Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karies atau gigi berlubang merupakan masalah yang sering terjadi di
masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya karies diantaranya adalah bakteri, substrat, gigi itu
sendiri dan waktu. Keempat faktor ini saling mempengaruhi terjadinya karies.
Jika salah satu dari 4 faktor tersebut tidak ada maka proses karies tidak terjadi.
Karies dapat terjadi pada semua gigi, letak dan bentuk lesi pada giginya
pun bervariasi, dapat terjadi di pit, fisure, servikal atau tempat yang lain.
Dalam hal ini dokter gigi berfungsi sebagai pengontrol agar tidak terjadi
karies, tapi jika karies telah terjadi dokter gigi bertugas untuk merestorasi gigi
tersebut agar fungsi kunyah dan estetis gigi tersebut kembali seperti semula.
Dalam merestorasi gigi, dokter gigi harus memperhatikan banyak faktor
diantaranya bahan yang digunakan, teknik yang digunakan dan lain-lain, agar
hasil restorasi tersebut sesuai dengan bentuk anatomi, fungsi kunyah dan
fungsi estetis. Bahan-bahan yang digunakan untuk merestorasi gigi dapat
berupa restorasi rigid dan plastis. Restorasi plastis yang biasa digunakan
diantaranya amalgam, semen ionomer kaca, dan komposit. Bahan-bahan yang
digunakan tersebut mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing,
sehingga dalam penggunaannya pun perlu memperhatikan indikasi dan
kontraindikasi.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja definisi dan macam-macam restorasi plastis ?
1.2.2 Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari masing-masing restorasi
plastis ?
1.2.3 Sebutkan tahap-tahap preparasi, penumpatan dan pemolesan dari
restorasi amalgam, komposit, Glass Ionomer Cement, dan
sandwich ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui definisi dan macam-macam restorasi plastis.
1.3.2 Mengetahui
indikasi dan kontraindikasi dari masing-masing

1.3.3

restorasi plastis.
Mengetahui tahap-tahap preparasi, penumpatan dan pemolesan dari
restorasi amalgam, komposit, GIC, dan sandwich.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan restorasi gigi adalah tidak hanya membuang penyakit dan mencegah
timbulnya kembali karies, melainkan juga memgar fungsinya. Bahan restorasi
yang ideal sampai sekarang belum ada namun hendaknya kita telah mengenal
dengan baik sifat bahan yang paling penting. Dua sifat yang sangat penting yang
harus dimiliki bahan pergigian adalah harus mudah digunakan serta tahan lama.
Sedangkan sifat-sifat lainnya adalah :
1. Kekuatan kompresif dan kekuatan tensilnya cukup
2. Tidak larut dan tidak mengalami korosi dalam mulut
3. Sifat eksotermiknya rendah dan perubahan volume selam pengerasannya
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

dapat diabaikan
Tidak toksik dan tidak irian terhadap jaringan pulpa dan gingival
Mudah dipotong dan dipoles
Derajat keausannya sama dengan email
Mampu melindungi jaringan gigi sekitarnya dari serangan karies sekunder
Koefisien muai termiknya sama dengan yang di email dan dentin
Difusi termiknya sama dengan yang di email dan dentin
Penyerapan airnya rendah
Adhesive terhadap jaringa
Radio-opak
Warna dan translusensinya sama dengan email
Tahan lama dalam penyimpanan & Murah

2.1 Komposit
Definisi
Komposit merupakan perpaduan dari dua material atau lebih yang
memiliki fasa yang berbeda menjadi suatu material baru yang memiliki propertis
lebih baik dari keduanya. Jika perpaduan ini terjadi dalam skala makroskopis
maka disebut sebagai komposit. Jika perpaduan ini terjadi secara mikoroskopis
(molekular level) maka disebut sebagai alloy atau paduan. Resin komposit ini
menggunakan molekul BIS-GAMA (Bisphenol-A-Glycidin-Methacrylat) yang
merupakan monomer dimetakrilat yang disintesa oleh reaksi Bisphenol-A dan
Glissidin metakrilat.
(http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/d30f518393aad96931b1cd883b76a9
194eb22313.pdf)

Klasifikasi
Adapun jenis resin komposit biasanya dibagi atas tiga ukuran, jumlah dan
komposis dari bahan pengisi anorganiknya, yaitu :
1. Resin komposit konvensional
Resin komposit ini umumnya terdiri dari 75-80% dari berat bahan pengisi
anorganiknya. Ukuran rata-rata partikel dari resin komposit konvensional ini
pada tahun 1980. Karena partikel pengisin=annya relative besar dank eras
sekali, resin komposit konvensional memperlihatkan tekstur permukaan yang
kasar, sehingga sesuai dengan gigi posterior. Sayangnya, tipe permukaan yang
kasar tersebut menyebabkan restorasi lebih mudah mengalami perubahan
warna akibat adanya ekstrinsik stain.
2. Resin komposit mikrofiller
Bahan ini dipernalkan pada tahun 1972 dan didesain untuk menggantikan
karakteristik resin komposit konvensional yang permukaannya kasar dengan
permukaan yang halus yang hamper sama seperti enamel gigi. Resin komposit
ini mengandung partikel koloida silica yang terdiri dari kira-kira 35%-60% dari
berat bahan pengisi anorganiknya. Ukuran partikel kecil menghasilkan
permukaan yang halus setelah restorasi di polishing. Sehingga pengaruh
perlekatan plak dan ektrinsik stai dapat dimanipulasikan.

3. Resin komposit hibrida


Resin komposit ini dikembangkan untuk mendapatkan karakteristik fisik dan
mekasin yang baik dari resin komposit konvensional dengan permukaan yang
halus yang dapat merupakan sifat dari resin komposit mikrofiller. Resin ini
mengandung kira-kira 75%-85% dari berat bahan pengisi anorganiknya. Bahan
pengisinya merupakan campuran antara mikrofiller dan makrofiller
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1154/1/10E00020.pdf)
Kontraindikasi utama dari penggunaan resin komposit sebagai material
restorasi adalah berhubungan dengan faktor-faktor yang muncul seperti isolasi,
oklusi dan operator. Jika gigi tidak dapat diisolasi dari kontaminasi cairan mulut
maka resin komposit atau bahan bonding lainnya tidak dapat digunakan. Hal ini
terjadi karena resin komposit bersifat sangat sensitif dan memerlukan ketelitian.
Bila terkontaminasi cairan mulut, kemungkinan restorasi akan lepas (Summitt
dkk., 2006).
Jika semua kontak oklusi terletak pada bahan restorasi maka resin
komposit sebaiknya tidak digunakan. Hal ini karena resin komposit kekuatan
menahan tekanan oklusi lebih rendah dibandingkan amalgam. Diperlukan
memperkuat sisa struktur gigi yang tidak dipreparasi dengan prosedur restorasi
komposit. Adanya perluasan restorasi hingga mencapai permukaan akar,
menyebabkan adanya celah pada pertemuan komposit dengan akar. Penggunaan
liner pada area permukaaan akar dapat mengurangi kebocoran, celah dan sekunder
karies. Tumpatan menggunakan komposit pada gigi posterior akan cepat rusak
pada pasien dengan tenaga pengunyahan yang besar atau bruxism, karena bahan
komposit mudah aus. Pasien dengan insidensi karies tinggi serta kebersihan mulut
tidak terjaga juga dianjurkan untuk tidak menggunakan tumpatan resin komposit
(Baum, et al., 1995).
Keuntungan dan Kekurangan Resin Komposit
Keuntungan resin komposit :
1. Mempunyai estetik baik
2. Mempunyai konduktivitas termal yang rendah
3. Tidak menimbulkan reaksi galvanism
5

4.
5.
6.
7.

System bondingnya mempertinggi kekuatan gigi terhadap fraktur


Melindungi struktur gigi yang tersisa
Radiopaque
Sebagai bahan alternative pengganti amalgam

Kekurangan resin komposit :


1. Polymerization shrinkage
2. Sering terbentuknya microleakage ang akhirnya menjadi karies sekunder
3. Sensitivitas pasca penambalan
4. Memerlukan ketrampilan sensitivitas yang tinggi
5. Ketahanan dalam pemakaian
6. Menyerap air
7. Marginal leakage
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1154/1/10E00020.pdf)

2.2 Semen Glass Ionomer


Sebelum ditemukan semen glass ionomer oleh Wilson dan Kent pada
1972, semen silikat merupakan bahan tumpatan plastis anterior yang paling
banyak digunakan. Di samping itu, resin komposit juga telah berkembang dengan
pesat sehingga menjadi tumpatan plastis anterior yang paling banyak dipakai.
Walaupun demikian, pemakaian glass ionomer tetap meningkat, khususnya karena
bahan ini beradhesi ke dentin dan email. Sejak pertama kali diperkenalkan, bahan
ini dapat diperoleh dalam tipe yang mengeras lebih cepat, tidak mudah larut, lebih
translusens, dan estetikanya dapat diterima. Semen glass ionomer terbentuk
karena reaksi antara bubuk kaca alumino-silikat yang khusus dibuat dengan asam
poliakrilat. Setelah tercampur, pasta semen ini ditumpahkan ke kavitas pada saat
bahan masih belum mengeras. Semen glass ionomer yang berisi logam perak
dalam bubuknya telah dikembangkan serta dikenal dalam nama generiknya, yaitu
cermet. Semen semacam ini mempunyai ketahanan terhadap abrasi dan
keradiopakannya, sehingga dapat digunakan pada gigi posterior. Walaupun
demikian, penggunaannya hanya pada kavitas yang masih terlindung, karena
semen ini tidak sekuat amalgam. Keunikan lain dari bahan semen glass ionomer
adalah kemampuannya untuk berikatan dengan dentin dan sifat khas melepas fluor
sehingga bersifat antikaries. Dengan demikian, bahan ini direkomendasikan untuk
digunakan secara luas pada abrasi serviks, tanpa harus melakukan preparasi
6

kavitas. Keadaan ini, misalnya, terjadi pada siatusi tidak adanya email untuk
retensi resin komposit, atau kalaupun ada hanya sedikit sekali. Semen glass
ionomer dapat digunakan sebagai restorasi tunggal atau dapat dipakai dengan
basis dan di atasnya dilapisi oleh resin komposit (teknik sandwich) (Philip, 1996).
Menurut Mujiono, cit Mc. Lean et al (1985) dan Tyas et al (1989), semen
glass ionomer juga dapat meningkatkan resin komposit, yaitu sebagai perantara
untuk menambahkan retensi tumpahan komposit. Dengan cara memberikan etsa
asam pada semen glass ionomer, akan terjadi erosi dan permukaan semen menjadi
kasar. Kekasaran permukaan ini dapat memberi retensi mekanis terhadap resin
komposit (Philip, 1996).
Di samping itu, semen glass ionomer juga dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan perlekatan amalgam dengan jaringan dentin gigi,
terutama pada karies di bagian interproksimal. Di bagian ini pengangkatan
jaringan keras sebagai retensi kurang memungkinkan, karena dapat menyebabkan
melemahnya struktur gigi akibat jaringan sehat tinggal sedikit. Semen glass
ionomer dapat ditumpatkan di kavitas yang dalam tanpa mengiritasi pulpa,
sekalipun tanpa diberi pelapik. Namun, agar tidak timbul reaksi yang tidak
diinginkan pada kavitas dengan dentin, sebaiknya tetap digunakan pelapik.
Biokompabilitas dari bahan ini sangat tinggi walaupun semennya bersifat sangat
asam. Hal ini mungkin disebabkan oleh besarnya molekul palyanion sehingga
asam tidak dapat memasuki tubulus. Namun peradangan tetap timbul jika semen
langsung diletakkan di atas pulpa yang terbuka (Philip, 1996).
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari bahan tumpatan ini, harus
dijaga kontaminasi antara bahan ini dengan saliva selama penumpatan dan
sebelum semen mengeras sempurna. Kontaminasi dengan saliva akan sangat
berbahaya karena semen akan mudah larut dan daya adhesinya akan menyusut.
Untuk itu, kavitas harus dijaga agar tetap kering dengan mengusahakan isolasi
yang efektif. Setelah selesai penumpatan, tumpatan sebaiknya ditutup dengan
lapisan pernis yang kedap air selama beberapa jam setelah penumpatan dilakukan.
Hal ini untuk mencegah desikasi karena hilangnya cairan atau semen melarut
karena menyerap air (Philip, 1996).

Karena adanya beberapa keunggulan dari bagian tersebut itulah maka


semen glass ionomer saat ini secara luas digunakan oleh dokter gigi, terutama
pada kavitas servikal yang sering terjadi pada manula dan orang yang menyikat
gigi dengan cara yang kurang baik dan benar, serta pada karies yang pengambilan
jaringan gigi yang sehat sebagai retensi kurang memungkinkan (Philip, 1996).
Semen glass ionomer merupakan bahan tumpatan baru di bidang ilmu
konservasi gigi yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Semen
glass ionomer digunakan sebagai bahan restorasi tetap di kedokteran gigi sejak
1972, serta disempurnakan dari tahun ke tahun sehingga menjadi bahan restorasi
yang memenuhi persyaratan baik estetik maupun kekuatan serta keawetan (Philip,
1996).
Keuntungan dan Kerugian Bahan Semen Glass Ionomer
Keunggulan Bahan Restorasi Glass Ionomer Antara Lain :
1. Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi
2. Bersifat Adhesi
3. Tidak iritatif
4. Mengandung Fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk
5.
6.
7.
8.

mencegah karies lebih lanjut


Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit
Daya larut yang rendah
Bersifat translusent atau tembus cahaya
Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin

dan email
9. Di samping itu, semen glass ionomer juga bersifat bikompabilitas, yaitu
menunjukkan efek biologis yang baik terhadap struktur jaringan gigi dan
pulpa. Kelebihan lain dari bahan ini yaitu semen glass ionomer
mempunyai sifat anti bakteri, terutama terhadap koloni streptococcus
mutant
Karena keunggulan-keunggulan tersebut di atas maka bahan tumpatan
semen glass ionomer banyak digunakan sebagai bahan tumpatan tetap oleh dokter
gigi dewasa ini. Pada manula sering kali ditemukan kavitas kelas V atau karies
yang terdapat pada akar, karena pada manula biasanya sering didapatkan adanya
retraksi gingiva yang disebabkan proses degenerasi. Karies yang terdapat pada
akar juga ditemukan pada orang-orang yang cara menyikat giginya kurang baik
8

dan benar, sehingga menyebabkan abrasi pada daerah servikal. Oleh sebab itu,
bahan semen glass ionomer diunggulkan sebagai bahan tumpatan pada kasus
tersebut, karena bahant umpatan semen glass ionomer merupakan bahan restorasi
yang memenuhi persyaratan estetika, bersifat adhesi, serta mempunyai sifat
biokompabilitas (Philip, 1996).
Bahan tumpatan yang memenuhi persyaratan estetika adalah yang
sewarna atau hampir mendekati warna gigi, baik gigi anterior maupun posterior
tanpa mengesampingkan faktor kekautan, keawetan dan biokompabilitas dari
bahan tersebut. Di samping itu, bahan tumpatan semen glass ionomer mempnyai
estetik yang lebih baik dibandingkan dengan tumpatan semen silikat, meskipun
jika dibandingkan dengan resin komposit faktor estetik dari bahan ini masih
kurang baik. Dewasa ini dengan berkembangnya bahan tersebut, faktor estetik
tidak lagi menjadi masalah. Penggunaan semen glass ionomer dengan sinar juga
mulai banyak digunakan. Hal ini akan menghemat waktu dokter gigi, waktu
tindakan klinik lebih singkat, serta mempunyai peningkatan PH yang relatif tetap
cepat. Karena itu, bahan ini juga direkomendasikan sebagai bahan yang dapat
meningkatkan perlekatan amalgam dengan jaringan gigi (Philip, 1996).
Kekurangan Bahan Semen Glass Ionomer
Di samping beberapa keunggulan yang dimiliki oleh bahan glass ionomer
yang telah kita bicarakan di atas, yaitu tidak iritatif, bersifat adhesi, dan
mempunyai sifat biokompabilitas yang tinggi. Bahan ini juga mempunyai
kekurangan jika dibandingkan dengan bahan tumpatan lain, misalnya dalam hal
estestik. Bahan ini masih kurang baik bila dibandingkan dengan resin komposit.
Demikian juga ketahanan terhadap abrasi juga kurang baik, terutama pada derah
kontak oklusal yang luas. Di daerah tersebut akan mudah terjadi fraktur akibat
kekuatan geser yang tinggi. Di samping itu, glass ionomer juga bersifat porous
dan sulit dipulas sehingga menghasilkan permukaan tumpatan yang kurang bagus.
Oleh karena itu, dewasa ini telah dikembangkan teknik restorasi sandwich yang
pada hakikatnya sement glass ionomer diaplikasikan dahulu dengan resin
komposit, atau pada tumpatan gigi posterior yang menggunakan amalgam. Glass
ionomer juga dapat membantu meningkatkan perlekatan amalgam dengan
9

jaringan gigi menggunakan bahan ini sebagai basis atau liner pada kavitas
sebelum ditumpat amalgam. Dengan demikian, bahan ini dapat menghambat
kerusakan tepi, mengurangi preparasi jaringan sehat gigi, meningkatkan dukungan
mahkota gigi, serta resistensi terhadap fraktur (Philip, 1996).
2.3 Dental Alamgam
Merupakan bahan paling banyak digunakan oleh dokter gigi, khususnya
untuk tumpatan gigi posterior. Sejak pergantian abad ini, formulasinya tidak
banyak berubah, yang mencerminkan bahwa bahan tambahan lain tidak ada yang
seideal amalgam. Kelemahan utama amalgam terletak pada warnanya dan tidak
adanya adhesi terhadap jaringan gigi. Walaupun sifat fisik dan kimia bahan
tumpatan amalgam sebagian besar telah memenuhi persyaratan ADA specification
no. I, perlekatannya dengan jaringan dentin gigi secara makromekanik seperti
retention and resistence form, dan undercut tidak dapat melekat secara kimia
(Philip, 1996).
Prinsip retention and resistance form (dove tail, box form dan retention
groove) pada lesi karies daerah interproksimal, selain mengangkat karies juga
mengangkat jaringan yang sehat untuk memperoleh retensi pada kavitas. Pada
kavitas kelas II dengan isthmus dan garis sudut bagian dalam yang lebar, akan
melemahkan kekuatan terhadap beban kunyah. Akibatnya, pasien banyak yang
mengeluh karena seringkali adanya fraktur pada tumpatan kelas II, baik pada
tumbatan MO (Mesial Oklusal), DO (Distal-, Oklusal), maupun MOD (MesialOklusal-Distal) (Philip, 1996).
Amalgam dapat disimpan lama dan dibandingkan dengan bahan restorasi
lain. Bahan ini tidak begitu mahal dan sampai tingkat tertentu kesalahan dalam
manipulasi masih menghasilkan tumpatan yang baik. Jika dibuat oleh operator
yang trampil dan lingkungannya mendukung, bahan tumpatan ini dapat tahan
lama, namun umur kliniknya rata-rata 5 tahun. Amalgam cenderung mudah korosi
di dalam lingkungan mulut karena strukturnya yang heterogen, permukaannya
yang kasar, dan adanya lapisan senyawa oksida yang belum sempurna. Amalgam
memerlukan beberapa jam untuk mencapai kekerasan penuhnya jika ini telah
dicapai, kekuatan kompresifnya akan menyamai dentin (Philip, 1996).

10

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Definisi dan Macam Restorasi Plastis
Definisi :
Restorasi plastis adalah bahan restorasi yang dapat dibentuk dalam
kavitas, dan setelah beberapa waktu diaplikasikan dalam kavitas nantinya akan
dapat mengeras.
Macam :
a. Logam
b. Non logam

: Amalgam
: Komposit, Semen ionomer kaca, akrilik, silikat,
kompomer, restorasi Sandwich.

3.2 Indikasi dan Kontraindikasi dari Masing-masing Restorasi Plastis


a. Amalgam
Indikasi :
Kelas I (pada gigi posterior dan anterior)
Kelas II (sebelum menumpat perlu matriks sebagai pengganti dinding
yang hilang
Kelas V
Kontra Indikasi :
Jumlah karies yang tinggi
Karies yang luas melibatkan cusp
Dibutuhkan estetik (Kelas V pada gigi anterior)
Gigi antagonis logam yang tidak sejenis
Pasien yang menderita alergi terhadap merkuri, karena amalgam ini
termasuk campuran beberapa logam yang salah satunya adalah merkuri

11

b. Komposit
Indikasi :

Restorasi untuk lesi interproksimal (klas III) pada gigi anterior.

Lesi pada permukaan fasial gigi anterior (klas V)

Lesi pada permukaan fasial gigi premolar

Hilangnya sudut insisal gigi.

Fraktur gigi anterior

Sebagai bahan base lining atau core built up

Sebagai sealent pada restorasi resin preventif

Restorasi estetis seperti: veneers, penutupan diastema, modifikasi kontur


gigi

Semen untuk restorasi indirect resin

Membentuk kembali gigi yang mendukung restorasi tuang

Lesi oklusal dan interproksimal gigi posterior (klas I dan klas II) dengan
keterbatasan

Kontraindikasi :

Lesi distal dari premolar

Tambalan rutin untuk premolar

Pasien dengan insiden karies tinggi serta kebersihan mulut tidak terjaga

c. Semen Glass Ionomer


Indikasi :

12

Dapat digunakan sebagai restorasi tunggal atau dapat dipakai sebagai


basis dan diatasnya dilapisi oleh resin komposit (restorasi sandwich).
Dapat digunakan secara luas pada abrasi serviks tanpa harus melakukan
preparasi kavitas.
Mempunyai ketahanan terhadap abrasi dan keradiopakannya, sehingga
dapat digunakan pada gigi posterior.
Semen ini juga dapat meningkatkan perlekatan resin komposit, yaitu
sebagai perantara untuk menambah retensi tumpatan komposit. Dengan
cara memberikan etsa asam pada semen glass ionomer, akan terjadi erosi
dan permukaan semen menjadi kasar. Kekasaran permukaan ini dapat
memberi retensi mekanis terhadap resin komposit.
Sifatnya yang dapat melepas fluor yang sangat berperan terhadap
antikaries sehingga resiko kemungkinan untuk terjadinya karies sekunder
dibawah tumpatan jauh lebih kecil dibanding bila menggunakan bahan
tambal lain.
Kontraindikasi :
Dalam hal estetik, warna bahan ini masih kurang baik bila dibandingkan
dengan resin komposit.
Kurang kuat bila digunakan pada gigi posterior bila dibandingkan dengan
amalgam.
Warna tambalan ini lebih opaque, sehingga dapat dibedakan secara jelas
antara tambalan dan permukaan gigi asli yang akan memberikan estetik
yang kurang baik, terutama digunakan tambalan pada kelas 3 dan kelas 4.
3.3 Prosedur Tumpatan Masing-masing Restorasi Plastis

Prinsip Preparasi Kavitas Gigi Sulung


Tahap preparasi gigi sulung sama dengan gigi permanen, modifikasi desain
berdasarkan perbedaan bentuk anatomi :
a. Enamel dentin lebih tipis
b. Ruang pulpa lebih besar
c. Kontak proksimal lebih luas
d. Tanduk pulpa lebih tinggi
e. Permukaan oklusal lebih sempit
13

f. Daerah 1/3 servikal yang cembung dan penyempitan pada daerah leher gigi
(servical).

Preparasi Kavitas Klas I


Bur yang dipakai : round, fissure, inverted cone.
a. Outline fom
: tidak ada sudut yang tajam (dibulatkan)
- Amalgam
: tidak perlu dibulatkan
- Komposit
: tidak perlu perluasan
- Tumpatan tuang : perlu untuk tidak jadi terbatas
b. Axial wall sejajar sumbu gigi
c. Pulpa wall datar dan halus
d. Cavo surface angle tajam, tanpa bevel
- Memudahkan carving
- Amalgam cukup tebal
Preparasi Kavitas Klas II
Molar sulung yang kecil :
Ukuran bur yang dipergunakan (memakai bur yang lebih kecil). Prinsip sama
dengan gigi permanen.
Yang perlu diperhatikan :
a. Pulpa wall datar atau sedikit membulat untuk menghindari tanduk pulpa
b. Dinding cavity konvergen ke arah oklusal
c. Extention for prevention ke arah bukal atau lingual atau palatal atau gingival
atau oklusal
d. Preparasi bidang oklusal dan proksimal harus seimbang
e. Gingival wall sejajar dengan enamel rods
f. Axiopulpa line angle dibulatkan (dibevel) untuk menambah ketebalan amalgam
g. Proximal box sebab pada gigi sulung terjadi penyempitan dari oklusal ke
servikal dan perlu diperhatikan tanduk pulpa
h. Lebar isthmus : 1/3 lebar jarak cusp bukal dan lingual
i. Cavo surface line angle tidak sama dengan di bevel o.k. adaptasi amalgam baik
dengan gigi
14

Preparasi Klas III (Esthetik)


Bahan :
a. Silikat (pada preparasi perlu retensi)
b. Komposit (retensinya dengan etsa asam)
c. Amalgam (caninus dengan distal karies)
d. Glass Ionomer
Retensi :
a. Didapatkan dari undercut yang dibuat dengan inverted bur pada mesio pulpa
line angle
b. Lebih ke gingiva daripada incisal
c. Dove tail

Preparasi Klas IV
Hilangkan semua jaringan karies karena mengenai cervical edge atau mengenai
estetik perlu diperhatikan.
Macam Tumpatan :
a. Composite resin
b. Pre formed plastic crowns (sangat baik untuk menumpat gigi anterior yang
rusak berat)
c. Stainless orthodontic bands, bagian labial dihilangkan kemudian diisi dengan
composite atau glass ionomer setelah band disemen
d. Anterior stainless steel crown (estetik jelek tapi fungsional baik)

Preparasi Klas V
Tahap :

15

a. Hilangkan semua jaringan keras


b. Gingival wall terlihat jelas dan disangga oleh jaringan gigi yang sehat

c. Retensi berupa undercut atau tegak


Tumpatannya :
a. Composite resin
b. Glass Ionomer Cement
c. Amalgam

Harus dibuatkan crown karena

Preparasi Klas VI

retensi sudah tidak ada.


Prinsip Preparasi Kavitas Gigi Permanen
a. Amalgam
Prosedur Tumpatan Amalgam Kelas I
Tahap preparasi kavitas :
1. Sebelum melakukan preparasi kavitas, dibuat suatu desain outline form
sesuai bentuk fissure gigi pada daerah oklusal gigi posterior yang akan
dipreparasi.
2. Outline form dibuat dengan memperhatikan resistence form, retention form,
extention for prevention, dan convenience form. Extention for prevention
kini dianggap sebagai penghancuran jaringan sehat yang sia-sia dan tidak
lagi dipraktikkan secara rutin.
3. Preparasi dilakukan dengan contra angle hand piece dengan kecepatan
tinggi.
4. Akses atau jalan masuk dibuat menggunakan bur bulat kecil sedalam 2 mm.
Semua karies lunak dan stain pada pertautan email-dentin dibuang. Selama
kavitas akses mungkin perlu dilebarkan untuk menghilangkan email dentin
yang menggaung, email yang tidak terdukung dentin, dan memperoleh
medan penglihatan yang bebas ke daerah pertautan email dentin.

16

5. Setelah akses didapatkan, kemudian dilanjutkan pemakaian bur fissure


silindris kecil untuk membentuk dinding tegak lurus alas kavitas sesuai
dengan outline form nya.
6. Untuk menghaluskan dinding pulpa atau dasar kavitas digunakan bur
inverted. Kedalaman kavitas kurang lebih 2 mm dengan dinding tegak lurus
bersudut 90 terhadap kavitas, membentuk bentukan box menurut teori
Black.
7. Menurut teori lain bentukan resistensi (resistence form) pada tumpatan
amalgam ini dapat didapatkan pula dari bentukan konvergen atau
mengerucut ke arah oklusal. Perlu diperhatikan bahwa bentukan konvergen
tersebut tidak boleh lebih dari 5, atau kurang lebih 3-5 agar tidak terdapat
enamel-enamel rods yang tidak terdukung dentin (enamel menggaung)
sehingga tumpatan amalgam yang regas nantinya tidak mudah pecah/
fraktur ketika menerima beban kunyah.
8. Pada tumpatan plastis ini, sudut internal kavitas dibuat agak tumpul (tidak
tajam) untuk memudahkan kondensasi amalgam dan permukaan dindingdinding kavitas dibuat halus karena amalgam berikatan dengan dentin secara
fisiko-mekanik.

Desain kavitas amalgam Klas I

Tahap basis :
1. Sebelum memulai memberi basis, kavitas dibersihkan dengan air (akuades).
Sebaiknya pembersihan kavitas tidak dilakukan dengan alkohol atau H2O2
agar tidak terjadi dehidrasi pada dentin.
2. Kavitas kemudian dikeringkan dengan semprotan udara.
3. Jika pembuangan karies mengakibatkan lantai kavitas dekat sekali dengan
pulpa, diperlukan pemberian pelapik hidroksida kalsium. Pada kavitas yang
17

sangat dalam, lapisan pelapik kedua mungkin diperlukan. Semen ionomer


kaca atau OSE merupakan bahan yang cocok untuk maksud ini. Pelapisan
diaplikasikan sedemikian rupa sehingga msih terdapat cukup ruangan 2-2,5
mm amalgam di atasnya
4. Pemberian basis dapat pula diberikan dengan semen seng phospat (ZnPO4)
yang terdiri dari bubuk dan cairan.
5. Ambil bubuk semen satu sendok yang disediakan dan tetaskan cairan satu
atau dua tetes.
6. Arahkan bubuk ke cairan dengan spatula sedikit demi sedikit, kemudian
aduk bubuk dan cairan ini dengan gerakan memutar sampai didapatkan
konsistensi dempul yang cukup kental.
7. Semen dimasukkan ke dalam kavitas dengan sonde, kemudian dan
dimampatkan dengan semen stopper.
8. Kelebihan semen bila belum mengeras diambil dengan excavator dan bila
sudah mengeras diambil dengan bur inverted yang juga sekaligus untuk
meratakan dasar kavitas.
9. Bagian tepi enamel harus bersih dari semen agar daerah retensi amalgam
tidak tertutup.
Tahap penumpatan :
1. Bubuk dan Hg ditimbang sesuai anjuran pabrik, kemudian dimasukkan ke
dalam mortal kemudian diaduk dengan pastle kurang lebih 60 kali putaran.
Bubuk dan cairan yang telah ditimbang dengan perbandingan yang sesuai
dengan anjuran pabrik dapat pula dicampur dengan alat amalgamator selama
5 detik.
2. Campuran yang telah homogen kelihatan mengkilat, diambil dengan spatula
semen, kemudian kelebihan Hg nya diperas, dibuang pada tempat yang
disediakan dengan kain putih ukuran 10 x 10 cm.
3. Campuran amalgam kemudian dimasukkan ke dalam pistol amalgam dan
dimasukkan pada dasar kavitas dengan tekanan. Lapisan amalgam yang
pertama sangat penting dan membutuhkan perhatian yang lebih dari lapisan
berikutnya.

Kemudian

dilakukan kondensasi (pemampatan) dengan

amalgam plugger atau amalgam stopper.


4. Kelebihan bahan dibersihkan dengan kapas kecil (cotton pellet) dan
permukan oklusal dibentuk anatominya dengan carver. Penekanan dengan
18

carver dilakukan sejajar pada permukaan gigi (email) untuk mencegah alat
terperosok ke dalam bahan.
5. Kemudian dihaluskan dengan burnisher pada keadaan amalgam yang sudah
mengalami proses setting awal.
Tahap pemolesan :
1. Pemolesan dapat dilakukan 24 jam setelah penumpatan.
2. Permukaan yang kasar diasah dan dibentuk anatominya dengan finishing
stone.
3. Dengan rubber cups merah dengan pasta poles (seng oksida dan alcohol)
permukaan amalgam dipoles sampai tampak mengkilap kemudian
dibersihkan dengan brush dalam keadaan basah.
4. Pemolesan harus dalam keadaan basah untuk mencegah panas yang timbul
diteruskan ke dentin, dengan tekanan ringan dan merata.
Prosedur Tumpatan Amalgam Klas II
1. Outline Form Kavitas
- Outline form dibuat dengan sesuai dengan bentuk fissure gigi pada
oklusal gigi posterior yang akan dipreparasi
- Outline form dibuat dengan memperhatikan resistence form, retention
form, extention for prevention dan convinience form.
- Isthmus dibuat pada 1/3 buko-lingual dan mesio-distal.
2. Tahap Preparasi Kavitas
- Preparasi dimulai dengan menggunakan round bur no. 1 sedalam 2-2,5
mm pada bagian oklusal kemudian dilebarkan ke arah proksimal dengan
bur fisur no. 3 menembus lingir tepi (ridge).
- Membentuk bentukan dove tail (ekor merpati) pada bidang oklusal gigi
M1 RA.
- Dinding bukal dan dinding lingual dari kavitas proksimal (bentukan boks
di proksimal) diperluas sampai bebas kontak dengan gigi sebelahnya
dengan bur fisur atau bur pir panjang digerakkan seperti pendulum arah
buko-lingual.
- Pembentukan boks sisi proksimal diusahakan tegak lurus permukaan luar
gigi (tampak pada bagian oklusal).
- Perluasan tepi bukal/lingual (celah antara sudut dan gigi yang berdekatan
diukur dengan ujung sonde atau hatchet email.
- Dinding gingival dibuat selebar 1,8 mm untuk gigi molar dan selebar
1,2 mm untuk gigi premolar.
- Bevel dibuat pada axio-pulpa line angle.
19

- Sudut-sudut luar dinding bukal dan lingual pada bagian proksimal,


dibulatkan dengan fisur bur no. 3.

Desain kavitas amalgam Klas II

3. Tahap Basis
Sama dengan pembuatan basis pada tumpatan amalgam kelas I, hanya pada
kelas II, dilakukan pada dinding pulpa dan dinding aksial.
4. Tahap Penumpatan
- Sebelum penumpatan, dilakukan pemasangan matriks band dan retainer.
- Matriks band disesuaikan bentuknya pada daerah oklusal agar tidak
mengganggu oklusi dan supaya bentuk tumpatan baik, pada bagian
proksimal dipasang wedge (dapat dibuat dari kayu korek api yang
dipasang pada tepi gingival).
- Amalgam terdiri dari bubuk (amalgam alloy) dan cairan merkuri (Hg).
- Pencampuran bubuk dan Hg dapat dilakukan dengan dua alat :
Pencampuran dengan amalgamator
Bubuk dan cairan yang telah ditimbang dengan perbandingan yang
sesuai dengan anjuran pabrik dimasukkan ke dalam kapsul kemudian
dicampur dengan alat amalgamator selama 5 detik.
Pencampuran dengan mortal dan pastle
Bubuk dan Hg ditimbang sesuai anjuran pabrik kemudian
dimasukkan ke dalam mortal, kemudian diaduk dengan pastle
60x putaran.
20

Campuran yang telah homogen kelihatan mengkilat diambil dengan


spatula semen, kemudian kelebihan Hg-nya diperas, dibuang pada
tempat yang telah disediakan dengan kain putih ukuran 10 x 10 cm.
Campuran amalgam kemudian dimasukkan ke dalam pistol
amalgam dan dimasukkan pada dasar kavitas dengan tekanan.
Lapisan amalgam yang pertama sangat penting dan membutuhkan
perhatian yang lebih dari lapisan berikutnya. Kemudian dilakukan
kondensasi (pemampatan) dengan amalgam plugger/amalgam
stopper.
Penumpatan dilakukan dari bagian proksimal, diisi amalgam sedikit
demi sedikit, dikondensasi, kemudian baru pada bagian oklusal
sampai padat. Kavitas diisi amalgam sampai sedikit berlebih,
kemudian dioklusikan untuk mendapatkan oklusi yang baik.
Kelebihan bahan dibersihkan dengan kapas kecil dan permukaan
oklusal dibentuk anatominya dengan carver. Penekanan carver
dilakukan sejajar pada permukaan gigi (luar email) untuk
mencegah alat terperosok ke dalam bahan.
Kemudian dihaluskan dengan menggunakan burnisher pada
keadaan amalgam sudah mengalami proses setting awal.
Setelah selesai, matriks dibuka dan dilepas secara hati-hati sebelum
bahan mengeras.
Kelebihan amalgam dapat dibuang dengan amalgam carver atau
dengan plastic filling instrument.
5. Tahap Pemolesan
- 24 jam setelah penumpatan dapat dilakukan pemolesan.
- Permukaan yang kasar diasah dan dibentuk anatomi dengan finishing
stone.
- Bagian proksimal dihaluskan dengan polishing strip (jika perlu).
- Dengan rubber cups merah dan pasta poles (seng oksida + alkohol)
permukaan amalgam dipoles sampai tampak mengkilap kemudian
dibersihkan dengan brush dalam keadaan basah.
- Untuk mengkilapkan dapat digunakan rubber cups hijau dan pasta poles
(seng oksida + alkohol) kemudian dibersihkan dengan brush dalam
keadaan basah.
21

- Pemolesan harus dalam keadaan basah, dengan tekanan ringan dan tidak
boleh pada satu tempat.
b. Komposit
Teknik Restorasi Resin Komposit
1. Preparasi kavitas
Bersihkan karies dari kavitas hanya sebatas infected dentin saja.
Pertahankan sisa email dan jangan membuang jaringan gigi sehat
terlalu banyak.

Desain kavitas Klas III (kiri) dan Klas V (kanan) komposit

2. Perlindungan pulpa
Setiap dentin yang terbuka harus diberi lapisan pelindung berupa
calcium hydroxide atau GIC.
3. Etsa dan bonding
Untuk menghasilkan ikatan antara komposit dan struktur gigi, email
dietsa dengan asam phosphate selama 20 detik, bilas dan keringkan.
Email yang teretsa akan tampak pucat. Aplikasikan bonding agent
pada permukaan kavitas, disemprot perlahan-lahan agar lapisannya
merata dan tidak terkumpul di kavitas, kemudian polimerisasikan
dengan sinar.Etsa akan menghasilkan micromechanical rentention
terhadap bonding agent dengan email. Di dentin, bonding agent
akan berikatan dengan kolagen dan bonding akan berpenetrasi ke
dentinal tubulus.
4. Penumpatan
Pilih resin komposit yang sewarna dengan gigi. Tumpatkan pada
kavitas. Bahan ini tidak akan terpolimerisasikan dengan baik jika
ketebalan resin melebihi 2mm. oleh karena itu, penumpatan resin
harus dilakukan secara incremental. Setiap lapisan disinari sebelum
22

lapisan penyusutan resin. Hati-hati jangan samapi terjebak udara di


dalamnya. Jika inkremen terakhir telah diletakkan, permukaan
oklusal

beserta

inklinasi

cusp

dibentuk

sebelum

dilakukan

penyinaran.
5. Finishing dan polishing
Resin yang berlebih dibuang hati-hati dengan bur intan atau bur
karbid.Polishing bertujuan untuk menghasilkan permukaan yang
halus untuk mencegah retensi plak dan menjaga oral hygiene. Cek
oklusi dengan kertas artikulator.
Faktor yang mempengaruhi restorasi resin komposit :
Faktor yang mempengaruhi kualitas polimerisasi resin komposit yaitu
intensitas cahaya, lama penyinaran, panjang gelombang cahaya, ketebalan
resin komposit, jarak ujung

light

curing

unit

dengan

permukaan

restorasi, warna resin komposit, dan komposisi bahan resin komposit itu
sendiri. Intensitas cahaya suatu light curing unit dipengaruhi oleh jarak
ujung light curing unit dengan permukaan resin komposit.
Semakin besar jarak penyinaran, maka dispersi cahaya light
curing

unit

akan meningkat sehingga akan sulit untuk memperoleh

polimerisasi yang efektif.

Gambar 1 .Diagram suatu lampu LED

Untuk memperoleh hasil polimerisasi yang maksimal, lapisan


restorasi resin komposit yang dimasukkan ke dalam suatu kavitas tidak
boleh melebihi ketebalan 2 mm dengan jarak yang ideal antara ujung
light curing unit dengan resin komposit adalah 1 mm, dan sumber cahaya
o

diposisikan 90

(tegak lurus) dengan permukaan resin komposit. Akan


23

tetapi, menurut penelitian Radzi et al., jarak penyinaran distandarisasi 5


mm. Jika

sudut

penyinaran

menyimpang

dari

90

terhadap

permukaan restorasi, energi cahaya akan menjadi bias dan kemampuan


penetrasinya akan berkurang.

Gambar 2. Semakin besar jarak ujung light curing unit dengan permukaan
restorasi maka intensitas cahaya yang mencapai permukaan
restorasi akan semakin kecil.

Diameter ujung light curing unit juga dapat mempengaruhi kualitas


polimerisasi serta intensitas cahaya

yang

dihasilkan. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan oleh Nitta, ditemukan bahwa cahaya yang


dihasilkan dari ujung light curing unit yang berdiameter 8 mm dan 10
mm adalah 45% dan 32% dari ujung yang berdiameter 4 mm. Akan tetapi,
resin komposit yang disinari baik dengan ujung yang berdiameter 4 mm, 8
mm, maupun 10 mm tidak menunjukkan nilai knoop hardness dengan
perbedaan yang signifikan pada waktu penyinaran yang lebih dari 10
detik. Selain itu, tidak boleh digunakan light curing unit dengan ujung
yang berdiameter yang lebih kecil daripada diameter kavitas dengan
daerah penyinaran yang terisolasi pada daerah tertentu. Untuk memastikan
polimerisasi resin komposit yang adekuat, diperlukan penyinaran yang
overlap jika menggunakan ujung light curing unit yang berdiameter kecil.
c. Semen Ionomer Kaca
Preparasi Glass Ionomer Pada Gigi Sulung
1. Preparasi kavitas konvensional, walupun semen glass ionomer melekat
dengan email dan dentin, kavitas konvensional akan memberikan retensi
yang optimal.
2. Beri lapisan hanya pada kavitas yang dalam. Dengan meletakkan kalsium
Hidroksida.
3. Pasang matriks.
24

4. Bersihkan dinding-dinding kavitas. Gunakan asam poliakrilik 10% atau


25% tanik, oleskan dengan kapas ke dinding kavitas selama kira-kira 30
detik, ikuti dengan mencuci dengan air dan keringkan. Hal ini dikarenakan
permukaan email dan dentin yang dibuang selama preparasi kavitas ditutupi
oleh debris halus, yang dikeluarkan oleh pembersih asam, dan ini akan
memperbesar adhesi.Tetapi prosedur ini dapat dilakukan atau tidak karena
semen GI melekat pada dentin dan email yang baru dibuang dengan hasil
memuaskan.
5. Masukkan semen GI. Pencampuran bahan sesuai petunjuk pabrik. Bawa
bagian pertama ke dalam kavitas yang terdalam pada ujung instrument yang
kecil, atau dengan menggunakan syringe khusus. Kondensasikan dengan
amalgam plugger. Tambahkan bagian-bagian selanjutnya dengan cepat dan
kondensasikan. Hal ini dikarenakan waktu kerja untuk bahan tersebut hanya
1,5-2 menit.
6. Oleskan varnish. Sewaktu kavitas telah penuh kemudian dioleskan varnish
di atas tambalan. Varnish ini berfungsi untuk melindungi semen dari
kontaminasi uap selama masa setting.
7. Keluarkan matriks dan buang kelebihan bahan tumpat. Setelah bahan
mengeras (sekitar 2-3 menit) keluarkan matriks dan buang kelebihan dengan
carver yang tajam. Oleskan varnish lagi bila ada bahan tumpatan yang
terbuka.
8. Poles tambalan. Sebelum pemolesan, kita menunda sekitar 4 menit.
Kemudian memoles dengan stone dan disc yang diolesi vaselin. Tapi apabila
menggunkan bahan GI berupa ketac silver maka dapat langsung memoles
tanpa menunggu 4 menit dan juga dapat diburnish.
Preparasi GI pada gigi tetap (Pada klas III)
1. Desain kavitas. Desain kavitas dibuat dengan memperhatikan bentuk
resistensi, retensi, extention for prevention dan bentuk konvinien.
2. Preparasi kavitas. Preparasi dimulai dibagian palatal dengan round bur no.1.
Arah bur tegak lurus bidang palatal gigi.
3. Dengan bur fisur kavitas dibentuk sesuai dengan outline formnya. Retensi
didapat dengan membuat undercut berupa alur retensi pada; axio-gingival

25

line angle,axio-insisal line angle dengan menggunakan round bur kecil.


Semua line angle dihaluskan.
4. Tahap pekerjaan basis. Sama dengan basis pada tumpatan amalgam. Bagian
undercut/ retensi tidak boleh terisi semen dan bagian tepi enamel harus
bersih dari semen.
5. Tahap Penumpatan. Alat yang diperlukan adalah Glass plate, spatula semen
plastic, sonde/ekskavator,plasting filling instrument. Bahan yang digunakan
antara lain adalah GI yang terdiri dari bubuk dan cairan, celluloid silicate
strips, wedge. Sedangkan cara kerjanya adalah pilih warna yang sesuai
dengan gigi, kemudian pemasangan matriks celluloid silicate strips dan
wedge pada gingival. Untuk mencampur digunakan glass plate atau paper
pad dan agate spatula. Bubuk dibagi , 1/4,1/8. Bagian yang dicampur
dengan cairan dengan cepat, gerakan melipat disatu tempat dan jangan
melebar. Ditambahkan dengan bubuk lagi hingga konsistensi cukup kental
dan tampak mengkilap. Pencampuran selesai dalam 1 menit, kavitas diisi
dalam 1 menit dan 3 menit untuk setting. Bahan dimasukkan ke kavitas
dengan sonde/ ekskavator diisi sampai penuh kemudian dengan plastic
filling instrument yang diberi bubuk ditekan atau dengan kapas lembab
ditekan. Kemudian matriks ditekan sampai bahan mengalami setting.
Matriks dilepas dan tumpatan diberi vaselin. Apabila ada kelebihan
tumpatan maka harus dibuang dengan hand cutting instrument(chisel)
setelah 10 menit pengisian.
6. Pemolesan. Dilakukan setelah 24 jam setelah penumpatan, tumpatan dipoles
dengan polishing strip atau paper disk yang diberi vaselin. Dapat juga
dengan arkansas stone (stone putih) yang diberi vaselin.
d. Restorasi Sandwich
Prosedur Pembuatan Restorasi Sandwich
A. Tissue Management untuk mengkontrol cairan gusi dan/atau menghentikan
perdarahan.
B. Aplikasi GIC sebagai basis 1,2
- Kavitas dibersihkan dan kemudian dikeringkan. Aplikasikan asam
polialkenoat 10% pada dentin sebagai kondisioner selama 10-15 detik,
kemudian dibilas dengan air dan dikeringkan.
26

- GIC disiapkan dan diaplikasikan ke dalam kavitas menggunakan spuit


aplikator agar kavitas benar-benar terisi dengan padat.
Cara pengadukan bubuk dan cairan GIC yang dilakukan dengan benar
merupakan prosedur yang sangat penting, karena akan mempengaruhi
kualitas GIC yang dihasilkan.
Caranya adalah sebagai berikut:
i. Bubuk dibagi menjadi dua porsi dengan jumlah yang sama banyak.
ii. Porsi pertama disatukan dengan cairan, kemudian dicampur dengan
menggunakan spatel dengan gerakan rolling (melipat) dengan tujuan
hanya untuk membasahi permukaan partikel bubuk dan menghasilkan
campuran encer. Langkah ini dilakukan selama 10 detik.
iii.Kemudian porsi kedua disatukan dengan adukan pertama.
Pengadukan terus dilanjutkan dengan gerakan yang sama dengan daya
yang ringan sampai seluruh partikel terbasahi. Luas daerah
pengadukan diusahakan untuk tidak meluas dan adukan selalu
dikumpulkan menjadi satu. Dianjurkan untuk tidak melakukan
gerakan memotong adukan, karena tujuan pengadukan hanya untuk
membasahi permukaan partikel bubuk.
iv. Pengadukan selesai setelah 25 30 detik sejak awal pengadukan.
Sebaiknya adukan tidak perlu diangkat-angkat untuk memeriksa
konsistensinya, karena bila hal ini dilakukan maka proses pengadukan
akan terus berlanjut dan makin banyak partikel bubuk yang larut.
v. Adukan langsung di kumpulkan di spuit aplikator untuk di aplikasikan
ke dalam kavitas. Pada saat ini reaksi pengerasan sudah berlangsung.
Ada dua cara aplikasi GIC. Cara pertama GIC diaplikasikan
secukupnya dan langsung dibentuk basis. Sedangkan cara kedua adalah
dengan mengisi penuh kavitas dengan GIC, setelah GI mengeras kavitas
dipreparasi kembali untuk membentuk basis dinding-dinding yang
tertutup dengan GIC harus dipreparasi kembali untuk mendapatkan
permukaan dentin dan email segar, sehingga dapat diperoleh retensi resin
komposit yang baik.
C. Aplikasi Resin komposit

27

- Teknik aplikasi resin komposit dilakukan dengan cara yang biasa


dilakukan, yaitu diawali dengan aplikasi etsa.
- Seluruh permukaan GIC yang akan berkontak dengan resin komposit dan
dinding-dinding kavitas (dentin dan email) dietsa selama 15-2 detik atau
sesuai dengan petunjuk pabrik
- Kavitas dibilas dengan air, tanpa tekanan, selama 1-2 menit
- Keringkan kavitas dengan sponge-pellet, atau disemprot perlahan dengan
chip-blower.
- Aplikasikan bonding agent pada seluruh permukaan yang dietsa,
diamkan sekitar 10 detik agar zat pelarutnya menguap, semprot perlahan
dengan chip-blower, kemudian dipolimerisasi dengan penyinaran.
Lakukan langkah ini sebanyak dua kali.
- Resin komposit diaplikasikan selapis demi selapis (incremental) dengan
ketebalan maksimum 2 mm, atau sesuai dengan petunjuk pabrik. Untuk
setiap lapisnya dilakukan polimerisasi dengan penyinaran. - Penyinaran
sebaiknya dilakukan dari tiga arah, yaitu dari arah bukal, lingual/palatal,
dan terakhir dari arah oklusal.
Teknik Restorasi Sandwich Kelas II
Pada pembuatan restorasi kelas II, ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
yaitu:
- Lakukan tissue magement sebelum pemasangan matriks.
- Gunakan matriks mylar dan baji (wedge) untuk aplikasi GIC
- Pada bagian proksimal, restorasi GIC hanya sampai batas sedikit dibawah titik
kontak. Tujuannya adalah agar bahan yang berkontak dengan gigi tetangga
adalah resin komposit. Resin komposit lebih kuat membentuk kontak dengan
gigi disebelahnya serta tahan terhadap friksi pada daerah kontak yang terjadi
pada saat fungsi. Sedangkan pada bagian oklusal GIC hanya mengisi kavitas
sampai batas di bawah dentino-enamel junction (DEJ).

28

Teknik restorasi Sandwich kelas II


1. Aplikasi glass-ionomer
2. Aplikasi resin komposit secara incremental (Tooth Colored Restoratives,1996)
- Lakukan pemilihan warna resin komposit sesuai dengan warna gigi yang
akan direstorasi.
- Setelah GIC mengeras dan dibentuk sesuai dengan desain di atas dan
lakukan pemasangan matriks seksional atau automatriks dan baji (wedge)
sebelum aplikasi bahan restorasi resin komposit.
Teknik Restorasi Sandwich Pada Kavitas Kelas V
Pada pembuatan restorasi laminasi kelas V ini diperlukan ketelitian yang lebih
karena kecilnya daerah operasi. Penatalaksanaannya adalah, sebagai berikut :
- Lakukan pemilihan warna GIC dan resin komposit yang sesuai dengan warna
gigi yang direstorasi.
- Lakukan tissue magement sebelum dilakukan aplikasi GIC.
- GIC ditempatkan ke dalam kavitas dengan bentuk permukaan yang oblique
(miring) ke arah insisal terhadap permukaan kavitas. Bagian kavitas yang
terletak di bawah gusi terisi penuh dengan GIC dan ketebalannya makin
menipis ke arah dinding insisal. Tujuannya adalah agar bagian supragingiva
dapat direstorasi dengan resin komposit dengan ketebalan yang cukup.

BAB 4
KESIMPULAN

29

1. Restorasi plastis adalah bahan restorasi yang dapat dibentuk dalam kavitas, dan
setelah beberapa waktu diaplikasikan dalam kavitas nantinya akan dapat
mengeras.
Macam-macam restorasi plastis :
a. Logam
: Amalgam
b. Non logam
: Komposit, Semen ionomer kaca, akrilik, silikat,
kompomer, restorasi Sandwich.
2. Amalgam
Indikasi :
Kavitas kelas I, kelas II, kelas V
Kontra Indikasi :
Karies yang luas melibatkan cusp
Gigi antagonis logam yang tidak sejenis
Pasien yang menderita alergi terhadap merkuri
Komposit
Indikasi :

Kavitas klas III, klas IV klas V gigi anterior, klas V pada permukaan
fasial gigi premolar

Lesi oklusal dan interproksimal gigi posterior (klas I dan klas II)
dengan keterbatasan

Kontraindikasi :

Lesi distal dari premolar

Tambalan rutin untuk premolar

Pasien dengan insiden karies tinggi serta Oral Hygiene buruk

Semen Glass Ionomer


Indikasi :

restorasi gigi sulung

restorasi karena abrasi : tanpa preparasi

restorasi kelas V dan III


Kontraindikasi :

lesi karies kelas IV

lesi karies gigi II

tidak memiliki ketahanan yang sama pada abrasi : gampang pecah


30

3. Tahap preparasi gigi sulung sama dengan gigi permanen, modifikasi desain
berdasarkan perbedaan bentuk anatomi :
a) Enamel dentin lebih tipis
b) Ruang pulpa lebih besar
c) Kontak proksimal lebih luas
d) Tanduk pulpa lebih tinggi
e) Permukaan oklusal lebih sempit
f) Daerah 1/3 servikal yang cembung dan penyempitan pada daerah leher gigi

(servical).

DAFTAR PUSTAKA
Andlaw, R. J. 1992. Perawatan Gigi Anak (A Manual of Pedodontics) Edisi 2,
Alih bahasa: Agus Djaya. Jakarta : Widya Medika.
Baum, Lloyd, Philips, Ralph W., Lund, Melvin R. 1997. Buku Ajar Ilmu
Konservasi Gigi, Edisi III. Jakarta : EGC.
http://drgdondy.blogspot.com/2009/11/tanya-jawab-tentang-amalgam.html

31

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/d30f518393aad96931b1cd883b76a91
94eb22313.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1154/1/10E00020.pdf

Pickard, H.M., Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N. 2002. Manual Konservasi


Restoratif Menurut Pickard Edisi 6, Alih bahasa : Narlan Sumawinata.
Jakarta : Widya Medika.

32