Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum

a. Mengidentifikasi bentang alam menggunakan peta RBI dan Peta


Geologi yang telah ditentukan.
b. Menentukan bentang alam pada daerah yang ditentukan.

1.2 Alat dan bahan


1. Peta RBI lembar Alindau
2. Peta Geologi Lembar Palu
3. ArcGis

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Bentukan Asal Struktural

Bentang alam struktural adalah bentang alam yang dihasilkan oleh


aktifitas tektonik seperti lipatan atau patahan. Bumi ini terdiri dari
lempeng tektonik yang berada di atas magma sehingga mengakibatkan
terjadinya perubahan morfologi diatas permukaan bumi akibat gaya
endogen tersebut. Bentang alam struktural merupakan kenampakan
morfologi yang pembentukannya dikontrol sepenuhnya oleh struktur
geologi daerah yang bersangkutan, struktur yang dominan merupakan
struktur sekunder, atau struktur yang terbentuk setelah batuannya ada,
struktur ini dapat berupa sesar, lipatan dan kekar.

Macam-macam Bentang Alam Struktural

Bentang alam struktural dapat dikelompokkan berdasarkan struktur


yang mengontrolnya. Srijono (1984, dikutip Widagdo, 1984),
menggambarkan klasifikasi bentang alam struktural berdasarkan struktur
geologi pengontrolnya menjadi 3 kelompok utama, yaitu dataran,
pegunungan lipatan dan pegunungan patahan. Pada dasarnya struktur
geologi yang ada tersebut dapat ditafsirkan keberadaannya melalui pola
ataupun sifat dari garis kontur pada peta topografi.

a. Bentang alam dengan struktur mendatar (Lapisan Horisontal)


Menurut letaknya (elevasinya) dataran dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
Dataran rendah, adalah dataran yang memiliki elevasi antara 0-500
kaki dari muka air laut.
Dataran tinggi(plateau/high plain ), adalah dataran yang menempati
elevasi lebih dari 500 kaki diatas muka air laut.

b. Bentang Alam dengan Struktur Miring


Hampir semua lapisan diendapkan dalam posisi yang mendatar. Sedimen
yang mempunyai kemiringan asal diendapkan pada dasar pengendapan
yang sudah miring, seperti pada lereng gunung api dan disekitar terumbu
karang. Kemiringan lapisan sedimen yang demikian disebut kemiringan
asal dengan sudut maksimum 350(Tjia, 1987).
Kebanyakan sedimen yang memperlihatkan kemiringan, disebabkan
karena adanya proses geologi yang bekerja pada suatu daerah tersebut.
Morfologi yang dihasilkan oleh proses tersebut akan memperlihatkan
pola yang memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan.
Berdasarkan besarnya sudut kemiringan dari kedua lerengnya, terutama
yang searah dengan kemiringan lapisan batuannya, bentang alam ini
dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
Cuesta. Pada cuesta sudut kemiringan antara kedua sisi lerengnya
tidak simetri dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan.
Sudut kelerengan kurang dari 450 (Thornbury, 1969, p.133),
sedangkan Stokes & Varnes, 1955 : p.71 sudut kelerengannya
kurang dari 200. Cuesta memiliki kelerengan fore slope yang lebih
curam sedangkan back slopenya relatif landai pada arah sebaliknya
sehingga terlihat tidak simetri.
Hogback. Pada hogback, sudut antara kedua sisinya relatif sama,
dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan sekitar
450(Thornbury, 1969, p.133). sedangkan Stokes & Varnes, 1955 :
p.71 sudut kelerengannya lebih dari 200. Hogback memiliki
kelerengan fore slope dan back slope yang hampir sama sehingga
terlihat simetri.
c. Bentang alam dengan Stuktur Lipatan
Lipatan terjadi karena adanya lapisan kulit bumi yang mengalami gaya
kompresi (gaya tekan). Pada suatu lipatan yang sederhana, bagian
punggungan disebut dengan antiklin, sedangkan bagian lembah disebut
sinklin.
Unsur-unsur yang terdapat pada struktur ini dapat diketahui dengan
menafsirkan kedudukan lapisan batuannya. Kedudukan lapisan
batuan(dalam hal ini arah kemiringan lapisan batuan) pada peta
topografi, akan berlawanan arah dengan bagian garis kontur.
d. Struktur antiklin dan sinklin
Pada prinsipnya penafsiran pada kedua struktur ini berdasarkan atas
kenampakan fore slope/antidip slope dan back slope/dipslope yang
terdapat secara berpasangan. Bila antidip slope saling berhadapan
(infacing scarp), maka terbentuk lembah antiklin, sedangkan apabila
yang saling berhadapan adalah back slope/dipslope, disebut lembah
sinklin. Pola pengaliran yang dijumpai pada lembah antiklin biasanya
adalah pola trellis.
e. Struktur antiklin dan sinklin menunjam
Struktur ini merupakan kelanjutan atau perkembangan dari pegunungan
lipatan satu arah (cuesta dan hogback) dan dua arah (sinklin dan
antiklin). Bila tiga fore slope saling berhadapan maka disebut sebagai
lembah antiklin menunjam. Sedangkan bila tiga back slope saling
berhadapan maka disebut sebagai lembah sinklin menunjam.
f. Struktur lipatan tertutup
Kubah.
Bentang alam ini mempunyai ciri-ciri kenampakan sebagai
berikut :
- Kedudukan lapisan miring ke arah luar (fore slope ke arah
dalam).
- Mempunyai pola kontur tertutup
- Pola penyaluran radier dan berupa bukit cembung pada stadia
muda
- Pada stadia dewasa berbentuk lembah kubah dengan pola
penyaluran annular.
Cekungan
Bentang alam ini mempunyai kenampakan sebagai berikut :
- Kedudukan lapisan miring ke dalam (back slope ke arah
dalam)
- Mempunyai pola kontur tertutup
- Pada stadia muda pola penyalurannya annular.
g. Bentang Alam dengan Struktur Patahan
Patahan (sesar) terjadi akibat adanya gaya yang bekerja pada kulit bumi,
sehingga mengakibatkan adanya pergeseran letak kedudukan lapisan
batuan. Berdasarakan arah gerak relatifnya, sesar dibagi menjadi 5,
yaitu:
Sesar normal/ sesar turun (normal fault)
Sesar naik( reverse fault)
Sesar geser mendatar (strike-slip fault)
Sesar diagonal (diagonal fault/ oblique-slip fault)
Sesar rotasi (splintery fault/hinge fault)

Secara umum bentang alam yang dikontrol oleh struktur


patahan sulit untuk menentukan jenis patahannya secara langsung.
Untuk itu, dalam hal ini hanya akan diberikan ciri umum dari
kenampakan morfologi bentang alam struktural patahan, yaitu :
Beda tinggi yang menyolok pada daerah yang sempit.
Mempunyai resistensi terhadap erosi yang sangat berbeda pada
posisi/elevasi yang hampir sama.
Adanya kenampakan dataran/depresi yang sempit memanjang.
Dijumpai sistem gawir yang lurus(pola kontur yang lurus dan
rapat).
Adanya batas yang curam antara perbukitan/ pegunungan dengan
dataran yang rendah.
Adanya kelurusan sungai melalui zona patahan, dan membelok
tiba-tiba dan menyimpang dari arah umum.
Sering dijumpai(kelurusan) mata air pada bagian yang
naik/terangkat
Pola penyaluran yang umum dijumpai berupa rectangular, trellis,
concorted serta modifikasi ketiganya.
Adanya penjajaran triangular facet pada gawir yang lurus.
h. Struktut kekar, struktur ini pada peta topografi ditandai oleh adanya
kelurusan gawir, lembah bukit dan celah celah. Dapat pula dilihat
dari pola perkembangan sungainya
BAB III

METODOLOGI

3.1 Prosedur kerja


1. Plot 5x5 grid di peta RBI
2. Plot 5x5 grid sesuai dengan lokasi di peta RBI
3. Identifikasi bentang alam menggunakan peta Geologi dan peta RBI
4. Tentukan bentang alam pada daerah tersebut
5. Selesai
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada praktikum klasifikasi bentang alam, telah diamati peta RBI


daerah Beteleme dengan batas koordinat :

BT : 1210250- 1210300, LS : 2080 20130.

Dengan mengamati peta geologinya, maka telah diketahui bahwa


daerah tersebut memiliki dua bentang alam yaitu:

1. Bentang alam Struktural


2. Bentang alam Fluvial

12125'0"E 12126'0"E 12127'0"E 12128'0"E 12129'0"E 12130'0"E

28'0"S 28'0"S

29'0"S 29'0"S

210'0"S 210'0"S

211'0"S 211'0"S

212'0"S 212'0"S

213'0"S 213'0"S

12125'0"E 12126'0"E 12127'0"E 12128'0"E 12129'0"E 12130'0"E

Gambar 1. Peta RBI lembar Beteleme


Gambar 2. Peta Geologi lembar Malili

Pada peta geologi diketahui bahwa litologinya yaitu Qal dan MTuso

1. Prinsip Prinsip yang digunakan


a. Prinsip prinsip struktur geologi.
b. Prinsip prinsip sifat garis kontur.
c. Prinsip prinsip hubungan antara morfologi yang terbrntuk dengan
resistensi batuan dan struktur geologi.

12125'0"E 12126'0"E 12127'0"E 12128'0"E 12129'0"E 12130'0"E

28'0"S 28'0"S

29'0"S 29'0"S

210'0"S 210'0"S

211'0"S 211'0"S

Gambar 3. Bentang alam struktura


212'0"S 212'0"S

Gambar 3. Bentang Alam Struktura


213'0"S 213'0"S

12125'0"E 12126'0"E 12127'0"E 12128'0"E 12129'0"E 12130'0"E

Pada peta RBI ini di indetifikasi bahwa bentang alamnya adalah


struktural karna dilihat dari konturnya yang rapat dan lurus memanjang,
dan pada peta geologi terdapat sesar danbatuan ultrabasa, yaitu hatzburgit,
gabro, diabas, dunit, lherzolite, serpentinit, wherlite dan websterit yakni
batuan-batuan yang tergolong resisten terhadap pelapukan.

A. Bentuk Asal Fluvial

Bentukan asal fluvial antara lain : dataran banjir, dataran alluvial,


kipas alluvial, sungai berkelok kelok (Meandering), gosong sungai,
sungai teranyam, dsb. Proses fluvial ini bersifat merusak dan membangun.
Proses yang merusak ini meliputi pelapukan, erosi dan denudasi hingga
transportasi dan mengakibatkan terbentuknya bentuk lahan yang berupa
lembah lembah sungai. Proses yang brsifat konstruktif meliputi proses
transportasi hingga sedimentasi dan membangun bentuk bentuk positif
hasil sedimentasi. Pada akhir proses tersebut akan membentuk suatu
dataran.

Didalam proses geologi maupun geomorfologi, air memegang


peranan penting karena kemampuan sebagai proses pelapukan, erosi yang
dapat mengukir permukaan bumi, media transportasi dan proses
sedimentasi. Aliran permukaan dapat menyebabkan terjadinya erosi dan
berkembang dari bentukan splash erosion, rill erosion, gulley erosion,
valley erosion dan sheet erosion.

1. Bentuk Erosi Oleh Air


a. Splash erosion, erosi ini umumnya terjadi pada daerah yang beriklim
sedang atau tropis. Terjadi pada waktu hujan jatuh ke permukaan bumi
dan mampu mengadakan benturan tau pukulan pukulan sehingga
mampu membentuk relief berupa lubang lubang.
b. Rill Erosion yaitu perluasan dari splash erosion yang berhubungan
dengan cekungan yang berbentuk linier, sedikit mengalami
pembelahan atau pengembangan. Rill erosion ini merupakan awal
terbentuknya sungai (initial river), erosi ini umumnya terdapat pada
daerah dengan kemiringan lereng lebih besar dari 18o.
c. Gulley erosion, suatu prngrmbangan rill erosion atas dasar terjadinya
perkembngan lembah yang bersifat melebar kearah samping (widen
valley).
d. Valley Erosion, merupakan kegiatan erosi hasil pertemuan gulley
erosion dengan proses meander berjalan sangat kompleks bahkan
sedimentasinya berjalan dengan sangat hebat.
e. Gulley erosion merupakan perkembangan lembah, ada dua yaitu
pemanjangan yang berasal rill lembah dan pelebaran lembah.
f. Sheet Erosion, merupakan pertemuan dengan valley erosion dengan
proses deepen of valley yang dipengaruhi oleh sedimentasi secara
efektif diangkut oleh aliran berkembang pada suatu tempat
mengalirnya air secara alamiah dengan membentuk pola tertentu yang
disebut dengan sungai.

2. Faktor faktor yang mempengaruhi kecepatan erosi

a. Kuantitas atau volume air yang mengalir dipermukaan.


b. Jenis batuan atau tanah.
c. Topografi atau kemiringan lereng.
d. Kuantitas vegetasi penutup (convered vegetation).
e. Peran manusia (artefak).

12125'0"E 12126'0"E 12127'0"E 12128'0"E 12129'0"E 12130'0"E

28'0"S 28'0"S

29'0"S 29'0"S

210'0"S 210'0"S

211'0"S 211'0"S

212'0"S 212'0"S

213'0"S 213'0"S

12125'0"E 12126'0"E 12127'0"E 12128'0"E 12129'0"E 12130'0"E


Gambar 4. Bentang Alam Fluvial

Pada peta RBI ini di indetifikasi bahwa bentang alamnya adalah


alluvial karna dilihat dari konturnya yang renggang, dan pada peta geologi
terdapat satuan litologi yang menunujukan adanya endapan lumpur,
lempung, pasir, kerikil dan kerakal yang tidak resisten dan rentan akan
erosi.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Analisa bentang alam pada daerah Beteleme adalah struktural dan
fluvial. Analisa bentang alam struktural yang disebabkan oleh struktur
geologi dalam hal ini adalah antiklin, sinklin, sesar, kekar, rekahan dan
perbukitan. Berdasarkan keadaan topografi pola kontur menunjukkan
keadaan untuk jenis jenis morfologi, resistensi batuan dan bentuk asal
atau bentuk lahan. Pola kontur yang rapat menunjukkan bahwa daerah
tersebut adalah gawir dimana di daerah ini punya resistensi batuan yang
kuat. Kemiringan satu arah menunjukkan bahwa daerah tersebut adalah
dome, oleh karena itu pola kontur dalam peta topografi sangat menetukan
dalam pemilahan pemilahan atau pembagian Analisa bentuk lahan.
Selain itu bentang alam alluvial karna dilihat dari konturnya yang
renggang pada elevasi yang relative rendah, dan pada peta geologi terdapat
satuan litologi yang menunujukan adanya endapan lumpur, lempung, pasir,
kerikil dan kerakal yang tidak resisten dan rentan akan erosi. Jenis pada
daerah ini berbeda beda satu dengan yang lainnya, hal ini disebabkan
oleh perbedaan bentuk relief permukaan bumi, bentuk tersebut antara lain
perbukitan, punggungan, lembah dataran dan lereng.