Anda di halaman 1dari 67

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

At Thowasin Al Azal

Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

DAFTAR ISI
At Thowasin Al Azal

Thosin Al Siraj

Thosin Al Fahm

Thosin Al Shafa

10

Thosin Al Dairoh

13

Thosin Al Nuqtah

15

Thosin Al Azal wa al Iltibas

23

Thosin Al Masyi-ah

32

Thosin Al Tauhid

34

Thosin Al Asrar fi al Tauhid

36

Thosin Al Tanzih

39

Thosin: Pencapaian Sang Laron

43

Thosin Titik Azali

44

Tasauf Falsafi Al-Hallaj

47

AL HALLAJ | At Thowasin Al Azal

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 1

Thosin Al Siraj

(Pelita Nubuwah Nabi Muhammad SAW)

1. Sang Pelita (As-Siroj) tampak dan tercerah dari Cahaya


Keghaiban, ia terpancar dan (tampak) kembali, dan
melampaui pelita-pelita lain.Ia rembulan yang cerlang, yang
menampakkan kecemerlangannya lebih dari bulan-bulan lain.
Ia bintang yang graha perbintangannya di Langit Azaly.
Allah menyebutnya ummi (awam) atas dasar keterpusatan
aspirasinya,juga harami (suci) disebabkan kelimpahan
syafaatnya, dan makki (pusat) karena kedekatannya di
Hadirat-Nya.
2. Dia (Allah) lapangkan dadanya, Dia tingkatkan kekuatannya,
dan
mengangkatnya
dari
bebanyang
memberati
punggungnya (Q. 94: 2-3) serta Dia tetapkan
kewenangannya. Sebagaimana Allah membuat Badr-nya
terpancar, demikianlah purnamanya muncul dari awan
Yamamah, mentarinya terbit di bukit Tihamah [Makkah],dan
pelitanya bersinar gemerlap dari sumur Karomah (Zamzam).
3. Ia tidak menyampaikan sesuatu kecuali yang menyangkut
pandangan (bashiroh) batinnya, dan tidak mewajibkan diikuti
keteladanannya kecuali yang menyangkut kebenaran Sunnahnya. Ia berada di Hadirat Allah, dan ia mengajukan yang lain
ke Hadirat-Nya.Ia telah melihat (Kebenaran), lalu ia
sampaikan apa yang dilihatnya. Ia telah diutus sebagai sang

AL HALLAJ | Thosin Al Siraj

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Pemberi Tunjuk, maka ia menggariskan batas (halal-haram)


perilaku.
4. Tidak seorang pun mampu mengungkapkan kebenaran
maknanya kecuali sang Tulus Hati (Al-Amin) ini. Karena ia
menegaskan ke-syahid-annya, serta mengiringkannya, maka
tiada lagi tersisa perbedaan di antara kaumnya.
5. Tiada seorang arif (irfan) pun yang merasa kenal padanya,
yang tidak keliru mengenali kebenaran kualitasnya.
Kualitasnya hanya jelas kepada seseorang yang Allah
bimbing untuk menyingkap (kasyf) tabirnya, Yaitu yang
telah Kami berikan kepadanya Kitab, mereka mengenalinya
seperti mengenali anak-anaknya. Namun, sebagian mereka
menyembunyikan
kebenarannya,
padahal
mereka
mengetahui. [Q. 2: 146]
6. Segenap cahaya nubuwah berasal dari cahayanya, dan
cahayanya tercerahkan dari Cahaya yang Gaib. Di antara
cahaya-cahaya itu tidak ada yang lebih gemerlap, lebih nyata
atau lebih mutlak dari cahayanya sang Junjungan Semesta
Rahmat ini.
7. Aspirasi (himmah)-nya mendahului segenap aspirasi lain,
adanya mendahului Tiada (Adam), namanya mendahului
Pena (Qolam), sebab keberadaannya terdahulu ada sebelum
apa pun.
8. Tidak pernah ada di atas semesta atau di luar semesta, tidak
juga di balik semesta, sesuatu yang lebih indah, lebih agung,
lebih bijak, lebih adil, lebih kasih, lebih taat atau lebih takwa,
yang lebih dari sang Tokoh Utama ini.Gelarnya adalah sang
Junjungan Makhluk, namanya adalah Ahmad, dan harkatnya
adalah Muhammad. Perintahnya penuh kepastian, hikmahnya
2

Thosin Al Siraj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

penuh kebaikan, sifatnya penuh kemuliaan, dan aspirasinya


penuh keunikan.
9. Maha Suci Allah! Adakah yang lebih nyata, lebih tampak,
lebih agung, lebih masyhur, lebih kemilau, lebih perkasa
ataupun cendekia, yang lebih darinya? Ia sungguh telah
dikenal sebelum penciptaan sesuatu, yang ada, juga semesta.
Ia senantiasa diingat sebelum adanya sebelum dan setelah
adanya setelah, juga sebelum ada substansi dan kualitas.
Substansinya adalah cahaya semata, ucapannya adalah
nubuwah, hikmahnya adalah wahyu, gaya bahasanya adalah
Arab, kesukuannya adalah tiada Timur dan tiada Barat [Q.
24: 35], silsilahnya adalah garis kebapakan, misinya adalah
damai, dan sebutannya adalah ummi (awam).
10.Segenap mata terbuka dengan isyaratnya, segenap rahasia
dan segenap jiwa terasa dengan kehadirannya yang ada.
11.Adalah Allah, yang membuatnya fasih menghafalkan
rangkaian Firman-Nya, dan menjadi Bukti (Al-Hujjah) yang
meneguhkannya. Juga Allah yang mengutusnya, dan ia
adalah Bukti senyatanya Bukti. Adalah ia yang memuaskan
dahaga hati pedamba yang kehausan, yang tidak tersentuh
apa pun, tidak terkatakan lidah, tidak juga terekayasa, yang
menyatu dengan Allah tanpa terpisahkan, bahkan jauh di
luar jangkauan pikiran. Pokoknya ia yang mengabarkan
adanya akhir, dan akhirnya akhir, serta akhir-akhirnya akhir.
12.Ia singkapkan awan, dan menunjuk ke Rumah Suci (Bayt alHaram). Ia adalah pembeda, bahkan ia adalah panglima
perang. Adalah ia yang diperintah untuk meluluhlantakkan
berhala-berhala, juga ia yang diutus kepada ummat manusia
untuk membasmi pemujaan.

AL HALLAJ | Thosin Al Siraj

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

13.Di atasnya awan bergemuruh menyambarkan kilat, dan di


bawahnya
kilat
menyambar
gemuruh,
berkilatan,
mencurahkan hujan, serta menyuburkan. Segenap
pengetahuan hanyalah setetes dari samuderanya, segenap
kearifan hanyalah secauk dari bengawannya, dan segenap
waktu hanyalah sesaat dari masanya.
14.Allah (ada) bersamanya, dan bersamanya adalah hakikat. Ia
yang pertama dalam kesatuan (penciptaan) dan terakhir yang
diutus sebagai Rasul, yang hakikatnya bersifat batin, dan
marifatnya bersifat lahir.
15.Tiada seorang pakar pun yang pernah mencapai hikmahnya,
bahkan para filsuf niscaya tersadar atas kearifannya.
16.Allah tidak menyerahkan [hakikat-Nya] itu kepada makhlukNya, sebab ia adalah ia, dan ia adanya bersama Dia,
sedangkan Dia adalah Dia.
17.Tidak ada apa pun yang keluar dari Mim ( ) -nya
Muhammad ( ) , dan tidak ada yang masuk ke Ha ( )nya. Adapun Ha ()-nya sebagaimana Mim ()-nya yang
kedua, sedangkan Dal ()-nya seperti Mim ()-nya yang
pertama. Mim ()-nya yang pertama adalah peringkat
(maqam)-nya, serta Ha ()-nya adalah keadaan (hal)
spritualnya, sebagaimana Mim ( ) -nya yang kedua.
18.Allah membuat bicaranya jelas, menambah nilainya, dan
membuat bukti (hujjah)-nya dikenal. Dia menurunkan wahyu
Pembeda [Al-Furqan] kepadanya. Dia membuat lidahnya
fasih, dan Dia membuat hatinya terang. Dia membuat ummat
sezamannya tidak mampu [memalsu Al-Quran].Dia pun
mengakui kejelasannya, dan memuji kemuliaannya.
4

Thosin Al Siraj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

19.Andaikan kau melarikan diri dari kewenangan syariat-nya,


adakah jalan (lain) yang dapat kau tempuh, tanpa adanya
pembimbing, hai orang yang malang? Ketahuilah, segenap
fatwa para filsuf berantakan, seperti gundukan pasir,
dibandingkan hikmahnya.

AL HALLAJ | Thosin Al Siraj

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 2

Thosin Al Fahm
(Pemahaman)

1. Pemahaman tentang alam-makhluk tidak terkait dengan


hakikat, dan hakikat tidak juga terkait dengan alam-makhluk.
Pemikiran [yang asal-terima] adalah taqlid, dan taqlid-nya
alam-makhluk tidak ada keterkaitannya dengan hakikat.
Pengertian tentang hakikat itu sulit dicapai, makanya betapa
lebih sulit lagi mencapai pengertian tentang hakikatnyaHakikat (Allah). Apalagi, Allah itu di luar hakikat, dan
hakikat tidak dengan sendirinya menyatakan 'ada'-Nya Allah.
2. Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar.
Lalu, ia kembali ke teman-temannya, dan menceritakan
keadaan (hal) spiritualnya dengan ungkapan yang penuh
kesan. Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api dalam
hasratnya untuk mencapai Penyatuan (Tawhid) yang
sempurna.
3. Cahayanya nyala api adalah Pengetahuan ('llm) hakikat,
panasnya adalah Kenyataan ('Ayn) hakikat, dan Penyatuan
dengannya adalah Kebenaran (Haqq) hakikat.
4. Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan
panasnya, sehingga ia melompat ke dalam nyala api
langsung. Sementara itu, teman-temannya menantikan
kedatangannya, supaya ia menceritakan kepada mereka
6

Thosin Al Fahm | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

tentang 'penglihatan' aktualnya, karena ia merasa tidak puas


dengan kabar angin saja. Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas
sirna (fana'), musnah dan buyar ke dalam serpihan-serpihan,
yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda
pengenal. Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat
kembali ke teman-temannya? Dan, keadaan (hal) spiritual apa
yang tengah dicapainya sekarang? Ia yang sampai pada
pandangan (bashirah) batin niscaya sanggup terlepas dari
pekabaran saja. Juga ia yang sampai pada inti pandangan
batin tidak lebih prihatin tentang pandangan batinnya.
5. Pemaknaan (masalah) ini tidak menyangkut manusia yang
alpa, tidak juga manusia yang maya, atau manusia yang
penuh dosa, ataupun manusia yang menuruti hawa-nafsunya
semata.
6. Wahai kau yang ragu-ragu! Jangan persamakan 'aku' (insani)
dengan 'Aku' Ilahi -- janganlah sekarang, janganlah di masa
depan nanti, janganlah pula di masa lampau dulu. Bahkan,
kendatipun 'aku' itu merupakan pencapaian seorang 'Arif,
kendatipun ini merupakan keadaan (hal) spiritual, namun itu
bukanlah kesempurnaan. Kendatipun 'aku' adalah milik-Nya,
namun 'aku' bukanlah Dia.
7. Bila kau memahami ini, maka pahamilah juga bahwa
pemaknaan (masalah) itu bukanlah kebenaran bagi siapa pun
kecuali (bagi) Muhammad (sholallohu 'alaihi wasallam), dan
"Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang kerabatmu"
(Q. 33: 40) tapi Rasululloh (Utusan Allah) dan penutup para
nabi (khatam an-nabiyyin). Ia mem-fana'-kan dirinya dari
manusia dan jin, serta memejamkan matanya ke (arah) 'mana'
pun, hingga tidak lagi tersisa kepalsuan hati ataupun
kemunafikan.

AL HALLAJ | Thosin Al Fahm

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

8. Ada suatu "jarak sepanjang dua busur" lebarnya (Q. 53: 9),
atau lebih dekat lagi, saat ia mencapai gurun Pengetahuan
hakikat, dan "ia beritahukan hal itu dari hati lahirnya (fu'ad)"
(Q. 53: 10). Ketika sampai pada Kebenaran hakikat, ia
menanggalkan hasratnya di situ, dan mempersembahkan
dirinya naik ke Hadirat Sang Pengasih. Setelah mencapai
Kebenaran (Allah), ia pun kembali sambil berkata: "Hatibatinku bersujud kepada-Mu, dan hati-lahirku beriman
kepada-Mu." Ketika mencapai Pohon-Batas Penghabisan, ia
berkata: "Aku tidak dapat memuji-Mu sebagaimana mestinya
Engkau dipuji." Dan, ketika mencapai Kenyataan hakikat, ia
berkata: "Hanya Engkau Sendiri yang dapat memuji DiriMu." Ia menanggalkan lagi hasratnya, dan menuruti
panggilan tugasnya, "hatinya tidak berdusta tentang apa yang
dilihatnya" (Q. 53:11) di maqam dekat Pohon-Batas-Terjauh
(Sidrat al-Muntaha). (Q. 53:14) Ia tidak berpaling ke kanan,
ke arah hakikat sesuatu, tidak juga ke kiri, ke arah Kenyataan
hakikat. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak berkisar
daripada menyaksikan Dengan tepat (akan pemandangan
Yang indah di situ Yang diizinkan melihatnya), dan tidak
pula melampaui batas." (Q. 53: 17)

Thosin Al Fahm | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 3

Thosin Al Shafa
(Kebeningan)

1. Hakikat itu adalah sesuatu yang sangat halus, dan sulit


menguraikannya. Jalan untuk menempuhnya sempit, dan
tentang jalannya itu, seorang penempuh (salik) harus
mengarungi 'kobaran api' di tengah gurun yang dalam.
Seorang asing (gharib) telah mengikuti jalan ini, dan
menyampaikan bahwa apa yang dialaminya ada empat puluh
Maqom, yaitu:
1. Kesopan santunan ['adab], 2. Kegentar hatian [rahab],3.
Kejerih payahan [nashab], 4. Penuntutan-diri [thalab], 5.
Ketakjuban ['ajab], 6. Peniadaan ['athab], 7. Pemujaan
[tharab], 8. Pendambaan [syarah], 9. Penjernihan [nazah], 10.
Kelurusan [shidq], 11. Persahabatan [rifq], 12. Persamaan
[litq], 13. Keberangkatan [taswih], 14. Penghiburan [tarwih],
15. Ketajaman [tamyiz], 16. Penyaksian [syuhud], 17.
Keberadaan [wujud], 18. Penghitungan ['add], 19.
Pengupayaan [kadda], 20. Pemulihan [radda], 21. Perluasan
[imtidad], 22. Pengolahan [i'dad], 23. Penyendirian [infirad],
24. Pengendalian [inqiyad], 25. Kemauan [murad], 26.
Kehadiran [hudur], 27. Pelatihan [riyadhah], 28. Kehatihatian [hiyathah], 29. Penyesalan [iftiqad], 30.
Kedayatahanan [istilad], 31. Pengawasan [tadabbur], 32.
Keterkejutan [tahayyur], 33. Perenungan [tafaqqur], 34.
Kesabaran [tashabbur], 35. Penafsiran [ta'abbur], 36.
Penolakan [rafdh], 37. Pengoreksian [naqd], 38. Pengamatan

AL HALLAJ | Thosin Al Shafa

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

[ri'ayah], 39. Pembimbingan [hidayah], 40. Permulaan-jalan


[bidayah].
Maqam terakhir ini adalah maqam-nya orang-orang yang Hatinya
tenang dan suci (shufi).
2. Tiap maqam memiliki keadaan (hal) spiritualnya sendiri
sebagai pahalanya, yang sebagiannya mungkin diperoleh dan
sebagian lainnya tidak.
3. Adapun sang Ghorib yang telah mengarungi gurun (hakikat)
dan
menyeberanginya,
telah
mencakupnya
serta
memahaminya secara keseluruhan. Ia tidak memperoleh
sesuatu yang lazim ataupun biasa, tidak di gunung ataupun di
darat.
4. "Ketika Musa (as) menunaikan tugasnya", ia meninggalkan
ummatnya karena hakikat akan merengkuhnya sebagai
'milik'-Nya. Tapi, masih juga ia berpuas dengan penerangan
semu tanpa pandangan (bashirah) batin langsung, sehingga
ada perbedaan antara ia dan sang Insan Kamil [Muhammad
saw]. Karena itu ia (Musa as) berkata: "Siapa tahu aku dapat
membawa sedikit penerangan untukmu." [Q. 20: 10]
5. Andaikan sang Pembimbing Utama puas dengan penerangan
semu, bagaimana dapat seseorang yang menempuh jalan
(thariqah) tidak mencukupkan dirinya dengan jejak semu.
6. Dari Semak yang Terbakar, di Bukit Sinai, apa yang
kedengarannya difirmankan Semak bukanlah dari Semak atau
belukarnya, tetapi (firman) Allah.
7. Dan peranan 'aku' adalah seperti 'Semak' itu.
10

Thosin Al Shafa | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

8. Jadi, hakikat adalah 'hakikat' dan makhluk adalah 'makhluk'.


Makanya buanglah sifat kemakhlukanmu, supaya kau sesuai
dengan-Nya, beserta Dia -- kau pun dalam liputan hakikat.
9. 'Aku' sejati adalah subyek, dan obyek yang terurai adalah
subyek dalam hakikatnya. Soalnya adalah bagaimana itu
terurai?
10.Alloh berfirman kepada Musa (as): "Kau bimbinglah
(ummatmu) pada Bukti (al-Hujjah)," tapi bukan pada
Obyeknya Bukti. Adapun bagi-Ku, Aku adalah 'Bukti' dari
setiap bukti.
11.Alloh membuatku melampaui apa adanya hakikat dengan
kesepakatan, perjanjian, dan persekutuan. Rahasiaku adalah
penyaksian (syahadah) langsung tanpa (keikutsertaan) pribadi
makhlukku. Itulah rahasiaku, dan inilah hakikat.
12.Alloh memfirmankan pengetahuanku melalui 'aku' dari
hatiku. Dia menarikku dekat pada-Nya setelah jauh dari-Nya.
Dia membuat aku menjadi Sahabat (Waly)-Nya, Dia memilih
aku

AL HALLAJ | Thosin Al Shafa

11

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 4

Thosin Al Dairoh
(Lingkaran)

1. Pintu ba ( )pertama melambangkan seseorang yang


menjangkau lingkaran Kebenaran.Pintu ba ( )kedua
melambangkan orang yang menjangkaunya, yang setelah
memasukinya, sampailah ia ke pintu yang tertutup. Pintu ba
( )ketiga melambangkan seseorang yang tersesat di gurun
Sifatnya-Kebenaran.
2. Ia yang memasuki lingkaran itu jauh dari Kebenaran, sebab
jalannya terjegal dan sang penempuh (salik) disuruh kembali.
Adapun noktah di atas melambangkan hasratnya. Noktah
yang lebih bawah melambangkan kembalinya ke titiktolaknya, dan noktah di tengah adalah kebingungannya.
3. Lingkaran dalam tidak memiliki pintu ba (), dan titik
yang ada di dalamnya adalah pusat Kebenaran.
4. Makna tentang Kebenaran adalah yang darinya, baik lahir
maupun batin, tidak ada yang luput. Dan, ia pun tidak
direkayasa.
5. Andaikan kau berhasrat memahami apa yang aku terangkan
ini.ambillah empat ekor burung, cincanglah buatmu, (QS.
2: 260) sebab Al-Haqq (Alloh) tak-terbang.

12

Thosin Al Dairoh | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

6. Adalah kecemburuan-Nya yang membuat ia tampak, setelah


Dia menyembunyikannya. Adalah keterpesonaan yang
menjaga keterpisahan kita. Adalah kebingungan yang
mencabut kita dari-Nya.
7. Inilah makna tentang Kebenaran. Ia lebih licin dari lingkaran
Asal, ataupun rancangan Bidang. Dan, yang lebih licin lagi
adalah memfungsikan kearifan secara batin, karena
ketersembunyiannya (Kebenaran) dari khayalan.
8. Ini karena sang pengkaji hanya mengkaji lingkaran dari
wilayah luar, bukannya dari wilayah dalam.
9. Adapun tentang pengetahuannya-pengetahuan Kebenaran,
sang pengkaji tidak memahaminya, karena ia tidak mampu.
Pengetahuan menunjukkan tempat, sedang lingkaran itu
tempat yang terlarang [haram].
10.Makanya mereka menamakan Sang Rasul (saw): Haramy,
sebab hanya ia seorang yang keluar dari Lingkarang Haram
itu.
11.Ia penuh kegentaran dan keterpesonaan, serta mengenakan
jubah Kebenaran. Ia keluar dan menyerukan Ah!!! ()
kepada segenap makhluk.

AL HALLAJ | Thosin Al Dairoh

13

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 5

Thosin Al Nuqtah
(Titik)

1. Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik
AzaliyAda yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan
tentang Titik Azaliy yang berupa Asal, dan yang
(keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak
juga habis sirna dirinya.
2. Orang yang mengangkal keadaan (hal) batinku telah
menyangkalnya, karena tidak mengetahui aku, malah
menyebutku bidah. Dituduhnya aku dengan sebutan Iblis,
serta dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik
perdukunan, juga demikian terhadap lingkaran suci yang
berada di luarnya-luar jangkauan, yang dicemoohkannya.
3. Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku
menjadi sang Pemangku Ilham.
4. Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada
di bawah pengaruh nafsu.
5. Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran
melupakan aku, bahkan perhatiannya beralih dariku.
6. Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun. Pada
hari itu hanya Tuhan penolongmu untuk kembali. Juga pada
hari itu setiap manusia akan diberi tahu tentang perbuatan
14

Thosin Al Nuqtah | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

yang didahulukannya dan yang dilalaikannya. (QS. 75: 1113)


7. Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu,
melarikan diri pada sang pelindung, mengkhawatiri pertandapertanda, tujuan hidupnya terpedaya, dan akibatnya tersesat.
8. Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan (baqo).
Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran itu sibuk
di pantai samudera pengetahuan dengan pengetahuannya
sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.
9. Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang
terbang dengan dua sayap Tashawuf. Ia menyangkal
kekeramatanku, sebagaimana ia terus membumbung dalam
penerbangannya.
10.Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku
menjawabnya: Pangkaslah sayapmu dengan gunting
penyirnaan-diri (fana). Kalau tidak, kau tidak dapat
mengikuti aku.
11.Ia berkata kepadaku: Aku terbang dengan sayapku menuju
Kekasihku. Aku katakan kepadanya: Hati-hati buat kau!
Sebab, tidak ada yang menyerupai-Nya. Hanya Dia sang
Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka, seketika itu ia
jatuh ke samudera kearifan dan hilang tenggelam.
12.Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai
berikut: Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku, aku
menyapa: Siapakah Engkau? Dia menjawab: Kau!
Namun, bagi-Mu, di mana tidak memiliki tempat. Dan,
tidak ada di mana ketika perhatian hanya menyangkut-Mu.
Akal pun tidak punya bayangan tentang keberadaan-Mu

AL HALLAJ | Thosin Al Nuqtah

15

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

dalam (dimensi) waktu, yang memungkinkan akal


mengetahui di mana adanya Engkau. Engkau adalah
Sesuatu yang meliputi setiap di mana, mengatasi titik
yang tak di mana-mana. Jadi, di mana Engkau adanya?
13.Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik),
menandakan beragamnya anggapan tentang kearifan. Adalah
sebuah titik-tunggal saja yang dirinya berupa Kebenaran,
sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.
14.Ia begitu dekat saat kenaikannya (miraj) ia tampak
kembali saat kemuncakannya (transenden). Karena
pencarian, ia begitu dekat. Karena kegairahan, ia tampak
kembali. Ia menanggalkan hatinya di sana, dan begitu dekat
kepada-Nya. Ia sirna (fana) ketika melihat Alloh, kendati
demikian ia tidak sampai tuntas sirna (fana ul-fana).
Bagaimana mungkin ia hadir sekaligus tak-hadir? Bagaimana
mungkin pula ia tampak dan sekaligus tak-tampak?
15.Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari
pencerahan ke ketakjuban. Dengan kesaksian Allah, ia
menyaksikan Alloh. Ia sampai dan sekaligus pisah. Ia
mencapai Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya. Hatinya
tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya. (QS. 53: 11)
16.Allah menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat.
Dia mengangkatnya dan menyucikannya. Dia membuatnya
dahaga dan menyegarkannya. Dia menyucikannya dan
memilihnya. Dia menyerunya dan memerintahkannya. Dia
menimpainya
Cobaan
dan
menjenguknya
untuk
membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya
di atas pelana.

16

Thosin Al Nuqtah | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

17.Ada sebuah jarak dari satu rentangan busur, dan ketika ia


kembali, ia pun mencapai sasarannya. Ketika diseru, ia
menjawabnya merasa dilihat, ia rendahkan dirinya. Karena
minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia dicekam
keterpesonaan. Dan, karena keterpisahan dirinya dari Kota
serta para pembantunya, ia pun terpisah dari bisikan nurani,
dari pandangan, juga dari lamunan makhluk.
18.Sahabatmu tidak tersesat, (QS. 53: 2) ia tidak lemah atau
bertambah sedih. Matanya tidak goyah atau lelah oleh suatu
Saat dari sejatinya masa.
19.Sahabatmu tidak tersesat dalam tafakurnya mengenai
Kami. Ia tidak menyeberang dalam kunjungannya kepada
Kami, tidak juga melanggar terhadap Risalah Kami. Ia tidak
membandingkan Kami dengan yang lain kalau membicarakan
Kami. Ia tidak menyimpang di taman zikir dalam tafakurnya
mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam pengembaraan di
alam fikir.
20.Cukuplah ia mengingat Allah (zikrulloh) dalam tarikan
nafasnya, dan kerdipan matanya. Bertawakkal kepada-Nya
dalam kesusahan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.
21.Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, (QS. 53:
4) dari Cahaya ke Cahaya.
22.Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan,
angkatlah kakimu tinggi-tinggi dari manusia serta makhluk
lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan selaras dan
sekadarnya! Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam
keghairahanmu. Ketahuilah bahwa kau akan terbang
melampaui gunung dan lembah, gunung kesadaran dan
lembah perlindungan, agar melihat Dia yang kau puja-puja.

AL HALLAJ | Thosin Al Nuqtah

17

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke Rumah Suci


(Kabah).
23.Maka, ia begitu dekatnya kepada Alloh, seperti seorang
asyiq yang memasuki Masyuq. Selanjutnya ia
memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu seperti sebuah
rintangan yang lebih dari cukup untuk melemahlunglaikan. Ia
melintas dari Maqam Pembersihan ke Maqam Pencelaan, dan
dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat
sebagai pencari, dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat
sebagai pendoa, dan ia kembali sebagai Abdi. Ia begitu
dekatnya sebagai penyeru, dan kembali dengan baiat sebagai
Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang saksi,
dan kembalinya sebagai ahli tafakur.
24.Jarak di antara keduanya adalah dua rentangan busur. Ia
membidik tanda di mana [ayna] dengan panah di antara
[bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua rentangan busur untuk
menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada
terlukiskannya sifat Zat, atau karena serasa lebih akrab pada
Zatnya-Zat.
25.Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul-Addah) AlHusain ibn Manshur Al-Hallaj, berkata:
26.Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat
dipahami, kecuali untuk orang yang sampai pada rentangan
busur kedua, yang adanya melampaui Lembaran yang
Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].
27.Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab
ataupun Persia.

18

Thosin Al Nuqtah | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

28.Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf mim ( ) , yang


merupakan huruf pertanda apa yang ia pancarkan.
29.Mim ( ) yang menandakan Yang Terakhir.
30.Mim ( ) yang juga merupakan untaian Yang Terawal.
Rentangan busur pertamanya adalah Alam Kegagahan
(Jabarut), dan yang keduanya adalah Alam Kerajaan
(Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian dua Alam
itu. Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy
khasysy) adalah panah yang Mutlak, panahnya dua
rentangan.
31.Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi
(tajalliy).
32.Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah
yang pengertiannya merupakan gambaran kedekatan. Adapun
sang Firman dari pemaknaan ini adalah Kebenaran Allah,
bukan metode ciptaan-Nya. Dan, kedekatan ini juga hanya
berlaku dalam lingkaran ketepatan yang amat sangat tepat.
33.Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Allah) ini terdapat
dalam halusnya perbedaan, lewat pengalaman sebelumnya,
dengan memakai penangkal yang dibuat oleh sang pecinta,
untuk membalas keterputusannya dengan segenap kecintaan
(makhluk), di pelananya yang sampai secara berbarengan,
karena bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan,
yang diatasinya dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi)
yang terpilih dalam memperhatikan Diri pribadi. Dan,
kedekatannya terlihat sebagai areal luas, agar sang arif
(irfan) yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini
dapat dipahami adanya.

AL HALLAJ | Thosin Al Nuqtah

19

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

34.Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam


atasnya, memaklumkan keagungan yang kerasukan jiwa
anggun ini, yang tak-tergugat, yang terawat dalam Kitab
Tersembunyi
(QS.
56:
78),
sebagaimana
Dia
menyatakannya dalam Kitab (alam) Terbuka, dalam Kitab
Tertulis yang menerangkan makna bahasa burung, ketika
Dia mengangkatnya ke sana.
35.Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa
Tuhan tidak berbicara kecuali dengan Diri-Nya, atau dengan
Sahabat-Nya (waly).
36.Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun
Murid. Jadilah tanpa pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepurapuraan atau sok-nasihat, jangan mengakui sesuatu itu
miliknya atau darinya. Tapi, apa yang ada padanya
cukuplah sebagai apa yang ada padanya, tanpa merasa
adanya itu padanya, sebagaimana gurun tanpa air di suatu
gurun tanpa air, juga sebagaimana pertanda di suatu
pertanda.
37.Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun
mengalihartikan maksudnya, sedangkan maksudnya terlihat
dari kejauhan. Jalannya sulit, namanya agung, tampilannya
unik.
Pengetahuannya
adalah
ketidaktahuan,
ketidaktahuannya adalah kebenaran tunggal, keawamannya
adalah sumber rahasianya. Namanya adalah Jalannya,
karakter-lahirnya adalah kehangatannya, dan perlambangbatinnya adalah kegairahannya.
38.Hukum syariat [syariy] adalah ciri-khasnya, kebenaran
[haqaiq] adalah gelanggangnya dan keagungannya. Jiwanya
adalah serambinya, Syaitan adalah pengajarnya, dan setiap
musafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya.
20

Thosin Al Nuqtah | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Keinsanan adalah nuraninya, kerendahhatian adalah


kemuliaannya, kefanaan adalah subyek zikir-nya, istri adalah
tamansarinya, dan fananya-fana adalah singgasananya.
39.Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah
peringatanku, syafaatnya adalah permohonanku, karunianya
adalah
persinggahanku,
dan
duka-citanya
adalah
kesedihanku.
40.Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan
bajunya bukan apa-apa kecuali sekadar pengelap debu-(ku).
Ajarannya adalah dasar pijakan keadaan (hal) batinnya,
sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati
demikian, sembarang keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi
obyek kemurkaan Allah. Makanya cukuplah ini, semoga
rahmat Allah besertamu.

AL HALLAJ | Thosin Al Nuqtah

21

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 6

Thosin Al Azal wa al Iltibas


(Kebahagian dan Derita Eterniti/Keabadian dan
Kekeliruan Pemahaman)

[:Untuk ia yang 'arif, dalam ke'arifannya-ke'arif saat berhubungan


dengan wacana publik tentang apa yang logis dalam
memperhatikan tujuan...]
1. Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj), semoga Allah
merahmatinya, berkata: "Tidak ada misi yang tangguh
kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad, shalawat dan
salam atasnya. Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad
merasakan Zatnya-Zat."
2. Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34) dan
kepada Muhammad: "Tengoklah!" (QS. 53: 13) Namun, Iblis
tidak bersujud, dan Muhammad pun tidak menengok. Ia tidak
berpaling ke kanan atau ke kiri, "Matanya tidak celingukan,
tidak juga jelalatan." (QS. 53: 17)
3. Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya, ia tidak
kembali ke kemampuan awalnya.
4. Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya, ia
kembali ke kemampuannya.
5. Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa
bahagia, dan kepada Engkau semata aku mengabdikan
22

Thosin Al Azal wa al Iltibas | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

diriku." Dan: "Wahai Engkau yang membolak-balik hati."


Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu sebagaimana
mestinya Engkau dipuji."
6. Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus pengEsa (Tawhid) yang seperti Iblis.
7. Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi. Ia
pun tercegah bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya,
dan mulailah ia memuja Sang Esa Pujaan dalam pengasingan
khusyuknya.
8. Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia
didakwa ketika menuntut kesendirian (Allah) mutlak.
9. Allah berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!" Ia
menjawab: "Tidak, kepada yang selain Engkau." Dia
berfirman lagi kepadanya: "Bahkan, apabila kutuk-Ku jatuh
menimpamu?" Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan
mengazabku!"
10."Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu,
dan alasanku (ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu. Tetapi,
apalah Adam dibandingkan dengan-Mu, dan siapalah aku -Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!"
11.Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'buta', dan
berkata: "Tidak ada jalan bagiku kepada yang lain selain dariMu. Aku pecinta yang 'buta'!" Dia berfirman kepadanya:
"Kau telah takabur!" Ia menjawab: "Apabila ada satu saja
kilasan pandang di antara kita, itu cukup membuatku
sombong dan takabur. Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang
mengenal-Mu sejak ke-baqa'-an masa Terdahulu, dan "aku

AL HALLAJ | Thosin Al Azal wa al Iltibas

23

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

lebih baik daripadanya" (QS. 7: 12), sebab aku lebih lama


mengabdi kepada-Mu. Tidak ada satu pun, di antara dua jenis
makhluk (Adam dan Iblis) ini, yang mengenal-Mu secara
lebih baik daripadaku!" "Ada Kehendak-Mu bersamaku, dan
ada kehendakku bersama-Mu, sedangkan keduanya
mendahului Adam. Apabila aku bersujud kepada yang selain
Engkau, ataupun tidak bersujud, niscaya harus bagiku untuk
kembali ke asalku. Karena Engkau menciptakan aku dari api,
dan api kembali ke 'api', menuruti keseimbangan (sunnah)
dan pilihan yang adanya milik-Mu."
12."Tidak ada jarak dari-Mu padaku, karena aku yakin bahwa
jarak dan kedekatan itu 'satu'!" "Bagiku, apabila aku
dibiarkan, pengabaian-Mu justru menjadi mitraku. Jadi,
seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap
'menyatu'!" "Terpujilah Engkau, dalam taufiq-Mu dan ZatMu yang tiada terjangkau, bagi sang pemuja setia ini, yang
tiada bersujud ke yang selain Engkau!"
13.Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya
kepadanya: "Hai Iblis, apa yang mencegahmu dari bersujud?"
Ia (Iblis) menjawab: "Yang mencegahku adalah pernyataan
ikrarku mengenai Sang Pujaan yang Unik. Dan, jika aku
bersujud, aku akan menjadi sepertimu. Karena kau hanya
perlu dipanggil sekali, "Tengoklah ke gunung," kau langsung
menengok. Sementara aku, aku telah dipanggil ribuan kali
untuk menyujudkan diriku kepada Adam, aku tidak bersujud,
karena aku bersiteguh dengan 'Tujuan' Ikrarku."
14.Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?" Iblis
pun menjawab: "Itu sebuah ujian, bukannya perintah." Musa
bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati wajahmu berubah
begitu?" Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar
kemenduaan dari penampilan-lahir, sementara keadaan (hal)
24

Thosin Al Azal wa al Iltibas | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

spiritualku tidak bergantung atasnya, bahkan tidak berubah.


Ma'rifat tetaplah benar sebagaimana pada awalnya, dan itu
tidak berubah kendatipun pribadinya berubah."
15.Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir)
sekarang?" "Hai Musa, pikiran yang murni tidak
membutuhkan daya-ingat, -- dengan itu aku mengingat (Dia)
dan Dia mengingat (aku). Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan
ingatanku adalah ingatan-Nya. Bagaimana mungkin, ketika
kami saling mengingat, kami berdua berlainan satu sama
lain?" "Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih
lapang, ingatanku lebih agung, sebab aku mengabdi kepadaNya secara mutlak demi keberuntunganku, bahkan sekarang
aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya."
16."Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang
mencegahku atau menahanku, baik demi kerugian ataupun
keuntungan. Dia mengasingkanku, membuatku mabukkepayang, melinglungkanku, mengeluarkanku, sehingga aku
tidak dapat berpadu dengan para ruh suci. Dia menjauhkanku
dari yang lain, sebab kecemburuanku (kepada-Nya) supaya
Dia Sendiri saja. Dia mengubahku, sebab Dia mengagumiku.
Dia mengagumiku, sebab Dia membuangku. Dia
membuangku, sebab aku pengabdi. Dan, menempatkanku
dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku. Dia
mempertunjukkan kekurangan nilaiku disebabkan aku
memuji Keagungan-Nya. Dia menyederhanakanku dengan
sehelai kain ihram disebabkan kehajianku [hijya]. Dia
membiarkanku disebabkan 'penemuan'-ku atas-Nya dalam
zikir. Dia menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan
penyatuanku. Dia mempenyatukanku disebabkan Dia
memencilkanku. Dan, Dia memencilkanku disebabkan Dia
mencegah hasratku."

AL HALLAJ | Thosin Al Azal wa al Iltibas

25

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

17."Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah dalam


memperhatikan titah-Nya, bukannya aku menolak takdir.
Aku tidak peduli sama sekali tentang perubahan wajahku.
Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui
hukuman ini."
18."Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang
masa, aku tetap tidak akan bersujud kepada sesuatu (selainNya). Aku tidak akan merundukkan diriku kepada pribadi
atau jasad (Adam as), sebab aku tidak mengaku berlawanan
dengan-Nya! Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang
yang khusyuk dalam 'cinta'!"
19.Al-Hallaj berkata: "Ada beragam teori yang berkenaan
dengan keadaan (hal) spiritualnya 'Azazyl ([ ) sebutan
Iblis sebelum kejatuhannya]. Seseorang mengatakan bahwa ia
ditugaskan dengan misi di surga, serta dengan suatu misi
(lainnya) di bumi. Di surga ia berkhutbah kepada malaikat,
menunjukinya tentang amalan yang baik. Dan, di bumi ia
berkhutbah kepada manusia dan jin, menunjukinya tentang
perbuatan yang jahat."
20."Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu kecuali
dengan (mengenali) yang sebaliknya. Sebagaimana dengan
sutera putih halus, yang hanya dapat ditenun dengan
menggunakan lakan hitam di belakangnya -- makanya,
malaikat mempertunjukkan amalan baiknya, dan berkata
simbolis, "Jika kau beramal, kau akan mandapat pahala."
Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan sebelumnya,
niscaya tidak dapat mengenali kebaikan."
21.Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata: "Aku bersoal
dengan Iblis dan Fir'aun tentang kehormatan Sang Pemurah."
26

Thosin Al Azal wa al Iltibas | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya kehilangan gelar


kehormatanku." Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada
Rasul (Musa as) itu, aku niscaya terjatuh dari harkat
kehormatanku."
22.Al-Hallaj pun berkata: "Jika aku memungkiri pengajaranku
dan pernyataanku, aku juga niscaya jatuh dari altar
kehormatanku."
23.Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam
as)," maka ia tidak melihat sesuatu pun selain dirinya.
Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun tidak bahwa kau
(Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku," ia tidak
mengetahui bahwa sembarang rakyatnya dapat membedakan
antara kebenaran dan kepalsuan.
24.Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata: "Andaipun kau tidak mengenalNya, maka kenalilah pertanda-Nya. Akulah pertanda-Nya
[tajally], dan akulah Sang Kebenaran (anal'-Haqq)! Hal ini
disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang
Kebenaran!"
25.Temanku adalah Iblis, dan guruku adalah Fir'aun. Iblis
diancam dengan api dan tidak mencabut pernyataannya.
Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa mencabut
pernyataannya ataupun mengakui sembarang perantara
(rasul). kendatipun begitu ia berkata: "Aku beriman bahwa
tiada Tuhan kecuali Dia yang diimani oleh Bani Isra'il." (QS.
10: 90) Dan, bukankah kau melihat bahwa Alloh pun
menentang Jibril dalam Keagungan-Nya? Dia berfirman:
"Mengapa kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?"

AL HALLAJ | Thosin Al Azal wa al Iltibas

27

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

26.Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku


dipotong, tanpa aku mencabut pernyataan tegasku!
27.Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl
() . 'Ain'-nya ( )menunjukkan keluasan ikhtiarnya,
'zay'-nya ( )adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepadaNya), 'alif'-nya ( )sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,
'zay'-nya ( )yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,
'ya'-nya ( )langkah pengembaraannya ke penderitaannya,
dan 'lam'-nya ( )ketegarannya dalam kesakitannya.
28.Dia (Allah) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai
yang nista!" Ia menjawab: "Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!"
Karena pecinta dianggap rendah, maka Engkau menyebutku
nista. Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata, wahai
Sang Kuasa dan Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku.
Jadi, bagaimana mungkin aku menistakan diriku kepada
Adam, padahal Engkau menciptakannya dari tanah,
sedangkan aku dari api? Dua hal yang berlawanan tidak dapat
diakurkan. Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih lama, juga
memiliki kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih
luas, serta aktivitas yang lebih sempurna."
29.Allah, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya:
"Pilihan adalah milik-Ku, bukannya milikmu." Ia menjawab:
"Segenap pilihan, bahkan pilihan diriku, adalah milik-Mu.
Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai Sang Khaliq.
Jika Engkau mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam
as), Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu. Jika aku khilaf
berbicara, Engkau tidak membiarkanku, karena Engkau Sang
Maha Mendengar. Jika Engkau berkehendak aku bersujud
kepadanya, aku niscaya taat. Aku tidak mengetahui seorang
pun di antara (makhluk) yang 'Arif, yang mengenal-Mu
secara lebih baik daripada aku."
28

Thosin Al Azal wa al Iltibas | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

30.Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku,


anugerahilah aku, wahai Penguasaku, demi aku sendiri.
Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya Kebenaran
prinsip, tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat. Ia yang
berhasrat menulis ikrarku ini, atau membacanya, akan
mengetahui bahwa aku (akhirnya) menjadi seorang Syahid!
31.Hai saudaraku! Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia
dibebastugaskan ('uzyla), dibebastugaskan dari kesucian
purbanya. Ia tidak kembali dari asalnya ke akhirnya, sebab ia
tidak keluar dari akhirnya. Ia dibiarkan, dikutuk dari asalnya.
32.Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan ibadirinya. Ia mendapatkan dirinya antara api tempat
peristirahatannya dan cahaya posisi ketinggiannya.
33.Sumber air di darat adalah telaga yang rendah. Ia (Iblis)
terazab kehausan di tempat yang (airnya) berlimpah-ruah. Ia
menangisi kesakitannya, karena api telah membakarnya.
Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan, dan ke'buta'-annya adalah kesia-siaan -- itulah ia adanya!
34.Hai saudaraku! Andaikan kau mengerti, kau telah
mempertimbangkan jalan sempit di kesempitannya yang
teramat sangat. Kau telah menunjukkan khayalan itu
kepadamu dalam kemusykilannya yang teramat sangat. Dan,
kau akan menderita serta penuh kegelisahan.
35.Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang
Iblis, dan para 'arifin tidak memiliki kemampuan untuk
menjelaskan apa yang telah dipelajarinya (tentang Iblis). Iblis
lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan, dan lebih

AL HALLAJ | Thosin Al Azal wa al Iltibas

29

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

dekat daripada mereka kepada Sang Zat Wujud. Ia (Iblis)


mengerahkan dirinya lebih dan 'lebih' setia pada perjanjian,
serta lebih dekat daripada mereka kepada Sang Pujaan.
36.Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan
(Allah), sedangkan Iblis menolak (bersujud) karena ia telah
'tafakur' sekian lamanya.
37.Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan, dan
pikirannya kesasar, sehingga ia berkata: "Aku lebih baik
daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12) Ia tetap di balik tabir,
tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as), dan
mengusung kutukan di atas pundaknya hingga Akhir Ke'baqa'-an Masanya-Masa Ke-'baqa'-an nanti...

30

Thosin Al Azal wa al Iltibas | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 7

Thosin Al Masyi-ah
(Kehendak)

1. Inilah penggambaran tentang Taqdir Ilahi. Lingkaran ( o )


pertama adalah Kehendak [masyiah] Allah, dan ( o ) kedua
adalah Hikmah-Nya, serta ( o ) ketiga adalah Kuasa-Nya,
sedangkan ( o ) keempat adalah Ilmu-Nya yang Azaliy.
2. Iblis berkata: Bila aku memasuki lingkaran pertama, aku
akan menempuh ujian dari (lingkaran) yang kedua. Dan, bila
aku melintas ke yang kedua, aku harus menempuh ujian dari
(lingkaran) yang ketiga. Bahkan, bila aku menyeberang ke
yang ketiga, aku mesti menempuh ujian dari (lingkaran) yang
keempat.
3. Maka tidak (la), tidak (la), tidak (la), tidak (la), dan tidak
(la)! Bahkan, bila aku istirah di tidak pertamaku, aku pasti
dikutuk sampai aku mengucapkan (tidak) yang kedua, dan
dibuang sampai aku mengucapkan (tidak) yang ketiga. Jadi,
apakah yang keempat berarti bagiku?
4. Kalaulah aku tahu bahwa bersujud (kepada Adam as) pasti
menyelamatkan aku, aku niscaya bersujud. Kendati demikian,
aku tahu bahwa setelah lingkaran (pertama) itu ada lingkaranlingkaran (kedua, ketiga, dan keempat) lainnya. Dengan
pemikiran begitu, maka kukatakan kepada diriku: Kalaupun
aku selamat dari lingkaran (pertama) ini, bagaimana dapat

AL HALLAJ | Thosin Al Masyi-ah

31

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

aku keluar dari (lingkaran) yang kedua, yang ketiga, dan yang
keempat?
5. Adapun Alif ( ) dari La ( ) yang kelima adalah Dia
Tuhan, Sang Hidup. (QS. 2: 255)

32

Thosin Al Masyi-ah | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 8

Thosin Al Tauhid
(Keesaan)

1. Dia Allah, Sang Maha Hidup (Al-Hayy).


2. Allah adalah Sang Esa, Unik, Sendiri, dan saksi sebagai
yang Satu.
3. Sekaligus, Sang Esa dan kesaksian atas Penyatuan (Tawhid)
yang Satu, Adalah di Dia dan dari Dia.
4. Dari-Nya datang jarak pemisah (makhluk) yang lain dari
Penyatuan-Nya, dan itu dapat dilambangkan demikian ini:
[Tauhid terpisah dari Allah, dan simbol wahdaniyah ini
dilambangkan oleh Alif ( ) panjang, dengan sejumlah dal
( ) di dalamnya. Adapun Alif-nya ( )merupakan Zat, dan
dal-nya ( ) sebagai Sifat.]
5. Pengetahuan Tauhid adalah sebuah ikhtisar kesadaran yang
mandiri, dan perlambangnya demikian ini: [Inilah Alif ()
purba-Nya Zat (Alif panjang) dengan alif-alif ( ) lainnya,
yang merupakan wujud-wujud makhluk, dan yang hidup di
atas Alif ( ) utama.]
6. Tauhid adalah sifat subyek makhluk yang melafalkan
ketauhidannya, dan bukan sifat sang Obyek yang tersaksikan
Satu.

AL HALLAJ | Thosin Al Tauhid

33

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

7. Apabila aku yang makhluk mengatakan aku, dapatkah aku


membuat-Nya juga mengatakan Aku? Tauhidku datang
dariku, dan bukan dari-Nya. Dia suci [munazzah] dariku dan
Tauhidku.
8. Bila aku mengatakan: Tauhid kembali ke ia yang
mengatakannya, maka aku membuatnya (Tauhid) sebagai
suatu makhluk.
9. Jika aku mengatakan: Tidak, Tauhid itu datang dari sang
Obyek yang tersaksikan, maka adakah hubungan yang
mengaitkan seorang peng-Esa (Tauhid) ke pernyataannya
tentang Penyatuan itu?
10.Andai kukatakan: Memang, Tauhid adalah hubungan yang
mengaitkan sang Obyek ke subyeknya, maka aku telah
mengarahkan hal ini ke sebuah ketentuan nalar!

34

Thosin Al Tauhid | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 9

Thosin Al Asrar fi al Tauhid


(Kesadaran Diri Dalam Tauhid)

1. Adapun perlambang Thasin Al Asrar fi al Tauhid :


Kesadaran-Diri dalam Tauhid adalah demikian ini: [Alif (
) panjang Penyatuan; Tauhid. Hamzah ( )kesadarandiri, beberapa di satu sisi dan beberapa lagi di sisi lainnya.
Ain ( )di awal dan akhir Zat.]
Kesadaran-diri itu berproses dari-Nya, kembali pada-Nya,
dan beredar di dalam-Nya. Kendati demikian, secara nalar
semuanya tidak penting (bagi-Nya).
2. Subyek sejatinya Tauhid berbolak-balik melintasi keragaman
subyek, sebab Dia tidak tercakup dalam subyek atau dalam
obyek ataupun dalam kata-ganti lainnya. Akhiran katabendanya juga tidak terliput pada Obyeknya. Kata-kepunyaan
ha-nya ( )adalah milik Ah-nya ( ) , dan bukan Ha ( )
lain, yang tidak membuat kita bertauhid.
3. Bila kukatakan tentang Ha ( )ini Wa-Ha () , yang
lainnya akan berseru padaku, Malangnya!
4. Itulah julukan, sebutan dan kiasan demonstrative yang
menembus (Tauhid) ini, sehingga kita dapat melihat Allah
melalui keadaan (hal) senyatanya.

AL HALLAJ | Thosin Al Asrar fi al Tauhid

35

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

5. Segenap peribadi insan seperti sebuah bangunan yang


tersusun rapi. Inilah ketentuannya, dan Penyatuan Alloh
(Tauhid) tidak terkecuali bagi ketentuan ini. Kendati
demikian, setiap ketentuan adalah batasan, dan sifat batasan
hanya berlaku bagi obyek-terbatas. Sebaliknya, obyek Tauhid
tidak mengakui pembatasan tersebut.
6. Kebenaran [al-Haqq] itu sendiri tidak lain dari singgasana
Allah, bukannya Zat Allah.
7. Dikatakan, Tauhid tidak mencapai (Kebenaran) itu, karena
peran kebahasaan dari suatu istilah dan pengertiannya yang
pas, tidak berpadu satu sama lain, ketika menyangkut sebuah
imbuhan. Kalau begitu, bagaimana dapat semua berpadu,
ketika menyangkut Allah?
8. Kalau kukatakan: Tauhid terpancar dari-Nya, maka aku
menggandakan Zat Ilahi, dan membuat pancaran dari Dirinya
sendiri, ada bersama dengan-Nya, ada ataupun tiada
Zatnya secara bersamaan.
9. Andai kukatakan bahwa ada-nya tersembunyi di dalam
Allah, dan Dia mengejawantahkannya. Bagaimana itu
tersembunyinya, sedangkan di (Allah) sana tidak ada
bagaimana atau apa ataupun ini-itu, dan di sana juga
tidak ada tempat [dimana] yang memuat Dia.
10.Sebab, di dalam ini-itu adalah ciptaan Allah, sebagaimana
adanya di mana.
11.Adapun yang mendukung suatu aksi (aksiden) bukannya
tanpa substansi. Dan, yang tidak terpisahkan dari jasad
bukannya tanpa unsur jasad. Juga yang tidak terpisahkan dari
36

Thosin Al Asrar fi al Tauhid | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

ruh bukannya tanpa unsur ruh. Karena itu, Tauhid merupakan


sebuah perpaduan (spiritual).
12.Kita kembali dulu, di luar semua itu, ke pokok masalah
[Obyek kita] dan memisahkannya dari kalimat tambahan,
pemaduan, penghitungan, peleburan dan penyifatan.
13.Lingkaran pertama [pada diagram berikutnya] terdiri atas
tindakan Allah, yang kedua terdiri atas tiruannya (tindakan).
Dan, inilah dua lingkaran (makhluk) ciptaan.
14.Sedangkan (lingkaran) titik-pusat melambangkan Tauhid,
tetapi bukan (sebenarnya) Tauhid. Kalau tidak, bagaimana
mungkin itu terpisahkan dari lingkaran?

AL HALLAJ | Thosin Al Asrar fi al Tauhid

37

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 10

Thosin Al Tanzih
(Kesucian, Keterbebasan)

1. Inilah lingkaran qiyas (alegori) Tauhid, dan inilah sosok


perlambangnya:
2. Inilah kesemestaan yang dapat memperlihatkan kepada kita
mengenai fatwa dan hukum (Tauhid), juga buat para pakar,
ahli ibadah dan ahli madzhab, ahli fiqih dan ahli kalam.
3. Lingkaran pertama adalah perasaan harfiah, yang kedua
adalah rasa batin, dan yang ketiga adalah kias ruh (yang
tidak terkiaskan).
4. Itulah keseluruhan segala sesuatu, yang dicipta ataupun
digubah, yang dipakai, ditapis, disaring, disangkal, yang
dibuai ataupun dibius.
5. Ia beredar dalam kata-ganti kami subyek-subyek pribadi.
Seperti sebatang panah, ia menembusi sekujur mereka,
melengkapinya, mengejutkannya, dan membalikkannya. Ia
juga menakjubkan mereka, meneranginya, dan ia
mempesonakannya saat menemui mereka.
6. Itulah keseluruhan substansi dan kualitas makhluk. Adapun
Allah tidak berhubungan dengan perumpamaan ini.
38

Thosin Al Tanzih | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

7. Kalau kukatakan: Ia adalah Dia, pernyataan itu bukanlah


(refleksi) Tauhid.
8. Bila kukatakan bahwa Tauhid Alloh itu shahih, orang akan
menjawabku Tidak sangsi lagi!
9. Andai kukatakan tanpa waktu, orang akan bertanya:
Adakah maknanya Tauhid itu tamsil? Padahal, tidak ada
perbandingan saat menggambarkan Allah. Tauhidmu itu tidak
ada hubungannya dengan Allah ataupun makhluk, sebab
faktanya mengungkapkan bahwa sejumlah waktu itu
mengintrodusir kondisi terbatas. Dalam hal ini, kau telah
menambahkan pengertian pada Tauhid, seolah (Tauhid) itu
bergantung. Bagaimanapun, kebergantungan bukanlah sifat
Allah. Zat-Nya itu Unik. Dan, sekaligus, baik Kebenaran
maupun apa yang gaib, tidak mungkin terpancar (keluar) dari
Zat-Nya Zat.
10.Jika kukatakan: Tauhid adalah Firman itu sendiri, Firman
adalah sifatnya Zat, bukan Zat itu sendiri.
11.Jika kukatakan: Tauhid maknanya Allah berhasrat sebagai
yang Satu, Kehendak Ilahi adalah sifatnya Zat, sedangkan
hasrat adalah makhluk.
12.Jika kukatakan: Allah adalah Tauhidnya Zat yang
dinyatakan pada dirinya sendiri, maka aku membuat Zat
bertauhid, yang bisa menjadi pergunjingan kita.
13.Jika kukatakan: Tidak, ia (Tauhid) bukan Zat, lalu
dapatkah aku menyatakan bahwa Tauhid adalah makhluk?

AL HALLAJ | Thosin Al Tanzih

39

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

14.Jika kukatakan: Nama dan obyek yang dinamai itu Satu,


maka apakah pengertian (nama) yang dikandung Tauhid?
15.Jika kukatakan: Allah adalah Allah, maka adakah aku
mengatakan bahwa Allah adalah zatnya-Zat, dan ia
(Tauhid) adalah Dia?
16.Inilah Tha-Sin yang membicarakan tentang penyangkalan
atas alasan-alasan sekunder, dan inilah lingkaranlingkarannya, dengan La ( )yang tertulis di sini sebagai
sosoknya:
17.Lingkaran pertama adalah pra-Kelanggengan, yang kedua
Keterang jelasannya, yang ketiga Dimensinya, dan yang
keempat Berpengetahuannya.
18.Adapun Zat bukannya tanpa sifat.
19.Sang penempuh (lingkaran) pertama membuka Gerbang
Pengetahuan, dan tidak bertemu. Yang kedua membuka
Gerbang Penyucian, dan tidak bertemu. Yang ketiga
membuka Gerbang Pemahaman, dan tidak bertemu. Yang
keempat membuka Gerbang Pemaknaan, dan tidak bertemu.
Tidak seorang pun ketemu Alloh dalam Zat-nya atau dalam
Kehendak-Nya, tidak dalam pembicaraan, apalagi dalam Dianya Dia Sejati.
20.Maha Besar Allah, yang Maha Suci, yang dengan kesucianNya tidaklah Dia terjangkau oleh segenap cara (thariqah)
sang arif, apalagi oleh segenap intuisi orang kebatinan.
21.Inilah Tho-Sin tentang Nafi-Itsbat (Penyangkalan dan
Penegasan) dan inilah penjabarannya:
40

Thosin Al Tanzih | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

22.Rumus pertama membicarakan pikiran orang kebanyakan


(amm), yang kedua pemikiran orang terpilih (khasysy). Dan,
lingkaran yang menggambarkan Ilmu Allah ada di antara
keduanya. Adapun La ( )yang tertutup lingkaran adalah
penyangkalan atas segenap dimensi. Dua ha-nya ( )adalah
perangkatnya, seperti pilar dua sisinya Tauhid, yang
menopangnya ke atas. Di luar itu berawal ketergantungan
(makhluk).
23.Pikiran orang kebanyakan tercebur ke samudera khayal, dan
pemikiran orang terpilih (tercebur) ke samudera kearifan.
Tetapi, dua samudera itu akan mengering, dan jalan yang
mereka tandai akan terhapus. Pikiran dan pemikiran itu akan
lenyap, dua pilarnya akan runtuh, dua alam maujudnya akan
hancur, juga pembuktiannya serta pengetahuannya akan
musnah.
24.Sedangkan di hadirat Keilahian Allah, Dia tetap Ada,
mengatasi sekalian makhluk yang bergantung. Segenap puji
bagi Allah, yang tidak terjangkau oleh alasan sekunder.
Bukti-nya sangat kuat, dan kuasa-Nya sangat agung. Dia,
Tuhan Sang Kemegahan dan Keagungan serta Kemuliaan.
Maha Satu yang Tiada-Terbilang dengan kesatuan aritmetis.
Tiada patokan, hitungan, awalan atau akhiran yang
menjangkau-Nya. Wujud-Nya Tiada-Terbayang karena Dia
bebas dari maujud. Dia Sendiri saja yang mengetahui DiriNya, Penguasa Keluasan dan Keluhuran (QS. 55: 27),
Pencipta (Al-Khaliq) ruh dan jasad.

AL HALLAJ | Thosin Al Tanzih

41

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 12

Thosin: Pencapaian Sang Laron

Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar.


Lalu ia kembali ke rekan-rekannya, dan menceritakan
keadaan (hal) spiritualnya dengan ungkapan yang penuh kesan.
Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api
dalam hasratnya untuk mencapai
Penyatuan (Tauhid) yang sempurna.
Cahayanya nyala api itu adalah Pengetahuan hakikat,
panasnya adalah Kenyataan hakikat,
dan Penyatuan dengannya adalah Kebenaran hakikat.
Ia merasa tidak puas dengan cahayanya
ataupun dengan panasnya,
sehingga ia melompat ke dalam nyala api langsung.
Sementara itu rekan-rekannya menantikan kedatangannya,
supaya ia menceritakan kepada mereka
tentang 'penglihatan' aktualnya,
karena ia merasa tidak puas dengan kabar angin saja.
Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam kepingan-kepingan,
yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda pengenal!
Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat
kembali ke rekan-rekannya?
Dan keadaan (hal) spiritual apa yang tengah
dicapainya sekarang?
Ia yang sampai pada pandangan (bashirah) batin,
niscaya sanggup terlepas dari perkabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin,
tidak lebih prihatin tentang pandangan batinnya...
(Dari Fragmen "THAWASIN" Al-Hallaj)
42

Thosin: Pencapaian Sang Laron | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 13

Thosin Titik Azali

(Sebuah Fragmen dalam Thowasin Al-Hallaj)


... aku 'melihat' Tuhanku dengan mata hatiku, ...
aku menyapa: "Siapakah Engkau?"
Dia menjawab: "Kau!"
namun, bagiku, 'di mana' tak memiliki tempat,
dan tak ada 'di mana' ketika perhatian menyangkut-Mu,
akal pun tak punya bayangan
tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu,
yang mengizinkan akal mengetahui
'di mana' Engkau adanya...
Engkau adalah 'Sesuatu'
yang meliputi setiap 'di mana',
mengatasi 'Titik' yang 'tak-di mana-mana'.
jadi, 'di mana'-kah Engkau adanya...?

AL HALLAJ | Thosin Titik Azali

43

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

ANA AL HAQ
SYAIR AL-HALLAJ

Aku adalah Dia yang kucinta dan


Dia yang kucinta adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia,
dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku
Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya,
membukakan rahasia cahaya
ketuhanan-Nya yang gemilang.
Kemudian kelihatan baginya mahluk-Nya,
dengan nyata dalam bentuk manusia
yang makan dan minum
Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku,
sebagaimana anggur disatukan dengan air murni.
Jika sesuatu menyentuh Engkau, ia meyentuhku pula,
dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.
Aku adalah rahasia Yang Maha Benar,
dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku
Aku hanya satu dari yang benar,
maka bedakanlah antara kami.
Sebelumnya tidak mendahului-Nya,
setelahtidak menyela-Nya,
daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal
keterdahuluan, dari tidak sesuai dengan Dia,
ketidak menyatu dengan dia,
44

Thosin Titik Azali | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Dia tidak mendiami Dia,


kala tidak menghentikan Dia,
jika tidak berunding dengan Dia,
atas tidak membayangi Dia,
dibawah tidak menyangga Dia,
sebaliknya tidak menghadapi-Nya,
dengan tidak menekan Dia,
dibalik tidak mengikat Dia,
didepan tidak membatasi Dia,
terdahulu tidak memameri Dia,
dibelakang tidak membuat Dia luruh,
semua tidak menyatukan Dia,
ada tidak memunculkan Dia,
tidak ada tidak membuat Dia lenyap,
penyembunyian tidak menyelubungi Dia,
pra-eksistensi-Nya mendahului waktu,
adanya Diamendahului yang belum ada,
kekalahan-Nya mendahului adanya batas.
Di dalam kemuliaan tiada aku,
atau Engkau atau kita,
Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu.

AL HALLAJ | Thosin Titik Azali

45

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

BAB 14

Tasauf Falsafi Al-Hallaj


(Biografi, Karya, Tasauf, dan Pemikiran)

Latar Belakang
Pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam
dengan jalan melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk
mencapai kesempurnaan marifat dan tauhid kepada Allah.
Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah pada abad tersebut
telah ditemukan, baik yang berupa berupa syair ataupun
pemikiran yang menunjukkan keanekaragaman kemungkinan
dalam kehidupan mistik, seperti halnya Al Ghazali, Dzun Nun
(859 M), Bayezid Bistami (874 M), dan Al Harith al Muhasibi
(857 M) dan Husein Ibn Mansur Al hallaj (858 M).
Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui
sebagai wacana keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa
konflik pemikiran yang tidak pernah habis dibahaskan, kerana
pihak-pihak yang berbeda pendapat tidak pernah saling bertemu
untuk memberikan klarifikasi dalam satu majlis, kecuali hanya
saling mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit
konflik politik kekuasaan yang serakah dan licik sejak dahulu.
Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang popular yang di
lontarkan oleh Husein Ibnu Al Hallaj "Ana al-Haq" dan juga tak
kalah populernya yaitu paham hulul.

46

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Peristiwa ini merubah pandangan masyarakat umum terhadap


kaum Sufi atau para Zahid yang menjalankan praktis
kerohaniannya dengan melakukan dzikir secara rutin, shalat
malam dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.
Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap perkembangan
ilmu tafsir yang menjadi nadi.

A. Biografi Al-Hallaj
Memiliki nama lengkap Abu al-Mughits al-Husein bin Mansur
bin Muhammad al-Baidawi . Beliau dilahirkan pada tahun 244 H
(858 M) di Thur bagian distrik Baida Persia, tempat orang-orang
Iran selatan yang telah terArabisasi yang merupakan sub camp
dari jund Basrah, dan kemudian menjadi pusat militer (dengan
sebuah pabrik pembuat koin uang untuk pasukan yang keluar dari
Shiraz ke Khurasan untuk memerangi Turki), sekarang berada di
wilayah Barat Daya Iran.
Beliau dibesarkan di Wasit dan Tustar yang dikenal sebagai
tempat perkebunan kapas dan tempat tinggal para penyortir kapas
. Ayahnya adalah seorang penyortir wool (hallaj), oleh karena itu
beliau diberi gelar al-Hallaj . Bersama ayahnya, al-Hallaj
berimigrasi ke sebuah pusat tekstil di Ahwaz dan Tustar.
Kakeknya, Muhammad adalah seorang penyembah api, pemeluk
agama Majusi sebelum ia masuk Islam. Ada yang mengatakan
bahwa al Hallaj berasal dari keturunan Abu Ayyub, sahabat
Rasulullah.
Sejak kecil al-Hallaj sudah banyak bergaul dengan orang-orang
sufi terkenal. Pada saat ia berumur 16 tahun, ia menetap di Tustar
dan berguru pada Sahl ibn Abdullah at-Tustury (wafat 896 M/
282 H), seorang sufi terkenal yang pernah belajar pada Sufyan at-

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

47

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Tsaury (Wafat 778 M/ 161 H) . Dua tahun kemudian ia


meninggalkan gurunya at-Tustury dan pindah ke Bashrah untuk
belajar kepada Sufi Amr al-Makki. Kemudian dia masuk ke kota
Baghdad dan belajar kepada al-Junaid al-Baghdadi. Al-Hallaj
pernah hidup dalam pertapaan dari tahun 873-879 M bersamasama dengan guru sufi al-Tustury, Amr al-Makki, dan Junaid alBaghdadi.
Setelah itu al-Hallaj pergi mengembara dari satu negeri ke negeri
lain, menambah pengetahuan dalam ilmu tasawuf, sehingga tidak
ada seorang syekh ternama yang tidak pernah dimintainya
nasehat. Al-Hallaj telah menunaikan ibadah haji tiga kali selama
hidupnya.
Dalam perjalanan dan pengembaraan serta pertemuannya dengan
ahli- ahli sufi itulah yang membentuk pribadi dan pandangan
hidup al-Hallaj sehingga dalam usia 53 tahun ia telah menjadi
pembicara ulama pada waktu itu karena paham tasawufnya yang
berbeda dengan yang lain.
Sampai-sampai seorang ulama fiqh terkemuka yang bernama Ibn
Daud al-Isfahani mengeluarkan fatwa yang mengatakan bahwa
paham dan ajaran al-Hallaj sesat. Atas dasar fatwa ini Al Hallaj
dipenjarakan. Tetapi setelah satu tahun dalam penjara, dia dapat
melarikan diri dengan pertolongan dari seorang penjaga yang
menaruh simpati padanya.
Dari Baghdad ia melarikan diri ke Sus di wilayah Ahwas. Disana
ia bersembunyi selama empat tahun. Namun pada tahun
301H/903M ia ditangkap kembali dan dimasukkan lagi ke dalam
penjara sampai delapan tahun lamanya. Akhirnya pada tahun
309/921M diadakanlah persidangaan ulama di bawah kerajaan
Bani Abbas di masa khalifah al-Muktadirbillah.
48

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309H jatuhlah hukuman kepadanya.


Dia dihukum mati dengan mula-mula dipukul dan dicambuk
dengan cemeti, lalu disalib, sesudah itu dipotong kedua tangan
dan kakinya, dipenggal lehernya dan ditinggalakan tergantung
pecahan-pecahan tubuhnya itu di pintu gerbang kota Baghdad.
Kemudian dibakar tubuhnya dan abunya dihanyutkan di sungai
Dajlah.
Dalam riwayat lain diceritakan secara lebih mendetail mengenai
jalannya eksekusi ekstra tragis yang diterima al-Hallaj. AlHallaj tengah dipecut (disebat) seribu kali tanpa mengaduh
kesakitan. Sesudah dipecut, kepalanya dipenggal, tapi sebelum
dipancung dia sempat shalat 2 rakaat. Kemudian kaki dan
tangannya dipotong. Badannya digulung ke dalam tikar bambu,
direndamkan ke naftah dan kemudian dibakar. Abu mayatnya
dihanyutkan ke sungai sedangkan kepalnya di bawa ke Khurasan
untuk dipersaksikan oleh umat Islam dan sejarahnya.
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa ketika proses hukuman
mati al-Hallaj, algojo-algojo menaikkan al-Hallaj ke atas menara
yang tinggi, kemudian dikerumuni orang banyak yang datang
dari berbagai penjuru yang diperintahkan untuk melempari batu
kepadanya.
Ketika itu dia selalu mengulang-ulang kalimat yang
menyebabkan ia dijebloskan ke dalam penjara dan hukuman
mati, yaitu Ana Al Haqq (aku adalah Yang Maha benar). Dan
ketika disuruh untuk membaca syahadat, dia berteriak seraya
berseru kepada Allah: Sesungguhnya wujud Allah itu telah
jelas, tidak membutuhkan penguat semacam syahadat.
Ketika dipukul oleh para algojo, al-Hallaj tersenyum. Setelah
selesai memukulnya, mereka memotong tangan dan kakinya,
diapun menerimanya dengan tersenyum, bahkan dia sempat

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

49

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

mengoleskan darah potongan tangannya ke mukanya seakanakan dia berwudhu dengan darah sucinya itu. Setelah itu para
algojo memotong lidah dan mencukil matanya. Pada saat itu dia
berisyarat, seakan-akan memintakan ampun bagi para algojo
kepada Allah Mereka semua adalah hambaMu, mereka
berkumpul untuk membunuhku karena fanatik terhadap
agamaMu dan untuk mendekatkan diri kepadaMu. Maka
ampunilah mereka. Andaikata Kau singkapkan kepada mereka
apa yang Kau singkapkan kepadaku, tentu mereka tidak akan
melakukan apa yang mereka lakukan sekarang ini.
Al-Hallaj adalah seorang alim dalam ilmu agama Islam.
Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Suraij, ia adalah seorang yang
hafal al-Quran beserta pemahamannya, menguasai ilmu fiqh dan
hadist serta tidak diragukan lagi keahliannya dalam ilmu tasawuf.
Beliau merupakan seorang zahid yang terkenal pada masanya,
dan masih banyak lagi sifat kesalehannya.

B. Karya Karya Al-Hallaj


Ibnu nadim seorang ahli riwayat ternama, yang banyak sekali
membicarakan al-Hallaj dan menentang pendiriannya, mencatat
bahwa karya-karya al-Hallaj tidak kurang dari 47 buah
banyaknya. Diantaranya adalah: 1. Al Ahruful muhaddasah, wal
azaliyah, wal asmaul kulliyah. 2. Kitab Al Ushul wal Furu. 3.
Kitab Sirrul Alam wal mabuts. 4. Kitab Al Adlu wat Tauhid. 5.
Kitab Ilmul Baqa dan Fana. 6. Kitab Madhun Nabi wal Masaul
Alaa. 7. Kitab Hua, Hua.

8. Kitab At Thawwasin.
Kedelapan kitab ini adalah yang terpenting di antara 47 kitab itu.
Menurut at-Taftazani, kitab At-Thawasin merupakan kitab alHallaj yang paling lengkap dalam menggambarkan paham
tasawufnya. Susunan bahasanya sangat sulit dipahami, sehingga
mungkin banyak pembaca tidak mengerti apa yang dimaksudkan
50

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

penulisnya. Disamping itu, kitab tersebut berisi rumus-rumus dan


istilah-istilah yang tidak gampang dimengerti.

C. Filsafat Al-Hallaj
Inti ajaran al-Hallaj telah dinyatakan dalam bentuk syair
(Tawasin) dan juga kadang dalam prosa (Natsar), dalam susunan
kata-kata yang mendalam di sekililing tiga hal, yaitu :
1. Hulul ketuhanan (lahut) menjelma kedalam diri insan
(nasut).
Secara etimologi Hulul memiliki sinonim dengan infusion yang
bermakna penyerapan yakni menyerap keseluruh obyek yang
dapat menerimanya (the infusion spreads to all part of the
receptive object). Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil
tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah
dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana.
Menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi dalam al-Luma
sebagaimana dikutip Harun Nasution, hulul adalah paham yang
mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu
untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat kemanusiaan
yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Paham hulul dapat
dikatakan sebagai lanjutan atau bentuk lain dari faham al-ittihad
yang dipopulerkan oleh Abu Yazid al-Bustami (874 M/ 261 H).
Tetapi dua konsep ajaran ini berbeda. Dalam ajaran al-ittihad,
diri manusia lebur dan yang ada hanya diri Alloh Subhanahu Wa
Ta'ala. Sedangkan dalam konsep hulul, diri manusia tidak hancur.
Dalam konsep al-ittihad yang dilihat satu wujud, sedangkan
dalam konsep ajaran hulul disana ada dua wujud tetapi bersatu
dalam satu tubuh . Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia
hanya melihat diri-Nya sendiri.

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

51

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Dalam kesendirian-Nya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan


diri-Nya sendiri, yaitu dialog yang di dalamnya tidak terdapat
kata ataupun huruf. Yang dilihat Allah hanyalah kemuliaan dan
ketinggian zat-Nya.
Allah melihat kepada dzat-Nya dan Ia pun cinta pada zat-Nya
sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan, dan cinta inilah yang
menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini.
Ia pun mengeluarkan dari yang tiada bentuk copy dari diri-Nya
yang mempunyai sifat dan nama-Nya. Bentuk copy ini adalah
Adam. Setelah menjadikan Adam dengan cara itu, Ia memuliakan
dan mengagungkan Adam. Ia cinta pada Adam, dan pada diri
Adam Allah muncul dalam bentuk-Nya.
Teori ini nampak dalam syairnya:
#
#
Maha suci dzat yang sifat kemanusiaannya
membuka rahasia Ketuhanan-Nya yang gemilang
Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata
Dalam bentuk manusia yang makan dan minum
Melalui syair diatas, tampaknya al-Hallaj memperlihatkan bahwa
Allah memiliki dua sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan (lahut) dan
sifat kemanusiaan (nasut). Demikian pula pada diri manusia juga
terdapat dua sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan (lahut) dan sifat
kemanusiaan (nasut).
Dengan demikian maka manusia mempunyai sifat ketuhanan
dalam dirinya. Yang demikian ini merupakan bentuk pemahaman
al-Hallaj dalam menafsirkan Q.S. Al-Baqarah ayat 34 yang
berbunyi : dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para
Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah
52

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia


Termasuk golongan orang-orang yang kafir.
[36] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam,
bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud
memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.
Allah memberi perintah kepada malaikat agar bersujud kepada
Adam.
Karena yang berhak untuk diberi sujud hanya Allah, maka alHallaj memahami bahwa dalam diri Adam (manusia) sebenarnya
terdapat unsur ketuhanan. Disisi lain, hal ini (sujud) dikarenakan
pada diri Adam, Allah menjelma sebagaimana Dia menjelma
dalam diri Isa as. Kalau sifat-sifat kemanusian itu telah hilang
dan yang tinggal hanya sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya, disitu
baru Tuhan dapat mengambil tempat dalam dirinya. dan ketika
itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh manusia,
sebagaimana diungkapkannya dalam syair berikut :
#
#
#
#
Telah bercampur rohMu dalam rohku
Laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih
Bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah Aku Sebab itu,
Engkau adalah Aku, dalam segala hal
Aku adalah ia yang kucintai dan ia yang ku cintai adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh
Jika engkau lihat aku, engkau lihat ia
Dan jika engkau lihat ia, engkau lihat kami.
Berdasarkan syair diatas, dapat diketahui bahwa persatuan antara
Tuhan dengan manusia dapat terjadi dengan mengambil bentuk

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

53

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

hulul. Yakni dengan terlebih dahulu menghilangkan sifat


kemanusiaannya (nasut). Setelah sifat-sifat kemanusiaannya
hilang dan hanya tinggal sifat ketuhanan (lahut) yang ada pada
dirinya, disitulah Tuhan mengambil tempat dalam dirinya, dan
ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh
manusia.
Menurut al-Hallaj, pada hulul terkandung kefanaan total
kehendak manusia dalam kehendak ilahi, sehingga setiap
kehendaknya adalah kehendak Tuhan, demikian juga
tindakannya.
Namun disisi lain al-Hallaj mengatakan:
Keinsananku tenggelam kedalam ketuhanan-Mu, tetapi
tidaklah mungkin percampuran. Sebab ketuhanan-Mu itu
senantiasa menguasai akan keinsananku. Barangsiapa yang
menyangka bahwa ketuhanan bercampur keinsanan jadi satu,
atau keinsanan masuk kedalam ketuhanan, maka kafirlah dia.
Sebab Tuhan itu bersendiri dalam zat-Nya dan sifat-Nya daripada
makhluk dan sifat-Nya pula. Tidaklah Tuhan serupa dengan
manusia dalam rupa bentuk yang mana jua pun.
Dengan demikian, al-Hallaj sebenarnya tidak mengakui bahwa
dirinya adalah Tuhan dan juga tidak sama dengan Tuhan.
Seperti yang terlihat dala syairnya:



#
Aku adalah yang Maha Benar
Dan bukanlah yang Maha benar itu aku
Aku hanya satu dari yang Maha Benar
Maka bedakanlah aku dari yang Maha Benar
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat ditarik sebuah
kesimpulan bahwa hulul yang terjadi pada al-Hallaj tidaklah
54

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

nyata karena membari pengertian secara jelas bahwa adanya


perbedaan antara hamba dengan Tuhan.
Dengan demikian, hulul yang terjadi hanya sekedar kesadaran
psikis yang berlangsung pada kondisi fana, atau sekedar
terlebarnya nasut kedalam lahut, dan diantara keduanya tetap ada
perbedaan.
Untuk lebih memahami doktrin hulul ini, lebih jelasnya dapat
merujuk kepada rangkaian penjelasan al-Hallaj berikut ini :
Siapa yang membiasakan dirinya dalam ketaatan, sabar
atas kenikmatan dan keinginan, maka ia akan naik ketingkat
muqarrabin. Kemudian ia senantiasa suci dan meningkat terus
hingga terbebas dari sifat-sifat kemanusiaan ini. Apabila sifatsifat kemanusiaan dalam dirinya lenyap, maka roh Tuhan akan
mengambil tempat dalam tubuhnya sebagaimana ia mengambil
tempat pada diri Isa bin Maryam. Dan ketika itu seorang sufi
tidak lagi punya kehendak kecuali apa yang dikehendak oleh ruh
Tuhan sehingga seluruh perbuatannya merupakan perbuatan
Tuhan . Air tidak dapat menjadi anggur meskipun keduanya telah
bercampur aduk .
2. Al-Haqiqah al-Muhammadiyah (Nur Muhammad)
Menurut al Hallaj Nur Muhammad merupakan asal atau sumber
dari segala sesuatu , segala kejadian, amal perbuatan dan ilmu
pengetahuan . Dan dengan perantaraan Nur Muhammad itulah
alam ini dijadikan. Nur Muhammad bisa diartika juga sebagai
pusat kesatuan alam dan pusat kesatuan nubuwwat segala Nabi.
Dan nabi-nabi itu, nubuwwat-nya ataupun dirinya hanyalah
sebagian dari Nur Muhammad itu. Segala macam ilmu, hikmat
dan nubuwwat adalah pancaran dari Nur Muhammad.

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

55

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Menurut Al Hallaj, kejadian Nabi Muhammad terbentuk dari dua


rupa. Pertama, rupanya yang qadim dan azali, yaitu dia telah
terjadi sebelum terjadinya segala yang ada ini. Kedua, ialah
rupanya sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan Nabi yang
diutus Tuhan. Rupanya sebagai manusia akan mengalami maut,
tetapi rupanya yang qadim akan tetap ada meliputi alam.
Paham tentang Nur Muhammad ini berdasar pada hadis yang
sangat populer di kalangan ahli sufi, yaitu :
Aku berasal dari cahaya Tuhan dan seluruh dunia berasal dari
cahayaku.
Dan paham ini kemudian dikembangkan dan disebarluaskan oleh
Muhyiddin Ibnu Arabai (w638H) dan Abd.al Karim bin Ibrahim
al Jili (w.811H) dalam kerangka ide Insan Kamil. Dalam teori
kejadian alam dari Nur Muhammad ini nampak adanya pengaruh
ajaran filsafat. Kalau dalam filsafat Islam, teori terjadinya alam
semesta diperkenalkan oleh al Farabi dengan mentransfer teori
emanasi Neo Platonisme Plotinus, maka dalam tasawuf teori ini
mula-mula diperkenalkan oleh al Hallaj dengan konsep barunya
yang disebut Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammadiyah
sebagai sumber dari segala yang maujud.
3. Wahdah al adyan (Kesatuan agama-agama)
Inti ajaran dari Wahdah al adyan adalah sebenranya nama agama
yang berbagai macam, seperti Islam, Nasrani, Yahudi dan yang
lain-lain hanyalah perbedaan nama dari hakikat yang satu saja.
Nama berbeda, satu tujuan. Segala agama adalah agama Allah
maksudnya ialah menuju Allah.
Orang memilih suatu agama, atau lahir dalam satu agama,
bukanlah atas kehendaknya, tetapi dikehendaki untuknya. Cara
ibadah bisa berbeda warnanya, namun isinya hanya satu.
56

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Paham Wahdah al-Adyan ini muncul sebagai konsekuensi logis


dari pahamnya tentang Nur Muhammad. Yakni pahamnya alHallaj tentang qadimnya Nur Muhammad telah mendorongnya
untuk berkesimpulan tentang kesatuan agama. Mengenai hal ini,
Abdullah bin Tahir al-Azdi mengatakan, sebagaimana
dicatatkan oleh al-Taftazani sebagai berikut:
Suatu hari aku bertengkar dengan orang yahudi di pasar
baghdad. Diapun ku maki: hai anjing. Ketika itu al-Hallaj lewat
dan memandangku dengan geram. Dan tegurnya: jangan kau
maki anjingmu. Dan diapun langsung pergi. Setelah pertengkaran
itu, aku mencari al-Hallaj. Namun ketika ku temui, dia
memalingkan wajahnya. Akupun meminta maaf kepadanya. Lalu
dia berkata: wahai sahabatku, semua agama adalah milik Alloh.
Setiap golongan menganut suatu agama tanpa adanya pilihan,
bahkan dipilihkan bagi mereka. Kerena itu, barangsiapa
menyalahkan apa yang dianut golongan itu sama saja halnya dia
telah menghukumi golongan tersebut menganut agama atas
upayanya sendiri. Ketahuilah ! agama-agama yahudi, islam dan
yang lain-lainya adalah sebutan serta nama yang beraneka ragam
dan berbeda. Akan tetapi tujuan tujuan semuanya tidak berbeda
.
Tidak ada faedahnya seseorang mencela orang yang berlainan
agama dengan dia, karena itu adalah takdir (ketentuan) Tuhan
buat orang itu. Tidak ada perlunya berselisih dan bertingkah.
Tetapi lebih baik perdalamlah agama masing-masing.

D. Pendapat Ulama Mengenai Pemikiran Al Hallaj


Berbagai macamlah perkataan ulama tentang al-Hallaj. Sebagian
mengkafirkan dan sebagian yang lain membela atau
membenarkan. Beberapa perkataan, terutama dari pihak masa
kekuasaan pada masa itu tersiar bahwa ajaran al-Hallaj sangat
merusak ketentraman umum. Murid-muridnya sampai ada yang
menyangka bahwa al-Hallaj adalah Tuhan, sebagaimana

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

57

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

prasangkaan orang nasrani terhadap diri isa al-masih. Dia


dianggap pandai menghidupkan orang mati, menyembuhkan
orang sakit kusta. Muridnya kian lama kian banyak. Dan setelah
diselidiki oleh penyelidik kerajaan, katanya dia mengadakan
hubungan yang rapat dengan kaum karamithah, yaitu segolongan
umat di abad ketiga dan keempat yang menyerupai faham
komunis di indonesia. Sebab itu dia tidak mau mengakui
kekuasaan pemerintahan yang sah. Dia mengakui sebagian
kepercayaan kaum ismailiyyah bahwa imam yang sejati ialah
imam yang ghaib.
Dan lagi menurut berita yang tersiar itu pula beliau menfatwakan
bahwasannya naik haji yang lahir pergi ke mekkah itu tidaklah
perlu dikerjakan. Sebab itu hanya memayah-mayahkan diri saja.
Itu boleh diganti dengan haji yang lain, yaitu dengan haji rohani,
dengan membersihkan diri dan jiwa dan tafakur mengingat
Tuhan dalam khalwat, sehingga kabah itu sendirilah yang datang
kedalam khalwatnya menemuinya. Disanapun dia boleh
berthawaf. Memang, banyak di antara ulama yang tidak bisa
menerima ajaran tasawuf yang diajarkan oleh Al Hallaj ini, tetapi
tidak sedikit pula para ulama yang sependapat dan membelanya.
Kebanyakan Ulama fiqih mengkafirkannya. Dengan alasan
bahwasanya mengatakan bahwa diri manusia bersatu dengan
Tuhan adalah syirik yang amat besar. Oleh karena itu Ibn at
Taymiyah, Ibn al Qayyim, Ibn an Nadim dan lain-lain
berpendapat bahwa hukuman mati yang ditimpakan kepada Al
Halaj memang patut diterimanya.
Tetapi ulama-ulama fiqih yang lain seperti Ibnu Syuraih seorang
ulama yang sangat terkemuka dari mazhab Malik, memberikan
komentar: "Ilmuku tidak mendalam tentang dirinya, karena itu
saya tidak bisa berkata apa-apa". Pembela-pembela Al Hallaj
58

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

menjernihkan ajarannya dari apa yang dituduhkan orang


kepadanya.
Syaikh Abdurrahman As Saqqaf salah seorang Syaikh tarikat
Alawiyah, mengatakan bahwa dia sebelumnya menyangka pada
diri Al Hallaj ada keretakan karena sikapnya, seperti keretakan
pada kaca, tetapi setelah sampai pada maqam al qutbiyyah dia
melihat bahwa Al Hallaj telah mencapai tingkat bila diandaikan
buah dia telah matang.
Imam Al Ghazali ketika ditanyai bagaimana pendapatnya tentang
perkataan "ana al haq?". Beliau menjawab," Perkataan demikian
yang keluar dari mulutnya adalah karena sangat cintanya kepada
Alloh. Apabila cinta sudah demikian mendalamnya, tidak ada
lagi rasa berpisah antara diri seseorang dengan seseorang yang
dicintainya".
Sehingga beliau, Jalaludin Rumi, dan Fariduddin al Attar
memberinya julukan "Syahidul Haq" (seorang syahid yang
benar). Beliau syekh Maftuh Basthul Birri salah satu masyayikh
di ponpes Hidayatul Mubtadiin (lirboyo) dalam bukunya yang
berjudul Manaqib 50 Wali Agung mengatakan Syekh al-Hallaj
ini tinggi sekali marifat dan ilmu haqiqatnya, jadzab dan
cintanya dengan Alloh seperti imam Abu Yazid al-Bustomi,
sehingga beliau pernah berkata ANAL HAQ. Maka banyak orang
yang ingkar karena tidak sampai kefahamannya.
Kesimpulan.
1. Al-Hallaj merupakan seorang ahli sufi, filsuf, dan sekaligus
wali Allah yang hidup pada masa khalifah al-muktadir billah dan
beliau wafat karena dihukum mati untuk mempertanggung
jawabkan ajarannya yang dianggap sesat oleh beberapa ulama
khususnya fuqoha pada masa itu.

AL HALLAJ | Tasauf Falsafi Al-Hallaj

59

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

2. Al-Hallaj tidak melakukan dosa terhadap kebenaran, tetapi


beliau dihukum karena tindakannya yang dipandang bertentangan
dengan hukum. Beliau membuka rahasia tentang Tuhan dengan
mengemukakan segala yang dianggap misteri tertinggi yang
selayaknya hanya boleh diketahui oleh orang-orang terpilih saja.
3. Ajaran al-Hallaj yang mashur adalah hulul (ketuhanan (lahut)
menjelma ke dalam diri insan (nasut)), al-haqiiqah almuhammadiyyah (nur Muhammad), dan wahdatul adyan
(kesatuan semua agama).
4. Al-Hallaj mengatakan bahwa tidak ada pemisahan antara
Tuhan dengan makhluk-Nya sebagaimana dengan kesatuan ilahi
yang melingkupi makhluk-Nya. Yang berbicara Ana Al-Haq
bukanlah al-Hallaj pribadi, melainkan Tuhan sendiri melalui
mulut al-Hallaj.

60

Tasauf Falsafi Al-Hallaj | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Catatan
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................

AL HALLAJ | UCatatan

61

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Catatan
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................

62

UCatatan | AL HALLAJ

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Catatan
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................

AL HALLAJ | UCatatan

63

Terjemahan dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut oleh adebenmahmod

AT THOWASIN AL AZAL - Syeikh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

Catatan
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................

64

UCatatan | AL HALLAJ