Anda di halaman 1dari 37

RUMAH SAKIT UMUM SARILA HUSADA

Jl. Veteran no 41-43 Sragen Telp. (0271) 891538 Fax. (0271) 8824230
email. rssarilahusada@gmail.com

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM SARILA HUSADA


NOMOR 005/PER/DIR/RSSH/X/2016

TENTANG

PANDUAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI


(HIGH ALERT MEDICATION)

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM SARILA HUSADA

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah


Sakit Umum Sarila Husada, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan kefarmasian tinggi yang berorientasi pada
keselamatan pasien;
b. bahwa agar pengelolaan obat yang perlu diwaspadai di Rumah
Sakit Umum Sarila Husada dapat terlaksana dengan baik, perlu
adanya Panduan Obat Yang Perlu Diwaspadai (high alert
medication);
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan huruf b maka perlu ditetapkan Peraturan Direktur
Rumah Sakit Umum Sarila Husada tentang Panduan Obat Yang
Perlu Diwaspadai (High Alert Medication);

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009


tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5072);
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan
dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan Prekusor Farmasi;

1
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11
Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien;
5. Keputusan Direktur PT. Sarila Husada Nomor : 01/SK/PT-
SH/VIII/2013 tentang Pengangkatan Direktur Rumah Sakit
Umum Sarila Husada;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
Kesatu : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM SARILA
HUSADA TENTANG PANDUAN OBAT YANG PERLU
DIWASPADAI (HIGH ALERT MEDICATION).
Kedua : Panduan Obat Yang Perlu Diwaspadai (High Alert Medication) pada
DIKTUM KESATU sebagaimana terlampir dalam Lampiran
Peraturan ini.
Ketiga : Panduan Obat Yang Perlu Diwaspadai (High Alert Medication)
digunakan sebagai acuan dalam penatalaksanaan Obat Yang Perlu
Diwaspadai (High Alert Medication) di Rumah Sakit Umum Sarila
Husada.
Keempat : Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : SRAGEN
Pada tanggal : 20 Januari 2016

Direktur Rumah Sakit Umum


Sarila Husada

drg. Evelina Yuliani, MPH


LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM SARILA HUSADA
NOMOR : 005/PER/DIR/RSSH/X/2016
TENTANG
PANDUAN OBAT YANG PERLU
DIWASPADAI
(HIGH ALERT MEDICATION)

PANDUAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI


(HIGH ALERT MEDICATION)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Patient safety atau keselamatan pasien menjadi salah satu fokus dalam upaya
peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit. Dalam perkembangannya Rumah Sakit
melakukan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu
diwaspadai (high alert medication). High-alert medication adalah obat yang
persentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadinya kesalahan/error dan/atau kejadian
sentinel (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome), demikian pula obat-obat yang tampak mirip/ucapan
mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look-Alike Sound-Alike/
LASA).
Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut
adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai.
Rumah Sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan atau prosedur untuk
membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di Rumah
Sakit. Data mengenai High Alert Medication (HAM) diambil dari data Institute of Safe
Medication Practices (ISMPs) yang disimpulkan dari program pelaporan efek
samping ISMPs oleh praktisi.

1
B. Pengertian
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
2017 tentang Keselamatan Pasien, maka High-alert medication adalah obat yang
persentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadi kesalahan/error dan/atau kejadian
sentinel (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome), demikian pula obat-obat yang tampak mirip/ucapan
mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look-Alike Sound-Alike/
LASA).
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit disebutkan bahwa untuk
kelompok High-alert medication diantaranya :
1. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
2. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih
pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat
=50% atau lebih pekat).
3. Obat-Obat sitostatika.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
2017 tentang Keselamatan Pasien disebutkan bahwa untuk kelompok High-alert
medication diantaranya :
1. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
2. Elektrolit konsentrasi tinggi ((misalnya, kalium/potasium klorida [sama dengan 2
mEq/ml atau yang lebih pekat)], kalium/potasium fosfat [(sama dengan atau lebih
besar dari 3 mmol/ml)], natrium/sodium klorida [lebih pekat dari 0.9%], dan
magnesium sulfat [sama dengan 50% atau lebih pekat]).
3. Daftar obat-obat yang perlu diwaspadai (high alert medication) yang masuk
dalam Institute of Safe Medication Practices (ISMPs).

C. Tujuan
a. Memberikan pedoman dalam manajemen dan pemberian obat yang perlu
diwaspadai (high-alert medications) sesuai standar pelayanan farmasi dan
keselamatan pasien rumah sakit.

2
b. Meningkatkan keselamatan pasien rumah sakit.
c. Mencegah terjadinya sentinel event atau adverse outcome
d. Mencegah terjadinya kesalahan / error dalam pelayanan obat yang perlu
diwaspadai kepada pasien.
e. Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.

3
BAB II
RUANG LINGKUP

Panduan Obat Yang Perlu Diwaspadai (high alert medication) ini mengatur
penanganan high alert medication yang meliputi kebijakan dan penatalaksanaan obat
yang perlu diwaspadai (high alert medication), yaitu semua kegiatan pengelolaan obat
high alert medication, termasuk di dalamnya adalah penyimpanan, pengendalian,
peracikan, pemberian, dan pengawasan.

4
BAB III
KEBIJAKAN

Kebijakan Panduan Obat Yang Perlu Diwaspadai (High Alert Medication) adalah
sebagai berikut:
1. Menyediakan akses informasi mengenai high alert medication.
2. Membatasi akses terhadap high alert medication. Akses obat ini harus dibatasi,
hal ini mencakup pemberian label serta penempatan obat high alert medication
secara terpisah di ruangan. Obat HAM hendaknya ditempatkan pada kotak atau
wadah khusus dan tidak dicampur dengan obat selain HAM pada satu wadah.
3. Menggunakan label dan tanda peringatan yang jelas untuk high alert
medication.
4. Vial yang mengandung elektrolit konsentrat tidak boleh disimpan dilingkup atau
area perawatan pasien.
5. Elektrolit konsentrat hanya boleh disimpan di unit IGD, Kamar Bersalin, Kamar
Operasi, dan ICU.
6. Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien harus diberi label
yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).
7. Menstandarisasi prosedur instruksi/peresepan, penyimpanan, persiapan, dan
pemberian high alert medication.
8. Obat-obatan jenis baru dan informasi keselamatan tambahan lainnya akan ditinjau
ulang dalam audit dan revisi high alert medication oleh Panitia Farmasi dan
Terapi.
9. Melakukan prosedur pengecekan ganda untuk obat high alert medication
10. Pengecekan ganda dicatat pada rekam medis pasien atau pada catatan pemberian
medikasi pasien.
11. Obat-obat yang digunakan dalam emergensi medis (misalnya: kondisi mengancam
nyawa yang bersifat gawat darurat) tidak diwajibkan untuk mengikuti pedoman
dan prosedur penggunaan high alert medication.

5
12. Berikut adalah obat-obatan yang termasuk dalam kategori high alert medications:

Tabel III.1 : Obat-obatan dalam Kategori High Alert Medications


Kategori / Kelas Obat-obatan Jenis obat
Agonis adnergik IV Epinefrin, fenilefrin, norepinefrin, isoproterenol
Antagonis adrenergic IV Propanolol, metoprolol, labetalol
Agen anestesi (umum, inhalasi, dan IV) Propofol, ketamin
Anti-aritmia IV Lidokain, amiodaron
Anti-trombotik, termasuk:
a. Antikoagulan Warfarin, LMWH (low-molecular-weight
heparin), unfractionated heparin IV
b. Inhibitor faktor Xa Fondaparinux
c. Direct thrombin inhibitors Argatroban, bivalrudin, dabigatran etexilate,
lepirudin
d. Trombolitik Alteplase, reteplase, tenecteplase
e. Inhibitor glikoprotein IIb/IIIa Eptifibatide , abciximab, tirofiban
Larutan / solusio kardioplegik
Agen kemoterapi (parenteral dan oral)
Dekstrosa hipertonik ( 20%)
Larutan dialysis (peritoneal dan hemodialisis)
Obat-obatan epidural atau intratekal
Obat hipoglikemik (oral)
Obat inotropik IV Digoksin, milrinone
Insulin (SC dan IV) Insulin regular, aspart, NPH, glargin
Obat-obatan dengan bentuk liposomal amfoterisin B liposomal
Agen sedasi moderat / sedang IV Dexmedetomidine, midazolam
Agen sedasi moderat / sedang oral, untuk Chloral hydrate, ketamin, midazolam
anak
Opioid / narkose:
a. IV
b. Transdermal
c. Oral (termasuk konsentrat cair,
formula rapid dan lepas lambat)

6
Agen blok neuromuskular Suksinilkolin, rokuronium, vekuronium,
atrakurium, pankuronium
Preparat nutrisi parenteral
Agen radiokontras IV
Akua bi destilata, inhalasi, dan irigasi (dalam
kemasan 100ml)
NaCl untuk injeksi, hipertonik, dengan
konsentrasi > 0,9%
Konsentrat KCl untuk injeksi
Epoprostenol IV
Injeksi Magnesium Sulfat (MgSO4)
Digoksin IV
Metotreksat oral (penggunaan non-onkologi)
Opium tincture
Oksitosin IV
Injeksi natrium nitropruside
Injeksi kalium fosfat
Prometazin IV
Kalsium intravena
Vasopressin (IV atau intraoseus)
Antikonvulsan benzodiazepin

7
BAB IV
TATA LAKSANA

Penatalaksanaan obat yang perlu diwaspadai (high alert medication) adalah sebagai
berikut :
A. Peresepan
1. Jangan berikan instruksi hanya secara verbal mengenai high alert medication
2. Instruksi ini harus mencakup minimal :
a. Nama pasien dan nomor rekam medis
b. Tanggal dan waktu instruksi dibuat
c. Nama obat (generik), dosis, jalur pemberian, dan tanggal pemberian setiap
obat
d. Kecepatan dan atau durasi pemberian obat
3. Dokter harus mempunyai diagnosis, kondisi, dan indikasi penggunaan setiap high
alert medication secara tertulis.
4. Sistem instruksi elektronik akan memberikan informasi terbaru secara periodik
mengenai standar pelayanan, dosis, dan konsentrasi obat (yang telah disetujui oleh
Panitia Farmasi dan Terapi), serta informasi yang dibutuhkan untuk
mengoptimalisasi keselamatan pasien.

B. Persiapan dan Penyimpanan


1. High alert medication disimpan di pos perawat di dalam troli atau lemari khusus.
2. Semua tempat penyimpanan harus diberikan label yang jelas dan dipisahkan
dengan obat-obatan rutin lainnya. Penempatan label harus diatur sedemikian rupa
sehingga tidak menutupi identitas, tanggal kadaluarsa, atau informasi penting
lainnya pada kemasan obat. Label harus tidak mudah lepas.
3. Jika high alert medication harus disimpan di area perawatan pasien, kuncilah
tempat penyimpanan dengan diberikan label Peringatan: high alert medication
pada tutup luar tempat penyimpanan.
4. Setiap kotak / tempat yang berisi high alert medication harus diberi label.
5. Infus intravena high alert medication harus diberikan label yang jelas dengan
menggunakan huruf / tulisan yang berbeda dengan sekitarnya.

8
C. Pemberian obat
1. Perawat harus selalu melakukan pengecekan ganda (double-check) terhadap
semua high alert medication sebelum diberikan kepada pasien.
2. Prosedur dalam melakukan pengecekan ganda / verifikasi oleh orang kedua
dilakukan pada kondisi-kondisi seperti berikut:
a. pengecekan ganda diperlukan sebelum memberikan high alert medications
tertentu / spesifik dan di saat pelaporan pergantian jaga atau saat melakukan
transfer pasien.
b. Pengecekan ganda ini akan dicatat pada rekam medis pasien atau pada catatan
pemberian medikasi pasien.
c. Untuk infus:
1) Saat terapi inisial
Pengecekan ganda pada terapi inisial dilakukan oleh :
a) Petugas pertama mempersiapkan obat dan hal-hal di bawah ini untuk
menjalani pengecekan ganda oleh petugas kedua:
(1) Obat-obatan pasien dengan label yang masih lengkap
(2) Rekam medis pasien, catatan pemberian medikasi pasien, atau
resep / instruksi tertulis dokter
(3) Obat yang hendak diberikan lengkap dengan labelnya
b) Petugas kedua akan memastikan hal-hal berikut ini:
(1) Obat telah disiapkan dan sesuai dengan instruksi
(2) Perawat pasien harus memverifikasi bahwa obat yang hendak
diberikan telah sesuai dengan instruksi dokter.
(3) Obat memenuhi 8 benar.
(4) Membaca label dengan suara lantang kepada perawat untuk
memverifikasi delapan benar :
(a) Benar Pasien
(b) Benar Indikasi
(c) Benar Obat
(d) Benar waktu pemberian
(e) Benar dosis pemberian
(f) Benar rute pemberian
(g) Benar/tidak alergi

9
(h) Benar dokumentasi
c) Pada beberapa kasus, harus tersedia juga kemasan / vial obat untuk
memastikan bahwa obat yang disiapkan adalah obat yang benar,
misalnya: dosis insulin
d) Ketika petugas kedua telah selesai melakukan pengecekan ganda
dan kedua petugas puas bahwa obat telah sesuai, lakukanlah
pencatatan pada rekam medis / catatan pemberian medikasi pasien.
e) Petugas kedua harus menulis dicek oleh: dan diisi dengan nama
pengecek.
f) Pengecekan ganda akan dilakukan sebelum obat diberikan kepada
pasien.
g) Pastikan infus obat berada pada jalur / selang yang benar dan
lakukan pengecekan selang infus mulai dari larutan / cairan infus,
pompa, hingga tempat insersi selang.
h) Pastikan pompa infus terprogram dengan kecepatan pemberian yang
tepat, termasuk ketepatan data berat badan pasien.
2) Saat terdapat perubahan konsentrasi obat.
3) Saat pemberian bolus.
4) Saat pergantian jaga perawat atau transfer pasien
a) Petugas kedua akan memastikan hal-hal berikut ini:
(1) Obat yang diberikan harus memenuhi delapan benar.
(2) Perawat berikutnya akan membaca label dengan lantang
kepada perawat sebelumnya untuk memverifikasi 8 benar
(seperti yang telah disebutkan di atas).
b) Saat pengecekan telah selesai dan kedua perawat yakin bahwa obat
telah sesuai, lakukanlah pencatatan pada bagian pengecekan oleh
perawat di rekam medis pasien.

10
3. Berikut adalah high alert medications yang memerlukan pengecekan ganda untuk
semua dosis termasuk bolus.

Tabel IV.1: High alert medications yang Memerlukan Pengecekan Ganda untuk
Semua Dosis Termasuk Bolus3
Obat-obatan
Kemoterapi
Heparin
Insulin
Infuse Magnesium sulfat pada pasien obstetric
Infuse kateter saraf epidural dan perifer
*abciximab
Argatroban
Bivalirudin
*eptifibatide
Lepirudan
Citrate ACD-A
Kalsium klorida 8 gm/1000ml infuse (untuk CRRT)
* obat-obatan yang sebaiknya tidak diberikan sebagai bolus dari kantong infuse / vial

Tabel IV.2: Obat-obatan yang Memerlukan Pengecekan Ganda jika Terdapat


Perubahan Kantong Infus
Obat-obatan
Infuse benzodiazepine
Kemoterapi
Infuse opioid
Infuse epidural
Infuse kateter saraf perifer

11
Tabel IV.3: Obat-obatan yang Memerlukan Pengecekan Ganda jika Terdapat
Perubahan Dosis / Kecepatan Pemberian
Obat-obatan
Epoprostenol
Kemoterapi
Treprostinil
Infuse bensodiazepin
Infuse opioid, epidural
Heparin

4. Sesaat sebelum memberikan obat, perawat mengecek nama pasien,


memberitahukan kepada pasien mengenai nama obat yang diberikan, dosis, dan
tujuannya (pasien dapat juga berperan sebagai pengecek, jika menungkinkan).
5. Semua pemberian high alert medication intravena dan bersifat kontinu harus
diberikan melalui pompa infus IV. Pengecualian dapat diberikan pada pasien di
Ruang Rawat Intensif Neonatus (Neonates Intensive Care Unit NICU), atau
pada pasien risiko tinggi mengalami kelebihan cairan (volume over-load). Setiap
selang infus harus diberi label dengan nama obat yang diberikan di ujung distal
selang dan pada pintu masuk pompa (untuk mempermudah verifikasi dan
meminimalkan kesalahan).
6. Pada situasi emergensi, di mana pelabelan dan prosedur pengecekan ganda dapat
menghambat / menunda penatalaksanaan dan berdampak negatif terhadap pasien,
perawat atau dokter pertama-tama harus menentukan dan memastikan bahwa
kondisi klinis pasien benar-benar bersifat emergensi dan perlu ditatalaksana
segera sedemikian rupa sehingga pengecekan ganda dapat ditunda. Petugas yang
memberikan obat harus menyebutkan dengan lantang semua terapi obat yang
diberikan sebelum memberikannya kepada pasien.
7. Obat yang tidak digunakan dikembalikan kepada farmasi / apotek, dan dilakukan
peninjauan ulang oleh ahli farmasi atau apoteker apakah terjadi kesalahan obat
yang belum diberikan.
8. Dosis ekstra yang digunakan ditinjau ulang oleh apoteker untuk mengetahui
indikasi penggunaan dosis ekstra.

12
D. High alert medications
1. Agonis Adrenergik IV (epinefrin, fenilefrin, norepinefrin, isoproterenol)
a. Instruksi medikasi harus meliputi kecepatan awal.
b. Saat titrasi obat, haruslah meliputi parameternya
c. Konsentrasi standar untuk infuse kontinu:
i. Epinefrin : 4 mg/250ml
ii. Norepinefrin : 8 mg/250ml
iii. Fenilefrin : 50 mg/250ml
d. Pada kondisi klinis di mana diperlukan konsentrasi infuse yang tidak sesuai
standar, spuit atau botol infuse harus diberi label konsentrasi yang
digunakan adalah .
e. Gunakan monitor kardiovaskular pada semua pasien dengan pemasangan
vena sentral.
f. Epinefrin
i. Rute pemberian: intravena, intramuskular
ii. Cara melarutkan:
Dapat dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5%
Pengenceran standar adalah 1 mg per 250 mL NaCl 0,9%.
iii. Temperatur penyimpanan: 15-25 C, lindungi dari cahaya dan udara,
larutan yang sudah direkonstitusi stabil selama 24 jam di temperatur
ruangan.
iv. Monitoring parameter: heart rate/nadi, tekanan darah, laju
pernafasan.
v. Efek samping: angina, hipertensi, takikardia, mual, muntah, tremor,
udem paru.
vi. Antidot: Phentolamine dapat diberikan dengan dosis 5-10 mg dalam
10 mL NaCl 0,9%.
g. Norepinefrin
i. Rute pemberian: intravena
Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam Dekstrosa 5% atau D5NS
Perhatian: Jangan memberikan NaHCO3 bersamaan dengan jalur
infus yang mengandung norepinefrin.

13
ii. Obat harus diencerkan sebelum digunakan, gunakan pompa infus
untuk ketepatan pemberian obat.
iii. Laju tetesan maksimum pada anak adalah 2 mcg/kg/menit.
iv. Laju tetesan lazim pada dewasa adalah 0,01-3 mcg/kg/menit.
v. Temperatur penyimpanan: 20-25 C, lindungi dari cahaya, larutan
yang sudah direkonstitusi stabil selama 24 jam, jangan digunakan
bila timbul warna kecoklatan pada larutan.
vi. Monitoring parameter: heart rate / nadi, tekanan darah, laju
pernafasan.
vii. Efek samping: aritmia, bradikardia, sakit kepala (sementara),
dyspnea, kesulitan bernafas.
viii. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian norepinefrin,
monitor heart rate / nadi, tekanan darah, laju pernafasan hingga
kondisi pasien membaik.
ix. Bila terjadi ekstravasasi: ekstravasasi pada jaringan dapat berakibat
nekrosis lokal oleh karena sifat vasokonstriktif norepinefrin. Segera
berikan 10-15 mL larutan NaCl 0,9% yang dicampurkan dengan 5-
10 mg phentolamine (suatu penghambat adrenergik).
2. Antagonis adrenergic (propanolol, esmolol, metoprolol, labetalol)
a. Konsentrasi standar esmolol:
i. vial 100 mg/10ml
ii. ampul 2,5 g/10ml
b. Metoprolol
i. Rute pemberian: intravena, dapat diberikan secara infus cepat (i.v.
push) selama 1 menit, atau infus lambat (misalnya 5-10 mg
metoprolol dalam 50 mL cairan selama 30-60 menit).
ii. Temperatur penyimpanan: 25 C, lindungi dari cahaya dan
kelembaban
iii. Monitoring parameter: EKG, tekanan darah, heart rate.
iv. Efek samping: hipotensi, bradikardia, pusing, gatal dan kemerahan
pada kulit.
v. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian metoprolol,
berikan terapi suportif untuk pasien, antara lain pemberian cairan
secara i.v, pemberian obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah

14
atau denyut jantung, serta pengawasan terhadap fungsi jantung dan
paru-paru pasien.
3. Dopamine dan dobutamin
a. Sering terjadi kesalahan berupa obat tertukar karena namanya yang mirip,
konsentrasi yang mirip, dan indikasinya yang serupa. Gunakan label yang
dapat membedakan nama obat (misalnya: DOBUTamin, DOPamin).
b. Gunakan konsentrasi standar.
c. Beri label pada pompa dan botol infuse berupa nama obat dan dosisnya.
4. Kalsium Intravena (sebagai gluceptate, gluconate, atau chloride)
a. CaCl tidak boleh diberikan melalui IM karena bersifat sangat iritatif
terhadap jaringan.
b. Faktor yang dapat mempengaruhi konsentrasi kalsium dalam darah adalah
kadar fosfor serum dan albumin serum.
c. Efek samping yang dapat terjadi:
i. Interaksi obat dengan digoksin (injeksi cepat kalsium dapat
menyebabkan bradiaritmia, terutama pada pasien yang
mengkonsumsi digoksin).
ii. Antagonis terhadap CCB (calcium-channel blocker) dan
peningkatan tekanan darah.
iii. Hipokalsemia atau hiperkalsemia akibat pemantauan kadar kalsium
yang tidak efisien.
iv. Rasio kalsium-fosfor yang tidak tepat dalam larutan IV dan
menyebabkan presipitasi dan kerusakan organ.
v. Nekrosis jaringan akibat ekstravasasi kalsium klorida.
d. Instruksikan pemberian kalsium dalam satuan miligram.
e. Lakukan pengecekan ganda.
5. Infuse kontinu Heparin, Lepirudin, Argatroban, Warfarin IV
a. Protokol standar indikasi adalah untuk thrombosis vena dalam (Deep Vein
Thrombosis DVT), sakit jantung, stroke, dan ultra-filtrasi.
b. Singkatan u untuk unit tidak diperbolehkan. Jangan menggunakan
singkatan.
c. Standar konsentrasi obat untuk infuse kontinu:
i. Heparin : 25.000 unit/500ml dekstrosa 5% (setara dengan 50
unit/ml)

15
ii. Lepirudin : 50 mg/250ml dan 100 mg/250ml
iii. Argatroban : 250 mg/250ml
d. Gunakan pompa infuse.
e. Lakukan pengecekan ganda.
f. Berikan stiker atau label pada vial heparin dan lakukan pengecekan ganda
terhadap adanya perubahan kecepatan pemberian.
g. Untuk pemberian bolus, berikan dengan spuit (daripada memodifikasi
kecepatan infus).
h. Obat-obatan harus diawasi dan dipantau.
i. Warfarin harus diinstruksikan secara harian berdasarkan pada nilai INR / PT
harian.
j. Heparin Natrium
i. Rute pemberian: intravena, jangan diberikan intramuskular karena
ada potensi nyeri dan hematoma.
ii. Cara melarutkan: Pengenceran standar adalah 25.000 unit per 500
mL Dekstrosa 5%, volume minimal adalah 250 mL Dekstrosa 5%.
iii. Perhatian: Penggunaan pada pasien anak-anak masih terbatas
datanya,
sesuaikan dosisnya sesuai kebutuhan pasien.
Jangan menggunakan sediaan heparin yang mengandung
pengawet benzil alkohol pada pasien bayi dan neonatus.
iv. Temperatur penyimpanan: 25-30C, jangan dibekukan, stabilitas
setelah direkonstitusi 24 jam, stabilitas setelah vial dibuka 30 hari.
v. Monitoring parameter: aPTT, tanda-tanda pendarahan, hemoglobin,
hematokrit.
vi. Efek samping: trombositopenia, pendarahan, iritasi lokal,
osteoporosis (pada pemberian dosis tinggi dalam jangka waktu
lama).
vii. Antidot: Protamin sulfat (dosisnya 1-1,5 mg protamin sulfat untuk
100 unit heparin, berikan perlahan secara i.v).
6. Insulin IV
a. Singkatan u untuk unit tidak diperbolehkan. Jangan menggunakan
singkatan.

16
b. Infuse insulin: konsentrasi standar = 1 unit/ml, berikan label high alert ,
ikuti protokol standar ICU.
c. Vial insulin yang telah dibuka memiliki waktu kadaluarsa dalam 30 hari
setelah dibuka.
d. Vial insulin disimpan pada tempat terpisah di dalam kulkas dan diberi label.
e. Pisahkan tempat penyimpanan insulin dan heparin (karena sering tertukar).
f. Jangan pernah menyiapkan insulin dengan dosis U100 di dalam spuit 1 cc,
selalu gunakan spuit insulin (khusus).
g. Lakukan pengecekan ganda.
h. Perawat harus memberitahukan kepada pasien bahwa mereka akan
diberikan suntikan insulin.
i. Distribusi dan penyimpanan vial insulin dengan beragam dosis:
i. Simpan dalam kulkas secara terpisah dan diberi label yang tepat.
ii. Semua vial insulin harus dibuang dalam waktu 30 hari setelah
dibuka (injeksi jarum suntik). Tanggal dibuka / digunakannya
insulin untuk pertama kali harus dicatat pada vial.
j. Insulin
i. Rute pemberian: subkutan, intravena, intramuskular.
ii. Perhatian: Insulin sebaiknya jangan digunakan secara bolus i.v pada
pasien anak-anak dengan ketoasidosis diabetika.
iii. Temperatur penyimpanan: Bila kemasan belum dibuka simpan pada
suhu 2-8 C, jangan dibekukan. Bila sudah digunakan, jangan
disimpan pada suhu > 30 C, stabil selama 30 hari.
iv. Monitoring parameter: kadar glukosa darah, elektrolit, HbA1c.
v. Efek samping: hipoglikemia, hipokalemia, rasa lapar, mual, lemah
otot, palpitasi, edema perifer.
vi. Bila terjadi overdosis insulin: berikan 400-600 mg glukosa/kg/jam
hingga masalah teratasi.
vii. Singkatan u untuk unit tidak diperbolehkan. Jangan
menggunakan singkatan.
viii. Infuse insulin: konsentrasi standar = 1 unit/ml, berikan label high
alert , ikuti protokol standar ICU
ix. Vial insulin disimpan pada tempat terpisah di dalam kulkas dan
diberi label.

17
x. Pisahkan tempat penyimpanan insulin dan heparin (karena sering
tertukar).
xi. Jangan pernah menyiapkan insulin dengan dosis U100 di dalam spuit
1 cc, selalu gunakan spuit insulin (khusus).
xii. Lakukan pengecekan ganda.
7. Konsentrat elektrolit: injeksi NaCl > 0,9% dan injeksi Kalium (klorida, asetat,
dan fosfat) 0,4 Eq/ml10
a. Jika KCl diinjeksi terlalu cepat ( misalnya pada kecepatan melebihi 10
mEq/jam) atau dengan dosis yang terlalu tinggi, dapat menyebabkan henti
jantung.
b. KCl tidak boleh diberikan sebagai IV push / bolus.
c. Hanya disimpan di apotek, ICU, ICCU, dan kamar operasi.
d. Standar konsentrasi pemberian infuse NaCl: maksimal 3% dalam 500ml.
e. Berikan label pada botol infuse: larutan natrium hipertonik 3% (Tulisan
berwarna merah).
f. Protokol untuk KCl:
i. Indikasi infuse KCl
ii. Kecepatan maksimal infuse
iii. Konsentrasi maksimal yang masih diperbolehkan
iv. Panduan mengenai kapan diperlukannya monitor kardiovaskular
v. Penentuan bahwa semua infuse KCl harus diberikan via pompa
vi. Larangan untuk memberikan larutan KCl multipel secara
berbarengan (misalnya: tidak boleh memberikan KCl IV sementara
pasien sedang mendapat infuse KCl di jalur IV lainnya)
vii. Diperbolehkan untuk melakukan substitusi dari KCl oral menjadi
KCl IV, jika diperlukan
g. Lakukan pengecekan ganda.
h. KCl 7,46 %
i. Rute pemberian: intravena.
ii. Cara melarutkan:
Pelarut yang dapat digunakan adalah NaCl 0,9% dan Dekstrosa 5%.
KCl harus dilarutkan dahulu sebelum digunakan, jangan digunakan
secara i.v. push.
iii. 1 mL KCl 7,46% setara dengan 1 mEq.

18
iv. Pindahkan sejumlah tertentu larutan KCl 7,46% menggunakan spuit
steril ke dalam kemasan infus pelarut.
v. Kocok perlahan hingga homogen, atur tetesan sesuai instruksi.
vi. Kecuali disebutkan lain, laju tetesan maksimal adalah 10-40 mEq per
jam.
vii. Temperatur penyimpanan: 25-30 C, untuk yang sudah direkonstitusi
stabil selama 24 jam.
viii. Monitoring parameter: kadar kalium serum.
ix. Efek samping: hiperkalemia, rash, nyeri abdomen, mual, muntah.
x. Bila terjadi hiperkalemia: berikan 25-50 gram (250-500 mL) D10
ditambah dengan 10 unit insulin reguler diberikan secara i.v. selama
30-60 menit.
i. NaCl 3%
i. Rute pemberian: intravena
Cara melarutkan: Untuk pengenceran, dapat digunakan aqua pro
injeksi.
Atur tetesan infus dengan saksama sesuai dengan
instruksi yang diberikan, cara pemberian i.v
central line direkomendasikan.
Kecuali disebutkan lain, maka laju penetesan
maksimal adalah 100 mL/jam.
ii. Temperatur penyimpanan: 25-30 C, jangan dibekukan, lindungi
dari panas.
iii. Monitoring parameter: kadar natrium serum.
iv. Efek samping: hipernatremia, hipokalemia, thrombosis, phlebitis,
ekstravasasi, CHF, edema paru.
8. Infuse narkose / opiat, termasuk infuse narkose epidural
a. Opiate dan substansi lainnya harus disimpan dalam lemari penyimpanan
yang terkunci di apotik / unit farmasi dan di ruang perawatan pasien.
b. Kapanpun memungkinkan, instruksi yang dicetak (print) sebaiknya tersedia
dalam meresepkan obat.
c. Berikan label high alert: untuk infuse kontinu dengan konsentrasi non-
standar yang diberikan /diantarkan ke unit rawat, jika dperlukan sewaktu-
waktu.

19
d. Konsentrasi standar:
i. Morfin : 1 mg/ml
ii. Meperidin : 10 mg/ml
iii. Hidromorfin : 0,2 mg/ml (lima kali lebih poten
dibandingkan morfin)
iv. Fentanil : 10 mcg/ml (penggunaan di ICU)
e. Konsentrasi tinggi: (berikan label konsentrasi tinggi)
i. Morfin : 5 mg/ml
ii. Hidromorfin : 1 mg/ml (lima kali lebih poten dibandingkan
morfin)
iii. Fentanil : 50 mcg/ml (penggunaan ICU)
f. Instruksi penggunaan narkose harus mengikuti Kebijakan Titrasi.
g. Pastikan tersedia nalokson atau sejenisnya di semua area yang terdapat
kemungkinan menggunakan morfin.
h. Tanyakan kepada semua pasien yang menerima opiate mengenai riwayat
alergi.
i. Hanya gunakan nama generic.
j. Jalur pemberian epidural:
i. semua pemberian infuse narkose / opiate harus diberikan dengan
pompa infuse yang terprogram dan diberikan label pada alat pompa.
ii. gunakan tabung infuse yang spesifik (misalnya: wana: kuning
bergaris) tanpa portal injeksi.
iii. berikan label pada ujung distal selang infuse epidural dan selang
infus IV untuk membedakan.
k. Jika diperlukan perubahan dosis, hubungi dokter yang bertanggungjawab.
l. Lakukan pengecekan ganda.
m. Morfin
i. Rute pemberian: oral, intravena, epidural.
ii. Perhatian: Bila diberikan secara i.v push, sebaiknya diencerkan
dahulu dengan aqua pro injeksi atau NaCl 0,9% hingga
konsentrasi 1-2 mg/mL, kemudian suntikkan perlahan.
Untuk penggunaan epidural jangan gunakan sediaan yang
mengandung pengawet.
iii. Temperatur penyimpanan: 20-25 C, lindungi dari cahaya.

20
iv. Monitoring parameter: derajat nyeri, tekanan darah, status mental
dan respirasi pasien.
v. Efek samping: hipotensi, bradikardia, mengantuk, pusing, sakit
kepala, gatal, penglepasan histamin, retensi urin, konstipasi, sedasi.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian morfin, berikan
terapi suportif antara lain pemberian oksigen dan monitor tanda-
tanda vital pasien. Pemberian antagonis opioid seperti naloxone
hendaknya diberikan bila memang ada depresi pernafasan berat.
a) Dosis naloxone untuk bayi atau anak < 5 tahun atau anak dg berat
badan < 20 kg: dosis awal 0,1 mg/kgBB secara i.v (dosis
maksimum 2 mg), dapat diulang setiap 2-3 menit bila diperlukan.
b) Dosis naloxone untuk dewasa: 0,4-2 mg secara i.v, dapat diulang
setiap 2-3 menit.
n. Fentanyl
i. Rute pemberian: oral, intravena.
ii. Cara melarutkan: Dapat digunakan tanpa diencerkan dahulu, atau
dapat pula diencerkan dengan 250 mL Dekstrosa
5%.
Perhatian: Penggunaan secara i.v pelan selama 1-2
Menit.
iii. Jangan digunakan pada pasien yang menerima pengobatan
monoaminoksidase inhibitor (contohnya selegiline, phenelzine, dan
isocarboxazide) dalam 2 minggu terakhir.
iv. Temperatur penyimpanan: 20-25 C, lindungi dari cahaya.
v. Monitoring parameter: status respirasi dan kardiovaskuler, tekanan
darah, heart rate, tanda-tanda ketagihan.
vi. Efek samping: konfusio, konstipasi, mulut kering, mual,
somnolence, berkeringat, muntah, nyeri abdomen, bradikardia,
depresi pernafasan.
vii. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian fentanyl, berikan
terapi suportif, pemberian naloxone dapat dipertimbangkan
tergantung kondisi pasien (bila terjadi depresi pernafasan).
a) Dosis naloxone untuk bayi atau anak < 5 tahun atau anak dg berat
badan < 20 kg: dosis awal 0,1 mg/kgBB secara i.v (dosis
maksimum 2 mg), dapat diulang setiap 2-3 menit bila diperlukan.

21
b) Dosis naloxone untuk dewasa: 0,4-2 mg secara i.v, dapat diulang
setiap 2-3 menit.
o. Pethidin
i. Rute pemberian: intravena, oral.
ii. Perhatian: Jangan diberikan bila pasien menggunakan obat
penghambat monoaminoksidase / MAO (contohnya selegiline,
phenelzine, dan isocarboxazide) dalam 2 minggu terakhir.
iii. Temperatur penyimpanan: 15-25 C, lindungi dari cahaya.
iv. Monitoring parameter: derajat nyeri, tekanan darah, status mental
dan respirasi pasien.
v. Efek samping: mulut kering, pusing, konstipasi, retensi urin, mual,
hipotensi, vasodilasi, depresi pernafasan.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian pethidin, berikan
terapi suportif dan simptomatik, antara lain pemberian cairan i.v dan
atau bantuan pernafasan. Pemberian antagonis opioid seperti
Naloxone dapat diberikan bila diperlukan (dosis sama dengan kasus
overdosis morfin / fentanyl).
p. Sufentanil
i. Rute pemberian: intravena, epidural. Berikan secara injeksi pelan.
ii. Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam Dekstrosa 5%.
iii. Temperatur penyimpanan: 15-25 C, lindungi dari cahaya.
iv. Monitoring parameter: derajat nyeri, tekanan darah, status mental
dan respirasi pasien.
v. Efek samping: depresi pernafasan, kekakuan otot rangka, retensi
urin, hipotensi, gatal, somnolence, mual, muntah.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian sufentanil, berikan
terapi suportif dan simptomatik, antara lain pemberian cairan i.v dan
atau bantuan pernafasan. Pemberian antagonis opioid seperti
Naloxone dapat diberikan bila diperlukan (dosis sama dengan kasus
overdosis morfin / fentanyl).
9. Agen sedasi IV (lorazepam, midazolam, propofol)
a. Setiap infuse obat sedasi kontinu memiliki standar dosis, yaitu:
i. Lorazepam : 1 mg/ml
ii. Midazolam : 1 mg/ml, efek puncak: 5-10 menit
iii. Propofol : 10 mg/ml

22
b. Lakukan monitor selama pemberian obat (oksimetri denyut, tanda vital,
tersedia peralatan resusitasi)
c. Midazolam (Sedacum)
i. Rute pemberian: Intranasal, oral, intra muskular, intravena.
ii. Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau Dekstrosa
5%.
iii. Penggunaan secara intranasal dapat menggunakan syringe 1 mL
tanpa jarum, diteteskan di tiap-tiap lubang hidung selama 15 detik.
Gunakan konsentrasi 5 mg/mL. Bagi dosis sama rata pada masing-
masing lubang hidung.
iv. Penggunaan secara i.v secara perlahan selama 2-5 menit
menggunakan konsentrasi 1-5 mg/mL atau dengan pompa infus.
v. Temperatur penyimpanan: 15-30 C, larutan yang sudah
direkonstitusi stabil selama 24 jam.
vi. Monitoring parameter: status pernafasan dan kardiovaskuler, tekanan
darah.
vii. Efek samping: laju pernafasan menurun, hipotensi, mengantuk, nyeri
lokal, mual, muntah.
viii. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian midazolam.
Monitor pernafasan, denyut nadi, dan tekanan darah, berikan terapi
suportif bila perlu. Bila terjadi hipotensi maka dapat diberikan terapi
cairan intravena dan atau vasopresor.
d. Propofol
i. Rute pemberian: intravena.
ii. Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam Dekstrosa 5%.
iii. Perhatian: Jangan diberikan bersamaan melalui kateter i.v bersamaan
dengan darah atau plasma dan tidak direkomendasikan
untuk anak usia < 3 tahun.
iv. Temperatur penyimpanan: 2-25 C, jangan dibekukan, sediaan yang
sudah direkonstitusi stabil selama 6 jam.
v. Monitoring parameter: tekanan darah, tanda obstruksi saluran nafas.
vi. Efek samping: hipotensi, bradikardia, nyeri lokal, sakit kepala / mual
/ muntah pada periode recovery.

23
vii. Antidot: tidak ada antidot spesifik untuk propofol. Bila terjadi
overdosis, segera hentikan pemberian propofol kemudian berikan
terapi suportif untuk pasien.
10. Infus Magnesium Sulfat
a. Tergolong sebagai high alert medications pada pemberian konsentrasi
melebihi standar, yaitu > 40 mg/ml dalam larutan 100 ml (4 g dalam 100 ml
larutan isotonic / normal saline).
b. Perlu pengecekan ganda (perhitungan dosis, persiapan dosis, pengaturan
pompa infuse).
11. Agen blok neuromuscular (Suksinilkolin, rokuronium, vekuronium, atrakurium,
pankuronium)
a. Harus disimpan di area khusus dan spesifik, seperti: kamar operasi, Ruang
Rawat Intensif (Pediatric Intensive Care Unit / Neonates Intensive Care
Unit / Intensive Care Unit), IGD, Cath Lab.
b. Berikan label yang terlihat jelas dan dapat dibedakan dengan obat-obatan
lainnya. Farmasi akan memberikan label pada semua vial untuk
penyimpanan obat di luar kamar operasi.
c. Penyimpanan harus dipisahkan dari obat-obatan lainnya, misalnya dengan
kotak berwarna, penyekatan, dan sebagainya.
d. Semua infuse agen blok neuromuscular harus memiliki label yang
bertuliskan:
i. peringatan: agen paralisis
ii. dapat menyebabkan henti napas
e. Lakukan pengecekan ganda.
f. Untuk setiap container obat baru yang disediakan oleh farmasi (misalnya:
vial, spuit, dan sebagainya), pengecekan ganda harus dicatat oleh kedua
petugas di rekam medis pasien.
g. Catatlah jika ada perubahan instruksi, termasuk perubahan kecepatan infuse
dan pengaturan pompa infuse.
h. Kapanpun memungkinkan, instruksi yang dicetak (print) sebaiknya tersedia.
Instruksi juga harus menyatakan Pasien harus terpasang ventilator.
i. Jangan pernah menganggap obat-obatan ini sebagai relaksan.
j. Harus dihentikan pemberiannya pada pasien yang di-ekstubasi dan tidak
menggunakan ventilator lagi.

24
12. Obat-obatan inotropik IV (digoksin)
a. Obat ini memiliki rentang terapeutik yang sempit dan memiliki sejumlah
interaksi obat.
b. Pasien-pasien yang harus mendapatkan pengawasan ekstra adalah: lansia
(geriatric) yang mendapat dosis tinggi obat inotropik dan juga
mengkonsumsi quinidine.
c. Dalam penggunaan obat, berikan edukasi kepada pasien mengenai
pentingnya kepatuhan pasien dalam hal dosis, perlunya pemeriksaan darah
perifer secara rutin, dan tanda-tanda peringatan akan terjadinya potensi
overdosis.
d. Tingkatkan pemantauan pasien dan pemeriksaan laboratorium.
e. Lakukan pemeriksaan digoksin darah secara rutin.
f. Digoxin :
i. Rute pemberian: intravena pelan selama 5 menit
ii. Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau Dekstrosa
5%
iii. Perhatian: Digoxin memiliki indeks terapi sempit, oleh karena itu
perhatikan dosisnya dengan saksama.
iv. Temperatur penyimpanan: 15-30 C, lindungi dari cahaya.
v. Monitoring parameter: heart rate, EKG, kreatinin serum, kalium serum,
magnesium serum, kalsium serum.
vi. Efek samping: pusing, mual, muntah, sakit kepala, aritmia.
vii. Bila terjadi efek samping: segera hentikan pemberian digoksin, berikan
terapi suportif meliputi pemberian kalium bila terjadi hipokalemia,
monitor kadar elektrolit darah, dan monitor fungsi jantung.
13. Garam fosfat (natrium dan kalium)
a. Sebisa mungkin, berikan terapi pengganti fosfat melalui jalur oral.
b. Berikan dalam bentuk natrium fostat, kapanpun memungkinkan.
c. Pemberian kalium fosfat berdasarkan pada level / kadar fosfat inorganic
pasien dan faktor klinis lainnya.
d. Dosis normal kalium fosfat: tidak melebihi 0,32 mmol/kgBB dalam 12 jam.
Dosis dapat diulang hingga serum fosfat > 2 mg/dl.
e. Selalu berikan via pompa infuse.
14. Obat Anestesi:

25
a. Enflurane
i. Rute pemberian: inhalasi
ii. Perhatian:
a) Untuk pasien dewasa, dosis induksi untuk anestesi bedah adalah 2-
4,5%, dengan dosis pemeliharaan 0,5-3%, jangan melebihi dosis
3%. Sedangkan untuk keperluan cesarean section digunakan dosis
0,5-1% sebagai tambahan terhadap obat anestesi lainnya.
b) Untuk pasien anak-anak, keamanan dan kemanjurannya belum
ditetapkan.
iii. Temperatur penyimpanan: 15-30 C.
iv. Efek samping: malignant hyperthermia, hipotensi, depresi pernafasan,
nilai lekosit meningkat, mual, muntah.
v. Antidot: Dantrolene dapat digunakan untuk mengatasi efek samping
malignant hyperthermia. Dosisnya adalah 2,5 mg per kg berat badan,
diberikan secara bolus i.v.
b. Halothane
i. Rute pemberian: inhalasi.
ii. Perhatian: Untuk pasien dewasa, dosis induksi anestesi adalah 0,5-3%,
dengan dosis pemeliharaan 0,5-1,5%.
iii. Temperatur penyimpanan: 15-30 C, lindungi dari cahaya.
iv. Efek samping: malignant hyperthermia, artimia, hipotensi,
hiperpireksia, mual, muntah.
v. Antidot: Dantrolene dapat digunakan untuk mengatasi efek samping
malignant hyperthermia. Dosisnya adalah 2,5 mg per kg berat badan,
diberikan secara bolus i.v.
c. Isoflurane
i. Rute pemberian: inhalasi
ii. Perhatian:
a) Untuk pasien dewasa, dosis induksi anestesi adalah 1,5-3%, dosis
pemeliharaan adalah 1-2,5% dengan nitrat oksida, bila digunakan
oksigen saja maka dapat ditambah 0,5-1% lagi.
b) Untuk pasien anak-anak, keamanan dan kemanjurannya belum
ditetapkan.
iii. Temperatur penyimpanan: 15-30 C.
iv. Efek samping: malignant hyperthermia, mual, muntah, aritmia,
peningkatan nilai lekosit.

26
v. Antidot: Dantrolene dapat digunakan untuk mengatasi efek samping
malignant hyperthermia. Dosisnya adalah 2,5 mg per kg berat badan,
diberikan secara bolus i.v.
d. Ketamine HCl
i. Rute pemberian: intravena.
ii. Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau Dekstrosa
5%.
iii. Perhatian: Pemberian secara i.v. tidak boleh melebihi 0,5 mg/kg/menit
atau diberikan lebih cepat dari 60 detik.
iv. Temperatur penyimpanan: 20-25 C, lindungi dari cahaya.
v. Monitoring parameter: heart rate / nadi, tekanan darah, laju pernafasan.
vi. Efek samping: bradikardia, anoreksia, mual, muntah, nyeri di lokasi
suntikan, obstruksi saluran pernafasan, konfusio, hipotensi, hipertensi
dan takikardia temporer, laringospasme.
vii. Pengelolaan overdosis: Monitor heart rate / nadi dan tekanan darah.
Respirasi mekanik dapat digunakan bila terjadi depresi sistem
pernafasan.
e. Desflurane
i. Rute pemberian: inhalasi
ii. Perhatian:
a) Dosis pemeliharaan untuk anestesi adalah 2,5-8,5% untuk pasien
dewasa, dan 5,2-10% untuk anak-anak.
b) Tidak direkomendasikan untuk anak < 12 tahun
iii. Temperatur penyimpanan: 15-30 C
iv. Monitoring parameter: tekanan darah, laju pernafasan, denyut nadi,
temperatur.
v. Efek samping: hipotensi, depresi sistem pernafasan, aritmia, mual,
muntah, salivasi meningkat, laringospasme. Efek samping malignant
hyperthermia dapat terjadi namun jarang dilaporkan.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian desflurane, jaga
fungsi pernafasan dan kardiovaskuler pasien.
f. Ropivakain HCl
i. Rute pemberian: intravena
ii. Perhatian:
a) Berikan secara i.v pelan

27
b) Tidak direkomendasikan untuk anak < 12 tahun
iii. Temperatur penyimpanan: < 30 C, jangan dibekukan
iv. Monitoring parameter: heart rate/nadi, tekanan darah, laju pernafasan.
v. Efek samping: hipotensi, nyeri lokal, mual, muntah, konvulsi, aritmia.

vi. Antidot:
a) Bila terjadi konvulsi maka tujuan terapi adalah untuk menjaga
oksigenasi dan menghentikan konvulsi. Pasien diberikan oksigen dan
antikonvulsi (Diazepam 5-10 mg i.v.)
b) Bila terjadi depresi kardiovaskuler (misalnya hipotensi, bradikardia),
maka dapat diberikan Efedrin 5-10 mg i.v dan dapat diulang setelah
2-3 menit sesuai kebutuhan.
g. Bupivacain HCl
i. Rute pemberian: spinal, epidural
ii. Perhatian:
a) Larutan yang mengandung pengawet jangan digunakan untuk
epidural blok.
b) Tidak direkomendasikan untuk digunakan pada anak <12 tahun
iii. Temperatur penyimpanan: 15-30 C.
iv. Monitoring parameter: heart rate / nadi, tekanan darah, laju pernafasan,
kesadaran pasien, toksisitas sistem syaraf pusat.
v. Efek samping: hipotensi, bradikardia, apnea, mual, muntah.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian bupivacain HCl, jaga
fungsi pernafasan pasien.
h. Thiopental natrium
i. Rute pemberian: intravena
ii. Cara melarutkan: Dapat dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5%
iii. Perhatian:
a) Jangan menggunakan aqua pro injeksi untuk membuat larutan
dengan konsentrasi <2% karena bersifat hipotonik yang
mengakibatkan hemolisis.
b) Berikan secara i.v pelan untuk mengurangi efek depresi pernafasan
dan kemungkinan overdosis.

28
iv. Temperatur penyimpanan: 15-30 C, lindungi dari cahaya.
v. Monitoring parameter: heart rate / nadi, tekanan darah, laju pernafasan.
vi. Efek samping: aritmia, delirium, sakit kepala, amnesia, rash pada kulit,
nyeri abdomen, diare, batuk, bronkospasme, laringospasme.
vii. Pengelolaan overdosis: Segera hentikan pemberian thiopental. Jaga
pernafasan pasien dengan bantuan oksigen bila perlu. Monitor laju
pernafasan, gas darah, dan elektrolit serum. Bila terjadi laringospasme,
obat relaksan otot polos rangka dapat diberikan.
viii. Rute pemberian: inhalasi.
ix. Perhatian:
a) Dosis lazim pasien dewasa untuk anestesi adalah 1,4-2,6% atau 0,7-
1,4% dengan nitrat oksida.
b) Dosis lazim pasien anak-anak adalah 2,5-3,3% atau 2% dengan nitrat
oksida
x. Temperatur penyimpanan: 15-30 C.
xi. Monitoring parameter: tekanan darah, temperatur, denyut nadi, dan laju
pernafasan.
xii. Efek samping: depresi jantung dan sistem pernafasan, hipotensi, mual,
muntah.
xiii. Bila terjadi overdosis: hentikan segera pemberian sevoflurane, jaga
fungsi pernafasan dan kardiovaskuler pasien.
i. Lidocain HCl
i. Rute pemberian: intravena, endotracheal
ii. Cara melarutkan:
a) Dapat dilarutkan dalam NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5%
b) Pengenceran standar adalah 2 gram per 250 mL Dekstrosa 5%.
iii. Temperatur penyimpanan: < 30 C.
iv. Monitoring parameter: heart rate / nadi, tekanan darah, laju pernafasan.
v. Efek samping: aritmia, bradikardia, depresi sistem pernafasan,
bronkospasme, mual, muntah.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian lidocain, pastikan
pasien mendapatkan oksigenasi yang cukup. Bila terjadi aritmia
ventrikular maka dapat diberikan Amiodaron. Monitor fungsi
kardiovaskuler pasien.
15. Streptokinase

29
i. Rute pemberian: intravena
ii. Cara melarutkan: dapat dilarutkan dengan NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5%.
iii. Perhatian:
a) Streptokinase sebaiknya digunakan segera setelah direkonstitusi, bila
belum akan digunakan hendaknya disimpan pada suhu 2-8 C, buang
setelah 8 jam
b) Jangan menambahkan obat lainnya ke dalam wadah berisi Streptokinase,
atau memberikan obat lain bersamaan dalam i.v. linTemperatur
penyimpanan: 15-30 C
iv. Monitoring parameter: PT (prothrombin time), aPTT (activated partial
thromboplastin time), kadar plasminogen dan fibrinogen.
v. Efek samping: pendarahan, aritmia, hipotensi, bronkospasme, reaksi
sentitifitas (alergi, demam).
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian obat, bila perlu
dapat diberikan tranfusi PRC untuk mengganti kehilangan volume
darah dan menetralkan pendarahan.
16. Amiodaron
i. Rute pemberian: intravena, oral
ii. Perhatian:
a) Penggunaan oral sebaiknya setelah makan, bila pasien mengalami
rasa tidak nyaman di pencernaan dengan pemberian dosis tunggal
maka dosisnya dapat dibagi dua kali pemberian.
b) Pemberian i.v > 2 mg/mL memiliki risiko iritasi vena.
c) Sebaiknya hanya digunakan untuk kasus aritmia yang
mengancam jiwa karena potensi toksisitasnya.
iii. Temperatur penyimpanan: 20-25 C, lindungi dari cahaya.
iv. Monitoring parameter: fungsi hati, fungsi paru, fungsi tiroid, dan EKG
(waspadai pemanjangan interval QTc).
v. Efek samping: hipotensi, bradikardia, pemanjangan interval QTc,
pusing, sakit kepala, hiper / hipotiroid, nodul tiroid, mual, muntah,
nilai abnormal tes fungsi hati.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian amiodaron, berikan
terapi suportif meliputi pemberian cairan secara i.v, pemberian obat-

30
obatan untuk mengatasi bradikardia / hipotensi (bila terjadi), monitor
EKG dan tekanan darah.
vii. Kalium bila terjadi hipokalemia, monitor kadar elektrolit darah, dan
monitor fungsi jantung.
17. Glukosa 40%
i. Rute pemberian: intravena
ii. Perhatian:
a) Berikan secara i.v pelan, karena bila diberikan terlalu cepat ada
risiko hiperglikemia dan sindroma hiperosmolar.
b) Kecuali disebutkan lain, maka laju tetesan yang direkomendasikan
adalah 0,5 gram/kg/jam.
iii. Temperatur penyimpanan: 20-25 C, jangan dibekukan
iv. Monitoring parameter: kadar glukosa, kalium, dan fosfat serum.
v. Efek samping: demam, hiperosmolaritas, phlebitis, edema paru,
pendarahan serebral, hiperglikemia, hipokalemia, hipofosfatemia,
ekstravasasi pada lokasi suntikan.
vi. Bila terjadi overdosis: segera hentikan pemberian glukosa 40%,
berikan terapi suportif dan atau simptomatik.
E. Pemberian high alert medications pada pediatrik dan neonatus
1. High alert medications pada neonatus dan pediatric serupa dengan obat-obatan
pada dewasa, dan obat-obatan di bawah ini:
a. Regicide (semua jalur pemberian)
b. Chloral hydrate (semua jalur pemberian)
c. Insulin (semua jalur pemberian)
d. Digoksin (oral dan IV)
e. Infuse dopamine, dobutamin, epinefrin, norepinefrin
2. Pemberian chloral hydrate untuk sedasi:
a. Kesalahan yang sering terjadi:
i. Dosis tertukar karena terdapat 2 sediaan: 250 mg/5ml dan 500
mg/5ml.
ii. Instruksi sering dalam bentuk satuan volume (ml), dan bukan dalam
dosis mg.
iii. Pasien agitasi sering mendapat dosis multipel sebelum dosis yang
pertama mencapai efek puncaknya sehingga mengakibatkan
terjadinya overdosis.

31
b. Tidak boleh untuk penggunaan di rumah
c. Monitor semua anak yang diberikan chloral hydrate untuk sedasi pre-
operatif sebelum dan setelah prosedur dilakukan. buatlah rencana resusitasi
dan pastikan tersedianya peralatan resusitasi.

3. Prosedur pemberian obat:


a. Lakukan pengecekan ganda oleh 2 orang petugas kesehatan yang
berkualitas (perawat, dokter, ahli farmasi)
b. Berikut adalah konsentrasi standar obat-obatan untuk penggunaan secara
kontinu infuse intravena untuk semua pasien pediatric yang dirawat, PICU,
dan NICU. Berikan label konsentrasi . untuk spuit atau botol infuse
dengan konsentrasi modifikasi.
Tabel IV.4 : Konsentrasi Standar Obat-obatan untuk Pediatric, PICU, dan NICU
Obat Konsentrasi 1 Konsentrasi 2 Konsentrasi 3
KCl 0,1 mEq/ml 0,2 mEq/ml
(10 mEq/100ml) (20 mEq/100ml),
hanya untuk infus vena sentral
Spesifik untuk pediatric / PICU
Dopamin 1600 mcg/ml 3200 mcg/ml
(400 mcg/250ml) (800 mcg/250ml)
Dobutamin 200 mcg/ml 4000 mcg/ml
(500 mcg/250ml) (1 mg g/250ml)
Epinefrin 16 mcg/ml 64 mcg/ml
(4 mg/250ml) (16 mg/250ml)
Norepinefrin 16 mcg/ml 32 mcg/ml 64 mcg/ml
(4 mg/250ml) (8 mg/250ml) (16 mg/250ml)
Insulin, regular 0,5 unit/ml 1 unit/ml
Spesifik untuk NICU
Dopamine 400 mcg/ml 800 mcg/ml 1600 mcg/ml
Dobutamin 500 mcg/ml 1000 mcg/ml 2000 mcg/ml
Epinefrin 20 mcg/ml 40 mcg/ml
Insulin, regular 0,1 unit/ml 0,5 unit/ml
Fentanil 4 mcg/ml 12,5 mcg/ml

c. Hanya staf yang berpengalaman dan kompeten yang diperbolehkan


memberikan obat.

32
d. Simpan dan instruksikan hanya 1 (satu) konsentrasi.
e. Harus memberikan instruksi dalam satuan miligram, tidak boleh
menggunakan satuan milliliter.
f. Jangan menginstruksikan penggunaan obat-obatan ini sebagai rutinitas / jika
perlu. Jika diperlukan pemberian obat secara pro re nata (jika perlu),
tentukan dosis maksimal yang masih diperbolehkan (misalnya: dosis
maksimal 500 mg perhari).

33
BAB V
DOKUMENTASI

Semua prosedur penanganan dan pengecekan ganda oleh tenaga kesehatan di


dokumentasikan dalam lembar rekam medik pasien.

Direktur Rumah Sakit Umum


Sarila Husada

drg. Evelina Yuliani, MPH

34
35