Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH INSTRUMENTASI

FURNACE

DISUSUN OLEH :

1. Arlyani Agustiyana P07234016046


2. Virly Aprillia P07234016077
3. Yolanda Adella Sulema P07234016080

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Rahmat dan
Karunia Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Kami
juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Instrumentasi yang telah
membimbing dan memberikan tugas ini kepada kami. Dalam makalah ini kami
membahas tentang FURNACE.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangung sangat kami harapkan untuk perbaikan
dan peningkatan dalam pembuatan makalah ini kepadanya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Amin

Samarinda, 4 juli 2017

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................... 2


Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 5
1.3 Tujuan ........................................................................................... 5
Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian Furnance ....................................................................... 6
2.2 Jenis jenis Furnance .................................................................... 8
2.3 Fungsi Furnance ............................................................................. 15
2.4 Cara Kerja Furnance ...................................................................... 15
2.5 Cara Kalibrasi Furnance ................................................................. 16
2.6 Cara Perawatan Furnance ............................................................... 17
2.7 Resiko Kecelakaan Furnance ......................................................... 17
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan .................................................................................... 18
3.2 Saran ............................................................................................... 18
Daftar Pustaka

BAB I

3
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Furnace / Tungku adalah sebuah peralatan yang digunakan untuk melelehkan
logam untuk pembuatan bagian mesin (casting) atau untuk memanaskan bahan serta
mengubah bentuknya (misalnya rolling/penggulungan, penempaan) atau merubah
sifat-sifatnya (perlakuan panas). Karena gas buang dari bahan bakar berkontak
langsung dengan bahan baku, maka jenis bahan bakar yang dipilih menjadi penting.
Sebagai contoh, beberapa bahan tidak akan mentolelir sulfur dalam bahan bakar.
Bahan bakar padat akan menghasilkan bahan partikulat yang akan mengganggu
bahan baku yang ditempatkan di dalam tungku. Untuk alasan ini:
a) Hampir seluruh tungku menggunakan bahan bakar cair, bahan bakar gas
atau listrik sebagai masukan energinya.
b) Tungku induksi dan busur/arc menggunakan listrik untuk melelehkan baja
dan besi tuang.
c) Tungku pelelehan untuk bahan baku bukan besi menggunakan bahan bakar
minyak.
d)Tungku yang dibakar dengan minyak bakar hampir seluruhnya
menggunakan minyak tungku, terutama untuk pemanasan kembali dan
perlakuan panas bahan.
e) Minyak diesel ringan (LDO) digunakan dalam tungku bila tidak
dikehendaki adanya sulfur. Ada berbagai macam furnace tapi yang biasa
digunakan di laboratorium adalah jenis Muffle Furnace.
Kebutuhan teknologi yang semakin maju, menuntut berkembangnya sistem
kendali yang handal. Sistem kendali yang baik sangat diperlukan dalam
meningkatkan efisiensi dalam proses produksi. Sebagai contoh, otomatisasi dalam
bidang industri yaitu proses pemanasan pada Furnace Salah satu jenis Furnace
ditunjukkan pada Gambar 1.

4
1.2 Rumusan Masalah

Apa Pengertian Furnace?


Apa saja jenis furnace ?
Apa fungsi furnace ?
Bagaimana cara kerja furnace ?
Bagaimana kalibrasi furnace ?
Bagaimana perawatan dan penyimpanan furnace ?
Apa resiko kecelakaan furnace ?

1.3 Tujuan

Mengetahui Pengertian Furnace


Mengetahui jenis furnace
Mengetahui fungsi furnace
Mengetahui cara kerja furnace
Mengetahui kalibrasi furnace
Mengetahui perawatan dan penyimpanan furnace
Mengetahui resiko kecelakaan furnace

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Furnace


Elektrik Furnace atau tungku adalah sebuah peralatan yang digunakan untuk
melelehkan logam untuk pembuatan bagian mesin (casting) atau untuk memanaskan bahan
serta mengubah bentuknya (misalnya rolling/penggulungan, penempaan) atau merubah sifat-
sifatnya (perlakuan panas).
Furnace harus dirancang sedemikian rupa sehingga dalam waktu tertentu,
sebanyak mungkin bahan dapat dipanaskan sampai suhu merata dengan bahan bakar
paling mungkin dan tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan ini, parameter berikut dapat
dipertimbangkan.
Penentuan jumlah panas yang akan didistribusikan kepada materi atau biaya.
Pelepasan panas yang cukup dalam furnace untuk memanaskan bahan dan
mengatasi semua kerugian panas.
Transfer panas dari furnace ke permukaan bahan.
Persamaan suhu dalam bahan.
Pengurangan kerugian panas dari tungku seminimal mungkin.

6
Prinsip kerja dari dari furnace listrik adalah memanaskan bahan sampel
dengan memasukkan dalam ruang pemanas. Panas pada termokopel berasal dari
filament yang diberi tegangan sehingga akan menimbulkan panas. Filament yang
biasa digunakan terbuat dari nikel karena memiliki titik leleh tinggi. Panas akan
merambat secara radiasi menuju sampel. Beberapa furnace memiliki control waktu
yang dimanfaatkan untuk mengubah suhu pemanasan secara otomatis. Dinding
bagian dalam furnace didesain tahan terhadap suhu tinggi dengan menggunakan
bahan alumina. Di bagian dalam furnace terdapat sensor suhu berupa termokopel.
Termokopel adalah perangkat yang terdiri dari dua konduktor yang berbeda
(biasanya paduan logam) yang menghasilkan tegangan, sebanding dengan perbedaan
suhu antara kedua ujung konduktor. Termokopel banyak digunakan sebagai jenis
sensor suhu untuk pengukuran dan kontrol serta dapat juga digunakan untuk
mengubah gradien temperatur menjadi listrik. Termokopel biasanya memakai suhu
standar untuk suhu referensi 0 derajat Celcius (www.heater.co.id). Gambar rangkaian
sensor suhu termokopel di tampilkan pada gambar 3.

7
2.2 Jenis Furnace
Berdasarkan metode Penghasilan panas, furnace secara luas diklasifikasikan
menjadi dua jenis yaitu jenis pembakaran (menggunakan bahan bakar) dan jenis
listrik. Furnace jenis pembakaran bergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan.
Diantaranya furnace yang menggunakan bahan bakar minyak, batu bara, atau gas.

Berdasarkan modus pengisian tungku bahan dapat diklasifikasikan sebagai

(i) furnace jenis Intermittent atau Batch atau furnace berkala dan
(ii) furnace terus menerus.

Berdasarkan modus pemanfaatan kembali limbah panas sebagai furnace


recuperative dan regeneratif. Tipe lain dari klasifikasi furnace dibuat berdasarkan
modus perpindahan panas, cara pengisian dan modus pemanfaatan panas.

Gambar 4. Furnace laboratorium

A. MUFFLE FURNACE
Muffle furnace adalah tungku dimana bahan subyek dan semua produk
pembakaran termasuk gas dan abu terisolasi dari bahan bakar. Setelah pengembangan
pemanas listrik temperatur tinggi dengan elemen dan elektrifikasi yang berkembang

8
di negara-negara maju, muffle furnace dengan cepat berubah ke listrik. Saat ini,
muflle furnace biasanya berupa sebuah front-loading kotak-jenis oven atau kiln untuk
aplikasi suhu tinggi seperti kaca sekering, menciptakan lapisan enamel, keramik dan
barang solder dan mematri. Muffle furnace juga digunakan dalam banyak penelitian,
misalnya oleh ahli kimia untuk menentukan berapa proporsi sampel yang mudah
terbakar dan non-volatile (yaitu: abu). Beberapa pengendali digital memungkinkan
RS232 antarmuka dan memungkinkan operator untuk program hingga 126 segmen,
seperti melereng, perendaman, sintering, dan banyak lagi. Juga, kemajuan dalam
bahan untuk elemen pemanas, seperti disilikat molibdenum, sekarang dapat
menghasilkan suhu kerja hingga 1.800 derajat Celsius (3.272 derajat Fahrenheit),
yang memfasilitasi aplikasi metalurgi lebih canggih.

Gambar 5. Muffle Furnace

B. SALT BATH FURNACE


Salt bath furnace modern digunakan untuk sejumlah aplikasi perlakuan panas
seperti:

9
Preheating
Austenitizing
Martempering
Pengerasan netral
High-Speed Tool Pengerasan
Tempering Nitridasi
karburizing
heat treatment solution
Dip brazing

Sistem modern menawarkan keseragaman kecepatan ramp-up dan pemanasan


tinggi dengan suhu dipertahankan untuk dalam waktu 5 derajat di seluruh bath
sehingga memberikan hasil pengolahan yang tinggi dan seragam. Sekarang ini
furnace dipanaskan oleh listrik, minyak atau gas. Dalam pengadaan Salt harus
diberikan perhatian khusus pada Bath Furnace sehingga standar keselamatan operator
dan persyaratan lingkungan lokal dipenuhi dan teknologi pengolahan limbah yang
terlibat memenuhi peraturan pemerintah dan memberikan untuk pengelolaan sampah
yang komprehensif dan biaya-efektif seperti sistem pembuangan lumpur efektif.
sistem modern termasuk tahap modular untuk mengakomodasi pra-dan pasca-
perawatan yang dikombinasikan dengan kontrol penuh Programmable yang
menawarkan kemampuan dan pengolahan yang tepat.
Perlakuan panas yang diaplikasikan dalam alat ini antara lain:
annealing, nitridasi, melting , tempering , pengerasan, pemateri, galvanizing dan
aluminizing serta perlakuan Permukaan berbagai logam & paduan.

10
Gambar 6. Salt Bath Furnace

C. VACUUM FURNACE
Vacuum furnace adalah jenis furnace yang dapat memanaskan bahan,
biasanya logam, pada temperatur sangat tinggi dan melaksanakan proses seperti
mematri, sintering dan perlakuan panas dengan konsistensi tinggi dan kontaminasi
rendah.Dalam sebuah vacuum furnace produk dalam tungku dikelilingi oleh ruang
hampa. Tidak adanya udara atau gas lainnya mencegah perpindahan panas dengan
produk melalui konveksi dan menghilangkan sumber kontaminasi.

Beberapa manfaat dari vakum furnace adalah:


1. Uniform dalam rentang temperatur 2000-2800 F (1100-1500 C)
2. Suhu dapat dikontrol dalam area kecil
3. kontaminasi dari karbon oksigen dan gas-gas lain pada produk rendah
4. pendinginan produk cepat
5. Proses dapat dikendalikan komputer untuk memastikan berulangnya fasa dalam
metalurgi.

Pemanas logam untuk temperatur tinggi biasanya menyebabkan oksidasi


cepat, yang tidak diinginkan.Vakum furnace menghilangkan oksigen dan mencegah

11
hal ini terjadi.Gas inert,seperti Argon,biasanya digunakan untuk mempercepat
pendinginan logam sampai kembali ke tingkat non-metalurgi (di bawah 400 F)
setelah proses yang diinginkan dalam tungku. Gas inert dapat ditekan untuk dua kali
perlakuan atau lebih, kemudian mengalir melalui daerah zona panas untuk mengambil
panas sebelum melalui sebuah penukar panas untuk membuang panas. Proses ini
diulang sampai suhu yang diinginkan tercapai.
Penggunaan umum dari vakum furnace adalah untuk heat treatment baja
paduan. Banyak perlakuan panas yang dapat menggunakan vakum furnace misalnya
hardening dan tempering dari baja untuk menambah kekuatan dan ketangguhan.
Pengerasan melibatkan pemanasan baja ke suhu yang sudah ditentukan, kemudian
didinginkan secara cepat. Vacuum furnace yang ideal untuk aplikasi mematri.
Mematri merupakan proses perlakuan panas yang digunakan untuk menggabung dua
atau lebih komponen dasar logam dengan pelelehan lapisan tipis logam pengisi dalam
celah antara logam tersebut.
Aplikasi lainnya dari vakum furnace adalah Vacuum karburasi, yang juga
dikenal sebagai Tekanan Rendah karburasi atau LPC. Dalam proses ini, gas (seperti
asetilen) dimasukkan dengan tekanan parsial ke zona panas pada suhu biasanya antara
1600F dan 1950F. Gas dimasukkan ke dalam molekul konstituen (dalam hal ini
karbon dan hidrogen). karbon tersebut kemudian menyebar ke daerah permukaan
logam. Hal ini biasanya diulang dalam berbagai durasi input gas dan waktu difusi.
Setelah benda kerja sesuai dengan apa yang diinginkan kemudian diinduksi biasanya
menggunakan minyak atau gas bertekanan tinggi (HPGQ) berupa nitrogen atau
helium kemudian diquenching dengan cepat. Proses ini juga dikenal sebagai
pengerasan khusus.

12
Gambar 6. Vacuum Furnace

D. FLUIDEZED BED FURNACE


Fluidezed-bed furnace adalah tungku berbentuk silinder atau persegi dan
terdiri sebuah tungku Panjang Dari Ruang dan Reaksi Ruang untuk penyediaan
ledakan Udara atau distribusi gas ke perapian. Perapian, yang dirancang untuk
menyediakan distribusi seragam ledakan di atas penampang seluruh ruang reaksi,
adalah sebuah kisi logam atau plat beton dengan sebuah klep. Perapian,Yang
dirancang untuk mengatur distribusi ledakan yang seragam di seluruh penampang
ruang Reaksi tetap permanent, sebuah kisi logam atau plat bukaan yang terbuat dari
beton atau teradang dibuat dari blok keramik berpori yang berupa butiran padat
tersuspensi oleh udara atau gas yang mengalir melalui grid dan membentuk fluidized
bed di mana interaksi antara bahan padat dan gas berlangsung. Butiran padat
tersuspensi dibuat dari udara atau gas yang mengalir membentuk grid di dalam
fluidized bed di mana Interaksi antara Bahan berlangsung dalam bentuk padat dan
gas. Produk jadi (misalnya, sinter) dibuang dari tungku melalui sebuah pintu di
bagian atas dari fluidized bed. Alat penukar panas dipasang di zona fluidized untuk
melakukan pemanasan dalam bed selama proses eksotermik (pembakaran) atau untuk
memasok panas ke fluidized bed selama proses endotermik (pengurangan).Tungku
fluidized-bed Multichamber dengan beberapa bed fluidized sekuensial digunakan

13
untuk proses yang melibatkan pengolahan bahan dalam beberapa langkah pada
berbagai suhu dan berbagai komposisi fasa gas.Dibandingkan dengan furnace listrik
jenis lain (misalnya, rotary kiln), di dalam fluidized-bed furnace gas dan bahan lebih
efektif berinteraksi dan lebih seragam pada produk akhir, fluidized bed furnace juga
membuat seintensive mungkin dan otomatisasi proses berlangsung di dalamnya.

Proses proses yg dapat dilakukan di fluidized bed furnace adalah:


Nitro Carburizing
Carbonitriding
Carburizing
Gas Nidriding
Annealing
Normalising
dan proses heat treatment lainnya dalam satu tungku.

Gambar 7. Fluidezed Bed Furnace

14
2.3 Fungsi Furnace
Fungsi dari furnace yaitu untuk mengabukan atau mengarangkan zat pada
analisis gravimetri. Temperatur pada suhu tinggi dalam tanur (muffle furnace) yaitu
diatas 10000C.
Pemanfaatan furnace pada fabrikasi kaca adalah dengan memanaskan material
atau bahan kaca, kemudian melakukan pendinginan secara cepat. Hal ini dilakukan
agar bahan yang dipanaskan memiliki struktur amorf. Struktur amorf terjadi ketika
bahan yang diberi suhu tinggi kemudian didinginkan secara cepat, agar struktur atom
dalam bahan tidak sempat berubah menjadi Kristal.

2.4 Cara Kerja Furnace


Tata cara kerja menggunakan alat furnace di laboratorium :
1. Siapkan Alat dan Bahan.
2. Pastikan cawan pengabuan tidak meleleh pada saat dipanasi
3. Masukan bahan kedalam cawan pengabuan
4. Hubungkan Furnace dengan listrik. Arus listrik harus tetap menyala.
5. Buka pintu tanur furnace dengan menarik tuas tanur furnace
6. Masukkan cawan pengabuan yang terisi bahan kedalam tanur furnace
7. Tutup pintu tanur funace
8. Hidupkan furnace dengan menekan tombol power ON
9. Atur (set) temperatur pengabuan yang diinginkan dengan
menekan tombol SET
10. Setelah selesai pengabuan, matikan tanur furnace dengan menekan
tombol OFF
11. Biarkan beberapa waktu hingga temperatur tanur furnace sama dengan
temperatur lingkungan, kemudian buka pintu furnace.
12. Keluarkan cawan yang berisi bahan dari dalam tanur dengan
menggunakan penjepit.
13. Tutup kembali furnace.

15
14. Lepaskan aliran listrik dari furnace.
15. Pastikan kabel listrik tanur furnace tidak terhubung dengan sumber
listrik.

2.5 Kalibrasi Furnace


furnace adalah alat yang menggunakan pemanasan, jadi kontrol ketelitian alat
kepada suhu. Karena furnace alat yang bersuhu tinggi jadi biasanya untuk
mengkalibrasi ada suatu instansi yang menyediakan layanan untuk mengkalibrasi alat
furnace.
Furnace dioperasikan pada suhu dari 497C sampai batas maksimum yaitu
1068C selama 105 menit. Setiap terjadi pertambahan waktu 15 menit dilakukan
pengukuran suhu bilik pemanas. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan
alat Kalibrator Digital Pyrometer.
Pada saat Furnace dihubungkan dengan pasok elektrik, saklar utama dalam
posisi OFF dan pintu dalam keadaan tertutup rapat. Furnace mulai memanaskan bilik
pemanas ketika saklar utama dinaikkan ke posisi ON. Pengoperasian Muffle Furnace
dilaksanakan melalui beberapa langkah sebagai berikut:
1. Saklar utama pada posisi ON.
2. Pintu furnace dalam keadaan tertutup. Suhu yang dikehendaki diatur
dengan menekan tombol hitam dekat tampilan suhu, tombol di
sebelahnya diputar sampai mencapai suhu pemanasan yang diinginkan.
3. Probe thermocoupel pyrometer ditempatkan melalui lubang belakang
(bilik pemanas) furnace.
4. Kenaikan suhu dan perubahan waktu yang ditampilkan pada
thermocoupel pyrometer dan furnace controller dicatat.
5. Furnace dimatikan dengan menurunkan saklar utama ke posisi OFF.

Bilik pemanas adalah bagian utama yang berhubungan dengan pengukuran


suhu, karena bagian tersebut merupakan tempat berlangsungnya proses pemanasan

16
spesimen. Pada bilik pemanas terdapat heating element, thermokopel head, serta
lubang saluran gas masuk (melalui sisi bawah) dan lubang saluran gas keluar (melalui
sisi alas). Pada pelaksanaan kalibrasi, probe dari thermocouple pyrometer (kalibrator)
dimasukkan ke bilik pemanas tersebut melalui bagian belakang furnace. Data
kalibrasi yang terbaca dari tampilan pada monitor digital dicatat pada setiap
pertambahan waktu 15 menlt.

2.6 Perawatan dan Penyimpanan Furnace


Setiap habis pemakaian tanur harus dibersihkan agar tanur tidak rusak dan
bagian-bagian dari tanur itu sendiri tidak berkarat. Membersihkannya dengan cara
mengelap seluruh bagian tanur dengan alkohol.
Pengoprasian furnace harus hati-hati agar furnace tidak cepat rusak. Setelah
furnace selesai digunakan tidak dibenarkan untuk mematikan langsung alat ketika
suhu masih sangat tinggi. Ini akan mengakibatkan putusnya filament-filamen
pemanas karena di matikan secara tiba-tiba. Penggunaan yang tepat adalah, ketika
furnace selesai di gunakan, suhu furnace dibiarkan turun secara alami mencapai suhu
kamar. Barulah kemudian alat dapat dimatikan.

2.7 Resiko Kecelakaan Furnace


Furnace adalah peralatan listrik yang menggunakan daya yang besar untuk
pemakaiannya, jad furnace mempunyai resiko yang besar dari listrik seperti
tersetrum. Selain itu furnace juga menghasilkan panas yang tinggi sehingga jika tidak
berhati-hati dapat mengenai praktikan.

17
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Furnace / Tungku adalah sebuah peralatan yang digunakan untuk melelehkan
logam untuk pembuatan bagian mesin (casting) atau untuk memanaskan bahan serta
mengubah bentuknya (misalnya rolling/penggulungan, penempaan) atau merubah
sifat-sifatnya (perlakuan panas).
Fungsi dari furnace yaitu untuk mengabukan atau mengarangkan zat pada
analisis gravimetri. Temperatur pada suhu tinggi dalam tanur (muffle furnace) yaitu
diatas 10000C.
Pemanfaatan furnace pada fabrikasi kaca adalah dengan memanaskan material
atau bahan kaca, kemudian melakukan pendinginan secara cepat. Hal ini dilakukan
agar bahan yang dipanaskan memiliki struktur amorf. Struktur amorf terjadi ketika
bahan yang diberi suhu tinggi kemudian didinginkan secara cepat, agar struktur atom
dalam bahan tidak sempat berubah menjadi Kristal.

3.2 Saran
Setiap habis pemakaian tanur harus dibersihkan agar tanur tidak rusak dan
bagian-bagian dari tanur itu sendiri tidak berkarat. Membersihkannya dengan cara
mengelap seluruh bagian tanur dengan alkohol.
Pengoperasian furnace harus hati-hati agar furnace tidak cepat rusak. Setelah
furnace selesai digunakan tidak dibenarkan untuk mematikan langsung alat ketika
suhu masih sangat tinggi. Ini akan mengakibatkan putusnya filament-filamen
pemanas karena di matikan secara tiba-tiba. Penggunaan yang tepat adalah, ketika
furnace selesai di gunakan, suhu furnace dibiarkan turun secara alami mencapai suhu
kamar. Barulah kemudian alat dapat dimatikan.

18
Kiranya dengan adanya makalah ini dapat membantu pembaca dalam
pemakaian/pengoperasian furnace yang membutuhkan kehatia-hatian yang tinggi agar
tidak terjadi hal yang tidak diinginkan oleh praktikan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Aresandi, Rizky. Makalah Furnace. (diakses 4 juli 2017)


https://www.scribd.com/document/269178353/Rizky-Aresandi-Makalah-Furnace
Aminhar & Dahlan,Hadijaya.(2000).Kalibrasi Tungku Kalibrasi Muffle Furnace.
(diakses 4 juli 2017)
http://digilib.batan.go.id/e-jurnal/Artikel/Bul-Urania/N21_22ThVIJan-
p2000/Aminhar.pdf
http://labotktk.teknik.ub.ac.id/wp-content/uploads/2015/05/INSTRUKSI-KERJA-
FURNACE1.pdf

20