Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

REHABILITASI MEDIK
PADA BRACHIALGIA

Oleh :
Aulia Agung Sanubari
Dwi Tiara Septiani
Riza Setya Agrenza
Henrikus Jeffery Lawandy
Luqma Prinata Widyantara
Katarina B Dinda SM

G99131022
G99131035
G99131070
G99131040
G99131050
G99131046

Pembimbing :
Dr. Noer Rachma, dr.,Sp.KFR

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia sehingga dapat menyelesaikan referat dengan
judul : Rehabilitasi Medik pada Brachialgia. Penulis menyadari bahwa
penulisan dan penyusunan referat ini tidak lepas dari bantua berbagai pihak, baik
berupa bimbingan dan nasihat, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih
kepada :
1. Dr. Noer Rachma, dr.,Sp.KFR
2. Tri Lastiti W, dr, Sp.RM, Mkes

3. Desy Kurnia Wati Tandiyo, dr., Sp.KFR


4. Yunita Fatmawati, dr., Sp.KFR
Penulis menyadari bahwa referat ini masih belum sempurna, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan
referat ini. Semoga referat ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.. 2
Daftar Isi3
BAB I PENDAHULUAN.4
BAB II BRACHIALGIA
Definisi..5
Epidemiologi.6
Etiologi..6
Anatomi.6
Patofisologi13
Gejala Klinis..14
Diagnosis...15
Penatalaksanaan.16
BAB III PROGRAM FISIOTERAPI PADA BRACHIALGIA...18
BAB IV SIMPULAN25
DAFTAR PUSTAKA26

BAB I
PENDAHULUAN
Brachialgia adalah istilah teknis untuk nyeri lengan. Hal ini digunakan
ketika rasa sakit itu dianggap karena adanya permasalahan dengan saraf, yang
paling sering terjadi yaitu akibat syaraf terkompresi atau terjepit di leher.
Brachialgia juga istilah yang digunakan dengan mengacu pada nyeri menjalar
sepanjang saraf pleksus brakialis.1
Kanal tulang belakang dan foramina intervertebralis adalah terowongan
tulang di tulang belakang. Sumsum tulang belakang dan saraf tulang belakang
berjalan melalui ini. Bila ukuran terowongan ini berkurang, ruang untuk saraf
tulang belakang dan sumsum tulang belakang akan menyempit. Akibatnya,
terjadinya tekanan pada struktur yang berada disana.2
Spasme otot-otot cervical juga dapat menyebabkan nyeri karena iskemi dari
otot tersebut menekan pembuluh darah sehinggga aliran darah akan melambat dan
juga terjadi penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan.
Sebuah survei epidemiologi menunjukkan kejadian tahunan brachialgia

adalah 83 per 100.000 orang melaporkan brachialgia terjadi diantara usia 13 dan
91 tahun, dan laki-laki dengan jumlah lebih dari perempuan. Dalam studi ini, 14,8
persen orang dengan brachialgia melaporkan dengan aktivitas fisik atau trauma,
dan hanya 21,9 persen memiliki tonjolan disk yang objektif yang menyertainya
pada pemeriksaan pencitraan. Spondylosis, disk protusion, atau keduanya
menyebabkan hampir 70 persen kasus.3
Brachialgia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain metabolik,
trauma, secondary symptoms, peradangan dan referred pain. Gambaran klinis
brachialgia biasanya berupa kekakuan pada leher dan menjalar ke bahu pada
daerah otot trapezius. Hal hal yang dikeluhkan pasien yang mengalami brachialgia
adalah nyeri leher, kaku leher (stifness), gejala radikuler dan paresthesia.2

BAB II
BRACHIALGIA
1. DEFINISI
Brachialgia adalah kompleks gejala ditandai dengan nyeri di dan sekitar
bahu menjalar

ke lengan. Hal ini pada dasarnya adalah sebuah gangguan

sensorik, dan telah digambarkan dengan berbagai nama yang didasarkan pada
konsep etiologi yang disajikan oleh berbagai peneliti. Brachialgia berarti nyeri
pada lengan, dan tidak memiliki ke faktor penyebab.2
Brachialgia adalah istilah teknis untuk nyeri lengan. Hal ini digunakan
ketika rasa sakit itu dianggap karena adanya permasalahan dengan saraf, yang
paling sering terjadi yaitu akibat syaraf terkompresi atau terjepit di leher 4.
Brachialgia juga istilah yang digunakan dengan mengacu pada nyeri menjalar
sepanjang saraf pleksus brakialis.3
Kanal tulang belakang dan foraminae intervertebralis adalah terowongan
tulang di tulang belakang. Sumsum tulang belakang dan saraf tulang belakang
berjalan melalui ini. Bila ukuran terowongan ini berkurang, ruang untuk saraf
tulang belakang dan sumsum tulang belakang akan menyempit. Akibatnya,
terjadinya tekanan pada struktur yang berada disana.4
Hal ini terjadi akibat iritasi pada saluran saraf sensorik di suatu tempat
diantara sel-sel sensorik kortikal dan daerah di mana rasa sakit yang dirasakan.
Dari poin dari iritasi saraf sensasi diproyeksikan perifer sebagai radiasi yaitu,
ditafsirkan oleh otak kita sebagai datang dari ujung distal dari saraf.4
Gejala kompresi tulang belakang termasuk rasa sakit di leher, tulang belikat atau
lengan. Mati rasa, kesemutan sensasi, dan kelemahan yang sering dikaitkan
dengan brachialgia.3
Gangguan yang dapat menyebabkan kompresi saraf dan brachilagia
termasuk stenosis tulang belakang, penyakit diskus degeneratif, penonjolan atau
prolaps diskus intervertebralis, Spurs tulang (osteofit), atau spondylosis
(osteoartritis tulang belakang). Umumnya dua atau lebih kondisi ini terlihat
bersama-sama.2

2. EPIDEMIOLOGI
Sebuah survei epidemiologi menunjukkan kejadian tahunan brachialgia
adalah 83 per 100.000 orang .1 Orang melaporkan brachialgia adalah antara 13
dan 91 tahun, dan laki-laki dengan jumlah lebih dari perempuan. Dalam studi ini,
14,8 persen orang dengan brachialgia melaporkan dengan aktivitas fisik atau
trauma, dan hanya 21,9 persen memiliki tonjolan disk yang objektif yang
menyertainya pada pemeriksaan pencitraan. Spondylosis, disk protusion, atau
keduanya menyebabkan hampir 70 persen kasus.3

3. ETIOLOGI
a. Metabolik

: penderita DM, influenza, asam urat.5

b. Trauma

: penekanan pada plexus brachialis, membawa beban


yang terlalu berat di bahu, memakai pakaian yang
sangat ketat.6

c. Secondary Symptoms : osteoarthritis, metastasis tumor ke kelenjar glandula di


axilla, spinal meninges.
d. Peradangan

: peradangan pada persendian bahu, terjadinya fibrositis


dari otot ke saraf.

e. Referred pain

: biasanya pada pasien-pasien yang mengalami kelainan


Jantung.7

4. ANATOMI
A. Os Vertebra
Tulang vertebra mempunyai suatu bentuk tertentu tapi bukanmerupakan
suatu tiang yang lurus melainkan membentuk suatu lengkungan yang cembung
kebelakang dan cembung kedepan pada bidang sagital. Yaitu kyposis thoracalis
dan sacralis serta lordosiscervicalis dan lumbalis. Selain itu juga ada scoliosis
yang melengkung kesamping dalam bidang frontal. Columna vertebralis
membentuk struktur dasar batang badan yang terdiri dari 32-33 ruas vertebra dan

terbagi menjadi : 7 vertebra cervicalis, 12 vertebra thoracalis, 5 vertebralumbalis


, 5 vertebra sacralis, 3-4 i.

Gambar: Tulang Vertebra; tampak ventral, dorsal dan lateral


(R. Putz & R Pabst: 2000)
Keterangan :
1. Vertebra Cervical 1-7
2. Vertebra Thoracic 1-12
3. Vertebra Lumbalis 1-5
4. Os sacrum
5. Os coccygeus
6. Atlas
7. Axis
8. Vertebra promineus
9. Foramen intervertebralis
10. Promontorium
Vertebra

umumnya

terdiri

dari

sebuah

badan

(corpus)

dan

sebuahlengkungan (arcus). Lengkungan terdiri dari dua bagian yaitu lengkungan


radik dan procesus spinosus.8
B. Os Cervical
Cervical spine terdiri atas 7 vertebra dan 8 saraf cervical. Fungsiutama
leher adalah menghubungkan kepala dengan tubuh. Stabilitas kepala tergantung
pada 7 buah vertebra servikal.Hubungan antara vertebra cervical melalui suatu
susunan persendian yang cukup rumit. Gerakan leher dimungkinkan karena
adanya berbagai pensendian, facet joint yang ada di posterior memegang peranan
penting.

Persendian tersebut terdiri dari:


a. Atlanto occypitalis (C0 C1)
Merupakan

sendi

sinovial

jenis

ovoid

yang

dibentuk

inferiorarticular face atlas cekung. Gerak utama fleksi-ekstensi


sehingga dikenal sebagai yes joint.
b. Atlanto axialis (C1 C2)
Merupakan sendi sinovial jenis sendi putar, dibentuk olehatlas
arc dengan dens dimana gerak utamanya rotasi kanan-kiri, sehingga
dikenal sebagai no joint.
c. Intervertebral joint (C2 C7)
Gerakan

ke

segala

arah,

dengan

sepertiekstensi, fleksi, dan lateral fleksi.

Gambar: cervical vertebrae


C. Otot-otot Regio Cervical

gerakan

dominan

Gambar:
Otot-otot Leher tampak lateral
(R. Putz & R Pabst: 2000)
Keterangan gambar :
1. m. Sternocleidomastoideus 5. m. Scaleneus Anterior
2. m. Semispinalis
6. m. Scaleneus Medius
3. m. Splenius Capitis
7. m. Scaleneus Posterior
4. m. Levator Scapulae
8. m. Trapezius
a. m. Rectus capitis posterior major
1) Origo di procesus spinosus axis
2) Insertionya di linea nuchealis inferior
3) Inervasinya dari n. suboccipotalis.
b. m. Rectus capitis posterior minor
1) Origo di tuberculum posterius dari arcus posterior (atlas)
2) Insertionya di linea nuchealis inferior I
3) nervasinya dari n. suboccipotalis.
c. m. Obliqus capitis superior
1) Origo di tuberculum posterius dari arcus tranversus (atlas)
2) Insertionya di linea nuchealis inferior
3) Inervasinya dari n. suboccipotalis.
d. m. Obliqus capitis inferior
1) Origo di procesus spinosus axis
2) Insertionya di procesus tranversus
3) Inervasinya di n. suboccipotalis.
e. m. Rectus capitis lateralis
1) Origo di procesus tranversus bagian depan

2) Insertio di procesus jugularis os accipitale


3) Inervasinya dari n. Cervicalis.
Kelima otot tersebut berfungsi menyelaraskan posisi dan kinematik
sendikepala.
f. m. Sternocleidomastoideus
1) Origo di caput longum dari permukaan ventral sternum, caput
breve dari 1/3 sternal clavicula.
2) Insertio di lingkar belakang procesus mastoideus dan bagian
laterallinea nuchalis superior.
3) Inervasi dari n. accesorius

pleksus

cervicalis

dan

fungsinyamenegakkan kepala, fleksi leher, rotasi leher ke sisi


berlawanan.
g. m. Scalenus anterior
1) Origo di tubercula anterior dari procesus tranversi VC 3-6.
2) Insertio di tuberculum musculi scaleni anterior costa I.
3) Inervasi dari cabang pleksus cervicalis dan pleksus brachialis
danfungsinya thorax mengangkat 2 tulang rusuk sebelah cranial
(otot-ototinspirasi), tulang belakang flexi lateral tulang belakang
leher.
h. m. Scalenus medius
1) Origo di tubercula anterior dari procesus tranversi semua VC.
2) Insertio caput breve pada costa I, lateral dari m. Scalenus
anterior,belakang sulkus arteria subclavia
3) Inervasi dari cabang pleksus cervicalis dan pleksus brachialis
danfungsinya thorax mengangkat 2 tukang rusuk sebelah cranial
(otot-ototinspirasi), tulang belakang flexi lateral tulang belakang
leher.
i. m. Scalenus anterior
1) Origo di tubercula posterior dari procesus tranversi semua VC 56
2) Insertio bertendon pendek dan pipih pada tepi atas costa II dan III
3) Inervasi dari cabang pleksus cervicalis dan pleksus brachialis
danfungsinya mengangkat 2 tukang rusuk sebelah cranial (ototototinspirasi), tulang belakang flexi lateral tulang belakang leher.
j. m. longus capitis
1) Origo di tubercula anterior dari procesus tranversi semua C3-6

2) Insertio di permukaan luar pars basilaris ossis occipitalis


3) Inervasi dari cabang pleksus cervicalis dan pleksus brachialis
danfungsinya flexi leher.
D. Persarafan
Delapan saraf servikal berasal dari medulla spinalis segmenservikal, 7
saraf servikal keluar dari medula spinalis di atas vertebrayang bersangkutan,
namun saraf servikal ke 8 keluar dari medullaspinalis di bawah VC7 dan di atas
VTh1 serta costae pertama. Saraf-sarafini memberikan layanan saraf sensorik
pada tubuh bagian atas dan ekstremitas superior berdasarkan pola dermatom.8
Sedangkan layananmotoris dan refleks dapat dilihat pada table di bawah
ini :
Tabel 1. Layanan innervasi motorik dan refleks dari akar saraf servikal
Saraf
VC 3-5
VC5
VC6

Innervasi motorik
Diafragma
otot deltoid, biceps
ekstensor wrist, abduktor

VC 5-6
VC7

danekstensor thumb
biceps, brachioradialis
triceps, fleksor wrist, ekstensor

VC 6-7
VC8
VTh1

jari
Triceps
fleksor jari
otot-otot intrinsik tangan

Cervical spine dalam kehidupan sehari-hari bekerja sangat berat,tidak


terhitung jumlah gerakan yang harus dilakukan dalam proses menunjang fungsi
kepala. Fungsi kepala antara lain berbicara, melihat, membau, mendengar,
makan / minum dan menahan keseimbangan sewaktu tubuh bergerak. Setiap
gerakan dari bagian tubuh tertentu harus diimbangi gerakan servikal, maka tidak
mengherankan, nyeri servikalseringkali timbul.
E. Diskus Vertebra Cervical
Diskus intervetebralis adalah lempengan kartilago yang berbentuksebuah
bantalan di antara dua tulang belakang. Material yang keras darifibrosa
digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola di bagian tengah diskus
dinamakan Nukleus Pulposus. Discus pada vertebrae cervical lebih kecil

10

disbanding dari toracal dan lumbal. Terdiri dari nucleus pulposus, annulus
fibrosus, dan 2 cartilaginous end plate. Lebih tertutup tulang bila dibandingkan
dengan vertebra yang lain.8
5. PATOFISIOLOGI
Saat mengalami degenerasi,

diskus

mulai

menipis

karena

kemampuannyamenyerap air berkurang sehingga terjadi penurunan kandungan air


dan matriks dalam diskus menurun. Degenerasi yang terjadi pada diskus
menyebabkan fungsi diskus sebagai shock absorber menghilang, yang kemudian
akan timbul osteofit yang menyebabkan penekanan pada radiks, medulla spinalis
dan ligamen yang pada akhirnya timbul nyeri dan menyebabkan penurunan
mobilitas/toleransi jaringan tehadap suatu regangan yang diterima menurun
sehingga tekanan selanjutnya akan diterima oleh facet joint. Degenerasi pada
facet joint akan diikuti oleh timbulnya penebalan subchondral yang kemudian
terjadi osteofit yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan pada foramen
intervertebralis. Hal ini akan menyebabkan terjadinya kompresi/penekanan pada
isi foramen intervertebral ketika gerakan ekstensi, sehingga timbul nyeri yang
pada akhirnya akan menyebabkan penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap
suatu regangan yang diterima menurun.6
Pada uncinate joint yang memang

sebagai

sendi

palsu

yang

terusmengalami friksi dan iritasi secara terus-menerus akan timbul osteofit juga
yang kemudian akan menekan kanalis spinalis sehingga timbul nyeri dan
menurunkan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan.7
Berkurangnya tinggi diskus akan diikuti dengan pengenduran ligamen
yang

mengakibatkan

nukleuspulposus

dapat

ligamentumlongitudinal

fungsinya
berpindah
posterior,

berkurang
kearah

dan

instabilitas.

posterior,

menimbulkan

nyeri

Akibatnya

sehingga
dan

menekan

menurunkan

mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan.


Spasme otot-otot cervical juga dapat menyebabkan nyeri karena
iskemiadari otot tersebut menekan pembuluh darah sehinggga aliran darah akan
melambat dan juga terjadi penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadapsuatu
regangan. Dari kesemua faktor diatas akan menimbulkan penurunanlingkup gerak
sendi pada cervical.9

11

6. GEJALA KLINIS
Gambaran klinis brachialgia biasanya berupa kekakuan pada leher dan
menjalar ke bahu pada daerah otot trapezius. Terdapat perasaan kaku dan nyeri
pada gerakan.9
Tanda Dan Gejala:
a. Nyeri Leher
Gejala yang utama biasanya berupa nyeri pada bagian belakang leher
atau daerah sekitarnya (m. trapezius). Timbulnya nyeri terjadi secara
perlahan-lahan walaupun terkadang timbul mendadak. Rasa nyeri sendiri
biasanya bersifat kronik dan dihubungkan dengan adanya aktivitas yang berat
atau keadaan umum yang menurun. Terkadang rasa nyeri menjalar ke bahu
atau lengan atas dan juga bisa mengenai daerah cervical atas yang
menyebabkan nyeri occipital.5
b. Kaku Leher (Stifness)
Kaku leher dimulai pada pagi hari dan makin bertambah dengan
adanya aktivitas. Gerakan leher menjadi terbatas dan terkadang disertai
dengan krepitasi dan nyeri.
c. Gejala Radikuler
Tergantung pada radiks saraf yang terkena oleh spur atau iritasi oleh
synovitis dari facet sendiri dan biasanya bersifat unilateral. Pasien mengeluh
adanya paresthesia numbness dan jarang disertai nyeri. Paresthesia numbness
sendiri tergantung pada bagian vertebrae cervical mana yang mengalami
spondylosis, dan memiliki manifestasi yang berbeda-beda.7
d. Parestesia (Kesemutan)
Pada umumnya parestesia ditunjukan ada di dalam jari tangan. Disini
lokalisasi itu justru sangat penting, karena dari lokalisasinya dapat
disimpulkan pada tingkatan mana struktur saraf terangsang, pada tekanan
akar C6 menyebabkan rasa kesemutan sampai ibujari dan telunjuk.

7. DIAGNOSIS

12

Tidak ada kriteria khusus untuk mendiagnosis dari brachialgia. Pada


banyak kasus, brachialgia ditemukan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Gejala-gejala yang mungkin nampak pada inspeksi dan palpasi, misalnya 9,10 :
1.
2.
3.
4.
5.

Nyeri kaku pada leher


Rasa nyeri dan tebal dirambatkan ke ibu jari dan sisi radial tangan
Dijumpai kelemahan pada biceps atau triceps
Berkurangnya reflex biceps
Dijumpai nyeri menjalar (referred pain) di bahu yang samar, dimana nyeri
bahu hanya dirasa bertahan di daerah deltoideus bagian lateral dan
infrascapula atas.

Provokatif test yang dilaporkan berguna untuk diagnosis brachialgia yakni10,11 :


1. Tes Spurling
Tes ini dilakukan dengan cara posisi leher diekstensikan dan kepala
dirotasikan ke salah satu sisi, kemudian berikan tekanan ke bawah pada
puncak kepala. Hasil positif bila terdapat nyeri radikuler ke arah
ekstremitas ipsilateral sesuai arah rotasi kepala.
2. Tes Distraksi Kepala
Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan oleh
kompresi terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat diperlihatkan bila
kecurigaan iritasi radiks syaraf lebih memberikan gejala dengan tes
kompresi kepala walaupun penyebab lain belum dapat disingkirkan.
3. Tindakan Valsava
Dengan tes ini tekanan intratekal dinaikkan, bila terdapat proses desak
ruang di kanalis vertebralis bagian cervical, maka dengan di naikkannya
tekanan intratekal akan membangkitkan nyeri radikuler. Nyeri syaraf ini
sesuai dengan tingkat proses patologis dikanalis vertebralis bagian
cervical. Cara meningkatkan tekanan intratekal menurut Valsava ini adalah
pasien disuruh mengejan sewaktu ia menahan nafasnya. Hasil positif bila
timbul nyeri radikuler yang berpangkal di leher menjalar ke lengan.
Pemeriksaan Penunjang :
1. Penyinaran
Tes diagnostik pertama yang sering dilakukan pada pasien dengan keluhan
nyeri leher adalah foto polos servikal. Foto polos servikal sangat penting
untuk mendeteksi adanya fraktur dan subluksasi pada pasien dengan

13

trauma leher. CT scan menyediakan informasi yang baik pada struktur


tulang, tetapi ada keterbatasan berkaitan dengan jaringan lunak. MRI
adalah pemeriksaan pilihan, menunjukkan perubahan morfologi yang
terjadi di diskus intervertebralis, saraf tulang belakang, akar saraf dan
jaringan lunak sekitarnya. Diagnosis tidak boleh hanya didasarkan pada
temuan radiologis, karena sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa
sekitar 30% dari pasien dengan temuan MRI tidak menunjukkan gejala.
Ketika klinis dan radiologis temuan cocok, maka akan lebih mudah untuk
membuat diagnosa yang tepat.12
2. Tes elektrofisiologi
Tes elektrofisiologi termasuk konduksi saraf dan elektromiografi (EMG).
Ini berguna ketika ada kecurigaan cacat saraf tetapi mereka tidak
memberikan informasi khusus mengenai nyeri.13
8. PENATALAKSANAAN
a. Pengobatan Konservatif
Obat penghilang nyeri atau relaksan otot dapat diberikan pada fase akut.
Obat-obatan ini biasanya diberikan selama 7-10 hari. Jenis obat-obatan yang
banyak digunakan biasanya dari golongan salisilat atau NSAID. Bila keadaan
nyeri dirasakan begitu berat, kadang-kadang diperlukan juga analgetik golongan
narkotik seperti codein, meperidin, bahkan bisa juga diberikan morfin. Ansiolitik
dapat diberikan pada mereka yang mengalami ketegangan mental. Pada kondisi
tertentu seperti nyeri yang diakibatkan oleh tarikan, tindakan latihan ringan yang
diberikan lebih awal dapat mempercepat proses perbaikan.14
b. Operasi
Operasi direkomendasikan pada kasus di mana pada hasil penyinaran
didapatkan kompresi servikal dan terdapat klinis dari mielopati.14
c. Fisioterapi
Tujuan utama penatalaksanaan adalah reduksi dan resolusi nyeri,
perbaikan atau resolusi defisit neurologis dan mencegah komplikasi atau
keterlibatan medulla spinalis lebih lanjut.15

14

BAB III
PROGRAM FISIOTERAPI PADA BRACHIALGIA
Fisioterapis memilih intervensi berdasarkan pada kompleksitas dan tingkat
keparahan

dari

problem.

Fisioterapis

memilih,

mengaplikasikan

atau

memodifikasi satu atau lebih prosedur intervensi berdasarkan pada tujuan akhir
dan hasil yang diharapkan yang telah dikembangkan terhadap pasien. Metode
tersebut meliputi:
1. TENS (Trancutaneus Electrical Nerve Stimulation)13
a. Pengertian TENS
TENS merupakan alat stimulasi elektris maksudnya alat yang
mengubah arus listrik menjadi stimulasi untuk terapi. TENS
memberikan arus listrik dengan amplitudo sampai dengan 50mA
dengan frekuensi 10-250Hz, banyak digunakan untuk terapi
pengurangan rasa sakit.
b.

Bentuk pulsa TENS :


1) Monophasic mempunyai bentuk gelombang rectanguler, trianguler
dan gelombang separuh sinus searah.

15

2) Biphasic bentuk pulsa rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal


biphasic simetris; pola polyphasic ada rangkaian gelombang sinus
c.
d.

dan bentuk interferensi atau campuran.


Penempatan Elektroda
Efek fisiologis
1) Mengurangi nyeri
2) TENS merangsang sel neuron sensory yang diameter besar untuk
masuk lebih dahulu ke gate (pintu masuk) di subtansia gelatinosa
dan menghambat sel nociceptive yang berdiameter kecil untuk
memberikan informasi ke otak, sehingga rangsang nyeri tidak
sampai ke otak dan
3) Meningkatkan aliran darah dan pertukaran cairan.

2. Ultrasound14,15
a. Gelombang Ultrasound
Bentuk gelombang ultrasound adalah longitudinal. Ultrasound terapi
merupakan suatu terapi dengan menggunakan getaran mekanik
gelombang suara dengan frekuensi lebih dari 20.000 Hz, yang
digunakan dalam fisioterapi adalah 0,5 MHz-5MHz dengan tujuan
untuk menimbulkan efek terapeutik.
b.

Penyerapan dan Penetrasi Ultrasound


Jika gelombang ultrasound masuk ke dalam jaringan maka efek yang
diharapkan adalah efek fisiologis. Oleh karena adanya penyerapan
tersebut maka semakin dalam gelombang ultrasound masuk dan
intensitasnya semakin berkurang.
Tabel Nilai penetrasi ultrasound terhadap jaringan

16

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa banyaknya energi ultrasound diserap
dalam jaringan tendon dan jaringan tulang rawan.
c.

d.

e.

Indikasi Ultrasound
1) Kelainan-kelainan / penyakit pada jaringan tulang sendi dan otot
2) Keadaan-keadaan post traumatik
3) Fraktur
4) Rheumathoid Arthritis pada stadium tidak aktif
5) Kelainan / penyakit pada sirkulasi darah
6) Penyakit-penyakit pada organ dalam
7) Kelainan / penyakit pada kulit
8) Luka bakar
9) Jaringan parut oleh karena operasi
10) Kontraktur
Kontra Indikasi Ultrasound
1) Di dekat uterus pada wanita hamil
2) Epiphysela plates
3) Testis
4) Post laminectomi
5) Hilangnya sensibilitas
6) Tumor
7) Diabetes Mellitus (DM)
8) Trombhoplebitys dan Varises
Efek Ultrasound
Efek Fisiologis
Efek fisiologis yang ditimbulkan oleh ultrasound antara lain:
1) Meningkatkan sirkulasi darah
Salah satu efek yang ditimbulkan oleh ultrasound adalah panas
sehingga tubuh memberikan reaksi terhadap panas tersebut yaitu
terjadinya vasodilatasi.16
2) Rileksasi Otot
Dengan adanya efek panas maka akan mengakibatkan vasodilatsi
pembuluh darah sehingga terjadi perbaikan sirkulasi darah yang
mengakibatkan rileksasi otot. Hal ini disebabkan oleh karena zat-

17

zat pengiritasi diangkut oleh darah, disamping itu efek vibrasi


ultrasound mempengaruhi serabut afferent secara langsung dan
mengakibatkan rileksasi otot.
3) Meningkatkan Permeabilitas Membran
Melalui mekanisme getaran gelombang ultrasound maka cairan
tubuh akan didorong ke membran sel yang menyebabkan
perubahan konsentrasi ion sehingga mempengaruhi nilai ambang
dari sel-sel.
4) Mempercepat proses penyembuhan jaringan
Dengan pemberian ultrasound akan menyebabkan terjadinya
vasodilatasi pembuluh darah sehingga meningkatkan suplai bahan
makanan pada jaringan lunak dan juga terjadi peningkatan
antibody yang mempermudah terjadinya perbaikan jaringan yang
rusak.
5) Mengurangi Nyeri
Nyeri dapat dikurangi dengan menggunakan ultrasound, selain
dipengaruhi oleh efek panas juga berpengaruh langsung pada saraf.
Hal ini disebabkan oleh karena gelombang pula dengan intensitas
rendah sehingga dapat menimbulkan pengaruh sedative dan
analgesi pada ujung saraf afferent II dan IIIa sehingga diperoleh
efek terapeutik berupa pengurangan nyeri sebagai akibat blockade
aktivitas pada HPC melalui serabut saraf tersebut.
3. Neck Cailliet Exercise16
Neck Cailliet Exercise adalah salah satu terapi latihan isometrik kontraksi
dengan menahan tahanan maksimal dan diakhiri dengan relaksasi. Metoda
Neck Cailliet Exercise dapat digunakan untuk mengatasi spasme otot dan
untuk memelihara atau meningkatkan kekuatan otot leher untuk
memperoleh ketahanan statis dan dinamis leher, memelihara luas gerak
sendi dan kelenturan leher, serta memperoleh postur yang benar dengan
terkoreksinya muscle imbalance.

18

Metode ini mula mula intinya berupa latihan isometric untuk otot otot
leher, namun dalam perkembangannya ditambah dengan latihan postur
untuk mengurangi lordosis leher dan forward head posture: latihan
stretching untuk otot otot leher dan otot otot bahu.
a.

Isometric Contraction
Adalah kontraksi sekelompok otot untuk mengangkat atau mendorong
beban yang tidak bergerak dengan tanpa gerakan anggota tubuh, dan
panjang otot tidak berubah. Seperti mengangkat, mendorong, atau
menarik suatu benda yang tidak dapat digerakan (tembok, pohon,
dsb). Lamanya perlakuan kira-kira 10 detik, pengulangan 3 kali, dan
istirahat 20 - 30 detik.

b.

Active Stretching
Active stretching adalah suatu metode penguluran/stretching yang
biasa dilakukan pada otot-otot
postural sebagai suatu latihan fleksibilitas yang dilakukan secara aktif
oleh klien/pasien. Active stretching meningkatkan fleksibilitas secara
aktif dan menguatkan otot agonis. Praktiknya pada saat melakukan
active stretching, otot antagonis (group otot pada sisi yang tidak di
stretch) dan otot agonis (otot yang akan di-stretch) keduanya
rileks.Secara perlahan dan lembut, gerakan tubuh meningkatkan
tekanan pada group otot yang akan di stretch. Tekanan pada otot
agonis saat peregangan secara aktif akan membuat otot mudah terulur,
dimana muscle spindle tidak terstimulasi optimal dan stimulasi
optimal terjadi pada golgi tendon, sehingga akan diperoleh suatu
penguluran yang berarti. Prinsip utama dari active stretching
membantu pasien bergerak lebih mudah dan lebih baik sehingga tidak
akan terjadi kerobekan pada otot jika stretching dilakukan dengan
perlahan dan lembut.
Dari latihan latihan tersebut, diharapkan akan diperoleh :
a. Pengurangan nyeri leher dan pencegahan rekurensi
b. Postur leher yang benar
c. Fungsi leher yang adekuat

19

Gambar Neck and Shoulder Stretches


4. Program Untuk di Rumah
Program yang diberikan kepada pasien untuk dikerjaan di rumah. Program
yang diberikan harus sesuai dengan kondisi, kemampuan, kasus, dan mudah untuk
dilakukan. Program yang diberikan juga mencakup proper body mechanik agar
pasien tidak mengalami cidera yang makin parah.
Proper body mechanics (PBM) atau mekanisme tubuh yang tepat, adalah
cara bagaimana kita memposisikan tubuh dengan benar pada saat kita sedang
berbaring, duduk, ataupun berdiri, dan bagaimana kita menggerakkan tubuh
dengan tepat pada saat kita bekerja atau melakukan berbagai aktivitas kehidupan
sehari-hari, termasuk mengangkat dan membawa barang, mendorong atau
menarik suatu barang.16
PBM erat kaitannya dengan keadaan punggung kita baik pada keadaan
tidak bergerak (statik) maupun saat bergerak (dinamik). Punggung kita
berhubungan dengan bagian tubuh yang lain, yaitu kepala, leher, bahu, dada,
perut, dan panggul. Semua bagian tubuh tersebut membentuk postur tubuh. Awal
dari penerapan PBM adalah kesadaran untuk mempertahankan postur tubuh yang

20

baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Postur tubuh seseorang
dikatakan baik, apabila ia berdiri tegak akan:
a. Rileks, tanpa perlu mengeluarkan tenaga yang berlebihan
b. Tidak melelahkan dan tidak menimbulkan rasa nyeri (terutama pada
punggung atau pinggang) dalam jangka waktu yang cukup lama
c. Memberikan estetis yang baik.

BAB IV
SIMPULAN
Brachialgia adalah kompleks gejala ditandai dengan nyeri di dan sekitar
bahu menjalar

ke lengan. Hal ini pada dasarnya adalah sebuah gangguan

sensorik, dan telah digambarkan dengan berbagai nama yang didasarkan pada
konsep etiologi yang disajikan oleh berbagai peneliti. Brachialgia merupakan
istilah teknis untuk nyeri lengan. Hal ini digunakan ketika rasa sakit itu dianggap
karena adanya permasalahan dengan saraf, yang paling sering terjadi yaitu akibat
syaraf terkompresi atau terjepit di leher. Brachialgia juga istilah yang digunakan
dengan mengacu pada nyeri menjalar sepanjang saraf pleksus brakialis.5
Penatalaksanaan definitif pada brachialgia bergantung pada etiologinya
dan dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Program rehabilitasi medik

21

merupakan salah satu program penunjang yang tidak dapat dihiraukan untuk dapat
mencapai quality of life dari pasien. Program rahabilitasi medik yang diterapkan
pada

penatalaksanaan

brachialgia

bertujuan

untuk

mengurangi

hingga

menghilangkan rasa nyeri yang disebabkan oleh brachialgia dan lebih


mementingkan untuk mengajarkan kepada pasien tentang proper body
mechanism. Metode yang dapat dilakukan dalam merehabilitasi brachialgia,
antara lain dengan menggunakan TENS, ultrasound, dan neck caillit exercise.
Masing-masing dari metode-metode tersebut memiliki mekanisme yang berbeda.14

DAFTAR PUSTAKA
1. Eubanks JD, Case Western Reserve University School of Medicine,
Cleveland, Ohio Am Fam Physician. 2010
2. Nachlas W. Brachialgia. A Manifestation Of Various Lesions. The journal
of bone and joint surgery. 2010
3. Barnes J. The causes od brachialgia. Section of balneology and
climatology. 1924
4. Brachialgia ( cervical radiculopathy) . www.precisionhealth.com. Diunduh
pada tanggal : 22 februari 2015
5. Cailliet, Rene. Neck and Arm Pain. Edisi ke-3. USA: F.A. Davis Co; 1991.
6. William I, Brachialgia: a manifestation of varius lession. The Journal of
Bone and Joint Surgery. USA : 1994
7. Carette S, Fehlings MG. Cervical radiculopathy. N Engl J Med
2005;353:392-9
8. Putz, R and Pabst, R. Atlas Anatomi Tubuh Manusia SOBOTTA. Jakarta:
EGC.Penerbit Buku Kedokteran; 2000.

22

9. Wainner MRS, Gill H. Diagnosis and nooperatif management of cervical


radiculopathy. Journal of Orthopaedic and Sport Physical Therapy
2000;30(12);728-744
10. Levine MJ, Albert TD, Smith MD. Cervical radiculopathy: diagnosis and
nooperatif management. American Academy of Orthopaedic Surgeons
1996; vol 4, 6
11. Rao RD, Currier BL, Albert TJ, Bono CM, Marawar SV, Poelstra KA, et
al. degenerative cervical spondylosis: clinical syndromes, pathogenesis,
and management. J Bone Joint Surg Am. 2007 Jun; 89(6): 1360-78.
12. John M, Caridi, Mathias Pumbeger, Alexander P. Hughes. Cervical
Radiculopathy: A Review. Hospital for Special Surgery Journal 2011; 7:
265-272.
13. Mikhled Maayah, Mohammed Al-Jarrah. Evaluation of Transcutaneus
Electrical Nerve Stimulation as a Treatment of Neck Pain due to
Musculosceletal Disorders. J Clin Med Res 2010; 2(3): 127-136.
14. Robert J. Rodine, Howard Vernon. Cervical radiculopathy: a systematic
review on treatment by spinal manipulation and measurement with the
Neck Disability Index. J Can Chiropr Assoc 2012; 56(1).
15. Robert S. Wainner, Howard Gill. Diagnosis and

Nonoperative

Management of Cervical Radiculopathy. Journal of Orthopaedic and


Sports Physical Therapy 2000; 30(12): 728-744.
16. Reza Rajabi, Abolfaz Farahni, Parvin S, Shahrad Z. A Comparison of Two
Method of Strengthening Exercises with and Without Massage on
Alleviation of the Chronic Neck Pain. World Journal of Sport Sciences
2011; 5(3): 158-162.

23