Anda di halaman 1dari 10

13

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kanker Serviks


Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel skuamosa.
Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks, suatu daerah pada organ
reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim
(uterus) dan liang senggama atau vagina (Notodiharjo, 2002). Kanker serviks adalah
kanker yang tumbuh di dalam serviks yaitu suatu daerah yang terdapat pada organ
reproduksi wanita, yang merupakan pintu masuk kearah rahim (uterus), dengan
vagina (Marjikoen, 2007). Kanker serviks adalah pertumbuhan jaringan abnormal
yang tidak terbendung dalam serviks dari uterus. Pertumbuhan abnormal ini bersifat
hipertrofi (peningkatan ukuran sel), hyperplasia (peningkatan jumlah sel), anaplasia
(perubahan bentuk sel), dan jaringan yang tidak berfungsi, serta bersifat agresif
menyerang jaringan sekitar dengan bersaing untuk mendapatkan suplai darah dan
menyebabkan kerusakan langsung pada jaringan sehat di sekitarnya (Marcovic,
2008).
Jadi kanker serviks adalah pertumbuhan abnormal sel yang terjadi pada leher
rahim atau serviks yang terletak antara rahim dan vagina serta bersifat agresif
menyerang jaringan sekitarnya.

14

2.2 Penyebab Kanker Serviks


Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV).
Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang sudah dapat teridentifikasi yang 40 di antaranya
dapat ditularkan lewat hubungan seksual. Beberapa tipe HPV virus risiko rendah
jarang menimbulkan kanker, sedangkan tipe yang lain bersifat virus risiko tinggi.
Baik tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya HPV tipe risiko tinggi yang dapat
memicu kanker. Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan
seksual adalah tipe 7, 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan
mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain. Beberapa penelitian mengemukakan
bahwa lebih dari 90% kanker serviks disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Dari kedua tipe
ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker serviks. Seseorang yang
sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki kemungkinan terkena kanker serviks sebesar
5% (Rasjidi, 2007).

2.3 Penyebaran Kanker Serviks


Menurut Diananda (2007), proses penyebaran kanker serviks ada tiga macam
yaitu melalui pembuluh limfe (limfogen) menuju ke kelenjar getah bening, melalui
pembuluh darah (hematogen), dan penyebaran langsung ke parametrium, korpus
uterus, vagina, kandung kencing, dan rektum.

15

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kanker Serviks


Menurut Diananda (2007), faktor yang mempengaruhi kanker serviks
yaitu :
2.4.1

Usia
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin

tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker serviks.
Meningkatnya risiko kanker serviks pada usia lanjut merupakan gabungan dari
meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta
makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia. Hal ini juga disebabkan
karena kelompok umur tersebut merupakan golongan usia produktif, yaitu umur pada
saat seorang wanita sedang dalam kondisi aktif bereproduksi dan aktif berkarya
dalam rangka turut membangun bangsa. Seorang wanita yang sedang aktif berkarya
ada kemungkinan berkaitan dengan cara hidup (life style) dan perilaku seksual
(sexual life) mereka. Kenyataan demikian berhubungan dengan suatu keadaan di
mana seorang wanita yang telah berumur 35 tahun ke atas kemungkinan lebih mudah
untuk terkena suatu penyakit. Hal itu disebabkan adanya penurunan mekanisme
penyembuhan DNA dan mulai berkurangnya proses proliferasi sel, sehingga akan
menimbulkan risiko untuk berkembangnya suatu penyakit.
2.4.2

Usia pertama kali menikah dan berhubungan seksual


Menikah pada usia < 20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan

hubungan seksual dan berisiko terkena kanker serviks 10-12 kali lebih besar daripada
mereka yang menikah pada usia 20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan

16

setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat
dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa
yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa
baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi seorang wanita yang
menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah usia
16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada
usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan
terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar. Termasuk
zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah
sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan
tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang
mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa
berubah sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia
di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.
2.4.3

Wanita yang sering berganti pasangan.


Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin,

salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di
permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak dan tidak terkendali
sehingga menjadi kanker.
2.4.4

Kebersihan Genitalia
Kejadian kanker serviks salah satunya dipengaruhi oleh personal higiene

organ genital kurang. Semakin baik kondisi personal higiene organ genital seseorang

17

maka resiko kejadian kanker serviks lebih rendah dibandingkan dengan responden
dengan personal hygiene organ genital kurang. Jadi pada dasarnya ada hubungan
personal higiene organ genital dengan kejadian kanker serviks, semakin kurang
kebersihan seseorang dalam organ genital semakin cepat pula terinfeksi oleh virus.
Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik maupun
deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.
2.4.5

Perokok aktif atau pasif


Nikotin mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau

menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru, maupun serviks.


Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin yang
dikonsumsinya bisa menyebabkan kanker serviks. Risiko wanita perokok terkena 413 kali lebih besar dibandingkan wanita bukan perokok. Tembakau mengandung
bahan karsinogen, baik yang diisap sebagai rokok atau yang dikunyah. Asap rokok
mengandung nikotin. Wanita perokok, konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali
lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan tersebut pada leher
rahim akan menurunkan status imun lokal, sehingga dapat menjadi ko-karsinogen.
Hasil penelitian, bila merokok 20 batang setiap hari resiko untuk terkena kanker
serviks adalah tujuh kali dibanding orang yang tidak merokok. Bila merokok 40
batang setiap hari risiko untuk terkena kanker serviks adalah 14 kali dibanding orang
yang tidak merokok. Penelitian menyimpulkan bahwa semakin banyak dan lama
wanita merokok maka semakin tinggi risiko terkena kanker serviks.

18

2.4.6

Riwayat penyakit kelamin


Wanita yang terkena penyakit akibat hubungan seksual berisiko terkena virus

HPV, karena virus HPV diduga sebagai penyebab utama terjadinya kanker leher
rahim sehingga wanita yang mempunyai riwayat penyakit kelamin berisiko terkena
kanker serviks.
2.4.7

Paritas (jumlah kelahiran)


Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan jarak

persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan
yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena
penyakit kanker serviks. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan
berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya
dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus
(HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker serviks.
2.4.8

Penggunaan kontrasepsi oral


Penggunaan kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih dari

4 tahun dapat meningkatkan risiko kanker serviks 1,5-2,5 kali. Kontrasepsi oral
mungkin dapat meningkatkan risiko kanker serviks karena jaringan leher rahim
merupakan salah satu sasaran yang disukai oleh hormon steroid perempuan. Pil
kontrasepsi diduga akan menyebabkan defisiensi asam folat yang mengurangi
metabolisme mutagen sedangkan estrogen kemungkinan menjadi salah satu kofaktor
yang membuat replikasi DNA HPV. Penggunaan IUD dapat menyebabkan erosi
portio. IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat membentuk ion Ca,

19

kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi denaturasi / koalugasi
membaran sel dan terjadilah erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang IUD yang
menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan sel superfisialis terkelupas dan
terjadilah erosi portio. Dari posisi IUD yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang
non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang meningkat dan
menyebabkan kerentanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio. Dari semua
kejadian erosi portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis
menyebabkan metastase keganasan serviks.
2.4.9

Penggunaan pembalut
Pada saat haid pembuluh darah dalam rahim terbuka, karena itu mudah

terkena infeksi. Bila kebersihan vagina tidak dijaga, maka kuman akan mudah masuk
melalui vagina ke mulut rahim. Hal ini dapat menimbulkan infeksi pada saluran
reproduksi. Untuk menjaga kebersihan, penggunaan pembalut selama menstruasi
harus diganti secara teratur 4-5 kali sehari (Rasjidi, 2007). Menurut WHO, Indonesia
merupakan negara dengan penderita kanker mulut rahim no 1 di dunia dan 62% salah
satunya diakibatkan oleh penggunaan produk pembalut yang tidak berkualitas.
Pembalut yang diproduksi banyak mengandung zat dioxin yang berbahaya, serta tidak
dijamin steril, sehingga diduga dapat menyebabkan terjadinya gangguan organ
reproduksi perempuan. Ketika pembalut biasa dipakai, cairan yang sudah diserap
pembalut biasa akan bercampur dengan bahan kimia yang berbahaya dan bahan yang
tidak steril. Dan ketika duduk, cairan yang sudah bercampur tadi akan tertekan naik
keatas/keluar dari pembalut sehingga bisa masuk lagi ke organ kewanitaan. Sehingga

20

hal ini dapat memicu terjadinya infeksi organ kewanitaan dan juga bisa menimbulkan
masalah kewanitaan lainnya seperti keputihan, gatal-gatal di daerah kewanitaan, dan
kanker serviks.
2.4.10 Polusi
Bahan kimia untuk industri serta asap yang mengandung senyawa karbon
dapat meningkatkan kemungkinan seseorang menderita kanker. Penyebab utama
meningkatnya jumlah kanker di China disebabkan polusi udara, lingkungan, kondisi
air yang kian hari kian memburuk. Banyak perusahaan kimia dan industri yang
membuang limbahnya kesungai dengan mudah. Hal ini menyebabkan air yang ada di
sungai terkontaminasi oleh limbah yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang ada
disekitar sungai. Akibatnya air yang terkontaminasi tersebut secara langsung
berakibat terhadap tumbuh-tumbuhan dan makanan. Selain disebabkan oleh virus
HPV, sel-sel abnormal pada serviks juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau
pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama (Wijaya,
2010). Paparan polusi dalam penelitian ini berupa adanya paparan limbah / asap
pabrik / asap rokok dalam waktu yang lama dan ibu pernah menjalani pemeriksaan
sinar X seperti rontgen atau CT-scan sebelum mengalami kanker serviks. Menurut
teori, wanita yang pernah menjalani pemeriksaan radiasi seperti pemeriksaan X-Ray
atau rontgen memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita kanker karena adanya
paparan radiasi yang dapat menyebabkan perubahan sel sehat menjadi sel kanker.

21

2.4.11 Nutrisi
Para ilmuwan mendapatkan bahwa makanan-makanan tertentu adalah sumber
kanker. Makanan- makanan tersebut menjadi sumber kanker oleh sebab adanya zatzat kimia tertentu. Makanan yang dapat menyebabkan kanker adalah makanan yang
mengandung bahan pengawet buatan dan bahan pewarna buatan, pola makan yang
tidak teratur, makanan cepat saji yang marak beredar di Indonesia, dan kurang
mendapat asupan nutrisi.

2.5 Gejala Klinik Kanker Serviks


Menurut Dalimartha (2004), gejala dini kanker serviks adalah sebagai berikut :
1. Keputihan, makin lama makin berbau busuk.
2. Perdarahan setelah senggama yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan
yang abnormal, terjadi secara spontan walaupun tidak melakukan hubungan
seksual.
3. Sakit waktu hubungan seks.
4. Berat badan yang terus menurun.
5. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau
dan dapat bercampur dengan darah.
6. Anemia (kurang darah) karena perdarahan yang sering timbul.
7. Terjadi perdarahan pervagina meskipun telah memasuki masa menoupose.

22

8. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang
panggul. Apabila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan
terjadi hidronefrosis. Selain itu, nyeri dapat timbul di tempat-tempat lain.

2.6 Pencegahan Kanker Serviks


Sebagian besar kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat dan
menghindari faktor-faktor penyebab kanker meliputi (Dalimartha, 2004) :
1. Menghindari berbagai faktor risiko, yaitu hubungan seks pada usia muda,
pernikahan pada usia muda, dan berganti-ganti pasangan seks.
2. Wanita usia di atas 25 tahun, telah menikah, dan sudah mempunyai anak perlu
melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali atau menurut petunjuk
dokter.
3. Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan kondom,
karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker serviks.
4. Dianjurkan untuk berperilaku hidup sehat, seperti menjaga kebersihan alat
kelamin dan tidak merokok.
5. Memperbanyak makan sayur dan buah segar.