Anda di halaman 1dari 5

Idealnya setiap kegiatan industri berusaha untuk mencegah pencemaran sebelum pencemaran

itu terjadi. Oleh sebab itu strategi end-of-pipe treatment sudah tidak tepat lagi dan harus
beralih pada strategi Pollution Prevention.

Pengolahan limbah memerlukan biaya tambahan yang cukup besar, sehingga faktor biaya
tersebut merupakan kendala bagi industri dalam melakukan pengelolaan limbah, khususnya
bagi industri-industri skala kecil dan mencegah. Permasalahan inilah yang menyebabkan
terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan yang kondisinya akan semakin parah bila
dibarengi dengan lemahnya penegakan hukum.

Bila kita melakukan kebijakan lingkungan hanya sebatas pada pendekatan daya dukung
lingkungan dan pengolahan akhir pipa, maka kondisi lingkungan kita akan semakin parah
sehingga memungkinkan timbulnya bencana alam yang dapat mengancam keselamatan dan
kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Oleh karena pencemaran dan perusakan lingkungan saat ini telah mengancam kesehatan dan
keselamatan manusia, maka masalah ini merupakan masalah global yang harus menjadi
tanggung jawab bersama. Setiap negara dituntut untuk melakukan minimisasi dan mencegah
pencemaran/perusakan lingkungan. Bahkan fenomena ini menjadikan faktor lingkungan
sebagai barriers to trade dalam sistem perdagangan international.

Lingkungan sebagai barriers to trade dilaksanakan dengan cara menerapkan berbagai macam
standar, baik itu standar international (ISO, Ekolabel) maupun persyaratan pembeli (buyer
requirement). Pemberlakuan standar lingkungan pada suatu produk/jasa mengakibatkan pasar
yang ketat sehingga menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku industri.

Oleh karena itu kita harus dapat menempatkan aspek lingkungan hidup menjadi bagian
integral dari suatu kegiatan industri, sehingga masalah lingkungan bukan lagi menjadi bagian
terpisah dari kegiatan industri yang memerlukan biaya tambahan.

Konsep end-of-pipe treatment

Konsep end-of-pipe treatment menitik beratkan pada pengolahan dan pembuangan limbah.
Konsep ini pada kenyataannya tidak dapat sepenuhnya memecahkan permasalahan
lingkungan yang ada, sehingga pencemaran dan perusakan masih terus berlangsung. Hal ini
disebabkan karena dalam prakteknya pelaksanaan konsep ini menimbulkan banyak kendala.
Masalah utama yang dihadapi adalah peraturan perundangan, masih rendahnya compliance
atau pentaatan dan penegakan hukum, masalah pembiayaan serta masih rendahnya tingkat
kesadaran.

Kendala lain yang dihadapi oleh pendekatan end-of-pipe treatment adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan ini bersifat reaktif, yaitu bereaksi setelah limbah terbentuk.


2. Tidak efektif dalam memecahkan permasalahan lingkungan, karena pengolahan limbah
cair, padat atau gas memiliki resiko pindahnya polutan dari satu media ke media lingkungan
lainnya, dimana dapat menimbulkan masalah lingkungan yang sama gawatnya, atau berakhir
sebagai sumber pencemar secara tidak langsung pada media yang sama.

3. Biaya investasi dan operasi tinggi, karena pengolahan limbah memerlukan biaya tambahan
pada proses produksi, sehingga biaya persatuan produk naik. Hal ini menyebabkan para
pengusaha enggan mengoperasikan peralatan pengolahan limbah yang telah dimilikinya.

4. Pendekatan pengendalian pencemaran memerlukan berbagai perangkat peraturan, selain


menuntut tersedianya biaya dan sumber daya manusia yang handal dalam jumlah yang
memadai untuk melaksanakan pemantauan, pengawasan dan penegakkan hukum. Lemahnya
kontrol sosial, terbatasnya sarana dan prasarana serta kurangnya jumlah dan kemampuan
tenaga pengawas menyebabkan hukum tidak bisa ditegakkan.

Oleh karena banyaknya kendala yang dihadapi dalam menerapkan konsep ini sehingga
konsep ini bukan cara yang efektif dalam mengelola lingkungan, maka strategi pengelolaan
lingkungan telah dirubah ke arah pencegahan pencemaran yang mengurangi terbentuknya
limbah dan memfasilitasi semua pihak untuk mengelola lingkungan secara hemat biaya serta
memberikan keuntungan baik finansial maupun non finansial.

Konsep Produksi Bersih

Produksi bersih merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif,
terpadu dan diterapkan secara kontinu pada proses produksi, produk, dan jasa untuk
meningkatkan eko-efisiensi sehingga mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan.

Produksi Bersih (cleaner production) bertujuan untuk mencegah dan meminimalkan


terbentuknya limbah atau bahan pencemar lingkungan diseluruh tahapan proses produksi.
Disamping itu, produksi bersih juga melibatkan upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi
penggunaan bahan baku, bahan penunjang dan energi diseluruh tahapan produksi. Dengan
menerapkan konsep produksi bersih, diharapkan sumber daya alam dapat lebih dilindungi dan
dimanfaatkan secara berkelanjutan. Secara singkat, produksi bersih memberikan dua
keuntungan, pertama meminimisasi terbentuknya limbah, sehingga dapat melindungi
kelestarian lingkungan hidup dan kedua adalah efisiensi dalam proses produksi, sehingga
dapat mengurangi biaya produksi.

Prinsip-prinsip pokok dalam strategi produksi bersih adalah sebagai berikut:

1. Mengurangi dan meminimisasi penggunaan bahan baku, air dan pemakaian bahan baku
beracun dan berbahaya serta mereduksi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga
mencegah dan atau mengurangi timbulnya masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan
serta resikonya terhadap manusia.
2. Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi, berlaku balk pada proses maupun produk
yang dihasilkan, sehingga harus dipahami betul analisis daur hidup produk.

3. Upaya produksi bersih ini tidak akan berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam
pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait baik pemerintah, masyarakat
maupun kalangan dunia usaha. Selain itu pula perlu diterapkan pola manajemen di kalangan
industri maupun pemerintah yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan.

4. Mengaplikasikan teknologi akrab lingkungan, manajemen dan prosedur standar operasi


sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak selalu
membutuhkan biaya investasi yang tinggi, kalaupun terjadi seringkali waktu yang diperlukan
untuk pengembalian modal investasi relatif singkat.

5. Pelaksanaan program produksi bersih ini lebih mengarah pada pengaturan diri sendiri (self
regulation) dari pada pengaturan secara command and control. Jadi pelaksanaan program
produksi bersih ini tidak hanya mengandalkan peraturan pemerintah saja, tetapi lebih
didasarkan kesadaran utuk merubah sikap dan tingkah laku.

Prinsip-prinsip dalam produksi bersih diaplikasikan dalam bentuk kegiatan yang dikenal
sebagai 4R, meliputi:

Reuse, atau penggunaan kembali adalah suatu teknologi yang memungkinkan suatu limbah
dapat digunakan kembali tanpa mengalami perlakukan fisika/kimia/biologi.

Reduction, atau pengurangan limbah pada sumbernya adalah teknologi yang dapat
mengurangi atau mencegah timbulnya pencemaran di awal produksi misalnya substitusi
bahan baku yang ber B3 dengan B9 segregasi tiada.

Recovery, adalah teknologi untuk memisahkan suatu bahan atau energi dari suatu limbah
untuk kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuan
fisika/kimia/biologi.

Recycling, atau daur ulang adalah teknologi yang berfungsi untuk memanfaatkan limbah
dengan memprosesnya kembali ke proses semula yang dapat dicapai melalui perlakuan
fisika/kimia/biologi.

Prinsip 4R yang saat ini telah dikembangkan, aplikasikasinya akan lebih efektif apabila
didahului dengan prinsip Rethink. Prinsip ini adalah suatu konsep pemikiran yang harus
dimiliki pada saat awal kegiatan akan beroperasi.

Kebijakan Produksi Bersih

Dalam kaitannya dengan penerapan produksi bersih, guna mendorong terwujudnya


pembangunan berkelanjutan, pemerintah mempunyai kebijakan antara lain:
1. Mempromosikan program produksi bersih agar semua pihak terkait mempunyai persepsi
yang sama, sehingga dapat dicapai suatu konsensus yang dinyatakan dalam Komitmen
Nasional dalam penerapan strategi produksi bersih di Indonesia.

2. Menganjurkan pelaksanaan produksi bersih termasuk berbagai perangkat manajemen


lingkungan, seperti audit lingkungan, sistem manajemen lingkungan (ISO 14001), evaluasi
kinerja lingkungan, ekolabel dan produktivitas ramah lingkungan (green productivity) di
Indonesia.

3. Mengkaji kembali kebijakan dan program nasional dalam pengelolaan lingkungan untuk
mengantisipasi diberlakukannya kebijaksanaan lingkungan yang bersifat global.

4. Mengantisipasi diberlakukannya standar-standar internasional di bidang lingkungan


dengan ikut aktif dalam keanggotaan ISO/ TC 207 agar Indonesia dapat melakukan negosiasi
dengan negara-negara maju yang ingin memberlakukan standar-standar lingkungan seperti
Sistem Manajemen Lingkungan (SML), Ekolabel maupun ketentuan lainya di bidang
lingkungan secara internasional.

5. Menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi aktif semua pihak dalam implementasi


produksi bersih dan semua perangkat manajemen lingkungan yang diperlukan berdasarkan
prinsip kemitraan.

6. Melaksanakan pembinaan teknis dengan cara memberikan bantuan tenaga ahli,


melaksanakan proyek-proyek percontohan serta menyebarluaskan informasi mengenai
teknologi bersih melalui seminar, penyuluhan, website, pendidikan dan latihan.

Upaya-upaya yang dilaksanakan pemerintah adalah dengan mengembangkan kebijaksanaan


yang kondusif bagi penerapan produksi bersih disamping selalu melakukan upaya
peningkatan kesadaran masyarakat mengenai konsep produksi bersih, misalnya melalui jalur
pendidikan dan pelatihan, melaksanakan proyek-proyek percontohan (demonstration project)
serta penyebarluasan informasi melalui seminar, penyuluhan dan kegiatan lainnya yang
berkaitan dengan produksi bersih.

Partisipasi masyarakat sebagai konsumen misalnya dapat dilakukan dengan cara hanya
membeli barang atau produk yang akrab lingkungan (environmentally products) disamping
mendorong dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan program efisiensi, daur ulang, dll.

Peranan LSM dan lembaga-lembaga penelitian di berbagai instansi dan perguruan tinggi
menjadi sangat penting di dalam menyebarluaskan informasi mengenai produk akrab
lingkungan. Di sisi lain partisipasi masyarakat akan mendorong dunia usaha untuk terus
berinovasi dalam menghasilkan produk yang akrab lingkungan.

Saat ini para pelaku usaha sudah mulai menerapkan strategi produksi bersih di dalam
pengembangan bisnisnya karena dapat memperoleh manfaat sebagai berikut:
Meningkatkan daya saing dan kegiatan usahanya juga dapat berkelanjutan, mengingat
semakin besarnya peranan lingkungan hidup dalam kebijakan perdagangan internasional.

Dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dalam setiap kegiatan proses produksi secara
berkesinambungan maka perusahaan memperoleh keuntungan ekonomis dengan adanya
peningkatan efektifitas dan efisiensi di segala aspek.

Dengan menjalankan strategi produksi bersih perusahaan dapat menurunkan biaya produksi
dan biaya pengolahan limbah serta sekaligus mengurangi terjadinya kerusakan dan
pencemaran lingkungan.

Strategi produksi bersih merupakan metode kunci untuk mengharmonisasikan kepentingan


ekonomi dan pemeliharaan lingkungan.