Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

GLAUKOMA FAKOMORFIK

DISUSUN OLEH:
TRIYOGA PERKASA
1102008257

PEMBIMBING:
DR HERMAN NUR SP.M

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA


RSPAD GATOT SOEBROTO
JAKARTA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan penulisan referat dengan judul Glaukoma Fakomorfik Referat ini ditulis untuk
menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Glaukoma Fakomorfik dan merupakan salah
satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik di Departemen Mata RSPAD Gatot Soebroto.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing,
dr. Herman Nur SpM yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan
pengarahan dalam penyusunan referat ini dari awal hingga selesai
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan yang membangun dan saran demi perbaikan
dimasa yang akan datang. Semoga referat inidapat berguna bagi kita semua
Jakarta, Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI
2

Kata Pengantar

Daftar Isi

Pendahuluan

Anatomi dan Fisiologi

Glaukoma Fakomorfik

Penatalaksanaan

13

Kesimpulan

14

BAB I
PENDAHULUAN
3

I. Latar Belakang
Mata adalah salah satu indra penting pada tubuh manusia. Berfungsi sebagai indra
penglihatan. Ada beberapa gangguan pada mata yang dapat membuat fungsi
mata berkurang. Beberapa gangguan pada mata tersebut di antaranya yaitu glaukoma. Oleh
karena itu, sangatlah penting untuk kita mengenal glaukoma.
Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh pencekungan
(cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang, biasanya disertai peningkatan
tekanan intraokular. Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah
gangguan aliran keluar aqueous humor akibat kelainan sistem drainase sudut bilik mata depan
(glaukoma sudut terbuka) atau gangguan akses aqueous humor ke sistem drainase (glaukoma
sudut tertutup).
Glaukoma fakomorfik merupakan glaukoma sekunder sudut tertutup, yang dikarenakan
akibat lensa intumesen. Peningkatan ketebalan lensa oleh karena progresivitas katarak membuat
lensa menjadi intumesen secara cepat, atau katarak traumatika dapat berakibat pada hambatan
dan sudut tertutup. Sudut tertutup merupakan akibat dari mekanisme terhalangnya pupil, atau
karena diafragma lensa-iris yang salah penempatannya (luksasio).
II. Tujuan
Referat ini dibuat bertujuan untuk menyelesaikan tugas referat di Departemen mata RSPAD
Gatot Soebroto dan menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai glaukoma fakomorfik.

BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI
4

1. Anatomi Lensa
Pada manusia, lensa mata bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah, tembus pandang,
dengan diameter 9 mm, dan tebal sekitar 5 mm. Lensa terdiri dari kapsul, epitel, korteks dan nukleus. Ke
arah mata anterior, lensa berhubungan dengan cairan bilik mata, dan ke arah mata posterior, lensa
berhubungan dengan badan kaca. Di belakang iris, lensa digantung pada prosesus siliaris oleh

zonula zinii (ligamentum suspensorium lentis), yang melekat pada ekuator lensa, serta
menghubungkannya dengan korpus siliare. Zonula zinni berasal dari lamina basal epitel tidak
berpigmen prosesus siliare. Zonula zini melekat pada bagian ekuator kapsul lensa, 1,5 mm pada
bagian anterior dan 1,25 pada bagian posterior.3

Gambar 1. Lapisan Lensa


Sebanyak 65% bagian dari lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein (kandungan protein
tertinggi di antara jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan
tubuh lainnya. Protein lensa terdiri dari water soluble dan water insoluble. Water soluble
merupakan protein intraseluler yang terdiri dari alfa (), beta () dan delta () kristalin, sedang
yang termasuk dalam water insoluble adalah urea soluble dan urea insoluble. Kandungan kalium
lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Seperti telah disinggung sebelumnya,
tidak ada reseptor nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.3
2. Fungsi Lensa

Lensa memiliki fungsi utama untuk memfokuskan berkas cahaya ke retina dengan
mengubah-ubah daya refraksi agar sesuai dengan sinar yang datang sejajar atau divergen.
Perubahan daya refraksi lensa ini disebut sebagai akomodasi. Hal ini dapat dicapai dengan
mengubah kelengkungan lensa terutama kurvatur anterior.2
Otot-otot siliaris relaksasi, serat zonula menegang, dan diameter anteroposterior lensa
mengecil untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh. Dalam posisi tersebut, lensa
diperkecil hingga berkas cahaya pararel akan terfokus ke retina. Sementara itu, untuk
memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris berkontraksi hingga tegangan zonula zinii
berkurang. Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi
oleh daya biasnya. Kerjasama fisiologis antara korpus siliaris, sonula zinii, dan lensa untuk
memfokuskan benda dekat ke retina disebut sebagai akomodasi. Seiring dengan pertambahan
usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan berkurang.5
Pada fetus, lensa berbentuk hampir sferis dan lemah, sementara pada orang dewasa lensa
lebih padat dan bagian posterior lebih konveks. Proses sklerosis bagian sentral lensa, dimulai
pada masa kanak-kanak dan terus berlangsung secara perlahan-lahan hingga dewasa, dan proses
bertambah cepat dimana nukleus menjadi lebih besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua
lensa menjadi lebih besar, lebih gepeng, berwarna kekuning-kuningan, kurang jernih dan tampak
sebagai grey reflex atau senile reflex, yang sering disangka katarak. Proses sklerosis ini
menyebabkan lensa menjadi kurang elastis dan daya akomodasinya pun berkurang. Keadaan ini
disebut presbiopia, dan biasanya dimulai pada umur 40 tahun.2

Gambar 2. Lensa dan Struktur Pendukungnya

3. Sudut Bilik Mata Depan


Sudut bilik mata yang dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada
bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Bila terdapat hambatan pengaliran keluar
cairan mata akan terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola
mata meninggi atau glaukoma. Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum,
kanal Schlemm, baji sclera, garis Schwalbe dan jonjot iris. Sudut filtrasi berbatas dengan akar
berhubungan dengan sclera kornea dan disini ditemukan sclera spur yang membuat cincin
melingkar 360 derajat dan merupakan batas belakang sudut filtrasi serta tempat insersi otot siliar
longitudinal.

4. Aquoeous Humor
Aqueous humor diproduksi oleh corpus ciliare. Setelah memasuki bilik mata belakang,
aqueous humor melalui pupil dan masuk ke bilik mata depan. Kemudian ke perifer menuju sudut
bilik mata depan.. Aquoeous humor adalah suatu cairan jernih yang mengisi kamera anterior dan
posterior mata. Volumenya sekitar 250 uL. Humor akuos diproduksi oleh korpus siliaris. Dari
badan siliar, cairan masuk ke bilik mata posterior, humor akuos mengalir melalui pupil ke bilik
anterior lalu ke jalinan trabekular di sudut bilik mata anterior. Kemudian cairan masuk ke dalam
saluran kolektor, lalu ke dalam pleksus vena di jaringan sklera dan episklera, dan juga ke dalam
vena siliaris anterior di badan siliar.2

Gambar 3. Aliran Aqueous Humor

BAB III
8

GLAUKOMA FAKOMORFIK
Definisi
Glaukoma fakomorfik, seperti yang digambarkan oleh terminologinya (fako: lensa;
morfik: bentuk) merupakan glaukoma yang berkembang sekunder dikarenakan oleh perubahan
bentuk lensa. Glaukoma sudut tertutup yang dapat terjadi secara akut, subakut, ataupun kronik
oleh karena katarak matur atau intumesen.4
Patofisiologi
Glaukoma fakomorfik dapat terjadi karena pupil terhalang oleh perubahan ukuran dan
posisi permukaan anterior lensa yang mendorong lensa ke anterior sehingga menekan iris.
Terhalangnya pupil atau luksasi diafragma lensa-iris dapat menyebabkan sudut bilik mata
tertutup. Selain itu, glaukoma fakomorfik juga dapat disebabkan oleh mata hiperopia dengan
lensa yang telah lebih besar dibandingkan dengan panjang aksial. Mata seperti ini memiliki bilik
mata depan yang lebih sempit sehingga dapat mencetuskan glaukoma.
Pada mata dengan glaukoma fakomorfik terdapat peningkatan tekanan intra okular yang
patologis. Penyebabnya adalah bentuk lensa yang menebal atau intumesen. Penebalan ini dapat
disebabkan oleh pembentukan katarak matur karena hidrasi korteks. Saat maturasi katarak
berlangsung dan protein lensa denaturasi, terjadi hiperosmolaritas pada lensa yang
mengakibatkan proses hidrasi lensa berlanjut, sehingga lensa menjadi tebal atau intumesen.
Penebalan pada lensa tersebut menyebabkan kapsul lensa meregang, sehingga pada sebagian sisi
lensa terjadi kalsifikasi, sementara di sisi lain menjadi flasid. Penyebab menebalnya atau
intumesensi lensa yang lain adalah trauma tusuk pada kapsul lensa yang menyebabkan terjadinya
hidrasi lensa. Penebalan lensa yang berlanjut dapat terjadi pada beberapa kondisi. Penderita
dengan diabetes memiliki resiko terjadi penebalan lensa. Intumesensi lensa dapat terjadi akibat
reaksi idiosyncratic terhadap obat sistemik seperti diuretik. Penderita dengan Persistent
Hyperplasmic Primary Vitreus (PHPV) dapat terjadi glaukoma karena adanya ruptur pada kapsul
lensa posterior sehingga membentuk katarak dengan cepat. Sementara itu, kontraksi membran
fibrovaskular dapat mendorong diafragma lensa-iris ke depan dan membuat bilik anterior
menjadi dangkal. Selain itu, trauma dan pseudo eksfoliation mengganggu sokongan dari zonula

zinii sehingga terjadi pergeseran lensa ke anterior, dan membuat bilik mata depan menjadi
dangkal.
Lensa yang tebal dapat menyebabkan penyempitan sudut iridotrabekular secara progresif.
Hal ini meningkatkan tekanan intra okular, sehingga timbul tanda-tanda dan gejala serangan
glaukoma akut sudut tertutup, atau disebut juga glaukoma fakomorfik sudut tertutup akut.
Selama glaukoma fakomorfik belum menimbulkan neuropati optik, maka glaukoma tersebut
adalah akut. 3,5,7
Epidemiologi
Walaupun tidak ada statistic epidemiologi mengenai glaukoma fakomorfik, glaukoma
sudut tertutup yang dikarenakan katarak hipermatur lebih umum terjadi pada negara dengan
tingkat prevalensi katarak yang lebih tinggi namun metode pembedahannya belum cukup siap.
Glaukoma dapat terjadi pada ras apapun, jenis kelamin apapun, dan lebih sering ditemukan pada
pasien usia lanjut dengan katarak senilis, namun juga dapat terjadi pada pasien usia muda yang
menderita katarak traumatika atau katarak intumesen yang berkembang secara cepat.
Gejala2
Gejala subyektif glaukoma fakomorfik :

Nyeri kepala mendadak

Mata merah

Pandangan kabur dan melihat bayangan seperti pelangi di sekitar cahaya

Mual dan muntah

Penurunan tajam penglihatan yang telah dialami sejak sebelum serangan akut
glaukoma

Gejala obyektif glaukoma fakomorfik :


10

Tingginya tekanan intraokuler (TIO) lebih dari 35 mmHg

Pupil mid dilatasi, ireguler.

Edema kornea

Injeksi konjungtiva dan silier

Bilik mata depan yang dangkal, <2mm

Letak lensa yang lebih ke depan

Ketebalan lensa setidaknya 5mm

Pembentukan katarak yang tidak sama pada kedua mata

Penyebab2
Beberapa faktor predisposisi glaukoma fakomorfik adalah:

Katarak intumesen

Katarak traumatika

Perkembangan katarak senilis yang cepat

Glaukoma fakomorfik lebih umum terjadi pada mata hiperopik dengan lensa yang
besar/cembung dan sudut bilik mata yang dangkal. Serangan akut sudut tertutup dapat dicetuskan
oleh dilatasi pupil pada penerangan suram. Dilatasi sampai midposisi meregangkan iris perifer
sehingga iris terdorong ke depan, dan terjadi kontak dengan jaringan trabekular, sehingga
terbentuk blokade pupil. Sudut tertutup juga dapat dicetuskan oleh tekanan dari posterior lensa
dan pembengkakan lensa. Kelemahan zonular akibat dari ekfoliasi, trauma atau faktor usia juga
berperan dalam menyebabkan glaukoma fakomorfik.
Diagnosis Banding5

Glaukoma sudut tertutup akut

Glaukoma fakolitik

Glaukoma iris plateau

Glaukoma akibat tumor intraokuler

Glaukoma akibat uveitis


11

Pemeriksaan Penunjang5
Pemeriksaan tonometri
1. Tonometri Schiotz

Penderita tidur terlentang dan diberi anestesi lokal pada kedua mata.

Penderita menatap lurus ke depan dan kelopak mata difiksasi agar tetap terbuka
dengan menarik palpebra ke arah tepi.

Tonometer diturunkan oleh tangan satunya sampai ujung cekung laras menyentuh
kornea. Dengan gaya yang ditetapkan dengan beban terpasang, tonjolan plunger
berujung tumpul menekan pada kornea dan sedikit melekukkan pusat kornea.

Tekanan kornea sebanding dengan TIO, akan mendesark plunger ke atas.

Tekanan membuat jarum penunjuk skala bergeser. Makin tinggi TIO makin besar
tahanan kornea terhadap indentasi, makin tinggi pula pula geseran plunger untuk
menaikkan gaya pada kornea. Kalibrasi dilakukan dengan meletetakkan tonometer
pada benda yang mirip dengan kornea yang akan menghasilkan angka 0

Nilai: Pembacaan skala dikonversikan pada table tonometer schoitz untuk mengetahui tekanan
bola mata dalam mmHg. Pada tekanan lebih dari 20mmHg dicurigai glaucoma, jika lebih dari 25
mmHg pasien menderita glaucoma.
2.

Tonometri Non-Kontak.

Udara dihembuskan ke kornea.

Udara yang terpantul dari permukaan kornea akan mengenai membrane penerima
tekanan pada alat.

3.

Tonometri Aplanasi Goldman

Mata yang akan diperiksa diberi anastesi topical pantocain 0.5%

Pada mata tersebut ditempelkan kertas flouresein yaitu pada daerah limbus inferior. Sinar
oblik warna biru disinarkan dari slit lamp kedasar telapak prisma tonometer Aplanasi
Goldmann

Pasien diminta duduk dan meletakkan dagunya pada slitlamp dan dahinya tepat
dipenyangganya.

12

Pada skala tonometer aplanasi dipasang tombol tekanan 10mmHg

Telapak prisma aplanasi didekatkan pada kornea perlahan lahan

Tekanan ditambah sehingga gambar kedua setengah lingkaran pada kornea yang telah
diberi flouresein terlihat bagian luar berhimpit dengan bagian dalam

Dibaca tekanan pada tombol putaran tonometer aplanasi yang member gambaran
setengah lingkaran yang berhimpit. Tekanan tersebut merupakan TIO dalam mmHg.

Nilai : dengan tonometer Aplanasi, jika TIO > 20 mmHg sudah dianggap menderita glaucoma.
4.

Tonometri Digital Palpasi

Mata ditutup

Pandangan kedua mata menghadap kebawah

Jari-jari yang lain bersandar pada dahi dan pipi pasien

Kedua jari telunjuk menekan bola mata pada bagian belakang kornea bergantian

Satu telunjuk mengimbangi saat telunjuk lain menekan bola mata

Nilai : didapat kesan berapa ringannya bola mata ditekan. Tinggi rendahnya tekanan dicatat
sebagai berikut : N : normal, N+1 : agak tinggi, N+2 : lebih tinggi lagi, N-1 : lebih rendah dari
normal dst.
Gonioskopi
Berguna untuk mengetahui sudut bilik mata depan tertutup. Gonioskopi adalah tes yang
menempatkan lensa kontak yang berisi cermin pada mata. Cermin itu memungkinkan dokter
melihat dari samping mata untuk memeriksa apakah sudut di mana iris bertemu kornea terbuka
atau tertutup. Hal ini membantu dokter memutuskan apakah jenis glaukoma adalah sudut terbuka
atau sudut tertutup.

13

Gambar 4. Pemeriksaan Gonioskopi


Biometri untuk mengetahui ketebalan lensa dan kedalaman bilik mata anterior.
Pada glaukoma fakomorfik ketebalan lensa setidaknya 5mm (rata-rata ketebalan
lensa normal adalah 4,63 mm) dan kedalaman bilik mata anterior <2mm.
Prognosis
Prognosis tajam penglihatan ditentukan oleh tajam penglihatan terakhir yang ditemukan setelah
ekstraksi katarak. Faktor resiko untuk prognosis penglihatan yang buruk adalah tingginya tekanan
intraokuler kronik. Tekanan intraokuler dan durasi serangan dapat memprediksikan hasil tajam
penglihatan terakhir. Serangan yang berlangsung >5 hari merupakan faktor resiko yang signifikan untuk
prognosis akhir tajam penglihatan dan glaukoma yang buruk. 7

BAB IV
14

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan glaukoma fakomorfik bertujuan untuk menurunkan tekanan intraokular
secara cepat

untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada saraf optik, kornea, dan untuk

mencegah terbentuknya sinekia. Penurunan tekanan intraokular penting dalam mempersiapkan


tindakan iridotomi laser, yang dapat memulihkan pupil yang mengakibatkan glaukoma.

Penatalaksanaan inisial harus ditujukan pada pemulihan sudut tertutupnya yaitu dengan
beta-blocker, alpha 2-adrenergik agonis, dan carbonic anhydrase inhibitor

Penatalaksaan sekunder dimulai dengan iridotomi laser untuk memulihkan terhalangnya


pupil

Gonioskopi berguna setelah iridotomi dilakukan untuk penilaian retrospektif sudut bilik
mata. Jika sudut bilik mata melebar, maka mekanisme terhalangnya pupil yang
cenderung mengakibatkan tekanan intraokular meningkat, dan iridotomi laser
merupakan terapi efektif untuk kasus tersebut. Jika sudut tidak terlalu dalam secara
signifikan, lensa intumesen atau terdorongnya lensa ke depan merupakan faktor
penyebabnya, dan pasien harus ditatalaksana dengan ekstraksi katarak. Jika sudut
tertutup tidak pulih dengan iridotomi laser, maka perlu dipertimbangkan iris plateau
sebagai diagnosis bandingnya.5

Pembedahan
Iridotomi laser secara sementara menghentikan serangan akut hambatan pupil, tapi pada
sebagian besar pasien glaukoma fakomorfik, dibutuhkan ekstrasi katarak.5
Medikamentosa
Tujuan dari farmakoterapi bagi glaukoma fakomorfik adalah untuk mengurangi
morbiditas dan untuk mencegah komplikasi.

Carbonic anhydrase inhibitors (Acetzolamide, Dorzolamide)

Alpha-adrenergic agonist (Apraclonidine)

Agen Hiperosmotik (Isosorbide, Mannitol)

Beta-blockers (Levobunolol, Timolol)


BAB V
15

KESIMPULAN
Glaukoma fakomorfik merupakan glaukoma sekunder yang disebabkan oleh kelainan
pada lensa. Dapat menyerang siapapun. Glaukoma fakomorfik mudah terjadi pada pasien dengan
katarak matur. Mengakibatkan sudut bilik mata tertutup dan mengakibatkan glaukoma
fakomorfik. Pasien yang mengalami glaukoma fakomorfik mengeluh nyeri yang sangat akut,
pandangan kabur, melihat bayangan seperti pelangi (halo) disekitar cahaya, mual, muntah.
Pasien secara umum mengalami penurunan visus. Glaukoma fakomorfik lebih umum terjadi
pada mata hiperopik yang kecil dengan lensa besar/cembung dan sudut bilik mata yang dangkal.
Penatalaksanaan glaukoma fakomorfik bertujuan untuk menurunkan tekanan intraokular
secara cepat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada saraf optik, kornea, dan untuk
mencegah terjadinya sinekia

DAFTAR PUSTAKA

16

1. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum, Edisi 17, Alih bahasa Brahm U Pendit, Editor Edisi
Bahasa Indonesia Diana Susanto. EGC. Jakarta, 2009
2. Wijaya, Nana S.D, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke-6, Penerbit Abadi Tegal, Jakarta, 1993 :
190-196
3. Ilyas, Sidarta,, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke -3, Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta, 2013
4. Prajna NV, Ramakrishnan R, Krishnadas R, et al. Lens induced glaucomas-visual results and risk
factors for final visual acuity. Indian J Opthamol 1996;44(3):149-55
5. Glaucoma Phacomorphic http://emedicine.medscape.com/article/1204917-media
6. http://www.perdami.or.id/?page=news_seminat.detail&id=1

7. Kaplowitz KB, Kapoor KG. An Evidence-Based Approach to Phacomorphic Glaucoma. Clinical


and Experimental Opthalmology 2011.

17