Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH BETON BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Beton merupakan suatu


material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan membuat suatu campuran yang
mempunyai proporsi tertentu dari semen, pasir dan krikil atau agregat lainnya, dan air untuk
membuat campuran tersebut menjadi keras dalam cetakan sesuai dengan bentuk dan dimensi
yang diinginkan. Semen dan air berinteraksi secara kimiawi untuk mengikat partikel partikel
agregat tersebut menjadi suatu masa yang padat. Beton dalam berbagai variasi sifat kekuatan
dapat diperoleh dengan pengaturan yang sesuai dari perbandingan jumlah material
pembentuknya. 1.2. Perumusan Masalah Masalah yang dihadapi dalam makalah ini adalah
menjelaskan tentang beton. 1.3. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah untuk 1.
Meningkatkan mutu beton. 2. Mengetahui perbedaan beton normal dan beton campuran lain
yang ditinjau dari biaya yang digunakan. 3. Dapat memahami campuran beton yang ada sehingga
mampu membuat desain campuran beton yang diinginkan, sesuai dengan mutu yang
direncanakan. 1.4. Metode Penulisan Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode
penulisan dengan cara mengumpulkan data melalui: Penelitian Kepustakaan (Library Reseach)
adalah teknik mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengadakan penelitian dan pencatatan
dari buku-buku literature dan sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian agar dapat
memperoleh gambaran yang jelas antara yang dibahas dan teori yang diperoleh. 1.5. Sistematika
Penulisan Pada gambaran ini dijelaskan secara singkat,mengenai isi yang ada disetiap bab, yang
bertujuan untuk mempermudah dalam pemahaman. Adapun sistematika penulisan sebagai
berikut: BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan secara umum mengenai latar belakang
masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI Menguraikan secara umum mengenai pengertian beton, bahanbahan pembuatan beton, sifat-sifat beton, klasifikasi beton, serta kerugian dan keuntungan
benton. BAB III : PEMBAHASAN Menguraikan secara umum mengenai membuat beton yang
baik, pelaksanaan pembuatan beton dan pengolahan beton, serta bahan tambahan untuk beton.
BAB IV : PENUTUP Menguraikan secara umum mengenai kesimpulan dan saran-saran. BAB II
LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Beton Beton adalah campuran antara semen portland atau
semen hidraulik lain, agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tanpa bahan campuran
tambahan yang membentuk massa padat. Beton juga dapat didefinisikan sebagai bahan bangunan
dan kontruksi yang sifat-sifatnya dapat ditentukan terlebih dahulu dengan mengadakan
perencanaan dan pengawasan yang teliti terhadap bahan-bahan yang dipilih (Dr. Wuryati
Samekto, M.Pd dan Candra Rahmadiyanto, S.T., 2001). 2.2. Bahan-Bahan Pembuat Beton
Pembuatan beton secara umumnya terdiri dari: 2.2.1. Semen Semen merupakan bahan pengikat
hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker (bahan ini
terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis), dengan batu gips sebagai
bahan tambahan. 2.2.1.1. Bahan Baku Semen dan Senyawa-Senyawa Semen Jika bahan semen
portland itu diuraikan susunan senyawanya secara kimia (dengan analisis kimia), akan terlihat
jumlah oksida yang membentuk bahan semen itu. Semen dibuat dari bahan-bahan atau unsurunsur yang mengandung oksida-oksida. Unsur-unsur itu kurang lebih seperti yang tercantum
pada tabel 1. berikut. Tabel 1. Komponen Bahan Baku Semen Jenis Bahan Persen (%) Batu
kapur (CaO) Pasir silikat (SiO2) Tanah Liat (Al2O3) Bijih Besi (Fe2O3) Magnesia (MgO) Sulfur
(SO3) Soda atau Potash (Na2O + K2O) 60-65 17-25 3-8 0.5-6 0.5-4 0.5-1 Angka-angka tersebut
merupakan batas-batas susunan senyawa kimia pada bahan semen portland. Di dalam semen,
oksida-oksida tersebut tidak terpisah satu dari yang lainnya melainkan merupakan senyawsenyawa yang disebut senyawa semen. Menurut Michaels, untuk mendapatkan ikatan hidraulik
yang baik, perbandingan berat antara CaO dengan jumlah berat (SiO2), (Al2O3), dan (Fe2O3)

memiliki harga antara 1,8 sampai 2,2. demikian juga perbandingan berat antara (SiO2) dengan
berat (Al2O3), dan (Fe2O3) harus memenuhi harga antara 1,5-4. Di dalam semen terdapat empat
macam senyawa semen, di mana jumlah masing-masing senyawa seperti tercantum pada tabel 2
berikut Tabel 2. Kandungan Senyawa-Senyawa Semen dalam Semen Mineral-Mineral Klinker
Rumus Kimia Rumus Singkat Kadar Rata-Rata Trikalium silikat Dikalium silikat Trikalium
aluminat Tetra kalsium Alumina ferit Kapur bebas Batu tahu (Gips) 3 CaO.SiO2 2CaO.SiO2
3CaO.Al2O3 4CaO.Al2O3.Fe2O3 CaO CaCO4 C3S C2S C3A C4AF - - 37-60 15-37 7-15 10-20
1 3 Di samping senyawa-senyawa seperti tersebut di atas, di dalam semen portland juga masih
terdapat beberapa senyawa lain yang dapat mempengaruhi senyawa atau oksida lainnya.
Senyawa-senyawa ini berasal dari hasil bawaan bahan dasarnya atau bahan tambahan dalam
proses pembuatan semen. Senyawa atau oksida uang lain tersebut antara lain: a. MgO Senyawa
ini adalah hasil pembawaan dari bahan dasar kapur yang digunakan. Jumlah MgO dalam semen
portland, dibatasi maksimum 4%. Jika kadarnya melebihi jumlah ini akan mengakibatkan semen
menjadi tidak kekal ( berubah bentuk) setelah pengerasan terjadi. Perubahan bentuk ini terjadi
setelah pengerasan terjadi beberapa lama (setelah sekian bulan atau bahka tahun). Perubahan
bentuk terjadi karena mengembangnya MgO, dari oksida membentuk hidrat MgO(OH)2. b.
Kapur Bebas (CaO) Karena susunan kimia ini yang kurang tepat pada waktu pembuatan, dan
atau karena pembakaran yang kurang sempurna, dapat terjadi CaO (kapur kotor) yang tidak
terikat ke dalam empat senyawa semen. c. Bagian tidak Larut Zat ini merupaka bagian yang
tidak larut dalam HCl. Umumnya zat tersebut adalah senyawa tanah atau silikat yang tidak
berubah menjadi empat senyawa semen. Kadar bagian ini yang terlalu tinggi pada semen
(maksimum 3%) menunjukkan bahwa pembakaran atau penyusutan senyawa semen kurang baik,
atau terdapat kemungkinan bahwa semen tadi telah dengan sengaja dibubuhi benda lain setelah
penggilingan selesai. Meskipun akibat penambahan ini tidak membahayakan sifat semennya,
tetapi semen yang mengandung terlalu banyak bahan ii akan berkurang daya ikatnya karena
tercampur benda yang tidak berguna. d. Kadar alkali Di dalam semen portland, kadar alkali
biasanya rendah (kurang dari 1%). Kadar alkali dalam semen mempengaruhi waktu pengerasan.
Pemakaian kadar alkali yang lebih dari 0,6% dapat mengakibatkan terjadi reaksi pengembangan
bila semen dicampur agregat yang bersifat alkali reaktif yaitu agregat yang megandung silika
amorf (gas alam, batu api, opal, dan lain-lain). e. Kadar Hilang pada Pemijaran C; biasanyaZat
ini adalah dari benda-benda yang terbang pada suhu 88 air atau CO2. semen yang kadar hilang
pijarnya tinggi, adalah semen yang telah mengandung bagian-bagian yang mengeras. Kadar
bagian ini dibatasi maksimum 3-4. f. Kadar Gips Gips dalam semen ditambahkan untuk
memperlambat pengerasan klinker semen. Jika klinker semen digilinga tanpa penambag gips,
bubuk halus klinker akan segara bersenyawa dengan air dan adonan itu akan mengeras dalam
waktu kurang lebih 10 menit. Hal ini akan menyulitkan dalam pemakaian semen. Dengan
demikian untuk memperlambat pengerasan bubuk klinker dicampur gips. Penambahan bahan ini
dalam semen adalah maksimum 4% dari berat klinker. Dalam analisis kimi, gips akan terlihat
sebagai senyawa SO3 da dibatasi jumlahnya sampai kuarang lebih 2,5%-3%. 2.2.1.2. Panas
Hidrasi Persenyawaan semen dengan air akanmengeluarkan panas. Jumlah panas yang
dibebaskan (dikeluarkan) ini tergantung dari kadar susunan senyawa semen dan kehalusan
butirannya. Senyawa semen yang paling besar megeluarkan panas adalah C3A kemudian C4AF
dan yang terendah adalah C2S seperti pada tabel 3. Tabel 3. Besarnya Panas Hidrasi yang Keluar
dari Senyaw-Senyaw Semen Susunan Senyawa Panas Hidrasi (kal/g) C3S C2S C3A C4AF 120
60 207 100 Adanya pembebasan panas ini membantu mempercepat pengerasan (proses hidrasi)
dari senyawa-senyawa itu. Tetapi setelah pengerasan terjadi, bagian yang telah mengeras

mempunyai sifat lambat menyalurkan panas. Jika suatu massa atau benda yang terbuat dari
semen terlalu tebal, panas hidrasi di dalam bendaitu akan tinggi sehingga dapat mengakibatkan
retak, susut, dan sebagaimananya. Bahkan mungkin dapat berakibat fatal. 2.2.1.3. Sifat-Sifat
Semen Portland Semen portland memiliki beberapa sifat-sifat yang di antaranya sebagai berikut:
1. Kehalusan Butir Pada umumnya semen memiliki kehalusan sedemikian rupa sehingga kurang
lebih 80% dari butirannya dapat menembus ayakan 44 mikron. Makin halus butiran semen,
makin cepat pula persenyawaannya. Makin halus butiran semen, maka luas permukaan butir
untuk suatu jumlah berat semen akan menjadi lebih besar. Makin besar luas permukaan butir ini,
makin banyak pula air yang dibutuhkan bagi persenyawaannya. Ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk menentukan kehalusan butir semen. Cara yang paling sederhana dan mudah
dilakukan ialah dengan mengayaknya. 2. Berat Jenis dan Berat Isi Berat jenis dari bubuk semen
pada umumnya berkisar antara 3,10 sampai 3,30. biasanya rata-rata berat jenis ditentukan 3,15.
berat jenis semen penting untuk diketahui, karena semen portland yang tidak sempurna
pembakarannya dan atau dicampur dengan bubuk batuan lainnya, berat jenisnya akan terlihat
lebih rendah daripada angka tersebut. Untuk mengukur baik atau tidaknya atau tercampur atau
tidaknya suatu bubuk semen dengan bahan lain, dipakai angka berat jenis 3,00. dengan demikian
jika kita menguji semen dan hasilnya menunjukkan bahwa berat jenisnya kurang dari 3,00
kemungkinan semen itu tercampur dengan bahan lain (tidak murni) atau sebagian semen itu telah
mengeras. Berat isi (berat satuan) semen sangat tergantung pada cara pengisian semen ke dalam
takaran. Jiak cara mengisinya sembur (los), berat isinya rendah yaitu antara ,1 ka/liter.jika
pengisiannya dipadatkan, berat isinya dapat mencapai 1,5 ka/liter. Dalam praktek biasanya
dipakai berat isi rata-rata yaitu antara 1,25 ka/liter. 3. Waktu Pengerasan Semen Waktu
pengerasan semen dilakukan dengan menentukan waktu pengikatan awal (initial setting) dan
waktu pengikatan akhir (final setting). Sebenarnya yang lebih penting adalah waktu pengikatan
awal, yaitu saat semen mulai terkena ait hingga mulai terjadi pengikatan (pengerasan). Untuk
mengukur waktu pengikatan biasnya digunakan alat vicat.bagi jenis-jenis semen portland waktu
pengikatan awal tidak boleh kurang dari 60 menit sejak semen terkena air. 4. Kekekalan Bentuk
Yang dimaksud dengan kekekalan bentuk adalah sifat dari bubuk semen yang telah mengeras, di
mana bila adukan semen dibuat suatu bentuk tertentu bentuk itu tidak berubah. Buka benda dari
adukan semen yang telah mengeras. Apabila benda menunjukkan danya cacat (retak,
melengkung, membesar, dan menyusut), berarti semen itu tidak baik atau tidak memiliki sifat
tetap bentuk. 5. Kekuatan Semen Kekuatan mekanis dari semen yag mengeras merupakan sifat
yang perlu di ketahui di dalam pemakaian. Kekuatan semen ini merupakan gambaranmengenai
daya rekatnya sebagai bahan perekat (pengikat). Pada umumnya, pengukuran kekuatan daya
rekat ini dilakukan dengan menentukan kuat lentur, kuat tarik, atau kuat tekan (desak) dari
campuran semen dengan pasir. 6. Pengerasan Awal Palsu Adakalanya semen portland
menunjukkan waktu pengikatan awal kurang dari 60 menit, dimana setelah semen dicampur
dengan air segera nampak mulai mengeras (adonan menjadi kaku). Hal ini mungkin terjadi
karena adanya pengikatan awal palsu, yang disebabkan oleh pengaruh gips yang dicampurkan
pada semen bekerja tidak sesuai dengan fungsinya. Seharusbya fungsi gips dalam semen adalah
untuk menghambat pengerasan, tetapi dalam kasus diatas ternyata gips justru mempercepat
pengerasan. Hal ini dapat terjadi karena gips dalam semen telah terurai. Biasanya pengerasan
palsu ini hanya mengacau saja, sedangkan pengaruh terhadap sifat semen yang lain tidak ada.
Jika terjadi pengerasan palsu, adonan dapat diaduk lagi. Setelah pengerasan palsu berakhir, jika
adonan diaduk lagi adonan semen akan mengeras seperti biasa. 7. Pengaruh Suhu Proses
pengerasan semen sangat dipengaruhi oleh suhu udara disekitarnya. C, pengerasan semen akan

berjalan sangatPada suhu kurang dari 15 lambat. Semakin tinggi suhu udara disekitarnya, maka
semakin cepat semen mengeras. 2.2.1.4. Jenis-Jenis Semen Portland Jenis-jenis semen portland
dapat diperoleh dengan mengadakan variasi-variasi dalam proporsi relatif dari komponenkomponen senyawa kimia serta derajat kehalusan penggilingan bahan klinkernya. Sesuai dengan
pemeakaiannya semen portland dibedakan menjadi lima type (jenis), yakni; Jenis I Semen
portland jenenis umum (normal portland cement), yaitu jenis semen portland untuk penggunaan
dalam kontruksi beton secara umum tidak memerlukan sifat-sifat khusus. Misalnya untuk
pembuatan trotoar, urung-urung, pasangan bata, dan sebagainya. Jenis II Semen jenis umum
dengan perubahan-perubahan (modified portland cement). Semen ini memiliki panas hidrasi
lebih rendah dan keluarnya panas lebih lambat daripada semen jenis I. Jenis ini digunakan untuk
bangunan tebal tebal seperti pilar dengan ukuran besar, tumpuan dan dinding tanah tanah tebal,
dan sebagainya retak-retak pengerasan. Jenis ini juga dapat digunakan untuk bangunan-bangunan
drainase di tempat yang memiliki sulfat agak tinggi. Jenis III Semen portland dengan kekuatan
awal tinggi (hogh-early-strength-portland-cement). Jenis ini memperoleh kekuatan besar delam
waktu singkat, sehingga dapat digunakan untuk perbaikan bangunan-bangunan beton yang perlu
segara digunakan atau yang acuannya perlu segera dilepas. Jenis IV Semen portland dengan
panas hidrasi yang rendah (low-heat portland- cement). Jenis ini merupakan jenis khusus untuk
penggunaan yag memerlukan panas hidrasi serendah-rendahnya. Kekuatannya tumbuh lambat.
Jenis ini digunakan untuk bangunan beton massa seperti bendungan-bendungan garavitasi besar.
Jenis V Semen portland tahan sulfat (sulfate-resisting portland cement). Jenis ini merupakan
jenis khusus yag maksudnya hanya untuk penggunaan pada bangunan-bangunan yang kena
sulfat, seperti di tanah atau air tang tinggi kadar alkalinya. Pengerasan berjalan lebih lambat
daripada semen portlan biasa. 2.2.2. Agregat Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi
sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar (aduk) dan beton. Agregat aduk da beton dapat
juga didefinisikan sebagai bahan yang dipakai sebagai pengisi atau pengkurus, dipakai bersama
dengan bahan perekat, dan membentuk suatu massa yang keras, padat bersatu, yang disebu
adukan beton. 2.2.2.1. Klasifikasi Agregat dari Besar Butirannya Pengukuran besar butiran
agregat didasarkan atas suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan alat yang
berupa ayakan dengan besar lubang yang telah ditetapkan. Ukuran butir agregat, tanpa
memperhatikan bentuknya, didefinisikan sebagai butiran yang dapat lolos pada suatu ukuran
ayakan tertentu. Dengan demikian jika misalnya suatu butiran lolos pada ayakan dengan ukuran
3 mm, maka ukuran butiran itu adalah 3 mm. Jika suatu agregat telah lolos pada ayakan 4 mm
dan tertahan (tertinggal) pada ayakan 3 mm, maka agregat tersebut memiliki butiran yang
besarnya antara 3 mm dan 4 mm. Dengan demikian agregat dapat dibedakan menjadi tiga, yakni;
1. Agregat Halus Agregat halus adalah agregat yang semua butirannya menembus ayakan dengan
lubang 4,8 mm. Agregat halus dapat digolongkan menjadi tiga jenis: Pasir Galian Pasir galian
dapat diperoleh langsung dari permukaan anah, atau dengan cara menggali dari dalam tanah.
Pasir ini pada umumnya tajam, bersudut, berpori, dan bebas dari kandungan garam yang
membahayakan. Namun karena pasir ini diperoleh dengan cara menggali maka pasir ini sring
bercampur dengan kotoran atau tanah, sehingga sering harus dicuci terlebiha dulu sebelum
digunakan. Pasir Sungai Pasir sungai diperoleh langsunga dari dasar sungai . pasir sungai pada
umumnya berbutir halus dan berbentuk bulat, karena akibat proses gesekan yang terjadi. Karena
butirannya halus, maka baik untuk plesteran tembok. Namun karena bentuk yang bulat itu, daya
lekat antarbutir menjadi agak kurang baik. Pasir Laut Pasir laut adalah pasir yang diambil dari
pantai. Bentuk butirannya halus dan bulat, karena proses gesekan. Pasir jenis ini banyak
mengandung saram, oleh karena itu kurang baik untuk bahan bangunan. Garam yang ada dalam

pasir ini menyerap kandungan air dari udara, sehingga mengakibatkan pasir selalu agak basah,
dan juga menyebabkan penembangan setelah bangunan selesai dibangun. Oleh karena itu,
sebaiknya pasir jenis ini tidak digunakan untuk bahan bangunan. 2. Agregat Kasar Agregat kasar
adalah agregat dengan butir-butir tertinggal di atas ayakan dengab lubang 4,8 mm, tetapi lolos
ayakan 40 mm. 3. Batu Batu adalah agregat yang besar butirannya lebih besar dari 40 mm. Cara
yang paling banyak dilakukan untuk membedakan jenis agregat, adalah dengan didasarkan atas
besar butiran-butirannya. Jadi yang umum digunakan adalah agregat kasar dan agregat halus.
Adapun istilah batu umumnya digunakan pada batuan yang bukan berbentuk (berfungsi sebagai
agregat). 2.2.2.2. Gradasi Agregat Gradasi Agregat adalah distribusi ukuran butiran agregat.
Dapat juga disebut pengkelompokkan agregat dengan ukuran yang berbeda sebagai persentase
dari total agregat atau persentase kumulatif butiran yang lebih kecil atau lebih besar dari masingmasing seri bukaan saringan. Gradasi agregat juga berguna untuk menentukan proporsi agregat
halus terhadap total agregat. Gradasi agregat akan mempengaruhi luas permukaan agregat yang
sekaligus akan mempengaruhi jumlah pasta/air yang lebih sedikit karena luas permukaan lebih
kecil. Apabila ditinjau dari volume pori (ruang kosong) antara agregat maka butir yang bervariasi
akan mengakibatkan volume pori lebih kecil dengan kata lain kemampatan menjadi tinggi. Hal
ini berbeda dengan ukuran agregat yang seragam yang akan mempunyai volume ruang kosong
yang lebih besar. Gradasi Agregat dapat digolongkan menjdai tiga macam; Gradasi kontinu,
dimana ukuran butirab pada agregat kasar dan agregat halus bervariasi mulai dari ukuran yang
terbesar sampai ukuran yang terkecil. Seperti pada gambar berikut Gradasi seragam, diamana
ukuran butiran hampir sama baik pada agregat halus maupun agregat kasar. Seperti pada gambar
berikut Gradasi celah, merupakan suatu gradasi dimana satu atau lebih agregat dalam ukuran
tertentu tidak ada, sepeti pada gambar berikut 2.2.3. Air Air merupakan bahan yang pentinga
pada beton yang menyebabkan terjadinya reaksi kimia dengan semen. Pada dasarnya air yang
layak diminum, dapat dipakai untuk campuran beton. Akan tetapi dalam pelaksanaan banyak air
tidak layak untuk diminum memuaskan dipakai untuk campuran beton. Apabila terjadi keraguan
akan kualitas air untuk campuran beton sebaiknya dilakukan pengujian kualitas air diadakan trial
mix untuk campuran dengan menggunakan air tersebut. Persyaratan air sebagai bahan bangunan
untuk campuran beton harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Air harus bersih 2. Tidak
mengandung lumpur, minyak, dan benda-benda merusak lainnya yang dapat dilihat secatra
visual. 3. Tidak mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram/liter. 4. Tidak
mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat merusak beton (asam-asam, zat organik,
dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter. Kandungan khlorida (Cl), tidak lebih dari 500 p.p.m dan
senyawa sulfat tidak lebih dari 1000 p.p.m. 5. Bila dibandingkan dengan kuat tekan beton yang
memakai air suling, maka penurunan kekuatan kuat tekan beton yang memakai air yang
diperiksa tidak boleh lebih dari 10% 6. Air yang mutunya diragukan harus dianalisia secara
kimia dan dievaluasi mutunya. 7. Khusus untuk beton prategang, kecuali syart-syarat tersebut
diatas, air tidak boleh mengandunga Clorida lebih dari 50 p.p.m. 2.3. Sifat-Sifat Umum Beton
Untuk keperluan perancangan dan pelaksanaan struktur beton, maka pengetahuan tentang sifatsifat adukan beton maupun sifat-sifat beton setelah mengeras perlu diketahui. Sifat-sifat tersebut
antara lain; 1. Tahan Lama (Durability) Merupakan kemampuan beton bertahan seperti kondisi
yang direncanakan tanpa terjadi korosi dalam jangka waktu yang direncanakan. Dalam hal ini
perlu pembatasan nilai faktor air semen maksimum maupun pembatasan dosisi semen minimum
yang digunakan sesuai dengan kondisi lingkungan.sifat tahan lama pada beton dapat dibedakan
dalam beberapa hal, antara lain sebagai berikut: 1. Tahan Terhadap Pengaruh Cuaca Pengaruh
cuaca yang dimaksud adalah pengaruh yang berupa hujan dan pembekuan pada musim dingin,

serta pengembangan dan penyusutan yang diakibatkan oleh basah dan kering silih berganti. 2.
Tahan Terhadap Pengaruh Zat Kimia Daya perusak kimiawi oleh bahan-bahan seperti air laut,
raw-rawa dan air limbah, zat-zat kimia hasil industri dan air limbahnya, buangan air kotor kota
yang berisi kotoran manusia, gemuk, susu, gula, dan sebagainya perlu diperhatikan terhadap
keawetan beton. 3. Tahan Terhadap Erosi Beton dapat mengalami kikisan yang diakibatkan oleh
adanya orang yang berjalan kaki dan lalu lintas diatasnya, gerakan ombak laut, atau oleh
partikel-partikel yang terbawa oleh angin dan atau air. 2. Kuat Tekan Kuat tekan beton
ditentukan berdasarkan pembebanan uniaksial bend uni silinder beton diameter 150 mm, tinggi
300mm dengan satuan Mpa (N/mm2) untuk SKSNI 91. 3. Kuat Tarik Kuat tarik beton jauh lebih
kecil dari pada kuat tekannya, yaitu sekitar 10%-15% dari kuat tekannya. Kuat tarik beton
merupakan sifat yang penting untuk memprediksi retak dan defleksi balok. 4. Modulus
Elastisitas Modulus elastisitas beton adalah perbandingan antara kuat tekan beton dengan
regangan beton biasanya ditentukan pada 25%-50% dari kuat tekan beton. 5. Rangkak (Creep)
Merupakan salah satu sifat dimana beton mengalami deformasi terus menerus menurut waktu
dibawah beban yang dipikul. 6. Susut (Shrinkage) Merupakan perubahan volume yang tidak
berhubungan dengan pembebanan. 7. Kemampuan Dikerjakan (Workability) Workability adalah
bahwa bahan-bahan beton setelah diaduk bersama, menghasilkan adukan yang bersifat
sedemikian rupa sehingga adukan mudah diangkut, dituang atau dicetak, dan dipadatkan menurut
tujuan pekerjaannya tanpa terjadinya perubahan yang meninbulkan kesukaran atau penurunan
mutu. Sifat mampu dikerjakan (workability) dati beton sangat terganggu pada sifat bahan,
perbandinagn campuran, dan cara pengadukan serta jumlah seluruh air bebas. Dengan kata lain,
sifat dapat mudah dikerjakan suatu adukan beton dipengaruhi oleh: 1. Konsistensi normal PC 2.
Mobalitas, setelah aliran dimulai (sebaliknya adalah sifat kekasaran atau perlawanan terhadap
gerak) 3. Kohesi atau perlawanan terhadap pemisahan bahan-bahan 4. Sifat saling lekat (ada
hubungannya dengan kohesi), berarti bahan penyusunanya tidak akan terpisah-pisah sehingga
memudahkan pengerjaan-pengerjaan yang perlu dilakukan. Jadi sifat dapat dikerjakan pada
beton ini merupakan ukuran dari tingkat pemudahan adukan untuk diaduk, diangkut, dituang
(dicetak), dan dipadatkan. Perbandingan bahan-bahan ataupun sifat bahan-bahan itu secara
bersama-sama mempengaruhi sifat dapat dikerjakan beton segar.unsur-unsur yang
mempengaruhi sifat mudah dikerjakan antara lain sebagai berikut: Banyaknya air yang dipakai
dalam campuran aduk beton Makin banyak air yang digunakan, makin mudah beton itu
dikerjakan. Penambahan semen ke dalam adukan beton Hal ini juga menambah kemudahan
dikerjakan pada beton, karena biasanya penambahan semen diikuti dengan penambahan air untuk
memperoleh harga faktor air semen tetap. Gradasi campuran amgregat kasar dan agregat halus
Jika campuran pasir dan krikil mengikuti gradasi yang telah disarankan oleh peraturan yang
dipakai, adukan beton akan mudah dikerjakan. Pemakaian butir-butir agregat yang bulat akan
mempermudah cara pengerjaan beton Pemakaian butir maksimum agregat kasar, akan
berpengaruh terhadap kemudahan dikerjakan pada aduk beton. Cara pemadatan beton dan atau
jenis alat yang digunakan Jika pemadatan beton dilakukan dengan menggunakan alat getar
misalnya, diperlukan tingkat kelecekan yang berbeda dibandingkan menggunakan alat yang lain.
2.4. Klasifikasi Beton Menurut PBI tahun 1971, beton dapat diklasifikasi menjadi tiga, antara
lain: Beton Kelas I Merupakan beton untuk pekerjaan-pekerjaan non struktural. Untuk
pelaksanaannya tidak diperlukan keahlian khusus. Pengawasan mutu hanya dibatasi pada
pengawasan ringan terhadap mutu bahan-bahan, sedangkan terhadap kekuatan bahan tidak
disyaratkan pemeriksaan. Mutu beton kelas I dinyatakan denga beton mutu B0. Beton Kelas II
Merupakan beton untuk perkerjaan-perkerjaan struktural secara umum. Pelaksanaannya

memerlukan keahlian yang cukup dan harus dilakukan di bawah pimpinan tenaga-tenaga ahli.
Beton kelas II dibagi dalam mutu-mutu standar B1, K125, K175, dan K225. pada mutu B1,
pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan sedang terhadap kuat desak tidak disyaratkan
pemeriksaan. Pada mutu K125, K175, dan K225 pengawasan mutu terdiri dari pengawasan ketat
terhadap mutu bahan, dengan keharusan untuk memeriksa kekuatan beton secara kontinu
menurut pasal 4.7 PBI 1971. Beton Kelas III Merupakan beton untuk pekerjaan struktural
dimana dipakai mutu beton dengan kuat desak karateristik yang lebih tinggi dari 225 ka/cm2.
pada pelaksanaannya memerlukan keahlian khusus dan harus dilakukan dibawah pimpinan
tenaga-tenaga ahli. Disyaratkan adanya laboratorium beton dengan peralatan yang lengkap, dan
dilayani tenaga-tenaga ahli yang dapat melakukan pengawasan mutu beton secara kontinu. 2.5.
Keuntungan dan Kerugian Beton Keuntungan dari beton antara lain: 1. Bahan-bahan mudah
diperoleh. 2. Tahan terhadap temperatur yang tinggi 3. Harga relatif murah karena menggunakan
bahan lokal. 4. Mempunyai kekuatan tekan yang tinggi 5. Adukan beton mudah diangkut dan
mudah dicetak dalam bentuk yang diinginkan. 6. Kuat tekan beton jika dikombinasikan dengan
baja akan mampu untuk memikul beban yang berat. 7. Dalam pelaksanaannya adukan beton
dapat disemprotkan dan dipompakan ke tempat tertentu yang cukup sulit. 8. Biaya perawatan
yang cukup rendah Kerugian dari beton antara lain: 1. Kuat tarik yang rendah sehingga mudah
retak, dengan demikian perlu diberi baja tulangan. 2. Adukan beton menyusut saat pengeringan
sehingga perlu dibuat expansion joint untuk struktur yag panjang. 3. Beton sulit untuk kedap air
secara sempurna. 4. Beton bersifat getas (tidak daktail). 5. Bentuk yang telah dibuat sulit diubah
kembali. BAB III PEMBAHASAN Membuat Beton yang Baik Di lapangan masih banyak
dijumpai cara-cara membuat beton yang belum benar, sehingga menghasilkan beton yang tidak
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab dari
petugas-petugas yang ada di lapangan pekerjaan, baik mereka berfungsi sebagai pengawas
maupun pelaksana. Untuk membuat beton yag baik sebenarnya menuntut banyak hal, jika
mereka yang bertugas itu betul-betul tahu apa beton itu. Jika para petugas di lapangan atau para
pelaksana mau mematuhi cara permainan dalam pembuatan beton, maka tentu akan dihasilkan
beton yang baik, dan sebaliknya. Kecuali itu, bahan-bahan dasar yang digunakan untuk beton
juga sangat menentukan dalam pembuatan beton yang baik. Semua bahan dasar yang digunakan
harus memenuhi syarat sebagai bahan beton. Untuk menjamin agar beton yang dihasilkan
memenuhi persyaratan yang di minta, dianjurkan agar pertama-tama menguji terlebih dahulu
agregat yang akan digunakan, kemudian membuat uji coba beton atau campuran uji beton setelah
rancangan campuran (mix design) dilakukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu beton
adalah 1. Mutu bahan batuan. 2. Jenis atau mutu semen. 3. Faktor air semen. 4. Gradasi atau
susunan butir bahan batuan. 5. Pelaksanaan pembuatan beton. 6. Curing (pematangan) beton,
yaitu perawatan beton untuk dapat mencapai kekuatan yang diinginkan. Pelaksanaan Pembuatan
Beton dan Pengolahan Beton Suatu hal yang sangat penting dalam beton, adalah pelaksanaan
pembuatan beton atau pengolahan beton. Pengolahan beton terdiri dari: 1. Penangkaran
(Penimbangan) Bahan-Bahan Penangkaran (penimbangan) bahan-bahan adalah pengambilan
bahan-bahan untuk beton menurut takaran yang ditentukan. Takaran bahan dapat ditentukan
menurut perbandingan berat atau perbandingan volume. Baik penangkaran dengan ukuran berat
maupun dengan volume, penangkaran harus dilakukan dengan cermat. Takaran yang tidak tepat
dapat mengakibatkan kualitas beton yang dihasilkan mungkin kurang memenuhi syarat mutu.
Terutama takaran yang berkaitan dengan banyaknya air pengadukan atau banyaknya semen,
sebab jika faktor air semen tidak tepat maka akan sangat mempengaruhi kualitas betonnya.
Makin besar harga faktor air semen pada komposisi bahan yang sama, akan makin kecil kekuatan

beton yang dihasilkan. 2. Pengadukan Beton Pengadukan beton adalah proses pencampuran
antara bahan-bahan dasar beton, yaitu semen, pasir, krikil, dan air dalam perbandingan yang
telah ditentukan. Pengadukan dilakukan sedemikian rupa sampai adukan beton benar-benar
homogen, warnanya tampak rata, kelecekan cukup (tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental),
tidak tampak adanya pemisahan butir (segregasi). Aduk beton yang kurang homogen akan dapat
menghasilkan beton yang kurang baik kualitasnya. Pengadukan dapat dilakukan dengan tangan
atau dengan mesin (molen). a. Pengadukan dengan Tangan Pengadukan dengan menggunakan
tangan biasanya dilakukan apabila jumlah beton yang dibuat tidak banyak. Cara ini juga
dilakukan jika di tempat pekerjaan tidak ada mesin pengaduk atau tidak diinginkan adanya suara
mesin yang dirasa mengganggu. b. Pengadukan dengan Mesin Untuk pekerjaan-pekerjaan besar
yang menggunakan beton dalam jumlah banyak, pengadukan dengan menggunakan tanmgan
akan dapat menghasilkan kualitas beton kurang baik, karena tangan manusia jika sudah capai
akan dapat menghasilkan aduk yang kurang homogen. Dalam hal ini pengadukan dengan mesin
akan lebih memuaskan, karena dapat menghasilkan aduk beton yang lebih baik (homogen), dan
dapat dilakukan dengan ukuran yang lebih tepat serta dengan faktor air semen sedikit lebih kecil
daripada diaduk dengan tangan. Kecuali itu, pengadukan dengan mesin akan menghasilkan beton
yang hampir seragam. Mesin pengaduk atau pencampur beton ada beberapa jenis. Secara umm
dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu mesin pengaduk yang memiliki tempat pencampuran
yang berputar, dan mesin pengaduk yang memiliki tempat pencampuran tetap yang dilengkapi
dengan pengaduk untuk mencampur bahan. Mesin pengaduk ada yang memiliki sejenis silinder
putar yang dapat dimiringkan atau tidak dapat. Pencampur yang menerus ada dua jenis, yaitu
pencampur yang prosesnya dikerjakan oleh sejenis silinder putar, dan pencampur yang prosesnya
dilakukan oleh semacam garpu yang berputar pada suatu tempat yang tepat. 3. Pengankutan
Beton Pengangkutan aduk beton dari tempat mencampur ke tempat pencetakan dapat dilakukan
dengan berbagai cara dan alat. Beberapa jenis alat yang biasa dipakai untuk pengangkutan beton
antara lain: 1. Gerobak beroda satu. 2. Kereta dorong. 3. Truk ringan. 4. Kotak pembawa
(tempat) beton dengan bukaan dibawah. 5. Gerobak (lorries). 6. Chutes (saluran curam untuk
mencurahkan adukan beton). 7. Ban berjalan. 8. Pompa adukan beton, dan sebagainya. Dengan
cara apa pun dan dengan menggunakan alat pengangkut apa pun, pengangkuatan harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Pengangkutan harus sedemikian cepat, sehingga
sampai di tempat pengecoran beton tidak kering atau kehilangan sifat workability dan
plastisitasnya. b. Adanya segregasi harus dikurangi seminimal mungkin, agar terhindar dari
terjadinya beton tak seragam. Demikian juga kehilangan pasta semen akibat adanya kebocoran
(adukan tumpah) harus dihindarkan. c. Pengangkuatan aduk harus diorganisir sedemikian, hingga
selama pencetakan pada bagian tertentu, tidak terjadi keterlambatan pada bidang cor, sambungan
dingin, atau sambungan konstruksi. Pada PBI 1971 dicantumkan syarat-syarat yang harus
dipenuhi sehubungan dengan pelaksanaan pengangkutan aduk beton. a. Pengangkutan adukan
beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran harus dilakukan dengan cara-cara
sedemikian sehingga dapat dicegah terjadinya pemisah butir dan kehilangan bahan-bahan. b.
Cara pengangkutan aduk beton harus lancar, sehingga tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan
yang mencolok antara beton yang sudah dicor dan beton yang akan dicor. Pemindahan adukan
beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran dengan menggunakan talang-talang miring,
hanya dapat dilakukan setelah disetujui oleh pengawas ahli. Dalam hal ini pengawas ahli
mempertimbangkan persetujuan penggunaan talang miring ini, setelah mempelajari usul dari
pelaksanamengenai konstruksi, kemiringan, dan panjang talang itu. c. Adukan beton pada
umumnya harus sudah dicor dalam waktu satu jam setelah pengadukan dengan air dimulai.

Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang sampai dua jam, tetapi adukan beton harus digerakkan
kontinu secara mekanis. Jika diperlukan jangka waktu yang lebih lama lagi, harus dipakai bhanbahan penghambat pengikatan. 4. Pengecoran atau Penuangan Aduk Beton Agar mendapatkan
beton yang baik, usahakan selama pengecoran tidak terjadi segregasi pada betonnya, sebab
pengecoran yang baik akan menghasilkan beton yang berkualitas baik. Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada pengecoran beton agar mendapatkan beton yang berkualitas baik adalah
sebagai berikut: a. Adukan beton harus dituang secara terus-menerus (tidak terputus), supaya
diperoleh kualitas beton yang seragam dan tidak terjadi garis batas. b. Permukaan cetakan yang
berhadapan dengan adukan beton harus dioles minyak atau oli agar beton setelah kering tidak
melekat pada cetakannya. c. Selama penuangan dan pemadatan harus dijaga agar posisi cetakan
maupun tulang tidak berubah. d. Adukan beton jangan dijatuhkan dari ketinggian lebih dari satu
meter, agar tidak terjadi adanya pemisahan bahan-bahan atau butir. e. Untuk dinding atau kolomkolom yang tinggi, buatlah lubang-lubang samping untuk pengisian beton tiap 11/2 m tingginya.
f. Kelecekan beton harus makin keatas makin kental. Misalnya pada 11/2 m pertama (paling
bawah), slump 120 mm, maka 11/1 m kedua kurangi tinggi slum misalnya menjadi 100 mm, dan
seterusnya setiap 11/2 m slump dikurangi 20 atau 25 mm. g. Pengecoran pada tempat yang
miring, sebaiknya dilakukan dari bagian yang rendah, sebab jika dilakukan dari tempat yang
tinggi akan menyebabkan terjadinya segregasi. h. Pengecoran dengan menggunakan corong,
dilakukan dengan mendekatkan corong tersebut ke permukaan yang dicor sedekat mungkin. i.
Pada pengecoran dinding atau kolom, usahakan agar jatuhnya adukan beton selalu di tengah,
jangan sampai menyentuh cetakan atau terkena tulangan. j. Pengecoran tidak boleh dilakuakn
pada waktu turun hujan. k. Pada beton massa, sebaikanya tebal lapisan beton untuk setiap kali
penuangan tidak lebih dari 45 cm, dan pad beton tertulang 30 cm. l. Harus dijaga agar beton yag
masih segar jangan diinjak. m. Untuk menjegah timbulnya rongga-rongga kosong dan sarangsarang krikil, adukan beton harus dipadatkan selama pengecoran. 5. Pemadatan Beton Pada
pemadatan beton, kita berusaha untuk mendapatkan beton yang betul-betul padat, tanpa sarang
krikil, tetap homogen dan semua ruangan terisi. Dengan kata lain hubungan antara beton dengan
tulangan atau benda dapat dilakuakn dengan tangan atau dengan penggetar. Jika dipakai beton
tumbuk, alat penumbuknya harus dibuat sedemikian beratnya sehingga dapat menghasilkan
pemadatan yang baik. Pemadatan beton biasa dapat dilakukan dengan tangan asal dapat
mencapai kepadatan yang baik. Pemadatan secara manual dilakukan dengan alat berupa tongkat
baja atau tongkat kayu. Adukan beton yang baru saja dituang ke dalam cetakan harus segera
dipadatkan dengan cara ditusuk-tusuk dengan tongkat baja atau kayu. Sebaiknya tebal beton
yang ditusuk tidak lebih dari 15 cm. Penusukan dengan tongkat itu dilakukan beberapa waktu
sampai tampak suatu lapisan mortar diatas permukaan beton yang dipadtkan itu. Pemadatan yang
kurang mengakibatkan kurang baiknya mutu beton karena berongga (keropos). Jangan
menambahkan air pada adukan beton untuk memudahkan pemadatan. Pemadatan dengan
bantuan mesin dilakukan dengan menggunakan alat getar (vibrator). Alat getar itu
mengakibatkan getaran pada beton segar yang baru saja dituang, sehingga aduk beton mengalir
dan menjadi padat. Penggetaran yang terlalu lama harus dicegah untuk menghindari
mengumpulnya krikil di bagian bawah dan hanya mortar di bagian atas beton. 1. Alat getar yang
biasa dipakai ada dua macam. 2. Alat getar intern (internal vibrator) ialah alat getar yang berupa
"seperti tongkat". Alat ini digetarkan dengan mesin dan dimasukkan kedalam beton segar yang
baru saja dituang. Alat getar cetakan (form vibratir; external vibrator), ialah alat getar yang
ditempelkan di bagian luar cetakan sehingga cetakan bergetar, sehingga membuat beton segar
ikut bergetar pula hingga menjadi padat. 6. Perawatan Beton (Curing) Perawatan beton adalah

suatu langkah atau tindakan untuk memberikan kesempatan pada semen atau beton
mengembangkan kekuatannya secara wajar dan sempurna mungkin. Untuk tujuan tersebut maka
suatu perkerjaan beton perlu dijaga agar permukaan beton segar selalu lembap, sejak adukan
beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Kelembapan beton itu harus dijaga agar
proses hidrasi semen dapat terjadi dengan wajar dan berlangsung dengan sempurna. Bila hal ini
tidak dilakuakan, akan terjadi beton yang kurang kuat, danjuga timbul retak-retak. Selain itu,
kelembapan permukaan beton tadi juga dapat menambah beton menjadi lebih tahan terhadap
pengaruh cuaca dan lebih kedap air. Perancangan Campuran Beton Pada konstruksi beton mutu
tinggi, dituntut untuk dapat merancangkan komposisi campuran beton yang tepat. Pembuatan
beton dengan menggunakan perbandingan volume yang biasa dipakai 1 semen : 2 pasir : 3 krikil
untuk beton biasa, dan campuran 1 semen : 11/2 pasir : 21/2 krikil untuk beton kedap air rupanya
sudah kurang memuaskan lagi, karena dapat meghasilkan kuat desak beton yang sangat beragam
(bervariasi). Dalam konsep Pedoman Beton tahun 1989, perbandingan campuran seperti itu
hanya boleh dilakukan untuk beton dengan mutu kurang dari 10 Mpa, da dengan slump yang
tidak lebih dari 100 mm. Perencanaan adukan beton (cincrete mix design) dimaksudkan untuk
mendapatkan beton yag sebaik-baiknya, yang tinggi sesuai perncanaan; 1. Kuat desak yang
tinggi sesuai perencanaan; 2. Mudah dikerjakan; 3. Tahan lama (Durability); 4. Murah, dan 5.
Tahan aus. Ada beberapa cara dalam mengerjakan rancangan campuran beton, antara lain
rancangan menurut cara Inggris (British Standard) dan rancangan menurut cara Amerika
(American Concrete Institute/ACI). Bahan Tambahan Untuk Beton Bahan tambah untuk beton
(concrete edmixture) adalah bahan atau zat kimia yang ditambahkan di dalam adukan beton pada
tahap mula-mula sewaktu beton masih segar. Tujuan penggunaan bahan tambah untuk beton
(admixture) secara umum adalah untuk memperoleh sifat-sifat beton yang diinginkan, sesuai
dengan tujuan atau keperluannya. Sifat-sifat beton yang dapat diperbaiki antara lain: 1.
Memperbaiki klecekan beton segar. 2. Mengatur faktor air semen pada beton segar. 3.
Mengurangi penggunaan semen. 4. Mencegah terjadinya segregasi dan bleending. 5. Mengatur
waktu pengikatan aduk beton. 6. Meningkatkan kuat desak beton keras. 7. Meningkatkan sifat
kedap air pada beton keras. 8. Meningkatkan sifat tahan lama pada beton keras (lebih tahan
lama); sifat tahan lama ini dapat berhubungan dengan tahan terhadap pengaruh zat kimia, tahan
terhadap gesekan, dan sebagainya. 3.4.1. Penggolongan Jika ditinjau dari fungsinya ASTM
membagi bahan tambahan untuk beton menjadi 7 jenis. 1. Tipe A : Water Reducing Admixture
Bahan tambahan yang berfungsi untuk mengurangi penggunaan air pengadukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Dengan pemakaian bahan tambahan ini faktor
air semen menjadi rendah pada tingkat kelecekan (Workability) yang sama. Dengan demikian
kekuatan beton dapat meningkat 2. Tipe B : Retarding Admixture Bahan tambahan yang dapat
memperlambat proses pengerasan aduk beton. 3. Tipe C : Accelerating Admixture Jenis bahan
tambah yang dapat mempercepat proses pengikatan dan pengerasan adukan beton. 4. Tipe D :
Water Reducing and Retarding Admixture Jenis bahan tambahan yang berfungsi ganda, yaitu
untuk mengurangi penggunaan air tetapi tetap memperoleh adukan beton dengan konsistensi
tertentu, dan memperlambat proses pengikatan dan pengerasan adukan beton. 5. Tipe E : Water
Reducing an Accelerating Admixture Jenis bahan tambahan yang berfungsi ganda, yaitu untuk
mengurangi pengguaan air dalam adukan dan mempercepat proses pengikatan dan pengerasaan
adukan beton. 6. Tipe F : Water Reducing, High Range Admixture Bahan tambah jenis ini yaitu
bahan tambah yang dipergunakan untuk menghasilkan adukan beton dengan konsistensi tertentu
sebanyak 12% atau lebih. 7. Tipe G : Water Reducing Bahan tambah yang berfungsi untuk
mengurangi penggunaan air pencampuran adukan beton yag diperlukan, untuk menghasilkan

adukan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12% atau lebih, dan juga untuk menghambat
pengikatan beton. Jika ditinjau dari kondisi bahan tambah setelah dicampur dengan air, dapat
dibedakan menjadi dua. 1. Bahan Tambah yang Tidak Larut Jenis admixture ini dapat berupa
tepung atau suspensi dalam cairan. Umumnya ada dua jenis. Untuk memperbaiki kelecekan
adukan beton Beton yang kurang bagian butir halus dalam agregat, menjadi tidak kohesif, dan
sudah bleeding. Untuk memperbaiki keadaan ini dapat ditambahkan tepung benda padat yang
halus sekali, misalnya tepung tras, kapur atau gilingan batu kapur. Pada penambahan ini sering
kali dibutuhkan air lebih banyak dari yang seharusnya. Penambahan tersebut biasanya dilakukan
pada: a. Beton kurus dimana semennya kasae. b. Beton dengan kadar semen yang biasa, tetapi
perlu dipompa dengan jarak yang cukup jauh. Pigmen (bahan pewarna semen) Yang penting
diperhatikan pada pemakaian pigmen, adalah harus dipilih zat yang tidak akan memperngaruhi
pengerasan semen. Zat pigmen harus lebih halus dari semennya, dan penambahannya hanya
dalam persentase yang kecil sekali. Pigmen untuk semen, yang baik adalah senyawa anorganik.
Senyawa anorganik tidak tahan terhadap kapur dan sinar ultra violet, dan akanmerubah
warnanya. Beberapa contoh pigmen, antara lain: a. Oksida besi (kuning, merah, cokelat, hitam)
b. Oksida mangan (cokelat, violet, hitam) c. Oksida chrom (hijau) d. Oksida cobalt (biru) e.
Oksida titan (putih) 2. Bahan Tambah yang Larut Bahan ini memiliki fungsi yang beragam
Pembentukan gelembung udara (Air Entraining Agent/AEA) Terdapat jenis detergen dan bukan
detergen seperti yang dijelaskan berikut. Jenis detergen Pembentukan gelembung udara sering
disebut AEA, umumnya adalah jenis detergen, yaitu zat aktif terhadap permukaan. Zat itu
umumnya adalah zak organik yang dibuat sabun, sehingga jika diaduk dengan air akan menjadi
busa, dan busa ini akan tersebar didalam aduk dan aduk beton. Besarnya butir gelembung dari
diameter beberapa mikron hingga 1 mm - 2 mm. Adanya gelembung-gelembung ini, yang berada
di antara butir semen dan atau agregat, akan berfungsi sebagai bola pelincir, sehingga adukan
mudah sekali diaduk. Setelah beton mengeras, gelembung-gelembung yang tersebar itu akan
membuat beton menjadi lebih kecil sifat susutnya, serta dapat memperbaiki kerapatan air, sebab
gelembung-gelembung atu dengan yang lainnya saling tersekat dan memutuskan kapiler pada
betonnya. Bahan untuk membuat AEA jenis ini pada umumnya dari senyawa organik. AEA yang
terbuat dari damar vinsol (yang berasal dari kayu pinus), juga sangat efektif. Dia adalah senyawa
aromatis asam abiet (abietic acid), yang biasanya juga disebut soda api. Jenis bukan detergen
Jenis ini misalnya bubuk almunium yang halus (100 mikron) dengan air, di dalam beton akan
bereaksi membuat gelembung udara gas hidrogen. Untuk mendapatkan gelembung yang terbagi
rata, bubuk almunium harus terdispersi rata, dan gelembungnya stabil, perlu dicampur dengan
stabilisator, misalnya natrium stearat atau Na-bensoat. Pempercepat Pengerasan Bahan jenis ini
yang banyak dipakai adalah garam CCl2; bahan yang tidak mengandung Cklorida misalnya
kalsium format, natrium nitrit, dan aluminat, juga triethnol amine. Zat tanpa klorida lebih sedikit
dipakai daripada CaCl2. 1. Jenis akselerator biasanya ada dua kelompok. 2. Yang dihasilkan
"pengikatan cepat" 3. Kelompok ini biasanya berupa benda-benda yang mempengaruhi reaksi
antara C3A dan gips. Bahan Untuk Pengurangan Air dan Membuat aduk lebih cair (Water
Reducing and Fludifying agent):WRA Bahan ini adalah jenis plastimen (pembuat kelecekan)
yang juga mampu mengurangi penggunaan air. Dalam beberapa hal, bahan ini memiliki
kesamaan dengan AEA, yang aktif terhadap permukaan (surface active). Zat WRA ini
mengakibatkan butir-butir semen (yang sementara belum mengeras) dan butir-butir agregat
terdispersi merata sehingga zat ini juga berfungsi sebagai pelumas atau pelicin antara butir-butir
sehingga aduk beton mudah diaduk. Zat-Zat Penghambat Pengerasan Zat jenis ini pada
umumnya terbuat dari campuran-campuran zat admixture padat dan admixture cair, atau

admixture padat saja. Penambahan zat tepung mineral halus kadang-kadang membuat beton lenih
rapat air, asal zat tadi tidak mengganggunya. Misalnya penambahan pusolan halus pada aduk
beton akan membuat beton rapat air, karena pusolan mengikat kapur dan dapat menutup poriporiyang ada. Pengaruh Admixture Padat pada Kejuatan Semen Butiran admixture yang halus
akan lebih dapat menambah air, sehingga beton tidak bleeding, dan kelecekannya lebih baik.
Tetapi karena butiran halus tadi memiliki permukaan yang luas, maka akan membutuhkan air
lebih banyak untuk melumaskannya, sehingga keperluaan air dalam beton lebih banyak,
sehingga kekuatan beton turun. Butiran ini juga dapat mengganggu pengerasan semen, karena
mereka menyekat butiran-butiran semen yang akn mengeras bersatu, akibatnya ikatannya
berkurang kuat, rapuh, banyak pori, tidak rapat air, serta mudah susut. Oleh karena itu, sebelum
menggunakan admixture jenis tersebut, perlu pembuktian terlebih dahulu, bahwa zat itu tidak
merugikan beton. Pedoman Memilih Admixture Admixture untuk beton adalah sekedar zat
penolong untuk menambah supaya sifat beton itu lebih baik. Tetapi admixture sendiri bukan zat
yang membuat beton buruk menjadi baik. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka jika kita
akan memakai admixture, bahan tersebut harus betul-betul memberikan keuntungan pada kita
atau adukan betonnya, bukan sebaliknya. Pertimbangan-pertimbangan dalam pemakaian
admixture adalah sebagai berikut: 1. Jangan memakai admixture jika tidak tahu tujuannya yang
pasti. 2. Admixture tidak akan membuat beton buruk menjadi beton baik. 3. Suatu admixture
dapat merubah lebih dari satu sifat adukan beton. 4. Pengawasan terhadap bahan ini amat
penting, juga pengawasan atas pengaruhnya pada adukan beton.
Today Deal $50 Off : https://goo.gl/efW8Ef

Anda mungkin juga menyukai