Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Defenisi

Vaginitis adalah sindrom klinik akibat pergantian


Lactobacillus Spp penghasil hidrogen peroksida (H2O2) yang
merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam
konsentrasi tinggi (contoh : Bacteroides Spp, Mobilincus Spp),
Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis.1-6 Jadi, Vaginitis
bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh suatu organisme,
tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan
berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.

Flora vagina merupakan lingkungan yang rumit, terdiri dari


puluhan microbiological species dalam jumlah variable dan
proporsi yang relative. Keseimbangan kompleks dan rumit dari
pemeliharaan mikroorganisme flora vagina normal didominasi
oleh genus Lactobacillius, yang secara umum mempertahankan
keasaman pH vagina.

Lactobacillus species merupakan mikroorganime


predominant dengan jumlah sekitar 95% dari semua bakteri yang
ada. Lactobacillus dipercaya untuk menyediakan pertahanan
melawan infeksi, dengan mempertahankan keasaman pH vagina
dan memproduksi hidrogen peroksida yang mana menghambat
catalase negative dari bakteri dan memproduksi bacteriocidin,
selain itu lactobacillus juga mempengaruhi perlekatan bakteri ke
sel epitel vagina.

1.2 Epidemiologi
Vaginitis biasa terkena wanita pada usia reproduktif.
Sebanyak 16% wanita yang hamil di Amerika Serikat terkena
penyakit vaginitis. Vaginitis juga sering didapatkan pada wanita
berkulit hitam dibanding wanita berkulit putih, wanita
homoseksual (lesbian) dan wanita yang merokok. Prevalensi
vaginitis meningkat karena kurangnya skrining dan infeksi ini
berlaku asimptomatik.

Vaginitis adalah gangguan pada vagina yang paling sering


ditemukan. Frekuensi yang dilaporkan mencapai 3,6% hingga
40% dari seluruh populasi yang berbeda dan menurut observasi
di berbagai klinik, pusat layanan primer, klinik umum dan klinik
aborsi. Berbagai kategori pasien yang telah diteliti meliputi
wanita hamil, pasien aborsi, dan pekerja seks. Secara umum,
diperkirakan 1 dari 3 wanita akan mengalami Vaginitis dalam
masa hidupnya dengan prevalensi antara 4,9 36% di negara
berkembang.

1.3 Etiologi

Meskipun penyebab dari Vaginitis belum diketahui dengan


pasti namun telah diketahui berhubungan dengan kondisi
keseimbangan bakteri normal dalam vagina yang berubah.
Ekosistem vagina normal adalah sangat kompleks. Lactobacillus
merupakan spesies bakteri yang dominan (flora normal) pada
vagina wanita usia subur, tetapi ada juga bakteri lainnya yaitu
bakteri aerob dan anaerob. Pada saat Vaginitis muncul, terdapat
pertumbuhan berlebihan dari beberapa spesies bakteri yang
ditemukan, dimana dalam keadaan normal ada dalam
konsentrasi rendah.

Penyebab Vaginitis bukan organisme tunggal. Pada suatu


analisis dari data flora vagina memperlihatkan bahwa ada 3
kategori dari bakteri vagina yang berhubungan dengan Vaginitis,
yaitu :
1. Gardnerella vaginalis

Berbagai kepustakaan selama 30 tahun terakhir


membenarkan observasi Gardner dan Dukes bahwa Gardnerella
vaginalis sangat erat hubungannya dengan Vaginitis. 6
Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H.vaginalis kemudian
diubah menjadi genus Gardnerella atas dasar penyelidikan
mengenai fenetopik dan asam dioksi-ribonukleat. Tidak
mempunyai kapsul, tidak bergerak dan berbentuk batang gram
negatif atau variabel gram. Tes katalase, oksidase, reduksi nitrat,
indole, dan urease semuanya negatif.

Gambar 1: Gardnerella vaginalis yang mengelilingi sel


epitel vagina

Gambar2. Gardnerella Sp
Kuman ini bersifat fakultatif, dengan produksi akhir utama
pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang juga
menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga
galur anaerob obligat. Dan untuk pertumbuhannya dibutuhkan
tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin, dan pirimidin.

Berbagai literatur dalam 30 tahun terakhir membuktikan


bahwa G. vaginalis berhubungan dengan bacterial vaginalis.
Bagaimanapun dengan media kultur yang lebih sensitive G.
Vaginalis dapat diisolasi dalam konsentrasi yang tinggi pada
wanita tanpa tanda-tanda infeksi vagina. Saat ini dipercaya
bahwa G. vaginalis berinteraksi dengan bakteri anaerob dan
hominis menyebabkan Vaginitis.

2. Mycoplasma hominis

Pertumbuhan Mycoplasma hominis mungkin distimulasi


oleh putrescine, satu dari amin yang konsentrasinya meningkat
pada Vaginitis. Konsentrasi normal bakteri dalam vagina
biasanya 105 organisme/ml cairan vagina dan meningkat
menjadi 108-9 organisme/ml pada Vaginitis. Terjadi peningkatan
konsentrasi Gardnerella vaginalis dan bakteri anaerob termasuk
Bacteroides, Leptostreptococcus, dan Mobilincus Spp sebesar
100-1000 kali lipat.
Gambar 3. Mycoplasma hominis

3. Bakteri anaerob : Mobilincus Spp dan Bacteriodes Spp

Spiegel menyimpulkan bahwa bakteri anaerob berinteraksi


dengan G. Vaginalis untuk menimbulkan vaginosis. Peneliti lain
memperkuat adanya hubungan antara bakteri anaerob dengan
Vaginitis. Menurut pengalaman, Bacteroides Spp paling sering
dihubungkan dengan Vaginitis. Mikroorganisme anaerob yang
lain yaitu Mobilincus Spp, merupakan batang anaerob lengkung
yang juga ditemukan pada vagina bersama-sama dengan
organisme lain yang dihubungkan dengan Vaginitis. Mobilincus
Spp hampir tidak pernah ditemukan pada wanita normal, 85 %
wanita dengan Vaginitis mengandung organisme ini.
Gambar 4. Bacteroides

Gambar 5 . Mobilincus Species

1.4 Pathogenesis bakterial vaginalis

Meskipun sebagai suatu organ internal yang elastic, vagina


tidak steril karena organ tersebut berhubungan dengan
lingkungan luar. Apalagi vagina berhubungan dengan anus yang
memiliki patogen intestinal dalam jumlah besar. Oleh karena itu,
vagina sangat butuh mekanisme pertahanan yang sangat besar
untuk mencegah berbagai gangguan akibat proliferasi dari jenis-
jenis patogen yang berbahaya.

Lactobacillus adalah flora normal terbanyak yang dapat


ditemukan di dalam cairan vagina sehat. Hanya 6 spesies
Lactobacillus yang benar-benar memiliki peran besar untuk
mempertahankan keseimbangan ekosistem dalam vagina yaitu
L. crispatus, L. gasseri, L. iners, L. jensenii, L.vaginalis, dan L.
buchneri. Spesies Lactobacillus ini, sangat berperan dalam
menjaga keseimbangan ekosistem vagina dengan melalui
pembentukan asam laktat dan menjaga pH vagina untuk tetap
dalam suasana asam (3,5-4,5 ). Melalui mekanisme ini, spesies
bakteri ini dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme
yang bervariasi seperti Bacteriodes fragilis, Eschericia coli,
Gardnerella vaginalis, Mobiluncus spp, Neisseria gonorhoe,
Peptostreptococcus anaerobius, dan Staphylococcus aureus.

Asam laktat sangat berperan dalam mempertahankan pH


vagina sekitar 3,5-4,5 dan hal itu sangat penting untuk
menghambat pertumbuhan fungi, protozoa, Haemophilus dan
bakteri yang tidak diinginkan lainnya yang mana patogen-
patogen ini hanya dapat tumbuh pada suasana basah yaitu pada
pH lebih dari 6,0. Berbeda dengan patogen-patogen berbahaya
tersebut, Lactobacillus adalah acidophilic yang sangat
membutuhkan suasana asam untuk tetap bertahan hidup dalam
vagina untuk tetap memaksimalkan proliferasinya.

Sumber nutrisi utama bagi Lactobacillus adalah glycogen.


Metabolisme glycogen dalam vagina dimediasi oleh hormon
estrogen melalui reseptor estrogen yang terletak pada sel epitel
yang melapisi vagina. Aktivitas reseptor estrogen ini sangat
tergantung pada siklus hormonal ovarium. Peningkatan
proliferasi sel epitel akan meningkatkan produksi glikogen.
Glikogen ini akan digunakan oleh Lactobacillus sebagai sumber
nutrisi dan akan menghasilkan asam laktat.

Selain asam laktat, mekanisme pertahanan ekosistem


vagina juga dilengkapi oleh system pertahanan yang lain yaitu
hydrogen peroxide (H2O2) dan bacteriocins . Sintesis dari
hydrogen peroxide juga berhubungan dengan pembentukan
asam laktat karena ion hydrogen dari asam laktat bereaksi
secara enzimatik dengan oxygen untuk memproduksi hydrogen
perokside. Selain itu, substansi yang dihasilkan oleh lactobacillus
dalam suasana asam adalah bacteriocins. Bacteriocins adalah
salah satu antimicrobial spesifik yang dihasilkan lactobacillus di
vagina dengan struktur peptide. Banyak penelitian yang
mengatakan bahwa pH yang rendah sangat efektif untuk
bekerjanya bacteriocins yang dapat membantu melindungi
kesehatan lingkungan vagina.

Vaginitis terjadi ketika adanya ketidakseimbangan flora


normal di dalam vagina, sehingga lingkungan vagina yang asam
tidak dapat dipertahankan karena spesies Lactobacillus
terkalahkan jumlahnya oleh patogen-patogen yang sangat
berbahaya bagi lingkungan vagina seperti Gardnerella vaginalis,
Mobiluncus sp, M. hominis, bakteri aneorob gram negative
seperti jenis Prevotella, Porphyromoinas, Bacteriodes, dan
Peptostreptococcus sp. Patogen-patogen yang sebagian besar
anaerob ini memproduksi sejumlah besar enzim proteolitic
decarboxylase yang menghancurkan peptida dalam vagina ke
dalam bentuk amin yang sangat mudah menguap, berbau tidak
sedap serta meningkatkan transudat vagina dan eksvoliasi sel
epitel squamous yang memberikan gejala klinik pada pasien
penderita Vaginitis. Berdasarkan literature review yang ditulis
oleh Jack et al,. 2015 H2O2 sangat berperan penting dalam
patomekanisme terjadinya Vaginitis. Dalam literatur ini
menyatakan bahwa penurunan konsentrasi hydrogen peroxide
yang diproduksi oleh Lactobacillus dan peningkatan jumlah
organisme pathogen dapat memberikan gejala klinis penyakit
Vaginitis. Tetapi ternyata berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh OHanlon et al,.2011, peningkatan kadar H2O2 yang terlalu
besar dapat memberikan efek yang sangat toxik bagi vagina
dibandingkan dengan bakteri penyebab Vaginitis itu sendiri ,
sehingga penelitian itu menyimpulkan bahwa asam laktat, bukan
H2O2 yang sangat berperan dalam menyebabkan Vaginitis.

1.5 Faktor Resiko Vaginitis

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan Vaginitis yaitu


sebagai berikut.

a. Berhubungan seksual di usia dini

Ketika seseorang masih terlalu muda dalam melakukan


hubungan seksual, maka kondisi vaginya sebenarnya belum siap
untuk melakukan pemulihan setelah melakukan hubungan
seksual. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pH vagina
pada wanita usia reproduktif itu, Sedangkan sperma dapat
memberikan suasana basah yang dapat mengurangi keasaman
vagina dalam beberapa detik dan mempertahan pH netral pada
vagina ( pH yang lebih tinggi dari 6-7) selama beberapa jam
setelah coitus ketika spermatozoa dapat memasuki organ
reproduksi perempuan. Ketika suasana vagina dalam keadaan
netral, sperma dapat masuk ke vagina. Proses ini dilindungi oleh
mekanisme pertahanan tertentu pada vagina pada perempuan
usia reproductive sehingga tidak menimbulkan proses patologik.

b. Kontrasepsi Hormonal
Penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kadar rendah atau
tanpa etinilestradiol dapat menyebabkan hipoestrogenemia
relative yang dapat mengganggu proses pembentukan glycogen
dan akhirnya juga dapat menghambat pembentukam asam
laktat sehingga kemungkinan dapat menyebabkan perubahan
pada ekosistem normal vagina.

c. Douching

Douching atau penggunaan prodak-prodak intravagina seperti


shower dengan antibiotic atau sabun, dapat mengubah
ekosistem vagina melalui penghambatan asam laktat dan
Lactobacillus acidophilus dengan menciptakan suasana yang
tidak asam lagi dalam vagina. Meskipun zat-zat kimia dalam
sabun pembersih ini tidak secara langsung mengubah ekosistem
normal vagina, tetapi pemakaian yang terlalu sering (lebih dari 2
kali sehari) sangat rentan untuk mengubah kondisi normal vagina
ke keadaan yang tidak sesuai.

d. Penggunaan antibiotic yang tidak sesuai


e. Stress kronik

Stress yang terus-menerus dapat menghasilkan steroid dalam


jumlah besar utamanya kortisol yang dapat memberi dampak
negative katika mencapai vagina karena dapat menghambat
pertumbuhan Lactobacillus acidophilus dan menghambat
produksi asam laktat.

BAB 2
DIAGNOSIS

2.1 Anamnesis

Gejala yang khas adalah cairan vagina yang abnormal


(terutama setelah berhubungan seksual) dengan adanya bau
vagina yang khas yaitu bau amis (fishy odor). Pasien sering
mengeluh rasa gatal, iritasi, dan rasa terbakar. Biasanya
kemerahan dan edema pada vulva.

2.2 Manifestasi Klinis

Ketika seseorang mengalami Vaginitis ada beberapa


manifestasi klinik yang akan dialami yaitu fluor albus pasien fishy
odor dan tipis dengan warna putih keabuan, pasien merasa gatal
pada vagina (tetapi jarang) karena mengalami inflamasi, dan
pada pemeriksaan didapatkan dinding vagina berwarna milky
dan homogen.10,13 Patogen-patogen yang sebagian besar anaerob
yang merupakan penyebab Vaginitis, memproduksi sejumlah
besar enzim proteolitic decarboxylase yang menghancurkan
peptida dalam vagina ke dalam bentuk amin yang sangat mudah
menguap, berbau tidak sedap serta meningkatkan transudat
vagina dan eksvoliasi sel epitel squamous yang memberikan
gejala klinik pada pasien penderita Vaginitis.
Kriteria Amsel telah dijadikan sebagai gold standar. Amsel
et al. merekomendasian diagnosis klinis Vaginitis ada setidaknya
tiga dari empat tanda-tanda berikut: (1) Terdapat bercak putih,
homogen dan tipis pada dinding vagina. (2) Ph vagina >4,5. (3)
terdapat fishy amine odor bila dicampur dengan KOH 10%. (4)
Terdapat clue cell (bila terdapat paling sedikit 20% epitel vagina).
Itu adalah tes sederhana. Mengevaluasi dengan menggunakan
preparat basa dari sekret vagina adalah teknik yang sulit. Itu
menggunakan penentuan dari ph dan amine odor, itu penting
untuk menambah akuransi dari diagnosis Vaginitis.

Klasifikasi:
a. Spiegel
Dalam sistem klasifikasi Spiegel, morphotypes
Lactobacillus dan morphotypes Gardnerella terdeteksi sesuai
dengan jumlah bakteri terlihat dengan menggunakan apusan
pewarnaan Gram dengan perbesaran 1000x.
Diagnosis vaginitis dapat ditegakkan kalau ditemukan
campuran jenis bakteria termasuk morfotipe Gardnerella
dan batang positif-Gram dan negatif-Gram yang lain atau
kokus atau keduanya. Terutama dalam jumlah besar, selain
itu dengan mofotipe Lactobacillus dalam jumlah sedikit
atau diantara flora vaginal dan tanpa adanya bentuk-
bentuk jamur.
Normal kalau terutama ditemukan morfotipe Lactobasillus
diantara flora vaginal dengan atau tanpa morfotupe
Gardnerella dan tidak ditemukan bentuk jamur.
Indeterminate kalau diantara tidak normal dan tidak
konsisten dengan VAGINITIS.
b. Nugent

Nugent et al. mengembangkan sistem penilaian yang lebih


obyektif untuk diagnosis dari vaginitis berdasarkan morfotipe
yang diamati. Sekarang, Nugent score yang paling sering
digunakan di laboratorium untuk mendeteksi bakteral
vaginosis,dan dianggap sebagai gold standar. Skor Nugent
digunakan bersama dengan apusan Gram (1000 x perbesaran),
menggunakan minyak imersi. Hal ini menyebabkan sistem
estimasi titik (0-4 poin)yang digunakan untuk menilai jumlah
morphotypes bakteri berbeda yang ada dalam sampel.
Dalam skala ini, dihasilkan skor 0-10. Metode ini adalah
membutuhkan waktu dan membutuhkan staf terlatih, tetapi
memiliki kehandalan pengamat tinggi. Skor sebagai berikut:

0-3 dianggap negatif untuk vaginitis.


4-6 dianggap menengah.
7+ dianggap indikasi vaginitis.

Tabel 1. Sistem Skor Nugent

c. Klafisikasi Hay / Ison


Hay / Ison adalah sistem klasifikasi / kategorisasi yang
digunakan untuk kedua pewarnaan apusan Gram dan pewarnaan
pap smear. Dalam klasifikasi Hay / Ison, flora vagina dibagi ke
dalam tiga kategori yang berbeda: normal, menengah, dan
vaginitis. Disistem klasifikasi ini, estimasi jumlah morphotypes
bakteri tidak dilakukan. Ukuran lapangan mikroskop tidak
memiliki pengaruh pada hasil.5
Sebuah sistem penilaian sederhana pewarnaan gram
digambarkan oleh Hay dan Ison dimana hanya korelasi antara
morphotypes berbeda diperiksa, bukan jumlah yang tepat per
bidang visi:

Grade 1 (Normal): Lactobacillus morphotypes


menonjol.
Grade 2 (Menengah): Campuran Flora dengan
beberapa lactobacilli ini, namun Gardnerella atau
Mobiluncus morphotypes juga hadir.
Grade 3 (Vaginitis): didominasi Gardnerella dan / atau
Mobiluncus morphotypes. Beberapa atau tidak ada
lactobacilli.

Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Kriteria


Amsel memiliki komponen subjektif (penentuan makroskopik
cairan vagina dan tergantung pada penciuman pemeriksa) dan
membutuhkan akses mikroskop. Nugent dan metode Hay / Ison,
keduanya membutuhkan mikroskop dan staf terlatih untuk
pewarnaan gram dan bakteri penting. Uji ph vagina saja sangat
sensitif, tapi tidak khusus untuk Vaginitis, Berbagai tes komersial
untuk mendiagnosis Vaginitis sedang digunakan.

Tabel 2. Klasifikasi Hay/Ison

2.3. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan pH vagina

Pada pemeriksaan pH, kertas lakmus ditempatkan pada


dinding lateral vagina. Warna kertas dibandngkan dengan warna
standart. pH normal vagina 3,8 4,2 pada 80 90 % Vaginitis
ditemukan pH > 4,5.
2. Whiff test

Whiff test dikatakan positif bila muncul bau amine ketika


cairan vaginal dicampur dengan satu tetes 10 20 % potassium
hydroxide (KOH). Bau muncul sebagai pelepasan amine dan
asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob.

3. Pemeriksaan Preparat basah

Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan


NaCl 0,9 % pada secret vagina diatas objek glass kemudian
ditutup dengan coverslip. Dan dilakukan pemeriksaan
mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk
melihat clue cell, yang merupakan sel epitel vagina yang
diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella vaginalis).
Pemeriksaan preparat basah memiliki sensitivitas 60 % dan
spesifisitas 98% untuk mendeteksi Vaginitis.

4. Kultur Vagina

Kultur dari sampel vagina tidak terbukti berguna untuk


mendiagnosa vaginitis, karena vaginitis berhubungan dengan
beberapa organisme seperti Gardnerella vaginalis, mycoplasma
hominis, Bacteriodes species, normal flora vagina lain, dan juga
ada beberapa organisme yang tidak dapat dikultur.

5. Deteksi Hasil Metabolik

Tes proline aminopeptidase : G. vaginalis dan Mobilincus


Spp menghasilkan proline aminopeptidase, dimana laktobasilus
tidak menghasilkan enzim tersebut.

Suksinat / laktat : batang gram negative anaerob


menghasilkan suksinat sebagai hasil metabolic. Perbandingan
suksinat terhadap laktat dalam secret vagina ditunjukkan dengan
analisa kromotografik cairan - gas meningkat pada Vaginitis dan
digunakan sebagai test screening untuk Vaginitis dalam
penelitian epidemiologi klinik.1

6. Variety DNA Based Testing Methods

Penggunaan Variety DNA Based Testing Methods seperti


Broad Range dan Quantitative PCR telah mengidentifikasi novel
bacteria yang berhubungan dengan Vaginitis, dan juga lebih
objektif, dalam mengukur kuantitatif bakteri. itu juga
memungkinkan pemahaman yang lebih kompleks terhadap
perubahan mikroflora yang mendasari Vaginitis dan untuk
mengembangkan tes diagnostic.
2.4 Komplikasi

Ascending genital tract infection pada Vaginitis


berhubungan dengan postabortion dan postpartum
endometritis, pelvic inflammatory disease (PID), late foetal loss,
kelahiran preterm, premature rupture of membranes, infection of
the chorion and amnion. Selain itu Vaginitis juga membuat
wanita lebih rentan untuk terinfeksi Trichomonas vaginalis,
Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, HSV-2 dan HIV-1.
Pada penderita Vaginitis yang sedang hamil, dapat
menimbulkan komplikasi antara lain : kelahiran prematur,
ketuban pecah dini, bayi berat lahir rendah, dan endometritis
post partum. Oleh karena itu, beberapa ahli menyarankan agar
semua wanita hamil yang sebelumnya melahirkan bayi prematur
agar memeriksakan diri untuk screening Vaginitis, walaupun
tidak menunjukkan gejala sama sekali. Vaginitis disertai
peningkatan resiko infeksi traktus urinarius.

Prinsip bahwa konsentrasi tinggi bakteri pada suatu tempat


meningkatkan frekuensi di tempat yang berdekatan. Terjadi
peningkatan infeksi traktus genitalis atas berhubungan dengan
Vaginitis. Lebih mudah terjadi infeksi Gonorrhoea dan Klamidia.
Meningkatkan kerentanan terhadap HIV dan infeksi penyakit
menular seksual lainnya.
BAB 3

PENATALAKSANAAN

3.1 Terapi Bakterialisis Vaginlis

Karena penyakit Vaginitis merupakan vaginitis yang cukup


banyak ditemukan dengan gambaran klinis ringan tanpa
komplikasi, jenis obat yang digunakan hendaknya tidak
membahayakan, dan sedikit efek sampingnya.

Semua wanita dengan Vaginitis simtomatik memerlukan


pengobatan, termasuk wanita hamil. Setelah ditemukan
hubungan antara Vaginitis dengan wanita hamil dengan
prematuritas atau endometritis pasca partus, maka penting
untuk mencari obat-obat yang efektif yang bisa digunakan pada
masa kehamilan. Ahli medis biasanya menggunakan antibiotik
seperti metronidazol dan klindamisin untuk mengobati Vaginitis.

A. Terapi sistemik
Metronidazol 400-500 mg, 2 x sehari selama 7 hari.
Dilaporkan efektif dengan kesembuhan 84-96%.
Metronidasol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi
gelap. Konsumsi alkohol seharusnya dihindari selama
pengobatan dan 48 jam setelah terapi oleh karena dapat
terjadi reaksi disulfiram. Metronidasol 200-250 mg, 3x
sehari selama 7 hari untuk wanita hamil. Metronidazol 2
gram dosis tunggal kurang efektif daripada terapi 7 hari
untuk pengobatan Vaginitis oleh karena angka rekurensi
lebih tinggi.
Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama
efektifnya dengan metronidazol untuk pengobatan Vaginitis
dengan angka kesembuhan 94%.
Amoklav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam
klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari.
Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari
Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari
Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari
Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari

B. Terapi Topikal
Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari
selama 5 hari
Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari
Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari
Triple sulfonamide cream.(3,6) (Sulfactamid 2,86%,
Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari
selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka
penyembuhannya hanya 15 45 %

C. Pengobatan Vaginitis pada masa kehamilan

Terapi secara rutin pada masa kehamilan tidak dianjurkan


karena dapat muncul masalah. Metronidazol tidak digunakan
pada trimester pertama kehamilan karena mempunyai efek
samping terhadap fetus. Dosis yang lebih rendah dianjurkan
selama kehamilan untuk mengurangi efek samping (Metronidazol
200-250 mg, 3 x sehari selama 7 hari untuk wanita hamil).
Penisilin aman digunakan selama kehamilan, tetapi ampisilin dan
amoksisilin jelas tidak sama efektifnya dengan metronidazol
pada wanita tidak hamil dimana kedua antibiotik tersebut
memberi angka kesembuhan yang rendah.

Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal


karena klindamisin tidak mempunyai efek samping terhadap
fetus. Pada trimester II dan III dapat digunakan metronidazol oral
walaupun mungkin lebih disukai gel metronidazol vaginal atau
klindamisin krim. Selain itu, amoklav cukup efektif untuk wanita
hamil dan intoleransi terhadap metronidazole.

D. Pengobatan Vaginitis rekuren

Vaginitis yang rekuren dapat diobati ulang dengan:

Rejimen terapi

Metronidazol 500 mg 2x sehari selama 7 hari. Merupakan


obat yang paling efektif saat ini dengan kesembuhan 95%.
Penderita dinasehatkan untuk menghindari alkohol selama
terapi dan 24 jam sesudahnya.

Rejimen alternative

Metronidazol oral 2 gram dosis tunggal. Kurang efektif bila


dibandingkan rejimen 7 hari; kesembuhan 84%.
Mempunyai aktivitas sedang terhadap Gardnerella
vaginalis, tetapi sangat aktif terhadap bakteri anaerob,
efektifitasnya berhubungan dengan inhibisi anaerob.
Metronidazol gel 0,75% intravaginal, aplikator penuh (5gr),
2 kali sehari untuk 5 hari.
Klindamisi krim 2% intravaginal, aplikator penuh (5gr),
dipakai saat akan tidur untuk 7 hari atau dua kali sehari
untuk lima hari.
Klindamisi 300mg 2 kali sehari untuk 7 hari.
Augmentin oral (500mg amoksilin + 125 mg asam
clavulanat) 3 kali sehari selama 7 hari.
Sefaleksin 500mg 4 kali sehari semala 7 hari

Jika cara ini tidak berhasil untuk Vaginitis rekuren, maka


dilakukan pengobatan selama seminggu sebelum permulaan
menstruasi dan begitupun pada menstruasi berikutnya, dengan
pengobatan selama 3-5 hari dengan metronidazol oral dan anti
jamur yaitu clotrimazol intravaginal atau flukonazol.

3.2 Prognosis

Vaginitis dapat timbul kembali pada 20-30% wanita


walaupun tidak menunjukkan gejala. Pengobatan ulang dengan
antibiotik yang sama dapat dipakai. Prognosis Vaginitis sangat
baik, karena infeksinya dapat disembuhkan. Dilaporkan terjadi
perbaikan spontan pada lebih dari 1/3 kasus. Dengan
pengobatan metronidazol dan klindamisin memberi angka
kesembuhan yang tinggi (84-96%).
DAFTAR PUSTAKA