Anda di halaman 1dari 23

Laporan Praktikum

Metode Shooting di dalam Fisika


Diajukan untuk Memenuhi Laporan Kegiatan Praktikum Fisika Komputasi

Disusun oleh :
Nama : Ahmad Khoirul Iksan
NIM : 14/366729/P A/16240
Hari, Tanggal Praktikum : Rabu, 4 Mei 2016
Asisten : Rizky Zul Ashary Hasibuan
: Muhammad Yusrul Hanna

LABORATORIUM FISIKA KOMPUTASI


DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangannya, persamaan diferensial mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kehidupan (alam). Banyak permasalahan da-
lam bidang sains dan teknik yang dapat diformulasikan ke dalam bentuk
persamaan diferensial dalam rangka menentukan penyelesaiannya. Tetapi
beberapa persamaan diferensial yang rumit terkadang sulit diselesaikan se-
cara analitis. Oleh karena itu penggunaan metode numerik dalam hal ini
cukup tepat. Salah satu metode numerik untuk menentukan penyelesai-
an suatu persamaan diferensial, adalah metode Shooting. Secara sederhana,
metode Shooting bekerja dengan memperlakukan masalah syarat batas, se-
bagai syarat awal. Laporan Praktikum ini menjelaskan penyelesaian persa-
maan diferensial orde dua secara numeris menggunakan metode Tembakan
(Shooting), dengan metode integrasi langsung (Numerov), dan metode itera-
si (Gauss Seidel). Sehingga lebih jauh lagi Laporan Praktikum ini, berusaha
untuk memberikan pemahaman bahwa suatu masalah fisika tertentu dapat
didekati dengan berbagai metode numerik yang berbeda.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Metode Shooting di dalam Fisika ini
adalah, untuk memahami penerapan metode Shooting dalam penyelesaian
permasalahan fisika yang dituliskan dalam bentuk persamaan diferensial.

2 Dasar Teori
Oleh adanya distribusi muatan yang memiliki rapat muatan (r) maka
medan listrik E pada setiap titik dalam ruang diberikan oleh hukum Gauss,
I Z
E dS = 4 dV atau E = 4 (1)
s V

Mengingat E = V maka persamaan (1) dapat dinyatakan pula sebagai


apa yang disebut persamaan Poisson yaitu,

2 V = 4 (2)

Apabila dimiliki rapat muatan yang bergantung pada jarak radial saja, yaitu
1 r
(r) = 4 e maka, oleh adanya simetri bola, persamaan Poisson menjadi
!
1 d 2 dV
r = er (3)
r 2 dr dr

Karena tidak singular di r = 0 maka V (0) bernilai berhingga dan memiliki


perilaku seperti potensial Coulomb di r yaitu V (r ) = 1r .

1
Secara analitik masalah tersebut dapat dipecahkan dengan eksak mela-
lui hukum Gauss seperti yang diberikan oleh persamaan 1. Oleh adanya
simetri bola maka dapat diambil permukaan Gauss dalam bentuk bola de-
ngan jari-jari r. Dengan pengambilan bentuk tersebut maka medan listrik
pada permukaan Gauss akan bernilai sama dan arahnya tegaklurus pada
permukaan. Ini berarti pada setiap titik pada permukaan Gauss, medan
listrik akan searah dengan unsur vektor permukaan dS. Oleh karena itu
didapatkan I Z Z r 02 0
EdS = E dS = E4r 2 = 4 er dr (4)
S S 0
Dapat ditunjukkan bahwa ungkapan di atas menghasilkan
2 1 1 1
 
E(r) = 2 2er + + 2 (5)
r 2 r r
Akhirnya dengan menerapkan E = V didapatkan potensial listrik pada
jarak r dari pusat koordinat yaitu,

2 (2 + r) r
V (r) = e (6)
r r

2.1 Metode Komputasi


Apabila dimiliki rapat muatan yang tergantung pada jarak radial saja ya-
1 r
itu (r) = 4 e Mengambil bentuk V (r) = (r)/r maka persamaan (3) dapat
dinyatakan dalam bentuk
d 2
= rer (7)
dr 2
Dari sudut komputasi, bentuk persamaan (7) lebih menguntungkan diban-
ding persamaan (3) karena tidak ada campuran pada orde diferensial se-
hingga lebih memudahkan dalam pengubahannya ke bentuk beda hingga.
Dengan penggantian fungsi tersebut maka syarat batas yang harus dipenu-
hi adalah (r) = 0 saat r = 0, dan (r) = 2 saat r . Mengganti ke bentuk
ungkapan beda hingga, maka persamaan (7), dapat dinyatakan ke bentuk

i1 2i + i+1 = h2 ri eri (8)

dimana ri = ih dan i = (ri ). Dengan notasi tersebut maka ungkapan ba-


gi syarat batas dapat dinyatakan sebagai 0 = 0 dan N +1 = 2, dimana N
adalah bilangan bulat positif yang cukup bernilai besar, sedemikian hingga
rN +1 .

2.1.1 Metode Integrasi Langsung (Numerov)


Dengan memperlakukan persamaan (8) menjadi masalah syarat awal ma-
ka diperlukan satu nilai tambahan pada r = 0 atau r agar semua nilai
{i ; i = 1, ..., N } dapat dihitung. Dalam banyak kasus biasanya ada informa-
si fisis yang dapat dideduksi sehingga tambahan satu nilai pada satu batas

2
tertentu dapat diberikan. Namun jika tidak ada satupun cara untuk mem-
perolehnya, tambahan satu nilai tersebut dapat diberikan secara sebarang,
sedemikian hingga ketika dilakukan proses integrasi akan diperoleh nilai
yang sesuai pada batas yang lain. Teknik semacam ini biasa disebut meto-
de shooting, integrasi langsung, atau juga dikenal dengan metode numerov
karena mirip seperti seseorang yang akan menembak suatu sasaran pada
jarak jauh, yang salah satu usahanya yaitu dengan mengatur sudut tembak
(analog dengan nilai slope dari suatu fungsi pada titik awal).

Untuk masalah yang dihadapi di sini, nilai slope dari secara intuisi fi-
sis lebih disimpulkan pada r dibanding pada r = 0. Pada jarak tak
berhingga tersebut, rapat muatan praktis sama dengan nol sehingga tidak
d
ada sokongan muatan lagi. Akibatnya dr = 0 atau N = N +1 . Dengan tam-
bahan nilai awal N +1 = 2. Maka persamaan (8) dapat dinyatakan dalam
bentuk rekursif berikut

i1 = 2i phi+1 h2 ri eri , i = N , ..., 1 (9)

2.1.2 Metode Iterasi (Gauss Seidel)


Metode iterasi juga dikenal dengan metode Gauss Seidel, dalam metode
ini persamaan (8) diusahakan menjadi bentuk yang memungkinkan nilai
i pada satu tahap iterasi tertentu dapat dihitung berdasar nilai i pada
iterasi sebelumnya. Nilai i ; i = 1, ..., N pada awal iterasi dilakukan secara
coba-coba atau berdasar nilai-nilai yang sudah diperoleh dari metode pen-
dekatan yang ada. Untuk alasan tersebut, maka persamaan (8) diubah ke
bentuk  
(k) (k1) (k1)
i = i1 + i+1 + ri eri /2 (10)
(k)
Lambang i berarti nilai i pada langkah iterasi ke k.

3 Metode Eksperimen
Berikut listing program metode shooting dengan menggunakan metode
integrasi langsung dan metode iterasi untuk menentukan distribusi poten-
sial melalui persamaan Poisson, dengan fungsi potensial V (r) = 2(r +2)er .

3.1 Metode Integrasi Langsung (Numerov)


Program integrasi langsung (numerov) dengan interval h = 0.1, dan batas
iterasi n = 100.

Listing 1: Program distribusi potensial metode shooting.


PROGRAM numerov

!------------------------------

3
!program untuk mencari distribusi potensial
!melalui persamaan Poisson, metode integrasi langsung (numerov)
!tanggal 4 Mei 2016
!----------------------------

integer n,i
double precision h,kons,s1,s2,s3,r,phi(500),phi_eksak(500)
intrinsic exp

h=0.1
n=100

!Tetapan pengali

kons=h**2/12.0d0

!---------------------------
!Nilai syarat batas di tak berhingga dan
!dan satu nilai didekatnya
!yang diambil secara intuisi fisis
!yaitu slope dari potensial di tak berhingga
!adalah nol
!---------------------------

phi(n+1)=2.0d0
phi(n)=2.0d0
r=(n+1)*h

!Nilai source pada tiap titik

s3=-r*exp(-r)
r=n*h
s2=-r*exp(-r)

!Dengan nilai eksaknya

do i=n,2,-1
r=(i-1)*h
s1=-r*exp(-r)
phi(i-1)=2.0d0*phi(i)-phi(i+1)+kons*(s3+10.0d0*s2+s1)
s3=s2
s2=s1
phi_eksak(i-1)=2.0d0-(r+2.0d0)*exp(-r)
write(*,*)r,phi(i-1)
end do
stop
end PROGRAM numerov

4
Selanjutnya dilakukan variasi, dengan parameter variasi nilai interval
dan batas iterasi ;
1. interval h = 0, 1, batas iterasi ; n = 100, n = 150, n = 300,

2. interval h = 0, 01, batas iterasi ; n = 100, n = 200,

3. interval h = 0, 001, batas iterasi ; n = 100, n = 200.

3.2 Metode Iterasi (Gauss Seidel)


Program Iterasi (Gauss Seidel), dengan interval, h = 0, 25, batas iterasi
n = 30, dan i = 0

Listing 2: Program distribusi potensial metode shooting.


PROGRAM gauss seidel

!------------------------------
!program untuk mencari distribusi potensial
!melalui persamaan Poisson, metode iterasi (Gauss Seidel)
!tanggal 4 Mei 2016
!----------------------------

parameter (mak=1000)
integer n,i,j
double precision h,phi(0:mak),r,phi_iter,beda,tol,phi_eksak,fs
intrinsic abs,exp
external fs

h=0.25
n=30

phi(0)=0.0d0
phi(n)=2.0d0

!Masukkan nilai coba phi

do i=1,(n-1)
phi(i)=0.0d0
end do

!Mulai iterasi
do j=1,2000
tol=1.0d-14
do i=1,(n-1)
r=i*h
phi_iter=phi(i)
phi(i)=(phi(i-1)+phi(i+1)+fs(r)*h**2)/2.0d0
beda=abs((phi(i)-phi_iter)/phi(i))
if (beda .ge. tol) then

5
tol=beda
end if
end do
if (tol .le. 1.0d-4) then
goto 10
end if
end do

10 do i=0,n
r=i*h
phi_eksak=2.0d0-(r+2.0d0)*exp(-r)
write(*,*)r,phi(i)
end do
stop
end

!Fungsi S(x)

double precision function fs(r)


double precision r
intrinsic exp

fs=r*exp(-r)
return
end PROGRAM gauss seidel

Selanjutnya dilakukan variasi, dengan parameter yang divariasi, nilai in-


terval, batas iterasi, dan nilai tebakan i ;

1. interval h = 0, 25,
batas iterasi n = 30 ; i = 0, 1, 2
batas iterasi n = 60 ; i = 0, 1, 2

2. interval h = 0, 05,
batas iterasi n = 30 ; i = 0, 1, 2
batas iterasi n = 60 ; i = 0, 1, 2

4 Hasil Eksperimen
Setelah dilakukan pembuatan listing program kemudian program dicom-
pile untuk semua variasi, dan hasilnya diplot ke dalam bentuk grafik, sete-
lah lebih dulu hasil compile program dibawa ke dalam format *.txt. Berikut
grafik yang didapatkan dari plotting hasil program metode shooting, meng-
gunakan metode integrasi langsung dan iterasi,

6
4.1 Metode Integrasi Langsung(Numerov)
1. interval h = 0, 1
batas iterasi n = 100

numerov a100.png

Gambar1. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 1


n = 100

batas iterasi n = 150

numerov a150.png

Gambar2. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 1


n = 150

7
batas iterasi n = 300

numerov a300.png

Gambar3. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 1


n = 300

2. interval h = 0, 01
batas iterasi n = 100

numerov b100.png

Gambar4. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 01


n = 100

8
batas iterasi n = 200

numerov b200.png

Gambar5. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 01


n = 150

3. interval h = 0, 001
batas iterasi n = 100

numerov c100.png

Gambar6. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 001


n = 100

9
batas iterasi n = 200

numerov c200.png

Gambar7. Grafik plot hasil compile program numerov h = 0, 001


n = 200

4.2 Metode Iterasi (Gauss Seidel)


1. interval h = 0, 25,
batas iterasi n = 30, i = 0

gauss seidel a30 0.png

Gambar8. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 25


n = 30, i = 0

10
batas iterasi n = 30, i = 1

gauss seidel a30 1.png

Gambar9. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 25


n = 30, i = 1

batas iterasi n = 30, i = 2

gauss seidel a30 2.png

Gambar10. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 25


n = 30, i = 2

11
batas iterasi n = 60, i = 0

gauss seidel a60 0.png

Gambar11. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 25


n = 60, i = 0

batas iterasi n = 60, i = 1

gauss seidel a60 1.png

Gambar12. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 25


n = 60, i = 1

12
batas iterasi n = 60, i = 2

gauss seidel a60 2.png

Gambar13. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 25


n = 60, i = 2

2. interval h = 0, 05,
batas iterasi n = 30, i = 0

gauss seidel b30 0.png

Gambar14. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 05


n = 30, i = 0

13
batas iterasi n = 30, i = 1

gauss seidel b30 1.png

Gambar15. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 05


n = 30, i = 1

batas iterasi n = 30, i = 2

gauss seidel b30 2.png

Gambar16. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 05


n = 30, i = 2

14
batas iterasi n = 60, i = 0

gauss seidel b60 0.png

Gambar17. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 05


n = 60, i = 0

batas iterasi n = 60, i = 1

gauss seidel b60 1.png

Gambar18. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 05


n = 60, i = 1

15
batas iterasi n = 60, i = 2

gauss seidel b60 2.png

Gambar19. Grafik plot hasil compile program Gauss Seidel h = 0, 05


n = 60, i = 2

5 Pembahasan
Praktikum metode shooting, pada dasarnya membawa permasalahan sya-
rat batas sebagai syarat awal untuk menyelesaikan permasalahan yang di-
berikan, dalam praktikum ini adalah permasalahan distribusi potensial me-
lalui persamaan Poisson, yang diberikan oleh fungsi potensial V (r) = 2
(r + 2)er . Untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan metode shooting
digunakan langkah numerik bertahap yaitu iterasi, dimulai dengan penak-
siran suatu nilai coba dan menyelesaikannya melalui pengintegralan persa-
maan diferensial sebagai masalah nilai awal. Terdapat dua metode untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut dengan metode shooting, antara lain
; metode Integrasi Langsung (Numerov), dan metode Iterasi (Gauss Seidel).
Berikut akan dijelaskan hasil praktikum yang telah didapat (dan ditulisk-
an pada bab Hasil Eksperimen), menggunakan dua metode tersebut, dan
akan dibandingkan bagaimana hasil yang didapatkan pada masing-masing
metode, dengan parameter variasi yang telah ditentukan.

5.1 Metode Integrasi Langsung (Numerov)


Pada metode integrasi langsung (numerov), dapat dilihat dari grafik pa-
da Gambar 1, hingga Gambar 7, bahwa hasil shooting (grafik dengan titik
merah) mendekati nilai analitik (grafik dengan garis hijau) pada interval
h = 0, 1 (Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3), dibandingkan dengan pada
interval h = 0, 01 (Gambar 4, Gambar 5), dan interval h = 0, 001 (Gambar
6, Gambar 7). Hal ini karena semakin kecil interval yang diberikan, ma-
ka cakupan iterasi juga semakin kecil, dibandingkan dengan nilai interval

16
yang lebih besar, meskipun dengan batas iterasi yang sama. Sehingga dapat
dikatakan bahwa nilai interval yang paling memenuhi untuk penyelesai-
an permasalahan distribusi potensial ini, dengan metode numerov, adalah
h = 0, 1.

Selanjutnya pada h = 0, 1, dapat dilihat bahwa semakin besar nilai batas


iterasi maka nilai shooting semakin mendekati nilai analitiknya, yaitu pada
n = 300.

5.2 Metode Iterasi (Gauss Seidel)


Pada metode iterasi (Gauss Seidel) dapat dilihat dari grafik pada Gam-
bar 8, hingga Gambar 19, bahwa hasil shooting (grafik dengan titik merah)
mendekati nilai analitik (grafik dengan garis hijau) pada interval h = 0, 25
(Gambar 8, Gambar 9, Gambar 10, Gambar 11, Gambar 12, dan Gambar
13), dibandingkan dengan pada interval h = 0, 05 (Gambar 14, Gambar 15,
Gambar 16, Gambar 17, Gambar 18, Gambar 19). Hal ini karena semakin
kecil interval yang diberikan, maka cakupan iterasi juga semakin kecil, di-
bandingkan dengan nilai interval yang lebih besar, meskipun dengan batas
iterasi yang sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai interval yang pa-
ling memenuhi untuk penyelesaian permasalahan distribusi potensial ini,
dengan metode Gauss Seidel, adalah h = 0, 05.

Selanjutnya dapat dilihat bahwa hasil shooting selain dipengaruhi nilai


interval, juga dipengaruhi batas iterasi dan nilai tebakan. Dapat dilihat
pada hasil yang didapat dari interval h = 0, 25 (Gambar 8, Gambar 9, Gam-
bar 10, Gambar 11, Gambar 12, dan Gambar 13), bahwa hasil shooting un-
tuk n = 30 lebih mendekati hasil analitiknya daripada hasil shooting untuk
n = 60. Sebaliknya untuk h = 0, 05 (Gambar 14, Gambar 15, Gambar 16,
Gambar 17, Gambar 18, Gambar 19), hasil shooting untuk n = 60 lebih
mendekati hasil analitiknya daripada hasil shooting untuk n = 30. Kemu-
dian untuk nilai tebakan, dapat dilihat bahwa nilai tebakan yang cukup
mendekati hasil analitik untuk h = 0, 25 adalah i = 2 (Gambar 10, Gambar
13), sementara pada h = 0, 05 dapat dilihat bahwa hasil shooting semakin
mendekati hasil analitik pada i = 1 (Gambar 18). Sehingga dapat dika-
takan pada metode Gauss Seidel, hasil shooting selain dipengaruhi nilai
interval, juga dipengaruhi oleh batas iterasi, dan nilai tebakan (coba), yang
mana batas iterasi dan nilai tebakan tersebut saling berkaitan. Artinya su-
atu nilai tebakan pada batas iterasi tertentu, bisa saja kurang sesuai untuk
batas iterasi yang lain.

17
6 Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut

1. Metode shooting digunakan untuk mencari solusi dari Persamaan Di-


ferensial orde dua dengan membawanya ke dalam persoalan syarat
awal,

2. Pada metode integrasi langsung (numerov), hasil shooting yang men-


dekati hasil analitiknya adalah h = 0, 1. Selain itu, semakin besar batas
iterasi, maka nilai interval semakin mendekati hasil analitik.

3. Pada metode iterasi (Gauss Seidel), hasil shooting yang mendekati


analitiknya adalah h = 0, 25. Selain itu, batas iterasi dan nilai tebakan
juga mempengaruhi hasil shooting yang didapat, dan saling berkait-
an. Untuk nilai batas iterasi tertentu, maka nilai tebakan yang cu-
kup mendekati hasil analitiknya berbeda dengan nilai tebakan untuk
batas iterasi yang lain. Dalam praktikum ini, untuk h = 0, 25, nilai
tebakan yang sesuai (mendekati hasil analitiknya) adalah i = 2, se-
mentara untuk h = 0, 05 nilai tebakan yang sesuai (mendekati hasil
analitiknya) adalah i = 1

Pustaka
[1] Nurwantoro, Pekik. 2001. Petunjuk Praktikum Fisika Komputasi, Univer-
sitas Gadjah Mada:Yogyakarta.

[2] Ilham, Muhammad. 2014.Persamaan Diferensial Biasa Orde 2 diakses pa-


da tanggal 11 Mei 2016

18
Lampiran
1. Numerov h = 0, 1, n = 100

nuov a100 1.png

19
nuov a100 2.png

20
nuov a100 3.png

Gambar20. Hasil program numerov h = 0, 1 n = 100

21
2. Gauss Seidel h = 0, 25, n = 30, i = 0

gs 30 0.png

Gambar21. Hasil program numerov h = 0, 25 n = 30, i = 0

22