Anda di halaman 1dari 9

RIGOR MORTIS

Beberapa jam setelah kematian, semua otot tubuh masuk dalam keadaan
kontraktur yang disebut rigor mortis atau kaku mayat, yaitu otot berkontraksi dan
menjadi kaku walaupun tidak terdapat potensial aksi. Kekakuan ini disebabkan oleh
hilangnya semua ATP yang dibutuhkan untuk menyebabkan pemisahan jembatan
penyeberangan di filamen aktin selama proses relaksasi.
Selama dalam tubuh ada glikogen, masih terjadi resintesa ADP menjadi ATP,
sehingga otot-otot masih dalam keadaan lemas. Oleh karena kadar glikogen yang terdapat
pada setiap otot itu berbeda-beda, menyebabkan adanya perbedaan kadar ATP dalam
setiap otot. Keadaan tersebut dapat menerangkan mengapa rigor mortis pertama-tama
akan tampak pada jaringan otot yang jumlah serabut ototnya sedikit. Apabila persediaan
glikogen telah habis, maka resintesa ADP menjadi ATP tidak ada, dan semua ATP dirubah
menjadi ADP, maka terjadilah Rigor Mortis.
Rigor mortis akan terjadi pada seluruh otot, baik otot lurik maupun otot polos.
Dan bila terjadi pada otot anggota gerak, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang
mirip papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan tersebut.
Bila hal ini terjadi, otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin lagi terjadi
kaku mayat.
Perubahan yang terjadi pada otot-otot orang meninggal adalah sebagai berikut:
1. Primary Flaccidity (periode relaksasi primer)
Dalam fase ini otot-otot lemas, dan masih dapat dirangsang secara mekanik
maupun elektrik. Fase ini terjadi dalam stadium somatic death. Primary flaccidity
berlangsung selama 2 sampai 3 jam.
2. Rigor Mortis (kaku mayat)
Dalam fase ini otot-otot tidak dapat berkontraksi meskipun dirangsang secara
mekanik maupun elektrik. Terjadi dalam stadium cellular death dimana aktivitas
listrik otot tidak ada lagi. Fase rigor mortis ini dibagi dalam 3 bagian:
a. Kaku mayat belum lengkap

Kaku mayat

terjadi serentak

pada otot-otot

seluruh tubuh, tetapi

manifestasinya tidak bersamaan. Mula-mula kaku mayat terlihat pada Mm.


Orbicularis oculi, kemudian otot-otot rahang bawah, otot-otot leher,
ekstremitas atas, thoraks, abdomen, dan ekstremitas bawah. Fase ini
berlangsung 3 jam.
b. Kaku mayat lengkap
Fase kaku mayat lengkap ini dipertahankan selama 12 jam.
c. Kaku mayat mulai menghilang
Urut-urutan hilangnya kaku mayat sama seperti pada waktu timbulnya,
terkecuali otot rahang bawah, yang paling akhir menjadi lemas. Fase ini
berlangsung selama 6 jam.
3. Secondary Flaccidity (periode relaksasi sekunder)
Otot menjadi relaks (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena

Kaku Mayat

pemecahan protein. Proses pembusukan juga mulai terjadi.

2a

2b

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya rigor mortis:


1. Suhu sekitarnya

2c

18

24

Jam

Bila suhu sekitarnya tinggi, rigor mortis akan cepat timbul dan cepat hilang.
Sebaliknya bila suhu sekitarnya rendah, rigor mortis lebih lama timbul serta lebih
lama hilang. Pada suhu di bawah 10C tidak akan terbentuk rigor mortis.
2. Aktivitas otot saat meninggal
Apabila korban meninggal dalam keadaan konvulsi atau lelah, rigor mortis akan
cepat timbul. Dan bila korban meninggal dalam keadaan relaks, timbulnya rigor
mortis lebih lambat.
3. Usia
Pada anak-anak dan orang tua, kaku mayat lebih cepat terjadi daripada dewasa
muda, dan berlangsung tidak lama.
4. Gizi
Apabila keadaan gizi korban jelek, timbulnya rigor mortis lebih cepat.
5. Cara kematian
Pada pasien dengan penyakit kronis atau septikemia, kaku mayat lebih cepat
terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada pasien yang mati mendadak, kaku mayat
lambat terjadi dan berlangsung lebih lama.
Rigor mortis adalah salah satu perubahan post mortem yang penting untuk
mempertahankan interval kematian. Di tahun 1812, Nysten pertama kali mengemukakan
perkembangan rigor mortis dari atas ke bawah (downward progress) pada jenazah
manusia. Banyak ahli forensik yang telah memastikan kecenderungan ini, meskipun hal
ini tidak terjadi pada semua jenazah. Beberapa hipotesa tentang downward progress telah
diajukan. Hipotesis yang paling terkenal adalah hipotesis Shapiro pada tahun 1950.
Beliau menyebutkan rigor mortis akan muncul lebih cepat pada otot kecil daripada pada
otot besar, karena proses rigor mortis berjalan hampir bersamaan di semua otot. Maka
dari itu, beliau berasumsi bahwa pada sendi-sendi kecil, seperti pada sendi
temporomandibular, yang dikelilingi oleh otot-otot dalam jumlah sedang, akan lebih
cepat tidak dapat digerakkan daripada sendi-sendi besar yang dikelilingi otot-otot yang
relatif lebih besar. Tetapi, tidak ada yang menguji secara eksperimental hipotesis dari
Shapiro ini.

Masahiko Kobayashi, pada penelitiannya yang berjudul Why does rigor mortis
progress downwards? dan dipublikasikan di Anil Aggrawal's Internet Journal of
Forensic Medicine and Toxicology, 2002; Vol. 3, No. 2 (Juli - Desember 2002) berusaha
membuktikan bahwa proporsi dari tipe-tipe serabut otot mungkin mempengaruhi rigor
mortis. Penelitian ini menggunakan sampel otot tikus.
Serabut otot dibagi menjadi beberapa macam tipe menuut enzim histokimia. Tiap
tipe mempunyai ciri khas metabolisme, morfologi, dan fisiologi.
Tipe

Tipe I

Tipe IIA

Tipe IIB

Fosforilasi oksidatif
Glikolisis

Glikolisis

Kandungan myoglobin Tinggi

Tinggi

Rendah

Mitokondria

Banyak

Banyak

Sedikit

Kandungan glikogen

Rendah

Tinggi

Tinggi

Metabolisme energi

Fosforilasi oksidatif

Proporsi dari tipe-tipe serabut tiap otot berbeda tergantung dari macam atau
bagian otot tersebut. Pada tikus, otot lurik sebagian besar mengandung serabut otot tipe I
atau IIA. Otot polos didominasi oleh tipe IIB. Untuk membandingkan perubahanperubahan post mortem dari beberapa otot, Kobayashi menganalisa otot-otot dari tikus
yang dibunuh dengan anestesi dalam. Otot-otot yang diteliti adalah: Red Gastrocnemius
(RG), White Gastrocnemius (WF), Soleus (SO), Erector Spinae (ES). Proporsi tipe
serabut pada otot-otot tersebut ditentukan dengan pengecatan ATP ase.
Otot

Tipe I

Tipe IIA

Tipe IIB

Red gastrocnemius (RG)

38.2 17.5

43.1 16.1

18.8 12.0

White gastrocnemius (WG)

0.0 0.0

0.1 0.4

99.9 0.4

Soleus (SO)

82.4 6.8

13.3 5.9

4.3 2.6

Erector spinae (ES)

6.6 5.7

10.5 2.6

82.9 6.1

Sampel diletakkan pada water-bath yang berisi cairan parafin dan suhu dijaga
pada 25oC atau 37oC. Erector spinae hanya diuji pada suhu 37 oC.Tiap sampel diukur
ketegangannya selama 8 jam post mortem. Hasil pengukuran dicatat dalam bentuk grafik
di bawah ini.

Dari grafik dapat dilihat bahwa pada semua sampel, ketegangan meningkat dan
kemudian menurun dalam selang waktu 8 jam post mortem. Ketegangan mencapai
puncak lebih cepat pada RG dan SO daripada ES (pada suhu 25 oC dan 37 oC) dan lebih
cepat pada ES daripada WG (pada suhu 37oC). Dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa onset rigor mortis lebih cepat pada otot lurik daripada otot polos. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena produksi ATP post mortem akan lebih sedikit pada
otot lurik paripada otot polos karena serabut otot lurik mengandung lebih sedikit glikogen
daripada serabut otot polos.
Menghilangnya rigor mortis lebih cepat pada otot polos. Rigor mortis dapat
menghilang karena enzim protease yang diaktivasi oleh kadar Ca 2+. Akan tetapi, belum
diketahui apakah kadar Ca2+ post mortem berbeda antara otot lurik dan otot polos.Hal ini
masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dari grafik juga dapat ditarik kesimpulan bahwa temperatur juga mempengaruhi
rigor mortis. Rigor mortis mulai tampak dan menghilang lebih cepat pada suhu 37 oC
daripada 25 oC.
Serabut otot lurik tipe I pada otot pengunyah manusia itu unik dan berbeda dari
otot lain. Serabut otot tipe I ini mempunyai 2 kali diameter serabut otot tipe II pada otot

pengunyah. Kekhasan ini tidak ada pada otot-otot lain. Hal ini mengakibatkan proporsi
area serabut otot tipe I pada otot pengunyah manusia itu tinggi. Karena itu, rigor mortis
pada otot pengunyah manusia akan lebih cepat daripada otot lain yang akan menimbulkan
kekakuan awal pada sendi temporormandibular pada jenazah manusia.
Ekstremitas distal mendingin lebih cepat sesudah meninggal. Hal ini akan
mengakibatkan rigor mortis relatif melambat pada ekstremitas distal.
Metode yang sederhana untuk menentukan saat kematian dengan rigor mortis
yaitu rule of thumb oleh Camps. Dengan metode ini, jenazah pada umumnya dapat
dibagi menjadi :
-

masih hangat, tidak ada kekakuan yang tampak, mengindikasikan kematian kira-kira
3 jam sebelumnya

kekakuan mulai tampak, kemungkinan kematian terjadi antara 2 9 jam sebelumnya

kekakuan lengkap, menunjukkan kematian lebih dari 9 jam yang lalu


Akan tetapi, Knight mengeluarkan opini yang menyebutkan sangatlah tidak

aman untuk menggunakan rigor dalam memperkirakan waktu kematian. Knight


menyatakan bahwa satu-satunya kegunaan yang mungkin adalah dalam jangka waktu
sekitar hari kedua, di mana suhu jenazah telah menurun sesuai suhu lingkungan tetapi
pembusukan belum terjadi. Jika kekakuan lengkap sudah tampak, maka dapat
diasumsikan bahwa jenazah memasuki hari kedua setelah kematian, tergantung kondisi
lingkungan.
Niderkorn dalam penelitiannya di tahun 1872 menyimpulkan adanya banyak
variasi dalam onset dan durasi dari rigor mortis. Niderkorn mengamati perkembangan
rigor mortis pada 113 jenazah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 14%
kasus, kaku mayat lengkap terjadi 3 jam post mortem. Persentase ini meningkat menjadi
72% pada 6 jam, dan 90% pada 9 jam. Pada 12 jam post mortem kaku mayat sudah
lengkap pada 98% kasus.
Jika jenazah dipindahkan sebelum onset dari rigor, maka sendi-sendi akan
menjadi tetap pada posisi baru. Karena itu, jika jenazah ditemukan dalam posisi tertentu
dengan rigor mortis yang lengkap, maka tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa mayat
tersebut mati dalam posisi tersebut. Akan tetapi, adanya kejanggalan dari postur pada
mayat di mana kaku mayat telah terbentuk dengan posisi sewaktu mayat ditemukan,

dapat menjadi petunjuk bahwa pada tubuh korban telah dipindahkan setelah mati. Ini
mungkin dimaksudkan untuk menutupi sebab kematian atau cara kematian yang
sebenarnya.
Keadaan yang mirip dengan rigor mortis:
1. Heat Stiffening
Yaitu kekakuan yang disebabkan oleh koagulasi protein otot akibat suhu yang
sangat tinggi sehingga otot menjadi memendek. Otot yang telah menjadi kaku
akibat heat stiffening ini tidak dapat mengalami rigor mortis. Tetapi sebaliknya,
heat stiffening dapat terjadi pada otot yang sudah mengalami rigor mortis.
Heat stiffening terdapat pada:

korban yang mati terbakar

korban yang tersiram cairan panas

jenazah yang dibakar

Jenazah yang mengalami heat stiffening mengambil posisi tertentu yang dikenal
sebagai pugilistic attitude, yaitu posisi dimana semua sendi berada dalam keadaan
fleksi dan tangan terkepal seperti seorang petinju.
2. Freezing
Yaitu kaku sendi yang disebabkan karena cairan sinovial membeku. Bila sendi
tersebut digerakkan, akan terdengar suara krepitasi. Untuk membedakannya
dengan rigor mortis, jenazah diletakkan dalam ruangan dengan suhu yang lebih
tinggi, maka otot-otot akan menjadi lemas akibat mencairnya kembali bekuan
cairan sinovial.
3. Cadaveric Spasm / Instantaneous Rigor / Instantaneous Rigidity / Cataleptic
Rigidity
Yaitu suatu keadaan dimana terjadi kekakuan pada sekelompok otot dan kadangkadang pada seluruh otot, segera setelah terjadi kematian somatis, dan tanpa
melalui relaksasi primer. Cadaveric spasm dapat terjadi pada korban yang
mengalami ketegangan emosi, kepanikan, atau menderita nyeri yang hebat
menjelang kematiannya, Otot-otot yang bersangkutan telah mengalami kerja fisik

atau kontraksi sebelum korban meninggal dunia. Bentuk-bentuk kekakuan akan


menunjukkan saat-saat terakhir kehidupan korban.
Kepentingan dari segi mediko-legal:
a. Pada kasus bunuh diri, mungkin alat yang digunakan untuk tujuan bunuh diri
masih berada dalam genggaman.
b. Pada kasus kematian karena tenggelam, mungkin tangan korban bisa terdapat
daun atau rumput. Hal ini bisa menunjukkan bukti kehidupan pada saat masuk
ke dalam air.
c. Pada kasus pembunuhan pada genggaman korban mungkin bisa diperoleh
sesuatu yang memberi petunjuk untuk mencari pembunuhnya.
Perbedaan antara rigor mortis dengan cadaveric spasm:

1. Mulai timbul

Rigor Mortis
2-3 jam setelah

Cadaveric Spasm
Segera setelah

meninggal

meninggal
Kematian mendadak,

2. Faktor predisposisi

3. Otot yang terkena

4. Kaku otot

aktivitas berlebih,
ketakutan, terlalu lelah,

Semua otot, termasuk

perasaan tegang, dll


Biasanya terbatas pada

otot volunter dan

satu kelompok otot

involunter
Tidak jelas, dapat

volunter.
Sangat jelas, perlu

dilawan dengan sedikit

tenaga yang kuat untuk

tenaga

melawan kekakuannya.
Menunjukkan cara

5. Kepentingan dari segi

Untuk perkiraan saat

mediko-legal

kematian

6. Suhu mayat
7. Kematian sel
8. Rangsangan listrik

Dingin
Ada
Tidak ada respon otot

kematian, yaitu bunuh


diri atau pembunuhan.
Hangat
Tidak ada
Ada respon otot

Dengan demikian, baik heat stiffening, freezing, maupun cadaveric spasm


bukanlah kaku kaku mayat menurut pengertian yang sebenarnya.