Anda di halaman 1dari 208

' .

a
, . ... ,...
I
11

Dr. Ir. Hary Christady Hardiyatmo, M.Eng. DEA


lahir di Solo, 18 Oktober 1955. Menyelesaikan studi di
_.tJL~~ ,
;r.o
, .

:..~a
. .
Jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada Yogya-
karta tahun 1981. Tahun 1980 sampai 1982 bekerja di
konsultan dalam menangani pekerjaan perancangan
bangunan-bangunan air. Tahun 1982 sampai 1986
bekef)a di kontraktor dan menangani pelaksanaan
pekef)aan tanah untuk pekerjaan bangunan saluran
irigasi. Tahun 1986 sampai sekarang bekerja sebagai
dosen Program Sarjana dan Pasca Sarjana di Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Tahun 1988 melanjutkan studi di Asian
Institute of Technology Bangkok Thailand, dalam
bidang Geoteknik dan meraih gelar Master of Engin-
eering pada tahun 1990. Tahun 1991 melanjutkan studi
di Universite de Grenoble I, Grenoble, Perancis dalam
bidang Geoteknik dan meraih gelar Diplome d'Etude
Approfondies (DEA) pada tahun 1992. Ijasah Doktor
di Bidang Geoteknik diperoleh pada universitas yang
sama pada tahun 1995. Pada waktu sekarang men-
jabat sebagai Kepala Laboratorium Mekanika Tanah
di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Kecuali
mengajar mata kuliah Mekanika Tanah dan Teknik
Fondasi, sehari-harinya Juga menangani penelitian-
penelitian untuk perancangan fondasi bangunan .

ivers1ty Press

ayah-ibu
isteri
anak-anakku
dan
tak lupa
untuk
kupersenzbahkan kepada
Bangsa dan Negaraku;
Indonesia

Hak Cipta @ 2002 pada GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS


P.O. Box 14, Bulaksumur, Yogyakarta 55281.
E-mail: gmupress@ ugm.ac.id
Cetakan pertama-Edisi ketiga Juli 2002

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin


tertulis dari penerbit, sebagian atau seluruhnya dalam
~ntuk apa pun, baik cetak, photoprint, microfilm dan
sebagainya.
1122.13.05.02

Diterbitkan dan dicetak oleh:


GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
Anggota IKAPI
0109181-c2E

ISBN 979-420 504-4


'


KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Allah SWT buku Mekanika Tanah 1 Edisi Ke-


tiga ini dapat diterbitkan. Materi yang disampaikan masih tetap sama
sepcrti pada edisi pertama dan kedua, yaitu membahas mengenai berat
volume tanah dan hubungan-hubungannya, pemadatan, air tanah
permeabilitas dan rembesan, tegangan efektif dan kuat geser tanah.
Pada edisi ketiga ini satuan yang dipakai adalah satuan lntemasional
(SI). Buku ini walaupun isinya singkat namun penjelasan-penjelasan
disajikan secara rinci dan detail agar mahasiswa baik dari tingkat
Sarjana maupun Pasca Sarjana atau para praktisi dapat menguasai
Mekanika Tanah dengan baik. Kendala penulisan yang dihadapi masih
tetap sama seperti edisi yang dulu, yaitu pada terjemahan istilah-istilah
dalam Bahasa Inggris yang cocok dalam Bahasa Indonesia. ~Oleh
karena itu, untuk istilah yang sering dipakai dalam masalah Mekanika
Tanah diusahakan masih tetap ditulis dalam Bahasa lnggris .

Ucapan terima kasih ditujukan kepada Ir. Moh. Aprijanto W.,
Ir. Hery Awan Susanto, Sudarwanto dan semua fihak yang telah
membantu dalam pengetikan ulang naskah buku ini. Terima kasih atas
kritik dan saran serta tanggapan yang telah disampaikan kepada
penulis pada edisi pertama dan kedua. Buku ini terwujud berkat
dorongan semangat untuk menulis yang tak habis-habisnya diberikan
oleh isteri: Isminarti dan anak-anak Kamma, Egha dan Merlangen .

Hary Christady Hardi atnlO



DAFTARISI

KATA PENGANTAR ................................ ............... .


,

vu
BABITANAH . ...., ..... ...... .. . ......... , . ,. ........................ . 1
1.1 Umum ...................................................... . 1
1.2 Berat Volume Tanah dan Hubungan-hubungannya ... . 2
1. 3 Mineral Lempung .......................... . .............. . 20
1.3.1 Susunan Tanah Lempung .. . ........ . ............... . 20
1.3.2 Pengaruh Air pada Tanah Lempung .......... .. 25
1.4 Susunan Tanah Granuler ................................ .. 30
1.5 Penyesuaian antara Partikel-partikel ................. . 32
1. 6 Anal is is Uk:uran Butiran .... .... .... ... .......... ..... . ... . 34
1.6.1 Tanah Berbutir Kasar .............................. . 34
1.6.2 Tanah Berbutir Halus ........................ ,. .... 35

1. 7 Batas-batas Atterberg ......................... . ...... .... . 43
,. 1. 7.1 Batas Cair (Liquid Li1nit) ........................ . 44
1. 7.2 Batas Plastis (Plastic Lilnid) .................... . 46
1. 7.3 Batas Sus ut (Shrinkage Lin1it) ................. . 46
1. 7.4 Indeks Plastisitas (Plasticity Index) .......... .. 48
1. 7.5 lndeks Cair (Liquidity .bzdex) ..................... . 48
1. 8 Akti vitas ........... .. . ... .................... ........ .... 49
1.9 Klasifikasi Tanah ...... . .................................. . 54
1.9.1 Si stem Klasifikasi Unified ........ . ............. . 55
1.9.2 Sistem Klasifikasi AASHTO ................... .. 59

BAB 11 PEMADATAN 73

2.1 Umum . ,....................... . 73



2.2 Uji Pemadatan ...................... 75


'
XI

M lpencraruhi Hasil Petnadatan .. 79


3.2.3.2 Uji Penneabilitas dengan Tinggi Energi
2.3. Faktor-faktor yang en o Dipadatkan ............... . 83
f t-~ifat Tanah Le~npunt- Turun (Falling-head) 156
2.4 St a .. T . ah di Lapangan ........... . 92 3233 p~?entuan Koefisien Penneabi1i~~~- d~ri
esifikasi Pemadatan an 94

UJt Konso]idasi
94 3.2.3.4 Uji Kapiler Horiz~~~~i ... .. 161
2. 6 . 1 Alat-alat Petnadat 1.64
3.2.4 Uji Penneabilitas di Lapangan ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
97
26. .2 Prosedur Pernadatan 168
2.7 Kontrol 1\.epadatan di Lapangan .......... . ............. . 101 3.2.4.1 Uj'i Permeabilitas dengan Menggunakan
2.8 Penmdatan Tanah Organik ...... : ...)................... . 108 Sumur Uj i .............. . 168
2.9 Petnudatan Dalmn (Deep Cotnpactton ................. . 110
116
3.2.4.2 Uji Permeabilitas pada s~~~;M~~i~ ~ ... 174
2.10Perubahan Volurne Akibat Pengenlbangan Tanah .... .. 3.2.4.3 u ji Pe.rmeabilitas dengan Menggunakan
.2. 1O.l Ken1bang Susut Tanah Lernpung 116 Lubang Bor .............................. . 177
126 3.2.4.4 Uji Penneabilitas Menggunakan
2. 10.?- U]'i Penoen1banuan
::::: c ..
2.10.3 Uji Indeks Ekspansi (Expansion Index Test. .Lubang Bor dengan Cara Tinggi Energi
Err) ............................... . 128 Berubah-ubah (Variable-head) ........ . 178
2.10.4 Uji Tekanan Pengembangan ................... . 130 3.2.4.5 Uj i Per tneabilitas dengan Penguk-uran
2.10.5 Variasi Potensi Pengembangan dengan Kecepatan Rembesan ................. . 179
Tegangan Nounal .............................. .. 132 3.2.5 Hitungan Koefisien Penneabilitas secara
2.10.6 Proses Pembasahan ............................. . 134 Teoretis
180
2.10.7 Estimasi Potensi Pengembangan dari Uji 3.2.6 Hubungan P~nneabilitas dengan Angka Pori
Laboratori urn ..................................... . 135 Tanah Pasir ...... ,. ....... . . ... . .. . . .......... . . . .. 184
2.10.8 Analisis Kenaikan Muka Tanah akibat 3.3 Rembesan .. .. .. . ,. . . .. . . ... . . . . . . ...... . .. .. . . .. . . ....
~
186
Pengembangan ................................... . 136 3.3.1 Jaring Arus (Floli'-net) .......................... .. 192
3.3.2 Tekanan Rembesan ............... . ................ . 196
BAB Ill AIR TANAH, PERMEABILITAS, DAN REM- 3.3.2.1 Pengaruh Tekanan A.ir terhadap
'
B~A

.
... ... .. ................. . 141
,
Stabilitas Tanah .......................... . 197
3.3.2.2 Teori Kondisi Mengapung (Quick-
3.1 Air Tanah
141
ii ..
3.l.l Teka~~~- K~~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ 142
condition)
................................ .
3.3.2.3 Keamanan Bangunan terhadap Bahaya
199
3.1.2 Pengaruh Tekanan Kapiler .... .. . ............. .
3.2 Penneabilitas .. .. 144 Piping ........... ....................... . . _Ql
3.2.1 Garis Aliran ......... .... .. .. 145 3.3.2.4 Gay a Tekanan Air pada Stru.ktur ....... . -15
3.3.3 Kondisi Tanah Anisotropis ...................... . ........
3.2.2 Aiiran Air dala~ T~~ili 145
3.3.4 Kondisi Tanah Berlapis ........................... .
???

3.2.3 Uji Permeabilitas di Laborat~ri~~- ............... . 146


154 3.3.4.1 Menghitung Debit Rembesan Tanah
3.2.3.1 Uji Permeabilitas dengan Tin~~\ "ji~~; ; Berlapis dengan Cara Jaring Arus ..... . ....25
Tetap (Constant-head) g 3.3.4.2 Menghitung Debit Rembesan Tanah
154

Xll XlJJ

Tanah Pasir .. ... ..... ... ...... ...,. ................


230 5.4 312
sebagai Laptsan ung . Kuat Geser Tanah Lernpung . .. . ........ . ... .. ........ . 315
d Suuktur Bendungan ........... . 233 5.4.1 Kuat Geser Tanah Lempung pada Kondisi
3.3.5 Rembesan pa a . . ................. . 234 Drained . ...... ...... .. . ... . ,. . . . . ... . .. . ..... ........
3 3 5.1 Cara Duputt .. . . . . . . . .. . ........ .. 235 316
. .5 2 Cara Schaffernak ............ . 5.4.2 Kuat Geser Tanah Lempung pada Kondisi
3
3 A casagrande .... 236 Undrai11ed . ............ ..... . .... .. ............ ...... . 325
3.3.5.3 Cara Garis Retnbesan secara 5.4.3 Koefisien Tekanan Pori (Pore Pressure
3.3.5.4 Penggambaran .. . . .... ... . . 241
Grafts d.B ~nd ungan Coefficient) ............. . .............. ............. .
5 .4.4 Penggunaan Parameter Kuat Geser Tanah
341
3.3.5.5 Debit Rembes~n pa a ..
Tanah Anisotropts 250 Lempung ... .............. . ....... .......... ........ .
5.5 348
3.3.5.6 Kondisi Aliran M asu .. k Keluar, dan Sensitivitas Tanah Lempung ................... ....... .
5.6 357
Kondisi Transfer d 252
5.7
Kuat Geser Tanah Tak Jenuh .......... . ............... .
Koefisien Tekanan Tanah Lateral Diam (Coefficient of
358
3.3.5.7 Cara Menggambar J aring Arus pa a

Struktur Bendungan Tanah ........ . .. . 252 Lateral Earth Pressure at Rest) (Ko) ................. . 361
3.3.6 Filter
256 5.7. 1 NilaiKopadaTanahPasir ....................... . 362
5 .7.2 Nilai Ko pada Tanah Lempung ................ .. 364
5.8 Lintasan Tegangan (Stress Path) ...................... ..
259 383
BAB IV TEGANGAN EFEKTIF

4.1 Pengerttan
.... ... ... .. .. .. ... ...... .. .. .. ..... . 259 DAFTAR ACUAN
264 398
4.2 Tegangan Efektif pada Tanah Tak Jenuh . : :
4.3 Pengaruh Gaya Rembesan pada Tegangan Efektif 266

BAB V KUAT GESER TANAH ............. . ..' .... .. . 283

5.1 Umum ............. ....... ..... ........ ' .... ... .. ... ...... . . 283
5.2 Uji Kuat Geser Tanah .. ... ....... .... . ... .. .. .. .... . ... . 288
5.2.1 Uji Geser Langsung (Direct Shear Test) . ... . .. 289
5.2.2 Uji Triaksial (Tria.xial Test) .. .. .. ..... .. .. ..... . 291
5.2.3 Uji Tekan Bebas ( Uncon.fined Compression
Test) ... ..... ........ .... ..... .. .... .... .. ... . . .. ... . 299
5.2.4 Uji Geser 'Kipas (Vane Shear Test) .......... . 301
5.3 Kuat Geser Tanah Pasir .. ... ... ..... ..... .... ... ,. .. . ... ... . 305
5.3.1 Uji Geser Langsung pad a Tanah Pasir ..... . .. ... . 305
5.3.2 Uji Triaksial pada Tanah Pasir . ... .. . .. . ... ..... .. 309
5.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kuat Geser
BABI


TANAH

1.1 UMUM

Dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah himpunan mineral,


bahan organik, dan endapan-endapan yang relatif lepas (loose), yang
terletak di atas batuan. dasar (bedrock). Ikatan antara butiran yang
relatif lemah dapat disebabkan oleh karbonat. zat organik, atau oksida-
oksida yang mengendap di antara partikel-partikel. Ruang di antara
partikel-partikel dapat berisi air, udara ataupun keduanya. Proses
pelapukan batuan atau proses geologi lainnya yang terjadi di dekat
pennukaan burni membentuk tanah. Pembentukan tanah dari batuan
induknya, dapat berupa proses fisik maupun kimia. Proses
pembentukan tanah secara fisik yang mengubah batuan menjadi
partikel-partikel yang lebih kecil, terjadi akibat pengaruh erosi, angin.
air, es, manusia, atau hancumya partikel tanah akibat perubahan suhu
atau cuaca. Partikel-partikel mungkin berbentuk bulat, bergerigi
maupun bentuk-bentuk diantaranya. Umumnya. pelapukan akibat
proses kimia dapat terjadi oleh pengaruh oksigen. karbondioksida, air
(terutama yang mengandung asam atau alkali) dan proses-proses
kimia yang lain. Jika basil pelapukan masih berada di tempat asalnya,
maka tanah ini disebut tanah residual (residual soil) dan apabila tanah

berpindah tempatnya. disebut tanah terangkut (transported soil).
Istilah pasir. lempung. lanau atau lumpur digunakan untuk
menggambarkan uk.'llran partikel pada batas ukuran butiran yang tel4h
ditentukan. Akan tetapi. istilah yang sama juga digunakan untuk
menggambarkan sifat tanah yang khusus. Sebagai cantoh, lempung
adalah jenis tanah yang be~sifat kohesif dan plastis. ~ pasir
digambarkan sebagai tanah yang tidak kohesif dan tidak plastis.
2
3

0,075
0,38
1,7mm pori-pori udara: dan air pori. Bagian-bagian tanah dapat digambarkan
..
Unified .. eedaog M~ eutlran halus (lanau dan lampt.ng) dalam bcntuk dtagram fase, seperti ditunjukkan Gambar1.2.
CIIJS
Systom f-:t paalf
Gambar1.2a mcmperlihatkan elemen tanah yang mempunyai
0.075
0,005 0,001 volume V dan bcrat total W, sedang Gambar 1.2b memperlihatkan
2.0mrn 0.~20
lai\IIU lempong lampung koloidal hubungan bcrat dengan volumenya.
ASTM p111r ttdMQ~L~pa~lll'~hal~u:_
--l:-:------;;:;;;---_;__-'--
2 .omrn o.e _-~-~
0.2
006~-~--~

0~,006::,__..:.:.
o,002
r---0,0006 _ 0,0002 mm
be rat wtume
haIus aoc:long ha1 ue
MIT haiUI kssar lodang
~ -~~~~~ogj_~~~-~--~
t.mpung w. - 0 v.
clature L-~paa~r~--__1_--~IM\a
-u--:=-
2,()rrn 1,0 0.5 02 01
'
0 05
'
0'02 0,006 0,002 0,0006 0,0002 mm
----------
-----------
----------
-----------
---- ----
----
I

(~ w. ----
----aJr
---- ----
-----
----------
l aanga\ -----------
----------
-----------
--- -
v.
~rvat
kaw knar Mdaog haiUI kasar 1\akJs lcaw halua kow halue halut

IIIUIU lempoog
Mo
'*'" w V,
I

(a) (b)
Gambar 1.1 Klasifikasi butiran tanah mcnurut Unified Soil Classification System,
ASTM, MIT, dan i11temational Nomenclature.
Gambar 1.2 Dtagram fase tanah.
Kebanyakan jenis tanah terdiri dari ban yak campuran a tau lebih
dari satu nmcam ukuran partikel. Tanah lempung belum tentu terdiri Dari memperhatikan gambar tersebut dapat dibentuk persa-
dari partikellernpung saja, akan tetapi dapat bercampur dengan butir- maan:
butiran ukuran lanau maupun pasir dan mungkin juga terdapat W= Ws+ Ww (1. 1)
campuran bahan organik. Ukuran partikel tanah dapat bervariasi dari dan
lebih besar 100 mm sampai dengan lebih kecil dari 0,001 mm. (1.2)
Gambar 1.1 menunjukkan batas interval ukuran butiran lempung,

lanau, pasir dan kerikil menurut Unified Soil Classification System, Yv = Yw + Va (1.3)
ASTM, MIT dan International Nomenclature.
dengan:
W5 = berat butiran padat
1.2 BERAT VOLUME TANAH DAN HUBUNGAN- Ww = berat air
HUBUNGANNYA
Vs = volume butiran padat
Segumpal tanah dap t t d . Vw = volume air
tanah yang ke h a er In dan dua atau tiga bagian. Dalam Va = volutne udara
rmg, any a akan te d d
tanah dan r tn an dua bagian yaitu butir-buttr
pon-pon udara. Dala , , . .' Berat udara ( Wa) dianggap sama dengan nol. Hubungan-
bagian, yaitu bagian pad' t , m ta~ah yang Jenuh Juga terdapat dua hubungan volun1e yang sering digunakan dalan1 mekanika tan~
tidak jcnuh, tanah terdir' ad, ~ta.u butJr~n dan air pori. Dalarn keadaan adalah kadar air (w), angka pori (e). porositas (n). dan derajat
t an ttga bag 1an, yattu
bagian padat (buttran
. )'

4
5

kejenuhan (S). .. b dingan antara berat air ( Ww) dengan


(1.9)
Kadar air (w). ada~ah pt:l~ ant nah tersebut, dinyatakan dalam
. d
berat buttran pa a t c;
da <" )
,un a
Berat spesifi k atau berat jenis (specific gravity) tanah (Gs)
perscn.
(1.4) adalah perbandingan antara berat volume butiran padat (y5), dengan
u(%) =
H'w X
100 berat volume air (Yw) pada tempcratur 4 C.
\V \
,.. , ( ) adalah pcrbandingan antara volutne rongga (V,.) G = Y., (1. 10)
.f
Porosttas 71 1 \') N'lai " dapat dinyatakan dalanl persen a tau Yw
dcngan volun1e tota ( 1
desitnal. Gs tidak berdimensi. Berat jenis dari berbagai jenis tanah berkisar
antara 2,65 sampai 2.75. Ni lai berat jenis G.f = 2 67 biasanya
Vv ( 1.5)
11 = digunakan untuk tanah-tanah tak berkohesi. Sedang untuk tanah
V kohesif tak organik berkisar di antara 2,68 sampai 2,72. Nilai-nilai
Angka pori (e). didefinisikan sebagai pe~banding~n antara berat jenis dari berbagai jenis tanah diberikan dalam Tabell.l.
volume rongga ( \',) dengan volun1e butiran (Vs). btasanya dtnyatakan

dalan1 de.sitnal. Tabell.l Bcrat jcms tanah (specific gravity)

V,. (1.6)
e= . Macam tanah Beratjenis (G5)
V \

Kenkil 2.65- 2,68


Berat volume len1bab atau basah (yb), adalah perbandingan Pasir 2,65- 2,,68
antara berat butiran tanah termasuk air dan udara (W) dengan volume I .anau anorgamk 2.62- 2.68
total tanah (V). Lempung organ1k 2.58- 2.65
Lempung anorganik 2.68 - 2. 75
\V Humus 1,37
Yb =V (1.7) Gambut 1.25 - 1.80

dengan W = \V"' + \Vs + Wa (Wa =0). Bila ruang udara terisi oleh air Derajat kejenuhan (S). adalah perbandingan volume air (Yw) dengan
seluruhnya (Va == 0). maka tanah menjadi jenuh. volume total rongga pori tanah (Vv). Biasanya dinyatakan dalam
. Berat volume kering (yd), adalah perbandingan antara berat persen.
butn~an (Ws) dengan volume total (V) tanah.
V
- w S (%) = \~ X lOO (1.11)
Yd- j
V\
v (1.8)
Bila tanah dalam keadaan jenuh air, maka S = I. Tabel 1.2
Berat volume butiran padat ( ) .
berat butiran padat (W) d Ys adalah perbandtngan antara menunjukkan berbagai macan1 derajat kejenuhan tanah untuk mak ud
s engan volume butiran padat (Vs). klas i fi kas i.
I
I

6
7

Tabell.2 Derajat kcjcnuhan dan kondtst tanah y'= COs -l)Yw


Derajat kejenuhan S l+e
Keadaan tanah
(1.17)
0
Tanah kcring > 0-0,25 Y' == Ysat- Yw
Tanah agak lcmbab 0,26- 0,50 3
Tanah Icmbab 0,51-0,75 dengan Yw = 1 tlm atau 9,81 kN/1n 3. ( l. j 8)
Tanah sangat lcmbab
0,76- 0,99
Tanah basah
1
Tanah JCnuh air . . Nilai-nila~ porositas, angka pori dan berat volume pada keadaan
ash dt alam dan berbagai jenis tanah yang disarankan oleh Terzaghi
Dari persamaan-persan1aan tersebut .di atas dapat dibentuk hubungan (1947) ditunjukkan dalam Tabell.3.
antara masing-masing persamaan, yattu:
Tabel1.3 Ntlru n, e, w, Yo dan yh untuk tanah kcadaan asli di lapangan
(a) Hubungan antara angka pori dengan porositas:
Macam Tanah fl e w
1l
(1.12) Yd Yb
e=-- (%) (%) (kN/rn3) (kN/m3)
1-n
Pas1r seragam, ttdak padat 46 0,85 32 14,3 18.9
e Pasir seragam, padat 34 0,51 19 17,5 20.9
n=-- (1.13) Pasir berbutir carnpuran, tidak padat 40
1+ e 0,67 25

15,9 19,9
Pasir berbutir campuran, padat 30 0.43 16 18.6 21,6
(b) Berat volume basah dinyatakan dalam rurnus sebagai berikut: Lempung lunak sedtktt orgamk 66 1,90 70 - 15.8
Lempung lunak sangat organik 75 3.00 no - 14.3
(1.14)
(f) Kerapatan relatif (relative density)
(c) Untuk tanah jenuh air (S= 1) Kerapatan relatif (Dr) umumnya dipakai untuk menunjukkan
tingkat kerapatan tanah granuler (berbutir kasar) di lapangan.
y = YwCGs +e) Kerapatan relatif dinyatakan dalam persamaan:
sat l
+e ( 1.15)

(d) Untuk tanah kering sempuma: D = emak -e


r (1.19)
emak- emin
v
,d -
_ GsYw
l+e , (1.16) dengan

(e) Bi la tanah terendam b emak = kemungkinan angka pori tnaksinlUlll


~ kff d. atr, erat volume apung atau berat volume emin - kemungkinan angka pori Ininin1un1
e e I . myatakan sebagai y', dengan
e = angka pori pada kondisi tet1entu di lapangan
,
I

8
'
9
. t rbesar atau kondisi terlonggar dari

Kemungktnan a ngka pon e . maksirrzunz (emak). A ngka pori D -= Yd(mak) Yd - Yd(mmj
r
suatu tanah disebut angka porz menuangkan pasir kering dengan (1.24)
. k n dengan cara Yd Yd(mak) - Yd(mm)
maksimum dttentu a k dalam cetakan (nzould) yang telah I

. . t npa getaran e Kerapatan relatif biasanya dinyatakan dalam persen.


hau-hatt. dengan a ri berat pasir di dalam cetakan, emak dapat
diketahUI volumenya. Da k ri minimum (efTUn) adalah kemung- Kepadat_an relatif (relative C011lpaction), Re. didefinisikan sebagai
dihitung. S~cara sama, an;n a ~~apai oleh tanah. Nilai emm dapat pcrband1ngan antara berat volume kcring tanah di Iokasi dengan berat
kinan kond1sl terpadat Y gt kan pasir kering yang diketahui volume kering maksimumnya atau,
ditentukan dengan mkengge narg telah diketahui volumenya, dari sini R _ Yd
be t a ke dalam ceta an ya . . .
ke:u~a~ dihitung angka pori minimum: Pada tanah pasu dan kenkil,
c- ( 1.25)
Yd(mak)
kerapatan re1att'f (re 1at 1ve
' density)
dtgunakan untuk menyatakan
.
hubungan antara ang ka Pori . nyata dengan batas-batas makstmum. dan
d
nuntmum an an gka ponnya Persamaan (1.19)
. . dapat dtnyatakan
..,d "" 0 berat volume kering "Yd{tnln)
dalam persamaan berat volume tanah, sebagat benkut: I
'Y4I(INII)

I I I
(1.20)
= DO angka pori -.,.

kerapatan relatif o 100
D, (%)
atau

e . = GsYw -1 (1.21) Rc-80


nun 0 100
Yd(mak) kepadatan relatif Re (%)
I I I

Dengan cara yang sama dapat dibentuk persamaan angka pori


maksimum:
Gambar 1.3 Perbedaan kerapatan relatif dan kepadatan relatif.

(1.22)
Perbedaan antara kerapatan dan kepadatan relatif ditunjukkan
dalam Gambar1.3.
dan angka pori pad a kondisi tertentu di lapangan: Hubungan antara kerapatan relatif dengan kepadatan relatif
e = GsYw -1 adalah:
Yd
(1.23)
Rc = Ro (1.26)
1- Dr( 1- R0 )

dmakeng~ Yd(mak) da? . Yd(min) berturut-turut adalah berat volume kering


stmum dan nuntmum sert d1 dengan Ro = Yd(min) I Yd<mak)
asli Sub t"t p ' a Yd a a ah berat volume kering keadaan
s t ust ersamaan (I 20) .
(1.19) diperoleh persamaan: sampat (1.23) ke dalam Persamaao Lee dan Singh ( 1971) menyarankan hubungan antara kepadatan
relatif dan kerapatan relatif sebagai berikut:


10
])
(1.27)
Re =80 + 0.2 Dr Contoh soa/1.2:
dengan Dr dalatn persen. Tanah
. . mempunyai . angka pori e = 0 70
' , kadar a
1 r w-
- 20m d
m an berat
Jents Gs = 2,65. HJtung n, yb, yd, dan S.
Cotltolz soal 1.1: 3
. d' 1 gan tanah men1punyai volume 10 cm dan berat Penyelesaian:
Pada kondtst 1 apan , .
basah L8 gram. Berat tanah kering ove~l adalah 16 gram. JIka berat
. h G _ 2 71 hitung kadar atr, berat volume basah, berat
Jents tana s - (a) Porositas: n = e 0, 70 0 41
volunle kering. angka ~ori, po;osttas, dan deraJat kejenuhannya 1 + e = 1 + 0,70 = '
(dianggap berat volume atr 1 g/cm ).
(b) Berat volume basah: yb = (1 + w) Gs Yw = (1 + 0.2) 2,65 x 1
Penyelesaian : 1+e 1+0,70
W W-W 18-16 3
=1,87 g/cm (18,34 kNim3)
(a) Kadar air: w = "' = s = = 12,5%
Ws Ws 16
3
(c) Berat volume kering: yd = Yb = 1,87
(b) Berat volume basah: Yb = WIV = 18/10 = 1,80 g/cm (17,66 1+ w 1+ 0.20
3
kN/m ) 3
(c) Berat volume kering: Yd = WsfV = 16/10 = 1,60 glcm (15,7
3 = 1,56 glcm (15,3kNim 3 )
3
kN/m )
(d) Angka pori: e =VJVs (d) Derajat kejenuhan: S = w Gs le= 0,20 x 2,65 I 0.70 =76%.
Perhatikan ketika tanah menjadi jenuh: e = w Gs (karena S = 1).
Vs=
ws
=
16
=5,90 cm
3

GsYw 2,71Xl
Contoh 1.3:
V. . = V- Vs= 10-5,90 =4,10 cm3 Tanah pada kondisi n = 0,45, Gs = 2,68 dan w = 12%. Tentukan berat
3
air yang harus ditambahkan untuk 1 m tanah, supaya tanah menjadi
e =4,10/5,90 =0,69
jenuh.
(e) Porositas: n = e = 0, 69 = 0 41
1+ e 1+ 0,69 ' Penyelesaian:
(f) Derajat kejenuhan: S = VwiVv e = 11 I (l- n) = 0,45 1(1- 0.45) = 0,82
Vw=WwiYw = (18- 16)/1 = 2 cm3
ladi, S = 2/4,10 =0,49 = 49 %.


12
13
2 68
(I+ w) G, y w = (I+ 0,12) X I = 1,65t /m.1 (16.18 kNtrn 3)
air
Yh = 1+ e 1+ 0,8 2

(G ~ +c)y w _
1
(2,68 + O.S ) =1,92t I rn ( 18,87 kN!tn )
2 3 3 ------
_____
__
---
_..,....__ ---
.._,---
--- .....
......... __
~ .... ,_ .... ...,.,

Y'a' = 1+ e - 1+ 0,82 ------------


____ ______
________
----~-----
..._._

-----------
__________
_._._.
_______ __
......
_
_________ .....,...,..
.___..,..
Berat air (WII') yang harus dita~nbahkan per nlcter kubik:
_ yb = 1, 92 - 1, 65 = 0,27 ton
Ysat

Jadi, untuk membuat tanah m~njadi jcnuh, harus ditambahkan air w.


sebesar WuiY"' = 0.27I 1 =0.27 nr. v. = 1

Contoh soal 1.4:


Data dari pengujian di laboratoriun1 pada benda uji jenuh butlran
mcnghasilkan angka pori e = 0,45 dan berat jenis G\ = 2,65. Untuk
keadaan ini, tentukan berat volume basah (Yb) dan kadar airnya (w). Gambar CJ.J.

Jadi, tanah ini mempunyai berat volume basah Yb = 2,14 tJrn3 (21
3
Penyelesaian: kN/m ) dan kadar air sebesar w = 17%.

B.enda uji dalam kondisi jenuh. Jadi, seluruh ruang pori terisi dengan Contoh soall.S:
atr.
Pada contoh benda uji asli (undisturbed sanzple), 0.027 n13 tanah yang
e =VJVs= 0,45 diperoleh dari lapangan mempunyai berat 51.6 kg. Berat kering tanah
Tapi V" dan Vs belum diketahui. Pada Gambar Cl.l, dengan = 42,25 kg. Berapakah berat volume apung (y') tanah ini, jika tanah
menganggap Vs =1, maka untuk kondisi jenuh: Vv = Vw = e Vs = e; terendam di bawah Inuka air tanah? Diketahui berat jenis tanah
Gs = 2,70.
V = Vs + eVs= 1 + (0,45 x 1) = 1,45
Ws = VsGs Yw = 1 X 2,65 X 1 =2,65 t Penyelesaian:
Ww = VwYw =0,45 X 1 =0,45 t ..
Vs = WsfGs Yw = 42,25 X 1o- /(2. 7 3
X l) = 0.0156 m3
W = Ws + Ww = 2,65 + 0,45::: 3,J t 3
Y~> = WIV= 3,111,45 =2,14 t/m3 Vv = V- Vs= 0.027-0.0 156= 0.0114 rn

W = Ww!Ws::: 0,45/2,65 = 17% e = V,/ Vs= 0,0114 I 0,0156 =0,73


3
y' = (Gs-1)y"/(1 +e)=(2.7-1)1/(1 +0.73)=0.98t/m

14
J5
, - 0 98 t/mJ (9 ,6 1 kN!ln3).
Jadi, berat volunle apung tanah y - , Volume udara: Va = 0,6 - (Vw+ V5 )
= 0,6 - { Yw+ W/(ywGs) }
6
Contoh soall. : 1
b1.1dari lokasi tanah timbunan,
d. = 0.6 - {0.2 + 1/(1 x 2,7) } = 0,03 cm3
k uh yang tan
h
Suatu contoh tana t.a Jen
. k d . atr 20% dan era
b t vohnne basah 2 g/cm~ . Dengan
3
.
Derajat kejenuhan: S = VwiVv =0,2/(0,2 + 0,03) = 87%
men1punyat a at . G _ 2 7 dan berat volume atr !"v = 1 A ngka pori: e = VviV~ == 0,23/0,37 = 0,62
~ . tanah ~ - ' '
menganggap berat J~nts . dari contoh tersebut. J 1ka tanah
/cn13. hitung deraJat kejenu1lan (V.., = 0,6 - 0,2 - 0,03 = 0,37 cm3 )
gkemudtan
. menJa . d'1 Jenu
. h. hitung. berat volumenya. Vol umc rongga total: vl' = Vn + Vw=0,03 + 0,2 = 0,23 Cn13
Saat tanah jenuh, rongga terisi air sc1uruhnya, maka

Penyelesaran :
Ww = '}\, Vw= I X 0.23 = 0.23 g.
Dengan tnengambil berat butiran pa~at, Ws = 1 g
maka berat air. Ww= wWs = 0,2 X 1 = 0,2 g Berat volume jenuh: _ berat tanah jenuh _ Ws + Ww
Ym, - -
volume satuan V

1 + 0,23
v. udara w. = 0 =
0,60
= 2.05g/cm (19.62kN/m ~)
3

---------------
-
-- ----------
..-.--....-- - ---
--...- a-
r
~-------~---__,.....
--------
-
Contoh soall. 7:
----------~
_,__
~---- --. r -----
-----
~----- 81 - - - - - Ww = 0,2 gram
---- ----
---------
~---- - ------

-------------
~-------------
~--------- ----..-~
Dari lokasi pengambilan bahan timbunan, diperoleh data bahwa angka
pori tanah tersebut 1,2. Ji ka j umlah material yang dibutuhkan untuk
...
~::
........ ,
......... ......
..
....._.;..t'..
,, , . .......
.:.... ,
.....
;..; .~
,...
"~
......
:.-' ..
:-:
\ .... ....
-~
,..
~
~
....... . .,
.....:,.......\.,............ r .. 3
timbunan 15.000 m dengan angka pori 0.8, berapakah jumlah
.....,.:........
~ \
............. ....,.. butl
.:;.--:-'''.:--:
t' .: ' ,1. :
~ -=~ ., , . material yang harus disediakan pada lokasi pengambilan?
v. ...~.
...L.'\'
I-'' .C 'I ~.,-
"
,.:;~ ran
'.-" ....., ..........
.
.... ' ..
: .....
. w. = 1 gram
.....-..,..,...................
.;-,.....

-!.\ '-~
I
,,... .,.
..~ . ......_..,. -.., .... ....... .. ,. ..
r-, I ,, ''
I ,, ._ . ,,, , ..
~ ~-
~-
1
. ~'-"et' ' .a,, I~~ . . I._ ' . . '
~
;
It
Penyelesaian:
Keadaan di lokasi pengambilan (lokasi ll): e2 = 1.2
Keadaan lokasi penimbunan (lokasi I): e1 = 0.8
Gambar C1.2.
Jika V1 adalah volume pada lokasi penimbunan dan V2 adalah volume
pada Iokasi pengambilan, maka :
Volume air:
Vw = WJyw= 0,2/1 =0,2 cm3 V1/V2 = ( 1 + e t)!( 1 + e2)
Berat total,
Berat volume basah: WIV = 2 g/cm3
W = Ww + Ws =0,2 + 1 = 1,2 g Ingat bahwa V= Vs + V"= Vs ( I +e) dan Vs selalu tetap.
Maka volume total:
V = 1,2/2 = 0,6 cm3
16
17
I + L2 - 18333 m
3
1+ e2 15000X - 1+ 1,65
\1 = \1 X = 1+ 0,8 V2 =- 200000x = 331250 m3
2. 1 1+ el 1 + 0,60

disediakan pada lokasi II (pengarnbilan) :::


. tanah yang harus Upah angkutan total = 331250 x Rp. 2500,- = Rp 828.125.000,-
Jad1,
18333
3 Jad1, lokasi I lebih ekonomis, walaupun upah angkutan per m3 lebih
n1 mahaJ.

Contoh soall.S: h padat 200.000 tn3 dengan angka Colltoh soall.9:


merlukan tana .
Proyek bendun?an Ine . dua lokasi yang memungk1nkan untuk
pori 0.60. Dan peta ~erhhat survai di kedua Jokasi, diperoleh data Buktikan:
pcngainbilan tanah tnl. Dan (a) Persamaan (1.16)
sebagai berikut: (b) Persamaan (1.14)
(c) Persamaan (1.15)
Lokasi pengambilan Angk.a pon (c) Upah angkutan per m3

I 0.90 Rp.3000,- Penyelesaian :


11 1.65 Rp.2500,-
Dengan memperhatikan Gambar C1.3. Dianggap volume buti ran
padat: Vs = 1.
Pilihlah tempat pengambilan tanah yang lebih ekonomis.

Penyelesaian:
v. udara w. = 0
Jika, V1 = volume yang dibutuhkan pada lokasi I, --- -- --- -
---------
---------
---------
------ - --
V2 = volume yang dibutuhkan pada lokasi II, ---------
---------
---------
---------
V = volume tanah yang ditimbun di lokasi bendungan
3
--------- Ww = wW8 = wG..y. Va
= 20000 m
Vs di semua lokasi sama, maka
V.
= 1

1 0 90
V1 = 200000x + = 237500 m3
1+ 0,60 butiran
aJr
Upah ~ngkutan total= 237500 x Rp 3000,- = Rp 712.500.000,-
LokasJ pengambilan II:
Gambar CJ.3.
18 19

GsYw +Ywe
(a) Persamaan (1.16): Yb = Ysat = l
+e
yd= WsfV Yw(Gs+e)
_ G Vy .. maka Ysat = l +e
Karena, Ws - s s "
GsYwVs - GsYw
Yd = V - 1+ e
Contoh soall.l 0:

(b) Persamaan (1.14):


Tanah pasir yang akan digunakan untuk urugan kembali (back fill)
mempunyai berat volume basah Yb = 19,62 kN/m3 dan kadar air w =
\V \V.s + U'w 10%. Angka pori dalam keadaan paling tonggar (emak) = 0,64 dan
'Yb = V = V
dalam keadaan paling padat (emin) = 0,39. Tentukan angka pori (e)
Karena, \Vw =w\Vs dan lVs =Gs YwYs, maka tanah urugan kembali dan kerapatan relatifnya (Dr). Diketahui tanab
urugan kembali mempunyai G~ = 2.65.
GsYw Vs+ wGsYwVs = Gs(l + w)Yw
Yb = V l+e
Penyelesaian:

(c) Persamaan (1.15): G5 (1+ W)Yw


Berat volume basah:
Yb = 1+ e
Volume air: Vw = SVv = Se (karena Vs= 1)
Berat air : Ww = YwYw = wWs =wGsYwVs 2,65 (1 + 0.1) 9.81
19,62 = .
atau YwSe = wGsYwVs l+e
dengan Vs = 1, maka Se =wGs
diperoleh e = 0,46
Persamaan ini merupakan persamaan yang sangat penting untuk
hitungan-hitungan. Dari persamaan tersebut dapat dibentuk persamaan emak - e
lain, yaitu : Kerapatan relatif: Dr = -~:....__-
emak - emiri

Dari
= 0,64-0,46 = 0, 72
0,64-0,39
Yb = Gs(l+Se/Gs)yw =GsYw +ywSe
l+e l+e J adi, angka pori tanah urugan kembali: e = 0,46 dan kerapatan relatif:
Dr = 0,72.
Pada waktu tanah menjadi jenuh air, S = :
1
20 21

1.3 MINERAL LEMPUNG tunggal molekul air. l!ka lapisan tunggal air menghiJang oleh karena
proses penguapan, mJneral ini akan berke1akuan la'tn Mak +c
h 1
t ana h berb uttr a, SJ 1.a t
1.3.1 Susunan Tanah Lempung . . . a us .yang mengandung hallo . .t e akan beru bah secara
. ys1
. k 1 kin1ia rnenghast lkan susunan taJain Jtka tanah d1panasi sampai menghilangkan Japisa n t
k h aktbat rea s . . 1k I . S'f unega 1
Pelapu an tana k 1 .d dengan diatneter butI ran lebth mo e. u.r a1rnya
d .. 1 at khusus lain adalah bentuk part'Ikel , "'
nya menye-"'
kelompok partikel beruku~n bot o~neral lempung. Partikel lempung rupa1 s1 tn er-sthnder memanjang, tidak seperti kaolinite yang berben-
kecil dari 0.002 nltn, yang tse u lpunyai permukaan khusus, tuk peiat-pelat.
1 mbaran yang tnen
berbentuk scpertt e . st'fat sangat dipengaruhi oleh gaya-
h letnpung rnempunyat . .
se mgga T d t k'ra-kira
1
15 macam tnineral yang dtklast- \
gaya permukaan. er apa d' \
. . .
fikastkan sebagat mtnera 1 lempung (Kerr. 1959). Dt antaranya ter tn
. . . . .
dari kelornpok-kelompok: montnzorillotllte, zllzte, k~ohnzte, dan po.ly-
.' \
lembarll'l eJuminlum

gorskite Terdapat pula kelompok yang lain, rrusalnya: chlorzte, alllka setrahedra
aluminium o4ctahedra
venniculite, dan halloysite.
Susunan kebanyakan tanah lempung terdiri dari silika tetrahedra
dan aluminium oktahedra (Gambar 1.4a). Silika dan aluminium eHikon
alumloJum
0 hldrokiU
secara parsial dapat digantikan oleh ele1nen yang lain dalam kesatuan- o okalgen

nya. keadaan ini dikenal sebagai substitusi isomorf Kombinasi (a)


susunan dari kesatuan dalam bentuk susunan lempeng simbol diperli-
hatkan dalam Gambar 1.4b. Bermacam-macam lempung terbentuk Gambar 1.4 Mineral-minerallempung.
oleh kombinasi tumpukan dari susunan lempeng dasarnya dengan
bentuk yang berbeda-beda. Montmorillonite, disebut juga snzectite. adalah mineral yang dibentuk
Kao/inite merupakan mineral dari kelompok kaolin, terdiri-dari oleh dua lembar silika dan satu lembar aluminium (gibbsite) (Gambar
susunan satu lembar silika tetrahedra dengan satu lembar aluminium 1.6a). Lembaran oktahedra terletak di antara dua Iembaran silika
ok~~~edra. dengan satuan susunan setebal 7,2 A0 ( 1 angstrom (A0 ) = dengan ujung tetrahedra tercampur dengan hidroksil dari lembaran
10 m) (Gambarl.Sa). Kedua lembaran terikat bersama-sama, oktahedra untuk membentuk satu lapisan aluminium oleh magnesium.
sedemikian hingga ujung dari lembaran silika dan satu lapisan lembar- Karena adanya gaya ikatan Van der Waals yang Iemah di antara ujung
an oktah~r? membentuk suatu lapisan tunggal. Dalam kombinasi lembaran silika dan terdapat kekurangan muatan negatif dalam
lembaran sthka dan alumi kd . lembaran oktahedra. air dan ion-ion yang berpindah-pindah dapat
(G b mum, e uanya tenkat oleh ikatan hidrogen
leb~hm dar. I.Sb ). Pada keadaan tertentu, partikel kaolinite mungk.in masuk dan mernisahkan lapisannya, Jadi kristal nzontnzorillonite
an seratus tumpukan k . . . sangat kecil, tapi pada waktu tertentu mempunyai gaya tarik yang kuat
mineral ini stab"tl d . .d yang su ar dtptsahkan. Karena ttu,
an atr tt ak dap t k . terhadap air. Tanah-tanah yang mengandung nzontnzorillonite sangat
dapat menimbulkan k b a masu dtantara lempengan (atr
em ang-susut d 1 mudah mengembang oleh tambahan kadar air. Tekanan pengen1
lialloysite hampir sama den pa a se .s~tuannya). bangan yang dihasilkan dapat merusak struktur ringan dan perkerasnn
berurutan lebih acak 1kat gan kaoluute, tetapi kesatuan yang jalan raya.
. annya dan d .
apat dtpisahkan oleh lapisan
22 23

I I
I
/ -~"'--..
~- ~

atumlnlum

eillka
aluminium
. aJuminlum elllka
tlltka
Qumlnl~7
-I

(I)
I
I

\
\ \
/ /
\
/ '' '\ \ \f'
\

/ .
/ /
''

\
/ I II

OH
/
' I

------
\
' I

I
I I
I I
I
I
I
I 1/.
I
(b) I

\
\ \ @ tldtokll
\
\
\
'
\
\

Alufririum. b I 11.
mVJJIUn
\
\ \
saa.
0 ............
ker.teow kadang

(b)
I
,'
I ,I
I

,

Gambar l.S (a) Diagram sk t'k kt


ema 1 stru ur kaolinite (Lambe, 1953). Gambar 1.6 (a) Diagram skematik struktur montmorillonite (Lambc. 1953).
(b) Struktur atom kaolinite (Grim, 1959). {b) Struktur ato m montmorillonire (Grim. :1 959).


24 25
ang terdiri dari mineral-
k eral Iempung Y d b h ~ang ~en~ikat satuan kristal kaolinite, tapi sangat lebih kuat daripada
111 '1e adalah bentu
. .
mtn
k susunan
dasamya terd tn an se ua
b
. k lompok dlrte. Bentu 'kat diantara dua 1em aran 1katan JOntk yang .membentuk kristal montmorillonite. Susunan illite
1
mtnera e . h d yang ten . .
n aluminium okta e ra kt hedra terdapat substttust tidak mudah mengembang oleh air di antara lembaran-lembarannya.
b
lem ara lembaran o a ' b
'l'k
st t a tetrahedra.
. Dalam
h .
nesium and besi , dan dalam
. . lem aran
(Gambar 1.3.2 Pengaruh Air Pada Tanah Lempung
Parsial alumintum ole1 mag . . 'l'kon
ubstttUSl Sl 1
oleh alumJntum
h
tetrahedra terdapat pu a s . t bersama-sarna oleh ikatan lema ton-
Air biasanya tidak banyak mempengaruhi kelakuan tanah non
1 7) Lembaran-lembaran ten~a l batan-lembarannya. Ikatan-
. . d t dt antara etn . . kohesif (granuler). Sebagai contoh, kuat geser tanah pasi.r mendekati
ion kahum ya~g ter .apa +) lebih lemah daripada tkatan htdrogen sama pada kondisi kering maupun jenuh air. Tetapi, jika air berada
ikatan dengan ton kahum (K
pada lapisan pasir yang tidak padat, beban dinamis seperti gempa
bumi dan getaran lainnya sangat mempengaruhi kuat gesemya.
/
_,
.
slllka Sebaliknya, tanah berbutir halus khususnya tanah Iempung akan
' K) banyak dipengaruhi oleh air. Karena pada tanah berbutir halus, luas
pennukaan spesifik menjadi Iebih besar, variasi kadar air akan mem-
stlika
pengaruhi plastisitas tanah. Distribusi ukuran butir tanah umumnya
aluminium bukan faktor yang mempengaruhi kelakuan tanah butiran halus.
silika Identifikasi tanah jenis ini dilakukan dengan mengadakan uji batas-
~- , batas Atterberg.
\ K
.. _ I ion kalium Partikel-partikel lempung mempunyai muatan listrik negatif.
Dalam suatu kristal yang ideal, muatan-muatan negatif dan positif
siUka
10 A0 seimbang. Akan tetapi, akibat substitusi isomorf dan kontinuitas per-
aluminium pecahan susunannya, terjadi muatan negatif pada pennuk:aan partikel
sitika lempung. Untuk mengimbangi muatan negatif tersebut, partikel
-, lempung menarik ion muatan positif (kation) dari garam yang ada di
\ K I
.. ., dalam air pori. Hal ini disebut pertukaran ion-ion. Kation-kation dapa~
slUka disusun dalam urutan kekuatan daya tarik-menariknya, sebagat

aluminium
berikut:

sllika AI + > Ca + > Mg + > NH + > K+> W > N~+ > ~+


3 2 2 4

I K \ Urutan tersebut memberikan arti bahwa ion Ae dapat


I
2 2
mengganti Ca +, Ca + dapat mengganti Na+ dan seterusnya. Proses ini
slllka
disebut dengan pertukaran kation. Sebagai contoh :

Gambar 1.7 Dtagram sk k . . Na(Jempung) + CaCb Ca(le~ung> + N.CI


ematt struktur tllite (Lambe, 1953 ).
I

26 27

1 letnpung didefinisikan
t
k tton t,ula 1 . d I
K apas ltas pcrtukaran 'a. -ton. Yang dinyatakan a am .------.._okslgen
bagai junllah pertukaran
1011
kering. Beberapa garam Juga -
se. . k' t~n per l<X) grain lenlpung kcring. Pada waktu air
mthe tva . .. artikel lcmpung . . ,_
terdapa t P'ld'l' pcnnukaan
P kation-katton
. dln anton-anton n1enga L

ditan1bahkan pada lenlpung. S)


pung di sckitar partikcl (Gantbar 1. . /
/ +
/
hidrogen

0() kation

Q~ 0 ()
. .~

,.:.
0
8 -

(a) (b)

lempung ---.._...;.~
.~ -
Gambar 1.9 Si fat dipolar air.
o
'I

t
..~.I 8- - anion

. ..,.. -
.----,

~
"'""";"",

'..eo:

. . .......,. '.......
., ....,......'.....
. ............ ....
\

Gambar 1.8 Kation dan anion pada partikel lempung. e . ::.: + - (1)

. .......

Molekul air merupakan molekul yang dipolar, yaitu atom



... .: .

I
' I

hidrogen tidak tersusun simetri di sekitar atom-atom oksigen (Gam- permukaan partikel .:6~!~
bar 1.9a). Hat ini berarti bahwa satu molekul air rnerupakan batang lempUng ... .. 9::
. .. /"katlon
'~
yang mempunyai muatan positif dan negatif pada ujung yang
@(-

+) (2)
berlawanan atau dipolar (dobel kutub) (Gambar 1.9b).
e, :{

Terdapat 3 mekanisme yang menyebabkan rnolekul air dipolar



.....

,

I


dapat tertarik oleh permukaan partikel lempung secara elektrik :1::\::
\=.!.::
(3)
(Gambar 1.10): ., '

Ill ..\ 1 ...l e 1 I

(1 ) Tarikan antara ~ennukaan bennuatan negatif dari partikel


lem?ung dengan u~ung positif dari dipolar.
(2) Tankan antara katton-kation dalam lapisan g d d n muatan
r d . . . . an a enga Gambar 1.10 Molekul air dipolar dalam lapisan ganda.
negatt an . UJung dtpolar. Kation-kation ini tertarik oleh per-
mukaan parttkel lempung yang bermuat .f
an negat1 .


28 29
molekul air, yaitu dengan
h.1drogen da Iam d menolak satu dengan yang lain secara elektris, tapi prosesnya
(3) Andil atom-atom . en dalatn partikel Jempung an atom
ikatan hidrogen antaral oks\~kul air. bergantung pada konsentrasi ion, jarak antara partikel, dan faktor-
oksigen dalain moleku -mo faktor lain. Secara sama, dapat juga terjadi sa ling tarik menarik antara
partikel akibat pengaruh ikatan hidrogen, gaya Van der Waals, macam -
. yang berada di sekitar partikel
'k secara elektns, st I . ikatan kimia dan organiknya. Gaya antara partikel berkurang dengan
Air yang tertan . d (d0 ,~ble-/ayer water). 1 at p astts
1 san gan a bertambahnya jarak dari pennukaan mineral seperti terlihat pada
lempung, disebut atr ap. k . t si dari Iapisan ganda. Ketebalan
dalah akibat e sts en d' 1 Gambar 1.12. Bentuk kurva potensial sebenamya akan tergantung
tanah lempung a . I k r zite dan nzonttnorillonlte tper l- pada valensi dan konsentrasi ion, larutan ion dan pada sifat dari gaya-
air lapisan ganda untuk knsta ao u
gaya ikatannya.
hatkan dalam Gambar 1.11.

,-llr 11raptn llr luiltal

.. ,
. . ..
'
.. .. . .
.
-

. . .

. . ... . .
'
. .. . . . . .
. . . ....... . ........





. . '

10 A
'
10 A

10 A

... .. . .


'

. .. .. . . "



200A

,. . . .

air tapllan ganda


(b)

(I)

Gambar 1.11 Air pada partikellempung. Gambar 1.12 Hubungan potenstal (elektrostatis, kimia dan sebaga.inya) dengan jarak
pet mukaan lempung.
(a) Kaolinite.

(b) Montmorillonite (Lambe, 1960).


Jadi, jelaslah bahwa ikatan antara partikel tanah yang disusun
Air lapisan. ganda pada bagian paling dalam yang sangat kuat oleh minerallempung akan sangat dipengaruhi oleh besamya jaringan
mele~t pada partkellempung, disebut air serapan (adsorbed water). muatan negatif pada mineral, tipe, konsentrasi, dan distribusi kation-
Pertahan hubungan mineral I kation yang berfungsi untuk mengimbangkan muatannya. Schofield
be 'k -rrunera 1 empung dengan air serapan,
mem n an bentuk dasar dari . . dan Samson (1954) dalam penyelidikan pada kaolinite. Olphen (1951)
terikat satu sama 1 1 s~suna~ tanah. Ttap-tiap partikel sahng
. atn, ewat lap1san a . . dalam penyelidikan pada nzontmorillonite, menemukan bahwa juml:m
Yang berbeda mate 1 .k tr serapan. Maka, adanya ton-ton dan distribusi muatan residu jaringan mineral, bergantung pada pH 8lr.
' na organt bed k . .
akan berpengaruh besar d r' a onsentrast, dan lain-latnnya Dalam lingkungan dengan pH yang rendah, ujung partikel kaolinite
pa a st at tanah p Iak
.arttkel lampung dapat to
30 31

f dan se1anJ'utnya dapat menghasilkan '


dapat menjadi bermuatan posttl rtikel yang berdekatan. Gaya contoh_tan~h pasir pada kondisi kerapatan relatif yang sama seperti
. .
gaya tank UJUng
ke permukaan antara pa
f kondtst ash dt l~pangan. Akan tetapi, pengambilan contoh benda uji

. . . .
tank 1nt mentm bulkan sifat kohest . untuk tanah pastr yang longgar di lapangan, sangat sulit. Material ini
sangat sensi~i~ terhadap getaran, sehingga sangat sulit untuk menya-
makan kondlSlnya, sama seperti kondisi asli di lapangan. Karena itu
1.4 SUSUNAN TANAH GRANULER dalam praktek digunakan beberapa macam alat penetrasi untuk
mengetahui sifat-sifat tanah granuler. 'Pada cara ini, nilai tahanan
d t mengendap pada suatu larutan penetrasi secara kasar dihubungkan dengan nilai kerapatan relatifnya.
Butiran tanah yang apa pada butiran yang lain akan
d' 'd tak bergantung
suspensi secara tn IVt u, Seba ai contoh, tanah pasir, kerikil, atau

berupa susunan tunggal.. d g I au Berat butiran menyebabkan
beberapa campuran paS!r a~ a~ (Gambar 1.13) mungkin tidak
butiran mengendap. Susunan ana k .
padat (angka pori tinggi atau kerapatan re~dah) atau padat (an~ a.~o~
rendah atau kerapatan tinggi). Angka pon ?ergantung pada dtstrt ust
ukuran butiran. susunan serta kerapatan buttran.


'

k)ngg (tidak padat) padat


(a) Gambar 1.14 Susunan sarang lebah.
(b)

Gambar 1.13 Susunan butiran tanah granular.


Perlu diperhatikan dalam banyak masalah teknis, karakteristik
tanah granuler tidak hanya cukup ditinjau kerapatan reJatifnya. Sebab.
Tanah granuler dapat membentuk hubungan sarang lebah
(~n~ycomb) (Gambar 1.14) yang dapat mempunyai angka pori yang ada kemungkinan dua tanah pasir dengan angka pori dan kerapatan
tmggt. I:e~gkungan butiran dapat mendukung beban statis, tapi
relatif yang sama, mempunyai susunan butiran yang berbeda. Kondisi
susunan 1n1 sangat sensitif terhada 1 beban demikian akan mengakibatkan perbedaan pada sifat teknisnya. Pada
dinamis Ad . d P ongsoran, getaran atau Gambar 1.15, kedua tanah pasir identik, keduanya mempunyai distri-
da d. anya arr alam susunan butir tanah yang sangat tidak busi ukuran butiran yang sama dan angka pori yang sama, tapi
pa t apat mengubah sifat-sifat tekn"
K erapatan relatif (D) sa tsnya. susunannya sangat jelas berbeda.

tanah granuler Kare . ' ~gat berpengaruh pada sifat -sifat tekntS
na ltu, dtperlukan toh-
pengujian terhadap con

32 33

bilitas dalam arah paralel maupun arah tegak lurusnya. Selain itu,
posisi butiran relatif juga akan berpengaruh besar terhadap stabilitas,
penneabilitas dan karakteristik perubahan bentuknya, dan juga akan
berpengaruh pada distribusi tegangan di dalam lapisan tan ah. J arak
antara partikel juga mempengaruhi ikatan antar partikeJ tanah.
Susunan partikel dapat dibagi atas 2 macam (Rosenqv.ist, 1959),
yaitu: susunan terflokulasi (jlucculated) (hubungan tepi partikeJ yang
satu dengan pennukaan partikel yang lain) dan susunan terdispersi
(d ispersed) (hubungan permukaan partikel yang satu dengan
(b)
pennukaan yang lain) (Gambar 1.16). Sifat endapan Jempung akan
(a)
mempunyai lebih atau kurang susunan terflokuJasi, tergantung dari
1ingkungan di man a tanah tersebut berada.
Gambar 1.15 Tanah dengan kerapatan relatif yang sama, tapl susunan butirannya
berbeda (Leonard, 1978).

Sejarah tegangan yang pemah dialami pada waktu ya~g lampau,


juga merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. L~p1san tan~
granuler yang pemah mengalami pembebanan yang leb1h besar dan

tekanan yang ada sekarang, akan mempunyai sifat tegangan-regangan (s) Susunan (b)
dan penurunan yang sangat berbeda dari jenis tanah granuler yang
belum pemah menderita beban yang lebih besar dari sekarang
(Lambrechts dan Leonard, 1978). Gambar 1.16 Skema susunan partikel (Rosenqvist, 1959).

Pada peritiwa konsolidasi, cenderung terjadi penyesuaian


1.5 PENYESUAIAN ANTARA PARTIKEL-PARTIKEL partikel ke bentuk susunan terdispersi atau par~lel.. Dalam ha)
konsolidasi satu dimensi (one dimensional consolldatzon ), seluruh
. Tinjaua~ s~ktur tanah meliputi pertimbangan komposisi partikel menyesuaikan sendiri kedalam bidang paralel (Hvorslev,
nuneral ~an s1fat-s1fat elektrik dari partikel padatnya. Demik:ian juga 1938; Lambe, 1958) (Gambar 1.17a).
1
mengena ~ntuk, penyesuaian terhadap yang lain, sifat dan kelakuan Pembentukan tanah secara acak menghasilkan pengel o~pokan
terhadap_ a1r tanah, komposisi ion, serta gaya tarik antara partikelnya. .
penyesuatan susunan parttke1 yang seJaJar
secara acak (Mtchaels,
Gaya tank antara partikel p d t h . 'l 1959) (Gambar 1.17b). Regangan geser . juga. cenderung untuk
. . . . a a ana -tanah berbutu kasar sangat keel menyusun partikel da1am tipe susunan terdtsperst (Seed dan Chan.
Pada tanah jents tnt bentuk 'k 1 k t t
kn .' Partt e a an sangat mempengaruht st a
tean IS~:~Seba~a~ contoh, pada sedimen pasir' khususnya butiran
1959)(Gambar 1.17c).
y kug ' sedlkit perubahan dari bentuk bulat ke bentuk kubus
cu p menyebabkan variasi be
yang sar pada karakteristik permea-
34 35

I ew~t satu .unit s~ringan .s~anpar. Berat tanah yang tinggal pada
mas1n~-~astng s~n.ngan d.tt1mbang, lalu persentase terhadap berat
kumuJatif tanah d1h1tung. ( ontoh nomor-nomor saringan dan diamete
lubang dari standar Amerika dapat dilihat dalam Tabel1.4. r

Tabel 1.4 Saringan standar Amcrika


No. saringan D1amcter lubang, No. saringan Diameter lubang.


mm mm
3 6 35 40 0,42
(b) pembentukan eecara acak
zone geeer
4 4,75 50 0,30
6 3 35 60 0,25
8 2.36 70 0,21
JO 2,00 100 0,15
.. . (c) deformul ge11r
16 1.18 140 0.106
20 0.85 200 0,075
30 0.60 270 0,053

Gambar 1.17 Skema penyesuruan part1kcllempung. 1.6.2 Tanah Berbutir halus


Distribusi ukuran butir tanah berbutir halus atau bagian berbutir
1.6 ANALISIS UKURAN BUTIRAN hal us dari tanah berbutir kasar, dapat ditentukan dengan cara
sedimentasi . Metode ini didasarkan pada hukum Stokes. yang
Sifat-sifat tanah sangat bergantung pada ukuran butirannya. berkenaan dengan kecepatan mengendap butiran pada larutan
~esamya butiran dijadikan dasar untuk pemberian nama dan klasifika- suspensi. Menurut Stokes. kecepatan mengendap butiran dapat
st tanah. Oleh _kare~a itu, analisis butiran ini merupakan pengujian ditentukan dari persamaan:
yang sangat senng dtlakukan.
. Analisis ukuran but1'ran tanah ada1ah penentuan persentase berat ( 1.28)
butuan pada satu unt1 sanngan,
dengan ukuran diameter lubang
tertentu.
dengan
v =kecepatan, sama dengan jarak/waktu (Ut)
3
1.6.1 Tanab Berbutir Kasar Yw =berat volume air (g/cm )
Y~ = berat volume butiran padat (g/cm )
3

Distribusi ukuran butir t 2


J.l = kekentalan air absolut (g.det/cm )
ditentukan dengan cara m . untuk tanah berbutir kasar da~a
enyanng. Caranya, tanah benda uji disanng D = diameter butiran tanah (mm).

39

L kan berdiatneter lebih kecil dari D


dalam suspensi pada keduhunatpl r~anlaan 1.29). Partikel yang lebih
100
f\1 1 ' I
go \. c '-
.h. o dalanl c s d' \ I I
seperti yang d 1 ttun- . en< "'ukuran. Hidrotnet~r trancang gradasi
(
besar akan n1engtin ~p
,. d dt 1uar zone P e
. (dalanl gra1n) _ang n1as1 h terdapat
.
ao
I
" N
I

"'-'
-.gem
I

I
I

k un1lah tann 11 .
70 I ........ gredatl
I
untuk n1en1be n an , 1 . _ ttl1 tanah )'an nlctnpunyat berat )~ ........... .
butuk I
I I

d dikuhbrJ~t un " ' '"' . ~ I I


-"'" I I
I

dalanl -uspenst an . ~ t'llall v 1na lain. n1aka pcrlu dtkoreksi. I


"'' I 8 I
Gs = -)( 5 Untuk. ll'lll~ "' ~
""
1 I I I I
Jents '
"" _. 1 urln butir tanah d tgatnbarkan dalam
11

I
~
.... ...... I ii"' .I I I I
............ l li I

I
Jt~trtl'U~l Ul\ '
I I ;"'o ""'f I
. h'droineter.
'k Ordinat arafik. tncrupakan pei ~en berat
.. . ,. . l
~~
1 I I A . ~I f 11 I I I
Dan U]l . .
I
.....
", ~
j I I
gradasl' I I
be0 t k kurva ~cnu lo~antnll .
.u
~
l. . b.l k ~ : .l darirada ukuran butiran yang dt ben kan dalam
. . 20 I
I
I I beilc '\. \.
I I
I il
I

butuan .vang""' e 11 t=l.t ' "10


'i I
I

"
I j

........ I '
absis.
Untu k~ tana11 yan~ t
1..
a t "fdt'r l' dari C'Ullll)Ufatl uuttran 1d U
.
1 l
.
s da 1 1
1 1\3 ar~
0
10
I
1 O,t ' 0,01
I '

gabungan antara anali>is >atingan dan 'edimenta"t dapat dtgun~kan.


~ OU1iran (ITVTt)

. an h~ast1 pe11onan
.D. ~::: 1baran kurva YJlH~
...
diperolch.
.
tanah berbuttr
.
kasar
. Gambar 1.19 Analisis distribusi uk'Urru1 butiran.
digolongkan ebagai gradasi tlaik bila ndak ada k.elebthan buuran
pada embarang ukurannya dan tida.k ada yang k.uran~ pada u~ura~
butiran sedan~. n1utnnya tanah bcrg radasi baik Jtka d1stnbust Cu = Dt:rO ( 1.31)
ukuran butirannya ter~ebar n1elua: ~pada uk.uran butirannya). Tanah Dl,l
berbutir kasar di~an1barkan seba~ai

._ .... ~
herRradasi buruk. bila jutnlah
berat butiran ~ebagian ~~ ar n1engelon1pok di dalan1 batas interval (1.32)
diameter butir yang setnpit (di ~ ebut gradasi seraganz). Tanah juga
te1 masuk bergradaj buruk. j ika butiran besar n1aupun kecil ad a. tapi
dengan pen1bagian butiran yang relatif rendah pada ukuran sedang Tanah bergradasi baik jika mempunyai koefisien gradasi
(Gambar 1.19). 1<Cc<3 dengan Cu > -+ untuk kerikil dan Cu>6 untuk pasir. selanjumya
lotasi Dao didefinisikan ebagai lOo/o dari berat butiran total tanah disebut bergradasi sangat baik. bila Cu > 15.
berdiameter \ebih kec.ii dari ukuran butiran tertentu. SebaQ:ai contoh.
0 10 = 0.4~ mm. artinya 10% dari berat butiran total berdiatneter Contolz soall.ll:
l-u~~g dan 0.4~ mm. Ukuran-ukuran yang lain seperti D,0 D60 dide-
fintstkan sepert1 cara "'ano Uk~uran D didefinisikan
- Dari diagram distribusi butiran Gambar 1.19. Tentukan D1o. Cu dan
. J :: sama.
10 sebagat ~

ukruran efekt1f (e_ffectile si::e). Cc untuk setiap kurva.


Kemiringan dan bentuk . . . . n
digan1barkan oleh ~~ fi . umum dan kurva dtstnbusl buura Penyelesaian:
1"oe 1Sten keserag ( ; r. n)
Ct, dan koefisien grad . ( . aman coefficzent of unrJonn.r.
menurut persamaan: ast coe.fficrenr of gradation). C,. yang dibenkan (a) Tanah ~~:
Tanah ini mungkin tennasuk bergradasi baik bila dilihat dari
bentuk k"Urvanya.
-

40 41

m D60 =8,5 mm

- 0
Dw- ' 02 mm
' DJo =0,6 m ' Wa1aupun Cc > 1, tapi karena Cu sangat kecil, maka tanah ini benar
termasuk bergradasi buruk.

C =D61J = 8.5 =425


u Dw 0,02 Contoh soall.J2:

2 2 HasiJ uji analisis saringan adalah sebagai berikut:


(D3o ) = (0, 6) = 2,1
Cc= (Dw)(v 60 ) 0,02x8,5
Diameter (mm) Berat butiran yang tinggal (gram)
C d. tara 1 dan 3, tanah ini benar bergradasi
Karena Cu > 15 dan c tan 4 ,75 0 ,0
baik. 2,36 8,0
I, 18 7,0
0,60 ll ,0
(b) Tanah B: d'l'h d be k 0,30 21,0
Tanah ini mungkin bergradasi buruk kalau 1 1 at an ntu
0,2 1 63,0
kurvanya. 0, 15 48,0
D10 =0,021 mm; D60 = lmm; D3o = 0,04 mm 0,075 14,0

1 Dari uji hidrometer diperoleh data sebagai berikut :


C =D = 60
=47,6
u D10 0,021
2 2 Diameter Jubang(mm) Berat butiran (g)
Cc= (D3o) = (0,04) = 0,076
(DlO) (D60) 0,021Xl 0,02 2
0,006 I
Walaupun menurut kriteria koefisien keseragaman tanah in~ 0,002 0
bergradasi baik, tapi karena tidak memenuhi kriteria koefisien gradast leb1h kecil 0,002 0
(Cc= 0,076 < 1), maka tanah ini tennasuk bergradasi buruk.

Gambarkan kurva distribusi butiran. Berapa D10 dan koefisien
(c) Tanah C: keseragaman ( Cu)! Bagaimana dengan gradasinya?
Tanah ini termasuk tanah seragam (unifonn) kalau dilihat dari
bentuk kurvanya. D10 = 0 35 mm D _ mm D61J :::: Penyelesaian:
0 ,80 mm. ' ' 30 - 0 ' 65 '
Diagram distribusi butiran ditunjuk.kan dalam Gambar C1.4. Dari
Cu = D&J =0,80 - 2 29 diagram tersebut diperoleh:
D10 0,35 - '
Dw = 0,15 mm
2
' Cc = (D30) = (0,65) 2 D3o = 0,18 mm
(DlO) (D60) 0,35x0,8Q = 1,51 D(){) = 0,26 mm

42
43

2
100 t=::
c:::: c == (D30 ) 0,18 2
80 ~ ~~ c
0 86
(DJO) (D 60) == 0,25 X 0,15 == ' < 1
eo .
'\.
t 10 ,, M aka, tanah bergradasi buruk.
I eo
i 50
l 40 1.7 BATAS-BATAS ATTERBERG
30

20 \
_\. Suatu hal yang penting pada tanah berbutir halus adalah sifat
'
10
plastisitasnya. Plasti sitas disebabkan oleh adanya part.ikel mineral
().
0.1 0.01 0.001
10 1 lempung dalam tanah. Istilah plastisitas menggambarkan kemampuan
~ butlrln (mm)
tanah dalam menyesuaikan perubahan bentuk pada volume yang
konstan tanpa retak-retak atau remuk.
Gambar C1.4
batas susut batas plastis
batas cair

Diameter lubang Berat butiran yang tinggal % tinggal % lolos


(mm) (g)

padat semi padat plastis
4,75 0,0 0,0 100 ca1r
2.36 8,0 4,6 95,4
I, 18 7,0 4,0 91,4
0.60 11,0 6,3 85,1
0,30 21 ,0 12,0 73,1
0,21 63,0 37,1
36,0 penambahan
0,15 48,0 kadar air
27,4 9,7
0,075 14,0 8,0 1,7 Gambar 1.20 Batas-batas Atterberg.
0,02
2,0
0,006 1,1 0,6
1,0 0,6 - Bergantung pada kadar air, tanah dapat berbentuk cair, plastis,
0,002
- lebih kecil 0,002
0 - - semi padat, atau padat. Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada
Jumlah
0
- -- kadar air tertentu disebut konsistensi. Konsistensi bergantung pada
175 gaya tarik antara partikel mineral lempung. Sembarang pengurangan
100
- kadar air menghasilkan berkurangnya tebal lapisan kation yang
Cu =D60 =0,26 _ menyebabkan bertambahnya gaya tarik partikel. Bila tanah daJam
Dlo 0,15 -1,73 < 6 kedudukan plastis, besamya jaringan gaya antar partikel akan sedemi-
kian hingga partikel bebas menggelincir antara satu dengan yang lain

44
45
. I. h a
tetap terpe t ar . Pengurangan kadar air mengha .
dengan kohest yang h
olume tana . k
silkan pengurangan v berikan cara untu menggambarkan
Atterberg (191 ~), ~em h berbutir halus dengan mempertim.
. t st dan tana
batas-batas konsts en
d
. t ah Batas-batas tersebut adalah batas
kadar atr an ifii D 1
bangkan kan ~n~an 1 tis (plastic li1nit), dan batas susut c n o
cair (liquid fumt), bat~s: as batas-batas konsistensi untuk tanah grocMng tool
(shrinkige limit). Kedu 0 an
kohesif ditunjukkan dalam Gambar 1.20.

1.7.1 Batas cair (Liquid Limit) contoh tanah

contoh tanah
(LL) , d1'definisikan sebagai kadar air tanah pada.
Batas cazr
batas antara keadaan cair dan keadaan plastis, yaitu batas atas dan
daerah plastis. . ..
Batas cair biasanya ditentukan dan UJl Casagrande (1948).

peknakan karet
Gambar skematis dari alat penguk:ur batas cair dapat dilihat pada
Gambar 1.21a. Contoh tanah dimasukkan dalam cawan. Tinggi
contoh dalam cawan kira-kira 8 mm. Alat pembuat alur (grooving
Gambar 1.21a Skema alat uji batas cair.
tool) dikerukkan tepat di tengah-tengah cawan hingga menyentuh

dasamya. Kemudian, dengan alat penggetar, eawan di ketuk-ketukkan

pada landasan dengan tinggi jatuh 1 cm. Persentase kadar air yang Kadar a ir(%)

dibutuhkan untuk menutup celah sepanjang 12,7 mm pada dasar


eawan, sesudah 25 kali pukulan, didefinisikan sebagai batas cair tanah
tersebut.
Karen.a sulitnya mengatur kadar air pada waktu celah menutup
pa~a 5. kah pukulan, maka biasanya percobaan dilakukan beberapa
2

kah, yatt~ dengan kadar air yang berbeda dengan jumlah pukulan
!I
I

~~ ~rkisar antar~ sampai 35. Kemudian, hubungan kadar airdau


I
15 T
.
I

JU a pukulan dt~ambarkan dalam grafik semi lo aritmik untuk ii


menentukan kadar a1r pada 25 k . k g
1
a 1 pu ulan (Gambar 1.2lb).
25 Jumlah JM,~Iwlan (akala log)

Gambar 1.21b Kurva pada penentuan batas cair tanah lempung.

Kemiringan dari garis dalam kurva didefinisikan sebagai indeks


aliran (jlolv index) dan dinyatakan dalam persamaan:

46
47

- w2
Wt perubahan volume tanah. Percobaan batas susut dilaksanakan dalam
lr = log(N 2 I N1) laboratorium dengan cawan porselin diameter 44,4 mm dengan tinggi
12,7 mm. Bagian dalam eawan dilapisi dengan pelumas dan diisi
dengan. dengan tanah jenuh sempuma. Kemudian dikeringkan dalam oven.
Volume ditentukan dengan mencelupkannya dengan air raksa. Batas

IF = indeks aliran k lan


k dar air(%) pada NJ pu u susut dinyatakan dalam persamaan:
w1 = a d N2 pukulan
W2 -- kadar air (%) pa a SL = (1nl - m2)- (vl- v2)Y w x lOO%
( 1.33)
.1 . dan w2 dapat ditukarkan untuk
h 'k bahwa nt at WI b
Per att an .. pun kemiringan kurva se enamya
memperoleh nilai posttlfnya, wa1au dengan
negatif. .. b . Waterways Experinzent Station di m 1 = berat tanah basah dalam ea wan percobaan (g)
Dari banyak UJl atas-catr, .
. . . .
Vicksburg. Mtsstsstpt ( 1949 )' mengusulkan persamaan batas eau: m2 = berat tanah kering oven (g)
3
= volume tanah basah dalam eawan (cm )
N tg~ 3
= volume tanah kering oven (cm )
LL= W N 25 = berat volume air (g/cm )
3

dengan
N = jumlah puk"Ulan, untuk menutup celah 0,5 in ( 12,7 mm) padat getaa I padat plasUs 1
w N = kadar air
tg {3 = 0,121(tapi tg ~ tidak sama dengan 0,121 untuk semua
jenis tanah)

I
1.7.2 Batas Plastis (Plastic Limit) ~
Batas plastis (PL), didefinisikan sebagai kadar air pada ~L---+----__.-
kedudu~n . antara daerah plastis dan semi padat, yaitu persentase ~

kadar au dtmana tanah dengan diameter silinder 3 2 mm mulai retak-


retak ketika digulung. '

1.7.3 Batas Susut (Shrinkage Limit) SL Pl LL

d kan Batas . sus ut (SL), didefinisikan sebagai kadar air pada ked~
d~ antara daerah semi Padat dan padat yaitu persentase kadar 311 Gambar 1.22 Variasi volume dan kadar air pada kedudukan bat as cair, bar as plastis.
dan batas susut.
tmana pengurangan kadar air selanju;nya tidak mengaldbatkall
48 49
. kk hubungan variasi kadar air dan
Gambar 1.22 menunJU kan batas cair, batas plastis dan batas dengan W N adalah kadar air di lapangan. Dapat dilihat dalam
d kedudu an 'd 'fik Persamaan (1.35) bahwa ji~a w N = LL, maka Ll = 1. Sedang, jika w N
Olume total tanah pa a t berguna untuk 1 entl. 1 ast dan
v
susut. Batas-batas Atter
~~sanga
. . ering digunakan secara langsung
= PL, maka LJ. = .o.. Jad1, untuk lapisan tanah asli yang dalam
. B t s-batas tnt s . kedudukan plastts, nt1ai LL > w N > PL. Jika kadar air bertambah dari
klasifikast ~anah: a a ontrol tanah yang akan dtgunakan untuk PL menuju LL, maka L/ bertambah dari 0 sampai 1. Lapisan tanah asli
dalam spestfikast, guna meng h
membangun struktur urugan tana . dengan W N >LL akan mempunyai LJ >1. Tapi, jika w N kurang dari PL
Ll akan negatif. '

1.1.4/ndeks Plastisitas (Plasticity Index) . .


. . (PI) adalah selisih batas catr dan batas plastts: 1.8 AKTIVITAS
Indeks plasttsttas
(1.34)
PI=LL-PL Ketebalan air mengelilingi butiran tanah lempung tergantung
Indeks plastisitas (PI) merupak~n i?terval kad~r. air dimana dari macam mineralnya. J adi, dapat diharapkan plastisitas tanah Iem- .
tanah masih bersifat plastis. Karena 1tu, 1ndeks pl.astlst~as ~enun pung tergantung dari:
jukkan sifat keplastisan tanah. Jika tanah mem~unya1 PI tinggt, mak~ ( 1) Sifat minerallempung yang ada pada butiran.
tanah mengandung banyak butiran lempung. J1ka PI ren~ah: sep.ertt (2) Jumlah mineral.
lanau, sedikit pengurangan kadar air berakibat tanah menJadl kenng: Bila ukuran butiran semakin kecil, maka luas peunukaan
Batasan mengenai indeks plastisitas, sifat, macam tanah, dan kohest butiran semakin besar. Pada konsep Atterberg, jumlah air yang tertarik
diberikan oleh Atterberg terdapat dalam Tabell.5. oleh permukaan partikel tanah akan bergantung pada jumlah partikel
lempung yang ada di dalam tanah. Berdasarkan alasan ini, Skempton
Tabell.S Nilai indeks plast1sitas dan rnacam tanah (1953) mendefinisikan aktivitas sebagai perbandingan antara indeks
plastisitas dengan persen fraksi ukuran lempung (yaitu persen dari
PI Si fat Macam tanah Kohesi
berat butiran yang lebih kecil dari 0,002 mm atau 2 J.l.m), atau dinya-
0 Non plastis Pasir Non kohesif takan dalam persamaan:
<7 Plastisitas rendah Lanau Kohesif sebagian
7 -17 Plastisitas sedang A= PI
Lempung berlanau Kohesif (1.36)
> 17 Plastisitas tinggi Lempung Kohesif
- c
dengan C adalah persentase be rat fraksi ukuran lernpung (ukuran
1.7.S Indeks Cair (Liquidity Index) butiran < 2 J,.tm) dalam tanah. Varia si indeks plastisitas dengan persen-
tase fraksi lempung untuk berbagai macam lempung diperlihatkan
Kadar air tanah asli 1 f air dalam Gambar 1.23. Terlihat bahwa aktivitas tanah akan merupakan
dapat didefinisikan ol h . re att .pada kedudukan plastis dan. c ..
takan menurut per~t~deks catr (liquidity index), Ll, dan dtnya fungsi dari macam minerallempung yang dikandungnya.

u = WN - PL - WN - PL
U-PL- PI ( t.35)
50 51

1 : w = 28,15-24,20 X I -

24,20-15,30 lOO% - 44 ,38%



(.A - 7,2)

2 . ' = 23,22- 20,80


20,80-15,10 xlOO% = 42,46 %
3 . - 23,20- 20,89
W - 20,89 - ] 5,20 X 100% = 40,60%
300
: W = 23,18 - 20,90 X _
4 38 64
20,90- 15,00 lOO% - ' %
200

.., (A 0,9)
100
lcaellt'* (A 0,38)
; I
I I
I
frlkll ukuran lempung < 2 ..., (%) I'
I
0 20 40 eo eo 100 I
'
I I
' I
'

: '
'
'
it
Ii
Gambar 1.23 Variasi indeks plastisttas dengan persentase frakstlempung (Skempton, '
'
II
II
I "
II
I

I
I I I f ja i I
1953). I I I II! I
I Il l I
.1

I III I ,
Contoh soal1.13: I
II
I I ll
III
I
I II I I I I 1
Beberapa hasil percobaan untuk menentukan batas-batas konsistensi, 20 I :JI
ditunjukkan dalam tabel berikut: ! IJ
5 10 15 20 25 30 35 40 -'5 50

ji.ITIIah pukulan
Benda Uji 1 2 3 4
Jumlah pukulan 12 17 23 28 Gambar Cl.S Hubungan kadar air dan jurrilah pukulan.
Berat tanah basah + cawan (g) 28,15 23,22 23,20 23,18
Berat tanah kering + cawan (g) 24,20 20,80 20,90
20,89 Hasil hitungan kadar air (w) dan jumlah pukulan digambarkan pada
Berat cawan (g) 15,30 15,10 15,20 15,00
diagram batas cair pada Gambar Cl.S. Dari gambar t.ersebut, pada 25
kali pukulan diperoleh kadar air 39%. Jadi, batas cair .LL = 39%.
Tentukan batas cair (LL) indeks 1 ..

tanah tersebut Diketah .' P astlsttas (PI) dan indeks cair (Ll)
ut tanah mem d' Indeks plastisitas (PI)= LL- PL = (39%- 20%) = 19%.
lapangan wN =38%. punyat PL = 20 %, kadar a1r 1
w - PL 38 - 20
Indeks cair (U ) = N = = 0 95
Penyelesaian : PI 19 '

Contoh benda uji:



52 53

kadar air 20%, dikeringkan di bawah sinar matahari sampai mencapai


Contoh soall.l4: . diperoleh data berat tanah kadar air 3%. Dengan menganggap Jempung ini homogen dan
d1. 1 boratonum, 3 S 1
. baan batas susut a volume 16,25 cm . ete ah isotropis, tentukan tinggi kubus Jempung setelah kering (w = 3%).
Dan perco an mula-mula == 47 g de~gan l 30 g Volume ditentukan
dalam caw be atnya ttngga k
d.k gkan dalam oven, r . . . ke dalam air raksa. Atr ra sa Penyelesaian:
t enn h kenng tnt . .
dengan mencelupkan tan.a 1 h batas susut (SL) tanah tnt.
yang tumpah 150 ' 96 g Httung a Karena batas susut adalah batas kadar air dimana tanah tidak menga-
Jami pengurangan volume lagi, maka tinggi kubus setelah kering
Pe nyelesaian: (pada w = 3%) akan diperhitungkan terhadap kadar air pada batas

susutnya, yaitu pada kadar air SL = 12% .
. . .. . .
- t

Kondisi sebelum dikeringkan:


.. . ..-.. ........
... ... ........
I I I e I I I I

'
I I I I o

~ --
I

cawan
[~
'. ..
-..
,,....

. ..
... ...
. .

.. .,.......
...
- I
t ... ...
"' '
Kadar air : w = 20% '
.
~
,.
tt'

. . . ' . . . .. ...

......

I


.. .
. . ~
.. .. . .
.......
.. ...

.. .
.

. ..... ..... .. . , .. .., .. . . . .


\ ~ ~
I "'

WwiWs =0,20 atau Ww =0,20 Ws


I I o I I et A I t I , r-, '
~ - " ~. ~ ~ ~
(1)
(1) S8bll001 clklringkan {b) Sesudah dlkeringkan Gs = WJ(VsYw) =2,7 atau Ws =2,7 Vs (Yw = 1 g/cm3) (2)
Dari ( 1) dan (2) diperoleh hubungan:

Gambar C1.6. Ww = 0,2 X 2,7 X Vs= 0,54 Vs= VwYw= Vw
3
Untuk V= 1 m tanah jenuh air (tanpa rongga udara).
Dihitung volume tanah setelah kering:
Berat jenis air raksa 13,6 g/cm3 V= 1 = Vw + Vs= 0,54 Vs+ Vs= 1,54 Vs
Volume tanah kering oven: v2 =150,96/13,6 = 11,1 cm3
1 3
Batas susut ditentukan dengan menggunakan persamaan : Volume padat : V5 = = 0,65 m
1,54

SL -- ~-;;:;....-
(ml -m2) (vl -v2)Yw
X 100%
3
m2 m2 Volume air: Vwt = 1-0,65 = 0,35 m

Atau dapat pula dihitung dengan:


SL= (47- 30) (16,25 -11,1)1
----~ 1
30 30 Volume padat: V = x1m' =0,65 m'
1+ 0,54
Jadi, batas susut (SL) tanah ini adalah 39 , %.
5
0 35 m 3
. V= 0,54 xlm 3 =,
Volumearr:
wl 1+0,54
Contoh 1.15: ..
Kondisi setelah dikeringkan:
Lempung jenuh berbentuk kubus .
berat jenis G =2 7 dan b ta 3
mempunyat volume 1 m denga0. Kadar air diperhitungkan, w = 12%
' a s susut (SL):::: 12%. Lempung mempunyaJ
54 55

::0 12 Ws litas, kompresi (penurunan), aliran air yang didasarkan pada kJasifi-
Ww I Ws:: 0,12; Ww:: Vw Yw
. V ::0,12
w:::
.
0,12 x 2,7 Vs= 0,32 Vs kasi tanah sering menimbulkan kesalahan yang berarti (Lambe, 1979).
G V- 21
Ws == s $ - '
vs' w
V tetap. .. Kebanyakan klasifikasi tanah menggunakan indeks tipe pengu-
d h dikenngkan, s 3
J1an yang sangat sederllana untuk memperoleh karakteristik tanah.
Kondisi sebelum dan ~esu a - 0 32 x 0.65 == 0,21 m 3
' V == 0 35- 0,21 = 0,14 m Karakteristik tersebut digunakan untuk menentukan kelompok kJasi-
Maka volutne atr:: Yw2-
. - v~ 1 - w2 ' 3
Perubahan volutne atr - ~ - 1 - 0,14 ::: 0,86 m fikasi. Umumnya, klasifikasi tanah didasarkan atas ukuran partikel
Volume tanah setelah ken g -:- - (0 86) tt3 ::: 0,95 m. yang diperoleh dari analisis saringan (dan uji sedimentasi) dan plasti-
Jadi. tinggi kubus setelah kenng - ' sitas.

Terdapat dua sistem k1asifikasi yang sering digunak.an, yaitu
Unified Soil Classification System dan AASHTO (American Associa-
1.9 KLASIFIKASI TANAH tion of State Highway and Transportation Officials). Sistem-sistem ini
menggunakan sifat-sifat indeks tanah yang sederhana seperti distribusi
'f t-sifat tanah banyak dijumpai dalam
Umumnya. penent~a~ st a dengan tanah Hasil dari penyeli- ukuran butiran, batas cair dan indeks plastisitas. Klasifikasi tanah dari
Sistem Unified mula pertama diusulkan oleh Casagrande (1942),
masalah te~is y~~g ber ud. ungdan at digunakan .untuk mengevaluasi
dikan sifat-stfat 101 kemu 1an ap kemudian direvisi oleh kelompok teknisi dari USBR (United State
masalah-masalah tertentu seperti: k 1,. Bureau of Reclamation). Dalam bentuk yang sekarang, sistem ini
.tu
at dengan menentu an 1\..0m-
ban yak digunakan oleh berbagai organisasi konsultan geoteknik.
(1) Penentuan penurunan bangunan, ~ . sa-
presibilitas tanah. Dari sini, selanjutnya dtgunaka~ dalam ~er .
maan penurunan yang didasarkan pada teon konsohdast,
1.9.1 Sistem Klasifikasi Unified
misalnya teori Terzaghi.
(2) Penentuan kecepatan air yang mengalir lewat benda uji g.una Pada Sistem Unified, tanah diklasifikasikan ke dalam tanah
menghitung koefisien permeabilitas. Dari sini kemudian dthu- berbutir kasar (kerikil dan pasir) jika kurang dari 50% lolos saringan
bungkan dengan Hukum Darcy dan jaring arus (jlownet) untuk nomer 200, dan sebagai tanah berbutir halus (lanau/lempung) jika
menentukan debit aliran yang lewat struktur tanah. lebih dari 50% lolos saringan nomer 200. Selanjutnya, tanah
(3) Untuk rnengevaluasi stabilitas tanah yang miring, yaitu dengan diklasifikasikan dalam sejumlah kelompok dan subkelompok yang
menentukan kuat geser tanah. Dari sini kemudian disubstitusikan dapat dilihat dalam Tabell.6. Simbol-simbol yang digunakan tersebut
dalam rumus statika (stabilitas lereng). adalah:
?alam banyak masalah teknis (semacam perencanaan perke- G = kerik.il (gravel)
rasan Jalan, bendungan dalam urugan, dan lain-lainnya), pemilihan S = pasir (sand)
~nah-tan~h ke dalam kelompok ataupun subkelompok yang roenun- C = lempung (clay)
JU~~ stf~t. a~au kelakuan yang sama akan sangat membantu. M = lanau (silt)
Pemthhan 101 dtsebut klasifikasi. Klasifikasi tanah sangat merobantu 0 = lanau atau lempung organik (organic silt or clay)
perancang
. dalam
. . memberika . .
n pengarahan melalui cara emptns yan g Pt = tanah gambut dan tanah organik tinggi (peat and highly
~s~;.a:a; ~a,stl pengalaman yang telah lalu. Tetapi perancang hafllS organic soil)
r a - a t a am penerapannya karena penyelesai~n masalah stabi.. W = gradasi baik (well-graded)
56
57

. b0 ruk (poorly-graded)
P = gradast . . 1_ fasticitv)
H = plastisitas ttnggt (lug l P . -~,) -
~------.8

.. dah (low-plastlCl . .
L = plasttsitas r~n enggunaan Tabel 1.6. Mtsalnya,
Berikut ini dtterangkan c~ra pdiperoleh data: batas plastis (PL)
. . di Iaboratonum . . .
dan basil pengu~tan _ ,m
= 16%; batas catr (LL) - 4- -:;o, se
dang dari analists sanngan dtperoleh:

% lolos
Nomcr saringan

100,0
4 (4.75 mm) 93,2
10 (2.0 trim) 81,0
'-..,)
40 (0.42 mm)
61.5
200 (0,075 mm)

' Jaqop IOQW!S 1e..<undwaw 6u8A !SB)!YJSePI uasElea


Karena persentase lolos saringan nomer 200 adalah 61,5%, ooz OU Ue6U!l~S SOfOJ ~~ %S ~ ' troiS '00
~ D :oDl ou ue6uues SOlO! %Z L pep tf!qliq dS MS
i
-
0 .... .. 0

yang berarti lebih besar dari 50%, rnaka dalam Tabel 1.6 harus dO MD .QOZ ou ue~UJJ8S SOfOJ %S J.IBP 6ueJn~
SOJe4 ue J!lnq Ol'S'BIUOiiSOJd Uf!')fJ8SBp.laq IStn\!P,$81)4

digunakan kolom bawah yaitu butiran halus. Karena nilai LL = 42% -- .le -g c
ea
(lebih kecil dari 50%), maka termasuk CL atau ML. Selanjutnya, --
~ ..."'
.12

c
:;:
ftl
c:
:l
CD "C
c:
ditentukan nilai indeks plastisnya, PI= LL-PL atau PI= 42% - 16% = -.!.
-ea
~
B
~
c:
26%. Nilai-nilai PI dan LL kemudian diplot pada diagram plastisitas, a. -
Ill
"0 &
c:

"C

sehingga akan ditemukan letak titik di atas garis A, yang menempati .s


-
zone CL. Jadi. tanah tersebut dapat diklasifikasikan sebagai CL
(lempung anorganik plastisitas rendah).
.
Prosedur untuk rnenentukan klasifikasi tanah Sistem Unified :l
CD
c
adalah sebagai berikut: CV
"t: -...
.8 .8
=
(l) Tentukan apakah tanah berupa butiran halus atau butiran kasar -...
.le

~
secara visual atau dengan cara menyaringnya dengan saringan
nomer 200. _, _, Cl.-
u 0

(2) Jika tanah berupa butiran kasar .


(a) Saring tanah tersebut d. .
butiran. an gambarkan grafik distribust
(b) Tentukan persen buf 11
butiran
uan os saringan no.4. Bila persentase
yang 1olos kurang d . 5 h
tersebut sebagai ke :kI an 0%, klasifikasikan tan~
s
dari 50%, klasifi~~~ lla pe.rsen butiran yang Iolos Jebth (WW SlQ'O) ~ ou uaOUJlft UW4~tQ ~ SJ.O'o) ~ 'OU ue&i!l ~
41QQ! n111e ~ ~ JQnQHiq ~IU
n sebagat pasir. U8J911Q ~ .n!Smj JgnQJQq 4WU8l
58 59
Ios saringan no.200. Jika
. b f ran yang Io . . b (d) Jika plot batas-ba.tas. Atterberg pada grafik plastisitas jatuh
(c) Tentukan JUnllah ut . l kurang dan 5o/o, pertlm angkan
ersentase
butt ran vang
J
lo os
d h' C d
~ttgan tneng 1tung u an c C pada area yang d1arstr, dekat dengan garis A atau nilai LL
P .. . 'b i buttran t; ' . . . sekitar 50, gunakan simbol dobel.
bentuk grafik dtstn us . 'k naka klastftkastkan sebagat
b radast bat , I 'k
Jika tennasuk . ~rg . . SW (bila pasir). J t a ~e~tnasuk Cara penentuan klasifikasi tanah Sistem Unified dengan menggunakan
GW (bila kcnkLl) a.tau 'k sebagli GP (bila kertktl) atau diagram alir diperlihatkan dala1n Gantbar 1.24
. .
bergradast buruk, ast Ikl fikast an '
SP (hila pasir). . h yang lolos saringan no.200 di 1.9.2 Sistcm Klasifikasi AASliTO
(d) Jika pcrsentasc .vu;~an ta:~ akan mempunyai simbol dobel
antara 5 sampa. ~ - }0, tan .
1 (GW _ GM, SW - SM , dan Sistem klasifikasi AASHTO (Anzerican Association of State
dan nletnpunyat stfat keplasttsan 1/iglnvay and Transportation Officials Class~fication) berguna untuk
sebagainya). b . ,cr lolos saringan no.2
00 I e b'h
1
b esar . menentukan kualitas tanah untuk perencanaan timbunan jalan,
( ) Jika persentase uttran yat e subbase dan subgrade. Sistem ini terutama ditujukan untuk maksud-
e 12o/o. harus dilakukan uji batas-batas Atterberg. dengan tne- maks ud dalam lingkup tersebut.
nyingkirkan butiran tanah yang ting~al dalanl sa.n~gan ~o. 40. Sistem klasifikasi AASHTO membagi tanah ke dalam 8 kelom-
~ d'.
Kemu tan. dengan menggunakan dtagram plasttsttas, ditentu-
"" SM pok, A- 1 sampai A-8 terrnasuk sub-sub kelompok. Tanah-tanah dalam
kan klasifikasinya (GM, GC, SM, SC, GM - GC atau - tiap kelompoknya dievaluasi terhadap indeks kelompoknya yang
SC). dihitung dengan rumus-rumus etnpiris. Pengujian yang digunakan
adalah anali sis saringan dan batas-batas Atterberg. Sistem klasifikasi
(3) Jika tanah berbutir halus: AASHTO, dapat dilihat dalam Tabel 1.7.
(a) Kerjakan uji batas-batas Atterberg dengan menyingkirkan Indeks kelompok (group index) (GI) digunakan untuk menge-
butiran tanah yang tinggal dalam saringan no. 40. Jika batas valuasi lebih lanjut tanah-tanah dalam kelompoknya. Indeks kelompok
cair lebih dari 50. klasifikasikan sebagai H (plastisitas tinggi) dihitung dengan persamaan:
dan jika kurang dari 50, klasifiksikan sebagai L (plastisitas
rendah). GI = (F-35)[0.2 + 0.005 (Lt-40)] + 0.01 (F-15)(PI-IO) (1.37)
(b) Untuk H (plastisitas tinggi), jika plot batas-batas Atterberg
dengan
pada grafik plastisitas di bawah garis A, tentukan apakah

~nah org~nik (OH) atau anorganik (MH). Jika plotnya jatuh GI = indeks kelompok (group index)
d1 atas gans A, klasifikasikan sebagai CH. F = persen butiran lolos saringan no. 200 (0,075 mm)
(c) Untuk L (plastis!t~s rendah), jika plot batas-batas Atterberg LL = batas cair
pada grafik plastJsJtas di bawah garis A dan area yang diarsir, PI = indeks plastisitas
tentukan klasifikasi tanah tersebut seb 'k (OL) atau
anorganik (ML) be agat organt
. rdasar wama, bau atau perubahan batas
eau dan batas plastisnya dengan men,geringkannya di dalam
oven.

~ I .,...,......,.....,..,.,.,.
*" ._.,_..,.nr .. -.us ...__
----- - -
u - . w.

I
,.... 'rE ap III' (P'I)
111 1 J' r h! 11 &a.-nr . .... l!atr
, ~-, h ~! . . . 77
-.z aZl -. IIIIIIM
. . . . . . .. ....., , ...
as a 5 M 11111!1, a T'
5 IF 111111 tllrt 0.071
......, ._. .
raz., ... :zoecso..
~- lle111YIS ._.,. _, :h o.1 ~tz
1111. 2DO(~---
-.&o.an -
.... ,....... -.t t r 11 arz
- -- ~

I
I Lab Pc ur' I ta"Ran I I U!ln I " u . ...... -.-.___ ll~
~--- ~.. ~ l
I
l I r
.................. ,..
lb (Gt. La --.
~ z - z -4 ( 4, 1'5:
7

, ... (5) . . . . . . . . . . ......


... _.. ...... ,, -"'IFII
ftO. 4 (4,1'5 lift)
l..,.ca U< SO...
l
. ....... u. > !liOYo

r r I
l I r I I l .1
-
F E

A:ara s . '2'1
. .
A
I
r el - ! 2'1
. . . . .. .
L.tllh cMrf 1~
,.,et.1 "*,'_,
tMI I S.CII 1111'1PII
lA:WI da:t 12'1
lftct Mlt-IIFII
111 . .. ,.t~ p ,t:FA
_.. ...,... er * hdeclli...
ar dJ -
OI . . . . ..
dl5ift ,..,
A Ol k: eh gadeA O. lllas p laA l-'
. .. . ., ..._ 0\
~.a.m ..
I
(1)~1'5 21e. 200 (0.076 , _,
l
N . 200 (1).075 ~
I
dwtd!<4>1111
,SI.-.:th (P\
"""
(4 <,.<7)
a lf c~w~e ....
(P'I>Tl
,. n , 1
,., 1 ,... 0
I I
Ull ..
PI 111111 &t11
"' u J 1 I
JLIPtbW!U._Pl
--~ ...... S. Et ... -....llulrzll
uh.n~~ 8atl4...
III..,IJUftyel .. ; lll
l rk ' 11 ll dl5i ftl.
,.11 ...._ 11'11:rd -"--
mallklft u
f
I
J
Oftle cllp:rtu
I
Pa
1
FE argru"' 40
I

Dl . .up,._A
I J
Orwlllli
I
1
Ore-.. Dllt.... $1Jfe P'adl5i DI._$111A
dWlPl,...
tiiNIII J\IWOOM
Ml-CL
-
Cl
-
Oi

I aaftlll A 11w1 11 duntl llwl . . . . . IN:Ic ll:u1Uir A dlln ...,.. - ... clEft - ell
I 7 a .. a WR I I I - ..... , .... .... Uh a ....
:r::- 1 1
!!!!.} ,. I
a ..

... < 4
Ilia
4 c ... < 7
....
,.. r...Its...,
>7
jWII
I SW I 1s , 1 p-. 11PIt< ..111:a1 4 < PI < 1
;tu Ill' M ..,.,
PI > 1
I I I 1 I I
c : (ouJ wGC I GC I I SM I I sM-sc I I se
b. b . I?IUUIIc
C.4dlft 1 C~Cl
C.Dw'011
~-~./ (D,_ I DD
Gambar 1.24 Bagan alir klasiftkasi tanah sistem Unified

Tabell.7 Sistem Klasifikasi AASHTO

IKlasitikasi Umum Material granuler


(<35% lolos sanngan no. 200) Tanab-tana.h lana.u-lempung
, >35% lolos sa.ringan no. 200;
A-I
KJasifikasi kelompok A-2
A-3 A-7
A-l-a A-1-b . A -4 A-5 A-6
A-2-4 A-2-5 A-2-6 A-2-7
.i A-7-5/A-7-fJ
Analisis saringan (% Iolos)
2.00 mm (no. I 0) -
1

I 50 maks - - - - -
0,425 mm (no. 40) 30 maks 50 males 51 min - - -
- - - a
'

0,075 mm (no. 200) 15 males 25 males 10 males 35 males 35 nuks


- - - - -
35 maks 35 nuks 36min 36 min 3om1n 36 min
Sifat fraksi lolos saringan
no. 40 '

Batas cair (LL) - - - 40 maks 41 min 40 maks 4 I min 40 miks 41 min


'

i Indeks plastis (PI) 6maks Np 40 maks 41 min


10 maks I0 maks
lndeks .kelompok (G) 0 0 0
11 mtn 11 min

4maks
to ma1s
8 maks
10 nuks I I min 11 min
-
0\

12 m.:tks 16 maks "20 rnaks


.

Tipe material yang pokok Pecahan batu, kerikil Pasir


pada umumnya dan pasir halus Kerikil berl:ln.:m atau berlempung cbn pastr T3Ilah berlan:m T3Ilah berlempung
I i

1 Penilaiao umum sebagai


tanah dasar Sangat baik sampai baik Sedang sampai buruk
IF
i

Cataaaa:
K.elompot A-7 dibagi atas A-7-5 dan A-7-6 bergantung pada batas plastisnya (PL)
Uotuk PL > 30, Klasifikasinya A-7-5;
lJDtuk PL < 30, k.luifikasioya A-7-6.
Np DOIIplaatis
62
63
(Gf) semakin tinggi , maka sernakin
.l
B1 a nt'Jai indeks kelotnpok an tanahnya. Tanah granuler Cara penggunaan sistem klasifikasi AASHTO ditunjukkan dalam
. . etHrguna . . h
ketcpatan dt!Imn p ~ . A 1 satnpat .A -3. Tana A-1 rne- contoh soal berikut.
berkurang kl sifikast - .
d1.k.last'f'kasikan
1
ke dalanl
. ,
a d
berora a st' baik.
sedang A-3 adalah
.
pasn Basil analisis distribusi butiran dari suatu tanah tak organik
. n tanah granulet ) ang e A 2 tern1asuk tanah gt anuler (ku, ditunjukkan dalam tabel dibawah ini:
rupa a k . . , . buruk. Tana 11 - . .
bersih yang bergrada~ .. no. 200). tetapt 01~sth tnei:gandung la~au Diameter buliran (mm) % lolos
rano dari 35 o/o lolos saunga~l I d'klasifikastkan dart A -4 satnpat A,
e:- h b buttr ha us t 'd k 2.0 (saringan no.l 0)
dan letnpung. Tan a er p b daan keduanya dt asar an pada 100
:'1>
0,075 (sari ngan no.200)
o-lanau. t;l e . k 75
7, yaitu tanah letnpuno 25 dapat dtgunakan untu mem- 0.05
b r2: Gantbar 1 1 65
A
batas-batas tter e ..., (LL) dan indeks p asttsttas (PI) 0.005
33
t ra batas catr 0.002
peroleh batas-batas an a . A- dan untuk sub kelompok dalam A-2. 18
untuk kelon1pok A-4 sampat 7 Data tanah Jainnya, LL =54%, PI= 23%.
~ .

1/ Penyelesaian dari data di atas dengan sistem klasifikasi AASHTO


70 /
/ adalah sebagai berikut:
/

60
v /I // F =
75 %, karena lebih besar dari 35% Jolos saringan no. 200 .
~ / /
maka tennasuk jenis lanau atau Jempung.
~ / I'

--
-Q.. 50 ;/
~
/
/
LL = 54%, kemungkinan dapat dikelompokkan A-5 (41%
40
/
/
/
,,~~
lr'"' '

minimum), A-7-5 atau A-7-6 (41 % minimum).


/ ~ ~
/ PI = 23%, untuk A-5, PI maksimum 10%. Jadi, kemungk:inan
_, / A7-fJ /
30 /J
1 ~
tinggal salah satu: A-7-5 atau A -7-6.
A.:a /
.....
~ ...._
Untuk membedakan keduanya. dihitung PL = LL- PI= 54- 23 = 31,
/
/
\ /
/ A75 lebih besar 30. Jika dihitung indeks kelompoknya,
v/ ,'
10 .... GI = (75 - 35)[0.2 + 0.005 (54- 40)] + 0,01 (75- 15)(23- 10)
/ ~
/ / A-4 AS = 19 (dibulatkan).
A ~/
0

10 20 30 40 so eo 10 ao 90 100 Mengingat P L> 30%, maka tanah diklasifikasikan A -7 -5( 19).


batas cafr (LL) Perhatikan. nilai G/ biasanya dituliskan pada bagian belakang dengan
tanda kurung. Terdapat beberapa aturan untuk menggunakan nilai G/,
Gambar 1.25 Batas-batas Atterberg untuk subkelompok A- 4 , A-5, A-6, dan A-7. yaitu:
(1) Bila G/ <0. maka dianggap G/ = 0
(2) Nilai G/ yang dihitung dari persamaan (1 .37), dibulatkan pada
angka yang terdekat.
(3) Nilai G/ untuk kelompok tanah A-la, A-lb. A-2-4 .. A-2-5 . dan A-3
selalu nol.
(4) Untuk kelompok tanah A-2-6 dan A-2-7, hanya bagian dari
64
65
. kelompok yang digunakan:
Tabel l.8b Perbandingan sistcm AASJI/ 0 dengan si stem Unified (Liu, 1967)
persamaan mdeks l5)(Pl - 10).
Gl::: 0,01 (F - Kclompok Kelompok lanah yang sebanding dalam sistem Unified
. . Gl (dalam Tabel 1.7, untuk tanah tanah
(5) Tak ada batas atas ntla~ AASFITO Sangat mungkin Mungkin Kemungkinan kecil
20)
berlempung A-7' Gl makstmum . A- l -a GW,GP SW, SP GM,SM
.stem AASHTO (Liu, 1967) A-1-b SW, SP, GM, SM GP -
. Unified dengan st
Tabell.Sa Pcrbandm~an ststem . . .. A-3 SP - SW. GP
ebanding dengan ststem AASHTO A-2-4 GM,SM GC,SC GW, GP, SW, SP
Kelompok tanah yang s A-2-5
Kelompok tanah GM, SM - GW. GP, SW, SP
sistem Unified A-2-6 GC, se GM,SM GW, GP, SW, SP
Mungkin Kemungkinan kecil A-2-7 GM, GC, SM, SC -
Sangat mungkin GW. GP, SW, SP
A-4 ML,OL CL, SM, SC GM . GC
- A-2-4, A-2-5,
GW A-1-a A-5 OH, MH, ML, OL - SM.GM
A-2-6, A-2-7 A-6 CL ML. OL. SC GC. GM, SM
A-1-b A-3, A-2-4, A-7-5 OH, MH ML, OL. CH GM, SM, GC, SC
GP A-1-a
A-2-5, A-2-6 A-7-6 CH, CL ML, OL, SC OH, MH, GC, GM, SM
A-2-7
A-1-b. A-2-4 A-2-6 A-4, A-5,
GM
A-2-5, A-2-7 A-6, A-7-5, Contoh soall.l6:
A-7-6, A-1-a
GC A-2-6, A-2-7 A-2-4, A-6 A-4, A-7-6, Analisis saringan dan plastisitas pada 2 contoh tanah ditunjukkan
A-7-5 seperti pada tabel berikut ini.
SW A-1-b A-1-a A-3, A-2-4,
A-2-5, A-2-6, No. Saringan Diameter butiran (mm) Tanah 1 (% lolos) Tanah 2 (% lolos)
A-2-7
SP A-3, A-1-b A-l-a A-2-4, A-2-5, 4 4,75 100 96
A-2-6, A-2-7 10 2,00 92 89
SM A-1-b, A-2-4 A-2-6, A-4 A-6, A-7-6 40 0,425 87 41
A-2-5, A-2-7 A-5 A-7-6, A-1-a 100 0,15 78 8
se A-2-6, A-2-7 A-2-4, A-6 A-7-5 200 0,075 61 5
A-4, A-7-6 LL 21 -
ML A-4, A-5
CL
A-6, A-7-5 - PL
-
15 -
A-6, A-7-6 A-4 - PI 6 Nonplastis
OL A-4, A-S A-6, A-7-5 -
MH A-7-6
A-7-5, A-S Klasifikasikan kedua jenis tanah terse but menurut k.lasifikasi Unified.
CH A-7-6
A-7-6
OH A-7-5 -
A-7-5, A-S
Pt
- - A-7-6 Penyelesaian:
-
Gambarkan kurva distribusi butiran untuk kedua contoh tanah ini
(Gambar Cl.7).
66
67
. .1 t dari gatnbar, lebih dari 50% lolos
h 1 dapat d t 111a
Pada tana , . ll terscbut adalah tanah berbutir Tanah terrnasuk bergradasi baik, jika ('< diantara 1 dan 3, dan Cu > 6.
61 %) 1ad 1, tan a .
saringan no.2~ ( Attcrberg dibutuhkan untuk kJastfikasi. K,arcna tanah ini tidak masuk kriteria tersebut, maka tanah tennasuk
halus. Karcna tlu. batas-b~t~s nurul diagram plastisitas (Tabel1.6), SP SM dengan gradasi buruk. Karena butiran ha Jus berupa lanau
Dari nilai Ii~ = 21 dan PI- ' nle (nonpJastis), maka tanah termasuk SM.
tanah tcnnasuk Cl,-ML. , berbutir kasar, hanya 5% lolos saringan
Tanah 2 temlasuk tana11 h . .
m. h lolos saringan no. 4, tana 1111 termasuk Contoh soal 1. 17:
. 200. Karena 961o tana ' . .
no . k 'k'l) p hatikan bahwa matcnal lolos sanngan no.200
pastr (bukan en 1 er Analisis saringan pada 2 contoh tanah P dan Q menghasilkan data
, T b 1 1 6 dapat dibaca bahwa tanah metnpunyat dobcl
= 5%. Dan a e 1 C scbagai beri kut:
b 1 't
stm o , yat u - SP SM atau SW - SM bergantung
. pada nt at u dan Cc-

nya. Dari grafik distribusi butiran dtpcroleh D60 = 0, 73 tnm, D3o = Pcrkiraan d1amctcr butiran (mm) 2 0,6 0,2 0,06 0,02 0,002
0,34 mm, D 10 =0,15 nun. Pcrscntase lolos saringan (~) P JOO 34 24 20 14 0
100
........,;
. Q 95 72 60 41 34 19
80
10 ' "' '\.
........
""
70
~" Tanah P dengan berat volume basah di lapangan 1,70 t/m (16,68 3
1\ 3
kN/m ) kadar air 21% dan berat jenis 2,65. Tanah Q diperoleh dari
-#eo
I 150
I' contoh asli (undisturbed sample) mempunyai berat volume basah 2,0
140 "
\.
1\
\
3 3
t/m (19,62 kN/m ) kadar air 23%, dan berat jenis 2,68. Dengan
~
30 \ \ melihat distribusi butirannya, secara pendekatan, klasifikasikan tanah-
1'\.
20 \. tanah tersebut. Tanah mana yang mempunyai kemungkinan kuat geser
2 " '\. dan tahanan terhadap defonnasi (penurunan) yang tinggi.
10

0
-" ...... ~
'\..
r-
I'
10 1
0,1 0.001
ulcur-., bulhn (mm)
0.01
Penyelesaian:
Penyelesaian dengan menggunakan kurva distribusi butiran sangat
Gambar Cl.7. tepat. Tapi, ada satu cara pendekatan kasar yaitu dengan membagi-
Koefisien keseragaman: bagi kelompok butirannya (Capper dan Cassie, 1980). Dari klasifikasi
butiran menurut MIT:
Cu = D61J =0,73 -
DIO 0,15 - 4,87 < 6
(a) Tanah P
Koefisien gradasi: Butiran ukuran pasir: ( 100- 20) = 80%
2 Butiran ukuran lanau : (20- 0) = 20%
Cc = (D30) = (0,34) 2
(DIO)(D60) 0,15x0,73 == 1,06 > 1 Dari hitungan ini, dapat disin1pulkan bahwa tanah P adalah pa ir
bcrlanau (SM). karena unsur pasir lebih banyak.
68
69
3
. _ Yb ::: l.70 == 1.4t I m (13,73kN I m3 ) Karena terdapat butiran ukuran lempung, maka perJu ditinjau kadar
Berat volun1e kenng : Yd - 1+ w 1+0.21 3 3
aimya. Karena Yb=2 tltn (19,62 kN/m ) berat air dalam 1 m3 tanah
= 2- 1.,63 = 0,37 ton.
. _ G~ Yw diperoleh
Dan Yd - 1+e 3
Volume air = 0,37 m (karena bcrat volume air = 1 t/m3)
':: 2.65 X 9,81 - l = Q,S 9
_ 2.65 x 1 _ 1= 0,89 atau e 13,73' 0 37
e- 1.40 DcraJatkeJenuhan S= Vw = ' =0 95
Yv 0,39 '
e _ 0.89 =O 47 1-0 37- (1.63/2.68)
n= - . Kandungan udara = ' = 0.02 = 2%
1+ e 1+ 0.89 1
.1 k 00 dan porositas yang diperoleh, dapat diketahui
Dan nt at ang a P . . .
bahwa tanah p dalan1 kondisi sangat ttdak padat. Oleh karena ttu, kuat Tanah ini hampir mendekati jenuh air, maka tanah ini
geser dan tahanan terhadap deformasi sangat rendah. diharapkan tidak akan menderita kehHangan kuat geser yang berarti
pada waktu jenuh sempurna. Kadar aimya ( w = 23%) relatif rendah
(b) Tanah Q
(100- 95) = 5% bila ditinjau dari nilai plastisitasnya. Tanah Q relatif akan mempunyai
Butiran ukuran kerikil :
54% tahanan yang baik terhadap defonnasi (penurunan), karena angka
Butiran ukuran pasir : (95- 41) =
porinya (e) lebih kecil. Karena itu, tanah Q lebih ideal untuk
Butiran ukuran lanau : (41-19) = 22%
mendukung bangunan.
Butiran ukuran lempung : (19-0) = 19%
Analisis di atas berguna sebagai pertimbangan awal. Karena,
estimasi sifat-sifat tanah akan menjadi bahan pertimbangan untuk
Total :;:: 100%
melanjutkan penyelidikan tanah secara detail. Hal ini terutama untuk
Disini, terlihat sejumlah material butiran halus. Pengujian plastisitas keperluan proyek-proyek yang besar. Untuk mengetahui sifat tanah
diperlukan pada ukuran butiran halus untuk mendapatkan data yang tersebut secara detail harus diadakan penyelidikan tanah Iebih lanjut.
dapat dipercaya. Dari pembagian uk'llran butiran tanah ini termasuk
pasir berlanau-berlempung (SC), karena 19% butiran uk:uran lempung Contoh soal1.18:
akan memberikan nilai kohesi yang berarti.

Berat volume kering: Uraikan karakteristik tanah-tanah yang diberikan oleh sistem
2 klasifikasi Unified di bawah ini:
y d = 1 + 0,23 =1,63 t/m3 atau 19,62 - 3
+
1 0 23 -15,95 kN I m
,

Tanah LL PI Klasifikasi
2,68xl
e = 1.63 - 1= 0,64 A 0 0 GW

B 42% 31 % CL
0,64
n = 1+ 0,64 = 0,39
70
71

Penyelesawn. pasti lah merupakan kesalahan. Atau, jika nilai PI benar, maka pasti
ada part1kel lempung di da1am tanah, walaupun disebutkan bahwa
(a) Tanah A . baik seperti yang terlihat dalarn
tanah adalah SP. Pengecekan lebih Ianjut harus dilakukan untuk
Tan ah A adalah kerikil bergradbas1kan drainase yang baik dan sudut
. . k n mem en menentukan apakah tanah tersebut dapat diklasifikasikan sebagai se
simbol \V. Tanah tnt a a . . J di. tanah ini merupakan bahan atau rL.
( ) )rancr unggi. a . k 1 t k d' t 1 .
gesek dalarn <p . e ._at baik kalau uda ter e a Ia as ap1san
pendukung fondast yang sang ) Tanah Y mempunyai indeks plasti sitas yang sesuai dengan
yang kotnpresi bel (Jnudah mampat . klasifikasinya. Batas cair (LL) akan kira-kira sebesar 60%. Tanah ini
diharapkan kedap air. Maka, pada kondisi yang diberikan dalam soal
(b) Tanah B . . ini , tanah X lebih cocok.
(c ) tapi dengan batas ca1r (LL) dtbawah
T h B adalah lempung ~ d h 1 1
ana
50% Untuk mempero e P1 h lastisitas yang leblh ren a agL empung Contoh soal1.20:


ini harus
dtcampur dengan pasir halus atau lanau atau campuran
yang seksama .dibutuhkan untuk merencanakan Dua jenis tanah kohesif diuji menurut standar uji batas plastis clan
keduanya. PenguJian . batas cair. Batas plastis dari tanah X adalah 22% dan tanah Y adalah
fondast bangunan atau bt'la akan d1gunakan untuk bahan. tlmbunan. 32%. Jelaskan tanah-tanah ini dan berikan kemungkinan klasifi-
Jika lempung ini dekat dengan permukaan tanah, kemungkinan penga-
kasinya. Jika benda uji Y mempunyai kadar air asli lapangan 60% dan
ruh kembang-susut harus dipertimbangkan.
kandungan lempung 25 %, bagaimana pula dengan indeks cair dan
aktivitasnya? Kesimpulan apa yang dapat diperoleh dari nilai terakhir
Contoh soa/1.19: ini? Tabel di bawah ini menunjukkan basil yang diperoleh dari uji
batas cair.
Berapakah nilai perkiraan batas cair (LL) yang diharapkan pad a tanah
X dan Y. Kemudian. j ika drain ase alam sangat penting dalam Kadar air (w)
Jumlah pukulan
pelaksanaan teknis proyek, tanah mana yang lebih cocok untuk itu? TanahX Tanah Y
Diketahui data tanah X dan Y sebagai berikut: 7 0,52
9 0,49
Tanah LL PI Klasifikasi Unified_ 14 0,47
X ?

y 21 % SP 16 - 0,78
')
42% CH 19 - 0.75
-

21 - 0.73
28 0,35 -
Penyelasaian: 30 0,33 -
31 - 0,66
Tanah X adalah pasir her d . 5
dalam klasifikas1 D . gra asJ buruk, terlihat da1am huruf P dan 34 0.32 -
ra1nase p 101 , . 1 pun 38 - 0,62
gradasinya buruk. Batas . kastr akan sangat batk, wa au 0.60
catr a an no! dan indeks plastisitas PI== 211 45 -


72

Penyelesaian: b t ke dalam diagram batas cair


t bel terse u .
Plot data dalam a Cl 8 Terhhat bahwa tanah X
Gambar
diperlihatkan dala~ -37% dan tanah y' LL = 69%. BABII
mempunyai batas catr LL=
I
~
: PEMADATAN
I
y
I
,...
:
I
. eo I 2.1 UMUM
'i
_,
I
I
X
Tanah, kecuali berfungsi sebagai pendukung fondasi bangunan,
: ~
juga digunakan sebagai bahan timbunan seperti: tanggul, bendungan,
I
'
IJ dan jalan. Jika tanah di lapangan membutuhkan perbaikan guna
'
20 mendukung bangunan di atasnya, atau tanah akan digunakan sebagai
bahan timbunan, maka pernadatan sering dilakukan. Maksud
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 pemadatan tanah antara lain :
jumlah pukutln
( 1) Mempertinggi kuat geser tanah.
Gambar C1.8 (2) Mengurangi sifat mudah rnampat (kompresibilitas).
(3) Mengurangi penneabilitas.
(a) Tanah X: (4) Mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar
PI = LL - PL = (37 - 22)% = 15%. air, dan lain-lainnya.
Maksud tersebut dapat tercapai dengan pemilihan tanah bahan
PI = 15% dan LL = 37%. Dari diagram plastisitas Tabel 1.6,
timbunan, cara pemadatan, pemilihan mesin pernadat, dan jumlah
tanah adalah lempung anorganik dengan plastisitas rendah (CL).
lintasan yang sesuai. Tingkat kepadatan tanah diukur dari nilai berat
(b) Tanah Y: volume keringnya (yd).
PI= (69- 32)% =37%. Tanah granuler dipandang paling mudah penanganannya untuk
Karena !'I = 37% dan LL == 69%, maka tanah adalah lempung pekerj aan lapangan. Material ini mampu memberikan kuat geser yang
anorgantk dengan plastisitas tinggi (CH). tinggi dengan sedikit perubahan volume sesudah dipadatkan.
u = PL - 60%-32%
WN -
Permeabilitas tanah granuler yang tinggi dapat menguntungkan
PI - 37% == 0,76 maupun merugikan. .
PI 37% Tanah lanau yang dipadatkan umumnya akan stabd dan mampu
A= =
c 25% '
= 148 memberikan kuat geser yang cukup dan sedikit kecenderun~
perubahan volume. Tapi, tanah lanau sangat sulit dipadatkan bda
Dari nilai aktivitasnya (A) f keadaan basah karena penneabilitasnya rendah.
cenderung mengandung lebih be~ dap~t diharapkan bahwa leropung Tanah Iempung yang dipadatkan dengan cara yang benar akan
ar llllneral montorillonite.

74
75
~ . . tinggi. Stabilitas terhadap sifat
.k kuat gesct . . ., 1 ,
. . s k1ndungan rnanc.t ,1 nya. Scbaga
dapat 111 entbcrt an Yh = Y2
111 dan JCflt. ' . 1
kembang-susut tergantt g . .1" akan 1netnpunyat kecendcrungan
. 1110ntmorrl1Olll t. . d. . Berat volurne kering (yd) pada kadar air tersebut:
contoh, lernpung . :.rubahan voluanc dtban ang dengan
bt
yang Ie 1 1 tJV "":.sar terhadap pc . b'l'
dlt 111enl(Jllltyat pennea 1 Has yano
. /' Lcrnpung pa . . to
Yd(w = wl) = Ycl(w =0 ) + f1yct
lenlpung ~no uute: . t'dak dlpat dipadatkan dengan batk pada waktu
Pada kadar air lebih besar dari kadar air tertcntu yaitu w =
rcndah dan tatu~h ) ~ ,kc:J a dcngan tanah letnpung yang sangat
111 1 1
k d . . ,
( saat a ar ?r optnnum) kcnaikan kadar air justru mengurangi berat w2
sun gat basah (lcnu11 c ,, . .
b . I . k' n ntengalanli banyak kcsullt,tn. . volurne kcnn~~~a. l.Ial in.i karcna, air Jnengisi rongga pori yang
asa 1 a ,t_ bcrt mbahnya be rat vohune ken ng olch heban sebcltunnya dusr o1eh butuan padat. Kadar air saat berat volume
Penstlwa a d' b
.tnanus d'tscbut P''Illad 1tatl Olch akibat bcban .tnatnts, utu-butir kcring tncncapai maksimun1 (Ydrnak) disebut kadar air optinuun (wopr).
d "' ' ' . .
. t . tu satna lain sebagat a~tbat bcrkurangnya rongga
tana11 Jnerapa sa . .
udara. Ada perbcdaan yang rncndasar antara pcnsttwa petnadatan dan
Berat volume basah {Yb)
peristiwa konsolidasi tanah. Konsolidasi adalah pengurangan pel~n
pelan volun1e pori yang berakibat bcrtatnbahnya bcrat volu1ne kenng
akibat beban statis yang bekcrja dalam periodc tertentu. Sebagai
contoh, pcngurangan volume pori tanah jcnuh air akibat berat tanah
tilnbunan atau karena beban struktur di atasnya. Dalam tanah kohesif But1ran padat

yang jenuh. proses konsolidasi akan diikuti oleh pengurangan volume


pori dan kandungan air dalatn tanahnya yang beraki bat pengurangan Air

volume tanahnya. Pada pemadatan dengan beban dinamis, proses


bertambahnya berat volume kering tanah sebagai akibat pemadatan Yd(w ... o) Butiran padat

p~rtikel y~ng diikuti oleh pengurangan volume udara dengan volume


aar tetap ttdak ~rubah. ~aat air ditambahkan pada pemadatan, air ini 0
Kadar air (w)
~elunakkan pa~tkel-parttkel tanah. Partikel-partikel tanah menggelin-
cr satu sama latn dan bergerak pada posisi yang lebih rapat.
Pada awal pemadat be . . Gambar 2.1 Prinsip-prinsip pemadatan.
kad . be an rat volu1ne kenng bertambah kettka
tar au rtambah (Gambar 2.1). Pada kadar air nol (w = 0) berat
vo ume tanah basah (y ) '
b sama dengan berat volume kering (yd), atau 2.2 UJI PEMADA TAN
Yb(w=O) = Yd =Y1

Ketika kadar air be Untuk menentukan hubungan kadar air dan berat volume, dan
pemadatan yang sama d' rangsur-angsur dita1nbah, dan usaha untuk tnengevaluasi tanah agar memenuhi persyaratan kepadatan,
agunakan pad . 1
n1aka urnutnnya dilakukan uji pemadatan.
tanah padat per volum a saat pemadatan berat buttrai
. e satuan be ' Proctor ( 1933) telah rnengamati bahwa ada hubungan yang pasti
kadar au sama dengan Juga rtambah. Misalnya, pada saat
Wt, maka berat 1 . antara kadar air dan berat volume kering tanah padat. Untuk berbagai
vo ume basah (yb) menjadt:
jenis tanah pada umumnya, terdapat satu nilai kadar air optimum
76 77
ering maksimumnya.
. be t volume k Dalam uji pemadatan, percobaan diulang paling sedikit 5 kali
t untuk mencapal ra . ('\/ ) dengan berat volume basah
terten u volume kenng ,d dengan kadar air tiap percobaan di variasikan. Kemudian, digambarkan
Hubungan berat k dalam persamaan : sebuah grafik hubungan kadar air dan berat volume keringnya
. ) d'nyata an
(yb) dan kadar atr (w , 1
(Gambar 2.3). Kurva yang dihasilkan dari pengujian memperlihatkan
(2.1) nilai kadar air yang terbaik (wopr) untuk mencapai berat volume kering
Yb
yd=l+W . I terbesar atau kepadatan maksimum. Pada nilai kadar air rendah, untuk
h Pem adatan bergantung pada Jems kebanyakan tanah, tanah cenderung bersifat kaku dan sulit dipadatkan.
k ring setela
Berat volume e diberikan oleh alat penumbuknya. Setelah kadar air ditambah, tanah menjadi Jebih lunak. Pada kadar air
tanah, kadar air, dan usaha y:n:
pat dinilai dari penguji~n standar yang tinggi, berat volume kering berkurang. Bila seluruh udara di
Karakteristik kepadata~ tana u~ Proctor. Prinsip pengujiannya dalam tanah dapat dipaksa keluar pada waktu pemadatan, tanah akan
Iaboratorium yang disebut J
berada dalam kedudukan jenuh dan nilai berat volume kering akan
diterangkan dibawah ibeni. 'linder nzould yang mempunyai volume menjadi maksimum. Akan tetapi, dalam praktek~ kondisi ini sulit
Alat pen1adat rupa 51
dicapai.
9 44 x 10 m4 3 (G b 2
am ar . .2 ) Tanah di dalam. nzould
. . dtpadatkan
d~ngan penumbuk yang beratnya 2,5 kg dengan tlnggi Jat~h 30,5. cm
(1ft). Tanah dipadatkan dalam tiga lapis~ dengan tl~p l~pts~ -'0
..!;
ditumbuk 25 kali pukulan. Di dalam UJl Proctor d1modtfikast C)
c
(modified Proctor), mould yang digunakan rnasih tetap s~ma, .h.anya : 'Yd(mak)
berat penumbuknya diganti dengan yang 4,54 kg dengan tlnggt Jatuh CD
I

E
penumbuk 45,72 cm. Pada pengujian ini, tanah di dalam mould ::J
I
~ I
ditumbuk dalam 5 lapisan. I

'I
I

sitinder I

I
f
I
I
I

kadar aJr w, (%)

Gambar 2.3 Kurva hubungan kadar air dan berat volume kering.

penumbuk 2,5 kG Kemungkinan berat volume kering maksimum dinyatakan


sebagai berat volume kering dengan tanpa rongga udara atau berat
volume kering jenuh (Ysav), dapat dihitung dari persamaan :

Gambar 2.2 Alat uji standard Proctor.


78
79

(2.2a) Untuk menentukan variasi kadar air w dengan Ysav, maka


G5 Yw
Ysav == 1+ wG s dilakukan cara sebagai berikut:
. - 1) dan e::: wGl, maka: (I) Tentukan berat jenis tanah (Gs) dari uji laboratorium.
Karena saat tanah Jenuh (S- (2) Pilihlah beberapa kadar air (w) tertentu, misa1nya 5%, 10%, 15%
Gs Yw (2.2b) dan seterusn ya.
Ysav = 1+ e (3) Hitung Ysav untuk beberapa nilai kadar air (w) dengan meng-
. (y) setelah pemadatan pada kadar air w gunakan Persamaan (2.2).
Berat volume k~nng dt) A (A== Vn!V =volume udara/volume
dengan kadar udara (azr con ten ' .
total) dapat dihitung dengan persamaan. 2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL
G5 (1- A)Yw (2.3) PEMADATAN
Yd = 1+ wGs
Telah dipelajari bahwa kadar air mempunyai pengaruh besar
Hubungan berat volume kering pada kadar udara tertentu terhadap derajat kepadatan yang dapat dicapai oleh tanah tertentu.
dengan ka dar alr, dari hasil uJ'i Standar
. . Proctor dan
. . Proctor Se lain kadar air, faktor yang sangat rnempengaruhi kepadatan adalah
dimodifikasi untuk tanah dengan berat Jents Gs = 2,65 dttunjukkan macam tanah dan energi pemadatan (energi per volume satuan).
dalatn Gambar 2.4.
a. Pengaruh macam tanah
20 ~--ke...,..le-n-uh_an_60%--.---100%----TI- - - - ,

Macam tanah, seperti distribusi ukuran butir, bentuk butiran,


3
'Yd (g/cm ) :
1
~
I
;
I berat jenis dan macam mineral lernpung yang terdapat dalam tanah
I I I
1.6 1-----+,--4-+...lp....ll,--~~-----11"------1 sangat berpengaruh pada berat volume maksimum dan kadar air
garia optimum,_..~ rongga udar8 optimumnya. Gambar 2.5 memperlihatkan si fat -sifat khusus kurva
I nol

I 'f I
I
pemadatan yang diperoleh dari beberapa macam tanah, yang diuji
1.7 r--~----H-~~ .,...____,j~ G. = 2.65 menurut prosedur ASTM D-698. Bentuk kurva yang mendekati
I I
I
I
I lonceng (bel) umumnya diperoleh' pada tanah-tanah berlempung.
Proctor Gambar 2.5 memperlihatkan beberapa rnacam kurva basil

pemadatan pada berbagai jenis tanah. Pada tanah pasir, Yd cenderung
atandar Proctor
I
I
berkurang saat kadar air (w) bertambah. Pengurangan Yd ini adalab
I
akibat dari pengaruh hilangnya tekanan kapiler saat kadar air
bertambah. Pada kadar air rendah, tekanan kapiler dalam tanah yang
5 10 15 20 berada di dalam rongga pori menghalangi kecenderungan partikel
Kadar air, w (%) tanah untuk bergerak, sehingga butiran cenderung merapat (padat).
Gambar 2A Hubungan berat 1 . d
air dari hasil uji Standar Proct vodume kenng pada kadar udara tertentu dengan ka ar
or an Proctor dimodifikasi.

80
81

aerat volume ~kEe:rin:g.~Yd~,---T---~--l


(kN/m~
19,00

18,50L-- - Tipe B
Lanau b rpas1r Type A Satu dan setengah puncak
Bentuk lonceng

L--------.w L--------+w

Le pung berlanau

17,50 L-1---1--~

Ttpe C Tipe D
Puncak dobel Bentuk aneh

L--------+w L-------+w
1s,so L __L _ __L._ _ _.~...-_ _~
5 10 15 20 25
Kadar air, w (%) Gambar 2.6 Berbagai bentuk kurva pemadatan (Lee dan Suedkamp, 1972).

Gambar 2.5 Kurva hasil uji pemadatan pada berbagru jenis tanah (ASTM D-69&). b. Pengaruh Usaha Pemadatan

Energi pemadatan per volume satuan (E) dinyatakan oleh


Lee dan Suedkamp (1972) mempelajari kurva-kurva pemada~ persamaan:
untuk 35 jenis tanah, hasilnya terdapat beberapa perbedaan bentu
kurva pen:mdatan. Kurva t~pe A (Gambar 2.6), adalah Jru_rva ya;~ NbN
E =____: WH_
: :. .__:1__ (2.4)
mempunyat satu puncak. T1pe B mempunyai bentuk sepertl huru V
pada arah mendatar. Tipe C mempunyai dua puncak. Kurva tipe B dill dengan
C adalah kurva pemadatan yang dapat diperoleh pada tanah yan!
Nb - j umlah pukulan per lapisan
memp~nyai batas cair ~LL) kurang dari 30. Kurva tipe D adalah.kurv:
yang tldak mempunya puncak. Kurva C atau D dapat terjad pad NI -- jumlah lapisan
pemadatan tanah-tanah dengan batas cair (LL) lebih besar 70. w - berat pemukul
H - tinggi jatuh pemukul

V -- volume 1nould


82 83

Tabcl 2.1 Hitungan cnergi pcmadatan


Pada uji standar Proctor:
No. kurva pada Jumlah pukulan per lapisan
_ (25)(3)(5,5)(1) =12375 ft-lb/ft 1
(592.5 kJ/m\ Gambar 2.7 (Nb)
Energi pcmadatan
(ft-lb/ft3)
E- (1/30)
1 20 9900
er volume satuan (E) berubah, maka
Jika usaha petnadatan P . 2 25 12375
, b kadar air terhadap berat volume kenng Juga 3 30
bentuk kurva 1lU ungan d 14850
ditJerlihatkan hastl UJt pema atan tanah 4
berubah. Pada Gamba r 27 . 50 24750
lcmpung bcrpas i r dengan 1110111d dari standard. Proct ~r .. Ju mlah lap1san Cat atan I ft-lb/ft 3
=47,99 J/m:l
pada saat pcmadatan di dalam mould sama, ya1tu ~ lapisa~, akan tetap~
jumlah pukulan pada tiap lapisan d1bcdakan, ya1tu a~t~Ia 20 sampa1 Dalam Tabel2.1 dan Gambar 2.7 dapat disimpulkan bahwa:
50 kali pukulan. Besamya energi pemadatan dthttung dengan ( 1) Jika energi pemadatan ditambah, berat volume kering tanah juga
n1enggunakan Pcrsamaan (2.4) dan hasilnya diperlihatkan dalam bertambah.
Tabel2.1. (2) Jika energi pemadatan ditambah, kadar air optimum berkurang.

Berat volume kering y, (kN/m~


Kedua hal tersebut berlaku untuk hampir semua jenis tanah. Namun
harus diperhatikan bahwa derajat kepadatan tidak secara langsung
Kurva nomer
1 20 pukulan per lapis
proporsional dengan energi pem~datan.
2 25 pukulan por lapis
3 30 pukulan per lapis
19 t----t--~--+- 4 50 pukulan por lapis
I I I
Tanah lempung berpaslr 2.4 SIFAT~SIFAT TANAH LEMPUNG DIPADATKAN
I I I
Garis rongga udara nol
Sifat-sifat teknis tanah lempung setelah pemadatan bergantung
pada cara atau usaha pamadatan. macam tanah, dan kadar airnya.
Seperti sudah dipelajari. pada usaha pemadatan yang lebih besar
diperoleh kepadatan yang lebih tinggi. Biasanya. kadar air tanah yang
dipadatkan, didasarkan pada posisi-posisi kadar air sisi kering
optimum (dry side of optinzunz), dekat optimum atau optimum, dan sisi
2

basah optimum (l-itet side of optinzunz). Kering optimum didefinisikan


1 sebagai kadar air yang kurang daripada kadar air optimumnya. Basah
optimum didefinisikan sebagai kadar air yang lebih dari kadar air
~~~~~~_L~~~
18 1012 1-4
optimumnya. Demikian juga dengan dekat optimum atau optimum.
18 18 20 22 24
Kadar air, w (%) yang berarti kadar air yang .k-urang lebih mendekati optimumnya.
Penyelidikan pada tanah lempung yang dipadatkan metnperli-
Ganlbar 2.7 'Pengaruh e .
(Das, 1994). nergt pemadatan pada hasil . hatkan bahwa bila lempung dipadatkan pada kering optimum. susunan
J>Cmadatan lcmpung berpastr

86 87

. Sifat pengembangan tanah lempung yang dipadatkan, akan


leb~h besar pada Jempun~ yang dipadatkan pada kering optimum
danpad~ lempung yang dtpadatkan pada basah optimum. Lempung
yang_ dtpadatkan pada kering optimum relatif kekurangan air.
\
~ pemadatan kering atau OJeh karena itu, 1empung ini mempunyai kecenderungan yang Jebih
8. @ contoh bends Ul' ash besar untuk menyerap air. Sebagai hasilnya ada1ah sifat mudah
i / mengembang. Tanah 1empung kering optimum umumnya
lebih sensitif pada perubahan Jingkungan seperti kadar air. Hal ini
@ kebalikan pada tinjauan penyusutan (Gambar 2.11). Tanah yang
dipadatkan pada basah optimum akan mempunyai sifat mudah susut
pemadatan basah atau yang lebih besar.
contoh benda u11 terganggu Pada tinjauan kuat geser tanah Iempung. tanah yang dipadatkan
/
pada kering optimum akan mempunyai kekuatan yang lebih tinggi
daripada tanah yang dipadatkan pada basah optimum. Kuat geser
tekanan skala log tanah lempung pada basah optimum agak bergantung pada tipe
(a} Konsohdasi tekanan rendah . pemadatan, karena perbedaan yang terjadi pada susunan tanahnya.

Kurva kekuatan tanah lempung berlanau yang dipadatkan dengan cara
pemadatan kering, atau remasan (kneading) untuk usaha pemadatan yang berbeda
contoh benda ujl asll diperlihatkan dalam Gambar 2.12. Gambar ini menunjukan tekanan
yang dibutuhkan untuk memberikan 25% dan 5% regangan untuk tiga
usaha pemadatan. Kekuatan tanah kira-kira sama pada kondisi basah
-
optimum dan bertambah dengan usaha pemadatannya bila dipadatkan
,.._~- pemadatan basah atau
contoh benda UJi terganggu sisi kering optimum. Perhatikan bahwa pada kadar air basah optimum

- ....... ......
.....
yang diberikan, tekanan pada regangan 5%. temyata lrurang pada
- -- - energi pemadatan yang lebih tinggi. Kenyataan ini ditunjukkan dalam
-- - ~-
pelepasan tekanan pada - - - - __ _
-- Gambar 2.13, dimana kekuatan didasarkan pada pengujian CBR
(California Bearing Ratio). Dalam pengujian CBR. piston dengan luas
kedua contoh benda uji 2
penampang 3 in dipenetrasikan ke dalam contoh tanah yang
tekanan. skala log dipadatkan. Tahanan penetrasi tanah tersebut dibandingkan dengan
(b) t<onsohdasi te"-anan tlngg 1
tahanan penetrasi dari contoh standar pemadatan kerikil yang dipecah.
Dalam Gambar 2.13, usaha pemadatan yang lebih besar
menghasilkan CBR kering optimum yang lebih besar. Tapi.
perhatikan, nilai CBR kecil pada basah optimum untuk usaha
Gambar 2.10 Perubahan kem pemadatan yang lebih tinggi. Kenyataan ini penting dalam
ampatan pada kadar air yang diberikan (JAmbe, t958). perencanaan, dan harus dipertimbangkan pada penanganan tanah
88
89

12 r--:r--r--r-.,---.--,---r--_
,--~--r--c~---.--1
..... ~ 10
,.WIQ op~m~m- --- -r----
,
I
I
I
I
I
I

I

3
I
I
Lnt'OnlcJda (a) Kuat ge (lek8Mn yw1g
0 C7J- 10 ~ me~.t~hn 25% regrngtn)
m.tiP kwtw
peu:adatln 18 20 22 24
dengan gaan
2
I
pernlldmn ltatll
10
1

0~----~------~---~'~----~------L-----~
22 6 1
12 14I 11 20 18


0
7
I 7
1
pemldlteo atdl I
o prmrM+en drngrn get1r1n
2
11 I
""'"'" (b)
I

1.75
I 12 14 16 18 20 22 2<4 26
I
I
I
I
1,70
f 112

108

1
......
Cc> Brm YOUN wing

12 14 18 11 20 22
12 14 18 18

Gambar 2 11 p Kadar air, w {%)


enyusutan sebagai fun . k Gambar 2.12 Kuat. geser sebagai fungsi usaha pemadatan clan kadar air (Sud dan
Cluln, 1959). gst adar air dan macam pemadatan (Seed daJ1
Chan, 1959).

90
91
'
Tabel 2.2 Perbandingan sifat tanah pada pemadatan kering optimum dan basah
100 optimum (Lambe, 1958)

-
~
- 75
Sifat Perbandingan
E Su sunan:
(a) Susunan butiran Kering optimum lebih acak.
(b) Kekurangan air Kering optimum lebih kekurangan air,
:tl. akibatnya lebih mcnyerap air, lebih mudah
s mcngembang, mempunyai tekanan pon

a: 25 lebih rendah .
(c) Si fat pcrmanen Kcring optimum lebih scnsitif untuk
0 berubah.
Permeabilitasnya :
120 . (a) Ukuran besamya Kering optimum Iebih lolos air.
Gs = 2,72 (b) S1fat permanen Penneabilitas kering optimum terkurangi
115 lebih ban yak oleh penyerapan.
- . Sifat mudall mampat :
~-
-
~
110 (a) Ukuran besarnya Basah optimum lebih mudah mampat dalam
interval tekanan yang lebih rendah, kering
c
optimum dalam interval tekanan tinggi.
j 105
(b) Kecepatan Konsolidasi pada kering optimum lebih
~:l cepat
-~ 100
Kuat geser :
(a) Selama pelaksanaan : .
Tak terdrainase (undrained) Kering optimum sangat tinggi.

Terdratnase (drained) Kering optimum aga.k lebih tinggi.
(b) Sesudah penjenuhan:
~~0~----~----~--------~--~ Tak terdrainase (undrained) Kering optimum agak lebih ringgi jika
15 20 25 pengembangan dicegah. basah optimum
kadar air (0/o) dapat lebih tinggi jika pengembangan
Catatan. diizinkan
Penumbuk 10 lbs
nnggi jatuh 18. \1---v 55 pukulan per lapis Terdrainase (drained) Kering optimum k.ira-kira sama atau sedikit
{Proctor dimodifikasQ o-- - o 26 pukulan per lapis lebih besar.
(c) Tegangan air pori pada Basah optimum lebih tinggi.
12 pukulan per lapis

keruntuhan geser
l:Jr---6 6 pukulan per lapis (d) Modulus regangan- Kering optimum sangat lebih besar.
tegangan
Gambar 2.13 Kuat . (e) Scnsttlvitas Kering optimum lebih condong ke sen itif.
kadar au ad geser diUkur den daP
P a J>Cmadatan di lab . gan CBR dan bcrat volume kering. terha
oratonum (7'
urnbul/ dan Foster, 1956).

92 93
n1pulan dari pengaruh kadar air
rupakan kest . f . berbeda. Anggaplah kurva A mewakili kurva pemadatan yang
timbunan .. Tabel 2. 2 1ne timum terhadap beberapa SJ at tekntsnya
kering opttnlutn dan basah op . diperoleh dari alat pemadat yang telah ada. Kemudian untuk
(Latnbe, 1958). tncmperoleh, misalnya 90% dari kepadatan maksimal (Ydmak), kadar air
tanah yang akan dipadatkan harus diantara kadar air w 1 dan w 2
Rentang kadar air dari w I satnpai lv2. ini diperoleh dengan menarik
2.5 SPESIFIKASI PEMADATAN TANAH DJ LAPANGAN garis horisontal 90% kali Ydm.1k pada kurva A. Jika kadar air tanah
yang akan dipadatkan melampaui rcntang kadar air w 1 sampai w 2,
. d d lah untuk 111emperoleh stabilitas tanah maka sangat sulit memperoleh hasil kepadatan yang diinginkan. Pada
Tujuan pctna atan a a . f k.
.k. f t-51'fat teknisnya. Oleh katena ttu, SI at te nts kondisi ini tanah harus dikeringkan dulu sebelum dipadatkan. Usaha
dan n1etnpcrbat t st a . d d b
. t' g diperhatikan ttdak hanya ka ar atr an erat yang paling ekonomis adalah bila kadar air pada w3 . Pad a kadar air w 3
un1bunan sangat pen tn ' .
volunle kcringnya. Prosedur pelaksanaan dt lapangan pada umumnya, ini usaha pemadatan untuk tercapainya 90% dari kepadatan
ditcrangkan di ba\vah ini. maksimum yang diinginkan paling kecil (hasil pemadatan diwakili
Percobaan di laboratorium dilaksanakan pada c~ntoh tanah oleh kurva C). Umumnya pemadatan di lapangan dilakukan dengan
yang diatnbil dari borrow-n1aterial (lokasi pengam?llan . bahan sedikit meninggikan usaha pema4atan sehingga hasilnya seperti kuva
tin1bunan), untuk ditentukan sifat-sifat tanah yang akan d1paka1 dalam B. Jadi, rentang kadar air untuk pemadatan di lapangan yang paling
perencanaan. Sesudah bangunan dari tanah (tanggul, jalan, dan baik adalah diantara kadar air optimum (wopr) kurva A dan w3.
sebagainya) direncanakan, spesifikasi dibuat. Pengujian untuk kontrol
pen1adatan di lapangan dispesifikasikan dan hasilnya menjadi standar
untuk pengontrolan proyek. Terdapat dua kategori spesifikasi untuk Garis jenuh air
(rongga udara no/
pekerjaan tanah :
1) Spesifikasi hasil akhir dari pemadatan.
2) Spesifikasi untuk cara pemadatan.
Untuk spesifikasi hasil akhir, kepadatan relatif atau persen
kepa~atan t~rtentu dispesifikasikan (kepadatan relatif adalah nilai
ban.d1ng da~ berat volume kering di lapangan dengan berat volume A
kenng makstmum di laboratonum menurut percobaan standar, sepertt
c
ast a 1r anyak dtgunak d
fondasi bangunan), se an an an pa a proyek-proyek jalan raya da~
'
kepadatan relatifnya ~latJ g kontraktor rnampu mencapai spesifikasl
.. . ' maupun cara apa k d' kan
dnztnkan. Pertimbangan ekon . SaJa yang a an tguna .'
pemadatan dapat diilustrasikan seoml~ dalam memperoleh hasll ---+wf"}
tersebut memperlihatkan 3 pertt pada (Gambar 2.14). Gamb~
lapangan pada tanah yang macam kurva dari basil pemadatan dt Gambar 2.14 Pertimbangan ekonomis dalam memperoleh hasil
sama, hanya d g
engan usaha pemadatan yan

94 95
. d tk'tn tanah pada sisi basah
h l ra lllCillcl ,t , . k k
Perlu diingat a 1\\ nnya 1nenghastl an uat gcser
. .. timum), utnut . ., ,. . k . . .
optinlUill (wet slde oj op . ~ I 1 dibandtngk,ln d~ng,tn ,tdar atr
tanah hasil penuwa an I t lebth fl,na,t l . . . r l
. .r 11, 1;11111111 ). Sdat-st at tana 1 yang
. 1( lr ' su1e OJ (
pada sisi kenng optnnun. . t ,. d 111 JlOtensi kernbang susut Juga
.. ' 'lbthtas
lain. sepm1t pt;t ttlt.:' ' 1
l'l(l'tt'ltl. Karena ttu, se atn persen
d . r s'l'tt pen ' ' '
dipvngaruhi olch ka ar at "' k dtr ,1ir tanah yang akan dipadatkan
kcpadatan ditentukan. rentang ll ' '
sehaiknya juga dit~t~tuk~n.. .. ,. nadatan. 111acan1 dan bcrat rncsin
u11 t k S})CStftkast c,ll ,1 pvl
u . . . t k ~tel'nhn tiap lapisan d1tentukan. Hal
. d 1t tnhh lmtasan set ,1 l: ' ' " .
~~nM ' ' JU . ' . k . t k llrovck pckcrjaan tanah yang besar scpcrtt
1111 banyak dtp,t ,11 un u
bendungan tanah.

2.6 ALAT-ALAT .P~:l\1ADAT DAN JlROSEDUR PEMADATAN


Gambar 2.15 Pcnggilas rod a hnlus (smo.orh drum roller).
2.6.1 Alat-alat Pcntadat
Tanah yang akan digunakan untuk tirnbunan, utnutnnya digali
dari lokasi penga~nbilan (borrow area) dengan n1enggunakan alat-alat

bulldozer. slzo\'el. dragline. scraper dan lain-lain. Ketika tanah dari


lokasi pengambilan (yang mntnnnya diangkut dengan durnptruck)
sampai di lokasi penin1bunan~ tnaka bulldozer, loader, nzotor grader
mengharnparkan nmterial timbunan sesuai dengan ketebalan yang
dikehendaki. Kctebalan lapisan titnbunan. dapat berkisar diantara 150
san1pai 50? n1m, be~gantung pada ukuran dan tipe alat pemadat dan
ukuran buttran maksunutn tanah yang dipadatkan.
~acam alat penggilas (pen1adat) yang akan dipakai bergantung
pada tape tanah yang akan dipadatkan. Penggilas roda halus atau roda
drum (smooth wheel, smooth drum roller) (Gambar 2.15) dapat
memadatkan tanah 1(XY~0 d1 b
k tak d . awah rodanya, dengan tekanan
on ~a .a tanah sekJtar 380 kPa dan dapat digunakan hampir untuk
s{pemua Je~Js .tanah. Penggilas pneumatik atau penggilas roda karet
neunJat1c trre roller) (Gamb . .. ..
total area yang tcrtutu ar 216.) dapat mcnggtlas 80% dafl Gantbar 2.16 Prnggilns rodn k~t (pneumatic tire rollttr).
01
P eh rodanya dan tekanan ban dapat
96
97
. ilas roda halus, penggilas roda ka
. kP Sepettt pengg .f d . b ret
mencapat 700 a. r ranuler dan kohest pa a ttm unan jala
dapat digunakan pada tanah g n ..
bendungan.
raya atau petnbangunan . b yak dipakai adalah penggilas kak
, ng pahng an . 1
Saat tnt ) a ) (Gambar 2.17). Sepertt tercennin dalarn
11
kambing (sheeps foot r~ el k . dengan tonjolan-tonjolan atau kak'
namanya pada drum dtleng apt I
. b' ) telapak11ya berbentuk bulat atau persegi. Luas
kak1 (kam tng yang . 2 h
telapak berkisar diantara 30 sampat 80 cm Karena anya 8 sampai
m d 1 keseluruhan tanah yang tertutup seluruh roda tertekan
12 -;o an uas . d'1 .
oleh tonjolan, maka tekanan pada tan~h menJa sangat ttnggi, yaitu
dapat berkisar diantara 1400 sa~p~t 7000 kPa (bergantung pada
ukuran roda dan air yang dapat dustkan kedalam roda drum untuk
menambah beratnya). Penggilas kaki kambing dapat dioperasikan
dengan ditarik oleh penggerak, maupun digerakkan oleh mesinnya Gambar 2.18 Tamping foot roller.
sendiri. Penggilas kaki kambing memadatkan tanah di bawah dasar
pengis~an air pada drum. Kaki yang dilengkapi engsel dapat bekerja
kakinya. Penggilas ini cocok untuk tanah-tanah kohesif.
sebagat alat peremas tanah. Alat ini sangat baik untuk memadatkan
tanah-tanah berbutir halus .

Tipe alat pemadat yang lain, adalah mesin penggilas grid (mesh
atau grid roller) yang dapat memadatkan sampai 40% area dengan
tekanan pada roda 1400 sampai 6200 kPa. Alat ini sangat ideal untuk
memadatkan tanah-tanah berbatu, kerikil dan pasir. Dengan kecepatan
yang relatif tinggi, tanah digetarkan. dipecah dan ditumbuk.
Beberapa alat pemadat roda halus dan roda kaki kambing
dilengkapi dengan alat penggetar sehingga semakin efisien bila
digunakan untuk memadatkan tanah granuler. Terdapat pula mesin
pemadat kecil dengan landasan yang berbentuk pelat bergetar. Alat ini
digunakan pada lokasi-lokasi sempit di mana mesin pemadat yang
besar tidak dapat digunakan.
Gambar 2.17 Penggilas kaki k .
ambmg (sheeps foot roller).
2.6.2 Prosedur Pemadatan
Penggilas berkak. .
roller (Gambar 2.18). ;a~e~njo~ yang lain adalah tamping fool Terdapat banyak variabel yang mempengaruhi pemadatan
~nab yang tertutup roda t pk nggtlas ini, 40% dari luas keseluruhan getaran atau proses pemadatan tanah. Beberapa bergantung pada
dtantara 14<)() ene an Tek k'
sampai 84(XJ kP . anan kontak pada tanah ber tS
ar operator, dan yang lain bergantung pada kondisi tanah yang
"a bergant ung pada ukuran roda dan
98
99
but termasuk:
. k Variabei-variabel terse t ukuran, rentang fr~kuensi. Pengaruh jumlah lintasan mesin penggilas dan kecepatan
dipadat an. . adat" bera , . be k
K kteristik mestn pem wal ukuran buttran, ntu dan penarik (towing speed) pada mesin pemadat 7700 kg pada tanah
(1) ara . "k tanah: kepadatan a ' Iempung berbatas cair tinggi dan pasir gradasi baik diper1ihatkan
(2) Karaktenstt . .
kadar air. . ml h lintasan mestn penggtlas, tebal dalam Gambar 2.19. Terlihat bahwa kepadatan tanah bertambah oleh
( 3) Prosedur pelaksanaan: JU ak nsi operasi vibrator, kecepatan kenaikan jumlah lintasan sampai pada suatu titik tertentu. Pada
lapisan yang d"tpadatkan, fre ue . gambar tersebut diperlihatkan kurva hasil pemadatan untuk kecepatan
lintasan 0, 75, 1,5 dan 2,25 mph.
lintasan. pengaruhi tingkat tekanan dan
. pemadat mem I Pengaruh j umlah Jintasan terhadap ketebalan tanah yang
Karakteristik mestn . "k Selain itu, kepadatan awa tanah
kedalamail pengaruh gaya dma: engaruh pada hasil kepadatan dipadatkan diilustrasikan pada Gambar 2.20 (D' Appolonia, dkk.,
sebelum dipadatkan sangat rp 1969). Mesin pemadat dengan berat 5670 dioperasikan pada frekuensi
akhimya. 27,5 Hz dengan tebal tanah (tanah pasir Indiana utara) yan~
dipadatkan 240 cm. Kerapatan relatif (Dr) awal pasir adaJah.?O samp~1

110~
-___,.-__,..---r=~--,1.78 60%. Uji pemadatan di lapangan dilakukan pada lubang UJI (test pzt)

0,75 mU/jam 1.84
Berat volume kering (lb/ft3) Berat volume kering (lb/ft3)
100 1,5

2,25
1.52

1.40 z (ft)
Lempung heavy (kadar air 21 %)
-1= 2 J---_
C1:l
~
-r-
l (ft) ,
-
-~ aol-----------.1.28 -g 3 t--

.
C1:l
c
....__~
't) 21intasan ' - _..,
3~

c:
Slintasan
-- C)
c
-
lo.....
!.
....__~ +--- . --+---1
2.00 Q)
.)1:.
Q)
0.75 mltljam E 40 10 eo 10 ID to 100 .. . . . , JO ,.
1,5 1.10 -0
::J
Kerapatan relatif (Or) K~rapatan retatif (Or}
2,25 >
-
!
G>
1.80
~
~
Berat volume kering (lb/ft3)
1CID 101 110 ,.
Berat volume kering (lblft3)
,..
m
1 .
110
air 2,5'11 1.70 2 ~---;-
z (ft) 12 Cl
31-- z (ft) 3 ,._~
100 ::---~-~---.L--.t..._-..J1.80
0 4 12 18 20 I

5 .,__...
Jumlah lintasan (d) 45 hritaMn

~-
2.19 Pengaruh junllah lintas . narik
(towing spud) pada mesin pemaclat an mesm penggilas dan kecepatan .P\gP .
Gambar 2.20 Pengaruh jumlah hntasan terh adap ketebalan tanah yang dipadatbn
1700
dan pasir bergradasi baik. kg Pada tanah lempung berbatas calf u
(D' Appolonia, dkk., 1969).

-
100 101

madatan. Perhatikan kepadatan tanah (yd) 2.7 KONTROL KEPADATAN DI LAPANGAN


sebelum dan sesudah pe Pada 15 cm bagian atas tanah
d ngan kedalamannya.
bervanast e. . . d g tanah mencapai kepadatan maksimal
e\onggar akrbat vtbrast, se an . 45 S 1' Ada d~a macam cara untuk mengontrol kepadatan tanah di
m . ) da kedalarnan sekitar cm. aat tntasan lapangan, Y~Itu dengan pemindahan tanah dan cara Iangsung. Cara
(untuk . \tntasan tertentu pa . d k .k k
b"h.1 dari 5 lintasan, ttdak a a enat an epadatan dengan petrundahan tanah adalah sebagai berkut:
mestn pemadat me1e 1
(1) D~gali lubang pada permukaan tanah timbunan yang dipadatkan.
(yd) yang berarti. h' k

Cara menentukan teballapisan yang memenu 1 erapatan relatif (2) Dttentukan kadar aimya.
(Dr) tertentu caranya adalah sebagai berikut: . (3) Diukur. ~olume dari tanah yang digali. Cara yang biasa dipakai
Misa\nya pada hasil uji pemadata~ dt lapangan untuk 5 ka~t untuk tnt adalah metode kerucut pasir (sand cone) dan balon
lintasan mesin pemadat diperoleh hastl kurva ke~.ap~tan relat~f karet (rubber baloon) . Dalam cara kerucut pasir, pasir kering
terhadap kedalaman seperti pada Gamba~ ~.2la. Dnngtnkan h~stl yang telah diketahui berat volumenya dituangkan ke luar Jewat
kerapatan relatif tanah minimum (Dr) rruntmum 75%. Untuk ttu, kerucut pengukuran ke dalam lubang di peonukaan tanah.
gambarkan beberapa kurva yang sama pada kertas tran~p~r~n, dan Volume lubang dapat ditentukan dari berat pasir di dalam Jubang
impitkan hingga membentuk seperti Gambar 2.2lb. Dan stnt dapat dan berat volume keringnya. Dalam cara balon karet. volume

ditentukan tebal lapisan tanah dipadatkan yang dapat memenuhi ditentukan secara langsung dari pengembangan balon yang
syarat Dr minimum 75o/o adalah 45 cm. Walaupun, sebenamya tebal mengisi lubang galian.
lapisan dapat ditambah, karena saat pemadatan tanah di bagian atas, (4) Dihitung berat volume basah (Yb). Karena berat dari tanah yang
tanah di bawahnyajuga akan ikut memadat. digali dapat ditentukan dan volumenya telah diperoleh dari butir
(3 ), maka Yb dapat ditentukan. Dengan kadar air yang telah
Kerapatan relatlf, Or(%)
ditentukan di laboratorium, berat volume kering di lapangan

Kerapatan relattf, Or{%)
so so 10 eo ao so eo 10 eo El> dapat ditentukan.
0 0 ..---~-_,..--.,..-----"\
0 (5) Bandingkan berat volume kering lapangan dengan berat volume


1 , kering rnaksimumnya, kemudian hitung kepadatan relatifnya.

-- --
E I
c: 2 -
~2
c:
-- '
Gambar secara skematis dari percobaan kerucut pasir dan balon
karet dapat dilihat pada Gambar 2.22a dan Gambar 2.22b. Cara
c: IQ
- - Kerapatan

-.
c: ta E 18 in.
CO
E E 3 ~ 3
relat1f langsung pengukuran kepadatan di lapangan dengan pengujian yang
Ji 1 ta "0 mm1mum iJin
menggunakan isotop radioaktif, disebut dengan metode nuklir. Dalam
.,
-
ta
~
"0
"0 =75%
~
~ 4 ....
........ cara ini pengujian kepadatan di lapangan dapat dilaksanakan dengan
Hubungan o, dan
, , cepat. Gambar skematis alat ini dapat dilihat pada Gambar 2.22c.
(a)
kedalaman untuk
lapi1San yang tebat pada
5 kati lintasan '
6 , '
(b)
8
Contoh soal 2.1 :
Gambar 2.21 (a) Hasil uji pemad t d'1 n
pemadat. a an lapangan untuk 5 kali lintasan mest Untuk mengetahui berat volume tanah di lapangan, ~il~a~
(b) Penentuan tebal la . . kat percobaan kerucut pasir (sand cone). Tanah seberat 4.56 kg d1gah dan
kepadat ptsan yang memenuhi syarat ung
an tertentu (Dr =?S%).
102
103
\

lubang di pennukaan tanah. Lubang diisi dengan 3,54 kg pasir kering


sampai rnemenuhi lubang tersebut.
( 1) Jika dengan pasir yang sama membutuhkan 6,57 kg untuk
3185 an"
--_ .,
-o mengisi cetakan dengan volume 0,0042 m3, tentukan berat
(1 Qll) -40
volume basah tanah tersebut.
(2) Untuk menentukan kadar air, tanah basah seberat 24 gram, dan
-- berat kering 20 gram dipakai sebagai benda uji. Jika berat jenis
- tanah 2,68, tentukan kadar air, berat volume kering, dan derajat
kejenuhannya.

136.5 mm Penyelesaian :
Corong
0,0042
(a) Volume lubang = , x 3,54 =0,0023 m
3
~1esmm::j
j.--171 mm
-- 6,57
- -- Berat volume basah:
3

Yb = W/V = 4,56/0,0023 = 2018 kg/m (19,72 kN/m3)
(b) Kadar air: w = WwiW5 = 4/20 = 0,20 = 20%
-
0
P\al daw Berat volume kering:
2018
(a)
Yb = = 1682 kg/m3 (16,5 kN/m3)
1+ w 1 +0.20
(b)

V= W = 24x 10003 =11893 mrn3

yb 2,68 X 1000 X 1000



3
O.t.l1or V = Ws = 20 x 1000 =7463 mm 3 I


s Gs Yw 2,68 X 1000 X 1000
...
t.,.t, : .:.: ~
,... , .... ~

3

Vv = V_ Vs = 11893- 7463 = 4430 m111
(c)
Vw= W"lYw=411 =4cm =4 J 000 mm 3

Ganlbar 2.22 Alat ujs pemadatan di lapan an s = 4000/4430 = 0.90


(a) Metode kerucut g klir.
Paslr. (b) Mctodc balon karct. (c) Mctodc nu Jadi, derajat kejenuhan tanah tersebut S =90 %
106 107

Syd
Contoh soa/2.3: SYw- - wyd = O
. h bungan berat volume kering, untuk G.f
(a) Bukttkan persa~aakn . u han S sebagai fungsi dari kadar air,
sembarang derajat eJenu . ' . Penyelesaian dari persamaan ini,
berat jenis, dan berat volume atr, adalah.
_ G~ Y w
Yd - (terbukti)
Gs Yw l + Gsw/S
Yd=l+G 5 w/S
(b) Buktikan persamaan hubungan berat volume kering terhadap (b) Persamaan kadar udara (persen rongga udara):
kadar air untuk persen rongga udara tertentu adalah: A = Va = Vv- Vw
(4)
G5 (1-A)Yw V Vv + Vs
Yd =
1+ ":Gs Persamaan (4) dibagi dengan Vs, diperoleh:
A = e- wGs
(5)
1+e
Penyelesaian:

Bila tanah tidakjenuh, berlaku eS = wG5


(a) Derajat kejenuhan: s = Vw (1) Dengan substitusi S ke dalam Persamaan (5), diperoleh
Vv
wG5 +A
Untuk volume tanah total V = 1 m (maka3
yd = WsN = W/1)
e=-....:...,.._- (6)
1-A
volume air dapat dinyatakan oleh:

Karena (7)
Vw -- W"fd
(2)
'Yw
Substitusi Persamaan (6) ke (7),
dengan kadar air w dalam desimal.
Volume rongga pori: 'Y d = 1 + ( wGs + A) I(1 - A)

Vv =V- Vs = 1- Vs -1 Yd Diperoleh,
- - ___;_=-- (3)
YwGs G5 (1- A)Yw
(terbukti)
Substitusi Persamaan (2) da (3) k 'Yd = 1+ wG s
n e Persamaan (1),

S= wyd

Yw(l-yd /GsYw)
108
109
2.8 PEMADATAN TANAH ORGANIK
. d 1 m tanah cenderung mereduksi Franklin dkk., (1973) melakukan penelitian laboratorium untuk
Adanya material organik dt hat a ah yang mengandung bahan meneliti pengaruh kandungan organik pada karakteristik tanah yang
1't tana -an
kekuatan tanah. Karena ~, . bagai bahan timbunan. Kadar dipadatkan. Dalam pengujian, sejumlah tanah asli dan tanah campuran
organik sebatknya dak dtpakat
t 1 se
C d'definisikan oleh F ran krIn dkk ., diuji. Gambar 2.23, menunjukkan pengaruh kadar organik pada berat
organik (Organic. Content), 0 , 1 volume kering. Bila kadar organik melampaui 8% sampai 10%, maka

1973) sebagai benkut: berat volume kering berkurang secara cepat. Kadar air optimum (wopt)
pada usaha pemadatan tertentu bertambah dengan bertambahnya kadar
dari 105 sampai 400
Kehilangan berat oleh pemanasan oven (2.5) organik (Gambar 2.24). Nilai qu(mak) (kuat tekan bebas maksimum)
OC = Berat kenng tanah pad a suhu 105o
yang diperoleh dari tanah yang dipadatkan pada usaha pemadatan
tertentu juga berkurang bila kadar organik bertambah (Gambar 2.25).
Dengan demik.ian, tanah bila mempunyai kandungan atau kadar
organik lebih besar daripada 10% tidak baik digunakan dalam
pekerj aan pemadatan.
1015
o Campuran,
kenng oven us

100 Campuran, ........

---
~
.)
kering udara
Contoh natural,
kering oven 15
"'E
-z
~
..._.. 31
0 C)
Q c
c 't:
cQ) Cl)
~
.X
CD
E
-0
;:J
to
14
Q)
E
->
::J
0
-
~
...._,
0
30

....> ...e a0
e
Q)
CXI
m
Q)
;:
~

13 E
::J
10
\
-
-aE.
0

11
' \
\ 12 -CO 20
~

\ ~

\ CO
\ "0
\
\ ~
\
\ 11 15 Kering udara
\
\ e Kering oven
\

0 10 15 20
Kandungan organlk (%)
28 ' 30
10.22
10
0 5 10 15 20
Kandungan organik (%)
Gambar 2.23 Variasi berat volume kering terhad k d 'k (Franklin
dkk., 1973). ap an ungan orgarn
Gambar 2.24 Vanasi kadar air optimum terhadaP kadar organik (Franklin. 1973).
110 111

3,5 bagian atas dan bawahnya. Unit penggetar digantungkan pada pipa
penghubung atas (follow-up pipe). Alat ini berpenetrasi ke dalam
.. '
tanah dengan kecepatan diantara 1 sampai 2 mlmenit melalui
3,0 '
0
()
0
. 0 semprotan air dan penggetaran. Pada Iokasi tertentu, vibroflot dapat
melakukan penetrasi dengan kecepatan 5 - 8 m per menit.

'

2,0 '


1,5
Contoh asli
o Campu "an _ keri ~g oven
CamPt ran _ keri iO udara
101


0, 5
' 5 10 15 20 25
0 Mesin
Kadar organik (%) penggerak

. Pompa

aJr

Gambar 2.25 Vanas1 kuat tekan bebas (qu) pada contoh yang diPadatkan dengan
kadar organik tertentu (Franklm dkk., 1973). Pipa
pengg tung
Bagian A: Baaian 8:
S1linder material SDinder material
dipadatkan yang padat dari hasil
2.9 PEMADATAN DALAM (DEEP COMPACT/ON) Unit dimasukkan dari pemadatan
penggetar permuk.aan vbroflot.
tanah untuk
a. Vibrojlotation mengisi
kehilangan
Vibrojlotation banyak dipakai untuk pemadatan pada tanah volume tanah
saat dipadatkan.
tanah granuler (pasir) yang tebal dan Ionggar. Proses pemadat~
dilakukan melalui vibrotlot atau unit penggetar (vibrating untf)
(Gambar 2.26) dengan panjang lebih kurang 6ft diameter 17 in. dan
berat 4000 lb. Unit penggetar berupa beban eksentris di dalamnya dan -
dapat mengembangkan gaya-gaya sentrifugal. Unit penggetar ini dapa;
Gambar 2.26 Alat pemadat vibroflotation (Brown. 1977).
menggetarkan tanah dengan gaya sentrifugal harisontal sekitar 10 to
pada 1800 rpm. Pada alat ini terdapat pintu-pintu penyemprot air padl

112
113

dipakai vibrofl ot 100 hp. Pemadatan dengan vibrojlotation dapat


dikerjakan pada bennacam-macam jarak, bergantung pada zone yang
dipadatkan (Gambar 2.28). Kapasitas pemadatan yang baik
bergantung pada di stribusi ukuran butir tanah dan tipe tanah urug
t f sebagai pengisi lubang saat periode penarikan vibrotlot. Kisaran
I I (range) ukuran distribusi butiran tanah di lapangan yang paling cocok

pada zone 1 (Gambar 2.29). Tanah yang mengandung banyak pasir
' l Jarak vibrof/ot Zone pengaruh

;
~'
.. ----....... ....
' ' \I
,'
, .,.,- -....'
' \;
,
,... , -........ ..
', \
,
,--: ..
tiap pemadatan
,... .... ' '\
1 2 3 I \ 1 f\ \1
I
\

,
I
I
,,
'I
11 I I
' 'i
~
11
1
'
I
I .,.-+J -..... - -, I , , ,.. -?--, , - ,... . ._
I , , \ ... , ;"' ;J ', ,"' ,\ "', ,"' I ' ,

Gambar 2.27 Proses pemadatan vibroflotation. \


\
\ I
I
;
;
I
1\
\
' ,
\
I
1'
;
1
}\
\\
\
\
\1
1
'
;
I
I \
\\
\
\
\,1
1
'
1
I
I \
\
\
\
' ,.., I
I
, ,
" '
'...,,
'r
1'
, ...... " ; ' .... _ ~~-'"
.'\ , ' .... _,!'-...
,\ -" " \I
-,- - -,.... 1 I
11I 11 111 I.

,,~
I 1
1(
Proses pemadatan vibroflotation adalah sebagai berikut I
' ''/.
\ ,, / I

' '..... -----""


\ .1\ 1\ 1\ I

' . . .. _____..." ' .. __ ___..., .. ___...... ....


\ ; ' ; \ ,I ' I
.... ' ...
(Gambar 2.27): otan air
1. Vibrotlot (vibrating unit) diturunkan dengan bantuan sempr
di bagian bawahnya. an Gambar 2.28 Jarak pemadatan vibrojlotation.
2 Akibat berat sendiri vibroflot ditambah dengan semprotan atr Y g
. menyebabkan kondisi pembuburan (quick condition) tanah, maka

1l ~~ ~~
tercipta lubang yang dapat dimasuki oleh vibroflot. 100 Kenk1-
, """'-
3. Tanah granuler (pasir) dimasukkan dari atas lubang (permuk~an
tanah). Air dari pintu penyemprot bawah dipindahkan ke bagtan
penyemprot atas vibrojlot. Air ini mendorong tanah urug (pasir) ke
bawah lubang. --
(/!.
10
Zone 1 (lebih baik)
4. Vibrotlot perlahan-lahan ditarik bertahap ke atas pada tiap 30 cm -.~2
dan dilakukan penggetaran selama lebih kurang 30-60 detik pa_d~ c:
~
tiap penarikan sambil di masukkan tanah urug pasir. Proses 101 (I)
Cl.
20
mernadatkan tanah sehingga membentuk kolom-kolom padat pada
tingkat kepadatan tanah yang diinginkan.
0 1LO-L-5-...J2L-~1.~0~0.5::- 0.2 0.1 0.0& O.o2 0.01 0.001 0.002 O.oct

. Zone ta~ah ~a~g dapat dipadatkan, bergantung pada mac_am


Ukuran butiran {mm)

vtbroflotnya. Blok s1hnder yang memadat . . . . selatar


. tan ah Yang efel'tif untuk ,,ibrojlotation.
Gambar 2.29 Ktsaran distribust. ukuran buttr
2 meter untuk vibrotlot-30 hp Radius . . mdempubenyat Jan-hJabensar bila
tnt apat rtamba

I14
] 15
Ianau sulit dipadatkan, sehingga
haJus dan partikel ukuran bcsar untuk mcncapai kepadatan dengan jarak 1,2 - 5 m bergantung pada .
diinginkan. llngkat kepadatan yang
mernerlukan usaha pcmadatan .yang d ~kat an adalah batas bawah dari
yang diinginkan. Zone 2 sec~ta .~ent ~ cfcktif digunakan. Tanah
1 011 AJat vibrojlotation dapat di unakan . .
. d' . ana vrbropo a' dengan memasukkan koJom tanah g dalam tanah kohestf Junak
ukuran buuran t m d , d zone 3 ban yak mengandung . granu 1er unt k 'kk .
dengan ukuran butu an Y
.. a1lg bcra a p,l a ..
, 'broflot berkurang, karena it
d~n kckak~an tanah. Kolom pasir dibuat den u . menal an kekuatan
kerikil untuk ini keccpatan pcnetrast vt u vrbroflotatron, kernudian meng gan menenggelamkan alat
k'. . . d' t'dak ckonomis hcrhubung pckcrJaan pemadatan urugnya dan sekalig k
rnung tn nlenJa 1 1 turunkan alat pada urugan setinggi 30 M . us menai -
mcnjadi lan1a. , . h' . ke arah lateral dan vertikal oleh akb ctm. atenal granuler memadat
. 'b k butt'r tanah urug sangat tncmpengaru 1 hastl getaran. I a pengaruh berat vibroflot dan
1) tstn ust u uran
dcfl .nt'sikan angka kecocokan (S )
kepadatan tanah. Brown (1977) n1cn . . N
untuk tanah urug yang digunakan sebagat bcnkut:
b. Pemadatan Dinamik

(2.6) . Pemadatan dinamik adalah suatu cara pemadatan dengan


menJatuhkan be?an berat .secara berulang-ulang di pennukaan tanah.
Berat ?eban dar~ 8 sampa1 35 ton, dan tinggi jatuh bervariasi dari 7,5
sampat 30 m. Ttngkat kepadatan yang dapat dicapai bergantung pada
dengan D5o, D2odan D1oadalah diameter-diameter butiran (dalam mm) beberapa faktor, seperti:
yang dapat diperoleh dari analisis distribusi butiran. Bila SN mengecil,
maka tanah urug semakin baik digunakan. Tingkat kecocok.an tanah 1. Berat beban (pemukul).
urug yang akan digunakan pada pekerjaan vibrojlotation ditunjukkan 2. Tinggi jatuh beban.
dalam Tabel 2.3. 3. Jarak titik-titikjatuhnya pemberat.

Tabel 2.3 Tingkat kccocokan tanah urug untuk vibroflotation Leonar~ dkk.(l980) menyarankan persamaan kedalaman tanah yang
dapat dtpadatkan (D) oleh pukulan sebagai berikut:
Tingkat kecocokan tanah urug
0- 10 Baik sekali
10-20 Baik (2.7)
20-30 Scdang
30-50 Jelek

>50 dengan:
Tidak cocok

D = kedalaman yang dapat dipadatkan (m)


Pada metode Terra-Probe a .
Co., cara pemadatan dilak k Y ng dtpatenkan oleh L.B. Foster wh =berat pernukul (ton)
. u an dengan . H = tinggi jatuh (rn)
getar (vtbratory pile driver) ada ~cmasang penggerak ttang
tanah. Tanah-tanah yang pk . probe (hang) dan digetarkan dalam
. coco dapadatk d . Chow dkk. (2000) menyarankan hubungan kedalaman lubang
cocok d1gunakan pada ,.,. P an engan vibroiflotation JUga
I era- robe r,
Jang getar dimasukkan ke tanah dan energi kejut (inzpact l~nergy) pada tingkat energi jenuh. Tingkat
116 117

k dala~nan akibat tumbukan ion kalsium divalen. Gambar 2.30 memperlihatkan hubungan kadar

. . 11 ini terjadt saat a . t rnbahan e I h k
b kan a\val. Jum a pu u anI
energt Jenu 51J! dan tum u . . k' k' air dan susut aksial tanah lempung berlanau yang dipadatkan. Susut
berikutnya tidak lebth dan oai tingkat energt JCnuh mt ua- tra 10 diukur sesudah pemadatan contoh tanah pada berbagai kadar air.
dbutuhkan
yang 1 untuk ntencap . k
,an dtsaran ,1 n olch Chow dkk. (2000) Gambar 2.31 memperlihatkan tekanan pengembangan yang terjadi
- 15 pukulan. Persanlaan ) g pada lempung berpasir ketika contoh tanah secara pendekatan
adalah sebagai berikut: dikekang pada volume konstan oleh cetakan (mould) dan piston di
(2.8) permukaannya. Untuk pengujian ini gerakan air bebas diberikan pada
. Es - 0.1 25 contohnya.
Dr = 31.2 + OJ9Es
Pengaruh susut pada tanah-tanah berbutir ha)us menjadi
. ) E = energi kejut per pukulan
dengan Dr = kcdalaman lubang (m , ~ di adatkan (D), Chow dkk.
rnasalah penting dalam masalah teknis. Retak akibat susut dapat
(t.nl). Untuk kedalainan tanah yang dap p rnuncul secara lokaJ, jika tekanan kapiler :melampaui kohesi atau kuat
(2000) tnenyarankan persanlaan: tarik tanah. Retak-retak ini , bagian dari makrostruktur lempung dan
rnerupakan zone-zone Jemah yang secara signifikan mereduksi
(2.9)

dengan D dalarn 1neter dan EBdalan1 t.m.


-*'- 4
Lempung berlanau
-
ro
-
~
ro 3
-
::J

2.10 PERUBAHAN VOLUME AKIBAT PENGEMBANGAN "'


::J
Cl)
2

TANAII
'
'

0
2.10.1 Ken1bang-Susut Tanah Lempung 12 ~~--~~~~20~~n~~~
14 18 11
Kadar air (%)
Tanah-tanah yang banyak mengandung lempung mengalami
perubahan volume ketika kadar air berubah. Pengurangan kadar atr
menyebabkan lempung menyusut, dan sebaliknya bila kadar air

-
a
c:

bertambah lempung mengembang. Derajat pengembangan bergantung


pada beberapa faktor, seperti: tipe dan jumlah mineral Jempung yang
ada dalam tanah. luas spesifik lempung, susunan tanah konsentrasi
gara~ dalam air pori,_ valensi kation, sementasi, adanya 'bahan-bahan
orgamk dan sebagamya. Perubahan vol h besar
membahayakan bangunan. ume tana yang
. P~ngedmiffubangakn l~mpung adalah hasil dari bertambahnya tebal
Iaptsan ton 1 se etlka ada a 1 bl Gambar 2.30 Susut aksial pada lempung berlanau (Seed dan Chan. 1959).
sodium akan menyebabk IT. on-ton monovalent exchange~ e
an pengembangan lebih besar daripada 1on

, I f

: ... It

dar

,.t:li daD
S.s1d
120
121
.
danpa ad tanah' dengan susunan teratur
lebih mudah mengembang k 0 kembali tanah lempung dapat
Pembentu a . Penge~ban~an tan ab seperti juga penyusutan, biasanya tanah
Gangguan tanah atau bang Kation-katton monovalen terkekang dt bagtan atas permukaan tanah, sebingga merusakkan
... . d h mengem .
menambah stfat nlu a d' 1 111011 rnzori!lonrte) akan mengem- struktur di atasnya, seperti perkerasan jalan, bangunan gedung ringan
( hnya so run
dalan1 Iempung conto. . ung divalen (contohnya, kalsium dan perkerasan dinding saluran. Tekanan pengembangan sebesar 1000
1
bang lebih besar danpada i ~:~ bahan-bahan organik cenderung kPa ekivalen dengan tinggi timbunan 40 sampai 50 meter (karena
nzontmorii!Olllfe). Setnentas 3
berat volume tanah sekitar 20 kN/m ). WaJaupun tekanan sebesar itu
n1engurangi pengemba?kg~n .. f t kembang susut tanah, dapat dilakukan jarang terjadi, namun tekanan pengembangan yang hanya 100-200
Untuk metnpredt Sl st a . . I' . ki .
.1. d' 1 boratoriunl, anahsts-ana tsts ffila dan kPa harus diperhitungkan hila membangun timbunan dengan tinggi 5
UJ pengen1bangan I a . . & d k h
n1incralogt. kore1as1. dengan klasifikast dan stfat -s11at tn
. ke s tan.a . atau 6 meter, contohnya timbunan untuk subgrade (Holtz dan Kovacs,
Tab~l 24 menunjukkan kemungkinan potenst e spanst tanah 1981 ). Sebagai perbanding'an, gedung bertingkat umumnya mem-
hasil dari penaumpulan data uji pengembangan pada lempung dan punyai tekanan ke tanah sekitar 10 kPa untuk setiap Iantai. Dalam hal
tanah-tanah ek~pansif oleh Holtz (1969) d~n U~BR (1974). Sedang kerusakan akibat pengembangan tanah, harus diwaspadai adanya
Iempung tnont!norillonite.
Tabel 2.5 menunjukan hal yang sama, dan basil pengalaman Chen
(1988) pada area Rocky ~fountain. Hubungan batas cair (LL) dan berat volume kering (yd) di
tempat (in-situ) untuk mengetahui sifat mudah mengembang dan keru-
Tabel2.4 Potensi pengembangan (Holtz, 1969; Gtbbs. 1969; USBR, 1974) sakan tanah yang didasarkan pada pengalaman U.S Water and Power
Resources Service (dulu USBR) ditunjukkan dalam Gambar 2.33.
Potenst Pengembangan Persen Indeks Batas Batas
pengembangan (%) koloid plastisitas susut SL cair LL
(akibat tekanan (< O,OOlmm) PI(%) (%) (%)
6,9 kPa) (%)
Sangat tingg1
Tinggi
>30
20-30
>28 > 35 > 11 >63
~1.8
..._
z
~
.. ...I
tSedang
Rendah 1

1
I
1 Tinggl 1
Saogat tlnggi
.,---
1

I
I
20-31 25-41 7-12 50-63 a; 1,6 I I I
Sedang 10-20 a. I 1 1
13-23 15-28 10-16 39-50 E 1 I I
Rendah < 10 <IS < 18 < 15 < 39
-
-
Q) I I
I
I
I
I
I
Cl I I
c I I
c:
Q)
~ 12
Tabel 2.5 Potcnsi pengembangan (Chen, ) Q)
EJc:spansi
1988 E Kerusakan
-0:J
Potensi Persen lolos Batas
- .....> 1,0
(collapse}

pengembangan
sanngan N-SPT Kemungkinan Tekanan ~
Q)
cair (LL) (I)
ekspansi (%) pengem- o,a L--L._..L.-_.J-~_~...-.-:::--~--:;~
Sangat tinggi
no.200
bangan (kPa~ 0 20 40 60 80 100
>95 > 60
Batas cair (LL)
Tinggi >30
60-95 40-60 > 10 >1000
Sedang 20-30
30-6() 3-10 250- tOOO Gambar 2.33 Petunjuk kerusakan struktur tanah (collapsibilir:'). kemudah~t~
Rendah 30-40 10-20
< 30 l-5 150-250 dan pengembangan didasarkan pada berat volume kering dttempat dan batas catr
<30 <10 <I 50 (~1itchcll dan Gardner. 1975 dan Gibbs. 1969)


122 123

di adatkan, Seed dkk. (1962) menyarankan dengan PI = indeks plastisitas dan c = persen f k. k
Untuk Iemp~ng P mbangan pada Gambar 2.34, yang (diameter butiran < 0,002 mm). ra SJ u uran lempung
hubungan poten~t p~nge en ukuran butiran lempung (diameter
k fungst dan pers
merupa an k. 'ta pada tanah campuran pastr-lempung yang Tabel 2.6 Aktivitas beberapa mineral (Skempton, J953 dan Mitchell, 1976)
0 002 mm) dan a ttvt s
< ' . 1, adatan maksimum standar Proctor dan
dipadatkan sampat 1\.ep 6 9 kP Mtneral Aktivitas (A)
dibiarkan mengembang pada tekanan terbagt rata ' a. Na-montmorillonite 4-7
Ca-montmorillonite I ,5
Illtte 0,5-1 ,3
a
Kaolmite 0,3 - 0,5
S = potensi pengembangan Halloystte (dehydrated) 0,5
Halloystte (hydrated) 0,1
4 Attapulgite 0,5- 1,2
Allophane 0.5- 1,2
Mica (muscovite) 0,2
Calcite 0,2
3
Quartz 0

Selanjutnya Seed dkk. ( 1962), dari basil uji laboratorium pada


Sangat tlnggl
campuran lempung-pasir yang dipadatkan tersebut di atas memberikan
definisi potensi pengembangan. Potensi pengembangan (swelling
potential) adalah persentase pengembangan di bawah tekanan 6,9 kPa,
1 pada contoh tanah yang dibebani secara terkekang pada arah lateral,
Rendah
dengan contoh tanah yang dipadatkan pada kadar air optimum
. . . . . . _
o~--~~----~----~~~1.5:"~
.
~----:~=-= 6"
sehingga mencapai berat volume kering maksimumnya, menurut
standar AASHTO. Didasarkan pada hasil pengujian-pengujiannya,
0 20 40
eo eo
Persen fraksi lempung (< 0,002 mm)
potensi pengembangan dinyatakan oleh persamaan:

(2.11)
Gambar 2.34 Diagram kl fik
1 ast ast potensl pengembangan (Seed dkk., 1962).
Pad a Tabel 2.6 ditun. ukk . . dengan:
definisi aktivitas seperf J an akttvttas beberapa mineral, dengan
(1.36.), yaitu:
1
yang telah ditulis dalam Bab 1, Per samaan S = potensi pengembangan (persen pengembangan aksial
akibat tekanan 6,9 kPa)

C = persen fraksi lempung (persen berat)
A= PI
A = aktivitas = ~(Pl)lllC
c (2.10)
L..5

"n1p1ns antnrn

dl"ngan K = '.6 x 10 .

-
(-.L)
PerMn tra :W mpung (<0,002 mmJ

1 'llll "rhntiktn 1 etunJuk. 1 r,tktts d 1ri ll" BR tneng 'nai


guntb 1rnn kenMnl uun pt'ngt'ntb.ln~an tanah. l't"d Jkk.. ( l ( 6.. )
Gnnthur .....J5 ~if1 t ''!Ui lSi indek.. , ...u.., ut ( 1) d... ngnn persen frolk 1 lempun
111 ny.antnkun ikLlstttk..l~t ..it rajt1t ~SJ ansi < ~'<'l' a; c.Xf ansion yang
l .

ditunjukk

1n dal un Tabd 1.7. Kc relasi untuk p t n..,i pengen1bangan ( ) n1enurut
~Rangunathnrn dun ..,atyan lruyan 1 1 5 , dinyntnkun oleh pet...amaan:

_l__m..;;,.,
~u_t_ck_'.:...
P_m_'t~---------- ~~''l\'-'l.~t p\'Jl!!l'tnban~tm. S \ C( = l-+.:7 x 1o~ )tS.-\ )- c-
5 67 44
(2.15n)
Rcnd.1h 0 - 1.5 s = l-+ 1. L, x 1{r c. .f);.. 61
(_.l5b)
tdnng
Tmggt - .., - ~llnh
satu 1ra identifiku..,i pengen1bangan ederhnna
."' - -."' >..!

ru1gnt hnggt disarankan t)kh ll,\ U1PR yang di cbut uji pengettJban~an bebas
M

\fr -c-snlll rtsr) ~lh.)lts dun Gibbs. 1{- ). Pengujian dilakukan dengan
RanJ_anathnrn dun at ,.111 1 ~3 ,, '\ _ . ~'~tra tnenubur pt'rlahun-lahun 10 ut'"' tanah kering dengan butirun lolo
.. . ' \ u) ,tn l 1l,(l) tncnyar"utkan korehtst
P ten~
. .pengernban<lnn
. va " - .
. . ~ .:- ~ ..nun st'I 'rU pada Se ~d dkk. ~ 196-).
11
sanng,tn llL).40~ kt' dnlun1 silind r yuug dii"'i air dengan ~olun1e 100
Kore 1a tnyu d1dasurkan ad- 111. 1 k , . ..
"' .. ""' .....
. . . l'tn-. dan di~unnti v~un1 s 1ut k ein1bangan telah terjndi.
\

pe ngentbnnon d p d e ~ Sll,\lll (.._,/znnka~t inde.\). aki\'lt~lS


.. . . 11 nn per" nt ht' fl11k--. k ~ 1 cllgctnbangan l el,as did ~finisik,tn sebagai (Holt" dan Gibbs. 1956):
( I) didefini~ 1kn 11 ,. . b . st u urun k'tnpung. Jrulrks susur
.., " ") ug ll ~r ~d . . .. ~
tanah. lndek su~tli 1111:. . kk . tdn antdnt bat~ls l'at r dnn but~ts plu. tt~
.. '"' -~ ""OUilJU an l b . . . . ~ Iurn~ akhir- volurne tnval x lOO% (2.1 c)
lernpung rnenurut be . . . lll ung 1n luu 'r pndu JlCrscn fruk~t
. . nntn a (hhu- G 1
. vt htnl a\\~nl
aktnrtas pen~embanl?an ~ ( l antbar 2....l5). l)alant hul uu.
well act' nay ,. ) d'tdehnt - . 1kan
. s ,haunt:
Se bag 1i pe.n1bnnding, bent >nit ( ifnt pengembangan tinggi.
SA= A(S/ ) biasany 1 1'4-?noutlllOri/loniu: ukan rnengernbang d ngan niJai
c ( ... .14) I 'IU! 'nlbangun bebus }_()() . Tnnah dengan nilai pengen1bangan
130 131

.ti mengembangkan cara . pendekatan empiris


Bebera~a peneh an an dan sifat-sifat mdeks tanah. Salah
antara potenst pen~emb d g Ghazzal y ( 1973) mengembangkan -
r::::

satunya. Vijayvergtya ka~ontoh tanah asli (undisturbed), seperti


tO
C)
r:::: Pembasahan
tO
hubungan-hubungan untu .c
2 37 E
ditunjukkan dalam Gambar Q)
C)
Awal
r:::: Akhir Oenuh}

2.10.4 Uji tekanan pengembangan


8_0
r::::
ea
------
C)
c: Tekanan
tO pengembangan
Seperti telah disebutkan, bahwa tekanan ke tanah C)
Q)
0:::
mempengaruhi pengembangan tanah. Tekanan pengembangan yang
Tegangan normal, cr (skala Jog)
mencegah tanah mengembang disebut tekanan pengembangan, as
(swelling pressure). Uji beban dilakukan dengan mengukur
pengembangan pada akhir pembebanan dari uji pengembangan Gambar 2.39 Penentuan tekanan pengembangan dengan menggunakan
konsohdometer tanpa regangan.
dengan melepaskan beban perlahan-lahan sampai kembali ke
volumenya semula, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.38. Metode
yang lain, yaitu dengan menggunakan alat konsolidometer yang Metode pertama (Gambar 2.38) cenderung menghasilkan
mencegah terjadinya regangan vertikal (Gambar 2.39). tekanan pengembangan lebih tinggi. Akan tetapi, tidak satupun dari

keduanya yang menggambarkan secara persis urutan aktual
pembebanan dan pembasahan di lapangan.
Chen (1988) dan beberapa peneliti berpendapat bahwa tekanan
pe~gembangan tidak bergantung pada kadar air awal, derajat
kejenuhan awal, tingkat ketebalan tanah, dan bervariasi hanya dengan
berat volume kering dan oleh karena itu hal ,ini merupakan
Pembebanan setelah
pembasahan selesai fondamental sifat-sifat fisik tanah ekspansif (Chen. 1988). Namun,
peneliti yang lain tidak setuju dengan evaluasi ini dan mengldaim
bahwa hal itu bervariasi.
Tekanan
pengembangan Jika menguji contoh tanah asli (undisturbed), Chen (1988)
merekomendasikan definisi tekanan pengembangan sebagai tekanan
untuk mencegah tanah mengembang pada berat volume kering di
0
,\t-------~~-- tempat. Chen juga menyarankan untuk menguji contoh tanah buatan
Kedudukan
tegangan Tegangan normal, cr (skala log) (remoldecl) pada 100% kepadatan relatif dan Chen mendefinisikan
tekanan pengembangan . adalah nilai yang dibutuhkan untuk
memelihara berat volume kering tersebut.
Gambar 2.38 Penentuan t k .
pembebanan uji pengemb~g=~ pengembangan dengan pelepasan beban pada ak}ltr


132
l33
bangan dengan tegangan normal
0 tensi pengem
2.10.5 Vanas P . si menurut besamya tegangan (b) Kemudian, genangi contoh tanah dengan air dan tambahkan
P tensi pengembang .
an bervana . .- k
B'la tanah dt de kat pet rnu aan, atau t~gan_gan normal ~una mencegah pengembangannya. Pengujian
o ':"' 1 tanah. 1 k dtlanJutkan sampat tekanan pengembangan maksimum berkem-
1yang bckerJa da am . maka tanah a an mengembang bang.
norma beban nngant h d'be
h dibebani dengan terletak di bawa atau 1 bani
~~~h
e
besar daripada tanah yang tu hal ini harus dipertimbangkan
besar Karena 1 ,
(c) Berangsur-angsur lepaskan bebannya agar diperoleh kurva pe-
dengan beban yang . an tanah. ngembangan. Pengujian dilanjutkan sampai tekanan pada contoh

tanah kurang dari tekanan overburden di tempat.



dalam analisis pengembang peroleh hubungan tersebut adalah
untuk n1em
Salah satu _cara h tak terganggu (undisturbed) pada beberapa
dengan mengambtl conto . duji potensi pengembangannya. Uji Cara yang lain yaitu uji
overburden pengembangan
dinzodifikasi (nzodified Slvell overburden, MSO) (Johnson dan
kedalaman dan masing-mkastng (!constant volume swell, CVS) telah stroman. 1976), yaitu (Gambar 2.41):
b l yo/unze onstan d ..
pengern angal Stronlan ( 1976). Prose ur pengujtan
dilakukan oleh 1ohnson dan . (a) Letakkan contoh tanah tak terganggu (undisturbed) dalam
adalah sebagai berik'llt (Gambar 2.40). .
konsolidometer dan terapkan beban normal sama dengan tekanan
(a) Letakkan contoh tak terganggu dalam konsolidometer
k d dan overburden yang direncanakan (yaitu tegangan pada tanah saat
terapkan beban normal yang menghasilkan te anan sama engan fondasi telah dibangun).
tekanan overburden di tempat. (b) Kemudian, genangi contoh tanah dengan air dan biarkan
mengembang di bawah tekanan overburden rencana tersebut.


c:
~
-
-c:-
~ 0>
c:
CO ~
01 .0
c:
CO E
Cl>
~tl Pelepasan beban 0>
c:
Pembebanan
01 Cl>
c: c..
8. c:
c: ~

~
c: Pembasahan
0>
c:
al 0
2'
~
0>
Cl>
-------- ------------------ -------------
lr
0:::
Tegangan Tekanan
Tegangan . Tekanan
d1 tempat (a) pengembangan di tempat (cr) pengennbangan,cr.
(os)
Tegangan normal, cr (skala log)
Tegangan normal, o (skala log)

Gambar 2 40 H 1 SUOp1111 Gambar 2.41 Hasil ujt overburden pengembangan d"modifik


I ast (MSO) (Johnson dan
1976). asJ UJI pengembangan volume konstan (CVS) (Johnson dan Stroman. 1976).
134
135
. tambahkan beban contoh tanah
b gan se Iesa J' . 1 - dengan:
(c) Sesudah pengem an . h kembah ke vo ume aslinya
5ampat tana I' . b
berangsur-angsur ada volume as. 1 terse ut adalah
I ya) Tekanan P
(volume awa n g ditentukan. So = dera~at ke~enuhan sebelum pembasahan (dalam desimal)
tekanan pengembangan ya~erangsur-angs ur sampai tekanannya S = deraJat keJenuhan sesudah pembasahan (dalam desimal)
(d) Lepaskan beban secara . at
kurang dan. tekanan overburden dt temp . Hanya sayangnya, memprediksi derajat kejenuhan yang akan
terjadi. di Iapangan sangat sulit, karena bergantung pada beberapa hal,
Johnson dan Stroman ( 1976) merekomendasikan uji M so sepert1:
n bila tekanan overburden dapat 1. Kecepatan dan lama waktu air merembes ke dalam tanah akibat
digunakan dalam P.erdanca~~~VS hila bel urn dapat diketahui dengan pembasahan dan rembesan keluar akibat penguapan.
diketahui dengan pastt, an UJI
2. Kecepatan air masuk ke tanah.
pasti t b 3.. Kondisi tanah berlapis-Japis.
Regangan yang diukur dalam pengujtan-pengujtan . erse ut
adalah regangan po ten S i pengembangan (Ew) untuk.. settap
. tegangan
norma1nya. PerIu dl.perhatikan bahwa pengujtan dtlakukan
, . .pada 2.1 0. 7 Estimasi potensi pengembangan dari uji laboratorium
tinjauan tegangan total (cr) bukan tegangan efektif (cr ). Jadt hastl~~a
harus digunakan dalam analisis tegangan . total, bukan. anahsts Analisis pengembangan dapat dilakukan dengan uji
tegangan efektif. Kerniringan kurva yang dtgambarkan dtny.a~kan pengembangan seperti MSO dan CVS, seperti yang telah dipelajari.
oleh koejis;en ekspansi, Ce (Coefficient of expansion), yang ntlamya Yaitu, dengan menguji contoh tanah asli (undisturbed) dari beberapa
bervariasi bergantung pada tegangannya. kedalaman di dalam zone aktif (zone yang dipengaruhi kembang-
susut) untuk meneliti sifat-sifat pengembangan pada zone ini.
Umumnya, kadar air tanah pada awal setiap pengujian sama dengan
2.1 0.6 Proses pembasahan kadar air di tempat. Jadi, uji Iaboratorium menggambarkan pengem-
bangan yang akan terjadi jika tanah lebih basah daripada kondisi di
Regangan pengembangan yang terj adi di Iapangan tidak selalu
tempatnya. Oleh karena itu, peneliti kadang-kadang mengeringlcan
sama dengan di Iaboratorium. Hal ini disebabkan tanah di lapangan
contoh tanah lebih dulu dengan kadar air yang lebih rendah dari
belum tentu jenuh sempuma. Rasio regangan aktual terhadap kondisi di tempat, untuk memodelkan tanah pada kondisi yang paling
regan.gan potensi pengembangan disebut koefisien pembasahan, a. tidak menguntungkan. Karena uji pengembangan dilakukan pada
(wettzng coeffinent). Jika tanah tetap pada kadar air di tempatnya, model yang terkekang arah lateral (cincin konsolidometer), maka
maka a = 0, ~a~ jika tanah menjadi jenuh a = 1. Chen (198S) kondisi pengembangan di lapangan telah diasumsikan terjadi hanya
menyaranka? ml~ a secara pendekatan dihitung secara proporsional pada arah vertikal. Model ini cocok untuk kondisi peunukaan tanah
dengan deraJat kejenuhan, yaitu:
datar, dan tidak begitu cocok bila pennukaan tanah miring at~u jika di
tempat terse but terdapat dinding penahan tanah. dt mana
a = s-s (J
pengembangan arah horisontaJ sangat menonjol oleh ak.ibat gerakan
1-S Q
(2.17) dinding (Coduto, 1994).
136
137
ah nkibat pengcanhangan
. . k taiknn runka tan dan perkcrasan jalan, disarankan kadar air akhir biasanya dalam
2.10.8 Annhss Cl 'mhangan dinyatakan olch kisaran 1,1 sampai 1,3 kali batas plastisnya (PL).
!tnah akibat peng~.:,;
Kenaikan t L
h .l'ilihan 2: Diasurnsikan tanah rnenjadi jenuh, tapi tekanan air
persatnaan: pori di atas muka air tanah asli tetap sarna dengan noL Asumsi
(2.18) ini biasanya dipakai pada rnasalah-masalah teknik fondasi dan
x
Ow = "rv//iE" i
'-"1
1nungkin cocok untuk 1nernecahkan masa]ah tanah ekspansif,
dengan: khususnya jika terdapat air tarnbahan dari irigasi atau drainase
. . , I 'lki bat peng0nlbangan pennukaan tanah yang jelek, di rnana rnungkin air masuk ke
(')\\' = kenukan tuna 1 ' . k . tanah.
' 1. . da laptsan c-1
(Xi= koeftsien pctnbasa 1,111 p,
1
c. JliJihan 3: l)iasurnsikan bahwa profit isapan akan berkembang
//1 = tchtl lapisan ke-i . k
'
c . - reoangan ~ . JCtH!l'tnbangan
potc nst 1 '" pada laptsan e-t scdernikian hingga tinggi energi hidrostatik negatif berkem-
"'"' - - c . . ,: bang. 11al ini, didasarkan pada isapan dalam tanah hilang
2
dengan kedalaman pada tekanan 62,4 lb/ft per ft kedalaman.
Cara analisisnya adalah Sl'bagai herikut (Coduto, 1994 ):
Baoilah zone akttf nlcngctnbang di ba':a.h fondasi atau ba~gunan
yat~g !IJ~Is, s~p~rtl p~da
Oerajat kejenuhan
I. lain kl' dalam laplSiln-lapisan caranya 100%
analisis p~nurunan . Tebal laplsan sebaJknya cukup tJ~I~ seku:,~ Kadar air
25 - 30 cn1, dan sctnakm bcrtatnbah tebal pada laptsan leb
dalan1. Dasar dari lapisan tcrbawah harus bcrimpit dengan dasar
zone aktif. . L:
ro
c:

2. Hitung tcgangan \'Ct1ikal total (crv), pada ttap-hap pusat laptsan ~
c:
CV
Tegangan ini tnetnperhttungkan berat scndiri tanah dan beban CV
.lC
,:,
E 11nggi energi
beban luar yang hckcrJa (bcban fondasi). . .... hidrostatrk nega1if
8.
3. Dengan n1enggunakan hasil uji pcngctnbangan di laboratonum. .s::
ro
~
l11tung
. rcgangan potcnst. pcngetnbangan (E\") pada ttap-
. tap
t pusal

CV
.c Awal
lapisan. -"0
c:

4. Tentukan profit awal dcrajat kcjcnuhan tcrhadap kedalatnan. Ha~ ~


-
ro
CV
ini biasanya didasarkan pada hasil pcn1criksaan kadar air dan -g Penjenuhan
~
contoh tanah yang dipcrolch dari pcngcboran.
5. Estim~sikan pr?fil akhir dcrajat kc]cnuhan tcrhadap kedataman
Sepenl telah dJscbutkan, profit ini sulit diprcdiksi. Tcknik untu~
31
mem?? profil tcrmasuk hal-hal scbagai bcrikut (Coduto. 1994):
a. P1hhan 1 Dig k . . . pads
una an estunas1 etnpiris dtdasarkan ..
pengamatan proyek . . . . nehtta0
. . .
kondtst yang te1a11 d1kcrJakan. l)ari hast 1 pe Gambar 2.42 Profil kadar air akhir.
keseunbang k d . b guonn
, an a ar atr pada area tertutup an
138
139
. . d r"J.
stk'Hl c u at S J00% pad a permukaan =
d. Pilihan 4: Dtasu~ ' ada derajat kcjenuhan alam pada dasar
20

tanah, dan berkur,lng P ~


~
cu
dari zone aktif. . k .,.ctra grafts pada Gatnbar 2.42. ro
en
.. d 3 d'perhhat
1 -an se ' . . c:
Pthhan 2 an k setiap lapisan dan JUtnlahkan dengan ~
6 Hitung kenaikan tanah untu . . E
OJ
10
menggunakan Persantaan (2.18) Cl
c:
IV
0"

~ '
Colltoh soa/2.4:
. 1 lm pada kedalatnan 0,5 m. Beban fondasi
Fondast ukuran n1 x . . 0 kN/ 2 ... j 10 :50 100 ICX
.b k b
me ngak1 at an c ban terbagi rata dt dasar fondast
_ , .14 m (tckan).
. Tcgangan vertikal total (kPa)
Tanah di bawah fondasi bcrupa letnpung eksp,tnstf dengan ~eraJat
kejenuhan saat dilakukan pengujian S = : 25%. Ta~1ah tnempunyat berat Gambar C2.2b.
volume 17 kNlin3, dengan kedalatnan zone akttf pengembangan 3,5
rn. Hasil uji pcngetnbangan di lab~rat.oriu~n diperlihat~an dalam
Gantbar C2.2b. Bila dari hitungan dtstnbust tegangan akibat beban PetZyelesaian:
fondasi pada kedalaman tertentu, diperlihatkan dalatn Tabel C2.1, Dianggap derajat kejenuhan sesudah pembasahan bervariasi dari
tentukan kenaikan permukaan tanah akibat pengembangan. 100% di pennukaan tanah dan S = 25% di dasar zone aktif. Telah
diketahui kedalan1an dasar fondasi 0,50 m, sehingga hitungan
Tabel C2.1 Distribusi tekanan akibat beban fondast kenaikan tegangan dimulai dari kedalaman tersebut (Tabel C2.2a dan
Kedalaman dari muka lanah (m) 0,625 0,875 1.25 1,75 2,5 2.2b). Dalam soal inL hitungan distribusi tegangan akibat beban
~O'v (kN/m2) 140 130 71 40 19 fondasi sudah diketahui. Apabila belum diketahui. maka harus
dihitung lebih dulu dengan menggunakan teori Boussinesq yang dapat
dipelajari dalam Buku Mekanika Tanah Il (Hary Christady
. . .
. ~ ...,,
- --
~., .... ,.,~- ...... '1 . , ............ .
- __ .! __ - ' :._ ~- r
Hardiyatmo).
0,50 m
----~q~=~1~~~k~Pa~--~------
- Tabel C2.2a.
--------------- ----------- -------------------- 2 @ 0,25 m
----------- ------ ------- ... Kcdalaman (m) 111 (cm)
Di pusat masing-masing lapisan
z1 (m) O'v flO'v Ov(lotal)
---------- ------------
--------- --------------- 2@ 0,50 m (kN/m )
2
(kNim 2) (kN/m2)
-- ..... ------- ------ ...
Lempung ekspa~sif: - - - - - - -- o.so- 0.75 25 0,12 II 140 151
145
s = 25%; Y= 17 kNim3 0,75 - 1,00 25 0.32 15 130
1,0 m 92
----- ----- --- --- ... ___ _ 1.00- 1.50 50 0.75 21 71
70
---- -- 1.50-2,00 50 I,25
2.00
30
42
40
19 61
2.00-300 100
Gambar C2.2a.


140

s: dasi ke kedalaman yang ditinjau


. k t a dasar on
dengan zr = Jara an ar

Tabel C2.2b.
Pada masing-masing Japisan
Kedalaman Hi (cm)
-
wi (%) So(%) s (%) a Ow1 (cm) - BAB Ill
(m)
0,87
... AIR TANAH, PERMEABILITAS, DAN
25 90 0,43
25 2,0
0,50 - 0,75 25 80 0,73 0,38 REMBESAN
25 2,1

0.75- I,00 25 70 0,60 0,90
1,00- 1.50 50 3.0
25 50 0,33 0,58
1,50 -2,00 50 3,5
25 30 0,07 0,27
3.8
2,00-300 100
- 3.1 AIR TANAH
Kcnaikan muka tanah total. LSwi =2,6 cm ~

Air tanah. didefinisikan sebagai air yang terdapat di bawah


Nilai a. dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.17) dan ()~ pennukaan burru. Salah satu sumber utamanya adalah air hujan yang
dengan Persamaan (2.18) meresap ke bawah lewat ruang pori di antara butiran tanah. Air sangat
Jadi kenaikan tanah total, 8w =2,6 cm. berpengaruh pada sifat-sifat teknis tanah, khususnya tanah berbutir
halus. Demikian juga, air merupakan faktor yang sangat penting
dalam masalah-masalah teknis yang berhubungan dengan tanah
seperti: penurunan, stabilitas fondasi, stabilitas lereng, dan Iain-

lainnya.
Terdapat tiga zone penting pada lapisan tanah yang dekat
dengan pennukaan bumi, yaitu: zone jenuh air, zone kapiler, zone
jenuh sebagian. Pada zone jenuh atau zone di bawah muka air tanah,
air mengisi seluruh rongga-rongga tanah. Pada zone ini tanah
dianggap dalam keadaan jenuh sempurna. Batas atas dari zone jenuh
adalah perrnukaan air tanah atau pennukaan freatis. Karena itu, air
yang berada di dalam zone ini disebut air tanah atau air freatis. Pada
pennukaan air tanah, tekanan hidrostatis nol.
Zone kapiler terletak di atas zone jenuh. Ketebalan zone ini
tergantung dari macam tanah. Akibat tekanan kapiler, air mengalami
isapan atau tekanan negatif. Zone tak jenuh yang berkedudukan paling
atas, adalah zone di dekat permukaan tanah, dimana air dipengaruhi
oleh penguapan akibat sinar matahari dan akar tumbuh-tumbuhan .

142
143

3 11 Tckanan kapile.r . Patm


. . . . at tinlbul karena adanya tankan lapisan
Tekanan kaptler ?ap K .adian ini disebabkan oleh adan
T -z
. . d.
trpts 1 pen nukaan atr. eJ b b d 'f
. . material yang er e a SI atnya Pad Ya T

. . dua Jents a
perten1uan antara k . discbabkan perbedaan gaya tarik anta
. t k.an pennu aan ra
pnnstpnya, an da bidang singgung pertetnuan dua ma~erial Yan
n1olek.ul-n1.olekul paK . d' an tarikan permukaan dapat d1lihat da~ --- ---or---~
1
berbeda stfatnya.. . eJa pada pipa kaptler d' 1 k
yang tee up an dalarn
percobaan laboratonum . . r Pa1m
-
. b . Ket111ggian a1r dalam ptpa kaptler akan lebth tmggi
beJana enst atr.
. d 1 agi air daia1n bejana (Gambar 3.1a ). Pennukaan air
dar1pa a tnb d' d' .
dalan1 cairan membentuk sudut a. terhadap tn tng ptpa kapiler.
Tekanan pada permukaan air dalam pipa dan tekanan pad~ permukaan
air pada bejana akan sama dengan tekana.n atmosfer. T1dak adanya
gaya Iuar yang mencegah air dalam ptpa dalam kedudukannya +
menunjukkan bahwa suatu gaya tarik bekerja pada lapisan tipis d; (b)


permukaan air dalam pipa kapiler.
Bila he = tinggi air dalam pipa kapiler, r = radius pipa, Yvr = muka tanah

. ...... . . .. . . . ... .. .., . . . . '




berat volume air dan tekanan atmosfer diambil sebagai bidang .. ; ., r
. . . .-. .
.,"! ' .:.. .:....... : ., t
,t,_.
,1;
. . ...'
...
.. . ..... .. .. .....
' , e J,,.
..-~ :,.
~ ...&.r ~~.Ao.
. .......... ~ ~ ... ~

referensi (yaitu tekanan udara sama dengan nol), maka dapat dibentu~





.. ~ ,.: .. : ZCJrMI . . ~.h
persamaan gaya vertikal pada puncak kolom air sebagai berikut: .. . ... .. ~. .:,.,;__/ .. ,.,~.
......



T 2n r cos a + unr
2
=0 (3.1)

. I
' '\
~mM)





'ZIOf""....

.,. jerU\

.. .....;..."'.:..muka
#


. lllr Wlah ..

Dari persamaan tersebut tekanan air kapiler .. #


I

(d) '\
-2T cos a
u=--- (3.2)

r Gambar 3.1 Analogi tekanan air kapiler dalam lapisan tanah dan kedudu.kannya

~eferti y.ang telah diterangkan, u adalah negatif yang berarti air di


a ka~ ptpa pada kedudukan tertarik atau terisap. Nilai tekanan he = 2T cos a (3.3)
ma s1mum sebesar . . 'Ywr
3.1c. Persamaan tingg ,. h ~lam bejana dapat dilihat pada Gamba. Dari Persamaan (3.2) dan (3.3) dapat dilihat bahwa u dan he
I au dJ dal . . b t'tusl
u = -y h k d 1 c am ptpa dtperoleh dengan su s 1 bertambah jika radius pipa (r) berkurang.
w c e a am Persamaan (3.2):
144
145

. h Tekanan Kapilcr . 3.2 PERMEABILIT AS


3.1.2 Peogaru . . tanah tertank ke atas tnelebih'
k ptler atr . 1
Akibat tekanan a. . . h sebenamya bukan ststem pipa Penneabllitas
. . didefinisikan sebagai s fat
1 bah be
an rpon yang
h Pon-pon tana I . .
Permukaan . air tana
. k .Ier dapat I er
d't apkan guna tnempe aJan ke.lakuan
. . .d .
m~mungktnkan ~ltran rembesan dari cairan yang berupa air atau
kapiler~ tapt teon apt . A'11. d lanl zone kaptler tni apat dtanggap mtnyak mengahr .lewat rongga pori. Pori-pori tanah sating
k ptler a b
air tanah pada zone a
'f 'tu

tnetnpu
nyai tekanan dt awah tekanan berhub~ngan. a~~ara satu d~nga~ yang lainnya. sehingga air dapat
bertekanan negatl yat meng~hr dan tttt~ dengan t1nggt energi tinggi ke titik dengan tinggi
attnosfer. . t Iapisan tanah, dapat dilihat pada energ1 yang Iebth rendah. Untuk tanah. penneabilitas dilukiskan
k 'lantas sua u . sebagai sifat tanah yang mengalirkan air melalui rongga pori tanah.
Dtagranl .apt. d'pengaruhi oleh ukuran makstmum pori-
1 1
Di dalam tanah, sifat aliran mungkin laminer atau turbulen.
Gambar 3.ld. Tmggl lc(nun) t ra h dan h c(mak) tanah dapat bersifat
ori tnnah Di dalam batas an a c(mm)
Tahanan terhadap aliran bergantung pada jenis tanah~ ukllran butiran,
P ' . . ll aturated). Terzaght dan Peck ( 1948)
. h sebaatan (partra v s . bentuk butiran, rapat massa, serta bentuk geometri rongga pori.
Jenu t: h b an "pendekatan antara lzc(mJk) dan dtameter
menyarankan u ung Temperatur juga sangat mempengaruhi tahanan aliran (kekentalan dan
butiran, sebagai berikut: tegangan pennukaan). Walaupun secara teoritis. semua jenis tanah
c (3.4) lebih atau kurang mempunyai rongga pori~ dalam praktek, istilah
he= (rrun)
eD10 mudah meloloskan air (penneable) dimaksudkan untuk tanah yang
memang benar-benar mempunyai sifat meloloskan air. Sebaliknya,

dengan c adalah konstanta yang bergantung pa~a bentuk butiran dan tanah disebut kedap air (impemzeable), bila tanah tersebut mempunyai
sudut kontak (C bervariasi diantara 10 - 50 mm-), sedang Dto adalah kemampuan meloloskan air yang sangat kecil.
diameter efektif yang dinyatakan dalam rnilimeter. Hansbo ( 1975~
menyarankan tinggi air kapiler untuk berbagai macam tanah seperti
yang ditunjuk.kan dalam Tabel 3.1. 3.2.1 Garis Aliran

Aliran air lewat suatu kolom tanah diperlihatkan dalam


Tabel 3.1 Ketinggian air kapiler (Hansbo 1975)
Gambar 3.2a. Masing-masing partikel air bergerak dari ketinggian A
Macam Tanah Kond1s1 longgar Kondis1 padat ke ketinggian B yang lebih rendah. mengikuti lintasan y~g berkel~k~
kelok (ruang pori) di antara butiran padatnya. Kecepatan_ atr bervana~t
Pasir kasar 0,03-0,12 m 0,04-0,15 m
Pas1r sedang dari titik ke titik tergantung dari ukuran dan konfiguras1 rongga pon.
0,12-0,50 m 0,35-1,10 m
Pasir halus Akan tetapi, dalam praktek, tanah dianggap seb~g~i satu kesatuan dan
0.30-2,00 m 0,40- 3,50 m
Lanau tiap partikel air dianggap bergerak melewatt hntasan lurus yang
1,50- 10,0 m 2.50- 12,0 m
Lcmpung disebut garis aliran (Gambar 3.2b).
> tOm

Pengaruh. tekanan kapiler pada tanah adalah menambah


tegangan efektif. Jika tekanan kapiler b k tegangan
kontak di ant 'k . me m esar' ma a h
terhada , a ara partJ el Juga membesar. Akibatnya, ketahanan tana
p g ya geser atau kuat geser tanah . d' b b h
menJ a 1 ertam a .

J46
.. 147

A (tn) dan Yw adalah berat volume air (t/m3 kN/ 3 . .


biasanya diukur terhadap tek ' . m ).. Tekanan au pon
anan atmosfer re1atJf K
dengan tekanan atmosfer nol didefinisika b . etanggtan a~r
. ,1 , . . . ' . n se, aga1 permukaan atr
t,1na 1 atau permukaan freatts. Kondasi artes d .. .
. ts apat terJadaJlka lapisan
tanah rnrnng yang berpermeahilitas
t'1ngg1 d'
1apH o e
1h
dua 1ap1s
tanah yang bcrpermeabilitas rendah. an
Tckanan ~idrostatis bergantung pada kedalaman suatu titik di
bawah
., rnuka
_~ a1r . tanah. Untuk
. Inengetahu besa t k
1
r e anan au pon,
8 /(: orenta Bernoullt dapat diterapkan Menu rut Bern 11'
B . .. . ou 1, tznggz energ1
total (total head) pada suatu ttt'tk A dapat dinyatakan oleh persamaan:
(a) Alrwt seblolmva p v2
h= + +z (3.7)
Yw 2g
Gambar 3.2 Aliran air tanah.
dcngan:

h - tJnggi energi total (total head)(m)
3.2.2 Aliran Air dalam Tanah
plyw --

t1nggi energi tekanan (pressure head) (m)
2
Aliran air arah horisontal yang melewati tabung berisi tanah p -- tekanan air (tlm kN/m )
,
2

dilukiskan dalam Gantbar 3.3. Tinggi energi total (total head) adalah vi2g - tinggi energi kecepatan (velocity head)(m)
tinggi energi elevasi atau elevation head (z) ditambah tinggi energi V -- kecepatan air (m/det)
-- 3 3
tekanan atau pressure head (h)(yaitu ketinggian kolom air hA atau hs Yw berat volume air (t/m kN/m )

2
di dalam p.ipa diukur dalam milimeter atau meter di atas titiknya). g -- percepatan gravitasi(m/dt )
Untuk aliran air di dalam tanah, tinggi energi kecepatan (velocity z -- tinggi energi elevasi (m)
h~ad) .diabaikan karen~ nilainya sangat kecil. Ketinggian air di dalam
I

p~pa ptez~~eter menunJukkan tekanan air pada titik tersebut. Tekanan Karena kecepatan rembesan di dalam tanah sangat kecil, maka
au pada t1t1k tertentu dapat dinyatakan oleh persamaan umum: tinggi energi kecepatan dalam suku persamaan Bemoulli dapat
diabaikan. Sehingga persamaan tinggi energi total menjadi,
P = Ywh {3.5)
h= P +z (3.8)
.t.k't' J?eknAgdan demikian tinggi energi tekanan (pressure head) pada Yw
t J - 1t1 an B adalah:
Untuk menghitung debit rembesan lewat tanah pada kondisi
lzA = PA dan ha== Pn tertentu. ditinjau kondisi tanah seperti dalam Gambar 3.3. Luas
Yw Yw (3.6)
potongan melintang tanah sebesar A, dengan debit rembesan q.
dengan p adalah tekanan (tlm2 kN 2
' /m ), h adalah tinggi energi tekanan

148 149

elevasi (z) diambil positif bila titik yang ditinjau terletak di atas
bidang referensi (datum)(seperti pada Gambar 3.3), dan negatif bila
___.J.--- - - - ---r-- di bawahnya. Jarak vertikal antara elevasi piezometer di A dan B,
disebut tinggi energi hidrolik (hyd~aulic lzead), yaitu !1h.
Jika kecepatan aliran air da.lam tanah nol, semua ketinggian air



dalan1 pipa piezometer akan menunjukkan elevasi yang sama dan

berimpit dengan pennukaan horisontal air tanah. Bila terdapat aliran

.-.. ..s---;


A . . . ...
air tanah, ketinggian air da'lam pipa piezometer akan berkurang

tanah
8 dengan jarak alirannya .



--
---+--


,z,.
Hukunt Darcy

Darcy ( 1956). mengusulkan hubungan antara kecepatan dan


gradien hidrolik sebagai berikut :
bidang referensJ
V = kf (3.12)
dengan:
Gambar 3.3 Ahran rembesan dalarn tanah. v

=
kecepatan air (cm/det)
l = gradien hidrolik
Dari persatnaan Bemoulli. kehilangan tinggi energi antara dua titik A k = koefisien pet rneabilitas (cm/det)
dan B (tlh ) dinyatakan oleh persan1aan:
Debit rembesan (q) dinyatakan dalam persamaan:
",
Ull =
PA . Pa . _
-t -;.A - i .. B (3.9) q = kiA (3.13)
Yw Y"
dengan A = luas penampang pengaliran. Koefisien peuneabilitas (k)
Persamaan (3.9) dapat dituliskan sebagai berikut : mempunya1. satuan yang sama dengan satuan kecepatan cm/det . atau
.
tJz = (/zA +:A) -(ha+ :a) mm/det~ yaitu menunjuk.kan ukuran tahanan tanah terhadap ahran atr.
(3.10)
B ila pengaruh sifat -sifat air dimasukkan. maka:
dengan lzA dan ha berturut-turut adalah tinggi energi tekanan pad a titik
A dan B. Gradien lzidrolik (hydraulic gradient) (i), didefinisikan (3.14)
sebagai:

. 6./z dengan:
.,;;;;
1= -
.L (3.11) K =koefisien absolut 2
(cm ). tergantung dari sifat butiran
tanah
dengan L adalah jarak antara potongan A dan B. Nilai tinggi energi 3
Pw = rapat masssa air (g/cm )
I
154 155
m
3.2.3 Uji pern1eabilitas di Laboratonu
iian untuk menentukan koefisien per.. q

Ada empat macam penguJ n:eluap

meabilitas di laboratorium, yaitu :


(a) Uji tinggi energi tetap (constant-head).
" ------

(b) Uji tinggi energi turun ifalling-head). .. . .


... . k1 dari U'l konsohdasL
(c) Penentuan secara ttda angsung . ~. . .
(d) Penentuan secara tidak langsung dan UJI kaptler honsontal.

3.2.3.1 Uji Permeabilitas dengan Tinggi Energi Tetap (Constant- .. .. ....


.. . . .. .
'



head)


h
Pengujian ini cocok untuk jenis tanah granular. Prinsip : :..i ..:

pengujian dapat dilihat dalam Gambar 3.5. Tanah benda uji L .


: . .. ,
.

diletakkan di dalam silinder. Pada gambar tersebut tinggi energi hilang .. 9 ...
.. B

.
~ tuas A


adalah h. Aliran air lewat tanah diatur. Banyaknya air yang keluar





ditampung di dalam gelas ukuran. Waktu pengumpulan air dicatat. . . .


'



Data pengamatan yang diperoleh, kemudian disubstitusikan ke dalam


persamaan Darcy:
Q = qt =kiAt I
1
dengan A adalah penampang benda uji dan Q adalah volume air dalam
gel~s ukuran. K~ena i = h/L, dengan L adalah panjang benda uji atau
I
p~nJang pengahran, maka Q = k(h/L)At. Dari persamaan ini, Gambar 3.5 Pnnsip uji permeabilitas constant-head.
dtperoleh:

k= QL penneabilitas constant-head. Tinggi tekanan konstan sebesar 75 cm


hAt
(3.22a) dikontrol sama selama pengujian. Sesudah 1 menit pengujian berjalan,
air yang tumpah pada gelas ukuran ditimbang, beratnya 940 gram.
Suku persamaan di. sebelah kanan dtperoleh
. dari hasil pengujian. Temperatur pada waktu pengujian 20 C. Hitung koefisien
Dengan .l. substttust masing-mastng . nilainya, mak koefisien penneabilitas tanah ini.
perrneab1 Jtas (k) dapat diperoleh. a

Contoh soal 3.1: Penyelesaian :


2 2 l .
Tanah benda uji berbentuk sr
1 d
Luas tampang benda uji =lAx 7t x 7,3 = 41,9 cm . Berat vo ume atr
panjang 16,8 cm. Akan dite tmk er mempunyai diameter 7,3 cm dan == 1 g/cm3 Dari persamaan koefisien penneabilitas diperoleh :
n u an permeabilitasnya dengan alat uji
!58 159
L _ 17 cm; h1 = 150 cm; h2 = 70 cm; 1 ::
2
a = 6 cm ; A = 10,73 cm ~f -lukan untuk turun dari h 1 ke h2).
2

100 detik (waktu yang . tperk efisien permeabilitas tanah ini.


0
Temperatur air = 20o C. Httung


Penyelesaiiln :
.. .. . .. .. .
'
llltngM ,.._,._ tanah 1
aL h1
k = 2,303X
At
log I :.~ ;.:. 0 ~
... ..
+.- dengan te~~
t2
. ... T

.
L

tinggi ener;l
6xl7 150 072 m/d t hlang - ht
= 2 303 x log == 0, c e Scm
' I0,73xl00 70
1Jnggt energl
hUang total =- h
1 Unggl
hifq- h:a
Contoh soal 3.3 :
Pada uji penneabilitasfalling-head diperoleh data sebagai berikut: A=

20 cm2; a = 2 cm2 (Gambar C3.1). Sebelum contoh tanah diletakkan


Gambar C3.1.
dalam tabung, tahanan saringan (atau tanah 1) alat tersebut diuji lebih
dulu. Hasilnya, waktu yang dibutuhkan untuk penurunan air di pipa
bagian atas dari 100 cm menjadi 15 cm adalah 5 detik. Kemudian,
(1)
contoh tanah 2 dengan tebal 5 cm dimasukkan ke dalam alatnya (di
bawah saringan/tanah 1). Waktu yang dibutuhkan untuk penurunan
yang sama adalah 2,5 menit. Hitunglah koefisien permeabilitas h2
Untuk tanah 2, persamaan kecepatan air: v., = k.,-
tanah 2 ini. - - [.,-
(2)
Peyelesaian: v2 k2

Dianggap hahwa air mengalir vertikal ke bawah, melewati dua lapis Kecepatan air rata-rata dalam contoh tanah:
tanah den?an lua~ penampang tabung yang sama, maka kecepatan
pada ~astng-mas~n.g tanah juga sama. Akan dihitung lebih dulu
koefisten penneabthtas ekivalen arah 't k
Berdasarkan Hukurn Darcy : v == ki z, ya1 u z
atau

Untuk tanah 1, persamaan ke . h L (3)


cepatan atr: -=-
160 16 J

. an (1) dan (2): 11


= 26,35
Dengan memperhatikan persama
kl
(4)
Untuk aliran lewat dua Japisan tanah ' t -_ 2,5 mentt. = 150 detik
~ 2 L 100
Karena debit rembesan tewat dua lapisan tanah sama (pada luas kz 2,303 x Jo (cm/det)
' 20 150 15
penampang pengaliran A yang sama), maka:
atau
q =VI A= V2 A
Sehingga, VJ = " 2 =V:: Jadi, Persanlaan(4) menjadi: L = 790,53
k ._

l (h i +h , )= II + lz Dari Persamaan (5),

Vz - kl k 2
L 11 12
- = + __..;:._
kz kl k2
I

5
790,53 = 26,35 + -
Dengan memperhatikan Persamaan (3), maka k2

L lt 12 3
- = +- Jadi, k2 = 6,5 x 10- crnldet
kz kl k2 (5)
3.2.3.3 Penentuan Koefisien Permeabilitas dari Uji Konsolidasi
(6) 6 9
Koefisien penneabilitas tanah .le.mpung dari 10- sampai 10-
cm/det dapat ditentukan dalam sebuahfalling head penneanzeter yang
direncanakan khusus dari percobaan konsolidasi. Pada alat ini. luas
Persam~~n (6) n:erupakan persamaan untuk menghitung koefisien
benda uji dibuat besar. Untuk menghindari penggunaan pipa yang
penneab~l~tas ekivalen, dari 2 lapisan tanah yang berbeda
penneabh_tas dalam arah vertikalnya. tinggi, tinggi tekanan dapat dibuat dengan jalan pemberian tekanan
udara. Skema alat ini ditunjukkan dalam Gambar 3.7.
Dan persamaan koefisien permeabilitas untukfalling head:
Penentuan koefisien penneabilitas diperoleh dari persamaan
k = 2,303 aL Io h1 konsolidasi sebagai berikut :
At h2
(3.23)
Untuk aliran hanya lewat ta h 1
na (pengukuran tahanan saringan):
k, = 2,303 2x!1 lo 100 dengan :
20x5 IS
162 1.63

Substitusi dari Persamaan (3.23) sampai (3.25), menghasiJkan


buret
/ k = Tv y !l.eH 2
w

t!l.cr(l+e) (3.26)

penyangga Untuk 50 % konsolidasi, Tv = 0, 198, maka dapat diperoleh persamaan


koefisien permeabilitas:
plringan tembus air
0, 198y w !l.eH 2

k=----- (3.27)
peluapan t so !l.cr (1 + e)
. cOritoh tariah .
clncln tempat
contoh tanah
Contoh soal 3.4:
ngan tembus air
Benda uji setebal 2,74 cm diletakkan di antara batu tembus air pada
alat konsolidometer. Pada pengujian dihasilkan derajat penurunan
Gambar 3.7 Uji permcabihtas dcngan alat konsolidasi. konsolidasi 50% (t50 ) tercapai dalam 12 menit. Hitung koefisien
konsolidasi dari benda uji. Dianggap bahwa benda uji pada tekanan .P1
2
= 1,473 kg/cm mempunyai angka pori e1 = 0,585. Pada akhir
Cv =koefisien konsolidasi 2
pengujian dengan tekanan p 2 = 2,946 kg/cm , angka pori ez = 0,499.
t = waktu pengaliran
T\' = faktor waktu
H = panjang rata-rata lintasan drainase
Penyelesaian:
Pada pengujian ini, rata-rata nilai e = Y2 (0,585 + 0,499) = 0,542
Kocfisien perubahan volume, dinyatakan oleh persamaan:
!l.e = 0,585- 0,499 = 0 ,0000584 cm 2 /g
mv = !:le (3.24) ~(J 2946-1473
1lcr(l +e)
t50 = 12 menit = 720 detik
dengan:
Koefisien penneabilitas selama pengujian:
e = perubahan angka pori pada perubahan tekanan tertentu
~ 8
. ~cr = tambahan tekanan yang diterapkan k = 0,198 X 1(0,584 X 10 ?
) (2.74/2)- = 1,95 X 10- cm/det.
Koefisten konsolidasi , dinyatakan oleh persanaaan: (1 + 0,542) X 720
k
C,=--- (3.25) Karena kondisi drainase air dari contoh benda uji adalah drainase ke
arah atas dan bawah, maka H = 2,74/2 =1,37 cm.
dengan Yw = berat volume air
r
167

wakm(t)
.., ___
6(1') _
L
.,.,.. .
I I .. I I 'J
61

(% = lll), b1b1p liP A daD B.


111 -i
AmiJil
air x=L.
uji cl&

I I ~ !

(33-lb) ~3.11

dlhkiri c.to6 stllll3.S :


t. I>aJam
OtJ claa tib, .
168

Untuk tanah jcnnh airS= , 1


ty
(I)
( 102- i)l Hl = 2k (5 + h,)/(0,42 X 1)
dlpomps dengln debit q

Keadaan 2:
(202- 122)/12 = 2k (50+ hc)/(0,42 X J) (2)

Dari Pcrsnnuuut (I) dan (2). dapat dipcrolch :

hc=3 1,8cnl dan k = 0.054 ctn/det.


---- -
- mutta aJr tanah
- - - -..::::.--r --
dy
3.2.4 Uji Pt.'nncabilitas di Lapangan d.--
1
H
3.2.4.1 Uji l'err11eahilitas dengan Me11ggunakan Sulllllr Uji I
I
IY
Cara pen10111paan air dari sun1ur uji dapat dipakai untuk I

n1encntukan koefisicn penneabilitas (k) di lapangan. Dalan1 cara ini, -- .-


-
-~-
I -
h I

sebuah sun1ur digali dan airnya dip01npa dcngan debit air lertentu
secara kontinu (Gantbar 3..11 ). Bcrgantung pad a si fat tanah, 'o
pengujian dapat bcrlangsung sampai bcbcrapa hari\ sa1npai pcnurunan R R
pennukaan air tanah akibat pcn1ompaan rncnunjukkan kcdudukan
yang tetap. Pcrmukaan penurunan yang telah stabil, yaitu garis
Gambar 3.11 Uji pcrmeabilitas dcngan sumur uji.
penurunan muka air tanah yang terendah. diatnati dari bcberapa sumur
pengarnat yang digali di sekitar sumur pcnguj ian terse but. Penurunan
tnuka air terendah terdapat pada surnur uji. q = vA = kiA =k (dyld.x) A 3
(rn /det)
. , Unt~~ menghitung kocfisien pcrn1cabilitas (k), diperlukan
palm~ sedtktt dua sumur pcngamat. Penurunan pcnnukaan air di suatu dengan:
Joka.s~, ber~urang dengan bertambahnya jarak dari surnur uji. Bentuk V - kecepatan aliran (m/dct)
teontJS ~~ns P~ 110 ~unan bcrupa lingkaran dcngan pusat lingkaran pada - 2
A - luas aliran (n1 )
sumur UJl. Jan-Jan R dalam t,con h'd 1 ro l'k
1 a sutnuran dtsebut ri
JllrtJll I

- dyldx = gradicn hidrolik
pengaruh kerucut penurwum (radius of influence (if the depressioll dy -- ordinat kurva pcnurunan
cone).
dx - absis kurva pcnurunan
Aliran
. air ke dalam su .
mur mcrupakan alir1n gravitas1 una ' d' , na
rnu ka atr tanah n1engal t :>k ' ' d
. . . aJnt c <tnan atrnosfer. Debit pemotnpaan pa a Luas penampang pcngaliran A dapat dianggap ebagni cbuah
kon d 1s1 a1tran yang telah stab'l1 d' .
lllyatakan olch persatnaan Darcy: tabung vcrti kal dengan tinggi y dcngan jari-jari x. J adi.
170 171

A= 21t xy .
ru nan air adalah dyldx = z, maka (3.34b)
kurva penu
Bila ken_nn~gan . . dalam sun1ur:
persamaan debit atr yang rnasuk ke Jika penurunan muka air maksimum pad a deb'1t Q tertentu
adalah Smak, sedang Smak = H - h, maka akan diperoleh
q = k(dyldx) 2n .'J'
. d tegrasi diperoleh: _ 2,303q R
Dengan pe.nlisahan vanabel an tn , k- Jog-
n(2H- Smak )Smak 'n (3.35)

,2 q J_.:! d:r
vdv=~
f
)I ~ 2nk ,, X ~ari_ hasi_I pengamatan yang dilakukan oleh Sichardt (1930), R
dapat dtesttmast dengan menggunakan persamaan:
untuk y 1 =h. y2 = y dan XJ r - r
=ro. 2 - maka

R = 3000 S .V k ( m ) (3.36)
., ., q X (3.32)
,,.. -h- = In-
. nk ro dengan
Jika terdapat dua sumur pengamat sembarang, Y2 = h2, Y1 = h1 S = penurunan muka air maksimum (m)
dan x 1 =r1 dan x 1 =r2 maka diperoleh: k = koefisien penneabilitas tanah (rnldet).

2 q r. 2 Persamaan ini memberikan nilai R yang sangat hati-hati (aman).


lz 2 -h1 = nk ln-=-
r, Bila dalam praktek R tidak tersedia, nilai R dari Sichardt tersebut
dapat dipakai karena tidak menghasilkan kesalahan yang besar.
atau
Untuk penurunan muka air yang lebih besar. pada sumur-sumur
k= 2q :! ln2 = 2,~03q z log2 (3.33) tunggal, Weber (1928) memberikan persamaan untuk lingkaran
n(h2 - h, ) r, n(h:! - h1 ) r1 pengaruh (R), sebagai berikut :
Bila X] =ro dan X2 =R! dan untuk )'1 =h dan Y2 =H, maka R= c~{Hk(t) In} (m) (3.37a)

H ydy = q Rdx dengan:


h 2nk r0 X
k - koefisien peuneabilitas tanah (m/det)
c -- koefisien yang nilainya mendekati 3

H -- teballapisan air diukur dari lapisan kedap air (m)


t - waktu penurunan (detik) .
n -- porositas tanah n yang bervariasi dari 0.25 (pastr kasar)
(3.34a)
sampai 0,34 (pasir halus). Nilai rata-rata n = O.JO dapat
atau digunakan.

Kozeny juga mengusulkan persamaan:


174
175

Penyelesawn :
I aumur r>enQamtt
R =300SJk =3000X3X 0,005 r:: 636~4 m
(\
I

k=
2,303q
.,
lo !!_
r
! 1--l J-~r-----~
s ).~ lll3k - -----*J=,--- I
, 8.1:-;.:~-f-:.tf-fe:-==--..:}r"!~lS..,-=r-----:
1t(2/l - m.'lk IJ
-
kn(211 - Snc~ )Sm;.~.
I I t
'. .
I I ' fl

.... ,..
~
q= 2,3031,1g (R/r0 )
...

I
,

~~--~
I

. .

.
t--r....:..----
'

. , . ..,, . . ..,.. .' .
'

.
I
y

_ 0,005 X 1t X (2 X 6 .. 3)3 = (),05 m3 /del leplun loloe eJr

, . .
,

h .H r .
- 2,3031og (636,4/0, 1) '



'

I
.,
3
= 174,25 m I jam
' ,,
3.2.4.2 Uji PermeabiliJas pada Sumur Artesis
Pada pcngujiun ini, surnur dibangun menernhus Japisan tanah
yang rnudah meloloskan air, di rnana lapisan ini diapit olch dua <.mnhar 3. I 2 Uj i pcnncabili 1as pad a l)lJ mu r ,1rtcsis.
lapif)an tanah yang kcclap ~ir di scbclah alas hawahnya. Air yang
mengalir dipengaruhi olch tckanan artesis. Surnur dapat digali sampai Aliran air ke ~aunur dengan pipa bcrlubang yang Lcrtutup pada
mcnembus dasar, di tcngah, .rnaupun pada batas atas Japisan loJos air bagiau d:Jsarnya, akan berupa aJiran radiaJ:
(Gamhar 3.12).
q= q -:: k dy
V
J)ebit arah radial: A 2nxT rb:.

q = kA dy qtb.:
dx
(3.38) {Iy c: ,._,;,;,_ _
2nk'l'x
dcngan:
i "dy c:.
q -
J:J( dx
q - debit arah radial (rn3/dct) " 2nk.T ,,. x
A -
21tXT = Juas tcgak lurus arah aliran ( m2 ) .
11 - h = q
- ln -
R (3.39)
T c
teballapisan lolo~ air (rn) 2rrJ.T r0
dyldx = i = gradicn hidrolik.
k= q Jn R (3.40)
2nT( 11 - h) r 0
176
177
S akan diperoleh :
( .40), dengan H - h _.,
.t2.4.3 Uji Permeabililas dengan MIIIIIIIUI/u,n Lllbang Bor
I (3.4la)
Pnda waktu ini terdapat beberapa cara untuk uji permeabilitas di
7'11' s. Jnpangnn. misnlnya pengujian dengan menggunakan lubang bor
dua sumur pemeriksaan : (USBR. 1961 ). Cara pertnma. air diizinkan mengalir dengan tinggi
energi ynng tetap. ke dnlam ntnu ke luar dari lapisan yang dluji, lewat
ioa (I) 1'> (3.4lb) ujung dnri lubnng pipn bor. Skemn pengujian dnpat dilihat pada
)(o S
1- 2 Gambar 3.1.\. Ujung terbawnh lubnng bor harus lebih dnri 5d, diukur
dnri In pi sun ntas dun bawah. dengan d adalah diameter dalam lubang
hlllya ttrdapat satu sumur pemen'ksaan:
pipn. Kctinggian air di dalam lubang 'bor dipelihara konstan,
loa (I\ I ro> (3.41c) perbcdann tinggi antara uir di dalum pipa dan muka air tanah = h.
le 2,73T x (Smat - s,)
q konatan

nurunan muka air pada sumur UJ I
pe k
penunman mu a air pada sumur pemerksaan
"k 1
2
1 .. sumur pemen saan
penurunan muka air pada
z: Jari-jari pipa umur UJI h

"~ .
jarak dari sumur uji ke sumur pemenksaan


--
,., 3.9:
HituD& debit atiran ke dalam sumur dengan jari-:jari .o.l mY:
....____
:.,_..IUI
anesi bila
t
diketahui penurunan makstmum

m
amatan
3,0 m dan teballapisan lolos air = 6,0 m. Dan peng
blbwa jari-jari lingkaran pengaruh penurunan R 150
cliuji, diperoleh nilai k O,OOS m/det.
178 179


tuk memelihara ketingg~a~ air supaya
Debit q yang konstan un . ermeabilitas, dth1tung dengan
B koefisten P 1
konstan, diukur. esar dari percobaan ana ogt elektris
persamaan yang dkembangkan
1
muka air tanah
sebagai berikut: ---- -y--
- - - -
q (3.42)
k =__:=---
2,75dlz
ht
dengan: 0 < 1,5 m
d = diameter dalam pipa I I
I
h = beda tinggi air . . .
q = debit untuk memelihara tlnggt energt yang sama.
I
I
I
'
I
I
I
L>4d
I I
(b.L.! I
(a)

3.2.4.4 Uji Permeabilitas Menggunakan ~ubang Bor dengan Cara


Tinggi Energi Berubah-ubah (Vanable-head) +d + +d ;
Dalam pengujian dengan tinggi energi berubah-ubah (vari~ble
Gambar 3.14 Uj1 penneabtlitas dengan lubang bor, (a) dan (b) ~ariable head.
head), debit yang mengalir dari lapisan ke dalam lubang bor d1ukur
dengan mencatat waktu (t) pada ketinggian air relatif di dalam lubang
tanpa pipa), dimana L > 4d, di dalam lapisan. yang dian~?ap
yang diukur terhadap ketinggian muka air tanah, pada perubahan
berkedalaman tak terhingga (Gambar 3.14b). Koefisten penneabtlttas
tinggi dari ht ke h2. Hvorslev memberikan rumus untuk menentukan
dalam kondisi ini diberikan menurut persamaan:
permeabilitas dalam sejumlah lubang bor, dua contohnya diberikan
dalam persamaan di bawah ini.
(3.44)
Cara pertama, pipa bor dengan diameter dalam d, ditekan pada
jarak yang tidak terlalu dalam D (tak lebih dari 1,5 m) di bawah'muka

air pada lapisan yang dianggap mempunyai tebal tak terhingga


(Gambar 3.14a). Aliran yang terjadi, lewat Iubang di ujung pipa bor. 3.2.4.5 Uji Permeabilitas dengan Pengukuran Kecepatan Rembesan
Koefisien penneabilitas untuk kondisi ini diberikan menurut
persamaan: Koefisien penneabilitas tanah berbutir kasar, dap~t . dipe~ole~
be
dari pengujian kecepatan rem san d
1 lapangan

Cara 101 mehputJ
k A d B
k = Trd In ht
( 1 r) pada dua t1t1 , an
llt h2 (3.43) penggalian lubang tanpa ptpa tna -pz . . k B
(Gambar 3.15), dimana aliran rembesan berJalan dan A e .
. Cara
. kedua, . sebuah lubang bor d (
engan ptpa caszng ) yang
ddubang1 pada bag1an bawahnya sepanjang L (bisa dengan pipa atau
I
I I

),, = l )>rnt v hun li r


--.--..,A
r------ B J' = k fisi n k kt!nt l1n h.. lut
a = lu lS [ en llUp.lll pi( ~
----- t..,.._,. __ = n di n hi la lik
-------- - - mtJka 8 r...
h .. __ . .:=..:t-* .., .. . ".. tall&h
---+-'-+--------- 1
J tri-j tri hidr llik Rtt d. ri 1 ip,1 k 1 ikr din nt k
r~n rnt,tn :
11 )I h

l R _ lu.1~
11
- kt'lili n , b.t..,nh
. ~ t. , m I nt:uk\11 m k ~ p .\H\l\ t ml 's.m.
(~ambar 3.15 l lJl pcnn nhthl '~ \l n~nn l u~. ..

d . ' 'd l'k (i) ditentu"tn dari p rl e l.nut nut~a air tng
Jf3 lt ll .I ll I ) l ' . ) > d l l! .4
d Ull r
\

I \..., b 1 dil'\'\',i dt'l\ 11\l\ )nt ,\k_ :\J l !\ l\ l1 ),\t\,.1 I


tetap p~d n Ul-"'lng 01 ~ ::- k. I'
dimusukknn hnhnn w \1111. \\ .tktu pt't.ialnn tn hah.tn '" tnu~ dnt: A e ) J.ldi,. uruuk tlir,tn luninu. lir. n lt '' l ~ n1b. ntng p n. rnp.tn g
di ntut. Ke epntnn re tnbt'. an lihitun~ d.tri l nnj .ut~ i \JJ dtbllJ t dcn~nn l.lpHl dinyat.tk..tn tlh:'h 1 rs uun tn unnun:
,vnktu. t 1 njutn~\\ 1 H\'sitn~ t.ut.th l\npat htt'ntuk.an tal!nn pt'h.'l'b.mn
f'\

laborutoriun;. Nilai "lxfisicn 1t'rtne.tl ilitas llhitung d 'ngnn ...' I


per.. mnaun:
{ "lh... .,Hll li1 tn din 11. k.1n
k = s "" hngnn l l'r~ .1n mnn :
'
3.1.5 Hitungan Koefisien l,l'rtneuhilitns ""t'curu ll'ort'tis ... 0)
T lnh discbutknn b,1lnva nlh1ln ynnu nlt'Ht'tnbu~ hl} L 111 .. ',tn~ a l!uu kl'll V!lt l.ln , hul utu.. Hl nnt 1111 nmng pl ri d, p.tt di.1nggap
lebih halu dari kcrikil kmmr udalnh hunint'r. llubungnn ant 1ra p >ri .. ~ b.t ~.li ~.llu rnn . vn n
lo. cl k-ktl lk ()nnlbar ... 16). Pud ..l
l 'I
pori di dalan1 tanah. dapnt dihayungk.1n ~ 'bagai ~tj unllah pipn-pipn l't\rs~nnnnn {.\.4(J), ~,, d.11 ut iin f._ll~ knn ~l'b.t ...ni \h I l 1. 'I njutn 1
kapiler nng nlt!nlungkink 1n air l ;,.wut. ~1t'nurut llag 'll d,111 1\,ist'Utlll'.
~~~ak~ a aliran ~ir dalntn satu1n waktu (q y:11111 1'\\',ll pipt\ dcnpJltl lu.t ~) (r. njnn!!) ' ( lumt
~~~~_,.,;;-=

Jan-Jan R. dapat dany ltakun dt'ngan persmnunn: \ ~(. lilin~) I .mj.l np.) IU ..lS r nnuk:n.m
q y'A Ra
~ ... .4b) (.. ~la)
= (hu~ 1 ranuk t.m ) / (' Jumc. I n)
dengan:
182
183

i = M l!,L., = ST
~ D.L
L1 (3.53)
atau

l
S=-
T (3.54)
dengan Tadalah f1L1/AL. Persamaan kecepatan rembesan dalam tanah,
V~ V
Vs =- -=- T
n IlL n (3.55)
dengan v = kecepatan aJiran. Substitusi Persamaan (3.55) dan (3.54)
ke dalam Persamaan (3.52). akan diperoleh :
L 2
Yw zn
v. = ,
c.IJ. T(s.,r
Gambar 3.16 Aliran air di dalam tanah.
dengan Vs adalah kecepatan air Jewat rongga pori. Bila akan dihitung
Jika volume tanah total adalah V dan porositas = n, maka kecepatan air lewat Juas kotor dari penampang tanah :
volume pori Vv = n V. Dengan mengambil Sv = luas pennukaan per Ywn
3
.
V= l
satuan volume tanah, dari Persamaan (3.51a), (3.56)
Cs1J.(Sv)2 T 2

(3.5lb) Dalam Persamaan (3.56). Sv adalah luas pennukaan per satuan


volume tanah. Jika didefinisikan Ss sebagai luas pennukaan per satuan
Subsitusi Persamaan (3.51 b) ke dalam Persamaan (3.50) dengan volume tanah padat, maka
mengambil va = Vs (dengan Vs adalah kecepatan air nyata lewat rongga SsVs = Sv V (3.57)
pori), diperoleh
dengan Vs adalah volume padat tanah dalam volume V, yaitu
n2
Yw S -
V= -
s CsJ.L (Sv)2 (3.52) Vs = (1- n)V
maka,
Gradien hidrolik (i) yang digunakan dalam persamaan ini,

adalah gradien mikroskopis. Faktor S dalam Persamaan (3.52) adalah _ SvV _ SvV = Sv {3.58)
S s- -
gradien mikroskopis untuk aliran lewat tanah. Dari Gambar 3.16, i == Vs (l-n)V (1-n)
4h I~ dan S = Ah /MJ, maka
Kombinasi Persamaan (3.56) dan (3.58), diperoleh
184 185

3
k1 _ (e1) /(1 + e 1)
- 3
k2 (e 2 ) /(l+e2 ) (3.64)

3
dimana k1 dan k2 adalah koefisien permeabilitas tanab pada kondtst
e
an e2. 1
1 Yw e (3.59) d
- I
- CsCSs)2 T2 Jl l +e B~~erapa hubungan . yang lain dari persamaan koefisien
permeabthtas dan angka pon telah diusul kan, antara lain:
dengan e adalah angka pori. Persan1aan ini merupa~an hubungan
persama~n Kozeny (1927)-Cannan (1956). Karena v = kl, maka:
2
k ==-e-
1+ e (3.65)
(3.60)
(3.66)
Persamaan permeabilitas absolut dinyatakan oleh: Untuk pembanding ketepatan persamaan tersebut. beberapa
hasil pengamatan uji laboratorium constant-head! pada tanah pasir
11
K =k-- (3.61 ) seragam dari Madison ditunjukkan dalam Tabel3.5.
Yw
Tabel 3.5 Koefisten permeabilitas pasir seragam Madison, dari uji consran-head: D10
maka,
=0,2 mm
3
1 e
K= ., , - - (3.62) Nomor k:w e-'
C5(S5)-r- l +e pengUJlan (mm/det)
l+e

Persamaan Kozeny-Cannan baik untuk tanah berbutir kasar. 1 0.797 0.504 0.282 0.353 0.635
0.291 0.496
se~rt~ p~sir dan beberapa tanah lanau. Ketidakcocokan yang serius 2 0.704 0,394 0.205
0.367
3 0.606 0,303 0.139 0,229
teTjadJ blla persarnaan ini digunakan untuk tanah lempung. Untuk '

0.228 0.358 0.646


4 0.804 0,539
tanah granuler, faktor bentuk Cs mendekati 2 5 dan faktor belokan T 5 0.688 0.356 0.193 0.280 0.473
mendekati ...J 2. '
6 0.286 0,144 0-".)
J"'- 0.381
0.6 17 0-'...._, .)- 0.570
7 0,755 0,490 0.245
0,192 0.280 0.472
8 0,687 0.436
3.2.6 Hubungan Perrneabilitas dengan Angka Pori Tanah Pasir 0,125 0.214 0.339
9 0.582 0.275
"

Didasarkan pada Persamaan (3 60 ) k fi . eabilitas piri untuk


dapat didekati dengan persamaan: ' oe Is ten penn A. Hasen (1911). mengusulkan persaolaan em
e3
koefisien petmeabilitas,
k ==-- .., (3.67)
l +e (3.63) k = lOO(D wt . .
h k an dian1eter efekttf buur
atau dengan k dalam cm/detik dan D1o adala u ~r
186 187

0 3
.67 ) diper?le~ da:i hasil pengujian
tanah dalam cm. Persamaa. ( h bervanast clan 0, 1 ke 3 mm dan tinggi h berkurang dalam arah Vx dan vz.
Hasen. di mana ukuran e fektt f tan a k d
. luruh tanah yang urang an 5. Suatu elemen tanah jenuh dengan dimens1 dx. dy, dz berturut-
koefisien keseragaman u(c ) untuk se .. t
a Pengujtan yang ersen Ind' . turut dalam a~ah s~mbu x, y, dan z di mana aliran terjadi hanya pada
h 011 rata-ratany . bidang x, z, dtperhhatkan dalam Gambar 3.17. Komponen kecepatan
Koefisien l 00 adala at . d 41 sampat 146. Walaupun
koefisten an aliran air masuk elemen adalah vx dan Vz. Perubahan kecepatan
memperlihatkan vanast ' tapi memperlihatkan kesamaan
persamaan Hazen hanya pendekatan, aliran arah x = 8vxf8x dan z = ovzfoz. Volume air masuk ke elemen
dengan Persamaan (3.66). lk hubungan empiris untuk nilai k persatuan waktu dapat dinyatakan dengan persarnaan:
Casagrande juga mngusu an Vx dy dz + Vz dx dy
pada tanah pasir bersih:
, (3.68) dan volume air meninggalkan elemen persatuan waktu adalah :
k = 1,4 k o.s5 e-
.I.ttas pada e --085 8v 8v_
d engan ko.85 adala h koefisien penneab ' . (v + x dx) dydz +(v. + dz) dxdy
.. oz
I <;

x 8x
Jika elemen volume tetap dan air dianggap tidak mudah
Contoh soal3.1 0:
mampat, selisih antara volume air masuk dan keluar adalah nol,
. . pastr
Telah diketahui per rneabthtas pada a~.gka pori. (e). sama
. .. dengan persamaan di atas akan menjadi:
0,85 adalah 0.05 cm/det. Hitung penneabthtas pasu llll, Jika angka
porinya menjadi 0,45. z

Penyelesaian:
')

k 0.45 = 1,4 k o85 e-. ")


k 0,45 = 1,4 x 0,05 x 0,45-= 0,014 cm/det


dx

3.3 REMBESAN

Teori rembesan yang akan dipelajari disini didasarkan pa?a dz


analisis dua dimensi. Bila tanah dianggap homogen dan isotropts;
maka dalam bidang x-z hukum Darcy dapat dinyatakan sebagat
berikut:

v x =kix =- k oh
Ox (3.69) l_____~~~~----------~x
v =ki =-k oh Gambar 3.17 Rembesan di dalam tanah.
z z oz (3.70)
I

188
189

Ov, + Ovt =O (3.7!) - 80 =V =- k Blz


O.:r oz 5x z 8z (3.77a)

dalan1 dua
k
dimensi. Akan tetapt. Jl a '
olun1e elen1en beru a ~ persamaan o0 = v =- k oh
8z x 8x (3.77b)
kontinuitas menjadi :
Dapat diselesaikan dengan substitusi ke p
ov
~x +
ov = dxdvdz = -
8\' (3.72) . ersamaan (3.71) bahwa
f ungst tnt memenuht persamaan Laplace Defj 1 . -
o.;t o: ot . . h 'lk
0(x,z ) 1n1, meng as1 an:
-- . erensJa total dan fungsi

dengan 8VIot adalah perubahan volun1e persatuan waktu. 80 80


d0= dx+ dz
Ditinjau fungsi e (x,::). yang disebut fungsi potensial. 8x 8z
sedemikian hingga: '-' '-
=- Vz d..:t + Vx dz

8e = v .= - k oh (3.73) Jika fungsi 0 (x,z) diberikan suatu nilai konstan 0t, maka d0 = O, dan
Ox .\ ox
8z
- =
v_
oe = v_ =-k 8/z (3.74) 8x vx
~
(3.78)

o: . o.:
Dari Persamaan (3.71). (3.73) dan (3.74): 1adi kemiringan dari kurva pad a tiap titiknya diberikan oJeh;
2 2 0 (x,z) = 0 1
88 88
- ., + ., =0 (3.75)
Ox.. 0: .. dengan menetapkan arah dari resultan kecepatan pada setiap titik.
kurvanya akan menunjukkan lintasan aliran. Jika fungsi 0(x1.:)
Fungsi 8 (x,z) memenuhi persamaan Laplace. diberikan beberapa nilai konstan 0 1 0 2, 0 3 kurva bentuk kedua
Integrasi Persamaan (3.73) dan (3.74) akan diperoleh: akan membentuk lintasan al.iran. Kurva-kurva ini disebut garis aliran.
e (x,z) =- kh(x,z) + c (3.76) Dari memperhatikan Gambar 3.18. aliran per satuan wak1u ant4Ua dua
garis aliran untuk nilai fungsi aliran 0 1 dan 0 2 diberikan oleh :
. dkengan c adalah kontant~. Jadi, jika fungsi e(x,z) diberikan suatu nilai
onstan e,, akan menunJukkan k d . . . . -
0.,
Jika fungsi 8(x ) d'be .k . ~rv_a . engan ntlat ttngg1 h 1 konstan. llq = ( -v z d.x+ v.\ d~)
,Z 1 rt an ntlat-ntlat 8 9 8 d oya 0t
suatu kurva akan terbentuk . . 1, 2, 3,.... an seterus '
(tapi dengan nilai yan be~;::an tmgg~ energi total (h) yang konsta~ = 0 2( 80 dt+ 80 dz)
demikian disebut gan g k' a _pada tlap kurvanya). Kurva bentuk 0 1 dx d:.
' . ' s e lpotenslal.
Selanjutnya, ditinjau fun . k . = 02 - 01
aliran, dan dibentuk oleh gsi edua 0(x,z) yang disebut fungst
190 191

_.-r-
... ..- -


-
---
\


'\
\

.....
.~..... . - '
~-
\
...... t~..\ X
_.;...-- "'\
Gambar 3.18 Rembcsan antara dua garis aliran. \
\

Jadi aliran lewat saluran antara dua garis aliran adalah konstan.
Deferensial total dari fungsi e(x,z) adalah:
Gambar 3.19 Garis aliran dan garis ekipotensial.
d8=
oe oe
dx+ dz
ox 8z
Vx = V s COS a
Vz =
V 5 Sill a
Jika a(x,z) konstan, maka de = 0 dan Selanjutnya,

dz vx 88 88 Ox 88 8.:
=-- (3.79)
-= +--
dx v_... 8/ &x 81 8.: 8/
~ . 2
= l's cos- a + Vs stn a
Dengan membandingkan Persamaan (3.78) dan (3.79) tamp~k
bahwa garis aliran dan garis ekipotensial berpotongan satu sama latn -- l's
tegak lurus. dan
Selcarang ditinjau dua garis aliran 0 1 dan (0 + .!\0) yang 80 80 Ox 80 8.:
dipisa~n ole~jarak /lb. Garis aliran berpotongan tegak lurus denga~
1
ob=8xob+8~5b
dua ekipotens1al 81 dan (6 1 +.!\6) yang dipisahkan oleh jarak /!.
(Gambar l.l9). Arab l dan b bersudut a. terhadap sumbu x dan z. pada .
=-Vs SIO a (- sin a) + l's '
cos- a
titik A kecepatan dalam arah 1 adalah v d k nen v dala111
arah x dan z adalah : s, engan ompo s
=Vs
192
193

Jadi,
o0
-=-
se
ob ot
atau secara pendekatan,
p
a r
~0 ~a
-=- (3.80) rr----r-l .,..._ _ u

'
3.3.1 Jaring Arus (Flow-net) '
Seke1ompok garis aHran dan garis ekipotensial disebut jaring
arus (flow-net). Garis ekipotensial adaJah garis-garis yang mempunyai
tinggi energi potensial yang sama (lz konstan). Gambar 3.20 memper-
lihatkan contoh dari sebuah jaring arus pada struktur turap baja.
Permeabi1itas lapisan lolos air dianggap isotropis ( kx = kz = k).
Perhatikan bahwa garis penuh adalah garis aliran dan garis titik-titik Gambar 3.20 1aring arus pada struktur tu rap.
adalah garis ekipotensial. Pada Gambar 3.20. PQ dan TfJ adalah garis
ekipotensial, sedang QRST dan VW adalah garis aliran. Dalam dan karena ~0 = flq dan ~8 = k ~h akan diperoleh
penggambaran jaring-arus, garis aliran dan garis ekipotensial
digambarkan secara coba-coba (trial and error). Pada prinsipnya, t:,.q = k t:Jz (3.81)
fungsi e{x,z) dan 0(x,z) harus diperoleh pada batas kondisi yang Gradien hidrolik diberikan menurut persamaan;
relevan. Penyelesaian diberikan dengan cara menganalisis hubungan
. /::,.h
beberapa kelompok garis ekipotensial dan garis aliran. Prinsip dasar l=- (3.82)
ya~g ha~s dipenuhi di da1am cara jaring anus ada1ah antara garis
/::,.1

eki~nstal dan garis aliran harus berpotongan tegak Jurus.


Selanjut~ya, penggambaran jaring arus diusahakan harus sedemikian
rupa seh1ngga ~0 bemila1
sama antara sembarang dua gans allran
yang berdekatan dan ~e be 11 dengan:
. .
ekipotens1al berdekatan. m aJ sama antara sembarang dua gans
Bila, perpotongan garis 1 d k h = beda tinggi energi antara garis eJdpote?sial awal dan akhir
.
bu~ur gka a ran an garis ekipotensial berbentu
san r (~1= l1b) U t k d ri Nd = j umlah penurunan dari garis ekipotensJal
-- (3.80) maka n u sembarang bujur sangkar, a
.
Hitungan rembesan dengan cara Janng arus dalam struktur
. . .
A0=A9
bangunan air (Gambar 3.21), dapat dijelaskan sebagai benkut JnJ.

194
195

L\q
f'.. "



. . . ..
h muka air hlr

/
''
,,
/
~
I
I ''
I
I
'
I
\
I ''
I I
I \
I
\
I
'

Gambar 3.21 Jaring arus pada struktur bcndung.

Lajur aliran adalah ruang men1anjang yang terletak di antara


dua garis aliran yang berdekatan. Untuk menghitung rembesan di
bawah struktur bendung, ditinjau lajur-lajur aliran seperti yang terlihat Gambar 3.22 Debit rcmbesan dalam satu Jajur aliran (Llq).
dalam Gambar 3.22. Pada gambar tersebut, garis-garis ekipotensial
memotong garis aliran dan hubungannya dengan tinggi h, juga
Maka, dari Persamaan (3.83). dapat diperoleh
diperlihatkan. Debit t1q, adalah aliran yang lewat satu Iajur aliran per
satuan lebar struktur bendung. Menurut hukum Darcy dalam satu lz
I11 - h2 =h2 -lz3 = lz3 - /z4 = = lllz = Nd (3.84)
lajur aliran: '
An k" lz1 -lz., h -/z Persamaan (3.84) rnenunjukkan bahwa kehi1angan tinggi
1-MJ= iA=k - (bl Xl)=k 2 3 (b Xl)
/1 12 2 energi antara dua garis ekipotensial berurutan adalah sama. Kombinasi
=k
lz3 -,4 (b Xl)-
/ 3 - ... ...
(3.83)
Persamaan (3.83) dan (3.84). diperoleh
3
!lq = k lz (3.85)
Jika elemen-elemen jaring a d. Nd
rus gambarkan sebagai bujur sangkar, ,
l, = b, . Jika terdapat N1 Iajur aliran, debit rembesan (q) per satuan lebar
12 = b2 dan struktur dinyatakan oleh :

13 = b3 (3.86)

dan seterusnya.
196
197
. kan untuk menghitung debit rembestn
Persamaan (3.86) dtgun~
]ewat bagian bawah bang~nan batr.k 0 berbentuk segiempat. oalam ha1

Janng dapat dtgam ar a
arus . lebar dari elemen Janng-arus harus
ini nilai banding panJang dan
' .
konstan.
b1 b2 _ b3 _ =n (3. 87)
. . . ;. = - - ..... .
/1 /2 /3
Gambar 3.23 Tekanan rembesan.
Pada penggambaran J .aring arus ' sembarang elemen
. jaring
k arus
. b _
harus memenu h1 ; - n ,. f. Untuk J. aring arus segtempat, untu satu
. .
ahran,
laJur de b.tt rembesan per satuan lebar dan struktur, dttentukan
dp = Ywdh dA (3.89)
oleh:
dengan Yw adalah berat volume air dan dp adalah gaya hidrodinamis
&j = k (f1Jzlf) (b X l) = k (Ll/zl/) (n/ X 1)
yang disebut gaya rembesan. Dari Persamaan (3.89), gaya per satuan
= k &z n =k (lzlNd) n volume:
Bila dalam jaring arus terdapat N1 lajur aliran, rnaka debit dp dp Y .. dhdA
- = =--- (3.90)
rembesan: dV dAdL dAdL

N1 Karena aliran air dalam tanah biasanya lamban, maka gaya


q =kh n (3.88)
Nd inersia pad a air yang bergerak diabaikan . Dengan menganggap dp/(dA
dL) = D , maka akan diperoleh persamaan gaya rembesan per satuan
volume:
3.3.2 Tekanan Rembesan (3.91 )
Air pada keadaan statis didalam tanah, akan mengakibat~ dengan i = dhldL adalah gradien hidrolik. Gaya hidrodinamis
tekanan hidrostatis yang arahnya ke atas (uplift). Akan tetapi, jika atr persatuan volume (D) bekerja sepanjang anih aliran airnya.
mengalir lewat lapisan tanah, aliran air akan mendesak partikel tanah
sebesar tekanan rembesan hidrodinamis yang bekerja menurut ar~
alirannya. Besamya tekanan rembesan akan merupakan fungsi dart 3.3.2.1 Pengaruh Tekanan Air Terhadap Stabilitas Ta1Ulh
gradien hidrolik (i). Tekanan hidrodinamis mempunyai pengaruh yang. bes~ pa~a
. . Seb~ struktur bendungan tanah yang didasari lapisan kedaP stabilitas tanah. Tergantung pada arah aliran, tekanan hidrochnatms
alf dtperhhatkan pada Gambar 323 . panJang gans a11ran sarna dapat mempengaruhi berat volume tanah. Pangaruh D pada berat
dengan dL dan luas po_tongan melintang tabung aliran adalah dA: volume tanah, oleh adanya rembesan, diberikan dalam Gambar 3 :24
~ya
benkut
gaya tekanan au dapat dinyatakan sebagai fungsi dh, sebagat Pad a htt . "k d.1 mana gans aliran berarah vemkaJ
. 'k l, atau sembarang t1t1
ke bawah, berat volume efek-tif (yer) adalah:

198
199
(3.92)
- '+D 3.3.2.2 Teori Kondisi Mengapung (Quick- condition)
Yer - y le tanah tcrapung. . .
dengan Y' adalah
.. berat volun 't'k
barang tt t ' plda gans ahran,

dua vektor D Telah disebutkan bahwa tekanan hidrodinamis dapat mengubah
Pada tttlk 2, atau scnl ,nghasilkan vektot resultan gaya kcseimbangan lapisan tanah. Pada keadaan seimbang, besamya gaya
.
dan y' bekerja sahng teg, ak lurus, 11 1~
yang bekerja ke bawah W = i sama dengan gaya rembesan D = Yw ic,
Yang miring. . .. aliran vcttikal, berat volume atau
. 'k 3 di tnana m a 1
1
Pada tltt '
Wi - DJ, =0
efektifnya adalah: (3.95)
(3.93) dcngan ic adalah gradien hidrolik kritis pada keseimbangan gaya
Yer = y'- D
diatas. Bcsarnya berat tanah terendam air, adalah:
W =y'= (l - n)(G.\ - l)Yw


(3.96)


0 . D



dengan:


.. .
1
'






n = porositas





Gs = berat jenis tanah
e = angka pori
-y' -v' Yw = berat volume air

Gambar 3.24 Pcngaruh gay a rembcsan tcrhadap bcrat volume efektif tanah Substitusi y' dan D = Yw ic kedalam Persamaan (3.95), maka
Y' .
=Yw l e
. Disini, jika D = y', tanah akan nampak kehilangan .ber.a~ny:;
Persamaan gradien hidrolik kritis :
sehingga menjadi tidak stabil. Hal demikian, disebut kon~i~1 kntJS, al
mana pada keadaan ini terdapat gradien hidrolik kntls, de:~
konsekuensinya kecepatan aliran yang terjadi juga kecepatan n 11 lc
y'
=-
Yw
(3.97)
(vc). Pada kondisi kritis:

atau dapat pula dibentuk persamaan :
D=yw~ (3.94)
. . maka
Bila kecepatan aliran melampui kecepata1,1 knt~s.. arti G, - 1 Yw - Yw jc =0 (3.98)
l+e
D > y'dan Yerdalam Persamaan (3.93) menjadi negatif. Halllll ~:la~ . G,. - 1
dalam keadaan mengapung atau terangkat ke atas. Tanah l =--
koodisi demikian disebut tanah dalam kondisi mengapung 8181 (' 1+ e . h'd rk
ih (quick- condition). . . 'kan sebagai gradten ro
Gradien hidrolik kTitis dadefintst
200
201
b bkan kondisi Inengapung pada jenis
minimum yang akan m:nye a G =2.65 dan e = 0.65 (yaitu tanah = (0,2 X 10-4 X J0-2) ( 2,83/3)1 = 1,9 X IQ-7 m3/det
U t k paslr dengan s 'd l'k kri .
tanah tertentu. n u ) Iai gradien h1 ro 1
. den gan kepadatan sedang 'nt
tts: Persentase kenaikan debit, jika temperatur 30o t :
pastr
k 30 ll
=k 20 X 20
. Gs -1 _ 2.65 -1 = l (dari Tabel 3.3; J.!JofJ.t20 = 0,793)
I -
c - 1+ e
-
1+ 0.65 ll30

d bahaya mengapung harus dipenuhi :


Dalam perancangan terha ap = 0,2 X 10-4 X (1/0,793) = 1,26 X 0,2 X 10-4 cm/det
. < i,.
1-
(3.99) Jadi, permeabilitas bertambah dengan (1,26-1)100% = 26%. dengan
SF demikian debit rembesan juga akan bertambah 26% .
Dengan faktor aman SF= 3 atau 4
3.3.2.3 Kea11zanan Bangunan terhadap Bahaya Piping
Contoh soal 3.11: Telah disebutkan bahwa bila tekanan rembesan ke atas yang
Lapisan pasir halus setebal 3 m mempunyai angka ~ori (e) = 0,75 dan terjadi dalam tanah sama dengan ic, maka tanah akan pada kondisi
berat jenis (Gs) = 2.65. Tentukan tekanan a1~ ke atas ~~ng mengapung. Keadaan semacam ini juga dapat berakibat terangkutnya
mengakibatkan bahaya tanah mengapung. Ji~a koefis1en penne~bthtas butir-butir tanah halus, sehingga terjadi pipa-pipa di dalam tanah yang
tanah pasir, k = 0.2 X 1o- cm/det pada 20 C, berapa~ah debit yang
4 disebut piping. Akibat terjadinya pipa-pipa yang berbentuk rongga-
harus dipelihara untuk mencegah kondisi kritis tanah? J 1ka temperatur rongga, dapat mengakibatkan fondasi bangunan menga1ami
penurunan~ hingga mengganggu stabilitas bangunan. Harza (1935)
naik rnenjadi 30 C, berapakah persentase kenaikan debitnya?
mamberikan faktor keamanan bangunan air terhadap bahaya piping.
sebagai berikut :
Penyelesailln :
(3.100)
G -1
M
i= = l ;L=3m
L l+e dengan ie adalah gradien keluar nzaksi1nu1n (nzaxinuun exit ?radient)
Tinggi tekanan air minimum yang mengakibatkan bahaya mengapung dan ic = y' IYw Gradien keluar rnaksimun1 tersebut dapat d1t~ntukan
(&z): dari jaring arus dan besarnya sama dengan Mz/1 (!::Jz adalah kehtlangan

tingg1. energ1. antara dua gans ek.tpo ten s1al terakhir' dan I adalah
2,65-1
panjang dari elemen aliran). Faktor aman 3 atau 4 cukl1p memen~ht
M= 1+ 0,75 x3 = 2,83 m (y'xtebaJ lapisan pasir)
angka aman strukturnya. Harza (1935) rnemberikan grafik gra~ten
Debit yang harus dipelihara per meter persegi: keluar maksimum untuk bendungan yang d1bangun pada 1aptsan.
homogen yang dalam (Gambar 3.25) Dengan . menogunakan
b k notas1
.
q = kiA = k(!:Jz/L)l Yang diperlihatkan dalam gmnbar terseb ut, grad'en 1 keluar ma .. tn1un1
diberikan menurut persanman :
211
210

piping akan terjadi di muka Contoh soal 3.15 .:


Menurut Terzaghi ( 1943). ba~ad~al man tu rap terpancang dalam
1

turap pad a jarak kira-ktra _se tengah kc ' a 1 d
dimensi 61n x 3m x m, a a ah 1 Struktur turap diperlihatkan dalam Gambar C3.5. Tebal lapisan air
. . nstna dengan pada bagian hulu adalah 6 m. Pada bagian hilir turap terdapat lapisan
tanah. Pada contoh 101
P bahayakan.
daerah piping yang paling menl ' filter dengan berat volume basah 1,80 tlm3 (17 .66 kN/m3) sedang
tanah lolos air mempunyai berat volume jenuh Ysat = 2 t!m3 (19,62
Gradien hidrolik: 3
kNfm ). Tentukan faktor aman terhadap bahaya piping dengan cara
. ~hnA Harza dan dengan cara Terzaghi.
lnA =
LnA
3m
. . arus terakhir dihitung dengan
Gradien keluar CinA) pada eletnen Janng . 1,e m (ftllf)

cara be;~~~~~~\~ggi energi hidroltk antara titik 8 dan A:


muka aJr hulu
fill = 4,50 =0,45 m
BA 10
em
Panjang garis aliran BA: 1,80 m

LnA = 1,50 m (menurut skala)



. ..." . .. ...
e e e

I

1
10 . .,....... .. .
..

"
Jadi, gradien keluar:





5

i =i
(' BA
= 0,4
1,50
=0,30


I
I

Tinjauan gradien hidrolik juga dapat dilakukan pada titi~ di s Ie I I


0
I
tengah-tengah elemen bujur sangkar, dengan hasil yang tak Jauh
berbeda. kplllf1 lkediP ..

= i = y' =
1'9 -l =0 90
Gradien hidrolik kritis
c
Yw 1 ' Gambar CJ.S.

atau i = 1