Anda di halaman 1dari 11

KISI-KISI POP (KUK 2015)

#KETENTUAN TERKAIT KESELAMATAN Kecelakaan terjadi dalam wilayah pertambangan


PERTAMBANGAN# (KP/KK/PKP2B);
Kecelakaan terjadi pada jam kerja.
1. UU NO 1 TAHUN 1970 tentang Keselamatan Kerja
2. UU NO 23 TAHUN 1992 tentang Kesehatan (Pasal 23 #PENGGOLONGAN CIDERA KEPMEN NO
tentang Kesehatan Kerja) 555.K/26/M.PE/1995#
3. PP NO 19 TAHUN 1973 tentang Pengaturan dan
Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang 1. Cidera ringan: pekerja tambang tidak mampu
Pertambangan melakukan tugas semula lebih dari 1 (satu) hari dan
4. PP NO 55 TAHUN 2010 tentang Pembinaan dan kurang dari 3 (tiga) minggu, termasuk hari minggu dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha hari libur.
Pertambangan Mineral dan Batubara (pasal 26-27) 2. Cidera berat :
5. KEPMEN NO 555.K/26/M.PE/1995 tentang a. kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan tambang tidak mampu melakukan tugas semula
Umum. lebih dari 3 (tiga) minggu
b. menyebabkan pekerja tambang cacat tetap
#KEWAJIBAN PENGAWAS OPERASIONAL (invalid)
KEPMEN NO 555.K/26/M.PE/1995# c. Apabila akibat kecelakaan tambang menyebabkan
cidera, seperti :
1. Bertanggung jawab terhadap KTT untuk keselamatan Keretakan tengkorak kepala, tulang
semua pekerja tambang punggung, pinggul, lengan bawah, lengan
2. Melaksanakan inspeksi, pemeriksaan, dan pengujian; atas, paha atau kaki;
3. Bertanggung jawab atas keselamatan, kesehatan, dan Pendarahan di dalam atau pingsan disebabkan
kesejahteraan semua orang yang ditugaskan kekurangan oksigen;
kepadanya; Luka berat atau luka robek/terkoyak yang
4. Membuat dan menandatangani laporan pemeriksaan, dapat mengakibatkan ketidakmampuan tetap;
inspeksi, dan pengujian. Persendian lepas dimana sebelumnya tidak
#UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK pernah terjadi.
PENERAPAN KEWAJIBAN PENGAWAS 3. Mati: apabila kecelakaan tambang yang
OPERASIONAL# mengakibatkan pekerja tambang mati dalam waktu 24
jam terhitung dari waktu terjadinya kecelakaan
1. Memberikan pedoman kerja yang aman seperti SOP tersebut.
dan JSA, serta memberikan peralatan perlindungan
diri kepada para pekerja #STATISTIK KECELAKAAN TAMBANG#
2. Memberikan bimbingan, supervise, dan konsultasi
misalnya dengan melakukan safety induction, Tujuan dan Manfaat Statistik Kecelakaaan :
melaksanakan inspeksi, kampanye k3, dan safety talk. Adalah sebagai tolak ukur pengukuran kinerja K3 dan KO
kegiatan pertambangan. Dimana bila tidak terjadi
#FILOSOFI DASAR KESELAMATAN# kecelakaan, maka statistik kecelakaan dinilai berhasil,
begitu juga sebaliknya. Jenis statistik kecelakaan tambang
Filosofi kecelakaan merupakan sesuatu yang tidak berdasarkan tingkat kecelakaan yang terjadi di perusahaan,
diinginkan, tidak diduga, menimpa siapa saja dan kapan adalah sebagai berikut:
saja dan dimana saja. Keselamatan adalah sesuatu usaha Tingkat kekerapan kecelakaan (Frequency Rate = FR)
untuk bekerja dalam kondisi yang aman, produksi tercapai
1.000.000
tanpa adanya suatu kecelakaan.
#KRITERIA KECELAKAAN TAMBANG KEPMEN Tingkat keparahan (Severity Rate = SR)
NO 555.K/26/MPE/1995#
1.000.000

Kecelakaan benar terjadi; Indeks kecelakaan = I = FR x SR
Kecelakaan mengakibatkan cidera pekerja tambang
atau seseorang yang diizinkan oleh kepala teknik #PENYEBAB LANGSUNG KECELAKAAN#
tambang; Penyebab Langsung kecelakaan sesuai dengan teori
Kecelakaan terjadi akibat kegiatan pertambangan; domino kecelakaan terdiri dari Kondisi Tidak Aman dan
Tindakan Tidak Aman. Penyebab tidak langsung terdiri 5) Biaya upah yang dibayar untuk para pengawas
dari dua faktor yaitu kondisi tidak aman dan tindakan tidak dimana sewaktu-waktu disita disebabkan
aman: untuk penyelidikan kecelakaan
a. Kondisi Tidak aman (unsafe condition) 6) Biaya upah sehubungan dengan berkurangnya
Kondisi tidak aman merupakan kondisi yang tidak hasil kerja setelah korban dapat kembali
sesuai dengan standar keselamatan, seperti: bekerja
1) Perkakas atau peralatan rusak 7) Biaya latihan pekerja baru
2) pengaman/pelindung mesin tidak lengkap 8) Biaya yang tidak diasuransi yang ditanggung
3) peringatan/rambu-rambu tidak lengkap oleh perusahaan
4) batu menggantung tidak digugurkan 9) Biaya waktu oleh pengawas yang lebih tinggi
5) penerangan kurang dan biaya administrasi sewaktu melakukan
6) kebisingan tinggi penyelidikan kecelakaan dan pembuatan
7) ventilasi tidak memadai laporan
8) temperatur rendah/tinggi 10) Bermacam-macam biaya tambahan atau biaya
9) bagian benda/material yang tajam khusus
10) berdebu/berasap 11) Biaya penggantian produksi yang
11) penyanggan tidak memadai terhenti/terganggu
b. Tindakan tidak aman (unsafe act) Biaya yang timbul sebagai akibat kecelakaan biasanya
Tindakan tidak aman merupakan perilaku pekerja disebut Biaya Gunung Es, artinya biaya langsung
yang tidak sesuai dengan standar keselamatan, yaitu bongkahan gunung es yang terlihat diatas
seperti: permukaan laut, sedang biaya tak langsung yaitu
1) mengoperasikan alat tanpa ijin bongkahan gunung es yang berada dibawah permukaan
2) mengoperasikan alat diluar batas kecepatan laut yang nilainya jauh lebih besar.
max
3) menggunakan alat yang tidak lengkap #HOUSE KEEPING#
4) menggunakan alat yang rusak
5) tidak memakai APD Berdasarkan KEPMEN NO. 555.K/26/MPE/1995,
6) merokok di tempat terlarang a. Tempat kerja, jalan lalu lintas, gudang dan ruang
7) bekerja dengan posisi tidak benar pelayanan harus dirawat kebersihan dan
8) bekerja di bawah pengaruh alkohol kerapihannya
9) penggunaan alat yang tidak tepat b. Lantai tempat kerja harus dirawat sehingga
10) terlalu memforsir tenaga sedapat mungkin selalu dalam keadaan kering
11) tidak mengikuti prosedur kerja c. Lantai, tempat kerja dan jalan harus bebas dari
12) mengabaikan perintah/peraturan/larangan. paku yang menonjol, serpihan-serpihan lubang
atau papan yang hampir lepas
#BIAYA KECELAKAAN#
Biaya kecelakaan tambang yang disebabkan kecelakaan #APD#
dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu: Jenis-jenis APD dan bagian yang dilindungi adalah sebagai
a. Biaya langsung berikut:
Biaya langsung ialah pembayaran berdasarkan 1. Safety Helmet : Kepala
peraturan ganti kerugian atau asuransi dan biaya 2. Face shield : Muka
pengobatan (askes). 3. Safety glass/goggles : Mata
b. Biaya tidak langsung 4. Ear plug/ear muff : Telinga
Biaya tidak langsung, adalah biaya di samping 5. Safety gloves : Tangan
biaya yang telah dibicarakan terdahulu, antara lain 6. Safety shoes : Kaki
adalah: 7. Apron : Tubuh
1) Biaya untuk upah yang dikeluarkan tanpa kerja
bagi pekerja yang tidak cidera Untuk dapat dipergunakan APD harus memenuhi berbagai
2) Biaya memperbaiki, mengganti atau persyaratan sebagai berikut:
menguatkan kembali peralatan yang rusak 1. Enak dipakai
sewaktu terjadi kecelakaan 2. Melindungi sesuai fungsinya
3) Biaya untuk pekerja yang cidera selama tidak 3. Sesuai dengan standar
bekerja, selain dari biaya terasuransi 4. Jumlah kebutuhan APD
4) Biaya kerja lembur sehubungan dengan
penanggulangan kecelakaan
#PENGGOLONGAN API# 4. Mengidentifikasi sumber dari fakta dan keterangan
tempat kebakaran
TIPE A : Api yang sumbernya dari bahan padat 5. Menginvestigasi untuk menentukan potensi kerugian,
(kayu, kertas, pelastik dll) cidera, dan kerusakan akibat kebakaran.
TIPE B : Api yang sumbernya dari bahan cair 6. Memberitahukan kepada manager/atasan yang
(minyak, solar, bensin dan sejenisnya) pantas/sesuai.
TIPE C : Api yang sumbernya dari arus listrik
TIPE D : Api yang sumbernya dari bahan logam #LAPORAN KEADAAN DARURAT KEBAKARAN#

#TERJADINYA API# Dalam melakukan laporan adanya kebakaran hal-hal yang


harus diperhatikan adalah meliputi tersebut dibawah ini:
Berdasarkan teoria Segitiga Api, Kebakaran akan terjadi 1. Emergency Call
adanya 3 komponen yang saling terkait yaitu : Adalah telp atau nomer tilpon tertentu yang telah
1. Panas ditentukan oleh manajemen yg berguna untuk
2. Material dihubungi apabila terjadi kebakaran
3. Oksigen 2. Lokasi kebakaran
Untuk mencegah terjadinya kebakaran maka kita harus Lokasi kebakaran perlu disebutkan dalam laporan
memutuskan salah satu dari 3 siklus di atas agar team pemadam kebakaran dapat mempersiapkan
langkah-langkah penmadaman yg tepat
#JENIS ALAT DETEKSI API# 3. Apa yang terbakar
Apa yg terbakar hrs disebutkan sehingga team
Berikut adalah jenis-jenis alat deteksi api, yang terdiri dari: kebakaran dapat menentukan material jenis apa yang
1. Alat deteksi panas (Heat Detector) akan dipakai dalam pemadaman
Alat deteksi panas adalah detektor dengan batasan 4. Potensi kerugian
suhu yang tetap dan detektor yang mendeteksi Potensi kerugian perlu dilaporkan, hal ini berguna
peningkatan suhu secara seketika. untuk menentukan penanganan atau skala prioritasnya
2. Alat deteksi uap (Smoke Detector) 5. Jalur evakuasi
Detektor asap akan bekerja bila ada asap mengenai Jalur evakuasi sangat diperlukan untuk kelancaran ke
sensornya, berdasarkan prinsip kerjanya dibagi arah mana pertolongan harus melewati, sehingga
menjadi; penyelamatan kebakaran optimal
a. Photo ElectriC Detector 6. Titik tempat berkumpul
b. Ionisasi Detector Penentuan titik berkumpul adalah sangat penting, hal
c. Resistance Bridge Detector ini guna penyelamatan yang lebih terarah sehingga
3. Alat Deteksi Nyala (Flame Detector) mampu meminimalkan atau mencegah kerugian yg
Detektor nyala akan bekerja bila ada nyala yang dapat tidak diinginkan
ditangkap oleh sensor yang peka terhadap radiasi
yang tidak tampak oleh mata manusia, detektor nyala #PRINSIP PEMBINAAN KESELAMATAN#
ini peka terhadap bara kayu, arang batubara, dan
nyala-nyala yang lain. Pembinaan mengenai keselamatan dilakukan untuk
Jenis-jenis detektor nyala, yaitu: mencapai kondisi kerja, suasana kerja dan lingkungan kerja
1) Infra Red yang aman yang diharapkan mampu mencegah terjdinya
2) Ultra Violet kecelakaan pada kegiatan pertambangan.
3) Photo electric
#BENTUK PEMBINAAN DI LINGKUNGAN LB3#
#TINDAKAN JIKA TERJADI KEBAKARAN SESUAI
PENANGANAN KONDISI DARURAT# 1. Pemberian pedoman
Pemberian pedoman kerja yang aman bagi bawahan,
1. Melakukan pengendalian tempat kejadian kebakaran misalnya:
2. Melakukan pertolongan pertama (menggunakan a. Job Safety Analysis (JSA);
APPAR) dan panggilan untuk pelayanan darurat b. Prosedur Operasi Standar (SOP).
(lokasi kebakaran, apa yang terbakar, jalur evakuasi,
c. Penyediaan peralatan/ perlengkapan K-3.
titik berkumpul)
2. Pemberian bimbingan
3. Melakukan pengendalian terhadap potensi
Pemberian bimbingan, supervisi dan konsultasi,
kecelakaan kedua/lanjutan
misalnya:
a. Memberikan safety induction;
b. Kampanye k-3 #PARAMETER PENGUKURAN PELAKSANAAN
c. Melaksanakan safety talk. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB#
3. Pendidikan dan Pelatihan 1. RINCI TAHAPAN PEKERJAAN PENGAWAS
Pendidikan dan pelatihan yang perlu dilakukan K3
diantaranya adalah: 2. BUAT JADWAL PENGAWASAN
1) Penanganan bahaya-bahaya di tempat kerja; 3. TENTUKAN WAKTU/LAMANYA
2) Cara kerja yang aman. 4. ASPEK/BAGIAN YANG WAJIB DIPERIKSA
5. BUAT PETUNJUK/GUIDELINES
#TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB PENGAWAS# 6. TENTUKAN DAERAH YANG DIAWASI
7. EVALUASI KUANTITAS PENGAWASAN
Tanggung jawab :: DAFTAR HADIR DAN PROSENTASE
- Bertanggung jawab terhadap KTT atas PENGAWASAN
keselamatan kerja semua pekerja yang menjadi 8. TENTUKAN PENANGGUNG JAWAB
bawahanya 9. TENTUKAN STANDAR EVALUASI
- Bertanggung jawab atas keselamatan, kesehatan 10. PELAPORAN DAN ARSIP
dan kesejahteraan semua orang yang ditugaskan
kepadanya #PERALATAN INVESTIGASI#
Tugas :
- Melaksanakan inspeksi,pemeriksaan, dan SOP INVESTIGASI:
pengujian - Merespon kondisi emergensi secara cermat dan
- Membuat dan menandatangin laporan berfikir positif
- Mengumpulkan informasi yang relevan (Tanya
#FUNGSI DAN PERAN PENGAWAS# jawab saksi, foto, mendatangi tempat kejadian)
- Menganalisa seluruh penyebab yang signifikan
A. Fungsi Pengawas dan melakukan tindakan perbaikan
Fungsi pengawas (supervisor) adalah sebagai - Mereview temuan dan rekomendasi tindak lanjut
penghubung, mediator antara manajemen dengan karyawan PERALATAN SESUAI SOP:
di lapangan, maka pengawas harus mampu mengerakkan - Alat tulis
para karyawan yang menjadi bawahannya menuju tujuan - Tape recorder
perusahaan, memotivasi mereka agar tetap selalu produktif - Alat dokumentasi (kamera)
dan bekerja dengan aman.
B. Peranan Pengawas #KRITERIA KECELAKAAN TAMBANG#
Pengawas memiliki tiga peran, yaitu:
1. Production Oriented Kepmen PE. Nomor 555K/26/MPE/1955 Pasal 39, adapun
Pengawas harus berorientasi produksi dengan cara kriteria kecelakaan tambang harus memenuhi persyaratan:
menggerakkan bawahannya untuk kerja produktif Kecelakaan benar terjadi;
dan menjadi contoh bahwa dia sendiri bekerja Kecelakaan mengakibatkan cidera pekerja tambang
secara produktif. atau seseorang yang diizinkan oleh kepala teknik
2. Employee Oriented tambang;
Bawahan adalah segalanya, karena dengan Kecelakaan terjadi akibat kegiatan pertambangan;
bawahan yang bekerja produktif dan aman maka Kecelakaan terjadi dalam wilayah pertambangan
atasan pengawas tersebut akan menilai bahwa (KP/KK/PKP2B);
pekerjaanya baik. Kecelakaan terjadi pada jam kerja.
3. Safety Oriented
Pekerjaan baik produksi meningkat tinggi tetapi #PRINSIP PENENTUAN FAKTOR PENYEBAB
tidak aman atau terjadi kecelakaan maka penilaian KECELAKAAN#
atasan anda buruk, maka semua pekerjaan harus
berorientasi terhadap safety. Untuk dapat menjadi Kecelakaan terjadi karena ada beberapa faktor
pengawas yang safety oriented harus mempunyai atau elemen yang terlibat dan mempengaruhi
basic safety philosophy, safety and health policy, terjadinya kecelakaan. Pengawas sebaiknya
safety responsibility baik manajemen maupun mengetahui faktor tersebut meliputi:
supervison. 1) Manusia (meliputi managemen,karyawan,
kontraktor dll)
2) Mesin/ peralatan (meliputi perkakas, alat - PPE
proteksi keselamatan, mesin dan peralatan Pengendalian pra kontak:
lainnya) Membuat SOP
3) Material (material hasil pertambangan Menggunakan PPE/APD
maupun bahan penunjang produksi) Menggunakan metode kerja yang aman
4) Metode (metode yang digunakan tidak benar Menggunakan ventilasi hisap (exhaust) untuk
atau tidak aman) mengurangi agent berbahaya di udara
5) Lingkungan (seperti lingkungan yang panas, Mengatur getaran yang timbul
kering, berdebu, licin dll) Memasang peredam disekeliling peralatan yang bising
Membuat symbol-simbol bahaya
Mengendalikan keluar masuk pekerja/visitor
#PENERAPAN PRINSIP TEORI PENYEBAB
LANGSUNG KECELAKAAN# Pengendalian kontak:
Melakukan tindakan tanggap darurat
Berdasarkan teori domino penyebab langsung kecelakaan:
Kondisi tidak aman Pengendalian pasca kontak:
- Perkakas atau peralatan rusak Melakukan investigasi
- pengaman/pelindung mesin tidak lengkap Merevisi SOP
- peringatan/rambu-rambu tidak lengkap Melakukan Safety Meeting
- batu menggantung tidak digugurkan Mengurangi tenaga fisik pada tenaga kerja
- penerangan kurang mengidentifikasi dan menyiapkan peralatan baru
- kebisingan tinggi
- ventilasi tidak memadai #PROSEDUR PENGAMANAN LOKASI
- temperatur rendah/tinggi KECELAKAAN#
- bagian benda/material yang tajam
- berdebu/berasap SOP SNI
- penyanggan tidak memadai 1. Pasang batas pengaman (blockade) dengan pita
Tindakan tidak aman pelastik berwarna kuning
- mengoperasikan alat tanpa ijin 2. Melengkapi tanda DILARANG MASUK LOKASI
- mengoperasikan alat diluar batas kecepatan max KECELAKAAN KECUALI PETUGAS di lokasi
- menggunakan alat yang tidak lengkap kecelakaan
- menggunakan alat yang rusak 3. Lokasi harus dijaga dan diamankan oleh satuan
- tidak memakai APD pengaman
- merokok di tempat terlarang 4. Tidak merubah kondisi dan posisi peralatan
- bekerja dengan posisi tidak benar 5. Mencatat keadaan cuaca, waktu kecelakaan, kondisi
- bekerja di bawah pengaruh alkohol fisik lokasi kejadian
- penggunaan alat yang tidak tepat 6. Dokumentasi lokasi min 8 kali dengan posisi/sudut
- terlalu memforsir tenaga yang berbeda serta barang bukti lain
- tidak mengikuti prosedur kerja 7. Mengumpulkan barang bukti yg diletakkan di kantong
- mengabaikan perintah/peraturan/larangan sample atau botol lalu diberi label
8. Menyimpan barang bukti di kantor K3
#MENENTUKAN DATA CIDERA KORBAN SESUAI
KET DOKTER# #METODE PENGUMPULAN DATA/BUKTI
KECELAKAAN#
Klasifikasi cidera:
- cidera ringan SOP SNI
- cidera berat 1. Mendapatkan sketsa dan foto lokasi kejadian
- mati 2. Ambil biodata korban dan saksi langsung (riwayat
kerja dan catatan yang berhubungan dengan
#PRINSIP PENGENDALIAN KECELAKAAN# keselamatan), kondisi kesehatan fisik dan mental,
kompetensi yang dimiliki, dll
Prinsip pengendalian kecelakaan: 3. Data riwayat kelayakan peralatan yang terlibat dalam
- engineering control kecelakaan (pemeliharaan, penggantian suku cadang)
- administrative control 4. Mendapatkan prosedur kerja, norma, standar, criteria
- works practice tentang K3 yang terkait
5. Catat kondisi lingkungan tempat kecelakaan #DATA PENDUKUNG#
6. Mendapatkan laporan awal tentang kecelakaan People (saksi langsung dan saksi tidak langsung)
langsung dari korban/orang yang terlibat kecelakaan Position
Part
#FAKTA-FAKTA DILOKASI KECELAKAAN# Paper (dokumen yang bersangkutan dengan
kejadian)
Posisi alat
Kondisi fasilitas/peralatan #PENYEBAB LANGSUNG#
Penerangan Teori analisis:
House keeping ICAM (Incident Cause Analysis System)
Pengaruh cuaca SCAT (systematic Causal Analysis Technique)
Fakta kekuatan benturan Teori domino:
Keberadaan rambu peringatan - Kecelakaan akan mengakibatkan cidera pada manusia,
kerusakan alat, dan produksi terhenti
#MAKSUD DAN TUJUAN INVESTIGASI - Kejadian kecelakaan terjadi akibat adanya kontak
KECELAKAAN# dengan benda atau sumber energy yang disebabkan
oleh kondisi tidak aman
Maksud dan tujuan investigasi adalah untuk mencari fakta- - Kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman
fakta ataupun penyebab terjadinya kecelakaan sehingga
dapat diambil tindakan pencegahan agar kecelakaan yang #PENYEBAB DASAR KECELAKAAN KARENA
sama tidak terulang kembali. KURANGNYA KENDALI MANAJEMEN#
MAKSUD :
- Untuk mendapatkan kronologi kecelakaan yang benar - penyebab dasar yaitu factor pribadi dan factor
dan menetapkan critical factor. pekerjaan
- Untuk menentukan penyebab dasar terjadinya - Penyebab dasar tersebut diakibatkan kurangnya
kecelakaan control manajemen, karena program kurang memadai,
- Menetapkan rekomendasi tindakan perbaikan standar tidak memadai
TUJUAN:
- Memperbaiki kualitas keselamatan kerja
- Mengurangi kesempatan terulangnya kecelakaan #PERBAIKAN PENYEBAB LANGSUNG#
serupa
- Membangun lingkungan kerja yang aman Perbaikan terhadap penyebab langsung (tindakan tidak
aman dan kondisi tidak aman) hanya akan menghasilkan
#TEKNIK WAWANCARA SAKSI# pengendalian/ pencegahan yang sifatnya sementara.
1. Mempertimbangkan pengendalian alternative yang
SOP SNI mungkin bisa diambil
Mewawancarai saksi langsung dan saksi tidak 2. Memilih alternative yang lebih rendah kemungkinan
langsung terulang lagi
Menanyakan kepada saksi langsung apa yang dilihat, 3. Memastikan mengurangi potensi kerugian yang lebih
didengar, dan dirasakan. Hindari untuk meminta opini parah.
saksi 4. Memilih dan menetapkan tindakan
Menanyakan pertanyaan singkat jelas dengan perbaikan/pembetulan sementara seketika.
menggunakan pertanyaan terbuka seperti apa, 5. Memilih dan menetapkan tindakan permanen
mengapa, bagaimana, kapan, dan menghindari sesegera mungkin.
pertanyaan tertutup yang hanya memerlukan jawaban 6. Membuat dokumentasi dalam laporan.
ya atau tidak
Dilarang memotong penjelasan saksi kecuali apabila
telah keluar dari konteks #PERBAIKAN PENYEBAB DASAR#
Hasil wawancara harus berisikan minimal : nama,
umur, jenis kelamin, jabatan, perusahaan, atasan perbaikan yang diambil berdasarkan atas penyebab dasar
langsung, lamanya pekerjaan, alamat, dan berita acara. yang ditemukan akan memberikan pencegahan kecelakaan
Hasil wawancara dibaca kembali dan ditandatangani yang permanen.
pewawancara dan saksi yang diwawancarai.
#FORMAT LAPORAN INVESTIGASI# - Sifat bahaya
- Perlindungan peralatan
Laporan harus jelas, mudah dimengerti, dan sistematis - Proses produksi
yang berkaitan dengan identitas informasi, evaluasi potensi
keparahan dan kerugian, gambaran (discribtion) #POTENSI BAHAYA#
kecelakaan, analisa sebab, rencana tindakan, waktu yang 1. Bahan Kimia
tepat, dan di tanda tangani. Didalam laporan tersebut Debu, Asap (smog), Gas, Uap, Fume, Kabut
sekurang-kurangnya mencakup: (mists/aerosol), Bedak/ Tepung (vapors), dan Fiber.
a. Tempat, tanggal dan waktu, kecelakaan 2. Bahaya Fisik
b. Kegiatan/pekerjaan/aktivitas yang sedang dilakukan kebisingan, getaran, pencahayaan, radiasi, temperatur,
korban dan tekanan.
c. Apakah korban suda biasa melakukan 3. Bahaya Biologi
pekerjaan/kegiatan/aktivitas tersebut bakteri, virus, jamur (fungi), tengu (mites); dan contoh
d. Tindakan yang sedang dilakukan korban bahaya makro biologi adalah serangga, parasit,
e. Apakah tindakan tersebut bagian dari tugas korban tumbuhan, dan binatang.
f. Apakah korban memiliki otoritas terhadap tugas
yang dilakukan. 4. Bahaya Ergonomi
g. Keterangan kecelakaan meliputi apa dasar tindakan, Stress Fisik (Physical Stresses); ruang sempit &
apa yang keliru, dengan cara bagaimana, apa yang terbatas, manarik, mendorong, canggung/ aneh
menimbulkan kecelakaan, dll (awkward)
h. Sketsa kecelakaan. Stress kejiwaan/ mental (Psychological Stresses);
bosan (monotony), terlalu berat (overload),
#PENGERTIAN BAHAYA# 5. Bahaya Mekanis
titik operasi pemotongan, pemboran; bahaya pada titik
Bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi untuk jepit (nip point) seperti putaran pulley, roller; bahaya
menyebabkan kerugian (cidera pada manusia, kerusakan pada gerakan mesin yang maju mundur atau naik turun
pada alat/proses/lingkungan sekitar) 6. Bahaya Lingkungan Sekitar
permukaan tidak rata atau licin, dan cuaca buruk.
#PENGERTIAN RESIKO# 7. Bahaya Psikososial
intimidasi, trauma, pola gilir kerja, pola promosi, dan
Risiko adalah kemungkinan mendapatkan kerugian (cidera pengorganisasian kerja.
pada manusia, kerusakan pada alat/proses /lingkungan 8. Bahaya Tingkah Laku
sekitar) dari suatu bahaya ketidak patuhan, kurang keahlian, tugas baru/ tidak
rutin, overconfident, sok jago/ pintar, tidak peduli/
#IDENTIFIKASI BAHAYA KESELAMATAN# masa bodo.
9. Bahaya Kelistrikkan
Sumber-sumber bahaya yang berpotensi menyebabkan pemasangan kabel, penyambungan tahanan pembumian
cidera manusia atau kerusakan pada lingkungan sekitar, (grounding system), panel listrik, dan saklar.
permesinan/ peralatan, atau proses.
Identifikasi bahaya keselamatan #PENGERTIAN KEMUNGKINAN#
- Pekerjaan dan tempat kerja yang berkaitan
dengan keselamatan Kesempatan suatu sasaran terkena dampak negatif dari
- Peraturan suatu sumber energi yang muncul (bahaya). Kemungkinan
- Sifat bahaya yang berkaitan dengan sulit untuk ditentukan untuk memprediksi waktu kejadian,
keselamatan jumlah energi yang lepas/ muncul, sasaran yang terkena,
- Perlindungan peralatan dan pengendalian. Konsekuensi dan kemungkinan akan
- Proses produksi menjadi pokok bahasan penting di dalam menilai risiko.

#IDENTIFIKASI BAHAYA KESEHATAN# #MENGHITUNG NILAI RISIKO#

Sumber-sumber bahaya yang berpotensi menyebabkan Nilai Risiko = Jumlah kekerapan + keparahan +
sakit atau gangguan kesehatan manusia. kemungkinan
Identifikasi bahaya kesehatan
- Pekerjaan dan tempat kerja Tingkat kekerapan kecelakaan (Frequency Rate = FR)
- Peraturan

1.000.000 #MENENTUKAN BAHAYA DAN RISIKO YANG

DIPRIORITASKAN PENGENDALIANNYA#
Tingkat keparahan (Severity Rate = SR)

1.000.000

Indeks kecelakaan = I = FR x SR

#RISIKO SISA#

Suatu resiko yang tertinggal atau masih ada walaupun telah


diupayakan untuk menghilangkan, meminimalkan, atau
mengendalikan. Contohnya adalah suara bising dan debu
yang masih tetap ada meskipun telah kita menerapkan
sistem pengendalian dengan baik. Untuk mengatasi risiko
sisa/ residu tersebut langkah terakhirnya adalah dengan alat #HIERARKI PENGENDALIAN RISIKO#
pelindung diri.
Hierarcy pengendalian berarti tahapan pengendalian
#JENIS BAHAYA# yang harus dipertimbangkan secara berurutan, dari
pengendalian pertama yang merupakan pengendalian
10. Bahan Kimia paling efektif, ke pengendalian ke dua yang berkurang
Bahaya kimia umumnya berasal dari bahan-bahan kimia. Contoh
bahaya kimia antara lain: Debu, Asap (smog), Gas, Uap, Fume,
efektifitasnya, sampai pengendalian yang terakahir yang
Kabut (mists/aerosol). paling tidak efektif.
11. Bahaya Fisik Hierarcy pengendalian bahaya yang dikembangkan
Bahaya fisik biasanya berasal dari faktor fisika, seperti kebisingan, pada sub sektor pertambangan mineral dan batubara adalah
getaran, radiasi, dan tekanan. sebagai berikut:
12. Bahaya Biologi 1. Primary Control Methods/Engineering Control
Bahaya yang timbul oleh suatu mahkluk hidup baik tampak (makro
biologi) maupun tidak tampak (mikro biologi) oleh mata. Contoh
Pengendalian dengan rekayasa engineering meliputi
bahaya mikro biologi adalah bakteri, virus, jamur (fungi),dan contoh modifikasi/perubahaan peralatan dan pabrik (plant),
bahaya makro biologi adalah serangga, parasit. mengurangi penggunaan zat berbahaya, dan lain
13. Bahaya Ergonomi sebagainya.
Bahaya ergonomi adalah bahaya yang terjadi akibat ketidaksesuaian Contoh-contoh pengendalian dengan rekayasa
antara seseorang/pekerja dengan peralatan atau lingkungan tempat
kerjanya. Contoh bahaya ergonomi adalah:
engineering:
Stress Fisik (Physical Stresses); ruang sempit & terbatas a) Subtitusi proses dengan yang lebih aman
Stress kejiwaan/ mental (Psychological Stresses); bosan b) Menutupi/melindungi proses sehingga bahaya
(monotony), terlalu berat (overload). tidak tertranformasi ke pekerja
14. Bahaya Mekanis c) Mengatur getaran yang timbul sehingga
Bahaya yang berasal dari faktor mekanis dalam permesinan atau
kebisingan dan trauma ke badan dapat dikurangi
peralatan, seperti bahaya yang ada pada titik operasi pemotongan,
pemboran. d) Memasang peredam suara di sekeliling peralatan
15. Bahaya Psikososial yang bising
Bahaya yang mempengaruhi psikologi pekerja akibat interaksi sosial e) Memasang perlindung (guards) di sekeliling pinch
pekerja seperti intimidasi, trauma. point & rotating couplings.
16. Bahaya Tingkah Laku 2. Secondary Control Methods/Administrative
Bahaya dari faktor prilaku pekerja seperti ketidak patuhan, kurang
Control
keahlian, jago/ pintar, tidak peduli/ masa bodo.
Variasi proses manajemen dapat untuk
17. Bahaya Kelistrikkan
Bahaya yang timbul akibat instalasi atau peralatan listrik, seperti mengendalikan pengaruh bahaya seperti:
pemasangan kabel, panel listrik, dan saklar. pemilihan staff, pembatasan jam kerja, program
pemeliharaan, prosedur pembelian.
Contoh pengendalian secondary (Administrative *Kepmen No 2555.K/201/MPE/1993 tentang
Control) sebagai berikut: Pelaksana Inspeksi Tambang (PIT) Bidang
a) Mengendalikan jalan masuk dari Pertambangan Umum
pengamat/peninjau dan orang yang tidak *Kepmen No. 103.K/008/MPE/1994 tentang
berkepentingan ke area kerja. Pengawasan atas Pelaksanaan RKL dan RPL
b) Mengontrakan pekerjaan kepada kontraktor Dalam Bidang Pertambangan dan Energi
yang ahli/berpengalaman dengan bukti-bukti
pengelolaan K3-nya baik #PENERAPAN KETENTUAN PERUNDANG-
3. Tertiary Control Methods/Works Practice UNDANGAN DI AREA KERJA#
Tipe control ini berhubungan dengan risiko sisa
dan ringan (Minor & Residual Risk). Pengendalian UU No 32 Tahun 2009
tersebut meliputi praktek-praktek kerja yang Pasal 21 sampai 24
sesuai dengan bentuk prosedur yang tepat dan Pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan,
pelatihan (training) untuk memastikan bahwa para
pengolahan, dan/atau penimbunan. Dumping (pembuangan) adalah
pekerja mengetahui: bagaimana mengenal dan kegiatan membuang, menempatkan, dan/atau memasukkan limbah
menghindari bahaya apabila mungkin. dan/atau bahan dalam jumlah, konsentrasi, waktu, dan lokasi
Contoh pengendalian tertiary (working practices) tertentu dengan persyaratan tertentu ke media lingkunganhidup
tertentu.
meliputi:
a) Merevisi langkah-langkah kerja pada
#POTENSI DAMPAK LINGKUNGAN#
prosedur kerja
b) Mengurangi tenaga fisik pada tenaga kerja
Dampak lingkungan akibat kegiatan pertambangan antara
dalam setiap langkah kerja
lain: penurunan produktivitas lahan, penurunan kualitas
c) Mengidentifikasi dan memeberikan/
tanah, terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya gerakan
menyediakan peralatan baru yang lebih baik
tanah atau longsoran, terganggunya flora dan fauna,
4. Alat Pelindung Diri (APD)
terganggunya kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim
APD dipilih sebagai suatu langkah terakhir dalam
mikro.
pengendalian bahaya. Pengandalian ini tidak
efektif karena ditujukan kepada pekerja dan bukan
#KEGIATAN PERTAMBANGAN YANG
kepada hazard-nya. Jenis-jenis APD dan bagian
MENGHASILKAN LIMBAH#
yang dilindungi adalah sebagai berikut:
8. Safety Helmet : Kepala
Komponen kegiatan pertambangan yang berdampak
9. Face shield : Muka
terhadap lingkungan meliputi:
10. Safety glass/goggles : Mata
- pembukaan lahan
11. Ear plug/ear muff : Telinga
(oli bekas, gemuk bekas, suku cadang bekas, dan sisa
12. Safety gloves : Tangan
bahan kimia yang digunakan untuk perawatan
13. Safety shoes : Kaki
peralatan)
14. Apron : Tubuh
- penggalian dan penimbunan;
limbah yang berasal dari penggunaan material logistik
#PERATURAN UU TENTANG PERLINDUNGAN
(makanan, minuman, peralatan kantor, limbah rumah
LINGKUNGAN HIDUP#
tangga dan lain-lain)
- pengolahan dan pemurnian
Hierarki peraturan perundang-undangan:
limbah yan berasal dari bahan kimia sebagai bahan
- Undang-undang (UU)
yang digunakan dalam proses pengolahan dan
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
pemurnian
Pengelolaan Lingkungan Hidup
- pengangkutan
- Peraturan Pemerintah (PP)
limbah dari bahan yang terkontaminasi dengan bahan
PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
bakar, oli dll.
- Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri
(KEPMEN)
#JENIS LMBAH YANG DIHASILKAN DARI
KEGIATN PERTAMBANGAN#
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan dapat
dipisahkan menjadi beberapa jenis yaitu:
Air limbah tambang (air asam tambang)
Air limbah tambang berasal dari air larian permukaan yang kontak
langsung dengan kegiatan tambang. Apabila ada material
pembangkit asam, maka air tersebut akan bersifat asam. Air
tambang yang bersifat asam dan keruh akan menjadi sumber
pencemar apabila bercampur dengan perairan umum.
limbah domestik
Limbah domestik berasal dari kegiatan perkantoran, perumahan atau
mess karyawan, dan kegiatan lainnya. Limbah domestik ini
dibedakan antara limbah organik dan anorganik. Limbah organik
(sisa makanan, kertas, dan sampah dari sisa tumbuhan), limbah
anorganik (bekas kemasan makanan, bekas kemasan peralatan yang
terbuat dari plastik maupun logam).
limbah non B3
limbah non B3 merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan di
beberapa tempat antara lain; perkantoran, perumahan, dan fasilitas
penunjang tambang yang tidak termasuk dalam limbah B3.
limbah B3
Limbah B3 merupakan limbah yang mengandung bahan berbahaya
dan beracun. Sifat berbahaya dan beracun tesebut meliputi: mudah
meledak, mudah terbakar, korosif, dan bersifat racun atau berbahaya
bagi kehidupan dan kesehatan makhluk hidup. Limbah B3 ini
meliputi oli bekas, semua material yang terkontaminasi minyak #PEMANTAUAN PENGELOLAAN LIMBAH#
(bensin, solar, minyak tanah), gemuk bekas, bekas suku cadang
kendaraan atau mesin yang mengandung hidrokarbon, sisa-sisa
Pengawasan di lapangan
bahan kimia maupun bahan kimia kadaluarsa dll. Identifikasi limbah yang dihasilkan
Pemeriksaan limbah di laboratorium
#PENGELOLAAN LIMBAH PERTAMBANGAN# Pemantauan jumlah dan jangka waktu
penyimpanan limbah B3
Air limbah dari proses pengolahan dikelola dengan Pemantauan keluar masuk limbah B3 di TPS
mengumpulkan limbah tersebut pada kolam pengendap
(sediment pond). Penambahan flokulan terkadang #EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH#
diperlukan untuk mempercepat proses pengendapan,
demikian juga penambahan kapur untuk meningkatkan pH, Evaluasi pemakaian bahan yang akan
sehingga air yang dilepas ke perairan umum telah menghasilkan limbah B3
memenuhi baku mutu lingkungan. evaluasi penyimpanan limbah B3
evaluasi laporan jenis dan jumlah limbah B3
#PENGELOLAAN LIMBAH B3#
#LAPORAN PENGELOLAAN LIMBAH B3#
Di dalam proses pengolahan dan pemurnian, untuk dapat Berisikan :
mengambil logam berharga dari bijih atau campurannya bulan, jenis limbah, jumlah limbah, total jumlah
mungkin diperlukan bahan-bahan kimia tertentu, dan limbah triwulan
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, bahan-
bahan kimia yang dipergunakan tersebut mungkin #TUJUAN INSPEKSI#
dikatagorikan sebagai B3 (bahan beracun dan berbahaya).
Limbah B3 harus ditangani dengan baik sesuai Secara umum inspeksi keselamatan dan kesehatan
dengan karakteristiknya kerja bertujuan untuk:
Dilakukan proses pengolahan limbah B3 Mengidentifikasi problem-problem yang
Mengikuti peraturan dan prosedur penyimpanan mungkin terjadi
limbah B Mengidentifikasi kekurangan-kekurangan pada
peralatan
Pengelolaan limbah B3: Mengidentifikasi tindakan tidak standar/aman
1. Mengidentifikasi sumber limbah B3 pekerja
2. Mengklasifikasikan limbah B3 sesuai Mengidentifikasi dampak dari
karakteristiknya perubahan/pergantian suatu proses/material
3. Melakukan penyimpanan di TPS Mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dalam
4. Menyerahkan ke pihak ke 3 untuk dilakukan suatu perbaikan
pengolahan (secara fisika atau kimia).
Menyediakan informasi tentang Apakah tata cara/prosedur kerja sudah diikuti dan
swanilai/swataksir manajemen dipertahankan?
Menunjukan komitmen manajemen Apakah standar hasil kerja telah memadai untuk
Pada prinsipnya maksud dan tujuan inspeksi adalah pekerjaan yang dilakukan?
untuk menemukan atau mengidentifikasi kondisi tidak Apakah standar hasil kerja sudah ditetapkan dan
aman dan tindakan tidak aman. Selanjutnya adalah dimengerti?
menentukan penyebab dasar agar dapat melakukan Apakah standar hasil kerja sudah diikuti dan
tindakan perbaikan sehingga kondisi dan tindakan tidak dipertahankan?
aman tidak sempat menyebabkan suatu kecelakaan.
#TINDAKAN TIDAK AMAN DI TPS# #METODE PENGAMATAN TOTAL#
Tidak menggunakan APD
Merokok Teknik pengamatan total akan membantu dalam
Tidak mengikuti prosedur kerja (SOP) mendekati pencapaian tujuan inspeksi.
Melihat atas, bawah, belakang dan dalam
#KONDISI TIDAK AMAN DI TPS# Mendengarkan suara asing/aneh
Lantai kerja licin atau ada ceceran solvent Mencium bau yang asing/aneh
Ada benda tajam Meraba/merasakan suhu dan getaran yang
Ventilasi tidak memadai asing/aneh
Berdebu
Rambu-rambu tanda B3 tidak lengkap
#PRINSIP PERTOLONGAN PERTAMA#
#PERALATAN INSPEKSI#
Lembar pemeriksaan
Alat tulis
#IZIN KERJA KHUSUS#
#JADWAL INSPEKSI#
Inspeksi dilakukan setiap datang ke wilayah yang menjadi
tanggung jawab. #PELAKSANAAN HOUSE KEEPING DI KAWASAN
LB3#
1.lembar pemeriksaan (check List) yang berisi
2.Apa saja ditipa daerah /tempat kerja yang #MEMBUAT KRITERIA PENENTUAN/
diinspeksi PENUNJUKKAN KORBAN DAN SAKSI SESUAI KET
3. Bagian mana saja dari peralatan/permesinan, SINGKAT KECELAKAAN#
bangunan, yang perlu diinspeksi
#DAFTAR PERIKSA SESUAI OBJEK INSPEKSI#

Apakah pekerja menggunakan APD? #MENENTUKAN KORBAN DAN SAKSI#


Apakah APD sudah digunakan dengan benar?
Bagaimana reaksi seseorang ketika melihat #DATA PERALATAN (HASIL UJI)#
pengawas yang melakukan inspeksi?
Apakah ada tindakan tidak aman? #PENGERTIAN KEKERAPAN#
Apakah ada posisi pekerja yang akan
menimbulkan kondisi tidak aman dan tindakan #PENGERTIAN KEPARAHAN#
tidak aman?
Apakah pekerja mengoperasikan peralatan sesuai
dengan SOP?
Apakah perkakas dan alat-alat sesuai dengan
pekerjaan yang dilakukan?
Apakah perkakas dan alat-alat secara benar
digunakan?
Apakah perkakas dan alat-alat aman kondisinya
untuk digunakan?
Apakah tata cara/prosedur kerja telah memadai?
Apakah tata cara/prosedur kerja telah ditetapkan
dan dimengerti?