Anda di halaman 1dari 254

KATA PENGANTAR

Prinsip pembelajaran kontekstual (contextual learning) yang diharapkan mampu mengubah gaya belajar siswa dalam memahami setiap ilmu dan materi yang dipelajari di sekolah menjadi salah satu komponen dasar penyusunan bahan ajar bagi guru dan siswa. Disisi lain pembelajaran akselerasi (accelerated learning) berkontribusi dalam menciptakan nuansa dan iklim kegiatan belajar yang kreatif, dinamis serta tak terbatas oleh sekat ruang kelas (learning with no boundaries). Proses pembelajaran tersebut mampu memberi spektrum warna bagi kanvas ilmu pengetahuan yang sejatinya harus menjadi bagian dari proses pengalaman belajar (experiential learning) ilmiah, kritis dan dapat diterapkan (applicable).

Buku teks siswa SMK tahun 2013 dirancang untuk dipergunakan siswa sebagai literatur akademis dan pegangan resmi para siswa dalam menempuh setiap mata pelajaran. Hal ini tentu saja telah diselaraskan dengan dinamika Kurikulum Pendidikan Nasional yang telah menjadikan Kurikulum 2013 sebagai sumber acuan resmi terbaru yang diimplementasikan di seluruh sekolah di wilayah Republik Indonesia secara berjenjang dari mulai pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Buku ini disusun agar menghadirkan aspek kontekstual bagi siswa dengan mengutamakan pemecahan masalah sebagai bagian dari pembelajaran dalam rangka memberikan kesempatan kepada siswa agar mampu mengkonstruksi ilmu pengetahuan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu mereka sendiri. Secara bahasa, buku ini menggunakan bahasa yang komunikatif, lugas dan mudah dimengerti. Sehingga, siswa dijamin tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami isi buku yang disajikan.

Kami menyadari bahwa penyusunan dan penerbitan buku ini tidak akan dapat terlaksana dengan baik tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Kami ucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan. Semoga buku ini dapat memberi kontribusi positif bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia.

Jakarta, Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

v

DAFTAR

TABEL

vi

PETA KEDUDUKAN BAHAN AJAR

vii

GLOSARIUM

viii

I.

PENDAHULUAN

1

A. Deskripsi

1

B. Prasyarat

1

C. Petunjuk Penggunaan

2

D. Tujuan Akhir

3

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

3

F. Cek Kemampuan Awal

5

II. PEMBELAJARAN

8

Kegiatan Pembelajaran 1. Membuat Perencanaan Usaha Agribisnis Pembibitan

Ternak Unggas (4 x 5 JP)

8

A. Deskripsi

8

B. Kegiatan Belajar

8

1. Tujuan Pembelajaran

8

2. Uraian Materi

9

3. Refleksi

29

4. Tugas

30

5.

Tes Formatif

31

C.

Penilaian

 

32

1. Sikap

32

2. Pengetahuan

 

35

3. Keterampilan

35

Kegiatan

Pembelajaran

2.

Mempersiapkan

Kandang

dan

Peralatan

dalam

Agribisnis Pembibitan Unggas (4 x 5 JP)

 

37

A. Deskripsi

 

37

B. Kegiatan Belajar

38

1. Tujuan Pembelajaran

 

38

2. Uraian Materi

 

38

3. Refleksi

88

4. Tugas

89

5. Tes Formatif

89

C. Penilaian

90

1. Sikap

90

2. Pengetahuan

 

93

3. Keterampilan

94

Kegiatan Pembelajaran 3

: Melakukan Pemilihan Bibit Unggas (5 x 5 JP)

95

A. Deskripsi :

95

B. Kegiatan Belajar

96

1. Tujuan Pembelajaran :

 

96

2. Uraian Materi

 

97

3.

Refleksi

122

 

4. Tugas

122

5. Tes Formatif

123

C.

Penilaian

124

1. Sikap

124

2. Pengetahuan

127

3. Keterampilan

127

Kegiatan Pembelajaran 4

: Melakukan Tatalaksana Pemeliharaan Pembibitan

 

(induk dan pejantan) Ternak Unggas (7 x 5 JP)

128

A. Deskripsi

128

B. Kegiatan Belajar

128

1. Tujuan Pembelajaran :

128

2. Uraian Materi

131

3. Refleksi

236

4. Tugas

237

5. Tes Formatif/latihan soal

237

C. Penilaian

238

1. Sikap

238

2. Pengetahuan

241

3. Keterampilan

242

III.

PENUTUP

243

DAFTAR PUSTAKA

244

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

PETA KEDUDUKAN BAHAN AJAR

GLOSARIUM

Breeding

: Pembibitan.

Breeder

: Pembibit atau orang yang berusaha dalam pembibitan.

Day Old Chick (DOC) : Anak ayam umur sehari.

Day Old Duck (DOD) : Anak itik umur sehari.

Day Old Quil (DOQ)

: Anak puyuh umur sehari.

Periode starter

: Periode pemeliharaan awal

Periode grower

: Periode pertumbuhan

Periode layer

: Periode produksi telur

Hatchery

: Penetasan

Brooder

: Induk buatan

Egg tray

: Nampan atau baki telur.

Fixed cost

: Biaya tetap

Variable cost

: Biaya tidak tetap

Ayam Buras

: Ayam bukan ras atau ayam kampung

Kandang batere

: Kandang sistem sangkar

Sanitasi

: Pembersihan dan pembebashamaan kandang dan peralatan serta lingkungan kandang

Desinfektan

: Bahan atau obat untuk sanitasi benda mati.

Antiseptik

: Bahan atau obat untuk sanitasi makhluk hidup.

Fumigasi

: Sanitasi dengan cara pengasapan

Litter

: Alas kandang (sekam, serbuk gergaji atau lainnya).

Debeaker

: Alat potong paruh

Feeder tray

: Tempat pakan ayam berbentu nampan.

Hanging feeder

: Tempat pakan gantung

Automatic feeder trough

Automatic bell drinker

: Tempat pakan memanjang otomatis.

: Tempat air minum otomatis

Nest box

: Sarang tempat bertelur

Ad-libitum

: Tidak terbatas

Restricted feed

: Pemberian pakan dengan dibatasi atau terbatas

A. Deskripsi

I.

PENDAHULUAN

Buku teks bahan ajar “Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas 1” untuk siswa kelas XI semester 3 ini membahas tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam usaha agribisnis pembibitan ternak unggas 1, khususnya pada perencanaan usaha, persiapan kandang, pemilihan bibit, tatalaksana pemeliharaan pembibitan ternak unggas.

Buku teks bahan ajar ini berkaitan dengan buku teks bahan ajar lain yang terdapat dalam paket keahlian Agribisnis Ternak Unggas. Buku teks bahan ajar satu dengan yang lain saling mendukung. Dengan mempelajari buku teks bahan ajar Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas 1 ini, diharapkan Siswa dapat

1. Membuat Perencanaan usaha agribisnis pembibitan ternak unggas, 4 x 5 (20 jam)

2. Mempersiapkan kandang dan peralatan dalam agribisnis pembibitan unggas, 4 x 5 (20 jam)

3. Melakukan pemilihan bibit unggas, 5 x 5 (25 jam)

4. Melakukan tatalaksana pemeliharaan pembibitan (induk dan pejantan) ternak unggas 7 x 5 (35 Jam) sehingga akan mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan yang diharapkan.

B. Prasyarat

Untuk mempelajari buku teks bahan ajar Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas 1 ini, Siswa harus sudah memahami kompetensi pada Dasar Program Keahlian mata pelajaran :

1. Dasar-dasar Pemeliharaan Ternak

2. Dasar-dasar Pakan Ternak

3.

Dasar-dasar Kesehatan Ternak

4. Dasar-dasar Pembibitan Ternak

C. Petunjuk Penggunaan

Agar siswa dapat berhasil dengan baik dalam menguasai buku teks bahan ajar Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas 1 ini, maka siswa diharapkan mengikuti petunjuk penggunaan bahan ajar sebagai berikut :

1. Mengikuti dan memperhatikan penjelasan Guru tentang buku teks bahan ajar yang akan dipelajari.

2. Meminta petunjuk atau menanyakan kepada Guru apabila ada hal-hal yang kurang dipahami dalam buku teks bahan ajar.

3. Melaksanakan cek penguasaan kompetensi untuk mengetahui sejauh mana kompetensi yang telah dikuasai.

4. Mempersiapkan bahan ajar utama dan pendukung yang diperlukan dalam setiap kegiatan belajar.

5. Membaca tujuan pembelajaran, sehingga mengetahui apa yang akan dicapai atau dipelajari dalam buku teks bahan ajar ini.

6. Membaca uraian materi secara baik dalam setiap kegiatan belajar.

7. Memperhatikan penjelasan atau peragaan dari Guru secara cermat.

8. Melaksanakan evaluasi sendiri dengan mengerjakan soal-soal yang terdapat dalam tes formatif

9. Mempersiapkan dan melaksanakan tugas baik yang ada dalam buku teks bahan ajar maupun yang diberikan oleh Guru dalam setiap kegiatan belajar.

10. Memeriksa kondisi alat dan bahan yang akan digunakan dalam setiap kegiatan praktik secara cermat dan seksama.

11. Melakukan praktik sesuai dengan petunjuk atau prosedur yang ada dalam buku teks bahan ajar.

12. Membersihkan dan merapikan kembali alat-alat dan bahan yang telah digunakan dalam praktik.

13.

Mendiskusikan dengan rekan sekelompok terhadap hasil yang diamati atau

diperoleh selama aktivitas belajar.

14. Melakukan evaluasi akhir yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.

D. Tujuan Akhir

Setelah mempelajari buku teks bahan ajar Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas 1

ini, Siswa dapat melakukan usaha Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas yang

meliputi :

1. Membuat Perencanaan usaha agribisnis pembibitan ternak unggas

2. Mempersiapkan kandang dan peralatan dalam agribisnis pembibitan ternak

unggas

3. Melakukan pemilihan bibit unggas

4. Melakukan tatalaksana pemeliharaan pembibitan (induk dan pejantan) ternak

unggas

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Agribisnis Pembibitan

Ternak Unggas 1 semester 3 sebagai berikut :

KOMPETENSI INTI

 

KOMPETENSI DASAR

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

1.1

Mengamalkan ajaran agama yang dianut pada pembelajaran agribisnis pembibitan ternak unggas sebagai amanat untuk kemaslahatan umat manusia.

2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap

2.1

Menghayati sikap cermat,teliti dan tanggungjawab sebagai hasil dari pembelajaran pada agribisnis pembibitan ternak unggas.

KOMPETENSI INTI

 

KOMPETENSI DASAR

sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.2

Menghayati pentingnya kerjasama sebagai hasil pembelajaran agribisnis pembibitan ternak unggas.

2.3

Menghayati pentingnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kandang/laboratorium/gudang pakan/ peralatan sebagai hasil dari pembelajaran agribisnis pembibitan ternak unggas.

 

2.4

Menghayati pentingnya bersikap jujurdan disiplin sebagai hasil dari pembelajaran agribisnis pembibitan ternak unggas

3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.

3.1

Menerapkan pengetahuan tentang perencanaan usaha agribisnis pembibitan ternak unggas

3.2

Menerapkan pengetahuan tentang persiapan kandang dan peralatan dalam pembibitan ternak unggas.

3.3

Menerapkan pengetahuan tentang pemilihan bibit (calon induk dan calon pejantan) agribisnis pembibitan ternak unggas.

3.4

Menerapkan tatalaksana pemeliharaan pembibitan (induk dan pejantan).

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

4.1

Membuat Perencanaan usaha agribisnis pembibitan ternak unggas

4.2

Mempersiapkan kandang dalam agribisnis pembibitan ternak unggas.

4.3

Memilih bibit (calon induk dan calon pejantan) ternak unggas.

4.4

Melakukan tatalaksana pemeliharaan pembibitan (induk dan pejantan) ternak unggas.

F. Cek Kemampuan Awal

Beri tanda “” pada kolom berikut ini sesuai dengan jawaban Anda!

No.

Item Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

1.

Apakah Anda dapat menentukan skala usaha pembibitan ternak unggas ?

1. Apakah Anda dapat menentukan skala usaha pembibitan ternak unggas ?
1. Apakah Anda dapat menentukan skala usaha pembibitan ternak unggas ?

2.

Apakah Anda dapat menentukan kebutuhan sarana prasarana usaha pembibitan ternak unggas ?

2. Apakah Anda dapat menentukan kebutuhan sarana prasarana usaha pembibitan ternak unggas ?
2. Apakah Anda dapat menentukan kebutuhan sarana prasarana usaha pembibitan ternak unggas ?

3.

Apakah Anda dapat menentukan biaya, pendapatan usaha pembibitan ternak unggas ?

3. Apakah Anda dapat menentukan biaya, pendapatan usaha pembibitan ternak unggas ?
3. Apakah Anda dapat menentukan biaya, pendapatan usaha pembibitan ternak unggas ?

4.

Apakah Anda dapat menganalisa usaha pembibitan ternak unggas ?

4. Apakah Anda dapat menganalisa usaha pembibitan ternak unggas ?
4. Apakah Anda dapat menganalisa usaha pembibitan ternak unggas ?

5.

Apakah Anda dapat mengidentifikasi jenis-jenis bahan sanitasi ?

5. Apakah Anda dapat mengidentifikasi jenis-jenis bahan sanitasi ?
5. Apakah Anda dapat mengidentifikasi jenis-jenis bahan sanitasi ?

6.

Apakah Anda dapat menjelaskan cara penggunaan bahan sanitasi ?

6. Apakah Anda dapat menjelaskan cara penggunaan bahan sanitasi ?
6. Apakah Anda dapat menjelaskan cara penggunaan bahan sanitasi ?

7.

Apakah Anda dapat mengidentifikasi jenis-jenis peralatan kandang ?

7. Apakah Anda dapat mengidentifikasi jenis-jenis peralatan kandang ?
7. Apakah Anda dapat mengidentifikasi jenis-jenis peralatan kandang ?

8.

Apakah Anda dapat menjelaskan kebutuhan kandang dan peralatan kandang ?

8. Apakah Anda dapat menjelaskan kebutuhan kandang dan peralatan kandang ?
8. Apakah Anda dapat menjelaskan kebutuhan kandang dan peralatan kandang ?

9.

Apakah Anda dapat menjelaskan pengaruh bahan sanitasi kandang terhadap kesehatan ternak ?

9. Apakah Anda dapat menjelaskan pengaruh bahan sanitasi kandang terhadap kesehatan ternak ?
9. Apakah Anda dapat menjelaskan pengaruh bahan sanitasi kandang terhadap kesehatan ternak ?

10.

Apakah Anda dapat menjelaskan kelebihan dan kekurangan setiap jenis bahan sanitasi ?

10. Apakah Anda dapat menjelaskan kelebihan dan kekurangan setiap jenis bahan sanitasi ?
10. Apakah Anda dapat menjelaskan kelebihan dan kekurangan setiap jenis bahan sanitasi ?

11.

Apakah Anda dapat menjelaskan kriteria pemilihan/ penentuan bahan sanitasi ?

11. Apakah Anda dapat menjelaskan kriteria pemilihan/ penentuan bahan sanitasi ?
11. Apakah Anda dapat menjelaskan kriteria pemilihan/ penentuan bahan sanitasi ?

12.

Apakah Anda dapat melakukan Perhitungan dosis bahan sanitasi ?

12. Apakah Anda dapat melakukan Perhitungan dosis bahan sanitasi ?
12. Apakah Anda dapat melakukan Perhitungan dosis bahan sanitasi ?

13.

Apakah Anda dapat menjelaskan prosedur sanitasi kandang ?

13. Apakah Anda dapat menjelaskan prosedur sanitasi kandang ?
13. Apakah Anda dapat menjelaskan prosedur sanitasi kandang ?

14.

Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon induk unggas pedaging yang baik ?

14. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon induk unggas pedaging yang baik ?
14. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon induk unggas pedaging yang baik ?

15.

Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon induk unggas petelur yang baik ?

15. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon induk unggas petelur yang baik ?
15. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon induk unggas petelur yang baik ?

16.

Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon pejantan unggas pedaging yang baik ?

16. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon pejantan unggas pedaging yang baik ?
16. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon pejantan unggas pedaging yang baik ?

No.

Item Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

17.

Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon pejantan unggas petelur yang baik ?

17. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon pejantan unggas petelur yang baik ?
17. Apakah Anda dapat mengidentifikasi ciri-ciri calon pejantan unggas petelur yang baik ?

18.

Apakah Anda dapat menjelaskan pentingnya melakukan pemilihan bibit ?

18. Apakah Anda dapat menjelaskan pentingnya melakukan pemilihan bibit ?
18. Apakah Anda dapat menjelaskan pentingnya melakukan pemilihan bibit ?

19.

Apakah Anda dapat menjelaskan tiga metode pemilihan bibit (secara eksterior, secara pengamatan rekording dan secara silsilah ?

Anda dapat menjelaskan tiga metode pemilihan bibit (secara eksterior, secara pengamatan rekording dan secara silsilah ?
Anda dapat menjelaskan tiga metode pemilihan bibit (secara eksterior, secara pengamatan rekording dan secara silsilah ?

20

Apakah Anda dapat memilih calon induk unggas pedaging?

20 Apakah Anda dapat memilih calon induk unggas pedaging?
20 Apakah Anda dapat memilih calon induk unggas pedaging?

21.

Apakah Anda dapat memilih calon induk unggas petelur ?

21. Apakah Anda dapat memilih calon induk unggas petelur ?
21. Apakah Anda dapat memilih calon induk unggas petelur ?

22.

Apakah Anda dapat memilih calon pejantan unggas pedaging ?

22. Apakah Anda dapat memilih calon pejantan unggas pedaging ?
22. Apakah Anda dapat memilih calon pejantan unggas pedaging ?

23.

Apakah Anda dapat memilih calon pejantan unggas petelur?

23. Apakah Anda dapat memilih calon pejantan unggas petelur?
23. Apakah Anda dapat memilih calon pejantan unggas petelur?

24.

Apakah Anda dapat menjelaskan manfaat dan pentingnya dilakukan pemotongan jengger DOC calon jantan, pemotongan paruh, pemotongan kuku jari kaki anak ayam jantan ?

pentingnya dilakukan pemotongan jengger DOC calon jantan, pemotongan paruh, pemotongan kuku jari kaki anak ayam jantan
pentingnya dilakukan pemotongan jengger DOC calon jantan, pemotongan paruh, pemotongan kuku jari kaki anak ayam jantan

25.

Apakah Anda dapat menyampaikan data standar bobot badan ternak unggas pedaging ?

25. Apakah Anda dapat menyampaikan data standar bobot badan ternak unggas pedaging ?
25. Apakah Anda dapat menyampaikan data standar bobot badan ternak unggas pedaging ?

26.

Apakah Anda dapat menyampaikan data standar bobot badan ternak unggas petelur ?

26. Apakah Anda dapat menyampaikan data standar bobot badan ternak unggas petelur ?
26. Apakah Anda dapat menyampaikan data standar bobot badan ternak unggas petelur ?

27.

Apakah Anda dapat melakukan pemotongan paruh ?

27. Apakah Anda dapat melakukan pemotongan paruh ?
27. Apakah Anda dapat melakukan pemotongan paruh ?

28.

Apakah Anda dapat melakukan pemotongan kuku jari kaki anak ayam jantan ?

28. Apakah Anda dapat melakukan pemotongan kuku jari kaki anak ayam jantan ?
28. Apakah Anda dapat melakukan pemotongan kuku jari kaki anak ayam jantan ?

29.

Apakah Anda dapat melakukan penyatuan jantan dan betina ?

29. Apakah Anda dapat melakukan penyatuan jantan dan betina ?
29. Apakah Anda dapat melakukan penyatuan jantan dan betina ?

30.

Apakah Anda dapat melakukan penimbangan bobot badan mingguan ?

30. Apakah Anda dapat melakukan penimbangan bobot badan mingguan ?
30. Apakah Anda dapat melakukan penimbangan bobot badan mingguan ?

31.

Apakah Anda dapat melakukan pengontrolan keragaman ?

31. Apakah Anda dapat melakukan pengontrolan keragaman ?
31. Apakah Anda dapat melakukan pengontrolan keragaman ?

32.

Apakah Anda dapat membuat rekording ?

32. Apakah Anda dapat membuat rekording ?
32. Apakah Anda dapat membuat rekording ?

33.

Program pemberian ransum

33. Program pemberian ransum
33. Program pemberian ransum

34.

Apakah anda dapat melaksanakan program pengaturan cahaya ?

34. Apakah anda dapat melaksanakan program pengaturan cahaya ?
34. Apakah anda dapat melaksanakan program pengaturan cahaya ?

No.

Item Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

35.

Apakah Anda dapat menyampaikan data standart kebutuhan lama cahaya pada pembibitan unggas ?

35. Apakah Anda dapat menyampaikan data standart kebutuhan lama cahaya pada pembibitan unggas ?
35. Apakah Anda dapat menyampaikan data standart kebutuhan lama cahaya pada pembibitan unggas ?

36.

Apakah Anda dapat menjelaskan hubungan antara pencahayaan dengan produksi telur ?

36. Apakah Anda dapat menjelaskan hubungan antara pencahayaan dengan produksi telur ?
36. Apakah Anda dapat menjelaskan hubungan antara pencahayaan dengan produksi telur ?

37.

Apakah Anda dapat menjelaskan cara pencegahan penyakit pada pembibitan unggas ?

37. Apakah Anda dapat menjelaskan cara pencegahan penyakit pada pembibitan unggas ?
37. Apakah Anda dapat menjelaskan cara pencegahan penyakit pada pembibitan unggas ?

38.

Apakah Anda dapat melakukan pengelolaan fase produksi pada pembibitan unggas?

38. Apakah Anda dapat melakukan pengelolaan fase produksi pada pembibitan unggas?
38. Apakah Anda dapat melakukan pengelolaan fase produksi pada pembibitan unggas?

39.

Apakah Anda dapat melakukan pengelolaan pejantan

39. Apakah Anda dapat melakukan pengelolaan pejantan
39. Apakah Anda dapat melakukan pengelolaan pejantan

Apabila ada salah satu pertanyaan yang Anda jawab tidak, maka Anda harus

mempelajari buku teks bahan ajar Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas 1 ini.

II. PEMBELAJARAN

Kegiatan Pembelajaran 1. Membuat Perencanaan Usaha Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas (4 x 5 JP)

A. Deskripsi

Membuat perencanaan usaha agribisnis pembibitan ternak unggas meliputi; penentuan skala usaha, penentuan kebutuhan sarana prasarana, penentuan biaya, pendapatan, dan analisa usaha.

B. Kegiatan Belajar

1. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, siswa mampu membuat perencanaan usaha agribisnis pembibitan ternak unggas meliputi; penentuan skala usaha, penentuan kebutuhan sarana prasarana, penentuan biaya, pendapatan, dan analisa usaha

Kegiatan 1

MENGAMATI:

a. Mengamati contoh analisis usaha pembibitan unggas.

b. Membaca uraian materi

2.

Uraian Materi

Membuat Perencanaan Usaha Agribisnis Pembibitan Ternak Unggas

Sebagai manusia, pelaku usaha harus senantiasa ingat atas kekuasaan Tuhan YME. Manusia sebatas hanya dapat merencanakan yang disertai dengan usaha dan doa, namun hasilnya sepenuhnya kita serahkan kepada Tuhan YME yang mengusai alam semesta ini. Demikian halnya dengan penyusunan perencanaan usaha ini, dengan berharap kegiatan usaha ini dapat berjalan dengan lancar, dengan produksi telur tetas secara optimal, dan dapat bermanfaat bagi masyarakat, dan keuntungan yang optimal sehingga dapat bermanfaat baik bagi pemilik maupun pegawainya. Kegiatan usaha yang kita rencanakan dengan baik sudah mengarah pada keberhasilan, namun sepenuhnya menjadi keputusan Tuhan YME. Manusia merencanakan, berusaha dan berdoa, tetapi Tuhan yang menentukan.

Perencanaan pada dasarnya merupakan kerangka berpikir tentang apa yang hendak dicapai, bagaimana cara mencapainya dan apa serta berapa sarana yang diperlukan. Atau dapat dikatakan bahwa perencanaan merupakan proses pengambilan keputusan tentang alternatif kegiatan yang akan dipergunakan dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Setelah menentukan usaha yang hendak dikembangkan, yaitu berupa usaha pembibitan (breeding) unggas, pengusaha (breeder) perlu membuat perencanaan usahasebelum memulai usahanya.

Kegagalan suatu usaha, antara lain dapat disebabkan karena pada saat membuka usaha tidak menyusun perencanaan terlebih dahulu, sehingga apa yang dilakukan tidak didasarkan pada perhitungan awal. Membuka usaha tidak mungkin berhasil tanpa adanyaperencanaan sebelumnya. Rencana usaha perlu disusun secara tertulisbetapapun sederhananya.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor :

404/KPTS/OT.210/6/2002 tentang Pedoman Perizinan dan Pendaftaran Usaha Peternakan dijelaskan yang dimaksud dengan : Perusahaan peternakan adalah suatu usaha yang dijalankan secara teratur dan terus menerus pada suatu tempat dan dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan komersial yang meliputi kegiatan menghasilkan ternak (ternak bibit/ternak potong), telur, susu serta usaha penggemukan suatu jenis ternak termasuk mengumpulkan, mengedarkan dan memasarkannya yang untuk tiap jenis ternak jumlahnya melebihi jumlah yang ditetapkan untuk tiap jenis ternak pada peternakan rakyat.

Pembibitan ternak adalah kegiatan budidaya untuk menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk diperjual-belikan.

Bibit ternak adalah semua ternak hasil proses penelitian dan pengkajian dan atau ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan dan atau untuk produksi.

Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi ternak yang penting dalam penyediaan pangan asal hewan. Komoditas unggas khususnya ayam ras mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, harga relatif murah dengan akses yang mudah diperoleh.

Pembibitan ayam ras saat ini sudah berkembang pesat dengan didukung kemajuan teknologi di bidang perunggasan, sehingga pembibitan ayam ras di Indonesia telah memberikan konstribusi nyata pada pembangunan pertanian, khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor. Untuk menghasilkan bibit ayam ras yang bermutu diperlukan pedoman pembibitan ayam ras yang baik (good breeding practice), yang didalamnya mengatur mengenai prasarana dan sarana, proses produksi, pelestarian fungsi lingkungan, serta pembinaan dan pengawasan.

Komoditas unggas khususnya ayam ras mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, harga relatif murah dengan akses yang mudah diperoleh.

Pembibitan ayam ras saat ini sudah berkembang pesat dengan didukung kemajuan teknologi di bidang perunggasan, sehingga pembibitan ayam ras di Indonesia telah memberikan konstribusi nyata pada pembangunan pertanian, khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor.

Produk ayam dan itik lokal merupakan salah satu prioritas sumber pasokan daging yang dapat diandalkan setelah upaya pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014. Di sisi lain, perkembangan permintaan daging ayam dan itik lokal diperkitakan akan terus meningkat seiring dengan upaya pemenuhan kebutuhan daging bagi masyarakat.

Sudah saatnya perlu untuk dikembangkan usaha pembibitan ayam dan itik lokal secara serius untuk menjamin kecukupan produksi bibit day old chick (DOC) dan day old duck (DOD) sesuai dengan permintaan pelaku usaha. Saat ini, sangat sedikit atau hampir tidak ada perusahaan swasta yang bergerak di bidang pembibitan ayam dan itik lokal secara komersial. Jika ada, skala usaha masih relatif kecil, sehingga jumlah DOC dan DOD yang dihasilkan belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Hal yang sama juga terjadi pada kelompok-kelompok peternak unggas lokal yang mengusahakan pembibitan, namun masih sangat beragam kualitas bibit yang dihasilkan dan distribusi pasar yang masih bersifat lokal maupun regional.

Asosiasi

breeder

pengusaha

breeding

(pembibitan

unggas),

produksi

DOC

(ayam umur sehari) adalah GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas).

Pembibitan DOC ayam kampung nampaknya lebih memiliki peluang usaha bagi kelompok usaha kecil dan menengah, permintaan daging ayam kampung dan telurnya juga cukup besar, tetapi ketersediaan bibit ayam kampung dirasa masih kurang.

Dengan perencanaan usaha yang baik, perusahaan pembibitan unggas dapat menyediakan bibit unggas sesuai dengan permintaan pasar. Selain itu, dapat diperhitungkan lebih dini berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha pembibitan unggas.

Setiap perusahaan pembibitan yang akan didirikan harus mengikuti semua petunjuk yang terdapat dalam Pedoman Pembibitan Ayam Ras yang Baik. Pedoman ini bersifat dinamis dan akan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia memiliki banyak jenis itik yang berpotensi untuk dikembangkan, dimana sebagian besar populasinya berada di perdesaan dan sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu itik yang paling banyak dipelihara adalah itik lokal, dengan produksi yang dihasilkan berupa daging dan telur. Adapun sumbangan daging itik sebesar 1,82 %, dan sumbangan telur itik sebesar 18,33 % terhadap produksi daging dan telur unggas nasional (Statistik Ditjennak, 2010).

Pembibitan itik (DOD) yang dilakukan secara intensif tidaklah sebanyak pembibitan ayam (DOC), yang ada hanya penetasan telur yang diperoleh dari berbagai peternak yang kemudian ditetaskan oleh peternak kecil menengah (rumahan). Indukannya pun bukan berasal dari hasil seleksi. Tak heran jika saatini sulit menemukan bibit itik unggul dalam jumlah besar dan umurnya seragam.

Pengembangan usaha pembibitan itik di Indonesia cukup terbuka, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor, apalagi itik merupakan jenis unggas yang

tidak asing bagi masyarakat kita. Indonesia sendiri mempunyai keanekaragaman plasma nutfah itik lokal yang mempunyai keunggulan adaptasi dan produksi tinggi, seperti : itik Alabio, Tegal, Mojosari dan itik lokal lainnya. Namun, tingginya permintaan tidak diantisipasi dengan baik oleh sistem produksi yang ada.

Road Map Perbibitan Ternak Tahun 2012 menggambarkan bahwa permintaan nasional akan daging itik mencapai 16,6 ribu ton, sedangkan produksi nasional hanya mencapai 11,3 ribu ton, sehingga terjadi kekurangan sebesar 5,3 ribu ton. Kondisi yang tidak jauh herbeda pada telur itik, kebutuhan telur itik nasional mencapai 173 ribu ton, sedangkan produksi nasional hanya mencapai 150 ribu ton, clan terjadi ketimpangan sebesar 23 ribu ton.

Ketimpangan ini semakin diperparah dengan kondisi pembibitan itik di masyarakat. Kondisi umum peternakan itik di masyarakat adalah aspek budidaya, sedangkan aspek pembibitan belum berkembang. Aspek pembibitan itik ini meliputi pemilihan pejantan dan induk, pengaturan perkawinan, metode penetasan, seleksi DOD, pencatatan dan Semua proses produksi bibit masih berclasarkan kearifan lokal dan berkembang secara turun temurun, dimana proses tersebut tidak cukup untuk mencapai produksi bibit yang dapat mengimbangi permintaan pasar. Pengembangan itik membutuhkan penanganan yang intensif mengingat produktivitasnya pada peternakan rakyat sangat rendah karena sistem pemeliharaan yang masih tradisional. Bibit itik sulit diperoleh karena sampai saat ini masih sedikit peternak yang melakukan usaha pembibitan.

Direktorat Perbibitan Ternak telah menginisiasi pengembangan pembibitan itik mulai tahun 2009, yang bertujuan untuk meningkatkan populasi dan mutu itik pada sentra pembihitan itik di perdesaan melalui penyertaan anggota keiompok peternak. Pada tahun 2012 kegiatan pembibitan itik masih tetap

berlanjut agar dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam upaya meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat.

Daerah Mojokerto Jawa Timur dikenal ras itik unggulan yaitu itik Mojosari. Itik jenis ini dikenal memiliki produksi telur yang lebih tinggi dibandingkan itik Tegal. Karena itulah peluang usaha ternak itik Mojosari berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha ternak itik komersial, baik pada lingkungan tradisional maupun intensif. Satu hal yang menjadi masalah usaha ternak itik adalah rendahnya produktivitas karena kurangnya ketersediaan bibit itik yang baik kualitas genetiknya. Itik yang ada saat ini beragam kualitas maupun asalnya.

Peternakan puyuh secara umum di Indonesia masih berskala kecil sehingga perlu diusahakan secara komersial dan intensif. Hal ini diperlukan karena adanya pertambahan penduduk yang terus meningkat, disertai dengan ketertarikan terhadap telur puyuh yang lebih murah dan tinggi protein dan semakin meningkatnya daya beli masyarakat. Kebutuhan telur puyuh selama ini belum mencukupi permintaan pasar, baik dalam bentuk telur segar, telur olahan dan telur tetas.

Potensi puyuh sangat bagus untuk dikembangkan. Puyuh pada umur 41 hari sudah mulai bertelur, dibandingkan dengan ayam ras yang membutuhkan waktu 6 bulan untuk mulai bertelur. Harga telur puyuh per kilogram rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam ras. Produksi telur puyuh per tahun mencapai 300 butir per ekor, dibandingkan ayam kampung yang hanya 150 butir per ekor per tahun. Berat telur puyuh rata-rata 10 gr per butir.

a. Penentuan Skala Usaha

Sesuai tujuan, usaha pembibitan unggas harus menentukan besarnya skala usaha. Skala usaha sangat berkaitan dengan permintaan pasar. Usaha pembibitan unggas memproduksi anak unggas. Produk ini bukan

merupakan

produk

yang

dapat

disimpan

sehingga

perlu

sekali

diatur

perencanaan

agar

setiap

bibit

unggas

yang

dihasilkan

dapat

langsung

dipasarkan.

Skala usaha juga berhubungan dengan prosedur perijinan. Skala usaha kecil pada umumnya dianggap sebagai peternakan rakyat sehingga apabila kita mau mendirikan peternakan rakyat, tidak perlu meminta ijin sebagai suatu perusahaan. Menurut SK Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN.120/5/1990 tentang ketentuan dan tata cara pelaksanaan pemberian izin dan pendaftaran usaha peternakan.

Usaha pembibitan unggas merupakan usaha dibidang peternakan unggas, yang menyediakan bibit unggas. Usaha pembibitan unggas meliputi antara lain : pembibitan ayam pedaging, pembibitan ayam petelur, pembibitan itik, pembibitan puyuh.

Usaha pembibitan unggas dapat dilakukan sebagai usaha sampingan rumah tangga, sebagai usaha dengan orientasi skala usaha kecil dan skala menengah maupun usaha skala besar. Akan tetapi kesemuanya itu harus dilakukan dengan baik dengan pendekatan majanemen pembibitan unggas yang memenuhi persyaratan kualitas bibit dan persyaratan kesehatan hewan.

Skala usaha dalam suatu sistem usaha peternakan dapat diukur dengan berbagai cara, antara lain dari investasi, biaya tetap, biaya variabel, total nilai penjualan, dan jumlah ternak. Perhitungan biaya setiap satuan ternak dapat dilakukan untuk melihat perbedaan efisiensi di antara peternak yang mengusahakan komoditas serupa.

Sebelum memulai sebuah usaha terutama dalam menentukan skala, anda perlu memahami juga peraturan perundangan yang berlaku di negara kita khusunya dalam bidang peternakan. Berdasarkan Keputusan Menteri

Pertanian No.404/KPTS/OT.210/6/2002 tentang Pedoman Perijinan dan Pendaftaran Usaha Peternakan, skala usaha ternak, khususnya unggas wajib izin dari Pemda setempat atau kantor pelayanan izin :

1). Ayam ras pedaging dengan kapasitas lebih dari 15.000 ekor/ siklus 2). Ayam ras petelur lebih dari 10.000 ekor ayam produktif 3). Itik, angsa atau entok lebih dari15.000 ekor 4). Burung puyuh lebih dari 25.000 ekor

Sejak tahun 2009, permintaan daging itik dari rumah makan semakin meningkat. Otomatis besarnya permintaan daging itik ini berimbas pada jumlah itik yang harus disediakan dan tentunya menyebabkan kebutuhan DOD meningkat. Peningkatan DOD ternyata bukan disebabkan oleh naiknya permintaan daging itik, tetapi juga karena peningkatan permintaan telur itik. Permintaan daging dan telur itik kecenderungannya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Tabel 1. Perkembangan Permintaan DOD

Tahun

Jenis

Kebutuhan

Ketersediaan

Kekurangan

2008

DOD

44.000.000

20.000.000

24.000.000

2009

DOD

34.300.000

27.000.000

7.300.000

2010

DOD

31.900.000

31.000.000

900.000

2011

       

2012

       

2013

       

2014

       

Sumber:

Road

Pertanian, 2008.

Map

Perbibitan

Ternak,

Direktorat

Jendral

Peternakan

Departemen

b. Penentuan Kebutuhan Sarana Prasarana

Perencanaan sarana prasarana penting dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan sarana prasarana usaha maupun perusahaan. Perencanaan sarana prasarana dapat dilakukan dengan cara melihat seluruh kebutuhan, keadaan sarana prasarana pada tahun sebelumnya, perlunya penambahan sarana prasarana atau tidak, anggaran yang tersedia, dan penting nya sarana prasarana tersebut dalam menunjang kegiatan opersional usaha.

Berdasarkan peraturan menteri pertanian nomor : 40/Permentan/ Ot.140/7/2011, tanggal : 15 Juli 2011, tentang pedoman pembibitan ayam ras yang baik, bibit merupakan salah satu sarana produksi pembudidayaan ternak yang penting dan strategis dalam penyediaan pangan asal hewan yang berdaya saing tinggi.

Untuk menghasilkan bibit ayam ras yang bermutu diperlukan pedoman pembibitan ayam ras yang baik (good breeding practice), yang didalamnya mengatur mengenai prasarana dan sarana, proses produksi, pelestarian fungsi lingkungan, serta pembinaan dan pengawasan.

Sarana prasarana yang mendukung kegiatan pembibitan ternak unggas, khususnya ayam ras seperti : Lokasi, Lahan, Air dan listrik, Bangunan dan Peralatan.

1) Lokasi pembibitan

Lokasi pembibitan ternak unggas mempunyai persyaratan seperti jarak peternakan dengan pemukiman, dengan peternakan sejenis atau tidak sejenis, dengan rumah pemotongan hewan dan penampungan limbah.

Lahan yang dipergunakan untuk pembibitan ternak unggas, khususnya ayam ras harus memenuhi persyaratan bebas dari mikroorganisme yang membahayakan kesehatan manusia dan kesehatan hewan. Air

yang dipergunakan untuk kepentingan pembibitan ternak unggas, khususnya ayam ras harus memenuhi persyaratan baku mutu air sesuai dengan peruntukannya. Tersedia sumber tenaga listrik yang memadai dan terjamin. Mempunyai akses transportasi untuk sarana produksi.

Bangunan merupakan perkandangan yang terdiri atas beberapa kandang. Untuk pembibitan ternak unggas, khususnya ayam ras yang memelihara dan/atau mengembangkan ayam bibit tetua dan ayam bibit induk pada satu lokasi yaitu penataan letak bangunan.

Penyediaan Bibit ada dari luar negeri, ayam bibit tetua impor yang akan dibiakkan berasal dari ayam bibit galur murni yang sehat dan dibuktikan dengan keterangan asal kuri (certificate of origin) dari pejabat yang berwenang dari negara asal. Dan dari dalam negeri, ayam bibit dalam negeri yang akan diedarkan harus bebas dari penyakit unggas menular yang dibuktikan dengan keterangan kesehatan hewan dari dokter hewan berwenang.

Pakan yang digunakan disesuaikan dengan peraturan perundang- undangan di bidang pakan ternak. Pakan yang telah dimasukkan ke dalam lokasi pembibitan, sisanya tidak boleh dikeluarkan dari lokasi pembibitan.

Berdasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor :

54/Permentan/Ot.140/9/2010 Tanggal : 17 September 2010. Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice), prasarana dan sarana pada pembibitan burung puyuh, antara lain lokasi pembibitan burung puyuh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut

a)

Sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK) di masing-masing wilayah kota/kabu paten;

b) Memiliki izin Hinder Ordonantie (HO)/Undang-undang Gangguan;

c) Tidak berada di lingkungan pemukiman atau perumahan;

d) Diberi pagar keliling;

e) Berjarak minimal 1.000 (seribu) meter dari usaha peternakan unggas lainnya;

f) Lokasi peternakan merupakan daerah bebas banjir;

g) Memperhitungkan lingkungan hayati dan topografi sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan.

Lahan

memenuhi persyaratan:

yang

digunakan

untuk

pembibitan

burung

puyuh

harus

a) Bebas dari jasad renik yang membahayakan ternak dan manusia.

b) Luas lahan sesuai kapasitas produksi.

c) Tersedia sumber air yang cukup dan memenuhi baku mutu air sesuai dengan peruntukannya.

d) Tersedia sumber energi yang cukup untuk penerangan dan operasional pembibitan.

e) Mempunyai akses transportasi untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan pemasaran bibit yang dihasilkan.

Setiap usaha pembibitan unggas memiliki fasilitas sebagai berikut:

a) Kandang luar yaitu kandang yang di dalamnya memuat kandang batterai koloni yang berisi burung puyuh dari periode umur yang sama (periode starter, grower ataupun layer);

b) Bangunan penetasan (hatchery);

c) Kandang isolasi;

d) Gudang penyimpanan pakan;

e) Gudang peralatan;

f) Tempat pemusnahan/pembakaran puyuh mati;

g) Bangunan kantor untuk administrasi.

Konstruksi dan desain bangunan harus memperhatikan faktor keselamatan kerja, keamanan dan kenyamanan serta kesehatan unggas.

Konstruksi

dan

desain

bangunan

memenuhi

persyaratan

sebagai

berikut:

1)

Bangunan terbuat dari bahan yang kuat, dengan konstruksi dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dalam pemeliharaan, pembersihan dan desinfeksi;

2)

Konstruksi bangunan gudang pakan dibuat agar kondisi pakan yang disimpan tetap terjaga mutunya;

3)

Mempunyai ventilasi yang cukup sehingga pertukaran udara dari dalam dan luar kandang lancar, suhu optimal berkisar 26,5 0 C dengan kelembaban udara 70-80%;

4)

Drainase dan saluran pembuangan limbah baik dan mudah dibersihkan;

5)

Daya tampung kandang unggas disesuaikan dengan umur.

Penataan letak bangunan kandang dan bukan kandang di dalam lokasi pembibitan unggas memerhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Bangunan kantor dan mess karyawan harus terpisah dari bangunan perkandangan;

b) Tata letak antar bangunan menjamin tidak terjadi pencemaran yang berasal dari burung puyuh yang lebih tua kepada burung puyuh yang lebih muda;

c) Kandang membujur dari timur ke barat dan cukup sinar matahari;

d) Jarak antar bangunan kandang minimal satu kali lebar kandang yang diukur dari tepi atap kandang;

e) Jarak antara kandang, kandang isolasi, bangunan penetasan (hatchery) dan bangunan lainnya minimal 10 (sepuluh) meter.

Peralatan yang digunakan harus sesuai dengan kapasitas/jumlah burung puyuh yang dipelihara, mudah digunakan dan dibersihkan serta tidak mudah berkarat. Peralatan tersebut antara lain:

1)

Alat pemanas sebagai induk buatan (brooder);

2)

Ventilator sebagai alat pengatur aliran udara;

3)

Tempat pakan dan minum;

4)

Alat sanitasi dan pembersih kandang;

5)

Termometer dan alat pengukur kelembaban udara;

6)

Timbangan;

7)

Alat fumigasi telur;

8)

Tempat telur /egg tray;

9)

Alat potong paruh dan kuku;

10)Mesin penetas; 11)Peralatan pengangkut limbah dan bangkai; 12)Alat pemusnah bangkai; 13)Peralatan kesehatan hewan.

2) Bibit

a) Bebas dari penyakit unggas menular;

b) Memenuhi standar atau persyaratan teknis minimal;

c) Berasal dari usaha pembibitan.

3) Pakan

Pakan yang digunakan disesuaikan dengan peraturan perundang- undangan di bidang pakan ternak. Pakan yang telah dimasukkan ke dalam lokasi pembibitan, sisanya tidak boleh dikeluarkan dari lokasi pembibitan.

c.

Penentuan Biaya, Pendapatan

Dalam kita berusaha tentunya menginginkan keuntungan. Untung ruginya suatu usaha hanya dapat diketahui apabila seluruh ongkos atau biaya produksi dicatat dan bisa dihitung. Suatu usaha dikatakan berhasil dalam segi finansial apabila, usaha tersebut dapat menghasilkan income yang dapat menutupi biaya yang dikeluarkan dalam proses usaha.

1) Biaya

Secara umum biaya produksi ada 2 (dua) macam, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost)

Biaya tetap (fixed cost) adalah modal investasi seperti tanah, bangunan kandang, gaji tenaga kerja tetap, bunga modal, biaya perijinan usaha dan peralatan, sedangkan Biaya tidak tetap (variable cost) merupakan pengeluaran yang sangat tergantung pada jumlah Ayam yang dipelihara, meliputi Harga bibit, Harga pakan, Harga obat-obatan, Upah, tenaga kerja harian, Perbaikan kandang termasuk ongkos.

2) Pendapatan

Pendapatan usaha terdiri atas : pendapatan kotor dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor yaitu merupakan keseluruhan hasil atau nilai uang dari hasil usaha. Pendapatan bersih atau keuntungan adalah besarnya pendapatan kotor dikurangi dengan biaya variable.

Hubungan antara biaya, Pendapatan dan Keuntungan

K = B C

Dimana K= Keuntungan; B = Pendapatan; dan C = Cost (biaya)

Berikut ini disajikan contoh penentuan biaya, pendapatan dan keuntungan pada Usaha Pembibitan Ayam Kampung (Buras) dan Puyuh.

a) Usaha ayam kampung (buras)

Perhitungan untuk usaha ayam kampung (buras).

(1) Ayam betina umur 4 bulan sejumlah 100 ekor Harga rata-rata Rp

50.000,00/ekor.

(2) Ayam jantan umur 6 bulan sejumlah 10 ekor (rasio jantan : betina 1:10). Harga rata-rata Rp 75.000,00/ekor. (3) Kebutuhan luas kandang untuk ayam umur > 10 minggu adalah 10- 12 ekor per m2. Untuk 110 ekor dibutuhkan kandang seluas 10 m2 (panjang 4 meter, lebar 2,5 meter). (4) Kebutuhan pakan ayam umur > 18 minggu berkisar antara 100 gr/ekor/hari. Selama pemeliharaan ayam dilakukan pencegahan berupa vaksinasi dan penanganan penyakit. (5) Ayam mulai bertelur umur 5 bulan selama 6 bulan. Produksi telur selama 6 bulan rata-rata 75 butir per ekor. Jumlah telur untuk 100 ekor selama 6 bulan = 100 x 75 butir = 7.500 butir. (6) Untuk meningkatkan jumlah produksi telur, sengaja peternak menerapkan metode siklus reproduksi, yaitu dengan jalan :

(a)

Memungut telur sesering mungkin dari sarangannya .

(b)

Pada indukinduk yang mulai memperlihatkan tanda-tanda mengeram secepatnya dimandikan.

(7) Telur afkir 10 %, telur tetas 90 %.

Perhitungan kebutuhan pakan ayam

(1) Pakan untuk ayam mudadewasa, 100 gr /ekor/hari (2) Jumlah pakan untuk 110 ekor per hari = 110 x 100 gr = 11 kg. (3) Pakan sebulan per ekor = 30 x 11 kg = 330 kg

(4) Jumlah pakan selama 7 bulan pemeliharaan (1 bulan grower dan

6 bulan layer) adalah 7 x 330 = 2.310 kg

Jika dibuat analisa usaha secara sederhana pada usaha pembibitan

ayam kampung tersebut di atas, maka akan diperoleh data seperti

tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Analisa Usaha Secara Sederhana Pada Usaha Pembibitan Ayam Kampung.

No

 

Uraian

Jumlah (Rp)

A

Output

 

1

Biaya Investasi :

 
 

a.

Kandang Luas 10 m2

10.000.000,-

 

b.

Peralatan

1.000.000,-

 

Total biaya investasi

11.000.000,-

2

Biaya Operasional

 
 

a. Ayam 100 ekor @ Rp. 50.000,-

5.000.000,-

 

b. Ayam Jantan 10 @ Rp 100.000,-

1.000.000,-

 

c. Pakan 2.310 kg @ Rp 4.000,-

9.240.000,-

 

d. Biaya Obat-obatan, vitamin, vaksin @ Rp

110.000,-

 

1.000,-

 

e. Tenaga kerja Rp 1.000,- per ekor

110.000,-

 

f. Listrik dan air 110 ekor @ Rp 600,-

66.000,-

3

Biaya penyusutan kandang dan peralatan

 
 

a. Penyusutan kandang 1 tahun 10%

1.000.000,-

 

b. Penyusutan peralatan 1 tahun, 50%

500.000,-

B

Input

 

1

Penjualan telur konsumsi 750 butir @ Rp

1.125.000,-

 

1.500,-

2

Penjualan ayam afkir 97 ekor @ Rp. 50.000,-

4.850.000,-

3

Penjualan Ayam Jantan 10 ekor @ Rp.

1.000.000,-

100.000,-

4

Penjualan Telur Tetas 6.750 butir @ Rp

13.500.000,-

 

2.000,-

C

Analisa Rugi- Laba

 

1

Total Output

17.026.000,-

2

Total Input

19.475.000,-

3

Laba/Rugi

2.449.000,-

b) Pada Pembibitan Puyuh.

Perhitungan untuk usaha ayam kampung (buras).

(1) DOQ betina 300 ekor, harga Rp 2.000,-/ekor. (2) DOQ jantan umur 1 bulan, 30 ekor (rasio jantan : betina 1:10). Harga Rp 5.000,-/ekor. (3) Kebutuhan luas kandang untuk puyuh dewasa 40-60 ekor per m2. Untuk 330 ekor dibutuhkan kandang seluas 6 m2 (panjang 2 meter, lebar 0,5 meter x 6 buah). (4) Puyuh mulai bertelur umur 2 bulan. Untuk telur tetas sebaiknya produksi sampai 10 bulan (40 minggu). Produksi telur 80% selama 10 bulan = 80% x 300 x 30 x 10 = 72.000 butir. (5) Telur afkir 10 % (7.200 butir), telur tetas 90 % (64.800 butir).

Perhitungan kebutuhan pakan puyuh

(1) Pakan untuk puyuh umur 1 minggu = 2 gr ekor/hari. Umur 1-2 minggu = 4 gr/ekor/hari, umur 2-4 minggu = 8 gr/ekor/hari, umur 4-5 minggu = 13 gr/ekor/hari, umur 5-6 minggu = 15

gr/ekor/hari dan > 6 minggu = 17 gr/ekor/hari. (2) Pakan untuk 330 ekor, selama minggu 1 = 330 x 7 x 2 gr = 4.620 gr; minggu 2 = 330 x 7 x 4 = 9.240 gr; minggu 3-4 = 330 x 14 x 8 =

36.960 gr; minggu 5 = 330 x 7 x 13 gr = 30.030 gr ; minggu 6 =

330 x 7 x 15 gr = 34.650 gr; minggu 7-8 = 330 x 14 x 17 gr =

78.540 gr. Jumlah pakan periode starter dan grower 194.040 gr.

(3) Pakan untuk 330 ekor bulan 3 12 per ekor = 330 x 30 x 10 x 17

= 1.683.000 gr.

Jika dibuat analisa usaha secara sederhana pada usaha pembibitan

ayam kampung tersebut di atas, maka akan diperoleh data seperti

tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Analisa Usaha Secara Sederhana Pada Usaha Pembibitan Puyuh.

No

Uraian

Jumlah (Rp)

A

Output

 

1

Biaya Investasi :

 
 

a. Kandang Luas 6 m2

1.000.000,-

 

b. Peralatan

120.000,-

 

Total biaya investasi

1.120.000,-

2

Biaya Operasional

 
 

a. Puyuh betina 300 ekor @ Rp. 2.000,-

600.000,-

 

b. Puyuh Jantan 30 @ Rp 5.000,-

150.000,-

 

c. Pakan I sebanyak 194 kg @ Rp 6.200,-

1.202.800,-

 

d. Pakan Petelur sebanyak 1.683 kg @ Rp

10.098.000,-

6.000,-

 

e. Biaya obat-obatan, vitamin @ Rp 100,- per ekor per bulan x 12 bulan

390.000,-

 

f. Tenaga kerja Rp 1.000,- per ekor x 12 bulan

3.960.000,-

 

g. Listrik dan air 330 ekor @ Rp 100,- x 12 bulan

390.000,-

3

Biaya penyusutan kandang dan peralatan

 
 

a. Penyusutan kandang 1 tahun 20%

200.000,-

 

b. Penyusutan peralatan 1 tahun, 50%

60.000,-

B

Input

 

1

Penjualan telur konsumsi 7.200 butir @ Rp

1.440.000,-

200,-

2

Penjualan puyuh afkir 290 ekor @ Rp. 5.000,-

1.450.000,-

3

Penjualan Puyuh Jantan 30 ekor @ Rp. 5.000,-

150.000,-

4

Penjualan Telur Tetas 64.800 butir @ Rp

19.440.000,-

300,-

C

Analisa Rugi- Laba

 

1

Total Output

17.050.000,-

2

Total Input

22.480.000,-

3

Laba/Rugi

5.430.000,-

c. Analisa usaha

Jenis analisa usaha meliputi : Break Even Point (BEP), Profit Margin (PM);

Earning Before Interes and Tax (EBIT) dan Return On Invesment (ROI).

Adapun cara perhitungannya adalah sebagai berikut :

Break Even Point (BEP) adalah Total Biaya tetap : harga/unit biaya

variabel/unit

Profit Margin (PM) adalah Laba Operasi : Total penjualan x 100 %

Earning Before Interes and Tax (EBIT) adalah Jumlah Laba Bersih sebelum

pajak dan bunga bank.

Return On Investment (ROI) adalah Laba bersih : rata-rata modal x 100%

Kegiatan-2

MENANYA:

Setelah melakukan pengamatan, peserta didik diarahkan untuk menanya segala sesuatu yang berhubungan dengan uraian di atas dan tuangkan pertanyaan secara tertulis.

a. Mengapa setelah menentukan usaha yang hendak dikembangkan,

 

yaitu berupa usaha pembibitan (breeding) unggas, pengusaha (breeder) perlu membuat perencanaan usahasebelum memulai usahanya.

b.

Mengapa perencanaanusaha perlu disusun secara tertulisbetapapun sederhananya.

Kegiatan-3

MENCOBA:

Setelah melakukan pengamatan dan menanya, peserta didik mencoba,

a. Pada usaha pembibitan unggas yang akan dilakukan, tentukan komoditasnya (Ayam ras petelur, Ayam kampung petelur, Puyuh Petelur atau Itik petelur).

b. Tentukan skala usaha, peralatan yang digunakan, penentuan biaya, pendapatan dan keuntungan serta analisa usaha.

Kegiatan-4

MENGANALISA/MENGASOSIASIKAN:

Setelah melakukan pengamatan, menanya dan mencoba, peserta didik menganalisa atau mengasosiasikan.Tuangkan secara tertulis.

a. Bagaimana analisa anda sebagai peserta didik hubungannya dengan yang telah diamati, tanya dan coba tentang : Usaha pembibitan unggas (Ayam ras petelur, Ayam kampung petelur, Puyuh Petelur atau Itik petelur).

b. Usaha pembibitan unggas komoditas apa yang paling menguntungkan?

Kegiatan -5

MENGKOMUNIKASIKAN:

Setelah melakukan pengamatan, menanya, mencoba, dan menganalisa atau mengasosiasikan peserta didik mengkomunikasikannya.

1. Mengkomunikasikan hasil kerja kelompok melalui presentasi dihadapan kelompok lain serta guru.

2. Catat bila ada masukkan atau sanggahan dari kelompok lain.

3. Buatlah laporan secara tertulis.

3.

Refleksi

Setelah Anda mempelajari materi perencanaan pembibitan ternak unggas yang meliputi penentuan skala usaha, penentuan kebutuhan sarana prasarana, penentuan biaya, pendapatan, keuntungan, dan analisa usaha, harap jawab pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut :

a. Hal-hal apa saja yang dapat Anda lakukan terkait dengan materi perencanaan usaha pembibitan ternak unggas?

b. Adakah hal baru yang Anda peroleh dari materi perencanaan usaha pembibitan ternak unggas ?

c. Manfaat apa saja yang Anda peroleh dari materi perencanaan usaha pembibitan ternak unggas?

d. Aspek menarik apa saja yang Anda temukan dalam materi perencanaan usaha pembitan ternak unggas?

e. Adakah kaitannya antara materi perencanaan usaha pembibitan ternak unggas dengan materi pelajaran lainnya?

4.

Tugas

Setelah Anda mengamati, menanya, mencoba, menganalisa dan mengkomunikasikan buku teks siswa yang berjudul perencanaan usaha pembibitan ternak unggas dengan baik, maka untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan Anda, kerjakan tugas berikut ini secara individu.

Buatlah analisa usaha pembibitan ternak unggas (pilihlah salah satu) di bawah ini :

a. Analisa usaha pembibitan ayam buras.

b. Analisa usaha pembibitan ayam ras

c. Analisa usaha pembibitan puyuh

d. Analisa usaha pembibitan itik

5.

Tes Formatif

Kerjakan soal dibawah ini dengan baik.

a. Mengapa sebelum melakukan suatu usaha seharusnya disusun terlebih dahulu tentang perencanaan usaha yang akan dilakukan?

b. Mengapa perencanaan usaha perlu disusun secara tertulis?

c. Mengapa usaha pembibitan unggas harus menentukan besarnya skala usaha ?

d. Pada usaha pembibitan unggas skala usaha kecil pada umumnya dianggap sebagai peternakan rakyat sehingga apabila kita mau mendirikan peternakan rakyat, tidak perlu meminta ijin sebagai suatu perusahaan. Mengapa ?

e. Pada usaha pembibitan unggas, perencanaan sarana prasarana dianggap penting. Mengapa ?

C.

Penilaian

Pada buku teks siswa ini, ada 3 (tiga) macam evaluasi yaitu evaluasi sikap,

pengetahuan dan ketrampilan.

1.

Sikap

Setelah membaca pernyataan yang ada pada kolom secara teliti, penilaian sikap

ini dilakukan dengan cara : memberi tanda ceklis (√) sesuai dengan kondisi dan

keadaan keseharian.

a. Sikap spiritual.

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap spiritual peserta

didik.Berilah tanda cek () pada kolom skor sesuai sikap spiritual yang

ditampilkan oleh peserta didik.

Skor

No

Aspek Pengamatan

1

2

3

4

1

Berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktifitas

2

Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan YME

3

Memberi salam sebelum dan sesudah menyampaikan pendapat/presentasi

4

Mengungkapakan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap Tuhan YME saat melihat kebesaran Nya.

5

Merasakan keberadaan dan kebesaran Tuhan YME saat mempelajari suatu ilmu pengetahuan.

Jumlah

Keterangan:

4

= selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

3

= sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dankadang-

kadang tidak melakukan

2

= kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak

melakukan

1

= tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

b. Sikap Jujur

Lembar penilaian

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap jujur yang ditampilkan

oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :

Skor

1

2

3

4

No

Aspek Pengamatan

1

Tidak nyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan/tugas

2

Tidak melakukan plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber) dalam mengerjakan setiap tugas

3

Mengungkapkan perasaan terhadap sesuatu apa adanya

4

Melaporkan data atau informasi apa adanya

5

Mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki

Jumlah

Keterangan:

4

= selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

3

= sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dankadang- kadang tidak melakukan

2

= kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

1

= tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

c. Sikap Disiplin

Lembar penilaian

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap disiplin yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :

Skor

1

2

3

4

No

Aspek Pengamatan

1

Masuk kelas tepat waktu

2

Mengumpulkan tugas tepat waktu

3

Memakai seragam sesuai tata tertib

4

Mengerjakan tugas yang diberikan

5

Tertib dalam kegiatan pembelajaran

Jumlah

Keterangan:

4

= selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

3

= sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dankadang- kadang tidak melakukan

2

= kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

1

= tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

2.

Pengetahuan

a. Mengapa pada usaha pembibitan unggas perlu dilakukan perencanaan

usaha ?

b. Mengapa skala usaha perlu ditentukan ?

c. Mengapa penentuan sarana prasarana dilakukan pada usaha pembibitan

unggas ?

d. Jelaskan faktor-faktor yang menentukan besarnya biaya yang harus

dikeluarkan dalam usaha pembibitan unggas!

e. Jelaskan apa yang disebut biaya tetap? Beri contoh !

f. Jelaskan apa yang disebut biaya variabel ? Beri contoh !

g. Jelaskan apa yang disebut :

1) Break Even Point (BEP),

2) Profit Margin (PM);

3) Earning Before Interes and Tax (EBIT) dan

4) Return On Invesment (ROI)

3. Keterampilan

Buatlah perencanaan usaha pembibitan puyuh dengan skala usaha 1.000 ekor.

Lembar evaluasi

No

 

Kriteria

Skor (%)

nilai

1

Menentukan skala usaha

20

 

a. Permintaan pasar b. Perijinan. c. .

.

.

2

Menentukan kebutuhan sarana prasarana

30

 

a. Lokasi

 

b. Peralatan

c. Bibit

 

d. Pakan

e. .

.

.

No

 

Kriteria

Skor (%)

nilai

3

Menentukan biaya, pendapatan dan keuntungan.

30

 

a. Biaya tetap (fixed cost)

b. Biaya tidak tetap (variable cost)

c. Pendapatan

d. Keuntungan

4

Menganalisa Usaha

20

 

a. Break Even Point (BEP),

b. Profit Margin (PM);

c. Earning Before Interes and Tax (EBIT) dan

d. Return On Invesment (ROI) .

e. .

.

   

Jumlah

100

 

Kegiatan Pembelajaran 2. Mempersiapkan Kandang dan Peralatan dalam Agribisnis Pembibitan Unggas (4 x 5 JP)

A.

Deskripsi

Mempersiapkan meliputi; Pertemuan ke 1

kandang

dan

peralatan

dalam

agribisnis

pembibitan

unggas

Jenis-jenis kandang dan peralatan kandang,

Standar kebutuhan kandang dan peralatan kandang, Pertemuan ke 2

Jenis bahan sanitasi dan cara penggunaannya,

Pengaruh bahan sanitasi kandang terhadap kesehatan ternak,

Kelebihan dan kekurangan setiap jenis bahan sanitasi,

Kriteria pemilihan/ penentuan bahan sanitasi,

Perhitungan dosis bahan sanitasi,

Prosedur sanitasi kandang, Sanitasi kandang dan peralatan unggas petelur, Pertemuan ke 3

Perhitungan kebutuhan brooding (indukan), kandang dan peralatan,

Merangkai brooding dan Mengoperasikan brooding. Pertemuan ke 4

Mengecek kondisi kandang

Membersihkan kandang dan peralatan

Menyiapkan litter

Merangkai tempat pakan dan minum

Menyiapkan sangkar (nest)

B. Kegiatan Belajar

1. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, siswa mampu Mempersiapkan kandang dan peralatan dalam agribisnis pembibitan unggas meliputi; Jenis bahan sanitasi dan cara penggunaannya, Jenis-jenis peralatan kandang, Standar kebutuhan kandang dan peralatan kandang, Pengaruh bahan sanitasi kandang terhadap kesehatan ternak, Kelebihan dan kekurangan setiap jenis bahan sanitasi, Kriteria pemilihan/penentuan bahan sanitasi, Perhitungan dosis bahan sanitasi, Prosedur sanitasi kandang, Sanitasi kandang dan peralatan unggas petelur, Perhitungan kebutuhan brooding (indukan), kandang dan peralatan, Merangkai brooding dan Mengoperasikan brooding.

Kegiatan-1

MENGAMATI:

a. Mengamati persiapan kandang dan peralatan pada agribisnis pembibitan unggas yang terdapat di sekolah atau daerah sekitar. b. Membaca uraian materitentang persiapan kandang dan peralatan pada agribisnis pembibitan unggas.

2. Uraian Materi

Mempersiapkan Kandang dan Peralatan dalam Agribisnis Pembibitan Unggas

Tuahn YME telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan tujuan agar manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan umat manusia dan makluk lainnya. Namun manusia hanya berusaha, semuanya kembali pada kuasa Tuhan YME. Untuk dapat memperoleh hasil yang optimal

pada agribisnis pembibitan unggas, peternak harus mempersiapkan kandang dan peralatan. Kandang harus sesuai dengan kebutuhan dan sehat.

Betapapun upaya peternak harus pula diiringi doa kepada Tuhan YME, agar yang menjadikan tujuannya dapat tercapai. Kita juga percaya bahwa mikroorganisme juga ciptaan Tuhan YME, sehingga bagi mikroorganisme yang merugikan ada pula obatnya.

Kandang berperan penting untuk melindungi ternak dari cuaca buruk, seperti hujan, panas, dingin, menjaga ternak dari gangguan binatang buas dan memudahkan pengumpulan telur dan pupuk kandang serta memudahkan pemeliharaan sehari-hari, pengawasan terhadap penyakit dan seleksi.

Lokasi kandang harus lebih tinggi dari sekitarnya, tidak becek, tidak lembab dan tidak tergenang air; terpisah dari rumah dengan jarak dari rumah minimal 5 meter; sirkulasi udara dalam kandang baik

Ternak akan tumbuh dan berkembang serta berproduksi secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya bila lingkungan tempat pemeliharaannya mampu membuat ternak aman dan nyaman. Ternak tidak stress karena lingkungan yang buruk. Lingkungan ternak harus dijaga dari kebisingan, terlalu panas atau terlalu dingin, serta lalu lalang orang atau kendaraan yang membuat ternak menjadi stress. Untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ternak harus terlebih dahulu dikenali karakteristik kebutuhan lingkungan setiap ternak. Misalnya untuk anak ayam memerlukan kondisi lingkungan yang hangat maka perlu diciptakan kondisi lingkungan yang hangat sesuai dengan persyaratan sehingga ternak merasa nyaman, tidak kedinginan dan tidak kepanasan.

Lokasi sekitar kandang harus bersih dari semak-semak yang mungkin dijadikan sebagai tempat persembunyian hewan liar, yang dimungkinkan hewan liar tersebut dapat sebagai carrier suatu penyakit. Oleh karena itu setiap saat lingkungan sekitar kandang harus dibersihkan dari semak-semak.

Tempat sekitar kandang juga harus bersih dari sampah yang dibuang sembarangan. Sampah yang menumpuk, berserakan dan membusuk akan mengundang hewan liar, lalat dan serangga yang dikhawatirkan akan menularkan penyakit tertentu pada ternak. Oleh sebab itu harus tersedia tempat pembuangan sampah, tidak terbuka dan tidak mudah dijangkau oleh hewan-hewan liar.

Peralatan dan perlengkapan yang digunakan di kandang harus selalu dalam keadaan bersih. Peralatan dan perlengkapan yang kotor mengundang hewan- hewan liar masuk kedalam kandang yang dapat menularkan penyakit pada ternak. Kebersihan peralatan dan perlengkapan kandang harus dikontrol sesering mungkin.

Pengontrolan peralatan dan perlengkapan seperti tempat pakan, tempat minum dan kotoran ternak dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian

pakan.

Penataan letak bangunan kandang dan bukan kandang di dalam lokasi pembibitan unggas memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Bangunan kantor dan mess karyawan harus terpisah dari bangunan perkandangan;

b. Tata letak antar bangunan menjamin tidak terjadi pencemaran yang berasal dari burung puyuh yang lebih tua kepada burung puyuh yang lebih muda;

c. Kandang membujur dari timur ke barat dan cukup sinar matahari;

d. jarak antar bangunan kandang minimal satu kali lebar kandang yang diukur dari tepi atap kandang;

e. Jarak antara kandang, kandang isolasi, bangunan penetasan (hatchery) dan bangunan lainnya minimal 10 meter.

Usaha peternakan unggas bertujuan memperoleh keuntungan, sehingga kandang sebagai tempat hidup unggas selain nyaman juga harus sehat atau

bebas dari mikro organisme penyebab penyakit. Hal ini penting mengingat hanya ternak unggas yang sehat yang dapat memberikan produksi yang optimal.Salah satunya adalah melakukan sanitasi (pembersihan dan pembebashamaan) kandang dan peralatannya serta lingkungan kandang.

Sanitasi adalah berbagai kegiatan yang meliputi penjagaan dan pemeliharaan kebersihan kandang dan sekitarnya, peralatan dan perlengkapan kandang, pengelola kandang serta orang dan kendaraan yang keluar masuk komplek perkandangan. Kegiatan tersebut merupakan suatu usaha yang paling murah dan mudah untuk pencegahan penyakit tetapi sering terabaikan. Desinfektan adalah bahan atau obat untuk menghilangkan mikroorganisme atau bibit penyakit yang biasa digunakan pada benda mati. Antiseptik adalah bahan atau obat untuk menghilangkan mikroorganisme atau bibit penyakit yang biasa digunakan pada makhluk hidup.

Semua alat-alat yang terdapat dalam kandang anak ayam harus dibersihkan dan disucihamakan secara seksama. Lantai, dinding, langit-langit, tempat makanan dan minuman serta pemanas harus disucihamakan paling lambat satu minggu sebelum anak-anak ayam tiba. Lantai, dinding serta tempat bertengger harus dibersihkan atau disemprot dengan desinfektan, agar bebas dari kuman- kuman. Tempat penyimpanan makanan harus dikosongkan dan dibersihkan serta disucihamakan. Penyucihamaan ini sangat dianjurkan, terutama bila telah terjadi wabah penyakit pada kelompok ayam sebelumnya.

Desinfeksi adalah tindakan pensucihamaan dengan menggunakan bahan disinfektan, melalui penyemprotan, penyiraman, perendaman yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme.

Disinfektan adalah bahan kimia yang memiliki fungsi sebagai bahan pensucihamaan serta aman bagi kesehatan hewan dan manusia.

Dewasa ini dengan majunya teknologi banyak bermunculan pabrik obat-obatan yang memproduksi bahan sanitasi atau desinfektan. Dalam memlih atau menentukan desinfektan yang akan digunakan hendaknya memilih produk yang efektif, murah, dan tidak mempunyai efek buruk. Target penggunaan desinfektan juga harus tepat, yaitu untuk apa digunakan dan bagaimana pengamanannya. Disamping itu, cara penggunaannya juga penting, apakah dicampur air atau tidak, disemprotkan, dioleskan, ditaburkan atau pengasapan (fumigasi). Pada Tabel 4 dapat dilihat beberapa jenis desinfektan yang digunakan dalam sanitasi, tempat penggunaan dan cara penggunaanya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 40/Permentan/Ot.140 /7/2011. Tanggal : 15 Juli 2011. Tentang pedoman pembibitan ayam ras yang baik, bahwa Sanitasi adalah tindakan yang dilakukan terhadap lingkungan untuk mendukung upaya kesehatan manusia dan hewan. Dalam suatu peternakan yang dikelola secara baik dan benar, pencegahan penyakit merupakan salah satu tindakan penting yang harus diterapkan oleh peternak. Pencegahan yang umum dan mudah dilakukan adalah sanitasi. Sanitasi bukan hanya dilakukan pada kandang dan sekitarnya, tetapi juga pada ayam tersebut. Program sanitasi harus dilakukan secara kontinyu agar ayam tetap terjaga dari serangan bibit penyakit.

Beberapa progam sanitasi yang dapat dilakukan secara sederhana, dan dapat menjadi biosecurity farm bagi peternak secara mandiri.

Langkah pencegahan penyakit adalah dengan mematikan siklus hidup penyakit. Artinya kemampuan hidup bibit penyakit akan terus berlangsung apabila mendapatkan induk semang. Istirahat kandang yang cukup berarti kemampuan serangan suatu bibit penyakit dapat berkurang atau bahkan hilang. Beberapa program sanitasi dan desinfeksi pada saat istirahat kandang antara lain : memotong rumput di sekitar kandang, mengapur lantai kandang, dan pemberian desinfektan.

Jamur atau cendawan dapat tumbuh pada kebersihan kandang yang kurang terjaga, juga pada kelembaban kandang yang tinggi. Jamur atau cendawan juga mudah tumbuh pada bahan pakan yang disimpan pada tempat yang lembab. Jamur yang tercampur dalam bahan pakan tersebut menyebabkan penurunan laju pertambahan berat badan ayam.

Berdasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor :

54/Permentan/Ot.140/9/2010 Tanggal : 17 September 2010. Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice),

Puyuh adalah hewan yang sangat peka terhadap suara, sehingga kebisingan dan suara hiruk pikuk yang terjadi di lingkungan sekitarnya menyebabkan puyuh mudah stres. Sehingga dapat menyebabkan penurunan produksi. Kandang sebaiknya jauh dari lokasi pemukiman penduduk. Kandang menghadap ke timur untuk memberikan kesempatan sinar matahari pagi masuk ke dalamnya, sehingga ruangan kandang menjadi sehat dan cukup terang serta dapat membunuh kuman penyebab penyakit. Atap kandang tidak dibuat dari seng karena dapat menimbulkan kebisingan. Secara umum, ukuran kandang koloni bagi puyuh berukuran 1 x 1 m, dengan tinggi sekitar 30-35 cm. Untuk memudahkan pengambilan telur, sebaiknya lantai kandang dibuat agak miring sekitar 10 atau 20 derajat. Kandang koloni dapat dibuat bertingkat 3-5 tingkat. Di bawah alas kandang koloni yang berada di bagian atas sebaiknya ditempatkan penampung kotoran agar tidak mengotori kandang koloni dibawahnya.

Alas kandang dapat menggunakan sekam atau ampas gergajian, untuk menghindari terperosoknya kaki-kaki puyuh, selain itu sebagai sumber vitamin B12 yang berguna bagi tubuh puyuh. Untuk kepadatan kandang puyuh yang sudah bertelur adalah sekitar 50 ekor/m 2 . Kandang harus dibersihkan setiap hari. Untuk mengurangi bau kotoran yang timbul, dapat diberikan ekstrak jahe dan kunyit yang dicampur pada pakan.

Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 0 C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan system sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjutnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yang biasa digunakan dalam usaha puyuh adalah:

Kandang induk pembibitan. Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.

Kandang untuk anak puyuh/umur starter (kandang indukan). Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).

Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu). Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

Pada pembibitan itik sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor:

21/Permentan/Ot. 140/3/2032 tanggal 28 Maret 2012. Tentang Pedoman Teknis Pembibitan Itik. Kandang dan Perlengkapan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Kandang harus memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan hewan;

b. Kandang bersama dan atau kandang individu dimaksudkan untuk memudahkan manajemen pemeliharaan, mengumpulkan kotoran ternak yang dapat diolah menjadi pupuk organik;

c. Model kandang dapat menggunakan sistem lantai atau panggung;

d. Tersedia tempat air minum dan pakan yang cukup;

e. Tempat air minum terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat dan harus cukup dalam sehingga itik dapat mencelupkan kepalanya (disesuaikan dengan umur itik, baik ukuran maupun bentuknya);

f. Alas kandang atau litter harus tetap kering;

g. Mesin tetas yang sesuai dengan jumlah dan kapasitasnya;

h. Kandang cukup ventilasi, memperoleh cukup sinar matahari dan terhindar dari aliran hembusan angin yang terus menerus;

i. Tempat pakan harus diletakkan secara praktis, mudah terjangkau, mudah dipindahkan, mudah diganti atau ditambah isinya dan mudah dibersihkan;

j. ltik yang sakit ditempalkan di kandang isolasi, alat yang dipakai untuk membersihkan kandang isolasi tidak boleh digunakan pada kandang lain;

k. Alat pemanas (indukan buatan) dan alat penerangan cukup;

l. Alas kandang dan tempat bertelur kering dan bersih.

a. Jenis bahan sanitasi dan cara penggunaannya

Penyakit merupakan suatu masalah yang dapat menimbulkan keresahan

dan gagalnya usaha pembibitan ayam. Untuk menghindari timbulnya suatu

penyakit, setiap daerah pembibitan ayam memiliki program pencegahan

penyakit yang berbeda-beda. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan

sanitasi dan vaksinasi.

Bahan sanitasi kandang dan lingkungan yang digunakan yaitu bahan-bahan

yang tidak menimbulkan korosi pada kandang dan peralatan. Jenis bahan

sanitasi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Desinfektan dan Dosis Penggunaannya pada Periode Starter

Nama Obat

Kandungan Obat

Dosis

(cc/liter)

Shower

Aviodine

Flumequine/Colistine

1,5

Glotanol

Glutaraldehyde

5

Lysol

Phenol

1,5

Prima Cuats

Benzalkonium Klorida

2

Sanchine (Spray)

Aviodine

Flumequine/Colistine

3

Glotanol

Glutaraldehyde

10

Lysol

Phenol

3

Prima Cuats

Benzalkonium Klorida

4

Spray Lingkungan

Lysol

Phenol

5

Formalin

Formaldehyde

10

Spray Luar Kandang

Glutanol

Glutaraldehyde

10

Celup Kaki

Aviodine

Flumequine/Colistine

30

Lysol

Phenol

25

Spray Dalam Kandang

Aviodine

Flumequine/Colistine

10

Prima Cuats

Benzalkonium Klorida

13

Sumber : PT Silga Perkasa, 2010 dalam Manajemen Pemeliharaan Dan Perkandangan Ayam Bibit Pedaging, 2010

Pada periode grower, sanitasi kandang dan peralatan merupakan tugas

utama yang selalu dilakukan setiap hari. Sanitasi di lingkungan kandang dan

dalam kandang terus dilakukan selama proses pemeliharaan ayam

berlangsung. Sanitasi dilakukan dalam beberapa cara yaitu sanitasi

lingkungan kandang (spray desinfectan), sanitasi dalam kandang (spray

desinfectan), sanitasi karyawan (celup kaki dan shower).

Sanitasi sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan

atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dalam rantai

perpindahan penyakit. Sanitasi yang dilakukan pada periode layer sama

dengan sanitasi yang dilakukan pada periode sebelumnya.

Penggunaan desinfektan. Penyemprotan dengan menggunakan desinfekan

dilakukan secara periodik agar siklus hidup bibit penyakit dapat

dihilangkan. Penyemprotan dengan desinfektan dapat dilakukan 2 minggu

atau sebulan sekali dengan menggunakan antiseptic atau soda abu. Sabun,

soda abu 5 % sebagai pensuci hama kulit, pensuci hama tangan dan wadah

pakan dan air, menghilangkan kotoran dan agen infeksi. Sedangkan alat-alat

yang biasa digunakan untuk operasional kandang dapat dicuci antiseptik

/alkohol.

Tabel 5. Jenis Desinfektan, Lokasi Penggunaan dan Cara penggunaan.

No.

Jenis Desinfektan

Lokasi Penggunaan

Cara Penggunaan

1.

Sabun

Tempat pakan dan air minum

Dicampur dengan air, dicucikan

2.

Lisol, karbol, kreolin

Lantai dan dinding kandang

Dicampur dengan air, dicucikan atau disemprotkan

3.

Antisep dan

Tempat pakan dan air minum, permukaan kandang

Dicampur dengan air, disemprotkan

Saniquard

4.

Kalium Permanganat dan Formalin

Bagian dalam

Fumigasi

kandang

5.

Kapur

Lantai, dinding dan langit-langit kandang

Dicampur dengan air, dioleskan atau ditaburkan

6.

Teer

Bagian kandang yang terbuat dari kayu atau bambu

Dioleskan

Fumigasi adalah tindakan perlakuan terhadap media pembawa organisme

pengganggu dengan menggunakan fumigan ke dalam ruang yang kedap

udara pada suhu dan tekanan tertentu. Fumigan yang digunakan berupa

formaldehida.

Formaldehida adalah suatu gas yang diperdagangkan dalam larutan 38-

40% dalam air dan disebut formalin. Larutan formaldehida merupakan

cairan toksik benwarna, berbau karakteristik, menyengat dan perih serta

panas jika tercium dan merusak jika terkena kulit tubuh.

Tabel 6. Dosis Fumigasi Untuk Volume Ruangan 2,8 m 3

Konsentrasi Formaldehid 1 kali 2 kali 3 kali Alternatif bahan kimia yang digunakan Bahan 1

Konsentrasi

Formaldehid

Konsentrasi Formaldehid 1 kali 2 kali 3 kali Alternatif bahan kimia yang digunakan Bahan 1 Formalin

1 kali

2 kali

3 kali

Alternatif bahan kimia yang digunakan

Alternatif bahan kimia yang digunakan

Alternatif bahan kimia yang digunakan
Bahan 1

Bahan 1

Bahan 1

Formalin (cc)

40

80

120

KMnO4 (g)

20

40

60

Bahan 2

Paraformaldehid Powder (g)

10

20

30

Tabel 7. Fumigasi Yang di Rekomendasi

Uraian

 

Dosis

Waktu

Keterangan

Telur Tetas

3

kali

20

menit

 

Telur Dalam Mesin Tetas (haripertama)

2

kali

30

menit

 

Anak Ayam Dalam Mesin tetas

1

kali

3 menit

Asap formaldehid perlu segera dihentikan

Ruang Penetasan

1

kali/2 kali

30

menit

 

Mesin Tetas Kosong

3

kali

30

menit

 

Agar asap formaldehid hilang dengan cepat, dapat dipercikkan larutan 26-

29% ammonium hidroksida (NH4OH) sebanyak dosis formalin atau buka

lubang ventilasi segera dan selebar mungkin.

b. Jenis-jenis Peralatan Kandang

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 40/Permentan/

Ot.140/7/2011. Tanggal : 15 Juli 2011. Tentang pedoman pembibitan ayam

ras yang baik, jenis peralatan kandang, terdiri atas:

1)

pemanas buatan (brooder, heater);

2)

tempat pakan (chick feed tray, hanging feeder, chain feeding system, pan

feeding system);

3)

tempat minum (gallon drinker, PVC drinker, nipple drinker);

4)

tempat bertelur (nest box);

5)

alat timbang;

6)

alat pengaturan cahaya (time switch);

7)

alat fumigasi telur;

8)

alat pembawa telur (baki telur/egg tray);

9)

alat sanitasi dan pembersih;

10)alat pemadam kebakaran.

Jenis peralatan lainnya:

1)

alat potong paruh (debeaker);

2)

alat kesehatan;

3)

termometer;

4)

keranjang ayam;

5)

alat pertukangan (tool kit);

6)

alat tulis;

7)

alat celup kaki dan tangan;

8)

lampu senter;

9)

alat pencatat kecepatan angin, tekanan dan cahaya; dan

10)truk pengangkut (Telur, DOC, Pakan).

Peralatan yang digunakan harus sesuai dengan kapasitas/jumlah puyuh yang dipelihara, mudah digunakan dan dibersihkan serta tidak mudah berkarat. Berdasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor :

54/Permentan/Ot.140/9/2010 Tanggal : 17 September 2010. Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice), Peralatan tersebut antara lain:

1)

Alat pemanas sebagai induk buatan (brooder);

2)

Ventilator sebagai alat pengatur aliran udara;

3)

Tempat pakan dan minum;

4)

Alat sanitasi dan pembersih kandang;

5)

Termometer dan alat pengukur kelembaban udara;

6)

Timbangan;

7)

Alat fumigasi telur;

8)

Tempat telur /egg tray;

9)

Alat potong paruh dan kuku;

10)Mesin penetas; 11)Peralatan pengangkut limbah dan bangkai; 12)Alat pemusnah bangkai; 13)Peralatan kesehatan hewan.

Tirai kandang yang digunakan terbuat dari terpal yang dipasang menutupi seluruh bagian kandang yang terbuka. Untuk anak ayam umur 1-4 hari, tirai diturunkan atau dibuka (samping belakang 20 cm dan samping depan 50 cm). Tujuan pembukaan tirai ini untuk mengalirkan udara segar masuk ke dalam kandang karena belum menggunakan exhaust fan. Tirai kandang hanya dibuka saat anak ayam umur 1-4 hari, selanjutnya tirai ditutup dan hanya membuka in let pada kedua sisi kandang. Tirai yang digunakan pada periode starter adalah tirai berwarna putih. Pemeliharaan ayam periode grower menggunakan tirai berwarna hitam dan periode layer kembali menggunakan tirai berwarna putih. Tirai sangat berguna untuk melindungi anak ayam yang bulunya belum tumbuh lengkap dari hembusan angin.

1) Pemanas buatan

Pemanas buatan (indukan/brooder) yang berfungsi untuk menggantikan fungsi induk unggas sehingga suhu ruangan 28 31 o C dan kelembaban 55 60 % sehingga hampir sama dengan kondisi bersama induknya.

55 – 60 % sehingga hampir sama dengan kondisi bersama induknya. Gambar 1. Pemanas Buatan (

Gambar 1. Pemanas Buatan (Brooder, Heater)

Tempat pakan pada periode starter menggunakan feeder tray untuk

anak ayam betina dan jantan. Feeder tray digunakan dari umur anak

ayam 1 hari sampai umur ayam 2 minggu, namun pada umur ayam 1

minggu mulai diajarkan menggunakan tempat pakan gantung (hanging

feeder).

Jumlah tempat pakan feeder tray yang digunakan pada umur 1-3 hari

adalah 20-30 ekor/ feeder tray dan akan ditambah 5 buah setiap

pelebaran kandang. Tempat pakan yang digunakan pada periode

grower dan layer yaitu tempat pakan automatic feeder trough untuk

betina dan feeder trough untuk jantan.

Automaticfeeder trough menggunakan hopper sebagai bak pakan, rantai

untuk mengedarkan pakan dengan bantuan motor penggerak (dynamo).

Hopper berfungsi sebagai bak pakan sebelum pakan diedarkan ke dalam

kandang.

Trough berfungsi sebagai tempat pakan yangberbentuk persegi panjang

dan terbuat dari bahan baja. Lebar trough 8 cm, panjangnya sejajar

dengan panjang kandang dan dipasang 4-6 jalur. Trough ditutup dengan

grill berbentuk segitiga sebagai tempat masuknya kepala ayam. Ukuran

grill untuk ayam betina 4 cm x 7 cm. Feeder tray, hanging feeder dan

automatic feeder trough dapat dilihat pada Gambar 2.

dan automatic feeder trough dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Tempat Pakan ( chick feed

Gambar 2. Tempat Pakan (chick feed tray, hanging feeder, chain feeding system, pan feeding system)

Tempat air minum yang digunakan pada periode starter yaitu tempat air minum gallon. Tempat air minum gallon digunakan dari umur anak ayam 1 hari dan pada umur 10 hari sudah mulai digunakan tempat air minum otomatis (automatic bell drinker). Tempat air minum automatic bell drinker ini digunakan pada saat pemberian air tanpa penggunaan obat. Kebutuhan tempat air minum gallon yaitu 70 ekor anak ayam/gallon. Tempat air minum yang digunakan untuk periode grower dan layer yaitu tempat air minum automatic bell drinker. Tempat air minum gallon dan automatic bell drinker dapat dilihat pada Gambar 3.

dan automatic bell drinker dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Tempat Minum (gallon drinker, PVC

Gambar 3. Tempat Minum (gallon drinker, PVC drinker, nipple drinker)

2) Sangkar

Digunakan untuk tempat ayam betina bertelur. Sangkar ini harus mudah dipindahkan, redup, sirkulasi udara baik dan nyaman untuk ayam. Sangkar dilapisi dengan litter (sekam) agar telur tidak retak dan ayam akan merasa lebih nyaman. Sangkar ini terbuat dari bahan seng sehingga mudah dibersihkan dan tahan lama.

Sangkar dibuat berkelompok dengan satu unit sangkar berukuran panjang 180 cm dan lebar 70 cm dan terdiri dari 24 buah sangkar kecil. Sangkar-sangkar kecil ini berukuran 35 cm x 30 cm dan dapat diisi oleh 3-5 ekor ayam betina. Contoh sangkar dapat dilihat pada Gambar 4.

ayam betina. Contoh sangkar dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Sarang Tempat Bertelur ( nest

Gambar 4. Sarang Tempat Bertelur (nest box)

3) Timbangan

Digunakanuntuk mengontrol bobot badan ayam dari minggu ke minggu agar ayam lebih mudah diberi perlakuan (treatment).Alat timbangan yang digunakan ada dua jenis yaitu timbangan digital dan timbangan analog.

Gambar 5. Alat Timbang 4) Wadah telur Wadah telur berfungsi untuk menampung telur pada saat

Gambar 5. Alat Timbang

4) Wadah telur

Wadah telur berfungsi untuk menampung telur pada saat pengambilannya di dalam kandang, penyimpanan dan pengangkutan telur.

di dalam kandang, penyimpanan dan pengangkutan telur. Gambar 6. Tempat Telur (baki telur/ egg tray )

Gambar 6. Tempat Telur (baki telur/egg tray)

5)

Alat kebersihan

Alat kebersihan yang digunakan berupa sapu lidi, sapu ijuk, ember, sikat, kuas. Alat-alat ini digunakan untuk membersihkan debu dan kotoran yang ada di dalam kandang dan luar kandang.

Gambar 7. Alat Kebersihan 6) Alat sanitasi Alat sanitasi yang digunakan berupa bak celup kaki,

Gambar 7. Alat Kebersihan

6) Alat sanitasi

Alat sanitasi yang digunakan berupa bak celup kaki, jet cleaner, handsprayer.Alat-alat ini digunakan untuk desinfeksi di dalam dan di luar kandang.

, handsprayer .Alat-alat ini digunakan untuk desinfeksi di dalam dan di luar kandang. Gambar 8. Alat
, handsprayer .Alat-alat ini digunakan untuk desinfeksi di dalam dan di luar kandang. Gambar 8. Alat

Gambar 8. Alat Sanitasi Sprayer

7)

Alat Pemadam Kebakaran

Merupakanalat yang digunakan untuk membantu memadamkan api bila terjadi kebakaran. Alat ini sebagai pertolongan pertama sebelum tim khusus datang memadamkan api.

8) Ventilator

sebelum tim khusus datang memadamkan api. 8) Ventilator Gambar 9. Alat Pemadam Kebakaran Merupakanalat yang

Gambar 9. Alat Pemadam Kebakaran

Merupakanalat yang digunakan untuk mengatur aliran udara di dalam ruangan atau kandang sehingga suhu akan terkontrol.

di dalam ruangan atau kandang sehingga suhu akan terkontrol. Gambar 10. Ventilator Sebagai Alat Pengatur Aliran

Gambar 10. Ventilator Sebagai Alat Pengatur Aliran Udara

9) Termometer

Digunakanuntuk mengukur

suhu di dalam kandang. Alat ini

sangat membantu karyawan

untuk mengontrol suhu dalam

kandang, bila suhu naik maka

akan ditambah exhaust fan dan

sebaliknya suhu turun maka

akan dikurangi exhaust fan.

10)Cahaya lampu

turun maka akan dikurangi exhaust fan . 10)Cahaya lampu Gambar 11. Termometer dan alat pe- ngukur
turun maka akan dikurangi exhaust fan . 10)Cahaya lampu Gambar 11. Termometer dan alat pe- ngukur

Gambar 11. Termometer dan alat pe- ngukur kelembaban udara

Mempunyaiperanan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan

produktifitas ayam breeding. Lampu untuk periode starter, grower dan

layer mempunyai kekuatan pencahayaan berbeda. Periode starter

menggunakan lampu dengan kekuatan 25 watt, periode grower

menggunakan lampu dengan kekuatan 5 watt dan periode layer

menggunakan lampu dengan kekuatan 18 watt.

kekuatan 5 watt dan periode layer menggunakan lampu dengan kekuatan 18 watt. Gambar 12. Lampu Gambar
kekuatan 5 watt dan periode layer menggunakan lampu dengan kekuatan 18 watt. Gambar 12. Lampu Gambar

Gambar 12. Lampu

kekuatan 5 watt dan periode layer menggunakan lampu dengan kekuatan 18 watt. Gambar 12. Lampu Gambar

Gambar 13. Alat Fumigasi

11)Alat Potong Kuku dan Paruh

Merupakanalat yang digunakan oleh breeder untuk memotong kuku dan paruh anak ayam yang baru ditetaskan.

memotong kuku dan paruh anak ayam yang baru ditetaskan. Gambar 14. Alat Potong Paruh dan Kuku

Gambar 14. Alat Potong Paruh dan Kuku

12)Mesin tetas

Merupakanalat yang digunakan untuk menetaskan telur unggas sebagai pengganti induk pada penetasan buatan, terutama untuk itik yang tidak dapat mengerami sendiri.

telur unggas sebagai pengganti induk pada penetasan buatan, terutama untuk itik yang tidak dapat mengerami sendiri.
Gambar 15. Mesin Tetas 13)Peralatan kesehatan Antaralain berupa alat suntik (otomatis) digunakan untuk utamanya kegiatan

Gambar 15. Mesin Tetas

13)Peralatan kesehatan

Antaralain berupa alat suntik (otomatis) digunakan untuk utamanya kegiatan vaksinasi dan gunting digunakan apabila diperlukan pembedahan.

dan gunting digunakan apabila diperlukan pembedahan. Gambar 16. Peralatan Kesehatan Hewan (Alat Suntik dan
dan gunting digunakan apabila diperlukan pembedahan. Gambar 16. Peralatan Kesehatan Hewan (Alat Suntik dan

Gambar 16. Peralatan Kesehatan Hewan (Alat Suntik dan Gunting)

14)Alat Transportasi

Dapatberupa truk atau yang lain. Alat ini digunakan untuk mengangkut antara lain pakan, telur, DOC atau ayam dewasa.

mengangkut antara lain pakan, telur, DOC atau ayam dewasa. Gambar 17. Alat Transportasi (Truk Pengangkut Telur,
mengangkut antara lain pakan, telur, DOC atau ayam dewasa. Gambar 17. Alat Transportasi (Truk Pengangkut Telur,

Gambar 17. Alat Transportasi (Truk Pengangkut Telur, DOC, Pakan)

c. Standar kebutuhan kandang dan peralatan kandang

Pembuatan kandang harus ditinjau dari tiga sudut pandang: (1) sebagai problem biologi, (2) sebagai problem teknik dan (3) sebagai problem ekonomi. Artinya, peternak harus mengetahui kondisi suhu, kelembaban dan pergerakan udara yang ideal untuk produksi telur dan laju pertumbuhan yang maksimum. Demikian juga konstruksi kandang yang baik agar kondisi di atas dapat dikontrol pada suatu flock dengan jumlah ayam tertentu, batas maksimum atau minimum masing-masing faktor tanpa mempengaruhi produksi secara berarti, serta biaya konstruksi kandang haruslah dalam batas kewajaran.

Dari segi konstruksi, kandang haruslah memperhatikan lokasi, lebar kandang, bahan dan sistem atap yang digunakan, penyinaran dan ventilasi dalam kandang.Lebar kandang hendaknya 4-8 m dengan bagian samping yang terbuka dan panjang dapat disesuaikan.

Pembatasan lebar 4-8 m dimaksudkan agar aerasi dan pertukaran udara dalam kandang menjadi lancar. Kandang yang terlalu lebar akan menyebabkan pertukaran O2, CO2 dan amoniak (yang tidak boleh lebih dari 25 ppm) akan menjadi sukar.

Sistem ventilasi harus sangat diperhatikan sekali. Hal ini penting, agar aliran udara bertambah selama periode panas. Dengan bertambah cepatnya udara dalam kandang, suhu dalam kandang menjadi berkurang. Jika pergerakan aliran udara sedikit (60 feet/menit atau lebih), suhu kandang adalah 90ºF dan ayam akan merasakan panas sebesar itu pula. Tetapi bila aliran udara 300 feet/menit, maka ayam akan merasakan panas hanya sebesar 67ºF. Sebaiknya fan ventilasi disediakan dalam kandang.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah atap kandang hendaklah dibuat dengan sistem monitor, sebab panas dalam kandang dapat keluar melalui monitornya. Sehubungan dengan daya refleksi, bahan kandang hendaklah menggunakan bahan-bahan yang mampu memantulkan panas sebanyak mungkin.

Pada Ayam, lantai kandang terbuat dari adukan semen dan pasir, pada permukaan lantai ditutup dengan bahan litter dari sekam padi atau yang lazim disebut sistem litter berbahan sekam padi. Penggunaan litter sekam padi ini berfungsi untuk menyerap kotoran ayam, sebagai penghangat, dan sebagai alas tidur. Ketebalan sekam padi 8 cm untuk masa starter dan untuk masa selanjutnya akan ditambah sesuai keadaan sekam. Sekam dibalik setiap hari dan ditambah bila dalam keadaan basah. Sekam yang ada didalam kandang harus dalam kondisi tidak kering dan tidak basah. Sekam kering akan menimbulkan debu dan menyebabkan gangguan respirasi pada tenak ayam. Sekam yang basah akan menjadi media hidupnya bibit penyakit dan akan menyerang ternak ayam.

Exhaust fanadalah alat untuk mengeluarkan gas karbondioksida (CO 2 ) dan

gas amonia dari dalam kandang ke luar kandang. Ukuran exhaust

fanbervariasi, misalberdiameter 120 cm (48 inci) dan berkapasitas 30.000

m 3 /kipas dengan kemampuan memenuhi kebutuhan udara (O 2 ) per

kilogram bobot badan ayam hidup 8 m 3 /jam. Exhaust fan dipasang pada

bagian sisi lebar kandang.

Saat umur ayam >5 hari, tirai kandang ditutup, in let dibuka dan exhaust fan

mulai dijalankan. Jumlahexhaust fanyang dipasang adalah 6-8 buah per

kandang. Banyaknya exhaust fan yang digunakan tergantung volume

bangunan kandang dan bobot badan ayam dalam kandang tersebut.

Pada periode brooding, program all-in all-out (dimana ayam berada hingga

dipindah ke kandang bertelur

permanen, disediakan minimum 1

foot2 per ayam (10,8 ayam per m2)

dari umur sehari hingga 6 minggu

(42 hari).

ayam per m2) dari umur sehari hingga 6 minggu (42 hari). Gambar 18. Kebutuhan Luasan Per

Gambar 18. Kebutuhan Luasan Per Ekor Anak Ayam, 1 feet2/ekor atau 1m2 = 10.8 ekor.

Pada yang jantan, ketika anak ayam

jantan dalam satu kandang dengan

betina, pisahkan hingga potong

paruh (7-10 hari), dan kemudian

satukan. Pada jantan yang terpisah

dari betina hingga umur 10 atau 20

minggu

1) Pemanas

a) Pemanas, 500 ekor anak ayam per brooder.

b) Dinyalakan 24 jam sebelum anak ayam datang, suhu dilantai 80-90 o F (29-32 o C).

c) Penurunan temperatur 5 o F (3 o C) hingga 65-70 o F (18-21 o C).

d) Lakukan monitor tingkah laku ayam dengan hati-hati, ketika malam atau ketika stres untuk menyetel panas brooder yang benar. Aktifitas dan suaranya mungkin mengindikasikan kenyamanannya.

e) Bola lampu 1 buah 7,5 watt (merah atau putih) dapat digunakan agar anak ayam tetap dekat dengan pemanas.

f) Pembatas brooder tinggi 45 cm ditempatkan pada 60-150 cm dari tepi.

g) Secara bertahap perluar pembatas, pindahkan tempat pakan dan minum lebih jauh dari kandang ke otomatis atau peralatan tempat pakan dan minum yang lain.

h) Buka pembatas brooder ketika anak ayam mencapai umur 7-10 hari dan setelah potong paruh.

2) Air minum dan tempat air minum.

Isi air minum beberapa jam sebelum anak ayam datang, dengan air hangat atau temperatur 60 0 F (16 0 C). Jika anak ayam stres, beri larutan gula-air 10% (berat) selama 2-3 hari pertama. Agar lebih baik untuk memulainya, diperlukan mencelupkan paruh masing-masing anak ayam ke dalam larutan tersebut.

Sediakan minum 2-3 jam sebelum makan. Untuk 2 minggu pertama, sediakan gallon (4 liter) 2 buah untuk 100 anak ayam. Kemudian secara bertahap dapat diganti dengan tempat minum otomatis. Sediakan sedikitnya 1,5 cm jarak minum per ayam selama brooding periode. Pada tempat memanjang, perhitungkan pada kedua sisi. Cuci tempat minum

setiap hari. Dibutuhkan sanitasi air dengan baik dan suplai air sebaiknya dikontrol kemurniannya untuk mengontrol organisme penyebab penyakit, alga dan jamur di air.

3) Pakan dan Tempat pakan.

Setelah anak ayam 2-3 jam diberi minum, letakkan pakan pada tempat pakan nampan. Jangan gunakan boks anak ayam. Sediakan 1 tempat pakan nampan untuk 100 anak ayam atau tempat pakan memanjang dengan jarak 5 cm per anak