Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Karakteristik Responden

Tabel 4.1 Karakteristik Usia Pada Pasien Glaukoma Pre Operatif di Rumah Sakit
Mata Cicendo Bandung
Usia
Dewasa Dini 18-39
Madya 40-59
Lansia 60+
Jumlah

Frekuensi (f)
19
46
23
88

Prosentase (%)
21,60
52,27
26,13
100

Berdasarkan table 4.1 dapat diinterpretasikan bahwa hampir sebagian


besar dari responden (52,27%) yaitu pada usia madya sekitar umur 40-59 tahun
sebanyak 46 responden, kemudian sebagian kecil dari responden (21,60%) yaitu
pada usia dewasa dini sebanyak 19 responden.
Tabel 4.2 Karakteristik Jenis Kelamin Pada Pasien Glaukoma Pre Operatif di
Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah

Frekuensi (f)
60
28
88

Prosentase (%)
68,18
31,82
100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diinterpretasikan bahwa hampir sebagian


besar dari responden (68,18%) yaitu pada laki-laki sebanyak 60 responden,
kemudian hampir setengahnya dari responden (31,82%) yaitu pada perempuan
sebanyak 28 responden.
Tabel 4.3 Karakteristik Pekerjaan Pada Pasien Glaukoma Pre Operatif di Rumah
Sakit Mata Cicendo Bandung
48

49

Pekerjaan
PNS
Wiraswasta
Pensiunan PNS
Tidak Bekerja
Jumlah

Frekuensi (f)
19
17
38
14
88

Prosentase (%)
21,60
19,32
43,18
15,90
100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diinterpretasikan bahwa hampir setengahnya


dari responden (43,18) yaitu pada pensiunan PNS sebanyak 38 responden,
kemudian sebagian kecil dari responden (15,90%) yaitu pada responden yang
tidak bekerja sebanyak 14 responden.

Tabel 4.4 Karakteristik Pengalaman operasi Pada Pasien Glaukoma Pre Operatif
di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Pendidikan Terakhir
Belum Pernah
Sudah Pernah
Jumlah

Frekuensi (f)
35
9
44

Prosentase (%)
79,5
20,5
100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diinterpretasikan bahwa hampir sebagian


besar dari responden (79,5%) belum pernah melakukan operasi mata dengan
jumlah 35 responden, kemudian sebagian kecil dari responden (20,5%)
menyatakan sudah pernah operasi dengan jumlah 9 responden.

4.2 Hasil
4.2.1 Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Pasien Glaukoma Pre Operatif Di
Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

50

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Kecemasan Pada Pasien


Glaukoma Pre Operatif di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Tingkat
Normal
Ringan
Sedang
Berat
Sangat berat
Total

Frekuensi (f)
22
43
21
2
0
88

Prosentase (%)
25,00
48,86
23,86
2,28
0
100

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diinterpretasikan bahwa hampir setengahnya


dari responden (48,86%) mengalami tingkat kecemaan ringan. Sedangkan
sebagian kecil dari responden (2,28%) mengalami tingkat kecemaan berat.
4.4 Pembahasan
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak
memiliki objek yang spesifik. Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang
merupakan penilaian intelektual terhadap bahaya. Ansietas atau kecemasan adalah
respon emosional terhadap penilaian tersebut (Stuart, 2006). Selanjutnya, dalam
Corey (1995), terdapat macam-macam kecemasan, diantaranya kecemasan
neurotis yang didalamnya terdapat cemas penyakit, yaitu cemas ini mencakup
pengalaman terhadap obyek tertentu sebagai penyebab kadang merasa cemas
karena

takut akan terjadi hal lain, ketakutan akan kejadian itu merupakan

ancaman. Pada pengidap penyakit glaukoma, apabila obat non operasi sudah tidak
berguna lagi, tindakan operasi sangat dianjurkan karena untuk menyelamatkan

51

sisa penglihatan dan mempertahan tekanan intraokuler supaya dalam keadaan


normal.
Tindakan operasi bisa menjadi sebuah ancaman bagi sebagian orang,
karena operasi bisa saja tidak berhasil yang berdampak pada kesembuhan
penyakitnya. Sebelum operasi atau disebut masa pre operatif bagi sebagian orang
dapat menyebabkan kecemasan dan juga ada yang tidak tergantung mental dari
setiap orang tersebut, karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda,
sesuai dengan pendapat Carpenito (2009), menyatakan bahwa 90% pasien pre
operatif berpotensi mengalami kecemasan. Kebutaan dapat terjadi pada pasien
glaukoma, tanpa mata manusia akan sulit untuk beraktifitas, hal ini adalah salah
satu pencetus kecemasan karena menurut Stuart (2006), menyatakan bahwa
ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis yang akan terjadi
atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari adalah
pencetus kecemasan atau stresor. Kemudian dari teori interpersonal dalam faktor
predisposisi menjelaskan bahwa individu yang mempunyai harga diri rendah
biasanya sangat mudah untuk mengalami kecemasan berat (Stuart, 1998), faktor
tersebut dapat menjadi pencetus kecemasan sedang bahkan berat.
Teori-teori tersebut sama dengan hasil penelitian ini yaitu sebagian kecil
dari responden ( 23,86) mengalami kecemasan sedang dan juga sebagian kecil
dari responden (2,28) mengalami kecemasan berat.
Kecemasan pre operatif merupakan suatu respons antisipasi terhadap
suatu pengalaman yang dapat dianggap pasien sebagai suatu ancaman terhadap

52

perannya dalam hidup, integritas tubuh, atau bahkan kehidupannya itu sendiri.
Sudah diketahui bahwa pikiran yang bermasalah secara langsung mempengaruhi
fungsi tubuh (Brunner, 1996). Tetapi manusia adalah makhluk yang unik, individu
dengan jenis kelamin sama, usia yang sama, belum tentu memiliki mental yang
sama dalam menyikapi suatu masalah, terbukti dengan hasil penelitian ini yang
hasilnya yaitu hampir setengah dari responden (48,86%) mengalami kecemasan
ringan.
Dari interpretasi hasil yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa setengah
dari responden (48,86%) dikategorikan dalam tingkat kecemasan ringan. Menurut
Stuart (1998), menyatakan bahwa kecemasan dipengaruhi oleh faktor predisposisi,
external dan internal, didalam faktor internal ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan diantaranya yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan, dan
pekerjaan.
Dalam teori perilaku dari faktor predisposisi menjelaskan bahwa
kecemasan sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari
dalam untuk menghindari kepedihan (Stuart, 1998). Pasien belajar lebih
mengenali penyakit glaukoma dan belajar mengenai hal-hal setelah pelaksanaan
operasi, perihal tersebut dikatakan oleh beberapa perawat kepada peneliti bawha
banyaknya pasien yang bertanya mengenai penyakit glaukoma dan operasi. Faktor
tersebut membuat pasien berada pada tingkat kecemasan ringan.
Menurut pandangan perilaku kecemasan merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan
yang diinginkan. Pakar perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu
dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari
kepedihan. Pakar tentang pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa

53

dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering
menunjukan kecemasan pada kehidupan selanjutnya (Stuart, 1998). Dari teori
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa responden yang berada pada tingkatan
kecemasan ringan berasumsi untuk mengatasi rasa cemasnya, mereka belajar
mengenai penyakitnya yaitu glaukoma dan mencari tau hal-hal apa saja yang akan
terjadi setelah operasi, supaya rasa cemasnya berkurang.
Kajian biologis menunjukan bahwa kesehatan

umum

seseorang

mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan


mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan
individu mengatasi stressor (Stuart, 1998). Dari teori tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa keadaan fisik seseorang apabila dalam keadaan sehat bisa
berpengaruh terhadap kecemasan. Meskipun mata responden sakit,tetapi anggota
tubuh lainnya berada pada keadaan sehat, hal ini menjadi faktor responden berada
pada tingkat kecemasan ringan.
Pada saat wawancara dengan responden yang kebanyakan pada tingkat
kecemasan ringan, laki-laki lebih banyak pada tingkat kecemasan ringan
dibandingkan perempuan, kejadian ini sesuai dengan teori yang menyebutkan
bahwa gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh
kecemasan yang

spontan dan

episodic, ganguan ini lebih sering dialami

perempuan daripada pria (Stuart, 1998). Kemudian teori dari Gallo (2001),
menyatakan bahwa perempuan memiliki risiko untuk depresi lebih tinggi daripada
pria, bahkan dimasa tua. Depresi erat kaitannya dengan cemas. Hasil wawancara
dan teori tersebut berkaitan dengan dengan karakteristik penelitian bahwa
sebagian besar dari responden (68,18%) dengan jumlah 60 orang yaitu pada

54

karakteristik laki-laki, sedangkan hampir setengah dari responden (31,82) dengan


jumlah 28 orang pada karakteristik perempuan.
Hampir semua pasien glaukoma pre operatif adalah usia madya, Stuart
(1998), menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata
lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada seseorang yang
lebih tua. Teori tersebut juga menjadi faktor yang membuat hampir setengahnya
dari responden (48,86%) pasien glaukoma pre operatif mengalami tingkat
kecemasan ringan, karena setengahnya dari responden (52,27%) yaitu pada usia
madya.
Hal lain yang menyebabkan pasien tidak terlalu cemas yaitu dorongan dari
dokter dan perawat, beliau selalu mengatakan bahwa operasinya akan berjalan
dengan lancar karena ditangani oleh dokter professional yag sudah bisa
melakukan tindakan operasi.
Sedikit dari responden yaitu 23,86 mengalami kecemasan sedang. Hasil
wawancara dengan responden yang berada pada tingkatan ini mengatakan bahwa
mereka khawatir dan berduka akan kehilangan panca inderanya menjadi buta
total, karena dokter mengatakan penyakit glaukoma tidak dapat disembuhkan,
operasi hanya untuk mempertahankan tekanan cairan pada mata supaya tetap
dalam keadaan normal. Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah
dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi
sebagian atau keseluruhan (Yosep, 2010).
Para perawat di ruang inap selalu memberikan semangat dan dorongan
kepada pasien untuk tetap semangat dan supaya tidak cemas menghadapi operasi,
karena perawat mengatakan operasinya akan berjalan dengan lancar seperti
pasien-pasien yang sudah dioperasi dengan hasil baik-baik saja. Kemudian

55

menurut hasil wawancara dengan semua pasien pre operatif yang bersedia
menjadi responden, hampir dari setengahnya yang menjadi responden mengatakan
bahwa

operasi

adalah

tindakan

yang

mereka

inginkan

untuk

segera

menghilangkan rasa sakit pada mata yang diderita juga rasa mual dan muntah,
karena apabila tidak dioperasi rasa sakitnya tidak akan hilang, tetapi rasa cemas
itu tetap saja muncul, terutama pada pasien yang baru pertama kali dioperasi mata.
Dari hasil wawancara-wawancara tersebut dapat disimpulkan mengapa
hampir dari setengah dari responden mengalami gejala kecemasan ringan karena
adanya tekad yang kuat dari diri sendiri untuk segera sembuh dari rasa sakit yang
diderita, dan dari penjelasan dokter yang dapat menenangkan pasien dengan
penjelasan tentang hal-hal yang akan terjadi setelah operasi. Kesimpulannya
adalah hasil dari penelitian ini sebagian besar berada pada kecemasan ringan
dengan hasil penelitian bahwa hampir setengahnya dari responden (48,86%) dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu oleh faktor predisposisi (teori
interpersonal, teori perilaku, kajian biologis),jenis kelamin laki-laki, dan usia
lanjut.
.
4.5 Keterbatasan Penelitian
Penelitian berjudul Gambaran Tingkat Kemasan Pada Pasien Glaukoma
Pre Operatif Di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung ini dilakukan dengan
mengikuti prosedur penelitian yang seharusnya, namun masih terdapat
keterbatasan dalam pelaksanaannya antara lain:
1. Subjektifitas responden, artinya peneliti tidak dapat mengontrol
reponden bila jawabannya tidak jujur dalam mengisi instrumen.
2. Tidak semua responden dapat melihat, jadi peneliti membacakan
angketnya secara langsung kepada responden.

56