Anda di halaman 1dari 7

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP PERAWATAN

ANAK DENGAN KONJUNGTIVITIS VERNAL DI RUMAH SAKIT MATA CICENDO


BANDUNG
Mentari Wardhani Puteri
220110100057

Konjungtivitis vernal adalah inflamasi yang terjadi pada kedua konjungtiva dan bersifat
berulang, terjadi akibat kelainan sistem imun yang menyebabkan reaksi alergi, dan merupakan
penyakit yang biasanya terlihat pada pasien usia muda, serta lebih sering menyerang anak lakilaki dibandingkan anak perempuan. Penelitian yang dilakukan di Indonesia oleh Dyaningsih
(2009) di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung kepada 397 orang pasien konjungtivitis vernal
didapatkan hasil 76,8% penderita adalah anak laki-laki dan 23,2% adalah anak perempuan.
Selain itu, rentang usia pasien dengan konjungtivitis vernal adalah 52,9% berusia 5-9 tahun,
30,2% berusia 10-14 tahun, dan 16,9% adalah 0-4 tahun.
Konjungtivitis vernalis yang memiliki nama lain Spring Catarrh / Vernal Catarrh
merupakan penyakit musim panas di negara dengan empat musim atau sepanjang tahun di negara
beriklim tropis. Indonesia merupakan negara beriklim tropis, yang memungkinkan konjungtivitis
vernal terjadi di setiap tahunnya (Grayson,1983; Duane,1987). Selain terjadi di Indonesia,
konjungtivitis vernal ini juga terjadi merata di seluruh belahan dunia, sekitar 0,1%-0,5% dengan
masalah tersebut terjadi di Israel, Yunani, Amerika Selatan, Australia, Brazil, China, Hongkong,
Prancis, Mexico, Afrika Selatan, dan Mediterranean (Duane, 1987; Grayson 1983; Pong et al).
Dalam Allergic Disease of Eye menurut Bonini et al (2000) 88% angka kejadian adalah alergi

konjungtivitis. Di Brazil 13% anak usia 6-7 dan 13-14 tahun menunjukan gelaja konjungtivitis
alergi, dan di Swedia 19% anak usia 12-13 tahun menunjukan gejala mata alergi dan 54% sudah
mendapatkan pengobatan konjungtivitis alergi (Vanna et al, 2001).
Menurut Dyaningsih (2009) pada hasil penelitiannya mengenai karakteristik dan pola
penyakit konjungtivitis didapatkan hasil 67,5% keluhan yang dialami adalah rasa gatal, 60,7%
mata merah. Selain itu mata terasa panas, fotofobia, mata berair, dan adanya pengeluaran mukus
merupakan manifestasi klinis dari penyakit ini. (A.D.A.M Medical Encyclopedia, 2012).
Konjungtivitis vernal ini dapat sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 2-10
tahun, oleh karena itu pengobatan yang diberikan hanya untuk mengontrol gelaja dan mencegah
pemberian obat kortikosteroid dalam jangka panjang. Efek penggunaan kortikosteroid dalam
waktu lama akan mengakibatkan glaukoma dan katarak. Komplikasi konjungtivitis vernal ini
adalah keratokonjungtivitis vernal, penurunan ketajaman penglihatan, dan luka pada kornea
(Widyastuti dan Siregar, 2004; Erry, 2007; A.D.A.M Medical Encyclopedia, 2012).
Penatalaksanaan perawatan yang diberikan pada pasien dengan konjungtivitis vernal ini
adalah dengan cara menghindarkan pasien dari semua kemungkinan penyebab alergen,
memberikan obat topikal steroid (kortikosteroid) untuk menghambat proses inflamasi,
kemerahan, dan pembengkakan yang terjadi di mata, terapi obat sistemik, dan terapi suportif
dengan cara kompres dingin pada mata selama 10-15 menit, menggunakan kaca mata hitam,
mengurangi kegiatan di luar rumah, tidak menggosok mata yang gatal, serta mengusahakan suhu
ruangan tetap dingin dan bila memungkinkan dapat menggunakan AC (Air Conditioned). Follow
up pun diperlukan untuk mengevaluasi konjungtivitis vernal (American Optometric Association,
2010; Widyastuti dan Siregar, 2004; Vaughan, 1992; Istiqomah2005).

Data yang di dapatkan di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung pada tahun 2013 terdapat
510 angka kejadian keratokonjungtivitis vernal yang merupakan komplikasi dari konjungtivitis
vernal. Dari hasil penelitian yang dilakukan Dyaningsih (2009) mata kanan (92,7%) dan mata
kiri (91,7%) memiliki penglihatan normal. Luka pada kornea dapat disebabkan karena rasa gatal
yang dirasakan oleh anak, sehingga terbentuknya luka parut pada kornea yang tidak bisa hilang,
dan dapat menyebabkan kebutaan mata yang permanen (Widyastuti dan Siregar, 2004 ; Erry,
2007; A.D.A.M Medical Encyclopedia, 2012).
Data yang didapat dari Rumah Sakit Mata Cicendo di Poli Pediatrik Oftalmologi pada
tahun 2012, konjungtivitis menduduki peringkat kedua penyakit terbanyak setelah kelainan
refraksi dan akomodasi di rumah sakit ini. Terdapat sekitar 3659 ( 34,05% ) kejadian anak
mengalami kejadian konjungtivitis, dari nilai tersebut 2924 kejadian merupakan konjungtivitis
vernal. Pada tahun 2013 angka kejadian konjungtivitis tetap menduduki peringkat ke dua di
Rumah Sakit Mata Cicendo, hanya saja nilainya menurun yaitu 3099 (27,87%) angka kejadian
konjungtivitis, dan 2289 kejadian merupakan konjungtivitis vernal dengan mayoritas penderita
berjenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 5-14 tahun yaitu 1121. Data pada bulan Januari
2014 terdapat 56 kedatangan pasien baru maupun kontrol dengan konjungtivitis vernal.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 5
Februari 2014 pada 4 orang perawat Poli Pediatrik dan Oftalmologi dan 11 orang tua pasien
didapatkan hasil bahwa perawat dan dokter poli selalu memberikan pendidikan kesehatan setiap
kali pasien datang, sehingga informasi selalu didapatkan oleh orang tua pasien. 11 orang tua
pasien menyatakan bahwa mereka selalu mendapatkan informasi mengenai perkembangan dan
perawatan yang perlu di lakukan pada anaknya, dan mereka mengerti tentang pendidikan
kesehatan yang diberikan, hanya saja 10 dari 11 orang tua pasien mengeluhkan bahwa mereka

sulit untuk meminta anak mereka menggunakan topi atau kacamata pelindung sebagai alat
pelindung mata agar tidak terkena debu dan jarang melakukan kompres dingin pada mata saat
gatal dengan alasan anak meraasa tidak nyaman saat di kompres dingin ataupun tidak mau
dikompres karena rasa gatal berkurang bila dikucek dengan tangan mereka sendiri. Orang tua
merasa pentingnya perawatan dirumah, tapi terkadang lupa dan merasa tidak mampu untuk
memberikan perawatan dirumah, karena alasan anak sulit untuk diatur. 1 dari 11 pasien sudah
mengalami komplikasi yaitu ketatokonjungtivitis vernal, ketika diwawacarai orang tua tidak
secara teratur memberikan obat tetes mata, melarang anaknya sering main keluar rumah,
memberikan topi maupun kaca mata, dan juga jarang memberikan kompres dingin pada anak,
dengan alasan anak tidak mau dilakukan perawatan, langsung main keluar rumah tanpa
sepengetahuan orang tua, dan merasa lebih nyaman menggosok mata dari pada kompres dingin
untuk menghilangkan gatal. Bidang garap keperawatan adalah salah satunya untuk mengatasi
ketidaknyamanan yang dialami oleh pasien. Pasien dengan konjungtivitis vernal ini akan
merasakan gelaja tersebut, sehingga diperlukan pengetahuan dan sikap orang tua dalam
perawatan konjungtivitis vernal.
Pengetahuan adalah hasil dari mengetahui sesuatu melalui panca indra yang dimiliki,
tetapi lebih sering didapatkan dari penglihatan dan pendengaran. Terdapat 6 tingkatan
pengetahuan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sisntesis, dan evaluasi. Sikap adalah
reaksi atau respon emosional dari seseorang terhadap objek atau stimulus tertentu, dan menurut
Notoatmodjo (2003) terdapat 3 tingkatan sikap, yaitu menerima, merespon, dan bertanggung
jawab (Efendi dan Makhfudli, 2009).
Dari hasil wawancara yang dilakukan pada 11 orang tua pasien, seluruh orang tua hampir
mengerti tentang perawatan di rumah, namun kurangnya sikap bertanggung jawab untuk

memberikan perawatan dengan berbagai macam alasan, karena bertanggung jawab adalah
melaksanakan dan menanggung segala bentuk perawatan yang perlu didapatkan oleh anaknya.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan diangkat adalah
Bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap orang tua terhadap perawatan anak dengan
konjungtivitis vernalis di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung?

Daftar Pustaka :

American Optometric Association. 2010. Care of the patient with conjunctivitis


Blaiss, Michael S. Epidemiology and pathomechanisms of ocular allergy clinical professor of
perdiatrics

and

medicine

University

of

Tennessee

Health

Science

Center.

http://www.worldallergy.org/UserFiles/file/epidemiology%20and%20pathomechanismsBlaiss.pdf (diakses pada tanggal 12 Februari 2014)


Darling, Vera. 1996. Perawatan Mata . Yayasan Essentia Medica dan Andi Yogyakarta :
Yogyakarta
Duane TD, Jaeger EA. 1987. Clinical Ophthalmology Vernal Conjungtivitis. Harper&Row:
Philadelpia
Dyaningsih, Tisa Paramita Sari. 2009. Skripsi Karakteristik dan pola penyakit konjungtivitis
vernal di unit mata anak Rumah Sakit Mata Cicendo Kota Bandung Peiode Januari 2008Juni 2008.
Efendi, Ferry dan Mauhfuldi.2009.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktikum
dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Erry. 2007. Distribusi dan karakteristik sikatrik kornea di Indonesia, riskesdas 2007.
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2624/607 (diakses tanggal
12 Februari 2014)
Grayson, M. Disease of The Cornea 2nd Edition Vernal Catarrh. The C.V Mosby Company : USA
Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta : CV Sagung Seto
Ilyas, Sidatra .2003. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kedua. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Istiqomah, Indriana N. 2005. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. Jakarta : EGC
Vaughan dan Asburys. 2013. General Ophthalmology 17 th Edition International Edition. Mc
Graw Hill
what

about

me

Vernal

Conjunctivitis

2000.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001390.htm ( diakses tanggal 7 Februari


2014)
what

about

me

Vernal

Conjunctivitis

2012

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002365/ (diakses tanggal 12 Februari


2014)
Widyastusti, Siti Budiarti dan Siregar, Sjawitri P. 2004. Konjungtivitis Vernalis Sari Pediatri Vol
5 No.4 Maret 2004 160-164. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
Sirlan, F. 2005. Survey Pengetahuan, Sikap, dan Praktek Masyarakat di Jawa Barat terhadap
kesehatan mata Ophtalmologica Indonesia 2006
Azwar, S. 2008. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Ed.2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Hubungan Tingakat Pengetahuan dengan Sikap keluarga dalam memberikan perawatan pasca
stroke

(http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20309163-S43198-Hubungan%20tingkat.pdf

tanggal 16 Februari 2014)


(http://m.medicastore.com/index.php?mod=obat&id=12879 diakses pada 16 Februari 2014)