Anda di halaman 1dari 55

1

LAPORAN
PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP)
PDGK-4501

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA POKOK BAHASAN


ENERGI DAN PENGGUNAANNYA DENGAN
METODE DEMONTRASI SISWA KELAS IV
DI SDN 002 SUNGAI PINANG

OLEH:
MUSRIYATNI
NIM : 826122086

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ-UT SAMARINDA
POKJAR SAMARINDA
SAMARINDA
2017
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar
bagi pembangunan bangsa suatu negara. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah
yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik,
diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan
berpedoman pada seperangkat aturan dan rencana tentang pendidikan yang
dikemas dalam bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan
mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional,
tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang
dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses
pembelajaran.
Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak
untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun
berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu
untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak
didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin
aplikasi.
Kenyataan ini berlaku untuk semua mata pelajaran tidak terkecuali
matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam berkaitan
dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan
hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-
konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Carin dan Sund (1993) mendefinisikan ilmu pengetahuan alam sebagai
pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum
(universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan demonstrasi.
3

Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik


untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan
lebih lanjut dalam penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses
pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara
ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat
membantu peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
alam sekitar.
Keringnya makna pelajaran ilmu pengetahuan alam bagi peserta didik
tidak lepas dari permasalahan matapelajaran ini yang kompleks menyangkut
komponen sistem pembelajaran. Suasana kelas saat pelajaran IPA umumnya
kurang menggembirakan, akibatnya anak didik terlihat gerah dan tidak tenang.
Guru waktu mengajar ilmu pengetahuan alam umumnya cenderung menyajikan
sederet data yang berisi konsep, proses, dan kejadian yang serba tidak berarti.
Anak didik jarang diajak melakukan eksperimen dan mengungkap pemecahan
masalah. Proses pembelajaran masih bersifat informatif, kurang memperhatikan
daya nalar dan tidak mengajak anak didik berpikir kritis.
Pembelajaran ilmu pengetahuan alam sebaiknya dilaksanakan dengan
menggunakan metode pemecahan masalah untuk menumbuhkan kemampuan
berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek
penting kecakapan hidup. Pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian
pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat
ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada
penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Permasalahan ini terlihat dari
kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Proses
penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, di mana siswa
hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit
peluang bagi siswa untuk bertanya. Akibatnya, suasana pembelajaran menjadi
tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
4

Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai


faktor yang mempengaruhinya. Guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran
menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu
direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model
pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk
berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi
belajar yang optimal.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan
belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya
agar suasana kelas lebih hidup.
Memecahkan permasalahan tersebut, penulis berupaya dengan berbagai
cara, salah satunya dengan mencoba menerapkan metode demonstrasi. Penerapan
metode ini, penulis berharap hasil belajar siswa dapat meningkat dengan lebih
baik lagi.
Sanjaya ( 2006:1 ) berpendapat bahwa demonstrasi adalah cara
menyajikan pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa
tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam
bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukan oleh guru
atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus
didemonstrasikan.
Penulis beranggapan bahwa penerapan metode demonstrasi dalam
pembelajaran ilmu pengetahuan alam dapat memecahkan masalah yang dialami
para guru dan siswa Sekolah Dasar. Penerapan metode demonstrasi dalam mata
pelajaran IPA sekarang ini menjadi tumpuan harapan para guru dalam upaya
menghidupkan aktivitas siwa dalam pembelajaran secara maksimal. Intinya,
pelajaran ilmu pengetahuan alam tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang
sama dengan pelajaran sastra yang syarat dengan hapalan-hapalan.
Penerapan metode demonstrasi diharapkan pembelajaran akan lebih
bermakna, menarik dan meningkatkan hasil belajar bagi siswa karena metode
demonstrsi dapat dikatakan sebagai muara dalam belajar IPA, sebab berbagai
5

aspek (kognitif, efektif, dan psikomotor) terlibat di dalamnya. Misalnya, ketika


kita sedang menghadapi permasalahan dengan meneliti fenomena alam, maka
siswa akan berupaya untuk mencari penyebab mengapa hal itu bisa terjadi dengan
menggunakan metode ilmiah yang dipahaminya.
Strategi pembelajaran dalam bidang studi IPA dengan menggunakan
metode demonstrasi lebih mementingkan proses daripada hasil belajar. Hasil
pemikasibelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan
persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan
dalam kehidupan jangka panjangnya. Konteks ini siswa harus mengerti apa makna
belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana cara
mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari akan sangat berguna bagi
kehidupannya nanti. Akhirnya mereka akan memposisikan sebagai dirinya sendiri
yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa
yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya untuk mencapainya. Siswa dalam
mencapai upaya tersebut, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan
pembimbing bukan sekedar sebagai pengajar atau pentransfer ilmu pengetahuan
belaka.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, Nampak bahwa hasil belajar
siswa kelas IV SDN 002 Sungai Pinang ini belum optimal. Maka peneliti dan
teman sejawat sebagai patner penelitian, menemukan beberapa faktor tidak
tercapainya tujuan pembelajaran.
- Guru mengajar hanya dengan menggunakan metode ceramah
- Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran
- Siswa terlihat pasif tidak ada muncul pertanyaan
- Guru hanya menggunakan media buku yang terkesan monoton
- Hasil belajar rendah dan target nilai ketuntasan belum tercapai

2. Analisis Masalah
Setelah dianalisis dan didiskusikan dengan teman sejawat diketahui beberapa
penyebab masalah untuk ditinjak lanjutin, antara lain :
6

- Guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang menarik perhatian


siswa
- Guru tidak menyampaikan materi secara menyeluruh dan jelas
- Guru mendominasi kegiatan pembelajaran tanpa memberikan kesempatan
siswa untuk bertanya
- Guru hanya terikat pada penggunaan 1 buku saja
- Guru tidak memberikan penjelasan yang tepat untuk mengejakan soal-
soal latihan berkaitan dengan materi.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin melaksanakan
penelitian tindakan kelas untuk memecahkan permasalahan tersebut. Adapun,
metode yang dapat dimanfaatkan sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa adalah pendekatan atau metode demonstrasi dengan judul penelitian
Peningkatan Hasil Belajar IPA Pokok Bahasan Energi dan Penggunaannya
dengan Metode Demonstrasi Siswa Kelas IV di SDN 002 Sungai Pinang.

B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut : Apakah mengajar dengan metode demonstrasi dapat
meningkatkan hasil belajar IPA pokok bahasan energi dan penggunaannya pada
siswa kelas IV SDN 002 Sungai Pinang?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
IPA pokok bahasan energi dan penggunaannya dengan metode demonstrasi siswa
kelas IV di SDN 002 Sungai Pinang ?
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penulisan yang telah diuraikan di atas, maka peneliti
mengharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai berikut :
1. Bagi Guru :
a. Memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan penelitian
b. Menumbuhkan dan meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan
berbagai tehnik mengajar yang bervariasi.
7

c. Meningkatkan motivasi dan kinerja guru


2. Bagi Siswa :
a. Dapat menjadi pemicu peserta didik untuk mengikuti pelajaran karena
sesuai dengan karakter dan minat peserta didik.
b. Dapat mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam proses kegiatan
belajar mengajar sehingga tercipta suasana belajar yang interaktif dan
menyenangkan.
c. Memberikan suasana pembelajaran yang menggairahkan.
d. Memupuk tanggungjawab individu maupun kelompok.
3. Peneliti, guna:
a. Menambah wawasan tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran
IPA di Sekolah Dasar
b. sebagai referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
4. Bagi Sekolah :
a. Dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam mengambil kebijakan yang
berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar.
b. Dapat meningkatkan prestasi sekolah dengan peningkatan motivasi dan
prestasi belajar siswa yang tinggi.
8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan
tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit
(tersembunyi). Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri dari kegiatan psikis dan
fisis yang saling bekerjasama secara terpadu dan komprehensif integral. Sejalan
dengan itu, belajar dapat dipahami sebagai usaha atau berlatih supaya mendapat
suatu kepandaian. Pengimplementasian belajar adalah kegiatan individu
memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah
bahan belajar.
Suatu program pengajaran seharusnya memungkinkan terciptanya suatu
lingkungan yang memberi peluang untuk berlangsungnya proses belajar yang
efektif. Kegiatan proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang
vital. Belajar mempunyai pengertian yang sangat umum dan luas, dapat dikatakan
bahwa sepanjang hidup seseorang selalu mengalami proses belajar dan belajar
dari pengalaman. Belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai
akibat dari pengalaman dan latihan.
Hilgard (dalam Sanjaya, 2006 : 112) belajar adalah proses perubahan
melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun
dalam lingkungan alamiah.
Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah
proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan
munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya
interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Hamalik (2006 : 27) berpendapat bahwa belajar adalah modifikasi atau
memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar selanjutnya juga dijelaskan
sebagai suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan.
9

Berdasarkan pengertian secara psikologis belajar merupakan suatu


perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar adalah suatu proses
yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.
2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar yang merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si
subjek belajar, ternyata banyak faktor yang memengaruhinya. Faktor yang
berpengaruh itu, secara gars besar dapat dibagi dalam klasfikasi faktor intern (
dari dalam ) diri si subjek belajar dan faktor ekstern ( dari luar ) di si subjek
belajar.
a. Faktor Intern
Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar :
1) Faktor Jasmaniah
Keadaan kondisi fisiologis mencakup kondisi fisik seperti kesehatan
jasmani dan cacat tubuh. Kondisi kesehatan jasmani sangat
berpengaruh dalam aktivitas belajar
2) Faktor Psiklogis
Keadaan kondisi psikologis mencakup seperti kemampuan inteligensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
b. Faktor Ekstern
1) Faktor Keluaga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara
orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, dan
keadaan ekonomi keluarga.
2) Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan
siswa, disiplin siswa, disiplin sekolah, pembelajaran dan waktu
sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung , metode belajar dan tugas
rumah.
10

3. Hasil Belajar
Usman (2001 : 5) berpendapat bahwa belajar dapat diartikan sebagai proses
perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu
dan individu dengan lingkungannya. Mengenai pengertian ini ada kata perubahan
yang berarti bahwa seseorang telah mengalami proses belajar, ia akan mengalami
perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun
aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti
menjadi mengerti, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan.
Kriteria keberhasilan belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri individu yang belajar.
Hamalik (2007 : 30) berpendapat bahwa tingkah laku manusia terdiri dari
sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada setiap
asapek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah pengetahuan, pengertian,
kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau
budi pekerti dan sikap.
Berdasarkan sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik
tujuan kurikuler maupun instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar yang
dikembangkan Benyamin S. Bloom. Secara garis besar Bloom membagi hasil
belajar dalam tiga ranah atau takson yakni : ranah kognitif, ranah afektif dan
psikomotor, sehingga kemudian tiga ranah ini disebut Taksonomi Bloom.

B. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam


1. Pengertian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis, sehingga ilmu pengetahuan alam bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan
IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya
menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan
11

kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah.


Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu
peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam
sekitar.
Ilmu pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan
yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri : objektif,
metodik, sistematis, universal, dan tentatif. Ilmu pengetahuan Alam merupakan
ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan segala isinya.
Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan yang
sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa
kumpulan data hasil observasi dan demonstrasi.
Merujuk pada pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat
ilmu pengetahuan alam meliputi empat unsur utama yaitu :
a. Sikap : rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, mahluk hidup, serta
hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat
dipecahkan melalui prosedur yang benar; bersifat open ended.
b. Proses : prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah
meliputi penyusunan hipotesis, perancangan demonstrasi atau percobaan,
evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.
c. Produk : berupa fakta, prinsip, teori dan hukum.
d. Aplikasi : penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-
hari.
Keempat unsur itu merupakan ciri ilmu pengetahuan alam yang utuh dan
sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Proses pembelajaran keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga
peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami
fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru
cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru. Kecenderungan
pembelajaran IPA pada masa kini adalah peserta didik hanya mempelajarinya
sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah
12

oleh pembelajaran yang berorientasi pada tes/ujian. Akibatnya ilmu pengetahuan


alam sebagai proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran.
Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak untuh dan tidak
berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran
lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk
dan peserta didik menghafal informasi faktual. Peserta didik hanya mempelajari
ilmu pengetahuan alam pada domain kognitif yang terendah. Peserta didik tidak
dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan
menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang cenderung menjadi malas berfikir
secara mandiri. Cara berfikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum
menyentuh domain afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh
para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah
peserta didik per kelas yang terlalu banyak.
Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan alam dan
teknologi dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi
informasi dan komunikasi. Kenyataannya, diperlukan cara pembelajaran yang
dapat menyiapkan peserta didik untuk melek ilmu pengetahuan alam dan
teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara
benar. Faktanya, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai
matapelajaran IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta didik
karena mereka tidak berminat menjadi ilmuwan atau ahli teknologi. Namun
demikian, mereka tetap berharap agar pembelajaran IPA di sekolah dapat
disajikan secara menarik, efisien, dan efektif.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dicapai peserta didik
yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, mahluk hidup dan proses kehidupan,
materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta.
Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh sekolah, disesuaikan
dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan belajar yang ada di
sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih aktif, kreatif, dan melakukan
inovasi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan isi kurikulum.
13

Melalui pembelajaran IPA terpadu, diharapkan peserta didik dapat


membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerjasama dalam
kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah.
2. Hakikat pembelajaan Ilmu Pengetahuan Alam
Trianto ( 2011 : 137 ) pada hakikatnya Ilmu Pengetahuan Alam dibangun
atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Ilmu Pengetahuan Alam
dpandang pula sebagai proses, sebagai produk, dan sebagai prosedur. Ilmu
Pengetahuan Alam sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk
menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupn untuk menemukan
pengetahuan baru. Ilmu Pengetahuan Alam sebagai poduk diartikan sebagai hasil
proses berupa pengetahuan alam diajarkan dalam sekolah atau di luar sekolah
maupun bahan bacaan untuk penyebaran atau disiminasi pengetahuan. Ilmu
Pengetahuan Alam sebagai prosedur dimaksudkan adalah metodologi atau cara
yang dipakai untuk mengetahui sesuatu (riset pada umumnya) yang lazim disebut
metode ilmiah.
Sutarno ( 2003 : 2 ) Secara khusus fungsi dan tujuan Ilmu Pengetahuan
Alam berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut :
a. Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b. Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah
c. Mempersiapkan siswa menjadi warga Negara yang melek sains dan
teknologi.
d. Menguasai konsep sains untuk bekal hidup masyarakat dan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Berdasarkan fungsi dan tujuan tersebut kiranya semakin jelas bahwa hakikat
Ilmu Pengetahuan Alam semata-mata tidaklah pada dimensi pengetahuan (
keilmuan), tetapi Ilmu Pengetahuan Alam lebih menekankan pada dimensi
nilai ukhrawi, dimana dengan memperhatikan keteraturan di alam semesta
akan semakin meningkatkan keyakinan akan adanya sebuah kekuatan yang
Maha dahsyat yang tidak dapat dibantah lagi yaitu Allah SWT.
14

3. Karakteristik Matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam


Ilmu pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh
melalui pengumpulan data dengan demonstrasi, pengamatan, dan deduksi untuk
menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Ada
tiga kemampuan dalam IPA yaitu : (a) kemampuan untuk mengetahui apa yang
diamati, (b) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati dan
kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen, (c) dikembangkannya
sikap ilmiah. Kegiatan pembelajaran ini mencakup pengembangan kemampuan
dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban,
menyempurnakan jawaban tentang apa, mengapa dan bagaimana tentang gejala
alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan
diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Kegiatan tersebut dikenal dengan
kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah. Metode ilmiah dalam
mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei
dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa,
memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan demonstrasi untuk menguji
prediksi dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang diorganisasikan
dari hipotesis, prediksi dan demonstrasi.
Pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya : (a) memberikan pengalaman pada
peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran
fisis, (b) menanamkan peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam
menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari
pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara
ilmiah, (c) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar
matematika, yaitu sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata
yang berkaitan dengan peristiwa alam, (d) memperkenalkan dunia teknologi
melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-alat
sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam
menjawab berbagai masalah.
15

4. Tujuan Pembelajaran IPA Terpadu


Tujuan pembelajaran IPA terpadu adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
Pembelajaran ilmu pengetahuan alam hendaknya disajikan dalam bentuk yang
utuh dan tidak parsial. Pembelajaran yang disajikan terpisah-pisah dalam
fisika, biologi, kimia dan bumi-alam semesta memungkinkan adanya tumpang
tindih dan pengulangan, sehingga membutuhkan waktu dan energi yang lebih
banyak, serta membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang
tindih dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih
efisien dan efektif.
b. Meningkatkan minat dan motivasi
Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan
situasi pembelajaran yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai
dengan harapan dan kemampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta
didik. Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan tema yang disampaikan. Pembelajaran
IPA terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk
mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan
antara konsep pengetahuan dan nilai atau tindakan yang termuat dalam tema
tersebut. Peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar bila mereka
merasa bahwa pembelajaran itu bermakna baginya, dan bila mereka berhasil
menerapkan apa yang telah dipelajarinya.
c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga dan sarana,
serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan
sekaligus. Pembelajaran terpadu juga menyederhanakan langkah-langkah
pembelajaran, hal ini terjadi karena adanya proses pemaduan dan penyatuan
sejumlah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran
yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan.
16

C. Energi dan Penggunaannya


1. Energi Panas
i. Sumber energi panas
Semua yang dapat menghasilkan panas disebut sumber energi panas. Lilin
yang menyala menghasilkan panas. Api unggun menghasilkan panas.
Gesekan antara dua benda dapat menghasilkan panas. Ini berarti bahwa
lilin yang menyala, api unggun, dan gesekan antara dua benda merupakan
sumber energi panas. Sumber energi panas terbesar adalah matahari. Bumi
kita menjadi hangat karena adanya panas matahari yang setiap hari
memancar ke bumi. Kita dapat mengeringkan pakaian dengan
memanfaatkan energi panas matahari. Panas matahari juga dimanfaatkan
untuk mengeringkan bahan makanan, seperti pembuatan ikan asin,
kerupuk, dan garam.
ii. Perpindahan panas
Panas dapat berpindah dari sumbernya ke tempat lain. Akibatnya, benda
yang semula panas dapat menjadi dingin. Panas dari matahari berpindah ke
bumi sehingga permukaan bumi menjadi hangat. Matahari adalah sumber
energi panas terbesar bagi bumi. Walaupun sebagian panasnya telah
berpindah ke tempat lain, misalnya ke bumi, matahari tidak menjadi
dingin. Air panas juga merupakan sumber energi panas. Panas yang
dikandungnya tentu dapat berpindah. Akan tetapi, air panas tidak dapat
menghasilkan panas yang baru. Jadi, karena ada panas yang keluar, air
yang semula panas dapat berubah menjadi dingin. Panas itu berpindah ke
udara luar yang lebih dingin. Perpindahan panas dapat dicegah. Salah
satunya dengan cara memasukkan air panas ke dalam termos.
2. Energi Bunyi
a. Sumber energi bunyi
Kita dapat mendengar bunyi dari alat musik. Alat musik akan
mengeluarkan bunyi jika dimainkan. Dalam keadaan diam, alat musik
tidak mengeluarkan bunyi. Bunyi dihasilkan oleh getaran. Semua getaran
benda yang dapat menghasilkan bunyi disebut sumber bunyi. Contoh
17

bunyi gong yang dipukul dan bunyi seruling yang ditiup. Banyak getaran
yang terjadi dalam satu detik disebut kekerapan atau frekuensi. Satu
getaran per detik disebut satu hertz yang dilambangkan dengan Hz. Bunyi
yang frekuensinya teratur disebut nada. Bunyi yang frekuensinya tidak
teratur disebut desah. Bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia
adalah bunyi yang jumlah getarannya berkisar 20 sampai 20.000 Hz.
Bunyi yang jumlah getarannya 20 20.000 Hz disebut audiosonik. Bunyi
yang getarannya kurang dari 20 Hz disebut infrasonik. Bunyi infrasonik
hanya dapat didengar oleh hewan tertentu, misalnya jangkrik. Adapun
bunyi yang jumlah getarannya lebih dari 20.000 Hz disebut ultrasonik.
Bunyi ultrasonik hanya dapat didengar oleh hewan tertentu, misalnya
lumba-lumba dan kelelawar.
b. Perambatan bunyi
Bunyi dapat merambat dari sumber bunyi ke tempat lain melalui media.
Media perambatan bunyi adalah benda gas, benda cair dan benda padat.
c. Pemantulan dan penyerapan bunyi
Sifat bunyi adalah dapat dipantulkan dan diserap. Bunyi dapat memantul.
Pemantulan bunyi terjadi apabila bunyi tersebut dalam perambatannya
dihalangi oleh benda yang permukaannya keras. Benda keras tersebut
dapat berupa batu, kayu, besi, seng, kaca dan sebagainya. Beberapa
peristiwa pemantulan bunyi :
i. Bunyi pantul yang memperkeras bunyi asli
Jika jarak antara sumber bunyi dan dinding pemantul dekat, maka
bunyi pantul terdengar hampir bersamaan dengan bunyi asli sehingga
akan memperkeras suara asli. Misalnya, jika kita berbicara di dalam
kamar kosong yang tertutup, maka bunyi yang kita keluarkan akan
mengenai dinding-dinding kamar. Bunyi itu dipantulkan sehingga
suara yang terdengar menjadi lebih kuat.
18

ii. Gaung atau kerdam


Dinding pemantul pada jarak yang lebih jauh dari sumber bunyi
menyebabkan hanya sebagian bunyi pantul tiba bersamaan dengan
bunyi asli. Akibatnya, bunyi pantul mengganggu bunyi asli sehingga
suara yang terdengar tidak jelas. Bunyi pantul yang hanya sebagian
tiba bersama dengan bunyi asli sehingga bunyi asli menjadi tidak jelas
disebut gaung atau kerdam.
iii. Gema
Bunyi pantul yang terdengar lengkap sesudah bunyi asli disebut gema.
Gema sering terjadi di gua-gua, lembah-lembah, dan bukit-bukit yang
jaraknya jauh dan permukaannya keras dan rapat.
Selain dapat dipantulkan, bunyi juga dapat diserap. Benda-benda yang
dapat menyerap bunyi adalah benda yang permukaannya lunak. Benda
yang demikian disebut peredam bunyi, misalnya karet, karpet, goni, kertas,
kain, busa, spon, dan wol. Benda-benda tersebut dapat digunakan untuk
menghindari terjadinya gaung atau kerdam. Dinding dan langit-langit
gedung pertemuan, gedung bioskop, dan studio rekaman dilapisi dengan
bahan-bahan tersebut supaya tidak terjadi gaung atau kerdam.
3. Energi Alternatif
I. Berbagai sumber energi alternatif
Energi alternatif antara lain dapat diperoleh dari :
i. Matahari
Matahari merupakan sumber energi terbesar bagi bumi. Energi yang
diberikan matahari berupa energi panas dan energi cahaya. Energi
panas dan energi cahaya matahari dapat langsung kita gunakan. Energi
matahari dapat pula diubah dulu menjadi energi listrik, baru kemudian
dipakai untuk menjalankan berbagai peralatan sehari-hari. Energi
cahaya matahari dapat juga diubah dulu menjadi listrik. Cahaya
matahari diubah dulu menjadi listrik oleh alat yang disebut sel surya.
Sel surya dibuat dari lembaran silikon tipis. Bagian atas lembaran itu
dibuat dari silikon yang sedikit berbeda dengan bagian bawah
19

lembaran. Saat cahaya matahari jatuh mengenainya, terjadi arus listrik


yang mengalir lewat kawat yang menghubungkan bagian atas dengan
bagian bawah. Saat ini, sel surya mulai dicoba untuk menggerakkan
mobil dan pesawat terbang bertenaga matahari. Energi panas matahari
dapat dimanfaatkan langsung, misalnya sebagai pemanas air di rumah.
Panas matahari dikumpulkan dalam suatu alat yang disebut panel
surya.
ii. Angin
Tenaga angin sudah dimanfaatkan orang sejak zaman dulu. Kapal layar
dapat berkeliling dunia dengan hanya mengggunakan energi angin.
Tenaga angin juga digunakan untuk menjalankan mesin penggiling
jagung dan pompa air. Kincir angin tradisional juga masih dapat
ditemui di Negeri Belanda. Saat ini, angin dimanfaatkan untuk
menghasilkan listrik. Alat yang menghasilkan listrik dari tenaga angin
disebut juga aerogenerator. Generator pada umumnya berbentuk
menara. Pada puncak menara dipasang kincir atau baling-baling.
Baling-baling berputar saat diterpa aingin. Perputaran baling-baling
inilah yang menyebabkan generator menghasilkan listrik.
iii. Air
Aliran air dapat digunakan sebagai sumber energi. Aliran air yang
sangat deras merupakan sumber energi gerak. Energi gerak ini dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.
iv. Panas Bumi
Air yang mengalir ke dalam tanah akan kembali ke permukaan sebagai
uap air yang memancar. Air panas ini disebut juga geyser. Tenaga
panas bumi digunakan untuk menghasilkan listrik.
II. Keuntungan penggunaan energi alternatif
Sumber energi dari bahan fosil memiliki keuntungan sebagai berikut :
i. Tidak dibutuhkan biaya terlalu besar untuk mendapatkannya.
ii. Penggunaan bahan bakar fosil lebih mudah.
Kerugian penggunaan bahan bakar fosil antara lain :
20

a. Lama kelamaan, bahan bakar fosil akan habis jika digunakan terus
menerus.
b. Bahan bakar fosil dapat mencemari lingkungan karena adanya gas
racun sisa pembakaran, misalnya karbon monoksida.
Sumber energi alternatif memiliki keuntungan sebagai berikut :
Sumber energi alternatif dapat terus digunakan karena tidak akan habis.
1) Energi yang dihasilkan oleh sumber energi alternatif sangat besar.
2) Energi alternatif tidak mencemari lingkungan karena tidak
menghasilkan zat-zat buangan ke lingkungan.
Kesulitan dalam pemanfaatan energi alternatif antara lain :
a. Dibutuhkan biaya yang besar untuk dapat memanfaatkan energi
alternatif.
b. Dibutuhkan teknologi tinggi untuk mengubah energi alternatif menjadi
bentuk energi yang dapat digunakan.
c. Tersedianya energi alternatif dipengaruhi oleh musim.
D. Metode Demonstrasi
1. Pengertian Metode Demonsrasi
Wina Sanjaya (2008 : 127)berpendapat bahwa metode adalah cara yang
dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Kegiatan belajar mengajar dalam
prosesnya, guru memerlukan metode yang dalam penggunaannya harus bervariasi
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Kegiatan
belajar mengajar di dalamnya, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu
metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya
pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Namun
penggunaan metode yang bervariasi tidak menguntungkan kegiatan belajar
mengajar bila penggunaannya tidak tepat dan tidak didukung oleh situasi serta
kondisi psikologis anak didik.
Wina Sanjaya (2008 : 152) metode demonstrasi adalah metode penyajian
pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang
suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar
tiruan. Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana
21

dibandingkan dengan metode-metode mengajar lainnya. Saiful Sagala (2007:210)


mendefinisikan metode demonstrasi adalah pertunjukkan tentang proses terjadinya
suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang
dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata
atau tiruannya. Metode ini adalah yang paling pertama digunakan oleh manusia
yakni tatkala manusia purba menambah kayu untuk memperbesar nyala api
unggun, sementara anak-anak mereka memperhatikan dan menirunya. Penerapan
metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan
mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan
2. Kelebihan Metode Demonstrasi
Tujuan pengajaran menggunakan metode demonstrasi adalah untuk
memperlihatkan proses terjadinya suatu peristiwa sesuai materi ajar, cara
penyampaiannya, dan kemudahan untuk dipahami oleh siswa dalam pengajaran.
Syaiful Sagala (2007 : 211) metode demonstrasi memiliki kelebihan antara
lain :
a. Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh
guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
b. Dapat membimbing peserta didik ke arah berpikir yang sama dalam satu
saluran pikiran yang sama.
c. Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang
panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek.
d. Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya
membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang
jelas dari hasil pengamatannya.
e. Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan
keterangan-keterangan yang banyak.
f. Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan dapat
diperjelas waktu proses demonstrasi.
22

3. Kelemahan Metode Demonstrasi


Syaiful Sagala (2007:212) metode demonstrasi mempunyai beberapa
kelemahan antara lain :
1) Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau
mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, kadang-
kadang terjadi perubahan yang tidak terkontrol.
2) Untuk mengadakan demonstrasi diperlukan alat-alat yang khusus. Kadang-
kadang alat itu sukar didapat.
3) Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan
diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan oleh muri-
murid.
4) Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas.
5) Memerlukan banyak waktu, sedangkan hasilnya kadang-kadang sangat
minimum.
6) Kadang-kadang proses yang didemonstrasikan di dalam kelas akan berbeda
jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata/sebenarnya.
7) Agar didemonstrasikan mendapat hasil yang baik diperlukan ketelitian dan
kesabaran.
4. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Demonstrasi
Syaiful Sagala (2007:212) ada berbagai cara yang dapat dilakukan
mengatasi kelemahan-kelemahan metode demonstrasi yaitu :
i. Tentukan terlebih dahulu hasil yang ingin dicapai dalam jam pertemuan itu.
ii. Guru mengarahkan demonstrasi itu sedemikian rupa sehingga murid-murid
memperoleh pengertian dan gambaran yang benar, pembentukan sikap dan
kecakapan praktis.
iii. Pilih dan kumpulkan alat-alat demonstrasi yang akan dilaksanakan.
iv. Usahakan agar seluruh murid dapat mengikuti pelaksanaan demonstrasi itu
sehingga memperoleh pengertian dan pemahaman yang sama.
v. Berikan pengertian yang sejelas-jelasnya tentang landasan teori dari yang
didemonstrasikan.
23

vi. Sedapat mungkin bahan pelajaran yang didemonstrasikan adalah hal-hal


bersifat praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
vii. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan
dilaksanakan.

5. Langkah-langkah Menggunakan Metode Demonstrasi


Wina Sanjaya (2008 : 153-154) langkah-langkah metode demonstrasi
meliputi :
a. Tahap Persiapan
1) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses
demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek
pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu.
2) Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
Garis-garis besar langkah demonstrasi diperlukan sebagai panduan untuk
menghidari kegagalan.
3) Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang
diperlukan
b. Tahap Pelaksanaan
I. Langkah Pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
diantaranya :
Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat
memerhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa,
misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap
penting dari pelaksanaan demonstrasi.
II. Langkah Pelaksanaan demonstrasi
Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang
siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang
24

mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik


memerhatikan demonstrasi.
Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana
yang menegangkan.
Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan
memerhatikan reaksi seluruh siswa.
Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan
lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
c. Langkah mengakhiri demonstrasi.
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu
diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan
pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Proses
tersebut diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses
demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya
guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi
itu untuk perbaikan selanjutnya.
25

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian, Pihak yang membantu

1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 002 Kecamatan Sungai

Pinang. Jumlah Murid kelas IV adalah 28 Siswa, terdiri dari 13 Laki-laki

dan 15 siswa perempuan dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.

Pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) dengan materi energi

dan penggunaanya.

2. Tempat Penelitian

Tempat penelitian ini dilaksanakan di SDN 002 Kecamatan Sungai

Pinang Kota Samarinda.

3. Waktu Penelitian

Pra siklus pada tanggal : Kamis, 6 April 2017

Siklus I pada tanggal : Kamis 13 April 2017

Siklus II pada tanggal : Kamis 20 April 2017

4. Pihak yang Membantu

Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif, dimana penulis berlaku sebagai

peneliti melakukan tindakan dan teman sejawat atau Kepala Sekolah

bertindak sebagai supervisor 2.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


26

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian

tindakan kelas dapat memperbaiki minat dan hasil pembelajaran IPA tentang

pokok bahasan Energi dan Penggunaannya dengan menggunakan metode

demonstrasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan

belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam

sebuah kelas secara bersama (Suharsimi, A 2008 : 3). Menurut IGK Wardhani,

dkk (2007 : 14) menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah

penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri

dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa

meningkat.

Penelitian ini menggunakan pola penelitian tindakan kelas, penelitian

direncanakan dua siklus. Siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan,

pelaksanaan, observasi dan refleksi.untuk lebih jelasnya pelaksanaan siklus

tersebut adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1. Tahap-Tahap Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Perencanaan

SIKLUS I Pelaksanaan
Refleksi
27

Gambaran umum mengenai langkah-langkah dalam penelitian ini adalah:

a. Kegiatan penelitian terbagi menjadi tiga tahapan yaitu : prasiklus, siklus I dan

siklus II.

b. Pada kegiatan Prasiklus peneliti memberikan materi energi dan penggunaannya

hanya dengan menggunakan metode sederhana yaitu metode ceramah, metode

diskusi dan penugasan.

c. Setelah selesai pemberian materi, peneliti memberikan tes dalam bentuk tanya

jawab dan tertulis kepada siswa sebagai alat ukur pertama sebelum tindakan

perbaikan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman

siswa terhadap materi yang diajarkan.

d. Pada kegiatan siklus I dan siklus II, peneliti memberikan materi energi dan

penggunaannya melalui metode demonstrasi dengan kegiatan yang bervariasi.


28

e. Pada akhir pertemuan di siklus I, peneliti kembali memberikan tes berupa tanya

jawab dan soal tertulis untuk mengetahui sejauh mana tindakan yang dilakukan

dapat memberikan pemahaman bagi siswa.

f. Peneliti memeriksa seluruh hasil tes dari kegiatan prasiklus, siklus I dan siklus

II.

g. Peneliti mengkalkulasikan nilai yang diperoleh siswa secara kuantitatif dan

kualitatif sebagai data penelitian.

Pembelajaran IPA kelas IV di SDN Sungai Pinang di desain menggunakan

metode demonstrasi dan tahapan penelitian tindakan kelas ini meliputi:

1. SIKLUS I

Siklus I secara terperinci akan dipaparkan sebagai berikut:

a. Perencanaan

- Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

mendiskripsikan terjadinya energi dan penggunaannya yang menggunakan metode

demontrasi sehingga kegiatan pembelajaran tidak membosankan dan membuat

siswa lebih tertarik dengan pembelajaran.

- Penyusunan dan persiapan soal tes sebagai alat untuk mengukur hasil

belajar siswa.

- Penyusunan dan persiapan lembar observasi kegiatan proses belajar

mengajar di kelas IV.

b. Pelaksanaan Tindakan (Action)


29

Ditahap pelaksanan tindakan, peneliti melakukan rencana kegiatan

belajar mengajar dengan menggunakan metode demonstrasi seperti yang tertuang

dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tindakan ini bersifat terbuka

sesuai dengan kejadian yang terjadi dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Siklus I hal-hal yang diamati adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas dan partisipasi siswa selama pelajaran berlangsung.

2. Kemampuan siswa dalam menjawab tes formatif I.

c. Refleksi

Peneliti melakukan refleksi dalam proses pembelajaran dalam siklus I dan

akan dijadikan dasar untuk merancang pada proses pembelajaran siklus II.

2. SIKLUS II

a. Perencanaaan

Peneliti membuat perencanaan berdasarkan hasil refleksi pada siklus.

b. Pelaksanaan Tindakan(Action)

Pada tahap pembelajaran tetap menggunakan metode demonstrasi pada

materi energi dan penggunaannya berdasarkan refleksi pada siklus I.

c. Tahap Pengamatan

Peneliti melakukan pengamatan yang lebih terhadap partisipasi siswa dalam

pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I.

d. Refleksi
30

Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran dan hasil

pengamatan pada siklus II.

C. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari lembar observasi dan hasil belajar IPA

siswa, kemudian disusun, dijelaskan dan akhirnya dianalisis dengan cara

menjelaskan menggunakan metode demonstrasi materi energi dan

penggunaannya dengan menyajikan dalam bentuk presentasi untuk setiap

putaran. Secara analisis data dilakukan dalam tahap-tahap berikut yaitu:

1. Penyajian Data

Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang

memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan

tindakan. (Milles&Huberman,1997)

Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil dipaparkan

secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif yaitu dijelaskan dan

disajikan dalam bentuk tabel dan kalimat sederhana. Analisis data

kuantitatif menggunakan statistik deskriptif (presentase).

2. Persentase

Persentase digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil

belajar dari nilai dasar ke siklus I ke siklus II, dengan menggunakan

rumus: (Sudjana,2002)
a
Persentase = x 100%
b
31

Keterangan : a = jumlah siswa yang tuntas

b=jumlah siswa seluruhnya

Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa, peneliti dapat melakukan

analisis data berupa nilai tugas kelompok dan nilai tes pada setiap siklus dengan

menggunakan rumus:

NK = t_g_ _+_2_UH

Keterangan :

NK = Nilai hasil belajar siswa dalam tiap siklus

UH = Nilai tes siswa setiap siklus

Tg = Nilai tugas (lembar kerja) (sumber:Depdiknas,2005)

3. Grafik

Grafik digunakan untuk memvisualisakan peningkatan hasil belajar

dalam pembelajaran IPA dalam menggunakan metode demonstrasi materi

energi dan penggunaannya pada setiap siklus.

4. Dokumentasi

Pengumpulan dokumentasi digunakan dalam proses kegiatan

pembelajaran sebagai bukti kegiatan siswa telah dilaksanakan


32

C. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas mencakup :

1. Perencanaan

Perencanaan tindakan adalah persiapan yang dilakukan sehubungan

dengan penelitian tindakan kelas seperti :

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada pokok bahasan

energi dan penggunaannya.

b. Membuat skenario pembelajaran.

c. Membuat lembar observasi untuk mengetahui bagaimana hasil pembelajaran

di rumah ketika metode eksperimen dilaksanakan.

d. Membuat alat evaluasi

2. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap pelaksanaan tindakan adalah

melaksanakan skenario pengajaran yang telah direncanakan pada lampiran I.

Kegiatan pembelajaran ini guru dibantu oleh teman sejawat untuk

mengamati jalannya proses belajar mengajar. Adapun pelaksanaannya adalah

sebagai berikut :

I. Kegiatan awal

1). Guru menanyakan tentang energi dan penggunaannya.

II. Kegiatan inti

a). Guru memberi penjelasan tentang energi dan penggunaannya.


33

b). Guru mendemonstrasikan tentang tentang energi dan penggunaannya yang

meliputi energi panas dan energi bunyi.

c). Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok

d) Setiap kelompok mengerjakan tugasnya masing-masing

e) Guru dan siswa membahas hasil tugas kelompok.

f) Guru menyimpulkan hasil belajar

III. Kegiatan Akhir

1) Guru memberikan soal evaluasi

2) Guru dan siswa membahas soal evaluasi

3) Guru memberikan tugas pekerjaan rumah.

4) Guru memberikan motivasi belajar kepada siswa

3. Observasi

Observasi tindakan di kelas berfungsi mendokumentasikan pengaruh

tindakan beserta prosesnya. Pada tahap observasi peneliti bersama guru

mengobservasi tindakan yang sedang dilaksanakan dengan tehnik observasi

partisipatif di lapangan serta analisis dokumen. Catatan lapangan untuk

mengobservasi guru, siswa dan kelas. Sedangkan analisa dokumen digunakan

untuk mengobservasi hasil belajar siswa dari hasil tes.

4. Refleksi

Tahap refleksi, peneliti bersama guru kelas mendiskusikan hasil tindakan

pada setiap siklus, apabila masih belum memenuhi target maka sebagai bahan

pertimbangan dan perbaikan pada siklus selanjutnya.

D. Data dan Sumber Data


34

1. Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari interaksi siswa dan guru selama

proses pembelajaran berlangsung. Data yang diperoleh berupa hasil observasi atau

pengamatan dan tes hasil belajar.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 002 Sungai

Pinang dengan jumlah siswa 28 orang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 15 siswa

perempuan. Sedangkan pendidik akan mejadi informan dalam rangka melengkapi

data yang didapat dari sumber data. Adapun hasil pengamatan di lapangan antara

lain dokumentasi dan catatan kecil yang dikumpulkan dari informan/responden.

E. Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data merupakan suatu proses atau cara yang

dilakukan peneliti untuk memperoleh data di lapangan. Yang dimaksud dengan

prosedur pengumpulan data adalah suatu tehnik yang menjelaskan bagaimana

penelitian melahirkan cara dalam pengumpulan data.

Adapun tehnik yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut :

1. Metode Observasi

Observasi adalah pengamatan secara langsung yang dilakukan peneliti

dalam memperoleh data di lapangan pada saat penelitian berlangsung. Menurut

Sutrisno Hadi (1993 : 136) metode observasi bisa diartikan sebagai pengamatan

dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselediki. Secara

umum observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang


35

dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi metode observasi

berarti peneliti mengamati secara langsung objek yang akan diteliti, agar

pelaksanaan observasi itu dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Sesuai dengan rancangan dan model penelitian maka kegiatan observasi

meliputi :

a. Tahap perencanaan diawali dengan permintaan ijin dan penyampaian ide

kepada kepala sekolah, kemudian dilakukan observasi dengan guru kelas

untuk mendapatkan gambaran awal tentang pembelajaran dengan metode

demonstrasi.

b. Siklus I observasi dilakukan untuk memantau pelaksanaan skenario

pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Dengan mengutamakan perhatian

pada siswa agar aktif mengamati kegiatan demonstrasinya..

c. Ketuntasan hasil belajar pada siklus I masih belum tercapai, maka dilanjutkan

pada siklus II. Siklus II dilaksanakan masih menggunakan metode yang sama

namun harus menutupi kelemahan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Observasi dilakukan selama proses pembelajaran di dalam kelas dengan

memperhatikan aktivitas dan kreativitas siswa mengerjakan kegiatan

demonstrasinya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus I yang

telah dilaksanakan, sehingga ketuntasan belajar siswa dapat tercapai.

2. Tes hasil belajar

Mengukur hasil belajar digunakan tes tertulis berbentuk uraian untuk

siklus I dan mengerjakan kegiatan demonstrasinya di kelas sebagai tes awal. Tes

akhir dilaksanakan pada siklus II mengerjakan kegiatan eksperimennya di kelas


36

juga. Soal tes dibuat oleh guru dan peneliti dengan materi yang sesuai dengan

pokok bahasan energi dan penggunaannya yang dikerjakan dalam metode

demonstrasi.

3. Metode Wawancara

Bentuk wawancara yang dilakukan adalah terbuka dan tidak terstruktur.

Peneliti melakukan wawancara secara lansung kepada nara sumber yang telah

terpilih, diseleksi dan dihubungi sebelumnya. Dalam proses wawancara ini

peneliti menggunakan pedoman yang hanya memuat garis-garis besar pertanyaan

sesuai dengan rumusan masalah yang hendak dibahas.

Dalam wawancara ini informan terdiri dari orang-orang yang terpilih untuk

memperoleh data yang dikehendaki. Wawancara ini dilakukan dengan guru,

kepala sekolah, dan siswa yang terlibat langsung dalam proses kegiatan belajar

mengajar di kelas IV SDN 002 Sungai Pinang.

4. Metode dokumentasi

Metode dokumentasi ialah mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

lengger, agenda dan sebagainya ( Arikunto, S. 2000 : 236 ). Adapun dokumentasi

yang diperoleh dalam penelitian ini adalah catatan, buku, surat kabar, internet, dan

majalah. Winarno Soerahmad, memaparkan bahwa dokumentasi sebagai laporan

tertulis dari suatu peristiwa, yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran

terhadap peristiwa itu dan tertulis secara sengaja untuk menyimpan dan

meneruskan mengenai keterangan tersebut ( Soerahmad, 1982 : 134 ).


37

Metode ini merupakan upaya untuk menyimpulkan data yang mencatat

segala informasi yang dibutuhkan melalui data tertulis yang merupakan dokumen

dari Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Umum Samarinda, Perpustakaan Unmul,

Internet, dan eksplorasi bahan pada koleksi instansi-instansi yang terkait dengan

topik penelitian ini seperti Dinas Pendidikan Samarinda.

G. Tehnik Analisis Data

1. Rata - rata

Daryanto ( 2011 : 191 ) menyatakan bahwa untuk mengetahui

peningkatan hasil belajar dengan menggunakan rata-rata skor hasil belajar dengan

menggunakan rata-rata skor hasil belajar masing-masing siklus menggunakan

rumus :

Keterangan :

: Nilai rata-rata nilai hasil belajar siswa pada setiap siklus.

: Jumlah skor seluruh siswa.

: Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa menggunakan rumus berikut :

Keterangan :

: Nilai hasil belajar siswa dalam setiap siklus

: Nilai tes akhir


38

: Nilai tugas

2. Persentasi

Daryanto ( 2011 : 192 ) menyatakan bahawa persentase digunakan untuk

mengetahui ketuntasan hasil belajar siswa setiap siklus yang diitung dengan

menggunakan rumus :

Kriteria yang digunakan sebagai pedoman untuk tidak melanjutkan pada

siklus berikutnya adalah apabila sudah mencapai 80 % atau lebih siswa di kelas

subyek mendapat skor lebih atau sama dengan 60.

Sudjana (2004 : 86) indikator untuk mengukur peningkatan hasil belajar

siswa digunakan panduan sebagai berikut :

Tabel 1. Acuan Penilaian Hasil Belajar

Nilai Huruf
Rata-rata Nilai Kriteria
(90-100) Sangat Baik A
(80-89) Baik B
(70-79) Cukup C
(60-69) Kurang D
Kurang dari 60 (gagal) E
39

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hsil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


1. Uraian Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Sebelum penelitian melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul
Peningkatan Hasil Belajar IPA pokok Bahasan Energi dan Penggunaanya.
Peneliti melakukan penelitian Prasiklus agar mengetahui sejauh mana
peningkatan hasil belajar siswa sebelum menggunakan metode
demostrasi.berikut ini tabel hasil belajar siswa pada prasiklus.
Tabel 4.1
Hasil Tes Formatif Siswa Pada Prasiklus
NO NAMA NILAI KETERANGAN

1 Alfredo Raja P S 60 Tidak Tuntas

2 Anni Tri Ivane 75 Tuntas

3 Aulia Putri Cantika 40 Tidak Tuntas

4 Bhayu Satria Sugara 75 Tuntas

5 Cristy Paskalia Tandi 50 Tidak Tuntas

6 Dwi Patmawati 80 Tuntas

7 Dyan Fariska A P 55 Tidak Tuntas

8 Fitriah Ramadhana 80 Tuntas

9 Gratia Natsya EA 40 Tidak Tuntas

10 Jessica Cindy Claudia 50 Tidak Tuntas

11 Marcello Putra 80 Tuntas


40

12 Mario Haliem 85 Tuntas

13 Misael Matana 55 Tidak Tuntas

14 Muhammad Arianda R 55 Tidak Tuntas

15 M. Rizky Ramadhani 55 Tidak Tuntas

16 Nola Zepaya 50 Tidak Tuntas

17 Rafli Nur 85 Tuntas

18 Rizki Ardah Putra 85 Tuntas

19 Rosi Maulana H 60 Tidak Tuntas

20 Salsabila 60 Tidak Tuntas

21 Sari Wina Andari 40 Tidak Tuntas

22 Septi Rahmadani 45 Tidak Tuntas

23 Elfiliadel 80 Tuntas

24 M. Tirta Adityas 55 Tidak Tuntas

25 M. Nur Fikri Haris 50 Tidak Tuntas

26 Nur Aufa Amalia 85 Tuntas

27 Nabila Sabrina 75 Tuntas

28 Safa Nabila Putri 50 Tidak Tuntas

Jumlah 1755

Rata-rata 62,67
41

Tabel 4.2
Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Prasiklus
NO NAMA Hasil Prasiklus

1 Nilai rata- rata tes formatif 62,67

2 Jumlah Siswa yang tuntas belajar 11

3 Persentase ketuntasan belajar 39,28 %

4 Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar 17

5 Persentase ketidaktuntasan belajar 60,72%

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil belajar siswa pada saat prasiklus
yaitu 11 siswa yang telah mendapatkan nilai setara atau diatas KKM sehingga
masuk kategori tuntas, namun terdapat 17 siswa yang belum tuntas karena nilai
yang diraih masih dibawah KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Jumlah hasil tes
pada kegiatan prasiklus sejumlah 11 orang yang dikatakan rata-rata 62,67. Jika
dipresentasikan maka siswa sejumlah 11 orang yang dikatakan tuntas adalah
39,28% dan siswa yang masih tidak tuntas adalah 17 siswa dengan persentase
60,72 %. Maka dengan ini peneliti akan melakukan perbaikan pembelajaran
dengan menggunakan media demontrasi.
Persentase ketuntasan pembelajaran siswa
Persentase = siswa yang tuntas belajar x 100%
Siswa
Persentasi = 11 x 100% = 39,28 %
28

Persentase ketidaktuntasan pembelajaran siswa


Persentase = siswa yang tuntas belajar x 100%
Siswa
Persentasi = 17 x 100% = 60,72 %
42

28

Sudjana (2004 :86).

1. Deskripsi Hasil Penelitian Pembelajaran Siklus I


Tahapan tahapan setiap siklus pembelajaran yaitu :
1. Siklus I ( Kamis 13 April 2017)
a. Tahap Perencanaan tindakan
Peneliti bersama guru matapelajaran mempersiapkan rencana kegiatan
yang akan dilaksanakan.
1) Mempersiapkan skenario tindakan pembelajaran metode demonstrasi dengan
pokok bahasan energi dan penggunaanya.
2) Mempersiapkan alat tes awal
3) Mempersiapkan alat tes siklus 1
4) Mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui bagaimana hasil
pembelajaran.
5) Mempersiapkan alat-alat pelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan tindakan
Pertemuan dilaksanakan pada hari : Kamis, 13 April 2017 dengan
alokasi waktu setiap 1 kali pertemuan 2 x 35 menit dengan indikator:
i. Menjelaskan pengertian energi
ii. Menyebutkan macam-macam energi.
iii. Mengetahui benda yang dapat dirambati oleh bunyi.
Kegiatan proses belajar mengajar berlangsung beberapa menit, kemudian
peneliti melanjutkan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Jika
ada yang belum dimengerti dan dipahami materi yang di sampaikan maka siswa
dan peneliti menyimpulkan materi pembelajaran.

c. Tahap Pengamatan
Observasi dilakukan pada tahap pembelajaran berlangsung, observasi
yang dilakukan peneliti, mengisi dan membuat catatan tentang kekurangan dalam
43

pembelajaran yang dilaksanakan. Hasil observasi dari catatan selanjutnya akan


dijadikan sebagai bahan refleksi, seperti kelemahan siswa, yang dicatat kemudian
dijadikan catatan bagi tindakan selanjutnya.
d. Refleksi
Sesuai dengan hasil yang diperoleh selama siklus I dilakukan
pembahasan bersama observer untuk menentukan langkah perbaikan yang akan di
laksanakan pada siklus II, yaitu sebagai berikut :
1) Melakukan beberapa revisi terhadap semua aspek dari RPP yang telah dibuat
agar lebih sesuai dengan materi yang dipelajari dari pencampaian hasil belajar
siswa.
2) Guru perlu meningkatkan penguasaan dalam KBM dan pemberdayaan media
dalam hal ini guru harus menciptakan suasana belajar yang efektif.
3) Melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa yaitu siswa lebih diberi
banyak kesempatan dalam penggunaan media sehingga keaktifan siswa
meningkat.

Tabel 4.3
Hasil Tes Formatif Siswa Pada siklus I
Tuntas/Tidak
No Nama Nilai Keterangan
Tuntas

1 2 3 4 5

1 Alfredo Raja PS 75 Sedang T


2 Anni Tri Ivane 80 Tinggi T
3 Aulia Putri Cantika 60 Sedang T
4 Bhayu satria Sugara 80 Tinggi T
5 Cristy Paskalia Tandi 60 Sedang T
44

6 Dwi Patmawati 85 Tinggi T


7 Dyan Fariska AP 60 Tinggi T
8 Fitriah Ramadhana 100 Tinggi T
9 Gratia Nastsya EA 75 Sedang T
10 Jessica Cindy Claudia 60 Kurang TT
11 Marcello Putra 100 Tinggi T
12 Mario Haliem 100 Tinggi T
13 Misael Matana 60 Sedang T
14 Muhammad Arianda R 80 Tinggi T
15 M.Rizki amadhani 70 Sedang T
16 Nola Zepaya 85 Sedang T
17 Rafli Nur 100 Tinggi T
18 Rizki Ardah Putra 100 Tinggi T
19 Rosi Maulana H 85 Sedang T
20 Salsabila 80 Tinggi T
21 Sari Wina Andari 65 Tinggi T
22 Septi Rahmadani 55 Sedang TT
23 Elfiliadel 95 Tinggi T
24 M.Tirta Adityas 75 Sedang T
25 M.Nur Fikri Haris 75 Tinggi T
26 Nur Aufa Amalia 100 Tinggi T
27 Nabila Sabrina 90 Kurang TT
28 Safa Nabila Putri 75 Tinggi T
Jumlah 2225
Rata-rata 79,46 Sedang
Jumlah siswa yang tuntas 21
Jumlah siswa yang belum tuntas 7
Presentase siswa yang tuntas 75 %
45

2225
Nilai rata-rata diperoleh dari : = = 79,46
28
21
Prestasi ketuntasan : x 100 % = x 100= 75%
28
Sumber data : SDN 002 Sungai Pinang.
Hasil pembelajaran IPA kelas IV SDN 002 Sungai Pinang pokok
bahasan energi dan penggunaanya, siswa secara menyeluruh dinyatakan belum
tuntas, karena masih ada siswa yang belum memahami materi yang diberikan.
Sehingga peneliti perlu mengadakan perbaikan hasil belajar pada pertemuan
berikutnya.

Tabel 4.4
Rekapitulasi Hasil Tes formatif Siswa Pada Siklus I
Jumlah /
No Jenis Data Presentase Keterangan
Skor

1 2 3 4 5
1. Nilai siswa > 70 20 71,43 % Tuntas
2 Nilai siswa 50 69 8 28,57 % Belum tuntas
3 Nilai siswa < 50 0 0% Belum tuntas

Berdasarkan hasil refleksi dan analisis data pada penelitian ini, belum
ada peningkatan hasil belajar dan belum mencapai kriteria ketuntasan yang telah
di tetapkan yaitu 80 %. Hasil pembelajaran IPA kelas IV SDN 002 Sungai Pinang
46

pada siklus 1 mencapai 71,43 %. Peneliti perlu melakukan tindakan selanjutnya


yaitu siklus 2 sebagai upaya peningkatan hasil belajar siswa secara optimal.

2. Deskripsi Hasil Penelitian Pembelajaran Siklus II


2. Siklus II (Kamis, 20 April 2017)
a.Tahapan Perencanaan tindakan
Peneliti bersama guru matapelajaran mempersiapkan rencana kegiatan
yang akan dilaksanakan.

1) Mempersiapkan skenario tindakan pembelajaran metode demonstrasi dengan


pokok bahasan energi dan penggunaanya.
2) Mempersiapkan alat tes awal
3) Mempersiapkan alat tes siklus II
4) Mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui bagaimana hasil
pembelajaran.
5) Mempersiapkan alat-alat pelajaran
.
b.Tahapan Pelaksanaan tindakan
Pertemuan dilaksanakan pada hari : Kamis, 20 April 2017 dengan
alokasi waktu setiap 1 kali pertemuan 2 x 35 menit dengan indikator :
1. Menjelaskan pengertian energi
2. Menyebutkan macam-macam energi.
3. Mengetahui benda yang dapat dirambati oleh bunyi.
Kegiatan proses belajar mengajar berlangsung beberapa menit, kemudian
peneliti melanjutkan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Jika
ada yang belum dimengerti dan dipahami materi yang disampaikan maka siswa
dan peneliti menyimpulkan materi pembelajaran.
c. Observasi
Observasi dilakukan pada tahap pembelajaran berlangsung, observasi
yang di lakukan peneliti, mengisi dan membuat catatan tentang kekurangan dalam
47

pembelajaran yang dilaksanakan. Hasil observasi dari catatan selanjutnya akan


dijadikan sebagai bahan refleksi, seperti kelemahan siswa, yang dicatat kemudian
dijadikan catatan bagi tindakan selanjutnya.
d.Refleksi
Sesuai dengan hasil yang diperoleh selama siklus I dilakukan
pembahasan bersama observer untuk menentukan langkah perbaikan yang akan
dilaksanakan pada siklus II, yaitu sebagai berikut :
a) Melakukan beberapa revisi terhadap semua aspek dari RPP yang telah dibuat
agar lebih sesuai dengan materi yang dipelajari dari pencampaian hasil belajar
siswa.
b) Guru perlu meningkatkan penguasaan dalam KBM dan pemberdayaan media
dalam hal ini guru harus menciptakan suasana belajar yang efektif.
c) Melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa yaitu siswa lebih diberi
banyak kesempatan dalam penggunaan media sehingga keaktifan siswa
meningkat.
a. Analisis data
Hasil refleksi dalam pelaksanaan tindakan kelas pada siklus II, maka
dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran, keaktifan siswa dan
semangat siswa untuk belajar sudah cukup tinggi, sehingga mempengaruhi nilai
belajarnya. Data yang diperoleh hasil belajar IPA kelas IV SDN 002 Sungai
Pinang dapat dilihat tabel di bawah ini.
Tabel 4.5
Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II

Tuntas/Tidak
No Nama Nilai Keterangan
Tuntas

1 2 3 4 5

1 Alfredo Raja PS 75 Sedang T


2 Anni Tri Ivane 85 Tinggi T
3 Aulia Putri Cantika 75 Sedang T
48

4 Bhayu Satia Sugara 80 Tinggi T


5 Crity Paskalia Tandi 75 Sedang T
6 Dwi Patmawati 95 Tinggi T
7 Dyan Farska AP 85 Tinggi T
8 Fitriah Rahmadhaqna 90 Tinggi T
9 Gratia Natsya EA 75 Sedang T
10 Jessica Cindy Claudia 40 Kurang TT
11 Marcello Putra 80 Tinggi T
12 Mario Haliem 80 Tinggi T
13 Misael Matana 75 Sedang T
14 Muhammad Arianda R 85 Tinggi T
15 M.Rizki Ramadhani 75 Sedang T
16 Nola Zepaya 75 Sedang T
17 Rafli Nur 85 Tinggi T
18 Rizki Ardah Putra 80 Tinggi T
19 Rosi Maulana H 75 Sedang T
20 Salsabila 95 Tinggi T
21 Sari Wina Andani 90 Tinggi T
22 Septi Rahmadani 65 Sedang TT
23 Elfiliadel 95 Tinggi T
24 M. Tirta Adityas 75 Sedang T
25 M.Nur Fikri Haris 85 Tinggi T
26 Nur Aufa Amalia 80 Tinggi T
27 Nabila Sabrina 55 Kurang TT
28 Safa Nabila Putri 80 Tinggi T
Jumlah 2205
Rata-rata 78,75 Sedang
Jumlah siswa yang tuntas 25
Jumlah siswa yang belum tuntas 3
Presentase siswa yang tuntas 89,3 %
49

Indeks Prestasi.
2205
Nilai rata-rata diperoleh dari : = = 78,9
28
25
Prestasi ketuntasan : x 100 % = x 100 =
28
89,29 %
Hasil belajar siswa meningkat, hal ini terlihat pada siswa yang mencapai
ketuntasan dalam pembelajaran yaitu mencapai 25 siswa. Sedangkan siswa yang
belum tuntas hanya 3 siswa. Prestasi ketuntasan siswa mencapai 89,29 %.
Tabel 4. 6
Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II

Keterangan
No Jenis Data Jumlah/Skor Presentase

1 2 3 4 5
1. Nilai siswa > 70 25 89,29 % Tuntas
2. Nilai siswa 50-69 2 7,14 % Belum Tuntas
3. Nilai siswa < 50 1 3,57 % Belum Tuntas
Rata-rata 78,75

Berdasarkan hasil refleksi dan analisis data pada tahap ini ternyata hasil
belajar IPA kelas IV SDN 002 Sungai Pinang sudah mencapai target yang
ditetapkan yaitu 80%. Presentasi hasil belajar siswa meningkat dengan
menggunakan metode demonstrasi.
B. Pembahasan
Kemampuan peneliti dalam menyampaikan materi dinilai cukup baik
oleh guru yang bertindak sebagai observer karena mampu menyampaikan materi,
namun guru terlalu banyak berperan dan kurang melibatkan siswa. Pertanyaan
yang diberikan cukup mengenai sasaran namun partisipasi siswa masih kurang
karena ada siswa yang belum memahami materi pelajaran yang disampaikan.
50

Pengelolaan kelas dinilai cukup baik meskipun peneliti masih mengalami


kesulitan untuk memusatkan perhatian siswa, dari hasil data yang diperoleh hasil
belajar IPA dari tahap pra siklus ke siklus I hingga siklus II terjadi peningkatan
yang ditunjukkan oleh data peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN 002
Sungai Pinang. Hasil pengamatan yang dilakukan dari pra siklus, siklus I sampai
siklus II terlihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.7 Hasil observasi pra siklus, siklus I siklus II

No Nama Pra siklus Siklus I Siklus II

1 2 3 4 5

1 Alfredo Raja PS 70 75 75
2 Anni Tri Ivane 75 80 85
3 Aulia Putri Cantika 50 60 75
4 Bhayu Satri Sugara 65 80 80
5 Crity Paskalia Tandi 60 60 75
6 Dwi Patmawati 75 85 95
7 Dyan Fariska AP 60 60 85
8 Fitriah Ramadhana 70 100 90
9 Gratia Natsya EA 60 75 75
10 Jesssica Cindy Claudia 60 60 40
11 Marcello Putra 75 100 80
12 Mario Haliem 70 100 80
13 Misael Matana 60 60 75
14 Muhammad Arianda R 80 80 85
15 M.Rizki Ramadhani 70 70 75
51

16 Nola Zepaya 85 85 75
17 Rafli Nur 75 100 85
18 Rizki Ardah Putra. 70 100 80
19 Rosi Maulana R 85 85 75
20 Salsabila 70 80 95
21 Sari Wina Andani 80 65 90
22 Septi Rahmadani 65 55 65
23 Elfiadel 55 95 95
24 M.tirta Adityas 95 75 75
25 M.Nur Fikri Haris 75 75 85
26 Nur Aufa Amalia 75 100 80
27 Nabila Sabrina 100 90 55
28 Safa Nabila Putri 55 75 80
Jumlah 1830 2225 2205
Rata-rata 63,35 79,46 78,75

Tabel 4.8 Analisis hasil belajar dan hasil pengalaman proses tahap pra
siklus,
siklus I - siklus II
Pra Siklus Siklus I Siklus II
No Jenis Data
Jmlh (%) Jmlh (%) Jmlh (%)
1. Nilai siswa > 70 13 46,42 % 20 71,43 % 25 89,29 %

2. Nilai siswa 50-69 15 53,57 % 8 28,57 % 2 7,14 %

3. Nilai siswa < 50 - - 0 0% - 3,57 %


Rata-rata kelas 63,35 79,46 78,75

Hasil pengamatan mulai dari pra siklus ke siklus I hingga siklus II ini
dapat dilihat bahwa tingkat keaktifan siswa meningkat pesat. Peningkatan ini
52

disebabkan peneliti mengajar dengan metode yang menarik dan materi yang
disampaikan menimbulkan keingintahuan siswa sehingga siswa merasa tertarik
untuk mengikuti pembelajaran sepenuhnya. Hasil rata-rata siswa pada siklus II
dapat dilihat bahwa keterampilan siswa meningkat dengan baik mencapai 78,75.
Kemampuan siswa kelas IV SDN 002 Sungai Pinang untuk memahami
dan menguasai dengan benar materi pembelajaran yang disampaikan dalam
kegiatan belajar mengajar sebagaimana dipaparkan dalam tabel, terlihat bahwa
secara umum siswa di kelas IV tersebut telah menunjukkan peningkatan prestasi
belajar dengan hasil yang cukup baik. Maka dapat disimpulkan bahwa Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan ini telah mencapai tujuan seperti yang
diharapkan.
53

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian Peningkatan Hasil Belajar IPA Pokok

Bahasan Energi dan Penggunaanya dengan Metode Demontrasi Kelas IV SDN

002 Sungai Pinangng , maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Metode belajar demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada

matapelajaran IPA pokok bahasan Energi dan Penggunaannya.

2. Metode pembelajaran demonstrasi dapat menghasilkan proses belajar yang

kondusif dan interaktif, sehingga siswa menjadi aktif dan kreatif dalam proses

belajar mengajar di kelas.

3. Terdapat peningkatan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penelitian

Tindakan Kelas (siklus I maupun siklus II) dengan nilai rata-rata 79,11.

4. Terjadi peningkatan prosentasi kategori nilai yang tuntas yaitu 71,43 % pada

siklus I menjadi 89,29 % pada siklus II.

B. Saran

1) Disarankan kepada guru khususnya matapelajaran IPA dalam upaya

meningkatkan hasil belajar siswa khususnya siswa kelas IV SDN 002 Sungai

Pinang agar dapat menerapkan dan mengaplikasikan metode demonstrasi.

2) Disarankan kepada guru matapelajaran IPA di kelas IV SD agar menggunakan

metode demonstrasi sebagai upaya meningkatkan keterampilan dan kreativitas

siswa sehingga dapat menghayati dan memudahkan pemahaman terhadap

materi yang dijelaskan oleh guru.


54

3) Disarankan kepada kepala sekolah menganjurkan dan meningkatkan

penggunaan metode demonstrasi kepada guru-guru terutama guru

matapelajaran IPA sehingga dapat meningkatkan aspek kognitif, afektif dan

psikomotorik siswa.

4) Disarankan kepada pihak sekolah melengkapi dan menyediakan media

pembelajaran berupa alat peraga dalam rangka mendukung keberhasilan

penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran.

5) Disarankan kepada siswa agar dapat memahami dan mengikuti metode

demonstrasi yang dipraktekkan oleh guru dengan baik dan seksama agar

meningkatkan pemahaman terhadap materi yang diberikan guru.

6) Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih mendalam

mengenai penggunaan metode demonstrasi agar menghasilkan penilitian yang

lebih sempurna.
55

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2009. Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif. Jakarta : AV


Publisher

Hamalik, O. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Haryanto. 2007. Sains untuk Sekolah DasarKelas IV. Jakarta : Erlangga

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif


dan Menyenangkan). Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran (Berorientasi Standar Proses


Pendidikan). Jakarta : Kencana Prenada Media Group

Soerahmad, W. 1988. Dasar dan Research. Bandung : Tarsito

Sudjana Nana. 1983. Didaktik Asas-asas Mengajar. Bandung : Jermas

Sudjana Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar


Baru Algesindo

Suharsimi, A. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :


Bina Aksara

Suharsimi, A dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bina Aksara

Supardi dan Suhardjono. 2012. Strategi Menyusun Penelitian Tindakan Kelas.


Yogyakarta : Andi

Syaiful Sagala. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran (untuk Membantu


Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar). Bandung : Alfabeta

Uno. Hamzah, B. 2007. Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar


Mengajar yang Kreatif dan Efektif). Jakarta : Bumi Aksara

UU No. 20/2003; Tentang Sistem Pendidikan Nasional.Direktorat RI

Uzer, Moh. Usman. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja


Rosdakarya