TUGAS SURVEI REKAYASA
Perencanaan & Perhitungan Site Plan Bangunan
Dosen Pembimbing :
Ruli Andaru S.T, M.Eng.
Disusun Oleh :
Luna Puspita Ratri
(13/355665/SV/05205)
DIPLOMA 3 TEKNIK GEOMATIKA
FAKULTAS SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Tugas Survei Rekayasa 2 adalah menghitung dan merencanakan site plan bangunan dan
menghitung volume dengan menggunakan beberapa metode, yaitu metode cut and fill, End Area,
serta Mean Area dengan disediakan data string file kontur topografi dan patok koordinat rencana
bangunan seperti berikut :
Pondasi bangunan tersebut akan direncanakan lebih tinggi dari pada elevasi terrain disekitarnya
agar terhindar dari genangan banjir yaitu pada elevasi 95m.
Pertanyaan yang harus dijawab adalah :
1. Coba anda hitung berapakah luasan bangunan tersebut.
2. Hitung berapa volume timbunan yang diperlukan untuk meratakan tanah dengan elevasi
sesuai acuan jika dihitung dengan metode cut and fill
3. Jika volume tersebut akan dihitung menggunakan metode tampang (mean area dan end area),
jelaskan cara anda mengukur tampang tsb dilapangan dan hitunglah volume timbunan tsb
menggunakan 2 metode ini. (Cat : profil /cross bisa diekstrak dari garis kontur).
4. Coba anda bandingkah nilai volume mean area dan end area, mana yang lebih mendekati
nilai volume sebenarnya.
5. Jika bangunan tsb akan didirikan pada elevasi 60m, hitunglah volume cut and fillnya dan
tunjukkan daerah yang di cut dan di fill.
6. Jika anda diminta untuk memasang patok ke6 titik pojok bangunan tsb, bagaimana langkah
kerja anda.
Jawaban pertanyaan diatas adalah :
1. Luasan bangunan yang terdapat pada string file tersebut adalah sebesar 35.000 m2
Untuk mengetahui luasan bangunan tersebut dapat menggunakan menu Segment Properties
sehingga muncul keterangan horizontal area pada command line seperti berikut :
2. Volume timbunan yang diperlukan untuk meratakan tanah dengan elevasi sesuai acuan (95
m) jika dihitung dengan metode cut and fill adalah sebesar 1.096.344 m3
3. Cara mengukur tampang di lapangan adalah seperti berikut :
a. Membuat perencanaan jumlah cross dari rencana bangunan dengan pertimbangan Biaya,
waktu, dan SDM untuk pengerjaan tersebut.
b. Jarak antar potongan melintang dibuat sama, sedangkan pengukuran kearah samping kiri
dan kanan as jalur memanjang lebarnya dapat ditentukan sesuai perencanaan dengan pita
ukur misalnya pada jalan raya, potongan melintang dibuat dari tepi yang satu ke tepi
yang lain. Arah potongan melintang tegak lurus dengan as obyek yang akan diukur.
c. Pengukuran dilapangan dapat dengan menggunakan alat Waterpass. Dengan mengukur
ketinggian profil melintang yang akan dijadikan sebagai perhitungan luas dan volume.
Sketsa :
Alat yang digunakan :
1. Waterpas
2. Unting-unting
3. Jalon
4. Statif
5. Rambu ukur
6. Payung
Teknis pengukuran :
1. Mendirikan waterpass di atas patok A dan mengatur sesuai persyaratannya,
kemudian melakukan pelurusan terhadap patok berikutnya (titik B) dengan cara
mengarahkan teropong waterpass ke arah patok tersebut dengan bantuan jalon,
setelah itu putarlah waterpass 90 derajat ke kanan.
2. Bidik dan bacalah rambu ukur yang didirikan di depan teropong tersebut pada tiaptiap profil tanah yang berbeda (sebesar 0,5 m) jarak maksimal 10 meter di sebelah
kanan kiri jalur poligon (ditandai dengan angka yang mengikuti nama titik profil
sebelah kiri).
3. Memutar teropong sebesar 180 derajat dan melakukan pembacaan rambu ukur pada
tiap-tiap profil tanah yang berbeda (sebesar 0,5 m) jarak maksimal 10 meter di
sebelah kanan kiri jalur poligon (ditandai dengan huruf yang mengikuti nama titik
profil sebelah kanan).
4. Dengan cara yang sama lakukan pengukuran profil melintang pada setiap titik patok
sebagai sumbu proyek hingga mencapai titik polygon terakhir.
Sketsa pengukuran profil melintang :
D
E
Menghitung volume timbunan dengan 2 metode, yaitu metode end area dan mean area.
Membuat cross section untuk dibuat penampang sehingga dapat dihitung luasnya seperti
berikut :
Keterangan :
Karena hitungan cut and fill dengan metode cross section akan dibandingkan, maka cross
section dibentuk dengan panjang sama dengan bangunan seperti diatas, dimana saat
menghitung cut and fill menggunakan boundary bangunan yang di drape.
Luas tiap penampang tiap section :
1. Section 1 = 2538,486 m2
Contoh penampang section 1 :
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Section 2 = 2049,371 m2
Section 3 = 2349,253 m2
Section 4 = 3157,521 m2
Section 5 = 6438,969 m2
Section 6 = 7610,677 m2
Section 7 = 7777,495 m2
Jarak antar section :
Section 1-2 = 50,153 m
Section 2-3 = 50.033 m
Section 4-5 = 50.689 m
Section 5-6 = 48.277 m
Section 6-7 = 50.848 m
Setelah menghitung luas tiap penampang dan jarak antar penampang/section, kemudian
menghitung volume seperti berikut :
a. Metode End Area
Dan seterusnya
Metode ini mengambil nilai luas rata-rata terhadapt kedua section terdekat sampai section
terakhir. Hasil perhitungan volume nya adalah sebesar 1.198.670,079 m3
b. Metode Mean Area
Metode ini mengambil rata-rata luas dari seluruh section yang ada. Hasil perhitungan
volume nya adalah sebesar 1.330.073,833 m3
4. Perbandingan nilai volume mean area dan end area yang lebih mendekati nilai volume
sebenarnya adalah nilai volume End Area. Mengapa? Karena perhitungan Volume dengan
metode cross section End Area lebih teliti dimana luas antara kedua penampang terdekat
dirata-rata sehingga mendapatkan nilai luas yang lebih rapat.
5. Jika bangunan tersebut didirikan pada elevasi 60m, maka volume yang harus digali adalah
sebesar 187.540 m3 sedangkan volume yang ditimbun adalah 58.885 m3
Untuk letak area yang digali dan ditimbun adalah sebagai berikut :
Galian (Cut)
Timbunan
(Fill)
Pada report ditunjukkan bahwa nilai fill volume lebih sedikit dari cut volume. Maka area
yang sedikit diatas adalah area yang ditimbun, sedangkan yang banyak adalah yang digali.
6. Langkah kerja pemasangan ke enam (6) patok adalah :
Alat yang digunakan :
- Total Station
- Statif
- Prism Poll
Teknis Pengukuran :
a. Menyiapkan koordinat yang akan di stake out atau dipasang patoknya.
b. Mengetahui koordinat station (berdiri alat) dan koordinat backsight sebagai acuan stake
out.
c. Mendirikan alat pada station kemudian menginput koordinat STN tersebut. Lalu
membidik titik backsight atau jika sudah ada maka input nama titik backsight tersebut
pada alat.
d. TS akan menampilkan azimuth antara titik berdiri alat dengan titik backsight. Arahkan
teropong TS tepat ke reflector di titik backsight.
e. Pada display TS menampilkan sudut antara titik STN dengan titik yang dicari. Memutar
arah teropong TS secara horizontal sehingga sudut yang terbaca menjadi 000. Setelah
itu mengarahkan reflektor sehingga tepat pada sasaran tembak TS.
f. Kemudian mengukur dengan measure sehingga pada display akan muncul jarak antara
titik STN dengan titik berdirinya reflector (titik yang dicari).
g. Mengarahkan orang yang memegang reflektor untuk maju atau mundur sesuai jarak pada
TS. IN berarti maju, sedangkan OUT artinya mundur. Jika pada display tertulis OUT
36,477 m berarti reflector/prism poll tersebut harus mundur sejauh 36,477 m. Setelah itu
measure ulang (dengan menekan MSR1), terus hingga jarak yang tampil pada layar
mencapai batas toleransi yang ditentukan.
h. Kemudian memasang patok pada titik yang sudah di stake out tersebut.
i. Melakukan hal yang sama untuk titik-titik lain agar terpasang patok seluruhnya.