SUMBANGAN
Cerpen Karya I Putu Supartika
Pagi-pagi sekali di balai desa sudah ramai oleh orang yang akan ikut rapat, mereka semua
mengenakan pakaian adat sederhana. Diantara peserta rapat, juga terlihat Pak Komang yang
mengenakan baju batik ditambah menggunakan kamben berwarna coklat tua dengan motif
bunga. Dan ada juga seorang peserta yang berpakaian kumal dengan kamben berwarna hitam
yang lusuh dan warnanya sudah hampir pudar serta menggunakan baju berwarna putih agak
kecoklatan karena kotor, yang ikut berpartisipasi dalam rapat.
Rapat kali ini katanya akan membahas agenda tentang perbaikan gedung Sekolah Dasar di desa
itu yang sudah bocor dan hampir ambruk. Semua peserta kelihatannya sudah mempersiapkan
mental mereka masing-masing untuk berdebat di rapat nanti. Dan mereka semua tampak sudah
siap dengan jawaban yang jitu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, datang seorang yang mengenakan pakaian dinas. Dan tentunya
orang itu bukan warga biasa yang jadi peserta rapat. Ya memang benar orang itu adalah Pak
Kades, kepala desa di sana.
Bergegas Pak Kades turun dari motornya, dan segera menempati tempat yang telah di sediakan.
Langsung saja tanpa basa-basi, Pak Kades membuka rapat, dan semua peserta rapat terlihat
serius mengikuti rapat itu.
Selamat pagi saudara-saudara semua! Pak Kades menyapa peserta rapat dengan beerwibawa.
Selamat pagi Pak! semua warga desa menjawab dengan kompak.
Baiklah, para peserta rapat sekalian. Agenda rapat kita hari ini tiada lain, tiada bukan adalah
mengenai satu-satunya Sekolah Dasar di desa kita yang sudah bocor dan hampir roboh. Di sini
saya harapkan, semua yang hadir ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan pemikirannya, demi
kebaikan generasi penerus bangsa di desa kita. Apabila saudara memiliki pendapat yang sifatnya
membangun, langsung acungkan tangan saja dan silakan paparkan apa pendapat saudara. Tapi
ingat, kita berhadapan di sini bukan untuk saling menatap penuh emosi, melainkan untuk saling
mengadu argumen guna menyelesaikan masalah yang kita bahas, karena Negara kita menganut
azas musyawarah mufakat. Bukan begitu saudara-saudara sekalian?
Ya, benar!
Baru saja Pak Kades selesai berkata dan di jawab oleh peserta rapat secara kompak, langsung
saja Pak Komang menyambar seperti tak ingin didahului oleh yang lainnya.
Ya, benar apa yang dikatakan oleh pemimpin rapat tadi. Kita di sini berkumpul bukan untuk
saling bermusuhan, namun untuk memecahkan sebuah masalah. Dan di sini kita hanya perlu
menjawab setuju atau tidak dan menanggapi apa yang kurang dan mengayomi yang benar. Desa
kita punya satu sekolah yang bisa membawa anak-anak kita kelak menjadi orang yang hebat, tapi
sayang keadaannya memprihatinkan. Atap bocor ditambah gedungnya mau ambruk, dan anak-
anak kita jadi was-was saat belajar. Begitupula saat hujan mereka terpaksa harus dipulangkan. Itu
akan mempengaruhi sekali tingkat kecerdasan anak-anak kita yang sekolah di sana. Mereka akan
sulit konsentrasi dan hasilnya pun kurang memuaskan. Apa kata tetangga nanti bila generasi
bangsa kita tak bisa apa-apa? Sehingga ini mesti kita tanggulangi secepatnya dan kita harus
merehab gedung sekolah itu saudara-saudara. Bagaimana caranya? Ya kita pikirkan sama-sama
hari ini.
Tentunya kita harus mengumpulkan uang dulu untuk memperbaikinya. Kita tak mungkin hanya
mengandalkan otot untuk memperbaikinya, kata seorang warga yang bernama Pak Tunas.
Ya, kita harus menyumbangkan uang kita untuk itu! seorang warga berseru melanjutkan kata
Pak Tunas.
Salah seorang warga yang terbilang miskin di desa itu merasa kurang setuju apabila harus
menyumbangkan uangnya untuk perbaikan sekolah. Dan ia pun berpendapat.
Maaf saudara-saudara kalau saya menyela sedikit. Saya kurang setuju apabila kita harus
menyumbangkan uang. Ya mereka yang kaya, tentu saja bisa menyumbangkan uangnya
berapapun yang mereka mau, tapi kalau orang seperti saya yang serba kekurangan, di mana saya
harus mencari uang? Sementara untuk makan saja saya masih kurang, apalagi untuk sumbangan.
Kalau saya pinjem uang, masak untuk sumbangan saya berani meminjam uang, sementara untuk
makan saya harus bekerja keras!
Pak Komang berkata pada orang itu, kita kan bisa menyumbang seikhlasnya, tak perlu ada
paksaan!
Tetap saja saya tidak setuju, karena zaman sekarang sulit mencari uang. Apalagi dengan
maraknya korupsi di negri kita belakangan ini, katanya dengan nada kesal.
Apa yang saudara katakana itu merusak penerus bangsa. Karena ego saudara sendiri anak-anak
di desa kita bisa putus sekolah! Saudara seharusnya berfikir ke depan. Bukannya langsung
berkata tak setuju, sahut seorang warga kepada warga miskin itu.
Saudara jangan berkata seenaknya kepada saya. Saya tau saudara orang mampu, dan saudara
bisa menyumbangkan uang saudara berapapun yang saudara mau untuk merehab sekolah itu.
Kalau saudara merasa mampu untuk merehab sekolah itu sendir silakan saja saudara sendiri yang
melakukannya. Toh saya juga tidak perlu sekolah itu. Buktinya anak-anak saya tidak ada yang
sekolah. Makan saja susah apalagi menyekolahkan anak saya.
Ketegangan pun terjadi di antara peserta rapat. Sementara orang miskin itu tetap
mempertahankan pendapatnya tidak setuju apabila harus menyumbangkan uang untuk merehab
sekolah di desanya. Segala cara ia lakukan untuk membatalkan rencana itu. Akan tetapi peserta
rapat yang lainnya tetap bersikukuh dengan pendapat mereka masing-masing untuk
menyumbang uang guna merehab sekolah itu. Dan tetap saja warga miskin itu menjawab tidak
setuju. Bahkan kini ia mulai emosi dengan warga yang ingin memberikan masukan padanya.
Melihat hal itu Pak Kades tidak tinggal diam. Ia segera menenangkan peserta rapat agar tidak
sampai terjadi keributan.
Saudara-saudara sekalian mohon tenang! Ini rapat bukan pasar malam, dan bukan juga pasar
hewan.
Mohon dijaga etikanya. Kalau memang beliau tidak setuju mohon jangan dipaksa. Tidak baik
jika memaksakan kehendak pada orang lain. Lebih baik kita cari jalan lain untuk menyelesaikan
masalah ini!
Maaf pak, kalau saya sedikit lancang. Saya sudah tidak setuju dengan pendapat warga semua
apabila harus menyumbangkan uang untuk merehab sekolah yang ada di desa kita. Saya tidak
punya uang, dan mencari sekeping uang bagi saya itu sangat sulit pak. Mohon bapak bisa
membantu saya dengan keadaan ekonomi saya yang seperti sekarang ini, warga miskin itu
berkata pada Pak Kades.
Ya saya mengerti pak! Sadara-saudara yang lain mohon hargai orang yang memiliki pendapat
berbeda. Apabila beliau tidak setuju untuk menyumbangkan uangnya, mungkin beliau bisa
menyumbangkan yang lain untuk merehab sekolah itu.
Pak Komang yang memang peduli dengan desanya langsung saja mengacungkan tangannya
untuk berpendapat.
Pak, saya punya usul untuk menanggulangi masalah ini. Bagaimana kalau bapak ini kita minta
untuk menyumbangkan apa saja yang beliau mampu. Karena dalam merehab sekolah ini, bukan
uang saja yang dibutuhkan, melainkan ada hal lainnya yang juga dapat mendukung perehaban
sekolah ini.
Bagaimana kalau beliau menyumbangkan makanan, kalau beliau punya. Misalnya pisang,
apabila beliau punya pisang yang matang, atau kacang rebus juga boleh, seorang warga
menambahkan saran dari Pak Komang.
Ya kalau saya boleh-boleh saja, tetapi kita harus bertanya dulu pada yang bersangkutan, apakah
beliau mau atau tidak, Pak Kades menjawab dengan bijaksana.
Sudah saya bilang dari tadi saya tidak bisa menyumbangkan uang untuk merehab sekolah itu!
warga misikin menjawab dengan suara keras.
Siapa yang mengatakan bapak harus menyumbangkan uang? Kan tadi dikatakan bagaimana
kalau bapak menyumbangkan makanan seperti pisang atau kacang rebus, Pak Komang
menegaskan lagi pada warga miskin itu.
Saudara semua ini tidak tau ya? Kalu saya menyumbangkan makanan sama saja dengan
menyumbangkan uang. Pisang itu bisa dijual dan nanti dapat uang, dan uangnya saya gunakan
untuk makan dengan keluarga saya. Begitu juga dengan kacang yang saya hasilkan dari kebun.
Kalau pisang atau kacangnya saya sumbangkan, nanti anak istri saya makan apa?
Kan tidak harus semua yang bapak sumbangkan. Mungkin bapak bisa menyumbangkannya
sedikit saja. Dan sisanya dijual untuk keperluan bapak makan bersama keluarga, sambung Pak
Komang.
Saudara ini terlalu cerewet! Saya itu kalau penen pisang tidak bisa banyak-banyak. Dan tak
mungkin juga saya memanen kacang setiap hari. Itu artinya saya harus menunggu lama, dan itu
juga butuh biaya perawatan. Selain itu, hasilnya harus dibagi dua dengan pemilik tanah. Kalau
saya sumbangkan sedikit saja saya akan kekurangan biaya penghidupan untuk keluarga saya.
Tolong saudara bisa mengerti!
Mendengar kata dari warga miskin itu, semua peserta rapat terdiam. Sejenak suasana menjadi
sepi. Sambil menghela nafas, Pak Kades memberikan sebuah jalan tengah untuk pemecahan
masalah ini.
Saudara-saudara semua, saya punya sebuah solusi yang saya anggap sangat baik untuk
memecahkan masalah ini. Bagaimana kalau bapak ini kita jangan paksa untuk menyumbangkan
uang ataupun makanan, melainkan hanya cukup menyumbangkan tenaga untuk perehaban
sekolah itu. Bagaimana pak, apakah bapak setuju?
Wah, itu ide bagus pak! Pak Komang segera menyambar pertanyaan yang ditujukan kepada
warga miskin.
Pak Komang, jangan seenaknya saudara bicara! Yang ditanya saudara atau saya? Kalau
memang saudara yang ditanya, maka saudara berhak untuk menjawab. Akan tetapi saat ini saya
yang harus menjawab pertanyaan itu, bukan saudara,warga miskin berkata dengan nada marah.
Mohon tenang pak, jangan terpancing emosi. Kita di sini bukan untuk mencari musuh, mohon
bapak tenang, Pak Kades mencoba menenangkan suasana.
Pak, saya tetap saja tidak bisa menyumbang apa-apa. Baik itu uang, makanan, tenaga, ataupun
yang lainnya.
Mengapa bisa begitu pak? Pak Kades mencoba mencari tau yang sebenarnya.
Ya! Kalau saya sumbangkan tenaga saya untuk merehab sekolah, saya tidak akan bisa
menggarap tanah yang saya kontrak. Kalau saya tidak bisa mengolah tanah, ya sudah barang
tentu saya tidak bisa panen pisang atau kacang.
Semua warga tak bisa berkata apa-apa, termasuk Pak Kades mendengar kata warga miskin itu.
Namun dalam hatinya, Pak Komang berbisik kecil.
Sungguh ironis orang-orang di negeri kita ini. Ia akan melakukan segala daya upaya untuk
dapat memenuhi hasrat pribadinya.
http://www.lokerseni.web.id/2013/10/cerpen-pendidikan-sumbangan.html