Anda di halaman 1dari 31

DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN 1
2. KLASIFIKASI RIG 2
3. TUJUAN PEMERIKSAAN RIG 14
4. KUALIFIKASI PERSONEL 14
5. ACUAN / STANDARD 14
6. KATEGORI INSPEKSI 16
7. LINGKUP DAN PROSEDUR 18
8. PEMERIKSAAN RIG 22
9. METODE PEMERIKSA 24
10. PERHITUNGAN TENIS STRUKTUR 76
11. LAPORAN PEMERIKSAAN 80
12. CONTOH ITP 81
13. CONTOH SILO 82
14. LIST DOCUMENT TEKNIS 83
1. PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi, memungkinkan manusia mencari, menemukan dan


mengembangkan sumber energi. Salah satu sumber energi yang menjadi idola untuk
dikembangkan secara besar-besaran adalah minyak dan gas bumi yang tersimpan di dalam
bumi. Berbagai cara dilakukan untuk dapat mengambilnya dengan cara yang paling praktis,
cepat dan tidak menimbulkan dampak yang besar pada lingkungan. Sampai saat ini,
pengeboran adalah solusi yang dikembangkan untuk mengambil energi yang tersimpan
ratusan hingga ribuan meter dibawah permukaan bumi.

ILUSTRASI PENGEBORAN IAPISAN BUMI

Untuk menemukan dan mengambil sumber sumber energi tersebut, digunakan alat bantu
yang disebut RIG. RIG adalah alat yang terdiri dari beberapa komponen untuk melakukan/
melaksanakan kegiatan pemboran. Pemboran adalah kegiatan/pekerjaan bawah tanah beserta
fasilitasnya yang digunakan untuk melakukan pekerjaan pengeboran (drilling), perbaikan
sumur (workover) dan pemeliharaan sumur pada usaha pertambangan minyak, gas bumi
maupun panas bumi.
Migas merupakan sumber energi dan sumber penerimaan negara yang relatif dominan
mendorong pertumbuhan ekonomi dan membutuhkan dukungan, industri penunjang,
memerlukan teknologi tinggi, padat modal, resiko tinggi, SDM dengan kompetensi dan
kualifikasi tertentu serta memerlukan kaidah keteknikan yang baik untuk mencapai
optimalisasi, efisiensi dan keselamatan Migas
- perangkat pengaturan dan pengawasan keteknikan di bidang usaha kegiatan Migas
- instalasi dan peralatan memenuhi standar
- SNI/SKKNI wajib dalam pengawasan keteknikan Migas
Adapun wujud dari paradigma keselematan migas meliputi : keselamatan pekerja, umum,
lingkungan dan instalasi

2. KLASIFIKASI RIG

Secara umum berdasarkan wilayah (lokasi) kerjanya, rig dibagi dalam 2 (dua ) jenis :
1. Onshore : Rig yang bekerja pada wilayah daratan.
Onshore rig dibagi lagi menjadi 3 jenis yaitu :
- Mobile Mounted Rig
- Trailer Mounted Rig
- Conventional Rig
Ada 2 jenis conventional rig yaitu :
- Land rig
- Heli rig
2. Offshore : Rig yang bekerja pada wilayah perairan
Offshore rig dibagi menjadi beberapa type yaitu :
- Barge Mounted Rig
- Jackup Rig
- Drillship Rig
- Tender Supported Rig
- Semi Submarsible Rig
- Permanent Platform Rig

Gambar tipe Drilling rig

Rotary Drilling

Bagian bagian dari Drilling rig (land rig)

DERRICK STANDART (API SPEC 4F )

A The vertical distance from the top of the base plate to the battom of the crown block
support boam.
B The distance between heel to heel of adjacent legs at the top of the base plate.
C The window opening moasured in the clear and parallel to the center line of the derrick
side from top of base plate.
D The smaliest clear dimension at the top of the derrick that would restrict passage of
crown block.
E - The clearonce between the horisontal header of the gin pole and the top of the crown
support boam,

Figure B-1-Derrick Dimensions

Table B-1-Derrick Sizes and General Dimensions

2.1. ONSHORE

2.1.1. Mobile Mounted Rig : Mast atau derrick berada pada mobil (carrier) atau satu
chasis dengan mobil
Berdasarkan bentuk fisiknya, ada yang single mast dan
double mast.
Rig jenis ini memiliki mobilitas yang tinggi dan biasanya
dapat digunakan untuk pekerjaar, kerja ulang (workover),
well services dan drilling (explorasi). Umumnya
mempunyai kemampuan drawwork di bawah 750 Hp.

Gambar Mobile Mounted Rig

2.1.2. Trailer Mounted Rig : Mast atau derrick berada pada trailer atau terpisah dari
Mobil (carrier).
Bentuk rig seperti ini umumnya Double Mast dan untuk
perpindahan lokasi ditarik trailer atau truk. Fungsinya
digunakan sebagai rig drilling (explorasi), mempunyai
dimensi yang lebih besar dari jenis Mobile Rig dan
mempunyai kemampuan drawwork 750 Hp atau lebih.

Gambar Trailer Mounted Rig

2.1.3. Conventional Rig : Mast atau derrick berada diatas substructure.


Umumnya rig type ini digunakan sebagai rig drilling,
mempunyai kemampuan drawwork diatas 1000 Hp. Rig
type ini sering juga disebut Rig 3 joint.
Conventional Rig dibedakan menjadi 2 yaitu : Land Rig
dan Heli Rig

2.1.3.1. Land Rig : Bagian dari Conventional rig, dimana perpindahan


lokasi (moving) hanya dapat menggunakan sarana jalan.
Rig type ini efektif digunakan pada daerah yang bisa
dijangkau dengan transportasi darat.

Gambar Land Rig

2.1.3.2. Heli Rig : Bagian dari Conventional rig, dimana perpindahan


lokasi (moving) dapat menggunakan sarana helicopter.
Keunggulan rig type ini adalah dapat digunakan pada
daerah yang tidak terjangkau sarana transportasi darat.
Heli Rig memungkinkan dipindahkan dengan helicopter
karena rig type ini bisa diuraikan (dilepas-lepas) menjadi
bagian-bagian kecil yang memudahkan diangkat dengan
dengan helicopter.

Gambar Heli Rig

2.2. OFFSHORE

2.2.1. Barge Mounted Rig : Mast atau derrick berada di barge dan dipergunakan untuk
daerah rawa, canal yang dangkal. Barge tersebut akan
dipergunakan untuk operasi dan sebagai alat transport
yang mempergunakan system balancing.
Barge akan didorong dengan boat selama move ke lokasi
baru.

Gambar Barge Mounted Rig

2.2.2. Jackup Rig : Mast atau derrick berada diatas working platform yang
ditopang dengan leg.
Rig tsb paling efficient untuk move dan digunakan dilaut
kurang lebih 400 ft. Leg tersebut akan diturunkan sampai
ke dasar laut dan working platform akan diangkat keatas
air. Gap antara laut dan working platform harus tinggi
untuk menghindari ombak.
Rig tsb digunakan untuk explorasi dan produksi. BOP
diletakan pada dasar laut dan tersambung dengan Riser
sampai dengan surface. Rig dilengkapi dengan
compensator untuk menstabilkan posisi drilling string
apabila rig dalam keadaan goyang akibat gelombang dan
jangkar.

Gambar Jack Up Rig

2.2.3. Drill Ship Rig : Mast atau derrick berada diatas kapal, sehingga lebih
efficient untuk move dan tidak bergantung pada
kedalaman laut. Kerugian dari Drill ship ialah tidak stabil
pada laut lepas yang berombak. Untuk menstabilkan
posisi ,kapal dilengkapi dengan Thruster. Drill ship rig
biasanya digunakan untuk Wild cat dan development
drilling

Gambar Drill Ship Rig

2.2.4. Tender Supported Rig : Mast atau derrick akan diangkat dan di install pada
platform production parmanent yang berada pada laut
yang dangkal.
Tender supported rig pada umumnya dipergunakan untuk
work over dan semua facility mempergunakan atau
diletakan di barge.
Gambar Tender Supported Rig

2.2.5. Semi Submarsible Rig : Rig atau derrick diletakan diatas structure yang
mempergunakan system balancing sehingga rig tersebut
dapat digunakan pada laut dalam. Semi submarsible rig
dilengkapi dengan propeller sehingga rig tersebut dapat
moving jarak dekat tanpa mempergunakan kapal bantu
(tug boat dll).

Gambar Semi Submarsible Rig

2.2.6. Permanent Platform Rig : Rig atau derrick diletakan pada platform untuk selama
nya (parmanent) dan rig tersebut pada umumnya tidak
didapat di Indonesia.
Permanent platform rig banyak didapat di laut utara atau
daerah Amerika Utara dimana sering terjadi salju
sehingga tidak efficient untuk moving.

3. TUJUAN

Sertifikasi Rig adalah merupakan pemeriksaan berkala terhadap konstruksi Rig dan
kelengkapannya yang bertujuan untuk :
Mengantisipasi adanya cacat / kelainan padJa struktur rig secara dini dengan mengunakan
metode NDE
Mengetahui kemampuan Rig dengan melakukan perhitungan dengan mengunakan metode
elemen hingga (finite element method) dan verifikasi dengan pengukuran beban lapangan
( field stress measurement )
Mengetahui degradasi kemampuan menara
Memenuhi criteria kelayakan operasional untuk memenuhi pernyaratan mendapatkan
rekomendasi yang dikeluarkan oleh Dit. Jend. MIGAS ( SILO / Surat Ijin Layak Operasi)

4. KUALIFIKASI PERSONEL

Inspector yang melakukan pemeriksaan rig harus memiliki kualifikasi seperti yang
diisyaratkan oleh API dan standard lain yang terkait :
NDE Inspector - ASNT Level II
Oilfield Engineer - S1 Teknik dengan minimum pengalaman dalam bidang
structural, mechanical dan operasi rig

5. ACUAN/ STANDARD

Menara pengeboran (RIG) merupakan konstruksi yang umum digunakan dilingkungan


pertambangan yang termasuk dalam pengawasan Dit.Jend. MIGAS. Sejalan dengan
pemakaian setiap konstruksi akan mengalami degradasi kemampuan yang diakibatkan oleh
kondisi lingkungan, beban operasi dan umur (waktu) pemakaian. Keselamatan kerja adalah
merupakan kata kunci yang dapat perhatian dan pengawasan yang sangat ketat dan teliti
sehingga dengan alasan dan keselamatan kerja beberapa peraturan dan undang-undang
telah diterbitkan oleh instansi terkait seperti :
Undang-undang No. 1 tahun 1970
Peraturan menteri No.06 P/0746/M.PE/1991.
Surat Keputusan Dit.Jend.MIGAS No.84 K/38/DJM/1998
Disamping itu standard dari asosiasi perminyakan terkemuka yaitu API (America Petroleum
Institute) juga telah menerbitkan beberapa acuan yang terus disempurnakan dari waktu ke
waktu seperti :
- API Spec 4E & 4F (Specification for Drilling and Well structure)
- API RP 4G (Recommended Practice for Maintenance and Use of Drilling and Well
Servicing Structures)
- API RP 7G (Recommended Practice for Drill Stem Design and Operating Limits)
- API Spec 7K (Drilling & Well Servicing Equipment)
- API RP 7L (Procedure for Inspection, Maintenance Repair and Remanufacture of
Drilling Equipment)
- API Spec 8A & 8C (Specification for Drilling and Production Hoisting Equipment)
- API RP 8B (Recommended Practice for Inspection, Maintenance, Repair and
Remanufacture of Hoisting Equipment)
- API Spec 9A (Specification for Wire Rope)
- API RP 9B (Application, care, and use of wire rope for oil service)
- API RP 14F ( RP installation Electrical System, offshore rig)
- API RP 14G (Fire Prevention & Control on Open type Offshore Production platforms)
- API Spec 16A (Specification for Drill Trough Equipment)
- API Spec 16D (Specification for Control System for Drilling Well Control Equipment)
- API RP 53 (Recommended Practice for Blow Out Prevention Equipment System for
Drilling Well)
- API RP 49 (Recommended Practice for Drilling and Well Servicing Operations
Involving Hydrogen Sulfida)
- API RP 54 (Recommended Practice for Occupational Safety for Oil and Gas Well
Drilling and Servicing Operation)
- API RP 500 ; recommended practice for classification of locations electrical installation
at petroleum facilities classified as class 1 div.1 and div.2.
- API RP 505, Recommended Practice for Classification of Locations for Electrical
Installations at Petroleum Facilities Classified as Class 1, Zone 0, Zone 1 and Zone 2
- AISC (American Institute of Steel Construction)
- IADC (International Association Drilling Contractors) NEC
- AWS D.1.1, dll
Peraturan, undang-undang dan standard dari asossiasi perminyakan diatas digunakan sebagai
dasar (referensi) untuk menyusun prosedur pemeriksaan untuk kepentingan sertifikasi dan
untuk memberikan pegangan minimal kepada Inspector yang melakukan pemeriksaan rig.

6. KATEGORI INSPEKSI (Pemeriksaan)

Dalam API RP 8B terdapat empat kategori inspeksi seperti diuraikan di bawah ini :
a. Kategori I
Pengamatan peralatan selama operasi untuk mengetahui apakah ada indikasi kinerja
yang tidak sempurna. Pengamatan visual ini harus dilakukan setiap hari.
Inspeksi kategori I dilakukan oleh : kru yang mengetahui fungsi dan cara kerja
peralatan.
b. Kategori II
Inspeksi Kategori I plus inspeksi selanjutnya untuk mengetahui apakah ada korosi,
cacat (deformation), komponen yang longgar atau hilang, deteriorisasi, pelumasan
yang tidak benar, retak eksternal yang nampak serta penyesuain. Inspeksi ini
khususnya merupakan inspeksi secara visual, kecuali jika terdapat masalah. Inspeksi
ini harus dilakukan sekurang-kurangnya sekali 6 bulan atau 12 bulan tergantung pada
penggunaannya.
Inspeksi kategori II dilakukan oleh : kru yang mengetahui fungsi dan cara kerja
peralatan.
c. Kategori III
Inspeksi Kategori II plus pemeriksaan non-destruktif tambahan (NDE) dan meliputi
inpeksi secara visual serta dimensional terhadap area ktritis yang terpapar. Inspeksi
ini dapat mencakup pembongkaran untuk mendapatkan akses terhadap komponen
tertentu dan untuk mengidentifikasi keadaan aus yang melebihi toleransi yang
diijinkan oleh pabrik pembuatnya. Inspeksi Kategori III Test-Non Destructive (NDT)
harus dilakukuan terhadap peralatan berikut dalam keadaan terbongkar sekali setiap
12 bulan: elevator, links, bails, lugs, spiders, slips dan tongs. Inspeksi Kategori III
NDT harus juga dilakukan terhadap peralatan berikut dalam keadaan terbongkar
sekali setiap 24 bulan : kelly, kelly cock, kelly spinner, pin dan koneksi boks,
traveling block, kait (hook) dan swivel, tergantung pada kondisi pemakaiannya dan
hasil inspeksi didokumentasikan.
Inspeksi kategori III dilakukan oleh : kru yang mengetahui fungsi dan cara kerja
peralatan dan Third Party yang mempunyai ijin dan lisensi untuk melakukan
pekerjaan NDT.

d. Kategori IV
Inspeksi Kategori III plus inspeksi lanjutan yang dilakukan terhadap peralatan yang
dibongkar karena diperlukan untuk melaksanakan NDT terhadap semua komponen
penahan beban utama menurut yang ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.
Inspeksi kategori IV dilakukan oleh : Third Party yang mempunyai ijin dan lisensi
untuk melakukan pekerjaan N DT.
Kategori IV disyaratkan untuk pengurusan Surat Ijin Layak Operasi dari Ditjen Migas.

Inspeksi dapat dimodifikasi berdasarkan pengalaman, lingkungan, pembebanan dan siklus


beban, persyaratan dan peraturan, waktu operasi, uji coba, hasil inspeksi atau perbaikan
sebelumnya.

Kategori dan frekwensi Inspeksi dan Maintenance


7. LINGKUP DAN PROSEDUR PEMERIKSAAN

7.1. SILO Flowchart


Prosedurinspeksi dan verifikasi sampai mendapatkan SILO dari Ditjend Migas mengikuti alur
sebagai berikut.

7.2. Pemeriksan Data-data Teknik (Review Document)


Data teknik dari seluruh kelengkapan rig dikumpulkan dan ditelaah ulang untuk
mempercepat proses pemeriksaan/sertifikasi

Data dari manufacturer yang terdiri dari :


Data peralatan dan kelengkapan rig yang terdiri dari struktur menara,
mesin penggerak, pompa dan kelengkapannya serta peralatan pendukung
lainya
Gambar teknis struktur menara dan data detail profilnya
Data sheet material dan kelengkapan lainnya
Catatan perawatan dan catatan perbaikan (Maintenance Log Book)
Catatan operasional (Log Book)
Data-data lainnya yang merupakan kelengkapan rig baik dari manufakturnya
maupun dari owner selama rig tersebut dioperasikan yang biasa memberikan
gambaran tentang asal usul rig

Data-data yang dikumpulkan adalah :


HSE (Health Safety and Environment) program atau SMS (Safety Management
System)
SOP (Standard Operation Procedure)

Data-data lain yang dikumpulkan untuk kebutuhan ijin kelayakan operasi adalah :
Maintenance program
Maintenance Record (hasil NDT, dll)
Historical Rig
Spare part list
Crew rig Certificate (Competency Certificate)
Training program ( untuk crew )
List of equipment
Corrective action
Certificate of equipment
- Tools
- Weight indicator
- BOP certificate
- Drilling line / Wire rope certificate
- Crane / Pesawat angkat - Migas
Jika terdapat perbaikan pada struktur dan substuktur maupun peralatan lainnya yang
membutuhkan pengelasan, harus membuat prosedur terlebih dahulu dan dibuatkan
dokumentasi serta dokumen tersebut diverifikasi pada saat pemeriksaan / inspeksi
dilaksanakan.
Dokumen yang dikumpulkan adalah :
WPS
PQR
Welder certificate

7.3. Pemeriksaan Struktur Rig (Pemeriksaan Fisik)


Pemeriksaan struktur rig dilakukan terhadap seluruh bagian dengan melakukan
pemeriksan yang meliputi :

7.3.1. Pemeriksaan Visual dan Dimensional


Pemeriksan visual seluruh bagian struktur rig
Pemeriksaan dan pencatatan terhadap semua keterangan, tanda marking yang
merupakan identitas rig yang dibuat oleh manufacture.
Pengukuran dimensional terhadap struktur rig

Gambar Pengukuran Dimensi Geometri

Gambar : Pengukuran Ketebalan (Thickness)

7.3.2. Pemeriksaan dengan Metode NDE


Pemeriksaan secara tidak merusak (Non Destructive Test) dengan
menggunakan Dye Penetrant, Magnetic particle Inspection dan Ultrasonic pada
daerah-daerah yang telah diinspeksi secara visual seperti daerah las, daerah
yang mengalami korosi, sambungan (joint) daerah Pin dan lubang Pin serta
bagian-bagian yang diduga kritis dan mengalami penyusutan.
Pemeriksaan dengan MPI, DPT dan Ultrasonic untuk mendapatkan SILO
Migas, dilakukan oleh pihak ke tiga (third party) yang sudah mendapat
persetujuan dari Ditjend Migas
Mengukur kekerasan (hardness) profil utama menara, menggunakan alat uji
kekerasan (Hardness test)
Pengukuran ketebalan (thickness) seluruh profil beam dan bejana tekan

Gambar : Pemeriksaan Tidak Merusak (MPI/MPT)

7.3.3. Pemeriksaan Terhadap Perlengkapan Rig


Pemeriksaan terhadap perlengkapan rig, meliputi seluruh perlengkapan rig yang
dipergunakan dan mendukung operasional rig.
Penjabaran pemeriksaan terhadap rig dan perlengkapannya secara detail dijabarkan dalam
Procedure Pemeriksaan Rig (SOP) dan Inspection Test Plan (ITP) yang sudah mendapat
persetujuan Ditjen Migas.
7.3.4. Pengujian (Engineering Verification)
Pengujian terdiri dari uji fungsi dan load test untuk cek fungsi & intergritas instalasi rig
8. PERALATAN RIG YANG DIPERIKSA

Rig dalam operasi secara umum didukung oleh beberapa system dimana setiap system terdiri
dari beberapa peralatan.
Jumlah peralatan tergantung dari type rig, kondisi, kegiatan dan kemampuan rig.

8.1. Struktur 8 Hoisting - Mast


Equipment - Substructure /carrier
- Draw work
- Crown block
- Traveling block Hooker
- Link elevator
- Dead anchor
- Elevator
- Drilling line
- Guyline & guyline anchor

8.2. Rotary & Handling - Rotary table


Equipment - Bushing & bowl
- Kelly bushing
- Swivel
- Split bushing
- Kelly Spinner
- Kelly
- Centrifugal
- Rotary tong / Roughneck
- Slip
- Safety Clamp
- Spider
- Elevator
8.3. Circulating Equip. - Mud tank
- Desander
- Degasser
- Desillter
- Shale shaker
- Agitator
- Centrifuge
- Mud hopper
- Mud pump
- Stand pipe & Rotary hose
- Mud line
- Manifold
- Mud & Gas separator

8.4. Well Control Equip. - Annular


- Ram BOP
- Accumulator Unit
- Choke manifold
- Back pressure manifold
- Hydraulic control remote
- Adaptor spool

8.5. Electrical Equipment - Generator


- Electric Panel
- Electric cable
- Lighting
- Radio Communication
- Generator
8.6. Safety Equipment - Safety belt / safety hardness
- Climbing belt
- Fire extinguisher
- Crown protector
- Safety guard
- Ground cable
- Water Sprayer
- Eye wash
- Personal protection equipment
- Spark arrestor wrapping
- H2S detector
- Sign board
- Life jacket
- Life boat
- Escape line & escape chair
- Emergency shut off engine

8.7.Other Equip - V
- Door
- Pipe bridge
- Hand rail
- Stair
- Drilling Instrumentation
- Driller Console
- Air winch
- Engine drawwork

9. METODE PEMERIKSAAN

9.1. STRUKTUR DAN HOISTING EQUIPMENT

STRUKTUR EQUIPMENT

HOISTING EQUIPMENT

9.1.1. MAST & SUBTRUCTURE / CARRIER (API SPEC 4E & 4F, API RP 4G,
IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Persiapan Mast & Subtructure/Carrier
2. Pemeriksaan Visual Mast & Subtructure/Carrier 100%
3. Bersihkan Welding Area dari kotoran, cat, grease, oli dll.
4. Pemeriksaan Welding Area dengan MPT/DPT
5. Dimensional Check Pin dan Pin Bore.
6. Pemeriksaan semua Pin dan Pivot dengan MPT/DPT (ASMEV).
7. Dimensional Check Mast.
8. Pemeriksaan visual Monkey Board.
9. Pemeriksaan visual Sampson Post
10. Pemeriksaan visual Raising Ram dan Telescopic Ram.
11. Pemeriksaan visual Locking Device.
12. Function Test Locking Device.

Note : - Item No.9 s/d 12 untuk Rig model telescopic - Visual report dari IADC terlampir
- Mast harus memiliki plat nama (name plate) API 4F yang menjelaskan rating beban,
guying patern, pembebanan tali dan rating angin.

Gambar Mast dan Supstructure Drilling Rig

Pin Pad Eyes


Mongkey Board
Raising Ram (Pad Eye) Samson Post

9.1.2 DRAW WORK (api rp 7L, API SPEC 7, IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Brake Band, Brake Band Adjustment, Chain dan Sporocket.
2. Pemeriksaan Brake Linkage, Brake band Adj dengan MPT.
3. Pemeriksaan visual Cat Head.
4. Pemeriksa sirkulasi air pendingin rem.
5. Pemeriksaan MPI pada drum drawwork.
6. Pemeriksaan visual terhdap oil dan Air Pressure Gauge (Refer to manual Book), Oil
Maintenance frequency, Electric cable and J-Boxes.
7. Pemeriksaan visual dan function test terhadap Crown omatic, kick back rollers.

Gambar Drawwork

Brake Linkage Drum

Brake Band crown-o-matic & lilitan

9.1.3 CROWN BLOCK DAN TRAVELLING BLOCK (API SPEC 8A & 8C, API
RP 8B, IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Bersihkan peralatan dari kotoran, cat grease, oli dll.
2. Pemeriksaan Sheave Grove dengan MPT/DPT (ASME U).
3. Pemeriksaan keausan grove sheave dengan puli gauge/ sheave gauge
4. Dimensional Check sheave and Grove.
5. Pemeriksaan visual Bearing Wear and Grease Faitings.
6. Pemeriksaan visual semua sambungan las.
7. Pemeriksaan visual Body sheave.
8. Pemeriksaan visual Safety Platform, Beam, Support Beam, Handrail dan Bolt untuk
Crown Block.
9. Pemeriksaaan Bail, Hook, Pin, Link Ear, Pin dan Tongue and Latch dengan MPT/DPT
untuk Travelling Block
10. Periksa ukuran keausan Link Ear sesuai dengan IADC)

Gambar Crown Block

Gambar Traveling Block

Shaft Sheaves

Cover Hook

PEMERIKSAAN VISUAL TERHADAP HOOK BLOCK


1. Periksa apakah terjadi crack atau kerusakan lainnya pada bail :
2. Periksa kondisi bail pin
3. Periksa kondisi tongue dan latch apakah masih dapat menguna dengan benar
4. Periksa kondisi pin pada link ears. Keausan sampai dengan harus diperbaiki. Keausan
yang terjadi tidak boleh melebihi
5. Periksa ketebalan link ear apakah masih dalam batas toleransi
6. Periksa kondisi hook, apakah terdapat crack
7. Periksa pelumasan pada hook pin

PEMERIKSAAN SHEAVE'S GROOVE

Keausan dari sheave groove dapat diukur dengan menggunakan sheave groove. Jika kaausan
tersebut terlalu besar maka selain dapat memperpendek umur rope juga dapat menaakibatkan
rusaknya sheave sehinpga rope dapat keluar dari sheave.

9.1.4 SWIVEL (API SPEC 8 A & 8C, API RP 8B, IADC)


Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :
1. Bersihkan Swivel dari kotoran, cat, grease, oli terutama pada Bail, Thread, Seal Grove
dan Goose Neck.
2. Pemeriksaan visual Seal Grove.
3. Pemeriksaaan visual Body Swivel untuk melihat deformasi.
4. Pemerikasan visual Goose Neck (API Spec 8A).
5. Wet Flourence MPI dan Visual Thread Inspection dari Tool Joint.
6. MPT/DPT pada Bail untuk melihat crack
7. Periksa diameter Bail dengan kaliper sesuai dengan API Spec 8A atau IADC Manual.
8. Periksa keausan bail eyes dan area pin bore pada swivel
Gambar Swivel

9.1.5 DEAD LINE ANCHOR (API SPEC 8C, API RP 8B, IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Bersihkan peralatan dari kotoran, cat, grease, oli, scale dll.
2. Pemeriksaan visual Dead Anchor Body.
3. Pemeriksaan Welding Area dengan MPT/DPT
4. Pemeriksaan visual Wire Clamp.
5. Pemeriksaan visual kondisi semua Bolt.

Gambar Dead Line Anchor

GAYA GAYA YANG BEKERJA PADA DEADLINE ANCHOR

Jumlah lilitan minimum pada drum adalah 4 lilitan, fungsinya adalah untuk
mengurangi gaya yang bekerja pada clamping block. Jika lilitan pada drum terlalu
sedikit, gaya yang bekerja pada rope and masih terlalu besar dan mengakibatkan
clamping block tidak dapat menahan rope end tersebut sehingga dapat terlepas.

9.1.6 LINK (API SPEC 8A & 8C. API RP 8B, IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Bersihkan Link dari kotoran, cat grease, oli dll.
2. Pemeriksaan dengan mempergunakan MPT/DPT untuk melihat Crack
3. Dimensional Check Top Eye, Lower Eye dan Diameter Link dan dibandingkan
dengan Wear Chart dari IADC.
4. Pemeriksaan visual untuk melihat deformasi & bengkok.
5. Periksa panjang Link untuk memastikan pasangan yang pas

Gambar Link

9.1.7 ELEVATOR (API RP 8B, API SPEC 8A& 8C, IADC)

Kerusakan yang sering terjadi:


1. Crack
2. Spring tidak bekerja
3. Worn out.
Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :
1. Bersihkan elevator dari kotoran, cat, grease, oli dll.
2. Periksa Link Arms, Top seat, Hinge Pin dengan MPT/DPT.
3. Pemeriksaan visual Top Bore, dan Latch Surface. Wear max 1/32"
4. Pemeriksaan visual Spring and Bolt.

Gambar Center Latch Elevator

Gambar Side Door Elevator

9.1.8 Drilling Line /wire rope (API SPEC 9A, API RP 9B)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


- Bersihkan dari kotoran, cat, grease, oli dll.
- Pemeriksaan visual dari kerusakan(aus, korosi, dll)
- Wear max 113 x diameter wire

Wire rope terdiri dari beberapa kawat yang dipilin sehingga membentuk strand. Kemudian
beberapa strand dipilin membentuk sebuah wire rope. Dibagian tengah dari penampang wire
rope terdapat inti yang dapat terbuat dari fiber (Fiber Core) atau dari independent wire rope
(IWRC)

BENTUK PENAMPANG DARI BEBERAPA KONTRUKSI WIRE ROPE

CARA MENGUKUR DIAMETER ROPE

DESIGN FACTOR UNTUK WIRE ROPE (API 9A)

Design Factor = B/W

Dimana :
B = Kekuatan tarik nominal dari rope (Ib)
W = Gaya tarik pada fastline (Ib)

Minimum
Design Factor
Cable-tool line 3
Sand line 3
Rotary drilling line 3
Hoisting setvicc other than rotary drilling 3
Mast raising and lowering line 2.5
Rotary drilling line when setting casing 2
Pulling on stuck pipe and similar infrequent 2
operations

AS an example :

Drilling Line = 13/8 (35 mm) EIPS


Number of Lines = 10
Hook Load = 400,000 Ib (181.4 t)
Sheaves are roller bearing type. From Figure 2, Case a the fast line factor is 0.123. Tbt fast
line tension is then 400,000 Ib (181.4 t) x 0.123 - 49,200 Ib (223 t) + W Following the for-
mula in Equation 1, the design factor is then the nominal strength of 1 3/8 (35 mm) EIPS
drilling Line divided by the fast line tension, or 192,000 Ib (87.1 t) : 49,2(a0 Ib (22.3 t) - 3.9.

PEMASANGAN WIRE CLIP UNTUK MENGIKAT UJUNG WIRE ROPE (API RP


9B)
Penggunaan wire clip yang benar akan menghasilkan sambungan dengan kekuatan
80% kekuatan tarik rope
Bersama-sama dengan rope harus digunakan thimble dengan ukuran yang sesuai
Turn back length tergantung pada ukuran rope dan besar beban yang bekerja
Penempatan wire clip harus sedemikian rupa sehingga bagian saddle menekan bagian
panjang dari rope sedangkan bagian U-bolt menekan bagian pendek rope.
Jumlah wire clips yang digunakan tergantung pada ukuran dari rope
Setelah wire clip pertama terpasang dan dikencangkan, baru wire clip kedua dan
seterusnya dipasang dengan posisi sama dengan wire clip pertama, tetapi wire clip
tersebut jangan langsung dikencangkan
Pengencangan mur dari wire clip kedua dan seterusnya dilakukan satu persatu sambil
menarik ujung pendek dari rope sehingga dapat dihindarkan terjadinya tekukan
diantara wire clip

Table 2-Attachment of Clips


See 3.7.2 and 3.7.6

BERMACAM MACAM
KERUSAKAN PADA WIRE ROPE

TOLERANSI KERUSAKAN PADA WIRE ROPE

ESCAPE DAN GUYLINES :


Tiga kawat putus dalam satu lay length
Dua kawat putus pada satu standard
Adanya indikasi korosi dan kerusakan fisik lainnya

HOISTING ROPE :
Tiga kawat putus dari satu strand dalam satu lay length
Enam kawat putus dari beberapa strand dalam satu lay length

UKURAN GUYLINES DAN PRETENSION MENURUT API 4G


9.2 ROTARY EQUIPMENT

9.2.1. ROTARY TABLE dan MASTER BUSHING (API SPEC 7, API RP 7L, IADC)
Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :
1. Lepaskan Master Bushing dari Rotary Table
2. Bersihkan body dari kotoran, cat, grease,oli dll
3. Periksa Master Bushing dengan MPT/DPT
4. Periksa bukaan Rotary Table
5. Pemeriksaan Gear Rotary Table dengan MPT/DPT

Gambar Rotary Table

9.2.2. bushing / Kelly Bushing (API SPEC 7, API RP 7L, IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Semua peralatan dibersihkan dari kotoran, cat grease, oil dll.
2. Pemeriksaan visual semua peralatan.
3. Pemeriksaan Pin Drive Roller dengan DPT/MPT
4. Pemeriksaan visual Sleeve Bearing

Gambar Bushing Roller Kelly

9.2.3. SLIP / ROTARY SLIP (API RP 7L & IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Bersihkan slip dari kotoran, cat, grease, oil dll.
2. Periksa Hinge, bolt dan slip body dengan MPT/DPT.
3. Pemeriksaan visual slip dies, lifting handle, engsel, baut dan insert.

Gambar Rotary Slip (all type)

9.2.4. ROTARY TONG (API Spec 7K, API RP 7L)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Bersihkan body dari kotoran, cat, grease, oli dll.
2. Periksa Tong body, Jaws, Latch, Hanger dan Hinge Pin dengan MPTIDPT.
3. Pemeriksaan visual pada body, dies, jaw dan hanger.
4. Pemeriksaan visual untuk memastikan Latch dan Hinge Pin dalam kondisi bagus dan
bekerja dengan baik.
5. Pemeriksaan pressure/ torque gauge pada jenis Power Tong
6. Pemeriksaan selang hidrolik dan kabel listrik pada jenis Power Tong.
Note :
- Semua selang hidrolik harus dilengkapi koneksi cepat yang tidak memungkinkan cairan
hidrolik bocor atau kemasukan air (power tong)
Gambar Rotary Tong (manual tong)

9.2.5. SPIDER (API RP 7L)


Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :
1. Bersihkan body spider dari kotoran, cat, grease, oli dll.
2. Periksa body dengan MPTIDPT.
3. Pemeriksaan visual slip dies.

Gambar SPIDER

9.2.6. SAFETY CLAMB (API RP 8B & IADC chapter E-30)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Bersihkan body dari kotoran, cat, grease, oli dll
2. Periksa body dengan MPT/DPT
3. Periksa cotter pin, slip spring,dies.

Gambar Safety Clamp

9.3 CIRCULATING EQUIPMENT

9.3.1 DESANDER (API RP 52 dan IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual desander dan semua Bolt.
2. Pemeriksaan visual pada Cone Connection.

Gambar Desander

9.3.2 DESILTER (Api rp 52 dan IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual peralatan dan semua Bolt.
2. Pemeriksaan visual pada Cone Connection.

Gambar Desilter

9.3.3 DEGASSER (API RP 53 dan IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual peralatan dan semua Bolt
2. Pemeriksaan visual Welding Area.
3. Pemeriksaan ketebalan tabung degasser
Gambar Degasser

9.3.4 SHALE SHAKER (API RP 52, 13E dan IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual peralatan dan semua Bolt.
2. Pemeriksaan visual Screen dan safety guard pada rotary chain
3. Pemeriksaan kondisi rubber mounting
4. Pemeriksaan electric system

Gambar Shale Shaker

9.3.5 MUD PUMP & HOSE (API RP 7L, API RP 7C -11 F & IADC)

Karena saat pemeriksaan, Mud Pump tidak dalam keadaan repair sehingga pemeriksaan
visual hanya dapat dilakukan pada bagian luar Mud Pump dan peralatan lain yang terikut
pada Mud Pump sebagai berikut :

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Cover Belting, Skid, semua Bolt.
2. Pemeriksaan visual Hose, Coupling sambungan Hose, Safety Chain.
3. Pemeriksaan visual Pulsation Dampenar, Safety Valve, Pressure Gauge.
4. Pemeriksaan Pony Rod dan gear shaf dengan DPT/MPT

Gambar Mud Pump

Pony Rod Gear dan Shaf

Pemeriksaan visual:
- Pastikan bahwa mud pump menggunakan dampener untuk mengurangf besarnya fluktuasi
tekanan pada discharge pipe
- Periksa kondisi dari dampener dan pastikan bahwa precharge pressurenya sesuai dengan
rekomendasf dart pabrik pembuat
- Periksa pressure setting dari relief valve
- Periksa kondisi dari sprocket dan chain apakah terdapat indikasi kerusakan, misalignment
atau keausan yang berlebihan
- Buka tutup atas, periksa apakati apakah terdapat goresan-goresan pada piston rod
- Periksa apakah terdapat pelumas dalam Jumlah yang cukup clan apakah sistim pelumasan
bekerja dengan baik
- Periksa apakah supercharging pump dapat bekerja dengan normal
- Periksa apakah posisi inlet pipe ke mixing tank tidak terlalu dekat dengan dasar tanki
lersebut yang dapat mengakibatkan tersedotnya lumpur kedalam mud pump
- Jika tidak menggunakan supercharging pump, Periksa apakah mud pump posisinya tidak
terlalu tinggi relatif terhadap permukaan cairan pada mixing tank
- Pastikan apakah inlet pipe tidak terlalu panjang, dan memiliki banyak belokan sehingga
mengakibatkan pressure loss yang berlebihan pada aliran fluida
- Apakah inlet pipe pada mixing tank terletak didekat return pipe sehingga dapat
menyebabken kavitasi

9.3.6 STAND PIPE (API RP 53, 7L & IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Goose Neck & Stand Pipe body.
2. Wall thicknees Spot Check.
3. Pemeriksaan visual Safety Chain dan Hose Connection

9.3.7 MUD TANK (API RP 52 & IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Mud Tank unit
2. Pemeriksaan visual deck floor, hand rail & stair
3. Pemeriksaan visual semua valve
4. Pemeriksaan visual lighting dan electrical system
5. Wall thickness Spot Check
6. Pemeriksaan visual Connection & Safety Chain.

Gambar Mud Tank

9.3.8 MUD AGITATOR (API RP 52)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Agitor pump unit
2. Pemeriksaan visual mixer bar
3. Pemeriksaan visual safety guard
4. Pemeriksaan visual electrical system.

Gambar Mud Agitator

9.3.9 CENTRIFUGAL PUMP (API RP 52 & IADC )


Posedur pemeriksaan sebagai berikut :
1. Pemeriksaan visual Centrifugal pump unit
2. Pemeriksaan visual safety guard
3. Pemeriksaan visual electrical system

Gambar Vertical Centrifugal Pump


Gambar Horisontal Centrifugal Pump

9.3.10 MUD & GAS SEPARATOR (API RP 53)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Mud & Gas Separator unit
2. Pemeriksaan ketebalan tabung (wall thickness)
3. Pemeriksaan semua koneksi dan baut pengikat

Gambar Mud Gas Sparator.

9.3.11 MUD CLEANER (API RP 52 & IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Mud Cleaner unit
2. Pemeriksaan visual kondisi semua cope dan connection
3. Pemeriksaan kondisi semua baut pengikat

Gambar Mud Cleaner

9.3.12 MUD HOPPER (API RP 52)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual mud Hopper unit
2. Pemeriksaan butterfly valve

Gambar Mud Hopper


9.3.13 CENTRIFUGE (API RP 52 & IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Centrifuge unit
2. Pemeriksaan visual electrical system

Gambar Centrifuge

9.4 WELL CONTROL EQUIPMENT

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :

9.4.1 Ram (API RP 53, API SPEC 16A, IADC)


1. Pemeriksaan visual Ram Body.
2. Pemeriksaan visual Ring joint & Groove
3. Function Test Untuk melihat kecepatan tutup & buka
4. Pemeriksaan Certificate of Confirmity (Certificate of Compliant) dari OEM atau ARF
yang diakui oleh Migas yang dilakukan minimal setiap 3 tahun sekali.

Gambar Ram ( Double Ram )

PEMERIKSAAN SECARA VISUAL TERHADAP BOP RAMS

Periksa badan BOP apakah ada indikasi kerusakan


Periksa bore apakah terdapat goresan atau kerusakan lainnya
Periksa kondisi permukaan seat
Buka pintu BOP ram, periksa apakah seal dan door sealing area masih dalam keadaan
baik
Periksa keausan dan kerusakan pada skid dan side pads
Periksa indikasi kerusakan pada inside ram cavity
Periksa apakah locking device masih berfungsi dengan baik
Periksa apakah tidak ada kerusakan atau crack pada ram shaft
Periksa apakah ram shaft telah terhubung dengan benar dengan ram block
Periksa hinge bracket, hinge maifold dan hinge pin
Periksa kondisi cylinder head dan piston
Tutup kembali pintu BOP dan pastikan bahwa semua baut-baut telah terpasang pada
tempatnya dan dikencangkan dengan benar

PEMERIKSAAN RAM BLOCK SECARA VISUAL


Periksa kondisi rubber apakah sudah tidak elastis lagi atau terdapat kerusakan-kerusakan
Periksa kondisi block clan holder apakah keausan clan kerusakan yang terjadi masih
dapat ditolerir
Periksa apakah blade dari shear ram dalam keadaan masih baik, tidak ada indikasi rusak
Periksa apakah hubungan antara holder clan ram shaft tidak mengalami kerusakan
Pastikan bahwa rubber, block dan holder telah terpasang degan benar

9.4.2 Annular (API RP 53, API SPEC 16 A, IADC)


1. Pemeriksaan Ring Joint & Groove
2. Function Test.
3. Pemeriksaan Certificate of Conformity ( Certificate of Compliant) dari OEM atau
ARF YANG DIAKUI OLEH Migas yang dilakukan minimal setiap 3 tahun sekali

9.4.3 Accumulator (API RP 53, API 16 D dan IADC)


1. Pemeriksaanvisual Accumulator line dimana harus mempergunakan pipa atau hose
dengan minimal working pressure 3000 Psi.
2. Pemeriksaan visual Valve dan fitting dengan minimum working pressure 3000 Psi
3. Pemeriksaan visual semua Welding Area
4. Pemeriksaan visual semua pressure Gauge
5. Function Test

BAGIAN BAGIAN DARI ACCUMULAT5OR UNIT


HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN MENGENAI SPESIFIKASI DARI
ACCUMULATOR UNIT (API 16D)
Volume dari botol-botol akumulator harus cukup besar ( minimum 1,5 kali volume yang
diperlukan untuk menutup rangkaian BOP dan hydraulic choke valves) dan tekanan
akhirnya masih lebih besar daripada precharge pressure
Accumulator unit harus dapat menutup tiap BOP ram dan dalam waktu kurang dari 30
detik Accumulator harus dapat menutup BOP annular dalam waktu kurang dari 30 detik
sedangkan untuk ukuran 18 atau lebih, BOP annular harus dapat ditutup dalam
waktu kurang dari 45 detik
Accumulator unit harus memiliki sedikitnya dua jenis pompa yang menggunakan dua
power source yang berlainan, misalnya pompa yang digerakkan oleh tenaga listrik dan
pompa yang digerakkan oleh tekanan udara
Pompa yang digerakkan oleh udara harus dapat bekerja walaupun tekanan udara yang
tersedia mencapai 75 psig
Tanpa bantuan dari accumulator, sistim pompa yang tedapat pada pada accumulator unit
tersebut harus mampu menutup BOP annular dan membuka choke valves dalam waktu
kurang dari satu menit
Pompa-pompa harus dapat mengisi botol-botol accumulator dari tekanan precharge ke
tekanan kerja dalam waktu kurang dari 15 menit
Pompa-pompa harus dilengkapi dengan pressure switch, sehingga dapat hidup jika
tekanan turun 10% dari tekanan kerja dan akan berhenti sendiri jika telah mencapai
tekanan kerja dengan toleransi 100 psi
Limit switch dari electric pump harus diset sesuai dengan tekanan kerja
Reflief valve harus diset 10% lebih tinggi dari tekanan kerja
Volume reservoir minimum harus dua kali volume cairan yang dibutuhkan, dan harus
dilengkapi dengan air vent
Rangkaian akkumulator unit harus dirancang sedemikian rupa sehingga jika salah satu
botol akumulator atau satu baris botol accumulator tidak berfungsi, kapasitas akumulator
secara keseluruhan hanya akan berkurang tidak lebih dari 25%

Gambar Posisi letak accumulator & BOP Stack

9.4.4 CHOKE KILL MANIFOLD (API RP 53, IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Choke Kill Manifold body
2. Pemeriksaan kondisi Pressure Gauge
3. Wallthickness Spot Check
4. Pemeriksaan visual Connection dan Safety Chain

Gambar Choke Kill Manifold

9.4.5 BOP Remote Control Panel (API RP 53 dan IADC)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual BOP Remote Control Panel Unit
2. Pemeriksaan kondisi Pressure Gauge.
3. Pemeriksaan kondisi semua tuas handle dan panel instruksi.
4. Pemeriksaan kondisi semua hose dan koneksinya.

Gambar B O P Remote Control Panel

9.5 ELECTRICAL EQUIPMENT

Pemeriksaan Electrical Equipment meliputi :


a. Generator (API SPEC 7B-11C, API RP 7C -11F, & IADC chapter I)
b. Electric Panel (API RP 500, 14F & IADC chapter U)
c. Electric Cable (API RP 500, 14F & IADC chapter U)
d. Lighting (API RP 500, 14F & 1ADC chapter U)
e. Radio Communication (API RP 54)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual terhadap semua Electrical Equipment unit
2. Pemeriksaan visual pada kabel listrik, sambungan dan tata letak.
3. Periksaan dan pastikan semua kabel dan lighting, gas proof dan explosion proof.
4. Pemeriksaan ijin radio communication.

9.6 SAFETY EQUIPMENT


Perlengkapan Safety Equipment yang harus tersedia, antara lain :
a. Safety Belt / Safety Harness (API RP 54)
b. Climbing Belt (API RP 54)
c. Fire extinguisher (API RP 54)
d. Eye Wash (API RP 54)
e. Water Sprayer (API RP 54)
f. Ground Cable (API RP 14F)
g. PPE ( Personal Protection Equipment ) (API RP 54)
h. H2S Detector (API RP 54)
i. Sign Board (API RP 54)
j. Escape Line & Escape chair (API RP 54)
k. Life jacket dan Life boat (off shore) (API RP 54)
l. Crown O' matic (API RP 54)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual kondisi semua peralatan safety.
2. Function test pada Eye Wash, Water Sprayer, Climbing belt.
3. Pemeriksaan kadaluarsa pada Fire Extinguisher, H2S Detector
9.7 OTHER EQUIPMENT

HYDRAULIC EQUIPMENT

PNEUMATIC EQUIPMENT

PRIME MOVER

9.7.1 DRILLER CONSOLE (IADC chapter U-14)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual driller console.
2. Pemeriksaan emergency shut engine.
3. Pemeriksaan visual semua pressure gauge.
4. Pemeriksaan visual electrical system, hose dan koneksinya
5. Pemeriksaan kondisi semua tuas handle dan kelengkapan panel instruksi

Gambar Driller Console

9.7.2 AIR WINCH I TUGGER (API RP 54, 2D, 9B)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Tuger unit.
2. Pemeriksaan visual safety guard.
3. Pemeriksaan visual Shut off valve (ball) untuk control handle.
4. Pemeriksaan Emergency shut off, Auto brake dan Spooling device for man rider.
5. Pemeriksaan kondisi semua baut.
6. Pemeriksaan kondisi Wire Rope

Gambar Air Winch / Tugger

9.7.3 ENGINE (Drawwork & Electrical Engine) (API RP 7C 11F, API SPEC 7B
11C, IADC )

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Electrical control Panal
2. Pemeriksaan visual Spark Arrester dan safety guard
3. Pemeriksaan terhadap semua electrical cable dan connection
4. Pemeriksaan pada semua baut pengikat engine.

Spark Arrestor

Pembakaran yang tidak sempurna dan endapan arang pada mesin akan menghasilkan bunga
api yang disemburkan oleh pipa pembuangan. Bunga api ini kalau bertemu dengan udara
yang mengandung gas atau uap bahan bakar dapat mengakibatkan kebakaran.
Oleh karena itu sebagai pencegahan, dilakukan hal-hal sebagai berikut :

Menggunakan spark arrestor untuk mencegah keluarnya bunga api dari pipa exhaust
Meletakkan mesin pada jarak yang aman dari sumur ( min. 100 feet tanpa spark arrestor)

KILL ENGINE / EMERGENCY STOP

Dalam keadaan darurat dimana mesin harus dihentikan secara tiba-tiba, ada dua cara untuk
melakukan hal tersebut yaitu :

Menutup supply bahan bakar kemesin


Menutup supply udara ke mesin

GENERATOR LISTRIK

Generator listrik yang digerakkan oleh mesin tanpa spark arrestor diletakkan pada jarak
min. 100 ft dari sumur
Genset harus dilindungi dari air hujan, karena genset yang basah dapat roenimbulkan
bahaya bagi manusia
Rumah dan badan generator yang terbuat dari metal harus dihubungkan ke tanah
(earthing)

9.7.4 PIPE BRIDGE (API RP 54)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual kondisi jalur pipe bridge.

9.7.5 DRILLING INSTRUMENT (API RP 54)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual Drilling Instrument unit.
2. Pemeriksaan terfiadap semua pressure gauge.
3. Pemeriksaan terhadap semua electrical cable, hose dan connection

WEIGHT INDICATOR
BEBERAPA JENIS WEIGHT INDICATOR YANG SERING DIGUNAKAN

Sensor gaya harus dikalibrasi secara periodik oleh instansi yang berwenang
Kalibrasi dilakukan terhadap perangkat weight indicator secara utuh, yang terdiri dari
sensor, hose dan indicatornya secara sekaligus
Weight indicator yang mengukur gaya pada fast line, hasilnya harus dikoreksi untuk
menentukan besar gaya yang bekerja pada hook
Weight indicator type deflection, dirancang untuk bekerja pada rope dengan ukuran
tertentu. Oleh karena itu weight indicator untuk 1" wire rope tidak dapat digunakan.untuk
wire rope
Jangan melakukan modifikasi terhadap bagian-bagian dari weight indicator tersebut
karena akan mempengaruhi akurasi dan lineritasnya

9.7.6 STAIR dan HAND RAIL (API RP 54)

Prosedur pemeriksaan sebagai berikut :


1. Pemeriksaan visual semua Stair dan Hand Rail.
2. Pemeriksaan visual pada semua engsel dan koneksi sambungan.

10 PERHITUNGAN TEKNIS STRUKTUR (FEM & LOAD TEST / FSM)

Perhitungan teknis adalah perhitungan yang dilakukan terhadap structure yang mendapat
pembebanan ketika beroperasi
Perhitungan teknis dapat dilakukan setelah pemeriksaan terhadap bagian structure dan
substructure selesai dilakukan dan tidak ditemukan kerusakan, retak maupun perubahan
bentuk yang sangat mendasar (deformasi)

Perhitungan teknis dilakukan dalam beberapa tahap yaitu :

Perhitungan dengan metode elemen hingga (Finite Element Method)


Pre processing (Finite Element Modeling)
Hasil pengukuran dirnensi, ketebalan dan pemeriksaan gambar yang telah dilakukan
sebelumnya digunakan sebagai data input untuk membuat model finite element yaitu :
o Data ketebalan dan bentuk profil beam digunakan untuk menghitung material
properti seperti luas penampang dan momen inersia bentuk untuk semua orientasi
beam.
o Data geometri digunakan untuk membuat model menara
o Data material digunakan sebagai data material properties menara
o Penentuan tumpuan dan pembebenan (boundary condition)
Proses model FEM yang telah dibuat selanjutnya diberikan beban maksimum yang
mungkin dilayani oleh struktur menara dan juga untuk menentukan bagian-bagian rig
yang merupakan daerah kritis atau pada daerah yang dianggap dapat mewakili
besarnya beban yang diterima menara saat beroperasi, untuk pemasangan sensor
regangan (strain gauge)
Post processing, pada bagian ini dilakukan proses evaluasi untuk penentuan lokasi
kritis sesuai dengan input data yang merupakan hasil NDE, khususnya data geometri
dan ketebalan material. Pada tahap ini dilakukan sehingga didapatkan beban optimum
yang menghasilkan tegangan ijin maksimum bahan (allowable stress)

Gambar Pemodelan dan Perhitungan Engineering

Pengukuran Beban Lapangan (Load Test - Field Stress Measurement) Pengukuran


beban lapangan bertujuan untuk mengetahui kondisi aktual rig ketika menerima beban
operasi. Beberapa sensor regangan (strain gauge) dipasang pada daerah kritis (daerah
yang menunjukan tegangan yang paling besar pada kritis (daerah yang menunjukan
tegangan paling besar) pada saat dilakukan simulasi dengan FEM). Pengukuran
dilakukan dengan membebani rig secara bertahap, sesuai dengan Procedure Load Test
yang telah disetujui. Pada setiap kenaikan beban dilakukan pencatatan/ pengukuran
regangan dengan menggunakan data logger unit.

Menilai eksentrisitas beban


menilai distribusi beban pada mast
Menilai kondisi settlement mast
DII

Gambar Load Test

Analisa kemampuan rig dilakukan berdasarkan hasil yang didapat pada pemeriksaan
dengan NDE hasil perhitungan dengan FEM yang diverifikasi dengan hasil
pengukuran beban lapangan (Load Test). Hasil analisa merupakan Safe Working Load
yang bisa dilayani oleh menara.

Gambar Analisa Kemampuan Rig

10. LAPORAN PEMERIKSAAN

Laporan hasil pemeriksaan terdiri dari :

SILO terdahulu
Surat Penunjukan MIGAS
Rekomendasi Penerbitan SILO
Berita Acara Serah Terima Pekerjaan
Surat Persetujuan Penunjukpn PJIT dari Pemilik Peralatan Rig
Corrective Action
Berita Acara Pemeriksaan Teknis Keselamatan Operasi
Laporan Umum Hasil Pemeriksaan
Laporan Pelaksanaan Pemeriksaan
Laporan Pemeriksaan Visual
Daftar Peralatan Rig
Sertifikat Peralatan
Laporan Pemeriksaan NDT
Laporan Uji Beban
Catatan Pemeliharaan
Laporan Independent Analysis (Jika diperlukan)
Daftar Crew Rig dan Sertifikat Kompetensi
Dokumen HES, SOP, SMS dan Training Program
Manual dan Spesifikasi Peralatan