Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

TEORI KEPERAWATAN IDA JEAN ORLANGGO

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
1.

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS KATOLIK DELASALLE
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya,
kelompok 4 dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Teori keperawtan Ida Jean Orlanggo
dengan baik dan tepat pada waktu yang ditentukan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu
E.Pantouw, S.pd , M.Ke yang telah membimbing dan memotivasi kelompok ini dalam
menyelesaikan makalah ini. Kelompok juga berterima kasih kepada rekan mahasiswa
keperawatan yang telah memberikan kritik dan saran untuk menulis makalah ini sesuai dengan
yang diharapkan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dalam pembelajaran Falsafah dan Teori
keperawatan yang membahas tentang . Semoga makalah ini memenuhi kriteria penilaian dan
bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................i

DAFTAR ISI .........................................ii

BAB I PENDAHULUA .............................................................

A. BIOGRAFI IDA JEAN ORLANGGO .................................................................


B. TEORI KEPERAWATAN ORLANGGO .............................................................
C. PARADIGMA KEPERAWATAN BENNER ..................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................


BAB 1
PENDAHULUAN

A.Biografi Ida Jean Orlangga


A.Latar Belakang Ida Jean Orlando

Ida Jean Orlando dilahirkan pada 12 Agustus 1926, lulusan Diploma pada Medical College New York
tahun 1947, memperoleh Gelar B.S pada Perawatan Kesehatan Publik, di Universitas St. John;s Brooklyn
tahun 1951, dan kemudian memperoleh gelas M.A bidang konseling kesehatan mental pada Universitas
Columbia New York tahun 1954. Setelah menyelesaikan pendidikan terakhirnya, Orlando kemudian
bekerja di Sekoilah Keperawatan New Haven Conneticut, selama 8 tahuan, pada tahun 1958, ia menjadi
asosiasi peneliti dan investigator untuk proyek negara mengenai Konsep kesehatan Mental pada
Kurikulum Dasar. Proyek ini memfokuskan pada mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi integritas
prinsip kesehatan mental untuk kurikulum dasar pendidikan keperawatan. Setelah 3 tahun ia melakukan
pencatatan hasil penelitian dan ia menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk menganalisa data yang
diperolehnya pada penelitian tersebut, kemudian ia melaporkan penemuannya tersebut pada buku
pertamanya yang diluncurkan pada tahun 1958 berjudul The Dynamic nurse-patient relationship:
Function, process and principle of Professional Nursing Practice. Namun buku ini baru dipublikasikan
pada tahun 1961. buku inilah yang memformulasikan Teori Dasar Keperawatan Orlando., dan dicetak
kedalam lima bahasa yaitu : Bahasa Jepang, Hebrew, Prancis, Portugis dan Belanda. Pada tahun 1962
sampai dengan tahun 1972 Orlando bekerja sebagai Konsultan bidang Keprawatan Klinik di Rumah sakit
Mc Lean Belmont. Dan ia memberikan laporan hasil kerjanya selama 10 tahun dirumah sakit tersebut
melalui buku keduanya yang berjudul : The Discipline anda Teaching of Nursing Process : An Evaluative
Study. Orlando memberikan beberapa kontribusi penting dalam teori dan [raktek keperawatan. Konsep
mengenai proses keperawatan yang ia berikan meliputi beberapa kriteria antara lain:

Memberikan konsep hubungan yang digambarkan secara sistematik mengenai fenomena bidang
keperawatan.

Mengspesifikasi hubungan antar konsep keperawatan

Menjelaskan apa yang terjadi selama proses keperawatan dan mengapa hal itu terjadi.

Mengdeskipsikan bagaimana fenomena keperawatan dapat dikontrol.

Menjelaskan bagaimana mengontrol guna memprediksikan hasil dari proses keperawatan.

B. Konsep Utama dan Definisi

Teori Orlando Orlando mendeskripsikan model keperawatannya sebagai pengembangan dari lima faktor
konsep yang berhubungan yaitu:

1. Fungsi dari keperawatan yang professional

2. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh pasien selama proses keperawatan.


3. Respon langsung atau respon Internal yang diberikan oleh perawat

4. Disiplin dari proses keperawatan

5. Improfisasi dalam melakukan proses keperawatan

Tanggungjawab Perawat Tanggungjawab dari seorang perawat meliputi bagaimana menolong seorang
pasien dengan memenuhi kebutuhannya (misal; kenyamanan fisik dan mental yang harus diupayakan
sedapat mungkin selama proses keperawatan berlangsung). Hal ini merupakan tanggungjawab seorang
perawat dalam memenuhi kebutuhan psien baik melalui usahanya sendiri maupun menggunakan
bantuan tenaga lain. Kebutuhan Kebutuhan merupakan keadaan dimana seorang pasien
membutuhkan, nutrisi, menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit, dan menumbuhkan perasaan yang
adekuat untuk sembuh. Tingkah Laku yang Timbul dari Pasien Tingkah laku yang timbul ini berupa
tingkah laku verbal maupun nonverbal yang dapat dilihat oleh seorang perawat. Reaksi Langsung Reaksi
spontan termasuk didalamnya persepsi dari keduanya yaitu perawat dan pasien, pemikiran dan
perasaan dari keduanya. Disiplin Proses Keperawatan Disiplin Proses Keperawatan termasuk di
dalamnya komunikasi antara perawat dan pasien. Disiplin Proses Keperawatan atau disebut juga
Delebrasi Proses Keperawatan inilah yang digambarkan pada buku pertama Orlando. Improvisasi
Improvisasi di sini berarti bagaimana berkembang lebih baik, untuk memberikan hasil, atau untuk
menggunakan beberapa manfaat dari suatu hal. Manfaat dari Perawat Kegunaan dari seorang perawt
adalah untuk memberikan bantuan apa saja dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien untuk sembuh.
Tindakan Spontan Perawat Tindakan spontan dari seorang perawat adalah segala tindakan perawat
yang dilakukan berdasarkan suatu alasan untuk memenuhi kebutuhan segera dari seorang pasien.
Tindakan Deleberatif Perawat Tindakan dleberatif adalah segala sesuatu yang diputuskan setelah
mengetahui kebutuhan yang diperlukan dan kemudian berupaya untuk memenuhinya.

C. Penggunaan Data

Perbandingan Orlando merupakan perawat pertama yang mengembangkan teorinya berdasarkan


keadaan nyata dari hubungan antara perawat dan pasien. Orlando mencatat bahwa lebih dari 2000
kontak antara perawat dan pasien dalam mengembangkan teorinya yang didasarkan atas data dari
hubungan tersebut. Orlando menggunakan metode kualitatif untuk menganalisa data yang diperolehnya
atau metodologi riset lapangan dalam pengumpulan data penelitiannya.

D. Asumsi Pokok Teori Orlando

Hampir keseluruhan dari teori Orlando digambarkan secara implicit. Schmieding (1993) memberikan
beberapa asumsi dari hasil tulisan Orlando mengenai empat bidang dan elebotasi mengenai pandangan
Orlando mengenai:

1. Asusmsi mengenai Keperawatan

Keperawatan merupakan profesi yang berbeda dengan disiplin ilmu lain.


Keperawatan professional mempunyai fungsi dan dan menghasilkan produk yang berbeda (hasil).

Terdapat perbedaan antara sekadar membaringkan dengan tindakan keperawatan yang professional.

2. Asumsi mengenai Pasien

Kebutuhan pasien akan pertolongan merupakan suatu hal yang unik.

Pasien memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhannya akan pertolongan

Ketika pasien tidak memperoleh kebutuhannya maka ia akan mengalami kemunduran.

Tingkah laku dari seorang pasien merupakan suatu hal yang memberikan makna.

Pasien mampu dan bersedia berkomunikasi secara verbal (atau tidak verbal)

3. Asumsi mengenai Perawat

Reaksi seorang perawat terhadap pasiennya merupakan suatu hal yang unik.

Perawat seharusnya tidak menambah tekanan pada seorang pasien

Pemikiran dari seorang perawat merupakan alat utama dalam menolong seorang pasien.

Perawat menggunakan respon yang spontan dalam menjalankan tanggungjawab keperawatannya

Praktek keperawatan seorang perawat dikembangkan berdasarkan gambaran dari diri mereka masing-
masing.

4. Asumsi mengenai situasi yang terjadi antara Pasien dan Perawat

Situasi hubungan antar perawat dan pasien merupakan suatu hal yang dinamis

Hal-hal yang terjadi dalam interaksi antara asien dan perawat merupakan bahan utama dalam
mengembangkan pengetahuan seorang perawat.

E. Pokok Utama dari Teori Orlando

Teori Orlando menggambarkan mengenai fungsi dari keperawatan secara professional sebagai salah
satu upaya memenuhi kebutuhan pasien akan pertolongan. Fungsi ini akan terpenuhi ketika seorang
perawat dapat mencari tahu dan menemukan apa saja kebutuhan yang diperlukan dari seorang pasien.
Teori Orlando difokuskan pada bagaimana menciptakan kemajuan pada tindakan dari seorang pasien.
Kemajuan dari seorang pasien dapat dilihat dari tingkah laku dan tindakan yang dapat diamati oleh
seorang perawat. Persepsi seorang perawat terhadap tingkah laku dari pasiennya dapat menghasilkan
suatu pemikiran yang dapat mempengaruhi perawat untuk mengembangkan kjemampuannya. Orlando
mengidentifikasi dan mendefiniskan beberapa elemen dari reaksi langsung seorang perawat sebagai
berikut:

Persepsi, simulasi fisik dari tiap orang berdasarkan hasil dari panca inderanya.

Pemikiran spontan mengenai persepsi yang berasal dari pemikiran seorang individu

Stimulasi perasaan dari hasil pemikiran dimana dapat mengerakkan seseorang dari hasil persepsi,
pemikiran dan perasaanya.

F. Penerapan dalam Dunia Keperawatan

Praktek Kesehatan Teori Orlando telah berhasil digunakan di rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa.
Seperti pengakuan yang gambarkan pada Pusat Kesehatan Mental dan bagian klinik psikiatrik di Rumah
Sakit umum di beberapa negara. Teori Orlando juga diterapkan di praktek keperawatan milik pribadi
Dunia Pendidikan Teori proses keperawatan Orlando merupakan kerangka konseptual yang dapat
dikembangkan dan dipraktekkan secara langsung. Pelatihan dari penerapan teori Orlando sangat
berguna bagi perawat untuk mengontrol proses keperawatanya dan meningkatkan perkembangan dari
reaksi seorang pasien. Penelitian Teori Orlando secara terus menerus menjadi dasar dari beberapa
penelitian dibidang keperawatan dan diaplikasikan pada beberapa pengaturan prtoses penelitian.
Beberapa peneliti yang mengembang teori Orlando diantaranya : Dracup dan Breu (1978), Pienschke
(1973), Thibau dabn Reidy (1977) Schmiedhing (1988), Sheafor (1991), Ronte Reid (1992) dan banyak
lagi peneliti lain. G. Pengembang Teori Orlando Disiplin Ilmu Proses keperawatan membutuhkan bagian
yang integral pada murid dari sekolah keperawatan sehingga dapat diimplementasikan pada beberapa
keadaan kondisi pada saat praktek keperawatan. Banyak dari pengguna Teori Keperawatan Orlando
mengembangkannya dengan beberapa riset diantaranya Beuer dan McBrides (2002) yang
mengembangkanya pada proses perawatan dalam aspek penyakit bipolar.
Ida jean Orlando Pelletier lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New Jersey. Ia telah
aktif berkarir sebagai pelaksana, pendidik, peneliti dan konsultan dalam bidang keperawatan.
Pada awal karirnya ia bekerja sebagai staf keperawatan di berbagai bidang seperti obstetri,
perawatan penyakit dalam dan bedah, serta diruang emergency. Ia juga telah menjabat sebagai
supervisor dan menjabat sebagai asisten dua Direktur Keperawatan. Riwayat pendidikan Orlando
dimulai dari di terimanya di pendidikan Diploma Keperawatan di Medical College New York
pada tahun 1947, dan mendapat gelar Bachelor Of Nursing pada tahun 1951 dari Universitas St.
John:s di Brooklyn New York. Pada tahun 1954 menerima M.A. di Mental Health Consultation
dari Universitas Colombia, New York.
Setelah lulus dari pendidikan terakhirnya orlando bekerja disekolah New Haven
Conneticut selama delapan tahun. Pada tahun 1958 ia menjadi asosiasi peneliti dan investigator
untuk proyek negara mengenai konsep kesehatan mental pada kurikulum dasar. Proyek ini
memfokuskan pada mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi integritas prinsip kesehatan
mental untuk kurikulum dasar keperawatan. Setelah tiga tahun ia mencatatkan hasil penelitian
dan ia menghabiskan empat tahun untukmenganalisa data yang diperolehnya pada penelitian
tersebut, kemudian ia melaporkan penemuanya tersebut ke buku pertamanya pada tahun 1958
yang berjudul The Dynamic Nurse-Patient Relationship: Function, Process and Principles Of
Professional Nursing Practice, namun buku tersebut baru dipublikasikan pada tahun 1961. Buku
inilah yang memformulasikan teori dasar keperawatan orlando. Buku tersebut dicetak dalam lima
bahasa yaitu bahasa jepang, hebrew, prancis, portugis dan belanda.
Buku pertamanya yang dipublikasikan pada tahun 1961 dan diprint ulang pada tahun
1990 yaitu yang berjudul Hubungan Dinamis Perawat-Pasien: Fungsi, Prinsip dan Proses. Ia juga
menjabat sebagai pimpinanGraduate Program dalam kesehatan mental dan psikiatri nursing di
Yale. Orlando juga aktif dalam organisasi seperti pada Massachusetts Nurses Associations dan
di Harvard Comunity Health Plan. Ia juga sebagai dosen dan konsultan pada berbagai institusi
keperawatan.
Pada tahun 1962 sampai tahun 1972 orlando bekerja sebagai konsultan bidang
keperawatan klinik di RS Mc Lean Belmont. Orlando memberikan hasil kerjanya selama 10
tahun diRS tersebut melalui buku kedua yang berjudul The Discipline and Teaching of Nursing
Procces: An Evaluative Study.
Orlando memberikan beberapa kontribusi penting dalam teori dan praktek keperawatan.
Konsep mengenai proses keperawatan meliputi beberapa kriteria, antara lain:
1. Memberikan konsep hubungan yang digambarkan secara sistematik mengenai fenomena bidang
keperawatan
2. Memspesifikasikan hubungan antar konsep keperawatan
3. Menjelaskan apa yang terjadi selama proses keperawatan dan mengapa hal itu bisa terjadi
4. Mendeskripsikan bagaimana fenomena keperawatan dapat terkontrol
5. Menjelaskan bagaimana mengontrol guna memprediksikan hasil dari proses keperawatan
B. Teori Ida Jean Orlando
Menurut Orlando, keperawatan bersifat unik dan independent karena berhubungan
langsung dengan kebutuhan pasien yang harus dibantu, nyata atau potensial serta pada situasi
langsung. Teori Orlando berfokus pada pasien sebagai individu, artinya masing masing orang
berada pada situasi yang berbeda. Orlando mendefinisikan kebutuhan sebagai permintaan atau
kebutuhan pasien dimana bila disuplai, dikurangi, atau menurunkan distress secara langsung atau
bahkan meningkatkan perasaan tercukupi atau wellbeing.
Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien dan
perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Perawat sebagai
orang pertama yang mengidentifikasi dan menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan
serta hal-hal kritis penting dari partisipasi pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual
interaksi perawat-pasien sama halnya dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat
menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, orlando
menyebutnya sebagai nursing procces discipline. Hal ini merupakan alat yang dapat perawat
gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam
mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu :
1. Perawat harus menemuainya dan konsisten terhadap apa yang dikatakanya dan mengatakan perilaku
nonverbalnya kepada pasien.
2. Perawat harus dapat mengkomunikasikanya dengan jelas terhadap apa yang akan diekspresikanya.
3. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung utnuk perbaikam atau klarifikasi.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat
profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegeraan, disiplin proses
keperawatan serta kemajuan.

1. Tanggung jawab perawat


Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam mendapatkan pengobatan
atau dalam pemantauan. Perawat harus mengetahui kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya.
Perawat harus mengetahui peran profesionalnya, aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang
dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu
pasien.
Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat
dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus pada aktivitas-aktivitas
yang benar-benar menjadi kewenangannya.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan pasien maupun
perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi segera adalah
respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien , berfikir dan merasakan.
4. Disiplin proses keperawatan
Menurut Orlando (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan sebagai interaksi total
(totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam
hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus
dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tidakan yang
tepat.
5. Kemajuan/ peningkatan
Peningkatan berarti tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.
Proses keperawatan Orlando didasarkan pada "proses di mana setiap tindakan individu".
Tujuan dari proses ketika digunakan antara perawat dan pasien adalah memenuhi kebutuhan
pasien untuk membantu. Perbaikan dalam perilaku pasien yang idencates resulotion kebutuhan
adalah hasil tujuannya adalah juga digunakan dengan orang lain yang bekerja dalam pengaturan
ajob.. Ini Tujuannya di sini adalah untuk memahami bagaimana resposibilities profesional dan
pekerjaan masing-masing mempengaruhi yang lain. ini memungkinkan perawat untuk secara
efektif memenuhi setiap fuction profesionalnya untuk pasien dalam pengaturan origanizational.
1. Pasien
Proses keperawatan diatur dalam gerakan oleh perilaku pasien semua perilaku pasien, tidak
peduli betapa tidak berartinya, harus dianggap sebagai ungkapan kebutuhan bantuan sampai maknanya
kepada pasien tertentu dalam situasi yang mendesak dipahami.. Orlando menekankan hal ini pada
prinsipnya pertama: "Perilaku menyajikan pasien, terlepas dari dari dalam yang muncul, mungkin
merupakan suatu permohonan untuk membantu".
Ketika pasien mengalami suatu kebutuhan bahwa ia tidak bisa menyelesaikan, rasa tidak
berdaya terjadi. Perilaku pasien mencerminkan tekanan ini. Dalam Hubungan Perawat-Pasien Dinamis,
Orlando menjelaskan beberapa kategori distres pasien. Ini adalah "keterbatasan fisik. . . merugikan
reaksi terhadap pengaturan dan. . . pengalaman yang mencegah pasien dari berkomunikasi
kebutuhannya. Perasaan tidak berdaya karena keterbatasan fisik dapat mengakibatkan dari
pembangunan tidak lengkap, cacat sementara atau permanen, atau pembatasan lingkungan, nyata atau
dibayangkan.
Reaksi yang merugikan pada pengaturan, di sisi lain, biasanya hasil dari pemahaman yang salah
atau tidak memadai tentang pengalaman di sana. Pasien mungkin menjadi tertekan dari reaksi negatif
untuk setiap aspek pengaturan meskipun niat membantu atau terapi Sering kebutuhan untuk membantu
juga mungkin timbul dari berkomunikasi ketidakmampuan pasien secara efektif. Hal ini mungkin
disebabkan faktor-faktor seperti ambivalensi ketergantungan tentang yang dibawa oleh penyakit, malu
berhubungan dengan kebutuhan, kurangnya kepercayaan pada perawat, dan ketidakmampuan untuk
menyatakan kebutuhan tepat.
Perilaku pasien dapat verbal atau nonverbal inkonsistensi antara kedua jenis perilaku ini mungkin
menjadi faktor yang memberitahu perawat bahwa kebutuhan pasien bantuan. Perilaku verbal meliputi
menggunakan semua pasien bahasa.. Mungkin mengambil dari dari "keluhan ... permintaan ...
pertanyaan ... penolakan ... .. Komentar atau pernyataan. Perilaku nonverbal meliputi manifestasi
fisiologis seperti denyut jantung, keringat, edema, dan buang air kecil: dan aktivitas motorik seperti
tersenyum, berjalan, dan menghindari aye kontak. Perilaku pasien nonverbal juga mungkin vokal. Ini
termasuk tindakan seperti menangis, tertawa, berteriak, dan mendesak.
Meskipun semua perilaku pasien mungkin menunjukkan kebutuhan untuk membantu, perilaku
tidak mungkin efektif mengkomunikasikan kebutuhan itu. Ketika perilaku tidak berkomunikasi kebutuhan,
masalah adalah hubungan perawat-pasien dapat timbul perilaku pasien yang tidak efektif "mencegah
perawat dari melaksanakan. Nya kekhawatiran untuk perawatan pasien atau bentuk mempertahankan
hubungan yang memuaskan kepada pasien. perilaku pasien yang tidak efektif juga dapat menunjukkan
kesulitan dalam pembentukan awal dari hubungan perawat-pasien, identifikasi akurat dari reaksi pasien
untuk tindakan keperawatan otomatis. Resolusi perilaku pasien yang tidak efektif yang tinggi prioritas
sebagai perilaku biasanya menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu jika perlu bantuan itu mengungkapkan
masih belum terselesaikan
2. Perawat Reaksi
Perilaku pasien merangsang reaksi perawat, yang menandai awal dari proses keperawatan.
Reaksi ini terdiri dari tiga bagian yang berurutan.
pertama, perawat merasakan perilaku melalui rasa nya, kedua persepsi mengarah ke pikiran
menghasilkan perasaan otomatis Sebagai contoh, perawat melihat senyum pasien, mengira dia bahagia,
dan merasa baik. reaksi ini membentuk dasar untuk menentukan tindakan keperawatan Namun, perawat
harus terlebih dahulu berbagi reaksinya dengan pasien untuk memastikan bahwa ia telah benar
mengidentifikasi kebutuhan untuk bantuan dan tindakan keperawatan yang tepat mengatasinya.. Orlando
menawarkan prinsip untuk memandu perawat dalam reaksinya terhadap perilaku pasien, "perawat itu
tidak berasumsi bahwa setiap aspek reaksinya kepada pasien benar, membantu, atau sesuai sampai ia
memeriksa validitas dalam eksplorasi dengan pasien.
Persepsi, pikiran, dan perasaan terjadi secara otomatis dan hampir bersamaan, Oleh karena itu
perawat harus belajar untuk mengidentifikasi setiap bagian dari reaksinya ini membantu dia untuk
menganalisis reaksi untuk menentukan mengapa ia bereaksi seperti yang dia lakukan.. Tujuannya
menjadi logis daripada intuitif, perawat dapat menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien.
Disiplin dalam proses keperawatan mengatur bagaimana perawat saham reaksinya dengan
pasien Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan kegunaan dari berbagi ini.
Setiap pengamatan bersama dan dieksplorasi dengan pasien segera bermanfaat dalam
memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau mencari tahu bahwa dia tidak membutuhkan pada waktu
itu.
Dia memberikan tiga kriteria berikut untuk memastikan bahwa eksplorasi perawat reaksinya dengan
pasien berhasil
a. What perawat mengatakan kepada individu dalam kontak harus sesuai (konsisten dengan) salah satu
atau semua atau item yang terkandung dalam reaksi langsung. dan apa yang tidak nonverbal perawat
harus secara verbal diungkapkan dan ekspresi harus cocok dengan satu atau semua item yang
terkandung dalam reaksi langsung.
b. Aktifitas perawat jelas harus harus berkomunikasi dengan individu bahwa item yang diungkapkan milik
sendiri
c. Perawat harus bertanya individu tentang item yang diungkapkan dalam rangka untuk mendapatkan
koreksi atau verifikasi dari individu yang sama.Aspek yang dibagi dengan cara yang dijelaskan dalam
peraturan menurut itu.
Dari stanpoint praktis, mungkin lebih cepat untuk berbagi persepsi dari pikiran atau
perasaan "Anda meringis" mengandung asumsi kurang dari. "Anda sakit?", Dengan cara Thia
pasien dapat lebih mudah mengungkapkan kebutuhannya untuk bantuan tanpa harus mengoreksi
kesalahpahaman perawat.
Perasaan dapat dan harus berbagi bahkan ketika mereka negatif. Tindakan nonverbal
perawat usully akan menunjukkan perasaannya jika mereka dinyatakan non verbal. Jadi, perilaku
perawat verbal dan nonverbal akan menjadi tidak konsisten. Berbagi yang tepat dari perasaan
secara efektif dapat membantu pasien penolakan obat Anda. Bisakah Anda menjelaskan kepada
saya mengapa penolakan Anda Anda menjelaskan kepada saya mengapa Anda memiliki
penolakan obat dengan kemarahan. Jika dia mengatakan, "saya marah dengan penolakan Anda
obat Anda. Bisakah Anda menjelaskan kepada saya mengapa Anda harus menolak? "Ia
mengundang pasien untuk menjelaskan kebutuhan untuk bantuan yang menyatakan
penolakannya. Ekspresinya memenuhi tiga kriteria, dan kebutuhan pasien untuk membantu dapat
diidentifikasi dan diselesaikan.
Contoh ini menunjukkan pentingnya perawat berbagi reaksinya sebagai fakta tentang
dirinya sendiri. Dia menyatakan, "saya marah," daripada, "Anda membuat saya marah 'ini
identifikasi yang jelas.. Ini alsoencourages pasien untuk berbagi reaksinya dengan cara asimilar.
Identifikasi yang memadai dari aspek trhee reaksi perawat membantu untuk menyelesaikan
perasaan asing yang dapat mengganggu perawatan pasien. Perawat mungkin menemukan bahwa
perasaannya berasal dari keyakinan pribadinya tentang bagaimana orang harus bertindak atau
dari tekanan dalam pengaturan organisasi. Jika mereka tidak diselesaikan, perilaku perawat
verbal dan nonverbal lagi akan menjadi tidak konsisten. Proses yang sama harus digunakan
dengan perawat atau profesional lainnya dalam pengaturan pekerjaan untuk menyelesaikan setiap
konflik yang mengganggu dengan perawat yang profesional fulling function dia untuk pasien.
Orlando menggunakan tiga kriteria nya dalam studi yang dijelaskan dalam disiplin dan
pengajaran proses keperawatan dan menemukan bahwa menggunakan proses disiplin secara
positif berhubungan dengan peningkatan perilaku pasien. Penelitian ini juga menunjukkan
hubungan positif antara penggunaan perawat proses dan penggunaannya oleh pasien. sehingga
penggunaan proses saja dapat membantu pasien berkomunikasi kebutuhannya dengan lebih
efektif.
Orlando menawarkan diagram menggambarkan terbuka reaksi perawat versus menjaga
rahasia reaksi (lihat figs.10-1 dan 10-2). Tindakan perawat itu dari reaksi menjadi perilaku
merangsang reaksi kepada pasien. Hanya keterbukaan dalam berbagi reaksi menjamin bahwa
kebutuhan pasien akan effectively diselesaikan. Berbagi ini, dengan cara yang dilarang,
membedakan praktik keperawatan profesional dari tanggapan pribadi otomatis.
3. Tindakan perawat
Setelah perawat telah divalidasi atau dikoreksi reaksinya terhadap perilaku pasien melalui
eksplorasi dengan dia, dia bisa menyelesaikan proses keperawatan dengan tindakan perawat. Orlando
termasuk "hanya apa yang dia (perawat) mengatakan atau melakukan dengan atau untuk kepentingan
pasien" sebagai tindakan keperawatan profesional. Perawat harus yakin bahwa tindakannya tepat untuk
memenuhi kebutuhan pasien untuk membantu. Prinsip Orlando membimbing negara keperawatan,
"inisial perawat aprocess eksplorasi untuk memastikan bagaimana pasien adalah dipengaruhi oleh apa
yang dia katakan atau lakukan. Perawat dapat bertindak dengan dua cara: otomatis
atau deliberatif. Hanya dengan cara kedua memenuhi fungsi profesionalnya. Tindakan otomatis adalah
"mereka diputuskan untuk alasan lain selain kebutuhan pasien yang mendesak," di mana tindakan
sebagai deliberatif memastikan dan memenuhi kebutuhan ini. Ada perbedaan antara tujuan tindakan
benar-benar melayani dan niatnya untuk membantu pasien.
Sebagai contoh, perawat mengelola pil tidur karena perintah dokter itu. Perawat melaksanakan
perintah dokter adalah tujuan dari tindakan. Namun, perawat belum menentukan bahwa pasien
mengalami gangguan tidur atau pil adalah cara yang paling tepat untuk membantu dia tidur. Dengan
demikian tindakan ini otomatis, bukan deliberatif, dan pasien perlu bantuan tidak mungkin dipenuhi.
Berikut ini cara mengidentifikasi kriteria untuk tindakan deliberatif:
a. Tindakan Permusyawaratan hasil dari identifikasi yang benar kebutuhan pasien dengan validasi reaksi
perawat terhadap perilaku pasien.
b. Perawat mengeksplorasi makna tindakan kepada pasien dan relevansinya untuk memenuhi
kebutuhannya.
c. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan segera setelah menyelesaikan itu.
Perawat bebas dari rangsangan yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien ketika
ia bertindak. Otomatis tindakan gagal untuk memenuhi satu atau lebih kriteria ini. Otomatis
tindakan yang paling mungkin dilakukan oleh perawat terutama yang bersangkutan dengan
melaksanakan perintah dokter, rutinitas perawatan pasien, atau prinsip-prinsip umum untuk
melindungi kesehatan atau oleh perawat yang tidak memvalidasi reaksi mereka terhadap perilaku
pasien.
Profesional Fungsi, Perawat sering bekerja dalam organisasi dengan profesional lainnya,
dan tunduk pada otoritas organisasi yang mempekerjakan mereka. Hal ini tak terelakkan, karena
itu, bahwa pada waktu akan timbul konflik antara tindakan yang tepat untuk profesi perawat dan
yang dibutuhkan oleh pekerjaan. Tindakan non-profesional dapat mencegah perawat dari
menjalankan fungsi profesionalnya, dan ini dapat menyebabkan perawatan pasien yang tidak
memadai.
Sebuah fungsi didefinisikan dengan baik profesi dapat membantu untuk mencegah dan
menyelesaikan konflik ini. Perawat tidak seharusnya menerima posisi yang tidak memungkinkan
mereka untuk memenuhi kebutuhan pasien mereka untuk membantu. Jika konflik tidak muncul,
perawat harus menyajikan data yang menunjukkan bahwa menyusui tidak mampu memenuhi
fungsi profesional. Orlando percaya bahwa majikan tidak mungkin untuk terus memerlukan
kegiatan pekerjaan yang mengganggu fungsi yang didefinisikan dengan baik sebuah profesi.
Untuk lembaga untuk melakukannya "akan benar-benar meninggalkan seluruh titik memiliki
meminta jasa profesi yang di instansi atau lembaga.
Perawat harus selalu sadar bahwa "aktivitas mereka adalah profesional hanya ketika ia
sengaja mencapai tujuan membantu pasien. Beberapa kegiatan otomatis mungkin diperlukan
untuk menjalankan sebuah institusi. Ini harus, bagaimanapun, dijaga agar tetap minimum dan
harus dilakukan, sebanyak mungkin, oleh personil dukungan. Perawat harus menghadiri untuk
membantu pasien mengatasi konflik antara rutinitas dan kebutuhan mereka untuk membantu.
Dalam institusi perawatan paling akut hari ini, potensi permintaan keterampilan
keperawatan dan penilaian melebihi ketersediaan tersebut. Akibatnya, sistem pemberian
perawatan keperawatan sedang dievaluasi dan direvisi untuk memungkinkan perawat untuk
berlatih dalam situasi atau daerah di mana dia yang paling dibutuhkan. Beberapa situasi ini telah
secara khusus diidentifikasi oleh komite akreditasi keperawatan profesional dan, melalui
masukan mereka, tercermin dalam standar akreditasi dari komisi bersama tentang akreditasi
untuk organisasi perawatan kesehatan. Ini adalah: (1) ketika pasien mengaku, penilaian
keperawatan profesional diperlukan untuk mengidentifikasi pasien perlu bantuan, (2) ketika
pasien memiliki kebutuhan akan pendidikan biasa disebut pendidikan pasien dan; (3) saat pasien
sedang dipersiapkan untuk debit.
Di bawah sistem ini, penekanan ditempatkan pada pasien dirawat dan diberhentikan
dalam jumlah yang telah ditetapkan hari. Perawatan dapat memanfaatkan situasi ini dan
menggunakannya untuk kepentingan pasien dan profesi terbaik. Teori Orlando, sementara
sederhana di alam, memberikan arah dan fokus untuk mengidentifikasi dan memahami pasien
perlu
Dengan demikian, proses keperawatan diatur dalam gerakan oleh perilaku pasien yang
mungkin menunjukkan perlunya bantuan. Perawat bereaksi terhadap perilaku ini dengan
persepsi, pikiran, dan perasaan. Dia saham aspek reaksinya dengan pasien, memastikan bahwa
tindakannya verbal dan nonverbal yang konsisten dengan reaksinya, bahwa dia mengidentifikasi
reaksi sebagai dirinya sendiri, dan bahwa ia mengundang pasien untuk mengomentari validitas
reaksinya. Reaksi benar bersama oleh perawat membantu pasien untuk menggunakan proses
yang sama untuk lebih efektif mengkomunikasikan kebutuhannya. Selanjutnya, tindakan yang
sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling diputuskan oleh pasien dan perawat.
Setelah perawat bertindak, ia segera bertanya pasien jika tindakan tersebut telah efektif.
Sepanjang interaksi, perawat memastikan bahwa ia bebas dari setiap rangsangan asing yang
mengganggu dengan reaksi ke pasien.
Orlando Teori dan Konsep Empat Mayor. Orlando termasuk bahan khusus untuk tiga dari
empat konsep utama:, kesehatan manusia, dan keperawatan. Konsep keempat, masyarakat, tidak
termasuk dalam teorinya.Dia menggunakan konsep manusia sebagai ia menekankan
individualitas dan sifat dinamis dari hubungan perawat-pasien.Sementara kesehatan tidak
ditentukan. Hal ini tersirat. Dalam karya awalnya, Orlando terfokus pada penyakit. Kemudian,
dia menunjukkan bahwa penawaran keperawatan dengan individu setiap kali ada kebutuhan
untuk bantuan. Jadi, rasa tidak berdaya menggantikan konsep kesehatan sebagai inisiator dari
kebutuhan untuk menyusui.
Orlando mengabaikan sebagian besar masyarakat. Dia hanya berurusan dengan interaksi
antara perawat dan pasien dalam situasi segera dan berbicara kepada pentingnya individualitas.
Dia membuat beberapa upaya untuk membahas sistem keperawatan secara keseluruhan dalam
pengaturan kelembagaan. Namun, dia tidak membahas bagaimana pasien dipengaruhi oleh
masyarakat di mana dia tinggal tidak apakah dia menggunakan masyarakat sebagai fokus
tindakan keperawatan.
Keperawatan adalah, tentu saja, fokus pekerjaan Orlando. Dia berbicara tentang keperawatan
sebagai unik dan independen dalam keprihatinan untuk kebutuhan individu untuk membantu
dalam situasi mendesak. Upaya untuk memenuhi kebutuhan individu untuk membantu
dilaksanakan dalam situasi interaktif dan dengan cara disiplin yang memerlukan pelatihan yang
tepat.
C. Konsep Utama dan Definisi
Konsep utama dalam teori proses keperawatan. Teori keperawatan Orlando menekankan ada
hubungan timbal balik antara pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan
akan saling mempengaruhi. Dan sebagai orang pertama yang mengidentifikasi dan
menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis penting dari
partisipasi pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama
halnya dengan interaksi antara dua orang. Ketika perawat menggunakan proses ini untuk
mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, orlando menyebutnya sebagai
nursing procces discipline. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk
melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
Teori Orlando menggambarkan mengenai fungsi dari keperawatan secara professional sebagai salah satu
upaya memenuhi kebutuhan pasien akan pertolongan. Fungsi ini akan terpenuhi ketika seorang
perawat dapat mencari tahu dan menemukan apa saja kebutuhan yang diperlukan dari seorang pasien.
Teori Orlando difokuskan pada bagaimana menciptakan kemajuan pada tindakan dari seorang pasien.
Kemajuan dari seorang pasien dapat dilihat dari tingkah laku dan tindakan yang dapat diamati oleh
seorang perawat. Persepsi seorang perawat terhadap tingkah laku dari pasiennya dapat menghasilkan
suatu pemikiran yang dapat mempengaruhi perawat untuk mengembangkan kemampuannya.
Tanggungjawab dari seorang perawat meliputi bagaimana menolong seorang pasien dengan memenuhi
kebutuhannya (misal; kenyamanan fisik dan mental yang harus diupayakan sedapat mungkin selama
proses keperawatan berlangsung). Hal ini merupakan tanggungjawab seorang perawat dalam
memenuhi kebutuhan psien baik melalui usahanya sendiri maupun menggunakan bantuan tenaga lain.
Kebutuhan Kebutuhan merupakan keadaan dimana seorang pasien membutuhkan, nutrisi,
menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit, dan menumbuhkan perasaan yang adekuat untuk sembuh.
Tingkah Laku yang Timbul dari Pasien Tingkah laku yang timbul ini berupa tingkah laku verbal
maupun nonverbal yang dapat dilihat oleh seorang perawat. Reaksi Langsung Reaksi spontan termasuk
didalamnya persepsi dari keduanya yaitu perawat dan pasien, pemikiran dan perasaan dari keduanya.
Disiplin Proses Keperawatan Disiplin Proses Keperawatan termasuk di dalamnya komunikasi antara
perawat dan pasien. Disiplin Proses Keperawatan atau disebut juga Delebrasi Proses Keperawatan
inilah yang digambarkan pada buku pertama Orlando. Improvisasi, Improvisasi di sini berarti
bagaimana berkembang lebih baik, untuk memberikan hasil, atau untuk menggunakan beberapa
manfaat dari suatu hal. Manfaat dari seorang perawat adalah untuk memberikan bantuan apa saja
dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien untuk sembuh. Tindakan spontan dari seorang perawat
adalah segala tindakan perawat yang dilakukan berdasarkan suatu alasan untuk memenuhi kebutuhan
segera dari seorang pasien. Tindakan Deleberatif Perawat adalah segala sesuatu yang diputuskan
setelah mengetahui kebutuhan yang diperlukan dan kemudian berupaya untuk memenuhinya.

Teori Orlando mendeskripsikan model keperawatannya sebagai pengembangan dari lima faktor konsep
yang berhubungan yaitu:
1. Fungsi dari keperawatan yang profesional
2. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh pasien selama proses keperawatan
3. Respon langsung atau respon internal yang diberikan oleh perawat
4. Disipilin dari proses keperawatan
5. Improvisasi dalam melakukan proses keperawatan
Orlando mengidentifikasi dan mendefinisikan beberapa elemen dari reaksi langsung seorang perawat
sebagai berikut:
1. Persepsi, simulasi fisik dari tiap orang berdasarkan hasil dari panca inderanya.
2. Pemikiran spontan mengenai persepsi yang berasal dari pemikiran seorang individu.
3. Stimulasi perasaan dari hasil pemikiran dimana dapat mengerakkan seseorang dari hasil
persepsi, pemikiran dan perasaanya.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat
profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegaraan, disiplin proses
keperawatan serta kemajuan
1. Tanggung jawab perawat
Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam
mendapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat harus mengetahui kebutuhan
pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat harus mengetahui benar
peran profesionalnya, aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat
secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu pasien. Ada
beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat
dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus
pada aktivitas-aktivitas yang benar-benar menjadi kewenangannya.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan pasien
maupun perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi segera
adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien , berfikir
dan merasakan.
4. Disiplin proses keperawatan
Menurut George (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan
sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi
antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat
terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan
pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat.
5. Kemajuan/ peningkatan
Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.

D. Pokok Utama dari Teori Orlando


Teori Orlando menggambarkan mengenai fungsi dari keperawatan secara professional
sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan pasien akan pertolongan. Fungsi ini akan
terpenuhi ketika seorang perawat dapat mencari tahu dan menemukan apa saja kebutuhan
yang diperlukan dari seorang pasien. Teori Orlando difokuskan pada bagaimana
menciptakan kemajuan pada tindakan dari seorang pasien. Kemajuan dari seorang pasien
dapat dilihat dari tingkah laku dan tindakan yang dapat diamati oleh seorang perawat.
Persepsi seorang perawat terhadap tingkah laku dari pasiennya dapat menghasilkan suatu
pemikiran yang dapat mempengaruhi perawat untuk mengembangkan kemampuannya.
Orlando mengidentifikasi dan mendefiniskan beberapa elemen dari reaksi langsung seorang
perawat sebagai berikut:
a. Persepsi, simulasi fisik dari tiap orang berdasarkan hasil dari panca inderanya.
b. Pemikiran spontan mengenai persepsi yang berasal dari pemikiran seorang individu
c. Stimulasi perasaan dari hasil pemikiran dimana dapat mengerakkan seseorang dari
hasil persepsi, pemikiran dan perasaanya.

E. Penggunaan Data
Perbandingan Orlando merupakan perawat pertama yang mengembangkan teorinya berdasarkan
keadaan nyata dari hubungan antara perawat dan pasien. Orlando mencatat bahwa lebih dari 2000
kontak antara perawat dan pasien dalam mengembangkan teorinya yang didasarkan atas data dari
hubungan tersebut. Orlando menggunakan metode kualitatif untuk menganalisa data yang diperolehnya
atau metodologi riset lapangan dalam pengumpulan data penelitiannya.

F. Asumsi Teori Orlando


Hampir keseluruhan dari teori Orlando digambarkan secara implicit. Schieding (1993) memberikan
beberapa asumsi dari tulisan Orlando mengenai empat bidang dan elebotasi mengenai pandangan
Orlando:
a. Asumsi Mengenai Keperawatan
a. Keperawatan merupakan profesi yang berbeda dengan disiplin ilmu lain.
b. Keperawatan professional mempunyai fungsi dan dan menghasilkan produk yang berbeda (hasil).
c. Terdapat perbedaan antara sekadar membaringkan dengan tindakan keperawatan yang
professional.
b. Asumsi Mengenai Pasien
a. Kebutuhan pasien akan pertolongan merupakan suatu hal yang unik.
b. Pasien memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhannya akan pertolongan.
c. Ketika pasien tidak memperoleh kebutuhannya maka ia akan mengalami kemunduran.
d. Tingkah laku dari seorang pasien merupakan suatu hal yang memberikan mana.
e. Pasien mampu dan bersedia berkomunikasi secara verbal atau tidak verbal.
c. Asumsi Mengenai Perawat
a. Reaksi seorang perawat terhadap pasienya merupakan suatu hal yang unik.
b. Perawat seharusnya tidak menambah tekanan pada seorang pasien.
c. Pemikiran dari seorang perawat merupakan alat utama dalam menolong seorang pasien.
d. Perawat menggunakan respon yang spontan dalam menjalankan tanggung jawab keperawatanya.
e. Praktek keperawtan seorang perawat dikemabnagkan berdasarkan gambaran dari diri mereka
masing-masing.
d. Asumsi Mengenai Situasi Yang Terjadi Antara Pasien dan Perawat
a. Situasi hubungan antara perawta dan pasien merupakan suatu hal yang dinamis.
b. Hal-hal yang terjadi dalam interaksi antar pasien dan perawat merupakan bahan utama dalam
menggembangkan pengetahuan seorang perawat.

G. Teori Konsep Disiplin Proses Keperawatan ( Nursing Process Discipline)


Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien dan perawat, apa
yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Orlando sebagai orang pertama yang
mengidentifikasi dan menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis penting
dari partisipasi pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama halnya
dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan
reaksinya dalam merawat pasien, orlando menyebutnya sebagai nursing procces discipline. Itu
merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan suatu perilaku pasien yang
membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan,
berfikir dan merasakan. Perawat membagi aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan
verbal dan nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya
sendiri, dan perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi reaksinya. Membagi reaksinya oleh perawat
membantu pasien untuk menggunakan proses yang sama agar lebih efektif perlu komunikasinya.
Selajutnya tindakan yang sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling menguntungkan antar
pasien dan perawat. Setelah perawat bertindak, perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya
berhasil interaksi. Secara keseluruhan interaksi, perawat meyakinkan bahwa perawat bebas terhadap
stimulasi tambahan yang bertentangan dengan reaksinya terhadap pasien.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam mengeksplor
dan bereaksi dengan pasien, yaitu :
1. Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang dikatakannya dan
mengatakan perilaku nonverbalnya kepada pasien
2. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa yang akan
diekspresikannya
3. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau klarifikasi.
Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan tindakan terencana.
Hanya tindakan terencana yang memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan
otomatis dilakukan bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat
atas instruksi medis. Dibawah ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:
1. Tindakan merupakan hasil dari indentifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi reaksi perawat
terhadap perilaku pasien.
2. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi kebituhan
pasien.
3. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap
4. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien ketika
melakukan tindakan.
Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis
tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara
umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi reaksi perawat
5. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam menyelesaikan fungsi
profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap
menyadari bahwa aktivitas termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk
mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan pasien.

H. Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan


Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan dalam nursing procces theory
dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi
komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang
disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006 hlm 434).
Disiplin proses keperawatan didasarkan pada proses bagaimana seseorang bertindak. Tujuan dari
proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan pasien adalah untuk membantu pemenuhan
kebutuhan pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai
hasil yang diharapkan.
1. Perilaku Pasien
Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien. seluruh perilaku pasien yang
tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini
sangat berarti pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan hal ini
pada prinsip pertamanya dengan diketahuinya perilaku pasien , atau tidak diketahuinya yang
seharusnya ada hal tersebut menunjukan pasien membutuhkan suatu batuan.
Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku ini dapat dijadikan
faktor kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien. Perilaku verbal yang menunjukan perlunya
pertolongan seperti keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan
perilaku nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan, menghindar kontak
mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien dapat menjadi indikasi perlunya bantuan
tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien.
Tidak efektifnya perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-pasien,
ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat, atau reaksi negatif
pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak efektifnya perilaku pasien layak
diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat harus dirancang untuk menyelesaikan perilaku seperti
halnya memenuhi kebutuhan yang emergenci
2. Reaksi Perawat
Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini tertidiri dari 3 bagian yaitu pertama perawat
merasakan melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil
pemikiran sebagai suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat berfikir bahwa
pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian
Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir simultan. Oleh karena itu perawat
harus relajar mengidentifikasi setiap bagian dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis
reaksi yang menentukan mengana ia berespon demikian. Perawat harus dapat menggunakan reaksinya
untuk tujuan membantu pasien.
Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi reaksinya dengan pasien.
Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan penggunaan dalam hal berbagi beberapa observasi
dilakukan dan dieksporasi dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi
kebutuhannya atau mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam mengeksplor
dan bereaksi dengan pasien, yaitu ;
a. Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang dikatakannya dan
mengatakan perilaku nonverbalnya epada pasien
b. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa yang akan
diekspresikannya
c. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau klarifikasi.
3. Tindakan Perawat
Setelah mevalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku pasien, perawat dapat melengkapi
proses disiplin dengan tindakan keperawatan, Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan
dilakukan oleh perawat dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan profesional
perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan
pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan
mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui tindakan atau kata-katanya.
Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan tindakan terencana. Hanya
tindakan terencana yang memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan
bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah
ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:
a. tindakan merupakan hasil dari indetifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi reaksi perawat
terhadap perilaku pasien.
b. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi kebituhan
pasien.
c. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap
d. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien ketika
melakukan tindakan.
Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis tindakan
rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak
membutuhkan validasi reaksi perawat
4. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam menyelesaikan fungsi
profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap
menyadari bahwa aktivias termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai
tujuan pemenuhan kebutuhan pasien.

I. Pengembang Teori Orlando


Disiplin Ilmu Proses keperawatan membutuhkan bagian yang integral pada murid dari sekolah
keperawatan sehingga dapat diimplementasikan pada beberapa keadaan kondisi pada saat praktek
keperawatan. Banyak dari pengguna Teori Keperawatan Orlando mengembangkannya dengan beberapa
riset diantaranya Beuer dan McBrides (2002) yang mengembangkanya pada proses perawatan dalam
aspek penyakit bipolar.
Keperawatan sebagai bagian integral pelayanan kesehatan merupakan suatu bentuk
pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu keperawatan. Pada perkembangannya ilmu
keperawatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain,mengingat ilmu keperawatan
merupakan ilmu terapan yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Demikian
juga dengan pelayanan keperawatan di Indonesia, kedepan diharapkanh a r u s m a m p u
m e m b e r i k a n p e l a ya n a n k e p a d a m a s ya r a k a t s e c a r a p r o f e s i o n a l sesuai dengan
tuntutan kebutuhan masyarakat serta teknologi bidang kesehatanyang senantiasa berkembang.
Pelaksanaan asuhan keperawatan di sebagian besar rumah sakit Indonesia umumnya telah
menerapkan pendekatan ilmiah melalui proses keperawatan. Rumah Sakit Hasan Sadikin
Bandung sebagai salah satu rumah sakit pendidikan di Indonesia, dari hasil pengamatan
penulis selama melaksanakan bimbingan praktek klinik keperawatan, telah melaksanakan
asuhan keperawatan yang kembangkan dengan mengacu pada pedoman standar praktek
pelaksanaan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Dimana standar praktik tersebut
mengacu pada tahapan dalam proses keperawatan yang terdir i dari 5
standar pengkajian, Diagnosis keperawatan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi.( P P N I ,
2000 hlm 57).
P e l a k s a n a a n a s u h a n k e p e r a w a t a n t e r s e b u t m e r u p a k a n aplikasi unsur dan
konsep dari beberapa teori dan model keperawatan yang di adopsi, digabung,
dikembangkan serta dilaksanakan. Kemungkinan diantaranya teori dan model yang mewarnai
asuhan keperawatan yaitu teori yang dikemukakan oleh Ida Jean Orlando yang dikenal dengan
teori proses keperawatan atau disiplin proses keperawatan. Dalam teorinya Orlando
mengemukakan tentang beberapa konsep utama, diantaranya adalah konsep disiplin proses
keperawatan (nursing process discipline) yang juga dikenal dengan sebutan proses disiplin atau
prosesi keperawatan.
Disiplin proses meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera,
mengidentifikasi permasalahan klien yangdisampaikan kepada perawat, menanyakan
untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006:434) Orlando juga menggambarkan
mengenai disiplin nursing. proses sebagaimana interaksi total ( Toytally Interactive)
yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam
hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan
tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya
serta untuk melakukantindakan yang tepat (George, 1995 ;162) Dari uraian diatas penulis
tertarik untuk mencoba membuat uraian mengenai l e b i h j a u h m e n g e n a i ap l i k a s i
T e o r i K e p e r a w a t a n I d a J e a n O r l a n d o Nursing Procces Theory Dalam Asuhan dan
Pelayanan Keperawatan Di Rumah Sakit.
J. Penerapan Teori Orlando Dalam Dunia Keperawatan
Praktek Kesehatan Teori Orlando telah berhasil digunakan di rumah sakit umum dan rumah sakit
jiwa. Seperti pengakuan yang gambarkan pada Pusat Kesehatan Mental dan bagian klinik
psikiatrik di Rumah Sakit umum di beberapa negara. Teori Orlando juga diterapkan di praktek
keperawatan milik pribadi. Dunia Pendidikan Teori proses keperawatan Orlando merupakan
kerangka konseptual yang dapat dikembangkan dan dipraktekkan secara langsung. Pelatihan dari
penerapan teori Orlando sangat berguna bagi perawat untuk mengontrol proses keperawatanya
dan meningkatkan perkembangan dari reaksi seorang pasien.
Penelitian Teori Orlando secara terus menerus menjadi dasar dari beberapa penelitian dibidang
keperawatan dan diaplikasikan pada beberapa pengaturan prtoses penelitian. Beberapa peneliti
yang mengembang teori Orlando diantaranya : Dracup dan Breu (1978), Pienschke (1973),
Thibau dabn Reidy (1977) Schmiedhing (1988), Sheafor (1991), Ronte Reid (1992) dan banyak
lagi peneliti lain.