Anda di halaman 1dari 110

PENGARUH VARIASI DEBIT TERHADAP EFISIENSI

PENURUNAN KONSENTRASI BESI DAN MANGAN PADA


AIR SUMUR GALI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK
SARINGAN PASIR AKTIF

SKRIPSI

ANNISA NURUL FAHMI

PROGRAM STUDI S-1 ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
JULI 2012

PENGARUH VARIASI DEBIT TERHADAP EFISIENSI


PENURUNAN KONSENTRASI BESI DAN MANGAN PADA AIR
SUMUR GALI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SARINGAN
PASIR AKTIF

SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Teknik Bidang Ilmu dan Teknologi Lingkungan pada
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga

Oleh:
ANNISA NURUL FAHMI
NIM 080810258
Disetujui oleh :
Pembimbing I,

Pembimbing II,

Drs. Trisnadi Widyaleksono C.P., M.Si.


NIP 19631215 198903 1 002

Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T.


NIP 1983100 200812 2 004

Mengetahui,
Ketua Departemen Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga,

Ketua Program Studi S-1 ITL,

Dr. Alfiah Hayati


NIP 19640418 198810 2 001

Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA


NIP 19620803 198710 1 001

ii

LEMBAR PENGESAHAN NASKAH SKRIPSI

Judul

Penyusun
Nomor Induk
Program Studi
Pembimbing I
Pembimbing II

: Pengaruh Variasi Debit Terhadap Efisiensi Penurunan


Konsentrasi Besi dan Mangan pada Air Sumur Gali dengan
Menggunakan Teknik Saringan Pasir Aktif
: Annisa Nurul Fahmi
: 080810258
: Ilmu dan Teknologi Lingkungan
: Drs. Trisnadi Widyaleksono C.P., M.Si.
: Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T.

Disetujui oleh :

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Drs. Trisnadi Widyaleksono C.P., M.Si.


NIP 19631215 198903 1 002

Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T.


NIP 1983100 200812 2 004

Mengetahui,
Ketua Departemen Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga,

Ketua Program Studi S-1 ITL,

Dr. Alfiah Hayati


NIP 19640418 198810 2 001

Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA


NIP 19620803 198710 1 001

iii

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI

Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di perpustakaan dalam


lingkungan Universitas Airlangga untuk dipakai sebagai referensi kepustakaan,
tetapi pengutipan harus seizin penyusun dan atau harus menyebutkan sumbernya
sesuai kebiasaan ilmiah dan kelaziman mensitir atau menyalin pendapat penulis
lainnya. Dokumen skripsi ini merupakan hak milik Universitas Airlangga.

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Taala karena


rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Pengaruh Debit Terhadap Efisiensi Penurunan Konsentrasi Besi dan
Mangan pada Air Sumur Gali dengan Menggunakan Teknik Saringan Pasir
Aktif.
Skripsi ini terdiri atas beberapa bab yaitu, bab pendahuluan, tinjauan
pustaka, metode penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, dan
daftar pustaka. Setiap isi dari bab tersebut terangkai secara komperehensif untuk
membahas pengaruh debit terhadap penurunan konsentrasi Fe dan Mn pada
saringan pasir aktif.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknik (S.T.) Bidang Ilmu dan Teknologi Lingkungan. Skripsi ini disusun sesuai
dengan ketentuan teknis penyusunan yang ada di Program Studi Ilmu dan
Teknologi Lingkungan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Airlangga. Semoga Skripsi ini bermanfaat sesuai dengan tujuan dan
manfaatnya.

Surabaya, Juli 2012


Penyusun,

Annisa Nurul Fahmi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur atas rahmat Allah Subhanahu Wa Taala, akhirnya penulis


dapat menyelesaikan naskah skripsi ini dengan baik. Naskah skripsi ini tidak akan
selesai tanpa bimbingan, bantuan, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.
2.

Ibu Dr. Alfiah Hayati selaku Ketua Departemen Biologi FST Unair
Bapak Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA selaku Ketua Program Studi Ilmu
dan Teknologi Lingkungan
3. Bapak Drs. Trisnadi Widyaleksono C.P., M.Si. selaku dosen pembimbing I
yang telah banyak membantu memberi arahan, koreksi, dan saran
4. Ibu Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing II yang
telah banyak membantu memberikan arahan, koreksi, saran, dan semangat
5. Ibu Nita Citrasari, S.Si., M.T. selaku dosen penguji III yang telah banyak
memberikan koreksi dan saran
6. Ibu Tri Nurhariyati, S.Si., M.Kes selaku dosen penguji IV yang telah banyak
memberi koreksi dan saran
7. Seluruh staff dan karyawan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga
8. Keluarga tercinta, ibuku, bapakku, adikku serta seluruh saudaraku yang tidak
henti-hentinya memberikan dukungan baik spiritual maupun material
9. Rekan-rekan seperjuangan di ITL-01 atas doa, dukungan dan spiritnya
10. Anika Nabila, Dwi Retno, Risvy Valentine, Widhianti Manika, Whidiastri
Hardini, dan Zulva An Nauva yang selalu ada dalam suka dan duka
11. Moch. Arif Rahman dan keluarga atas doa, dukungan dan perhatiannya
12. semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah
membantu kami selama ini.

vi

Fahmi, A. N., 2012. Pengaruh Variasi Debit Terhadap Efisiensi Penurunan


Konsentrasi Besi dan Mangan pada Air Sumur Gali dengan Menggunakan
Teknik Saringan Pasir Aktif. Skripsi ini dibawah bimbingan Drs. Trisnadi
Widyaleksono C.P., M.Si. dan Nur Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. Program Studi
S-1 Ilmu dan Teknologi Lingkungan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan
Teknologi, Universitas Airlangga.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi debit terhadap
konsentrasi besi dan mangan pada air sumur dengan saringan pasir aktif.
Penelitian ini menggunakan variabel bebas berupa variasi debit sedangkan
variabel terikatnya adalah konsentrasi Fe dan Mn. Tiga macam variasi debit
digunakan dalam penelitian ini yaitu, 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit.
Ketinggian media pasir aktif berukuran sama yaitu, 110 cm dan pengaktifan
media pasir menggunakan KMnO4. Analisis data menggunakan analisis deskriptif
dengan Indeks Canberra dilanjutkan dengan analisis group average clustering
method. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin kecil debit akan
menunjukkan penurunan konsentrasi Fe dan Mn pada saringan pasir aktif.
Persentase penurunan konsentrasi Fe pada debit 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60
ml/menit secara berturut-turut adalah 53,98%; 53,48%; 45,39%. Sedangkan
penurunan konsentrasi Mn pada debit 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit
secara berturut-turut adalah 97,29%; 96,91%; 88,96%. Berdasarkan hasil analisis
deskriptif diketahui bahwa debit 15 ml/menit memberikan efek penurunan paling
besar dalam penurunan konsentrasi Mn.
Kata kunci: debit, penurunan konsentrasi Fe dan Mn, saringan pasir aktif.

vii

Fahmi, A. N., 2012. The influenced of flowrate variance in removal of Iron and
manganese from groundwater using activated sand filtration technique. This
script was guidance by Drs. Trisnadi Widyaleksono C.P., M.Si. and Nur
Indradewi Oktavitri, S.T., M.T. Environmental Science and Technology,
Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University.

ABSTRACT
The aims of this research were to determine the influenced of flowrate variance in
removal of iron (Fe) and manganese (Mn) from groundwater used activated sand
filtration technique. This research used independent variable was variance of
flowrate and dependent variable were removal of Fe and Mn. The three variance
of flowrate which were used in this research were 15 ml/minute, 30 ml/minute,
and 60 ml/minute. The thickness of activated sand was 110 cm for all the three of
flowrate variance and KMnO4 was used for activating the sand media. To analyze
data used desciptive analysis with Canberra Matrix and Group Average
Clustering Methods. The result of this research was the decreasing of flowrate
would eliminated Fe and Mn. Efficiency removal of Fe with the variance of
flowrate 15 ml/minute, 30 ml/minute, and 60 ml/minute respectively were 53.98%;
53.48%; 45.39%. Efficiency removal of Mn with the variance of flowrate 15
ml/minute, 30 ml/minute, and 60 ml/minute respectively were 97.29%; 96.91%;
88.96%. Based on the result of descriptive analysis was flowrate 15 ml/minute
showed the best effect to remove Mn.
Key word: activated sand filtration, flowrate, removal of Fe and Mn

viii

DAFTAR ISI

JUDUL ...
LEMBAR PERNYATAAN ..........................................................................
LEMBAR PENGESAHAN ...
LEMBAR PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI .....................................
KATA PENGANTAR ...
UCAPAN TERIMA KASIH .........................................................................
ABSTRAK ....................................................................................................
ABSTRACT ..................................................................................................
DAFTAR ISI ..
DAFTAR GAMBAR .........
DAFTAR TABEL ..
DAFTAR LAMPIRAN ..
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah ..
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan ..................................................................................
1.3.2 Manfaat ................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air Tanah
2.2 Logam Berat
2.2.1 Tinjauan umum tentang logam berat ....................................
2.2.2 Besi
2.2.2.1 Besi dalam air ....................................................................
2.2.2.2 Dampak besi terhadap kesehatan ......................................
2.2.3 Mangan
2.2.3.1 Mangan dalam air ......
2.2.3.2 Dampak mangan terhadap kesehatan
2.3 Metode Pengolahan Besi dan Mangan ...
2.4 Saringan Pasir Aktif ...
2.5 Mekanisme Filtrasi .
2.6 Aerasi ..
2.7 Debit Aliran
2.8 Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) .
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1 Tempat penelitian .
3.1.2 Waktu penelitian ..
3.2 Bahan dan Alat Penelitian
3.2.1 Alat penelitian ..
3.2.2 Bahan penelitian ...
3.3 Cara Kerja ...

ix

i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
ix
xi
xii
xiii
1
3
4
4
5
6
7
9
10
10
11
14
15
18
19
21

25
25
26
27
27

3.3.1 Ide skripsi .............


3.3.2 Studi literatur ........................
3.3.3 Penentuan variabel penelitian .......................
3.3.4 Persiapan alat dan bahan
3.3.4.1 Pembuatan reaktor saringan pasir aktif .............................
3.3.4.2 Pembuatan media saringan pasir aktif ...........................
3.3.5 Penentuan lokasi sampling dan penelitian pendahuluan ......
3.3.6 Pelaksanaan penelitian
3.3.6.1 Mekanisme proses kontinyu ......................................
3.3.6.2 Analisis parameter Fe dan Mn ...........................
3.3.7 Analisis data dan pembahasan ..............
3.3.8 Kesimpulan dan saran ..............
3.4 Cara Analisis Data dan Informasi ...
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Proses Kontinyu ...............................................................
4.2 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe Pada Saringan Pasir Aktif
4.2.1 Analisis awal konsentrasi Fe air sumur ................................
4.2.2 Analisis konsentrasi Fe pada saringan pasir aktif ................
4.2.3 Analisis efisiensi penurunan konsentrasi Fe pada saringan
pasir aktif .............................................................................
4.3 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn Pada Saringan Pasir Aktif
4.3.1 Analisis awal konsentrasi Mn air sumur ..............................
4.3.2 Analisis konsentrasi Mn pada saringan pasir aktif ...............
4.3.3 Analisis efisiensi penurunan konsentrasi Mn pada saringan
pasir aktif .............................................................................
4.4 Analisis Data
4.4.1 Analisis data parameter Fe ...................................................
4.4.2 Analisis data parameter Mn ..................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .....................................................................................
5.2 Saran ...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............
LAMPIRAN ...................................................................................................

29
29
29
30
32
33
34
36
39
40
40
42
45
47
51
61
62
65
74
76
79
80
81
84

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

2.1
2.2
2.3
2.4
3.1
3.2
3.3
3.4
3.5
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6
4.7

Bentuk Besi Dalam Air ...................................................


Skema Umum Komponen pada alat SSA
Lampu Katoda Berongga ....
Photo Multiplier Tube .
Kerangka Penelitian .
Reaktor Uji ..
Skema Reaktor Saringan Pasir Aktif ...
Kurva Kalibrasi Fe ..........................................................
Kurva Kalibrasi Mn .........................................................
Reaktor Saringan Pasir Aktif dan Media Pasir Aktif ......
Kondisi Air Sumur ..........................................................
Hasil Pengukuran Konsentrasi Fe ...................................
Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe ................................
Hasil Pengukuran Konsentrasi Mn ..................................
Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn ..............................
Dendogram Tingkat Ketidaksamaan Variasi Debit pada
Fe .....................................................................................
Dendogram Tingkat Kesamaan Variasi Debit pada
Mn....................................................................................

8
21
23
24
28
30
31
37
39
43
45
49
53
63
67

4.8

xi

75
77

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

3.1
3.2
4.1
4.2

Nilai Absorbansi Fe ..........................................................


Nilai Absorbansi Mn ........................................................
Hasil Pengukuran Konsentrasi Fe pada Air Sumur ..........
Hasil Pengukuran Konsentrasi Fe Sebelum dan Sesudah
Melewati Saringan Pasir Aktif .........................................
Hasil Perhitungan Persentase Efisiensi Penurunan
Konsentrasi Fe Pada Saringan Pasir Aktif ......................
Perbandingan Hasil Penelitian dengan Penelitian
Terdahulu ..........................................................................
Hasil Pengukuran Konsentrasi Mn pada Air Sumur ........
Hasil Pengukuran Konsentrasi Mn Sebelum dan Sesudah
Melewati Saringan Pasir Aktif .........................................
Hasil Perhitungan Persentase Efisiensi Penurunan
Konsentrasi Mn pada Saringan Pasir Aktif ......................
Perbandingan Hasil Penelitian dengan Penelitian
Terdahulu ..........................................................................
Hasil Analisis Fe dengan Indeks Canberra ......................
Hasil Analisis Mn dengan Indeks Canberra .....................

36
38
46

4.3
4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9
4.10

xii

47
51
58
61
62
66
71
74
76

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

1
2

Jurnal Ilmiah
Hasil Pengukuran pH Sebelum dan Sesudah Melewati Saringan
Pasir Aktif
Hasil Pengukuran Suhu Sebelum dan Sesudah Melewati Saringan
Pasir Aktif
Perhitungan Indeks Canberra
Gambar Alat
Gambar Persiapan Media

3
4
5
6

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang
banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air
harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta
makhluk hidup lain. Pemanfaatan ini untuk berbagai kepentingan harus dilakukan
secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi mendatang
(Effendi, 2003).
Dalam upaya pemanfaatan kebutuhan air, salah satu sumber air yang
digunakan adalah air tanah dengan menggunakan sumur gali. Hal ini disebabkan
sumur gali tidak membutuhkan biaya yang besar dalam pembuatan dan
penggunaannya. Air tanah (groundwater) merupakan air yang berada di bawah
permukaan tanah. Karakteristik utama air tanah adalah pergerakan yang sangat
lambat dan waktu tinggal (residence time) yang sangat lama sehingga air tanah
akan sulit pulih kembali jika mengalami pencemaran.
Permasalahan kualitas air tanah yang digunakan masyarakat adalah kurang
memenuhi syarat sebagai air minum. Air tanah biasanya memiliki kandungan besi
(Fe) dan mangan (Mn) yang relatif tinggi. Kandungan Fe dan Mn menyebabkan
warna air menjadi kuning pada dinding bak serta bercak-bercak kuning pada
pakaian (Pratama, 2010).

Besi (Fe) dan mangan (Mn) merupakan contoh logam esensial. Logam
esensial adalah logam yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat
dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat
menimbulkan efek racun (Khasanah, 2009). Besi dibutuhkan oleh tubuh salah
satunya untuk pembentukan hemoglobin sedangkan mangan dibutuhkan tubuh
untuk membantu menghasilkan enzim untuk metabolisme tubuh (Joko, 2010).
Dalam jumlah yang besar, besi dan mangan dapat mengakibatkan rusaknya
dinding usus serta dapat menimbulkan gejala susunan syaraf (Slamet, 2007 dalam
Yuanita, 2009).
Terkait permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan upaya penyediaan
sistem alat pengolah skala rumah tangga yang dapat mereduksi konsentrasi Fe dan
Mn pada air sumur sehingga memenuhi standar yang berlaku. Menurut Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan
kualitas air minum, konsentrasi Fe maksimum untuk air minum adalah 0,3 mg/lt
dan konsentrasi Mn maksimum adalah 0,4 mg/lt (Anonim, 2010). Penyediaan
sistem alat pengolah ini perlu disesuaikan dengan kondisi sumber air baku,
kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan SDM setempat (Sari dan Nieke, 2010).
Salah satu sistem alat pengolah yang dapat digunakan adalah dengan
menggunakan aerator kemudian diteruskan dengan saringan pasir aktif. Sistem ini
memiliki desain yang sederhana dan tidak memerlukan investasi yang mahal
dalam pembuatannya sehingga cocok untuk diaplikasikan dalam skala rumah
tangga.

Hasil penelitian Rakhman (2001) diketahui bahwa kombinasi yang paling


efektif untuk menurunkan konsentrasi Fe adalah dengan proses aerasi dan
saringan pasir aktif dengan menggunakan variasi ketinggian saringan.
Berdasarkan kombinasi tersebut yang dapat menurunkan Fe paling efektif, yaitu
pada ketinggian 110 cm, penurunan mencapai 98,8% (dengan didahului proses
aerasi). Sedangkan pada penelitian ini, digunakan alat pengolahan air minum
skala rumah tangga dengan menggunakan kombinasi proses aerasi dan saringan
pasir aktif (pasir silika yang telah diaktivasi dengan KMnO4) dengan variasi debit,
yang bertujuan untuk mengetahui debit yang paling efektif dalam menurunkan
konsentrasi Fe dan Mn.
Proses filtrasi yang terjadi pada saringan pasir ditentukan antara lain oleh
debit aliran, waktu tinggal, kecepatan aliran, ukuran bak, dan karakteristik air
baku. Sering kali debit yang terlalu besar menyebabkan tidak berfungsinya filter
secara efisien. Apabila aliran air yang melewati ruang pori terlalu cepat di antara
butiran media akan menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan
butiran media dengan air yang akan difiltrasi, sehingga proses filtrasi tidak dapat
terjadi secara sempurna (Darmawanti, 2005).
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat agar
dapat mengetahui cara pengolahan air, khususnya pengolahan air untuk
menurunkan konsentrasi Fe dan Mn dengan menggunakan alat skala rumah
tangga, berupa filter yang bahan-bahannya dapat diperoleh di daerah sekitar.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Berapakah efisiensi penurunan konsentrasi Fe dan Mn dengan saringan pasir
aktif berdasarkan variasi debit?
2. Apakah terdapat perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dan Mn
berdasarkan variasi debit?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.3.1

Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui efisiensi penurunan konsentrasi Fe dan Mn dengan saringan


pasir aktif berdasarkan variasi debit.
2. Untuk mengetahui perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dan Mn
berdasarkan variasi debit.
1.3.2

Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Dapat menambah perkembangan pengetahuan teknologi pengolahan air sumur


sederhana (skala rumah tangga).
2. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai aplikasi kinerja saringan pasir
aktif dalam proses pengolahan air sumur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Tanah


Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah.
Pergerakan air tanah sangat lambat dan dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas
dari lapisan tanah, dan pengisian kembali air. Karakteristik utama yang
membedakan air tanah dari air permukaan adalah pergerakan yang sangat lambat
dan waktu tinggal yang sangat lama, yaitu dapat mencapai puluhan bahkan
ratusan tahun. Oleh karena pergerakan yang sangat lambat dan waktu tinggal yang
lama tersebut, air tanah akan sulit untuk pulih kembali jika mengalami
pencemaran. Pada dasarnya, air tanah dapat berasal dari air hujan, baik melalui
proses filtrasi secara langsung maupun secara tak langsung dari air sungai, danau,
rawa, dan genangan air lainnya (Effendi, 2003).
Secara umum, air tanah terbagi menjadi (Sunarti, 2010):
a. Air tanah dangkal
Air tanah dangkal terjadi karena proses peresapan air dari permukaan
tanah. Lumpur akan tertahan demikian pula dengan sebagian bakteri sehingga air
tanah akan jernih. Air tanah dangkal akan terdapat pada kedalaman 15 meter. Air
tanah ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih melalui sumur-sumur
dangkal. Dari segi kualitas cukup baik sedangkan kuantitasnya kurang cukup dan
tergantung pada musim.

b. Air tanah dalam


Air tanah terdapat pada lapisan rapat air pertama dengan kedalaman 100300 meter. Ditinjau dari segi kualitas pada umumnya lebih baik dari air tanah
dangkal. Sedangkan kuantitasnya mencukupi tergantung pada keadaan tanah dan
sedikit dipengaruhi oleh perubahan musim.
c. Mata air
Mata air adalah air yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah.
Keluarnya air tersebut secara murni dan biasanya terdapat di lereng-lereng gunung
atau sepanjang tepi sungai. Hampir tidak terpengaruh oleh musim (Sutrisno, 2006
dalam Sunarti, 2010).

2.2 Logam Berat


2.2.1 Tinjauan umum tentang logam berat
Logam berat adalah unsur yang mempunyai densitas lebih dari 5 gr/cm3
(Fardiaz, 2001 dalam Sudarmadji dan Yudhastuti, 2005). Logam berat dibagi ke
dalam 2 jenis (Widowati dkk., 2008), yaitu:
1. Logam berat esensial, yakni logam yang dalam jumlah tertentu yang sangat
dibutuhkan oleh organisme. Dalam jumlah berlebihan, logam tersebut dapat
menimbulkan efek toksik. Contohnya adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn, dan lain
sebagainya.
2. Logam berat tidak esensial, yakni logam yang keberadaannya dalam tubuh
masih belum diketahui manfaatnya, bahkan bersifat toksik, contohnya adalah
Pb, Hg, Cr, dan Cd.

2.2.2 Besi (Fe)


2.2.2.1 Besi dalam air
Pada tabel periodik unsur kimia, Besi memiliki lambang Fe dengan nomor
atom 26 dan termasuk dalam golongan VIIIB dan periode 4. Keberadaan besi
dalam air bersamaan dengan mineral mangan, tetapi besi didapatkan lebih sering
daripada mangan, berdasarkan data survei air tanah yang pernah dilakukan di
beberapa kota Illinois (USA) tahun 1963 pernah didapatkan bahwa konsentrasi
besi kira-kira 10 kali konsentrasi mangan (Joko, 2010).
Pada dasarnya besi dalam air dalam bentuk Ferro (Fe2+) atau Ferri (Fe3+),
hal ini tergantung dari kondisi pH dan oksigen terlarut dalam air. Pada pH netral
dan adanya oksigen terlarut yang cukup, maka ion ferro yang terlarut dapat
teroksidasi menjadi ion ferri dan selanjutnya membentuk endapan. Ferrihidroksida
yang sukar larut, berupa hablur (presipitat) yang biasanya berwarna kuning
kecoklatan, oleh karena pada kondisi asam dan aerobik bentuk ferrolah yang larut
dalam air. Pada pH diatas 12, ferrihidroksida dapat larut kembali membentuk
Fe(OH)4.
Pada proses oksidasi ion ferro menjadi ion ferri terjadi pelepasan elektron.
Sebaliknya pada reduksi ferri menjadi ferro terjadi penangkapan elektron. Proses
oksidasi besi tidak melibatkan oksigen dan hidrogen (Eckenfelder, 1989 dalam
Effendi, 2003). Ion ferri pada pH sekitar 7,5-7,7 mengalami oksidasi dan
berikatan dengan hidroksida membentuk Fe(OH)3 yang bersifat tidak larut dan
mengendap (presipitasi) di dasar perairan, membentuk warna kemerahan pada
substrat dasar. Oleh karena itu, besi hanya ditemukan pada perairan yang berada

dalam kondisi anaerob (anoksik) dan suasana asam (Cole, 1988 dalam Effendi,
2003). Bentuk besi di dalam air digambarkan pada Gambar 2.1.

Besi Total

Besi III (Ferri)

Besi II (Ferro)

Bentuk
kompleks

Bebas

Endapan:
1. FeS2
2. FeCO3
3. Fe(OH)2

Terlarut:
1. Fe2+
2. Fe(OH)+

Kompleks
mineral :
1. Silikat
2. Fofat

Kompleks
organik :
1. Asam humus
2. Asam fulfik

Bebas

Kompleks
mineral :
1. Silikat
2. Fofat

Besi terlarut/terdispersi halus


(lolos saringan)
Besi endapan
(tertahan pada saringan)
Gambar 2.1 Bentuk Besi Dalam Air
Sumber: Joko (2010)
Pada air permukaan sedikit ditemui kadar Fe lebih besar dari 1 mg/l, tetapi
di dalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi. Konsentrasi Fe yang tinggi ini
dapat dirasakan apabila air dikonsumsi dan dapat menodai kain dan perkakas
dapur (Alaerts dan Santika, 1984).
Pada air yang tidak mengandung oksigen, seperti seringkali air tanah, besi
berada sebagai Fe2+ yang cukup dapat terlarut, sedangkan pada air sungai yang

mengalir dan terjadi aerasi, Fe2+ teroksidasi menjadi Fe 3+. Pada pH 6-8 Fe3+ sulit
larut, bahkan dapat menjadi ferihidroksida Fe(OH)3, atau salah satu jenis oksida
yang merupakan zat padat dan dapat mengendap (Alaerts dan Santika, 1984).
Prinsip penurunan kadar besi adalah proses oksidasi dan pengendapan.
Penurunan kadar besi dalam air pada hakikatnya mengubah dari bentuk yang larut
dalam air menjadi yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, hasil dari reaksi
oksidasi ini selalu menghasilkan endapan. Mengingat hal ini, dalam penerapannya
biasanya disertai penyaringan. Proses penyaringan ini dilakukan apabila kadar
besi lebih rendah dari 5 mg/l (Joko, 2010).
2.2.2.2 Dampak besi (Fe) terhadap kesehatan
Sebenarnya zat Fe dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan hemoglobin.
Perkiraan minimum kebutuhan harian besi tergantung pada usia, jenis kelamin,
status fisik, dan metabolisme tubuh. Tetapi zat Fe yang melebihi dosis yang
diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan
tubuh manusia tidak dapat mengekskresi Fe sehingga bagi mereka yang sering
mendapatkan transfusi darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe.
Air minum yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila
dikonsumsi. Selain itu, dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kadar Fe
yang lebih dari 1 mg/l akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit.
Apabila kelarutan besi dalam air melebihi 10 mg/l akan menyebabkan air berbau
seperti telur busuk (Joko, 2010).

10

2.2.3 Mangan
2.2.3.1 Mangan dalam air
Pada tabel periodik unsur kimia, Mangan memiliki lambang Mn dengan
nomor atom 25 dan termasuk dalam golongan VIIB dan periode 4. Mangan (Mn)
adalah kation logam yang memiliki karakteristik kimia serupa dengan besi.
Mangan berada dalam bentuk manganous (Mn2+) dan manganik (Mn4+). Pada
perairan dengan kondisi anaerob akibat dekomposisi bahan organik dengan kadar
yang tinggi, Mn4+ pada senyawa mangan dioksida mengalami reduksi menjadi
Mn2+ yang bersifat larut. Mn2+ berikatan dengan nitrit, sulfat, klorida, dan larut
dalam air. Jika perairan kembali mendapat cukup aerasi, Mn2+ mengalami
reoksidasi membentuk Mn4+ yang selanjutnya mengalami presipitasi dan
mengendap di dasar perairan (Moore, 1991 dalam Effendi, 2003).
Kadar mangan pada perairan alami sekitar 0,2 mg/l atau kurang. Kadar
yang lebih besar dapat terjadi pada air tanah dalam dan pada danau yang dalam.
Perairan asam dapat mengandung mangan sekitar 10-150 mg/l/, perairan laut
mengandung mangan sekitar 0,002 mg/l (McNeely dkk., 1979 dalam Effendi,
2003).
2.2.3.2 Dampak mangan (Mn) terhadap kesehatan
Mangan merupakan nutrien renik yang esensial bagi tumbuhan dan hewan.
Logam ini berperan dalam pertumbuhan dan merupakan salah satu komponen
penting pada sistem enzim. Defisiensi mangan dapat mengakibatkan pertumbuhan
terhambat, serta sistem syaraf dan proses reproduksi terganggu. Pada tumbuhan,
mangan merupakan unsur esensial dalam proses metabolisme (Effendi, 2003).

11

Dalam jumlah yang kecil (< 0,5 mg/l), mangan (Mn) dalam air tidak
menimbulkan gangguan kesehatan, melainkan bermanfaat dalam menjaga
kesehatan otak dan tulang, berperan dalam pertumbuhan rambut dan kuku, serta
membantu menghasilkan enzim untuk metabolisme tubuh untuk mengubah
karbohidrat dan protein membentuk energi yang akan digunakan. Mangan tersebar
di seluruh jaringan tubuh. Konsentrasi mangan tertinggi terdapat di hati, kelenjar
tiroid, pituitari, pankreas, ginjal, dan tulang. Jumlah pemasukan harian sampai
saat ini belum dapat ditentukan secara pasti, meskipun demikian, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa jumlah minimal sekitar 2,5 hingga 7 mg per hari
dapat mencukupi kebutuhan manusia (Anonimous, 2010 dalam Yuanita, 2009).
Dalam jumlah yang besar (> 5 mg/l), mangan (Mn) dalam air minum
bersifat neurotoksik. Gejala yang timbul berupa gejala susunan syaraf, insomnia,
kemudian lemah pada kaki dan otot muka sehingga ekspresi muka menjadi beku,
dan muka tampak seperti topeng/mask (Slamet, 2007 dalam Yuanita 2009).

2.3 Metode Pengolahan Besi (Fe) dan Mangan (Mn)


Metode pengolahan zat besi dan mangan dalam air salah satu diantaranya
yakni dengan cara oksidasi. Proses penghilangan besi dan mangan dengan cara
oksidasi dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yakni oksidasi dengan udara
atau aerasi, oksidasi dengan klorin (klorinasi), dan oksidasi dengan kalium
permanganat. Selain dengan cara oksidasi, penghilangan senyawa besi dan
mangan dalam air yang umum digunakan dalam skala rumah tangga yakni dengan
mengalirkan ke suatu filter dengan media (Said dan Wahjono, 1999).

12

Proses penghilangan besi dan mangan dengan cara oksidasi dapat


dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu (Said dan Wahjono, 1999):
1. Oksidasi dengan udara (aerasi)
Adanya kandungan alkaliniti (HCO3) yang cukup besar dalam air, akan
menyebabkan senyawa besi atau mangan berada dalam bentuk senyawa ferro
bikarbonat [Fe(HCO3)2] atau mangan bikarbonat [Mn(HCO3)2]. Oleh karena
bentuk CO2 bebas lebih stabil daripada HCO3-, maka senyawa bikarbonat
cenderung berubah menjadi senyawa karbonat. Jika CO2 berkurang maka senyawa
karbonat akan berubah menjadi senyawa hidroksida. Baik hidroksida besi (II)
maupun hidroksida mangan (II) masih mempunyai kelarutan yang cukup besar.
Menurut Suparmin (1999), aerasi pendahuluan akan membebaskan gas-gas
terlarut dan menambahkan jumlah oksigen.
Kecepatan reaksi oksidasi dengan udara (aerasi) pada pH rendah adalah
relatif lambat sehingga pada prakteknya untuk mempercepat reaksi dilakukan
dengan cara menaikkan pH air yang akan diolah. Pengaruh pH terhadap oksidasi
besi dengan udara (aerasi) adalah semakin rendah pH (semakin asam) maka nilai
oksidasinya akan semakin kecil (Iwao, 1971 dalam Said dan Wahjono, 1999).
2. Oksidasi dengan klorin (klorinasi)
Klorin (Cl2) dan ion hipoklorit (OCl-) merupakan bahan oksidator yang
kuat sehingga meskipun pada kondisi pH rendah dan oksigen terlalu sedikit, dapat
mengoksidasi dengan cepat. Reaksi oksidasi antara besi dan mangan dengan
klorin adalah:
2Fe2+ + Cl2 + 6H2O

2Fe(OH)3 + 2Cl- + 6H+

(1)

13

Mn2+ + Cl2 + 2H2O

MnO2 + 2Cl- + 4H+

(2)

Kekurangan dengan metode ini adalah karena pada prakteknya, seringkali


pemakaian klorin ini lebih besar dari kebutuhan teoritis karena adanya reaksireaksi samping yang mengikutinya. Disamping itu apabila kandungan besi dalam
air baku jumlahnya besar, maka jumlah klorin yang diperlukan dan endapan yang
terjadi juga besar sehingga beban flokulator, bak pengendap, dan filter menjadi
besar pula (Said dan Wahjono, 1999).
3. Oksidasi dengan kalium permanganat (KMnO4)
Untuk menghilangkan besi dan mangan dalam air, dapat pula dilakukan
dengan mengoksidasinya dengan menggunakan oksidator kalium permanganat
dengan persamaan:
3Fe2+ + KMnO4 + 7H2O
3Mn2+ + 2KMnO4 + 2H2O

3Fe(OH)3 + MnO2 + K+ + 5H+


5MnO2 + 2K+ + 4 H+

(3)
(4)

Keuntungan menggunakan metode ini adalah dalam prakteknya,


kebutuhan kalium permanganat ternyata lebih sedikit dari kebutuhan yang
dihitung berdasarkan stokhiometri. Hal ini disebabkan karena terbentuknya
mangan dioksida yang berlebihan yang dapat berfungsi sebagai oksidator dan
reaksi berlanjut:
2Fe2+ + 2MnO4 + 5H2O
3Mn2+ + MnO2 + 4H2O

2Fe(OH)3 + Mn2O3 + K+ + 4H+


2Mn2O3 + 8H+

(5)
(6)

14

2.4 Saringan Pasir Aktif


Saringan pasir aktif adalah media penyaring yang terdiri atas pasir silika
yang telah mengalami proses aktivasi (perendaman) dalam larutan KMnO4.
Pemakaian kalium permanganat (KMnO4) 5 % disini adalah sebagai oksidator.
Istilah aktif dalam saringan pasir aktif dimaksudkan karena pasir tersebut
mempunyai daya oksidasi terhadap beberapa unsur yang dapat dioksidasi oleh
mangan (Suparmin, 1999). Pasir aktif dalam hal ini memiliki fungsi ganda,
disamping sebagai media penyaring juga berfungsi sebagai oksidator karena
permukaannya dilapisi zat aktif (MnO2) sebagai oksidan (Joko, 2010).
Menurut Hadi (1980) dalam Rakhman (2001) dalam pembuatan saringan
pasir aktif, akan lebih baik bila pasir yang digunakan adalah pasir yang kuat dan
kompak. Bahan-bahan penyaring umumnya adalah pasir dan kerikil. Pasir dan
kerikil karena terus menerus terendam air ditambah pula selalu menyaring dan
tergerak-gerak oleh pencucian akan hancur oleh karena itu pasir dan kerikil harus
dari bahan batuan yang keras. Secara alamiah pasir kwarsa mempunyai muatan
negatif sehingga dapat menarik partikel bermuatan positif dalam air, seperti kristal
karbonat, flok besi, alumunium hidroksida, kation-kation besi, mangan
aluminium, dan sebagainya pada awal filtrasi. Untuk pasir kwarsa sebaiknya
digunakan pasir Bangka. Kerikil harus bebas dari benda-benda yang mengapung
dan batu-batuan yang ringan, porus, dan mudah hancur.
Sifat adsorpsi pasir kwarsa pada proses aktivasi ini memiliki sifat adsorpsi
fisik. Pada adsorpsi fisik, gaya yang menahan adsorpsi molekul-molekul fluida ke
permukaan solid relatif lemah dan besarnya sama dengan gaya kohesi molekul

15

pada fase cair. Kesetimbangan antara permukaan solid dan molekul-molekul


biasanya cepat tercapai dan bersifat reversible karena kebutuhan energi sangat
kecil. Energi aktivasi untuk adsorpsi fisik biasanya tidak lebih dari 1 Kkal/mol
(Santoso, 2004).
Beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja saringan pasir aktif yang
digunakan untuk menurunkan kadar besi (Fe) dan mangan (Mn) antara lain debit
aliran, periode aktivasi pasir, ketinggian media, konsentrasi Fe influen, dan
konsentrasi KMnO4 untuk aktivasi pasir.

2.5 Mekanisme Filtrasi


Dari reaksi oksidasi Fe2+ oleh KMnO4 terbentuk presipitat Fe(OH)3 dan
MnO2 dimana presipitat ini akan mengalami proses mechanical straining pada
unit saringan pasir aktif. Mechanical straining adalah suatu proses penyaringan
partikel suspended matter atau zat padat, agar tidak dapat lolos melewati media
pasir yang berpori (Reynold, 1982).
Selama proses filtrasi berlangsung, material yang dipisahkan akan
terakumulasi pada permukaan butiran media dan pada ruang di antara butiran
media. Hal ini menyebabkan ukuran efektif ruang di antara butiran (pori)
berkurang sehingga tahanan (resistance) meningkat dan efisiensi filter menurun.
Dalam proses filtrasi terdapat kombinasi antara beberapa proses yang berbeda.
Proses-proses tersebut meliputi (Edahwati dan Suprihatin, 2012):

16

a. Mechanical straining
Mechanical straining merupakan proses penyaringan partikel tersuspensi
yang terlalu besar untuk dapat lolos melalui ruang antara butiran media. Proses ini
terjadi di permukaan filter dan tidak bergantung pada kecepatan filtrasi. Clogging
pada unit filter akan mengurangi porositas media sehingga secara teoritis dengan
bertambahnya waktu akan meningkatkan headloss pada filter.
b. Sedimentasi
Pada proses ini partikel dari bahan tersuspensi yang ukurannya lebih halus
daripada antar media akan mengendap biasa. Pada prinsipnya semua butiran
media dapat menjadi tempat pengendapan ini. Seiring dengan waktu, endapan
partikel dari bahan tersuspensi ini akan mengurangi ukuran efektif pori antar
media dan kecepatan aliran akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan proses
pengendapan yang telah terbentuk membawanya serta kebagian filter bed yang
lebih dalam. Akhirnya bahan tersuspensi tersebut akan keluar bersama efluen. Ini
pertanda filter perlu dicuci.
c. Adsorpsi
Prinsip proses ini adalah akibat adanya perbedaan muatan antara
permukaan butiran dengan partikel tersuspensi yang ada di sekitarnya sehingga
terjadi gaya tarik-menarik. Adsorpsi memegang peranan penting dalam proses
filtrasi karena akan menghilangkan partikel yang lebih kecil daripada partikel
tersuspensi seperti partikel koloid dan partikel pengotor di sekitarnya. Partikel
koloid yang berasal dari organik umumnya bermuatan negatif tidak akan
teradsorpsi pada saat filter masih bersih dan baru beroperasi. Setelah filtrasi dan

17

banyak partikel bermuatan positif yang tertahan di butiran partikel, filter menjadi
terlalu jenuh dan bermuatan positif. Semakin lama gaya penyebab adsorpsi
menjadi menurun kekuatannya yang diakibatkan karena semakin tebalnya kotoran
yang menempel di permukaan filter, begitu pula dengan efisiensi filter juga ikut
turun sehingga hal ini mengakibatkan banyak kotoran yang melewati filter begitu
saja sehingga kualitas efluen menurun dan diperlukan backwash.
d. Aktifitas Kimia
Aktifitas kimia merupakan proses dimana partikel yang terlarut diuraikan
menjadi substansi sederhana dan tidak berbahaya atau diubah menjadi partikel
tidak terlarut sehingga dapat dihilangkan dengan proses penyaringan, sedimentasi,
dan adsorpsi pada media berikutnya.
e. Aktifitas Biologi
Aktifitas biologi merupakan proses yang disebabkan oleh aktifitas
mikroorganisme yang hidup di dalam filter.
Dalam proses filtrasi juga terjadi reaksi kimia dan fisika sehingga banyak
faktor yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi kualitas hasil filtrasi,
efisiensi proses dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Debit Filtrasi
Debit filtrasi dengan kondisi media yang ada akan mempengaruhi hasil
filtrasi. Seringkali debit yang terlalu besar menyebabkan tidak berfungsinya filter
secara efisien. Dengan adanya aliran yang terlalu cepat dalam melewati ruang pori
di antara butiran media akan menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara

18

permukaan butiran media penyaring dengan air yang akan disaring sehingga
proses filtrasi tidak dapat terjadi sempurna.
b. Kedalaman, ukuran, dan jenis media
Partikel tersuspensi yang terdapat pada influen akan tertahan pada
permukaan filter karena adanya mekanisme filtrasi (straining). Oleh karena itu,
efisiensi filter merupakan fungsi karakteristik fisik dari filter bed yang meliputi
porositas dan rasio kedalaman media terhadap ukuran media. Tebal tidaknya
media akan mempengaruhi lama pengaliran dan besarnya daya saring. Demikian
pula dengan ukuran (diameter) butiran media baik komposisi, proporsi maupun
bentuk dan susunan diameter butiran berpengaruh pada porositas, rate filtration,
serta daya saring.
c. Kualitas air limbah
Kualitas air limbah akan mempengaruhi efisiensi filtrasi, khususnya
kekeruhan. Kekeruhan yang terlalu tinggi akan menyebabkan ruang pori antara
butiran media cepat tersumbat. Oleh karena itu, dalam melakukan filtrasi harus
dibatasi kandungan kekeruhan dari air limbah yang akan diolah.

2.6 Aerasi
Aerasi merupakan proses pengolahan air dengan cara mengontakkan
dengan udara. Aerasi secara luas telah digunakan untuk pengolahan air yang
mempunyai kandungan besi dan mangan terlarut tinggi (mengurangi kandungan
zat padat terlarut). Lebih jauh, aerasi adalah pencampuran udara dengan air
sehingga terjadi perubahan konsentrasi zat-zat yang mudah menguap di dalam air.

19

Aerasi dilakukan untuk menambah jumlah oksigen terlarut dalam air. Dengan
tersedianya oksigen terlarut dapat meningkatkan karakteristik fisik dan kimia air,
keadaan ini dapat dilihat dari bertambahnya oksigen, dan atau berkurangnya
konsentrasi zat-zat yang mudah menguap (Joko, 2010).
Proses aerasi pada dasarnya adalah untuk memberikan oksigen ke dalam
air atau meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air, diantaranya
bertujuan untuk (Joko, 2010):
1. Perpindahan gas (gas transfer), proses ini terjadi pada:
a. Menghilangkan CO2 yang terlarut dalam air, dengan cara melepaskan CO2
ke udara, dengan proses ini sekaligus menaikkan pH air.
b. Menghilangkan gas amoniak (NH3); H2S dengan kondisi tertentu.
2. Proses oksidasi, contoh pada proses penghilangan besi dan mangan terlarut
menjadi besi endapan (tersuspensi halus), dengan jalan oksidasi dengan
oksigen.

2.7 Debit Aliran


Jumlah zat cair yang mengalir melalui tampang lintang aliran tiap satu
satuan waktu disebut debit aliran dan diberi notasi Q. Debit aliran biasanya diukur
dalam volume zat cair tiap satuan waktu sehingga satuannya adalah meter kubik
per detik (m3/dt) atau satuan yang lain (liter/detik, liter/menit, dsb) (Triatmodjo,
1996).
Dalam praktek, sering variasi kecepatan pada tampang lintang diabaikan
dan kecepatan aliran dianggap seragam di setiap titik pada tampang lintang yang

20

besarnya sama dengan kecepatan rerata V sehingga debit aliran adalah


(Triatmodjo, 1996):
Q = A. V

(7)

Keterangan: Q adalah debit aliran (m3/dt)


V adalah kecepatan aliran (m/dt)
A adalah luas penampang (m2)
Menurut Putra dkk. (2009), pada saringan pasir semakin tinggi pasir maka
debit yang dihasilkan semakin kecil. Hal ini disebabkan oleh ukuran tebal (tinggi)
pasir dipengaruhi oleh beda tekanan, artinya jika beda tekanan semakin kecil
maka sistem saringannya mempunyai hambatan yang semakin besar.
Pada ukuran butir yang semakin kecil (mesh semakin besar) terlihat bahwa
debit semakin kecil. Hal ini dapat dipahami karena pada ukuran butir yang
semakin kecil maka pori-pori filter pasir akan semakin kecil sehingga hambatan
semakin besar. Hambatan yang semakin besar menyebabkan debit aliran akan
semakin kecil (Putra dkk., 2009).
Pengaruh diameter tabung terhadap debit aliran adalah semakin besar
tabung maka debit aliran akan semakin besar. Hal ini disebabkan jika diameter
tabung semakin besar maka luas penampang akan semakin besar sehingga luas
celah tempat aliran akan lewat akan semakin besar. Dengan demikian debit aliran
akan semakin besar (Putra dkk., 2009).
Menurut hasil penelitian Saifudin dkk. (2004) dijelaskan bahwa salah satu
faktor yang diduga sangat mempengaruhi pada saat pengambilan dan pengukuran
sampel adalah debit aliran. Debit aliran yang lebih kecil dapat menurunkan kadar

21

Mn lebih banyak dikarenakan dalam debit kecil waktu kontak air dalam media
lebih lama.

2.8 Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)


Spektrometri

merupakan

suatu

metode

analisis

kuantitatif

yang

pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap


oleh spesi atom atau molekul analit. Salah satu bagian dari spektrometri ialah
Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). SSA merupakan alat analisis unsur secara
kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog dkk., 2000
dalam Anshori, 2005).
Pada alat SSA terdapat dua bagian utama, yaitu suatu sel atom yang
menghasilkan atom-atom gas bebas dalam keadaaan dasarnya dan suatu sistem
optik untuk pengukuran sinyal. Suatu skema umum dari alat SSA digambarkan
seperti pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Skema Umum Komponen pada Alat SSA


Sumber: Haswel (1991) dalam Anshori (2005)

22

Dalam metode SSA, sebagaimana dalam metode spektrometri atomik yang


lain, contoh harus diubah ke dalam bentuk uap atom. Proses pengubahan ini
dikenal dengan istilah atomisasi, pada proses ini contoh diuapkan dan
didekomposisi untuk membentuk atom dalam bentuk uap.
Terdapat dua tahap utama yang terjadi dalam sel atom pada alat SSA
dengan sistem atomisasi nyala. Pertama, tahap nebulisasi untuk menghasilkan
suatu bentuk aerosol yang halus dari larutan contoh. Kedua, disosiasi analit
menjadi atom-atom bebas dalam keadaan gas. Berdasarkan sumber panas yang
digunakan maka terdapat dua metode atomisasi yang dapat digunakan dalam
spektrometri serapan atom:
a. Atomisasi menggunakan nyala.
b. Atomisasi tanpa nyala (flameless atomization).
Pada atomisasi menggunakan nyala, digunakan gas pembakar untuk
memperoleh energi kalor sehingga didapatkan atom bebas dalam keadaan gas.
Sedangkan pada atomisasi tanpa nyala digunakan energi listrik seperti pada
atomisasi tungku grafit (grafit furnace atomization).
Diperlukan nyala dengan suhu tinggi yang akan menghasilkan atom bebas.
Untuk alat SSA dengan sistem atomisasi nyala digunakan campuran gas asetilenudara atau campuran asetilen-N2O. Pemilihan oksidan bergantung kepada suhu
nyala, dan komposisi yang diperlukan untuk pembentukan atom bebas.
Sumber cahaya yang digunakan dalam alat AAS ialah lampu katoda
berongga (hollow cathode lamp). Lampu ini terdiri atas suatu katoda dan anoda
yang terletak dalam suatu silinder gelas berongga yang terbuat dari kwarsa.
Katoda terbuat dari logam yang akan dianalisis. Silinder gelas berisi suatu gas

23

lembam pada tekanan rendah. Ketika diberikan potensial listrik maka muatan
positif ion gas akan menumbuk katoda sehingga tejadi pemancaran spektrum garis
logam yang bersangkutan (Anshori, 2005).

Gambar 2.3 Lampu Katoda Berongga


Sumber: Anshori (2005)
Gambar 2.3 merupakan gambar lampu katoda berongga. Berkas cahaya
dari lampu katoda berongga akan dilewatkan melalui celah sempit dan difokuskan
menggunakan cermin menuju monokromator. Monokromator dalam alat SSA
akan memisahkan, mengisolasi dan mengontrol intensitas energi yang diteruskan
ke detektor. Monokromator yang biasa digunakan ialah monokromator difraksi
grating (Anshori, 2005).
Energi yang diteruskan dari sel atom harus diubah ke dalam bentuk sinyal
listrik untuk kemudian diperkuat dan diukur oleh suatu sistem pemproses data.
Proses pengubahan ini dalam alat SSA dilakukan oleh detektor. Detektor yang
biasa digunakan ialah tabung pengganda foton (photo multiplier tube), seperti
yang terlihat pada Gambar 2.4. Photo multiplier tube terdiri atas katoda yang
dilapisi senyawa yang bersifat peka cahaya dan suatu anoda yang mampu
mengumpulkan elektron. Ketika foton menumbuk katoda maka elektron akan
dipancarkan, dan bergerak menuju anoda. Antara katoda dan anoda terdapat
dinoda-dinoda yang mampu menggandakan elektron sehingga intensitas elektron
yang sampai menuju anoda besar dan akhirnya dapat dibaca sebagai sinyal listrik.

24

Untuk menambah kinerja alat maka digunakan suatu mikroprosesor, baik pada
instrumen utama maupun pada alat bantu lain seperti autosampler (Anshori,
2005).

Gambar 2.4 Photo Multiplier Tube


Sumber: Anshori (2005)

25

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


3.1.1 Tempat penelitian
Adapun lokasi yang digunakan

sebagai

tempat

penelitian

adalah

sebagai berikut:
1. Sumur gali milik umum di Jalan Mulyorejo Utara gang III Surabaya, sebagai
titik pengambilan sampel air sumur.
2. Laboratorium basah Universitas Airlangga, merupakan tempat penelitian, yaitu
unit saringan pasir aktif.
3. Laboratorium Instrumen Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi
sebagai tempat untuk menganalisis sampel air sumur untuk mengetahui
konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn) dari air sumur gali.
3.1.2 Waktu penelitian
Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan, yaitu dari bulan Februari
2012-April 2012 yang meliputi kegiatan persiapan alat dan bahan, perakitan
reaktor, pengoperasian reaktor, dan analisis data.

25

26

3.2 Bahan dan Alat Penelitian


3.2.1 Alat penelitian
A. Alat untuk saringan pasir aktif adalah:
Alat-alat yang digunakan untuk membuat saringan pasir aktif adalah pipa
PVC ukuran 2 (5 cm), masing-masing panjang 160 cm sebanyak 3 batang, dop
penutup pipa PVC 2 sebanyak 3 buah, adaptor socket (drat dalam) diameter 2
sebanyak 3 buah, selang plastik sesuai kebutuhan, tanki/reservoir kapasitas 150
liter, kran untuk pengatur debit ukuran sebanyak 3 buah, kran untuk efluen
saringan pasir aktif ukuran sebanyak 3 buah, pompa akuarium 1 buah, aerator
1 buah, lem PVC, sealtape, glasswool untuk penyaring, rangka penyangga terbuat
dari kayu dan bak efluen, pinset, oven untuk pengeringan media, dan furnace
untuk pengaktivan media pasir silica.
B. Alat untuk analisis uji besi (Fe) adalah:
Alat-alat

yang

digunakan

untuk

analisis

uji

besi

(Fe)

adalah

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-nyala, lampu katoda berongga besi (Fe),


corong gelas, dan kertas saring.
C. Alat untuk uji mangan (Mn) adalah:
Alat-alat yang digunakan untuk analisis uji mangan (Mn) adalah
Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)-nyala, lampu katoda berongga (Hollow
Cathode Lamp) mangan (Mn), corong gelas, dan kertas saring.

27

3.2.2 Bahan penelitian


A. Bahan untuk saringan pasir aktif adalah:
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan saringan pasir aktif
adalah: pasir kwarsa/silika ukuran 0,4 0,8 mm, kerikil, dan KMnO4 untuk
aktivasi media.
B. Bahan untuk uji besi (Fe) adalah:
Bahan-bahan yang digunakan untuk pengujian besi (Fe) adalah: air bebas
mineral, larutan standar logam besi (Fe), gas asetilen (C2H2) dengan tekanan
minimum 100 psi, dan udara tekan.
C. Bahan untuk uji mangan (Mn) adalah:
Bahan-bahan yang digunakan untuk pengujian mangan (Mn) adalah: air
bebas mineral, logam mangan (Mn) dengan kemurnian minimum 99,0%, gas
asetilen (C2H2) dengan tekanan minimum 100 psi, dan udara tekan.

3.3 Cara Kerja


Tahapan-tahapan mengenai cara kerja penelitian dilaksanakan secara
berurutan sesuai dengan kerangka penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Ide Skripsi
Pengaruh Variasi Debit Terhadap Efisiensi Penurunan Konsentrasi
Besi dan Mangan pada Air Sumur Gali dengan Menggunakan Teknik
Saringan Pasir Aktif
A

28

Studi Literatur
1.
2.
3.
4.

Teori besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air


Teori oksidasi besi (Fe) dan mangan (Mn)
Saringan pasir aktif
Debit (Hidrolika)

Penentuan Variabel Penelitian


1. Variabel bebas
2. Variabel terikat
3. Variabel tetap

: Debit aliran
: Konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn)
: Ketinggian media dan jenis media

Persiapan Alat Dan Bahan


1. Pembuatan reaktor saringan pasir aktif
2. Pembuatan media saringan pasir aktif

Penentuan Lokasi Sampling dan Penelitian Pendahuluan

Pelaksanaan Penelitian
1. Pengoperasian saringan pasir aktif secara kontinyu dengan variasi debit 15
ml/menit; 30 ml/menit; dan 60 ml/menit
2. Pengecekan parameter besi (Fe) dan mangan (Mn) pada influen dan efluen
3. Analisis parameter Fe dan Mn pada influen dan efluen pada jam ke-0, 16,
24, dan 40

Analisis Data dan Pembahasan

Kesimpulan
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian

29

3.3.1 Ide skripsi


Ide skripsi adalah untuk mengetahui pengaruh variasi debit terhadap
efisiensi penurunan konsentrasi besi dan mangan pada air sumur gali dengan
menggunakan teknik saringan pasir aktif.
3.3.2 Studi literatur
Studi literatur dilakukan untuk mendukung jalannya penelitian, yaitu
penyusunan laporan dan pengambilan kesimpulan. Analisis dan pembahasan yang
dilakukan mengacu pada teori yang didapatkan dari literatur. Literatur yang
dipelajari meliputi buku, jurnal ilmiah, dan laporan penelitian sebelumnya yang
dianggap relevan. Dengan studi literatur ini diharapkan penelitian akan sesuai arah
dan menjadi penelitian yang representatif.
3.3.3 Penentuan variabel penelitian
1. Variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini meliputi: debit aliran
(ml/menit)
2. Variabel terikat yang digunakan pada penelitian ini meliputi: konsentrasi besi
dan mangan (mg/l)
3. Variable tetap yang digunakan pada penelitian ini meliputi: ketinggian media
(cm) dan jenis media
4. Parameter yang harus dipantau setiap hari selama penelitian adalah: pH dan
suhu (o C)

30

3.3.4 Persiapan alat dan bahan


3.3.4.1 Pembuatan reaktor saringan pasir aktif
Reaktor uji adalah wadah yang terbuat dari pipa PVC 2 setinggi 160 cm
dengan ke dalaman media 110 cm dan underdrain 20 cm. Reaktor uji dapat dilihat
pada Gambar 3.2.
Freeboard 20 cm
Kolom air 10 cm

Media pasir aktif


110 cm

Underdrain 20 cm

5 cm
Gambar 3.2 Reaktor Uji

Sebelum masuk ke reaktor, air sumur di tampung terlebih dahulu di bak


reservoir. Kemudian air sumur yang terdapat pada reservoir di pompa menuju
reaktor, selanjutnya akan mengalir ke bak penampung efluen. Pada penelitian ini
akan digunakan reaktor sebanyak 3 buah. Skema reaktor ditunjukkan pada
Gambar 3.3.

31

Aerator
Media Pasir
Aktif

Reservoir

Media
Pasir
Aktif

Media
Pasir
Aktif

Pompa

Gambar 3.3 Skema Reaktor Saringan Pasir Aktif

A. Cara membuat tabung saringan pasir aktif


Cara membuat tabung saringan pasir aktif yang pertama adalah dengan
menutup pipa PVC 2 dengan dop pada salah satu ujungnya dan direkatkan
dengan lem PVC kemudian pada dasar pipa diberi lubang dengan (untuk
tempat kran) kemudian dasar pipa ditutup dengan dop penutup pipa, pasang kran
dan putar sehingga terbuka secara penuh. Prosedur yang sama dilakukan untuk
dua pipa PVC yang lain.

110 cm

20 cm

Underdrain

Bak Efluen

20 cm
10 cm

32

B. Pemasangan tanki/reservoir
Dalam pemasangan tanki/reservoir agar dapat mengalirkan air ke dalam
tabung saringan adalah dengan dipasang pompa celup untuk menaikkan air ke
dalam tabung saringan (head pompa 3 m) selanjutnya dibuat 1 buah pipa menuju
ke atas untuk mengalirkan air yang kemudian bercabang 3 menuju tabung
saringan pasir aktif. Pada ujung 3 buah pipa tersebut dipasang kran ukuran
yang berfungsi untuk mengalirkan air masuk ke dalam saringan pasir aktif
kemudian atur debit aliran (sesuai variasi debit yang telah ditentukan, dalam
ml/menit) pada ke-3 buah kran tersebut dan kunci arah putaran kran agar aliran
yang keluar stabil.
3.3.4.2 Pembuatan media saringan pasir aktif
A. Pencucian pasir silika
Pencucian pasir silika dapat dilakukan dengan memasukkan pasir ke dalam
wadah/toples plastik, dialiri air bersih sambil diaduk-aduk. Tandanya pasir sudah
bersih adalah apabila air bekas untuk mencuci kelihatan jernih kemudian pasir
silika ditiriskan dan dijemur hingga kering.
B. Mempersiapkan media pasir aktif
Pasir silika yang telah kering dicuci kembali dalam air yang tidak
mengalir, tetapi air pencuci dibubuhi dengan kalium permanganat (KMnO4)
sebanyak 1-5 gr/l dan diaduk-aduk selama kurang lebih 15 menit kemudian
dibiarkan terendam kurang lebih 24 jam (Suparmin, 1999). Pencucian dengan
KMnO4 selain untuk aktivasi juga untuk menghilangkan besi (Fe) pada air
pencuci. Apabila larutan KMnO4 yang terdapat dalam bak pencuci berwarna

33

coklat hitam, maka harus dibuang dan diganti dengan larutan baru setelah
direndam. Dicuci kembali dengan air mengalir sampai warna ungu pada air bekas
cucian hilang. Pasir ditiriskan kembali dan dijemur agar benar-benar kering.
Kemudian untuk aktivasi media maka pasir silika yang telah kering dimasukkan
ke dalam furnace dengan suhu 500o C selama 1 jam kemudian di oven dengan
suhu 105o C selama 1 jam. Setelah kondisi pasir sudah tidak panas maka siap
dimasukkan ke dalam kolom saringan.
Dalam penelitian ini pasir silika yang harus diambil dan direndam dengan
larutan KMnO4 sebanyak 6,6 liter dengan volume setiap tabung 2,2 liter.
Menyiapkan 2,2 liter larutan KMnO4 yang dibuat dengan cara melarutkan 5 gram
kristal

KMnO4 dalam 1 liter aquades sehingga dibutuhkan 11 gram kristal

KMnO4 dalam 2,2 liter aquades pada proses perendaman untuk setiap tabung.
Setelah melewati proses seperti di atas, pasir silika kering yang sudah direndam
dengan KMnO4 dimasukkan ke dalam tabung saringan dengan ketebalan 110 cm
dari underdrain, kemudian beri label.
3.3.5 Penentuan lokasi sampling dan penelitian pendahuluan
Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada hasil survei dan penelitian
pendahuluan. Berdasarkan hasil survei dan penelitian pendahuluan yang
dilakukan pada air sumur gali di Jalan Mulyorejo Utara gang III Surabaya
diperoleh hasil konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn) yang tinggi (Fe: 0,31 mg/l
dan Mn: 2,702 mg/l). Gangguan yang dirasakan masyarakat pemakai air sumur
gali tersebut adalah air berwarna kuning kecoklatan dan menyebabkan noda pada
baju dan perkakas dapur. Berdasarkan hasil survei tersebut, maka lokasi

34

pengambilan sampel di sumur gali milik umum di Jalan Mulyorejo Utara gang III
Surabaya.
3.3.6 Pelaksanaan penelitian
3.3.6.1 Mekanisme proses kontinyu
Pada proses kontinyu, penelitian diawali dengan melakukan pengaturan
debit terhadap debit yang mengalir ke dalam reaktor. Pengaturan debit dilakukan
dengan menyesuaikan bukaan kran yang digunakan pada setiap reaktor. Untuk
memastikan bahwa debit yang mengalir sesuai, dilakukan pengecekan dan
pengaturan ulang setiap waktu. Pengukuran debit dilakukan dengan gelas ukur, di
mana air ditampung dalam gelas ukur dan dicatat berapa waktu yang diperlukan
untuk memenuhi volume yang ditentukan. Bukaan kran diatur sampai
mendapatkan debit aliran yang sesuai.
Periode penelitian adalah 40 jam dan dilakukan dalam reaktor saringan
pasir aktif dengan didahului proses aerasi. Seluruh media pada reaktor saringan
pasir aktif dengan aerasi pendahuluan dirancang dengan ketinggian total media
110 cm. Diharapkan melalui reaktor saringan pasir aktif dengan aerasi
pendahuluan dapat mengolah air sumur dan menghasilkan efluen yang memenuhi
kriteria baku mutu air minum. Aliran air pada saringan pasir aktif dijalankan
secara kontinyu.
Air yang keluar dari efluen saringan pasir aktif langsung dialirkan pada
bak penerima efluen atau bak penampung yang kemudian air efluen diuji untuk
parameter besi (Fe) dan mangan (Mn). Berikut ini adalah proses sampling dan
pengoperasian reaktor:

35

1. Air baku berasal dari air sumur gali milik umum di Jalan Mulyorejo Utara
gang III Surabaya.
2. Pemompaan air baku dari reservoar ke reaktor yang ketinggiannya diatur
sesuai dengan tekanan yang diharapkan. Air baku dialirkan secara kontinyu ke
dalam reaktor saringan pasir aktif yang didahului proses aerasi. Proses
pengaliran air sumur dilakukan setiap hari selama penelitian dilakukan.
3. Pengukuran parameter uji, yakni suhu dengan termometer dan pH dengan pH
meter serta pengaturan debit dilakukan setiap hari di titik influen dan efluen
dari setiap reaktor. Pengukuran debit dilakukan dengan gelas ukur, dengan air
ditampung dalam gelas ukur dan dicatat berapa waktu yang diperlukan untuk
memenuhi volume yang ditentukan. Bukaan kran diatur sampai mendapatkan
debit aliran yang sesuai, yakni 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit.
4. Pengambilan sampel air untuk diperiksa konsentrasi besi (Fe) dan mangan
(Mn), yaitu pada influen dan efluen reaktor, pengambilan sampel dilakukan
pada jam ke-0, 16, 24, dan 40 yang dimulai pada jam 17.00 WIB. Pemilihan
waktu pengambilan sampel ini didasarkan dari penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Rakhman (2001). Pada single media (pasir aktif) dengan
ketinggian media 110 cm didapatkan waktu jenuh media, yaitu rata-rata pada
jam ke-18 sehingga pada penelitian ini digunakan interval waktu tersebut
untuk mengetahui kinerja media pasir aktif berdasarkan variasi debit.
Pengambilan sampel air yakni pada 4 titik, yaitu titik pada influen (pada
tempat reservoir), titik pada efluen reaktor saringan pasir aktif dengan debit
aliran 15 ml/menit, titik pada efluen saringan pasir aktif dengan debit aliran 30

36

ml/menit dan titik pada efluen reaktor saringan pasir aktif dengan debit aliran
60 ml/menit.
3.3.6.2 Analisis parameter besi (Fe) dan mangan (Mn)
1.

Analisis besi (Fe) dengan spektrofotometer serapan atom

a)

Sampel air sumur dipersiapkan di dalam botol plastik 100 ml.

b) Preparasi sampel dengan cara sampel air sumur disaring menggunakan kertas
saring dan corong gelas.
c)

Pembuatan kurva kalibrasi


Kurva kalibrasi berfungsi untuk mengetahui konsentrasi unsur dalam sampel
air yang di uji dengan cara menginterpolasikan absorbansi unsur dalam
larutan sampel ke kurva kalibrasi atau dengan memasukkan nilai absorbansi
ke dalam persamaan regresi linier. Pembuatan kurva kalibrasi dapat dilakukan
dengan mengoperasikan alat dan mengoptimasikan sesuai petunjuk
penggunaan alat untuk pengukuran besi kemudian mengaspirasikan larutan
blanko ke dalam SSA-nyala kemudian mengatur serapan hingga nol. Setelah
mengaspirasikan larutan blanko, selanjutnya mengaspirasikan larutan standar
Fe dengan kadar 0,5 ; 1,0 ; 1,5 ; 2,0 mg/l lalu diukur serapannya pada panjang
gelombang 248,3 nm. Nilai absorbansi Fe ditunjukkan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Nilai Absorbansi Fe
Kadar Fe standar
(mg/l)

Absorbansi

0,5
0,0188
1
0,0447
1,5
0,07069
2
0,0967
Sumber: Hasil Pengukuran (2012)

37

sehingga didapat persamaan: y = 0,05194x 0,00725

(8)

R = 0,9999
keterangan: y = Nilai absorbansi
x = Kadar Fe (mg/l) yang akan dihitung
konsentrasinya berdasarkan persamaan (8)
Dari persamaan tersebut, maka dapat dibuat kurva kalibrasi Fe seperti tampak
pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Kurva Kalibrasi Fe


Sumber: Hasil Pengukuran (2012)
d) Pengukuran sampel air sumur
Pengukuran sampel air dapat dilakukan dengan mengaspirasikan sampel ke
dalam SSA-nyala lalu ukur serapannya pada panjang gelombang 248,3 nm
kemudian mencatat hasil pengukuran.
2.

Analisis Mn dengan spektrofotometer serapan atom

a)

Sampel air sumur dipersiapkan di dalam botol plastik 100 ml.

b) Preparasi sampel dengan cara sampel air sumur disaring menggunakan kertas
saring dan corong gelas.

c)

38

Pembuatan kurva kalibrasi


Pembuatan kurva kalibrasi dapat dilakukan dengan mengoperasikan alat dan
mengoptimasikan sesuai petunjuk penggunaan alat untuk pengukuran mangan
kemudian mengaspirasikan larutan blanko ke dalam SSA-nyala kemudian
mengatur serapan hingga nol. Setelah mengaspirasikan larutan blanko,
selanjutnya mengaspirasikan larutan Mn standar dengan kadar 1,0 ; 2,0; 3,0;
4,0 mg/l lalu diukur serapannya pada panjang gelombang 248,3 nm. Nilai
absorbansi Mn ditunjukkan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Nilai Absorbansi Mn


Kadar Mn
standar (mg/l)

Absorbansi

1
0,17087
2
0,32326
3
0,47569
4
0,62808
Sumber: Hasil Pengukuran (2012)

sehingga didapat persamaan: y = 0,1524x + 0,0185

(9)

R2 = 1,000
keterangan: y = Nilai absorbansi
x = Kadar Mn (mg/l) yang akan dihitng
konsentrasinya berdasarkan persamaan (9)
Dari persamaan tersebut, maka dapat dibuat kurva kalibrasi Mn seperti
tampak pada Gambar 3.5.

39

Gambar 3.5 Kurva Kalibrasi Mn


Sumber: Hasil Pengukuran (2012)
d) Pengukuran sampel air sumur
Pengukuran sampel air dapat dilakukan dengan mengaspirasikan sampel ke
dalam SSA-nyala lalu ukur serapannya pada panjang gelombang 248,3 nm
kemudian mencatat hasil pengukuran.
3.3.7

Analisis data dan pembahasan


Analisis data dan pembahasan dilakukan terhadap data yang diperoleh dari

hasil pengukuran parameter meliputi konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn).
Analisis data tersebut dapat dihitung besarnya persentase penurunan kandungan
setiap parameter pada setiap reaktor. Persentase penurunan dari setiap reaktor
disajikan dalam bentuk grafik dan tabel sehingga dapat diketahui besarnya
penurunan konsentrasi untuk setiap parameter. Setelah diketahui hasil dari setiap
variabel penelitian maka dilakukan pembahasan mengenai faktor-faktor yang
berkaitan dengan hasil tersebut. Faktor dan dasar pertimbangan mengacu pada
literatur dan penelitian terkait sebelumnya. Selain itu, dilakukan pula analisis

40

deskriptif untuk mendukung pembahasan dan kesimpulan. Untuk lebih jelasnya


dapat dilihat pada sub bab 3.4.
3.3.8

Kesimpulan dan saran


Penarikan kesimpulan didasarkan pada hasil akhir yang diperoleh dari

pengukuran parameter dan pembahasan.

3.4 Cara Analisis Data dan Informasi


Faktor yang perlu dipertimbangkan didalam pemilihan metode analisis
yang akan dipergunakan dalam penelitian, yaitu:
1. Tujuan dari penelitian
2. Ketersediaan bahan dan peralatan yang ada
Analisis data dilakukan terhadap data yang diperoleh dari hasil analisis
setiap parameter, yaitu parameter besi (Fe) dan mangan (Mn). Analisis data dan
informasi dilakukan dengan 2 cara yakni:
1. Analisis efisiensi
Analisis data untuk mengetahui efisiensi penurunan konsentrasi besi (Fe)
dan mangan (Mn) pada air sumur, maka dalam penelitian ini dapat dihitung
besarnya penurunan kandungan setiap parameter pada setiap reaktor dengan
rumus sebagai berikut:
Persentase penurunan (%)
(10)

keterangan: Co = Konsentrasi parameter awal


C1 = Konsentrasi parameter pada efluen reaktor

41

2. Analisis deskriptif
Setelah data diperoleh maka dilakukan analisis deskriptif dengan mencari
persentase perbedaan menggunakan Indeks Canberra (Ic) dengan rumus:
(11)
keterangan:
n

= Jumlah waktu pengukuran

Ya Yb = Selisih penurunan konsentrasi antar perlakuan setiap waktu


pengukuran
Ya + Yb = Penjumlahan penurunan konsentrasi antar perlakuan setiap
waktu pengukuran
kemudian dilanjutkan dengan analisis Group Average Clustering Methods. Hasil
berupa dendogram yang menyatakan tingkat kesamaan atau ketidaksamaan pada
semua variasi debit.

42

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi debit terhadap


efisiensi penurunan konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn) air sumur gali dengan
menggunakan teknik saringan pasir aktif. Variasi debit yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri atas debit 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit.
Efisiensi penurunan konsentrasi Fe dan Mn dari setiap kolom saringan
berdasarkan variasi debit dapat diketahui melalui beberapa tahapan, yaitu
melakukan analisis proses kontinyu, menghitung efisiensi penurunan konsentrasi
Fe dan Mn kemudian tahapan terakhir adalah melakukan analisis statistik untuk
mengetahui perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dan Mn berdasarkan
variasi debit. Keseluruhan tahapan-tahapan tersebut akan dijabarkan pada sub bab
hasil dan pembahasan berikut ini.

4.1 Analisis Proses Kontinyu


Prinsip dari kebanyakan metode yang digunakan dalam penurunan Fe dan
Mn adalah mengubah senyawa tersebut dari bentuk terlarut menjadi bentuk tidak
terlarut yang dapat dihilangkan melalui single-stage atau two-stage separation.
Pengolahan air dengan single-stage separation (filtrasi) didesain untuk
konsentrasi Fe dan Mn hingga 5 mg/l, sedangkan pengolahan air dengan twostage separation (settling tanks atau clarifiers dan filter) digunakan untuk air
dengan konsentrasi Fe dan Mn lebih dari 5 mg/l (Barlokova dan Ilavsky, 2010).

42

43

Berdasarkan data analisis kualitas air baku maka pada penelitian ini digunakan
single-stage separation (filtrasi) yang didahului dengan proses aerasi. Gambar 4.1
merupakan gambar reaktor saringan pasir aktif

dan media pasir aktif yang

digunakan dalam penelitian.

(a)

(b)

Gambar 4.1 Gambar (a) Reaktor Saringan Pasir Aktif (b) Media Pasir Aktif
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Proses kontinyu pada penelitian ini diawali dengan melakukan pengaturan


debit terhadap debit yang mengalir dalam reaktor. Pengaturan debit dilakukan
pada ketiga reaktor saringan pasir aktif dimana pada setiap kran reaktor baik
influen maupun efluen diatur dengan nilai debit yang sama besar untuk menjaga
tinggi kolom air agar tetap stabil. Pembentukan kolom air dilakukan dengan
mengisi kolom saringan terlebih dahulu hingga batas kolom air yang
direncanakan.
Hasil dari proses kontinyu ini adalah pada kran influen diperlukan
pemeriksaan yang rutin terhadap debit air karena seringkali debit air pada influen

44

tidak stabil namun demikian kolom air tetap dapat terbentuk. Sedangkan untuk
kran pada efluen debit air cenderung lebih stabil selama 40 jam periode penelitian.
Pemompaan air baku dari reservoir ke reaktor dilakukan setelah
pengaturan debit kemudian terjadi proses aerasi yang berfungsi untuk
pengurangan sifat fisik air. Proses selanjutnya adalah penyaringan dengan pasir
aktif sebagai media penyaring, dimana media ini memiliki fungsi ganda. Pasir
aktif disamping sebagai media penyaring, berfungsi pula sebagai oksidator karena
permukaannya dilapisi zat aktif (MnO2) sebagai oksidan.
Pada penelitian skala laboratorium ini, variabel yang telah ditentukan
terlebih dahulu untuk pelaksanaan proses filtrasi adalah debit aliran influen.
Penentuan variabel dari hasil penelitian laboratorium diharapkan dapat digunakan
untuk memprediksi performa kolom skala lapangan.
Debit aliran influen yang diaplikasikan pada kolom skala laboratorium
merupakan variabel penting untuk menentukan waktu kontak (Hydraulic
Retention Time) dalam kolom. Waktu kontak (HRT) adalah waktu kontak antara
liquid dengan media. Pada penelitian ini digunakan diameter kolom 2, tinggi
kolom 160 cm, diameter media (pasir aktif) 0,4 - 0,8 mm dan debit aliran influen
adalah 15 ml/menit; 30 ml/menit dan 60 ml/menit.
Dari hasil percobaan proses kontinyu didapatkan waktu kontak untuk
setiap debit aliran influen adalah:
1. Waktu kontak (HRT) untuk debit 15 ml/menit adalah 53 menit.
2. Waktu kontak (HRT) untuk debit 30 ml/menit adalah 10 menit.
3. Waktu kontak (HRT) untuk debit 60 ml/menit adalah 7 menit.

45

Waktu kontak (HRT) ini dapat digunakan sebagai bahan untuk analisis efisiensi
penurunan konsentrasi Fe dan Mn dalam air setelah mengalami proses aerasi dan
filtrasi dengan KMnO4 sebagai oksidan.

4.2 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe pada reaktor Saringan Pasir Aktif


4.2.1 Analisis awal konsentrasi Fe pada air sumur
Sampel air yang digunakan adalah air sumur milik umum di Jalan
Mulyorejo Utara gang III yang masih banyak dimanfaatkan oleh penduduk
sekitar. Secara fisik air sumur tersebut berwarna keruh kecoklatan namun pada
waktu tertentu terlihat agak jernih akibat adanya pengaruh cuaca. Kondisi air
sumur dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Kondisi Air Sumur


Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Penelitian pendahuluan ini dilakukan sebelum penelitian sesungguhnya


untuk mengetahui kondisi awal air sumur yang kemudian akan digunakan sebagai
air baku reaktor saringan pasir aktif. Penelitian pendahuluan meliputi pengukuran

46

konsentrasi Fe dan Mn pada air sumur. Hasil pengukuran kualitas air sumur
ditunjukkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Konsentrasi Fe pada Air Sumur


Hasil Analisis
Baku Mutu
(mg/l)
(mg/l) *
1.
Fe
0,31
0,3
Sumber: Hasil pengukuran (2012), *Anonim (2010)
No

Parameter

Keberadaan Fe pada kerak bumi menempati posisi keempat terbesar. Besi


ditemukan dalam bentuk kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada perairan alami,
besi berikatan dengan anion membentuk senyawa FeCl2, Fe(HCO3), dan Fe(SO4).
Bagi perairan yang diperuntukkan untuk keperluan domestik, pengendapan ion
ferri dapat mengakibatkan warna kemerahan pada porselin, bak mandi, pipa air,
dan pakaian (Effendi, 2003).
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang
persyaratan kualitas air minum telah menetapkan konsentrasi Fe dalam air, yaitu
sebesar 0,3 mg/l (Anonim, 2010). Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa kualitas
air sumur yang digunakan sebagai sampel uji memiliki konsentrasi Fe yang
melebihi baku mutu.
Tampak pada Tabel 4.1 bahwa konsentrasi Fe terukur adalah 0,31 mg/l
atau 0,01 mg/l diatas baku mutu. Kelebihan konsentrasi Fe sebesar 0,01 mg/l
dapat membahayakan tubuh karena pemenuhan kebutuhan tubuh terhadap Fe
tidak hanya berasal dari air saja melainkan juga berasal dari makanan sehingga
kelebihan konsentrasi ini juga harus tetap mendapat perhatian. Oleh karena itu,

47

perlu dilakukan pengolahan agar kualitas air sumur yang dimanfaatkan oleh warga
supaya dapat memenuhi baku mutu sehingga aman untuk dikonsumsi.
4.2.2 Analisis konsentrasi Fe pada saringan pasir aktif
Dalam penelitian ini, pengukuran konsentrasi Fe dilakukan pada jam ke-0,
16, 24, dan 40. Jumlah titik sampling yang dianalisis sebanyak 4 titik, yaitu pada
titik influen dan pada titik efluen tiap reaktor saringan pasir aktif dengan debit 15
ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit. Sampel yang telah diambil dari titik
sampling kemudian dianalisis konsentrasi Fe secara bersamaan setelah 40 jam.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka didapatkan hasil
pengukuran konsentrasi Fe setelah mengalami perlakuan pada saringan pasir aktif.
Tabel 4.2 menunjukkan hasil pengukuran konsentrasi Fe sebelum dan sesudah
melewati saringan pasir aktif dengan metode AAS berdasarkan variasi debit.

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Konsentrasi Fe Sebelum dan Sesudah Melewati


Saringan Pasir Aktif

Jam
No.
ke-

Influen
(mg/l)

Debit 15
ml/menit

Debit 30
ml/menit

Debit 60
ml/menit

Efluen
(mg/l)

Efluen
(mg/l)

Efluen
(mg/l)

0,37640

0,18387

0,20504

0,21852

16

0,43993

0,21082

0,18772

0,22815

24

0,46688

0,18387

0,19542

0,26088

40

0,44800

0,21467

0,21082

0,23585

Sumber: Hasil pengukuran (2012)

Baku
Mutu
(mg/l)

0,3

48

Berdasarkan pada Tabel 4.2 diketahui bahwa konsentrasi Fe pada influen


berkisar antara 0,37640 mg/l - 0,46688 mg/l. Nilai ini berada diatas baku mutu
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang
persyaratan kualitas air minum, yaitu sebesar 0,3 mg/l. Rata-rata konsentrasi Fe
pada influen adalah 0,4328 mg/l dengan konsentrasi tertinggi terukur sebesar
0,46688 mg/l dan konsentrasi terendah, yaitu sebesar 0,37640 mg/l.
Nilai konsentrasi Fe pada influen terukur terlihat berfluktuatif. Hal ini
disebabkan karena air baku yang digunakan dalam penelitian adalah air sumur gali
atau air alami yang kualitasnya sangat dipengaruhi oleh cuaca. Pada musim hujan
akan terjadi pengenceran terhadap air sumur sehingga kualitasnya lebih baik
daripada musim kemarau.
Faktor lainnya yang juga mempengaruhi naik turunnya konsentrasi Fe pada
influen adalah karena pada penelitian ini menggunakan proses kontinyu sehingga
dimungkinkan terjadi proses aerasi pada saat pengisian air sumur ke dalam
reservoir serta apabila konsentrasi Fe pada air yang ditambahkan mengandung
konsentrasi yang lebih tinggi dapat menyebabkan akumulasi konsentrasi Fe pada
reservoir.
Dari data hasil pengukuran konsentrasi Fe, jika dibuat grafik maka akan
dapat menunjukkan besarnya konsentrasi Fe dari tiap kolom saringan dengan
variasi debit. Gambar 4.3 hasil pengukuran konsentrasi Fe pada setiap kolom
saringan dibandingkan dengan baku mutu.

49

Gambar 4.3 Hasil Pengukuran Konsentrasi Fe


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

Gambar 4.3 menunjukkan hubungan konsentrasi Fe terhadap waktu


operasi kolom saringan sesudah perlakuan dalam kolom saringan dengan
menggunakan variasi debit. Berdasarkan Gambar 4.3 diketahui bahwa kolom
saringan yang digunakan untuk mengolah air sumur memiliki kemampuan yang
berbeda-beda.
Konsentrasi Fe pada kolom saringan dengan debit 15 ml/menit dari hasil
pengukuran terlihat fluktuatif dengan rata-rata sebesar 0,1983 mg/l, namun
demikian konsentrasi Fe yang dihasilkan setelah perlakuan semua berada dibawah
baku mutu. Berdasarkan Gambar 4.3, kolom saringan ini dapat menurunkan
konsentrasi Fe sampai menghasilkan Fe dengan konsentrasi berkisar antara
0,18387 mg/l - 0,21467 mg//l.
Kinerja kolom saringan dengan debit 30 ml/menit terlihat memiliki pola
yang serupa dengan kolom saringan debit 15 ml/menit, menurut Gambar 4.3

50

diatas. Konsentrasi Fe yang mampu dihasilkan oleh kolom saringan ini berkisar
0,18772 mg/l - 0,21082 mg/l dengan rata-rata konsentrasi sebesar 0,19975 mg/l.
Penurunan konsentrasi Fe tertinggi terjadi pada jam ke-16 kemudian terus
meningkat sampai jam ke-40.
Kolom saringan dengan debit 60 ml/menit menunjukkan kinerja terburuk
dibandingkan dengan dua kolom saringan yang lain. Konsentrasi Fe yang
dihasilkan oleh kolom ini berfluktuatif berkisar antara 0,21852 mg/l - 0,26088
mg/l. Namun demikian nilai yang dihasilkan tersebut masih berada di bawah baku
mutu. Rata-rata konsentrasi Fe yang dihasilkan oleh kolom saringan ini setelah
melewati saringan pasir aktif sebesar 0,23585 mg/l.
Secara keseluruhan berdasarkan Gambar 4.3, terlihat bahwa konsentrasi Fe
pada inlet akan mengalami penurunan setelah melalui setiap kolom saringan.
Setelah mengalami perlakuan dengan menggunakan saringan pasir aktif
konsentrasi Fe mengalami penurunan yang bervariatif berkisar antara 0,18387
mg/l - 0,26088 mg/l sehingga dapat dikatakan bahwa ketiga reaktor dapat
menurunkan konsentrasi Fe sampai di bawah baku mutu yang telah ditetapkan
sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010
tentang persyaratan kualitas air minum, yaitu sebesar 0,3 mg/l.
Pola penurunan konsentrasi Fe yang ditunjukkan pada kolom saringan
dengan debit 15 ml/menit dan 30 ml/menit memiliki pola yang serupa, yakni
terjadi penurunan optimum pada jam ke-24 dan mulai mengalami penurunan
kinerja kolom saringan pada jam berikutnya, ditunjukkan dengan meningkatnya
konsentrasi Fe yang terukur pada jam ke-40. Sedangkan hasil penurunan

51

konsentrasi Fe pada kolom saringan dengan debit 60 ml/menit terbaik terjadi pada
jam ke-0 dan pada jam berikutnya konsentrasi Fe yang terukur semakin
meningkat.
Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa kolom saringan dengan debit
15 ml/menit memiliki kemampuan yang baik dalam menurunkan konsentrasi Fe.
Hal ini dapat disebabkan karena adanya hubungan antara debit aliran dengan
waktu kontak, yakni apabila aliran air yang melewati ruang pori terlalu cepat di
antara permukaan butiran media maka akan menyebabkan berkurangnya waktu
kontak antara permukaan butiran media dengan air yang akan difiltrasi sehingga
proses filtrasi tidak dapat terjadi sempurna (Darmawanti, 2005).
4.2.3 Analisis efisiensi penurunan konsentrasi Fe pada saringan pasir aktif
Pada penelitian ini untuk mengetahui persentase efisiensi penurunan
konsentrasi Fe pada saringan pasir aktif maka dilakukan perhitungan dengan
memasukkan nilai konsentrasi Fe pada Tabel 4.2 ke dalam persamaan (10). Tabel
4.3 merupakan hasil perhitungan persentase efisiensi penurunan konsentrasi Fe
pada saringan pasir aktif.

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Persentase Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe pada


Saringan Pasir Aktif
No.
1
2
3
4

Efluen (mg/l)
Debit 15
%
Debit 30
%
ml/menit penurunan ml/menit penurunan
0
0,37640 0,18387
51,15
0,20504
45,52
16 0,43993 0,21082
52,08
0,18772
57,33
24 0,46688 0,18387
60,62
0,19542
58,14
40 0,44800 0,21467
52,08
0,21082
52,94
Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

Jam Influen
Ke- (mg/l)

Debit 60
ml/menit
0,21852
0,22815
0,26088
0,23585

%
penurunan
41,94
48,14
44,12
47,36

52

Contoh perhitungan:
Co = Konsentrasi Fe awal (influen) : 0,37640 mg/l
C1 = Konsentrasi Fe pada efluen reaktor (efluen) : 0,18387 mg/l
Persentase penurunan (%)

= 51,15%

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa konsentrasi Fe dalam air sumur mengalami


penurunan setelah melalui reaktor saringan pasir aktif. Pada tabel tersebut terlihat
bahwa terdapat kecenderungan semakin pendek waktu kontak dan semakin besar
debit yang berarti semakin banyak air yang disaring dalam waktu yang singkat
mengakibatkan kemampuan saringan untuk menurunkan konsentrasi Fe akan
semakin kecil.
Berdasarkan data dari Tabel 4.3 dapat dibuat grafik yang menggambarkan
efisiensi penurunan konsentrasi Fe untuk setiap variasi debit. Gambar 4.4
merupakan grafik efisiensi penurunan konsentrasi Fe.

Gambar 4.4 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe

53

Sumber: Hasil Perhitungan (2012)


Berdasarkan nilai efisiensi penurunan yang mampu dicapai oleh setiap
kolom saringan seperti pada Gambar 4.4, terlihat bahwa efisiensi penurunan Fe
tertinggi sebesar 60,62% dan terendah sebesar 41,94%. Efisiensi penurunan
tertinggi terjadi pada kolom saringan dengan debit 15 ml/menit pada jam ke-24
dan efisiensi penurunan terendah terjadi pada kolom saringan dengan debit 60
ml/menit pada pengukuran jam ke-0.
Kemampuan tiap-tiap kolom saringan dalam menurunkan konsentrasi Fe
berbeda-beda. Efisiensi rata-rata penurunan konsentrasi Fe pada setiap kolom
saringan setelah penelitian kontinyu selama 40 jam adalah sebesar 53,98% untuk
debit 15 ml/menit, 53,49% untuk debit 30 ml/menit, dan 45,39% untuk debit 60
ml/menit.
Efisiensi penurunan konsentrasi Fe yang dihasilkan oleh kolom saringan
dengan debit 15 ml/menit mengalami peningkatan dari pengukuran pada jam ke-0
hingga jam ke-24. Pada pengukuran jam ke-0 kolom saringan ini mampu
menurunkan konsentrasi Fe hingga 51,15% dan terus meningkat hingga
pengukuran jam ke-24 sebesar 60,62% dan mulai menurun pada pengukuran jam
ke-40 menjadi 52,08%. Pada kolom saringan dengan debit 30 ml/menit juga
memiliki pola yang serupa dengan kolom saringan debit 15 ml/menit. Pada kolom
ini juga terjadi peningkatan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dari 45,52% pada
jam ke-0 menjadi 58,14% pada jam ke-24 dan menurun perlahan pada pengukuran
jam ke-40 menjadi 52,94%.
Peningkatan efisiensi penurunan konsentrasi Fe pada kedua kolom saringan
dengan debit 15 ml/menit dan 30 ml/menit ini dapat disebabkan karena debit

54

aliran yang masuk ke dalam kolom saringan tidak terlalu cepat sehingga media
pasir aktif yang terdapat di dalam kolom saringan dapat mengadsorpsi Fe lebih
optimal.
Pada kolom saringan dengan debit 60 ml/menit menunjukkan hasil yang
paling buruk dibandingkan dengan kedua kolom saringan sebelumnya. Pada hari
pertama, kolom ini hanya dapat menurunkan konsentrasi Fe sebesar 45,04% dan
turun menjadi 42,40% pada hari kedua. Tampak pula pada Gambar 4.4 bahwa
efisiensi penurunan konsentrasi Fe dengan debit 60 ml/menit terlihat fluktuatif.
Hal ini disebabkan karena debit aliran yang terlalu besar pada kolom saringan ini
sehingga menyebabkan media pasir aktif yang berada di dalam kolom saringan
tidak bekerja dengan baik.
Berdasarkan uraian di atas, maka

kolom saringan dengan debit 15

ml/menit memiliki efisiensi terbaik jika dibandingkan dengan kolom saringan


dengan debit 30 ml/menit dan kolom saringan dengan debit 60 ml/menit karena
dapat menurunkan konsentrasi Fe hingga mencapai 60,62%. Berdasarkan hasil
efisiensi penurunan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin kecil debit
maka persentase penurunan konsentrasi Fe semakin meningkat.
Berdasarkan nilai efisiensi yang mampu dicapai oleh tiap-tiap kolom filter
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.4, terlihat bahwa reaktor saringan pasir
aktif mampu menurunkan konsentrasi Fe air sumur. Secara keseluruhan efisiensi
tiap-tiap kolom saringan akan semakin meningkat seiring bertambahnya lama
waktu pengoperasian dan akan menurun secara perlahan apabila media pasir aktif
telah mencapai titik kejenuhan dalam menurunkan konsentrasi Fe pada air sumur.

55

Kinerja saringan pasir aktif dalam penurunan konsentrasi Fe disebabkan


oleh proses aerasi pendahuluan, oksidasi, dan filtrasi. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya bahwa aerasi pendahuluan berguna untuk pengurangan
sifat fisik air. Hal ini disebabkan karena aerasi akan membebaskan gas-gas terlarut
dan dapat menambah jumlah oksigen (Suparmin, 1999). Persamaan reaksi
oksidasi dengan udara (aerasi) adalah sebagai berikut (Davis, 2010):
4Fe(HCO3)2 +O2 + H2O

4Fe(OH)3 + 8CO2

(12)

Proses oksidasi dan filtrasi yang terjadi pada penelitian ini adalah ketika
Fe2+ yang terlarut akan teroksidasi oleh KMnO4 yang mengaktifkan pasir sebagai
media saring menurut persamaan (3). Reaksi yang terjadi pada persamaan tersebut
menghasilkan presipitat Fe(OH)3 yang mengendap pada media filter sehingga
akan mengurangi jumlah Fe yang keluar dari saringan. Terbentuknya presipitat
Fe(OH)3 ini kemudian mengalami proses mechanical straining (proses
penyaringan) dalam kolom saringan sehingga lama-kelamaan saringan pasir aktif
ini akan mengalami kejenuhan yang dapat menyebabkan clogging.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa saringan pasir aktif hanya dapat
menurunkan konsentrasi Fe rata-rata sebesar 50%. Hal ini disebabkan karena
adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja saringan pasir aktif, seperti tidak
adanya kontrol terhadap pH air serta proses aerasi pendahuluan yang kurang
efektif.
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap nilai pH (lampiran 2) diketahui
bahwa pH rata-rata pada influen (sebelum perlakuan) sebesar 6,23. Sedangkan
nilai pH rata-rata pada efluen (setelah perlakuan) dari tiap kolom saringan adalah

56

6,30 untuk kolom saringan dengan debit 15 ml/menit, 6,37 untuk kolom saringan
dengan debit 30 ml/menit dan 6,39 untuk kolom saringan dengan debit 60
ml/menit. Nilai pH seharusnya

sama dengan atau lebih dari 7 pada proses

oksidasi untuk menurunkan konsentrasi Fe dari air sumur (Barlokova dan Ilavsky,
2010). Menurut Joko (2010) bahwa pada pH netral dan adanya oksigen terlarut
yang cukup, maka ion ferro (Fe2+) yang terlarut dapat teroksidasi menjadi ion ferri
(Fe3+) dan selanjutnya membentuk endapan.
Faktor berikutnya adalah karena proses aerasi pendahuluan yang kurang
efektif. Proses aerasi pada dasarnya adalah untuk memberikan oksigen ke dalam
air atau meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air yang kemudian
bertujuan untuk menghilangkan atau menurunkan CO2 yang terlarut dalam air,
dengan cara melepaskan CO2 ke udara, yang kemudian berdampak dengan
meningkatnya pH air. Namun, proses aerasi pendahuluan pada penelitian ini
kurang efektif dikarenakan terdapat faktor-faktor yang kurang diperhatikan,
seperti diameter gelembung udara, tenaga yang diperlukan untuk menginjeksi
udara, tipe distributor udara, dimensi bak aerasi, lama waktu aerasi, dan
komponen-komponen penyebab reaksi kimia (Rakhman, 2001).
Hasil pengujian konsentrasi Fe pada penelitian ini yang hanya mencapai
efisiensi penurunan rata-rata 50% tidak hanya dipengaruhi oleh faktor aerasi tetapi
juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya. Jika dibandingkan dengan hasil
penelitian terdahulu, saringan pasir aktif memiliki efisiensi penurunan rata-rata
hingga 90% untuk menurunkan konsentrasi Fe pada air. Tabel 4.4 akan
menampilkan perbandingan hasil penelitian dengan penelitian terdahulu.

Tabel 4.4 Perbandingan Hasil Penelitian dengan Penelitian Terdahulu


No.
1.

Judul Penelitian
Pengaruh variasi debit terhadap
efisiensi penurunan konsentrasi besi
(Fe) dan mangan (Mn) air sumur
gali dengan menggunakan teknik
saringan pasir aktif

Sampel Uji
1. Air sumur gali
2. Rata-rata Fe
influen 0,43 mg/l
3. pH awal 6,23

Hasil Penelitian
1. % Penurunan Fe:
a. Debit 15 ml/menit = 53,98%
b. Debit 30 ml/menit = 53,49%
c. Debit 60 ml/menit = 45,39%

Referensi
Hasil
Penelitian
(2012)

2. pH akhir 6,35

2.

3.

Penurunan besi (Fe) dalam air


dengan saringan pasir aktif

Penurunan konsentrasi Fe dalam air


dengan teknik saringan pasir aktif

1. Air sumur gali


2. Rata-rata Fe
influen 27,32
mg/l
3. pH awal 6,72

1. % Penurunan Fe = 56,95%

1. Air simulasi
2. Fe influen
konstan 5 mg/l
3. pH awal konstan
7,8

1. % Penurunan Fe = 98,8%

Suparmin
(1999)

2. pH akhir 6,75

Rakhman
(2001)

2. pH akhir 8,24

Sumber: Hasil Penelitian dan Penelitian Terdahulu

57

58

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi


hasil kinerja dari saringan pasir aktif. Dari ketiga hasil penelitian yang telah
dijabarkan didapatkan bahwa penelitian dengan variasi debit dan penelitian yang
dilakukan oleh Suparmin (1999) hanya dapat menurunkan konsentrasi Fe rata-rata
sebesar 76,72% dan 50% sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh
Rakhman (2001) menghasilkan efisiensi penurunan konsentrasi Fe paling tinggi
hingga mencapai 98%. Perbedaan hasil penelitian ini disebabkan karena adanya
faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja saringan pasir aktif seperti air
baku yang digunakan serta kontrol pH air.
Pada penelitian Rakhman (2001) sampel yang digunakan adalah air
simulasi atau air yang diberi konsentrasi Fe buatan sedangkan sampel yang
digunakan pada penelitian ini dan pada penelitian Suparmin (1999) adalah air
yang berasal dari sumur gali. Penggunaan air simulasi dapat memperkecil
gangguan-gangguan yang dapat mempengaruhi kinerja saringan pasir aktif.
Konsentrasi Fe pada air simulasi dibuat konstan berbeda dengan konsentrasi Fe
pada air sumur gali yang dapat berubah-ubah karena faktor cuaca sehingga bisa
terjadi shock loading pada media. Proses oksidasi dengan KMnO4 akan lebih
efektif ketika konsentrasi Fe dalam air adalah konstan, tetapi juga dapat
beroperasi dengan baik ketika konsentrasi Fe diatas 1,5 dan 2,5 mg/l (Anonim,
1999).

59

Faktor berikutnya yang mempengaruhi adalah adanya kontrol pH air pada


penelitian Rakhman (2001). Pada penelitian Rakhman untuk mendapatkan nilai
pH yang konstan adalah dengan menambahkan air kapur (Ca(OH)2) hingga pH
konstan pada nilai 7,8. Sedangkan pada penelitian ini dan pada penelitian
Suparmin (1999) tidak dilakukan kontrol terhadap nilai pH yang menyebabkan
nilai pH tidak optimal sehingga kecepatan reaksi oksidasi berjalan lambat.
Kecepatan reaksi oksidasi dengan udara (aerasi) pada pH rendah adalah relatif
lambat. Pengaruh pH terhadap oksidasi besi dengan aerasi adalah semakin rendah
pH (semakin asam) maka nilai oksidasinya akan semakin kecil (Iwao, 1971 dalam
Said dan Wahjono, 1999).
Faktor penting selain nilai pH dan konsentrasi Fe influen yang perlu
diperhatikan dalam penurunan efisiensi konsentrasi Fe adalah waktu kontak antara
air dengan media penyaring (HRT), ketebalan media, komposisi bahan kimia yang
ada dalam media, konsentrasi KMnO4, serta proses backwashing dan regenerasi
media penyaring (Barlokova dan Ilavsky, 2010). Hal ini juga didukung
berdasarkan hasil analisis statistik penelitian Santoso (2004) bahwa terdapat
pengaruh yang kuat antara konsentrasi Fe influen terhadap lamanya waktu pada
saat konsentrasi Fe efluen sama dengan baku mutu (0,3 mg/l) untuk semua variasi
konsentrasi KMnO4. Penambahan konsentrasi Fe influen pada konsentrasi
KMnO4 yang tetap pada proses kontinyu maka dapat menyebabkan akumulasi
konsentrasi Fe dalam saringan pasir aktif sehingga dapat mengurangi konsentrasi

60

KMnO4 yang menempel pada pasir silika yang pada akhirnya akan habis terpakai
karena adanya batas kapasitas dari pasir silika dalam mengadsorbsi KMnO4
(Santoso, 2004).

4.3 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn pada reaktor Saringan Pasir Aktif


4.3.1 Analisis awal konsentrasi Mn pada air sumur
Penelitian pendahuluan ini dilakukan untuk memperoleh data kualitas air
sumr yang akan digunakan sebagai sampel air pada reaktor saringan pasir aktif.
Hasil pengukuran kualitas air sumur menunjukkan bahwa konsentrasi Mn pada
sumur gali di Jalan Mulyorejo Utara gang III Surabaya-Jawa Timur memiliki
konsentrasi seperti ditunjukkan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Konsentrasi Mn pada air sumur


Hasil Analisis
Baku Mutu
(mg/l)
(mg/l) *
1.
Mn
2,702
0,4
Sumber: Hasil pengukuran (2012), *Anonim (2010)
No

Parameter

Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa air sumur tersebut memiliki


konsentrasi yang tinggi. Mangan meskipun tidak bersifat toksik namun dapat
mengendalikan konsentrasi unsur toksik di perairan, misalnya logam berat. Jika
dibiarkan di udara terbuka dan mendapat cukup oksigen, air dengan konsentrasi
mangan (Mn2+) tinggi (lebih dari 0,01 mg/l) akan membentuk koloid karena

61

terjadinya proses oksidasi Mn2+ menjadi Mn4+. Koloid ini mengalami presipitasi
membentuk warna coklat gelap sehingga air menjadi keruh (Effendi, 2003).
Dampak merugikan lainnya dari tingginya konsentrasi Mn pada air dapat
menyebabkan kerusakan pada sistem penyaluran air dan penurunan kualitas air
yang disebabkan karena Mn yang berada pada air dengan kadar oksigen yang
sedikit dapat mengakibatkan pengecilan penampang pada pipa (Barlokova dan
Ilavsky, 2010). Terkait permasalahan tersebut maka diperlukan pengolahan agar
kualitas air sumur dapat memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan RI
No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, yaitu
sebesar 0,4 mg/l (Anonim, 2010).
4.3.2 Analisis konsentrasi Mn pada saringan pasir aktif
Seperti pada pengukuran konsentrasi Fe, pengukuran konsentrasi Mn juga
dilakukan pada jam ke-0, 16, 24, dan 40. Jumlah titik sampling yang dianalisis
sebanyak 4 titik, yaitu pada titik influen dan pada titik efluen setiap reaktor
saringan pasir aktif dengan debit 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit.
Sampel yang telah diambil dari titik sampling kemudian dianalisis konsentrasi Mn
secara bersamaan setelah 40 jam. Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan
konsentrasi Mn sebelum dan sesudah melewati saringan pasir aktif seperti
ditunjukkan pada Tabel 4.6.

62

Tabel 4.6 Hasil Pengukuran Konsentrasi Mn Sebelum dan Sesudah


Melewati Saringan Pasir Aktif

No.

Jam Influen
ke- (mg/l)

Debit 15
ml/menit

Debit 30 Debit 60
ml/menit ml/menit

Efluen
(mg/l)

Efluen
(mg/l)

Efluen
(mg/l)

2,1203

0,19780

0,25950

0,23099

16

1,9871

0,02850

0,000928

0,1959

24

2,1222

0,000928

0,000928

0,2492

40

1,8834

0,000928

0,000928

0,2199

Baku
Mutu
(mg/l)

0,4

Sumber: Hasil Pengukuran (2012)

Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui bahwa konsentrasi Mn pada influen


fluktuatif dengan nilai yang cukup tinggi dan melebihi baku mutu sebesar 0,4
mg/l. Konsentrasi Mn pada influen tertinggi adalah sebesar 2,1222 mg/l yang
terukur pada jam ke-24 pengoperasian reaktor dan konsentrasi Mn terendah pada
influen yakni 1,8834 mg/l yang terukur pada jam ke-40 pengoperasian reaktor.
Rata-rata konsentrasi Mn pada influen berdasarkan Tabel 4.6 adalah sebesar
2,0282 mg/l.
Dari data yang telah diperoleh, maka data tersebut dapat diplotkan menjadi
sebuah grafik yang menunjukkan besarnya konsentrasi Mn dari setiap reaktor
saringan pasir aktif yang dapat dilihat pada Gambar 4.5.

63

Gambar 4.5 Hasil Pengukuran Konsentrasi Mn


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

Gambar 4.5 menunjukkan hubungan antara konsentrasi Mn terhadap


waktu operasi saringan pasir aktif berdasarkan variasi debit. Gambar tersebut
menunjukkan bahwa saringan pasir aktif dengan variasi debit mampu menurunkan
konsentrasi Mn pada influen. Kemampuan setiap kolom filter dalam menurunkan
konsentrasi Mn adalah berbeda-beda.
Konsentrasi Mn pada influen mampu diturunkan oleh kolom saringan
dengan debit 15 ml/menit hingga menjadi

0,000928 mg/l - 0,02850 mg/l.

Berdasarkan Gambar 4.5 diatas, konsentrasi Mn yang mampu dihasilkan oleh


kolom saringan ini semakin menurun konsentrasinya mengikuti lama waktu
operasi. Diketahui bahwa konsentrasi Mn yang dihasilkan oleh kolom saringan ini

64

masih menunjukkan hasil yang baik hingga pengukuran pada jam ke-40 atau
dapat dikatakan bahwa media pasir aktif belum mengalami kejenuhan.
Penurunan konsentrasi Mn juga terlihat pada kolom saringan dengan debit
30 ml/menit. Konsentrasi Mn yang telah diturunkan berkisar antara 0,000928 mg/l
- 0,25950 mg/l. Dari Gambar 4.5 terlihat kinerja kolom saringan ini memiiki pola
yang mirip dengan kolom saringan dengan debit 15 ml/menit, yaitu masih
menunjukkan hasil yang baik hingga pengukuran pada jam ke-40. Kinerja terbaik
dari kolom saringan ini terjadi pada jam ke-16 dan masih tetap stabil hingga jam
ke-40.
Berdasarkan Gambar 4.5 tampak bahwa kinerja kolom saringan dengan
debit 60 ml/menit menunjukkan hasil terburuk dibandingkan dengan dua kolom
saringan yang menggunakan debit lebih kecil dari 60 ml/menit. Konsentrasi Mn
yang mampu diturunkan oleh kolom saringan ini berkisar antara 0,1959 mg/l 0,2492 mg/l, namun nilai tersebut masih berada dibawah baku mutu yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa setiap kolom saringan
dengan variasi debit mampu menurunkan konsentrasi Mn pada influen hingga
konsentrasinya berada di bawah baku mutu yang telah ditetapkan. Rata-rata
konsentrasi Mn yang dihasilkan setelah melalui saringan pasir aktif adalah
0,05704 mg/l untuk kolom saringan dengan debit 15 ml/menit, 0,06557 mg/l
untuk kolom saringan debit 30 ml/menit, dan 0,2239 mg/l untuk kolom saringan

65

debit 60 ml/menit. Hasil yang ditunjukkan sebelum dan sesudah perlakuan juga
mengalami penurunan yang berarti.
Kemampuan setiap kolom saringan dalam menurunkan konsentrasi Mn
berdasarkan hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh Gambar 4.5 menunjukkan
bahwa kolom saringan dengan debit 15 ml/menit adalah yang terbaik
dibandingkan dengan dua kolom saringan lainnya. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa debit aliran yang semakin kecil akan dapat menghasilkan penurunan
konsentrasi Mn yang semakin kecil pula.
4.3.3 Analisis efisiensi penurunan konsentrasi Mn pada saringan pasir aktif
Berdasarkan hasil pengukuran pada Tabel 4.6 didapatkan pula nilai
efisiensi penurunan konsentrasi Mn dengan memasukkan data ke persamaan (10).
Tabel hasil perhitungan persentase efisiensi penurunan konsentrasi Mn disajikan
pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Persentase Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn pada


Saringan Pasir Aktif
No.
1
2
3
4

Efluen (mg/l)
Debit 15
%
Debit 30
%
Debit 60
%
ml/menit penurunan ml/menit penurunan ml/menit penurunan
0
2,12030 0,19780
90,67
0,25950
87,76
0,23099
89,11
16
1,98710 0,02850
98,57
0,00093
99,95
0,19590
90,14
24
2,12220 0,00093
99,96
0,00093
99,96
0,24920
88,26
40
1,88340 0,00093
99,95
0,00093
99,95
0,21990
88,32
Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

Jam
Ke-

Influen
(mg/l)

66

Contoh perhitungan:
Co = Konsentrasi Mn awal (influen) : 2,12030 mg/l
C1 = Konsentrasi Mn pada efluen reaktor (efluen) : 0,19780 mg/l
Persentase penurunan (%)

= 90,67%

Berdasarkan data dari Tabel 4.7 dapat dibuat grafik yang menggambarkan
efisiensi penurunan konsentrasi Mn untuk setiap variasi debit. Gambar 4.6
merupakan grafik efisiensi penurunan konsentrasi Mn.

Gambar 4.6 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)
Gambar

4.6

menunjukkan

hubungan

antara

efisiensi

penurunan

konsentrasi Mn dengan waktu pengoperasian reaktor. Pada Gambar 4.6 terlihat

67

bahwa dari 3 perlakuan, 2 diantaranya mengalami peningkatan efisiensi


penurunan konsentrasi Mn. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kolom saringan
memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menurunkan konsentrasi Mn.
Kemampuan saringan pasir aktif dalam menurunkan konsentrasi Mn memiliki
pola yang hampir sama dengan Fe, dimana semakin singkat waktu kontak dan
semakin besar debit maka dapat menurunkan kemampuan saringan terhadap
penurunan kadar Mn.
Pada kolom saringan dengan debit 15 ml/menit dan 30 ml/menit
menunjukkan pola yang hampir sama. Pada pengukuran jam ke-0 kolom saringan
dengan debit 15 ml/menit mampu menurunkan konsentrasi Mn sebesar 90,67%
sedangkan pada kolom saringan dengan debit 30 ml/menit mampu menurunkan
konsentrasi Mn hingga 87,76%. Pada pengukuran jam berikutnya, kedua kolom
saringan ini masih menunjukkan kinerja optimalnya, terbukti keduanya dapat
menurunkan konsentrasi Mn hingga mencapai 99,95% hingga pengukuran jam ke40.
Efisiensi penurunan yang dihasilkan oleh kolom saringan dengan debit 60
ml/menit tidak sebaik dua kolom sebelumnya. Berdasarkan Gambar 4.6 diketahui
bahwa kolom saringan ini juga memiliki pola yang berbeda dengan dua kolom
sebelumnya karena pada grafik menunjukkan pola yang menurun pada
pengukuran jam ke-24. Pada jam ke-0 kolom ini mampu menurunkan konsentrasi
Mn cukup baik yakni sebesar 89,11% dan mengingkat pada pengukuran jam ke

68

16 hingga 90,14% namun menurun pada pengukuran jam ke-24 dan jam ke-40
menjadi 88,32%
Kenaikan maupun penurunan efisiensi penurunan konsentrasi ini dapat
bergantung pada kondisi media dan debit aliran. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa kolom saringan dengan debit 15 ml/menit dan 30 ml/menit
memiliki pola yang hampir sama, hal ini karena debit aliran yang mengalir
melalui kolom saringan tidak terlalu cepat sehingga media pasir aktif bekerja
secara efektif dalam menurunkan konsentrasi Mn. Pada kolom saringan debit 60
ml/menit selain karena memiliki aliran yang cukup besar maka dimungkinkan
penurunan itu juga diakibatkan karena ikut luruhnya Mn3+ yang telah teradsorpsi
menuju efluen saringan pasir aktif.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa reaktor saringan pasir aktif dapat
menurunkan konsentrasi Mn pada air sumur. Secara keseluruhan efisiensi setiap
kolom filter akan semakin meningkat seiring lamanya waktu operasi namun, akan
menurun jika media telah mencapai titik jenuh. Rata-rata efisiensi penurunan
konsentrasi yang dihasilkan setelah melalui saringan pasir aktif adalah 97,29%
untuk kolom saringan debit 15 ml/menit, 96,91% untuk kolom saringan 30
ml/menit, dan 88,96% untuk kolom saringan dengan debit 60 ml/menit.
Pada penelitian ini konsentrasi Mn dalam air sumur diketahui lebih tinggi
dibanding dengan konsentrasi Fe, namun metode yang digunakan dalam
menurunkan konsentrasi keduanya adalah sama. Kinerja saringan pasir aktif

69

dalam menurunkan konsentrasi Mn disebabkan juga oleh proses aerasi, oksidasi


dan filtrasi.
Pada proses aerasi terjadi perubahan bentuk Mn yang terlarut menjadi Mn
yang tidak terlarut dalam air, sesuai persamaan berikut (Davis, 2010):
2MnSO4 + 2Ca(HCO3)2 + O2

2MnO2 +2CaSO4 + 2H2O + 4CO2

(13)

GLUMRB (2003) dalam Davis (2010) merekomendasikan waktu tinggal (td) air
dalam kolom saringan minimum adalah 30 menit setelah aerasi. Penelitian ini
menggunakan sistem pengaliran secara kontinyu sehingga waktu tinggal (td) air
dalam kolom disesuaikan dengan waktu kontak (HRT) antara air dengan media.
Waktu kontak (HRT) antara media dengan air yang akan difiltrasi akan
berpengaruh pada hasil efisiensi penurunan. Semakin lama waktu kontak (HRT)
antara media dengan air yang akan difiltrasi maka akan semakin banyak
konsentrasi Mn yang dapat diadsorpsi. Berdasarkan analisis proses kontinyu
diperoleh bahwa HRT paling lama terjadi pada debit 15 ml/menit, yaitu selama 53
menit.
Proses selanjutnya yang terjadi adalah proses oksidasi dan filtrasi, yaitu
ketika Mn2+ yang terlarut akan teroksidasi oleh KMnO4 yang mengaktifkan media
pasir sesuai dengan persamaan (4). Proses oksidasi dan filtrasi ini terjadi pada
kolom media pasir aktif. Media pasir aktif dalam hal ini memiliki fungsi ganda,
yaitu selain sebagai media penyaring untuk menahan endapan mangan juga
berfungsi sebagai oksidator. Penurunan konsentrasi Mn dengan cara oksidasi

70

merupakan salah satu metode untuk mengurangi Mn yang larut dalam air. KMnO4
yang digunakan dalam proses pengaktifan pasir dapat menjadi sebuah katalis
dalam proses oksidasi (Barlokova dan Ilavsky, 2010).
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap konsentrasi Mn setelah melalui
saringan pasir aktif diketahui bahwa rata-rata efisiensi penurunan konsentrasi Mn
adalah sebesar 94%. Hal ini menunjukkan bahwa proses yang berlangsung dalam
kolom filter bekerja dengan baik. Tabel 4.8 merupakan perbandingan hasil
penelitian dengan penelitian terdahulu.

Tabel 4.8 Perbandingan Hasil Penelitian dengan Penelitian Terdahulu


No.
1.

Judul Penelitian

Sampel Uji

1. Air sumur gali


Pengaruh variasi debit terhadap
efisiensi penurunan konsentrasi besi 2. Mn influen 2,03
mg/l
(Fe) dan mangan (Mn) air sumur gali
3. pH awal 6,23
dengan menggunakan teknik
saringan pasir aktif

Hasil Penelitian
1. % Penurunan Mn:
a. Debit 15 ml/menit = 97,29%
b. Debit 30 ml/menit = 96,91%
c. Debit 60 ml/menit = 88,96%

Referensi
Hasil
Penelitian
(2012)

2. pH akhir 6,35
2.

3.

Pengaruh pra-oksidasi dengan


potasium permanganat dalam
efisiensi penurunan Fe dan Mn pada
air permukaan dengan koagulasiflokulasi menggunakan aluminium
sulfat

1. Air permukaan
2. Mn influen 1,1
mg/l
3. pH awal 8,5

1. % Penurunan Mn = 97%

Efektivitas saringan pasir cepat


dalam menurunkan kadar mangan
(Mn) pada air sumur dengan
penambahan kalium permanganat
(KMnO4)

1. Air sumur
2. Mn influen 2,50
mg/l

1. % Penurunan Mn = 97,27%

Zogo dkk.
(2010)

2. pH akhir 8,5

Fauziah
(2011)

Sumber: Hasil Penelitian dan Penelitian Terdahulu


71

72

Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa terdapat faktor-faktor yang


mempengaruhi penurunan konsentrasi Mn dengan saringan pasir aktif. Ketiga
penelitian di atas menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi Mn dengan
menggunakan pasir aktif dapat dicapai hingga diatas 90%. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor seperti penggunaan air baku untuk penelitian dan reagen kimia
yang digunakan untuk proses oksidasi.
Pada ketiga penelitian berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa air baku
yang digunakan selama penelitian berasal dari air alami, seperti air sumur maupun
air permukaan. Air alami diketahui masih mengandung garam-garam atau ion-ion
pengganggu/pengotor yang kemudian dapat mempengaruhi reaksi oksidasi.
Namun dalam hal ini, penurunan konsentrasi Mn dalam saringan pasir aktif lebih
dipengaruhi oleh penggunaan KMnO4. Proses Oksidasi untuk menurunkan
konsentrasi Mn dapat dilakukan dengan menggunakan aerasi, klorin atau dengan
menggunakan KMnO4. Menurut Joko (2012) efisiensi penghilangan besi dan
mangan salah satunya bergantung pada jenis oksidan yang digunakan. Jenis
oksidan yang digunakan sesuai dengan urutan kekuatan daya oksidasi dari yang
terbesar hingga terkecil adalah KMnO4

Khlorin

O2 .

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Roccaro dkk. (2007)


dalam Zogo dkk. (2011) didapatkan bahwa setelah mengalami proses oksidasi
dengan KMnO4 diperoleh efisiensi penurunan sebesar 95% terhadap konsentrasi
Mn pada air sumur. Oksidasi dengan KMnO4 pada pH diatas 6,5 dapat
menurunkan konsentrasi Mn mulai 50% hingga 95%. Hal ini menunjukkan bahwa
potassium permanganat adalah reagen kimia yang baik untuk oksidasi Mn dalam

73

air (Zogo dkk., 2011). Namun nilai pH pada penelitian ini hanya merupakan data
pendukung sehingga tidak ada perlakuan terhadap nilai pH. Berdasarkan
pengukuran nilai pH (Lampiran 2) diketahui bahwa rata-rata nilai pH pada air
sumur setelah melewati saringan pasir aktif berada pada kisaran 6.
Apabila dibandingkan dengan hasil persentase penurunan konsentrasi Fe
maka hasil penurunan konsentrasi Mn memperoleh hasil yang lebih baik, hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan karakteristik atom Mn. Diketahui bahwa
atom Fe dan Mn berada dalam satu periode yakni periode 4 dengan atom Mn
memiliki nomer atom 25 dan atom Fe memiliki nomer atom 26. Menurut tabel
unsur periodik didapatkan bahwa dalam satu periode unsur maka semakin besar
nomor atom maka akan semakin kecil jari-jari atomnya.
Berdasarkan penjelasan di atas maka diketahui bahwa Mn memiliki jarijari atom yang lebih besar dibandingkan Fe. Hal ini menyebabkan kesempatan Mn
tersaring dalam pori-pori media lebih banyak. Sedangkan Fe karena memiliki jarijari atom yang lebih kecil maka kesempatan Fe untuk lolos dari pori media akan
semakin besar sehingga Fe yang dapat teradsorpsi tidak optimal.
Analisis berdasarkan perbedaan karakteristik ini menyebabkan pada proses
penurunan konsentrasi Fe dibutuhkan peningkatan nilai pH hingga 7 agar Fe
dapat teroksidasi maksimal sehingga didapatkan penurunan konsentrasi Fe
maksimal. Sedangkan pada Mn, pengaruh pH tidak begitu berpengaruh
disebabkan karena dengan debit yang cukup besar dengan nilai pH 6 tetap dapat
menghasilkan penurunan konsentrasi Mn secara optimal.

74

4.4 Analisis Data


Analisis data menggunakan analisis deskriptif dilakukan dengan
menggunakan Indeks Canberra dilanjutkan dengan analisis Group Average
Clustering Methods. Hasil akhir berupa dendogram yang menyatakan tingkat
perbedaan pada semua variasi debit.
4.4.1 Analisis data parameter Fe
Data penelitian yang telah didapat kemudian dilakukan analisis deskriptif
untuk mengetahui perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dari berbagai
variasi debit. Analisis deskriptif dengan Indeks Canberra dilakukan dengan
memasukkan data pada Tabel 4.3 ke dalam persamaan (11). Tabel 4.9 merupakan
hasil analisis dengan menggunakan Indeks Canberra.

Tabel 4.9 Hasil Analisis Fe dengan Indeks Canberra


I

II

III

100%

96%

91%

II

4%

100%

92%

III

9%

8%

100%

Sumber: Hasil Perhitungan (2012)


keterangan: I = Debit 15 ml/menit
II = Debit 30 ml/menit

= Tingkat kesamaan
= Tingkat ketidaksamaan

III = Debit 60 ml/menit

Berdasarkan Tabel 4.9 stasiun yang berwarna putih menunjukkan tingkat


kesamaan antar ketiga variasi debit. Debit 30 ml/menit dengan debit 15 ml/menit

75

memiliki kesamaan 96%, debit 60 ml/menit dengan debit 15 ml/menit memiliki


kesamaan sebesar 91% dan debit 60 ml/menit dengan debit 30 ml/menit memiliki
kesamaan sebesar 92%. Sedangkan stasiun yang berwarna biru menunjukkan
tingkat ketidaksamaan antar ketiga variasi debit. Debit 30 ml/menit dengan debit
15 ml/menit memiliki ketidaksamaan sebesar 4%, debit 60 ml/menit dengan debit
15 ml/menit memiliki ketidaksamaan 9% dan debit 60 ml/menit dengan debit 30
ml/menit memiliki ketidaksamaan sebesar 8%. Perhitungan selengkapnya pada
Lampiran 4.
Berdasarkan perhitungan dengan Indeks Canberra maka dapat dibuat
dendogram dengan menggunakan analisis Group Average Clustering Methods
untuk menyatakan tingkat ketidaksamaan pada semua variasi debit. Gambar 4.7
merupakan dendogram yang menggambarkan tingkat ketidaksamaan.

Gambar 4.7 Dendogram Tingkat Ketidaksamaan Variasi Debit Pada Fe


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

Berdasarkan pada Gambar 4.7 diketahui bahwa debit 15 ml/menit dengan


debit 60 ml/menit memiliki ketidaksamaan sebesar 9% sedangkan nilai
ketidaksamaan antar semua variasi debit sebesar 6%. Kisaran nilai ketidaksamaan

76

yang hanya berkisar 6%-9% menunjukkan perbedaan yang relatif rendah, dengan
kata lain perlakuan variasi memiliki pengaruh beda yang rendah atau memiliki
persamaan yang tinggi pada semua variasi debit.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perlakuan variasi
debit tidak memberikan perbedaan terhadap penurunan konsentrasi Fe. Hal
tersebut juga didukung hasil efisiensi penurunan konsentrasi Fe dari berbagai
variasi debit bahwa nilai efisiensi penurunan konsentrasi Fe antar variasi debit
menunjukkan nilai yang tidak berbeda.
4.4.2 Analisis data parameter Mn
Data penelitian yang telah didapat kemudian dilakukan analisis deskriptif
untuk mengetahui perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Mn dari berbagai
variasi debit. Analisis deskriptif dengan Indeks Canberra dilakukan dengan
memasukkan data pada Tabel 4.7 ke dalam persamaan (11). Tabel 4.10
merupakan tabel hasil analisis dengan menggunakan Indeks Canberra.

Tabel 4.10 Hasil Analisis Mn dengan Indeks Canberra


I

II

III

100%

73%

29%

II

27%

100%

24%

III

71%

76%

100%

Sumber: Hasil Perhitungan (2012)


keterangan: I = Debit 15 ml/menit
II = Debit 30 ml/menit
III = Debit 60 ml/menit

= Tingkat kesamaan
= Tingkat ketidaksamaan

77

Berdasarkan Tabel 4.10 stasiun yang berwarna biru menunjukkan tingkat


kesamaan antar ketiga variasi debit. Debit 30 ml/menit dengan debit 15 ml/menit
memiliki kesamaan 73%, debit 60 ml/menit dengan debit 15 ml/menit memiliki
kesamaan sebesar 29% dan debit 60 ml/menit dengan debit 30 ml/menit memiliki
kesamaan sebesar 24%. Sedangkan stasiun yang berwarna putih menunjukkan
tingkat ketidaksamaan antar ketiga variasi debit. Debit 30 ml/menit dengan debit
15 ml/menit memiliki ketidaksamaan sebesar 27%, debit 60 ml/menit dengan
debit 15 ml/menit memiliki ketidaksamaan 71% dan debit 60 ml/menit dengan
debit

30

ml/menit

memiliki

ketidaksamaan

sebesar

76%.

Perhitungan

selengkapnya pada Lampiran 4.


Berdasarkan perhitungan dengan Indeks Canberra maka dapat dibuat
dendogram dengan menggunakan analisis Group Average Clustering Methods
untuk menyatakan tingkat kesamaan pada semua variasi debit. Gambar 4.8
merupakan dendogram yang menggambarkan tingkat kesamaan.

26,5

Gambar 4.8 Dendogram Tingkat Kesamaan Variasi Debit Pada Mn


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

78

Berdasarkan pada Gambar 4.8 diketahui bahwa debit 30 ml/menit dengan


debit 15 ml/menit memiliki kesamaan 73% sedangkan nilai kesamaan antar semua
variasi media sebesar 26,5%. Nilai persamaan 26,5% menunjukkan kesamaan
yang relatif rendah antara debit 60 ml/menit dengan dua variasi debit lainnya atau
memiliki ketidaksamaan yang tinggi, yaitu sebesar 73,5%.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan
variasi debit memberikan perbedaan terhadap efisiensi penurunan konsentrasi Mn.
Hal ini didukung hasil efisiensi penurunan konsentrasi Mn dari berbagai variasi
debit bahwa pada debit 15 ml/menit memberikan hasil terbaik dalam menurunkan
konsentrasi Mn.

79

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Efisiensi penurunan konsentrasi Fe yang dapat dicapai dengan saringan
pasir aktif berdasarkan variasi debit adalah 53,98% untuk debit 15
ml/menit; 53,48% untuk debit 30 ml/menit; dan 45,39% untuk debit 60
ml/menit dan efisiensi penurunan konsentrasi Mn yang dapat dicapai
dengan saringan pasir aktif berdasarkan variasi debit adalah 97,29% untuk
debit 15ml/menit; 96,91% untuk debit 30 ml/menit; dan 88,96% untuk
debit 60 ml/menit.
2. Berdasarkan analisis deskriptif dengan Indeks Canberra dan dilanjutkan
dengan analisis Group Average Clustering Methods diperoleh bahwa
variasi debit tidak memberikan perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi
Fe namun, memberikan perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Mn
dengan debit 15 ml/menit menunjukkan hasil yang terbaik.

79

80

5.2 Saran
Saran dari penelitian ini adalah:
1. Saringan pasir aktif dalam aplikasinya dapat digunakan sebagai salah satu
alternatif pengolahan air sumur terutama dalam penurunan konsentrasi
Mn.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai umur saringan sehingga
dapat diketahui waktu jenuh media.
3. Perlu kontrol terhadap pH air influen mengingat pH air dapat
mempengaruhi kelarutan Fe dan Mn.
4. Perlu dilakukan penyempurnaan pada desain alatnya, seperti menggunakan
sistem backwash dan sistem regenerasi.

81

DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G. dan Santika, S. S., 1984. Metoda Penelitian Air. Usaha Nasional,
Surabaya. 118
Anonim,
1999.
Chapter
6
Water
Treatment,
http://140.194.76.129/publications/eng-manuals/EM_1110-2-503/c-6.pdf.
Diakses tanggal 13 April 2012.
Anonim, 2010. PERMENKES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum, Jakarta.
Anshori, J. A., 2005. Spektrometri Serapan Atom. Materi Ajar Pelatihan
Instrumentasi Analisa Kimia Jurusan Kimia FMIPA Unpad. 6-10.
Barlokova, D dan Ilavsky, J., 2010. Research Paper Removal of Iron and
Manganese From Water Using Filtration By Natural Materials. Poish J. Of
Environ. Stud 19(6). 1117-1122.
Darmawanti, I. C., 2005. Studi Kemampuan Low rate Biofilter terhadap
Perubahan Konsentrasi Ammonia, Nitrit, dan Nitrat Air Kali Surabaya. Tugas
Akhir. Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. 20-22.
Davis, M.L., 2010. Water and Wastewater Engineering. McGraw Hill. 14-5.
Edahwati, L dan Suprihatin, 2012. Kombinasi Proses Aerasi, Adsorpsi, dan
Filtrasi Pada Pengolahan Air Limbah Industri Perikanan. Jurnal Ilmiah
Teknik Lingkungan 1(2). 1-5
Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius, Yogyakarta. 44-166
Fauziah, A., 2011. Efektivitas Saringan Pasir Cepat dalam Menurunkan Kadar
Mangan (Mn) pada Air Sumur dengan Penambahan Kalium Permanganat
(KMnO4). Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera
Utara, Medan. 40-54
Joko, T., 2010. Unit Produksi Dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu,
Yogyakarta. 182-192
Khasanah, E. N., 2009. Adsorpsi Logam Berat. Jurnal Oseana XXXIV(4). 1-7

81

82

Pratama, P., 2010 . Model Alat Pengolahan Fe dan Mn Menggunakan Sistem


Venturi Aerator Dengan Variabel Diameter Pipa Venturi Dan Kemiringan
Irisan Pipa Venturi. Ringkasan Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan,
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya. 1-3
Putra, S., Rantjono, S. dan Ningrum, A. N., 2009. Penggunaan Perunut I-131
Untuk Mempelajari Proses Penyaringan Menggunakan Filter Pasir. Seminar
Nasional V SDM Teknologi Nuklir ISSN 1978-0176. 687-688
Rakhman, F., 2001. Penurunan Kadar Fe Dalam Air Dengan Teknik Saringan
Pasir Aktif. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil
dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. II-9 IV22
Reynold, T. D., 1982. Unit Operation and Process in Environmental Engineering.
Brooks/ Cole Engineering Division, Monterey, California. 284
Said, N.I. dan Wahjono, H.D., 1999. Pembuatan Filter Untuk Menghilangkan Zat
Besi dan Mangan Di Dalam Air. Kelompok Teknologi Pengelolaan Air
Bersih dan limbah Cair. Direktorat Teknologi Lingkungan, Deputi Bidang
Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan BPPT, Jakarta. 1-33
Saifudin, M. R., Widiarto, N. dan Astuti, D., 2004. Efektivitas Kombinasi Filter
Pasir-Zeolit, Pasir-Karbon Aktif dan Zeolit-Karbon Aktif Terhadap
Penurunan Kadar Mangan (Mn) Di Desa Danyung Kecamatan Grogol
Kabupaten Sukoharjo Tahun 2004. Infokes 8(1) Maret September 2004. 19
Santoso, R. P., 2004. Uji Teknik Saringan Pasir Aktif Dalam Penurunan
Kandungan Besi. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik
Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. 3544
Sari, W. K. dan Karnaningroem, N., 2010 . Studi Penurunan Besi (Fe) dan
Mangan (Mn) Dengan Menggunakan Cascade Aerator Dan Rapid Sand Filter
Pada Air Sumur Gali. Ringkasan Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan,
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya. 1-2
Sudarmadji dan Yudhastuti, R., 2005. Pencemaran Logam Berat Di Kali Surabaya
dan Dampaknya Pada Kesehatan Masyarakat. Seminar Nasional Kimia
Lingkungan VII FMIPA UNAIR.

83

Sunarti, 2010. Perbedaan Kadar Besi (Fe) Pada Air Sumur Bor Yang Disaring
Dengan Zeolit dan Karbon Aktif. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Sumatera Utara, Medan. 7-9.
Suparmin, 1999. Penurunan Besi (Fe) Dalam Air Dengan Saringan Pasir Aktif.
Tugas Akhir Program Diploma IV Kesehatan Lingkungan, Jurusan Teknik
Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi
Sepuluh November, Surabaya. II-8 V-8
Triatmodjo, B., 1996. Hidraulika I. Beta Offset, Yogyakarta 134 135
Widowati, W., Sastiono, A., dan Jusuf,R. 2008.Efek Toksik Logam, Pencegahan
dan Penanggulangan Pencemaran. Penerbit Andi, Yogyakarta. 2-5.
Yuanita, L., 2009. Analisis Kuantitatif Besi (Fe), Seng (Zn) dan Mangan (Mn)
Dalam Air Sumur Dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom. Karya
Ilmiah Program Studi Diploma 3 Kimia Analis, Departemen Kimia,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera
Utara, Medan. 7-8.
Zogo, dkk., 2011. Research Paper Influence Of Pre-oxidation With Potassium
Permanganate On The Efficiency Of Iron and Manganese Removal From
Surface Water By Coagulation-Flocculation Using Aluminium Sulphate:
Case Of The Okpara Dam In The Republic Of Benin. Journal of
Environmental Chemistry and Ecotoxicology 3(1) January 2011.

84

LAMPIRAN
Lampiran 1 Jurnal Ilmiah
PENGARUH VARIASI DEBIT TERHADAP EFISIENSI PENURUNAN
KONSENTRASI BESI DAN MANGAN PADA AIR SUMUR GALI
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SARINGAN PASIR AKTIF

Annisa Nurul. F., Trisnadi Widyaleksono. C. P., Nur Indradewi. O.


Program Studi S-1 Ilmu dan Teknologi Lingkungan, Departemen Biologi,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya

ABSTRACT
The aims of this research were to determine the influenced of flowrate variance in
removal of iron (Fe) and manganese (Mn) from groundwater used activated sand
filtration technique. This research used independent variable was variance of
flowrate and dependent variable were removal of Fe and Mn. The three variance
of flowrate which were used in this research were 15 ml/minute, 30 ml/minute,
and 60 ml/minute. The thickness of activated sand was 110 cm for all the three of
flowrate variance and KMnO4 was used for activating the sand media. To analyze
data used desciptive analysis with Canberra Matrix and Group Average
Clustering Methods. The result of this research was the decreasing of flowrate
would eliminated Fe and Mn. Efficiency removal of Fe with the variance of
flowrate 15 ml/minute, 30 ml/minute, and 60 ml/minute respectively were 53.98%;
53.48%; 45.39%. Efficiency removal of Mn with the variance of flowrate 15
ml/minute, 30 ml/minute, and 60 ml/minute respectively were 97.29%; 96.91%;
88.96%. Based on the result of descriptive analysis was flowrate 15 ml/minute
showed the best effect to remove Mn.

Key word: activated sand filtration, flowrate, removal of Fe and Mn

85

PENDAHULUAN
Permasalahan kualitas air tanah yang digunakan masyarakat adalah kurang
memenuhi syarat sebagai air minum. Air tanah biasanya memiliki kandungan besi
(Fe) dan mangan (Mn) yang relatif tinggi. Kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn)
menyebabkan warna air menjadi kuning pada dinding bak serta bercak-bercak
kuning pada pakaian (Pratama, 2010). Oleh karena itu, penggunaan air tanah
sebagai sumber air minum harus memenuhi standar kualitas air minum yang
berlaku.

Menurut

Peraturan

Menteri

Kesehatan

RI

No.

492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, konsentrasi


besi (Fe) maksimum untuk air minum adalah 0,3 mg/lt dan konsentrasi mangan
(Mn) maksimum untuk air minum adalah 0,4 mg/lt (Anonim, 2010).
Salah satu sistem alat pengolah yang dapat digunakan adalah dengan
menggunakan aerator kemudian diteruskan dengan saringan pasir aktif. Hasil
penelitian Rakhman (2001) diketahui bahwa kombinasi yang paling efektif untuk
menurunkan konsentrasi besi (Fe) adalah dengan proses aerasi dan saringan pasir
aktif dengan menggunakan variasi ketinggian saringan. Kombinasi yang dapat
menurunkan Fe paling efektif yaitu pada ketinggian 110 cm, penurunan mencapai
98,8% (dengan didahului proses aerasi). Sedangkan pada penelitian ini, penulis
menggunakan alat pengolahan air minum skala rumah tangga dengan
menggunakan kombinasi proses aerasi dan saringan pasir aktif (pasir silika yang
telah diaktivasi dengan KMnO4) dengan variasi debit, yang bertujuan untuk
mengetahui debit yang paling efektif dalam menurunkan besi (Fe) dan mangan
(Mn).

MATERI DAN METODE


Jalannya penelitian dimulai dari tahap persiapan yakni merakit reaktor
saringan pasir aktif dan membuat media pasir aktif. Pengaktifan media filter dapat
dilakukan dengan mencuci pasir silika berukuran 0,4-0,8 mm dengan air,
kemudian untuk mengaktifkan pasir tersebut, pasir direndam selama 24 jam dalam
larutan KMnO4, kemudian ditiriskan dan dijemur hingga kering. Pasir silika yang
sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam furnace dengan 500o C selama 1

86

jam kemudian di oven dengan suhu 105o C selama 1 jam. Setelah kondisi pasir
sudah tidak panas maka siap dimasukkan ke dalam kolom saringan.
Pasir yang telah aktif dimasukkan ke dalam kolom filter yang telah
disiapkan setinggi 110 cm, yang sebelumnya telah diisi kerikil setinggi 20 cm
yang berfungsi sebagai penyangga agar media pasir aktif tidak lolos ke kran
efluen. Dilakukan pengisian kolom filter hingga tercipta kolom air setinggi 10 cm
di atas permukaan media pasir aktif, kemudian nyalakan aerator lalu setting debit
influen dan efluen sesuai dengan debit yang telah ditetapkan yaitu 15ml/menit.
Gambar 1 merupakan skema reaktor saringan pasir aktif.

Gambar 1 skema reaktor saringan pasir aktif


Mekanisme kontinyu dalam penelitian ini dimulai dari memompa air baku
secara kontinyu dari reservoar ke reaktor kemudian terjadi proses aerasi
pendahuluan dan proses filtrasi. Pengukuran parameter uji yakni suhu dan pH
serta pengaturan debit dilakukan setiap hari di titik influen dan efluen dari setiap
reaktor. Pengukuran debit dilakukan dengan gelas ukur, di mana air ditampung
dalam gelas ukur dan dicatat berapa waktu yang diperlukan untuk memenuhi
volume yang ditentukan. Bukaan kran diatur sampai mendapatkan debit aliran

87

yang sesuai yakni 15 ml/menit, 30 ml/menit, dan 60 ml/menit. Pengambilan


sampel air untuk diperiksa konsentrasi besi (Fe) dan mangan (Mn) yaitu pada
influen dan efluen reaktor, pengambilan sampel dilakukan pada jam ke-0, 16, 24,
dan 40 dan kemudian dilakukan analisis secara bersamaan setelah jam ke-40.
Pengambilan sampel air yakni pada 4 titik, yaitu titik pada influen (pada tempat
reservoir), titik pada efluen reaktor saringan pasir aktif dengan debit aliran 15
ml/menit, titik pada efluen saringan pasir aktif dengan debit aliran 30 ml/menit
dan titik pada efluen reaktor saringan pasir aktif dengan debit aliran 60 ml/menit.
Analisis data berupa analisis efisiensi dan analisis deskriptif. Analisis
efisiensi yaitu analisis untuk menggambarkan efisiensi penurunan konsentrasi Fe
dan Mn pada berbagai variasi debit dengan saringan pasir aktif yang nilainya
dapat diperoleh dari persamaan:
Persentase penurunan (%)
(1)

Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan Indeks Canberra


menggunakan rumus sebagai berikut:
(2)
Setelah dihitung indeks canberra maka dilanjutkan dengan analisis Group
Average Clustering Methods. Hasil akhir berupa dendogram yang menyatakan
tingkat kesamaan atau ketidaksamaan pada semua variasi debit.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1.

Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe pada Reaktor Saringan Pasir Aktif


Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka didapatkan hasil

pengukuran konsentrasi Fe setelah mengalami perlakuan pada saringan pasir aktif.


Efisiensi penurunan konsentrasi Fe pada setiap kolom saringan berdasarkan
variasi debit dapat dilihat pada Gambar 2.

88

Gambar 2 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Fe


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)
Kemampuan setiap kolom saringan dalam menurunkan konsentrasi Fe
berbeda-beda. Efisiensi rata-rata penurunan konsentrasi Fe pada setiap kolom
saringan setelah penelitian kontinyu selama 40 jam adalah sebesar 53,98% untuk
debit 15 ml/menit, 53,49% untuk debit 30 ml/menit, dan 45,39% untuk debit 60
ml/menit.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa saringan pasir aktif hanya dapat
menurunkan konsentrasi Fe rata-rata sebesar 50%. Hal ini disebabkan karena
beberapa faktor seperti tidak adanya kontrol terhadap pH air serta proses aerasi
pendahuluan kurang efektif. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap nilai pH
diketahui bahwa pH rata-rata pada influen (sebelum perlakuan) sebesar 6,23.
Sedangkan nilai pH rata-rata pada efluen (setelah perlakuan) dari setiap kolom
saringan adalah 6,30 untuk kolom saringan dengan debit 15 ml/menit, 6,37 untuk
kolom saringan dengan debit 30 ml/menit dan 6,39 untuk kolom saringan dengan
debit 60 ml/menit. Nilai pH seharusnya sama dengan atau lebih dari 7 pada proses
oksidasi untuk menurunkan konsentrasi Fe dari air sumur (Barlokova dan Ilavsky,
2010). Menurut Joko (2010) bahwa pada pH netral dan adanya oksigen terlarut
yang cukup, maka ion ferro (Fe2+) yang terlarut dapat teroksidasi menjadi ion ferri
(Fe3+) dan selanjutnya membentuk endapan.

89

Faktor penting selain nilai pH dan konsentrasi Fe influen yang perlu


diperhatikan dalam penurunan efisiensi konsentrasi Fe adalah waktu kontak antara
air dengan media penyaring (HRT), ketebalan media, komposisi bahan kimia yang
ada dalam media, konsentrasi KMnO4, serta proses backwashing dan regenerasi
media penyaring (Barlokova dan Ilavsky, 2010).
2.

Analisis Data Parameter Fe


Data penelitian yang telah didapat kemudian dilakukan analisis deskriptif

untuk mengetahui perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dari berbagai


variasi debit. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan Indeks Canberra
dilanjutkan dengan analisis Group Average Clustering Methods.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa variasi debit tidak memberikan
perbedaan terhadap efisiensi penurunan konsentrasi Fe dengan saringan pasir
aktif.
3.

Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn pada Reaktor Saringan Pasir Aktif


Pada penelitian ini untuk mengetahui efisiensi penurunan konsentrasi Mn

berdasarkan

waktu

pengoperasian

reaktor

maka

dibuat

grafik

yang

menggambarkan hubungan tersebut. Efisiensi penurunan konsentrasi Mn pada


tiap-tiap kolom saringan berdasarkan variasi debit dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Efisiensi Penurunan Konsentrasi Mn


Sumber: Hasil Perhitungan (2012)

90

Gambar 3 menunjukkan hubungan antara efisiensi penurunan konsentrasi


Mn dengan waktu pengoperasian reaktor. Pada Gambar 3 terlihat bahwa dari 3
perlakuan, 2 diantaranya mengalami peningkatan efisiensi penurunan konsentrasi
Mn. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kolom saringan memiliki kemampuan
yang berbeda-beda dalam menurunkan konsentrasi Mn. Kemampuan saringan
pasir aktif dalam menurunkan konsentrasi Mn memiliki pola yang hampir sama
dengan Fe, dimana semakin singkat waktu kontak dan semakin besar debit maka
dapat menurunkan kemampuan saringan terhadap penurunan kadar Mn.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa reaktor saringan pasir aktif dapat
menurunkan konsentrasi Mn pada air sumur. Secara keseluruhan efisiensi setiap
kolom filter akan semakin meningkat seiring lamanya waktu operasi, namun akan
menurun jika media telah mencapai titik jenuh. Rata-rata efisiensi penurunan
konsentrasi yang dihasilkan setelah melalui saringan pasir aktif adalah 97,29%
untuk kolom saringan debit 15 ml/menit, 96,91% untuk kolom saringan 30
ml/menit, dan 88,96% untuk kolom saringan dengan debit 60 ml/menit.
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap konsentrasi Mn setelah melalui
saringan pasir aktif diketahui bahwa rata-rata efisiensi penurunan konsentrasi Mn
adalah sebesar 94%. Hal ini menunjukkan bahwa proses yang berlangsung dalam
kolom filter bekerja dengan baik. Menurut Joko (2012) efisiensi penghilangan
besi dan mangan salah satunya bergantung pada jenis oksidan yang digunakan.
Jenis oksidan yang digunakan sesuai dengan urutan kekuatan daya oksidasi dari
yang terbesar hingga terkecil adalah KMnO4

Khlorin

O2. Berdasarkan

penelitian yang telah dilakukan oleh Roccaro dkk. (2007) dalam Zogo dkk. (2011)
didapatkan bahwa setelah mengalami proses oksidasi dengan KMnO4 diperoleh
efisiensi penurunan sebesar 95% terhadap konsentrasi Mn pada air sumur.
Apabila dibandingkan dengan hasil persentase penurunan konsentrasi Fe
maka hasil penurunan konsentrasi Mn memperoleh hasil yang lebih baik, hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan karakteristik atom Mn. Mn memiliki jari-jari
atom yang lebih besar dibandingkan Fe. Hal ini menyebabkan kesempatan Mn
tersaring dalam pori-pori media lebih banyak. Sedangkan Fe karena memiliki jari-

91

jari atom yang lebih kecil maka kesempatan Fe untuk lolos dari pori media akan
semakin besar sehingga Fe yang dapat teradsorpsi tidak optimal.
4.

Analisis Data Parameter Mn


Data penelitian yang telah didapat kemudian dilakukan analisis deskriptif

untuk mengetahui perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Fe dari berbagai


variasi debit. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan Indeks Canberra
dilanjutkan dengan analisis Group Average Clustering Methods.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa perlakuan variasi debit
memberikan perbedaan terhadap efisiensi penurunan konsentrasi Mn. Hal ini
didukung hasil efisiensi penurunan konsentrasi Mn dari berbagai variasi debit
bahwa pada debit 15 ml/menit memberikan hasil terbaik dalam menurunkan
konsentrasi Mn.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Efisiensi penurunan konsentrasi Fe yang dapat dicapai dengan saringan
pasir aktif berdasarkan variasi debit adalah 53,98% untuk debit 15
ml/menit; 53,48% untuk debit 30 ml/menit; dan 45,39% untuk debit 60
ml/menit dan efisiensi penurunan konsentrasi Mn yang dapat dicapai
dengan saringan pasir aktif berdasarkan variasi debit adalah 97,29% untuk
debit 15ml/menit; 96,91% untuk debit 30 ml/menit; dan 88,96% untuk
debit 60 ml/menit.
2. Berdasarkan analisis deskriptif dengan Indeks Canberra dan dilanjutkan
dengan analisis Group Average Clustering Methods diperoleh bahwa
variasi debit tidak memberikan perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi
Fe namun, memberikan perbedaan efisiensi penurunan konsentrasi Mn
dengan debit 15 ml/menit menunjukkan hasil yang terbaik.

92

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. PERMENKES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum, Jakarta.
Barlokova, D dan Ilavsky, J., 2010. Research Paper Removal of Iron and
Manganese From Water Using Filtration By Natural Materials. Poish J. Of
Environ. Stud 19(6). 1117-1122.
Joko, T., 2010. Unit Produksi Dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu,
Yogyakarta. 182-192
Pratama, P., 2010 . Model Alat Pengolahan Fe dan Mn Menggunakan Sistem
Venturi Aerator Dengan Variabel Diameter Pipa Venturi Dan Kemiringan
Irisan Pipa Venturi. Ringkasan Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan,
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya. 1-3
Rakhman, F., 2001. Penurunan Kadar Fe Dalam Air Dengan Teknik Saringan
Pasir Aktif. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil
dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. II-9 IV22
Zogo, dkk., 2011. Research Paper Influence Of Pre-oxidation With Potassium
Permanganate On The Efficiency Of Iron and Manganese Removal From
Surface Water By Coagulation-Flocculation Using Aluminium Sulphate:
Case Of The Okpara Dam In The Republic Of Benin. Journal of
Environmental Chemistry and Ecotoxicology 3(1) January 2011.

93

Lampiran 2 Hasil pengukuran pH sebelum dan sesudah melewati saringan pasir


aktif

No.

1
2
3
4

Sampel
dengan
jangka
Influen
waktu
pengambilan
(Jam Ke-)
0
6,17
16
6,23
24
6,26
40
6,27

Pasir
Aktif

Efluen
Pasir
Aktif

Pasir
Aktif

15
ml/menit

30
ml/menit

60
ml/menit

6,19
6,28
6,28
6,45

6,23
6,31
6,40
6,53

6,12
6,39
6,42
6,65

Lampiran 3 Hasil pengukuran suhu sebelum dan sesudah melewati saringan pasir
aktif

No.

1
2
3
4

Sampel
dengan
jangka
waktu
pengambilan
(Jam Ke-)
0
16
24
40

Infuen
(oC)

Pasir
Aktif

Efluen (o C)
Pasir
Aktif

Pasir
Aktif

15
ml/menit

30
ml/menit

60
ml/menit

28
26
26,5
26

28
25
26
26

28
26
26
26

28
26
27
26

Lampiran 4 Perhitungan Indeks Canberra


1. Parameter besi
Rumus Indeks Canberra:

94

a. Debit 15 ml/menit dengan debit 30 ml/menit

= 0,96 x 100%
= 96%
b. Debit 15 ml/menit dengan debit 60 ml/menit

= 0,91 x 100%
= 91%
c. Debit 30 ml/menit dengan debit 60 ml/menit

= 0,92 x 100%
= 92%

95

2. Parameter mangan
a. Debit 15 ml/menit dengan debit 30 ml/menit

= 0,7325 x 100%
= 73%
b. Debit 15 ml/menit dengan debit 60 ml/menit

= 0, 2975 x 100%
= 29%
c. Debit 30 ml/menit dengan debit 60 ml/menit

= 0,2425 x 100%
= 24%

96

Lampiran 5 Gambar Alat

Gambar Instrumen AAS


Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Aerator
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar pH meter
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Termometer
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Furnace
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Oven
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

97

Lampiran 6 Gambar Persiapan Media

Gambar Pasir silika


Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Perendaman Pasir Silika


Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Pencucian Pasir


Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Pasir Aktif


Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar Kerikil
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)

Gambar glasswool
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2012)