Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

MODALITAS RASA DALAM RONGGA MULUT

BLOK FUNGSI STOMATOGNATI

Disusun Oleh:

SAMAHI ARRAHMA

161610101061

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2017

1
PRAKATA

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat
dan Hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Fisiologi
yang berjudul Laporan Praktikum Fisiologi Modalitas Rasa Dalam Rongga
Mulut Blok Fungsi Stomatognati.
Laporan Praktikum ini penulis buat sebagai salah satu sarana untuk lebih
mendalami materi tentang Modalitas Rasa dalam Rongga Mulut . Kesempurnaan
hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu penulis mohon maaf apabila dalam
laporan ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan baik dalam isi ataupun
sistematika karena keterbatasan ilmu dan lain sebagainya. Penulis juga berharap
laporan praktikum ini dapat bermanfaat untuk pendalaman materi pada Blok
Fungsi Stomatognati ini.

13 April 2017

Penulis

DAFTAR ISI

2
Kata pengantar ........................................................................................ 2

Daftar isi ................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 4

1.1 Latar belakang .................................................................................. 4

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................ 5

2.1 Taste Buds ...................................................................................... 5

2.2 Fisiologi Lidah ............................................................................... 7

BAB III METODOLOGI ....................................................................... 9

3.1 Alat dan bahan................................................................................... 9

3.2 Prosedur Kerja .................................................................................. 9

BAB IV Hasil Percobaan dan Pembahasan ............................................ 11

4.1 Hasil percobaan ................................................................................ 11

4.2 Pembahasan ...................................................................................... 14

BAB V PENUTUP ................................................................................. 17

5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 17

Daftar Pustaka ........................................................................................ 18

BAB 1. PENDAHULUAN

3
1.1 Latar Belakang
Rasa adalah hasil kerja pengecap rasa (taste buds) yang terletak di lidah,
pipi, kerongkongan, atap mulut, yang merupakan bagian dari cita rasa. Adanya
titik perasa dari lidah membuat manusia memiliki kemampuan untuk mendeteksi
konsep dasar rasa, yaitu: manis, asam, asin, pahit. Dalam makanan tertentu,
keempat rasa ini digabungkan sehingga menjadi satu rasa yang unik dan menarik
untuk dinikmati. Pada usia lanjut, pengecap rasa manusia akan berkurang
jumlahnya, sehingga memerlukan lebih banyak bumbu untuk cita rasa yang sama.
Untuk meningkatkan cita rasa seringkali digunakan bahan tambahan makanan,
misalnya penyedap rasa.
Indera pengecap adalah organ penting pada manusia yang membuat
manusia memilih makanan sesuai dengan keinginannya dan kebutuhan jaringan,
selain itu dapat juga berfungsi untuk menghindari tubuh dari substansi beracun.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi yaitu sistem indera (penglihatan,
pembau dan pendengar) dan makanan (tekstur makanan, suhu, kandungan bahan-
bahan, kandungan air dan udara dalam makanan).
Kita dapat membeda-bedakan ribuan sensasi rasa, namun smua rasa
adalah variasi kombinasi dari lima rasa primer: asin, aram, manis, pahit, dan
umami. Umami, rasa daging atau rasa lezat, baru-baru ini ditambahkan ke daftar
rasa primer. Setiap sel resepror berespons dengan derajat bervariasi terhadap
kelima rasa primer tetapi umumnya cenderung lebih responsif terhadap satu
modalitas rasa.
Keberagaman diskriminasi rasa di luar rasa primer bergantung pada
perbedaan ringan pola perangsangan semua kuncup kecap sebagai respons
terhadap berbagai bahan, serupa dengan variasi stimulasi ketiga jenis sel kerucut
yang menghasilkan beragam sensasi warna. Sel reseptor menggunakan beragam
jalur untuk menimbulkan depolarisasi potensial resepror sebagai respons rerhadap
masing-masing dari kelima kategori rasa.

BAB 2. LANDASAN TEORI

4
2.1 Taste Buds
Taste buds (kuntum pengecapan), alat indera untuk pengecapan,
merupakan badan ovoid yang berukuran 50 70 m. Tiap-tiap kuntum pengecap
terbentuk oleh 4 jenis sel, yaitu sel basal; sel tipe 1 dan 2, yang merupakan sel
suspentakularis; dan sel tipe 3, yang merupakan sel reseptor pengecap (gustatorik)
yang membuat hubungan sinaps dengan serat saraf sensorik. Leher dari sel-sel ini
berhubungan satu sama lain dan dengan sel epitel di sekitarnya melalui tight
junction. Kuntum pengecap ini dipersarafi oleh sekitar 50 serat saraf, dan
sebaliknya, setiap serat saraf menerima masukan dari rata-rata 5 kuntum
pengecap. Sel-sel basal berasal dari sel epitel yang mengelilingi kuntum
pengecap.
Pengecapan merupakan fungsi utama dari taste bud di dalam rongga
mulut. Reseptor perasa (taste bud) ditemukan pada papila lidah (papila
circumvalata, fungiformis, foliata dan filiformis). Taste bud adalah struktur kecil
yang terdapat di permukaan lidah, palatum, epiglotis, laring dan faring. Di sekitar
dari sel perasa terdapat empat rangsang rasa primer, bila substansi rasa berada
dalam konsentrasi rendah, tetapi pada konsentrasi tinggi, sebagian besar taste bud
dapat dirangsang oleh dua, tiga, atau empat rangsang primer dan juga oleh
beberapa rangsang kecap lain (non-primer). Sel-sel pengecap terus menerus
digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel disekitarnya. Ketahanan
(umur) setiap sel pengecap ini sekitar 10 hari.
Taste buds terdapat tiga jenis sel epitel: 1) Sel penyokong atau sel
sustentakular, terletak terutama di bagian perifer taste buds; 2) Sel pengecap
neuroepitel yang biasanya hanya berjumlah 10 sampai 14 sel pada tiap taste buds;
3) Sel basal letaknya di perifer dekat lamina basal, dianggap sebagai sel induk
(stem) sel jenis lainnya.

5
Pada manusia, kuntum pengecap terletak di mukosa epiglotidis, palatum,
dan pharinx serta di dinding papila fungiformis dan papila valata lidah. Papila
fungiformis merupakan struktur bulat yang paling banyak ditemukan dekat ujung
lidah; papila valata adalah struktur menonjol yang tersusun membentuk huruf V di
belakang lidah. Papila filiformis yang kecil berbentuk kerucut, dan menutupi
badan dorsum lidah biasanya tidak mengandung kuntum pengecap. Serat-serat
saraf sensorik dari kuntum-kuntum pengecap di dua per tiga anterior lidah
berjalan dalam cabang korda timpani n. Fasialis, dan serat-serat dari sepertiga
posterior lidah mencapai batang otak melalui n. Glosofaringeus. Serat-serat dari
daerah lain selain lidah mencapai batang otak melalui n. Vagus. Serat-serat
pengecap yang bermielin tetapi menghantarkan impuls relatif lambat di ketiga
saraf tersebut bersatu di nukleus traktus solitarius medula oblongata.
Hingga saat ini terdapat lima macam rasa yang dapat dikenali yaitu:
1. Asin, terletak diujung lidah;
Rasa asin dibentuk oleh garam-garam yang terionisasi. Kualitas rasanya berbeda-
beda antara garam yang satu dengan yang lain karena garam juga membentuk
sensasi rasa yang lain selain rasa asin.
2. Manis, terletak di ujung lidah;
Rasa manis tidak dibentuk atas satu golongan kelas substansi kimia saja. Beberapa
tipe substansi kimia yang menyebabkan rasa ini mencakup gula, glikol, alcoho
aldehid, keton, amida, ester, asam amino, beberapa protein kecil, asam sulfonat,

6
asam halogenasi, dan garam-garam dari timah dan berilium. Perubahan yang
sangat kecil pada radikal sederhana, seringkali dapat mengubah substansi manis
menjadi pahit.
3. Asam, terletak pada dua pertiga bagian samping lidah;
Rasa asam disebabkan oleh asam, intensitas dari sensasi rasa ini hampir sebanding
dengan logaritma dari konsentrasi ion hidrogen, makin asam suatu asam makin
kuat sensasi yang terbentuk.
4. Pahit, terletak pada posterior lidah dan palatum molle;
Rasa pahit tidak dibentuk oleh satu tipe substansi kimia, tetapi substansi rasa pahit
hampir seluruhnya dibentuk oleh substansi organik. Dua golongan substansi
tertentu yang cenderung menimbulkan rasa pahit adalah (a) substansi rasa organik
rantai panjang yang mengandung nitrogen dan (b) alkaloid, seperyi kina, kafein,
striknin, dan nikotin.
5. Umami, terletak pada ujung lidah;
Rasa umami adalah rasa yang ddiperoleh karena rangsangan pada
reseptor metabotropic glutamate receptor (mGluR4) yang sensitiv terhadap
monosodiumglutmate (MSG). Monosodium glutamat umumnya ditambahkan
pada makanan untuk menguatkan rasa.
Berdasarkan penelitian bersifat psikofisiologik dan neurofisiologik, saat
ini telah mengenali sedikitnya 13 macam reseptor kimiayang mungkin terdapat
pada sel-sel pengecap, yaitu sebagai berikut: 2 reseptor natrium, 2 reseptor
kalium, 1 reeptor klorida, 1 reseptor adenosine, 1 reseptor ionosin, 2 reseptor
manis, 2 reseptor pahit, 1 reseptor glutamate, dan 1 reseptor ion hidrogen.

2.2 Dasar Teori Sensasi di Rongga Mulut

Sel reseptor pengecapan adalah kemoseptor yang berespon terhadap


bahan-bahan yang larut dalam cairan mulut yng membasahi reseptor-reseptor
tersebut. Reseptor pengecapan (sekunder) dikumpulkan bersama taste bud,
terutama pada lidah dan palatum. Bahan-bahan ini bekerja pada mikrovili yang
ada di pori-pori pengecap untuk mencetuskan potensial generator di sel reseptor
yang menimbulkan potensial aksi di neuron sensorik.

7
Serat-serat saraf sensorik dari papil-papil pengecap di dua pertiga anterior
lidah berjalan dengan cabang korda timpani, nervus fasialis, dan serat-serat saraf
dari sepertiga posterior lidah mencapai batang otak melalui saraf glossofaringeus.
Nukleus traktus solitarius untuk dapat menyatu ke dalam medula oblongata harus
bergabung dengan kedua sarafnya. Disana mereka bersinap dengan neuron-neuron
ordo kedua yang aksonnya melintasi garis tengah dan bertemu dengan lemnikus
medialis, berakhir di nukleus-nukleus pemancar sensorik spesifik pada talamus
bersama serat untuk sensasi sentuh nyeri dan suhu. Impuls dipancarkan dari sini
ke daerah proyeksi pengecapan di korteks serebrum di kaki girus pasca sentralis.
Pengecapan tidak memiliki daerah proyeksi yang terpisah tetapi digambrkan
dibagian girus pasca sentralis yang melayani sensasi kulit dan wajah.

8
BAB 3. METODOLOGI

3.1 Persiapan Alat dan Bahan 3.1.12 Manik


Percobaan
3.1.13 Kaca mulut
3.1.1 suntikan/syringe
3.1.14 sonde KG
3.1.2 alkohol 70%
3.1.15 pinset
3.1.3 Kapas
3.1.16 cawan petri
3.1.4 garam
3.1.17 Cotton Roll
3.1.5 kina
3.1.18 Air dengan beberapa suhu
3.1.6 cuka
3.1.19 sapu tangan besar
3.17 gula
3.1.20 jangka
3.1.8 MSG
3.1.21 sonde besar
3.1.9 Merica bubuk
3.1.22 spatel lidah
3.1.10 Chlor ethyl
3.1.23 lap putih
3.1.11 Guttap Perca

4.2 Prosedur Percobaan


4.2.1 Persepsi rasa pedas pada beberapa bagian lidah
a) Ambil syringe isi dengan air garam, teteskan pada lidah sesuai dengan
bagian lidah yang ada pada gambar (syrige tidak boleh bersentuhan
dengan lidah
b) Minta orang coba menyebutkan apa yang dirasakan di tiap bagian
c) Ulangi perlakuan tersebut berturut turut dengan air gula, cuka, kina, dan
umam

9
4.2.2 Two Point Discrimination di Rongga Mulut dan Area Wajah
a) Ambil jangka ukur dengan jarak 1 mm. Letakkan pada lidah bagian ujung
depan, samping kiri dan kanan. Dorsal/ atas setengah anteroposterior dan
posterior lidah
b) Letakkan diatas lidah orang coba perlahan lahan
c) Minta orang coba menyebutkan berapa titik yang dia rasakan
d) Ulangi perlakuan tersebut pada palatum, gusi RA kanan, Lidah(depan,
belakang, kiri kanan, tengah), bibir atas, mukosa pipi kanan, bibir bawah
e) Ulangi percobaan butir 1-3 dengan jarak 2 mm, 3 mm, dst hingga orang coba
merasakannya 2 titik yang berbeda
4.2.3 Rasa Nyeri pada Jaringan Rongga Mulut dan Area Wajah
A. Rangsangan tekanan
a) Ambil sonde besar tumpul, tekanan pada bagian yang telah tersebut
diatas secara bergantian pada setiap tekanan dilakukan dengan
kedalaman(mulai dari 1 mm hingga terasa tertekan)
b) Tingkatkan kedalaman penekanan sonde
c) Orang coba diminta jika rasa nyeri mulai dirasakan
d) Catat kedalaman yang dirasakan
e) Ulangi percobaan 1-4 pada bagian lidah yag lain. Sesuai dengan
gambar 2
f) Catat area mana yang lebih sensitif terhadap tekanan
B. Rangsangan Panas dan Nyeri
a) Rendam sonde besar pada air dengan suhu 60oc, 80oc, dan 100 oc
b) Tutup mata orang coba
c) Letakkan ujung sonde KG yang telah dipanaskan. Letakkan ujungnya
sesuai dengan lokasi percobaan
d) Minta orang coba menyebutkan suhu apa yang ia rasakan
e) Minta orang coba menyebutkan suhu yang mana yang dirasakan nyeri
f) Ulangi percobaan 1-4 pada bagian lidah ke-2 dan sterusnya
g) Minta orang coba membedakan sensitivitas pada masing masing
bagian. Sebutkan urutan sensitivitasnya
C. Rangsangan Dingin dan Nyeri
a) Rendam sonde besar pada air dengan suhu 0 oc, 10 oc, dan 20 oc
b) Tutup mata orang coba
c) Letakkan ujung sonde KG yang telah didinginka, letakkan ujungnya
sesuai dengan lokasi percobaan
d) Minta orang coba menyebutkansuhu apa yang ia rasakan
e) Minta orang coba menyebutkan suhu yang mana yang dirasakan nyeri?
f) Ulangi percobaan 1-4 pada bagian lidah ke-2 dan seterusnya
g) Minta orang coba membedakan sensitivitasnya pada masing masing
bagian. Sbutkan urutan sensitivitasnya.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan
4.1.1 Pengenalan Bentuk berbagai benda di Rongga Mulut dan Area Wajah
(centang bila dirasakan modalitas rasa yang sama)
Lokasi ke Air garam Air gula Cuka Kina Umami
1 + + - - -
2 + - + - -
3 + - + - -
4 - - - + -
5 - - - - +
6 - - - - +
7 - - - - +
8 - - - - +
9 - - - - +

4.1.2 Two Point Discrimination di Rongga Mulut dan area Wajah

Lokasi Jarak
1 2 3 4 5 Dst.
(6mm)
Palatum - - - + - -
Mukosa pipi - - + - - -
kanan
Gusi rahang - - - - - 10 mm
atas kanan
Lidah ujung + - - - - -
depan
Lidah samping - - + - - -
kanan
Lidah samping - - + - - -
kiri
Lidah belakang - - - + - -
Lidah tengah - - - - + -
Bibir atas - + - - - -
Bibir bawah - + - - - -
4.1.3 Pengenalan Modalitas Rasa di Rongga mulut dan Area Wajah

A. Rangsangan Tekan

Kedalaman (mm) Area


paling
sensitif
1 2 3 4 5 dst
Palatum + Lidah
Mukosa pipi 10mm belakang
kanan +
Gusi rahang +
atas kanan
Lidah ujung +
depan
Lidah samping +
kanan
Lidah samping +
kiri
Lidah belakang +
Lidah tengah +
Bibir Atas +
Bibir bawah +

B. Rangsangan Panas dan Nyeri

Lokasi Rasa pada suhu oC Area paling


sensitif
60 80 100
Palatum - - ++ Bibir atas dan
Mukosa pipi + + ++ bibir bawah
kanan
Gusi rahang + ++ ++
atas kanan
Lidah ujung + + +++
depan
Lidah + + +
samping
kanan
Lidah + - ++
samping kiri
Lidah - - ++
belakang
Lidah tengah + + ++
Bibir Atas ++ +++ +++
Bibir bawah ++ ++ +++

C. Rangsangan Dingin dan Nyeri


Lokasi Rasa pada suhu oC Area paling
sensitif
0 10 20
Palatum ++ ++ + Lidah ujung
Mukosa pipi ++ ++ + depan
kanan
Gusi rahang ++ ++ -
atas kanan
Lidah ujung +++ ++ +
depan
Lidah + + +
samping
kanan
Lidah + + +
samping kiri
Lidah + + +
belakang
Lidah tengah + + -
Bibir Atas + + -
Bibir bawah + + +
4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengenalan bentuk berbagai benda di rongga mulut dan area wajah

Dari percobaan yang telah dilakukan pada orang coaba didapatkan hasil
sebagai berikut menunjukkan bahwa lidah menimbulkan reaksi rasa yang berbeda-
beda sesuai dengan tabel hasil percobaan. Ujung lidah dapat menerima semua
modalitas terutama manis dan asin. Tepi lidah dapat menerima modalitas asin dan
rasa asam. Pangkal lidah hanya dapat menerima modalitas pahit. Rasa asam
disebabkan oleh asam dan intensitas dari sensasi rasa, hampir sebanding dengan
logaritma dari konsentrasi ion hidrogen, yaitu makin asam suatu asam, maka makin
kuat sensasi yang terbentuk. Rasa asin dibentuk oleh garam-garam yang terionisasi.

Kualitas rasanya berbeda beda antara garam yang satu dengan yang lain.
Karena garam-garam juga membentuk sensasi rasa yang lain. Kaitan dari garam
terutama berperan membentuk rasa asin tetapi anionnya juga ikut berperan walaupun
lebih kecil. Rasa manis tidak di bentuk oleh satu golongan kelas substansi kimia saja.
Beberapa tipe substansi kimia yang menyebabkan rasa manis mencakup gula, gikol,
alkohol, aldehid, keton, amida, ester, asam amino, beberapa protein kecil, asam
sulforat, asam halogenasi, dan garam anorganik dari timah. Rasa pahit seperti rasa
manis, tidak hanya dibentuk oleh satu substansi kimia, tapi juga beberapa substansi
yang hampir seluruhnya adalah substansi organik mencakup bitrigen, alkoloid, juibib,
kafein, strinki, dan nikotin.

4.2.2 Two Point Discriminating di Rongga Mulut dan area Wajah

Pada percobaan kelompok kami didapatkan hasil dapat mengenali tekanan


jangka pada bagian tertentu dengan jarak tertentu, pada ujung lidah orang coba dapat
mengenali tekanan di semua jarak. Dari hasil percoban yang telah dilakukan
didapatkan daerah yang paling sensitif adalah lidah ujung depan, bibir atas, dan bibir
bawah. Sensitivitas terhadap rangsangan ini tergantung pada reseptor dari
rangsangan tekan. Rangsangan tekan umumnya disebabkan oleh adanya perubahan
pada jaringan yang lebih dalam. Reseptor dari rangsangan tekan adalah reseptor taktil
ujung saraf bebas.

Letak dorsum lidah mempengaruhi sensitivitas dalam rongga mulut. Semakin


kedaerah bagian dalam rongga mulut sensitivitas akan semakin tinggi. Sedangkan
pada daerah wajah daerah yang sensitiv adalah telinga dan leher diakibatkan oleh
persarafan yang terdapat pada telinga dan leher.

4.2.3 Pengenalan Modalitas Rasa di Rongga Mulut dan Area Wajah

A. Rangsangan Tekanan

Berdasarkan hasil pengamatan pada orang coba didapatkan hasil


sebagai berikut timbulnya rasa nyeri akibat rangsangan mekanis reseptor
berupa tekanan. Sensasi tekanan disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan
yang lebih dalam. Pada hasil percobaan menunjukkan bahwa area paling
sensiti adalah lidah belakang. Menurut literature daerah yang paing sensitif
terhadap tekanan adalah bibir. Karena bibir merupakan salah satu area yang
memiliki banyak korpuscle paccini yang merupakan suatu reseptor terhadap
adanya rangsangan tekanan. Sehingga ia akan dapat dengan cepat menangkap
adanya rangsangan tekanan dan selanjutnya merasakan nyeri. Sementara itu,
bagian yang menghasilkan kedalaman tekanan yang paling dalam adalah
mukosa pipi, bibir atas, dan bibir bawah. Hal ini juga tidak sesuai dengan
teori. Pada teori menyebutkan bahwa gusi merupakan bagian yang kurang
peka terhadap tekanan. Gusi adalah bagian mukosa mulut yang menutupi
proceccus alveolar rahang dan mengelilingi leher gigi, sehingga apabila
bagian gusi anterior dilakukan penakanan tidak akan begitu tampak
munculnya kedalaman akibat tekanan yang dilakukan.

B. rangsangan Panas dan Nyeri

Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan perbedaan sensitivitas pada


masing-masing bagian. Urutan sensitivitas dari yang terbesar ke terkecil
adalah bibir atas, bibir bawah, lidah ujung depan, mukosa pipi kanan, gusi
rahang atas kanan, lidah tengah, lidah samping kanan , lidah samping kiri,
palatum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daerah yang paling cepat untuk
timbulnya rasa nyeri adalah pada daerah bibir atas. Hal ini menunjukkan
bahwa bibir atas merupakan salah satu daerah yang paling peka terhadap
rangsangan. Selain mengamati daerah yang paling sensitif terhadap
rangsangan, didapatkan pula hasil bahwa semakin tinggi suhu dari
rangsangan, maka respon nyeri akan semakin cepat timbul. Hal ini disebabkan
karena suhu tinggi dapat mempercepat kerja syaraf untuk menyampaikan
rangsangan menuju sistem saraf pusat.

D. Rangsangan Dingin dan Nyeri

Pemeriksaan rangsang dingin yang dilakukan pada suhu 0, 10, 20


derajat diperoleh hasil dengan urutan yang paling sensitive adalah lidah
bagian ujung, kanan, samping kiri, 2/3 posterior kiri, 1/3 anterior kiri, 1/3
anterior kanan, 2/3 posterior kanan. Hal ini dikarenakan karena kontur ujung
lidahyang banyak papil sehingga lebih sensitive, selain itu ujung lidah juga
banyak dilalui persarafan. Urutan sensitivitas dari yang terbesar ke terkecil
adalah lidah ujung depan, lidah belakang, gusi rahang atas kanan, lidah
tengah, lidah samping kanan, lidah samping kiri, bibir atas, bibir bawah,
mukosa pipi kanan, palatum. Sehingga didapatkan hasil bahwa daerah paling
sensitif adalah bagian lidah ujung depan.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Waktu sensasi yang diperlukan oleh reseptor mengenali dan menanggapi


rangsangan akan diteruskan ke otak. Sel-sel reseptor untuk pengecapan adalah
sel-sel epithelium yang telah termodifikasi yang diorganisasikan menjadi kuncup
pengecapan yang tersebar di sejumlah bagian permukaan lidah dan mulut. Dari
setiap makanan dan minuman yang dikenali oleh lidah , otak akan
mengintegrasikan input yang berbeda dari kuncup pengecapan dan
mempersiapkan cita rasa yang kompleks.

Bagian lidah bagian anterior merupakan bagian paling sensitif terhadap


pengenalan bentuk benda, rasa nyeri, dan berbagai macam rasa karena disana
terdapat lebih banyak serabut saraf sensoris dan taste bud serta lapisan terluar
dari ujung lidah merupakan lapisan tertipis dibandingkan dengan daerah lidah
yang lain. Sehingga apabila ada tekanan yang menimbulkan rasa nyeri bagian
ujung lidah merupakan daerah paling sensitive terhadap nyeri.
DAFTAR PUSTAKA

1. Fandra M.H. 2014. Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap Rasa Manis dan
Rasa Pahit pada Perokok dan Non Perokok. Denpasar: Fakultas Kedokteran
Gigi universitas mahasaraswati denpasar
2. Guyton A.C. and J.E Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta:EGC
3. Ganong, W. F., 2003, Fisiologi Kedokteran, penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta
4. Lihui Wei, Lixin Qiao, Guangchang Pang, Junbo Xie.2017. A kinetic
study of bitter taste receptor sensing using immobilized porcine
taste bud tissues. Biosensors and Bioelectronics 92 (2017) 7480