Anda di halaman 1dari 31

PAKET PENYULUHAN

CA. CERVIKS dan Kemoterapi


Di Ruang 9 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
TIM PKRS IRNA III

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT


RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG

MALANG
2017

PAKET PENYULUHAN
CA. CERVIKS
Di Ruang 9 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
PSIK A Kelompok 2

Fatimah Az Zahra
Anisa Devi Rosari Sinaga
Titik Zahrotul Ainiyah

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG
2017

LEMBAR PENGESAHAN

Satuan Acara Penyuluhan yang berjudul Ca Cerviks dan kemoterapi di Ruang


Rawat Inap 9 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang yang akan dilaksanakan pada hari tanggal
yang disusun oleh:
MAHASISWA:

Fatimah Az Zahra
Anisa Devi Rosari Sinaga
Titik Zahrotul Ainiyah

Telah disetujui dan disahkan pada:


Hari :
Tanggal :

Telah Disetujui Oleh:

Mengetahui,
Pembimbing Klinik Kepala Urusan Ruang 9

_________________________ _______________________

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok bahasan : Ca Cerviks dan kemoterapi
Waktu : 30 menit
Sasaran : Pasien, keluarga pasien dan pengunjung
Hari/Tanggal :
Tempat : Ruang 9

A. LATAR BELAKANG
Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim / serviks yang
abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan ke arah displasia atau mengarah pada
keganasan. Kanker ini biasanya menyerang wanita yang pernah atau sedang berada
dalam status sexually active. Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur,
terutama paling banyak pada wanita yang berusia 35 - 55 tahun. Akan tetapi, tidak
mustahil wanita yang mudapun dapat menderita penyakit ini, asalkan memiliki faktor
risikonya.
Perkembangan neoplasma ganas di serviks tidak menghalangi untuk
terjadinya kehamilan. Terdapat kemungkinan 1 di antara 3000 kehamilan bagi seorang
wanita penderita kanker serviks. Namun, adanya kanker serviks memberi pengaruh yang
tidak baik dalam kehamilan, persalinan, dan nifas. Kanker serviks dapat memicu
terjadinya abortus akibat pendarahan dan hambatan dalam pertumbuhan janin karena
pertumbuhan neoplasma tersebut. Apabila penyakit ini tidak diobati lebih lanjut, pada
kira-kira dua pertiga usia kehamilan penderita menjelang cukup bulan, dapat terjadi
kematian janin(Wiknjosastro, 2005).
Adapun penyebab pasti terjadinya perubahan sel-sel normal mulut rahim
menjadi se-sel yang ganas tidak diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi perubahan tersebut, antara lain : hubungan seksual pada usia
dini (< 17 tahun), hubungan seksual multi partner, infeksi HPV (Human Papilloma Virus),
dan genetik (namun, persentasenya sangat kecil).
Ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu :
usia, melahirkan lebih dari 3x, personal hygiene, status sosial ekonomi, terpajan virus
terutama virus HIV, dan kebiasaan merokok.
Beberapa gejala yang bisa timbul pada penderita kanker serviks, antara lain :
keputihan atau keluarnya cairan encer dan berbau busuk dari vagina, pendarahan,
hematuria, anemia, kelemahan pada ekstremitas bawah, timbul nyeri panggul (pelvis)
atau di perut bagian bawah. Pada stadium lanjut, badan menjadi lebih kurus, edema kaki,
timbul iritasi kandung kencing dan rektum, bahkan bisa menyebabkan
terbentuknya vesikovaginal atau rektovaginal, hingga timbul gejala-gejala akibat
metastasis jauh.
Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher
rahim, sebanyak 80 persen terjadi pada wanita yang hidup di negara berkembang.
Sedikitnya 231.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari
jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. Kematian pada kasus
kanker serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada
dalam stadium lanjut.
Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini, kemungkinan
penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%. Kini, cara terbaik yang bisa
dilakukan untuk mencegah kanker ini adalah melalui skrining yang dinamakan Pap
Smear. Pap smear adalah suatu pemeriksaan sitologi untuk mengetahui adanya
keganasan (kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat dan
tidak menimbulkan rasa sakit. Dengan adanya upaya deteksi dini ini, diharapkan angka
kejadian kanker serviks dapat ditekan pada tahun - tahun berikutnya.

B. Tujuan instruksional umum


Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, pasien dan keluarga pasien dapat
mengetahui, memahami tentang Ca Cerviks dan kemoterapi

C. Tujuan instruksional khusus


Setelah mengikuti penyuluhan ini, pasien dan keluarga pasien mampu:
1. Mengetahui, memahami definisi ca cerviks

2. Mengetahui dan memahami penyebab ca cerviks

3. Mengetahui dan memahami tanda-gejala ca cerviks

4. Mengetahui dan memahami pencegahan dan deteksi dini ca cerviks

5. Mengetahui dan memahami penanganan ca cerviks


6. Mengetahui, memahami definisi kemoterapi

7. Mengetahui jenis-jenis kemoterapi

8. Mengetahui dan memahami indikasi dari kemoterapi

9. Mengetahui persiapan kemoterapi

10. Mengetahui dan memahami efek samping dari kemoterapi

11. Mengetahui penatalaksanaan dari efek samping kemoterapi

D. Metode
a. Ceramah
b. Diskusi

E. Analisa Situasi
a. Peserta
Jumlah peserta diperkirakan sebanyak 5 - 10 orang merupakan keluarga atau
pasien dari R.9
b. Pengajar / Fasilitator
Fasilitator adalah mahasiswa profesi jurusan keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya Malang

F. Alat Bantu dan Media


1. Leaflet
2. LCD dan PPT

G. Materi Pembelajaran (terlampir)


a. Pengertian Ca Cervix
b. Penyebab Ca Cervix
c. Tanda Gejala Ca Cervix
d. Pengobatan Ca Cervix
e. Pencegahan Ca Cervix

H. KEGIATAN
Tahap Waktu Kegiatan perawat Kegiatan peserta Metode Media
Kegiatan
Pendahuluan 5 menit 1. Menjelaskan 1. Mendengarkan
cakupan materi dan
dan berkenalan memperhatikan
2. Menjelaskan 2. Mendengarkan
tujuan diberikan dan
penyuluhan memperhatikan
tentang ca cerviks 3. Menjawab
3. Menggali tingkat pertanyaan
pengetahuan awal
peserta
Penyajian 15 1. Menjelaskan 1. Mendengar ceramah LCD,
menit pengertian ca kan dan PPT
cerviks memperhati dan
2. Menjelaskan kan leaflet
penyebab ca cerviks
3. Menjelaskan tanda-
gejala ca cerviks
4. Menjelaskan
penanganan ca
cerviks
5. Menjelaskan
pencegahan ca
cerviks
6. Menjelaskan definisi
kemoterapi
7. Menjelaskan efek
samping dari
kemoterapi
8. Menjelaskan
indikasi dari
kemoterapi

Penutup 10 Menutup pertemuan 1. Menjawab Diskusi


menit 1. Membuka sesi tanya 2. Bertanya Ceramah
jawab jika masih 3. Memperhatikan , Tanya,
ada yang kurang Jawab
jelas
2. Memberikan
pertanyaan kepada
pesrta
3. Meminta klien atau
salah satu keluarga
untuk mereview
materi yang telah
disampaikan
4. Menyimpulkan
materi yang
diberikan

I. EVALUASI
1. Kriteria Evaluasi Struktur
a. Penyuluh mencari literatur mengenai Ca. Cervix dan kemoterapi
b. Penyuluh membuat SAP mengenai Ca. Cervix dan kemoterapi, diharapkan
telah mempersiapkan terkait materi, media, alat bantu, serta sarana-
prasarana yang digunakan untuk penyuluhan kesehatan dengan matang
c. Penyuluhan dilakukan dengan sesuai pengorganisasian
Moderator :
Pemateri :
Fasilitator dan observer :

2. Kriteria Evaluasi Proses


a. Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai rencana
b. Diharapkan suasana penyuluhan kondusif dan tidak ada peserta yang
meninggalkan ruangan saat dilakukan penyuluhan
c. Diharapkan peserta antusias terhadap materi penyuluhan
d. Diharapkan peserta memberikan respon atau umpan balik berupa
pertanyaan-pertanyaan

3. Kriteria Evaluasi Hasil


Sebelum melakukan penyuluhan pemateri memberikan pertanyaan dasar
mengenai Ca. Cervix dan kemoterapi, kemudian setelah penyuluhan peserta
diberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diberikan sebelum
dilakukan penyuluhan. Penyuluhan dikatakan berhasil jika dari total seluruh
sasaran yang mengikuti penyuluhan, 80% sasaran dapat menjawab dengan
benar.
Misalnya : jumlah peserta penyuluhan 10 orang, saat diawal penyuluhan
diberikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan
peserta penyuluhan. Pertanyaan yang sama juga diberikan pada akhir
penyuluhan, jika 8 dari 10 orang peserta dapat menjawab pertanyaan
dengan benar, maka penyuluhan dianggap berhasil, namun jika kurang
dari 8 peserta menjawab pertanyaan dengan benar maka penyuluhan
dianggap tidak berhasil.

Materi Penyuluhan
1. DEFINISI dan KLASIFIKASI
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di
daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa
kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher
rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah
rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Kanker leher
rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher
rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel
kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Klasifikasi kanker serviks
Penentuan tahapan klinis penting dalam memperkirakan penyebaran penyakit,
membantu prognosis rencana tindakan, dan memberikan arti perbandingan dari metode
terapi. Tahapan stadium klinis yang dipakai sekarang ialah pembagian yang ditentukan
oleh The International Federation Of Gynecologi And Obstetric (FIGO) tahun 1976.
Pembagian ini didasarkan atas pemeriksaan klinik, radiologi, suktase endoserviks dan
biopsi. Tahapan tahapan tersebut yaitu :
a. Karsinoma pre invasif
b. Karsinoma in-situ, karsinoma intraepitel
c. Kasinoma invasive
Tabel 2.1. Stadium kanker serviks menurut klasifikasi FIGO (Wiknyosastro (1997)

Jenis histopatologis pada kanker serviks


Jenis skuamosa merupakan jenis yang paling sering ditemukan, yaitu 90% merupakan
karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma 5% dan jenis lain sebanyak 5%.
Karsinoma skuamosa terlihat sebagai jalinan kelompok sel-sel yang berasal dari
skuamosa dengan pertandukan atau tidak, dan kadang-kadang tumor itu sendiri
berdiferensiasi buruk atau dari sel-sel yang disebut small cell, berbentuk kumparan atau
kecil serta bulat seta mempunyai batas tumor stroma tidak jelas. Sel ini berasal dari sel
basal atau reserved cell. Sedang adenokarsinoma terlihat sebagai sel-sel yang berasal
dari epitel torak endoserviks, atau dari kelenjar endoserviks yang mengeluarkan mukus
(Notodiharjo, 2002). Klasifikasi histologik kanker serviks ada beberapa, di antaranya :
a. Skuamous carcinoma
Keratinizing
Large cell non keratinizing
Small cell non keratinizing
Verrucous

b. Adeno carcinoma
Endocervical
Endometroid (adenocanthoma)
Clear cell - paramesonephric
Clear cell - mesonephric
Serous
Intestinal
c. Mixed carcinoma
Adenosquamous
Mucoepidermoid
Glossy cell
Adenoid cystic
d. Undifferentiated carcinoma
e. Carcinoma tumor
f. Malignant melanoma
g. Maliganant non-epithelial tumors
Sarcoma : mixed mullerian, leiomysarcoma, rhabdomyosarcoma
Lymphoma
2. ETIOLOGI dan FAKTOR RISIKO
Kanker seviks uteri adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel
skuamosa. Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut lesi
prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker leher rahim
adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang sudah
dapat teridentifikasi yang 40 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual.
Beberapa tipe HPV virus risiko rendah jarang menimbulkan kanker, sedangkan tipe yang
lain bersifat virus risiko tinggi. Baik tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah dapat
menyebabkan pertumbuhan abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya HPV tipe
risiko tinggi yang dapat memicu kanker. Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan
melalui hubungan seksual adalah tipe 7,16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68,
69, dan mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain.
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim
disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Yang membedakan antara HPV risiko tinggi dengan HPV
risiko rendah adalah satu asam amino saja. Asam amino tersebut adalah aspartat pada
HPV risiko tinggi dan glisin pada HPV risiko rendah dan sedang (Gastout et al, 1996).
Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker leher rahim.
Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki resiko kemungkinan terkena
kanker leher rahim sebesar 5%. Dinyatakan pula bahwa tidak terdapat perbedaan
probabilitas terjadinya kanker serviks pada infeksi HPV-16 dan infeksi HPV-18 baik
secara sendiri-sendiri maupun bersamaan (Bosch et al, 2002). Akan tetapi sifat
onkogenik HPV-18 lebih tinggi daripada HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur dimana
transformasi HPV-18 adalah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan HPV-16. Selain itu,
didapatkan pula bahwa respon imun pada HPV-18 dapat meningkatkan virulensi virus
dimana mekanismenya belum jelas. HPV-16 berhubungan dengan skuamous cell
carcinoma serviks sedangkan HPV-18 berhubungan dengan adenocarcinoma serviks.
Prognosis dari adenocarcinoma kanker serviks lebih buruk dibandingkan squamous cell
carcinoma. Peran infeksi HPV sebagai faktor risiko mayor kanker serviks telah mendekati
kesepakatan, tanpa mengecilkan arti faktor risiko minor seperti umur, paritas, aktivitas
seksual dini/prilaku seksual, dan meroko, pil kontrasepsi, genetik, infeksi virus lain dan
beberapa infeksi kronis lain pada serviks seperti klamidia trakomatis dan HSV-2 (Hacker,
2000).
Faktor resiko kanker leher rahim Menurut Diananda (2007), faktor yang mempengaruhi
kanker serviks yaitu :
Usia
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua
usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim.
Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari
meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta
makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.
Usia pertama kali menikah.
Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan
hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar
daripada mereka yang menikah pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya
dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan
hanya
dilihat dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel
mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel
mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita
yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah
usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks.
Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan
terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk
zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah
sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh
lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati,
sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah
sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas
20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.
Aktivitas seksual
Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti pasangan.
Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah
satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan
mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak sehingga tidak terkendali sehingga
menjadi kanker.
Penggunaan antiseptik.
Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik maupun
deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.
Merokok
Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker
serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan,
lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada
di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping
meropakan ko-karsinogen infeksi virus. Nikotin, mempermudah semua selaput lendir
sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-
paru maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah
nikotin yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.
Penyakit kelamin
Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia. Wanita yang terkena penyakit akibat
hubungan seksual berisiko terkena virus HPV, karena virus HPV diduga sebagai
penyebab utama terjadinya kanker leher rahim sehingga wanita yang mempunyai
riwayat penyakit kelamin berisiko terkena kanker leher rahim.
Paritas (jumlah kelahiran).
Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan jarak
persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan
yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena
penyakit kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan
berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya
dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus
(HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.
Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama.
Penggunaan kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih dari 4 tahun
dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali. Kontrasepsi oral mungkin
dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim karena jaringan leher rahim merupakan
salah satu sasaran yang disukai oleh hormon steroid perempuan. Hingga tahun 2004,
telah dilakukan studi epidemiologis tentang hubungan antara kanker leher rahim dan
penggunaan kontrasepsi oral. Meskipun demikian, efek penggunaan kontrasepsi oral
terhadap risiko kanker leher rahim masih kontroversional. Sebagai contoh, penelitian
yang dilakukan oleh Khasbiyah (2004) dengan menggunakan studi kasus kontrol.
Hasil studi tidak menemukan adanya peningkatan risiko pada perempuan pengguna
atau mantan pengguna kontrasepsi oral karena hasil penelitian tidak memperlihatkan
hubungan dengan nilai p>0,05.
Defisiensi gizi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat gizi tertentu seperti
betakaroten dan vitamin A serta asam folat, berhubungna dengan peningkatan resiko
terhadap displasia ringan dan sedang.. Namun sampasaat ini tdak ada indikasi bahwa
perbaikan defisensi gizi tersebut akan enurunkan resiko.
Sosial ekonomi
Studi secara deskrptif maupun analitik menunjukkan hubungan yang kuat antara
kejadian kanker serviks dengan tingkat social ekonomi yang rendah. Hal ini juga
diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih prevalen pada
wanita dengan tingkat pendidkan dan pendapatan rendah. Faktor defisiensi nutrisi,
multilaritas dan kebersihan genitalia juga dduga berhubungan dengan masalah
tersebut.
Pasangan seksual
Peranan pasangan seksual dari penderita kanker serviks mulai menjadi bahan yang
menarik untuk diteliti. Penggunaan kondom yang frekuen ternyata memberi resiko
yang rendah terhadap terjadinya kanker serviks. Rendahnya kebersihan genetalia
yang dikaitkan dengan sirkumsisi juga menjadi pembahasan panjang terhadap
kejadian kanker serviks. Jumlah pasangan ganda selain istri juga merupakan factor
resiko yang lain.
3. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai
dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang
keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami
segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala
karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada
gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid,
amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan
intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada
penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid.
Nyeri dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal.
Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari
vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva.
Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Menurut Baird
(1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan
setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering
terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang
cair sampai menggumpal. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki,
hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter. Perdarahan rektum
dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang jugamerupakan gejala penyakit lanjut.
Pada pemeriksaan Pap Smear ditemukannya sel-sel abnormal di bagian bawah serviks
yang dapat dideteksi melalui, atau yang baru-baru ini disosialisasikan yaitu dengan
Inspeksi Visual dengan Asam Asetat. Sering kali kanker serviks tidak menimbulkan
gejala. Namun bila sudah berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-
gejala seperti pendarahan serta keputihan pada vagina yang tidak normal, sakit saat
buang air kecil dan rasa sakit saat berhubungan seksual (Wiknjosastro, 1997).

4. PENCEGAHAN dan DETEKSI DINI CA CERVIKS


Pengendalian kinder serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu pencegahan prmer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier Strategi
kesehatan masyarakat dalam mencegah kematian karena kanker serviks antara lain
adalah dengan pencegahan primer dan pencegaan sekunder.

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan oleh setiap


orang untuk menghindari diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya
kanker serviks. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menekankan perilaku hdup sehat
untuk mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti kawin muda, pasangan
seksual ganda dan lain-lain. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan
dengan imuisasi HPV pada kelompok masyarakat

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi dini dan


skrining kanker serviks yang bertujuan untuk menemukan kasus-kasus kanker serviks
secara dibni sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Perkembangan
kanker serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif ke invasive memerlukan
waktu sekitar 10 tahun atau lebih. Pemeriksaan sitologi merupakan metode sederhana
dan sensitive untuk mwndeteksi karsinoa pra invasive. Bila diobati dengan baik,
karsinoma pra invasive mempunyai tingkat penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa
kasus pada fase invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%. Program
skrining dengan pemeriksaan sitologi dikenal dengan Pap mear test dan telah
dilakukan di Negara-negara maju. Pencegahan dengan pap smear terbukimampu
menurunkan tingkat kematian akibat kanker serviks 50-60% dalamkurun waktu 20
tahun (WHO,1986).

Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker
serviks, yaitu :
1. Pencegahan Tingkat Pertama
a. Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya :
1) Kampanye kesadaran masyarakat
2) Program pendidikan kesehatan masyarakat
3) Promosi kesehatan
b. Pencegahan khusus, misalnya :
1) Interfensi sumber keterpaparan
2) Kemopreventif

2. Pencegahan Tingkat Kedua


a. Diagnosis dini, misalnya screening
b. Pengobatan, misalnya :
1) Kemoterapi
2) Bedah

3. Pencegahan Tingkat Ketiga


Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker
umumnya ialah secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan radioterapi dan
operasi radikal kurang lebih sama, meskipun sebenarnya sukar untuk dibandingkan
karena umumnya yang dioperasi penderita yang masih muda dan umumnya baik.

Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya. Anda
dapat melakukan banyak tindakan pencegahan sebelum terinfeksi HPV dan akhirnya
menderita kanker serviks. Beberapa cara praktis yang dapat Anda lakukan dalam
kehidupan sehari-hari antara lain :

1. Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk
merangsang sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena,
vitamin A, C, dan E, dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher
rahim.

2. Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat


meningkatkan risiko terkena kanker serviks.

3. Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun.

4. Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan
menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.

5. Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.

6. Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan
sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.

7. Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap
smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.

8. Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.

9. Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini
dapat dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk
membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.

Deteksi Dini kanker serviks

Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertai dengan kemampuan


dalam penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan angka kematian akibat
kanker serviks.
1. Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbau busuk
akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahan
timbul akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin sering terjadi diluar
senggama.
3. Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
4. Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.

5. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar),
seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun
melalui LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. Dengan
pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa
kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear
setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika
penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani
histerektomi. Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif maupun
paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan penyebabnya
sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat dihilangkan. Sedangkan tindakan
paliatif adalah tindakan yang berarti memperbaiki keadaan penderita. Histerektomi
adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan
serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium
klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur pasien sebaiknya sebelum menopause,
atau bila keadaan umum baik, dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65
tahun. Pasien juga harus bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit
jantung, ginjal dan hepar.
b. Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan
parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV
sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi disesuaikan dengan tujuannya
yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel
kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar
getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan
jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter.
Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B.
Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat
paliatif yang diberikan secara selektif pada stadium IV A. Terapi penyinaran efektif
untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada
radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan
menghentikan pertumbuhannya. Ada dua jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal
yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak perlu dirawat di
rumah sakit, penyinaran biasanyadilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6
minggu. Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat radioaktif terdapat di
dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan
selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa
diulang beberapa kali selama 1-2 minggu. Efek samping dari terapi penyinaran
adalah iritasi rektum dan vagina, kerusakan kandung kemih dan rektum dan ovarium
berhenti berfungsi (Gale & Charette, 2000).
c. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui infus,
tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk membunuh
sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi
tegantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiag nosis. Beberapa kanker
mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan
pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya diberikan untuk
mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan adjuvant. Dalam beberapa
kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit dalam periode waktu yang
lama walaupun tidak mungkin sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase
akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang
lebih baik. Kemoterapi secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase
karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang
memuaskan. Contoh obat yang digunakan pada kasus kanker serviks antara lain
CAP (Cyclophopamide Adrem ycin Platamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan
lain lain (Prayetni, 1997).
d. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh
dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah
menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon,
yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.
5. PENCEGAHAN
Pengendalian kanker serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
pencegahan prmer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier Strategi kesehatan
masyarakat dalam mencegah kematian karena kanker serviks antara lain adalah dengan
pencegahan primer dan pencegaan sekunder.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan oleh setiap orang
untuk menghindari diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kanker
serviks. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menekankan perilaku hdup sehat untuk
mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti kawin muda, pasangan seksual
ganda dan lain-lain. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan dengan
imuisasi HPV pada kelompok masyarakat
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi dini dan skrining
kanker serviks yang bertujuan untuk menemukan kasus-kasus kanker serviks secara
dibni sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Perkembangan kanker
serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif ke invasive memerlukan waktu
sekitar 10 tahun atau lebih. Pemeriksaan sitologi merupakan metode sederhana dan
sensitive untuk mwndeteksi karsinoa pra invasive. Bila diobati dengan baik, karsinoma
pra invasive mempunyai tingkat penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa kasus
pada fase invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%. Program skrining
dengan pemeriksaan sitologi dikenal dengan Pap mear test dan telah dilakukan di
Negara-negara maju. Pencegahan dengan pap smear terbukimampu menurunkan
tingkat kematian akibat kanker serviks 50-60% dalamkurun waktu 20 tahun
(WHO,1986).
Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker serviks, yaitu
:
Pencegahan Tingkat Pertama
a. Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya :
Kampanye kesadaran masyarakat
Program pendidikan kesehatan masyarakat
Promosi kesehatan
b. Pencegahan khusus, misalnya :
Interfensi sumber keterpaparan
Kemopreventif
Pencegahan Tingkat Kedua
a. Diagnosis dini, misalnya screening
b. Pengobatan, misalnya :
Kemoterapi
Bedah
Pencegahan Tingkat Ketiga
Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker umumnya ialah
secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan radioterapi dan operasi radikal
kurang lebih sama, meskipun sebenarnya sukar untuk dibandingkan karena umumnya
yang dioperasi penderita yang masih muda dan umumnya baik.
Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya. Anda dapat
melakukan banyak tindakan pencegahan sebelum terinfeksi HPV dan akhirnya menderita
kanker serviks. Beberapa cara praktis yang dapat Anda lakukan dalam kehidupan sehari-
hari antara lain :
Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk
merangsang sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena,
vitamin A, C, dan E, dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher
rahim.
Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat
meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun.
Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan
menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.
Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.
Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan
sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.
Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap
smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.
Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.
Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini
dapat dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk
membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.

KEMOTERAPI

1. Definisi Kemoterapi
Kemoterapi merupakan nama yang terdiri dari dua istilah yaitu chemo yang berarti
kimia dan theraphy yang berarti pengobatan. Jadi kemoterapi adalah pengobatan
penyakit dengan menggunakan zat-zat kimiawi (Dorland, 2011).Kemoterapi digunakan
sebagai salah satu pilihan terapi untuk kanker dan dapat meningkatkan harapan hidup
pasien (Yusuf, 2009).

2. Tujuan kemoterapi
a. Pengobatan.
b. Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.

3. Indikasi Kemoterapi
Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi :
- Pasien dalam keadaan umum yang baik
- Pasien dengan keganasan atau kanker yang telah di buktikan dengan hasil anatomi
fisiologi
- Pasien yang telah dilakukan pembedahan tumor dan hasil setelah pemeriksaan PA
menunjukkan keganasan
- Adjuvan: kanker stadium awal atau stadium lanjut lokal setelah pembedahan
- Neoadjuvan (induction chemotherapy): kanker stadium lanjut lokal
- Paliatif: kanker stadium lanjut jauh
- Sensitisizer: bersama-sama dengan radioterapi

4. Manfaat kemoterapi
Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pengobatan
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis
Kemoterapi atau beberapa jenis Kemoterapi.
b. Kontrol
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan Kanker agar
tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.
c. Mengurangi Gejala
Bila kemotarapi tidak dapat menghilangkan Kanker, maka Kemoterapi yang
diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti
meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil
ukuran Kanker pada daerah yang diserang.

5. Efek Samping Kemoterapi


Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian
maupun dosis kumulatif, selain itu pasien dapat menimbulkan gejala efek samping yang
berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama.
Beberapa efek samping kemoterapi dan penanganannya antara lain (Hapsari, 2012) :

1. Sariawan

Sariawan terjadi karena pada sel mukosa mulut akibat pemberian kemoterapi,
penurunan kadar neutrofil dan penurunan kadar trombosit, sehingga terjadi peningkatan
resiko perdarahan dan infeksi, serta kebersihan mulut yang buruk.

Penatalaksanaan sariawan antara lain :

a. menggosok gigi minimal 2 kali sehari, setelah makan dan sebelum tidur dengan
sikat gigi yang lembut dan pasta gigi berflouride.
b. kumur dengan menggunakan air garam, air matang ataupun cairan kumur yang
tidak mengandung alkohol, dilakukan selama 15-30 detik dan dapat ditingkatkan
setiap 2 jam sekali untuk meningkatkan kenyamanan
c. sering minum air
d. pilih makanan yang lembut, mudah ditelan, dan menghindari makanan yang
panas maupun dingin.
e. Hindari makanan yang keras
f. hindari penggunaan tusuk gigi

2.. Mual dan Muntah


Terjadi karena adanya rangsangan pada pusat muntah yang ada di medula oblongata, yang
disebabkan oleh chemoreceptor trigger zone maupun stimulasi kortek serebri
mempengaruhi neurotransmitter pada pusat muntah sehingga terjadi respon mual muntah.

a. Penatalaksanaan mual muntah antara lain :


b. makan makanan yang mudah dicerna oleh tubuh
c. makan dalam porsi kecil dan sering
d. makan atau minum hangat
e. hindari makanan atau minuman yang berbau tajam
f. istirahat sebelum kemoterapi diberikan
g. melakukan teknik relaksasi nafas dalam
h. pemberian obat anti mual

3. Diare

Diare merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan frekuensi konsistensi maupun
volume feses (tinja). Penatalaksanaannya akibat kemoterapi antara lain :

a. Penuhi kebutuhan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi dan gangguan


keseimbangan elektrolit
b. Makan makanan 5-6 kali/hari dalam porsi kecil
c. Makan makanan yang tinggi kalium dan natrium
d. Makan makanan rendah serat

4. Anemia

Anemia merupakan penurunan kadar hemoglobin. Tanda dan gejala akibat anemia adalah
pucat, kelemahan, sesak nafas, pusing, berkeringat, nadi meningkat, frekuensi nafas
meningkat ataupun tidak mau makan. Penatalaksanaan anemia akibat kemoterapi :

a. Memberikan banyak istirahat


b. Membatasi aktivitas terutama yang menguras tenaga
c. Makan makanan yang bernutrisi untuk menyediakan kalori yang dibutuhkan tubuh
dan mengganti jaringan yang rusak akibat kemoterapi
d. Pemberian tranfusi darah jika kadar hemoglobin turun kurang dari normal

5. Resiko infeksi

Infeksi pada seseorang yang sedang dilakukan kemoterapi terjadi karena kadar neutrofil
dibawah normal. Cara pencegahan infeksi antara lain:

a. Melakukan teknik mencuci tangan dengan sabun yang benar


b. Menghindari makan telur, ayam, ikan yang belum matang dimasak
c. Makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
d. Berhati hati memotong kuku
e. Mempertahankan perawatan mulut yang baik
f. Mandi secara teratur
g. Istirahat yang cukup
h. Minum banyak
i. Menghindari terjadi luka pada kulit
j. Selalu menggunakan alas kaki
k. Menggunakan losion pada kulit yang kering

6. Rambut rontok

Rambut rontok disebabkan karena agen kemoterapi merusak sel normal yang membelah
dengan cepat termasuk sel folikel rambut, menyebabkan rambut menjadi rontok.
Penatalaksanaan pasien dengan rambut rontok adalah :

a. melindungi kulit kepala dengan cara menghangatkan, memberikan losion


a. memijat kulit kepala
b. menganjurkan pasien untuk memakai wig, topi, atau penutup kepala
c. menggunakan sisir yang lembut
d. menggunakan shampo yang lembut misalnya shampo bayi untuk membersihkan
rambut setiap 4 hari sekali

8. perubahan kulit

Perubahan kulit yang terjadi akibat kemoterapi antara lain gatal, kering, kemerahan,
mengelupas, pembuluh darah vena yang menghitam, maupun sensitig terhadap sinar
matahari. Masalah kulit ini akan hilang setelah kemoterapi dihentikan. Tindakan yang dapat
dilakukan jika mengalami gatalm kering, kemerahan, atau kulit mengelupas adalah :

a. Menghindari mandi dengan ait hangat


b. Hindari mengeringkan badan dengan cara menggosok badan dengan handuk
c. Gunakan krim atau losion yang mengandung calamine setelah mandi untuk
melembabkan dan melembutkan kulit
d. Pemberian obat anti alergi

Penatalaksanaan dengan masalah sensitif terhadap sinar matahari adalah :

a. Menghindari terkena sinar matahari langsung dari jam 10.00-16.00


b. Menggunakan losion tabir surya dengan SPF 15 atau lebih
c. Melindungi bibir dengan menggunakan pelembab bibir yang mengandung SPF 15
atau lebih
d. Menggunakan celana panjang dan kaos panjang untuk melindungi tubuh dari
sengatan sinar matahari

9. Kelemahan
Kelemahan merupakan masalah fisik yang paling sering dirasakan akibat penyakit kanker
dan pengobatnnya. Tanda dan gejala kelemahan adalah kelelahan tubuh, ketidakmampuan
untuk melakukan tugas sederhana, nafas pendek, jantung berdebar, tidur tidak nyenyak,
merasa tidak istirahat walaupun sudah tidur lebih dari 8 jam, dan konsentrasi menurun.
Penatalaksanaan kelemahan :
a. Relaksasi untuk menurunkan stress yang dialami
b. Makan dan minum secara teratur
c. Istirahat dan tidur yang cukup dan ditambahkan dengan tidur siang
d. Menghindari beraktivitas terlalu banyak
e. Tetap berinteraksi sosial dengan keluarga atau teman

Efek samping kemoterapi berdasarkan waktu (Yusuf, 2009):


a. Efek samping yang sering terjadi (immediate side effects)
Efek samping yang terjadi dalam 24 jam pemberian sitostatika misalnya mal dan
muntah.
b. Efek samping yang awal terjadi (early side effects)
Efek samping yang timbul dalam beberapa hari sampai minggu misalnya leukopenia
dan stomatitis.
c. Efek samung yang terjadi belakangan(delayed side effects)
Efek samping yang timbul dalam hitungan minggu sampai bulan misalnya europati
perifer dan nefropati.
d. Efek samping yang terjadi kemudian (late side effects)
Efek samping yang terjadi dalam hitungan bulan sampai tahun misalnya keganasan
sekunder.

6. Pemberian Obat Kemoterapi


Obat kemoterapi dapat diberikan dengan cara:
a. Oral
Tekankan pentingnya untuk mengikuti jadwal yang telah ditentukan karena interval
telah ditentukan akan membuat interaksi obat lebih efektif.
b. Topikal
Hati-hati agar pasien tidak menyentuh area pemberian salep topikal dan dianjurkan
untuk meggunakan pakaian dari katun longgar.
c. Intra arterial
Memerlukan penempatan kateter pada arteri yangd ekat dengan tumor karena
adanya ktekanan arteri , diberikan obat yang dicampur heparin de[ngan
menggunakan infus pump
d. Intrakavitas
Memasukkan obat keadaan kandung kemih melalui kateter dan atau melalui selang
dada ke dalam tongga pleura.
e. Intraperitoneal
Memberikan obat dalam rongga abdoomen melalui port yang itanamkan dan atau
kanker suprapubik eksternal.
f. Intratekal
Pbat diberikan melalui prosedur punksi lumbal. Obat yang diberikan harus
disuntuikka pelan-pelan dan tanda-tanda vital dan keadaan umum harus
selaluterpantau selma dans etelah tindakan
g. Intravena
Paling banyak digunakan, dapat diberikan melalui kateter vena sentral atau akses
vena perifer

7. Jenis Obat Kemoterapi


Berikut merupakan jenis obat kemoterapi, cara kerja obat, dan efek samping dari
masing-masing obat:
Contoh Obat Cara Kerja Obat Efek Samping
Senyawa Alkali
Menekan sumsum tulang
Luka sepanjang perut
Dari kimia berkaitan
Menyebabkan rambut
Cyclophospamide dengan DNA,
rontok
Chlorambucil menyebabkan perpecahan
Mengurangi kesuburan
Melphalan DNA dan kesalahan dalam
Menekan sistem
replikasi DNA
kekebalan tubuh
Menyebabkan leukimia
Antimetabolit
Menekan sumsum tulang
Luka sepanjang perut
Methotrexate Menyebabkan rambut
Cytarabine rontok
Fludarabine Menghalangi sintesis DNA Mengurangi kesuburan
6-Mercaptopurine Menekan sistem
5-Fluorouracil kekebalan tubuh
Tidak meningkatkan risiko
leukimia
Antimiotik
Menekan sumsum tulang
Luka sepanjang perut
Menyebabkan rambut
rontok
Venoristine
Mengurangi kesuburan
Pacitaxel Menghalangi pembelahan
Menekan sistem
Vinorelbine sel kanker
kekebalan tubuh
Abraxane
Menyebabkan leukimia
Merusak saraf
Tidak menyebabkan
anemia
Penghambat Topoisomerase
Doxorubicin Mencegah sintesis DNA Menekan sumsum tulang
Luka sepanjang perut
Menyebabkan rambut
rontok
Mengurangi kesuburan
dan perbaikan melalui
Menekan sistem
Irinotecan penghalangan enzim yang
kekebalan tubuh
diamankan topisomerase
Menyebabkan leukimia
Doxorubicin dapat
menyebabkan kerusakan
jantung
Derivatif Platinum
Menekan sumsum tulang
Luka sepanjang perut
Menyebabkan rambut
Cisplatin Membentuk ikatan dengan rontok
Carboplatin DNA menyebabkan Mengurangi kesuburan
Oxaliplatin kehancuran Menekan sistem
kekebalan tubuh
Menyebabkan leukimia
Kerusakan saraf, ginjal
Terapi Hormonal
Menghalangi aksi Menyebabkan kanker
Tamoxifen ekstrogen (pada kanker endometrial, pembekuan
payudara) darah, muka merah
Penghambat Aromatase
Menghalangi aksi Menyebabkan disfungsi
Bicalutamid androgen (pada kanker ereksi (impotensi) dan
prostat) diare
Anastrozole Menyebabkan keropos
Menghalangi pembentukan
Examestane tulang (osteoporosis)
estrogen
Letrozole Gejala menopause
Penghambat Sinyal
Menghalangi sinyal untuk Menyebabkan fungsi hati
Imatinib pembelahan sel pada abnormal dan retensi
myelocytic leukimia kronis cairan
Gefinitib Menghalangi pertumbuhan Menyebabkan rash dan
Erlonitip epdermis faktor reseptor diare
Antibodi Monoklonal
Rituximab Menginduksi kematain sel Menyebabkan reaksi
dengan berikatan dengan alergi
permukaan resptor sel
pada tumor turunan limfosit
Menghalangi reseptor
Menyebabkan gagal
Trastuzumab faktor sel pada tumor
jantung
turunan limfosit
Berisi antibodi khusus
berikatan dengan resptor Menyebabkan penekanan
Gemtuzumab yang terdapat di sel platele yang diperpanjang
Ozogamicin leukimia kemudian sehingga meningkatkan
mengirimkan dosis racun risiko perdarahan
kemoterapinya
Modifikasi Respon Biologi
Menyebabkan demam,
dingin, tekanan pada
Iterferon-alpha Tidak diketahui sumsum tulang,,
kekurangan tiroid,
hepatitis
Senyawa Diferensial
Menyebabkan kesulitasn
Tretinoin
bernapas yang parah
Menginduksi diferensiasi
Menyebabkan irama
dan kematian sel leukimia
Arsenic trioxide jantung abnormal dan
ruam
Senyawa yang menghalangi pembentukan saluran darah (Senyawa
Antiangiogenik)
Menyebabkan tekanan
darah tinggi, kehilangan
Menghalangi faktor protein di urin,
Bevicizumab
pertumbuhan vascular perdarahan,
endothelial (vascular penggumpalan darah,
endothelial growth perforasi usus
factor=VEGF) Menyebabkan tekanan
Serafinib
darah tinggi, kehilangan
Sunitinib
protein di urin

8. Penatalaksanaan
1. Persiapan pasien
a. Penjelasan tentang tujuan dan persetujuan perlunya kemoterapi sehubungan
dengan penyakitnya yang dibuktikan dengan pengisian informed consent
b. Penjelasan mengenai macam obatnya, jadwal pemberian dan persiapan yang
diperlukan setiap siklus obat kemoterapi yang diberikan
c. Penjelasan mengenai efek samping yang mungkin terjadi pada penderita
d. Pastikan klien dalam keadaan cukup nutrisi dan harus banyak makan makan
yang bergizi
e. Pemeriksaan tanda tanda vital harus dalam batas normal yang ditandai
dengan:
- TD: dalam rentang normal 110/70 mmHg 130/90 mmHg
- Nadi: 60 100 x/menit
- RR: perempuan 16 20 x/menit, laki-laki 12 -20 x/menit
- Suhu: 36 derajat 37,5 derajat Celsius
f. Pastikan klien dalam keadaan sehat dan fit dibuktikan dengan:
1) Hasil laboratorium
Hematologi
- Hemoglobin ddalam rentang 13,4 17,7 g/dL
- Eritosit 4,0 5,5 106 /L

- Leukosit 4,3 10,3 103 /L


- Hematrokit 40 47 %
- Trombosit 142 424 103 /L
- Eosinofil 0 4 %
- Basofil 0 1 %
- Neutofil 51 67 %
- Limfosit 25 33%
- Monosit 2 5 %
Faal Hati
- SGPT 0 40 U/L
- SGPT 0 41 U/L
- Albumin 3,91 g/dL
Faal ginjal
- Ureum 16,6 48,5 mg/dL
- Kreatinin < 1,2mg/dL
- Bilirubin < 2 mg/dL
Elektrolit
- Natrium 136 145 mmol/L
- Kalium 3,5 5,0 mmol/L
- Klorida 98 106 mmol/L

2) Hasil foto
- Hasil EKG menunjukkan dalam batas normal dan tidak terdapat gangguan
ditandai dengan:
Tidak terdapat takikardia sinus
Tidak ada kelainan segmen T
Nadi antara 60 100
Gelombang T normal
Gelombang QRS normal
- Hasil foto thorak normal ditandai dengan:
Tampak pada hasil foto Diafragma membatasi rongga thorax dan
abdomen, berbentuk kubah, terdapat sudut kostofrenikus yaitu sudut
antara dinding dada dengan diafragma yang normalnya lancip.
Diafragma kanan lebih tinggi dari kiri
Tampak dari hasil foto pleura tidak terlihat pada foto thoraks,
mediastinum superior dilihat tidak melebar.
Tampak pada hasil foto, pada Paru Hilus kiri lebih tinggi dari hilus
kanan, corakan bronkovaskular normalnya 2/3 medial, 1/3 lateral
gambaran sepi (bila terdapat gambaran maka corakan meningkat).
Trakhea dan Soft tissue. Trakea normalnya ada di tengah (tidak
deviasi kekiri atau kekanan)
- Hasil konsul baik dengan dibuktikan bahwa dokter menyetujui dilakukan
kemoterapi

2. Persiapan alat dan bahan


a. Jarum suntik yang halus, abbocath/surflo No 20/22
b. Spuit disposabel 5 cc, 20 cc, 30 cc
c. Infus set, pada obat golongan taxan telah dipakai infus set khusus
d. Larutan Nacl 0,9% 100 cc, NaCl 0,9% 500 cc dan Aquadest 25 cc
e. Syringe pump (kalau ada)
f. Alkohol 70% dengan kapas steril
g. Bak spuit besar
h. Label obat
i. Plasttik tempat pembuangan bekas
j. Kardex (catatan khusus)

3. Prosedur pelaksanaan
a. Cuci tangan
b. Gunakan APD lengkap
c. Memberikan salam, sapa, sopan dan santun pada pasien
d. Verifikasi kembali benar pasien, jenis obat, dosis obat, jenis cairan, volume
cairan, cara pemberian, waktu pemberian dan akhir pemberian
e. Menjelaskan tujuan dan prosedur
f. Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi dibawah daerah tusukan
infuse
g. Berikan anti mual jam sebelum pemberian anti neoplastik (primperan, zofran,
kitril secara intra vena)
h. Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9%
i. Beri obat kanker secara perlahan-lahan (kalau perlu dengan syringe pump)
sesuai program
j. Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0,9%
k. Semua alat yang sudah di pakai dimasukkan ke dalam kantong plastik khusus
dan diikat serta diberi etiket
l. Buka gaun, topi, masker, kacamata kemudian rendam dengan detergent
m. Melakukan evaluasi tindakan
n. Berpamitan dengan klien
o. Membereskan alat
p. Mencuci tangan
q. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A Newman. 2009. Kamus Saku Kedokteran Dorland, Ed. 28. Terjemahan oleh
Albertus Agung Mahode. 2011. Jakarta: EGC

Farmakologi kemoterapi. 2010. https://dhanwaode.wordpress.com/2010/10/26/farmakologi-


kemoterapi/ (Diakses 24 juli 2016)

Yusuf, Anwar, Elisna Syahruddin, dan Ahmad Hudoyo. 2009. Kemoterpi Kanker Paru
(Online) www.jurnalrespirologi.org (Diakses 24 Juli 2016)

Hapsari Indri Happy. 2012. Pengaruh pendidikan kesehatan tentang efek samping
kemoterapi melalui multimedia terhadap perilaku orang tua dalam merawat anak
leukimia yang sedang kemoterapi. Tesis. Universitas Indonesia : Depok

Arjoso S, Peran Yayasan Kanker Indonesia dalam penanggulangan kanker serviks, YKI,
2009
Darwinian. A. 2006. Gangguan Kesehatan Pada Setiap Periode Kehidupan Wanita. Smart
living.Edisi ke 3.Jakarta.Jakarta.
Diananda R. 2007. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Yogyakarta : Katahati
Dalimartha S. 2004. Deteksi Dini Kanker. Jakarta : Penebar Swadaya.
Sjamsuddin S, Pencegahan dan deteksi Dini Kanker Serviks, Cermin Dunia Kedokteran, No.
133, 2001
Wiknjosastro, Ginekologi Onkologi , edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 2008.
Mangan Y. 2003. Cara Bijak Menaklukan Kanker. Depok : PT Agromedia Pustaka.
Mega Antara, Suwi Yoga, Suastika (2008) Ekspresi p53 pada Kanker Serviks Terinfeksi
Human Papilloma Virus tipe 16 dan 18: Studi Cross Sectional_Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
Depkes RI. Profil Kualitas Hidup Wanita Indonesia, Jakarta 2007.
Setyorini E, Faktor-faktor Risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di
RS.Dr. Moewardi Surakarta, Tesis Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS Tahun 2009.
Suharto O. 2007. Hubungan Antara Karakteristik Ibu Dengan Partisipasi Ibu
Rasjidi I, Sulistiyanto H. 2007.Vaksin Human Papilloma Virus dan Eradikasi Kanker Mulut
Rahim.Jakarta : Sagung Seto.