Anda di halaman 1dari 66

BAB I

PENDAHULUAN
I.1.

Pengertian
Pada hakekatnya, Geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu

tentang roman muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Kata


Geomorfologi (Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga kata
yaitu: Geos (earth atau bumi), morphos (shape atau bentuk), logos (knowledge
atau ilmu pengetahuan). Berdasarkan dari kata-kata tersebut, maka pengertian
geomorfologi merupakan pengetahuan tentang bentuk-bentuk permukaan bumi.
Geomorfologi adalah ilmu yang mendeskripsikan, mendefinisikan,
serta menjabarkan bentuk lahan dan proses-proses yang mengakibatkan
terbentuknya lahan tersebut, serta mencari hubungan antara proses-proses dalam
susunan keruangan.
Proses geomorfologi terbagi atas 2 (dua) yaitu : proes eksogen dan
proses endogen. Sifat-sifat dari proses geomorfologi bersifat membangun
(konstruktif) dan bersifat merusak (destruktif).
Proses eksogen terbagi atas 2 (dua), yaitu :
1. Degradasi (penurunan lithosfer) : pelapukan (fisika, kimia, biologi), erosi,
gerakan massa, jatuhan meteor, artifisial atau aktivitas manusia
(penambangan, dan lain-lain).
2. Agradasi (kenaikan lithosfer) : sedimentasi (oleh agen-agen geologi),
artifisial atau aktivitas manusia, (penimbunan, dan lain-lain).
Proses endogen terbagi atas 2 (dua), yaitu :
1. Tektonik, dibagi atas 2 (dua), yaitu :

a. Epirogenesa : pengangkatan atau penurunan, waktu


lama, adanya perlipatan atau patahan, daerah yang luas.
b. Orogenesa
atau
pembentukan
pegunungan
:
pengangkatan, adanya perlipatan atau patahan, waktu
singkat, daerah yang sempit.
2. Aktivitas Vulkanisme : gejala atau fenomena yang berhubungan
dengan penerobosan magma kepermukaan bumi, sehingga
membentuk gunung api.
Dalam geomorfologi dikenal istilah bentuklahan (landform) atau
bentangalam. Bentuk lahan atau bentang alam merupakan suatu kenampakan
medan atau fisik yang terbentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu
dan karakteristik fisikal dan visual yang unik dan berbeda satu sama lain.
Berdasarkan proses terjadinya, terdapat 8 bentang alam, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
I.2.

Bentang alam Denudasional


Bentang alam Struktural
Bentang alam Fluvial
Bentang alam Vulkanik
Bentang alam Marine
Bentang alam Karst
Bentang alam Aeolian
Bentang alam Glasial

Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari praktikum geomorfologi ini adalah agar

mahasiswi maupun mahasiswa yang mengikuti praktikum ini mengerti dalam hal
mengklasifikasi macam-macam bentang alam berdasarkan proses terjadinya.
I.3.

Metode Penulisan

1. Studi Pustaka

Data-data penulisan laporan ini diambil dari internet dan referensireferensi lainnya.
2. Observasi lapangan
Data-data penulisan laporan ini juga turut diambil dari data-data
langsung dari lapangan.
I.4.
1.
2.
3.
4.
5.
I.5.

Alat dan Bahan


Peta Topografi
Kertas kalkir
Alat tulis (pensil, pena, penghapus, pensil warna, dan mistar)
Kalkulator
Papan clipboard
Waktu, Lokasi, dan Kesampaian Daerah
Praktikum Geomorfologi dilaksanakan setiap hari Senin pukul 10.50

WIB 13.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Dinamik, Kampus 2


Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, jalan I dewa Nyoman 32,
Kotabaru. Adapun tempat pelaksanaan praktikum ini, dapat ditempuh dengan
menggunakan kendaraan bermotor dengan menempuh waktu selama kurang lebih
5 - 10 menit dari tempat tinggal sementara penulis ke arah barat.

BAB II
BENTANG ALAM DENUDASIONAL
II.1.

Pengertian
Denudasi adalah kumpulan proses yang mana, jika dilanjutkan cukup

jauh, akan mengurangi semua ketidaksamaan permukaan bumi menjadi tingkat


dasar seragam. Dalam hal ini, proses yang utama adalah degradasi, pelapukan, dan
pelepasan material, pelapukan material permukaan bumi yang disebabkan oleh
berbagai proses erosi dan gerakan tanah. Kebalikan dari degradasi adalah
agradasi, yaitu berbagai proses eksogenik yang menyebabkab bertambahnya
elevasi permukaan bumi karena proses pengendapan material hasil proses
degradasi.
Proses yang mendorong terjadinya degradasi dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu :
1. Pelapukan, produk dari regolith dan saprolite (bahan rombakan
dan tanah).
2. Transport, yaitu proses perpindahan bahan rombakan terlarut dan
tidak terlarut karena erosi dan gerakan tanah.
II.2.

Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Denudasional


Proses pengurangan lahan dapat berupa proses pelapukan, gerakan

tanah, dan pengikisan (erosi). Hal ini diartikan bahwa denudasional merupakan
kesatuan dan proses pelapukan, gerakan massa, erosi dan kemudian diakhiri
dengan proses pengendapan.

1. Pelapukan
Pelapukan merupakan proses perubahan keadaan fisik dan kimia suatu
batuan pada atau dekat dengan permukaan bumi (tidak termasuk erosi dan
pengangkutan hasil perubahan itu). Ketika batuan tersingkap, mereka akan
menjadi subjek dari semua hasil proses pemisahan atau dekomposisi batuan insitu.
Pemisahan batuan umumnya disebabkan karena pengaruh kimia, fisika,
organisme, ataupun kombinasi dari ketiganya.
Tipe proses pelapukan pada kenyataan dan tingkat aktivitasnya
dipengaruhi oleh : sort atau pemilahan, iklim, topografi atau morfologi, proses
geomorfologi, vegetasi dan tata guna lahan.
Pada iklim lembab dan hangat, yang dominan adalah pelapukan kimia.
Pada kondisi iklim kering pada musim baik kemarau maupun penghujan, akan
didominasi pelapukan fisika yang merata. Sedangkan pada zona iklim dimana
temperatur dan kelembaban dapat mendukung kehidupan organisme, pelapukan
biologislah yang mendominasi.
2. Erosi (Pengikisan)
Erosi adalah suatu kelompok proses terlepasnya material permukaan
bumi hasil pelapukan yang dipengaruhi tenaga air, angin, dan es. Ini juga
termasuk perpindahan partikel dengan pemisahan karena pengaruh turunnya hujan
dan terbawa sepanjang aliran sebagaimana suatu arus melalui darat. Ketika arus
menjadi seragam secara relatif dan tipis, partikel dipindahkan dari permukaan
tanpa adanya konsentrasi erosi.

Erosi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu :


a. Erosi normal, terjadi secara alamiah dengan laju penghancuran dan
pengangkutan

tanahnya

sangat

lambat

sehingga

memungkinkan

kesetimbangan antara proses penghancuran dan pengangkutan dengan proses


pembentukan tanah.
b. Erosi dipercepat, terjadi akibat pengaruh manusia sehingga laju erosi lebih
besar daripada pembentukan tanah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi antara lain : iklim, relief,
vegetasi, tanah, dan manusia.
3. Gerakan Tanah
Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah
tegak, datar, atau miring dari kedudukannya semula yang terjadi bila ada
gangguan kesetimbangan pada saat itu. Ada empat jenis utama gerakan massa,
yaitu :
a. Falls (runtuhan), dibagi menjadi : runtuhan batuan, runtuhan tanah, dan
runtuhan bahan rombakan.
b. Slides (longsoran), ada 4 macam, yaitu : nendatan (slump), blok glide,
longsoran batuan, dan longsoran bahan rombakan.
c. Flows (aliran), ada 6 macam aliran, yaitu : aliran tanah, aliran fragmen
batuan, sand run, loess flow (dry), debris avalanche, sand flow dan silt
flow.
d. Kompleks, merupakan gabungan dari berbagai macam gerakan tanah,
misalnya : creep dan amblesan.

Dengan demikian penyebab terjadinya gerakan tanah adalah :


kemiringan tanah, jenis batuan atau tanah, struktur geologi, curah hujan,
penggunaan tanah dan pembebanan massa, serta getaran.
II.3.

Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Denudasional


Macam-macam bentuk lahan asal denudasional adalah sebagai

berikut:
1. Pegunungan Denudasional
Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan
lereng sangat curam (55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan
tertinggi (relief) > 500 m.Mempunyai lembah yang dalam, berdinding terjal
berbentuk V karena proses yng dominan adalah proses pendalaman lembah
(valley deepening).
2. Perbukitan Denudasional
Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng
berkisar antara 15 > 55%, perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m.
Terkikis sedang hingga kecil tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi
penutup daik alami maupun tata guna lahan. Salah satu contoh adalah pulau
Berhala, hamper 72,54 persen pulau tersebut merupakan perbukitan dengan luas
38,19 ha. Perbukitan yang berada di pulau tersebut adalah perbukitan
denudasional terkikis sedang yang disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi
sehingga terbentuk lereng-lereng yang sangat curam.

3. Dataran Nyaris (Peneplain)


Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara
terus menerus, maka permukaan lahan pada daerah tersebut menurun
ketinggiannya dan membentuk permukaan yang hamper datar yang disebut
dataran nyaris (peneplain). Dataran nyaris dikontrol oleh batuan penyusunan yang
mempunyai struktur berlapis (layer). Apabila batuan penyusun tersebut masih dan
mempunyai permukaan yang datar akibat erosi, maka disebut permukaan planasi.
4. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg)
Apabila bagian depan pegunungan atau perbukitan mundur akibat
proses denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan
meninggalkan bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah
atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak
singkapan

batuan

(outcrop).

pegunungan/perbukitan

Kenampakan

terpisah

maupun

ini

dapat
pada

terjadi

pada

sekelompok

pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya


relatif memanjang dengan dinding curam tersebut monadnock.

Gambar 1. Bukit Sisa (http://agnazgeograph.wordpress.com)

10

5. Kerucut Talus (Talus Cones) atau Kipas Koluvial (Coluvial Van)


Mempunyai topografi berbentuk kerucut atau kipas dengan lereng
curam (350). Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga
blok, tergantung pada besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran
kecil terendapkan pada bagian atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar
meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.
6. Lereng Kaki (Foot Slope)
Mempunyai daerah memanjang dan relatif sermpit terletak di suatu
pegunungan atau perbukitan dengan topografi landai hingga sedikit terkikis.
Lereng kaki terjadi pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan
(basin). Permukaan lereng kaki langsung berada pada batuan induk (bed rock).
Dipermukaan lereng kaki terdapat fragmen batuan hasil pelapukan daerah di
atasnya yang diangkut oleh tenaga air ke daerah yang lebih rendah.
7. Lahan Rusak (Bad Land)
Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam
hingga sangat curam dan terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk
lembah-lembah yang dalam dan berdinding curam serta berigir tajam (knife-like)
dan membulat. Proses erosi parit (gully erosion) sangat aktif sehingga banyak
singkapan batuan muncul ke permukaan (rock outcrops).

11

Gambar 2. Bad Land (http://geoenviron.blogspot.com)

Tabel 1. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Denudasional


Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
D1
D2
D3
D4
D5
D6
D7
D8
D9
D10
D11
D12
D13

Nama BentukLahan
Perbukitan Terkikis
Pegunungan Terkikis
Bukit Sisa
Bukit Terisolasi
Dataran Nyaris
Dataran Nyaris Terangkat
Lereng Kaki
Pedimen
Piedmon
Gawir (Lereng Terjal)
Kipas Rombakan Lereng
Daerah dengan Gerak Massa Batuan Kuat
Lahan Rusak

BAB III
BENTANG ALAM STRUKTURAL
III.1. Pengertian

13

Bentang alam struktural adalah bentang alam yang pembentukannya


dikontrol oleh struktur geologi daerah yang bersangkutan. Struktur geologi yang
paling berpengaruh terhadap pembentukan morfologi adalah struktur geologi
sekunder, yaitu struktur yang terbentuk setelah batuan itu ada.
Struktur sekunder biasanya terbentuk oleh adanya proses endogen
yang bekerja adalah proses tektonik. Proses ini mengakibatkan adanya
pengangkatan, pengkekaran, patahan dan lipatan yang tercermin dalam bentuk
topografi dan relief yang khas. Bentuk relief ini akan berubah akibat proses
eksternal yang berlangsung kemudian. Macam-macam proses eksternal yang
terjadi adalah pelapukan (dekomposisi dan disintergrasi), erosi (air, angin atau
glasial) serta gerakan massa (longsoran, rayapan, aliran, rebahan atau jatuhan).
Beberapa kenampakan pada peta topografi yang dapat digunakan
dalam penafsiran bentang alam struktural adalah :
1. Pola pengaliran. Variasi pola pengaliran biasanya dipengaruhi oleh variasi
struktur geologi dan litologi pada daerah tersebut.
2. Kelurusan-kelurusan (lineament) dari punggungan (ridge), puncak bukit,
lembah, lereng dan lain-lain.
3. Bentuk-bentuk bukit, lembah dll.
4. Perubahan aliran sungai, misalnya secara tiba-tiba, kemungkinan dikontrol
oleh struktur kekar, sesar atau lipatan.
III.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Struktural
Bentuk lahan ini di tentukan oleh tenaga endogen yang menyebabkan
terjadinya deformasi perlapisan batuan dengan menghasilkan struktur lipatan, dan
patahan, serta perkembangannya. Bentuk lahan di cirikan oleh adanya perlapisan
batuan yang mempunyai perbedaan ketahanan terhadap erosi. Akibat adanya

14

tenaga endogen tersebut terjadi deformasi sikap (attitude) perlapisan batuan yang
semula horizontal menjadi miring atau bahkan tegak dan membentuk lipatan.
Penentuan nama suatu bentuk lahan structural pada dasarnya di dasarkan pada
sikap perlapisan batuan (dip dan strike).
Dalam berbagai hal, bentuk lahan struktural berhubungan dengan
perlapisan batuan sedimen yang berbeda ketahanannya terhadap erosi.
Bentuklahan lahan struktural pada dasarnya dibedakan menjadi 2 kelompok besar,
yaitu struktur patahan dan lipatan. Kadang-kadang pola aliran mempunyai nilai
untuk struktur geologis yang dapat dilihat dari citra. Plateau struktural terbentuk
pada suatu daerah yang berbatuan berlapis horisontal, sedang cuesta dan
pegunungan monoklinal terdapat dip geologis yang nyata. Batuan berlapis yang
terlipat selalu tercermin secara baik pada bentuklahannya. Skistositas akan
berpengaruh pada bentuklahan pada daerah dengan batuan metamorfik, lebih
lanjut patahan dan retakan mempunyai pengaruh juga pada perkembangan
landform.
Dalam beberapa kasus, bentuk-bentuk struktural dipengaruhi oleh
proses-proses eksogenitas dari berbagai tipe, sehingga terbentuklah satuan
struktural-denudasional. Struktur-struktur geologi seperti lipatan, patahan,
perlapisan, kekar maupun kelurusan (lineaman) yang dapat diinterpretasi dari foto
udara dan peta geologi merupakan bukti kunci satuan struktural. Pola aliran
sungai yang ada akan mengikuti pola struktur utama, dengan anak-anak sungai
akan relatif sejajar dan tegak lurus dengan sungai induk.
III.3. Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Struktural

15

1. Bentang alam dengan struktur mendatar (Lapisan Horisontal)


Menurut letaknya (elevasinya), dataran dapat dibagi menjadi 2 (dua),
yaitu :
a. Dataran rendah, adalah dataran yang memiliki elevasi antara 0-500
kaki dari muka air laut.
b. Dataran tinggi (plateau/high plain), adalah dataran yang
menempati elevasi lebih dari 500 kaki diatas muka air laut.
Kenampakan-kenampakan bentang alam pada kedua dataran tersebut
hampir sama, hanya dibedakan pada reliefnya saja. Pada daerah berstadia muda
terlihat datar dan dalam peta tampak pola kontur yang sangat jarang. Pada daerah
yang berstadia tua, sering dijumpai dataran yang luas dan bukit-bukit sisa
(monadnock), yang sering dijumpai mesa dan butte. Perbedaan mesa dengan butte
adalah mesa mempunyai diameter (d) lebih besar dibandingkan dengan
ketinggiannya (h). Sedangkan butte sebaliknya. Pola penyaluran yang
berkembang pada daerah yang berstruktur mendatar adalah dendritik. Hal ini
dikontrol oleh adanya keseragaman resistensi batuan yang ada di permukaan.

16

Gambar 3. Messa (http://geohazard009.wordpress.com)

Gambar 4. Butte (http://geohazard009.wordpress.com)

2. Bentang Alam dengan Struktur Miring


Hampir semua lapisan diendapkan dalam posisi yang mendatar.
Sedimen yang mempunyai kemiringan asal diendapkan pada dasar pengendapan
yang sudah miring, seperti pada lereng gunung api dan disekitar terumbu karang.
Kemiringan lapisan sedimen yang demikian disebut kemiringan asal dengan sudut
maksimum 350.
Kebanyakan sedimen yang memperlihatkan kemiringan, disebabkan
karena adanya proses geologi yang bekerja pada suatu daerah tersebut. Morfologi
yang dihasilkan oleh proses tersebut akan memperlihatkan pola yang memanjang
searah dengan jurus perlapisan batuan. Berdasarkan besarnya sudut kemiringan
dari kedua lerengnya, terutama yang searah dengan kemiringan lapisan batuannya,
bentang alam ini dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
a. Cuesta.
Pada cuesta sudut kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak
simetri dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan. Menurut

17

Thornbury, sudut kelerengan kurang dari 450 sedangkan menurut Stokes dan
Varnes sudut kelerengannya kurang dari 200. Cuesta memiliki kelerengan fore
slope yang lebih curam sedangkan back slope relatif landai pada arah
sebaliknya sehingga terlihat tidak simetri.
b. Hogback.
Pada hogback, sudut antara kedua sisinya relatif sama, dengan sudut
lereng yang searah perlapisan batuan sekitar 450 (Thornbury, 1969, p.133).
sedangkan Stokes & Varnes, 1955 : p.71 sudut kelerengannya lebih dari 200.
Hogback memiliki kelerengan fore slope dan back slope yang hampir sama
sehingga terlihat simetri.
3. Bentang alam dengan Stuktur Lipatan
Lipatan terjadi karena adanya lapisan kulit bumi yang mengalami
gaya kompresi (gaya tekan). Pada suatu lipatan yang sederhana, bagian
punggungan disebut dengan antiklin, sedangkan bagian lembah disebut sinklin.
Unsur-unsur yang terdapat pada struktur ini dapat diketahui dengan
menafsirkan kedudukan lapisan batuannya. Kedudukan lapisan batuan(dalam hal
ini arah kemiringan lapisan batuan) pada peta topografi, akan berlawanan arah
dengan bagian garis kontur.
4. Struktur antiklin dan sinklin
Pada prinsipnya penafsiran pada kedua struktur ini berdasarkan atas
kenampakan fore slope atau antidip slope dan back slope atau dipslope yang
terdapat secara berpasangan. Bila antidip slope saling berhadapan (infacing
scarp), maka terbentuk lembah antiklin, sedangkan apabila yang saling
berhadapan adalah back slope/dipslope, disebut lembah sinklin. Pola pengaliran
yang dijumpai pada lembah antiklin biasanya adalah pola trellis.

18

5. Struktur antiklin dan sinklin menunjam


Struktur

ini

merupakan

kelanjutan

atau

perkembangan

dari

pegunungan lipatan satu arah (cuesta dan hogback) dan dua arah (sinklin dan
antiklin). Bila tiga fore slope saling berhadapan maka disebut sebagai lembah
antiklin menunjam. Sedangkan bila tiga back slope saling berhadapan maka
disebut sebagai lembah sinklin menunjam.
6. Struktur lipatan tertutup
a. Kubah
Bentang alam ini mempunyai ciri-ciri kenampakan sebagai berikut :
1) Kedudukan lapisan miring ke arah luar (fore slope ke arah
dalam).
2) Mempunyai pola kontur tertutup.
3) Pola penyaluran radier dan berupa bukit cembung pada stadia
muda.
4) Pada stadia dewasa berbentuk lembah kubah dengan pola
penyaluran annular.
b.
Cekungan
Bentang alam ini mempunyai kenampakan sebagai berikut :
1) Kedudukan lapisan miring ke dalam (back slope ke arah
dalam).
2) Mempunyai pola kontur tertutup.
3) Pada stadia muda pola penyalurannya annular.
7. Bentang Alam dengan Struktur Patahan
Patahan (sesar) terjadi akibat adanya gaya yang bekerja pada kulit
bumi, sehingga mengakibatkan adanya pergeseran letak kedudukan lapisan
batuan. Berdasarakan arah gerak relatifnya, sesar dibagi menjadi 5, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Sesar normal/ sesar turun (normal fault)


Sesar naik( reverse fault)
Sesar geser mendatar (strike-slip fault)
Sesar diagonal (diagonal fault/ oblique-slip fault)
Sesar rotasi (splintery fault/hinge fault)

19

Secara umum bentang alam yang dikontrol oleh struktur patahan sulit
untuk menentukan jenis patahannya secara langsung. Untuk itu, dalam hal ini
hanya akan diberikan ciri umum dari kenampakan morfologi bentang alam
struktural patahan, yaitu :
a. Beda tinggi yang menyolok pada daerah yang sempit.
b. Mempunyai resistensi terhadap erosi yang sangat berbeda pada
posisi atau elevasi yang hampir sama.
c. Adanya kenampakan dataran atau

depresi

yang

sempit

memanjang.
d. Dijumpai sistem gawir yang lurus (pola kontur yang lurus dan
rapat).
e. Adanya batas yang curam antara perbukitan/ pegunungan dengan
dataran yang rendah.
f. Adanya kelurusan sungai melalui zona patahan, dan membelok
tiba-tiba dan menyimpang dari arah umum.
g. Sering dijumpai kelurusan mata air pada bagian yang naik atau
terangkat.
h. Pola penyaluran yang umum dijumpai berupa rectangular, trellis,
concorted serta modifikasi ketiganya.
i. Adanya penjajaran triangular facet pada gawir yang lurus.
Tabel 2. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Struktural
Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
S1
S2
S3
S4
S5
S6
S7
S8
S9
S10

Nama Bentuklahan
Blok Sesar
Gawir Sesar
Gawir Garis Sesar
Pegunungan Antiklin
Perbukitan Antiklin
Pegunungan Sinklin
Perbukitan Sinklin
Pegunungan Monoklinal
Perbukitan Monoklinal
Pegunungan Dome

20

S11
S12
S13
S14
S15
S16
S17
S18
S19
S20

Perbukitan Dome
Dataran Tinggi(Plato)
Kuesta
Hogback
Flat Iron
Lembah Antiklin
Lembah Sinklin
Lembah Subsekuen
Horst (Tanah Sembul)
Graben (Tanah Terban)

BAB IV
BENTANG ALAM FLUVIAL
IV.1. Pengertian
Bentang alam fluvial merupakan satuan geomorfologi yang erat
hubungannya dengan proses fluviatil. Proses fluviatil adalah semua proses yang
terjadi di alam, baik fisika maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan
bentuk permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan. Di sini yang
dominan adalah air yang mengalir secara terpadu atau terkonsentrasi (sungai) dan
air yang tidak terkonsentrasi (sheet water).
Tetapi alur-alur ada di lereng bukit atau gunung dan terisi air bila
terjadi hujan bukan termasuk bagian dari bentang alam fluviatil, karena alur-alur
tersebut berisi air sesaat setelah terjadinya hujan (ephemeral stream).

21

Sebagaimana dengan proses geomorfik yang lain, proses fluviatil akan


menghasilkan suatu bentang alam yang khas sebagai tingkah laku air yang
mengalir di permukaan. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses
erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan.
Sungai merupakan aliran air yang dibatasi suatu alur yang mengalir ke
tempat atau lembah yang lebih rendah karena pengaruh gravitasi. Sungai termasuk
sungai besar, sungai kecil maupun anak sungai.
IV.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Fluvial
1. Macam-macam Proses Fluvial
Bentang alam fluvial merupakan satuan geomorfologi yang erat
hubungannya

dengan

proses

fluviatil.

Proses

fluviatil

dapat

pindahnya

atau

dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:


a. Proses erosi
Proses

erosi

merupakan

peristiwa

terangkutnya tanah atu bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke


tempat lain oleh agen geologi (air, angin, dan gletser). Dalam
bentang alam ini, agen penyebab erosi yang paling dominan
adalah air. Sungai dapat mengerosi batuan sedimen yang
dilaluinya, memotong lembah, memperdalam dan memperlebar
sungai dengan cara-cara :
1) Quarrying, yaitu pendongkelan batu yang dilaluinya.
2) Abrasi, yaitu penggerusan terhadap batuan

yang

dilewatinya.
3) Scouring, yaitu penggerusan dasar sungai akibat adanya
ulakan sungai, misalnya pada daerah cut off slope.

22

4) Korosi, yaitu terjadinya reaksi terhadap batuan yang


dilaluinya.
5) Hydraulic action,

kemampuan

air

mengangkat

dan

memindahkan batuan atau material-material sedimen


dengan gerakan memutar sehingga batuan pecah dan
kehilangan fragmen.
6) Solution, dalam proses erosi berjalan lambat, tetapi efektif
dalam pelapukan dan erosi.
Berdasarkan arahnya, erosi dapat dibedakan menjadi:
1) Erosi ke arah hulu (head ward erotion) adalah erosi yang
terjadi pada ujung bagian hulu sungai.
2) Erosi vertikal, erosi yang arahnya tegak dan cenderung
terjadi pada daerah bagian hulu pada sungai dan
menyebabkan terjadinya pendalaman lembah sungai.
3) Erosi lateral, yaitu erosi yang arahnya mendatar dan
dominan

terjadi

pada

daerah

tengah

sungai

yang

menyebabkan bertambah lebar dan panjang sungai.


b. Proses transportasi
Proses transportasi adalah proses perpindahan/pengangkutan
material yang diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada
sungai sebagai efek dari gaya gravitasi. Sungai mengangkut
material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu:
1) traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada
dasar sungai.
2) Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara
menggelinding di dasar sungai.
3) Saltasi, yaitu material terangkut
menggelinding pada dasar sungai.

dengan

cara

23

4) Suspensi, yaitu proses pengangkutan material secara


mengambang dan bercampur dengan air sehingga
menyebabkan air sungai menjadi keruh.
5) Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan
memben-tuk larutan kimia.
c. Proses sedimentasi
Adalah proses pengendapan material karena aliran sungai
tidak mampu lagi mengangkut material yang di bawanya. Apabila
tenaga angkut semakin berkurang, maka material yang berukuran
besar dan lebih berat akan terendapkan terlebih dahulu, baru
kemudian material yang lebih halus dan ringan.
Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan
ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan
sungai, karena biasanya pada bagian kelokan ini terjadi
pengurangan energi yang cukup besar.
Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan
besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke arah hilir,
energi semakin kecil, material yang diendapkan pun semakin
halus.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Erosi dan Sedimentasi
a. Kecepatan Aliran Sungai
Kecepatan aliran sungai maksimal pada tengah alur sungai,
bila sungai membelok maka kecepatan maksimal ada pada daerah
cut off slope (terjadi erosi) karena gaya sentrifugal. Pengendapan
terjadi bila kecepatan sungai menurun atau bahkan hilang.
b. Gradien atau kemiringan lereng sungai
Bila air mengalir dari sungai yang kemiringan lerengnya
curam ke dataran yang lebih rendah maka kecepatan air berkurang

24

dan tibatiba hilang sehingga menyebabkan pengendapan pada


dasar sungai. Bila kemudian ada lereng yang terjal lagi, kecepatan
akan meningkat sehingga terjadi erosi yang menyebabkan
pendalaman lembah.
c. Bentuk alur sungai
Aliran air akan menggerus bagian tepi dan dasar sungai.
Semakin besar gesekan yang terjadi maka air akan mengalir lebih
lambat. Sungai yang dalam, sempit dan permukaan dasarnya tidak
kasar, aliran airnya deras. Sungai yang lebar, dangkal dan
permukaan dasarnya tidak kasar, atau sempit, dalam tetapi
permukaan dasarnya kasar, aliran airnya lambat.
d. Discharge
Merupakan volume air yang keluar dari suatu sungai. Proses
erosi dan transportasi terjadi karena besarnya kecepatan aliran
sungai dan discharge.
IV.3. Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Fluvial
Bentang alam fluviatil dapat dibedakan menjadi beberapa macam
berdasar proses pembentukannya, antara lain:

1. Sungai Teranyam (Braided Stream)


Sungai teranyam terbentuk pada bagian hilir sungai yang mempunyai
kemiringan datar atau hampir datar. Pembentukannya dikarenakan oleh erosi yang
berlebihan pada daerah hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian
alurnya dan membentuk gosong tengah (channel bar). Karena adanya gosong

25

yang banyak dan berjajar atau berderet, maka alirannya memberikan kesan
teranyam.

Gambar 5. Braided Stream (http://geohazard009.wordpress.com)

2. Bar Deposit
Adalah endapan sungai yang terdapat pada bagian tepi atau tengah
alur sungai. Endapan pada tengah alur disebut sebagai gosong tengah (channel
bar) sedang endapan pada tepi disebut sebagai gosong tepi (point bar)
3. Tanggul Alam (Natural Llevee)
Adalah tanggul yang terbentuk secara alamiah, hasil pengendapan
luapan banjir dan terdapat pada tepi sungai sebelah menyebelah. Material
pembentuk tenggul alam berasal dari material hasil transportasi sungai saat banjir
dan diendapkan di luar saluran sehingga membentuk tanggul-tanggul sepanjang
aliran.
4. Kipas Alluvial (Alluvial Fan)
Adalah bentang alam alluvial yang terbentuk oleh onggokan material
lepas, berbentuk seperti kipas, biasanya terdapat pada suatu dataran di depan

26

gawir. Biasanya tersusun oleh perselingan pasir dan lempung unconsolidated


sehingga merupakan lapisan penyimpan air yang cukup baik.
5. Delta
Adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir
setelah masuk pada daerah base level.
6. Meander
Bentukan pada dataran banjir sungai yang berbentuk kelokan karena
pengikisan tebing sungai, daerah alirannya disebut sebagai Meander Belt.
Meander ini terbentuk apabila pada suatu sungai yang berstadia dewasa atau tua
mempunyai dataran banjir yang cukup luas, aliran sungai melintasinya dengan
tidak teratur sebab adanya pembelokan aliran. Pembelokan ini terjadi karena ada
batuan yang menghalangi sehingga alirannya membelok dan terus melakukan
penggerusan ke batuan yang lebih lemah.

Gambar 6. Meandering Stream (http://geohazard009.wordpress.com)

7. Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake)


Danau tapal kuda terbentuk jika lengkung meander terpotong oleh
pelurusan air.

27

Gambar 7. Obow Lake (http://fadi11fdf.blogspot.com)


Tabel 3. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Flivial
Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
F1
F2
F3
F4
F5
F6
F7
F8
F9
F10
F11
F12
F13
F14
F15
F16
F17
F18
F19
F20
F21

V.1.

Nama Bentuklahan
Dataran Alluvial
Dasar Sungai
Danau
Rawa
Rawa Belakang
Saluran Sungai Mati
Dataran Banjir
Tanggul Alam
Ledok Fluvial
Bekas Dasar Danau
Hamparan Celah
Gosong Lengkung Dalam
Gosong Sungai
Teras Fluvial
Kipas Alluvial Aktif
Kipas Alluvial Tidak Aktif
Delta
Igir Delta
Ledok Delta
Pantai Delta
Rataan Delta
BAB V
BENTANG ALAM VULKANIK

Pengertian
Bentang

alam

vulkanik

adalah

bentang

alam

yang

proses

pembentukannya dikontrol oleh proses vulkanisme, yaitu proses keluarnya


magma dari dalam bumi. Bentang alam vulkanik selalu dihubungkan dengan
gerak-gerak tektonik. Gunung-gunung api biasanya dijumpai di depan zona

29

penunjaman (subduction zone). Dalam kaitannya dengan bentang alam, gunung


api mempunyai beberapa pengertian antara lain :
1. Merupakan bentuk timbulan di permukaan bumi yang dibangun
oleh timbunan material/rempah gunungapi.
2. Merupakan tempat munculnya material vulkanik lepas sebagai
hasil aktivitas magma di dalam bumi (vulkanisme).
Berdasarkan sifat erupsinya, gunung api dibedakan menjadi :
1. Tipe Krakatau: tipe erupsinya berupa lelehan tetapi bentuk
morfologinya berupa kerucut vulkan, magma bersifat campuran,
dan erupsi seringkali diselingi oleh letusan dahsyat.
2. Tipe Pelee: tipe erupsinya berupa letusan, letusan disertai awan
panas, magma bersifat asam, dan tipe morfologinya berbentuk
kerucut.
3. Tipe Hawai (Perisai): tipe erupsinya berupa lelehan, sedikit gas
dan material piroklastik, magma bersifat basa, morfologinya
berupa kubah dengan sudut puncak landai, dan sering dijumpai
kaldera.
Tabel 4. Tipe Gunung Api (http://geohazard009.wordpress.com)

30

V.2.

Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Vulkanik


Proses pembentukan bentang alam vulkanik dikontrol oleh proses

vulkanisme. Berdasarkan proses terjadinya, ada 3 (tiga) macam vulkanisme, yaitu:


1. Vulkanisme letusan : dikontrol oleh magma yang bersifat asam,
banyak gas, sifat magma kental, ledakan kuat, dan biasanya
menghasilkan material piroklastik dan membentuk gunung api
yang terjal.
2. Vulkanisme lelehan : dikontrol oleh lava basa, sedikit kandungan
gas, magma encer, ledakan lemah dan vulkanisme ini biasanya
menghasilkan gunung api rendah dan berbentuk perisai.
3. Vulkanisme campuran : dikontrol oleh magma menengah dan
biasanya menghasilkan gunung api strato.
V.3.

Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Vulkanik

1. Bentuk Timbulan (Morfologi Positif) atau Kubah Vulkanik


Merupakan morfologi gunungapi yang mempunyai bentuk cembung
ke atas. Morfologi ini dibedakan atas dasar asal kejadiannya menjadi :
a. Kerucut Semburan
1) Kerucut Semburan Utama, merupakan morfologi kerucut
semburan yang terbentuk oleh erupsi lava yang bersifat
kental/andesitik.
2) Kerucut Parasit (Parasitic Cone), merupakan morfologi
yang terbentuk sebagai hasil erupsi gunungapi yang
berada pada lereng gunungapi yang lebih besar.

31

3) Kerucut Sinder (Cinder Cone), merupakan morfologi


yang terbentuk oleh erupsi kecil yang terjadi pada kaki
gunungapi, berupa kerucut rendah dengan bagian puncak
tampak cekung datar.
b. Kubah Lava (Lava Dome)
Merupakan morfologi yang berbentuk kubah membulat yang
terbentuk oleh magma yang sangat kental, biasanya dacite atau
rhyolite. Kubah terdiri dari satu atau lebih aliran lava individu.
c. Gunung Api Tameng (Perisai)
Merupakan morfologi yang terbentuk oleh aliran magma cair
encer, sehingga pada waktu magma keluar dari lubang kepundan,
meleleh ke semua arah dala jumlah besar dari suatu kawah besar
atau kawah pusat dan menutupi daerah yang luas yang relatif tipis.
Sehingga bentuk gunung yang terbentuk mempunyai alas yang
sangat luas dibandingkan dengan tingginya. Sifat magmanya basa
dengan kekentalan rendah dan kurang mengandung gas. Karena
itulah erupsinya lemah, keluarnya ke permukaan bumi secara
effusif/meleleh. Akibatnya lerengnya landai (20 100) tingginya
tidak seberapa dibanding diameternya, dan permukaan lereng yang
halus. Contohnya adalah gunung api di Hawaii (Mauna Loa,
d.

Kilauea).
Dataran Vulkanik
Secara relatif, dataran vulkanik dicirikan oleh puncak
topografi yang datar, dengan variasi beda tinggi yang tidak

32

mencolok. Macam-macam dataran vulkanik diantaranya adalah


dataran basal, plato basal dan dataran kaki vulkan.
e. Vulkan Semu
Vulkan semu adalah morfologi mirip kerucut gunungapi,
bahan pembentuknya berasal dari vulkan yang berdekatan. Dapat
pula terbentuk oleh erosi lanjut terhadap suatu vulkan yang sudah
lama tidak menunjukkan kegiatannya (mati). Morfologi ini
kemungkinan dihasilkan oleh suatu sistem patahan mayor yang
melintasi gunungapi aktif dan mampu mengangkat massa yang
besar. Morfologi vulkan semu ini sering disebut Gunung Gendol.
Gunung Gendol adalah bukit kecil di daerah muntilan , Jawa
Tengah pada dataran kaki vulkan Gunung Merapi. Vulkan semu
jenis lain adalah lajuran vulkanik (volcanic neck), yaitu morfologi
yang terbentuk bila suatu kubah vulkanik tererosi sehingga tinggal
berbentuk lajuran. Biasanya, di sekitar vulkanik tersebut sering
dijumpai retas yang memanjang.

Gambar 8. Volkan semu berupa leher volkanik


(http://geohazard009.wordpress.com)

2. Depresi Vulkanik (Morfologi Negatif)

33

Depresi vulkanik adalah morfologi bagian vulkan yang secara umum


berupa cekungan. Berdasarkan material pengisinya depresi vulkanik dibedakan
menjadi :
a. Danau Vulkanik
Danau vulkanik yaitu depresi vulkanik yang terisi oleh air
sehingga membentuk danau.
b. Kawah
Yaitu depresi vulkanik yang terbentuk oleh letusan dengan
diameter maksimum 1,5 km, dan tidak terisi oleh apapun selain
material hasil letusan. Berdasarkan asal mulanya dibedakan kawah
letusan dan kawah runtuhan. Sedang berdasarkan letaknya
terhadap pusat kegiatan dikelompokkan kawah kepundan dan
kawah samping (kawah parasiter). Pengisian kawah oleh airhujan
akan menyebabkan terbentuknya danaukawah. Dan letusan pada
gunung api yang mempunyai danau kawah akan menyebabkan
terjadinya lahar letusan yang bersuhu tinggi.

Gambar 9. Kawah Gunung Bromo (http://desmaster.wordpress.com)

c. Kaldera
Yaitu depresi vulkanik yang terbentuknya belum tentu oleh
letusan, tetapi didahului oleh amblesan pada komplek vulkan,
dengan ukuran lebih dari 1,5 km. Pada kaldera ini sering muncul
gunung api baru.

34

Tabel 5. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Vulkanik


Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
V1
V2
V3
V4
V5
V6
V7
V8
V9
V10
V11
V12
V13
V14
V15
V16
V17
V18
V19
V20
V21
V22
V23

Nama Bentuklahan
Kepundan
Kerucut Vulkanik
Lereng Vulkanik Atas
Lereng Vulkanik Tengah
Lereng Vulkanik Bawah
Kaki Vulkanik
Dataran Kaki Vulkanik
Dataran Fluvial Vulkanik
Padang Lava
Padang Lahar
Lelehan Lava
Aliran Lahar
Dataran Antar Vulkanik
Dataran Tinggi Lava
Planezea
Padang Abu, Tuff, Lapili
Solfatar
Fumarol
Bukit Vulkanik Terdenudasi
Leher Vulkanik
Sumbat Vulkanik
Kerucut Parasiter
Baranko
BAB VI
BENTANG ALAM MARINE

VI.1. Pengertian
Geomorfologi asal marine merupakan bentuk lahan yang terdapat di
sepanjang pantai. Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat
dipengaruhi oleh kedalaman laut. Semakin dangkal laut maka akan semakin
mempermudah terjadinya bentang alam daerah pantai, dan semakin dalam laut
maka akan memperlambat proses terjadinya bentang alam di daerah pantai.
Di Indonesia, pantai yang ada pada umumnya dialih fungsikan sebagai
tempat wisata yang notabene dapat membantu tingkat pendapatan suatu wilayah.

35

Apabila masyarakat mengetahui bahwa garis pantai bisa mengalami perubahan,


maka akan muncul pemikiran-pemikiran agar pantai tersebut tetap bisa dinikmati
keindahannya meskipun sudah mengalami perubahan.
VI.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Marine
Selain dipengaruhi oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan
daerah pantai juga dipengaruhi oleh:
1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di
daerah sekitar pantai tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang
disebabkan oleh tenaga dari luar, misalnya yang disebabkan oleh
angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi
keadaan bentang alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya
tenaga

vulkanisme,

diastrofisme,

perlipatan,

patahan,

dan

sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta
kegiatan organisme yang ada di laut.
VI.3. Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Marine
1. Kekuatan Gelombang
Gelombang pasang yang menghempas pantai merupakan penyebab
pengikisan gelombang secara langsung. Bekas-bekas pengikisan gelombang
tersebut menyebabkan semakin besarnya kekuatan gelombang.
Bentuk-bentuk hasil erosi :

36

a. Gua laut (sea caves), terbentuk karena cliff mengalami erosi


bawah (under cutting) oleh pukulan gelombang arus.
b. Celah, erosi oleh gelombang atau arus yang menimpa retakan atau
patahan menyebabkan terbentuknya celah di pantai.
c. Teras-teras (wave cut teraraces), terjadi karena dasar laut dangkal
tererosi. Permukaan menjadi rata kemudian terangkat.
2. Kenampakan Hasil Kerja Gelombang
Seperti halnya tenaga pengikis yang lain, tenaga gelombang juga
dapat menyebabkan pengendapan selain menyebabkan pengikisan, sehingga di
satu sisi menebabkan kerusakan pantai dan di sisi yang lain akan menyebabkan
berkembang atau terbentuknya garis pantai.
Ada beberapa kenampakan bentang lahan hasil kegiatan gelombang, yaitu:
a. Goresan gelombang pantai
Bekas dari gelomang di pantai akan terlihat jelas apabila
struktur batuan yang menyusun pantai tersebut tidak seragam.
Batuan yang mudah tererosi akan lebih cepat terkikis bila
dibandingkan dengan batuan yang resisten. Kenampakan ini
banyak dijumpai pada pantai yang berusia tua.
b. Pantai curam (cliff) dan teras-teras pantai
Apabila dinding pantai cliff yang tersusun dari jenis batuan
yang tidak tahan erosi dihantam gelombang yang cukup tinggi,
maka batuan tersebut tidak hancur sekaligus. Sebagian material
batuan akan menumpuk di bagian bawah dan dapat mempengaruhi
kerja dari gelombang. Apabila tumpukan material tersebut
mengalami pengikisan, maka tanah pantai cliff tersebut akan
mengalami longsor (landslide) secara vertikal sehingga terbentuk

37

teras-teras gelombang. Lebar teras gelombang itu sendiri


tergantung pada faktor-faktor penyebab erosi gelombangnya.
Semakin kuat gelombangnya, maka teras-teras gelombangnya
akan bertambah lebar.

Gambar 10. Cliff (http://enenkq.blogspot.com)

c. Stack yaitu tiang-tiang baru yang terpisah dari daratan.tersusun


dari batuan yang resisten sehingga bertahan dari pukulan
gelombang.
d. Arc yaitu batuan berlubang tembus akibat kikisan gelombang,
tersusun dari batuan yang lunak atau tidak resisten.
e. Head land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok ke laut
akaibat erosi gelombang, terdiri atas batuan lava dan breksi.
3. Kenampakan Hasil Pengendapan Gelombang
Kenampakan bentang lahan hasil pengendapan gelombang ada
beberapa macam, yaitu:
a. Gisik
Gisik merupakan suatu bentuk pengendapan yang terjadi di
pantai. Gisik terletak tinggi di atas pantai belakang atau pada
posisi lainnya pada pantai depan. Kadang-kadang gisik ini terlihat

38

seperti jembatan yang bertingkat-tingkat turun ke arah laut.


Material pada gisik ini terdiri dari kerikil yang bulat-bulat, kerikil
yang kasar (gravel), dan pasir.

Gambar 11. Gisik (http://enenkq.blogspot.com)

b. Gosong pasir (bar)


Gosong pasir merupakan endapan pasir atau kerikil di laut
sejajr garis pantai.
1) Off shore bar (barrier bar) terdapat di laut lepas, hasil
pengendapan backswash.
2) Laguna (lagoon), laut dangkal antara daratan dan off
shore bar.
3) Tombolo, endapan yang menghubungkan daratan dengan
pulau, sebagai akibat reflaksi gelombang karena rintangan
pulau tersebut.
c. Guguk pasir pantai (coast dunes)
Adalah timbunan pasir dipantai sebagai akibat hasil aktivitas
angin dan vegetasi.
1) Free dunes, timbunan pasir di pantai oleh pengendapan
angin tanpa di bantu vegetasi.
2) Impended dunes, timbunan

pasir

di

pantai

pengendapan angin dan vegetasi atau topografi kasar.


4. Arus Litoral

oleh

39

Bahan-bahan endapan hasil pengikisan oleh arus laut kemudian


diendapkan lagi di tempat lain. Jika endapan ini telah sampai dipermukaan air
maka akan terbentuk : spits, connecting bar, hooks dan loops.

Tabel 6. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Marine


Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
M1
M2
M3
M4
M5
M6
M7
M8
M9
M10

Nama Betuklahan
Pelataran Pengikisan Gelombang
Tebing Terjal Dan Takik Pantai
Gisik
Beting Gisik (Bura)
Tombolo
Depresi Antar Tebing
Gumuk Pantai Aktif
Gumuk Pantai Tidak Aktif
Rataan Pasang Surut Bervegetasi
Rataan Pasang Surut Tidak Bervegetasi

BAB VII
BENTANG ALAM KARST
VI.1. Pengertian
Bentang alam karst merupakan suatu bentang alam yang terbentuk
pada daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut, menunjukkan relief
yang khas, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk ke dalam

41

tanah dan meninggalkan lembah kering dan muncul kembali di tempat lain
sebagai mata air yang besar.
Kondisi batuan yang menunjang terbentuknya topografi karst ada 4,
yaitu:
1.
2.
3.
4.

Mudah larut dan berada di atau dekat permukaan.


Masif, tebal dan terkekarkan.
Berada pada daerah dengan curah hujan yang tinggi.
Dikelilingi lembah.

Proses pelarutan pada batugamping, meninggalkan morfologi sisa


pelarutan, perkembangan morfologi sisa ini dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu :
1. Terjadi pelarutan pada batuan terkekarkan sehingga membentuk
lembah yang kemudian merupakan zona yang lebih cepat
mengalami pelarutan (zona A) dibandingkan dengan zona B yang
tidak mengalami pengkekara.

2. Karena zona A lebih cepat mengalami pelarutan, maka zona ini


segera terbentuk lembah yang dalam, sementara pada zona B
masih berupa dataran tinggi dengan gejala pelarutan di beberapa
tempat.
3. Pelarutan pada kedua zona terus berjalan sehingga pada fase ini
mulai terbentuk kerucut-kerucut karst pada zona B. Pada kerucut
karst ini tingkat pelarutan atau erosi vertikalnya lebih kecil
dibandingkan lembah di sekitarnya.
4. Karena adanya erosi lateral oleh sungai maka zone A berada pada
batas permukaan erosi dan pada zona B erosi vertikal telah

42

berjalan lebih lanjut sehingga hanya tinggal beberapa morfologi


sisa saja, morfologi sisa ini disebut menara karst.
VII.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Karst
Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan bentang alam
karst meliputi :
1. Faktor Fisik
a. Ketebalan batugamping, yang baik untuk perkembangan
karst adalah batu gamping yang tebal, dapat masif atau
yang terdiri dari beberapa lapisan dan membentuk unit
batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan
topografi karst sebelum habis terlarutkan. Namun yang
paling baik adalah batuan yang masif, karena pada
batugamping berlapis biasanya terdapat lempung yang
terkonsentrasi

pada

bidang

perlapisan,

sehingga

mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menembus


seluruh lapisan.
b. Porositas dan permeabilitas, berpengaruh dalam sirkulari
air dalam batuan. Semakin besar porositas sirkulasi air
akan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan
semakin intensif.
c. Intensitas struktur (kekar), zona kekar adlah zona lemah
yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga
dengan adanya kekar dalam batuan, proses pelarutan
berlangsung intensif. Kekar yang baik untuk proses
karstifikasi adalah kekar berpasangan (kekar gerus),

43

karena

kekar

mempertinggi

tersebut
porositas

dan

berpasangan

sehingga

permeabilitas.

Namun

apabila intensitas kekar sangat tinggi batuan akan mudah


tererosi

atau

hancur

sehingga

proses

karstifikasi

terhambat.
2. Faktor Kimiawi
Kondisi kimia batuan, dalam pembentukan topografi kars
diperlukan sedikitnya 60% kalsit dalam batuan dan yang paling
baik diperlukan 90% kalsit. Kondisi kimia media pelarut, dalam
proses karstifikasi media pelarutnya adalah air, kondisi kimia air
ini sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Kalsit sulit
larut dalam air murni, tetapi mudah larut dalam air yang
mengandung asam. Air hujan mengikat CO2 di udara dan dari
tanah membentuk larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat
(H2CO3). Larutan inilah yang sangat baik untuk melarutkan
batugamping.
3. Faktor Biologis
Aktivitas tumbuhan dan mikrobiologi dapat menghasilkan
humus yang menutup batuan dasar, mengakibatkan kondisi
anaerobic sehingga air permukaan masuk ke zona anaerobic,
tekanan parsial CO2 akan meninggkat sehingga kemampuan
4.

melarutkannya juga meningkat.


Faktor Iklim dan Lingkungan
Kondisi lingkungan yang mendukung adalah adanya lembah
besar yang mengelilingi tempat yang tinggi yang terdiri dari
batuan yang mudah larut (batugamping) yang terkekarkan intensif.

44

Kondisi lingkungan di sekitar batugamping harus lebih rendah


sehingga sirkulasi air berjalan dengan baik, sehingga proses
karstifikasi berjalan dengan intensif.
VII.3. Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Karst
Bentuk morfologi yang menyusun suatu bentang alam karst dapat
dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu bentuk-bentuk konstruksional dan bentukbentuk sisa pelarutan.
1. Bentuk Konstruksional
Bentuk-bentuk konstriksional adalah topografi yang dibentuk oleh
proses pelarutan batugamping atau pengendapan mineral karbonat yang dibawa
oleh air. Berdasarkan ukurannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
a. Bentuk-bentuk minor, bentang alam yang tidak dapat diamati pada
peta topografi atau foto udara, yaitu :
1) Lapies, yaitu bentuk yang tidak rata pada batugamping
akibat adanya proses pelarutan dan penggerusan.
2) Karst split, adalah celah pelarutan yang terbentuk di
permukaan.
3) Parit karst, yaitu alur pada permukaan yang memanjang
membentuk parit, yang juga sering dianggap karst split
yang memanjang sehingga membentuk parit.

45

Gambar 12. Parit Karst (http://geohazard009.wordpress.com)

4) Palung karst, adalah alur pada permukaan batuan yang besar


dan lebar, terbentuk karena proses pelarutan, kedalaman
lebih dari 50 cm. biasanya pada permukaan batuan yang
datar atau miring rendah dan dikontrol oleh struktur yang
memanjang.
5) Speleotherms, adalah hiasan pada gua yang merupakan
endapan CaCO3 yang mengalami presipitasi pada air tanah
yang membawanya masuk ke dalam gua, yaitu : Stalaktit
dan Stalakmit.
6) Fitokarst, adalah permukaan yang berlekuk-lekuk dengan
lubang-lubang yang saling berhubungan, terbentuk karena
adanya pengaruh aktivitas biologis yaitu algae yang
tumbuh di dalam batugamping. Algae menutup di
permukaan dan masuk sedalam 0,1 0,2 mm dan
menghasilkan

larutan

asam

sehingga

melarutkan

batugamping.
b. Bentuk-bentuk mayor, yang dapat diamati dari peta topografi atau
foto udara, yaitu :
1) Surupan (doline), yaitu depresi tertutup hasil pelarutan
dengan diameter mulai dari beberapa meter sampai
beberapa kilometer, kedalaman bisa sampai ratusan meter
dan mempunyai bentuk bundar atau lonjong.
2) Uvala, adalah gabungan dari beberapa doline.

46

3) Polje, adalah depresisi tertutup yang besar dengan lantai


datar dan dinding curam, bentuknya tidak teratur dan
biasanya

memanjang

searah

jurus

perlapisan,

pembentukannya dikontrol oleh litologi dan struktur, dan


mengalami pelebaran saat terisi oleh air.
4) Jendela karst, adalah lubang pada atap gua yang
menghubungkan dengan udara luar, terbentuk karena atap
gua runtuh.
5) Lembah karst, adalah lembah atau alur yang besar,
terbentuk oleh aliran permukaan yang mengerosi batuan
yang dilaluinya. Ada 4 macam lembah karst, yaitu :
6) Gua, adalah ruang bawah tanah yang dapat dicapai dari
permukaan dan cukup besar bila dilalui oleh manusia.
7) Terowongan dan jembatan alam, adalah lorong di bawah
permukaan yang terbentuk oleh pelarutan dan penggerusan
air tanah.
2. Bentuk Sisa Pelarutan
Sisa pelarutan adalah morfologi yang terbentuk karena pelarutan dan
erosi sudah berjalan sangat lanjut sehingga meninggalkan sisa erosi yang khas
pada daerah karst.
Macam-macam morfologi sisa antara lain :
a. Kerucut karst, adalah bukit karst yang berbentuk kerucut,
berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi.
b. Menara karst, adalah bukit sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk
menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung,
terpisah satu dengan yang lainnya dan dikelilingi dataran aluvial.

47

Gambar 13. Menara Karst


(http://geohazard009.wordpress.com)
Tabel 7. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Karst
Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
K1
K2
K3
K4
K5
K6
K7
K8
K9

Nama Bentuklahan
Dataran Tinggi Karst
Lereng Dan Perbukitan Karstik
Terkikis
Kubah Karst
Bukit Sisa Karst
Dataran Alluvial Karst
Uvala, Dolina
Polje
Lembah Kering
Ngarai Karst

BAB VIII
BENTANG ALAM AEOLIAN
VIII.1. Pengertian
Bentang alam aeolian merupakan bentang alam yang terbentuk karena
aktivitas angin. Angin meskipun bukan sebagai agen geomorfik yang sangat
penting (topografi yang dibentuk oleh angin tidak banyak dijumpai), namun tetap
tidak dapat diabaikan. Bentang alam ini banyak dijumpai pada daerah gurun pasir.
Gurun pasir sendiri lebih diakibatkan adanya pengaruh iklim. Gurun pasir

49

diartikan sebagai daerah yang mempunyai curah hujan rata-rata kurang dari 26
cm/tahun. Gurun pasir tropik terletak pada daerah antara 350 LU sampai 350 LS,
yaitu pada daerah yang mempunyai tekanan udara tinggi dengan udara sangat
panas dan kering. Gurun pasir lintang rendah terdapat di tengah-tengah benua
yang terletak jauh dari laut atau terlindung oleh gunung-gunung dari tiupan angin
laut yang lembab sehingga udar yang melewati gunung dan sampai pada daerah
tersebut adalah udara yang kering.
VIII.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Aeolian
Proses-proses yang disebabkan oleh angin meliputi : erosi,
transportasi dan deposisi.
1. Erosi oleh angin
Erosi oleh angin dibedakan menjadi dua macam, yaitu deflasi
dan abrasi atau korasi. Deflasi adalah proses lepasnya tanah dan
partikel-partikel kecil dari batuan yang diangkut dan dibawa oleh
angin. Sedangkan abrasi merupakan proses penggerusan batuan dan
permukaan lain oleh partikel-partikel yang terbawa oleh aliran angin.
2. Transportasi oleh angin
Cara transportasi oleh angin pada dasarnya sama dengan
transportasi oleh air yaitu secara melayang (suspension) dan
menggeser di permukaan (traction). Secara umum partikel halus atau
debu dibawa secara melayang dan yang berukuran pasir dibawa secara
menggeser di permukaan (traction). Pengangkutan secara traction ini
meliputi meloncat (saltation) dan menggelinding (rolling).
3. Pengendapan oleh angin

50

Jika kekuatan angin yang membawa material berkurang atau


jika turun hujan, maka material-material (pasir dan debu) tersebut akan
diendapkan.
VIII.3. Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Aeolian
1. Bentang alam Aeolian Akibat Proses Erosi
Proses erosi oleh angin dibedakan menjadi 2, yaitu deflasi dan abrasi.
Bentang alam yang disebabkan oleh proses erosi ini juga dibedakan menjadi 2
yaitu bentang alam hasil proses deflasi dan bentang alam hasil proses abrasi.
a. Bentang Alam Aeolian Hasil Proses Deflasi
Bentang alam hasil proses deflasi dibedakan menjadi 3 macam:
1) Cekungan Deflasi (Deflation basin)
Cekungan deflasi merupakan cekungan yang diakibatkan oleh
angin pada daerah yang lunak dan tidak terkonsolidasi atau
material-material yang tersemen jelek. Cekungan tersebut akibat
material yang ada dipindahkan oleh angin ke tempat lain. Contoh
cekungan ini terdapat di Gurun Gobi yang terbentuk karena batuan
telah diurai oleh adanya pelapukan. Cekungan ini mempunyai
ukuran antara 300 m sampai lebih dari 45 km panjangnya dan dari
15m sampai 150 m dalamnya.
2) Lag Gravel
Deflasi terhadap debu dan pasir yang ditinggalkan merupakan
material yang kasar (gravel, bongkah dan fragmen yang besar),
disebut lagstone. Akumulasi seperti itu dalam waktu yang lama
bisa menjadi banyak dan menjadi lag gravel atau bahkan sebagai
desert pavement, dimana sisa-sisa fragmennya berhubungan satu
sama lain saling berdekatan.

51

3) Desert varnish
Beberapa lagstone yang tipis, mengkilat, berwarna hitam atau
coklat dan permukaannya tertutup oleh oksida besi dikenal desert
varnish.
b. Bentang Alam Hasil Proses Abrasi
Bentang alam hasil proses abrasi atau korasi antara lain:
1) Ventifact
Beberapa sisa batuan berukuran bongkah berangkal yang
dihasilkan oleh abrasi angin yang mengandung pasir akan
membentuk einkanter (single edge) atau dreikanter (three edge).
Einkanter terbentuk dari perpotongan antara pebble yang
mempunyai kedudukan tetap dengan arah angin yang tetap atau
konstan. Dreikanter terbentuk dari perpotongan antara pebble yang
posisinya overturned akibat pengrusakan pada bagian bawah
dengan arah angin yang tetap atau dapat juga disebabkan oleh arah
angin yang berganti-ganti terhadap pebble yang mempunyai
kedudukan tetap, sehingga membentuk bidang permukaan yang
banyak.
2) Polish
Polish ini terbentuk pada batuan yang mempunyai ukuran butir
halus, digosok oleh angin yang mengandung pasir (sand blast)
atau yang mengandung silt (silt blast) yang mempunyai kekuatan
lemah, sehingga hasilnya akan lebih mengkilat, misalnya pada
kwarsit akibat erosi secara abrasi akan lebih mengkilat.
3) Grooves
Angin yang mengadung pasir dapat juga menggosok dan menyapu
permukaan batuan membentuk suatu alur yang dikenal sebagai
grooves. Pada daerah kering, alur yang demikian itu sangat jelas.

52

Alur-alur tersebut memperlihatkan kenampakan yang sejajar


dengan sisi sangat jelas.
4) Sculpturing (Penghiasan)
Batu jamur (mushroom rock) yaitu batu yang tererosi oleh angin
yang mengandung pasir sehingga bentuknya menyerupai jamur
(mushroom).
5) Yardang
Pada batuan yang halus, abrasi oleh angin secara efektif
memotong sepanjang alur rekahan membentuk bentukan sisa yang
berdiri memanjang yang disebut yardang. Kehadiran rekahanrekahan mempunyai pengaruh penting pada orientasi beberapa
yardang. Material yang halus tertransport sedangkan lapisan yang
resisten membentuk perlapisan dengan material lain yang kurang
kompak.
2. Bentang Alam Aeolian Hasil Pengendapan Angin
Jika kekuatan angin yang membawa material berkurang atau jika
turun hujan, maka material-material yang terbawa oleh angin akan diendapkan.
Bentang alam hasil proses pengendapan oleh angin ini dibedakan menjadi 2 (dua),
yaitu : Dune dan Loess.
a. Dune
Dune adalah suatu timbunan pasir yang dapat bergerak atau
berpindah, bentuknya tidak dipengaruhi oleh bentuk permukaan
ataupun rintangan.
1) Transversal Dune
Transversal dune merupakan punggungan-punggungan pasir
yang berbentuk memanjang tegak lurus dengan arah angin

53

yang dominan. Bentuk ini tidak dipengaruhi oleh tumbuhtumbuhan.


2) Parabolic Dune
Parabolic dune
sekop/sendok

atau

merupakan
berbentuk

dune

yang

parabola.

berbentuk
Bentuk

ini

dipengaruhi oleh adanya tumbuh-tumbuhan.


3) Longitudinal Dune
Longitudinal dune merupakan punggungan-pungungan pasir
yang terbentuk memanjang sejajar dengan arah angin yang
dominan. Material pasir diangkut secara cepat oleh angin
yang relatif tetap.

Gambar 14. Sketsa tranversal dune, parabollic dune, dan longitudinal dune
(Selby. M.J. 1985)

4) Barchan Dune
Barchan terbentuk pada daerah yang terbuka, tak dibatasi
oleh topografi/tumbuh-tumbuhan dimana arah angin selalu
tetap dan penambahan pasir terbatas dan berada di atas
batuan dasar yang padat. Barchan ini berbentuk koma
dengan lereng yang landai pada bagian luar, serta
mempunyai puncak dan sayap.
b. Loess
Daerah yang luas tertutup material-material halus dan lepas
disebut Loess. Beberapa endapan loess yang dijumpai di Cina barat
mempunyai ketebalan sampai beberapa ratus meter. Sedangkan di

54

tempat lain kebanyakan endapan loess tesebut hanya mencapai


beberapa meter saja.
Beberapa endapan loess menutupi daerah yang sangat subur.
Penyelidikan secara mikroskopis memperlihatkan bahwa loess
berkomposisi partikel-partikel angular dengan diameter kurang dari 0,5
mm terdiri dari kuarsa, feldspar, hornblende dan mika. Kebanyakan
butiran-butiran tersebut dalam keadaan segar atau baru terkena
pelapukan sedikit. Kenampakan itu menunjukkan bahwa loess tersebut
merupakan hasil endapan dari debu dan lanau yang diangkut dan
diendapkan oleh angin.

Gambar 15. Loess (http://geohazard009.wordpress.com)


Tabel 8. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Aeolian
Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

Kode
A1
A2

Nama Bentuklahan
Punggungan/Bukit Gumuk Pasir
(Sand Dunes, Barchan Dunes)
Dataran Gurun

55

BAB IX
BENTANG ALAM GLASIAL
IX.1. Pengertian
Bentang alam glasial merupakan bentang alam yang terbentuk karena
pengaruh gletser. Gletser merupakan massa es yang mampu bertahan lama dan
mampu bergerak karena pengaruh gravitasi. Gletser terbentuk karena salju yang
mengalami kompaksi dan rekristalisasi. Gletser dapat berkembang di suatu tempat
setelah melewati beberapa periode tahun dimana es terakumulasi dan tidak
melebur atau hilang. Ada 2 (dua) tipe bentang alam glasial :
1. Alpine Glaciation terbentuk pada daerah pegunungan.
2. Continental Glaciation bila suatu wilayah yang luas tertutup
gletser.
Benua Antartika menyimpan lebih dari 85 % cadangan es dunia, 10 %
berada di Greenland dan 5 % sisanya tersebar di tempat lain di seluruh dunia. Dari
fakta ini dapat disimpulkan bahwa Antartika menyimpan cadangan air dunia
dalam jumlah besar, sehingga bila es di Antartika meleleh maka muka air laut
akan meningkat 60 meter (200 feet) yang dapat mngakibatkan banjir dan daratan
tenggelam.
IX.2. Faktor-faktor Pembentuk Bentang Alam Glasial
Gletser terbentuk di daerah kutub yang tingkat peleburannya pada
musim panas sangat kecil. Gletser terbentuk oleh akumulasi es dengan faktorfaktor pendukung sebagai berikut :
1. Tingginya tingkat presipitasi

57

2. Suhu lingkungan yang sangat rendah


3. Pada musim dingin es terakumulasi dalam jumlah besar
4. Pada musim panas tingkat peleburannya rendah
Tipe-tipe gletser :
1. Valley Glacier
Merupakan gletser pada suatu lembah dan dapat mengalir dari
tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Pada valley glacier
juga terdapat anak-anak sungai. Valley Glacier terdapat pada
alpine glaciation.
2. Ice Sheet
Merupakan massa es yang tidak mengalir pada valley glacier
tetapi menutup dataran yang luas biasanya > 50.000 kilometer
persegi. Ice sheet terdapat pada continental glaciation yaitu pada
Greenland dan Antartika
3. Ice cap
Merupakan ice sheet yang lebih kecil, terdapat pada daerah
pegunungan seperti valley glacier, contohnya di Laut Arktik,
Canada, Rusia dan Siberia. Ice sheet dan ice cap mengalir ke
bawah dan keluar dari pusat atau titik tertinggi.
4. Ice berg
Merupakan Ice sheet yang bergerak kebawah karena pengaruh
gravitasi dan akhirnya hilang atau terbuang dalam jumlah besar,
bila mengenai tubuh air maka balok-balok es tersebut akan pecah
dan mengapung bebas di permukaan air, hal ini disebut ice berg.
IX.3. Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Glasial
1. Bentang Alam Glasial Karena Proses Erosi
a. Truncated Spurs merupakan bagian bawah tepi lembah yang terpotong
triangular faced karena erosi glasial. Makin tebal gletser makin besar

58

erosi pada bagian bawah lantai lembah. Makin besar erosi maka
mengakibatkan pendalaman lembah dan anak sungainya sedikit.
b. Hanging valley
Ketika gletser tidak terlihat lagi, anak sungai yang tersisa menyisakan
hanging valley yang tinggi diatas lembah utama. Meskipun proses
glasial membentuk lembah menjadi lurus dan memperhalus dinding
lembah, es meyebabkan permukaan batuan dibawahnya terpotong
menjadi beberapa bagian, tergantung resistensinya terhadap erosi
glasial.
c. Rock basin lake
Air meresap pada celah batuan, membeku dan memecah batuan
sehingga lapisan batuan kehilangan bagiannya, digantikan es dan
ketika melelh kembali terbentuk rock basin lake.
d. Cirques
Merupakan sisi bagian dalam yang dilingkari glacier valley, berisi
gletser dari glacier valley yang tumpah ke bawah. Terbenruk karena
proses glasial, pelapukan dan erosi dinding lembah.
e. Bergschrund
Merupakan batuan yang telah pecah, berguling-guling dan jatuh ke
valley glacier lalu jatuh ke crevasse.
f. Horn
Merupakan puncak yang tajam karena cirques yang terpotong atau ada
bagian yang hilang karena erosi ke arah hulu pada beberapa sisinya.
g. Aretes
Merupakan sisi dinding lembah yang mengalami pemotongan dan
pendalaman sehingga bagian tepinya menjadi tajam, karena proses
frost wedging.
h. Crevasses
Merupakan celah yang lebar (terbuka). Bila celah tertutup (sempit)
disebut closed crevasses.
2. Bentang Alam Glasial Karena Proses Pengendapan Gletser
a. Till

59

Merupakan batuan yang hancur dari dinding lembah yang terendapkan


mengisi valley glacier, berasal dari ice sheet membawa fragmen
batuan yang terkikis (fragmennya lancip) karena bertabrakan dan
saling bergesek dengan batuan lain. Berukuran clay-boulder, unsorted.
b. Erratic
Merupakan es berukuran boulder yang tertransport oleh es yang
berasal dari lapisan batuan yang jauh letaknya.
c. Moraines
Merupakan till yang terbawa jauh glacier dan tertinggal atau
mengendap setelah glacier menyusut. Material-material lepas yang
jatuh dari lereng yang terjal sepanjang valley glacier terakumulasi
pada sepanjang sisi es.
d. Drumlin
Merupakan ground moraines yang terbentuk kembali seperti alur-alur
sungai lembah till, bentuknya seperti sendok terbalik. Porosnya sejajar
dengan arah gerakan es. Dihasilkan oleh ice sheet yang tertransport
jauh dan terbentuk kembali menjadi endapan till setelah melalui lereng
yang dangkal.

Gambar 16. Danau Glasial Akibat Dari Mencairnya Es


(http://anakgeograf.blogspot.com)

Tabel 9. Satuan Bentuklahan Bentang Alam Glasial


Berdasarkan Klasifikasi Van Zuidam

60

Kode
G1
G2
G3
G4
G5

Nama Bentuklahan
Perbukitan/Dataran Morena
Dataran Teras Glasial
Lembah Cirques
Lembah Aliran Glasial (Termasuk Lembah
Gantung)
Panggungan Arete

BAB X
PRAKTIKUM LAPANGAN GEOMORFOLOGI
X.1.

Lokasi Pengamatan 1

1.A.

Waktu, Lokasi dan Kesampaian Daerah


Lokasi pengamatan 1 dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 25 Mei

2013, pukul 10.08 WIB. Lokasi pengamatan 1 berada di lereng bukit yang secara
administratif berada pada Dusun Kasihan, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul,
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun lokasi pengamatan 1 dapat
ditempuh dengan sepeda motor sekitar kurang lebih 2 jam dari Kampus 2 Institut
Sains dan Teknologi AKPRIND ke arah tenggara.
1.B.

Deskripsi Lokasi Pengamatan 1

Sesar

62

Gambar 17. Sesar pada Bentang Alam di Lokasi Pengamatan 1


(Penulis, 2013)

Hari/Tanggal

: Sabtu / 25 Mei 2013

Cuaca

: Cerah

Vegetasi

: Sedang - lebat (dominan jenis pohon jati)

Morfologi

: Kaki bukit

Litologi

: Batuan gamping

Slope

: 380

Strike / Dip

: N 520 E / 140

Deskripsi Batuan Sedimen Nonklastik

Gambar 18. Batuan Gamping Karbonat pada Lokasi Pengamatan 1


(Penulis, 2013)

Jenis Batuan

: Batuan Sedimen Nonklastik

Warna Segar

: Putih kecoklatan

Warna Lapuk

: Coklat muda

Struktur

: Masif

Tekstur

: Kristalin

Komposisi Mineral

: Karbonat

63

Petrogenesa

: merupakan batuan hasil perombakan batuan lain

yang terendapkan secara insitu dan belum mengalami perpindahan atau


tertransport.
Nama Batuan
1.C.

: Batuan gamping karbonat

Satuan Bentuk Lahan


Lokasi pengamatan 1 merupakan bentang alam struktural dengan

satuan bentuklahannya yaitu lereng perbukitan


1.D.

Lampiran (Data Yang Asli Dari Lapangan)

64

X.2.

Lokasi Pengamatan 2

2.A.

Waktu, Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Lokasi pengamatan 2 dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 25 Mei

2013, pukul 13.20 WIB. Lokasi pengamatan 2 berada di pinggiran sungai Opak
yang secara administratif berada pada Dusun Gadingkedaton, Kecamatan Kretek,
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun lokasi
pengamatan 2 dapat ditempuh dengan sepeda motor sekitar kurang lebih 15 menit
dari lokasi pengamatan 1 ke arah barat.
2.B.

Deskripsi Lokasi Pengamatan 2

Point Bar

Gambar 19. Point Bar pada Bentang Alam di Lokasi Pengamatan 2


(Penulis, 2013)

Hari/Tanggal

: Sabtu / 25 Mei 2013

Cuaca

: Cerah

65

Vegetasi

: Jarang

Morfologi

: Sungai, terdapat Point Bar, dengan endapannya

berupa

material lepas. Ukuran butir : pasir bongkah. Stadia sungai : dewasa menjelang
tua. Penampang sungai berbentuk huruf U.
2.C.

Satuan Bentuk Lahan


Lokasi pengamatan 2 merupakan bentang alam fluvial dengan satuan

bentuklahannya yaitu poin bar dan endapan alluvial.


2.D.

Lampiran (Data Yang Asli Dari Lapangan)

66

X.3.

Lokasi Pengamatan 3

3.A.

Waktu, Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Lokasi pengamatan 3 dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 25 Mei

2013, pukul 14.19 WIB. Lokasi pengamatan 3 berada di kaki bukit yang secara
administratif berada pada Dusun Canaklag, Kecamatan Gunung Kidul, Kabupaten
Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun lokasi pengamatan 3 dapat
ditempuh dengan sepeda motor sekitar kurang lebih 30 menit dari lokasi
pengamatan 2 ke arah tenggara.
3.B.

Deskripsi Lokasi Pengamatan

Sketsa meghadap arah selatan

Gambar 20. Sketsa Lokasi Pengamatan 3 (Penulis, 2013)

67

Hari/Tanggal

: Sabtu / 25 Mei 2013

Cuaca

: Cerah

Vegetasi

: Jarang

Morfologi

: Perbukitan, adanya hasil perombakan batuan gamping,

adanya penelanjangan, adanya pelapukan yang dominan, dan adanya peran


manusia (membantu merusak) namun kecil pengaruhnya.
Litologi

: Batuan gamping

Slope

: 350

3.C.

Satuan Bentuk Lahan


Lokasi pengamatan 3 merupakan bentang alam denudasional dengan

satuan bentuklahannya yaitu perbukitan.


3.D.

Lampiran (Data Yang Asli Dari Lapangan)

68

X.4.

Lokasi Pengamatan 4

4.A.

Waktu, Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Lokasi pengamatan 4 dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 25 Mei

2013, pukul 15.50 WIB. Lokasi pengamatan 4 berada di kaki bukit yang secara
administratif berada pada Dusun Baran, Kecamatan Gunung Kidul, Kabupaten
Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun lokasi pengamatan 3 dapat
ditempuh dengan sepeda motor sekitar kurang lebih 30 menit dari lokasi
pengamatan 3 ke arah timur laut.
4.B.

Deskripsi Lokasi Pengamatan 4

Cekungan
Depresi

Gambar 21. Cekungan Depresi pada Bentang Alam di Lokasi Pengamatan 4


(Penulis, 2013)

Hari/Tanggal

: Sabtu / 25 Mei 2013

Cuaca

: Berawan

69

Vegetasi

: Lebat (dominan jenis pohon jati, pohon mahoni)

Morfologi

: Perbukitan, Doline

Litologi

: Batuan gamping (kalsit)

4.C.

Satuan Bentuk Lahan


Lokasi pengamatan 4 merupakan bentang alam karst dengan satuan

bentuklahannya yaitu perbukitan dan doline.


4.D.

Lampiran (Data Yang Asli Dari Lapangan)

70

X.5.

Lokasi Pengamatan 5

5.A.

Waktu, Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Lokasi pengamatan 4 dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 25 Mei

2013, pukul 17.03 WIB. Lokasi pengamatan 5 berada di gumuk pasir yang secara
administratif berada pada Daerah Parangtritis, Kecamatan Gunung Kidul,
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun lokasi
pengamatan 5 dapat ditempuh dengan sepeda motor sekitar kurang lebih 30 menit
dari lokasi pengamatan 4 ke arah barat daya.
5.B.

Deskripsi Lokasi Pengamatan 5

Bukit Pasir

Gumuk Pasir

Gambar 22. Bukit Pasir & gumuk Pasir pada Bentang Alam di Lokasi Pengamatan 1
(Penulis, 2013)

Hari/Tanggal

: Sabtu / 25 Mei 2013

Cuaca

: Berawan

71

Vegetasi

: Jarang (tanaman pasir)

Morfologi

: Barchan dunes, material berasal dari material letusan

gunung berapi, terhanyut, lalu dilepas atau dibuang di muara sungai Opak yaitu
pantai Depok. Kemudian dibawa oleh agen atau media angin pantai lalu terhalang
vegatasi sehingga terbentuk gumuk-gumuk pasir.
5.C.

Satuan Bentuk Lahan


Lokasi pengamatan 5 merupakan bentang alam aeolian dengan satuan

bentuklahannya yaitu gumuk pasir dan bukit pasir (barchan dunes).


5.D.

Lampiran (Data Yang Asli Dari Lapangan)

BAB XI
KESIMPULAN
Geomorfologi adalah ilmu yang mendeskripsikan, mendefinisikan,
serta menjabarkan bentuk lahan dan proses-proses yang mengakibatkan
terbentuknya lahan tersebut, serta mencari hubungan antara proses-proses dalam
susunan keruangan.
Proses geomorfologi terbagi atas 2 (dua) yaitu : proes eksogen dan
proses endogen. Sifat-sifat dari proses geomorfologi bersifat membangun
(konstruktif) dan bersifat merusak (destruktif). Berdasarkan proses terjadinya,
terdapat 8 bentang alam, yaitu :
1. Bentang alam Denudasional, yaitu bentang alam yang terjadi akibat degradasi,
pelapukan, dan pelepasan material, pelapukan material permukaan bumi yang
disebabkan oleh berbagai proses erosi dan gerakan tanah.

69

2. Bentang alam Struktural, yaitu bentang alam yang pembentukannya dikontrol


oleh struktur geologi daerah yang bersangkutan.
3. Bentang alam Fluvial, yaitu bentang alam erat hubungannya dengan proses
fluviatil.
4. Bentang alam Vulkanik, yaitu bentang alam yang proses pembentukannya
dikontrol oleh proses vulkanisme, yaitu proses keluarnya magma dari dalam
bumi.
5. Bentang alam Marine, yaitu bentang alam yang terdapat di sepanjang pantai.
6. Bentang alam Karst, yaitu bentang alam yang terbentuk pada daerah dengan
litologi berupa batuan yang mudah larut (batuan gamping).
7. Bentang alam Aeolian, yaitu bentang alam yang terbentuk karena aktivitas
angin.
8. Bentang alam Glasial, yaitu bentang alam yang terbentuk karena pengaruh
gletser.

70

DAFTAR PUSTAKA
file:///d:/tugas%20kuliah/bentuk%20lahan%20asal%20struktural.html
(diakses pada tanggal 16 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
file:///d:/tugas%20kuliah/jenis%20bentuklahan%20%28landform%29%20_%20
agnazgeograph.html (diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
http://11pluk.blogspot.com (diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
http://anakgeograf.blogspot.com/2011/12/perairan-darat.html
(diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
http://aryadhani.blogspot.com
(diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
http://belajargeografiyuk.blogspot.com/2010/03/bentang-alam-struktural-iv.html
(diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
http://geohazard009.wordpress.com
(diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 14.25 WIB)
http://fadi11fdf.blogspot.com
(diakses pada tanggal 18 Juni 2013, pukul 19.15 WIB)