Anda di halaman 1dari 141

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

KATA PENGANTAR

Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi siswa dari sisi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh. Keutuhan tersebut menjadi dasar dalam perumusan kompetensi dasar tiap mata pelajaran mencakup kompetensi dasar kelompok sikap, kompetensi dasar kelompok pengetahuan, dan kompetensi dasar kelompok keterampilan. Semua mata pelajaran dirancang mengikuti rumusan tersebut. Pembelajaran kelas X dan XI jenjang Pendidikan Menengah Kejuruhan yang disajikan dalam buku ini juga tunduk pada ketentuan tersebut. Buku siswa ini diberisi materi pembelajaran yang membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterapilan dalam menyajikan pengetahuan yang dikuasai secara kongkrit dan abstrak, dan sikap sebagai makhluk yang mensyukuri anugerah alam semesta yang dikaruniakan kepadanya melalui pemanfaatan yang bertanggung jawab.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapai kompetensi yang diharuskan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, siswa diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serp siswa dengan ketersediaan kegiatan buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan- kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.

Buku ini sangat terbuka dan terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu, kami mengundang para pembaca memberikan kritik, saran, dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan. Atas kontribusi tersebut, kami ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia Merdeka (2045)

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

VII

DAFTAR ISI

VII

DAFTAR GAMBAR

X

DAFTAR TABEL

XI

BAGIAN 1. PENDAHULUAN

1

A.

Deskripsi

1

B.

Prasyarat

1

C.

Petunjuk Penggunaan

1

D.

Tujuan Akhir

2

E.

Kompetensi Inti dan Kompetensi dasar

3

F.

Peta Konsep

4

BAGIAN

2: PEMBELAJARAN

4

BAB I. PENGANGKUTAN IKAN HIDUP DAN SEGAR (36 JP)

5

Kegiatan Belajar 1

6

A. Tujuan Pembelajaran

6

B. Aktivitas Belajar Siswa

6

C. Uraian Materi

9

D. Rangkuman

45

E. Lembar Refleksi Diri

49

F. Tugas

50

G. Lembar Soal Tes Formatif

53

H. Penilaian

56

BAB II. SISTEM PEMASARAN HASIL PERIKANAN (28 JP)

71

KEGIATAN BELAJAR 2

71

A. Tujuan Pembelajaran

71

B. Aktivitas Belajar Siswa

71

C. Uraian Materi

73

D. Rangkuman

101

E. Lembar Refleksi Diri

104

F. Tugas

106

G. Lembar Soal Tes Formatif

108

H. Penilaian

110

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

DAFTAR PUSTAKA

124

GLOSARIUM

128

INDEKS

132

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pengemasan/packing menggunakan pengangkutan pesawat

12

Gambar 2. Mobil sebagai alat pengangkutan / transportasi ikan hidup

12

Gambar 3. Alat pengemasan/packing ikan hidup

13

Gambar 4. Pemberokan Ikan yang akan di

15

Gambar

5.

Penampungan

ikan

sebelum

dipacking/dikemas

22

Gambar 6. Penampungan Ikan pada Jaring/karamba

22

Gambar 7. Penampungan ikan di kolam/bak permanenan

23

Gambar 8. Pengangkutan ikan secara terbuka

27

Gambar 9. Proses membersihkan ikan dari lumpur

33

Gambar 10. Sortir dan Grading Ikan

34

Gambar 11. Penataan ikan segar dalam wadah pengangkutan ikan

34

Gambar 12. Drum Plastik yang digunakan untuk Mengangkut ikan

36

Gambar 13. Fiberglas digunakan untuk pengangkutan ikan sistem terbuka

37

Gambar 14. Pengemasan ikan menggunakan kantong plastic

40

Gambar 15. Kotak pengangkutan ikan hidup secara kering

42

Gambar 16. Pengangkutan benih ikan secara tertutup

44

Gambar 17. Pengemasan telur ikan gurame

45

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kualitas air yang optimal untuk ikan air tawar

16

Tabel 2. Tanda-tanda ikan segar dan ikan yang sudah tidak segar

31

Tabel 3. Jenis dan dosis obat pembius untuk pengangkutan ikan

43

Tabel 4. Proyeksi Permintaan Benih Ikan Patin

101

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

BAGIAN 1. PENDAHULUAN

A. Deskripsi Buku Panen dan Pasca Panen II ini akan mempelajari Perhitungan pertumbuhan ikan, Perhitungan tingkat sintasan/kelulushidupan, Derajat kelangsungan hidup (Survival Rate), Penanganan hasil panen ikan, Teknik rantai dingin, Penanganan higienis, Penanganan hasil panen ikan, Persyaratan kualitas ikan, Jenis bahan pembiusan ikan, Teknik packing/pengemasan ikan, Teknik packing/pengemasan ikan, Teknik pengangkutan/ transportasi ikan, Analisis pasar , Analisis pasar dan Evaluasi hasil pemasaran

B. Prasyarat Untuk mempelajari buku panen dan pasca panen 1 ini anda terlebih dahulu telah memahami Teknik Pembenihan, Teknik Pembesaran ikan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit ikan serta penangan ikan. Pemahaman tentang fisika, kimia, biologi khususnya mikrobiologi sangat membantu dalam mempelajari buku ini, Untuk dapat memahami isi buku ini, anda harus mempelajari dan memahami secara berurutan Bab demi bab serta mengerjakan setiap tugas-tugas dalam buku ini.

C. Petunjuk Penggunaan Desain pembelajaran pada Buku panen dan pasca panen 2 ini adalah sesuai kurikulum 2013, dimana pendekatan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik dimana keaktifan anda merupakan dominan dan utama dalam pembelajaran. Oleh sebab itu anda disarankan melaksanakan kegiatan pembelajaran 5 M yaitu mengamati, menanya, mengekplorasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan materi yang sedang di pelajari. Berdasarkan hal tersebut diatas, anda disarankan mengumpulkan informasi baik pengalaman sendiri, masyarakat, pengetahuan, keterampilan tentang pemanenan dan pasca panen hasil perikanan. Pengumpulan informasi tersebut dapat berasal dari buku, majalah, surat kabar, tanya jawab dengan pengusaha, internet dan sebagainya. Informasi tersebut dikumpulkan untuk mendukung dan memahami mata pelajaran ini.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Selain hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman pelajaran sebelumnya yang telah anda dapat yaitu pembenihan, pembesaran, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama penyakit ikan dan pemanenan da pasca panen hasil perikanan 1.

D. Tujuan Akhir

Setelah mempelajari buku Panen dan Pasca Panen 2, anda akan memahami :

1. Perhitungan Pertumbuhan Ikan

2. Perhitungan tingkat sintasan/kelulushidupan

3. Perhitungan pertumbuhan kekerangan

4. Panjang total

5. Panjang mutlak

6. Berat total

7. Perhitungan tingkat sintasan/kelulus hidupan

8. Derajat kelangsungan hidup (Servival Rate)

9. Penanganan hasil panen ikan

10. Teknik rantai dingin

11. Penanganan higienis

12. Penanganan hasil panen kekerangan

13. Persyaratan kualitas mutiara

14. Jenis bahan pembiusan ikan

15. Teknik packing/pengemasan ikan

16. Teknik packing/pengemasan kekerangan

17. Teknik pengangkutan/transportasi kerang kering

18. Analisis pasar

19. Evaluasi hasil pemasaran

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi dasar

Kompetensi Inti

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

KI 1

:

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2

:

Menghayati

dan

mengamalkan

perilaku jujur, disiplin,

tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KI 3 : Memahami, menerapkan dan menjelaskan pengetahuan faktual,

konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenome na dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah : Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung

KI 4

Kompetensi Dasar

a. Memprediksi pemanenan ikan

b. Menganalisis pengendalian mutu hasil panen ikan

c. Menganalisis sistem pengangkutan/transportasi ikan hidup dan segar

d. Memprediksi pemasaran produk ikan

F. Peta Konsep

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

F. Peta Konsep Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 4

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

BAGIAN 2: PEMBELAJARAN

Bab I. PENGANGKUTAN IKAN HIDUP DAN SEGAR (36 JP)

Panen ikan merupakan pekerjaan akhir dari budidaya ikan dan dilanjutkan dengan kegiatan pascapanen. Kegiatan pemanenan ikan harus direncanakan meliputi waktu panen, peralatan, tenaga kerja, penampungan, dan pemasaran hasil panen. Penentuan waktu panen dengan memperhitungkan/memprediksi permintaan pasar, ukuran ikan, cuaca, jumlah ikan dan sebagainya.

Kegiatan pemanenan ikan dapat menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan. Pada jenis ikan tertentu ukuran dan warna ikan di tentukan oleh permintaan pasar. Permintaan pasar ikan lele umumnya adalah 6-8 ekor /kg. Beberapa daerah perminataan pasar akan ikan mas adalah berwarna kuning dan beberapa daerah berwarna hitam. Pemanenan ikan sangat berhubungan dengan iklim /cuaca. Sebelum panen juga perlu dipelajari sistem pemasaran ikan. Sistem pemasaran ikan lebih difokuskan pada tata niaga ikan. Sebaiknya tata niaga ikan dilakukan langsung ke tangan konsumen agar harga ikan lebih tinggi dibandingkan pemasaran ikan melalui pihak ke tiga. Pemanenan ikan dilakukan pada saat suhu air/udara dingin. Suhu air tersebut berhubungan ketersediaan oksigen terlarut dalam air.

Penentuan jumlah dan ukuran ikan sebelum pemanenan bertujuan untuk menghitung pendapatan, daya serap pasar, tenaga kerja, waktu panen, peralatan yang disiapkan dan sebagainya. Perhitungan jumlah ikan panen dilakukan dengan jumlah penebaran awal, ukuran ikan, mortalitas dan jumlah pemberian pakan. Perhitungan ukuran dan jumlah ikan harus dilakukan dengan sampling ikan secara berkala.

Pascapanen hasil perikanan adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan (pemanenan) hasil perikanan sampai siap untuk dipasarkan. Dengan kata lain kegiatan pasca panen hasil perikanan meliputi persiapan pemanenan, pemanenan, pembersihan, sortasi, pengawetan, pengemasan, penyimpanan, standarisasi mutu, dan transportasi hasil budidaya ikan sampai hasil perikanan tersebut sampai ke tangan konsimen. Sedangkan Penanganan pascapanen hasil pertanian meliputi semua kegiatan perlakuan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

dan pengolahan langsung terhadap hasil perikanan yang karena sifatnya harus segera ditangani untuk meningkatkan mutu hasil pertanian agar mempunyai daya simpan dan daya guna lebih tinggi. Khususnya terhadap komoditas ikan, tahapan pascapanen hasil perikanan meliputi pemberokan ikan, penampungan, pemanenan, pembersihan, sortasi, packing, transportasi, pendinginan, dan pengawetan. Penanganan pascapanen hasil perikanan bertujuan untuk menekan tingkat kerusakan hasil panen komoditas perikanan dengan meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas perikanan agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri dan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan Belajar 1

A. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari kompetensi ? ikan, anda akan memahami :

Prinsip - prinsip pengangkutan/ transportasi ikan

Teknik pengangkutan/transportasi ikan hidup dan segar

B. Aktivitas Belajar Siswa Sering kita mendengar bahwa beberapa jenis ikan di Indonesia merupakan introduksi ikan dari negara lain. Artinya beberapa jenis ikan seperti ikan bawal air tawar ( Collosoma macropum), patin (Pangasius sp ), nila GIFT (Tilapia sp ), ikan hias koki (Cyprinus auratus), ikan hias koi (Cyprinus carpio) dan sebagainya didatangkan dari negara lain. Untuk mendatangkan ikan dari negara lain masuk ke Indonesia dilakukan dengan pengangkutan yang baik agar tidak ikan tersebut mati di perjalanan. Demikian juga di Indonesia, banyak ikan/benih ikan dari satu propinsi di kirim atau dibawa ke propinsi lain.

Apakah anda pernah memindahkan ikan dari satu kolam ke kolam lain yang saling berdekatan? atau memindahkan ikan dari akuarium di rumah anda ke bak atau ember teman atau tetangga anda?. Pemindahan ikan baik dari luar negeri masuk ke Indonesia atau dari satu propinsi/kota ke propinsi / kota lain atau dari akuarium ke bak merupakan salah satu contoh pengangkutan ikan.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Pengangkutan ikan dari satu negara ke negara lain, satu propinsi / kota ke propinsi /kota lain berbeda teknik pengangkutannya dengan mengangkut ikan dari satu akuarium / kolam ke akuarium/kolam lain dalam satu lokasi. Dengan kata lain pengangkutan ikan yang jauh, berbeda dengan teknik pengangkutannya dengan yang lebih dekat. Demikian juga membawa ikan ukuran kecil dan ikan uuran besar berbeda teknik pengangkutannya.

Permasalahan yang sering dihadapi oleh para supplier dalam pengiriman ikan adalah survival rate yang rendah diantaranya disebabkan karena kualitas air yang memburuk selama pengangkutan. Jhingran dan Pullin (1985) menyatakan bahwa kematian ikan pada sistem pengangkutan umumnya disebabkan oleh tingginya kadar CO , akumulasi amoniak, ikan terlalu aktif, infeksi bakteri dan luka fisik akibat penanganan yang kasar. Hal ini terjadi karena pengiriman ikan ke daerah memerlukan waktu yang cukup lama yaitu hingga 24 jam.

Sehubungan dengan materi pengangkutan ikan anda diminta membuat kelompok. Setiap kelompok terdiri 4-5 orang. Setiap kelompok diminta mengamati ikan yang terdapat pada pengemasan/packing secara tertutup (plastik) dan pengemasan secara terbuka (ember, akuarium, bak dan sebagainya) di laboratorium atau di dalam kelas.

1. Mengamati / mengobservasi

a. Bacalah literatur tentang pengangkutan ikan!

b. Amatilah ikan yang terdapat pada pengemasan/packing ikan secara tertutup dan terbuka!

c. Catat perilaku ikan (gerakan, cara bernapas, makan, berenang dan sebagainya) pada kedua pengemasan/packing (secara tertutup dan terbuka) setiap10 menit.

No

Perilaku

10 menit

20 menit

30 menit

40 menit

1

Gerakan

       

2

Cara bernapas

       

3

Makan

       

4

Berenang

       

5

Pingsan

       

2. Menanya

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

a. Diskusikan dalam kelompok anda perilaku ikan dalam kedua kemasan/packing tersebut!

b. Bandingkan perilaku ikan pada kedua kemasan tersebut!

c. Apakah penyebab perilaku ikan tersebut pada ke dua kemasan?

3. Mencoba/mengumpulkan informasi

a. Masing masing kelompok melakukan pengemasan / packing ikan secara tertutup,dengan beberapa perlakuan sebagai berikut :

   

Perlakuan

 

Perilaku

 

Kel

pengemasan/

           

packing

Gerakan

Bernafas

Makan

Berenang

Pingsan

Mati

1

Perbandingan Oksigen dan air adalah 3:1, ukuran ikan 3-5 cm benih ikan sebanyak

           

20

ekor/liter air

2

Perbandingan Oksigen dan air adalah 1:3, ukuran ikan 3-5 cm. benih ikan sebanyak

           

20

ekor/liter air

3

Perbandingan Oksigen dan air adalah 1:3, ukuran ikan 9-12 cm benih ikan sebanyak

           

20

ekor/liter air

4

Perbandingan Oksigen dan air adalah 1:3, ukuran ikan 9-12 cm, benih ikan sebanyak

           

50

ekor/liter air

b. Catat perilaku ikan dalam wadah kemasan/packing setiap 10 menit!

4. Mengasosiasi

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

a. Bagaimana hubungan jumlah ikan dengan perilaku ikan dalam wadah pengemasan ikan secara tertutup?

b. Bagaimana hubungan suhu air dengan kandungan oksigen terlarut dalam pengemasan ikan secara tertutup?

c. Bagaimana hubungan kualitas air dalam pengemasan secara tertutup dengan perilaku ikan?

5. Mengkomunikasikan

a. Buatlah laporan hasil pengamatan anda pada kegiatan pengemasan ikan!

b. Presentasikan hasil diskusi dan pengamatan anda di depan kelas!

C. Uraian Materi

1. Prinsip - prinsip Pengangkutan/ transportasi Ikan Mengangkut berarti memindahkan atau membawa suatu barang, atau benda lainnya dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuan utamanya agar barang yang dibawa bisa sampai di tempat tujuan dalam keadaan utuh, tidak rusak atau tidak berubah. Perubahan bentuk, perubahan rasa, dan ketidak-lengkapan dapat menurunkan nilai barang itu. Agar tujuan itu bisa terwujud, maka alat yang digunakan dalam pengangkutan harus cocok, yaitu alat yang bisa menjaga keutuhan barang itu. Selain itu, pengangkutan juga harus menggunakan cara yang baik. Bila keduanya tidak dilakukan, sudah pasti barang itu tidak akan sampai dalam keadaan utuh sehingga akan merugikan pengusaha ikan. Seperti halnya pengangkutan barang, pengangkutan ikan juga memiliki arti dan tujuan yang sama. Namun alat, dan cara yang digunakan dalam pengangkutan ikan berbeda dengan alat, dan cara yang digunakan dalam pengangkutan barang seperti buku. Karena buku merupakan benda mati yang tidak mudah rusak. Sedangkan ikan adalah mahluk hidup yang kemungkinan besar bisa rusak, bahkan mati.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Untuk menentukan alat dan bahan pengangkutan sangat tergantung dari karakteristik, dan sifat-sifat hidup ikan, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan pernapasannya. Prinsip pengangkutan mahluk hidup khususnya ikan, adalah jangan sampai alat pernapasannya terganggu selama pengangkutan. Dengan kata lain selama pengangkutan wadah dan media ikan dibuat sedemikian rupa sehingga ikan merasa nyaman selama perjalanan/pengangkutan. Agar ikan merasa nyaman selama perjalanan maka kebutuhan hidup seperti kualitas air, kepadatan, alat transportasi dan sebagainya harus sesuai dengan kebutuhan ikan yang diangkut.

Faktor utama yang perlu mempertimbangkan ketersediaan oksigen dalam pengangkutan ikan hidup antara lain adalah :

a. Spesies ikan : kebutuhan ikan terhadap oksigen bervariasi sesuai dengan spesiesnya.

b. Umur dan ukuran ikan : ikan yang lebih kecil memiliki kebutuhan oksigen lebih tinggi dibandingkan dengan ikan yang lebih besar.

c. Ketahanan relatif ikan : ikan yang diberi pakan alami lebih tahan dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan buatan, serta ikan yang dalam kondisi yang siap memijah memiliki daya tahan yang rendah dalam pengangkutan.

d. Suhu air : pada suhu rendah mengakibatkan kadar oksigen di dalam air lebih tinggi, karena kebutuhan oksigen akan menurun.

e. Lama waktu angkut : makin pendek waktu angkut makin tinggi kepadatannya.

f. Cara angkut dan lama istirahat : makin cepat pengangkutan dan makin baik prasarana serta waktu istirahat yang pendek, kemungkinan keberhasilan pengangkutan semakin besar.

g. Sifat alami alat pengangkut : pengangkutan dengan wadah kayu menyebabkan peningkatan suhu air lebih lamban dibandingkan dengan wadah logam, tetapi wadah kayu dapat mengisolasi panas dalam wadah.

h. Kondisi klimatologik : hal ini berpengaruh terhadap suhu air di dalam wadah maupun kandungan oksigen terlarutnya.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

2. Prinsip Pengangkutan/ transportasi Ikan Hidup Sebelum anda mempelajari sistem pengangkutan/transportasi ikan, sebaiknya anda mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan “sistem”. Pengertian sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian dimana bagian bagian tersebut berfungsi bersama sama mencapai tujuan. Contoh : Tubuh manusia adalah satu kesatuan yang terdiri dari bagian /organ telinga, mata, mulut, kepala, otak, tangan, kaki, lidah, usus dan sebagainya. Agar mencapai tujuan, semua bagian bagian tubuh harus bekerja dan berfungsi bersama sama. Kalau kita (tubuh) ingin mengerjakan pelajaran, maka mata harus melihat, otak harus berpikir, tangan untuk menulis. Bagian tubuh tersebut harus bekerja dan berfungsi bersama sama untuk mengerjakan pelajaran tersebut. Jika salah satu bagian /organ tidak bekerja dan tidak berfungsi maka tujuan untuk mengerjakan pelajaran tidak akan terwujud. Demikian juga halnya dengan sistem pengangkutan / transportasi ikan hidup yang terdiri dari alat pengangkutan, pengemasan/packing, ikan, media (air) hidup ikan dan administrasi. Bagian bagian sistem pengangkutan/transpotasi ikan tersebut harus dapat bekerja dan berfungsi dengan baik untuk mencapai tujuan pengangkutan ikan.

3. Alat Pengangkutan /Transportasi Ikan Alat pengangkutan /transportasi ikan adalah sarana untuk menghantarkan /membawa ikan agar sampai ke tujuan. Sarana yang digunakan untuk menghantarkan / membawa ikan tergantung dari jarak tujuan pengangkutan ikan. Sarana tersebut dapat menggunakan pesawat, mobil, motor dan manusia. Sarana yang digunakan harus memiliki kondisi yang baik agar sampai tujuan dengan tepat waktu sehingga ikan tiba dengan selamat.

Jika alat pengangkutan /transportasi ikan dipilih menggunakan pesawat maka harus memilih pesawat yang tepat waktu. Pesawat yang sering mengalami delay / penundaan keberangkatan dapat menyebabkan ikan mati. Karena oksigen terlarut dalam kemasan/packing terbatas sehingga ikan akan kekurangan oksigen terlarut untuk bernapas. Penggunaan pesawat untuk alat pengangkutan / transportasi ikan umumnya untuk jarak yang lebih jauh dan tidak memungkinkan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

menggunakan alat transportasi lainnya untuk keselamatan ikan. Jika menggunakan pesawat, anda harus mempelajari sistem pengiriman setiap maskapai penerbangan misalnya cara pengemasan, berat, harga, dan persyaratan lainnya. Contoh : jika anda menggunakan maskapai Garuda, beberapa hari sebelum pengiriman anda terlebih dahulu booking cargo sesuai jumlah barang, hari, jam penerbangan. Maskapai penerbangan garuda mengharuskan menggunakan kemasan/packing styreofoam merek garuda. Ongkos setiap kemasan/packing styreofoam minimal pembayaran 16 kg.

setiap kemasan/packing styreofoam minimal pembayaran 16 kg. Gambar 1. Pengemasan/packing menggunakan pengangkutan

Gambar 1. Pengemasan/packing menggunakan pengangkutan pesawat

Umumnya pengangkutan ikan hidup menggunakan mobil memiliki jarak pengiriman yang jauh. Sedangkan pengangkutan /transportasi ikan hidup menggunakan motor umumnya memiliki jarak tempuh relatif dekat.

motor umumnya memiliki jarak tempuh relatif dekat. Gambar 2. Mobil sebagai alat pengangkutan / transportasi
motor umumnya memiliki jarak tempuh relatif dekat. Gambar 2. Mobil sebagai alat pengangkutan / transportasi

Gambar 2. Mobil sebagai alat pengangkutan / transportasi ikan hidup

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

4. Alat Pengemasan/packing ikan hidup Alat pengemasan/packing ikan hidup harus disesuaikan dengan jarak pengangkutan / transportasi ikan. Alat pengemasan/packing ikan hidup dapat menggunakan ember, drum, fiberglass, bak, kantong plastik dan sebagainya. Alat pengemasan/packing ikan hidup seperti : ember, drum, fiberglass dan bak umumnya digunakan pada pengangkutan ikan secara terbuka. Sedangkan kantong plastik digunakan untuk pengangkutan secara tertutup.

plastik digunakan untuk pengangkutan secara tertutup. Gambar 3. Alat pengemasan/packing ikan hidup Alat pengemasan
plastik digunakan untuk pengangkutan secara tertutup. Gambar 3. Alat pengemasan/packing ikan hidup Alat pengemasan
plastik digunakan untuk pengangkutan secara tertutup. Gambar 3. Alat pengemasan/packing ikan hidup Alat pengemasan

Gambar 3. Alat pengemasan/packing ikan hidup

Alat pengemasan /packing secara terbuka (ember, drum, fiberglass dan bak) umumnya mengirim/membawa ikan dengan jarak dekat. Oksigen yang dibutuhkan ikan selama pengangkutan/perjalanan berasal dari difusi okisgen yang berasal udara yang masuk kedalam alat pengangkutan tersebut. Selain itu untuk menyediakan oksigen terlarut dalam air pengemasan/packing secara terbuka dapat menggunakan aerasi dengan menggunakan aerator/blower. Sedangkan pengemasan /packing menggunakan kantong plastik umumnya mengirim/membawa ikan dengan jarak jauh. Pada alat pengemasan/packing kantong plastik, oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan selama pengangkutan/perjalanan disediakan dengan memasukkan oksigen murni kedalam kantong plastik.

5. Penanganan Ikan Hidup Hasil Panen Ikan yang akan dikirim/diangkut terlebih dahulu di berok untuk mengeluarkan kotoran dan sisa pakan dari ususnya. Pemberokan dapat dilakukan di bak atau waring dengan mengalirkan air secara terus menerus. Selama pemberokan ikan tidak diberi pakan. Hal ini bertujuan agar selama perjalanan ikan tidak

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

mengeluarkan kotoran pada media air pengangkutan. Jika ikan mengeluarkan kotoran pada media air pengangkutan menyebabkan amoniak tinggi dan oksigen terlarut rendah sehingga dapat menyebabkan ikan mati di perjalanan. Selain di berok, ikan yang akan dikirim/diangkut harus terlebih dahulu di sortir dan grading. Sortir dilakukan untuk memilih ikan yang sakit dan cacat sehingga ikan tersebut tidak ikut di kirim. Grading dilakukan untuk memilih ukuran ikan yang akan dikirim. Ikan yang kecil di satukan dengan ikan yang kecil. Demikian ikan yang besar di satukan dengan ikan yang besar dan seterusnya.

Perlakuan pada ikan yang akan diangkut juga turut menentukan kesuksesan dalam menerapkan prinsip pengangkutan ikan, baik sebelum maupun selama pengangkutan. Perlakuan tersebut adalah :

a. Ikan harus ditreatmen, atau disucihamakan terlebih dahulu, yaitu dengan cara merendam dalam obat tertentu, contoh Kalium Permanganat (PK), dengan dosis tertertu dan dalam waktu, atau lamanya tertentu pula.

b. Ikan yang akan diangkut harus diberok dahulu. Yaitu ditampung dalam bak dengan aliran air bersih, dan tidak diberi pakan tambahan. Tujuan pemberokan adalah untuk mengeluarkan kotoran dari tubuh ikan. Karena ikan yang baru dipanen banyak mengandung kotorannya. Tujuan pemberokan adalah agar selama pengangkutan, ikan akan mengeluarkan kotoran. Kotoran tersebut akan menurunkan kualitas air dalam alat pengangkutan. Kotoran ikan dalam media air akan menurunkan kandungan oksigen terlarut dan meningkatkan kandungan karbondioksida dan amoniak.

c. Ikan yang akan diangkut harus diseleksi terlebih dahulu sesuai ukuran dan jenis ikan. Ukuran ikan yang kecil ditempatkan bersama dengan ukuran ikan yang kecil, demikian juga ukuran yang besar di tempatkan bersamaan dengan ukuran yang besar. Tujuan seleksi adalah agar ukuran ikan menjadi seragam, sehingga bila diangkut tidak terjadi persaingan selama pengangkutan. Persaingan tersebut berupa persaingan dalam memperebutkan tempat dan oksigen terlarut. Ikan yang berukuran lebih besar membutuhkan tempat lebih besar. Demikian juga persaingan oksigen terlarut, ikan besar membutuhkan oksigen terlarut dibandingkan ikan berukuran kecil.

\

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

\ Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 Gambar 4. Pemberokan Ikan yang akan di angkut. 6.

Gambar 4. Pemberokan Ikan yang akan di angkut.

6. Kualitas air Media Pengangkutan Ikan Air merupakan media pengangkutan /transportasi ikan hidup. Air yang digunakan harus memiliki kualitas air yang baik bagi ikan. Parameter kualitas air yang penting diperhatikan dalam pengangkutan ikan adalah oksigen terlarut, karbondioksida, amoniak, pH, dan suhu. Kualitas air yang dibutuhkan ikan pada pengangkutan dan pemeliharaan ikan adalah sama. Oleh sebab itu, pengelolaan kualitas air pada pengangkutan ikan hampir sama dengan memelihara ikan di kolam. Perbedaannya Pemeliharaan ikan di kolam memiliki wadah diam, sedangkan kalau pengangkutan ikan wadahnya bergerak. Selain itu kepadatan ikan pada saat pengangkutan lebih tingggi dibandingkan memelihara ikan di kolam. Selama pengangkutan, kualitas air yang paling penting diperhatikan adalah oksigen terlarut, yaitu ikan harus mendapatkan oksigen terlarut yang cukup. Kualitas air dinyatakan dalam beberapa parameter, yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam), dan parameter biologi (keberadaan plankton, dan bakteri) (Boyd, 1991). Ikan air tawar termasuk tidak banyak menuntut lingkungan bagus sebagai media hidupnya. Ikan ini mampu bertahan pada perairan yang kondisinya jelek sekalipun, namun akan tumbuh dengan normal dan optimal pada perairan yang sesuai dengan persyaratan habitatnya.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Tabel 1. Kualitas air yang optimal untuk ikan air tawar

Parameter

Nilai

Sumber

Suhu

27-29 C

Djarijah (2001)

Oksigen terlarut

2,4-6 mg/l

Karbondioksida

Maksimal 5,6 mg/l

pH

7-8

Amoniak

Maksimal 0,1 mg/l

Effendi (2003)

Nitrit

Maksimal 1 mg/l

Alkalinitas

50-300 mg/l CaCO3

a. Karbondioksida (CO )

Karbondioksida (CO ) dalam media pengangkutan merupakan hasil respirasi

dan dapat mengancam kelangsungan hidup ikan. Jumlah CO yang

terlampau banyak akan bersifat racun bagi ikan (Jhingran dan Pullin, 1985).

Kadar CO terlarut lebih dapat ditoleransi oleh ikan dibandingkan dengan

amoniak, bahkan banyak ikan yang hidup pada air yang mengandung CO

membunuh ikan dalam waktu relatif lama. Kadar CO dalam air juga

demikian pula sebaliknya jika CO rendah maka pH air tinggi (Boyd, 1990).

mempengaruhi pH air. Pada saat kandungan CO tinggi maka pH air rendah

lebih besar dari 60 mg/l (Boyd, 1992). Kadar CO sebesar 50-100 mg/l dapat

b. Amoniak (NH3)

Selama pengangkutan ikan amoniak merupakan penyebab kegagalan utama.

Amoniak dalam media pengangkutan ikan berasal dari metabolisme bahan

organik yang terdapat pada media ( air ). Bahan organik tersebut berasal dari

lumpur dan kotoran ikan. Lumpur pada media (air) pengangkutan ikan

berasal dari air yang tidak bersih. Air pengangkutan ikan harus menggunakan

air bersih. Oleh sebab itu sebelum pengangkutan, ikan harus terlebih dahulu

di berok selama 2-3 hari.

Amoniak adalah suatu produk hasil dari metabolisme protein dan disisi lain

amoniak merupakan racun bagi ikan sekalipun konsentrasinya sangat rendah

(Zonneveld et al., 1991). Amoniak dan nitrit yang tinggi dalam perairan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

bersifat berbahaya bagi ikan. Persentase amoniak bebas meningkat dengan meningkatnya nilai pH dan suhu perairan, apabila konsentrasinya tinggi dapat mempengaruhi kehidupan ikan (Boyd, 1991). Selain amoniak, senyawa nitrogen yang dihasilkan ikan berupa NO - (nitrit) dan NO - (nitrat). Jika nitrit NO - terabsorpsi secara terus menerus oleh ikan, maka nitrit akan bereaksi dengan haemoglobin sehingga membentuk metemoglobin Hb+NO - = Met- Hb). Adapun reaksi yang terjadi adalah unsur besi yang terdapat dalam haemoglobin akan dioksidasi dari ferro menjadi ferri dan akan membentuk Met-Hb. Metemoglobin ini bersifat menurunkan kemampuan haemoglobin dalam mengikat oksigen, sehingga dapat mengakibatkan stres dan kematian pada ikan. Darah yang mengandung metemoglobin berwarna coklat biasanya disebut dengan “brown blood disease” (Boyd, 1991).

3

c. Power of hydrogen (pH) Konsentrasi ion H + di dalam air pengankutan berasal dari metabolisme bahan organik yaitu lumpur dan kotoran ikan. Nilai pH (power of hydrogen) merupakan ukuran konsentrasi ion H + di dalam air. Keasaman adalah kapasitas air untuk menetralkan ion-ion hidroksil (OH - ). Nilai pH disebut asam bila kurang dari 7, pH 7 disebut netral dan pH di atas 7 disebut basa. Jaringan insang merupakan target organ pertama akibat stres asam. Ketika ikan berada pada pH rendah, peningkatan lendir akan terlihat pada permukaan insang (Boyd, 1990). Begitu juga dengan pH tinggi, karena insang ikan sangat sensitif dan berbahaya bagi mata ikan. Kriteria pH yang ideal menurut Pescod (1973) adalah 6,5-8,5.

d. Oksigen Terlarut Ikan bernapas dengan insang, dan mengambil/menghirup oksigen terlarut dari dalam air. Agar ikan bisa bernapas dengan bebas di air, diperlukan oksigen terlarut yang cukup. Demikian juga pada wadah pengangkutan ikan, harus tersedia oksigen terlarut yang cukup pada media pengangkutan ikan. Pada pengangkutan ikan secara tertutup, ketersediaan oksigen terlarut terbatas. Oleh sebab itu jika jarak pengangkutan jauh atau membutuhkan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

waktu cukup lama maka perlu dilakukan penambahan oksigen terlarut di perjalanan.

Salah satu prinsip dalam pengangkutan ikan adalah bagaimana menciptakan suasana dalam alat pengangkutan agar ikan bisa bernapas dengan baik, sehingga bisa bertahan hidup sampai di tujuan. Selain itu selama pengangkutan diupayakan ikan tidak mengeluarkan kotoran. Untuk menciptakan suasana nyaman bagi ikan selama perjalanan, maka ada tiga faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengangkutan ikan, yaitu kepadatan, waktu pengangkutan dan perlakuan sebelum dan selama pengangkutan.

Kepadatan ikan pada saat pengangkutan tergantung ukuran ikan dan jarak pengangkutan. Ikan yang berukuran kecil, kepadatan dalam wadah pengangkutan dapat lebih tinggi/padat. Sebaliknya ikan yang berukuran semakin besar, maka padat penebaran ikan makin rendah. Kepadatan juga sangat tergantung dari lamanya pengangkutan. Ikan yang diangkut dalam waktu yang lebih lama, kepadatannya harus lebih rendah, dibanding ikan yang diangkut dalam waktu yang singkat. Ini sangat tergantung dari ketersediaan oksigen selama pengangkutan.

Selain waktu pengangkutan, suhu media air pengangkutan berpengaruh terhadap mortalitas ikan. Peningkatan suhu air akan berpengaruh terhadap ketersediaan oksigen terlarut dalam air, dan sebaliknya. Suhu pengangkutan yang baik adalah 23-28C. Untuk dapat mempertahankan suhu, dapat menggunakan es pada media air pengangkutan. Selain menggunakan es, perlu dilakuan juga penentuan waktu pengangkutan tepat. Penentuan waktu berkaitan erat dengan jarak tempuh, suhu udara dan lamanya pengangkutan. Pengangkutan pada malam hari lebih baik karena suhu udara masih rendah.

Oksigen merupakan merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang terlarut di perairan bervariasi, tergantung pada temperatur, salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosfer. Semakin besar

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

temperatur dan ketinggian (altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil .

Dalam hal ketersediaan oksigen terlarut dalam air, pengangkutan ikan hidup sama dengan memelihara ikan di kolam/akuarium. Ketersediaan oksigen dalam wadah pengangkutan berbeda dengan di kolam. Ketersediaan oksigen dalam wadah pengangkutan sangat terbatas, hanya cukup untuk beberapa jam saja. Sedangkan di kolam/tambak/ akuarium ketersediaan oksigen berasal dari udara atau air masuk ke kolam. Oleh sebab itu, salah satu prinsip dalam pengangkutan ikan adalah bagaimana menciptakan suasana dalam alat pengangkutan agar ikan bisa bernapas dengan baik, sehingga bisa bertahan hidup hingga di tujuan. Air pemeliharaan di kolam / tambak / akuarium/bak, oksigen terlarut tanpa batas sehingga ikan berada dalam keadaan rileks dan hanya mengonsumsi dan memerlukan oksigen pada tingkat minimal. Sebaliknya bila ikan pada saat pengangkutan akan menjadi stres akibat guncangan sehingga ikan memerlukan oksigen terlarut maksimal pada wadah/media pengangkutan. Walaupun menurut Liviawaty dan Afrianto (1990) bahwa goncangan berdampak positif terhadap ikan yaitu membantu difusi oksigen ke dalam air.

Selain oksigen yang cukup dalam kantong plastik, yang harus diperhatikan adalah ikan harus sehat, serta kualitas air dan kondisi pengangkutan yang memadai. Pada perairan kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktifitas fotosintesis, respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air. Peningkatan temperatur sebesar 1 o C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Boyd, 1988). Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (anaerob). Hubungan antara kadar oksigen terlarut jenuh dan temperatur menggambarkan bahwa semakin tinggi temperatur, kelarutan oksigen

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

semakin berkurang. Kelarutan oksigen dan gas-gas lain juga berkurang dengan meningkatnya salinitas sehingga kadar oksigen di laut cenderung lebih rendah daripada oksigen di perairan tawar. Daya larut oksigen dalam air pada temperatur 25 o C berbeda sesuai ketinggian lahan dari permukaan laut.

7. Administrasi Administrasi merupakan hal yang penting dalam pengangkutan ikan khususnya pengangkutan ikan menempuh jarak jauh. Administrasi tersebut terdiri dari administrasi kendaraan seperti SIM pengemudi, STNK mobil. Administrasi lainnya adalah surat jalan, bon /kuitansi penjualan, surat bebas penyakit, alamat pengiriman dan surat dari karantina. Keterpaduan antara alat pengangkutan, pengemasan/packing, ikan dan media (air) hidup ikan dan administrasi merupakan satu sistem untuk mensukseskan pengangkutan ikan hidup.

8. Pemberokan /Penampungan Ikan Keberhasilan pengangkutan ikan di pengaruhi mulai dari saat pemanenan ikan sampai dengan selama pengangkutan. Setelah pemanenan, ikan hasil tangkapan harus ditampung terlebih dahulu selama beberapa waktu sampai ikan dikirim ke tempat tujuan. Lamanya penampungan tergantung debit air penampungan ikan dan jarak pengiriman. Jika air tempat penampungan ikan memiliki debit yang deras, penampungan ikan dapat dilakukan 4-6 jam. Diharapkan selama penampungan tersebut kotoran dan makanan ikan didalam usus sudah keluar berupa feses. Feses (kotoran) ikan tersebut dapat menurunkan kandungan oksigen terlarut dan meningkatkan kandungan amoniak pada air pengangkutan ikan. Jika pengangkutan ikan cukup jauh, pemberokan/penampungan ikan dapat dilakukan 1-2 hari. Hal ini bertujuan agar, sisa makanan didalam usus ikan benar-benar bersih, sehingga tidak mengotori air pengangkutan ikan.

Selama penampungan dapat dilakukan sortasi dan grading ukuran. Penampungan dapat untuk waktu yang pendek (provisional storing) atau waktu yang lama (prolonged storage). Provisional storing sering dilakukan pada waktu sedang dilakukan pemanenan, ikan ditampung, kemudian ikan disortasi.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Selanjutnya ikan dipacking dan segera dikirim ke tempat tujuan, misalnya benih diangkut ke kolam-kolam pemeliharaan atau penebaran di lokasi yang dekat atau ikan konsumsi yang dikirim segera untuk diolah. Lama penampungan dilakukan selama 2-3 hari atau lebih. Pada awal penampungan dilakukan sortasi dan grading. Sortasi dilakukan terhadap ikan yang cacat atau ikan yang sakit. Sedangkan grading dilakukan terhadap ukuran ikan. Ikan dipilah menjadi ikan yang berukuran besar, sedang dan kecil agar pada saat pengemasan/ packing dapat dilakukan sesuai ukuran ikan. Penanganan harus dilakukan dengan hati- hati agar ikan tidak stres, terluka dan terserang penyakit.

Keberhasilan penampungan ikan hidup dipengaruhi pula oleh teknik

penangkapan selama pemanen. Selama penampungan ikan harus ditempatkan

Ikan-ikan yang sebelumnya dipelihara dalam kolam

yang berlumpur atau dengan pemberian pupuk organik atau pakan berupa Iimbah diperlukan penampungan untuk menghilangkan bau lumpur, Iendir dan parasit yang mungkin menempel. Dengan penampungan yang baik selama beberapa waktu (2 jam) akan meningkatkan kualitas dagingnya, namun penurunan berat harus seminim mungkin.

dalam kondisi yang baik

Penampungan biasanya dilakukan dengan menempatkan ikan dalam tempat penampungan dengan air yang mengalir untuk menjamin kecukupan oksigen. Aliran air tidak boleh terlalu berlebihan yang dapat menekan ikan berusaha berenang yang akan mengeluarkan energi, sehingga dapat mengurangi beratnya. Apabila penampungan hanya sebentar, ikan tidak perlu diberi pakan. Penampungan ikan dapat berupa jaring terapung,hapa, karamba, bak/kolam permanen dan sebagainya.

a. Kantong jaring Kantong jaring yang dipasang di kolam atau saluran air dapat digunakan untuk penampungan selama penangkapan ikan dilakukan. Ukuran mata jaring tergantung pada ukuran ikan yang akan ditampung. Benih larva ukuran sekitar 0,01-0,05 cm , benih ukuran 3-5 cm dengan waring ukuran lubang 0,4-0,5 cm dan ikan lebih besar 10 cm menggunakan jaring polyetheline ukuran lubang 0,75 inci (2 cm). Jaring dipasang ditempatkan dekat pintu air

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

masuk kolam agar mendapatkan air yang segar dan bersih. Kantong jaring ukuran 2-4 m x 1-4 m dan tinggi 0,8 m lebih cocok digunakan bila dibanding kantong berukuran besar.

cocok digunakan bila dibanding kantong berukuran besar. Gambar 5. Penampungan ikan sebelum dipacking/dikemas b.

Gambar 5. Penampungan ikan sebelum dipacking/dikemas

b. Keramba jaring Keramba jaring dibuat dengan kerangka besi atau kayu dan kisi-kisinya dilapisi jaring. Benih ukuran 3-5 cm dengan waring ukuran lubang 0,4-0,5 cm dan ikan lebih besar 10 cm menggunakan jaring polyetheline ukuran lubang 1 inci. Ikan-ikan lunak seperti karper dan lele dapat ditampung dalam keramba kecil. Ikan-ikan tersebut tahan terhadap kandungan oksigen relatif rendah dan kepadatan tinggi. Karper tidak besirip keras dan duri keras lele tidak tegang, sehingga dalam keadaan padat tidak merusak ikan lainnya.

tidak tegang, sehingga dalam keadaan padat tidak merusak ikan lainnya. Gambar 6. Penampungan Ikan pada Jaring/karamba

Gambar 6. Penampungan Ikan pada Jaring/karamba

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

c. Bak/Kolam permanen Bak/kolam permanen berukuran panjang 2-6 m, lebar 1-2 m dan tinggi 1 m sangat tepat untuk penampungan ikan dalam jangka waktu relatif lama. Dinding bak dibuat halus agar tidak melukai ikan. Aliran air cukup dan level air mudah diatur dan pengurasan total dapat dilakukan dengan cepat. Oleh karena itu pintu air pembuangan dibuat model monik dengan pintu berupa beberapa papan yang dipasang pada sekat. Untuk lebih mudah pengangkatan ikan dan penampungan bisa dilapisi jaring, sehingga air tidak perlu harus dibuang total. Apabila ikan harus diberi pakan, dengan sebanyak 1% berat total per hari. Namun sehari sebelum diangkut, pemberian pakan harus dihentikan.

sehari sebelum diangkut, pemberian pakan harus dihentikan. Gambar 7. Penampungan ikan di kolam/bak permanenan Jumlah

Gambar 7. Penampungan ikan di kolam/bak permanenan

Jumlah ikan yang dapat ditampung bervariasi tergantung pada spesies, ukuran ikan, debit air, kandungan oksigen dan suhu air. Keadaan demikian sangat sulit untuk menentukan jumlah ikan yang tepat yang harus ditampung dalam wadah yang berbeda. Namun dari beberapa pengalaman menunjukkan bahwa pada penampungan benih sementara selama penangkapan lebih mudah dilihat dari gejala-gejala yang timbul. Apapun alat penampungan yang digunakan : tangki/ember besar ataupun jaring yang ditempatkan pada saringan, apabila ikan sudah berloncat-loncat menunjukkan tidak boleh ditambah lagi jumlahnya dan segera dipindah ke

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

tempat/kolam yang lebih longgar dan airnya mengalir. Tangki volume 150 liter dengan suplai air 0,5 liter per detik dan aerasi cukup dan suhu 10°C dapat menampung selama beberapa minggu, contoh untuk ikan trout : bobot ikan sebanyak 8-12 kg ikan dengan ukuran 200-300 gram/ekor, bobot ikan sebanyak 6-8 kg ikan dengan ukuran 100 gram, jumlah ikan sebanyak 1000 ekor ikan dengan ukuran 8-10 cm. Menurut Schaperclaus (1933) dalam Huet (1972) tiap meter kubik tangki dapat digunakan untuk menyimpan 150 kg ikan dengan ukuran 300-400 gram/ekor.

Penampungan ikan pada air yang berkualitas baik dilakukan dengan tidak diberi pakan (dipuasakan) selama 1-2 hari. Penampungan ini dimaksud untuk menghilangkan lumpur, parasit, bakteri pada permukaan kulit dan kotoran (ekskresi) dari dalam tubuh. Parasit dan bakteri ini akan menjadi penyaing ikan dalam konsumsi oksigen selama pengangkutan. Penampungan tanpa pemberian pakan bertujuan agar proses metabolisme dan aktivitas gerak ikan selama pengangkutan menjadi lemah, sehingga laju konsumsi oksigennya rendah. Penggunaan obat-obatan anestesia (pembius) akan lebih menekan aktivitas.

9. Kepadatan Pengangkutan Ikan Kepadatan ikan adalah bobot ikan yang berada dalam suatu wadah dalam waktu tertentu. Kepadatan ikan yang akan diangkut bergantung pada volume air, berat ikan, spesies, ukuran ikan, lama pengangkutan, suplai oksigen dan suhu (Jhingran dan Pullin, 1985). Frose (1985) merumuskan jumlah ikan yang diangkut per volume air dalam kantong plastik dan lama pengangkutan tidak lebih dari 48 jam untuk ikan air tawar adalah sebagai berikut :

Fq = 38 x W 0,5

Keterangan :

Fq = jumlah ikan per volume (g/liter) W = bobot rata-rata ikan per ekor (g)

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Kepadatan ikan merupakan jumlah (biomassa) benih yang ditebarkan per satuan luas atau volume. Peningkatan padat penebaran dapat dilakukan sampai batas tertentu bergantung pada jenis ikan yang dibudidayakan yaitu berdasarkan umur dan ukuran masing-masing individu serta metode atau sistem budidaya yang digunakan (Huet, 1994). Stickney (1979) menyatakan bahwa kepadatan ikan yang semakin tinggi dapat menyebabkan semakin banyak masalah yang timbul, seperti serangan penyakit, memburuknya kualitas air, terjadinya kompetisi dalam mengambil pakan yang pada akhirnya dapat menimbulkan kanibalisme. Pada kondisi kepadatan ikan yang tinggi, maka ketersediaan oksigen untuk setiap individu makin berkurang, sedangkan akumulasi bahan buangan metabolik ikan akan makin tinggi (Hepher, 1978)

Kepadatan ikan tidak boleh teralu tinggi agar tidak berdesak-desakan. Sediakan sedikit areal, atau sekitar setengah bagian dari tubuhnya. Kepadatan dalam satu wadah sangat tergantung dari ukuran ikan. Ikan yang berukuran kecil, jumlahnya lebih banyak dari ikan besar. Kepadatan juga sangat tergantung dari lamanya pengangkutan. Ikan yang diangkut dalam waktu yang lebih lama, kepadatannya harus lebih rendah, dibanding ikan yang diangkut dalam waktu yang singkat. Ini sangat tergantung dari ketersediaan oksigen selama pengangkutan.

Waktu pengangkutan juga harus diperhatikan. Karena waktu pengangkutan berkaitan erat dengan suhu. Suhu yang baik untuk pengangkutan ikan adalah 23-25° C. Jadi bila suhu melebihi dari ambang batas hidupnya bisa berakibat fatal. Demikian juga dengan suhu yang kurang dari ambang batas hidupnya dapat berakibat fatal juga. Namun yang sering terjadi adalah melebihi ambang batas, karena selama pengangkutan, suhu akan naik. Sehingga dalam menentukan waktu pengangkutan harus tepat. Pengangkutan ini berkaitan dengan jarak yang akan tempuh dan lamanya pengangkutan. Selain itu juga berkaitan erat dengan prinsip pengangkutan, yaitu bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi ikan. jadi waktu yang terbaik untuk memperoleh suasana seperti ituyaitu pada suhu rendah. Karena itu pengangkutan ikan harus dilakukan pada malam hari, sehingga bila terjadi kenaikan suhu selama pengangkutan, kenaikan itu tidak terlalu tinggi. Contoh: bila ikan akan diangkut selama 12 jam, maka berangkatnya

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

harus sore hari, sehingga tiba di tempat tujuan pada malam atau pagi hari. Perlakuan pada ikan yang akan diangkut juga turut menentukan kesuksesan dalam menerapkan prinsip pengangkutan ikan, baik sebelum maupun selama pengangkutan. Ini juga berkaitan erat dengan sifat ikan. Justru inilah yang menjadi faktor terpenting dari yang lainnya, dan menjadi kiat dalam

pengangkutan.

Agar pengangkjutan dapat berjalan dengan baik, maka sebelum dilakukan pengangkutan, ikan terlebih dahulu dilakukan beberapa perlakuan yaitu :

a. Ikan yang akan diangkut harus diberok dahulu. Kegiatan pemberokan dilakukan dengan penampungan ikan dalam bak dengan aliran air bersih, dan tidak diberi pakan tambahan. Tujuan pemberokan adalah untuk mengeluarkan kotoran dari tubuh ikan, karena ikan yang baru dipanen dalam perutnya banyak mengandung kotorannya. Bila tidak diberok, maka selama pengangkutan, ikan akan mengeluarkan kotoran. Kotoran tersebut akan menurunkan kualitas air dalam wadah pengangkutan, seperti kandungan karbondioksida dan amoniak tinggi, sedangkan kandungan oksigen rendah. Keadaan ini bisa menyebabkan ikan mati karena tidak bisa bernapas dengan bebas.

b. Ikan harus diseleksi terlebih dahulu, bertujuan untuk memisahkan antara ikan yang berukuran besar, sedang dan kecil. Tujuan seleksi adalah agar ukuran ikan menjadi seragam, sehingga bila diangkut tidak terjadi persaingan sesama ikan yang diangkut. Persaingan berupa persaingan dalam memperebutkan tempat, dimana ikan yang besar bisa menyisihkan ikan yang kecil. Keadaan ini bisa menyebabkan ikan kecil mati. Persaingan juga bisa berupa persaingan dalam mendapatkan oksigen, dimana ikan besar dapat menggunakan oksigen lebih banyak dari pada ikan kecil.

c. Ikan harus ditreatmen, atau disucihamakan terlebih dahulu, yaitu dengan cara merendam dalam obat tertentu, contoh Kalium Permanganat (PK), dengan dosis tertertu dan dalam waktu, atau lamanya tertentu pula. (lihat teknik mengobati penyakit ikan). Tujuan treatmen adalah agar ikan-ikan yang akan diangkut terbebas dari segala penyakit. Ikan yang sakit bisa terobati, dan ikan yang sehat bisa dicegah agar tidak terserang penyakit. Penyakit

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

bisa menjadi penyebab kematian dalam pengangkutan. Selain itu, bisa menjadi penyebab tersebarnya satu penyakit dari satu daerah ke daerah lain.

Kegiatan pengangkutan (transportasi) ikan hidup merupakan kegiatan penting untuk meningkatkan keuntungan. Pengangkutan / transportasi ikan hidup yang paling sederhana terjadi di lahan perkolaman. lkan yang tahan hidup dapat dipindah dengan ember tanpa air atau dengan keranjang. Ikan yang kurang tahan dimasukkan ke dalam ember, kaleng, drum atau wadah lain yang berisi air untuk diangkut dengan diangkat, dipikul atau menggunakan gerobak. Di perkolaman yang luas pemindahan ikan dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor.

ikan dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Gambar 8. Pengangkutan ikan secara terbuka Pengangkutan

Gambar 8. Pengangkutan ikan secara terbuka

Pengangkutan benih maupun ikan konsumsi hidup antar lokasi, antar pulau bahkan antar negara sudah biasa dilakukan oleh para pedagang. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan lokasi antara tempat produksi dengan konsumen. Pengangkutan dimaksud untuk memindah dengan jumlah sebanyak-banyaknya, hidup dan sehat sampai tujuan. Wadah transportasi jarak jauh digunakan:

kendaraan bermotor, kereta api, kapal laut ataupun pesawat terbang. Pesawat terbang merupakan sarana transportasi ikan jarak jauh yang paling cepat, khususnya untuk induk, telur atau benih kecil dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Pengangkutan ikan hidup melibatkan pemindahan ikan jumlah banyak dalam volume air yang sedikit. Untuk menjamin keberhasilan pengangkutan ikan adalah menekan aktivitas metabolisme ikan dengan cara mempuasakan, anestesia, menurunkan suhu, menambah oksigen dan membuang gas-gas beracun. Faktor- faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen adalah: berat ikan, aktivitas ikan dan suhu lingkungan. Semakin besar ikan, semakin tinggi mengkonsumsi oksigen per jam. Ikan yang aktip berenang mengkonsumsi oksigen lebih banyak daripada ikan diam (istirahat). Ikan yang hidup di air suhu tinggi memiliki laju konsumsi oksigen lebih besar daripada ikan di daerah suhu air rendah. Konsumsi oksigen ikan dapat dihitung dengan menggunakan respirometer. Menurut Winberg (1956) dalam Moyle dan Cech (1982) hubungan antara konsumsi oksigen dengan ukuran ikan yang dipuasakan adalah sebagai berikut:

KO = aWy

Keterangan:

KO 2 = konsumsi oksigen (mI/berat ikan/jam)

W = berat ikan (gram)

a

= tingkatl laju metabolisme

y

= konstante disebut eksponen berat (pada suhu berbeda)

Laju metabolisme (a) setara dengan berat tubuh pangkat 0,8. Sebagai contoh ikan mas yang dipelihara pada suhu 20 °C mengkonsumsi oksigen sebesar 75 O per kg 0,8 per jam, konsumsi tiap mg dari 500 gram berat tubuh ikan mas tersebut dapat dihitung sbb.:

1 mg ---> 0,000001 kg --- 0,00001 585 kg 0,8 7,5 x 0,00001 585 = 0,001185 ml O 2 /ikan/jam 500 g ---> 0,5 kg - 0,5743 kg 0,8 75 x 0,5743 = 43,07 ml O 2 /ikan/jam

berarti 1 kg ikan mas dengan berat badan masing-masing 1 mg dari 500 gram mengkonsumsi oksigen 1.000.000 x 0,001185 = 1185 ml O 2 /ikan/jam, berturut- turut 2 x 43,07 = 86,14 ml O 2 /jam.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

10. Sistem pengangkutan/ transportasi Ikan segar Di atas telah dijelaskan pengertian sistem pada pengangkutan ikan. Sistem pengangkutan/transportasi ikan segar lebih sederhana dibanding pengangkutan ikan hidup. Pengangkutan ikan segar merupakan upaya memindahkan ikan dari suatu tempat ke tempat lainnya tanpa mengurangi kualitas/mutu hingga sampai ke konsumen.

Sebelum melanjutkan pelajaran ini anda harus memahami pengertian ikan segar. Ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup baik berupa bau dan tekstur. Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar, sehingga disukai oleh konsumen. Penanganan dan sanitasi yang baik sangat diperlukan untuk tetap menjaga kesegaran ikan, makin lama berada di udara terbuka maka makin menurun kesegarannya. Kesegaran ikan merupakan tolak ukur ikan itu baik atau jelek. Mutu ikan terdiri dari 4 kelas yaitu:

a. Prima (kesegaran ikan masih baik sekali).

b. Advanced (kesegaran ikan masih baik).

c. Sedang (kesegaran ikan sudah mulai mundur).

d. Mutu Rendah/Jelek (ikan sudah tidak segar lagi/busuk).

Ikan dikatakan segar apabila perubahan-perubahan biokimiawi, mikrobiologik, dan fisikawi belum menyebabkan kerusakan berat pada ikan. Oleh sebab itu penentuan kesegaran ikan terdiri atas beberapa parameter yaitu parameter fisikawi, kimiawi, mikrobiologik dan sensorik/organoleptik. Penentuan kesegaran ikan parameter fisika adalah:

a. Kenampakan Luar

Cerah, tidak suram (segar) karena perubahan biokimiawi belum terjadi, metabolisme dalam tubuh ikan masih normal.

Makin lama warnanya semakin suram, berlendir sebagai akibat berlangsungnya proses biokimiawi dan berkembangnya mikrobia.

b. Kelenturan Daging Ikan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Ikan segar dagingnya cukup lentur, apabila dibengkokkan akan kembali kebentuk semula. Kelenturan ini disebabkan belum terputusnya benang- benang daging.

Pada ikan yang telah busuk, sudah banyak benang-benang daging yang

sudah putus

c. Keadaan Mata

dan dinding-dinding selnya banyak yang rusak.

Ikan Segar, biasanya menonjol ke luar, cerah.

Ikan Busuk, cekung, masuk ke dalam rongga mata.

d. Keadaan Daging

Ikan segar, dagingnya kenyal, jika ditekan dengan jari telunjuk/ibu jari, maka bekasnya akan segera kembali.

Daging

masih kelihatan

ikan masih banyak

cairan,

sehingga daging

basah, permukaan tubuh belum terdapat lendir.

Setelah beberapa jam daging ikan menjadi kaku.

Kerusakan terjadi pada benang-benang daging, timbul tetes-tetes air akhirnya daging kehilangan tekstur kenyalnya.

e. Keadaan Insang dan Sisik

Ikan segar, insangnya berwarna merah cerah, sisik melekat.

Ikan tidak segar, insangnya menjadi coklat gelap, dan sisiknya mudahlepas dari tubuhnya.

Insang merupakan pusat darah mengambil O 2 dari dalam air. Kematian ikan dapat menyebabkan peranan darah (hemoglobin) berhenti, darah teroksidasi sehingga warnanya berubah menjadi merah gelap.

f. Keadaan Ruas Badan/Ruas Kaki

Parameter ini biasanya digunakan pada hasil perikanan yang beruas-ruas, misalnya udang, lobster, kepiting, rajungan, dan lain-lain.

Keadaan segar, ruas badan/kaki masih kuat, tidak mudah putus.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas ikan (mutu) dikaitkan dengan kesegaran dan kerusakan ikan pada parameter fisika adalah saat pemanenan, cara penanganan pasca panen hasil perikanan dan keadaan cuaca/suhu. Kolam ikan yang dipanen dapat mempengaruhi kualitas ikan karena jumlah dan jenis mikrofloranya (lingkungan) dan adanya cemaran pada daerah-daerah tertentu, memungkinkan mempengaruhi cita rasa daging ikan. Metode/cara pemanenan ikan yang mempengaruhi kualitas /mutu adalah jarak pengangkutan dari tempat pemanenan ikan ke tempat penampungan. Cara penanganan pasca tangkap hasil perikanan dapat mempengaruhi kualitas ikan khususnya pada penggunaan alat yang digunakan, penggunaan bahan-bahan pendingin (es), cara penyimpanan, pengangkutan, dan keadaan cuaca/suhu. Penentuan kesegaran ikan secara fisika dapat dilihat pada tabel dibawa ini.

Tabel 2. Tanda-tanda ikan segar dan ikan yang sudah tidak segar

Parameter

Ikan Segar

Ikan Tidak segar

Kenampakan

Cerah, terang, mengkilat, tak berlendir

Suram, kusam, berlendir

Mata

Menonjol keluar

Cekung, masuk kedalam rongga mata

Mulut

Terkatup

Terbuka

Sisik

Melekat kuat

Mudah dilepaskan

Insang

Merah cerah

Merah gelap

Daging

Kenyal, lentur

Tidak kenyal, lunak

Anus

Merah jambu, pucat

Merah, menonjol keluar

Bau

Segar, normal seperti rumput laut

Busuk, bau asam

Lain-lain

Tenggelam dalam air

Terapung diatas air

Sumber : Menteri Kelautan dan Perikanan KEP. 01/MEN/2002

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Tabel 3. Tanda-tanda udang segar dan udang yang sudah tidak segar

Parameter

Udang Segar

Udang Tidak segar

Kenampakan

Cerah, cemerlang, warna asli, udang menurut jenisnya belum berubah

Banyak warna merah jambu timbul terutama pada kepala, antena, dan kaki. Banyak noktah hitam pada kakinya

Mata

Bulat, hitam, mengkilat, tidak terlalu menonjol keluar

Kelabu gelap, pudar, menonjol keluar, bola mata melekat pada tangkai mata

Kulit

Melekat kuat pada dagingnya, tidak berlendir pada permukaan

Mudah dilepaskan dari dagingnya, lendir tebal pada permukaannya

Ruas

Hubungan antar ruas kuat dan kompak, hubungan kepala dan tubuhnya tidak mudah dipisahkan

Hubungan antar ruas, kepala, dan tubuh tidak kuat, mudah dipisahkan

Daging

Kompak (padat), lentur, melekat kuat pada kulitnya

Kendor, mudah dilepaskan dari kulitnya, apabila ditekan dengan jari terasa lengket

Bau

Segar, tidak tercampur bau asing

Busuk, bau asam, bau ammonia

Sumber : Menteri Kelautan dan Perikanan KEP. 01/MEN/2002

Penentuan Kesegaran ikan secara kimia dapat dilakukan dengan memeriksa pH daging ikan, menentukan kandungan Hipoksantin, menentukan kadar Dimetilamin, Trimetilamin, atau Ammonianya, Defosforilasi Inosin Monofosfat (IMP), Melihat Kerusakan Lemak Pada Daging Ikan, dan menentukan Kandungan senyawa-senyawa Volatil lainnya, seperti H 2 S, Karbonil, S, dan NH 3 (ammonia). Pada dasarnya ikan membusuk disebabkan adanya proses autolysis dan bakteri. Autolysis adalah penguraian jaringan tubuh disebabkan oleh enzym yang secara

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

alami. Enzim tersebut tersedia di dalam tubuh dimana dalam keadaan ikan hidup enzym ini berperan dalam pencernaan makanan. Demikian pula bakteri yang ada dalam insang, usus dan otot mengeluarkan enzim yang beraksi pada daging ikan. Oleh sebab itu perlu penanganan ikan setelah ikan di panen.

Penanganan itu mencakup persiapan, pengemasan dan pelaksanaan pengangkutan. Persiapan dilakukan segera setelah ikan bandeng ditangkap. Ikan-ikan disimpan dalam keranjang (bambu/rotan) atau digelar di atas lantai tembok. Setelah itu diupayakan segera mati, jangan dibiarkan ikan menggelepar- gelepar terlalu lama karena akan mempersingkat kesegaran ikan. Tumpukan ikan yang cukup tinggi di dalam keranjang bisa mempercepat ikan mati. Setelah ikan terkumpul cukup banyak, kemudian dilakukan pembersihan dengan menyemprotkan air bersih ke atas tumpukan ikan bandeng tersebut, hingga kotoran hanyut. Bakteri yang terdapat pada lumpur yang melekat pada tubuh ikan jika dibiarkan akan mempercepat proses pembusukan tubuh ikan.

dibiarkan akan mempercepat proses pembusukan tubuh ikan. Gambar 9. Proses membersihkan ikan dari lumpur Sebelum
dibiarkan akan mempercepat proses pembusukan tubuh ikan. Gambar 9. Proses membersihkan ikan dari lumpur Sebelum

Gambar 9. Proses membersihkan ikan dari lumpur

Sebelum dilakukan pengemasan, ikan yang akan diangkut dilakukan sortasi dan grading. Sortasi ikan dilakukan memilih ikan yang cacat dan sakit. Ikan yang cacat dan sakit dipisahkan. Grading ikan dilakukan untuk memilih berdasarkan ukuran ikan. Ukuran ikan yang kecil dikelompokkan dengan ikan yang memiliki ukuran kecil. Demikian ikan yang berukuran sedang dipisah dan dikelompokkan pada ikan yang sedang dan seterusnya. Selain itu, jika terdapat ikan-ikan jenis lain harus di pisahkan.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 Gambar 10. Sortir dan Grading Ikan Proses pengemasan dilakukan dengan

Gambar 10. Sortir dan Grading Ikan

Proses pengemasan dilakukan dengan memasukkan dan menata ikan di dalam wadah pengangkutan. Wadah pengangkutan ikan segar dapat menggunakan drum plastik, keranjang, dan styrofoam. Suhu di dalam wadah pengangkutan diupayakan sedingin mungkin, agar kerja enzim di dalam tubuh ikan dan bakteri yang berperan dalam pembusukan terhambat. Untuk menurunkan suhu di dalam wadah pengangkutan dengan memasukkan butiran es atau es curah kedalam wadah angkut. Es ini ditempatkan diantara lapisan lapisan ikan. Perbandingan antara es dan ikan adalah 1:1.

lapisan ikan. Perbandingan antara es dan ikan adalah 1:1. Gambar 11. Penataan ikan segar dalam wadah
lapisan ikan. Perbandingan antara es dan ikan adalah 1:1. Gambar 11. Penataan ikan segar dalam wadah

Gambar 11. Penataan ikan segar dalam wadah pengangkutan ikan

Menurut Evi Liviawati dan E. Afriyanto (2010) es batu memiliki panas laten sebesar 80 kkal/kg es batu. Artinya: dibutuhkan energi sebesar 80 kkal untuk mencairkan 1kg es batu. Untuk mengetahu jumlah es batu yang diperlukan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

untuk menurunkan suhu dari 30 0 C menjadi 0 0 C pada ikan dengan bobot 100kg yaitu:

Panas yang dilepas = bobot x selisih waktu x panas ikan lingkungan spesifikasi ikan

= 100 kg x (30 0 C-0 0 C) x 0,84

= 2520 kkal

Jumlah es yang dibutuhkan 1 kg es = 80 kkal

x

= 2520 kkal

= 31,5 kg

Maka jumlah es batu yang digunakan harus lebih dari 31,5 kg

Setelah pengemasan selesai, wadah pengemasan ikan ditutup rapat. Wadah pengemasan ikan tersebut di naikkan kedalam mobil dan dilakukan pengangkutan. Pada pengangkutan perlu diperhatikan :

a. Kesiapan alat angkut. Hindari penggunaan kendaraan yang berisiko mengalami gangguan di perjalanan. Penundaan masa pengangkutan yang disebabkan kendaraan mogok akan berakibat kepada penurunan kualitas ikan

b. Pengangkutan dilakukan ketika suhu rendah, biasanya sore hingga malam hari

c. Waktu tempuh harus benar-benar diperhitungkan agar ikan bisa sampai di tempat pemasaran pada saat yang tepat, yakni subuh atau paling lambat pagi hari.

11. Teknik Pengangkutan Ikan Hidup Diatas telah dijelaskan bahwa prinsip pengangkutan ikan hidup adalah membuat ikan hidup senyaman mungkin selama pengangkutan. Agar ikan nyaman selama pengangkutan, perlu persiapan mulai dari saat penangkapan ikan sampai tujuan pengiriman. Pengangkutan ikan hidup dapat dilakukan dua sistem, yaitu sistem tertutup dan sistem terbuka.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

12. Teknik Pengangkutan ikan Hidup secara Terbuka Teknik pengangkutan ikan hidup secara terbuka adalah sistem pengangkutan ikan dimana air dalam wadah angkut kontak langsung dengan udara sebagai sumber oksigen. Sistem ini umumnya digunakan untuk mengangkut ikan dalam

jarak yang dekat, misalnya dari kolam ke kolam dalam lokasi yang sama. Pengangkutan cara ini biasa digunakan untuk pengangkutan jarak dekat dan membutuhkan waktu yang tidak begitu lama. Pengangkutan ikan secara terbuka dapat dilakukan jarak jauh dan waktu yang lama, tetapi harus dilengkapi persediaan oksigen yang cukup selama pengangkutan. Transportasi terbuka dengan jarak pendek kurang dari 3 jam waktu yang dibutuhkan untuk menempuh tempat tujuan dapat menggunakan wadah yang sederhana, sedangkan untuk jangka waktu lebih lama diperlukan alat-alat khusus. Alat yang dapat digunakan untuk pengangkutan ikan secara terbuka adalah :

a. Jerigen dan drum. Ikan konsumsi lele dan kaper dimasukkan ke dalam jerigen atau drum terbuka dengan air cukup membasahi diangkut dan produsen ke pedagang pengecer dan warung-warung. Pengangkutan dilakukan pada malam hari dan bertujuan untuk menjaga kesegaran.

pada malam hari dan bertujuan untuk menjaga kesegaran. Gambar 12. Drum Plastik yang digunakan untuk Mengangkut

Gambar 12. Drum Plastik yang digunakan untuk Mengangkut ikan

b. Keranjang “brokoh” atau jerigen. Benih ikan gurameh, lele, karper dan ikan lain yang

c. relatif tahan dimasukkan ke wadah berisi air dalam kepadatan tertentu, diangkut dan

d. dipasarkan, sewaktu-waktu air diganti.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

e. Drum atau tangki (disuplai pengudaraan). Metode ini drum atau tangki terbuka yang dapat dipasang dan dilepas dari kendaraan pengangkut. Ikan hidup dimasukkan dalam wadah dan pengudaraan dihembuskan melalui agitasi permukaaan, gelembung- gelembung udara lewat pipa udara pada dasar atau dan pemompaan air keluar dan kembali ke wadah.

Terdapat kelebihan dan kekurangan pengangkutan ikan secara terbuka. Kelebihannya antara lain difusi oksigen melalui udara ke media air masih dapat berlangsung, dapat dilakukan penambahan oksigen melalui aerator, dan dapat dilakukan pergantian air sebagian selama perjalanan. Sistem ini sangat cocok untuk pengiriman ikan ukuran konsumsi. Wadah pengangkutan cara terbuka berupa keramba, ember, fiberglass.

pengangkutan cara terbuka berupa keramba, ember, fiberglass. Gambar 13. Fiberglas digunakan untuk pengangkutan ikan

Gambar 13. Fiberglas digunakan untuk pengangkutan ikan sistem terbuka

Wadah-wadah yang akan digunakan sebagai alat tranportasi ikan hidup harus dipilih yang terbuat dari bahan-bahan yang tahan untuk mempertahankan suhu. Wadah drum dari plastik yang dipasang di kendaraan transportasi dan dipasok oksigen dari kompresor akan lebih baik dibanding jika wadah terbuat dari bahan logam. Untuk transportasi yang jaraknya lebih jauh, wadah-wadah yang dipasang di kendaraan transportasi lebih baik dilengkapi dengan sistem sirkulasi dan/atau tabung oksigen sehingga dapat memperbanyak daya tampung benih yang ditransportasikan. Sebaiknya pada sistem transportasi ini dilakukan pada malam hari agar suhu media pengangkutan tetap stabil. Peningkatan suhu air

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

pengangkutan ikan akan menurunkan kandungan oksigen terlarut dalam air. Menurut Yuliani dan Rahardjo (2012), suhu air dipengaruhi oleh suhu udara. Tinggi rendah suhu juga berpengaruh terhadap aktivitas ikan. Tingginya suhu air akan mengurangi kadar oksigen terlarut. Keadaan suhu air dan DO akan mempengaruhi aktivitas ikan. Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dan laju konsumsi oksigen hewan air.

Untuk mempertahankan suhu air pengangkutan secara terbuka dapat dilakukan dengan memasukkan es kedalam air pengangkutan ikan. Es tersebut dimasukkan kedalam kantong plastik dan diikat. Selanjutnya es dalam kantong tersebut dimasukkan dalam air pengangkutan ikan. Es tersebut akan mempertahankan suhu air selama pengangkutan ikan.

13. Pengangkutan ikan Hidup secara Tertutup Pengangkutan ikan hidup secara tertutup adalah sistem pengangkutan ikan dimana air dalam wadah angkut tidak kontak langsung dengan udara bebas, karena tertutup rapat oleh kemasan/packing ikan. Oksigen yang dibutuhkan oleh ikan selama pengangkutan berasal dari tabung oksigen yang dihembuskan/dimasukkan sebelumnya. Sistem ini bisa digunakan, baik untuk jarak dekat maupun jarak jauh, baik untuk waktu yang singkat maupun untuk waktu yang lama.

Pengemasan ikan sistem tertutup merupakan pengemasan ikan hidup yang dilakukan dengan tempat atau wadah tertutup dimana udara dari luar tidak dapat masuk kedalam media tersebut. Pengemasan dengan cara ini dapat dilakukan untuk pengangkutan jarak jauh. Seperti halnya dengan system terbuka, pengemasan system tertutup ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain media air tahan terhadap guncangan selama pengangkutan, dapat dilakukan untuk pengangkutan jarak jauh (dengan pesawat terbang), memudahkan penataan dalam pemanfaatan tempat selama pengangkutan. Sementara kekurangannya antara lain adalah media air tidak dapat bersentuhan dengan udara langsung (tidak ada difusi oksigen dari udara) sehingga tidak ada suplai oksigen tambahan, tidak dapat dilakukan pergantian

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

air, dan memerlukan kecermatan dalam memperhitungkan kebutuhan oksigen

dengan lama waktu perjalanan.

Kemasan yang baik dalam pengangkutan sistem tertutup adalah menggunakan

plastik jenis polietilen (PE) dengan ketebalan plastik 0,03 mm, karena ringan,

mudah didapat, dan murah (Liviawaty dan Afrianto, 1990). Lebih lanjut

dinyatakan, penggunaan kantong plastik pada pengangkutan jarak jauh

sebaiknya diletakkan dalam kotak styrofoam untuk mengurangi kontak yang

terjadi antara air di dalam kantong dengan temperatur lingkungan yang relatif

lebih panas. Gerbhards (1965) menyatakan, bahwa penggunaan wadah plastik

yang diletakkan pada kotak styrofoam meningkatkan kelangsungan hidup

sebesar 99,99%.

Pengangkutan ikan hidup dengan sistem tertutup harus memperhitungkan jarak ,

ukuran ikan dan waktu pengangkutan. Jarak, ukuran ikan dan waktu

pengangkutan berhubungan dengan kemampuan ikan dalam mengonsumsi O

didalam kantong kemasan ikan. Perhitungan yang digunakan untuk mengukur

konsumsi ikan atas O selama pengangkutan adalah berat ikan dan suhu air.

Jumlah O yang dikonsumsi ikan tergantung jumlah oksigen yang tersedia. Jika

kandungan O meningkat, ikan akan mengonsumsi O pada kondisi stabil, dan

CO , dan amoniak juga berpengaruh penting pada media air pengangkutan ikan.

Nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknis akibat perubahan

kandungan CO dan amoniak. CO sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah

pH air menjadi asam. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, dan cara

menanggulanginya yaitu dengan menstabilkan kembali pH air selama

pengangkutan dengan larutan bufer.

ketika kadar O menurun konsumsi ikan atas O akan lebih rendah. Nilai pH,

Kondisi air transportasi ini dipengaruhi oleh suhu air, pH, dan kandungan

karbondioksida (CO ). Karbondioksida ini merupakan senyawa yang diproduksi

dari basil respirasi ikan dan merupakan racun yang potensial bagi ikan.

Karbondioksida akan mempengaruhi keasaman air sehingga menurunkan pH air.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Tingginya kandungan karbondioksida dibarengi dengan turunnya pH akan lebih berbahaya terhadap kelangsungan hidup ikan.

Penurunan suhu media air pengangkutan ikan biasanya dilakukan pada selama pengangkutan dengan menggnakan es. Es dibungkus plastik dan dimasukkan kedalam media air pengangkutan. Tujuan menurunkan suhu air ini adalah untuk mengurangi aktivitas metabolisme ikan sehingga daya tampung akan lebih besar. Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni (perbandingan volume air :

oksigen = 1 : 2). Setelah itu segera diikat dengan karet gelang rangkap. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik adalah sebagai berikut:

a. masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian masukkan benih;

b. hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;

c. alirkan oksigen dari tabung ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air : oksigen=1:2);

d. kemudian kantong plastik diikat. Selanjutnya kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Sterefoam yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi beberapa buah kantong plastik.

dan tinggi 0,50 m dapat diisi beberapa buah kantong plastik. Gambar 14. Pengemasan ikan menggunakan kantong
dan tinggi 0,50 m dapat diisi beberapa buah kantong plastik. Gambar 14. Pengemasan ikan menggunakan kantong

Gambar 14. Pengemasan ikan menggunakan kantong plastic

14. Pengangkutan ikan hidup cara kering Pengangkutan ikan hidup dapat juga dilakukan dengan cara kering. Pengangkutan ikan cara kering lebih efesien dan ikan sampai ke tujuan dalam

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Pengangkutan ikan cara kering dimana media pengemasan

ikan memiliki suhu rendah. Pada saat suhu rendah, aktivitas biologis konsumsi ikan atas energi dan oksigen juga rendah. Semakin rendah metabolisme ikan,

semakin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya.

keadaan

Pengangkutan ikan secara kering diawali dengan pemberokan/pemuasaan ikan sehingga usus ikan bebas dari pakan. Pemberokan dilakukan selama 1-2 hari tanpa diberi makan. Usus ikan yang telah bebas dari sisa pakan dipingsankan

dengan cara memasukkan kedalam air dingin 10-15C. Pada saat pingsan tersebut ikan tidak melawan/tidak meronta-ronta/tidak menggelepar lagi pada saat dilakukan penanganan untuk persiapan pengangkutan. Pada waktu bersamaan, disiapkan sekam padi yang sebelumnya juga sudah didinginkan dalam air es, dan ditiriskan. Tujuannya agar suhu sekam dan suhu ikan memiliki suhu yang sama pada saat ikan pingsan. Jadi suhu ikan pada saat pengangkutan tetap stabil tanpa kenaikan dan penurunan suhu.

Setelah ikan pingsan, ikan-ikan dibungkus satu per satu dengan kertas, agar insangnya tidak kemasukan sekam padi ketika mereka disusun dalam kotak yang berisi sekam. Kotak pengangkut ini terbuat dari seng anti karat atau aluminium yang dindingnya ganda diberi bahan penyekat. Sehingga suhu dingin dalam ruangan kotak dapat tahan selama diangkut. Kotak berfungsi untuk mempertahankan temperatur yang diangkut agar tetap dingin atau berfungsi seperti termos atau lemari es mini. Bungkusan ikan disusun dalam kotak, yang dasarnya diberi sekam padi dingin lembap yang sudah selesai ditiriskan sebelumnya. Setelah ikan yang telah disusun, selanjutnya deretan ikan tersebut diberi hancuran es dalam kantung plastik kecil, agar suhu tetap dingin. Selanjutnya, ikan dan es ditimbuni selapis sekam padi dingin yang lembap lagi. Di atas sekam yang ditimbun tersebut di masukkan lagi deretan ikan yang telah dibungkus bersama kantung es lagi dan di timbun sekam yang dingin, dan seterusnya ikan disusun berselang-seling dengan lapisan tebal sekam padi yang telah didinginkan. Selanjutnya setelah selesai kotak diisi ikan, kotak ditutup rapat dan dapat diangkut ke tempat tujuan.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Tiba di tempat tujuan, ikan perlu dibangunkan /dihidupkan kembali, sebelum dijual ke konsumen. Untuk membangunkan/dihidupkan kembali ikan yang sedang pingsan dilakukan dengan dimasukkan ke dalam air segar dan dialirkan udara dari aerator. Pengaliran udara ini perlu, agar air senantiasa bergolak, dan menggoyang-goyang ikan yang sedang pingsan dan lekas siuman kembali.

ikan yang sedang pingsan dan lekas siuman kembali. Ikan Es Sekam Celah dinding ganda Gambar 15.
ikan yang sedang pingsan dan lekas siuman kembali. Ikan Es Sekam Celah dinding ganda Gambar 15.
ikan yang sedang pingsan dan lekas siuman kembali. Ikan Es Sekam Celah dinding ganda Gambar 15.

Ikan

ikan yang sedang pingsan dan lekas siuman kembali. Ikan Es Sekam Celah dinding ganda Gambar 15.
ikan yang sedang pingsan dan lekas siuman kembali. Ikan Es Sekam Celah dinding ganda Gambar 15.

Es

Sekam

Celah dinding ganda Gambar 15. Kotak pengangkutan ikan hidup secara kering

Penurunan aktivitas biologis ikan bisa dilakukan dengan pemingsanan. Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan penggunaan suhu rendah, pembiusan dengan zat kimia, dan penyetruman dengan arus listrik. Pemingsanan dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penurunan suhu secara langsung, di mana ikan dimasukkan dalam air bersuhu 10-15 C sehingga ikan pingsan seketika; dan penurunan suhu secara bertahap, di mana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan. Ada pula pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (pembius). Bahan anestasi yang digunakan untuk pembiusan ikan yaitu MS-222, Novacaine, Barbital sodium, dan bahan lainnya tergantung berat dan jenis ikan. Selain bahan-bahan anestasi sintetik, pembiusan juga dapat dilakukan dengan zat cauler pindan cauler picin yang berasal dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp. Bahan anestasi serta dosis pemakaian yang biasa digunakan dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Tabel 3. Jenis dan dosis obat pembius untuk pengangkutan ikan

No

Jenis Obat Bius

Dosis

1

Novacaine

50

mg/kg ikan

2

Amorbarbital Natrium

85

mg/kg ikan

3

Barbital Natrium

50

mg/kg ikan

4

Natrium amital

52-172 mg/liter

5

Tertiary amil alcohol

2 ,l/4,5 liter

6

Metil parafinol (Dormison)

1 – 2 ml/4,5 liter

7

Kloral hidrateum

3-3,5 g/4,5 liter

8

Uretane

100

mg/liter

9

Tiourasil

100

mg/liter

10

Hidroksi quinaldine

1,0 mg/liter

11

MS 222 (Trikaine m etansulfo-nat) + buffer

25

ppm

12

2 Fenoksi-etanol

10

ppm

13

Quinaldite*

10

ppm

(Sumber:Jhingran dan Pullin 1985)

15. Pengangkutan benih Ikan Benih ikan yang akan diangkut terlebih dahulu dipuasakan agar saluran pencernaan menjadi kosong. Tujuan benih ikan dipuasakan agar selama perjalanan benih ikan tidak mengeluarkan kotoran di air media pengangkutan. Kotoran ikan dalam air pengangkutan akan menurunkan kualitas air khususnya pH, Karbondioksida, oksigen terlarut dan meningkatkan amoniak. Ikan dipuasakan selama dua hari sebelum ditransportasikan. Hal ini sudah menjadi tradisi bagi para pelaku transportasi ikan hidup. Pengiriman benih-benih ikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan sistem terbuka dan sistem tertutup. Pengiriman benih dengan sistem terbuka biasanya diterapkan untuk transportasi jarak pendek, sedangkan sistem tertutup digunakan untuk transportasi jarak jauh. Pengiriman benih-benih ikan sistem tertutup menggunakan kantong plastik yang dikemas dalam boks-boks merupakan cara transportasi tertutup.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 Gambar 16. Pengangkutan benih ikan secara tertutup Tingginya kepadatan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 Gambar 16. Pengangkutan benih ikan secara tertutup Tingginya kepadatan ikan

Gambar 16. Pengangkutan benih ikan secara tertutup

Tingginya kepadatan ikan pada sistem transportasi akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya jenis ikan, umur ikan, ukuran ikan, ketahanan relatif, suhu air, lama pengangkutan, wadah dan alat transportasi, serta kondisi ikiim. Hal yang perlu diperhatikan dalam transportasi ikan hidup adalah cara menyediakan oksigen terlarut dalam media air selama transportasi. Ikan-ikan dalam media transportasi tersebut akan memanfaatkan oksigen yang terlarut dalam air. Sistem ini digunakan juga untuk pengiriman ke luar negeri dengan pesawat terbang. Pengemasan benih-benih ikan dilakukan dengan kantong plastik rangkap, tetapi sekarang sudah ada kantong-kantong plastik atau dari silikon tebal dan khusus digunakan untuk transportasi ikan hidup. Pengangkutan dalam bentuk telur atau larva dapat juga diterapkan untuk jenis ikan tertentu. Pengangkutan telur ikan yang mempunyai sifat terapung seperti ikan kakap dan kerapu dapat juga dilaksanakan dengan transportasi tertutup. Namun, jangka waktu transportasi telur ikan harus memperhitungkan waktu inkubasi telur. Hal ini untuk mencegah penetasan larva selama dalam perjalanan. Penurunan suhu media air dapat memperlambat perkembangan embrio telur sehingga masa inkubasi dapat diperpanjang. Ikan kakap putih dalam bentuk larva dapat ditransportasikan, tetapi untuk larva jenis ikan kerapu tampaknya sulit sebab larva ikan kerapu lebih mudah stres terhadap perlakuan fisik.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 Gambar 17. Pengemasan telur ikan gurame D. Rangkuman Mengangkut

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2 Gambar 17. Pengemasan telur ikan gurame D. Rangkuman Mengangkut berarti

Gambar 17. Pengemasan telur ikan gurame

D.

Rangkuman Mengangkut berarti memindahkan atau membawa suatu barang, atau benda lainnya dari satu tempat ke tempat lainnya. Prinsip pengangkutan mahluk hidup khususnya ikan, adalah jangan sampai alat pernapasannya terganggu selama pengangkutan. Dengan kata lain selama pengangkutan wadah dan media ikan dibuat sedemikian rupa sehingga ikan merasa nyaman selama perjalanan/pengangkutan. Agar ikan merasa nyaman selama perjalanan maka kebutuhan hidup seperti kualitas air, kepadatan, alat transportasi dan sebagainya harus sesuai dengan kebutuhan ikan yang diangkut. Alat pengangkutan ikan yang umum dilakukan adalah menggunakan pesawat, mobil, motor dan manusia. Alat pengemasan/packing ikan hidup harus disesuaikan dengan jarak pengangkutan / transportasi ikan. Alat pengemasan/packing ikan hidup dapat menggunakan ember, drum, fiberglass, bak, kantong plastik dan sebagainya. Alat pengemasan/packing ikan hidup seperti : ember, drum, fiberglass dan bak umumnya digunakan pada pengangkutan ikan secara terbuka. Sedangkan kantong plastik digunakan untuk pengangkutan secara tertutup.

Ikan yang akan dikirim/diangkut terlebih dahulu di berok untuk mengeluarkan kotoran dan sisa pakan dari ususnya. Hal ini bertujuan agar selama perjalanan ikan tidak mengeluarkan kotoran pada media air pengangkutan. Jika ikan mengeluarkan kotoran

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

pada media air pengangkutan menyebabkan amoniak tinggi dan oksigen terlarut rendah sehingga dapat menyebabkan ikan mati di perjalanan. Selain di berok, ikan yang akan dikirim/diangkut harus terlebih dahulu di sortir dan grading. Sortir dilakukan untuk memilih ikan yang sakit dan cacat sehingga ikan tersebut tidak ikut di kirim. Grading dilakukan untuk memilih ukuran ikan yang akan dikirim.

Parameter kualitas air yang penting diperhatikan dalam pengangkutan ikan adalah oksigen terlarut, karbondioksida, amoniak, pH, dan suhu. Kualitas air yang dibutuhkan ikan pada pengangkutan dan pemeliharaan ikan adalah sama. Oleh sebab itu, pengelolaan kualitas air pada pengangkutan ikan hampir sama dengan memelihara ikan di kolam. Kandungan kualitas air yang baik pada media air pengangkutan adalah

suhu 23-27 C , oksigen terlarut 2,4-6 mg/l , karbondioksida maksimal 5,6 mg/l pH 7- 8, amoniak Maksimal 0,1 mg/l , nitrit maksimal 1 mg/l , alkalinitas 50-300 mg/l CaCO3.

Untuk menjamin keberhasilan pengangkutan ikan adalah menekan aktivitas metabolisme ikan dengan cara mempuasakan, anestesia, menurunkan suhu, menambah oksigen dan membuang gas-gas beracun. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen adalah: berat ikan, aktivitas ikan dan suhu lingkungan. Semakin besar ikan, semakin tinggi mengkonsumsi oksigen per jam.

Ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup baik berupa bau dan tekstur. Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar, sehingga disukai oleh konsumen. Penanganan dan sanitasi yang baik sangat diperlukan untuk tetap menjaga kesegaran ikan, makin lama berada di udara terbuka maka makin menurun kesegarannya. Ikan dikatakan segar apabila perubahan-perubahan biokimiawi, mikrobiologik, dan fisikawi belum menyebabkan kerusakan berat pada ikan. Oleh sebab itu penentuan kesegaran ikan terdiri atas beberapa parameter yaitu parameter fisikawi, kimiawi, mikrobiologik dan sensorik/organoleptik.

Penentuan kesegaran ikan parameter fisika adalah kenampakan luar, kelenturan daging ikan, keadaan mata, keadaan daging, keadaan ruas badan/ruas kaki, keadaan insang dan sisik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas ikan (mutu) dikaitkan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

dengan kesegaran dan kerusakan ikan pada parameter fisika adalah saat pemanenan, cara penanganan pasca panen hasil perikanan dan keadaan cuaca/suhu. Penentuan Kesegaran ikan secara kimia dapat dilakukan dengan memeriksa pH daging ikan, menentukan kandungan Hipoksantin, menentukan kadar Dimetilamin, Trimetilamin, atau Ammonianya, Defosforilasi Inosin Monofosfat (IMP), Melihat Kerusakan Lemak Pada Daging Ikan, dan menentukan Kandungan senyawa- senyawa Volatil lainnya, seperti H 2 S, Karbonil, S, dan NH 3 (ammonia). Pada dasarnya ikan membusuk disebabkan adanya proses autolysis dan bakteri. Autolysis adalah penguraian jaringan tubuh disebabkan oleh enzym yang secara alami.

Pengangkutan ikan hidup secara terbuka adalah sistem pengangkutan ikan dimana air dalam wadah angkut kontak langsung dengan udara sebagai sumber oksigen. Sistem ini umumnya digunakan untuk mengangkut ikan dalam jarak yang dekat, misalnya dari kolam ke kolam dalam lokasi yang sama. Alat yang dapat digunakan untuk pengangkutan ikan secara terbuka jerigen dan drum, keranjang, drum atau tangki.

Pengangkutan ikan hidup secara tertutup adalah sistem pengangkutan ikan dimana air dalam wadah angkut tidak kontak langsung dengan udara bebas, karena tertutup rapat oleh kemasan/packing ikan. Pengemasan ikan sistem tertutup merupakan pengemasan ikan hidup yang dilakukan dengan tempat atau wadah tertutup dimana udara dari luar tidak dapat masuk kedalam media tersebut. Pengemasan dengan cara ini dapat dilakukan untuk pengangkutan jarak jauh. Pengangkutan ikan hidup dengan sistem tertutup harus memperhitungkan jarak , ukuran ikan dan waktu pengangkutan. Jarak, ukuran ikan dan waktu pengangkutan berhubungan dengan kemampuan ikan dalam mengonsumsi O didalam kantong kemasan ikan. Perhitungan yang digunakan untuk mengukur konsumsi ikan atas O selama pengangkutan adalah berat ikan dan suhu air. Jumlah O yang dikonsumsi ikan tergantung jumlah oksigen yang tersedia. Jika kandungan O meningkat, ikan akan mengonsumsi O pada kondisi stabil, dan ketika kadar O menurun konsumsi ikan atas O akan lebih rendah. Nilai pH, CO , dan amoniak juga berpengaruh penting pada media air pengangkutan ikan. Nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknis akibat perubahan kandungan CO dan amoniak. CO sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah pH air menjadi asam. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, dan cara

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

menanggulanginya yaitu dengan menstabilkan kembali pH air selama pengangkutan dengan larutan bufer. Pengangkutan ikan hidup dapat juga dilakukan dengan cara kering. Pengangkutan ikan cara kering lebih efesien dan ikan sampai ke tujuan dalam keadaan Pengangkutan ikan cara kering dimana media pengemasan ikan memiliki suhu rendah. Pada saat suhu rendah, aktivitas biologis konsumsi ikan atas energi dan oksigen juga rendah. Semakin rendah metabolisme ikan, semakin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya.

Pengangkutan ikan secara kering diawali dengan pemberokan/pemuasaan ikan sehingga usus ikan bebas dari pakan. Pemberokan dilakukan selama 1-2 hari tanpa diberi makan. Usus ikan yang telah bebas dari sisa pakan dipingsankan dengan cara memasukkan kedalam air dingin 10-15C. Pada saat pingsan tersebut ikan tidak melawan/tidak meronta-ronta/tidak menggelepar lagi pada saat dilakukan penanganan untuk persiapan pengangkutan. Pada waktu bersamaan, disiapkan sekam padi yang sebelumnya juga sudah didinginkan dalam air es, dan ditiriskan. Tujuannya agar suhu sekam dan suhu ikan memiliki suhu yang sama pada saat ikan pingsan. Jadi suhu ikan pada saat pengangkutan tetap stabil tanpa kenaikan dan penurunan suhu.

Setelah ikan pingsan, ikan-ikan dibungkus satu per satu dengan kertas, agar insangnya tidak kemasukan sekam padi ketika mereka disusun dalam kotak yang berisi sekam. Kotak pengangkut ini terbuat dari seng anti karat atau aluminium yang dindingnya ganda diberi bahan penyekat. Sehingga suhu dingin dalam ruangan kotak dapat tahan selama diangkut. Kotak berfungsi untuk mempertahankan temperatur yang diangkut agar tetap dingin atau berfungsi seperti termos atau lemari es mini. Bungkusan ikan disusun dalam kotak, yang dasarnya diberi sekam padi dingin lembap yang sudah selesai ditiriskan sebelumnya. Setelah ikan yang telah disusun, selanjutnya deretan ikan tersebut diberi hancuran es dalam kantung plastik kecil, agar suhu tetap dingin. Selanjutnya, ikan dan es ditimbuni selapis sekam padi dingin yang lembap lagi. Di atas sekam yang ditimbun tersebut di masukkan lagi deretan ikan yang telah dibungkus bersama kantung es lagi dan di timbun sekam yang dingin, dan seterusnya ikan disusun berselang-seling dengan lapisan tebal sekam padi yang telah

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

didinginkan. Selanjutnya setelah selesai kotak diisi ikan, kotak ditutup rapat dan dapat diangkut ke tempat tujuan.

E. Lembar Refleksi Diri

Nama

Kelas / NIS

Tugas

Tanggal

Buatlah Ringkasan dari tugas yang diberikan

Buatlah Ringkasan dari tugas yang diberikan

Hal apa yang paling bermakna selama mempelajari buku ini

Hal apa yang paling bermakna selama mempelajari buku ini

Kemampuan apa yang anda peroleh setelah mempelajari buku ini

Kemampuan apa yang anda peroleh setelah mempelajari buku ini

Kesulitan apa yang anda hadapi selama mempelajari buku ini

Kesulitan apa yang anda hadapi selama mempelajari buku ini

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Bagaimana kemampuan yang anda peroleh dapat dikembangkan lebih lanjut

Bagaimana kemampuan yang anda peroleh dapat dikembangkan lebih lanjut

Tuliskan rencana yang anda lakukan sesuai kemampuan yang anda peroleh setelah mempelajari buku ini

Tuliskan rencana yang anda lakukan sesuai kemampuan yang anda peroleh setelah mempelajari buku ini

F.

Tugas

Lembar Kerja

Judul

: Pengemasan Ikan secara Tertutup

Waktu

:

jam

Pendahuluan Pengangkutan (transportasi) ikan hidup merupakan kegiatan penting dalam budidaya maupun perikanan pada umumnya. Transportasi ikan hidup yang paling sederhana terjadi di lahan perkolaman. lkan yang tahan hidup dapat dipindah dengan ember tanpa air atau dengan keranjang. Ikan yang kurang tahan dimasukkan ke dalam ember, kaleng, drum atau wadah lain (brokoh) yang berisi air untuk diangkut dengan diangkat, dipikul atau menggunakan gerobak. Di perkolaman yang luas pemindahan ikan dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Transportasi ikan hidup melibatkan pemindahan ikan jumlah banyak dalam volume air yang sedikit. Selama pengangkutan, ikan menjadi stres, terluka, kena penyakit, akibat penanganan dan perlakuan, pemasaran sehingga akibat yang paling jelek mengalami kematian. Prinsip pengangkutan adalah persiapan, pengepakan, perlakuan dan pengangkutan. Untuk menjamin keberhasilan pengangkutan ikan adalah menekan aktivitas metabolisme ikan (mempuasakan, anestesia, menurunkan suhu), menambah oksigen dan membuang gas-gas beracun.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen adalah: berat ikan, aktivitas ikan dan suhu lingkungan. Semakin besar ikan, semakin tinggi mengkonsumsi oksigen per jam. Meskipun per satuan berat tubuh ikan, ukuran ikan lebih kecil mengkonsumsi oksigen lebih banyak daripada ikan besar. Ikan yang aktip berenang mengkonsumsi oksigen lebih banyak daripada ikan diam (istirahat). Ikan yang hidup di air suhu tinggi memiliki laju konsumsi oksigen lebih besar daripada ikan di daerah suhu air rendah.

Alat dan bahan:

a. Bak /fiberglass

b. Seser

c. Ember

d. Oksigen

e. Selang

f. Hapa

g. Karet

h. Air

i. Ikan

Keselamatan kerja:

a. Gunakan pakaian praktek saat melakukan kegiatan di lapangan atau pakaian lab

b. Berhati-hati selama menggunakan peralatan kerja

Langkah Kerja

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Pemberokan Ikan

a. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

b. Tutuplah pipa pemasukan air bak

c. Masukkan air kedalam bak dengan ketinggian air 40-50 cm. Air dialirkan secara terus menerus.

d. Masukkan ikan kedalam bak yang telah disiapkan

e. Biarkan ikan selama 1-2 hari tanpa diberi makan. Amatilah kotoran ikan di bak.

Pengemasan Ikan secara Tertutup

a. Siapkan plastik kantong plastik dengan ukuan 1 x 0,5 m.

b. Ikatlah salah satu ujung kantong plastik tersebut mennggunakan karet gelang

c. Masukkan air bersih kedalam kantong plastik sebanyak 5-8 liter

d. Tangkaplah ikan yang telah diberok sebelumnya

e. Masukkan ikan tersebut kedalam kantong plastik yang telah diisi air

f. Peganglah ujung plastik sambil menekan plastik agar udara yang ada dalam plastik keluar semua selanjutnya ujung plastik di pegang erat sehingga tidak adalagi udara yang masuk kedalam kantong plastik

g. Masukkan salah satu ujung selang kedalam kran tabung oksigen

h. Masukkan ujung selang lain kedalam kantong plastik sambil memegang erat ujung kantong plastik

i. Putarlah kran tabung oksigen sehingga oksigen masuk kedalam kantong plastik. Kantong plastik diisi oksigen sebanyak air yang ada di kantong plastik.

j. Keluarkan selang dari kantong plastik dengan cepat sambil menutup kran di tabung oksigen.

k. Peganglah ujung plastik sambil memutar kantong plastik sampai kencang.

l. Ikatlah ujung plastik menggunakan karet gelang dengan kuat.

m. Biarkan ikan dalam plastik

n. Catatlah berapa lama ikan dapat bertahan hidup dalam kantong plastik tersebut

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

G. Lembar Soal Tes Formatif Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dibawah ini.

1. Tujuan utama pengangkutan ikan hidup adalah …

a. Cepat sampai tujuan sesuai jumlah ikan

b. Cepat sampai tujuan sesuai waktu yang direncanakan

c. Sepat sampai dalam keadaan utuh

d. Cepat sampai dalam keadaan utuh dan ikan hidup

2. Faktor

hidup

mempertimbangkan kesediaan oksigen dalam alat pengangkutan adalah

utama

yang

mempengaruhi

pengangkutan

ikan

dengan

a. Spesies ikan, umur dan ukuran ikan, ketahanan relatif ikan, suhu air, lama waktu angkut, cara angkut, sifat alami alat pengangkut, kondisi klimatologik

b. Spesies ikan, umur dan ukuran ikan, ketahanan relatif ikan, suhu air, lama waktu angkut, cara angkut, sifat alami alat pengangkut,

c. Spesies ikan, umur dan ukuran ikan, ketahanan relatif ikan, suhu air, lama waktu angkut, cara angkut, kondisi klimatologik

d. Spesies ikan, umur dan ukuran ikan, suhu air, lama waktu angkut, cara angkut, sifat alami alat pengangkut, kondisi klimatologik

3. Pengemasan benih ikan lele sebaiknya dilakukan secara

a. Tertutup

b. Terbuka

c. Setengah tertutup

d. Setengah terbuka

4. Faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengemasan ikan secara tertutup adalah

a. Perbandingan air dan oksigen 1: 2 dengan suhu 22 – 24 o C

b. Perbandingan air dan oksigen 1: 2 dengan suhu 24 – 27 o C

c. Perbandingan air dan oksigen 1: 3 dengan suhu 22 – 24 o C

d. Perbandingan air dan oksigen 1: 3 dengan suhu 24 – 27 o C

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

5. Padat penebaran ikan lele dalam kantong kemas tergantung pada

a. Ukuran kantong kemas

b. Ukuran ikan yang dikemas

c. Sistem pengemasan

d. Lamanya pengangkutan

6. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pengangkutan ikan adalah

a. Waktu pengangkutan dan jenis transportasi

b. Waktu pengangkutan dan jarak tempuh

c. Lama pengangkutan dan jarak tempuh

d. Lama pengangkutan dan jenis transportasi

Kunci Jawaban

1. d

2. a

3. b

4. a

5. c

6. c

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

H.

Penilaian

1. Sikap

2. Pengetahuan

3. Keterampilan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

INSTRUMEN PENILAIAN PENGAMATAN SIKAP DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :

Nama Peserta Didik

:

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik

:

Tanggal Pengamatan

:

Pertemuann ke

:

 

Aspek Pengamatan

Skor

Keterangan

1

Sebelum memulai pelajaran, berdoa sesuai agama yang dianut siswa

     

2

Interaksi siswa dalam konteks pembelajaran kelas

di

     

3

Kesungguhan siswa dalam melaksanakan praktek

     

4

Ketelitian siswa selama mengerjakan praktek

     

5

Kejujuran selama melaksanakan praktek

     

6

Disiplin selama melaksanakan praktek

     

8

Tanggung jawab siswa mengerjakan praktek

     

9

Kerjasama antar siswa dalam belajar

     

10

Menghargai pendapat teman dalam kelompok

     

11

Menghargai pendapat teman kelompok lain

     

12

Memiliki sikap santun selama pembelajaran

     
 

Jumlah

     
 

Total

 
 

Nilai Akhir

 

Kualifikasi Nilai pada penilaian sikap

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Skor

Kualifikasi

1,00 – 1,99

Kurang

2,00 – 2,99

Cukup

3,00 – 3,99

Baik

4,00

Sangat baik

NA

=

∑ skor

12

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

RUBIK PENILAIAN PENGAMATAN SIKAP DALAM PROSES PEMBELAJARAN

ASPEK

KRITERIA

SKOR

A. Berdoa sesuai agama yang dianut siswa

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

B. Interaksi siswa dalam konteks pembelajaran

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

C. Ketelitian siswa selama mengerjakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

D. Kejujuran selama melaksanakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

E. Disiplin selama melaksanakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

F. Memiliki sikap santun selama pembelajaran

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

G. Tanggung jawab siswa mengerjakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

H. Kesungguhan dalam mengerjakan tugas

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

I. Kerjasama antar siswa dalam belajar

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

J. Menghargai pendapat teman dalam kelompok

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

K. Menghargai pendapat teman dalam kelompok

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

DAFTAR NILAI SISWA ASPEK SIKAP DALAM PEMBELAJARAN TEKNIK NON TES BENTUK PENGAMATAN

Nama Peserta Didik :

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik :

Tanggal Pengamatan :

Pertemuann ke :

Skor Aktivitas Siswa Jml NA Aspek Sikap Nama No Berdoa Siswa Tanggung- Kesung- Kerja Menghargai
Skor Aktivitas Siswa
Jml
NA
Aspek Sikap
Nama
No
Berdoa
Siswa
Tanggung-
Kesung-
Kerja
Menghargai
Menghargai
sebelum
Interaksi
Ketelitian
Kejujuran
Disiplin
Santun
jawab
guhan
sama
dlm klpk
klpk lain
belajar
1
2
3
4
5
6
7
8
dst

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

INSTRUMEN PENILAIAN PENGAMATAN ASPEK PENGETAHUAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Nama Peserta Didik

:

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik

:

Tanggal Pengamatan

:

Pertemuann ke

:

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dibawah ini

1. Pemberokan ikan sebelum pengangkutan bertujuan …….

a. mengobati ikan

b. mengurangi lemak pada tubuh ikan

c. mengosongkan isi perut ikan

d. membersihkan kotoran ikan

2. Pada pengangkutan ikan, semakin tinggi suhu air pengangkutan ikan maka …… semakin tinggi kecuali

a. amoniak

b. pH

c. karbondioksida

d. oksigen

3. Suhu air yang baik untuk pengangkutan ikan adalah:

a. 16-19C

b. 20-23C

c. 23-25C

d. 26-29C

4. Ikan dikatakan segar apabila perubahan-perubahan ……… belum menyebabkan kerusakan berat pada ikan kecuali .

a. biokimiawi

b. mikrobiologik

c. biologi

d. fisikawi

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

5.

Ciri ciri ikan yang masih segar jika dilihat insang ikan akan berwarna ………

a. merah terang

b. merah gelap

c. merah kecoklatan

d. merah kehijauan

5.

sebelum pengankutan ikan dilakukan sortir ikan. Penyortiran ikan bertujuan untuk

a. memisahkan ikan ukuran besar

b. memisahkan ikan sakit dan cacat

c. memilih ikan ukuran kecil

d. memisahkan ikan berdasarkan ukuran

6.

Yang bisa mempercepat pembusukan ikan hasii pemanenan total adalah :

a. Ikan terlalu cepat dimatikan

b. Badan luka-luka dan memar

c. Bergerak aktif sebelum ditangkap

d. Semua benar

7.

Berikut ini jarak pengangkutan ikan sistem terbuka yang paling baik adalah ……

a. > 100 km

b. 20 – 25 km

c. 5 – 10

d. 1-3 km

km

8. Perbandingan yang baik antara es dan ikan untuk pengangkutan ikan mati segar dalam masa pengangkutan 4 jam adalah :

a. 4 :

1

b. 1

:

4

c. 1

:

6

d. 1

:

1

9. Suhu air yang baik selama pengangkutan berkisar antara:

a. 0 - 20C

b. 10 – 150C

c. 15 – 200C

d. 20 – 250C

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

10. Sifat wadah angkut yang baik untuk pengangkutan bandeng ukuran konsumsi jarak jauh adalah :

a. Penghantar panas yang buruk

b. Penghantar panas yang baik

c. Terbuat dari bambu

d. Terbuat dari logam

Lembar jawaban

1. c

2. d

3. d

4. a

5. b

6. a

7. d

8. d

9. a

10. a

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

INSTRUMEN PENILAIAN PENGAMATAN ASPEK KETERAMPILAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Nama Peserta Didik

:

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik

:

Tanggal Pengamatan

:

Pertemuann ke

:

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :

No

Aspek Pengamatan

 

Skor

Ket.

     

1

Membaca buku bacaan / sumber belajar lainnya sebelum pelajaran

     

2

Memahami

materi

pelajaran

yang

akan

di

     

praktekkan

3

Melakukan persiapan alat dan bahan ang akan digunakan dengan baik

     

4

Melakukan pemberokan ikan dengan baik

       

5

Melakukan pengemasan/pengepakan dengan baik

     

6

Menulis laporan praktek sesuai out line dianjurkan

yang

     

7

Menulis laporan dengan memaparkan dan membahas data hasil praktek

     

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

RUBIK PENILAIAN KETERAMPILAN TEKNIK NON TES BENTUK PENUGASAN PROYEK PENGANGKUTAN IKAN SECARA TERTUTUP

Tahapan

Deskripsi kegiatan

Kriteria

Skor

Persiapan

A. Persiapan

Menuliskan 3 bahan ajar atau lebih

4

sumber bahan

Menuliskan 2 bahan ajar

3

(A)

Menuliskan 1 bahan ajar

2

Tidak menuliskan bahan ajar

1

B. Persiapan Bahan dan alat ( B )

Menyediakan 3 bahan dan alat atau lebih sesuai kegiatan / proyek

4

Menyediakan 2 bahan dan alat sesuai kegiatan/proyek

3

 

Menyediakan 1 bahan dan alat sesuai kegiatan/proyek

2

Tidak menyediakan alat dan bahan

1

Pelaksanaan

A. Pemberokan

Menyiapkan wadah pemberokan, mengisi air wadah pemberokan, memasukkan ikan kedalam wadah pemberokan, mengalirkan air terus menerus,

4

ikan

 

Menyiapkan wadah pemberokan, mengisi air wadah pemberokan, mengalirkan air terus menerus,

3

Mengisi air wadah pemberokan, memasukkan ikan kedalam wadah pemberokan,

2

Memasukkan ikan kedalam wadah pemberokan, mengalirkan air terus menerus,

1

B. Pengemasan/p

Menyiapkan oksigen, mengisi air bersih kedalam kantong plastik, memasukkan ikan kedalam kantong plastik, mengeluarkan udara dari kantong plastik, mengisi oksigen kedalam kantong plastik,

4

acking ikan

menggunakan

kantong plastik

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

   

Mengisi air bersih kedalam kantong plastik, memasukkan ikan kedalam kantong plastik, mengeluarkan udara dari kantong plastik, mengisi oksigen kedalam kantong plastik,

3

Menyiapkan oksigen, mengisi air kotor kedalam kantong plastik, memasukkan ikan kedalam kantong plastik, plastik, mengisi oksigen kedalam kantong plastik,

2

Mengisi air bersih kedalam kantong plastik, memasukkan ikan kedalam kantong plastik, mengisi oksigen kedalam kantong plastik,

1

Pelaporan

A. Penulisan

Menulis laporan dengan out line yang baku, menggunakan bahasa Indonesia EYD, di ketik rapi, hasil karangan sendiri

4

laporan

   

Menulis laporan dengan out line yang baku, menggunakan bahasa Indonesia EYD, hasil karangan sendiri

3

Menulis laporan menggunakan bahasa Indonesia EYD, hasil karangan sendiri

2

Menulis laporan menggunakan bahasa Indonesia EYD, hasil contekan dari orang lain

1

 

B. Isi Laporan

Membuat laporan dengan data lengkap, membahas data, menghubungkan antar data, membuat kesimpulan dan saran, mengumpulkan tepat waktu

4

   

Membuat laporan dengan data lengkap, membahas data,

3

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

menghubungkan antar data,

 

Membuat laporan dengan data lengkap, membahas data, menghubungkan antar data,

2

Membuat laporan dengan data lengkap,

1

∑ skor

= 6

NA

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

DAFTAR NILAI SISWA ASPEK KETERAMPILAN TEKNIK NON TES BENTUK PENUGASAN PROYEK

Nama Peserta Didik

:

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik

:

Tanggal Pengamatan

:

Pertemuann ke

:

Kegiatan No Nama Siswa Jml NA Persiapan Pelaksanaan Pelaporan A B A B C A
Kegiatan
No
Nama Siswa
Jml
NA
Persiapan
Pelaksanaan
Pelaporan
A
B
A
B
C
A
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
15

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Bab II. SISTEM PEMASARAN HASIL PERIKANAN (28 JP)

Kegiatan Belajar 2

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah

memahami :

Prinsip - prinsip pemasaran

Penentuan harga dan perhitungan kebutuhan dan jumlah konsumen

mempelajari kompetensi

pemasaran produk

pemasaran,

anda

akan

B. Aktivitas Belajar Siswa Pada mata pelajaran ini anda akan membuat rencana pemasaran produk perikanan. Sebelum anda mempelajari kegiatan pembelajaran ini, sebaiknya anda mengingat dan menjawab pertanyaan yang merupakan pengalaman selama ini, yaitu :

Dimanakah anda menemui produk perikanan di pasarkan

Kapankah harga ikan mahal

Kapankah harga ikan murah

Apakah penyebab kenaikan dan penurunan harga ikan

Jenis ikan apakah yang paling mahal dan paling murah

Mengapa ada perbedaan harga setiap jenis ikan

Mengapa ada perbedaan harga setiap ukuran ikan

Mengapa ada perbedaan harga ikan hidup dan ikan mati

Sebelum pertanyaan ini anda jawab, dipersilakan membuat kelompok dimana masing masing kelompok beranggotakan 4-5 orang. Setiap kelompok mengunjungi tempat pemasaran ikan seperti tempat pelelangan ikan, pasar ikan, supermarket dan sebagainya.

1.

Mengamati

a. Amati kegiatan pemasaran dan penjualan ikan di tempat pelelangan ikan/pasar ikan/ supermarket/pasar tradisional

b. cari informasi tata niaga produk perikanan di pasar tersebut.

c. Catat jenis dan ukuran ikan yang dipasarkan/dijual

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

d. Catat jenis dan ukuran ikan yang memiliki harga paling mahal sampai harga paling murah

e. Harga jenis dan ukuran ikan yang memiliki harga mahal dan murah berkaitan dengan musim.

2. Menanya

a. Diskusikan mengapa terdapat perbedaan harga setiap jenis dan ukuran ikan

b. Diskusikan mengapa terjadi peningkatan dan penurunan harga ikan

c. Diskusikan hubungan peningkatan dan penurunan harga berkaitan dengan musim/iklim

3. Mencoba / mengumpulkan informasi

a. Mintalah kepada penjual ikan untuk ikut membantu melayani pembeli ikan

b. Hitunglah jumlah ikan yang tersedia di pasar tersebut (total ikan dari semua pedagang)

c. Hitunglah total ikan yang terjual setiap hari pada pasar tersebut (semua pedagang)

4. Mengasosiasi

a. Bagaimana hubugan harga ikan dengan musim/iklim

ukuran

b. Adakah

hubungan

jenis

dan

kebiasaan/perilaku/budaya masyarakat

ikan

dengan

c. Bagaimana hubungan ketersediaan jenis dan ukuran ikan dengan peningkatan dan penurunan harga ikan

d. Bagaimana hubungan tata niaga produk perikanan dengan harga ikan

5. Mengkomunikasikan

a. Buatlah laporan pemasaran ikan yang anda telah lakukan

b. Presentasikan pemasaran yang anda telah lakukan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

C. Uraian Materi Dalam sistem agribisnis perikanan, dimana meliputi kegiatan mulai pengadaan sarana produksi, produksi, pengolahan pasca panen (agroindustri), pemasaran dan kelembagaan adalah merupakan rangkaian kegiatan yang saling terkait satu sama lain. Semua kegiatan dalam agribisnis perikanan tersebut, adalah proses menghasilkan produk. Produsen yang bergerak di bidang sarana produksi akan menghasilkan produk-produk pemenuhan kebutuhan untuk kegiatan produksi. Produsen yang bergerak pada kegiatan produksi akan menghasilkan produk atau ikan untuk memenuhi kebutuhan pada kegiatan agroindustri. Khususnya kegiatan pemasaran (marketing), disaat produk sudah dihasilkan baik dalam kegiatan sarana produksi, produksi dan agroindustri, maka kegiatan pemasaran sangatlah penting. Tanpa kegiatan pemasaran maka semua produk yang dihasilkan tersebut adalah merupakan setumpuk barang yang tidak bermanfaat.

Dengan demikian, kegiatan pemasaran adalah sangat penting dalam semua kegiatan yang menghasilkan barang atau pun jasa. Hasil perikanan dapat dikelompokkan ke dalam bahan mentah dan barang konsumsi. Sebagai bahan mentah dapat dibeli oleh pabrik atau usaha pengolahan untuk diolah menjadi barang jadi misalnya ikan kaleng, aneka olahan ikan, tepung ikan, dsb. Sebagai barang konsumsi akan dibeli oleh konsumen akhir (household consumer, restaurant, hospital,).

Produk perikanan dan kelautan termasuk “perishable goods” atau produk mudah rusak, maka akan sangat memerlukan startegi pemasaran yang berbeda dengan produk barang maupun jasa pada umumnya. Apalagi “image” masyarakat terhadap produk-produk perikanan juga berbeda atau beragam dibanding dengan produk pada umumnya. Berdasarkan pendapat atau pengamatan dari praktisi pemasaran produk perikanan dan kelautan, bahwa persepsi masyarakat terhadap produk perikanan dan kelautan antara lain jika makan ikan alergi, ikan baunya amis, ikan banyak duri, ikan mahal, ikan rumit memasaknya, ikan hanya bisa atau paling enak digoreng. Karena image masyarakat terhadap produk perikanan masih demikian kompleknya, maka diperlukan strategi pemasaran yang dapat merubah image tersebut, sehingga kendala pemasaran produk perikanan dan kelautan dapat diatasi.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Terdapat perbedaan antara kegiatan pemasaran dan penjualan. Pada kegiatan pemasaran diawali dari kebutuhan atau keinginan konsumen, selanjutnya produk diusahakan /diciptakan. Sedangkan kegiatan penjualan, diawali dengan membuat produk, dan berusaha bagaimana produk tersebut laku dijual. Dalam kegiatan pemasaran dituntut kreatifitas lebih dominan dari pada promosi. Sedangkan pada kegiatan penjualan, promosi lebih dominan dari pada kreatifitas. Kalau kita menerapkan kegiatan pemasaran maka kepuasan konsumen akan menjadi harapan atau tujuannya. Sebaliknya penjualan, tidak memperhatikan kepuasan konsumen yang penting barang terjual habis.

Setiap produksi baik produksi pertanian, peternakan dan perikanan memiliki karakteristik tersendiri dalam hal pemasaran. Pemasaran produk perikanan ditujukan terhadap pengusaha pembesaran dan pembenihan ikan. Pemasaran hasil pembenihan dapat dilakukan sejak mulai dari telur ikan, larva, benih ukuran 3-5 cm, 5-7 cm, 8-12cm. Permintaan jenis dan ukuran ikan setiap daerah berbeda. Pada daerah tertentu permintaan benih ikan mas sangat tinggi dengan ukuran 8- 12 cm, sebaliknya beberapa daerah membutuhkan benih ikan yang lebih kecil. Permintaan jenis dan ukuran ikan konsumsi berbeda pada beberapa daerah. Pada beberapa daerah masyarakat lebih menyukai ikan lele (ikan air tawar), sebaliknya beberapa daerah lebih menyukai ikan laut dibanding ikan air tawar. Kebiasaan/perilaku/budaya masyarakat akan permintaan jenis dan ukuran ikan tersebut merupakan dasar pemasaran produk perikanan.

1. Prinsip prinsip Pemasaran Produk Perikanan Prinsip pemasaran produk perikanan adalah seberapa besar kemampuan pengusaha perikanan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggannya dan memenuhi dengan cara yang lebih efisien dan efektif dibanding pesaing. Berangkat dari prinsip tersebut, pengusaha perikanan harus memusatkan perhatiannya pada pelanggan/konsumen produk perikanan untuk mencari tahu kebutuhan dan keinginan mereka tentang produk perikanan. Dengan kata lain kebutuhan dan keinginan pelanggan menempati titik sentral dan utama. Pengusaha perikanan harus paham betul kebutuhan dan keinginan pelanggan/konsumen produk perikanan. Pelanggan merupakan orang-orang yang berkuasa untuk memutuskan untuk membeli atau tidak membeli produk perikanan. Jadi, pelanggan adalah bagian dari pasar, karena yang disebut pasar adalah pembeli itu sendiri baik pembeli aktual/tetap maupun potensial.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Pasar sangatlah beragam berarti keinginan pembeli juga beragam. Fakta ini membuat pengusaha perikanan tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pasar/konsumen.

Untuk memahami pelanggan, pengusaha perikanan harus mengelompokkan pasar terlebih dahulu. Dengan kata lain pengusaha perikanan harus menentukan pelanggan sasaran (target customers). Untuk produk perikanan dan kelautan, target customers ini misalnya untuk anak-anak, orang dewasa, balita, masyarakat kelas sosial bawah, menengah, atas. Anak-anak saat ini suka jajan ”tempura ikan”, maka pengusaha membuatlah tempura ikan yang bergizi dan aman di konsumsi anak-anak. Artinya tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya di konsumsi anak-anak dan manusia pada umumnya. Kedua, pengusaha harus memancing agar pasar sasaran memberikan respons yang diinginkan oleh pengusaha perikanan. Jadi, bagaimana caranya supaya pelanggan merasa bahwa produk perikanan yang dihasilkan atau pasarkan adalah yang cocok bagi mereka. Apa saja respon yang diinginkan pengusaha perikanan? Respons tersebut adalah pasar sasaran mengenal, menyukai, menjadikan produk sebagai pilihan, membeli produk dan menjadi pelanggan yang loyal terhadap produk perikanan yang dihasilkan.

Untuk memperoleh respon tersebut pengusaha perikanan harus menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran, menetapkan harga yang sesuai (tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah) bagi pasar sasaran, menyediakan produk pada tempat-tempat yang biasanya didatangi pasar sasaran dan melalukan promosi yang format dan metodenya mengena dengan pasar sasaran. Alat yang bisa dikontrol oleh pengusaha dan diarahkan untuk memperoleh respons yang diinginkan dari pasar sasaran yang meliputi produk (product), harga (price), tempat (place) dan promosi (promotion) yang disebut 4 P yang dikenal dengan bauran pemasaran (marketing mix).

a. Produk (Product) Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan oleh individu maupun organisasi ke dalam pasar untuk diperhatikan, digunakan, dibeli maupun dimiliki.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Bagaimana variasi produk berbasis lele, apakah hanya satu jenis saja misal tempura, atau diupayakan beberapa jenis olahan yang dapat diterima semua baik anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak.

Bagaimana kualitas produk olahan lele, apakah tinggi, sedang atau rendah. Sebaiknya kualitas olahan lele, selain penampilan fisik produk juga diperhatikan dari sisi keamanan pangan. Bahan-bahan untuk mengolah termasuk produk yang aman untuk dikonsumsi

Bagaimana desain produk?

Apa mereknya?

Fitur apa yang perlu ditampilkan pada produk?

Kemasan bagaimana?

Ukurannya bagaimana?

Apakah pengusaha menerima produk yang rusak, ? dll.

b. Harga (Price) Harga adalah sejumlah nilai yang dipertukarkan untuk memperoleh suatu

produk. Untuk menetapkan sembarang harga adalah mudah. Menentukan harga yang tepat adalah sulit. Harga yang tepat yaitu tidak terlalu mahal di mata konsumen, masih memberikan keuntungan bagi pengusaha dan tidak menjadi kelemahan pengusaha di mata pesaing. Sehubungan dengan harga, banyak hal yang harus dipikirkan oleh pengusaha yaitu :

Berapa tingkat harga yang ditetapkan?

Seberapa bebas perantara dalam menetapkan harga, karena umumnya perantaralah (bukan produsen) yang berhubungan dengan konsumen akhir. Berapa harga minimum dan maksimum yang bisa diterapkan oleh perantara (allowances)

Berapa lama jangka waktu pembayaran?

Bagaimana persyaratan-persyaratan untuk pembelian secara kredit?

c. Tempat (Place) Tempat adalah lokasi dimana konsumen biasanya membeli produk tersebut. Misalnya tempat menjual lele penyet di warung, tempura lele di sekolah-sekolah, sosis, nuget lele di mini market, super market, steak lele dan lele asam manis di restoran, dst. Tempat yang dimaksud dalam bauran pemasaran adalah menyediakan produk kepada konsumen pada

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

tempat yang tepat, kualitas yang tepat dan jumlah yang tepat. Hal-hal yang perlu direncanakan berkaitan dengan tempat adalah :

Saluran pemasaran

Cakupan pasar

Keanekaragaman produk (assortment)

Lokasi

Manajemen persediaan

Transportasi dan logistik

d. Promosi (Promotion)

Promosi adalah kegiatan-kegiatan untuk mengkomunikasikan kelebihan- kelebihan produk dan membujuk konsumen untuk membelinya. Respons yang diharapkan dari pasar sasaran juga dipengaruhi oleh kegiatan promosi. Hal-hal yang perlu direncanakan berkaitan dengan tempat adalah :

Apa sasaran yang ingin dicapai melalui promosi

Berapa anggaran yang diperlukan

Apa pesan yang ingin disampaikan

Apa metode promosi yang digunakan, apakah iklan, personal selling, hubungan masyarakat, promosi penjualan ataukah pemasaran langsung.

Ilustrasi : Pemasaran Ikan Lele

Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa ikan lele dipersepsikan masyarakat tergolong ikan kelas rendah artinya tidak punya prestise di kalangan masyarakat kelas atas, sehingga konsumen ikan lele adalah masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat yang mengkonsumsi ikan lele goreng, suka pada ukuran sedang sampe kecil (size 8-10). Hal ini dikarenakan jika lele untuk dikonsumsi sebagai lele goreng, maka ukuran lele yang sedang sampe kecil lebih gurih. Berarti jika kita mau memenuhi kebutuhan konsumen ikan lele goreng, maka strategi produk ikan lele yang akan dijual tersebut sesuai dengan selera masyarakat yaitu ukuran atau size 8-10 (satu kg berisi 8-10 ekor lele). Berbeda jika kita menentukan target customer kita adalah kelas atas. Karena lele dianggap tidak prestise oleh kalangan atas, maka strategi produk kita adalah

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

bagaimana membuat lele tersebut menjadi olahan yang cocok atau sesuai yang dibutuhkan kelas atas. Misalnya, dengan daya kreasi bahwa ikan lele tidak hanya bisa digoreng, tetapi dapat dibuat produk olahan sosis lele, steak lele, nugget lele, lele asam manis, tempura lele, dll. Jika target kita untuk memproduksi olahan lele menjadi sosis, steak, atau nugget, maka yang dibutuhkan adalah ikan lele ukuran besar yaitu size 2, karena yang dibutuhkan dagingnya dan untuk steak lele perlu fillet ikan lele dan hanya bisa dilakukan fillet pada ukuran lele yang besar.

Untuk strategi harga, seperti telah diuraikan sebelumnya, bagaimana menentukan harga lele goreng penyet, sosis lele, nuget lele, steak lele, lele asam manis tersebut sesuai artinya tidak terlalu mahal dan murah. Tentunya harga tersebut juga erat kaitannya dengan strategi tempat (place). Lele goreng penyet dapat dijumpai di warung-warung, yang mana bahan baku umumnya diperoleh di pasar tradisional, pasar ikan atau tukang sayur. Sedangkan untuk steak lele dan lele asam manis yang target customernya kelas menengah ke atas tentunya tempat menyesuaikan misalnya di restoran yang lebih tinggi tingkatannya daripada warung. Sosis lele dan nuget lele dapat menerobos mini market, supermarket, atau dijual ke kantor-kantor yang merupakan target customer menengah ke atas dan orang sibuk yang tidak sempat memasak sendiri.

Strategi promosi diperlukan untuk kelas menengah ke atas, sedangkan kelas bawah tidak perlu promosi. Hal ini disebabkan bahwa promosi perlu dilakukan untuk merubah image kelas menengah ke atas terhadap lele, dengan tujuan semua kalangan menyukasi dan mempersepsi baik terhadap produk lele. Promosi diarahkan pada diversifikasi produk olahan lele (sosis lele, nuget lele, lele asam manis, steak lele, dll) yang cukup bergengsi dipandang oleh masyarakat kelas menengah ke atas.

2. Perencanaan Pemasaran

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

a. Pengertian perencanaan pemasaran Pemasaran merupakan aspek yang sangat mendasar dalam mencapai keuntungan suatu usaha. Jika produk perikanan yang dihasilkan tidak memiliki sasaran pasar maka produk tersebut tidak akan terjual. Oleh karena itu, sebelum melakukan usaha seorang pengusaha sebaiknya berpikir dan berorientasi ke aspek pemasaran terlebih dahulu. Pada perencanaan pemasaran produk perikanan ukuran dan jenis ikan yang paling dominan di suatu wilayah. Selain itu kapasitas produk perikanan tertentu yang dapat ditampung oleh pasar tersebut.

Pasar sangat penting untuk kelangsungan kegiatan produksi, jika kemampuan pasar untuk menyerap produk perikanan sangat tinggi maka pengusaha dapat menentukan harga jual produk yang diproduksinya sesuai dengan yang diinginkan. Dengan penentuan harga jual yang tepat maka keuntungan akan mudah diperoleh. Sebaliknya, bila pasar tidak tersedia, maka usaha yang dirintis/dijalankan dapat mengalami kerugian, apalagi produk yang dihasilkan berupa makhluk hidup yang perlu perawatan khusus dan dapat memerlukan biaya yang cukup tinggi bila disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.

b. Kegunaan Rencana Pemasaran Perencanaan pemasaran berguna dalam membantu kita dalam membangun, mengarahkan, dan mengkoordinasikan usaha atau kegiatan pemasaran usaha produk perikanan. Dengan adanya rencana pemasaran, kita akan dituntut untuk menganalisa situasi pasar di mana produk kita dipasarkan dan bagaimana situasi atau keadaan pasar tersebut mempengaruhi bisnis kita. Di samping itu, suatu rencana pemasaran yang telah disusun dengan baik akan bisa dijadikan sebagai dasar dalam mengukur keberhasilan program pemasaran produk perikanan. Perencanaan pemasaran perikanan terdiri dari dari : (i) informasi tentang usaha, produk jenis dan ukuran produk perikanan yang dihasilkannya; (ii) tujuan dan strategi pemasaran produk perikanan dan (iii) teknik yang digunakan dalam mengukur keberhasilan pelaksanaan kegiatan pemasaran produk perikanan. Ringkasnya, sebuah rencana pemasaran

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

produk perikanan menggambarkan semua kegiatan pemasaran yang akan dilakukan dalam periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun. Penyusunan sebuah rencana pemasaran produk perikanan, kita dituntut untuk memiliki pemahaman menyeluruh tentang: (i) kegunaan produk perikanan yang ditawarkan; (ii) masalah-masalah yang bisa dipecahkan oleh kebutuhan atau keinginan yang dapat dipenuhi oleh barang; (iii) pasar yang menjadi target dan segala karakteristiknya; dan (iv) produk perikanan lain yang menjadi pesaing atau berpotensi untuk menjadi pesaing. Situasi pasar produk perikanan sangat dinamik sehingga rencana pemasaran yang disusun tahun ini belum tentu, bahkan bisa dipastikan tidak akan, cocok dengan situasi pasar tahun yang akan datang.

3. Sasaran pemasaran Sasaran pemasaran mengikuti analisis situasi dan harus berkaitan erat dengan tujuan-tujuan pemasaran strategis dan tujuan-tujuan tingkat usaha perikanan. Jadi sasaran pemasaran berkaitan erat dengan beberapa pertanyaan, yaitu :

siapa konsumen yang dituju, berapa besar kira-kira permintaannya, apa yang menjadi motif atas permintaan produk tersebut, apakah sesuai produk yang dihasilkan dengan selera konsumen yang dituju, bagaimana kondisi sosial konsumen yang dituju, dan bagaimana daya belinya. a. Persaingan Strategi pemasaran berikutnya adalah bagaimana memposisikan produk perikanan yang dihasilkan di pasar dan bagaimana membedakannya dengan para pesaing (positioning). Pelanggan mungkin mengembangkan sendiri pemahaman atau citra terhadap apa yang sedang ditawarkan kepada mereka jika sebuah usaha pembenihan ikan tidak mempertimbangkan hal ini dalam perencanaannya. Keputusan positioning perlu mempertimbangkan apa yang ditawarkan oleh pesaing dan apa yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan

Persaingan merupakan suatu hal yang wajar dalam bidang usaha. Apalagi usaha di bidang perikanan, karena usaha di bidang perikanan umumnya tidak mengenal monopoli, jadi semua pihak bisa bersaing bebas di pasaran. Oleh karena itu perlu dipikirkan bagaimana agar kegiatan usaha yang akan dilakukan produknya dapat laku di pasaran. Beberapa hal yang

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

mungkin dapat membantu meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan, yaitu : kualitas produk harus sesuai dengan permintaan pasar (konsumen), harga jual produk bersaing (faktor efektifitas dan efisiensi usaha), dan pelayanan prima.

b. Identifikasi Pasar Identifikasi pasar produk perikanan, sasaran dan memperkirakan permintaan pasar. Sebuah pasar produk perikanan mengacu pada sekelompok orang dengan kebutuhan untuk dipuaskan, uang untuk dibelanjakan, dan mempunyai kemauan untuk berbelanja. Berbagai kelompok pasar produk perikanan atau segmen menginginkan barang yang berbeda-beda.

c. Menetapkan pasar Setelah pasar sasaran produk perikanan diidentifikasi, tahap berikutnya adalah menetapkan pasar-pasar mana yang layak untuk dituju atau mempunyai permintaan yang memadai bagi sebuah usaha perikanan untuk memfokuskan perhatian padanya .

d. Keputusan Pasar Setelah pasar diidentifikasi dan ditetapkan, tahap terakhir adalah membuat keputusan mengenai product (ukuran dan jenis produk/ikan), price (harga jenis ikan dan ukurannya), place (tempat, distribusi), dan promotion (promosi). Segala strategi dan taktik yang diambil dalam kaitannya dengan tahap ini dalam perencanaan pemasaran strategis perlu dikoordinasikan guna mendukung tujuan-tujuan di tingkat yang lebih luas.

4. Pemasaran Hasil Perikanan Menurut Paul D. Converse, Harvey W. Huege, dan Robert V. Mitchell (2004), pemasaran adalah sebagai kegiatan membeli dan menjual, dan termasuk didalamnya kegiatan menyalurkan barang dan jasa antara produsen dan konsumen. Pemasaran adalah proses manajerial yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dalam memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka, dengan cara membuat dan mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain (Kotler dan Amstrong, 2000; Simamora, 2001) Jadi, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu maupun organisasi.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Sedangkan menurut Ma’ruf (2006 : 3-5), bahwa pemasaran adalah kegiatan memasarkan barang atau jasa umumnya kepada masyarakat. Aktivitas pemasaran bermula dari pengamatan kebutuhan konsumen.

Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran (Sutawi, 2002). Menurut Kotler, (1997), pemasaran adalah sejumlah kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memberi kepuasan dari barang-barang atau jasa yang dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai. Pemasaran adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan values dari satu inisiator kepada stakeholdernya (Hermawan Kertajaya, 2002).

Jadi pemasaran merupakan situasi bisnis bersifat dapat dikelola, merupakan suatu sistem, melibatkan produk, promosi, penetapan harga, dan distribusi (yang perlu dikoordinasi), dan dirancang untuk memberikan sesuatu yang memuaskan atau nilai kepada suatu kelompok (pasar sasaran), dan dalam rangka mencapai tujuan organisasi / individu. Kesimpulannya yang paling penting dari pengertian pemasaran adalah adanya hubungan dengan pemindahan hak milik secara memuaskan.

a. Pemasaran dan Penjualan Pengertian pemasaran menurut beberapa ahli adalah sangat beragam, namun yang jelas dari definisi yang saya pahami bahwa pemasaran sangat berbeda dengan penjualan. Kebanyakan orang menyamakan

pemasaran dengan penjualan. Pemasaran adalah proses manajerial yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dalam memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka, dengan cara membuat dan mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain (Kotler dan Amstrong, 2000;

Jadi, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan

dan keinginan individu maupun organisasi. Ma’ruf (2006 : 3-5), bahwa

pemasaran adalah kegiatan memasarkan barang atau jasa umumnya kepada masyarakat. Aktivitas pemasaran bermula dari pengamatan kebutuhan konsumen.

Simamora,2001 :

Kalau kita amati uraian pengertian pemasaran tersebut, kegiatan pemasaran diawali dari kebutuhan atau keinginan konsumen. Berdasarkan kebutuhan atau keinginan konsumen, barulah dibuat produk.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Sedangkan kegiatan penjualan, diawali dengan membuat produk, dan dengan gencar berusaha bagaimana produk tersebut laku dijual. Dalam kegiatan pemasaran dituntut kreatifitas lebih dominan daripada promosi. Sedangkan pada kegiatan penjualan, promosi lebih dominan bahkan sampai menipu konsumen, yang penting produk terjual habis. Kalau kita menerapkan kegiatan pemasaran maka kepuasan konsumen akan menjadi harapan atau tujuannya. Sebaliknya penjualan, tidak memperhatikan kepuasan konsumen yang penting barang terjual habis. Jika kita menerapkan kegiatan pemasaran, maka kontinuitas kegiatan akan terjamin. Tanpa pemasar (marketer) berusaha mencari pembeli untuk membeli barangnya, pembeli akan datang atau mencari marketer atau produsen. Yang saya tekankan disini bahwa jika pemasaran berawal dari kebutuhan dan keinginan konsumen, maka kebutuhan atau keinginan tersebut menyangkut kebutuhan akan keamanan pangan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Dengan demikian menurut pendapat saya kebutuhan masyarakat tersebut tidak hanya dari aspek ekonomi yaitu bagaimana memilih kebutuhan yang sesuai dengan kemampuan ekonomi konsumen, namun lebih dari itu adalah adanya keseimbangan antara ekonomi, sosial dan ekologi.

c. Strategi Pemasaran Produk Perikanan Strategi pemasaran atau bauran pemasaran (marketing mix) adalah alat perusahaan untuk memperoleh respon yang diinginkan. Strategi pemasaran adalah salah satu upaya untuk mengoptimalkan proses pemasaran. Prinsip pemasaran adalah pencapaian tujuan suatu organisasi tergantung pada seberapa mampu perusahaan/marketer memahami kebtuhan dan keinginan pelanggannya dan memenuhi dengan cara yang lebih efisien dan efektif dibanding pesaing. Berangkat dari prinsip tersebut, seorang pemasar pertama kali harus memusatkan perhatiannya pada pelanggan untuk mencari tahu kebutuhan dan keinginan mereka. Jadi, dalam hal ini kebutuhan dan keinginan pelanggan menempati titik sentral. Perusahaan atau marketer harus paham betul kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Perlu diingat kembali bahwa pelanggan adalah orang-orang yang berkuasa untuk memutuskan untuk membeli atau tidak membeli suatu produk. Jadi, pelanggan adalah bagian dari pasar, karena yang disebut pasar adalah

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

pembeli itu sendiri baik pembeli aktual maupun potensial. Pasar sangatlah beragam berarti keinginan pembeli juga beragam. Fakta ini membuat perusahaan atau marketer tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pasar.

Maksud dari strategi pemasaran adalah suatu tindakan penyesuaian sebagai reaksi terhadap situasi pasar produk perikanan dengan pertimbangan yang wajar. Tindakan-tindakan yang diambil tersebut merupakan pendekatan terhadap berbagai faktor, baik faktor luar maupun faktor dalam pembenihan ikan. Faktor luar berdasarkan konsumen yang dituju, sedangkan faktor dalam berdasarkan produksi yang dihasilkan. Sehingga berbagai kemungkinan tersebut harus diidentifikasi dan dirancang sedemikian rupa berbagai solusi yang dapat diambil, jadi pada saat pelaksanaanya nanti dapat dengan mudah menanggulanginya.

Strategi pemasaran melibatkan lima tahap, yaitu : 1) menjalankan analisis situasi, 2) menyusun sasaran pemasaran, 3) menentukan posisi dan keunggulan bersaing yang sesuai, 4) memilih pasar sasaran, 5) menetapkan permintaan pasar serta mendesain bauran pemasaran (Eva Zhoriva Yusuf dan Lesley Williams, 2007).

1)

Analisis Situasi Analisis situasi terkadang juga disebut audit situasi atau analisis SWOT. Analisis ini melibatkan pemeriksaan kekuatan dan kelemahan usaha perikan saat ini, dan peluang serta ancaman yang dihadapi atau yang secara potensial dihadapi di masa mendatang. Tahap ini memungkinkan sebuah usaha perikanan untuk melihat seberapa baik dirinya dalam mencapai tujuannya dan tindakan- tindakan apa yang perlu dimulai atau dimodifikasi guna mencapai sasaran dan rencana untuk masa mendatang .

2)

Ciri-Ciri Pemasaran Hasil Perikanan Pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, diantaranya sebagai berikut :

a) Sebagian besar dari perikanan berupa bahan makanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatif stabil

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

sepanjang tahun sedangkan penawarannya sangat tergantung kepada produksi yang sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim.

b) Pada umumnya pedagang pengumpul memberi kredit (advenced payment) kepada produsen (nelayan atau petani ikan) sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.

c) Saluran pemasaran hasil perikanan pada umumnya terdiri dari :

produsen (nelayan atau petani ikan), pedagang perantara sebagai pengumpul, grosir (wholesaler ), pedagang eceran dan konsumen (industri pengolahan dan konsumen akhir).

d) Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen sampai konsumen pada umumnya meliputi proses- proses pengumpul, pengimbangan dan penyebaran, di mana proses pengumpulan adalah terpenting.

e) Kedudukan terpenting dalam pemasaran hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul dalam fungsinya sebagai pengumpul hasil, berhubung daerah produksi terpencar-pencar, skala produksi kecil-kecil dan produksinya berlangsung musiman.

f) Pemasaran hasil perikanan tertentu pada umumnya bersifat musiman, karena pada umumnya produksi berlangsung musiman, dan ini jelas dapat dilihat pada perikanan laut.

d. Pemilihan Pasar Sasaran (Target Market) Target market adalah bagian pasar yang dijadikan sebagai tujuan pemasaran. Pengusaha perikanan dapat mencapai tujuannya hanya kalau memahami kebutuhan dan keinginan konsumen dan mampu memenuhinya dengan cara yang lebih efisien dan efektif dibanding pesaing. Konsekuensinya adalah pengusaha perikanan harus memahami betul siapa pasar sasarannya, sekaligus bagaimana perilaku mereka. Setelah menetapkan kalangan mana yang menjadi sasaran, pengusaha perlu memperkuat kehadiran pengusaha pada kalangan tersebut. Untuk itu pengusaha perlu membentuk posisi produk. Posisi produk adalah suatu tempat yang diduduki produk secara relatif terhadap pesaing. Tempat tersebut bukanlah ruang (space) secara fisik, melainkan tempat berupa image di dalam ruang benak konsumen. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa kendala pemasaran produk perikanan dan kelautan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

adalah sangat erat berkaitan dengan image produk misalnya lele jenis ikan rendah, udang mahal, udang prestise, ikan membuat alergi, ikan baunya amis, ikan mengolahnya merepotkan, ikan hanya bisa digoreng, dan lain-lain.

Untuk mendapat image yang baik sesuai dengan target market dan segmentasi pasar, maka rubahlah image lele jenis ikan yang ekonomis penting, bisa dibuat aneka produk berkelas, harga terjangkau, tempat- tempat yang biasa didatangi masyarakat kelas atas pun juga menyediakan diversifikasi olahan lele, sehingga image lele baik pada semua segmen pasar. Sebaliknya untuk udang, bagaimana merubah image udang tidak mahal dan udang dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan, sehingga produk udang terserap untuk memenuhi pasar domestik. Bagaimana merubah image bahwa tidak semua ikan membuat alergi, ikan tidak amis, ikan tidak merepotkan dalam memasak, ikan tidak hanya digoreng melainkan banyak alternatif jenis olahan ikan. Semua itu perlu daya kreatifitas produsen dan marketer untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

e. Penentuan Segmen Pasar Target market produk perikanan adalah bagian pasar yang dijadikan sebagai tujuan pemasaran produk produk perikanan. Pengusaha perikanan dapat mencapai tujuannya hanya kalau memahami kebutuhan dan keinginan konsumen dan mampu memenuhinya dengan cara yang lebih efisien dan efektif dibanding pesaing. Konsekuensinya adalah pengusaha tersebut harus memahami betul siapa pasar sasarannya, sekaligus bagaimana perilaku mereka. Untuk menemukan target market, ada empat kegiatan yang perlu dilakukan oleh pengusaha perikanan yaitu (1) mengukur dan memperkirakan permintaan; (2) mensegmentasi pasar (market segementation); (3) memilih pasar sasaran (market tergeting); dan (4) menentukan posisi pasar (market positioning)

f. Mengukur dan Memperkirakan Permintaan Produk Perikanan Ada dua cara untuk memperkirakan permintaan produk perikanan dan kelautan yaitu dengan (1) pendekatan fundamental yaitu mengukur dan

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

memperkirakan permintaan dengan cara menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan, seperti pertumbuhan pasar, pendapatan, kondisi ekonomi, gaya hidup dan lain-lain; (2) pendekatan teknis melakukan pengukuran dengan melihat kecenderungan permintaan pada masa lalu, yang dianalisis secara statistik untuk mengukur besarnya permintaan saat ini dan masa yang akan datang.

g. Segmentasi Pasar Segmentasi pasar adalah proses untuk menggolong-golongkan pasar ke dalam segmen-segmen. Segmen adalah sekumpulan konsumen yang memberikan respons yang sama terhadap stimuli pemasaran tertentu. Segmentasi pasar dapat didasarkan pada :

geografis : tempat tinggal, kota, wilayah

demografis : jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendapatan

psikografis : gaya hidup, kepribadian, kelas sosial

perilaku : tingkat penggunaan, manfaat yang dicari, saat menggunakan

1)

Pemilihan Pasar Sasaran Setelah mensegmentasi pasar, pengusaha harus memilih segmen mana yang menjadi pasar sasaran. Sasaran ini bisa satu segmen, beberapa segmen, malah seluruh segmen.

2)

Penentuan posisi pasar Setelah menetapkan kalangan mana yang menjadi sasaran, pengusaha perlu memperkuat kehadiran pengusaha pada kalangan tersebut. Untuk itu pengusaha perlu membentuk posisi produk. Posisi produk adalah suatu tempat yang diduduki produk secara relatif terhadap pesaing. Tempat tersebut bukan ruang (space) secara fisik, melainkan tempat berupa image di dalam ruang benak konsumen. Kendala pemasaran produk perikanan dan kelautan adalah sangat erat berkaitan dengan image produk misalnya lele imagenya termasuk jenis ikan rendah, sedangkan udang imagenya mahal, udang juga termasuk prestise, ikan dapat membuat alergi, ikan baunya amis, ikan mengolahnya merepotkan, ikan hanya bisa digoreng, dan lain-lain. Untuk mendapat image yang baik sesuai

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

dengan target market dan segmentasi pasar, maka rubahlah image lele menjadi jenis ikan yang ekonomis penting, bisa dibuat aneka produk berkelas, harga terjangkau, tempat-tempat yang biasa didatangi masyarakat kelas atas juga menyediakan diversifikasi olahan lele, sehingga image lele baik pada semua segmen pasar. Sebaliknya untuk udang, bagaimana merubah image udang supaya tidak mempunyai image mahal dan udang dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan, sehingga produk udang terserap untuk memenuhi pasar domestik. Bagaimana merubah image bahwa tidak semua ikan membuat alergi, ikan tidak amis, ikan tidak merepotkan dalam memasak, ikan tidak hanya digoreng melainkan banyak alternatif jenis olahan ikan. Semua itu perlu daya kreatifitas produsen dan marketer untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

3)

Perilaku Konsumen Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan mengajak aktivitas individu dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau mengatur barang dan jasa (Simamora, 2003).

Selanjutnya Kotler dan Amstrong (1997), mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah perilaku pembelian akhir, baik individu maupun rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi personal. Riniwati (2005), mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah bagaimana konsumen membuat keputusan tentang pemilihan diantara berbagai macam barang yang akan dibeli dan berapa jumlahnya. Demikian juga Hunt (1983), mengatakan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dalam pembelian barang. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :

Psikologi (motivasi, persepsi, learning, kepercayaan, sikap)

Personal (usia, tahap daur hidup, jabatan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian, konsep diri)

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

Sosial (kelompok rujukan seperti teman kampus, persekutuan doa, pengajian, perkumpulan olah raga, dll)

Kebudayaan (kultur, sub kultur, kelas sosial)

h. Manajemen Risiko Pemasaran

Resiko usaha dapat terjadi saat proses produksi maupun saat produk mau dipasarkan. Risiko saat proses produksi bisa dialihkan kepada pengusaha asuransi dengan membeli premi asuransi atau dengan penerapan teknologi budidaya dan teknologi pasca panen yang baik. Sedangkan resiko pasar dapat ditanggulangi dengan cara : diversifikasi (diversification), integrasi vertikal (Vertical integration), penerapan teknologi (implementation of teknology), kontrak dimuka (forward contarcting), pasar masa depan (future market), usaha perlindungan (hudging), dan pasar opsi (options market).

1)

Diversifikasi (Diversification) Diversifikasi berarti penyediaan barang dalam berbagai bentuk (Duft, 1979). Diversifikasi merupakan salah satu cara mengeliminasi dampak negatif atau risiko yang dihadapi oleh pengusaha. Diversifikasi pada kegiatan usaha produksi hasil perikanan dapat dengan cara penyediaan jenis hasil perikanan yang berbeda dan atau penyediaan ukuran hasil perikanan yang berbeda-beda. Contoh :

anda adalah seorang pengusaha yang bergerak dibidang pembenihan ikan. Sedangkan wilayah sekitar anda, banyak terdapat masyarakat melakukan kegiatan pembesaran ikan. Masyarakat tersebut merupakan pasar bagi kegiatan usaha anda. Pembesaran ikan yang dilakukan masyarakat tersebut terdiri dari bermacam macam jenis ikan. Agar usaha pembenihan mendatangkan keuntungan maka anda memproduksi berbagai jenis benih ikan dan ukuran ikan agar produksi anda dapat diterima oleh masyarakat yang membesarkan ikan tersebut. Anda disarankan tidak hanya memproduksi satu jenis ikan tetapi lebih dari satu jenis ikan misalnya benih ikan mas, lele, nila, patin, bawal dan sebagainya.

2)

Integrasi Vertikal (Vertical Integration) Integrasi vertikal dalam arti mikro adalah suatu usaha yang bergerak pada dua atau lebih level dalam suatu komoditas, sedangkan dalam

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

arti makro dimana dua atau lebih pengusaha memiliki keterkaitan bisnis yang kuat dalam suatu komoditas tertentu. Integrasi vertical dapat berupa diversifikasi usaha dalam suatu sistem komoditas atau melakukan kerjasama yang kuat dengan pelaku bisnis lainnya dalam sistem komoditas tersebut yang dapat menjamin terselenggaranya integrasi vertical yang kokoh. Integrasi vertical dapat menjamin risiko kekurangan bahan baku bagi industri pengolahan, menjamin pemasaran produk, melindungi diri dari prilaku pesaing yang dapat membahayakan kelanjutan usaha, melindungi diri dari permainan yang tidak adil oleh pelaku bisnis dari level yang lain dalam suatu sistem komoditas.

Pada pembenihan ikan terdapat kegiatan pendederan I, II, III dan IV. Para pengusaha pembenih ikan tersebut membuat kelompok pembenihan ikan yang saling keterkaitan. Misalnya kelompok pembenih ikan tersebut memiliki anggota yang bernama Andri, Badu, Miran dan Aswin. Masing masing anggota kelompok tersebut memproduksi benih ikan dengan berbeda ukuran dan saling berkaitan. Andri memproduksi benih ikan ukuran 1-3 cm (pendederan I), Badu memproduksi benih ikan ukuran 3-5 cm (pendederan II), Miran memproduksi benih ikan ukuran 5-7 cm (pendederan III) dan Aswin memproduksi benih ikan ukuran 7-9 cm (pendederan IV). Dalam integrasi vertikal pada kegiatan pembenihan ikan, Andri menjual produksi benih ikannya (ukuran 1-3 cm) kepada Badu untuk didederkan kembali sampai ukuran 3-5 cm. Selanjutnya Badu menjual produksi benih ikannya kepada Miran (ukuran 3-5 cm) untuk selanjutnya didederkan oleh Miran sampai ukuran 5-7 cm. Demikian juga Miran menjual produksi benih ikannya (ukuran 5-7 cm) kepada Aswin untuk di dederkan sampai ukuran 7-9 cm. Selanjutnya Aswin menjual produksi benih ikannya kepada pengusaha pembesaran ikan. dengan demikian anggota kelompok tersebut akan saling keterkaitan, saling menjamin dan saling melindungi pemasaran produksi benih ikan.

Teknik Panen dan Pasca Panen Ikan-2

3)

Penerapan Teknologi (Implementatiton of Technology) Penerapan teknologi dalam suatu usaha dapat mengurangi risiko tertentu yang mungkin timbul. Misalnya risiko biaya produksi terlalu tinggi dapat ditekan dengan penerapan teknologi produksi yang tepat, karena dengan teknologi produksi yang tepat dapat meningkatkan produktivitas sumberdaya, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan efisiensi usaha, akibatnya produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasaran. Sebagai contoh, mengganti pakan untuk produk perikanan yang selama ini menggunakan pakan buatan yang dibeli dari toko dengan pakan alami hasil dari penggunakan teknologi budidaya pakan alami yang efisien.

4)

Kontrak di Muka (Forward Contracting) Kontrak di muka (forward contracting) adalah suatu proses persetujuan pengiriman produk pada masa mendatang dengan harga yang telah ditetapkan sekarang. Kontrak di muka lebih menjamin kepastian harga yang harus diterima oleh penjualan/ produsen pada masa pengiriman produk nanti. Fluktuasi harga yang akan terjadi tidak akan mempengaruhi tingkat harga yang telah disepakati pada saat persetujuan kontrak dibuat. Dalam mekanisme ini penjual/produsen mempunyai kewajiban untuk mengirimkan produk pada waktu yang tercantum dalam akte kontrak di muka yang telah disepakati dan pembeli harus menerima produk tersebut, kecuali jika terjadi pelanggaran mengenai hal-hal yang telah disepakati pada saat penandatanganan kontrak.

5)

Pasar Masa Depan (Future Market) Pasar masa depan (future market) adalah suatu sistem pasar yang menyediaakan fasilitas untuk menanggapi perdagangan secara cepat dalam unit produk terstandarisasi dalam mutu dan jumlah yang akan dikirim pada masa yang akan datang.

6)

Usaha Perlindungan (Hedging) Usaha perlindungan (hedging) adalah suatu upaya perlindungan risiko transaksi dalam cash market dengan forward contracting yang menggunakan future market dan mengambil posisi yang sama besar,