Anda di halaman 1dari 24

Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Kegiatan Belajar: 2

Indera Lidah dan Hidung


 120 Menit

PENDAHULUAN

Lidah dan Hidung adalah dua indera kita yang sangat penting, meskipun
indera lain juga penting. Bagaimana mekanisme kerja lidah dan hidung sebagai
organ indera kita adalah karunia yang patut kita syukuri.
Dengan indera pengecap (lidah) kita dapat merasakan enak tidaknya makanan,
asin manisnya jeruk, dan makanan atau minuman lainnya. Dengan indera pembau
(hidung) kita dapat menentukan bau atau wangi sesuatu, selain itu hidung juga
merupakan salah sat organ pernafasan kita.
Penguasaan Anda akan materi ini akan membekali pengetahuan bagaimana kedua
indera ini berfungsi dengan berbagai strukturnya sekaligus faktor yang dapat
menjadi penyebab kedua indera ini tidak berfungsi normal.

TUJUAN
Setelah Anda mempelajari materi ini Anda akan dapat :
1. menjelaskan struktur dan fungsi bagian-bagian lidah
2. menjelaskan fisiologi pengecapan
3. menjelaskan kelainan dan penyakit pada lidah.
4 . menjelaskan struktur dan fungsi bagian-bagian hidung
5. menjelaskan fisiologi penciuman
6 .menjelaskan kelainan dan penyakit pada hidung
Agar Anda dapat menguasai tuntas materi kegiatan belajar ini, baca dan simaklah
dengan cermat uraian, tabel, gambar, latihan yang ada dalam kegiatan belajar ini.
Yang tidak kalah penting adalah mengerjakan Tes Formatif, dengan tanpa melihat
lagi materi yang telah Anda baca. Kami yakin Anda akan dapat menguasainya.

1
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

URAIAN MATERI

A. LIDAH SEBAGAI INDERA PENGECAP

Lidah sebagian besar terdiri atas 2 kelompok otot yaitu otot intrinsik dan otot
ekstrinsik. Otot intrinsik lidah melakukan semua gerakan halus, sementara otot
ekstrinsik mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta melaksanakan
gerakan-gerakan kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan. Lidah
mengaduk makanan, menekannya pada langit-langit, dan gigi dan akhirnya
mendorongnya masuk farinks. Lidah terletak pada dasar mulut, sementara pembuluh
darah dan urat saraf masuk dan keluar pada akarnya. Bagian-bagian lidah terdiri atas
pangkal lidah (radiks lingua), punggung lidah (dorsum lingua) dan ujung lidah (apeks
lingua). Ujung serta pinggiran lidah bersentuhan dengan gigi bawah, sementara
dorsum merupakan permukaan melengkung pada bagian atas lidah. Apabila lidah
digulung ke belakang, maka tampaklah permukaan bawahnya yang disebut frenulum
linguae, sebuah struktur ligamen halus yang mengaitkan bagian posterior lidah pada
dasar mulut. Bagian anterior lidah bebas tidak terkait. Bila dijulurkan, maka ujung
lidah meruncing, dan bila terletak tenang di dasar mulut, maka ujung lidah berbentuk
bulat lonjong.
Selaput lendir (membran mukosa) lidah selalu lembab, dan pada waktu sehat,
berwarna merah jambu. Permukaan atasnya seperti beludru dan ditutupi oleh papila-
papila yang terdiri atas 3 jenis yaitu:
a) Papilla fungiformis: menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah dan
berbentuk jamur. Masing-masing papilla fungiformis mengandung 1-8 puting
kecap(tasted bud).
b) Papilla sirkumvalata: ada 8 hingga 12 dari jenis yang terletak pada bagian dasar
lidah. Papilla ini adalah papilla yang terbesar, dan masing-masing dikelilingi
semacam lekukan seperti parit. Papillae ini tersusun berjejer membentuk huruf V
pada bagian belakang lidah. Setiap papilla sirkumvalata mengandung kira-kira 90-
250 puting pengecap.
c) Papilla filiformis: merupakan papilla terbanyak dan menyebar di seluruh
permukaan lidah.Organ ujung untuk pengecapan adalah puting-puting pengecap
yang sangat banyak terdapat dalam dingding papilla sirkumvalata dan papilla
fungiformis. Papilla filiformis lebih berfungsi untuk menerima rasa sentuh
daripada rasa pengecapan yang sebenarnya. Selaput lendir langit-langit dan
farinks juga bermuatan puting pengecap.

2
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Gambar 8.18 berikut ini memperlihatkan daerah-daerah sensitif lidah dan juga
puting pengecap pada lidah.

Gambar 8. 18
(A). Diagram permukaan atas (dorsum) lidah .(B). Gambar seksio puting pengecap.
(Carola et al, 1992 h : 471).

Pengecapan dirasakan oleh adanya reseptor pengecap yang disebut sel-sel


pengecap. Reseptor pengecap ini secara konstan memberi informasi mengenai sifat-
sifat zat yang masuk ke mulut pada waktu makan. Reseptor pengecap disebut juga
puting pengecap. Puting pengecap ini terdapat pada papilla pada lidah. Pada manusia
jumlahnya kira-kira 2000 buah. Puting pengecap terdiri dari sel-sel reseptor pengecap
berbentuk epiteloid, tersusun mengelilingi pori dalam membran mukosa mulut. Dari
permukaan setiap sel pengecap muncul tonjolan-tonjolan sangat halus seperti rambut
disebut mikrovili, yang panjangnya beberapa mikron menembus pori masuk ke dalam
rongga mulut. Mikrovili inilah yang mendeteksi bermacam-macam rasa. Di antara
sel-sel pengecap dari tiap puting pengecap, dan juga di dalam lekukan-lekukan
membran sel terdapat jalinan saraf pengecap yang terdiri dari dua atau tiga serabut.

3
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Saraf ini meneruskan impuls dari sel-sel pengecap. Anda perhatikan Gambar 8.19 di
bawah yang menunjukkan puting pengecap.
Sebelum suatu zat dapat dirasakan, zat itu harus dilarutkan terlebih dahulu dalam
cairan mulut, dan kemudian berdifusi ke dalam pori yang mengandung mikrovili. Zat-
zat yang sangat mudah larut dan sangat mudah berdifusi seperti garam misalnya, atau
senyawa bermolekul kecil biasanya menimbulkan derajat rasa kecap lebih tinggi
daripada zat-zat yang lebih sukar larut dan sukar berdifusi, seperti misalnya protein-
protein atau zat-zat lain yang berukuran besar.

Gambar 8.19. (A)


Puting pengecap (Dimodifikasi dari Bloom dan Fawcett. A Texbook of Histologi;19
th Ed. Philadelphia, W.B Saunders, 1975)
(Guyton, 1994. h : 261; Guyton & Hall, 1997 h: 843).

4
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

http://classconnection.s3.amazonaws.com/476/flashcards/573476/jpg/taste_buds1319
316949582.jpg (B)

a. Empat macam rasa kecap utama


Secara psikologis, kita dapat mendeteksi empat macam rasa kecap yang disebut
rasa kecap primer yaitu 1) pahit 2) manis 3) asam dan 4) asin. Rasa pahit terdapat
pada pangkal lidah, rasa manis terdapat pada ujung lidah, rasa asam terdapat pada
samping kiri dan kanan lidah dan rasa asin terdapat pada ujung samping kiri dan
kanan lidah.
Setiap puting pengecap mendeteksi satu rasa kecap primer dan tempatnya berbeda
pada daerah lidah. Meskipun demikian setiap puting pengecap mempunyai tingkat
sensitivitas tertentu untuk semua rasa kecap primer, namun memang setiap puting
pengecap mempunyai sensivitas lebih tinggi terhadap satu atau dua rasa kecap
dibanding terhadap rasa kecap yang lain. Dengan kata lain puting pengecap satu
mungkin hanya dapat merasa manis saja sedang yang lain mungkin dapat merasakan
dua atau lebih macam rasa. Otak mengenali jenis rasa kecap berdasarkan rasio
perangsangan berbagai puting kecap. Bila suatu puting kecap yang terutama

5
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

mendeteksi rasa asin, dirangsang lebih intensif dibanding puting kecap yang lebih
sensitif terhadap rasa kecap lain, otak akan menyimpulkannya sebagai rasa asin
walaupun puting-puting kecap lain juga terangsang (kurang intensif) pada saat yang
bersamaan.

b. Zat-zat yang Merangsang Puting Kecap


1) Puting kecap pahit berfungsi protektif, karena terutama mendeteksi racun-racun
dalam tanaman liar. Senyawa alkaloid beracun yang terdapat dalam rumputan liar
misalnya adalah salah satu yang terdeteksi oleh puting kecap pahit. Namun
alkaloid ini bila diberikan dalam jumlah kecil, seringkali malah merupakan obat
yang mujarab. Sebagai contoh kina walaupun sangat pahit, mempunyai efek yang
baik sebagai obat malaria bila dipergunakan dengan baik, tetapi bila diberikan
banyak, dapat mematikan.
2) Puting kecap manis mendeteksi jumlah gula dalam makanan. Ini adalah salah satu
cara binatang menentukan apakah buah-buahan sudah masak dan apakah
makanan-makanan yang belum dikenal bergizi atau tidak. Biasanya makanan liar
yang rasanya manis aman untuk dimakan dan mengandung banyak zat bergizi.
3) Puting kecap asam mendeteksi tingkat keasaman makanan, jadi mendeteksi kadar
ion hidrogen dalam mulut. Bila derajat keasamannya rendah, seperti misalnya
cuka yang encer, makanannya biasanya dapat diterima oleh mulut, tetapi bila
terlalu asam, sehingga rasanya tidak menyenangkan, makanan itu akan ditolak.
4) Puting kecap asin secara umum menentukan kadar garam dan ion-ion lain dalam
makanan. Jenis garam paling umum yang merangsang puting kecap ini adalah
natrium klorida, yaitu garam meja yang umum.

c. Hantaran Sinyal Pengecapan ke Susunan Saraf Pusat


Gambar 8.20 memperlihatkan jalur yang menghantarkan sinyal kecap ke batang
otak kemudian ke korteks serebri. Sinyal berjalan dari puting kecap di mulut ke
traktus solitarius di medula. Dari sini sinyal diteruskan ke talamus, lalu ke korteks
pengecapan primer di daerah operkularinsular, dan juga ke daerah asosiasi
pengecapan di sekelilingnya dan akhirnya ke daerah integrasi umum (daerah
Wernicke) yang mengintegrasikan semua sensasi.

6
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Gambar 8.20.
Hantaran impuls pengecapan ke susunan saraf pusat
(Guyton, 1994. h: 262; Guyton & Hall, 1997 h: 844).

Lidah memiliki persarafan yang majemuk. Otot-otot lidah mendapatkan


persarafan dari urat saraf hipoglosus (saraf otak XII). Daya perasaannya dibagi
menjadi ‘perasaan umum‘ yang menyangkut taktil perasa seperti membedakan
ukuran, bentuk, susunan, kepadatan, suhu dan sebagainya dan ‘rasa pengecap
khusus‘.
Impuls perasaan umum bergerak mulai dari bagian anterior lidah dalam serabut
saraf lingual yang merupakan sebuah cabang urat saraf kranial ke V, sementara
impuls indera pengecap bergerak dalam korda tympani bersama saraf lingual, lantas
kemudian bersatu dengan saraf kranial VII yaitu saraf fasialis.
Saraf kranial kesembilan, saraf glossofaringeal membawa impuls perasaan umum,
dan impuls perasaan khusus dari sepertiga posterior lidah. Dengan demikian indera
pengecapan lidah dilayani oleh saraf kranial V, VII, IX sementara gerakan-
gerakannya dipersarafi oleh saraf kranial XII.

d. Refleks-refleks Pengecapan
Salah satu fungsi alat pengecapan ialah menimbulkan refleks pada kelenjar liur
mulut. Untuk pelaksanaannya, impuls dihantarkan dari traktus solitarius di batang
otak ke nuklei salivatorius yang mengatur sekresi kelenjar parotis, sub mandibularis,
dan kelenjar-kelenjar liur yang lain. Sewaktu makanan melalui jalur refleks tersebut
kualitas rasa kecap berperan menentukan apakah air liur yang akan dikeluarkan
sedikit atau banyak.

7
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

e. Hubungan Rasa Kecap dengan Penciuman


Yang kita sebut rasa kecap sering kali sebenarnya adalah bau, karena makanan
yang masuk ke dalam mulut menyebabkan bau ke hidung. Orang yang menderita
influenza sering mengatakan bahwa ia kehilangan rasa kecapnya, padahal tes
terhadap empat rasa primer menunjukkan ke empat-empatnya tetap ada.

Kelainan Dan Penyakit Pada Lidah

Indera pengecap sangat peka dan dapat terganggu karena pilek atau gangguan
pada mulut, lambung, dan saluran pencernaan. Seorang dokter memeriksa dengan
seksama apakah indera pengecap itu kering atau lembab, membengkak, lembek, dan
pucat atau mengecil dan berwarna merah, berbulu, pecah, atau retak-retak.

1. Glositis
Glositis atau peradangan pada lidah, bisa akut atau kronis, dengan gejala berupa
adanya ulkus dan lendir yang menutupi lidah. Peradangan ini biasanya timbul pada
pasien yang mengalami gangguan pencernaan atau infeksi pada gigi. Lidah mungkin
dilukai dengan gigi yang runcing atau karena gigi palsu yang kurang cocok. Lidah
lembek, dan pucat dengan bekas-bekas gigitan pada pinggirannya. Biasanya glositis
kronis menghilang apabila kesehatan badan membaik dan pemeliharaan higiene
mulut yang baik. Kekurangan vitamin seperti dalam penyakit pellagra, harus pula
dipertimbangkan. Penderita anemia perniciosa atau kekurangan zat besi mungkin
mengalami gangguan lidah.

2. Lekoplakia
Lekoplakia ditandai oleh adanya bercak-bercak putih yang tebal pada permukaan
lidah (juga pada selaput lendir gusi dan pipi). Hal ini biasanya terlihat pada perokok.
Lidah bulu hitam kadang-kadang terjadi sesudah menggunakan sesuatu antibiotika.
Lidah sering berfungsi sebagai sebuah cermin yang menyatakan sesuatu keadaan
penyakit di mana saja dalam tubuh. Itulah sebabnya, sesuatu gangguan lidah
memerlukan pemeriksaan secara teliti.

B. HIDUNG INDERA PENCIUMAN

Indera pencium kita atau ‘olfaksi‘ barangkali 20.000 kali lebih sensitif
dibandingkan indera pengecap kita. Kita dapat mengecap 'kinine’ dalam konsentrasi
seperdua juta bagian, tetapi kita dapat mencium ‘mercaptans‘ (sejenis zat kimia)
dalam konsentrasi sepertiga puluh miliar bagian. Orang dewasa dapat mencium

8
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

dengan baik sampai 10.000 bau yang berbeda, dan anak-anak dapat mencium lebih
banyak lagi bau-bauan. Kelemahannya adalah bahwa indera pencium kita tidaklah
begitu sempurna. Beberapa gas beracun tertentu termasuk karbonmonooksida tidak
terdeteksi oleh reseptor olfaktori kita.
Alat pencium (indera pembau) terletak dalam rongga hidung (cavum nasi).
Rongga hidung dilapisi oleh sel-sel epitel atau mukosa. Mukosa atau epitelium berisi
sel-sel basal (basal cells), sel-sel penunjang (sustentacular/supporting cells), dan sel-
sel bipolar penciuman (olfaktorius). Sel-sel bipolar adalah sel-sel saraf (nervus
olfaktorius) yang mempunyai tonjolan-tonjolan berupa mikrovili seperti rambut, yang
disebut rambut penciuman atau silia penciuman. Rambut penciumanlah yang
mendeteksi berbagai macam bau-bauan. Sel tersebut mempunyai dendrit yang disebut
batang penciuman (olfaktory rod) yang menonjol dari permukaan epitel rongga
hidung. Reseptor penciuman menerima stimulus dari zat-zat berbau yang sumbernya
di luar hidung yang menimbulkan terjadinya potensial - potensial pada sel bipolar. Sel
bipolar mempunyai dua fungsi yaitu sebagai reseptor dan sebagai sel ganglion. Untuk
lebih jelasnya coba Anda amati Gambar 8.21 di bawah ini.

9
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Gambar 8.21.
Reseptor olfaktorius (A) Daerah reseptif olfaktorius dalam langit-langit cavum
nasalis: pandangan medial (B). Perbesaran epitelium olfaktorius, menunjukkan sel-sel
reseptor, sel-sel sustencular, sel-sel basal, dan formasi dari traktus olfaktorius sebelah
dalam bulbus olfaktorius.
(Carola et al, 1992 h: 473).

Nervus olfaktorius atau saraf kranial pertama (I) melayani ujung organ pencium,
dan merupakan reseptor yang sangat spesifik. Serabut saraf ini timbul pada bagian
atas selaput lendir hidung dikenal sebagai bagian olfaktorik hidung. Nervus
olfaktorius dilapisi oleh sel-sel yang sangat khusus yang mengeluarkan fibril-fibril
halus untuk berjalin dengan serabut-serabut dari bulbus olfaktorius. Bulbus
olfaktorius yang pada hakekatnya merupakan bagian dari otak yang terpencil adalah
bagian yang agak berbentuk bulbus (membesar) dari saraf olfaktorius yang terletak di
atas lempeng kribiformis tulang etmoidalis. Dari bulbus olfaktorius perasaan bergerak
melalui traktus olfaktorius dengan perantaraan beberapa stasiun penghubung , hingga
mencapai daerah penerimaan akhir dalam pusat olfaktori pada lobus temporalis otak,
di mana perasaan itu ditafsirkan.
Rasa penciuman dirangsang oleh zat kimia yang berbentuk uap atau gas yang
terhirup ataupun oleh unsur-unsur halus. Rasa penciuman itu sangat peka dan
kepekaannya mudah hilang, bila dihadapkan pada suatu bau yang sama untuk suatu
waktu yang cukup lama. Misalnya orang yang berada dalam satu ruangan yang sesak
dan pengap, akan segera tidak merasakan bau yang tidak enak, sementara di lain
pihak bau itu akan segera menyengat hidung orang yang baru datang dari lingkungan
udara segar yang masuk ke dalam ruangan itu. Rasa penciuman juga diperlemah, bila
selaput lendir hidung sangat kering, sangat basah atau membengkak, seperti halnya
seseorang diserang pilek.
Bagaimana bau-bauan menggiatkan rambut penciuman, tidak dipahami dengan
benar. Bagaimana indera dapat membedakan bau berbagai jenis bahan? Masih sedikit
sekali pengetahuan mengenai hal ini. Namun bau yang sangat mudah tercium adalah
pertama zat-zat yang sangat mudah menguap dan kedua zat-zat yang sangat mudah
larut dalam lemak. Mengapa demikian? Kemudahan menguap ini penting karena bau
hanya dapat mencapai rongga di puncak hidung dengan cara mengikuti aliran udara.
Kelarutan dalam lemak penting karena rambut penciuman sendiri merupakan tonjolan
dari membran sel penciuman, dan kita tahu semua membran sel terutama terdiri dari
senyawa lemak. Bila suatu zat yang mengandung bau larut dalam membran rambut
penciuman akan berubahlah potensial membran dan menimbulkan impuls saraf dalam

10
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

sel penciuman.

a. Penciuman Bau Primer


Kita sangat sukar untuk mempelajari sel-sel penciuman, dan oleh sebab itu kita
tidak mengetahui dengan pasti rangsang kimiawi primer yang mana yang dapat
menggiatkan jenis sel penciuman tertentu. Namun berdasarkan penelitian kasar
beberapa sensasi primer berikut telah dipostulasikan (ada tujuh kategori mengenai
bau primer dalam bahasa Indonesia) yaitu 1. bau kamfer (camphorous) 2. kasturi
(muskal/musky) 3. bunga-bungaan (floral) 4. pepermin 5. eter (etheral) 6. pedas
(pungent) 7. busuk (putrid).
Meskipun tiap reseptor dapat membeda-bedakan bau, tertentu tetapi dapat pula
terjadi tumpang tindih. Teori stereokimia mengemukakan tiap zat yang berbau,
mempunyai konfigurasi tertentu. Mungkin daftar di atas hanyalah berdasarkan dugaan
dan dapat mengandung kesalahan.

b. Adaptasi terhadap Bau


Seperti pada penglihatan, penciuman dapat beradaptasi dengan baik sekali. Pada
waktu pertama sekali mencium mungkin bau itu menyengat, tetapi setelah semenit
atau lebih, bau itu akan sukar sekali tercium. Reseptor penciuman menggugah orang
terhadap hadirnya suatu bau, tetapi tidak dapat mempertahankan orang itu agar dapat
mencium bau tersebut terus menerus. Hal ini sangat menguntungkan orang-orang
yang harus bekerja dalam lingkungan yang berbau busuk.

c. Bau yang tidak Tertutupi


Tidak seperti mata yang dapat melihat beberapa warna sekaligus pada saat yang
bersamaan, sistem penciuman hanya dapat mendeteksi satu macam bau pada suatu
saat, padahal bau bisa terdiri dari beberapa macam bau. Bila bau busuk dan bau bunga
hadir bersamaan, maka yang dominan ialah yang intensitasnya lebih kuat, tetapi bila
keduanya mempunyai intensitas yang sama, maka bau yang tercium terletak di tengah
antara bau busuk dan bau bunga. Dominasi oleh bau yang berintensitas lebih tinggi
disebut masking (menutupi). Efek ini dipakai di rumah sakit, kamar kecil, dan tempat-
tempat lain agar bau busuk hilang dan berubah menjadi menyenangkan. Caranya ialah
dengan membakar dupa, atau menguapkan zat-zat yang baunya menyenangkan untuk
menutupi bau-bauan yang tidak dikehendaki.

d. Hantaran Sinyal Penciuman ke Susunan Saraf Pusat


Karena penciuman adalah fenomena subjektif yang hanya dapat diteliti secara
memuaskan pada manusia, sedikit sekali yang diketahui tentang hantaran sinyal

11
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

penciuman ke otak. Jalur penciuman berakhir di dua daerah di otak yang disebut
daerah penciuman medialis dan daerah penciuman lateralis, keduanya tampak dalam

Gambar 7.22 berikut.

Gambar 8.22.
Susunan sistem penciuman dan jalur untuk menghantarkan impuls penciuman ke
susunan saraf pusat
(Guyton, 1994 h : 263; Guyton & Hall, 1997 h : 846)

Daerah penciuman medialis terletak di tengah-tengah otak, di bagian anterior, dan


sedikit superior dari hipotalamus. Sedangkan daerah penciuman lateralis terletak di
bagian bawah otak, menyebar ke lateral, ke bagian dasar lobus temporalis anterior.
Daerah penciuman medialis terutama berkaitan dengan fungsi primitif misalnya
pengeluaran air liur sebagai respon terhadap bau, mengecapkan bibir, dan
menyebabkan binatang dapat menjilati makanan cair.
Sebaliknya daerah penciuman lateralis yang mencakup bagian-bagian dari
amigdala di lobus temporalis berkaitan erat dengan fungsi susunan saraf yang lebih
tinggi. Jalur langsung berjalan dari daerah ini ke korteks temporalis, hippokampus,
dan korteks pre frontalis, ke semuanya merupakan bagian-bagian korteks yang
berfungsi penting. Daerah penciuman lateralis bertanggung jawab mengenai respon-
respon yang kompleks terhadap rangsang penciuman. Misalnya pengenalan jenis bau
tertentu seperti yang dimiliki oleh binatang tertentu mungkin merupakan fungsi dari
daerah ini. Demikian juga pengenalan makanan yang lezat atau menjijikkan yang
berdasarkan pengalaman yang telah lalu mungkin merupakan fungsi dari daerah ini.

12
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Pada manusia tumor otak yang terletak di daerah ini sering menyebabkan penderita
mencium bau-bau abnormal yang bermacam-macam, menyenangkan ataupun tidak
menyenangkan, dan pada akhir tahap akhir keadaan ini, sering berlanjut sampai
berbulan-bulan.

e. Konka Nasalis
Terdiri dari lipatan selaput lendir dan pada bagian puncaknya terdapat saraf-saraf
pembau, kalau kita bernafas lewat hidung dan kita mencium bau sesuatu di udara,
udara yang kita hisap melalui bagian atas dari rongga hidung. Pada konka nasalis
terdapat 3 pasang karang hidung yaitu 1) konka nasalis superior 2) konka nasalis
media 3) konka nasalis inferior. Di sekitar rongga hidung terdapat rongga-rongga
yang disebut sinus para nasalis yang terdiri dari: sinus maksilaris (rongga tulang
hidung); sinus sfenoidalis (rongga tulang baji) dan sinus frontalis (rongga nasalis
inferior). Bagian-bagian anatomi hidung telah Anda pelajari pada Modul 4 bukan?
Sinus ini diliputi oleh selaput lendir. Jika terjadi peradangan pada rongga hidung,
lendir-lendir dari sinus para nasalis akan keluar, jika tidak dapat mengalir ke luar
akan menjadi sinusitis.

E. Kelainan dan Penyakit pada Hidung

Sebelum membahas kelainan dan penyakit pada hidung, ada baiknya Anda
ketahui lebih dahulu gejala kelainan di hidung antara lain:
1. Sumbatan hidung, penyumbatan pada hidung dapat terjadi pada sebelah atau
keduanya secara terus menerus atau bergantian. Sumbatan itu dapat disebabkan
oleh septum yang tidak lurus, pembesaran konka, benda asing, polip atau tumor.
2. Ingus di hidung, ingus kemungkinan encer atau kental, bernanah, dan kadang-
kadang berbau.
3. Suara sengau (bindeng) disebabkan hidung tersumbat.
4. Sering bersin.
5. Nyeri di hidung, bila ada infeksi atau tumor.
6. Hidung berdarah (epistaksis).
7. Hilang penciuman (anosmia).
8. Bernapas melalui mulut.

1. Atresia hidung
Lubang hidung depan (nares anterior) atau lubang posterior (nares posterior)
tertutup. Hal ini mungkin terjadi sejak lahir (kongenital) atau oleh penyakit sifilis,
tuberkulosis, difteria, frambusia, atau oleh trauma. Gejalanya ialah pasien tidak dapat
13
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

bernafas melalui hidung. Untuk menolong kasus seperti ini, perlu dilakukan operasi,
kemudian dipasang pipa untuk sementara, supaya lubang yang dibuat tidak menutup
lagi.

2. Epistaksis
Suatu keadaan pendarahan dari hidung mungkin hanya sedikit (ringan), mungkin
juga sangat banyak. Penyebabnya mungkin sebagai penyebab lokal, mungkin juga
penyebab sistemik. Kelainan lokal bisa disebabkan oleh trauma (ketika mengorek
hidung), infeksi hidung, tumor hidung, sedangkan kelainan sistemik dapat disebabkan
oleh penyakit perdarahan, infeksi, hepatitis, hipertensi, diabetes mellitus dan lain-lain.

3. Trauma hidung
Trauma hidung dapat berupa: lecet/luka terbuka di kulit hidung, epistaksis, luksasi
septum nasi, fraktur tulang hidung, fraktur muka, yaitu hidung dan sekitarnya.

4. Benda asing di hidung


Anak kecil, yang berumur 2-4 tahun senang sekali memasukkan apa yang
dilihatnya ke dalam hidung sehingga hidung tersumbat.

5. Kelainan bentuk septum


Septum nasi yang bengkok sering kali disebabkan oleh trauma, apakah terjadinya
ketika kelahiran, atau setelah besar. Penyebab lain ialah pada kelainan pertumbuhan.
Septum terus tumbuh meskipun batas hidung atas dan bawah sudah tetap. Kelainan
bentuk septum ini dapat berupa:
a) deviasi, yaitu septum bengkok kiri dan kanan (kalau sebelah kiri cekung, sebelah
kanan cembung).
b) krista, terdapat bentuk taji yang luas pada sebelah septum sedangkan sisi yang
sebelah lurus.
c) spina yaitu krista yang tajam dan kecil.

6. Perforasi septum
Perforasi septum yaitu terdapat lubang besar, maupun kecil di septum, dapat
disebabkan oleh:
a) trauma pada waktu melakukan pembedahan reseksi septum submukosa.
b) penyakit sifilis, lepra, ulkus pada septum
c) terpapar oleh zat kimia yang mengiritasi septum, seperti krom.

7. Abses septum

14
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Terdapat septum yang membengkak, terisi oleh nanah. Biasanya disebabkan oleh
trauma. Bila abses tidak lekas diinsisi, akan terjadi kerusakan pada tulang rawan
septum, sehingga hidung turun (pesek), merupakan hidung pelana. Pada waktu insisi,
harus dijaga betul sterilitasnya.

8. Radang hidung akut (rinitis akut)


Faktor yang mempengaruhi terjadinya rinitis akut antara lain cuaca dingin dan
lembab, inhalasi zat kimia yang mengiritasi, pemaparan oleh udara berbau, kelelahan,
septum nasi yang bengkok, polip hidung, adenoid yang membesar pada anak, tonsil
yang sering meradang, kurang vitamin, dan higiene buruk.
Penyebab rinitis akut ialah infeksi virus yang diikuti dengan infeksi kuman,
seperti streptokokus, pneumokokus, stafilokokus, hemofilus influensa.

9. Radang hidung kronis (rinitis akut)


Penyebabnya adalah: rinitis akut yang sering kambuh; cuaca dingin, lembab, dan
berdebu; septum nasi yang bengkok; radang hidung para nasal (sinusitis); tonsil yang
sering meradang (tonsititis kronis); adenoid yang membesar pada anak; dan alergi.

10. Polip hidung


Polip hidung ialah massa yang lunak, berwarna keputihan, terdapat di rongga
hidung. Mungkin juga terdapat di nasofaring, yang disebut polip koana. Polip dapat
timbul dari tiap bagian mukosa hidung atau sinus para nasal. Yang paling sering,
polip hidung berasal dari sinus etmoid. Bila berasal dari sinus maksila, biasanya
hanya sebuah, dan terdapat di nasofaring yang disebut polip koana. Bila berasal dari
konka, biasanya disebut polip konka. Penyebabnya adalah komplikasi rinitis alergi,
komplikasi sinusitis, dan komplikasi rinitis kronis.

11. Tumor hidung


Tumor hidung mungkin jinak, seperti papiloma, angioma, osteoma. Mungkin juga
terdapat tumor ganas seperti sarkoma atau karsinoma.

15
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan


berikut!
1) Coba Anda jelaskan bagian-bagian lidah dan fungsinya masing-masing!
2) Jelaskan zat-zat yang merangsang puting kecap!
3) Bagaimanakah hantaran sinyal pengecapan ke susunan saraf pusat?
4) Jelaskan dua kelainan dan penyakit pada lidah atau pengecap!
5) Jelaskan bagian-bagian alat penciuman!
6) Apakah perbedaan yang khas antara indera pengecapan dengan indera
penciuman?
7) Bagaimanakah hantaran sinyal penciuman ke susunan saraf?
8) Mengapa kalau Anda pilek/flu, rasa makanan yang Anda makan tidak enak,
dibandingkan saat Anda sehat?
9) Jelaskan gejala-gejala umum kelainan hidung dan sebutkan serta jelaskan lima
kelainan dan penyakit pada hidung!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Anda perhatikan Gambar 8.18, Anda jelaskan berdasarkan anatomi, papila, dan
kemampuan menentukan rasa (daerah).
2) Anda jelaskan keempat macam puting kecap, lihat zat-zat yang merangsang
puting kecap.
3) Coba Anda perhatikan Gambar 8.20, dan penjelasannya, Anda akan dapat
menjawabnya.
4) Anda lihat pada pembahasan tentang kelainan dan penyakit pada lidah!
5) Anda lihat pada bahasan pendahuluan indera penciuman.
6) Anda jawab berdasarkan sensitivitasnya.
7) Perhatikan Gambar 8.22, bagaimana jalur penciuman berakhir pada daerah
penciuman medialis dan daerah penciuman lateralis.
8) Cita rasa merupakan campuran antara rasa dan bau. Anda jelaskan keadaan saraf
pembau bila terkena pilek/flu.
9) Coba Anda lihat pembahasan kelainan dan penyakit pada hidung!

16
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

RANGKUMAN
Indera pengecap dan penciuman disebut indera kimiawi, karena reseptor-
reseptornya digiatkan oleh rangsang kimia. Reseptor pengecap digiatkan oleh zat-
zat kimia dalam makanan yang kita makan, sedangkan reseptor pencium digiatkan
oleh zat-zat kimia yang ada dalam udara. Rasa kecap dideteksi oleh puting
pengecap (taste buds) yang terutama terletak di lidah, tetapi juga terdapat sedikit
di dinding posterior mulut, dan farinks anterior.
Secara psikologis kita dapat mengenali empat macam rasa yang disebut rasa
kecap primer yaitu (1) asin, (2) manis, (3) pahit dan (4) asam. Tiap jenis puting
pengecap lebih sensitif terhadap satu jenis atau lebih rasa kecap primer. Indera
penciuman pada manusia hampir rudimenter. Mengenai fungsinya relatif sedikit
yang kita pahami.
Kelainan dan penyakit pada lidah dapat terjadi karena peradangan (glosistis)
dan adanya bercak-bercak putih yang tebal pada permukaan lidah. Gejala-gejala
umum kelainan pada lidah keadaan kering, lembab, membengkak, pucat
berwarna atau retak-retak.
Alat indera penciuman ialah epitel pencium yang terletak di bagian atas
rongga hidung. Dalam epitel ini terdapat banyak reseptor saraf yang disebut sel
pencium. Bau tertentu akan menggiatkan sel-sel tertentu pula, namun sampai
sekian jauh masih belum dapat diketahui ada berapa macam sel pencium untuk
mendeteksi bermacam-macam bau.
Gejala-gejala umum kelainan pada hidung adalah tersumbat, ingus, suara
sengau, sering bersin, nyeri, bernanah, anosmia dan bernafas melalui mulut.

17
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

TES FORMATIF

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Papilla lidah yang merupakan papilla terbanyak dan menyebar di seluruh


permukaan lidah adalah papilla ....
A. valate
B. sirkumvalata
C. fungiformis
D. filiformis

2) Apabila Anda memakan coklat, dan menurut pengecapan Anda terasa asin, maka
bagian lidah yang merasakannya adalah ....
A. pangkal lidah
B. ujung lidah
C. samping kiri dan kanan lidah
D. ujung samping kiri dan kanan lidah

3). Kelainan pada lidah yang ditandai oleh adanya bercak-bercak putih yang tebal
pada permukaan dinamakan ....
A. anosmia
B. lekoplakia
C. epistaksis
D. glositis

4) Bila kita mencium bau makanan yang sedap kadang-kadang keluar air liur, karena
....
A. makanan yang baunya sedap pasti rasanya enak
B. ada hubungan antara indera penciuman dengan pengecap
C. ada hubungan positif antara bau makanan dengan rasanya
D. air liur keluar dengan sendirinya tanpa ada rangsangan

5) Reseptor pencium sebetulnya adalah sel yang berfungsi sebagai ....


A. pelindung dan reseptor
B. epitel dan reseptor

18
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

C. ganglion dan reseptor


D. ganglion dan epitel

6) Kita dapat membedakan bau zat tertentu karena ada ....


A. reseptor khusus dengan konfigurasi tertentu
B. molekul khusus dengan konfigurasi tertentu
C. sel reseptor khusus untuk molekul berlainan
D. reseptor khusus untuk molekul konfigurasi tertentu

7) Indera pengecapan lidah dilayani oleh saraf kranial


A. V, VII, IX
B. III, V, VIII
C. V, VI, XII
D. VI, VIII, XII

8) Rongga hidung dilapisi oleh sel-sel epitel atau mukosa yang berisi
sel-sel ....
A. basal, penunjang, bipolar penciuman
B. bipolar, mikrovili, silia penciuman
C. rambut penciuman, bipolar, basal
D. penunjang, mikrovili, batang penciuman

9) Di antara zat-zat di bawah ini, manakah yang lebih mudah tercium?


A. Zat-zat yang sangat mudah mencair dan sangat mudah bereaksi.
B. Zat-zat yang sangat mudah menguap dan sangat mudah larut dalam lemak.
C. Zat-zat yang lezat rasanya dan sangat cepat mencair.
D. Zat-zat yang sangat mudah bereaksi dan larut dalam air.

10). Dalam keadaan tertentu, terkadang kita kehilangan rasa bau, keadaan ini disebut
....
A. anosmia
B. epistaksis
C. atresia
D. polip

19
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat
di bagian akhir kegiatan belajar 2 ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi
Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan
dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus
mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

20
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

A.
B.
C.
GLOSARIUM

Ludah : Getah pencernaan yang memecahkan makanan di dalam mulut.


Kita tidak dapat mengecap tanpa ludah
Lubang hidung : Dua lubang yang dibentuk oleh tulang rawan di hidung bagian
luar
Lidah : Organ berotot yang terletak di dalam mulut, penting untuk
makan, merasakan, menelan dan berbicara. Pada permukaan
bagian ototnya yang diselubungi oleh membran mukus terdapat
puncuk pengecap
Langit-langit (tekak) :Langit-langit mulut, memisahkan mulut dari rongga hidung;
palatum
Papil : Tonjolan-tonjolan kecil dari permukaan suatu jaringan di lidah
terdapat pucuk pengecap
Pembuluh olfatory: Daerah di atas dan di belakang rongga hidung yang mengandung
serat saraf untuk menyampaikan informasi mengenai bau ke otak
melalui saraf pencium
Persepsi : mengacu kepada persepsi registrasi keadaan kesadaran dari
stimulus sensorik .
Pupil : Lubang di pusat iris yang melewatkan cahaya ke retina,
ukurannya dikendalikan oleh otot iris dan bervariasi menurut
intensitas cahaya yang diterima
Rangsang : Perubahan lingkungan di dalam atau di luar tubuh yang memicu
suatu tanggapan di dalam sel sensoris
Silia : Struktur yang menyerupai rambut di dalam tubuh. Di dalam
hidung berfungsi untuk menyaring kotoran

21
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Clifford R. (1979). Petunjuk Modern Kepada Kesehatan. Bandung,
Indonesia Publishing House.

Bauman, Robert., & Steve Dutton. (1996). Human Anatomy and Physiology
Laboratory Texbook,., USA : Whittier Publications Inc.

Carola, Robert, et.al. (1992). Human Anatomy and Physiology. 2nd ed. USA:
Mc.Graw-Hill, Inc.

Carpenter, RHS. (1996). Neurophysiology. Third Ed. London, Arnold Hodden


Headline Group.

Elaine N. Marieb & Katja Hoehn , (2012). Human Anatomy & hysiology (9th
Edition) Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings

Elaine N. Marieb & Katja Hoehn, (2010). Human Anatomy and Physiology with
Interactive Physiology 10-System Suite, 8th Edition. Pearson Education, Inc.,
publishing as Benjamin Cummings

Fox, Stuart Ira ( 2002): Human Physiology Lab. Manual, Ninth Edition. USA : The
McGraw−Hill. Companies,

Ganong, Wiliam F. (1999). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17. Alihbahasa:
Widjayakusumah, Djauhari M. et al. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Guyton, Arthur C. (1982). Human Physiology and Mechanism of Disease. Japan,


Igakushoin, Saunders International Edition.

Guyton, Arthur C. (1993). Fisiologi Tubuh Manusia, Jilid I Ed. 9, Alih Bahasa:
Haryadi, et.al (1994), Jakarta: Binarupa Aksara.

Guyton, Arthur C dan Hall, John E. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9.
Alihbahasa. Setiawan, Irawati et. al. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

22
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Ilyas, Sidharta. (1998). Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Iskandar, Nurbaiti. (1993). Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok untuk Perawat.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kent, M., Van De Graaff, R. Ward Rhees, (2010), Human Anatomy and Physiology
Third Edition Schaum’s Outline Series. McGraw-Hill

Mader, SILVYA S., (2004). Understanding Human Anatomy & Physiology, Fifth
Edition The McGraw−Hill

Mason, William & Marshall, Norton L. (1987). The Human Side of Biology. Second
Ed. New York: Harper & Row Publisher.

Pearce, E.C. (1993). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Raven, Chr. P. (1997). Atlas Anatomy. Jakarta, Penerbit Djambatan.

Shier, David., Jackie Butler., Ricki Lewis (2007) Hole's Human Anatomy &
Physiology. Eleventh Edition, Higher Education The McGraw-Hill Companies

Smith, Donald, E., et.al. (1989). Textbook of Physiology. Eleventh Ed. London,
Churchill Livingstone.

Solomon, Eldra P. & Davis P. William. (1983). Human Anatomy & Physiology.
Japan, CBS College Publishing, Saunders College Publishing.

Suntoro, Susilo H. et.al. (1987). Materi Pokok Anatomi Hewan. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Syaifuddin. (1997). Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Edisi 2, Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

23
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

Tortora, Gerard J. (1999). Principles of Human Anatomy. Sixt Edition. New York.
Harper Collins Publisher.

Vander, Eric Widmaier, Hershel Raff. (2001) Human Physiology: The


Mechanism of Body Function, Eighth Edition. The McGraw−Hill Companies.

Wallace, Robert A. (1992). Biology the World of Life. Sixth Ed. USA, Harper Collins
Publisher Inc.

24