Anda di halaman 1dari 2

Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar

melalui aroma yang dihasilkan. Seseorang mampu dengan mudah mengenali makanan yang
sudah busuk dengan yang masih segar dengan mudah hanya dengan mencium aroma makanan
tersebut. Di dalam hidung kita terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali bau. Indera
penciuman terletak pada rongga hidung. Di dalam rongga hidung terdapat rambutrambut halus
yang berfungsi untuk menyerap kotoran yang masuk melalui sistem pernafasan (respiratory).
Selain itu, terdapat konka nasal superior, intermediet serta inferior. Pada bagian konka nasal
superior terdapat akar sel-sel dan jaringan syaraf penciuman (nervus olfaktorius yang merupakan
syaraf kranial pertama) yang berfungsi untuk mendeteksi bau-bauan yang masuk melalui hirupan
nafas. (Bojog, 2013).
Dalam praktikum ini, kegiatan yang dilakukan adalah menghitung berapakah watu yang
dibutuhkan oleh praktikan untuk ketidak pekaan (kelelahan) pembabau atau yang disebut dengan
Olfactor Fatigue Times (OFT) dan waktu yang dibutuhkan oleh praktikan untuk kesembuhan
pembau atau yang disebut Olfactor Recovery Times (ORT). Dengan sumber bau dari jahe,
bawang putih, bawang merah, kencur dan minyak kayu putih.Dari praktikum yang kami lakukan
mengenai indera pembu yaitu olfactory fatique time (OFT) dan olfactory recovery time (ORT)
dapat diketahui bahwa kemampuan seseorang dalam mencium bau itu berbeda-beda, begitu
pula dengan kemampuan seseorang dalam kehilangan bau yanag di bauiya
Pada uji ini diberikan perlakuan yang sama pada semua mahasiswa coba yaitu dengan
menguji 5 jenis bahan diantaranya bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, dan minyak kayu
putih. Dari data didapatkan hasil dengan masa waktu probandus yang satu dengan yang lain
memiliki perbedaan. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakuakan, denga melakukan
percobaan pada 8 orang mahasiswa coba dapat diketahui bahwa antara bahan yang diiris
dengan yang tidak diiris terdapat perdaan kemampuan dalam membaui bahan tersebut. Bahan
yang diiris cenderung lebih mudah untuk dibaui. Hal ini dikarenakan ketika diiris konsentrasi
aroma dari zat yang dibaui meningkat. Kemampuan membaui aroma dari setiap mahasiswa coba
pun bisa dikatakan baik karena sebagian besar bisa menebak dengan benar aroma yang
diberikan.
Hasil data yang di peroleh menunjukan ke khususan adalah pada mahasiswa coba Angga,
dimana kecepatan OFT dan ORT nya bisa dikatakan paling rendah dibandingkan dengan
mahasiswa coba yang lainnya. Hal ini bejalan saat diukur kemampuan membedakan dan
mencium bau bahan mahasiswa coba ini yang banyak mengalami kesalahan. Secara berurutan
nilai OFT Angga dari tercepat hingga ke terlambat adalah yang pertama pada adalah kencur
yaitu 6,3 detik sedangkan ORTnya adalah 10,7 detik. Selanjutnya adalah jahe dengan nilai OFT
sebesar 7,7 detik dan ORT 13 detik. Selanjutnya adalah bawang merah dengan niali OFT adalah
8,3 sedangkan ORTnya adalah 14,7. Lalu yang keempat adalah bawang putih niali OFT adalah
11,3 sedangkan ORTnya adalah 18,3 dan yang terakhir adalah minyak kayu putih dengan nilai
OFT adalah 17,3 sedangkan ORT adalah 30. Menurut Turkingston et.al (2009), OFT atau
Olfactory Fatigue Times adalah waktu yang diperlukan untuk menerima rangsang bau sampaika
hilangan kemampuan membau.Setiap orang memiliki kemampuan dan waktu yang
berbeda.Sedangkan ORT atau Olfactory Recovery Times adalah waktu yang dibutuhkan untuk
mengembalikan kepekaan membau pada waktu tertentu.OFT terjadi dikarenakan perubahan pada
syaraf olfaktori.Kecepatan tanggap terhadap bau yang khas pada bahan uji pada masing-masing
mahasiswa coba berbeda, ini disebabkan karena terlatihnya dan kebiasaan mahasiswa coba
dalam membaui bahan uji tersebut, selain itu yang mempengaruhi kecepatan respon tersebut
yaitu tingkat konsentrasi masing-masing mahasiswa coba berbeda serta situasi yang kurang

kondusif untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Tidak kondusif disebabkan karena bau-bau
bahan uji yang digunakan sudah menyebar dalam ruangan, sehinga respon dari saraf pembau
sudah mendahului merekam bau tersebut.
Selain itu, Kemampuan membau makhluk hidup tergantung pada
Susunan rongga
hidung., Bentuk concha dan septum nasi tempat reseptor pembau pada masing-masing orang
tidak sama. Contohnya pada orang yang berhidung mancung akan lebih luas daripada yang
berhidung pesek. Variasi fisiologis Contohnya pada wanita, saat sebelum menstruasi atau pada
saat hamil muda akan menjadi sangat peka. Spesies, pada spesies tertentu yang kemampuan
survivalnya tergantung pada pembauan, akan memiliki indera pembau yang lebih peka
contohnya anjing. Besarnya konsentrasi dari substansi yang berbau,misalnya skatol (bau busuk
yang terdapat pada kotoran atau faeces) memiliki konsentrasi yang kuat karena memiliki
kemampuan menguap yang tinggi. Bila konsentrasinya kuat maka baunya busuk, sebaliknya bila
konsentrasinya rendah akan menimbulkan bau yang berbeda (contohnya pada bunga yang
mengandung skatol dalam konsentrasi rendah maka baunya akan harum) (Bojog Medasi,2016)

Simpulan.
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijabarkan diatas, maka simpulan yang dapat
diambil adalah :
1. Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan
sekitar melalui aroma yang dihasilkan
2. Olfactory fatique time (OFT) dan Olfactory recovery time (ORT) menunjukan bahwa
kemampuan seseorang dalam mencium bau itu berbeda-beda, begitu pula dengan
kemampuan seseorang dalam kehilangan bau yanag di bauiya
Daftar Rujukan