Anda di halaman 1dari 39

CASE REPORT

MYOPIA SIMPLEX OCULI DEXTRA SINISTRA

Oleh :
Putri Maulina
1102012217

Preseptor :
dr. Hj. Elfi Hendriati, SpM.

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU MATA


PERIODE 15 AGUSTUS 2016 - 16 SEPTEMBER 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
BAB I
1

STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
No. CM

: 884307

Tanggal

: 29 Agustus 2016

Nama

: Nn. A

Umur / Jenis kelamin : 12 tahun / Perempuan


Alamat

: Tarogong Kidul

Pekerjaan

: Pelajar

ANAMNESA
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 29 Agustus
2016 pukul 10.00 WIB di Poliklinik Mata RSU dr.Slamet Garut
Keluhan Utama

: Penglihatan kedua mata kabur

Anamnesa Khusus

: Pasien datang ke Poliklinik Mata RSU dr. Slamet Garut dengan

keluhan penglihatan kedua mata kabur pada saat melihat jauh yang dirasakan sejak 1 bulan
terakhir. Pasien merasa penglihatannya kurang jelas pada saat melihat tulisan berukuran kecil
namun membaik jika jarak dekat. Pandangan kabur terjadi perlahan dan makin lama makin
kabur, pasien juga mengeluh harus memicingkan mata untuk melihat lebih jelas pada suatu
benda. Pasien mengaku lebih nyaman apabila pasien melihat sesuatu dari jarak dekat. Keluhan
disertai dengan mata mudah berair, serta terdapat pusing dan mudah lelah saat membaca atau
melihat TV.
Keluhan mata merah, gatal dan silau disangkal. Penglihatan berkurang saat senja atau
gelap disangkal. Keluhan melihat pelangi disekitar cahaya lampu disangkal. Keluhan
pandangan seperti ditutupi kabut disangkal. Pasien tidak mempunyai riwayat memakai
kacamata sebelumnya. Riwayat menderita diabetes melitus dan hipertensi disangkal. Riwayat
trauma tumpul dan tajam disangkal. Riwayat minum obat dalam jangka waktu lama disangkal.
Pasien mengaku sering membaca dengan jarak dekat dan sambil tidur dalam jangka waktu
yang lama. .

Anamnesa Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami penglihatan kabur. Riwayat gula
dan hipertensi di keluarga juga disangkal pasien. Tidak ada anggota keluarga pasien yang
menggunakan kacamata maupun mempunyai riwayat sakit mata sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tidak mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. Pasien tidak pernah
menggunakan kacamata sebelumnya. Pasien belum pernah mengalami penyakit pada mata.
Riwayat gula disangkal pasien. Riwayat trauma pada mata sebelumnya disangkal pasien.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang pelajar Sekolah Menengah ke Pertama (SMP). Pasien tinggal
bersama ibu dan adiknya. Ayah pasien bekerja sebagai security bank dan ibu pasien adalah Ibu
Rumah Tangga. Pembiayaan pengobatan pasien menggunakan asuransi kesehatan.
Kesan : Sosial ekonomi cukup
Riwayat Gizi
Nafsu makan pasien kurang baik, pasien susah makan dan tidak menyukai sayuran termasuk
wortel, pasien hanya menyukai daging-dagingan.
Kesan: Gizi cukup
PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 29 Agustus 2016 pukul 10.30 WIB di Poli Mata RSUD Dr.
Slamet Garut.
a) Status Praesens
Keadaan umum

: Sakit ringan

Kesadaran

: Composmentis, GCS=15

Tanda vital

: TD

: 110/80 mmHg

Nadi : 80 x/menit
Pemeriksaan fisik

: Kepala

Suhu : 360C
RR

: 20 x/menit

: Normocephale

Thoraks/Cor : Tidak dilakukan pemeriksaan

Paru

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Abdomen

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas : Tidak ada kelainan


b) Status Oftalmologis
Pemeriksaan Subjektif
Visus
SC
CC
STN
Koreksi
ADD
Posisi Bola Mata
Gerakan bola mata

OD
0,6
1,0
1,0
S 1,00
Ortotropia

OS
0,6 False 1
1,0
1,0
S 1,00
Ortotropia

Versi baik, duksi baik ke


segala arah

Versi baik, duksi baik ke


segala arah

Pemeriksaan Eksternal

Palpebra superior

Palpebra inferior

Silia

Ap. Lakrimalis
Konj. Tarsalis superior

OD

OS

Edema (), hiperemis (-),


ptosis (-), lagopthalmus (-),
simbleparon (-), ektropion (-),
entropion (-)
Edema (), hiperemis (-),
lagopthalmus (-), simbleparon
(-), ektropion (-), entropion(-)
0
0
Tumbuh teratur, madarosis(-),
krusta (-), squama (-)
0
Sekret (-), trikiasis (-)0
Tidak Ada Kelainan

Edema (), hiperemis (-),


ptosis (-), lagopthalmus (-),
simbleparon (-), ektropion (-),
entropion (-)
Edema (), hiperemis (-),
lagopthalmus(-), simbleparon
(-), ektropion
(-), entropion(-)
0
0
Tumbuh teratur, madarosis(-),
krusta (-), squama (-)
0
Sekret (-), trikiasis (-)
Tidak Ada Kelainan

Tenang, Folikel (-), papil (-)

Tenang, Folikel (-), papil (-)

Konj. Tarsalis inferior

Tenang, Folikel (-), papil (-)

Tenang, Folikel (-), papil (-)

COA

Tenang, Injeksi siliaris (-),


injeksi konjungtiva (-)
Jernih, diameter 11 mm,
sikatrik (-)
Dalam, hipopion (-), hifema (-)

Tenang, Injeksi siliaris (-),


injeksi konjungtiva (-)
Jernih, diameter 11 mm,
sikatrik (-)
Dalam, hipopion (-), hifema (-)

Pupil

Bulat, ditengah

Bulat, ditengah

3 mm

3 mm

Konj. Bulbi
Kornea

Diameter pupil
Reflex cahaya

Direct

Indirect

Berwarna coklat, Kripta (+),


koloboma (-)
Jernih, subluksasi lensa (-),
luksasi lensa (-)

Berwarna coklat, Kripta (+),


koloboma (-)
Jernih, subluksasi lensa (-),
luksasi lensa (-)

Iris
Lensa

Pemeriksaan Biomikroskop (Slit Lamp)


OD

OS

Tumbuh teratur, madarosis(-),


krusta (-), squama (-)
Sekret (-), trikiasis (-)

Tumbuh teratur, madarosis(-),


krusta (-), squama (-)
Sekret (-), trikiasis (-)

Konjungtiva superior

Tidak Ada Kelainan,


Folikel (-), papil (-)

Tidak Ada Kelainan,


Folikel (-), papil (-)

Konjungtiva inferior

Tidak Ada Kelainan,


Folikel (-), papil (-)

Tidak Ada Kelainan,


Folikel (-), papil (-)

Jernih, keratitis (-), edema (-)

Jernih, keratitis (-), edema (-)

COA

Dalam

Dalam

Pupil

Bulat, isokor, sentral

Bulat, isokor, sentral

Coklat, kripta jelas, sinekia


anterior (-),sinekia posterior (-)

Coklat, kripta jelas, sinekia


anterior (-),sinekia posterior (-)

Jernih

Jernih

Silia

Kornea

Iris

Lensa

Tonometri Schiotz
Palpasi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Normal perpalpasi

Normal perpalpasi

Pemeriksaan Funduskopi
Funduskopi

OD

OS

Lensa

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Vitreus

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Fundus

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Papil

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

CDR

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

A/V retina sentralis

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Retina

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Macula

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Pemeriksaan Autorefraktometri
OD
OS
PD : 56

SPH
-2.00
-2.50

CYL
-0.75
-0.50

AX
12
178

RESUME
Pasien perempuan berusia 12 tahun datang ke Poliklinik Mata RSU dr. Slamet Garut dengan
keluhan penglihatan kedua mata kabur pada saat melihat jauh yang dirasakan sejak 1 bulan
terakhir. Pasien merasa penglihatannya kurang jelas pada saat melihat tulisan berukuran kecil
namun membaik jika jarak dekat. Pandangan kabur terjadi perlahan dan makin lama makin
kabur, pasien mengeluh harus memicingkan mata untuk melihat lebih jelas pada suatu benda.
Pasien mengaku lebih nyaman apabila pasien melihat sesuatu dari jarak dekat. Keluhan
disertai dengan mata mudah berair, serta terdapat pusing dan mudah lelah saat membaca atau

melihat TV. Pasien mengaku sering membaca dengan jarak dekat dan sambil tidur dalam
jangka waktu yang lama. .
Status Genaralisata : dalam batas normal

Status Oftalmologis :
Oculus Dexter
sc : 0,6
cc : 1,0

Oculus Sinister
VISUS

sc : 0,6 False 1
cc : 1,0

1,0

STN

1,0

S 1,00

Koreksi

S 1,00

DIAGNOSIS BANDING
-

Astigmatisma
Hipermetropia

DIAGNOSIS KERJA
- Miopia Simpleks ODS
RENCANA PEMERIKSAAN
-

Pemeriksaan Funduskopi

RENCANA TERAPI

Medikamentosa
-

Vitamin A Eye Drops (Cendo Augentonic Eye Drops) 3x1 tetes/ hari ODS

Non Medikamentosa
-

Khusus
Kacamata lensa spheris konkaf / negatif sesuai dengan koreksi :
OD S 1.00 D 6/6
OS S 1.00 D 6/6
PD 57/55

Umum

Membaca dengan pencahayaan yang cukup


Mengatur jarak membaca 30 cm
Hindari membaca sambal tidur berbaring dan membaca dalam tempat gelap
Memberi istirahat pada mata 15-20 menit setelah dipakai untuk beraktivitas.
misalnya, melakukan istirahat sejenak pada mata setelah dipakai untuk

memainkan laptop atau membaca


Kacamata harus terus dipakai kecuali saat mandi dan tidur.
Melatih jauh atau bergantian melihat jauh dan dekat secarabergantian dapat
mencegah myopia. .

PROGNOSIS
OD
Ad bonam
Ad bonam

Quo ad vitam
Quo ad fungtionam

OS
Ad bonam
Ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 FISIOLOGI PENGLIHATAN
Pembentukan bayangan di retina memerlukan empat proses :
1. Pembiasan sinar/cahaya. Hal ini berlaku apabila cahaya melalui perantaraan yang berbeda
kepadatannya dengan kepadatan udara, yaitu kornea, humor aqueous , lensa, dan humor
vitreus.
2. Akomodasi lensa, yaitu proses lensa menjadi cembung atau cekung, tergantung pada objek
yang dilihat itu dekat atau jauh.

3. Konstriksi pupil, yaitu pengecilan garis pusat pupil agar cahaya tepat di retina sehingga
penglihatan tidak kabur. Pupil juga mengecil apabila cahaya yang terlalu terang
memasukinya atau melewatinya, dan ini penting untuk melindungi mata dari paparan
cahaya yang tiba-tiba atau terlalu terang.
4. Pemfokusan, yaitu pergerakan kedua bola mata sedemikian rupa sehingga kedua bola mata
terfokus ke arah obyek yang sedang dilihat.
Mata secara optik dapat disamakan dengan sebuah kamera fotografi biasa. Mata
memiliki bagian lensa, sistem diafragma yang dapat berubah-ubah (pupil), dan retina yang
dapat disamakan dengan film. Susunan lensa mata terdiri atas empat pembatas refraksi:
1. Antara permukaan anterior kornea dan udara
2. Antara permukaan posterior kornea dan udara
3. Antara humor aqueous dan permukaan anterior lensa kristalinaa
4. Antara permukaan posterior lensa dan humor vitreous
Masing-masing memiliki indek bias yang berbeda-beda, indek bias udara adalah 1, kornea
1.38, humor aqueous 1.33, lensa kristalinaa (rata-rata) 1.40, dan humor vitreous 1.34. 3

Gambar 2.1 Indeks Bias


Bila semua permukaan refraksi mata dijumlahkan secara aljabar dan bayangan sebagai
sebuah lensa. Susunan optik mata normal akan terlihat sederhana dan skemanya sering disebut
sebagai reduced eye. Skema ini sangat berguna untuk perhitungan sederhana. Pada reduced

eye dibayangkan hanya terdapat satu lensa dengan titik pusat 17 mm di depan retina, dan
mempunyai daya bias total 59 dioptri pada saat mata melihat jauh. Daya bias mata bukan
dihasilkan oleh lensa kristalinaa melainkan oleh permukaan anterior kornea. Alasan utama
dari pemikiran ini adalah karena indeks bias kornea jauh berbeda dari indeks bias udara.
Sebaliknya, lensa kristalinaa dalam mata, yang secara normal bersinggungan dengan cairan
disetiap permukaannya, memiliki daya bias total hanya 20 dioptri, yaitu kira-kira sepertiga
dari daya bias total susunan lensa mata. Bila lensa ini diambil dari mata dan kemudian
lingkungannya adalah udara, maka daya biasnya akan menjadi 6 kali lipat. Sebab dari
perbedaan ini ialah karena cairan yang mengelilingi lensa mempunyai indeks bias yang tidak
jauh berbeda dari indeks bias lensa. Namun lensa kristalinaa adalah penting karena lengkung
permukaannya dapat mencembung sehingga memungkinkan terjadinya akomodasi. 3
Pembentukan bayangan di retina sama seperti pembentukan bayangan oleh lensa kaca
pada secarik kertas. Susunan lensa mata juga dapat membentuk bayangan di retina. Bayangan
ini terbalik dari benda aslinya, namun demikian presepsi otak terhadap benda tetap dalam
keadaan tegak, tidak terbalik seperti bayangan yang terjadi di retina, karena otak sudah dilatih
menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal. 3

2.2 KELAINAN REFRAKSI


Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada retina.
Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik mata sehingga menghasilkan
bayangan yang kabur. Pada mata normal kornea dan lensa mebelokkan sinar pada titik fokus
yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa yang sesuai
dengan panjangnya bola mata. Pada orang normal daya bias media penglihatan dan
panjangnya bola mata seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refraksi
dibiaskan tepat di daerah makula lutea.1
Secara keseluruhan status refraksi dipengaruhi oleh :
1. Kekuatan kornea (rata-rata 43 D)
2. Kekuatan lensa (rata-rata 21 D)
3. Panjang aksial (rata-rata 24 cm)

Dikenal beberapa titik didalam bidang refraksi, seperti Punctum Proksimum


merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Puctum
Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Titik ini
merupakan titik didalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata
istirahat.1
Emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan
berfungsi normal. Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang
tidak seimbang.1
Terdapat beberapa kelainan refraksi antara lain miopia, hipermetropia, presbiopia, dan
astigmat.2
2.3 MIOPIA
2.2.1 Definisi
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata
tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina. Dalam keadaan ini objek yang
jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada badan
kaca, ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-sinar ini menjadi divergen,membentuk
lingkaran yang difus dengan akibat bayangan yang kabur.1,2
Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar
masuk ke bola mata tanpa akomodasi akan dibiaskan di depan retina. Sehingga untuk
meletakkan bayangan di retina maka titik terjauh harus lebih dekat ke bola mata dibandingkan
dengan orang normal. Untuk mengoreksinya dengan lensa sferis negatif terkecil.4

Gambar 2.2 Miopia


Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan
juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan mengernyitkan
matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil).
Pasien miopia mempunyai punctum remotum (titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat
sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap,
maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esotropia.2
Pada miopia, titik fokus sistem optik media penglihatan terletak di depan makula lutea.
Hal ini dapat disebabkan :

Sistem optik (pembiasan) terlalu kuat

Miopia refraktif atau bola mata yang terlalu panjang

Miopia aksial atau sumbu.1


Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat, sedangkan melihat
jauh kabur atau pasien adalah rabun jauh. 1
2.2 Tipe Miopia

Dikenal beberapa tipe dari miopia :


Miopia aksial
Panjang aksial bola mata lebih panjang dari normal, walaupun kornea dan kurvatura
lensa normal dan lensa dalam posisi anatominya normal. Miopia dalam bentuk ini dijumpai
pada proptosis sebagai hasil dari tidak normalnya besar segmen anterior, peripapillary myopic
crescent dan exaggerated cincin scleral, dan staphyloma posterior.
Miopia refraktif
Mata memiliki panjang aksial bola mata normal, tetapi kekuatan refraksi mata lebih
besar dari normal Hal ini dapat terjadi pada :
Miopia kurvatura
Mata memiliki panjang aksial bola mata normal, tetapi kelengkungan dari
kornea lebih curam dari rata-rata, misal : pembawaan sejak lahir atau keratokonus,
atau kelengkungan lensa bertambah seperti pada hyperglikemia sedang ataupun berat,
yang menyebabkan lensa membesar.
Miopia karena peningkatan indeks refraksi
Peningkatan indeks refraksi daripada lensa berhubungan dengan permulaan
dini atau moderate dari katarak nuklear sklerotik. Merupakan penyebab umum
terjadinya miopia pada usia tua. Perubahan kekerasan lensa meningkatkan index
refraksi, dengan demikian membuat mata menjadi miopik.
Miopia karena pergerakan anterior dari lensa
Pergerakan lensa ke anterior sering terlihat setelah operasi glaukoma dan akan
meningkatkan miopik pada mata.5
Menurut derajat beratnya, miopia dibagi dalam :
1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 D
2. Miopia sedang, dimana miopia kecil daripada 3-6 D
3. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 D5
Menurut perjalanannya, miopia dikenal denan bentuk :
a. Miopia stasioner, miopia yang menetap

b. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah
panjangnya bola mata
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina
dan kebutaan. Miopia maligna biasanya bila mopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan
pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum
yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.5
Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli
sepertimiopik kresen yaitu bercak atrofi koroid yang berbentuk bulan sabit pada bagian
temporal yang berwarna putih keabu-abuan kadang-kadang bercak atrofi ini mengelilingi
papil yang disebut annular patch. Dijumpai degenerasi dari retina berupa kelompok pigmen
yang tidak merata menyerupai kulit harimau yang disebut fundus tigroid, degenerasi makula,
degenerasi retina bagian perifer (degenerasi latis).2,3
Degenerasi latis adalah degenerasi vitroretina herediter yang paling sering dijumpai,
berupa penipisan retina berbentuk bundar, oval atau linear, disertai pigmentasi, garis putih
bercabang-cabang dan bintik kuning keputihan. Degenerasi latis lebih sering dijumpai pada
mata miopia dan sering disertai ablasio retina, yang terjadi hampir 1/3 pasien dengan ablasio
retina.2,3

Gambar 2.3 Degenerasi Latis


Menurut American Optometric Association (2006), miopia secara klinis dapat terbagi
lima yaitu:

1. Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu
panjang atau indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu tinggi.
2. Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling kurang
cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap
pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang
membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga
menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia.
3. Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme
akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot otot siliar yang memegang lensa
kristalina. Di Indonesia, disebut dengan miopia palsu, karena memang sifat miopia ini
hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus
ini, tidak boleh buru buru memberikan lensa koreksi.
4. Miopia Degeneretif : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau
miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya
juga di bawah normal meskipun telah mendapat koreksi. Miopia jenis ini bertambah
buruk dari waktu ke waktu.
5. Miopia Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat obatan, naik
turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan sebagainya.4
Klasifikasi miopia berdasarkan umur adalah:
1.
2.
3.
4.

Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.


Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 tahun.
Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).1

2.3 Etiologi Miopia


Anak membaca terlalu dekat
Bila anak membaca terlalu dekat, maka ia harus berkonvergensi berlebihan. M rektus
internus berkontraksi berlebihan, bola mata terjepit oleh otot-otot mata luar sehingga
polus posterior mata, yang merupakan tempat terlemah dari bola mata memanjang.
Wajah yang lebar
Menyebabkan terjadinya konvergensi yang berlebihan bila hendak melakukan
pekerjaan dekat sehingga mengakibatkan hal yang sama seperti di atas.

Pada dasarnya miopia terjadi oleh karena pertambahan panjang aksis bola mata
tanpa diikuti oleh perubahan pada komponen refraksi yang lain. Begitu juga perubahan
kekuatan refraksi kornea, lensa dan aquos humor akan menimbulkan miopia bila tidak
dikompensasi oleh perubahan panjang aksis bola mata.
Beberapa hal yang dikaitkan atau diperkirakan sebagai etiologi miopia adalah :
1. Herediter
2. Penyakit sistemik / mata tertentu
3. Kelainan endokrin
4. Malnutrisi, defisiensi vitamin dan mineral tertentu
5. Penyakit mata
6. Gangguan pertumbuhan
7. Aktivitas/ membaca dekat yang berlebihan
8. Pemakaian kaca mata yang tidak sesuai
9. Sikap tubuh yang tidak sesuai6
2.4 Patogenesis7
Miopia dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang relatif panjang dan disebut
sebagai miopia aksial. Dapat juga karena indeks bias media refraktif yang tinggi atau akibat
indeks refraksi kornea dan lensa yang terlalu kuat. Dalam hal ini disebut sebagai miopia
refraktif (Curtin, 2002).
Miopia degeneratif atau miopia maligna biasanya apabila miopia lebih dari - 6
dioptri(D) disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai
terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi
korioretina. Atrofi retina terjadi kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang
terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya
neovaskularisasi subretina. Pada miopia dapat terjadi bercak Fuch berupa hiperplasi pigmen
epitel dan perdarahan atropi lapis sensoris retina luar dan dewasa akan terjadi degenerasi papil
saraf optik (Sidarta, 2007).
Terjadinya perpanjangan sumbu yang berlebihan pada miopia patologi masih belum
diketahui. Sama halnya terhadap hubungan antara elongasia dan komplikasi penyakit ini,
seperti degenerasi chorioretina, ablasio retina dan glaukoma. Columbre melakukan penelitian
tentang penilaian perkembangan mata anak ayam yang di dalam pertumbuhan normalnya,
tekanan intraokular meluas ke rongga mata dimana sklera berfungsi sebagai penahannya. Jika

kekuatan yang berlawanan ini merupakan penentu pertumbuhan okular postnatal pada mata
manusia, dan tidak ada bukti yang menentangnya maka dapat pula disimpulkan dua
mekanisme patogenesis terhadap elongasi berlebihan pada miopia.
Abnormalitas

mesodermal

sklera

secara

kualitas

maupun

kuantitas

dapat

mengakibatkan elongasi sumbu mata. Percobaan Columbre dapat membuktikan hal ini,
dimana pembuangan sebagian masenkim sklera dari perkembangan ayam menyebabkan
ektasia daerah ini, karena perubahan tekanan dinding okular. Dalam keadaan normal sklera
posterior merupakan jaringan terakhir yang berkembang. Keterlambatan pertumbuhan
strategis ini menyebabkan kongenital ektasia pada area ini.
Sklera normal terdiri dari pita luas padat dari kumpulan serat kolagen, hal ini
terintegrasi baik, terjalin bebas, ukuran bervariasi tergantung pada lokasinya. Kumpulan serat
terkecil terlihat menuju sklera bagian dalam dan pada zona ora ekuatorial. Bidang sklera
anterior merupakan area potong lintang yang kurang dapat diperluas perunitnya dari pada
bidang lain. Pada test bidang ini ditekan sampai 7,5 g/mm2.
Tekanan intraokular equivalen 100 mmHg, pada batas terendah dari stress ekstensi
pada sklera posterior ditemukan empat kali daripada bidang anterior dan equator. Pada batas
lebih tinggi sklera posterior kira-kira dua kali lebih diperluas.Perbedaan tekanan diantara
bidang sklera normal tampak berhubungan dengan hilangnya luasnya serat sudut jala yang
terlihat pada sklera posterior. Struktur serat kolagen abnormal terlihat pada kulit pasien
dengan Ehlers-Danlos yang merupakan penyakit kalogen sistematik yang berhubungan
dengan miopia.
Vogt awalnya memperluas konsep bahwa miopia adalah hasil ketidakharmonian
pertumbuhan jaringan mata dimana pertumbuhan retina yang berlebihan dengan bersamaan
ketinggian perkembangan baik koroid maupun sklera menghasilkan peregangan pasif
jaringan. Meski alasan Vogt pada umumnya tidak dapat diterima, telah diteliti ulang dalam
hubungannya dengan miopia bahwa pertumbuhan koroid dan pembentukan sklera dibawah
pengaruh epitel pigmen retina. Pandangan baru ini menyatakan bahwa epitel pigmen
abnormal menginduksi pembentukan koroid dan sklera subnormal. Hal ini yang mungkin
menimbulkan defek ektodermalmesodermal umum pada segmen posterior terutama zona
oraekuatorial atau satu yang terlokalisir pada daerah tertentu dari posterior mata, dimana dapat
dilihat pada miopia patologis (tipe stafiloma posterior).

Meningkatnya suatu kekuatan yang luas terhadap tekanan intraokular basal. Contoh
klasik miopia skunder terhadap peningkatan tekanan basal terlihat pada glaukoma juvenil
dimana bahwa peningkatan tekanan berperan besar pada peningkatan pemanjangan sumbu
bola mata (Sativa, 2003).
Secara anatomidan fisiologi, sklera memberikan berbagai respons terhadap induksi
deformasi. Secara konstan sklera mengalami perubahan pada stres. Kedipan kelopak mata
yang sederhana dapat meningkatkan tekanan intraokular 10 mmHg, sama juga seperti
konvergensi kuat dan pandangan ke lateral. Pada valsava manuver dapat meningkatkan
tekanan intraokular 60 mmHg. Juga pada penutupan paksa kelopak mata meningkat sampai
70-110 mmHg. Gosokan paksa pada mata merupakan kebiasaan jelek yang sangat sering
diantara mata miopia, sehingga dapat meningkatkan tekanan intraokular (Sativa, 2003).
Untuk melihat sesuatu objek dengan jelas, mata perlu berakomodasi. Akomodasi
berlaku apabila kita melihat objek dalam jarak jauh atau terlalu dekat. Menurut Dr. Hemlholtz,
otot siliari mata melakukan akomodasi mata. Teori Helmholtz mengatakan akomodasi adalah
akibat daripada ekspansi dan kontraksi lensa, hasil daripada kontraksi otot siliari. Teori
Helmholtz merupakan teori yang sekarang sering digunakan oleh dokter.
Menurut Dr. Bates, dua otot oblik mata yang melakukan akomodasi mata dengan
mengkompresi bola mata di tengah hingga memanjangkan mata secara melintang. Dr. Bates
telah melakukan eksperimen pada kelinci, Dr. Bates memotong dua otot oblik dan mendapati
mata kelinci tersebut tidak bisa berakomodasi. Dr. Bates juga menginjeksi obat paralisis pada
otot oblik kelinci, mata tidak dapat berakomodasi. Apabila obat disingkirkan daripada otot
oblik, mata kelinci dapat berakomodasi kembali.
Akibat daripada kelelahan mata menyebabkan kelelahan pada otot mata. Otot mata
berhubungan dengan bola mata hingga menyebabkan bentuk mata menjadi tidak
normal.Kejadian ini adalah akibat akomodasi yang tidak efektif hasil dari otot mata yang
lemah dan tidak stabil. Pada mata miopia, bola mata terfiksasi pada posisi memanjang
menyulitkan untuk melihat objek jauh (Dave, 2005).
2.5 Patofisisiologi
Miopia disebabkan karena pembiasan sinar di dalam mata yang terlalu kuat untuk panjangnya
bola mata akibat:

Sumbu aksial mata lebih panjang dari normal (diameter antero-posterior yang lebih
panjang, bola mata yang lebih panjang ) disebut sebagai miopia aksial.

Kurvatura kornea atau lensa lebih kuat dari normal (kornea terlalu cembung atau lensa
mempunyai kecembungan yang lebih kuat) disebut miopia kurvatura/refraktif.

Indeks bias mata lebih tinggi dari normal, misalnya pada diabetes mellitus. Kondisi Ini
Disebut Miopia Indeks

Miopi Karena perubahan posisi lensa Posisi lensa lebih ke anterior, misalnya pasca operasi
glaukoma.

2.6 Penglihatan Pada Miopia

Gambar 2.4 Titik Fokus Miopia


Miopia adalah kondisi di mana sinar - sinar sejajar yang masuk ke bolamata titik
fokusnya jatuh di depan retina. Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata
dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias membentuk bayangan di depan retina.4
2.7 Faktor Resiko

Gambar 2.5 Faktor Resiko


2.8. Gejala Klinis2,8

Gambar 2.6 Snellen-Miopia


Gejala subjektif miopia antara lain:
a

Kabur bila melihat jauh

Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat

Lekas lelah bila membaca (karena konvergensi yang tidak sesuai dengan akomodasi)

Astenovergens
Gejala objektif miopia antara lain:
1. Miopia Simpleks :

Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar. Kadangkadang ditemukan bola mata yang agak menonjol

Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai kresen
miopia (myopic cresent) yang ringan di sekitar papil saraf optik.

Gambar 2.7 Myopic cresent


2. Miopia patologik :
1

Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks


Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada

Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau degenerasi yang terlihat
sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang
ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan miopia

Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil terlihat lebih pucat yang
meluas terutama ke bagian temporal. Kresen miopia dapat ke seluruh lingkaran papil sehingga
seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur

Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan perdarahan subretina


pada daerah makula.

Retina bagian perifer : berupa degenersi kista retina bagian perifer

Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina. Akibat
penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid.

Gambar 2.8 Fundus Tigroid


Kesalahan pada saat pemeriksaan refraksi biasa mendominasi gejala klinik yang
terjadi pada miopia tinggi. Hilangnya penglihatan secara tiba-tiba mungkin disebabkan karena
perdarahan makular pada bagian fovea dimana membrana Bruch mengalami dekompensasi.
Kehilangan penglihatan secara bertahap dan metamorpopsia terjadi oleh karena rusaknya
membrana Bruch.
Dikatakan miopia tinggi apabila melebihi -8.00 dioptri dan dapat labih tinggi lagi
hingga mencapai -35.00 dioptri. Tingginya dioptri pada miopia ini berhubungan dengan
panjangnya aksial miopia, suatu kondisi dimana belakang mata lebih panjang daripada
normal, sehingga membuat mata memiliki pandangan yang sangat dekat. (Patchul,2012)
Menurut Albert E. Sloane dalam buku Manual of Refraction, bahwa gejala myopia
adalah sebagai berikut :
a Gejala tunggal paling penting myopia adalah penglihatan jauh yang buram.
b Sakit kepala jarang dialami meskipun ditunjukkan bahwa koreksi kesalahan myopia yang
c

rendah membantu mengurangi sakit kepala akibat asthenopia (mata cepat lelah).
Ada kecenderungan pasien untuk memicingkan mata jika ia ingin melihat jauh, efek
pinhole dari celah palpebra membuat ia melihat lebih jelas.

d Penderita rabun jauh biasanya suka membaca karena mudah bagi mereka sebagai
spekulasi yang menarik.
Menurut Prof. Dr. Sidharta Ilyas dalam bukunya Kelainan Refraksi dan Kacamata,
bahwa gejala myopia adalah bahwa penderita myopia yang dikatakan sebagai rabun jauh
akan mengatakan penglihatannya kabur juka melihat jauh dan hanya akan jelas jika pada jarak
dekat.
Gejala myopia secara umum :
Pada saat membaca selalu mendekatkan benda yang dilihatnya dan saat melihat jauh

selalu menyipitkan matanya.


Saat dilakukan test dengan uji bikromatik unit pasien akan melihat obyek dengan warna

dasar merah lebih terang.


Bola mata agak menonjol
Biasanya penderita akan melihat titik-titik hitam atau benang-benang hitam (disebut

floter) di lapang pandangnya .


Mata cepat lelah, berair, pusing, cepat mengantuk, atau biasanya disebut dengan

asthenopia (mata cepat lelah).


COA ( Camera oculi anterior ) dalam, karena jarang dipakainya otot-otot akomodasi.
Pupil relatif lebih lebar akibat kurangnya akomodasi ( medriasis ).
Corpus vitreum cenderung keruh.
Kekeruhan di polus posterior lensa.
Menjulingkan mata.
Stafiloma posterior fundus tigroid di polus posterior retina
Pendarahan pada corpus vitreum.
Predisposisi untuk ablasi retina.
Atropi berupa kresen myopia.
Ekspresi melotot.

2.9. Diagnosis dan Diagnosis Banding


Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat malahan melihat
terlalu dekat, sedangkan melihat jauh kabur atau disebut pasien adalah rabun jauh. Pasien
dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah
kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan memicingkan matanya untuk
mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek lubang kecil.1

Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam
atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila
kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esoptropia.
Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat
pada polus posterior fundus mata miopia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat
tidak tertutupnya sklera oleh koroid. Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat pula
kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula dan degenerasi retina bagian perifer.1
Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata secara umum atau
standar pemeriksaan mata, terdiri dari :
1. Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh (Snellen) dan jarak dekat
(Jaeger).
2. Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam pemakaian kaca
mata.
3. Uji penglihatan terhadap warna, uji ini untuk membuktikan kemungkinan ada atau
4.
5.
6.
7.

tidaknya kebutaan.
Uji gerakan otot-otot mata.
Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina.
Mengukur tekanan cairan di dalam mata.
Pemeriksaan retina.1

Pemeriksaan Penunjang2,9,10
Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada mata,
pemeriksaan tersebut adalah :

1. Pemeriksaan pin hole


Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnyatajam
penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan padamedia penglihatan,
atau kelainan retina lainnya. Setelah pin hole, ketajaman penglihatan :
Bertambah, terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik.
Berkurang, kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang menggangu
penglihatan
2. Uji refraksi Subjektif ( Optotipe dari Snellen & Trial lens)

Metode

yang

digunakan

adalah

dengan

Metoda

trial

and

errorJarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu Snellenyang


diletakkan setinggi mata penderita, Mata diperiksa satu persatudibiasakan mata kanan
terlebih dahulu.
Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata. Bila visus tidak 6/6
dikoreksi dengan lensa sferis positif, bila dengan lensa sferis positif tajam penglihatan
membaik atau mencapai 5/5,6/6, atau 20/20 maka pasien dikatakan menderita
hipermetropia, apabila dengan pemberian lensa sferis positif menambah kabur
penglihatan kemudian diganti dengan lensa sferisnegatif memberikan tajam
penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien menderita miopia.
Bila setelah pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam penglihatan
maksimal mungkin pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat. Pada keadaan ini
lakukan uji pengaburan (fogging technique)
3. Objektif Autorefraktometer
Yaitu

menentukan

myopia

atau

besarnya

kelainan

refraksi

denganmenggunakan komputer. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya


dihasilkan oleh alat danrespon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa
besar kelainan refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanyamemerlukan
waktu beberapa detik.
4. Keratometri
Adalah pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radiuskelengkungan
kornea.
5. Uji pengaburan
Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, makatajam penglihatannya
dikaburkan dengan lensa positif, sehinggatajam penglihatan berkurang 2 baris pada
kartu Snellen, misalnya denganmenambah lensa spheris positif. Pasien diminta melihat
kisi-kisi juring astigmat, dan ditanyakan garis manayang paling jelas terlihat. Bila
garis juring pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu lensa
silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180.
Perlahan-lahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampaigaris juring
kisi-kisi astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnyadengan juring horizontal atau

semua juring sama jelasnya bila dilihatdengan lensa silinder ditentukan yang
ditambahkan.
Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan-lahan
ditaruhlensa negatif sampai pasien melihat jelas
6. Keratoskop
Keratoskop

atau

Placido

disk

digunakan

untuk

pemeriksaan

astigmatisme.Pemeriksa memerhatikan imej ring pada kornea pasien. Pada


astigmatismeregular, ring tersebut berbentuk oval. Pada astigmatisme irregular,
imejtersebut tidak terbentuk sempurna

1. Refraksi Subjektif
Diagnosis miopia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan rekraksi subjektif, metode
yang digunakan adalah dengan metode trial and error. Jarak pemeriksaan 6 meter
dengan menggunakan kartu Snellen.
2. Refraksi Objektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2.00 D pemeriksa
mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan
retinoskop (against movement).
3. Autorefraktometer
Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan
komputer.
Diagnosis Banding
a. Hipermetropia
Gangguan atau cacat mata yang tidak dapat melihat dekat. Hal ini disebabkan
mata penderita terlalu cekung. Penderita biasanya adalah orang yang terlalu sering
melihat objek yang jauh. Penderita dibantu dengan kacamata plus (positif).
b. Astigmatisme
Astigma adalah suatu keadaan dimana berkasi sinar tidak difokuskan pada satu titik
dengan tajam pada retina tetapi pada 2 garis titik yang saling tegak lurus yang terjadi
akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea.

2.10 Penatalaksanaan
1. Terapi optikal
Miopia bisa dikoreksi dengan kacamata spheris negatif atau lensa kontak sehingga cahaya
yang sebelumnya difokuskan didepan retina dapat jatuh tepat di retina. 4
a. Koreksi Miopia dengan Penggunaan Kacamata
Penggunaan kacamata untuk pasien miopia tinggi masih sangat penting. Meskipun
banyak pasien miopia tinggi menggunakan lensa kontak, kacamata masih dibutuhkan.
Pembuatan kacamata untuk miopia tinggi membutuhkan keahlian khusus. Bingkai kacamata
haruslah cocok dengan ukuran mata. Bingkainya juga harus memiliki ukuran lensa yang kecil
untuk mengakomodasi resep kacamata yang tinggi. pengguanaan indeks material lensa yang
tinggi akan mengurangi ketebalan lensa. Semakin tinggi indeks lensa, semakin tipis lensa.
Pelapis antisilau pada lensa akan meningkatkan pengiriman cahaya melalui material lensa
dengan indeks yang tinggi ini sehingga membuat resolusi yang lebih tinggi. (Patchul,2012)
b. Koreksi Miopia dengan Menggunakan Lensa Kontak
Cara yang disukai untuk mengoreksi kelainan miopia adalah lensa kontak. Banyak
jenis lensa kontak yang tersedia meliputi lensa kontak sekali pakai yang sekarang telah
tersedia lebih dari -16.00 dioptri. (Patchul,2012)
Lensa kontak ada dua macam yaitu lensa kontak lunak (soft lens) serta lensa kontak
keras (hard lens). Pengelompokan ini didasarkan pada bahan penyusunnya. Lensa kontak
lunak disusun oleh hydrogels, HEMA (hydroksimethylmetacrylate) dan vinyl copolymer
sedangkan lensa kontak keras disusun dari PMMA (polymethylmetacrylate). (Hartono,2007)
Keuntungan lensa kontak lunak adalah nyaman, singkat masa adaptasi pemakaiannya,
mudah memakainya, dislokasi lensa yang minimal, dapat dipakai untuk sementara waktu.
Kerugian lensa kontak lunak adalah memberikan ketajaman penglihatan yang tidak maksimal,
risiko terjadinya komplikasi, tidak mampu mengoreksi astigmatisme, kurang awet serta
perawatannya sulit. (Hartono,2007)
Kontak lensa keras mempunyai keuntungan yaitu memberikan koreksi visus yang
baik, bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama (awet), serta mampu mengoreksi

astigmatisme kurang dari 2 dioptri. Kerugiannya adalah memerlukan fitting yang lama, serta
memberikan rasa yang kurang nyaman. (Hartono,2007)
Pemakaian lensa kontak harus sangat hati-hati karena memberikan komplikasi pada
kornea, tetapi komplikasi ini dikurangi dengan pemilihan bahan yang mampu dilewati gas O 2.
Hal ini disebut Dk (gas Diffusion Coefficient), semakin tinggi Dk-nya semakin besar bisa
mengalirkan oksigen, sehingga semakin baik bahan tersebut. (Hartono,2007)
Lensa Kontak Ditinjau dari Segi Klinis
1. Lapang Pandang
Karena letak lensa kontak yang dekat sekali dengan pupil serta tidak memerlukan
bingkai dalam pemakaiannya, lensa kontak memberikan lapang pandangan yang terkoreksi
lebih luas dibandingkan kacamata. Lensa kontak hanya sedikit menimbulkan distorsi pada
bagian perifer. (Patchul,2012)
2. Ukuran Bayangan di Retina
Ukuran bayangan di retina sangat tergantung dari vertex distance (jarak verteks) lensa
koreksi. Jika dibandingkan dengan pemakaian kacamata, dengan koreksi lensa kontak,
penderita miopia memiliki bayangan yang lebih besar di retina, sedangkan pada penderita
hipermetropia bayangan menjadi lebih kecil. (Patchul,2012)
3. Akomodasi
Dibandingkan dengan kacamata, lensa kontak meningkatkan kebutuhan akomodasi
pada penderita miopia dan menurunkan kebutuhan akomodasi pada penderita hipermetropia
sesuai dengan derajat anomali refraksinya. (Patchul,2012)
Pemilihan Lensa Kontak
Perbandingan Indikasi Pemakaian Lensa Kontak Lunak dan Keras
Lensa Kontak Lunak

Lensa Kontak Keras

Pemakaian lensa kontak pertama Gagal dengan lensa kontak


kali
Pemakaian sementara

lunak
Iregularitas kornea

Bayi dan anak-anak

Alergi dengan bahan lensa

Orang tua

kontak lunak
Dry eye

Terapi terhadap kelainan kornea Astigmatisme

(sebagai bandage)
Keratokonus
Pasien dengan overwearing
problem

2. Terapi bedah
Seiring dengan semakin berkembangnya tehnik operasi dan semakin banyaknya orang
yang lebih memilih operasi dibandingkan dengan memakai kacamata ataupun lensa kontak.
Sekarang telah dilakukan banyak prosedur operasi untuk mengkoreksi kelainan refraksi
seperti miopia secara permanen. Setelah operasi penderita miopia akan mendapatkan tajam
penglihatan sampai 20/40 bahkan sampai 20/20.4
Beberapa tehnik operasi yang telah digunakan untuk mengatasi kelainan refraktif miopia ini,
diantaranya :
Epikeratophakia
Radial keratotomy (RK)
Photo-refractive keratotomy (PRK)
Laser Insitu Keratomileusis (LASIK)
Clear lens extraction in unilateral high myopia
Phakic IOL
a. Koreksi Miopia dengan LASIK

Gambar 2.9 LASIK


LASIK adalah suatu tindakan koreksi kelainan refraksi mata yang menggunakan
teknologi laser dingin (cold/non thermal laser) dengan cara merubah atau mengkoreksi
kelengkungan kornea. Setelah dilakukan tindakan LASIK, penderita kelainan refraksi dapat
terbebas dari kacamata atau lensa kontak, sehingga secara permanen menyembuhkan rabun
jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), serta mata silinder (astigmatisme).(SEC,2012)
Untuk dapat menjalani prosedur LASIK perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu:
a

Ingin terbebas dari kacamata dan lensa kontak

Kelainan refraksi:
Miopia sampai -1.00 sampai dengan - 13.00 dioptri.
Hipermetropia + 1.00 sampai dengan + 4.00 dioptri.
Astigmatisme 1.00 sampai dengan 5.00 dioptri

Usia minimal 18 tahun

Tidak sedang hamil atau menyusui

Tidak mempunyai riwayat penyakit autoimun

Mempunyai ukuran kacamata/ lensa kontak yang stabil selama paling tidak 6 (enam)
bulan

Tidak ada kelainan mata, yaitu infeksi, kelainan retina saraf mata, katarak, glaukoma dan
ambliopia

Telah melepas lensa kontak (Soft contact lens) selama 14 hari atau 2 (dua) minggu dan 30
(tiga puluh) hari untuk lensa kontak (hard contact lens). 11

Adapun kontraindikasi dari tindakan LASIK antara lain:


a. Usia < 18 tahun / usia dibawah 18 tahun dikarenakan refraksi belum stabil.
b

Sedang hamil atau menyusui.

Kelainan kornea atau kornea terlalu tipis.

Riwayat penyakit glaukoma.

Penderita diabetes mellitus.

Mata kering

Penyakit : autoimun, kolagen

Pasien Monokular

Kelainan retina atau katarak 11


Sebelum menjalani prosedur LASIK, ada baiknya pasien melakukan konsultasi atau

pemeriksaan dengan dokter spesialis mata untuk dapat mengetahui dengan pasti mengenai
prosedur / tindakan LASIK baik dari manfaat, ataupun kemungkinan komplikasi yang dapat
terjadi. Setelah melakukan konsultasi / pemeriksaan oleh dokter spesialis mata, kemudian
mata anda akan diperiksa secara seksama dan teliti dengan menggunakan peralatan yang
berteknologi tinggi (computerized) dan mutakhir sehingga dapat diketahui apakah seseorang
layak untuk menjalankan tindakan LASIK. 11
Persiapan calon pasien LASIK:
a

Pemeriksaan refraksi, slit lamp, tekanan bola mata dan finduskopi

Pemeriksan topografi kornea / keratometri / pakhimetri Orbscan

Analisa aberometer Zy Wave, mengukur aberasi kornea sehingga bisa dilakukan


Custumize LASIK

Menilai kelayakan tindakan untuk menghindari komplikasi


Sebagian besar pasien yang telah melakukan prosedur atau tindakan LASIK

menunjukan hasil yang sangat memuaskan, akan tetapi sebagaimana seperti pada semua
prosedur atau tindakan medis lainnya, kemungkinan adanya resiko akibat dari prosedur atau
tindakan LASIK dapat terjadi oleh sebagian kecil dari beberapa pasien antara lain:
a

Kelebihan / Kekurangan Koreksi (Over / under correction). Diketahui setelah pasca


tindakan LASIK akibat dari kurang atau berlebihan tindakan koreksi, hal ini dapat
diperbaiki dengan melakukan LASIK ulang / Re-LASIK (enhancement) setelah kondisi
mata stabil dalam kurun waktu lebih kurang 3 bulan setelah tindakan.

Akibat dari menekan bola mata yang terlalu kuat sehingga flap kornea bisa bergeser (Free
flap, button hole, decentration flap). Flap ini akan melekat cukup kuat kira-kira seminggu
setelah tindakan.

Biasanya akan terjadi gejala mata kering. Hal ini akan terjadi selama seminggu setelah
tindakan dan akan hilang dengan sendirinya. Pada sebagian kasus mungkin diperlukan
semacam lubrikan tetes mata.

Silau saat melihat pada malam hari. Hal ini umum bagi pasien dengan pupil mata yang
besar dan pasien dengan miopia yang tinggi. Gangguan ini akan berkurang seiring dengan
berjalannya waktu. Komplikasi sangat jarang terjadi, dan keluhan sering membaik setelah
1-3 bulan.

Kelebihan Bedah Refraksi LASIK antara lain:


a

Anestesi topikal (tetes mata)

Pemulihan yang cepat (Magic Surgery)

Tanpa rasa nyeri (Painless)

Tanpa jahitan (Sutureless & Bloodless)

Tingkat ketepatan yang tinggi (Accuracy)

Komplikasi yang rendah

Prosedur dapat diulang (Enhancement). 11

2.11. Komplikasi
Komplikasi lebih sering

terjadi pada myopia tinggi. Komplikasi yang dapat terjadi

berupa: 1,2
-

Dinding mata yang lebih lemah, karena sklera lebih tipis


Degenerasi miopi pada retina dan koroid. Retina lebih tipis sehingga terdapat resiko tinggi

terjadinya robekan pada retina


Ablasio retina
Orang dengan myopia mempunyaoi kemungkinan lebih tinggi terjadinya glaucoma

Komplikasi Miopia adalah :


1. Ablasio retina
Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0 sampai (- 4,75) D sekitar 1/6662.
Sedangkan pada (- 5) sampai (-9,75) D risiko meningkat menjadi 1/1335.Lebih dari (10) D risiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan faktor risiko pada
miopia lebih rendah tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.1
2. Vitreal Liquefaction dan Detachment
Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan
2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan,
namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Halini berhubungan
dengan hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat
bayangan-bayangan kecil (floaters).
Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan
kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan menimbulkan risiko untuk
terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment pada miopia

tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat memanjangnya bola
mata.1
3. Miopik makulopati
Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah
kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapangan pandang
berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan
berkurangnya lapangan pandang. Miopi vaskular koroid atau degenerasi makular
miopia juga merupakan konsekuensi dari degenerasi makular normal dan ini
disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang tumbuh di bawah sentral retina.1
4. Glaukoma Risiko
Terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%, dan
pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stres akomodasi
dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula1.
5. Katarak Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Dilaporkan bahwa pada orang
dengan miopia, onset katarak muncul lebih cepat1.
2.12 Pencegahan Miopia
Sejauh ini, hal yang dilakukan adalah mencegah dari kelainan mata sejak dari anak
dan menjaga jangan sampai kelainan mata menjadi parah. Biasanya dokter akan melakukan
beberapa tindakan seperti pengobatan laser, obat tetes tertentu untuk membantu penglihatan,
operasi, penggunaan lensa kontak dan penggunaan kacamata. Tindakan pencegahan yang lain
adalah dengan cara (Rini, 2004) :
-

Jarak baca 40 45 cm.


Aktifitas pemakaian mata jarak dekat dan jauh bergantian. Misalnya setelah
membaca atau melihat gambar atau menggunakan komputer 45 menit, berhenti

dahulu untuk 15 20 menit, beristirahat sambil melakukan aktifitas lain.


Gizi yang berimbang bila diperlukan sesuai aktifitas.
Melihat atau merasakan adanya posisi kepala miring atautorticollis terutama pada

aktifitas lihat televisi atau komputer tepat waktu pemberian kaca mata.
Mengatur program harian anak (sekolah,ekstra kurikuler). Seharusnya diharuskan
aktifitas luar misalnya kegiatan olah raga, musik dan lainlain.

2.13. Prognosis

Selama bertahun-tahun, banyak pengobatan yang dilakukan untuk mencegah atau


memperlambat progresi miopia, antara lain dengan :
1

Koreksi penglihatan dengan bantuan kacamata.

Pemberian tetes mata atropin.

Menurunkan tekanan dalam bola mata.

Penggunaan lensa kontak kaku : memperlambat perburukan rabun dekat pada anak.

Latihan penglihatan : kegiatan merubah fokus jauh dekat.


Penyulit yang dapat timbul pada pasien dengan miopia adalah terjadinya ablasi retina

dan juling. Juling biasanya esotropia atau juling ke dalam akibat mata berkonvergensi terusmenerus. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat
ambliopia.

BAB III
PEMBAHASAN
1. Mengapa pada pasien ini di diagnosa sebagai pasien Miopia Simpleks ODS ?
Anamnesis :
Pasien perempuan berusia 12 tahun datang ke Poliklinik Mata RSU dr. Slamet Garut
dengan keluhan penglihatan kedua mata kabur pada saat melihat jauh yang dirasakan
sejak 1 bulan terakhir. Pasien merasa penglihatannya kurang jelas pada saat melihat
tulisan berukuran kecil namun membaik jika jarak dekat. Pandangan kabur terjadi
perlahan dan makin lama makin kabur, pasien mengeluh harus memicingkan mata untuk
melihat lebih jelas pada suatu benda. Pasien mengaku lebih nyaman apabila pasien
melihat sesuatu dari jarak dekat. Keluhan disertai dengan mata mudah berair, serta
terdapat pusing dan mudah lelah saat membaca atau melihat TV. Pasien mengaku sering
membaca dengan jarak dekat dan sambil tidur dalam jangka waktu yang lama. Pasien
mengaku tidak suka makan sayur-sayuran (termasuk wortel).
Pada pemeriksaan Oftalmologi didapatkan hasil :
Oculus Dexter
sc : 0,6
cc : 1,0

Oculus Sinister
VISUS

sc : 0,6 F1
cc : 1,0

1,0

STN

1,0

S 1,00

Koreksi

S 1,00

Pemeriksaan Autorefraktometri
OD
OS
PD : 56

SPH
-2.00
-2.50

CYL
-0.75
-0.50

AX
12
178

Pada pemeriksaan mata eksternal, biomikroskopi (slit lamp kedua mata dalam batas
normal.
Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan refraksi
mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat,
dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan
kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa
akomodasi.
Pasien ini diterapi dengan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan adalah yang
terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi. Hal ini sesuai dengan
kepustakaan yang menyatakan bahwa pada penderita miopia diberikan lensa sferis negatif
yang terkecil yang memberikan visus maksimal.

2. Bagaimanakah penatalaksanaan pasien ini ?


Untuk penatalaksanaan pada pasien dengan diagnosis Miopia Simpleks dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu:
a.Medikamentosa
- Cendo Augentonic Eye Drop 3 dd 1gtt
Komposisi: Tiap 1 ml Cendo Augentonic Eye Drops mengandung Vitamin A Palmitate
1000 IU; zinc sulfate 0,2 mg; phenylephrine HCl 1,0 mg
Cendo Augentonic Eye Drop adalah obat tetes mata yang berfungsi untuk mata yang
letih setelah membaca atau menonton televisi, selain itu juga dapat digunakan untuk
iritasi nonifeksi atau alergi.
Obat ini mempunyai indikasi untuk Iritasi non infeksi, radang dan alergi mata,
menguatkan pandangan, mengurangi simptom letih setelah membaca atau menonton
televisi, fototalmia.

Pemberian cendo augentonic hanya sebagai nutrisi mata karena mengandung vitamin A
dan juga membantu mengatasi iritasi pada mata dan pemakaiannya cukup aman untuk
jangka waktu yang lama.
b. Non-medikamentosa
-

Khusus
Kacamata lensa spheris konkaf / negatif sesuai dengan koreksi :
OD S 1.00 D 6/6
OS S 1.00 D 6/6
PD 57/55

Umum

Membaca dengan pencahayaan yang cukup


Mengatur jarak membaca 30 cm
Hindari membaca sambal tidur berbaring dan membaca dalam tempat gelap
Memberi istirahat pada mata 15-20 menit setelah dipakai untuk beraktivitas.
misalnya, melakukan istirahat sejenak pada mata setelah dipakai untuk

memainkan laptop atau membaca


Kacamata harus terus dipakai kecuali saat mandi dan tidur.
Melatih jauh atau bergantian melihat jauh dan dekat secarabergantian dapat
mencegah myopia.

3. Bagaimana prognosis pada pasien ini ?


Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad Vitam adalah ad bonam karena pada pasien tidak ditemukannya penyakit mata
lain maupun penyakit sistemik yang menyertai keluhan pasien dan pasien masih dapat
melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad functionam adalah ad bonam karena setelah dilakukan koreksi dengan baik,
disertai dengan pemeliharaan kesehatan mata yang baik, prognosisnya akan baik. Pasien
myopia sederhana yang telah dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, HS. 2014. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Ed 5. Balai Penerbit FKUI, Jakarta
2. Vaughan A dan Riordan E. 2010. Ofthalmologi Umum. Ed 17. Penerbit buku
kedokteran EGC, Jakarta.
3. Hall, et al. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Edisi 9.
4. American Optometric Assosiation. 2008. Care The Patient With Myopia. Lindbergh
blvrd : St.Louis. Page 1-41
5. Ilyas S. 2002. Optik dan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata untuk dokter
umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Balai penerbit Sagung Seto
6. Widodo A dan Prillia T. 2007. Miopia Patologi. Jurnal Oftalmologi Indonesia, ISSN
1693-2587.
7. Nana Wijana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Jakarta. Abadi Tegal.1993
8. Ganong, 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit buku kedokteran EGC. Edisi
22. Jakarta
9. Ilyas S, Tanzil M, Salamun dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2003:5
10. Hartono, Yudono RH, Utomo

PT, Hernowo

AS. Refraksi dalam:

Ilmu

PenyakitMata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit


Mata FK UGM, 2007; 185-7
11. Semarang Eye Centre. 2012. Tindakan Bedah LASIK. www.semarang-eye-centre.com/
[diakses tanggal 30 Agustus 2016].