutan dan kewajaran.

Ayat 3 menggariskan perseroan yang tidak melaksanakankewajiban


sebagaimana Pasal 1 dikenai sanksi sesuai denganketentuan
peraturan perundang-undangan.

Dengan adanya undang-undang ini nampaknya semakin membuat


konsep CSR di Indonesia bias makna. CSR bukanlagi sebagai
tanggungjawab sosial yang bersifat sukarela dariperusahaan untuk
masyarakat sekitar tapi berubah menjadi suatu keterpaksaan bagi
perusahaan. Apapun alasan dalam pelaksanaan CSR, hendaknya
perusahaan tetap berpijak pada prinsip dasar dari CSR itu sendiri

Manfaat CSR

Apapun alasan atau motif perusahaan melakukan CSR, yangpasti CSR


penting dilakukan. Sebagaimana yang telahdikemukakan sebelumnya
bahwa CSR merupakan tabunganmasa depan bagi perusahaan untuk
mendapatkankeuntungan. Keuntungan yang diperoleh bukan
sekedarkeuntungan ekonomi tapi, tetapi lebih dari itu
yaitukeuntungan secara sosial dan lingkungan alam bagi
keberlanjutan perusahaan.

Perusahaan-perusahaan yang belum melakukan program


CSRmungkin dapat mencontoh perusahaan lain yang telah lebihdulu

melakukan program CSR dan menikmati manfaat yang ditimbulkan.


Misalnya PT Unilever Indonesia telah melakukanprogram CSR melalui
pendampingan petani kedelai. PTUnilever telah berhasil membina
petani yang menggarap lebihdari 600 hektar kedelai hitam hingga
mengkontribusikansekitar 30 persen kebutuhan produksi Kecap
Bango. Programsemacam ini tentu saja bermanfaat bagi petani dan
perusahaan. Bagi petani misalnya program inibermanfaat untuk
meningkatkan kualitas produksi dan jugamenjamin kelancaran
distribusi, sedangkan bagi perusahaandapat menjamin kelancaran
pasokan bahan baku untukproduk-produk yang menggunakan bahan
dasar kedelai.

Contoh lain perusahaan yang telah melakukan kegiatan CSR


adalahSinar Mas Group melalui Eka Tjipta Fondation. Organisasi
inimerupakan organissi nirlaba yang didirikan untuk
Meningkatkankualitas kehidupan, kesejahteraan dan kemandirian
masyarakat dalamaspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
Kegiatan yang dilakukanmeliputi Bidang Sosial Kemasyarakatan dan
Budaya (melalui kegiatanpendidikan, seni budaya, olah raga,
kesejahteraan sosial, keagamaandan kesehatan), bidang
Pemberdayaan dan Pembinaan Ekonomi Masyarakat (melalui
kegiatan sosial kemitraan usaha kecil menengah serta pertanian
terpadu), dan Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup(melalui kegiatan
sosial pemberdayaan lingkungan hidup dan konservasi).

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan CSR yang dilakukan oleh Eka


TjiptaFoundation telah memberikan manfaat bagi perusahaan yaitu
Sinar Mas sebagai berikut:

Meningkatkan citra perusahaan dimata stakeholder,Membina


hubungan/interaksi yang positifdengan komunitas lokal, pemerintah,
dan kelompok-kelompok lainnya
Mendorong peningkatan reputasi dalam pengoperasian
perusahaan dengan etika yang baik Menunjukkan komitmen
perusahaan, sehingga tercipta kepercayaan dan respek dari pihak
terkait
Membangun pengertian bersama dan kesetiakawananantara dunia
usaha dengan masyarakat
Mempermudah akses masuk ke pasar atau pelanggan
Meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja,
sehinggasemangat loyalitas terhadap perusahaan akan berkembang
Mengurangi resiko perusahaan yang mungkin dapat terjadi
Meningkatkan keberlanjutan usaha secara konsisten

Manfaat-manfaat tersebut hendaknya dapat juga dirasakan


olehperusahaan lain yang telah melakukan program CSR. Melihat
contohdiatas, dapat memberikan gambaran pada kita bahwa
implementasi program CSR bukan hanya untuk mengejar
keuntungan ekonomi tapi juga dapat menghindari terjadinya konflik
dan menjaga keberlanjutan usaha secara konsisten. Apa yang telah
dilakukan oleh PT Unilever dan Sinar Mas juga membuktikan bahwa
sudah saatnya bagi setiapperusahaan maupun instansi untuk
memperhatikan CSR karena banyakmanfaat positif yang dapat
diperoleh dalam pengaplikasiannya.

TUJUAN DAN MANFAAT CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY BAGI


PERUSAHAAN

Program CSR sudah mulai bermunculan di Indonesia seiring telah


disahkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal, adapun isi Undang-Undang tersebut
yang berkaitan dengan CSR, yaitu:

Pada pasal 74 di Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, berbunyi:

1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang


dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan
diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya
dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan


Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Sedangkan pada pasal 25 (b) Undang Undang Penanaman Modal


menyatakan kepada setiap penanam modal wajib melaksanakan
tanggung jawab sosial perusahaan.

Dari kedua pasal diatas dapat kita lihat bagaimana pemerintah


Indonesia berusaha untuk mengatur kewajiban pelaksanaan CSR oleh
perusahaan atau penanam modal

Definisi CSR menurut World Business Council on Sustainable


Development adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk
berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi
yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan
dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Wacana
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)
yang kini menjadi isu sentral yang semakin populer dan bahkan
ditempatkan pada posisi yang penting, karena itu kian banyak pula
kalangan dunia usaha dan pihak-pihak terkait mulai merespon
wacana ini, tidak sekedar mengikuti tren tanpa memahami esensi
dan manfaatnya.

Program CSR merupakan investasi bagi perusahaan demi


pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability) perusahaan dan
bukan lagi dilihat sebagai sarana biaya (cost centre) melainkan

sebagai sarana meraih keuntungan (profit centre). Program CSR


merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung terciptanya
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Disisi lain
masyarakat mempertanyakan apakah perusahaan yang berorientasi
pada usaha memaksimalisasi keuntungan-keuntungan ekonomis
memiliki komitmen moral untuk mendistribusi keuntungankeuntungannya membangun masyarakat lokal, karena seiring waktu
masyarakat tak sekedar menuntut perusahaan untuk menyediakan
barang dan jasa yang diperlukan, melainkan juga menuntut untuk
bertanggung jawab sosial.

Penerapan program CSR merupakan salah satu bentuk implementasi


dari konsep tata kelola perusahaan yang baik (Good Coporate
Governance). Diperlukan tata kelola perusahaan yang baik (Good
Corporate Governance) agar perilaku pelaku bisnis mempunyai
arahan yang bisa dirujuk dengan mengatur hubungan seluruh
kepentingan pemangku kepentingan (stakeholders) yang dapat
dipenuhi secara proporsional, mencegah kesalahan-kesalahan
signifikan dalam strategi korporasi dan memastikan kesalahankesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.

Dengan pemahaman tersebut, maka pada dasarnya CSR memiliki


fungsi atau peran strategis bagi perusahaan, yaitu sebagai bagian
dari manajemen risiko khususnya dalam membentuk katup
pengaman sosial (social security). Selain itu melalui CSR perusahaan
juga dapat membangun reputasinya, seperti meningkatkan citra
perusahaan maupun pemegang sahamnya, posisi merek perusahaan,
maupun bidang usaha perusahaan.

Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa CSR berbeda dengan charity
atau sumbangan sosial. CSR harus dijalankan di atas suatu program
dengan memerhatikan kebutuhan dan keberlanjutan program dalam
jangka panjang. Sementara sumbangan sosial lebih bersifat sesaat
dan berdampak sementara. Semangat CSR diharapkan dapat mampu
membantu menciptakan keseimbangan antara perusahaan,
masyarakat dan lingkungan. Pada dasarnya tanggung jawab sosial
perusahaan ini diharapkan dapat kembali menjadi budaya bagi
bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat dunia dalam
kebersamaan mengatasi masalah sosial dan lingkungan.

Keputusan manajemen perusahaan untuk melaksanakan programprogram CSR secara berkelanjutan, pada dasarnya merupakan
keputusan yang rasional. Sebab implementasi program-program CSR
akan menimbulkan efek lingkaran emas yang akan dinikmati oleh
perusahaan dan seluruh stakeholder-nya. Melalui CSR, kesejahteraan
dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal maupun masyarakat
luas akan lebih terjamin. Kondisi ini pada gilirannya akan menjamin
kelancaran seluruh proses atau aktivitas produksi perusahaan serta
pemasaran hasil-hasil produksi perusahaan. Sedangkan terjaganya
kelestarian lingkungan dan alam selain menjamin kelancaran proses
produksi juga menjamin ketersediaan pasokan bahan baku produksi
yang diambil dari alam.

Bila CSR benar-benar dijalankan secara efektif maka dapat


memperkuat atau meningkatkan akumulasi modal sosial dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Modal sosial,

termasuk elemen-elemennya seperti kepercayaan, kohesifitas,


altruisme, gotong royong, jaringan dan kolaborasi sosial memiliki
pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Melalui
beragam mekanismenya, modal sosial dapat meningkatkan rasa
tanggung jawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi
dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat dan
menurunnya tingkat kekerasan dan kejahatan.

Tanggung jawab perusahaan terhadap kepentingan publik dapat


diwujudkan melalui pelaksanaan program-program CSR yang
berkelanjutan dan menyentuh langsung aspek-aspek kehidupan
masyarakat. Dengan demikian realisasi program-program CSR
merupakan sumbangan perusahaan secara tidak langsung terhadap
penguatan modal sosial secara keseluruhan. Berbeda halnya dengan
modal finansial yang dapat dihitung nilainya kuantitatif, maka modal
sosial tidak dapat dihitung nilainya secara pasti. Namun demikian,
dapat ditegaskan bahwa pengeluaran biaya untuk program-program
CSR merupakan investasi perusahaan untuk memupuk modal sosial.

Anda mungkin juga menyukai