Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dunia bisnis yang sangat cepat membuat para pebisnis
memelukan alat pembayaran yang cepat, sederhana dan aman. Di dalam dunia
perusahaan dan perdagangan, orang menginginkan segala sesuatunya bersifat praktis
dan aman khususnya dalam lalu lintas pembayaran. Artinya, orang tidak mutlak lagi
menggunakan alat pembayaran berupa uang, melainkan cukup dengan menerbitkan
surat berharga baik sebagai alat pembayaran kontan maupun sebagai alat pembayaran
kredit.
Penggunaan surat berharga dalam lalu lintas pembayaran mempertimbangkan
aspek praktis, keamanan , prestise(kebanggan), dan investasi. Praktis dalam setiap
transaksi, para pihak tidak perlu membawa mata uang dalam jumlah besar sebagai
alat pembayaran dalam suatu transaksi, melainkan cukup dengan membawa atau
mengantongi surat berharga saja. Aman artinya tidak setiap orang yang tidak berhak
dapat menggunakan surat berharga itu, karena pembayaran dengan surat berharga
memerlukan cara-cara tertentu. Sedangkan jika menggunakan mata uang apalagi
dalam jumlah besar banyak sekali kemungkinan timbulnya bahaya atau kerugian,
misalnya pencurian, kebakaran atau perampokan, dan lain-lain.
Penggunaan surat berharga menjadi pilihan bagi para pebisnis dalam dunia
perdagangan untuk mempercepat, mempermudah lalu lintas pembayaran dengan
aman.

B.
1.
2.
3.

Rumusan Masalah
Apa pengertian surat berharga?
Apa perbedaan surat berharga dengan surat yang mempunyai harga ?
Apa saja macam-macam dari surat berharga ?

BAB II
PEMBAHASAN
1

1. Pengertian Surat Berharga


KUHD tidak menjelaskan secara implisit tentang apa yang disebut dengan surat
berharga. Oleh karena itu, untuk mengetahui definisi surat berharga perlu dirujuk
pendapat-pendapat para sarjana hukum tentang surat berharga.
Surat berharga adalah sebuah dokumen yang bernilai uang yang telah diakui dan
dilindungi hukum bagi keperluan transaksi perdagangan, pembayaran, penagihan atau
sejenis lainnya. Surat tersebut memberikan hak kepada pemegang yang bermanfaat bagi
yang menerima atau memilikinya, maka dari itu surat berharga begitu penting dan
nilainya sama dengan mata uang tunai.1.
Surat berharga (waarde papier) adalah surat yang oleh penerbitnya sengaja diterbitkan
sebagai pelaksana pemenuhan prestasi, yang berupa pembayaran sejumlah uang. Akan
tetapi, pembayaran itu tidak dilakukan dengan menggunakan mata uang, melainkan
mengantinya dengan alat bayar lain berupa surat yang mengandung perintah kepada pihak
ketiga, atau pernyataan sanggup membayar kepada pemegang surat.
Mengenai surat berharga Purwosutjipto, memberikan pendapatnya sebagai berikut2:
Surat berharga adalah surat bukti tuntutan utang, pembawa hak dan mudah diperjualbelikan.
Bedasarkan dua pendapat para sarjana tersebut dapat diambilkan kesimpulan
bahwa surat berharga adalah surat yang didalamnya terkandung hak tagih berupa uang
tunai, dapar diperjualbelikan, dipindahtangankan.
Hak tagih memberikan pengertian bahwa surat ini pemilik surat berharga sebagai
pembawa hak, harus meyerahkan dan menunjukkan suratnya. Apabila dikemudian hari
surat itu hilang maka hilang pula hak tagihnya. Hal ini, berarti bahwa sebagai pembawa
hak tagih dari surat berharga adalah surat berharga itu sendiri.
Berupa uang tunai memberikan pengertian bahwa fungsi surat berharga ini hanya
sebagai alat ganti dari uang tunai, dan apabila suatu saat hak tagih itu digunakan maka
yang dapat ditagih oleh pemegang hak adalah berupa uang tunai berupa uang, bukan
berupa hak lain.
Dapat diperjualbelikan memberikan pengertian bahwa surat berharga dapat
dipindahtangankan

kapanpun

apabila

dikehendaki.

Sedangkan

sifat

dapat

1 C.S.T.Kansil dan Christine S.T. Kansil, Pokok pokok pengetahuan Hukum Dagang
Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), hlm. 153
2 Purwosutjipto,Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 7 Hukum Surat Berharga, (Jakarta : Djambatan,
1990), hal. 122

dipindahtangankan ini dapat diketahui dari klausul yang dibubuhi dalam surat itu
sehingga dapat dipindahtangankan.
Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan, Abdulkadir Muhammad, bahwa
surat berharga memiliki tiga fungsi utama, yaitu:3
1. Sebagai alat pembayaran (alat tukar uang)
2. Sebagai alat untuk memindahkan hak tagih (diperjualbelikan dengan mudah atau
sederhana)
3. Sebagai surat bukti atas hak tagih (surat legitimasi)
Adapun tujuan dari penerbitan surat berharga adalah sebagai pemenuhan prestasi
berupa pembayaran sejumlah uang.
2. Perbedaan Surat Berharga dengan Surat yang Mempunyai Harga
Abdulkadir Muhammad,S.H. dalam bukunya Hukum Dagang Tentang SuratSurat Berharga membedakan pengertian dua macam surat, yaitu antara surat
berharga yang dalam bahasa Belanda waarde papier , di Negara Anglo Saxon
dikenal dengan istilah negotiable instruments, dengan surat yang mempunyai
harga atau nilai yang dalam bahasa Belanda papier van waarde, dalam bahasa
inggrisnya letter of value.4
Surat yang mempunyai harga ( papier van waarde) diartikan sebagai surat yang
berfungsi sebagai alat bukti bahwa orang yang memegang berhak atas apa yang
disebutkan, atau untuk menikmati hak yang disebutkan dalam surat itu, dan bukan
dibuat bukan untuk memenuhi prestasi. Seperti, konosemen, surat penitipan sepeda
motor, tiket/karcis, dan lain-lain.
Selanjutnya, Purwosutjipto memberikan definisinya sebagai berikut:5
Surat yang mempunyai harga adalah surat bukti tuntutan utang yang sukar
diperjualbelikan.

Adapun perbedaan surat berharga dan surat yang mempunyai harga berdasarkan pendapat
sarjana hukum yang dikemukakan di atas, adalah sebagai berikut:
a.
Surat berharga
1)
Di dalam surat berharga terdapat hak tagih atas sejumlah uang.
2)
Merupakan alat pembayaran.
3)
Dapat diperjualbelikan dengan mudah.
4)
Sebagai pemenuhan prestasi.
3 Abdulkadir Muhammad, Hukum Dagang tentang Surat-surat Berharga,(Bandung: Citra Aditya Bhakti ,
2003), hal. 230

4 Ibid, hal.231
5 Op.cit, hal. 124
3

b.

Surat yang mempunyai harga


1)
Hanya merupakan alat bukti.
2) Tidak dapat diperjualbelikan dengan mudah.
3)
Bukan merupakan alat pembayaran.
4)
Di dalamnya terkadung hak yang bermacam-macam selain uang.

3. Macam-macam Surat Berharga


Surat-surat berharga dalam perdagangan banyak macamnya diantaranya
adalah wesel, cek, aksep, promes, konosemen, sertifikat bank, obligasi, surat andil,
travellers cheque (cek perjalanan), wesel dengan domisili, akseptasi(pengakuan),
endosemen.
Wesel
Menurut C.S.T Kansil wesel adalah surat berharga yang mengandung suatu
perintah pembayaran yang harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam
KUHD. Lebih lanjut, ia menjelaskan wesel merupakan suatu perintah pembayaran
yang diberikan oleh penarik kepada yang kena tarik yang harus melakukan
pembayaran kepada pemegangnya.
Syarat-syarat yang ditentukan dalam Pasal 100 KUHD antara lain :
a. Kata wesel harus jelas tertulis pada kertas tersebut.
b. Perintah yang tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang yang telah
ditentukan.
c. Nama orang yang harus membayarnya.
d. Ketentuan tanggal pembayaran.
e. Ketentuan tempat dimana pembayaran harus dilakukan.
f. Nama orang yang harus menerima uangnya.
g. Tanggal dan tempat surat wesel tersebut ditariknya.
h. Tanda tangan yang mengeluarkan wesel (penarik).
Pasal 101 KUHD menegaskan bahwa jika ada salah satu syarat yang tidak
terpenuhimaka surat tersebut tidak berlaku sebagai surat wesel, kecuali jika didapat
hal-hal berikut :
a. Hari/tanggal bayar yang tidak ditentukan dalam wesel, dianggap pembayaran harus
dilakukan pada hari/tanggal ditunjukkannya wesel.
b. Dalam hal tidak adanya ketentuan khusus, maka tempat yang tertulis di samping nama
tertarik dianggap sebagai tempat pembayaran dan tempat di mana tertarik berdomisili.
c. Surat wesel yang tidak menerangkan tempat ditariknya, hal ini harus dianggap
ditandatangani di tempat yang tertulis di samping penarik.
Tentang hak regres atau hak meminta pertanggungjawaban tercantum dalam pasal 142
KUHD yang bunyinya adalah :
4

Pemegang surat wesel bisa melaksanakan hak regresnya kepada penarik dan kepada para
debitor wesel lainnya, pada hari bayarannya, apabila pembayaran tidak telah terjadi, bahkan
sebelum hari bayarannya.

Macam-macam wesel serta ketentuan atau pasal KUHD yang mengaturnya adalah
sebagai berikut :
1. Wesel kepada order sendiri, diatur dalam pasal 102 KUHD yaitu penarikannnya
sendiri menyebut sebagai payee (harap dibayar kepada saya atau order).
2. Wesel Rekta, diatur dalam pasal 101 KUHD yaitu wesel atas nama seseorang harus
dinyatakan pada wesel tidak pada order
3. Wesel domisili, ditur dalam pasal103 KUHD yaitu wesel yang dapat dibayar pada
tempat tinggal pihak ketiga,
4. Wesel inkaso diatur dalam pasal 102a KUHD yaitu wesel yang ditambah dengan
kata Untuk Ditagih, misalnya pada bank atau kantor inkaso untuk menagihnya.
5. Wesel Berdokumen Sendiri diatur dalam pasal 102b KUHD yaitu wesel yang disertai
dengan surat dokumen, misalnya faktur, konosemen, dan lain-lain.
Ketentuan tentang tanggal pembayaran wesel atau tanggal penarikan wesel, dapat
dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Payable after sight of Bill of Exchange
Wesel yang harus dibayar setelah diperlihatkan oleh pembawanya kepada tertarik
setelah melampaui waktu atau tanggal yang ditentukan, yang tertera pada wesel
tersebut.
b. Payable of demand of Bill of Exchange
Wesel yang harus dibayar kepada pembawanya setelah diperlihatkan dalam waktu
setahun setelah tanggal pembayarannya diminta oleh pembawanya itu.
Surat berharga ini banyak dipergunakan dalam lalu lintas pembayaran, baik dalam
negeri maupun luar negeri.
Cek
Abdulkadir Muhammad dengan mendasarkan pengaturan syarat-syarat formil surat
cek dalam pasal 178 KUHD mendefiniskan surat cek adalah surat yang memuat kata
cek, yang diterbitkan pada tanggal dan tempat tertentu, dengan mana penerbit
memerintahkan tanpa syarat kepada banker untuk membayar sejumlah uang tertentu
kepada pemegang atau pembawa di tempat tertentu.
Adapun syarat-syarat dari surat cek sebagaimana ketentuan dalam pasal 178 KUHD,
adalah sebagai berikut:
a. Nama cek harus jelas;
b. Harus ada perintah membayar sejumlah uang tertentu;
c. Harus disebutkan nama badan hukum atau bank yang harus membayar,
d. Harus ditetapkan tempat dan tanggal pembayaran dan tempat mengeluarkan;
e. Harus ada tanda tangan atau ditandatangani oleh yang mengeluarkan cek
tersebut.
5

Adapun beberapa personel dari surat cek, adalah sebagai berikut


1. Penerbit (trekker, drawer), yaitu orang yang mengeluarkan surat cek;
2. Tersangkut (betrokene, drawee), yaitu banker yang diberi perintah tanpa syarat
untuk membayar sejumlah uang tertentu;
3. Pemegang (nemer, holder) yaitu orang yang diberi hak untuk memperoleh
pembayaran, yang namanya tercantum dalam surat cek;
4. Pembawa (toonder, bearer) yaitu orang yang ditunjuk untuk menerima
pembayaran, tanpa menyebutkan namanya dalam surat cek. Siapa yang
membawa dan memperlihatkan surat cek itu kepada bankirnya, ia akan
memperoleh pembayaran.
5. Pengganti (order) yaitu orang yang menggantikan kedudukan pemegang surat
cek dengan jalan endosemen. Dalam hal ini surat cek diterbitkan dengan
klausula atas pengganti dengan mencantumkan nama pengarang dalam surat
cek.

Aksep (Surat Sanggup)


Berbeda dengan surat wesel yang mengandung perinrah, promes atau aksep
menyebutkan janji atau kesanggupan untuk membayar. Perlu diketahui, bahwa
dalam KUHD tidak terdapat perumusan yang secara jelas menyatakan pengertian
dari surat sanggup. Tetapi dalam pasal 174 KUHD dimuat syarat-syarat formil
dari surat sanggup.
Dari syarat-syarat tersebutlah kemudian para sarjana merumuskan definisi dari
sksep, syarat tersebut yaitu :
a. Keterangan tertunjuk yang menyebutkan kesanggupan untuk menanggung
b.
c.
d.
e.
f.
g.

pembayaran (promes kepada tertunjuk).


Kesanggupan yang tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang.
Penetapan hari bayarnya.
Penetapan tempat di mana pembayaran harus dilakukan.
Nama orang yang kepadanya yang ditunjuk.
Tanggal dan tempat surat kesanggupan itu ditandatangani.
Tanda tangan orang yang mengeluarkan surat.

Adapun sifat-sifat yang dimiliki dari surat sanggup ini adalah sebagai berikut:
1. Surat sanggup sebagai bukti pinjaman uang
Surat sanggup digolongkan kepada surat tagihan hutang (schuldvorderingspapier)
yang bukan perintah untuk membayar (betailingsopdracht) melainkan juga berupa
janji untuk membayar (betailingsbelotte) di sini surat sanggup bersifat sebagai alat
bukti pinjaman uang (credit middle, credit means).
6

Misalnya penanda tangan sebagai pembeli barang dari penjual ( penerima surat
sanggup). Pembeli ini belum mempunyai uang tunai. Dalam hal ini pembeli diberi
tempo untuk membayar pada waktu tertentu di kemudian hari. Sebagai tanda
bukti, pembeli ini menandatangani surat sanggup, bahwa pada tanggal yang telah
ditentukan, penerima surat sanggup (dalam hal ini penjual barang) datang
menunjukkan surat sanggup guna menagih piutangnya itu.
Adapun ketentuan-ketentuan surat sanggup di Indonesia ini terdapat pada
ketentuan-ketentuan dalam surat wesel yang kemudian diterapkan pada surat
sanggup. Hal ini dapat dilihat dalam ketentuan yang tercantum dalam pasal 176
1)
2)
3)

KUHD yaitu sebagai berikut:


Ketentuan tentang endosemen (pasal 110-119 KUHD).
Ketentuan tentang hari bayar (pasal 132-136 KUHD).
Ketentuan tentang hak regres dalam hal ini non pembayaran (pasal 142-149, 153-153

KUHD).
4) Ketentuan tentang pembayaran dengan intervensi (pasal 154, 158, 162 KUHD).
5) Ketentuan tentang surat wesel (pasal 166 dan 167 KUHD).
6) Ketentuan tentang surat wesel yang hilang (pasal 167a).
7) Ketentuan tentang perubahan (pasal 168 KUHD).
8) Ketentuan tentang daluarsa (pasal 168a, 169-170 KUHD).
9) Ketentuan tentang hari raya, menghitung tenggang waktu, dan larangan penagguhan
hari (pasal 171, 171a, 172 dan 173 KUHD).
10) Ketentuan tentang surat wesel yang harus dibayar di tempat tinggal seorang ketiga
atau di tempat lain daripada tempat tersabgkut berdomisili (pasal 103 dan 126
KUHD).
11) Ketentuan tentang klausula bunga (pasal 104 KUHD).
12) Ketentuan tentang adanya selisih dalam penyebutan mengenai jumlah uang yang
13)

harus dibayar (pasal 105 KUHD).


Ketentuan tentang akibat-akibat dari penempatan tanda tangan dalam hal tidak

adanya keadaan-keadaan sebagaimana dimaksud oleh pasal 106 KUHD.


14) Ketentuan tentang akibat-akibat dari penempatan tanda tangan oleh seseorang yang
bertindak tanpa hak atau yang melampaui batas haknya (pasal 107 KUHD).
15) Katentuan tentang surat wesel dalam balnko (pasal 109 KUHD).
16) Ketentuan tentang aval (pasal 129-132 KUHD).
Kwitansi atas tunjuk
Kata kwintansi berasal dari bahasa Belanda kwitante, artinya adalah
pembayaran. Selain kata kwintansi dikenal kata kwinting, artinya tanda terima, atau
tanda bayar, atau pembebasan. Orang yang namanya tercantum dalam surat itu dan

kemudian menguasainya, dianggap telah memenuhi pembayaran yang diperintahkan


oleh penanda tangan.
Perintah pembayaran dalam kwitansi, merupakan perintah tidak langsung
dengan menggunakan kata terima. Artinya apabila pemegang kwintansi ini
memperlihatkan kepada orang yang disebutkan namanya dalam surat itu dan ia
mengakui dan bersedia membayar, ia telah menerima perintah pembayaran tidak
langsung dari penanda tangan. Jika ia membayar dan surat telah dikuasainya, ia
dibebaskan atas hutangnya. Schetelma menyebut kwitansi itu dengan istilah verkafte
betalingsopdracht , artinya pembayaran terselubung.
Kwitansi itu sifatnya adalah sebagai surat perintah pembayaran atas tunjuk.
Tetapi kwitansi atas tunjuk tidak diatur bersama-sama dengan surat cek. Sebab
kwitansi atas tunjuk ini bukan perintah membayar dalam arti sebenarnya, dan tidak
memenuhi syarat formil surat cek.
Sebagai kwitansi atas tunjuk, kwitansi dapat diserahkan kepada siapa saja
yang akan memintakan pembayaran kepada orang yang disebutkan namanya di dalam
surat itu. Tetapi tidak disyaratkan pencantuman klausula atas tunjuk. Karena
kwintansi adalah akta, maka didalamnya perlu dicantumkan tanggal penerbitan dan
ditandatangani.
Jika dirumuskan, pengertian kwitansi atas tunjuk adalah surat yang diterbitkan
oleh penanda tangan pada tanggal dan tempat tertentu, yang berisi perintah membayar
sejumlah uang tertentu kepada pemegang saat diperlihatkan, perintah mana yang
ditujukan kepada orang yang ditunjuk di dalamnya.
Adapun latar belakang dari penerbitan kwitansi atas tunjuk ini hanya terbatas
pada adanya piutang seseorang terhadap orang lain. Sedangkan, tenggang waktu yang
dimiliki dalam kwintansi atas tunjuk adalah 20 hari setelah tanggal penerbitan.
Dalam hal ini, kwitansi atas tunjuk harus memenuhi persyaratan-persyaratan
sebagai berikut:
1. Harus ditandatangani pembuatnya;
2. Harus dinyatakan pengakuan bahwa telah menerima sejumlah uang tertentu;
3. Harus disebutkan nama yang kena tarik;
4. Harus dinyatakan penanggalan hari pengeluaran surat kwitansi pada pembawa.
Obligasi
Obligasi adalah surat-surat pengakuan hutang kepada badan-badan umum yang
tersusun dalam suatu seri dengan jumlah-jumlah yang besarnya sama dengan syaratsyarat yang sama pula.6
6 Akhmad Ikhsan, Hukum Dagang, (Jakarta : Pradnya Paramita, 1987), Hal. 286
8

Sertifikat Bank
Surat berharga ini disebut juga sertifikat deposito, pada hakekatnya sama dengan
surat tanda bukti menyimpan uang di bank dalam jangka waktu tertentu. Bunganya
dibayar di muka dalam arti dipotong dari harga nominalnya.7
Tiap kali sertifikat itu dijual, dapat diserahkan dari tangan ke tangan dan tentunya
dipotong bunga. Makin lama jumlah potongan ini makin kecil. Kalau pemiliknya
memerlukan uang, tetapi tidak ingin menjual sertifikatnya dengan mudah dapat
menggadaikan itu kepada bank.
1. Instrumen ini berjangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang.
2. Instrumen yang sangat aman karena diterbitkan oleh pemerintah atau biasanya
oleh Bank Sentral. Oleh karena itu instrumen ini sangat mudah diperjualbelikan
dan disukai oleh perusahaan-perusahaan, terutama oleh lembaga-lembaga
keuangan untuk dijadikan sebagai cadangan likuiditas sekuner yg memberikan
hasil.
T-Bills (istilah umum digunakan di dunia internasional) kalau di Indonesia adalah
SBI (Sertifikat Bank Indonesia).
Karakteristik SBI:
a. Satuan unit sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).
b. Berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua
belas) bulan.
c. Penerbitan dan perdagangan dilakukan dengan sistem diskonto.
d. Diterbitkan tanpa warkat, artinya SBI diterbitkan tanpa adanya fisik SBI itu
sendiri dan bukti kepemilikan bagi pemegang hanya berupa pencatatan
elektronis.
e. Dapat dipindahtangankan (negotiable).
Konosemen
Sesuai dengan bunyi undang-undang Pasal 504 KUHD maka konosemen
adalah surat dimana pengangkut (kapten kapal) menerangkan bahwa ia telah
menerima sejumlah barang untuk mengangkutnya ke suatu tempat dan
menyerahkannya di sana kepada seseorang atau kepada wakil (kuasa order) nya,
segala sesuatu dengan syarat-syarat serta ongkos-ongkos terterntu. Dari definisi
dapat dikatakan bahwa konosemen mempunyai fungsi sebagai tanda penerimaan
(sejumlah barang tertentu) dan sebagai surat perjanjian pengangkutan.

7Iting Partadiredja, Pengetahuan dan Hukum dagang, (Jakarta: Erlangga, 1978), hlm. 97
9

Konosemen member hak kepada yang memilikinya atas sejumlah barang


tertentu. Jadi selama barang-barang dalam kapal sedang berada di tengah lautan,
tanpa sepengetahuan kekuasaan atas dirinya telah berpindah tangan yang satu ke
tangan yang lain.
Celen
Celen adalah surat-surat yang dikeluarkan oleh tempat tempat penyimpanan
barang sebagai bukti adanya penyimpanan.
Bilyet Giro
Bilyet Giro adalah suatu perintah tanpa syarat dari penerbitnya untuk
memindahbukukan sejumlah uang yang ada pada bank dimana penerbit memiliki
rekening giro dan dana dalam jumlah yang cukup kerekening milik pihak yang
namanya tersebut dalam bilyet giro tersebut.
Pihak-pihak dalam bilyet giro
1.
Penarik
2.
Bank penyimpan dana / tertarik
3.
Bank penerima
4.
Pemegang
Ketentuan yang mengatur secara khusus mengenai bilyet giro adalah Surat
Edaran Bank Indonesia No.4/1670 UPBB/PbB tanggal 24 Januari 1972. Dalam
surat tersebut ditentukan syarat-syarat formal yang harus dipenuhi dalam bilyet
giro:
1. Adanya kata-kata bilyet giro didalam formulirnya sendiri, berikut nomor
serinya.
2. Perintah tak bersyarat untuk memindahbukukan sejumlah dana atas beban
saldo penerbit bilyet giro
3. Nama dan tempat bank tertarik kepada siapa perintah dimaksud ditujukan.
4. Nama pihak yang harus menerima pemindahbukuan dana beserta alamatnya.
5. Jumlah dana yang dipindahkan, ditulis baik dengan angka maupun dengan
huruf.
6. Tandatangan penarik dan cap/stempel badan usaha dari si penarik.
7. Tanggal dan tempat penarikan.
8. Tanggal mulai efektif berlakunya amanat dalam bilyet giro.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Surat berharga adalah sebuah dokumen yang bernilai uang yang telah diakui
dan dilindungi hukum bagi keperluan transaksi perdagangan, pembayaran, penagihan
atau sejenis lainnya. Surat tersebut memberikan hak kepada pemegang yang

10

bermanfaat bagi yang menerima atau memilikinya, maka dari itu surat berharga begitu
penting dan nilainya sama dengan mata uang tunai.
Sedangkan surat yang mempunyai harga adalah surat yang berfungsi sebagai
alat bukti bahwa orang yang memegang berhak atas apa yang disebutkan, atau untuk
menikmati hak yang disebutkan dalam surat itu, dan bukan dibuat bukan untuk
memenuhi prestasi.
B. Saran
Ada baiknya pada saat kita melaksanakan transaksi itu harus ada bukti
transaksinya yang bisa di sebut sebagai surat surat berharga, agar transaksi dapat
dipertanggungjawabkan dan pula dapat dijadikan sebagai tanda bukti jika terjadi halhal tertentu. Karena tidak tahu apa jadinya kita, bila bertransaksi tanpa bukti transaksi
dan sebagainya, ada saja kita ditipu dengan partner sendiri atau bagaimana lainnya.

11