Anda di halaman 1dari 37

REFERAT

PENANGANAN ABORTUS BERULANG


Disusun Oleh :
Eggi Erlangga
1015061

Pembimbing :
DR. dr. Aloysius Suryawan, Sp.OG (K)

BAGIAN ILMU OBSTETRI - GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
RUMAH SAKIT IMMANUEL
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin
mampu bertahan hidup diluar rahim (<20 minggu, BB <500 gram). 1 Abortus
diklasifikasikan menjadi abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan
adalah abortus yang berlangsung tanpa suatu tindakan, sedangkan abortus yang
dilakukan dengan sengaja disebut abortus provokatus. Abortus provokatus dibagi
dua kelompok yaitu abortus provokatus medisinalis dan abortus kriminalis.2
Abortus merupakan kejadian yang sering ditemukan sehari-hari. Penyebab
abortus spontan tersering adalah akibat abnormalitas kromosom, pada masa usia
kehamilan sebelum 12 minggu, dan lebih dari 90% konsepsi yang memiliki
kariotipe normal akan berlanjut. Keguguran dapat dilihat sebagai proses seleksi
alamiah untuk kontrol kualitas hasil konsepsi.1
Abortus saat ini masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat
Indonesia. Jenis abortus terbanyak di Indonesia adalah abortus kriminalis. Angka
kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang tidak
dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi Secara keseluruhan, kira-kira 1215% dari seluruh kehamilan yang dapat dikenali secara klinis berakhir pada
keguguran, tetapi insidensi sebenarnya dari keguguran, termasuk keguguran yang
tidak dikenali, adalah 2-4 kali lebih tinggi (30-60%). Risiko abortus meningkat
seiring dengan jumlah keguguran pada kehamilan sebelumnya dan perjalanan
usia, tetapi jarang mencapai 40-50%.2,9
Pada tahun 2000 diperkirakan sekitar dua juta abortus terjadi. Estimasi abortus
berdasarkan penelitian ini adalah angka tahunan aborsi sebesar 37 aborsi untuk
setiap 1.000 perempuan usia reproduksi, 15 49 tahun. Perkiraan ini cukup tinggi
bila dibandingkan dengan negara negara lain di Asia dengan skala regional
sekitar 29 aborsi terjadi setiap 1.000 perempuan usia reproduksi.
Alasan seorang wanita melakukan abortus beraneka ragam, yang tersering
adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Pengguguran kandungan yang

kebanyakan dipilih adalah cara tidak aman dikarenakan oleh keterbatasan biaya
dan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya bahaya abortus tersebut. Badan
Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasikan bahwa aborsi yang tidak aman
bertanggung jawab terhadap 14% dari kematian ibu di Asia Tenggara.
Upaya untuk menurunkan angka kejadian abortus melibatkan kerja sama
banyak pihak; baik pemerintah, tenaga medis, tokoh yang berpengaruh di suatu
daerah dan diri pribadi tiap orang. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
menghindari terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, tersedianya informasi
dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas untuk kaula muda,
pelayanan pemasangan kontrasepsi, dirumuskannya kebijakan untuk menurunkan
insidensi abortus yang tidak aman serta tersedianya perawatan paska abortus pada
pasien yang mengalami komplikasi.2,9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Abortus (aborsi/ abortion) adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun
sebelum janin mampu bertahan hidup. Di Amerika Serikat, definisi ini terbatas
pada terminasi kehamilan sebelum 20 minggu berdasarkan pada tanggal hari
pertama haid normal terakhir. Definisi lain yang sering digunakan adalah
keluarnya janin-neonatus yang beratnya kurang dari 500 gram. Definisi abortus
bervariasi, tergantung dari kebijakan hukum dalam melaporkan abortus, kematian
janin, dan kematian neonatus.2
Abortus spontan adalah abortus terjadi tanpa intervensi medis atau mekanis
untuk mengosongkan uterus. Istilah lain yang digunakan adalah miscarriage.1
2.2. Etiologi
Lebih dari 80 persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama, dan setengahnya
disebabkan oleh kelainan kromosom, dan setelah trimester pertama, angka
kejadian abortus dan insidensi dari kelainan kromosom menurun (Gambar 2.1).
Mekanisme pasti yang menyebabkan abortus tidak selalu jelas, tetapi pada
bulan-bulan awal kehamilan, ekspulsi ovum secara spontan hampir selalu
didahului oleh kematian mudigah atau janin. Karena itu, pertimbangan etiologis
pada abortus dini antara lain mencakup pemastian kausa kematian janin (apabila
mungkin). Pada bulan-bulan selanjutnya, janin sering belum meninggal in utero
sebelum ekspulsi, dan penyebab ekspulsi tersebut perlu diteliti.1

Gambar 2.1. Frekuensi kelainan kromosom pada abortus dan bayi lahir
mati untuk tiap semester dibandingkan dengan frekuensi kelainan
kromosom pada bayi lahir hidup

Gambar 2.2 Abortus spontan trimester pertama dan kedua dengan usia ibu

Mekanisme pasti yang menyebabkan abortus tidak selalu jelas, tetapi pada
bulan-bulan awal kehamilan, ekspulsi ovum secara spontan hampir selalu
didahului oleh kematian mudigah atau janin. Karena itu, pertimbangan etiologis
pada abortus dini antara lain mencakup pemastian kausa kematian janin (apabila
mungkin). Pada bulan-bulan selanjutnya, janin sering belum meninggal in utero
sebelum ekspulsi, dan penyebab ekspulsi tersebut perlu diteliti.1
2.2.1. Faktor janin
Perkembangan Zigot Abnormal
Temuan morfologis tersering pada abortus spontan dini adalah kelainan
perkembangan zigot, mudigah, janin bentuk awal, atau kadang-kadang plasenta.
Dalam suatu analisis terhadap 1000 abortus spontan, Hertig dan Sheldon (1943)
menjumpai ovum patologis ("blighted") yang pada separuhnya mudigah
mengalami degenerasi atau tidak ada sama sekali. Ovum yang abnormal semacam
itu dapat dilihat di Gambar 2.3. 1

Gambar 2.3. Ovum abnormal. Potongan melintang sebuah ovum cacat yang
memperlihatkan kantung korion yang kosong yang tertanam didalam massa
endometrium polipoid ( dari Hertig dan Rock, 1944).2

Abortus Aneuploidi
Jacobs dan Hassold (1980) melaporkan bahwa sekitar 95% dari kelainan
kromosom disebabkan oleh kesalahan gametogenesis maternal dan 5 % oleh
kesalahan paternal. Kelainanan kromosom yang sering dijumpai pada abortus
tertera pada tabel 2.2
Tabel 2.1 Temuan Kromosom pada Abortus1
Pemeriksaan Kromosom

Kajii et al.

Eiben et

(1980)

al. (1990)

(%)

(%)

46

51

54

Trisomi autosom

31

31

22

Monosomi X (45,X)

10

Triploidi

Tetraploidi

Anomali structural

Trisomi ganda

0,9

0,7

Trisomi Tripel

0,4

TT

Lain-lain XXY, monosomi 21

0.8

TT

Normal ( euploid) 46XY dan 46XX

Simpson
(1980) (%)

Abnormal ( euploidi)

Monosomi autosom G

TT

0,1

Trisomi mosaic

TT

0,1

Polisomi Kromosom seks

TT

0,2

Kelainan Tidak Spesifik

TT

0,9

TT = Tidak Tercantum
Trisomi autosom merupakan kelainan kromosom yang tersering dijumpai pada
abortus trimester pertama. Trisomi dapat disebabkan oleh nondisjunction
tersendiri, translokasi seimbang maternal atau paternal, atau inversi kromosom
seimbang. Penataan ulang struktur kromosom secara seimbang djumpai pada 2
sampai 4 persen pasangan dengan riwayat abortus rekuren. Translokasi dapat
ditemukan pada kedua orang tua. Inversi kromosom seimbang juga dapat
dijumpai pada pasangan dengan abortus rekuren. Trisomi untuk semua autosom
kecuali kromosom nomor 1 pernah dijumpai pada abortus, tetapi yang tersering
adalah autosom 13,16,18, 21, dan 22.
Monosomi X (45,X) adalah kelainan kromosom tersering berikutnya dan
memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom Turner).
Triploidi sering berhubungan dengan degenerasi plasenta, inkomplet (parsial)
hydatidiform mola mengandung triploidi atau trisomi untuk kromosom 16,
walaupun kebanyakan janin ini mengalami abortus awal, namun beberapa dapat
bertahan lebih lama dan mengalami malformasi. Keadaan ibu dan ayah tidak
meningkatkan insidensi dari triploidi.
Tetraploidi abortus jarang yang dapat lahir hidup dan biasanya terjadi abortus
pada awal gestasi.
Kelainan struktural kromosom jarang menyebabkan abortus dan baru
teridentifikasi setelah dikembangkannya teknik-teknik pemitaan (banding).

Sebagian dari bayi ini lahir hidup dengan translokasi seimbang dan mungkin
normal.1
Abortus Euploidi
Kajii dkk., (1980) melaporkan bahwa 75% dari abortus aneuploid terjadi
sebelum minggu ke-8, sedangkan abortus euploid memuncak pada usia gestasi
sekitar 13 minggu. Stein dkk., (1980) membuktikan bahwa insidensi abortus
euploid meningkat secara drastis setelah usia ibu 35 tahun.1
2.2.2. Fakor Maternal
Infeksi
Infeksi jarang menyebabkan abortus pada manusia. Sejumlah penyakit kronik
diperkirakan dapat menyebabkan abortus. Menurut Sauerwein dkk., 1993.
Brucella abortus dan Campyloacter fetus merupakan kausa abortus pada sapi
yang telah lama dikenal, tetapi keduanya bukan kausa signifikan pada manusia.
Bukti bahwa Toxoplasma gondii menyebabkan abortus pada manusia kurang
meyakinkan. Tidak terdapat bukti bahwa Listeria monocytogenes atau Chlamydia
trachomatis menyebabkan abortus pada manusia (Feist dkk., 1999; Osser dan
Persson, 1996; Paukku dkk., 1999). Menurut Brown dkk., 1997, herpes simpleks
tidak dilaporkan meningkatkan insidensi terjadinya abortus.
Bukti serologis yang mendukung mengenai peran Mycoplasma hominis dan
Ureaplasma urealyticum pada abortus telah disediakan oleh Quinn dkk (1983).
sebaliknya Temmerman dkk. (1992) tidak mendapatkan keterkaitan antara
mikoplasma genital dan abortus spontan. Namun mereka melaporkan bahwa
abortus

spontan

secara

independen

berkaitan

dengan

antibodi

virus

imunodefisiensi manusia 1 (HIV-1) dalam darah ibu, seroreaktivitas sifilis pada


ibu, dan kolonisasi vagina ibu oleh streptokokus grup B. Yang terbaru ( Van
Benthem, dkk, 2000) melaporkan bahwa wanita dengan HIV positif tidak
meningkatkan risiko terjadinya abortus spontan. Pada 2002, Oakeshott dkk
melaporkan adanya hubungan antara abortus spontan pada trimester pertama dan
bakterialis vaginosis.1

Penyakit Debilitas Kronik


Pada awal kehamilan, penyakit kronik yang menyebabkan penyusutan tubuh,
misalnya tuberkulosis atau karsinomatosis, jarang menyebabkan abortus.
Hipertensi jarang menyebabkan abortus di bawah 20 minggu, tetapi dapat
menyebabkan kematian janin dan kelahiran preterm. Celiac sprue (sindrom
malabsorbsi) dilaporkan menyebabkan infertilitas wanita dan pria serta abortus
rekuren (Sher dkk., 1994).1
Kelainan Endokrin
1. Hipotiroidisme
Defisiensi yodium pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus. Efek samping
dari hipotiroidisme pada awal kehamilan belum diteliti lebih lanjut.
2. Diabetes Mellitus
Abortus spontan dan malformasi kongenital mayor meningkat pada wanita
dengan diabetes dependen-insulin. Risiko ini berkaitan dengan derajat kontrol
metabolik pada trimester pertama. Dalam suatu studi prospektif, Mills dkk.(1988)
melaporkan bahwa pengendalian glukosa secara dini (dalam 21 hari setelah
konsepsi) menghasilkan angka abortus spontan yang setara dengan angka pada
kelompok kontrol nondiabetik. Namun, kurangnya pengendalian glukosa
menyebabkan peningkatan angka abortus yang mencolok. Craig dkk 2002
melaporkan adanya peningkatan insidensi abortus berulang pada wanita dengan
resistensi insulin.1
3. Defisiensi progesteron
Hal ini dikenal sebagai defek fase luteal (Luteal phase deficiency/LPD) adalah
gangguan fase luteal. Gangguan ini bisa menyebabkan disfungsi tuba dengan
akibat transpor ovum terlalu cepat, mobilitas uterus yang berlebihan, dan
kesukaran nidasi karena endometrium tidak dipersiapkan dengan baik. Penderita
dengan LPD mempunyai karakteristik siklus haid yang pendek, interval post
ovulatoar kurang dari 14 hari dan infertil sekunder dengan recurrent early losses.4

Nutrisi
Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa defisiensi salah satu zat gizi atau
defisiensi sedang semua nutrien merupakan kausa abortus yang penting. Mual dan
muntah yang timbul agak sering pada awal kehamilan, dan semua penyakit yang
dipicunya, jarang diikuti oleh abortus spontan. Menurut Maconochie dkk, 2007
menemukan adanya pengurangan resiko abortus pada ibu yang mengkonsumsi
buah dan sayuran segar setiap.1
Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan

Tembakau : peningkatan risiko pada abortus euploidi

Alkohol

Kafein

Radiasi

Kontrasepsi : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Toksin lingkungan : arsen, timbal, formaldehida, benzena, dan etilen


oksida.

Faktor Imunologis
Banyak perhatian ditujukan pada sistem imun sebagai faktor penting dalam
kematian janin berulang. Dua model patofisiologis utama yang berkembang
adalah teori autoimun (imunitas terhadap tubuh sendiri) dan teori aloimun
(imunitas terhadap orang lain).1
a. Faktor autoimun
Penyakit kolagen pada pembuluh darah adalah penyakit dimana sistem imun
yang terdapat dalam tubuh menyerang organ tubuh itu sendiri. Penyakit ini sangat
berbahaya pada saat kehamilan maupun diantara kehamilan. Pada penyakit ini,
wanita membuat antibodi untuk jaringan tubuhnya sendiri. Contoh dari penyakit
kolagen yang berhubungan dengan abortus adalah Systemic Lupus Erythematosus
(SLE) dan sindroma antibodi antifosfolipid (Antiphopholipid Syndrome/APS).

10

Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk memeriksa adanya antibodi abnormal


dan digunakan untuk mendiagnosis keadaan ini (Conrad, 2009). APS dikenal juga
dengan nama Hughes syndrome merupakan penyakit autoimun yang pada dekade
akhir ini makin dikenal sebagai salah satu penyebab abortus berulang.4
b. Faktor aloimun
Kematian janin berulang pada sejumlah wanita didiagnosis sebagai akibat
faktor-faktor aloimun. Diagnosis faktor aloimun berpusat pada beberapa
pemeriksaan:
o Perbandingan Human Leucocyte Antigen (HLA) ibu dan ayah.
o Pemeriksaan serum ibu untuk medeteksi keberadaan antibodi sitotoksi
leukosit ayah.
o Pemeriksaan

serum

ibu

mendeteksi

faktor-faktor

penyekat

(blockingfactors) pada reaksi pencampuran limfosit (mixed Iymphocyte


reaction) ibu-ayah.
Validitas model ini masih diragukan. Sebagai contoh, pasangan yang memiliki
HLA yang sama jelas masih mungkin mengalami kehamilan . Hal ini dapat dilihat
pada penelitian-penelitian lain dimana tidak ditemukan adanya perbedaan dalam
frekuensi kesamaan HLA pada pasangan dengan kematian janin berulang dengan
mereka yang reproduksinya berhasil.1
Gamet Yang Menua
Guerrero dan Rojas (1975) mendapatkan peningkatan insidensi abortus yang
relatif terhadap kehamilan normal apabila inseminasi terjadi 4 hari sebelum atau 3
hari sesudah pergeseran suhu tubuh basal. Dengan demikian, mereka
menyimpulkan bahwa penuaan gamet di dalam saluran genitalia wanita sebelum
pembuahan meningkatkan kemungkinan abortus.2
Laparotomi
Tidak terdapat bukti bahwa pembedahan yang dilakukan pada kehamilan tahap
awal dapat meningkatkan angka abortus. Sebagai contoh, tumor ovarium dan
mioma bertangkai umumnya diangkat tanpa mengganggu kehamilan. Peritonitis
11

meningkatkan kemungkinan abortus. Ada pengecualian bila kista pada corpus


luteum di ovarium diangkat, jika hal ini terjadi pada 10 minggu masa gestasi,
penambahan hormone progesterone diperlukan.2
Trauma Fisik
Trauma yang tidak menyebabkan terhentinya kehamilan sering dilupakan,
yang diingat hanya kejadian tertentu yang tampaknya mengakibatkan abortus.
Trauma minor yang umumnya tidak berpengaruh pada uterus.1
2.2.3.Kelainan Traktus Genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus. Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi
inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain
abortus dalam trimester kedua ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan
oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi,
amputasi, atau robekan serviks luas yang tidak dijahit.
Serviks inkompeten
Kelainan ini ditandai oleh pembukaan serviks tanpa nyeri pada trimester
kedua, atau mungkin awal trimester ketiga, disertai prolaps dan menggembungnya
selaput ketuban ke dalam vagina, diikuti oleh pecahnya selaput ketuban dan
ekspulsi janin imatur. Apabila tidak diterapi secara efektif, rangkaian ini akan
berulang pada setiap kehamilan.
Walaupun penyebab serviks inkompeten belum jelas, riwayat trauma pada
serviks, terutama sewaktu dilatasi dan kuretase, konisasi, kauterisasi atau
amputasi tampaknya merupakan faktor pada banyak kasus. Pada kasus lain, yang
berperan adalah kelainan perkembangan serviks, termasuk yang terjadi setelah
pajanan dietilstilbestrol in utero.
Terapi serviks inkompeten adalah tindakan bedah, berupa penguatan serviks
dengan jahitan purse-string. Perdarahan, kontraksi uterus, atau pecahnya selaput
ketuban biasanya merupakan kontraindikasi untuk tindakan pembedahan.

12

Pengikatan serviks umumnya ditunda sampai setelah minggu ke-14 sehingga


abortus dini akibat faktor lain sudah komplet. Belum dicapai kesepakatan
mengenai usia gestasi maksimal yang masih memungkinkan dilakukannya
prosedur ini. Semakin lanjut tahap kehamilan, semakin besar kemungkinannya
tindakan bedah akan memicu persalinan preterm atau pecah ketuban. Karena itu,
sebagian dokter lebih menganjurkan tirah baring daripada pengikatan serviks
setelah pertengahan kehamilan. Biasanya tidak dilakukan pengikatan serviks
setelah minggu ke-24 sampai 26.
Sebelum serviks diikat, dilakukan sonografi untuk memastikan janin hidup dan
untuk menyingkirkan anomali janin mayor. Serviks yang jelas mengalami infeksi
harus diterapi, dan dianjurkan pemeriksaan biakan untuk gonorea, klamidia, dan
streptokokus grup B. Selama paling sedikit seminggu sebelum dan sesudah
pembedahan, sebaiknya pasien tidak melakukan hubungan seks.
Apabila terdapat keraguan dilakukannya pengikatan serviks, wanita yang
bersangkutan perlu mengurangi aktifitas fisik. Larangan melakukan hubungan
seks merupakan hal penting, dan harus dilakukan pemeriksaan serviks yang
teratur untuk menilai obliterasi dan pembukaan serviks.
Prosedur pengikatan serviks yang sering dilakukan ada tiga jenis pembedahan
yakni yang pertama adalah prosedur sederhana yang dianjurkan oleh McDonald
(1963), yang kedua adalah operasi Shirodkar (1955) yang lebih rumit, dan yang
ketiga adalah prosedur modifikasi Shirodkar. Pada tindakan McDonald dan
Shirodkar modifikasi, trauma dan perdarahan lebih jarang terjadi dibandingkan
pada Shirodkar yang asli.
Teknik McDonald dan Shirodkar modifikasi memiliki angka keberhasilan
mencapai 85 sampai 90 persen ( Caspi dkk.,1990; Kuhn dan Pepperel, 1997 ).
Oleh karenanya, tampaknya tidak perlu dilakukan prosedur Shirodkar asli yang
lebih rumit. Prosedur Shirodkar modifikasi saring dicadangkan apabila tindakan
McDonald sebelumnya gagal dan apabila terdapat kelainan struktural serviks.
Angka keberhasilan lebih tinggi apabila pembukaan serviks masih minimal dan
tidak terjadi prolaps selaput ketuban.1

13

2.2.4 Faktor Paternal


Faktor ayah dalam terjadinya abortus spontan tidak banyak diketahui, yang jelas
translokasi kromosom pada sperma dapat menyebabkan abortus. Kulcskar dkk.
1991 menemukan adenovirus atau virus herpes simpleks pada hampir 40% sampel
semen yang diperoleh dari pria steril. Virus terdeteksi dalam bentuk laten pada
60%, dan virus yang sama dijumpai pada abortus.5

2.3. Klasifikasi Abortus


Klasifikasi Abortus :
1. Menurut kejadiannya
2. Secara klinis
A. Abortus Menurut Kejadiannya
1. Abortus Spontan
Abortus yang terjadi tanpa tindakan atau berlangsung dengan
sendirinya.
2. Abortus Provocatus
Abortus yang terjadi dengan sengaja.
a. Abortus provocatus therapeuticus / abortus provocatus artificialis
Pengakhiran kehamilan atas indikasi kehamilan yang dapat
membahayakan ibu maupun janin.
b. Abortus provocatus kriminalis
Pengakhiran kehamilan tanpa indikasi medis dan dilarang oleh
hukum.
B. Menurut klinis dibagi menjadi :
1. Abortus Iminens

14

Abortus iminens adalah peristiwa perdarahan dari uterus pada kehamilan


sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, tanpa adanya
dilatasi serviks.
Diagnosis abortus imminens ( threatened abortion ) dipikirkan apabila terjadi
perdarahan atau rabas ( discharge ) per veginam pada paruh pertama kehamilan.
Hal ini sangat sering dijumpai, dan satu dari empat atau lima wanita mengalami
bercak ( spotting ) atau perdarahan pervaginam yang lebih banyak pada awal
gestasi. Mereka yang mengalami perdarahan pada awal kehamilan, sekitar
separuhnya akan keguguran. Perdarahan pada abortus imminens umumnya
sedikit, tetapi dapat menetap selama beberapa hari sampai beberapa minggu.
Yang pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dan beberapa jam
sampai beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin
terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis; nyeri dapat berupa nyeri punggung
bawah yang menetap dan disertai dengan perasaan tertekan di panggul atau rasa
tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Apapun bentuk
nyerinya, prognosis keberlanjutan kehamilan apabila terjadi perdarahan yang
disertai nyeri adalah buruk.
Pasien dapat bertirah baring di rumah dan diberikan analgetik untuk
menghilangkan rasa nyeri. Apabila perdarahan terus menetap dan cukup besar
sehingga terjadi anemia atau hipovolemia, umumnya diindikasikan evakuasi
kehamilan. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu,
dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dpat dilanjutkan. Sonografi
vagina, pemeriksaan kuantitatif serial kadar gonadotropin korionik (hCG) serum
dan kadar progesteron serum, yang diperiksa tersendiri atau dalam berbagai
kombinasi, terbukti bermanfaat untuk memastikan apakah terdapat janin hidup
intrauterus. Fossum dkk (1998) melaporkan bahwa kantung janin biasanya dapat
dilihat dengan sonografi vagina antara 33 sampai 35 hari sejak hari pertama haid
terakhir. Hal ini juga disertai dengan kadar gonadotropin korionik sekitar 1000
mIU/ml. Apabila kantung gestasi terlihat dan hCG serum kurang dari 1000
mIU/ml, dan kadar progesteron serum kurang dari 5 ng/ml, kecil kemungkinannya
gestasi dapat dipertahankan.1

15

Gambar 2.4 Abortus Imminens


2.Abortus Insipiens
Abortus insipiens ialah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum
20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih dalam uterus.6 Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan
kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi
sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan
mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan kontraindikasi.

Gambar 2.5 Abortus Insipiens

3.Abortus Inkomplet
Abortus inkomplet ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum usia gestasi 10 minggu, janin dan plasenta biasanya keluar bersamasama, tetapi setelah waktu ini keluar secara terpisah. Apabila seluruh atau
sebagian placenta tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan

16

yang merupakan tanda utama abortus inkomplet. Pada abortus yang lebih lanjut,
perdarahan

kadang-kadang

sedemikian

masif,

sehingga

menyebabkan

hipovolemia berat.1

Gambar 2.6 Abortus Inkomplet


4. Abortus Komplet
Pada abortus komplet semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada keadaan
ini, kuretase tidak perlu dilakukan.6 Pada setiap abortus, penting untuk memeriksa
semua jaringan yang dilahirkan, apakah komplet atau tidak dan untuk
membedakan dengan kelainan trofoblas (mola hidatidosa).7
Pada abortus komplet, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim
dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama
sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai.
Serviks juga dengan segera menutup kembali. Bila dalam 10 hari setelah abortus
masih ada perdarahan, abortus inkomplet atau endometritis pasca abortus harus
dipikirkan.7
Penderita dengan abortus komplet tidak memerlukan pengobatan khusus,
hanya apabila menderita anemia perlu diberi sulfas ferrosus atau transfusi.6

17

Gambar 2.7 Abortus komplet6


5. Missed Abortion
Missed Abortion ialah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi
janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed
abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesteron. Pemakaian
hormon progesteron pada abortus iminens mungkin juga dapat menyebabkan
missed abortion.6 Kalau janin mati pada kehamilan yang masih muda sekali, janin
akan lebih cepat dikeluarkan. Sebaliknya, kalau kematian janin terjadi pada
kehamilan yang lebih lanjut, retensi janin akan lebih lama.7

Gambar 2.8 Missed Abortion


6. Abortus Septik
18

Abortus septik adalah abortus yang terinfeksi, dengan penyebaran


mikroorganisme dan produknya ke dalam sirkulasi sistemik ibu. Infeksi dalam
uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan
pada abortus inkomplet dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan
tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis.7
7. Abortus Habitualis
Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturutturut.6 Kejadiannya jauh lebih sedikit daripada abortus spontan (kurang dari 1%),
lebih sering pada primi tua. Jika seorang penderita telah mengalami abortus 2 kali
berturut-turut, maka optimisme untuk kehamilan berikutnya berjalan normal
adalah sekitar 63%, jika abortus 3 kali berturut-turut maka kemungkinan
kehamilan keempat berjalan normal hanya sekitar 16%.7

2.4 Abortus Habitualis


2.4.1 Definisi
Abortus habitualis adalah pengakhiran kehamilan secara spontan tiga kali
berturut-turut pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan janin
kurang dari 500 gram.2
2.4.2 Etiologi
Secara skematis penyebab abortus yang berulang dapat dilihat pada tabel
2.2.
Tabel 2.2 Prakiraan Insidensi Dari Penyebab Kejadian Abortus
Spontan Berulang12
Etiologi
Faktor Genetik

Prakiraan Insiden
5%

Kromosomal
Multifaktorial
19

Faktor Anatomik

12 %

1. Kongenital
a. Incomplete Mullerian fusion or septum
rearsorbtion
b. Paparan Diethylstillbestrol
c. Anomali arteria uterine
d. Inkompetentia serviks
2. Didapat/Akuisita
a. Inkompetentia serviks
b. Sinekhia
c. Leiomioma
d. Endometriosis, adenomiosis
Faktor Endokrin
a. Insufisiensi

17 %
fase

luteal

termasuk

kelainan

luteinizing hormone
b. Kelainan tiroid
c. Diabetes Mellitus
d. Kelainan androgen
e. Kelainan prolaktin
Faktor Infeksi

5%

1. Bakteri
2. Virus
3. Parasit
4. Zoonotik
5. Fungus
Faktor Immunologi

50 %

1. Mekanisme Humoral
a. Antibodi Antiphospholipid
b. Antibodi antisperm
c. Antibodi Antitrofoblast
d. Blocking antibody deficiency

20

2. Mekanisme seluler
a. Respon imun seluler TH1 pada antigen
reproduksi
(embryo/trophoblast-toxic
factors/cytokines)
b. Sitokin

TH2,

growth

factor

dan

defisiensi onkogen
c. Supressor cell and factor deficiency
d.

Major

histocompatibility

antigen

expression
Faktor-faktor lain

10 %

1. Lingkungan
2. Obat-obatan
3. Abnormalitas plasenta
Sirkumvalata
Marginal
4. Kelainan Medis
a. Faktor kelainan jantung
b. Faktor renal
c. Faktor hematologik
5. Faktor Pria
6. Koitus
7. Latihan
2.4.3 Patofisiologi
Pada awal terjadinya abortus terjadi perdarahan pada desidua basalis
sehingga embrio lepas partial atau total, diikuti nekrosis jaringan sekitarnya.
Kemudian plasenta menjadi tidak berfungsi. Hasil konsepsi yang terlepas
sebagian atau seluruhnya akan menjadi benda asing dalam uterus. Hal ini yang
menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya, diikuti dilatasi
cervix dan pengeluaran sebagian atau seluruh hasil konsepsi.8
21

Hasil konsepsi yang dikeluarkan dapat berupa blighted ovum (kantong


amnion berisi air ketuban tanpa janin), mola crueta (janin diliputi oleh lapisan
bekuan darah), Mola carnosa (bekuan darah telah diserap dan sisanya mengalami
organisasi sehingga tampak seperti daging), mola tuberose (amnion tampak
berbenjol-benjol akibat hematom antara lapisan amnion dan chorion).8
2.4.4 Manajemen Pengelolaan Abortus Habitualis
Bila kita menghadapi seorang ibu dengan riwayat abortus berulang maka
kita harus mempelajari kasus ini dengan baik dengan melakukan pendataan
tentang riwayat suami istri dan pemeriksaan fisik ibu baik secara anatomis
maupun laboratorik. Perhatikan apakah abortus terjadi pada trimester pertama atau
trimester ke dua.
Bila terjadi pada trimester pertama maka banyak faktor yang harus dicari
sesuai kemungkinan etiologi atau mekanisme terjadinya abortus berulang.
Bila tejadi pada trimester kedua maka faktor-faktor penyebab lebih
cenderung pada faktor anatomis terjadinya inkompetensi serviks dan adanya
myoma uteri serta infeksi yang berat pada uterus atau serviks. Langkah-langkah
yang dapat kita ikuti untuk mencari faktor-faktor yang potensial yang
menyebabkan terjadinya abortus spontan yang berulang ialah sebagai berikut :
Anamnesis
1. Kapan abortus terjadi. Apakah pada trimester pertama atau pada trimester
berikutnya adakah penyebab mekanis yang menonjol.
2. Adanya riwayat kontak dengan zat kimia atau obat-obatan
3. Infeksi ginekologi dan obstetri
4. Gambaran

terjadinya

antiphospholipid

syndrome"

(trombosis,

autoimmune phenomena)
5. Faktor genetika antara suami istri (kosanguinitas)

22

6. Riwayat keluarga yang pernah mengalami terjadinya abortus berulang dan


sindroma yang berkaitan dengan kejadian abortus spontan ataupun partus
prematurus yang kemudian meninggal.
7. Pemeriksaan diagnostik yang terkait dan pengobatan yang pernah didapat.
Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan fisik secara umum
Pemeriksaan fisik secara umum harus dilakukan untuk mencari gejala
penyakit metabolik.
2. Pemeriksaan ginekologi
Saat pemeriksaan daerah panggul dicari tanda-tanda infeksi, bentuk dan
ukuran uterus, trauma berulang.9
Pemeriksaan laboratorium
1. Karyotipe darah tepi kedua orang tua
2. Histerosalpingografi diikuti dengan histeroskopi atau laparoskopi bila ada
indikasi
3. Biopsi endometrium pada fase luteal
4. Pemeriksaan hormone TSH dan antibody anti tiroid
5. Antibodi antiphospholipid (kardiolipin, phosphatidylserine)
6. Lupus antikoagulan (a partial thromboplastin time or Russel Viper
Venom)
7. Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit
8. Kultur cairan serviks (mycoplasma, ureaplasma, Chlamidia) bila
diperlukan.
Pengobatan
Setelah dilakukan investigasi maksimal, bila sudah terjadi konsepsi baru
pada ibu dengan riwayat abortus berulang maka kita perlu memberikan support
psikologik untuk mendapatkan pertumbuhan embrio intra uterin yang baik. Kenali

23

kemungkinan terjadinya anti phospholipids sindroma atau mencegah terjadinya


infeksi intra uterin.9
Pemeriksaan kadar -HCG secara periodik pada awal kehamilan dapat
membantu pemantauan kelangsungan kehamilan sampai pemeriksaan USG dapat
dikerjakan. Gold standart untuk memonitoring kehamilan dini adalah pemeriksaan
USG, dikerjakan setiap dua minggu sampai kehamilan ini tidak mengalami
kegagalan (abortus). Pada keadaan embrio tidak terdapat gerakan jantung janin
maka perlu segera dilakukan evakuasi serta pemeriksaan kariotip jaringan hasil
konsepsi tersebut.9
Pemeriksaan serum -fetoprotein perlu dilakukan pada usia kehamilan 16
18 minggu. Pemeriksaan kariotip dari buah kehamilan dapat dilakukan dengan
melakukan amniosintesis air ketuban untuk menilai bagus atau tidaknya buah
kehamilan.9
Bila belum terjadi kehamilan pengobatan dilakukan sesuai dengan hasil
investigasi yang ada. Pengobatan disini termasuk memperbaiki kualitas sel telur
atau spermatozoa, kelainan anatomi, kelainan endokrin, infeksi dan berbagai
variasi hasil pemeriksaan reaksi imunologi. Pengobatan pada penderita yang
mengidap pecandu obat perlu dilakukan juga. Konsultasi psikologi (counseling)
juga akan sangat membantu.9
Bila kehamilan kemudian berakhir dengan kegagalan lagi maka
pengobatan secara intensif harus dikerjakan secara bertahap baik perbaikan
kromosom, anomali antomi, kelainan endokrin, infeksi, faktor imunologi, anti
phospholipid sindroma, terapi imunoglobulin atau imunomodulator perlu
diberikan secara berurutan. Hal ini merupakan suatu pekerjaan besar dan
memerlukan pengamatan yang memadai untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Penyebab abortus habitualis untuk sebagian besar tidak diketahui. Oleh
karena itu, penanganannya terdiri atas: memperbaiki keadaan umum, pemberian
makanan yang sempurna, anjuran istirahat yang banyak, larangan koitus, dan
olahraga. Terapi dengan hormon progesteron, vitamin, hormon tiroid, dan lainnya
mungkin hanya mempunyai pengaruh psikologis karena penderita mendapat kesan
bahwa ia diobati. Calvin melaporkan penyelidikannya tentang 141 wanita hamil

24

yang sebelumnya mengalami 1 sampai 4 abortus berturut-turut: hanya 22,7%


mengalami abortus dan pada 76,6% kehamilan berlangsung terus sampai cukup
bulan tanpa pengobatan apa pun. Apabila pada pemeriksaan histerosalpingografi
yang dilakukan di luar kehamilan menunjukkan kelainan seperti mioma
submukosum atau uterus bikornis, maka kelainan tersebut dapat diperbaiki dengan
pengeluaran mioma atau penyatuan kornu uterus dengan operasi menurut
Strassman. Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil maka operasi
untuk mengecilkan ostium uteri internum sebaiknya dilakukan pada kehamilan 12
minggu atau lebih sedikit. Dasar operasi ialah memperkuat jaringan serviks yang
lemah dengan melingkari daerah ostium uteri internum dengan benang sutra atau
dakron yang tebal. Bila terjadi gejala dan tanda abortus insipiens, maka benang
harus segera diputuskan, agar pengeluaran janin tidak terhalang. Dalam hal
operasi berhasil, maka kehamilan dapat dilanjutkan sampai hampir cukup bulan,
dan benang sutra dipotong pada kehamilan 38 minggu. Operasi tersebut dapat
dilakukan menurut cara Shirodkar atau cara Mc.Donald.6
2.5. Aspek Hukum
Sebelum keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1973,
hanya abortus terapeutik yang dapat dilakukan secara legal di sebagian besar
negara bagian. Definisi legal paling umum tentang abortus terapeutik sampai pada
saat itu adalah terrninasi kehamilan sebelum janin mampu hidup dengan tujuan
menyelamatkan nyawa ibu. Beberapa negara bagian memperluas hukum mereka
menjadi "untuk mencegah cedera tubuh yang serius atau permanen pada ibu" atau
"mempertahankan kehidupan atau kesehatan ibu". Beberapa negara bagian
mengizinkan abortus apabila kehamilan kemungkinan besar melahirkan bayi
dengan keadaan dehidrasi berat.
Hukum abortus ketat yang berlaku hingga tahun 1973 sebenarnya belum lama
diundangkan. Abortus sebelum adanya gerakan janin pertama kali quickening,
yang umumnya terjadi pada usia gestasi antara 16 sampai 20 minggu, sah atau
ditoleransi secara luas di Amerika Serikat dan Inggris sampai tahun 1803. Pada
tahun tersebut, sebagai bagian dari restrukturisasi umum hukum pidana Inggris,

25

diberlakukan undang-undang yang menyebabkan abortus sebelum adanya gerakan


janin ilegal. Pelarangan terhadap abortus yang secara tradisional dilakukan oleh
Gereja Katolik Roma belum mendapat pernbenaran oleh hukum universal
(ekskomunikasi) sampai tahun 1869 (Pilpel dan Norvvich, 1969).
Pada tahun 1821 Connecticut menerapkan hukum abortus pertama di Amerika
Serikat. Kemudian, di seluruh Amerika Serikat, abortus menjadi ilegal kecuali
untuk

menyelamatkan

nyawa

ibu.

Karena

abortus

terapeutik

untuk

rnenyelamatkan nyawa ibu jarang diperlukan atau dapat didefinisikan, sebagian


besar operasi abortus yang sebelumnya dilakukan di negara ini tidak dapat
dibenarkan secara hukum tertulis. Borgmann dan Jones (2000) telah mengulas
masalah-masalah legal dalam abortus secara mendalam.

2.6 Abortus Elektif ( Volunter)


Abortus elektif atau volunter adalah interupsi kehamilan sebelum janin mampu
hidup atas permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan atas alasan
penyakit janin atau gangguan kesehatan ibu. Sebagian besar abortus yang
dilakukan saat ini termasuk dalam kategori ini; bahkan, terjadi sekitar satu abortus
elektif untuk setiap empat kelahiran hidup di Amerika serikat (ventura dkk, 2003).
Badan eksekutif dari universitas obstetri dan ginekologi (2000) mendukung hak
wanita untuk memilih abortus dan menganggap bahwa ini adalah masalah media
antara wanita itu sendiri dan dokternya.
2.7 Teknik Bedah Untuk Aborsi
Kehamilan dapat dikeluarkan secara bedah melalui serviks yang telah dibuka
atau melalui abdomen dengan histerotomi atau histerektomi.

26

Dilatasi dan Kuretase


Abortus bedah mula-mula dilakukan dengan mendilatasi serviks dan kemudian
mengosongkan uterus dengan mengerok isi uterus ( kuretase tajam ) secara
mekanis, melakukan aspirasi vakum ( kuretase isap ), atau keduanya. Kuretase
atau aspirasi vakum seyogyanya dilakukan sebelum minggu ke-14.1
Untuk usia gestasi diatas 16 minggu, dilakukan dilatasi dan evakuasi ( D&E ).
Tindakan ini berupa dilatasi serviks lebar diikuti oleh destruksi dan evakuasi
mekanis bagian-bagian janin. Setelah janin seluruhnya dikeluarkan, digunakan
kuret vakum berlubang besar untuk mengeluarkan plasenta dan jaringan yang
tersisa. Dilatasi dan ekstraksi ( D&X ) serupa dengan D&E, kecuali bahwa pada
D&X bagian janin pertama kali diekstraksi melalui serviks yang telah membuka
untuk mempermudah tindakan.1
Tanpa adanya penyakit sistemik pada ibu, kehamilan biasanya diakhiri dengan
kuretase atau evakuasi/ekstraksi tanpa rawat inap.1
Dilator Higroskopik
Trauma akibat dilatasi mekanik dapat dikurangi dengan menggunakan suatu
alat yang secara perlahan membuka serviks. Alat ini menarik air dari jaringan
serviks dan juga digunakan untuk pematangan serviks prainduksi. Batang
laminaria sering digunakan untuk membantu membuka serviks. Alat ini terbuat
dari tangkai Laminaria digitata atau Laminaria japonica, suatu ganggang laut
coklat. Tangkai dipotong, dikupas, dibentuk, dikeringkan, disterilisasika, dan
dikemas sesuai ukuran kecil (diameter 3-5 mm, sedang diameter 6-8 mm, dan
besar diameter 8-10 mm). Laminaria yang higroskopis kuat diperkirakan bekerja
dengan cara menarik air dari kompleks proteoglikan, sehingga kompleks ini
mengalami penguraian dan menyebabkan serviks melunak dan membuka.1
Teknik pemasangannya, serviks yang telah dibersihkan dipegang disebelah
depan dengan sebuah tenakulum. Kanalis servikalis secara hati-hati disonde tanpa
memecah selaput ketuban, untuk mengetahui panjangnya. Laminaria yang
ukurannya sesuai kemudian dimasukkan sehingga ujungnya berada tepat di os
internum dengan menggunakanforceps tampon uterus atau forceps kapsul radium.
Kemudian, biasanya setelah 4 sampai 6 jam, laminaria akan membengkak

27

sehingga terjadi dilatasi serviks yang memadai sehingga dapat dilakukan dilatasi
mekanik dan kuretase. Laminaria dapat menyebabkan kram.1
Teknik dilatasi dan kuretase
Bibir serviks anterior dijepit dengan tenakulum bergerigi, anestetik lokal
misalnya Lidokain 1 atau 2 persen sebanyak 5 ml disuntikkan secara bilateral ke
dalam serviks. Cara lain, digunakan blok paraservikal.1
Uterus disonde dengan hati-hati untuk mengidentifikasi status os internum dan
untuk memastikan ukuran dan posisi uterus. Serviks diperlebar labih lanjut
dengan dilator Hegar atau Pratt sampai kuret isap aspirator vakum dengan ukuran
diameter yang memadai dapat dimasukkan. Jari keempat dan kelima tangan yang
memasukkan dilator harus diletakkan di perineum dan bokong sewaktu dilator
didorong melewati os internum. Hal ini merupakan pengamanan tambahan agar
tidak terjadi perforasi uterus.1
Kemudian digunakan kuretase isap untuk mengaspirasi produk kehamilan.
Aspirasi vakum digerakkan di atas permukaan secara sistematis agar seluruh
rongga uterus tercakup. Apabila ini telah dilakukan dan tidak ada lagi jaringan
yang terhisap, dilakukan kuretase tajam dengan hati-hati apabila diperkirakan
masih terdapat potongan janin atau plasenta. Kuret tajam lebih efektif, dan bahaya
yang ditimbulkan seharusnya tidak lebih besar daripada yang ditimbulkan oleh
instrumen tumpul. Perforasi uterus jarang terjadi saat kuret digerakkan ke bawah,
tetapi dapat terjadi saat memasukkan instrumen ke dalam uterus, manipulasi
hanya dilakukan oleh ibu jari dan telunjuk.1
Perlu ditekankan kembali bahwa morbiditas, segera atau belakangan, dapat
dijaga minimal apabila :
1.

serviks telah cukup membuka tanpa trauma sebelum mengupayakan


pengeluaran janin dan jaringan gestasi.

2.

Pengeluaran hasil konsepsi dilakukan tanpa menyebabkan perforasi


uterus.

3.

Semua jaringan kehamilan dikeluarkan.1

Perforasi uterus

28

Perforasi uterus secara tidak sengaja dapat terjadi saat sondase uterus, dilatasi
atau kuretase. Dua penentu penting terjadinya peyulit ini adalah keterampilan
dokter dan posisi uterus; kemungkinan perforasi uterus meningkat apabila uterus
terletak retrofleksi. Perforasi uterus ini mudah dikenali, karena instrumen masuk
lebih jauh tanpa tahanan yang seharusnya. Observasi saja mungkin memadai
apabila perforasi uterusnya kecil, seperti yang ditimbulkan oleh sonde uterus atau
dilator kecil.1
Kerusakan intraabdomen yang sangat besar dapat ditimbukan oleh instrumen
yang melewati suatu defek uterus dan masuk ke dalam rongga peritoneum. Hal ini
terutama berlaku kuret isap dan tajam. Dalam hal ini, tindakan yang paling aman
dilakukan adalah laparotomi untuk memeriksa isi abdomen, terutama usus. Cedera
usus yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan peritonitis berat dan sepsis.1
Sejumlah wanita mungkin mengalami serviks inkompeten atau senekie uterus
setelah dilatasi dan kuretase. Secara umum, risiko terjadi keduanya kecil.
Sayangnya, abortus pada tahap kehamilan lebih lanjut dengan kuretase dapat
memicu koagulasi intravaskular difus mendadak yang berat dan dapat
mematikan.1
Laparatomi
Pada beberapa kasus, histerotomi atau histerektomi abdomen untuk abortus
lebih disukai daripada kuretase atau induksi medis. Apabila terdapat penyakit
yang cukup signifikan pada uterus, histerektomi mungkin merupakan terapi yang
ideal. Apabila akan dilakukan sterilisasi, mungkin diindikasikan histerotomi
disertai ligasi tuba atau histerektomi. Kadang-kadang harus dilakukan histerotomi
atau histerketomi karena induksi medis pada kehamilan trimester ke dua gagal.1
Induksi abortus secara medis
Sepanjang sejarah,banyak bahan alami pernah dicoba sebagai abortifasien oleh
wanita yang berupaya keras untuk tidak hamil. Umumnya yang terjadi bukan
abortus tetapi penyakit sistemik serius atau bahkan kematian. Bahkan saat ini,
hanya terdapat sedikit obat abortufasien yang aman dan efektif.1
Oksitosin. Pemberian oksitosin dosis tinggi dalam sedikit cairan intravena
dapat menginduksi abortus pada kehamilan trimester kedua. Salah satu regimen

29

yang kami buktikan efektif adalah campuran 10 ampul oksitosin ( 1 IU/ml )


kedalam 1000 ml larutan Ringer laktat. Larutan ini mengandung 100 mU
oksitosin per ml. Infus intravena dimulai dengan kecepatan 0,5 ml/mnt ( 50
mU/ml ). Kecepatan infus ditambah setiap 15 sampai 30 menit sampai maksimum
2 ml/mnt ( 200 mU/mnt ). Apabila pada kecepatan infus ini belum terjadi
kontraksi yang efektif, konsentrasi oksitosin di dalam cairan infus ditingkatkan.
Sebaiknya larutan yang telah diinfuskan dibuang sebagian dan disisakan 500 ml,
yang mengandung konsentrasi 100 mU oksitosin per ml. Ke dalam 500 ml ini
ditambahkan lima ampul oksitosin. Larutan yang terbentuk sekarang mengandung
oksitosin 200 mU/ml, dan kecepatan infus infus dikurangi menjadi 1 mU/mnt
( 200 mU/mnt ). Kecepatan infus kembali ditingkatkan secara bertahap sampai
mencapai 2 ml/mnt ( 400 mU/mnt ) dan kecepatan ini dibiarkan selama 4 atau 5
jam atau sampai janin dikeluarkan.1
Pada penggunaan oksitosin pekat, frekuensi dan intensitas kontraksi uterus
harus diperhatikan dengan cermat, karena setiap peningkatan kecepatan infus akan
meningkatkan jumlah oksitosin yang disalurkan. Apabila induksi awal tidak
berhasil, induksi serial setiap hari selama 2 sampai 3 hari hampir selalu berhasil.
Kemungkinan berhasilnya induksi dengan oksitosin dosis tinggi sangat diperbesar
oleh pemakaian dilator higroskopik seperti batang laminaria yang dimasukkan
malam sebelumnya.1
Larutan Hiperosmotik Intraamnion. Agar terjadi abortus pada trimester
kedua, dapat dilakukan penyuntikan 20 sampai 25 persen salin atau urea 30
sampai 40 persen ke dalam kantung amnion untuk merangsang kontraksi uterus
dan pembukaan serviks. Cara ini jarang digunakan di Amerika Serikat dan cara ini
telah diganti dengan cara dilatasi dan evakuasi. Manfaat dari teknik dilatasi dan
evakuasi adalah kecepatan, biaya lebih rendah, dan lebih jarang menyebabkan
nyeri.1
Dalam suatu penelitian di India, Allahbadia (1992) melaporkan angka
keberhasilan 96 persen untuk kehamilan yang usianya berkisar dari 14 sampai 20
minggu apabila digunakan 200 ml salin 20 persen. Angka ini cukup baik bila
dibandingkan dengan angka keberhasilan PGF2 intramuskuler yang 90 persen dan

30

penetesan larutan povidon-iodin 5 persen ekstraamnion dalam salin normal yang


100 persen.1
Salin hipertonik dapat menimbulkan penyulit serius, termasuk kematian
(Jasnozs dkk, 1993). Penyulit lain mencakup :
1. Krisis hiperosmolar akibat masuknya salin hipertonik ke dalam sirkulasi
ibu.
2. Gagal jantung
3. Syok septik
4. Peritonitis
5. Perdarahan
6. Koagulasi intravaskular diseminata.
7. Intoksikasi air .1
Prostaglandin. Senyawa-senyawa yang sering digunakan adalah prostaglandin
E, prostaglandin F2a, dan analog tertentu khususnya 15-metil prostaglandin F2a
metil ester, PGE1-metil ester (gameprost), dan misoprostol.1
Prostaglandin dapat bekerja secara efektif pada serviks dan uterus apabila:
1. Dimasukkan ke vagina sebagai supositoria atau pesarium tepat di dekat
serviks.
2. Diberikan sebagai gel melalui sebuah kateter kedalam kanalis servikalis
dan bagian paling bawah uterus secara ekstraovular.
3. Disuntikkan intramuskular.
4. Disuntikkan ke dalam kantung amnion melalui amniosentesis
5. Diminum per oral
Christin-Maitre dkk (2000) menyajikan perkembangan terbaru tentang
terminasi kehamilan secara medis. Mereka mengulas berbagai studi mengenai
efektivitas dan efek prostaglandin dan metotreksat yang digunakan secara
tersendiri atau dalam berbagai kombinasi. Mereka juga mengupas berbagai
efektivitas dan efek samping mifepriston yang dipakai bersama suatu
prostaglandin. Khan dkk (2000) menyajikan suatu metaanalisis tentang abortus
medis dengan mifepriston dan misoprostol, mifepriston dengan prostaglandin lain,

31

dan metotreksat dengan misoprostol. Mereka menyimpulkan bahwa regimenregimen ini memiliki angka keberhasilan yang tinggi untuk gestasi dini.1
Mifepriston (RU 486). Antiprogesteron oral ini telah digunakan untuk
menimbulkan abortus pada gestasi dini. Baik tersendiri atau kombinasi dengan
prostaglandin oral. Efektivitas obat ini sebagai abortifasien didasarkan pada
afinitas reseptornya yang tinggi terhadap tempat pengikatan progesteron (Healy
dkk.,1983). RU 486 dosis tunggal 600 mg yang diberikan sebelum gestasi 6
minggu menyebabkan abortus pada 85 persen kasus. RU 486 juga sangat efektif
untuk kontrasepsi paskakoitus darurat apabila diberikan dalam 72 jam (Glasier
dkk., 1993). Setelah 72 jam, obat ini semakin berkurang efektifitasnya.
Penambahan berbagai prostaglandin oral, pervaginam, atau suntikan ke regimen
ini menghasilkan angka abortus sebesar 95 persen atau lebih.1
Efek samping RU 486 adalah mual, muntah dan kram pencernaan. Risiko
utama yang terkait adalah perdarahan akibat ekspulsi kehamilan parsial dan akibat
perdarahan intraabdomen dari kehamilan ektopik dini yang tidak diperkirakan
sebelumnya. Durasi perdarahan pervaginam adalah sekitar 2 minggu setelah RU
486 saja dan sekitar 1 sampai 2 minggu setelah RU 486 plus prostaglandin.1
Epostan. Inhibitor hidroksisteroid-3 dehidrogenase ini menghambat sintesis
progesteron endogen. Apabila diberikan dalam 4 minggu setelah hari pertama haid
terakhir, obat ini akan memicu abortus pada sekitar 85 persen wanita. Mual
merupakan efek samping tersering dan apabila abortusnya tidak komplet terdapat
resiko perdarahan. Antiprogestin yang lain, misalnya ZK 98.734.1
2.7.1 Legalitas
Pada tahun 1973 yang lalu abortus elektif kembali dilegalkan di Amerika
Serikat. Dalam sejarah abortus terdapat beberapa keputusan Mahkamah Agung
yang perlu diketahui.
Roe Versus Wade

32

Legalitas abortus elektif ditetapkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat


pada tahun 1973 dalam keputusannya tentang Roe v Wade. Keputusan ini
mendefinisikan seberapa jauh negara bagian dapat mengatur abortus:
(a) Untuk tahap sebelum sekitar akhir trimester pertama, keputusan abortus dan
pelaksanaannya harus didasarkan pada pertimbangan medis dari dokter yang
merawat.
(b) Untuk tahap sesudah sekitar akhir trimester pertama, Negara, dalam upaya
melindungi kesehatan ibu dapat, apabila ingin, menlakukan prosedur abortus
dengan cara-cara yang terkait dengan kesehatan ibu secara layak.
(c) Untuk tahap sesudah viabilitas, Negara, da!am rangka melindungi potensi
kehidupan manusia dapat, apabila ingin, mengatur dan bahkan melarang, abortus
kecuali apabila diperlukan, berdasarkan pertimbangan medis yang sesuai, untuk
menyelamatkan nyawa atau kesehatan ibu.2
2.8 Komplikasi Abortus
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi
dan syok.
1.

Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada

2.

waktunya.
Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamatamati dengan teliti. Jika`ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan
laparotomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka

3.
4.

perforasi atau perlu histerektomi.


Infeksi
Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (syok endoseptik).6

33

34

BAB III
KESIMPULAN
1. Abortus adalah pengakhiran kehamilan, baik secara spontan maupun
dengan sengaja, sebelum janin berkembang secukupnya untuk bertahan di
luar kandungan, pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu masa gestasi
atau berat badan lahir kurang dari 500 gram.
2. Abortus dibagi atas abortus spontan dan abortus buatan. Abortus spontan
dibagi atas abortus iminens (keguguran mengancam), abortus insipiens
(keguguran berlangsung), abortus inkomplet (keguguran tidak lengkap),
abortus komplet (keguguran lengkap), missed abortion (abortus tertunda)
dan abortus habitualis (keguguran berulang).
3. Abortus habitualis adalah pengakhiran kehamilan secara spontan tiga kali
berturut-turut pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan
janin kurang dari 500 gram.
4. Bila terjadi pada trimester pertama maka banyak faktor yang harus dicari
sesuai kemungkinan etiologi atau mekanisme terjadinya abortus berulang.
Bila tejadi pada trimester kedua maka faktor-faktor penyebab lebih
cenderung pada faktor anatomis terjadinya inkompetensi serviks dan
adanya myoma uteri serta infeksi yang berat pada uterus atau serviks.
5. Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi,
infeksi dan syok.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham F, Gant N, Leveno K, Gilstrap L, Hauth J, Wenstrom K,
editors. Abortion. In Williams Obstetrics. New York: Mc. Graw Hill; 2010.
p. 215.
2. Handono B, Firman FW, Mose JC, editors. Abortus Berulang Bandung:
Refika Aditama; 2009.
3. Anonim. eMedicineHealth. [Online].; 2010 [cited 2015 Januari 27.
Available from:
http://www.emedicinehealth.com/abortion/article_em.htm.
4. Kalolo L, Darmadi S. Abortus Habitualis pada Antiphospholipid
Syndrome. Laporan Kasus. Surabaya: Univeritas Airlangga; 2009.
5. Hadijanto B. Perdarahan pada Kehamilan Muda. Dalam Wiknjosastro H,
editor. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2008. p. 460-473.
6. Wibowo B. Kelainan dalam Lamanya Kehamilan. Dalam Wiknjosastro H,
editor. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2008. p. 302-312.
7. Krisnadi SR. Kelainan Lama Kehamilan. Dalam Obstetri Patologi Ilmu
Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC; 2005. p. 1-9.
8. James S. Early Pregnancy Loss. Dalam Danforth's Obstetrics and
Gynecology. Philadelphia: Lipincott Williams & Wilkins; 2000. p. 143153.
9. Hadijanto B. Abortus Spontan Berulang. Dalam Ilmu Kedokteran

Fetomaternal.

Surabaya:

Himpunan

Kedokteran

Fetomaternal

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia; 2004. p. 326-334.

36