Anda di halaman 1dari 38

5

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Manajemen Keperawatan


2.1.1 Definisi Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus
dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan,
mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi sumber yang ada, baik sumber
daya maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang
efektif baik kepada pasien, keluarga dan masyarakat (Suyanto, 2008).
Manajemen dapat di definisikan sebagai suatu proses koordinasi dan
intergrasi sumber daya keperawatan dengan menerapakan proses manajamen
untik mencapai perawatan, tujuan pelayanan dan objektif. (Nursalam 2014).
Munijaya (2004), menyatakan bahwa manajemen mengandung tiga prinsip
pokok yang menjadi ciri utama penerapannya Yaitu efisien dalam pemanfaatan
sumber daya, efektif dalam memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan
organisasi, dan rasional dalam pengambilan keputusan manajerial.
Manajemen keperawatan adalah penggunaan waktu yang efektif, karena
manajemen adalah pengguna waktu yang efektif, keberhasilan rencana perawat
manajer klinis, yang mempunyai teori atau sistematik dari prinsip dan metode
yang berkaitan pada institusi yang besar dan organisasi keperawatan di dalamnya,
termasuk setiap unit. Teori ini meliputi pengetahuan tentang misi dan tujaun dari
institusi tetap dapat memerlukan pengembangan atau perbaikan termasuk misi
atau tujauan devisi keperawatan. Dari pernyataan pengertian yang jelas perawat
manajer mengembangkan tujuan yang jelas dan realistis untuk pelyanan
keperawatan (Swamburg, 2000).
Menurut swanbrurg (2000), keterampilan manajemen dapat di klasifikasikan
dalam tiga tingkat yaitu:
1) Keterampilan intelektual, yang meliputi kemampuan atau penguasaan teori,
keterampilan berfikir.
2) Keterampilan teknikal meliputi: metode, prosedur atau teknis.

5
6

3) Keterampilan interpersonal, meliputi kemampuan kepemimpina dalam


berinteraksi dalam individu ataun kelompok.

2.1.2 Fungsi Manajemen Keperawatan


Pada fungsi manajemen keperawatan terhadap beberapa elemen utama yaitu
Planning (Perencanaan), Organisasi (Pengorganisasian), Staffing (Kepegawaian),
Directing (Pengarahan), Controling (Pengendalian/Evaluasi).
2.1.2.1 Planning (Perencanaan)
Fungsi Planning (perencanaan) adalah fungsi terpenting dalam
manaejemen, oleh karena fungsi ini akan menetukan fungsi manajemen lainnya.
Menurut Muninjayqa, (1999) fungsi perencanaan merupakan lanadasan dasar dari
fungsi manajemen secara keseluruhan. Tanpa ada fungsi perencanaan tidak
mungkin fungsi mkanajemen lainnya akan dapat dilaksanakan dengan baik.
Perencanaan akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap semua
pekerjaan yang akan di jalankan, siapa yang akan melekukan, dan kapan akan di
lakukan. Perencanaan merupakan tuntuna terhadap proses pencapaian tujuan
secara efektif dan efisien. Swaburg (2000), mengatakan bahwa Planning adalah
memutuskan seberapa luas akan di lakukan, bagaiman melakukan dan siapa yang
melakukannya.
Di bidang kesehatan perencanaan dapat di definisikan sebagai proses untuk
menumbuhkan, merumuskan masalah-masalah kesehatan di amsyarakat
menetukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan
program yang p-aling pokok, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai
tujuan yang telah di tetapkan tersebut.
1) Tujuan perencanaan
(1) Untuk menimbulkan keberhasilan dalam mencapai sasaran dan tujuan
(2) Agar penggunaan dan fasilitas tersedia lebih efektif
(3) Membatu dalam koping individu dengan situasi kritis
(4) Meningkatkan efektivitas dalam hal biaya
(5) Membantu menurunkan elemen perubahan, karena perencanaan
berdasarkan masa lalu dan akan datang
(6) Dapat di gunakan untuk menentukan kebutuhan untuk berubah
7

(7) Penting untuk melakukan yang lebih efektif


2) Tahap dalam perencanaan
(1) Penting untuk melakukan kontrol yang lebih efektip
(2) Analisa situasi, bertujuan untuk mengumpulkan data atau fakta
(3) Mengidentifikasi masalah dan penetapan prositas masalah
(4) Merumuskan tujauan program dan besarnya target yang ingin di capai
(5) Mengkaji kemungkinan adanya hambatan dan kendala dalam pelaksanaan
program
(6) Menyusun rencana kerja operasianal (RKO)
3) Jenis perencanaan
(1) Perencanaan strategi
Perencanaan strategi merupakan suatu proses keseimbanagn, proses yaitu
sistematis dalam pembuatan dan pemgambilan keputusan mas kini dengan
kemungkinan pengetahuan yang paling besar dari efek-efek perencanaan pada
masa depan, mengorganisasikan upaya-upaya yang perlu untuk melaksakan
keoputusan ini terhadap hasil yang di harapkan melalui mekanisme umpan balik
yang dapat di percaya. Perencanaan strategis dalam keperawatan bertujuan untuk
memperbaiki alokasi sumber-sumber yang langka, termasuk uang dan waktu, dan
mengatur pekerjaan devisi keperawatan.
(2) Perencanaan operasional
Perencanaan operasional mengraikan aktivitas dan prosedur yang akan di
gunakan, serta menyusun jadwal waktu pencapaian tujuan, menetukan siapa
orang-orang yang bertanggungjawab untuk setiap aktivitas dan prosedur.
Menggambrakan cara menyiapkan orang-oraang untuk bekerja dan juga standar
untuk mengevakuasi perawat oasien. Di dalam perencanaan operasional terdiri
dari dua bagian yaitu rencana tetap dan rencana sekali pakai. Rencana tetap adalah
rencana yang sudah ada dan menjadi pedoman di dalam kegiatan setiap hari, yang
terdiri dari kebijaksanaan, standar prosedur operasional dan peraturan. Sedangkan
rencana sekali pakai terdiri dari program dan proyek.
(3) Mamfaat perencanaan
a) Membantu proses manajemen dalam menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan lingkungan
8

b) Memberikan cara pemberian perintah yang tepat untuk pelaksanaan


c) Memudahkan kordinasi
d) Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasional
secara jelas
e) Membantu penempatan tanggung jawab lebih cepat
f) Membantu tujuan lebih khusus, lebih rinci dan mudah di pahami
g) Meminimumkan pekerjaan yang tidak passti
h) Menghemat waktu dan dana
(4) Keuntungan perencanaan
a) Mengurangi aatau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak produktif
b) Dapat di pakai sebagai alat pengukur hasil kegiatan yang di capai
c) Memberikan suatu landasan pokok fungsi manajmen lainnya terutama
fungsi keperawatan
d) Memodifikasi gaya manajemen
e) Fleksibelitas dalam pengambilan keputusan
(5) Kelemahan perencanaan
a) Perencanaan mempunyai keterbatsan dalam hal ketepatan informasi dan
fakta-fakta tentang masa yang akan datang
b) Perencanaan memerlukan biaya yang cukup banyak
c) Perencanaan mempunyai hambtan psikologis
d) Perencanaan menghambat timbulnya inisiatif
e) Perencanaan menyebabkan terhambatnya tindakan yang perlu di ambil
2.1.2.2 Organizing (Pengorganisasian)
Pengorganisaian adalah suatu langkah untuk menetapkan, menggolongkan
dan mengatut berbagai macam kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang
seseorang, pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan. Fungsi
pengorganisasian merupakan alat untuk memadukan semua kegiatan yang
beraspek personil, finansial, materila dan tata cara dalam rangka dalam mencapai
tujuan yang telah di tetapkan (Muninjaya, 1999). Berdasrkan penjelasan tersebut,
organisasi dapat di pandang sebagai rangkian aktivitas menyusun suatu kerangka
yang menjadi wadah bagi setiap kegiatan usaha kerja sama dengan jalan
9

membagikan dan mengelompokkan pekerjaan yang harus di laksanakan serta


menyusun jalinan hubungan kerja di antara para pekerjanya.
1) Manfaat pengorganisasian
a) Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok
b) Hubungan organisatoris antara orang-orang di dalam organisasian tersebut
melalui kegiatan yang di lakukannya
c) Pendelegasian wewenang
d) Pemafaatan staff dan fsilitas fisk
2) Langkah pengorganisasian
a) Tujuan organisasi harus di pahami oleh staf. Tugas ini sudah tertuang dalam
fungsi perencanaan
b) Membagi habis pekerjaan dalam bentuk kegiatan pokok untuk mencapai
tujaun\
c) Menggolongkan kegiatan pokok dalam suatu satuan-satuan kegiatan yang
praktis
d) Menetapkan berbagai kewajiban yang harus di laksanakan oleh staf dan
menyediakan fasilitas yang di perlukan
e) Penugasan personil yang tepat dalam melaksanakan tugas
f) Mendelegasikan wewenag
2.1.2.3 Staffing (kepegawaian)
Merupakan metologi pengaturan staf, proses yang teratur, sitematis
berdasarakkan rasinal yang di terapkan untuk menetukan jumlah personil suatu
organisasi yang di butuhkan dalam situasi tertentu (Swanburg, 2000). Proses
pengaturan staff bersifat kompleks. Komponen pengaturan staff adalah sistem
kontrol penjadwalan, dan sistem informasi manajemern keperawatan ( SIMK).
SIMK meliputi lima elemen yaitu kualitas perawatan pasien. Kerateristik dan
kebutuhan perawat pasien, pikiran suplay tenaga perawat yang di perlukan.
Logsitik dari pada program pengaturan staf dan kontrolnya, evaluasi kualitas
perawatan yang di berikan.
Dasar perencanaan untuk pengaturan staf pada suatu unit keperawatan
mencakup personil keperawatan yang bermutu harus tersedia dalam jumblah yang
mencukupi dan adekuat, memberikan pelayanan pada semua pasien selama 24 jam
10

sehari, 7 hari dalam seminggu, 52 minggu dalam setahun. Kebutuhan khusus


individu, dokter, waktu dan lamanya ronde, jumlah rest, obat-obatan dan
pengobatan, jumlah dan jenis pembedahan akan mempengaruhi kualitas dan
kuantitas personil perawat yang di perlukan akan mempengaruhi penempatan
mereka.
Pengaturan staf juga di pengaruhi oleh organisasi devisi keperawatan.
Rencana harus di tinjau ulang dan di perbaharui umtuk mengatur depertemen
bereporasi secara efisien dan ekonomis dengan pernyataan misi, filosofi, dan
objektif tertulis, struktur organisasi, fungsi dan tanggung jawab, kebijakan dan
prosedur tertulis, pengmbangan program staff efektif, dan evaluasi periodik
terencana.
Komponen yang termasuk dalam fungsi staffling adalah prinsip rektrumen,
seleksi, orientasi pegawai baru, penjadwalan tugas, dan klasifikasi pasien
pengekrutan merupakan proses pengumpulan sejumlah pelamar yangt
berkualifikasi.
Untuk pekerjaan di perusahaan melalui serangkaian aktivitas. Tujuan
orientasi pegawai baru adalah untuk membantu perawat dalam menyesuaikan diri
pada situasi baru. Produktivitas meningkatkan karena lebih sedikit orang yang
dibutuhkan jika mereka terorientasi pada situasi kerja. Penjadwalan siklus
merupakan salah satu cara terbaik yang dipakai untuk memenuhi syarat distribusi
waktu kerja dan istirahat untuk pegawai. Pada cara ini dibuat pola waktu dasar
untuk minggu-minggu tertentu dan diulang pada siklus berikutnya. Jadwal
modifikasi kerja mingguan menggunakan shift 10-12 jam dan metode lain yang
biasa.
2.1.2.4 Directing (pengarahan)
Pengarahan adalah sehubungan antara aspek-aspek individual yang
ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawahan untuk dapat dipahami dan
membagi pekerjaan yang efektif untuk tujuan perusahaan yang nyata.
Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam keberhasilan manajemen.
Menurut stokdill dalam Swanburg (2000), kepemimpinan adalah suatu proses
yang mempengaruhi aktivitas kelompok terorganisasi dalam upaya dan menyusun
dan mencapai tujuan. Gardner dalam Swanburg (2000) menyatakan bahwa
11

kepemimpinan adalah suatu proses persuasi dan memberi contoh sehingga


individu (pimpinan kelompok) membujuk kelompok untuk mengambil tindakan
yang sesuai dengan usulan pimpinan atau usulan bersama.
Seorang manejer yang ingin kepemimpinanya lebih efektif harus mampu
untuk memotivasi diri sendiri untuk bekerja dan banyak membaca, memiliki
kepekaan yang tinggi terhadap permasalahan organisasi, dan menggerakan
(memotivasi) staffnya agar mereka mampu melaksanakan tugas-tugas pokok
organisasi. Menurut Lewin dalam Swanburg (2000) terdapat beberapa macam
gaya kepemimpnan yaitu:
1) Aotokratik
Pemimpin membuat keputusan sendiri. Mereka lebih cenderung
menyelesaikan tugs daripada memperhatikan kariawan. Kepemimpinan ini
cenderung menimbulkan permusuhan dan sifat agresif atau sama sekali
apatis dan menghilangkan inisiatif.
2) Demokrasi
Pemimpinkan bawahanya dalam proses pengambilan keputusan mereka
berorientasi pada bawahan danmenitikberatkan pada hubungan antara
manusia dan kerja kelompok. Kepemimpinan demokrasi meningkatkan
prokduktivitas dan keputusan kerja.
3) Laisse faire
Pemimpin memberikan kebebasan dan segala serba boleh, dan pantang
memberikan bimbingan kepada staf. Pemimpin tersebut membantu
kebebasan pada setiap orang dan menginginkan setiap orang senang. Hal ini
dapat mengakibatkan produktifitas rendah dan kariawan frustasi.
Manejer perawat harus belajar mempraktekan kepemimpinan perilaku yang
merangsang motivasi pada para pemiliknya, mempraktekan keperawatan
profesional dan tenaga perawat lainnya. Perilaku ini termasuk promosi
autonomi, membuat keputusan dan manajemen partisivasi oleh perawat
profesional.
2.1.2.5 Controlling ( pengendalian/evaluasi )
Fungsi pengawasan atau pengendalian (controling) merupakan fungsi
yang terakhir dalam proses manajemen, yang memiliki kaitan yang erat dengan
12

fungsi lainya. Pengawasan merupakan pemeriksaan terhadap sesuatu apakah


terjadi sesuai dengan rencana yang di tetapkan/disepakati, intruksi yang telah di
keluarkan, serta prinsi-prinsip yang telah ditentukan, yang bertujuan untuk
menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki ( Fayol, 1998 ).
Pengawasan juga diartikan sebagai suatu usaha sistematik untuk
menetapkan standard yang telah di tetapkan sebelumnya, menentukan dan
mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan yang
digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien dalam pencampaian tujuan
perusahaan ( Mockler, 2002 )
Pengontrolan atau pengevaluasian adalah melihat segala sesuatu dilaksanakan
sesuai dengan rencana yang di sepakati instruksi yang diberikan, serta prinsip-
prinsip yang telah dilakukan ( Urwick, 1998 ). Tugas seorang manajemen dalam
usahanya menjalankan dan mengembangkan fungsi pengawasan manajerial perlu
memperhatikan prinsif sebagai berikut:
1) Pengawasan yang dilakukan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah
diukur, menepati jam kerja,.
2) Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam upaya
mencapai tujuan organisasi.
3) Standard untuk kerja yang akan diawasi perlu dijelaskan kepada semua staf,
sehingga staf dapat lebih meningkatkan rasa tanggung jawab dan komintmen
terhadap kegiataan program.
4) Kontrol sebagai pengukuran dan koreksi kinerja untuk menyakinkan bahwa
sasaran dan kelengkapan rencana untuk mencapai tujuan telah tersedia, serta
alat untuk memperbaiki kinerja .
5) Terdapat 10 karakteristik suatu sistem kontrol yang baik:
a) Harus menunjukan sifat dari aktivitas
b) Harus melaporkan kesalahan-kesalahan dengan segera
c) Harus memandang ke depan
d) Harus menunjukan penerimaan pada titik kritis
e) Harus objektif
f) Harus fleksibel
g) Harus menunjukan pola organisasi
13

h) Harus ekonomis
i) Harus mudah dimengerti
j) Harus menunjukan tindakan perbaikan
Untuk fungsi-fungsi control dapat dibedakan pada setiap tingkat manajer.
Sebagai contoh, manajer perawat kepala dari satu unit bertanggung jawab
mengenai kegiatan operasional jangka pendek termasuk jadwal harian dan
mingguan, dan penugasan, serta pengguanaan sumber-sumber secara efektif.
Kegiatan-kegiatan control dutujukan untuk perubahan yang cepat. Dua metode
pengukuran yang di gunakan untuk mengkaji mencapai tujuan-tujuan keperawatan
adalah:
1) Analisa Tugas:
Kepala perawat melihat gerakan, tindakan dan prosedur yang tersusun
dalam pedoman tertulis, jadwal, aturan, catatan, anggaran. Hanya mengkur
dukungan fisik saja, dan secara relatif beberapa alat digunakan untuk analisa tugas
dalam keperawatan.
2) Kontrol kualitas
Kepala perawat dihadapkan pada pengukuran kualitas dan akibat akibat
dari pelayanan keperawatan.
Apabila fungsi pengawasan dan pengendalian dapat dilaksanakan dengan
tepat, maka akan di peroleh manfaat :
1) Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah dilaksanakan
sesuai dengan standard atau rencana kerja
2) Dapat diketahui adanya penyimpangan pada pengetahuan dan pengertian staf
dalam pelaksanaan tugas tugasnya
3) Dapat di ketahui apakah waktu dan sumber daya lainnya telah mencukupi
kebutuhan dan teleh digunakan secara benar
4) Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan atau bentuk promosi
dan latihan lanjutan
14

2.1.3 Prinsip dasar Manajemen Keperawatan


1. Manajemen keperawatan berlandaskan perencanaan
2. Tahap perencanaan atas pembuatan tujuan, pengalokasian anggaran,
identifikasi kebutuhan pegawai, dan penetapan struktur organisasi
3. Selama proses perencanaan, yang dapat dilakukan oleh pimpinan
keperawatan adalah menganalisis dan mngkaji system, mengatur strategi
organisasi dan menentukan tujuan jangka panjang dan pendek, mnegkaji
sumber daya organisasi, mengidentifikasi kemampuan, yang ada dan
aktifitas yang spesifik serta prioritasnya
4. Manajemen keperawatan dilandaskan melalui penggunaan waktu yang
efektif
5. Manajemen keperawatan melibatkan pengmbilan keputusan
6. Manajemen keperawatan harus terorganisasi
7. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif
8. Komunikasi yang dilakukan secara efektif mampu mengurangi
kesalahpahaman, dan akan diberikan persamaan pandangan arah dan
pengertian di antara pegawai dalam suatu tatanan organisasi
9. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan

2.1.4 Komponen manajemen Keperawatan


1. Input
Dalam proses manajemen keperawatan antara lain berupa informasi,
personel, peralatan dan fasilitas.
2. Proses
Pada umumnya merupakan kelompok manajer dari tingkat pengelola
keperawatan tertinggi sampai keperawatan pelaksana yang mempunyai
tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan.
Proses merupakan kegiatan yang cukup penting dalam suatu system
sehingga mempengaruhi hasil yang diharapkan suatu tatanan organisasi.
15

3. Output
Umumnya dilihat dari hasil atau kualitas pemberian askep dan
pengembangan staf, serta kegiatan penelitian untuk menindaklanjuti hasil
atau keluaran.
4. Kontrol
Diperlukan dalam proses manajemen keperawatan sebagai upaya
meningkatkan kualitas hasil. Kontrol dalam manajemen keperawatan dapat
dilakukan melalui penyusunan anggaran yang proporsional, evaluasi
penampilan kerja perawat, pembuat prosedur yang sesuai standard
akreditasi.
5. Mekanisme umpan balik
Mekanisme umpan balik diperlukan untuk menyelaraskan hasil dan
perbaikan kegiatan yang akan datang. Mekanisme umpan balik dapat
dilakukan melalui laporan keuangan, audit keperawatan, dan survey kendali
mutu, serta penampilan kerja perawat.

2.2 Sumber Daya Manusia (M1/ MAN)


2.2.1 Jenis Kelamin
Beberapa isu yang sering diperdebatkan, kesalahpahaman dan pendapat-
pendapat tanpa dukungan mengenai apakah kinerja wanita sama dengan pria
ketika bekerja. Misalnya ada/tidaknya perbedaan yang konsisten pria-wanita
dalam kemampuan memecahkan masalah, keterampilan, analisis, dorongan,
motivasi, sosialbilitas atau kemampuan bekerja (Robbins, 2001).
Secara umum diketahui ada perbedaan yang signifikan dalam
produktivitas kerja maupun dalam kepuasan kerja, tetapi dalam masalah absen
kerja karyawati lebih sering tidak masuk kerja dari pada laki-laki (Anonim,
2005). Alasan yang paling logis adalah karena secara tradisional wanita memiliki
tanggung jawab urusan rumah tangga dan keluarga. Bila ada anggota keluarga
yang sakit atau urusan sosial seperti kematian tetangga dan sebagainya, biasanya
wanita agak sering tidak masuk kerja.
2.2.3 Masa kerja
16

Banyak studi tentang hubungan antara senioritas karyawan dan


produktivitas.meskipun prestasi kerja seseorang itu bisa di telusuri dari prestasi
kerja sebelumnya, tetapi sampai ini belum dapat di ambil kesimpulan yang
meyakinkan antara dua variabel tersebut. Hasil riset eanunjukkan bahwa suatu
hubungan yang postifantara senioritas dan produktivitas pekerjaan. Masa kerja
yang di ekspresikan sebagai pengalaman kerja, tampaknya menjadi peramal yang
baik terhadap produktivitas kariyawan. Studi juga menunjukkan senioritas
berkaitan negatif dengan kemangkiran. Masa kerjas hubungan negatif dengan
keluar masuknya karyawan dan sebagai salah satu peramal tunggal paling baik
tentang luar masuknya karyawan (Mangkunegara, 2003).
2.2.4 Pendidikan
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah (2005) yaitu
tuntunan didalam tumbuhnya anak anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak anak itu, agar mereka
sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keslamatan
dan kebahagian yang setinggi tingginya. Salah satu upaya untuk meningkatkan
sumber daya keperawatan adalah melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
mengikuti pelatihan perawatan keterampilan teknis atau keterampilan dalam
hubungan interpersonal. Sebagian besar pendidikan parawat adalah vokasional
(D3 Keperawatan).
Untuk menjadi perawat profesional, lulusan SLTA harus menempuh
pendidikan akademik S1 Keperawatan dan Profesi Ners. Tetapi bila ingin menjadi
perawat vokasional (Primary Nurse) dapat mengambil D3 Keperawatan / akademi
keperawatan. Lulusan SPK yang masih ingin menjadi perawat harus segera ke D3
keperawatan atau langsung ke S1 keperawatan dan Ners. Dari pendidikan S1 dan
Ners baru ke Magister keperawatan/spesialis dan Doktor/konsultan.
2.2.5 Pelatihan Kerja
Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang
menggambarkan suatu proses dalam pengembangan organisasi maupun
masyarakat. Pendidikan dengan pelatihan merupakan suatu rangkaian yang tak
dapat dipisahkan dalam sistem pengembangan sumber daya manusia, yang di
dalamnya terjadi proses perencanaan penempatan, dan pengembangan tenaga
17

manusia. Dalam proses pengembangannya di upayakan agar sumber daya manusia


dapat di berdayakan secara maksimal, sehingga apa yang menjadi tujuan dalam
memenuhi kebutuhan hidup manusia tersebut dapat terpenuhi.
Moekijat juga menyatakan bahwa pelatihan adalah suatu bagian
pendidikna yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan
keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku,dalam waktu yang relatif
singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori.
Alex S. Nitisemito mengungkapkan tentang tujuan pelatihan sebagai usaha
untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingka laku dan pengetahuan,
sesuai dengan keinginan individu, masyarakat, maupun lembaga yang
bersangkutan. Dengan demikian pelatihan dimaksudkan dalam pengertian yang
lebih luas dan tidak terbatas semata mata hanya untuk mengembangkan
keterampilan dan bimbingan saja. Pelatihan di berikan dengan harapan individu
dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Seseorang yang telah mengikuti
pelatihan dengan baik biasanya akan memberikan hasil pekerjaan lebih banyak
dan baik pula dari pada individu yang tidak mengikuti pelatihan.
Dengan demikian, kegiatan pelatihan lebih di tekankan pada peningkatan
pengetahuan, keahlian / keterampilan (Skill), pengalaman, dan sikap peserta
pelatihan tentang bagaimana pelaksanaan aktivitas atau pekerjaan tertentu hal ini
sejalan dengan pendapat Henry Simamora yang menjelaskan bahwa latihan
merupakan serangkaian aktivitas yang di rancang untuk meningkatkan keahlian,
pengetahuan, pengalaman ataupun perubahan sikap seseorang individu atau
kelompok dalam menjalankan tugas tertentu.

2.3 Sarana dan Prasarana (M2)


Sarana adalah segala sesuatu yang dapat di pakai sebagai alat dalam
mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang
merupakan penunjang utama terselanggaranya suatu proses (Usaha,
pembangunan, proyek). Untuk lebih membedakan keduanya, sarana lebih di
tunjukkan untuk benda benda yang bergerak seperti computer dan mesin mesin
sedangkan prasarana lebih di tunjukkan untuk benda benda yang tidak bergerak
seperti gedung.
18

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat di pakai sebagai alat dan bahan
untuk mencapai maksud dan tujuan dari suatu proses produksi. Prasarana adalah
segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselanggaranya produksi.
2.3.1 Ruang Lingkup sarana dan Prasarana
1) Peralatan/ perlengkapan yang berbentuk lembaran
Peralatan/ perlengkapan yang berbentuk lembaran/ helayan, yaitu kertas
HVS, kertas polio bergaris, kertas karbon, kertas stensil, formulir, kertas
berkop, plastik transfaran, kertas karton, kertas buffalo, amplop dan map.
2) Peralatan/ perlengkapan berbentuk non lembaran
Peralatan atau perlengkapan yang berbentuk non lembaran (bukan berupa
kertas lembaran), yaitu pulpen, pensil, spidol, penghapus, penggaris, rautan,
gunting, pemotong kertas (Cutter), pembuka surat (Letter Opener),
pelubang kertas dll.
3) Peralatan / perlengkapan berbentuk buku
Peralatan / perlengkapan yang berbentuk buku, antara lain :
a. Buku catatan (block note), yaitu buku untuk menulis catatan harian
sekretaris.
b. Buku pedoman organisasi, yaitu buku panduan tentang informasi yang
berkaitan dengan organisasi, mulai sejarah, struktur, produk dan jasa, hingga
prosedur kerja.
c. Buku agenda surat, yaitu buku yang mencatat keluar masuknya surat sehari
hari.
4) Peralatan/ perlengkapan kantor di lihat dari penggunaaannya:
a. Barang habis pakai
Barang habis pakai adalah barang / benda kantor yang penggunaannya
hanya satu / beberapa kali pakai atau tidak tahan lama. Contoh : kertas,
tinta, karbon, klip, pensil dan pulpen.
b. Barang tidak habis pakai
Barang yang tidak habis pakai adalah barang / benda kantor yang
penggunaannya tahan lama. Contoh : staples, perforator, cutter, dan gunting.
2.4 M3 Metode Asuhan Keperawatan
2.4.1 Penerapan MAKP
19

MAKP Tim
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda
dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat
ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/grup yang terdiri atas tenaga professional,
tekhnikal, dan pembantu dalam satu kelompok kecil saling membantu.
Kelebihannya adalah :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah diatasi dan
memberi kepuasan kepada anggota tim.
Kelemahan nya adalah komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam
bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit untuk
dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk.
Konsep metode Tim :
a. Ketua tim sebagai perawat professional harus mampu menggunakan berbagai
tekhnik kepemimpinan.
b. Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim
d. Peran kepala ruangan penting dalam model tim, model tim akan berhasil bila
didukung oleh kepala ruangan.
Tanggung jawab anggota tim :
a. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah tanggung jawabnya.
b. Kerja sama dengan anggota tim dan antar tim
c. Memberikan laporan
Tanggung jawab ketua tim :
a. Membuat perencanaan
b. Membuat penguasaan, supervise dan evaluasi
c. Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan
pasien
d. Mengembangkan kemampuan anggota
e. Menyelenggarakan konferensi.
20

Tanggung jawab kepala ruangan :


a. Perencanaan
1) Menunjuk ketua tim yang akan bertugas diruangan masing-masing
2) Mengikuti serah terima pasien pada shift sebelumnya
3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien: gawat, transisi, dan
persiapan pulang, bersama ketua tim.
4) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktivitas
dan kebutuhan pasien bersama ketua tim, mengatur
penugasan/penjadwalan.
5) Merencanakan strategi pelekasanaan keperawatan
6) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisologi, tindakan
medis yang dilakukan, program pengobatan, dan mendisikusikan dengan
dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
7) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan, termaksuk kegiatan
membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan, membimbing penerapan
proses keperawatan dan menilai asuhan keperawatan, mengadakan
diskusi untuk pemecahan masalah, serta memberikan informasi kepada
pasien atau keluarga baru masuk.
8) Membantu mengambangkan niat pendidikan dan latihan diri
9) Membantu membimbing peserta didik keperawatan
10) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.
b. Pengorganisasian
1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan
2) Merumuskan tujuan metode penugasan
3) Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas.
4) Membuat rentang kendali, kepala ruangan membawahi 2 ketua tim, dan
ketua tim membawahi 2-3 perawat.
5) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses
dinas, mengatur tenaga pada setiap hari, dan lain-lain.
6) Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan.
7) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik
21

8) Mendelegasi tugas, saat kepala ruangan tidak berada ditempat kepada


ketua tim.
9) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi
pasien.
10) Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya
11) Identifikasi masalah dan cara penanganannya.
c. Pengarahan:
1) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim.
2) Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan
baik
3) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap.
4) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan askep pasien.
5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.
6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan
tugasnya.
7) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.

d. Pengawasan:
1) Melalui komuikasi: mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan
ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang
diberikan kepada pasien.
2) Melalui supervisi:
Pengawasan langsung dilakukan dengan cara inspeksi, mengamati
sendiri, atau melalui laporan langsung secara lisan, dan
memperbaiki/mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu
juga.
Pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir ketua tim:
membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang
dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan
22

(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim tentang


pelaksanaan tugas.
Evaluasi
Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan
rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim
Auidit keperawatan

Kepala Ruangan

Ketua Tim Ketua Tim Ketua Tim

Anggota Anggota Anggota

Pasien/Klien Pasien/Klien Pasien/Klien

Bagan 2.1 Struktur Organisasi Ruangan


2.4.1.1 Pembagian Tugas
Job Descriptian Model Praktek Keperawatan primary nursing
1) Kepala Ruangan
Seorang perawat profesional yang diberi wewenang dan tanggung jawab
dan mengelola kegiatan pelayanan perawatan di satu ruang rawat.
Tugas pokok :
Mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan di ruang rawat
yang berada di wilayah tanggung jawabnya.
Uraian Tugas :
(1) Melaksanakan fungsi perencanaan, meliputi
a. Merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawatan serta tenaga lain
sesuai kebutuhan
23

b. Merencanakan jumlah jenis peralatan perawatan yang di perlukan sesuai


kebutuhan.
c. Merencanakan dan menentukan jenis kegiatan/asuhan keperawatan yang
akan di selenggarakan sesuai kebutuhan pasien.
(2) Melaksanakan fungsi pergerakan dan pelaksanaan, meliputi :
a. Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan ruang rawat
b. Menyusun dan mengatur daptar dinas tenaga perawatan dan tenaga lain
sesuai kebutuhan dan ketentuan atau peraturan yang berlaku
c. Melaksanakan program orientasi kepada tenaga baru atau tenaga lain yang
bekerja di ruangan rawat
d. Memberi pengarahan dan motivasi kepada tenaga perawatan untuk
melaksanakan asuhan keperawatan sesuai ketentuan/standart
e. Mengkoordinir seluruh kegiatan yang ada dengan cara berkerja sama
dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan di ruang rawat
f. Mengadakan pertemuan berkala dengan pelaksana perawatan dan tenaga
lain yang berada di wilayah tanggung jawabnya.
g. Meningkatkan penetahuan dan keterampilan di bidang perawatan antara lain
melalui pertemuan ilmiah
h. Mengenal jenis dan kegunaan barang/peralatan serta mengusahakan
pengadaannya sesuai kebutuhan pasien agar tercapai pelayanan yang
optimal
i. Menyusun permintaan rutin : kebutuhan alat, obat dan bahan lain yang di
perlukan di ruang rawat
j. Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan peralatan agar selalu dalam
keadaan siap pakai
k. Mempertanggung jawabkan pelaksanaan inpentarisasi peralatan
l. Melaksanakan prgram orientasi kepada pasien dan keluarganya meliputi
penjelasan tentang peraturan rumah sakit, tata tertip ruangan, fasilitas yang
ada dan cara penggunaannya serta kegiatan sehari-hari di ruangan
m. Mendampingi dokter selama kunjungan keliling ( visite dokter )
Untuk pemeriksaan pasien dan mencatat program pengobatan, serta
menyampaikan kepada staf untuk melaksanakannya.
24

n. Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatanya di ruangan perawat


menurut tingkat kegawatannya, infeksi dan non infeksi untuk memudahkan
pemberian asuhan keperawatan.
o. Mengadakan pendekatan kepada semua pasien yang dirawat untuk
mengetahui keadaannya dan menampung keluhan serta membantu
memecahkan masalah yang di hadapinya.
p. Menjaga perasaan pasien agar merasa aman dan terlindungi selama
pelaksanaan pelayanan perawatan belangsung.
q. Memberi penyuluhan kesehatan terhadap pasien atau kelurga dalam batas
kewenangan.
r. Menjaga perasaan petugas agar merasa aman dan terlindungi selama
pelaksanaan pelayanan perawatan berlangsung.
s. Memelihara dan mengembangkan sistem pencatatan dan asuhan
keperawatan dan kegiatan lain yang dilakukan secara tepat dan benar untuk
tindakan perawatan selanjutnya.
t. Mengandalkan kerjasama yang baik dengan kepala ruangan yang lain,
seluruh kepala bidang, kepala bagian, kepala instalasi dan kepala unit
dirumah sakit.
u. Menciptakan dan memelihara suasana yang baik antara petugas, pasien dan
keluarganya, sehingga memberikan ketenangan.
v. Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien ruangan.
w. Memeriksa dan meneliti pengisian daftar permintaan makanan berdasarkan
macam dan jenis makanan pasien, kemudian memeriksa dan meneliti ulang
sesuai dengan diitnya.
x. Memelihara buku register dan berkas catatan medik.
y. Membuat laporan harian dan bulanan mengenai pelaksanaan kegiatan
asuhan keperawatan, serta kegiatan lain diruang rawat.
(3) Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian, meliputi:
a. Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah
ditentukan.
b. Melaksankan penilaian terhadap upaya peningkatan pengetahuan dan
keterampilan dibidang perawatan.
25

c. Mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan peralatan perawatan serta


obat-obatan secara efektif dan efisien.
d. Mengawasi pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan
keperawatan serta kegiatan lain diruang rawat.
2) Perawat Primer
Seorang perawat yang diberikan wewenang dan ditugaskan untuk
memberikan pelayanan keperawatan secara komprehensif kepada klien
Tugas pokok:
(1) Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
(2) Membuat tujuan dan rencana kegiatan perawatan.
(3) Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama praktek bila diperlukan.
(4) Mengkomonikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh
disiplin ilmu maupun perawat lain.
(5) Mengepaluasi keberhasilan asuhan keperawatan.
(6) Mendampingi dokter selama visite untuk pemeriksaan pasien dan untuk
mencatat program pengobatan.
(7) Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial
dimasyarakat.
(8) Melaporkan segala suatu mengenai keadaan klien baik lisan maupun tertulis.
(9) Membuat jadwal perjanjian klinik.
(10) Mengadakan kunjungan rumah bila perlu.
(11) Mempersiapkan pasien pulang.
(12) Membuat laporan harian.
3) Perawat Associate
Seorang perawat yang diberikan wewenang dan ditugaskan untuk
memeberikan pelayanan keperawatan langsung kepada kien.
Tugas pokok:
(1) Memberikan pelayanan secara langsung berdasarkan proses keperawatan
dengan sentuhan kasih sayang.
a. Melaksanakan tindakan keperwatan yang telah disusun.
b. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan.
26

c. Mencatata dan melaporkan semua tindakan perawatan dan respon klien


pada catatan perawatan.
(2) Melaksanakan program medik dengan penuh tanggung jawab.
a. Pembelian obat
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Persiapan klien yang akan dioperasi.
(3) Memperhatikan keseimbangan fisik, mental dan spiritual dari klien:
a. Memelihara kebersihan klien dan lingkungan.
b. Mengurangi penderitaan klien dengan memberikan rasa aman, nyaman
dan ketenangan.
c. Pendekatan dengan komunikasi terapeutik.
(4) Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan
keperawatan dan pengobatan serta diagnostik.
(5) Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai kemampuanya.
(6) Memberi pertolngan segera kepada pasien gawat atau sakaratul maut.
(7) Membantu kepala ruangan dan perawat primer dalam ketatalaksanaan
ruangan serta administratif.
a. Menyiapkan data klien baru pulang atau meninggal.
b. Sensus harian dan formulir.
c. Pendekatan dengan komunikasi terapeutik.
(8) Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada diruangan
(9) Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan
keindahan ruangan.
(10) Melaksankan tugas dinas pagi/sore/malam secara bergantian.
(11) Memberi penyuluhan kesehatan kepada klien tentang penyakitnya
2.4.1.2 Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Pasien (berdasarkan teori D.
Orem: Self-Care Deficit)
1. Minimal Care
a. Pasien bisa mandiri/ hampir tidak memerlukan bantuan:
1) Mampu naik-turun tempat tidur
2) Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
3) Mampu makan dan minum sendiri
27

4) Mampu mandi sendiri/ mandi sebagian dengan bantuan


5) Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
6) Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
7) Mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
b. Status psikologis stabil
c. Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik
d. Operasi ringan
2. Partial Care
a. Pasien memerlukan bantuan perawatan sebagian
1) Membutuhkan bantuan 1 orang untuk naik-turun tempat tidur
2) Membutuhkan bantuan untuk ambulasi dan berjalan
3) Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
4) Membutuhkan bantuan untuk makan (disuap)
5) Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
6) Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan
b. Post operasi minor (24 jam)
c. Melewati fase akut dari post operasi mayor
d. Fase awal dari penyembuhan
e. Observasi tanda-tanda vital dalam 4 jam
f. Gangguan emosional ringan
3. Total Care
a. Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu
perawatan yang lebih lama
1) Membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke
kereta dorong/ kursi roda
2) Membutuhkan latihan pasif
3) Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi terapi intravena (infus) atau
NGT (sonde)
4) Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
5) Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
6) Dimandikan perawat
7) Dalam keadaan inkontinensia, menggunakan kateter
28

2.4.1.3 Konsep Penghitungan Ketenagaan (Ratna Sitorus, 2002)


Klasifikasi Pasien

Jumlah Pasien Minimal Parsial Total

Pagi siang Malam Pagi siang Malam Pagi siang Malam


Tabel 2.1 jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan pada suatu ruang rawat

2.4.1.4 BOR (Bed Occupation Rate)


Penghitungan jumlah tempat tidur dan BOR

Rumus Perhitungan BOR:

BOR= Jumlah pasien


x 100%
Jumlah TT

2.4.2 Timbang Terima


Timbang terima adalah suatu acara dalam menyampaikan dan menerima
suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima merupakan
kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian shift. Selain laporan antar shift,
dapat disampaikan juga informasi- informasi yang berkaitan dengan rencana
kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan, (Nursalam, 2002).
Conference adalah diskusi kelompok tentang beberapa aspek klinik dan
kegiatan konsultasi. Conference dilakukan sebelum dan sesudah melaksanakan
asuhan keperawatan pada pasien. Pre conference adalah diskusi tentang aspek
klinik sebelum melaksanakan asushan keperawatan pada pasien. Post conference
adalah diskusi tentang aspek klinik sesudah melaksanakan asuhan keperawatan
pada pasien.
Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-
masalah secara kritis da menjabarkan alternatif penyelesaian masalah,
mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan
untuk menyusunkan rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri
dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk
koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi
29

pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (Marelli, et.
al, 1997).
Tujuan pre conference adalah:
a. Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan
asuhan dan merencanakan evaluasi hasil.
b. Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan
c. Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien
Tujuan post conference adalah:
Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan
membandingkan masalah yang dijumpai.
Syarat pelaksanaan:
a. Pre conference dilaksanakan sebelum pemberian asuhan keperawatan dan post
conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan
b. Waktu efektif yang dilakukan 10-15 menit
c. Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien,
perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan
d. Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, PP, dan PA (Jean, et.
al, 1973)
Pedoman pelaksanaan conference:
a. Sebelum dimulai, tujuan conference harus dijelaskan
b. Diskusi harus mencerminkan proses dan dinamika kelompok
c. Pemimpin mempunyai peran untuk menjaga fokus diskusi tanpa mendominasi
dan memberikan umpan balik
d. Pemimpin harus merencanakan topik yang penting secara periodik
e. Ciptakan suasana diskusi yang mendukung peran serta, keinginan mengambil
tanggung jawab dan menerima pendekatan serta pendapat yang berbeda
f. Ruang diskusi diatur sehingga dapat tatap muka pada saat diskusi
Pada saat menyimpulkan conference, ringkasan diberikan oleh pemimpin dan
kesesuainnya dengan situasi lapangan
2.4.2.1 Tujuan
a. Menyampaikan kondisi atau keadaan klien secara umum
30

b. Menyampaikan hal-hal yang penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas


berikutnya
c. Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
2.4.2.2 Langkah-Langkah
a. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap
b. Shift yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal-hal
apa yang akan disampaikan
c. Perawat primer menyampaikan kepada penanggungjawab shift selanjutnya
meliputi:
1) Jumlah pasien: jumlah pasien baru, jumlah pasien lama dan pasien pulang
2) Identitas pasien dan diagnosa medis
3) Masalah keperawatan
4) Data yang mendukung
5) Tindakan keperawatan yang sudah/ belum dilakukan
6) Rencana umum/ catatan khusus yang perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang, konsultasi, prosedur tindakan tertentu
d. Penyampaian operan di atas harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-
buru
e. Perawat primer dan anggota kedua shift dinas bersama-sama secara langsung
melihat keadaan klien
2.4.2.3 Prosedur Timbang Terima
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi:
a. Persiapan
1) Kedua kelompok sudah dalam keadaan siap
2) Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan.
b. Pelaksanaan
Timbang terima dilaksanakan oleh perawat primer kepada perawat primer
yang menggantikan jaga pada shift berikutnya:
1) Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift atau operan
2) Di nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima
dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah
31

keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan


serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan
3) Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap
sebaiknya dicatat untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat jaga
berikutnya
4) Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah:
a) Identitas klien dan diagnosa medis
b) Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul
c) Data fokus (keluhan subjektif dan objektif)
d) Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan
e) Intervensi kolaboratif dan dependensi
f) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya.
5) Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi
tanya jawab terhadap hal-hal yang ditimbang-terimakan dan berhak
menanyakan mengenai hal-hal yang kurang jelas
6) Penyampaian saat timbang terima secara jelas dan singkat
7) Lama timbang terima untuk setiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali
pada kondisi khusus yang memerlukan penjelesan yang lengkap dan rinci
8) Kepala ruangan dan semua perawat keliling ke tiap pasien dan melakukan
validasi data tidak lebih dari 5 menit.
c. Penutup
1) Kembali ke nurse station, klarifikasi data setelah keliling ke tiap pasien
2) Tanda tangan perawat dan kepala ruangan di lembar timbang terima
3) Laporan/ handover alat-alat yang dimiliki.
2.4.3 Ronde Keperawatan
2.4.3.1 Pengertian Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi
masalah keperawatan klien, dilakukan dengan melibatkan pasien untuk membahas
dan melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu harus dilakukan oleh
perawat primer dengan konselor kepala ruangan, perawat assosiate serta
melibatkan seluruh anggota tim kesehatan (Nursalam, 2013).
32

2.4.3.2 Manfaat
1. Masalah pasien dapat teratasi
2. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi
3. Terciptakannya komunitas keperawatan yang profesional
4. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan
5. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan tepat dan
benar.
2.4.3.3 Kriteria Klien
Klien yang dipilih untuk melakukan ronde keperawatan adalah klien yang
memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah
dilakukan tindakan keperawatan
2. Klien dengan kasus baru atau langka
2.4.3.4 Peran Masing-masing Anggota Tim
1. Perawat primer (PP) dan perawat assosiate (PA)
a. Menjelaskan data klien yang mendukng masalah klien
b. Menjelaskan diagnosis keperawatan
c. Menjelaskan intervensi yang dilakukan
d. Menjelaskan hasil yang didapat
e. Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil
f. Menggali masalah-masalah klien yang belum terkaji
2. Perawat Konselor
a. Memberikan justifikasi
b. Memberikan reinforcement
c. Memvalidasi kebenaran dari masalah intervensi keperawatan serta rasional
tindakan
d. Mengarahkan dan koreksi
2.4.4 Discharge Planning
2.4.4.1 Pengertian
Perencanaan pulang (discharge planning) merupakan suatu proses yang
dinamis dan sistematis dari penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan
33

untuk memberikan kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan pelayanan


sosial sebelum dan sesudah pulang (Carpernito, 2009).
Perencanaan pulang atau discharge planning merupakan proses
terintegrasi yang terdiri dari fase-fase yang ditujukan untuk memberikan asuhan
keperawatan yang berkesinambungan (Raden dan Traft, 2007).
2.4.4.2 Tujuan Discharge Planning
Menurut Jipp dan Sirass (1999) perencanaan pulang (discharge planning)
bertujuan untuk:
1. Menyiapkan klien secara fisik, psikologis dan sosial
2. Meningkatkan kemandirian klien
3. Meningkatkan keperawatan yang berkelanjutan kepada klien
4. Membantu rujukan klien pada sistem pelayanan yang lain
5. Membantu klien dan keluarga agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan
sikap dalam mempertahankan status kesehatan klien
6. Melaksanakan rentang perawatan antar rumah sakit dan masyarakat
2.4.4.3 Manfaat Discharge Planning
Menurut Spath (2003), discharge planning mempunyai manfaat:
1. Dapat memberikan kesempatan untuk memperkuat pengajaran kepada klien
yang dimulai dari rumah sakit
2. Dapat memberikan tindak lanjut yang sistematis yang digunakan untuk
menjamin kontinuitas perawatan klien
3. Mengevaluasi pengaruh dari intervensi yang terencana pada penyembuhan
klien dan mengidentifikasi kekambuhan dan kebutuhan perawatan baru
4. Membantu kemandirian klien dalam kesiapan melakukan perawatan dirumah
2.4.4.4 Komponen Discharge Planning
1. Kontrol (waktu dan tempat)
2. Perawatan di rumah
Meliputi pemberian pengajaran atau pendidikan kesehatan (health education)
mengenai diet, aktivitas dan istirahat, perawatan diri, perawatan luka.
Pemberian pembelajaran disesuaikan dengan tingkat pemahaman klien dan
keluarga mengenai perawatan di rumah.
3. Obat-obatan yang masih diminumkan dan jumlahnya
34

Pada klien yang akan pulang dijelaskan obat-obatan yang masih diminum,
dosis, cara pemberian, dan waktu yang tepat minum obat.
4. Hasil pemeriksaan
Hasil pemeriksaan luar sebelum MRS dan fotocopi hasil pemeriksaan selama
MRS dibawakan ke klien waktu pulang
a. Surat-surat seperti keterangan istirahat, surat keterangan dirawat RS, surat
kontrol dan lain-lainnya.
b. Rujukan pelayanan kesehatan terdekat.
2.4.4.5 Tindakan Discharge Planning
Tindakan perawatan yang diberikan pada waktu perencanaan pulang
yaitu meliputi:
1. Pendidikan (edukasi, reedukasi, reorientasi) pendidikan kesehatan diharapkan
bisa mengurangi angka kekambuhan dan meningkatkan pengetahuan klien
2. Program pulang bertahap
Bertujuan untuk melatih klien kembali ke keluarga dan masyarakat antara lain
apa yang harus dilakukan klien di rumah dan apa yang harus dilakukan
keluarga
3. Rujukan
Integritas pelayanan kesehatan harus mempunyai hubungan langsung antara
perawatan community dengan rumah sakit sehingga dapat mengetahui
perkembangan klien di rumah.
2.4.4.6 Bagian dari Discharge Planning
Menurut Boyle (1999) discharge planning terdiri dari:
1. Memastikan klien berada di lokasi yang aman setelah klien pulang
2. Memutuskan perawatan klien lanjut yang dibutuhkan, asisten yang dibutuhkan
atau peralatan spesial yang diperlukan kemudian
3. Mengatur pelayanan keperawatan di rumah (home care)
4. Memilih tenaga kesehatan atau Puskesmas terdekat yang akan memonitor
kesehatan klien dan keperluan medis lainnya setelah tiba dirumah
5. Memberi pelajaran singkat kepada keluarga yang akan menjaga klien di rumah
tentang keterampilan yang diperlukan untuk merawat klien
6. Melaksanakan rentang perawatan antara RS dengan masyarakat.
35

2.4.4.6 Jenis Disharge Planning


1) Conditional diseharge (pulang sementara atau cuti), keadaan pulang ini
dilakukan apabila kondisi klien bagus tidak terdapat kompilikasi. Klien untuk
sementara dirawat di rumah namun dan pengawasan dari pihat rumah sakit
atau Puskesmas terdekat.
2) Absolute discharge (pulang mutlak atau selamanya), cara ini merupakan akhir
dari berhubungan klien denga rumah sakit. Namun apabila klien perlu dirawat
kembali maka prosedur perawatan dapat dilakukan kembali.
3) Judical discharge (pulang paksa) kondisi ini klien diperbolehkan pulang
walaupun kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk pulang, tetapi harus
dipantau dengan melakukan kerjasama dengan dengan perawat Puskesmas
terdekat. Pada ruang Palem II jika pasien menginginkan pulang paksa dahulu,
agar pihat rumah sakit tidak disalahkan jika ada risiko setelah di rumah.
4) Meneruskan dengan obat jalan.
5) Meninggal.
2.4.4.6. Komponen Perencanaan Pulang (Komponen Discharge Planning)
1) Pada saat pasien masuk ruangan :
(1) Menyambut kedatangan pasien
(2) Orientasi ruangan, jenis pasien, peraturan dan denah ruangan
(3) Memperkenalkan pasien pada teman sekamar, perawat, dokter dan tenaga
kesehatan lain
(4) Melakukan pengkajian keperawatan
(5) Menyampaikan kepada keluarga perkiraan lama masa perawatan
2) Selama masa perawatan :
(1) Pemeriksaan klinis dan penunjang yang lain
(2) Melakukan asuhan keperawatan berdasarkan masalah yang muncul sampai
dengan evaluasi perkembangan pasien selama dirawat
(3) Penyuluhan kesehatan penyakit, perawatan, pengobatan, diet, aktivitas,
kontrol
3) Persiapan pasien pulang :
(1) Perawatan di rumah
36

Meliputi pemberian pengajaran atau pendidikan kesehatan (health


education) mengenai atauran diet, aktiviatas istirahat, waktu dan tempat
control. Pembelajaran dilaksanakan sesuai tingkat pemehaman klien dan
keluarga mengenai perawatan selama klien dirumah nanti, perawatan
lanjutan seperti perawatan lula, NGT, dll
(2) Obat-obat yang masih dikonsumsi klien dan dosisnya
Penjelasan mengenal obat-obatan klien yang masih harus diminum dosis,
cara pemberian dan waktu yang tempat untuk minum obat, efek samping
yang mungkin muncul.
(3) Obat-obatan yang dihentikan
Pada pasien JPS atau Askes kalau ada obat-obatan yang tidak diminum
lagi oleh klien, dikembalikan ke depo farmasi dan untuk pasien umum
mendapat ganti berupa uang di apotek dia membeli obat.
(4) Hasil pemeriksaan
Hasil pemerksaan foto selama dirawat di RS dibawaah pulang pada klien,
tetapi untuk hasil pemeriksaan laborariom asli menjadi milik RS
(5) Surat-surat seperti: surat keterangan sakit, surat konttol, surat rujukan, dll

2.4.4.7 Tindakan Keperawatan Pada Waktu Perencanaan Pulang


1) Mengkaji kebutuhan klien (fisiologis, psikologis, social dan cultural
2) Mengembangkan rencana keperawatan yang sudah diterapkan dan
mendokumentasikan strategi discharge.
3) Memberikan pendidikan kepala keluarga dank lien (Patrice 1999)
2.4.4.8 Peran Perawat Dalam Discharge Planning
1) Kepala Ruangan
(1) Membuka acara discharge palnning kepada pasien
(2) menyetujui dan menandatangani format discharge planning
2) Perawat Primer
(1) Membuat rencana discharge planning
(2) Membuat leaflet dan menyiapkan kartu discharge planning
(3) Memberikan konseling
37

(4) Memberikan pendidikan kesehatan


(5) menyediakan format discharge planning
(6) Mendokumetasikan discharge planning
(7) Melaksanakan agenda discharge planning ( pada awal perawatan sampai
dengan akhir perawatan)
3) Perawat Associate
Ikut membantu melaksanakan discharge planning yang telah direncanakan
oleh perawat primer

2.4.4.10 Alur Discharge Planning

Dokter dan Tim PP dibantu PA


Kesehatan

Keadaan pasien :

1. Klinis dan pemeriksaan penunjang


lain
2. Tingkat ketergantungan
38

Perencanan pulang

Penyelesaain administrasi Lain-lain

Program HE

- Kontrol dan obat/perawat


- Gizi
- Aktivitas dan istirahaqt
- Perawat diri

Bagan 2.2 Alur Discharge Planning

2.5 Pembiayaan (M4/ MONEY)


2.5.1 Kompensasi
Kompesansi merupakan terminology luas yang berhubungan dengan
imbalan financial. Terminologi dalam kompesansi adalah:
1) Upah dan Gajih (wages) biasanya berhubungan dengan tariff gaji per jam.
Gaji (salary) umumnya berlaku untuk tariff bayaran mingguan, bulanan,
atau tahunan
2) Intensif. Intensif (incentive) adalah tambahan kompensasi di atas atau diluar
gaji atau upah yang diberikan organisasi
3) Tunjangan
4) Fasilitas (Simamora, 2004)
2.5.2 Reward
39

Reward yaitu hadiah dan hukuman dalam situasi kerja, hadiah menunjukan
adanya penerimaan terhadapa perilaku dan perbuatan, sedangkan hukuman
menunjukan penolakian perilaku dan perbuatanya
Wahyuningsih (2009) juga mengidentifikasi reward adalah
penghargaan/hadiah untuk sesuatu hal yang tercapai. Fransisca (2006)
memfokuskan defenisi reward sebagai hadiah atau bonus yang diberikan karena
perestasi seseorang. Reward dapat berwujud banyak rupa. Paling sederhana
berupa kata-kata seperti pujiaan adalah salah satu bentuknya. Reward biasanya
digunakan untuk mengendalikan jam kerja seseorang dalam organisasi (Raharja.
2006).
Artinya, dengan reward seseorang bekerja dapat dilakukan tampa ada
kendali langsung dari pimpinan, melainkan dapat berjalan apa adanya sesuai
evaluasi kinerja sebelumnya, Selebihnya, dengan reward seseorang dapat
meningkatkan cara kerjanya tanpa harus dikendalikan pimpinan. Hal ini juga
ditegaskan Gouillart & Kelly dalam Raharja (2006) bahwa reward yang dapat
diperoleh atau di harapkan akan diperoleh sebagai konsekwensi dari apa
yangmereka kerjakan akan merubah perilaku manusia secara fundamental.

2.5.3 Punishment
Punishment adalah hukuman atas suatu hal yang tidak tercapai/
pelaggaran. Hukuman seperti apa yang harus diberikan. Setip orang pasti pasti
beda persepsi dan beda pandapat (Wahyuningsih, 2009).
Punishment merupan penguatan yang negative, tetapi diperlukan dalam
perusahaan. Punishment yang dimaksud disini adalah tidak seperti hukuman di
penjara atau potomg tangan, tetapi punishment yang bersifat mendidik. Selain itu
punishment juga juga merupakan alat pendidikan regresif, artinya punishment ini
digunakan sebagai alat untuk menyadarkan karyawan kepada hal-hal yang benar.
Ngalin purwanto (1988:238) membagi punishment dua macan yaitu:
a. Hukum prefentif
40

Yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud atau supaya tidak terjadi
pelanggaran. Hukuman ini bermuksud untuk mencegah agar tidak terjadi
pelanggaran, sehingga hal ini dilakukannya sebelum terjadi pelanggaran
dilakukan. Contoh perintah, larangan, pengawasan, perjanjian dan ancaman.
b. Hukuman refresif
Yaitu hukuman yang dilakukan, oleh karena adanya pelangaran, oleh adanya
dosa yang telah diperbuat. Jadi hukuman itu terjadi setelah terjadi kesalahan.
2.6 Pemasaran (M5/MUTU)
2.6.1 Indeks Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat merupakan factor yang sangat penting dan
menentukan keberhasilan suatu badan usaha karena masyrakat adalah konsumen
dari produk yang dihasilkannya. Hal ini didukung oleh pernyataan Hoffman dan
Beteson (2011) , yaitu: without custumers, the servis film has no reason to exist.
Definisi kepuasan masyarakat menurut women (2011): Costomers satisfaction is
difined as the overall attitudes regarding goods or servis after its acquisition and
uses.oleh karena itu, badan usaha harus memenuhi kebutuhan dan keingginan
masyarakat sehinga mencapai kepuasan masyrakat lebih jauh lagi kedepannya
dapat di capai kesetian masyrakat. Sebab, bila tidak ada memenuhi kebutuhan dan
kepuasan masyrakat sehinga menyebabkan ketikapuasaan masyarakat
mengakibatkan kesetian masyarakat akan suatu produk menjadi luntur dan beralih
keproduk atau layanan yang disediakan oleh badan usaha yang lain.
Pelayanan public yang prefesional, artinya pelayanan public yang dicirikan
oleh adanya akuntabilitas dan responbilitas dari pemberi layanan (aparatur
pemerintah) dengan cirri sebagai berikut
a. Efektif
b. Sederhana
c. Keterbukaan
d. Efisiensi
e. Ketepatan waktu
Berkembang era servqual juga member inspirasi peemerintah Indonesia untuk
memperbaiki adan meningkatkan kinerja pelayan sector public. Salah satu
produk peraturan pemerintah terbaru tentang pelayanan public yang telah
41

dikeluarkan untuk melakukan penilaain dan evaluasi terhadap kinerja unit


pelayanan public instansi pemerintah dalah keputusan menteri
pendayagunaan aparatur Negara nomor: KEP- 25/M.PAN/2/2004 tanggal 24
februari 2004 tentang pedoman penyusunan indeks kepuasaan masyarakat
unit pelayan instansi pemerintah ke-14 indikator yang akan dijadikan
instrument pengukuran berdsarkan keputusan menteri pendayagunaan
aparatur Negara di atas adalah sebagai berikut:
a) Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan
kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.
b) Persyaratan pelayan, yaitu persyaratan teknis dan adminnistrasi yang
diperlukan untuk mendapatkan peayanan sesuai dengan jenis pelayanan
c) Kejelasan petugas pelayanan, yaitu beradaan dan kepastian petugas yang
memberikan pelayanan (nama, jabatan, serta kewenangan dan tanggung
jawab). Kedisiplinan petugas pelalanan terutama terhadap kossistensi
waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
d) Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan
yang dimilikipetugas dalam memberikan/menyelesainkan pelayanan
kepada masyarakat
e) Kecepatan pelayanan, yaitu targer waktu pelayanan dapat diselsaikan
dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelengara pelayanan.
f) Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan
tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani
g) Kesopananan dan keramahan petugas, yiitu sikap dan perilaku petugas
dalam memberikan pelayanan.
h) Kewajaran biaya pelaayanan, yaitu keterjangkau masyrakat terhadap
besarnya biaya yang telah itetapkan unit pelayanan unit kesehatan.
i) Kepastiaan biaya pelayanan, yitu kesuain anatara biaya yang dibayarkan
j) Kepastiaan jadwal pelayanan.
k) Kenyamana lingkungan.
l) Keamanan pelayanan.

2.6.2 Hak Dan Kewajiban Pasien


42

1) Hak Pasien:
a. Hak untuk memperoleh informasi meliputi:
1). Dignosa penyakit yang di deritanya
2). Tindakan medis yang akan atau telah dilakukan
3). Kemungkinan penyakit yang akan timbul sebagai akibat tersebut serta
tindakan untuk mengatasinya
4). Perkiraan biaya pengobatan
b. Hak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya,
sesuai dengan yang berlaku di rumah sakit pelabuhan Palembang.
c. Hak untuk memberikan persetujuan/menolak untuk tidakan penriksaan yang
dilakukan atas dirinya sehubungan dengan penyakit yang dideritanya
d. Hak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar
profesi kedokteran.
e. Hak mendapat pelayanan yang manusiawi tanpa diskriminasi
f. Berhak memperoleh asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar profesi
keperawatan
g. Hak atas Privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk rekam
mesisnya

Anda mungkin juga menyukai